• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Remaja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA Remaja"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Remaja

Istilah remaja (adolescence) berasal dari kata latin adolesceere yang berarti ―tumbuh‖ atau ―tumbuh menjadi dewasa‖ (Hurlock 2004). Menurut Arisman (2004), masa ini dimulai antara usia 9 hingga 10 tahun dan berakhir pada usia sekitar 19 tahun. Menurut WHO (2011), usia remaja berkisar antara 10 sampai 19 tahun.

Menurut Gunarsa (2001) pada masa remaja ini terjadi keunikan pertumbuhan dan perkembangan yang karakteristiknya adalah (1) pertumbuhan fisik yang sangat cepat; (2) pertumbuhan remaja putra dan remaja putri berbeda dalam besar dan susunan tubuh sehingga kebutuhan gizinya pun berbeda; (3) pertumbuhan fisik dan pematangan fungsi-fungsi tubuh adalah proses akhir dari masa remaja. Keadaan ini menentukan pada waktu dewasa seperti bertambah tinggi atau pendek, lamban atau energik, ulet atau pasrah; dan (4) terjadinya perubahan hormon seks.

Perubahan fisik dan psikologis pada remaja tidak terjadi pada waktu yang sama untuk seluruh remaja. Perubahan tersebut dibagi ke dalam tiga periode, yaitu remaja awal (early adolescent) dengan usia 10-12 tahun, remaja tengah (middle adolescent) dengan usia 13-15 tahun, dan remaja akhir (late adolescent) dengan usia 16-19 tahun. Pengelompokkan tersebut didasarkan pada pertumbuhan fisik, kematangan seksual, dan perubahan psikososial. Pertumbuhan fisik terjadi secara cepat pada kelompok remaja awal dan remaja tengah, kemudian menurun pada usia 18 tahun. Namun pertumbuhan linier pada rangka akan mencapai puncak massa tulang pada usia 20 tahun (Omran & Al-Hafez 2001).

Tubuh manusia termasuk remaja terdiri atas dua bagian utama yaitu adiposa (simpanan lemak) dan jaringan bebas lemak (lean tissue). Jaringan bebas lemak, terdiri atas tulang, otot, air ekstraselular, jaringan syaraf, serta semua jaringan lain selain jaringan lemak. Terjadinya peningkatan tinggi dan berat badan pada masa remaja mengakibatkan adanya perubahan pada komposisi tubuh (Supariasa et al. 2001).

Menurut Bredbenner et al. (2009), proporsi jaringan lemak bebas tertinggi yaitu pada masa bayi dan anak yang mulai tumbuh. Ketika anak laki-laki maupun perempuan mulai memasuki masa remaja, perubahan proporsi jaringan lemak bebas pun dimulai. Laki-laki menghasilkan hormon testosteron

(2)

yang mendorong terbentuknya lebih banyak massa otot, menumbuhkan tulang yang lebih padat dan berat, serta membangun sel darah merah yang lebih banyak dibanding perempuan. Lain halnya dengan massa otot, kadar lemak tubuh pada perempuan terus meningkat di masa remaja namun menurun pada laki-laki. Hal ini disebabkan oleh tingginya kadar hormon estrogen yang menstimulasi penumpukan lemak subkutan (lemak bawah kulit) pada perempuan.

Status Gizi

Status gizi seseorang dapat diperoleh berdasarkan pengukuran antropometri. Pengukuran antropometri sangat penting pada masa remaja untuk mengetahui perubahan pertumbuhan dan kematangan yang dipengaruhi oleh faktor hormonal. Selain itu, menurut Riyadi (2003), pengukuran antropometri penting dilakukan pada masa remaja karena pertumbuhannya cukup sensitif terhadap kekurangan atau kelebihan gizi.

Pengukuran status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut umur (IMT/U) direkomendasikan sebagai indikator terbaik untuk remaja. Menurut Riyadi (2003), pengukuran status gizi menggunakan BB/U dianggap tidak valid jika tidak disertai dengan informasi mengenai TB/U. Namun pengukuran menggunakan kombinasi BB/U dan TB/U untuk menilai massa tubuh dianggap aneh dan memberikan hasil yang bias. Menurut WHO (2007), untuk anak berusia diatas 10 tahun, BB/U bukanlah indikator yang baik karena tidak dapat membedakan antara tinggi badan dan berat badan pada masa remaja yang sedang mengalami pubertal growth spurt. Perubahan komposisi tubuh pada remaja yang mungkin dapat terlihat adalah adanya penambahan berat badan (BB/U) sedangkan sebenarnya sampel hanya bertambah tinggi bukan bertambah berat badan. IMT menurut umur merupakan indikator yang direkomendasikan untuk mengetahui thinness, overweight dan obesity pada remaja usia 10-19 tahun (Riyadi 2003 dan WHO 2007).

Sistem klasifikasi standar yang biasanya digunakan untuk melihat status gizi remaja adalah z-score atau skor standar deviasi (SD). Sistem klasifikasi ini direkomendasikan oleh WHO karena kemampuannya dalam menggambarkan status gizi termasuk pada keadaan ekstrim, serta menunjukkan proses hasil statistik, seperti mean dan standar deviasi dari z-score. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta perluasan penggunaannya dalam bidang klinis, maka sistem klasifikasi untuk mengukur status gizi remaja

(3)

disajikan dalam bentuk persentil. Klasifikasi dengan persentil pada dasarnya sama dengan z-score karena keduanya menggunakan data berat badan dan tinggi badan (WHO 2007).

Cut-off-point yang digunakan dalam IMT menurut umur untuk anak usia 5-19 tahun adalah +1SD (ekuivalen dengan persentil ke-85) bertepatan pada usia 19 tahun dengan cut-off-point IMT dewasa adalah 25 (kg/m2) untuk overweight. Begitu juga dengan +2SD (ekuivalen dengan persentil ke-95) yang bertepatan pada usia 19 tahun dengan cut-off-point IMT dewasa adalah 30 (kg/m2) untuk obesity. Status gizi yang tergolong thinness dan severe thinness berada pada cut-off-point masing-masing -2SD dan -3SD (WHO 2007).

Kebutuhan Air

Kebutuhan air sangat bervariasi antar individu. Besarnya kebutuhan dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, suhu dan kelembaban lingkungan serta aktivitas fisik. Penentuan kebutuhan air untuk orang sehat dapat didasarkan pada umur, berat badan, asupan energi dan luas permukaan tubuh (Praboprastowo & Dwiriani 2004).

Kebutuhan air akan meningkat seiring bertambahnya umur, mulai 0.6 L pada bayi hingga 1.7 L pada anak-anak. Pada orang dewasa kebutuhan air meningkat menjadi 2.5 L untuk aktivitas sedentary dan 3.2 L untuk aktivitas fisik sedang, untuk orang dewasa yang lebih aktif yang tinggal di lingkungan panas memiliki kebutuhan air sekitar 6 L (Sawka et al. 2005).

The National Research Council diacu dalam Sawka et al. (2005) merekomendasikan intake air harian yaitu sekitar 1 mL/kkal energi yang dikeluarkan. Asupan air yang dianjurkan di Filipina tergantung pada energi yang dikeluarkan (energy expenditure) dan keadaan lingkungan, yaitu sebesar 1 mL/Kal dari energi yang dikeluarkan. Jumlah tersebut dapat meningkat menjadi 1.5 mL/Kal tergantung dari aktivitas fisik dan pengeluaran keringat sampel (Barba & Cabrera 2008).

Kebutuhan air sebesar 1 mL/Kal merupakan kebutuhan air yang berasal dari intake air, yaitu air dari makanan dan air dari minuman (IOM 2005). Kebutuhan air yang berasal dari asupan air dari makanan, air dari minuman dan air metabolik adalah sebesar 1.31 mL/Kal untuk pria dan 1.22 mL/Kal untuk wanita pada golongan usia dewasa (19-70 tahun), sedangkan pada anak-anak (9-13 tahun) yaitu sebesar 1.15 mL/Kal untuk laki-laki dan 1.11 mL/Kal untuk perempuan (Manz & Wentz 2005). Berdasarkan kebutuhan air pada dewasa

(4)

dan anak-anak tersebut, maka diasumsikan rata-rata kebutuhan air pada remaja adalah sebesar 1.15 mL/Kal untuk remaja perempuan dan 1.23 mL/Kal untuk remaja laki-laki. Kebutuhan air menurut Popkin et al. (2010) yang membandingkan antara Adequate Intake (AI) air dengan Estimated Energy Requirement (EER) pada remaja adalah sebesar 1.15 mL/Kal untuk remaja perempuan dan 1.18 mL/Kal untuk remaja laki-laki.

Berdasarkan studi yang dilakukan Asian Food Information Centre (2000), persentase air dalam tubuh berbeda pada setiap orang, tergantung dari komposisi tubuh, usia dan jenis kelamin. Laki-laki memiliki lebih banyak air dalam tubuhnya dibandingkan perempuan pada semua kelompok usia karena pria memiliki otot tanpa lemak (lean muscle) lebih besar dari wanita. Otot menahan lebih banyak air dibandingkan jaringan lemak. Institute of Medicine (2005) menyebutkan bahwa jaringan lemak bebas mengandung 70-75% air, sedangkan jaringan lemak mengandung 10-40% air.

Aktivitas yang dilakukan oleh pria biasanya lebih banyak daripada wanita sehingga dibutuhkan cairan yang lebih banyak untuk menggantikan cairan yang keluar akibat aktivitas tersebut. Asian Food Information Centre (AFIC) (1999) menyatakan bahwa ketika berolahraga, cairan yang dibutuhkan meningkat, karena tubuh banyak kehilangan cairan, sehingga diperlukan penggantian cairan secara cepat untuk mencegah dehidrasi. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan oleh tubuh, maka akan semakin banyak air yang dibutuhkan tubuh.

Fungsi dan Regulasi Air dalam Tubuh

Air mempunyai berbagai fungsi dalam proses vital tubuh, antara lain sebagai pelarut dan alat angkut, katalisator, pelumas, fasilitator pertumbuhan, dan pengatur suhu (Almatsier 2003). Selain itu air juga berfungsi sebagai pembentuk sel dan cairan tubuh (Guyton et al. 2009 dalam Santoso et al. 2011).

Air di dalam tubuh berfungsi sebagai pelarut zat-zat gizi berupa monosakarida, asam amino, lemak, vitamin, mineral, oksigen dan hormon yang kemudian dibawa ke sel-sel yang membutuhkan. Air juga berfungsi sebagai pelarut yang mengangkut sisa-sisa metabolisme termasuk karbondioksida dan ureum untuk dikeluarkan dari tubuh melalui paru-paru, kulit, dan ginjal. Air berfungsi sebagai katalisator dalam berbagai reaksi biologik dalam sel,

(5)

termasuk dalam saluran cerna. Air diperlukan pula untuk memecah atau menghidrolisis zat gizi kompleks menjadi bentuk-bentuk yang lebih sederhana.

Air berperan sebagai pelumas dalam cairan sendi-sendi tubuh, serta bagian jaringan tubuh yang diperlukan untuk pertumbuhan. Selain itu, air juga berfungsi sebagai pengatur suhu. Hal ini disebabkan air dapat menyalurkan panas, sehingga air memegang peranan dalam mendistribusikan panas di dalam tubuh.

Air merupakan komponen utama sel, kecuali sel lemak, sebanyak 70-85%, sedangkan kandungan air dalam sel lemak kurang dari 10%. Air berperan penting dalam pembentukan berbagai cairan tubuh, seperti darah, cairan lambung, hormon, dan enzim. Selain itu, air juga terdapat dalam otot dan berguna untuk menjaga tonus otot sehingga otot mampu berkontraksi.

Keseimbangan air tubuh dikontrol dengan pengaturan masukan dan ekskresi cairan. Secara normal, masukan air dipengaruhi oleh rasa haus, yang merupakan pertahanan utama terhadap kekurangan cairan. Rasa haus merupakan keinginan yang sadar untuk minum air yang diatur oleh suatu pusat di midhipotalamus (Adelman & Solhung 1999). Namun, selain karena adanya rasa haus, manusia juga mengonsumsi cairan karena alasan kesukaan seperti saat mengonsumsi minuman manis dan alkohol (Popkin et al. 2010).

Bossingham et al. (2005) menyatakan rasa haus dan mekanisme hormonal lainnya bertanggung jawab untuk memelihara Total Body Water (TBW). Haus dirangsang oleh peningkatan osmolalitas plasma, penurunan volume plasma atau penurunan tekanan darah. Peningkatan osmolalitas plasma selanjutnya akan merangsang osmoreseptor di hipotalamus sehingga akan merangsang pusat haus di hipotalamus dan timbul rasa haus (keinginan untuk minum). Selain itu, haus juga dapat terjadi akibat penurunan volume darah atau penurunan tekanan darah. Penurunan tekanan darah akan merangsang ginjal untuk mengeluarkan renin. Peningkatan renin akan mengakibatkan peningkatan angiotensin dan menimbulkan rasa haus di hipotalamus.

Keseimbangan cairan tubuh diatur oleh mekanisme homeostatis yang dipengaruhi oleh status cairan tubuh. Defisiensi air meningkatkan konsentrasi ionik pada kompartemen ekstraseluler yang menyebabkan sel-sel mengerut. Pengerutan sel dideteksi oleh dua sensor otak, yang satu mengontrol minum dan yang lain mengontrol ekskresi urin (Popkin et al. 2010). Ekskresi cairan

(6)

atau kehilangan air tubuh dapat terjadi melalui paru-paru, kulit, traktus gastrointestinal, dan ginjal. Ekskresi cairan ini terjadi salah satunya untuk menyeimbangkan suhu tubuh dan kondisi lingkungan hingga tercapai kondisi homeostatis (Verdu & Navarrete 2009). Kehilangan air wajib merupakan volume cairan minimum yang harus dicerna setiap hari untuk mempetahankan keseimbangan cairan (Adelman & Solhung 1999).

Sumber Air bagi Tubuh Asupan air dari minuman

Kebanyakan air diperoleh dari minuman, yaitu sekitar 1650 mL per hari dalam bentuk air, teh, kopi, soft drink, susu, dan sebagainya (Muchtadi et al. 1993). Berdasarkan Institute of Medicine (2004) dalam Santoso et al. (2011), asupan air pada populasi di Amerika Serikat menunjukan total asupan air 28% berasal dari makanan dan 72% dari minuman, yang terdiri dari 28% air putih dan 44% minuman lain-lain. Penelitian di Indonesia yang dilakukan oleh Fauji (2011) menyatakan bahwa kontribusi asupan air dari air putih dan minuman lainnya terhadap total asupan air yaitu sebesar 73.5% pada sampel remaja, sedangkan rata-rata asupan air dari makanan dan air metabolik terhadap total asupan air sebesar 26.5%. Menurut Santoso et al. (2011), secara umum dari berbagai penelitian dapat disimpulkan bahwa kontribusi air dari minuman yaitu 65% dan air dari makanan dan air metabolik sebesar 35%.

Penelitian yang dilakukan oleh Kant dan Graubard (2010) menggunakan data National Health and Nutrition Examination Surveys (NHANES) tahun 2005-2006, menunjukkan bahwa asupan air putih semakin meningkat sesuai dengan bertambahnya usia dari 22% pada usia 2-5 tahun menjadi 33% pada usia 12-19 tahun. Penelitian yang dilakukan oleh Fulgoni (2007) pada anak usia 4-18 tahun dan dewasa diatas 19 tahun menunjukkan bahwa pada anak semakin bertambahnya usia, asupan air putih semakin banyak, namun pada dewasa, semakin bertambahnya usia, asupan air putih semakin menurun.

Menurut survei yang dilakukan oleh Asian Food Information Center (1998) di Singapura meyatakan bahwa sebagian besar orang Singapura mengonsumsi air putih (74%). Asupan minuman selain air putih yang paling banyak dikonsumsi adalah teh dan kopi (32%), serta minuman berkarbonasi sebagai minuman kedua yang paling banyak dikonsumsi.

(7)

Asupan air dari makanan

NHANES III (Third National Health and Nutrition Surveys) diacu dalam Manz dan Wentz (2005) menyatakan bahwa pada remaja dan orang dewasa sekitar 80% total intake air diperoleh dari minuman, sementara 20% sisanya diperoleh dari makanan. Jumlah air dari makanan 700-1000 mL per hari (Tabel 1). Jumlah ini tergantung pada pola konsumsi makan, jika banyak mengonsumsi makanan lembek atau cair, sayur dan buah termasuk salad, maka sumber air tubuh dari makanan akan lebih tinggi. Akan terjadi sebaliknya bila seseorang lebih banyak mengonsumsi makanan dari produk serealia, tepung dan daging yang kering (Santoso et al 2011).

Sebagian besar sumber air dari makanan pada orang Indonesia adalah makanan pokok (46%), serta buah dan sayur (30%). Makanan pokok yang dikonsumsi pada umumnya adalah nasi yang mengandung kadar air 25-35%, sementara buah dikonsumsi dalam jumlah yang relatif sedikit meskipun banyak kadar airnya (Hardinsyah et al. 2010 dalam Santoso et al. 2011).

Tabel 1 Volume air menurut sumber dan pengeluaran air tubuh Sumber Air Tubuh Jumlah (mL) Pengeluaran Air Tubuh Jumlah (mL) Minuman/cairan 550-1.500 Urin/ginjal 500-1.400 Makanan 700-1.000 Keringat/kulit 450-900 Hasil metabolisme 200-300 Pernapasan/paru 350

Tinja 150

Total 1.450-2.800 Total 1.450-2.800 Sumber : Whitney (1993) dalam Almatsier (2003)

Air hasil metabolisme (air metabolik)

Air metabolik adalah air yang dihasilkan dari proses metabolisme lemak, protein, dan karbohidrat di dalam tubuh. Jumlah air metabolik yang dihasilkan oleh orang dewasa 200-300 mL dalam sehari (Tabel 1). Menurut Manz dan Wentz (2005), banyaknya air metabolik adalah 10% dari total asupan air. Jumlah air yang dihasilkan dari metabolisme pemecahan lemak, protein, dan karbohidrat per 1 gram dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Jumlah air yang dihasilkan dari proses metabolisme (mL/g) Metabolisme Air yang dilepaskan Lemak Protein Karbohidrat 1.07 0.40 0.55 Sumber : Verdu dan Navarrete (2009)

(8)

Proses metabolisme di dalam tubuh menghasilkan air tetapi jumlahnya relatif sedikit. Muchtadi et al. (1993) menyatakan bahwa air dalam makanan padat menyumbangkan 750 mL dan air dari metabolisme (air yang dibentuk jika gula, lemak, dan protein dimetabolisme untuk menghasilkan energi) sekitar 350 mL. Proses metabolisme tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut (Verdu & Navarrete 2009) :

C6H12O6 + O2 ATP + CO2 + H2O

(Glukosa)

CH3-(CH2)14-COOH + O2 ATP + CO2 + H2O

(Asam palmitat) NH2

H2N-CH-COOH + O2 ATP + CO2 + H2O+O=C

|

R NH2

(Asam amino)

CH3-CH2OH + O2 ATP + CO2 + H2O

(Etanol)

Dampak Kekurangan Asupan Air pada Remaja

Kekurangan air dalam tubuh merupakan suatu kondisi terjadinya pengurangan air intrasel atau air ekstrasel. Kekurangan air tubuh terdiri atas dua jenis, yaitu hipovolemia dan dehidrasi. Hipovolemia adalah kondisi terjadi pengurangan volume cairan ekstrasel. Keadaan ini terjadi bila keluaran airnya adalah cairan yang isotonik, yaitu air dan natrium keluar dalam jumlah yang sebanding (proporsional) sehingga osmolalitas plasma tidak berubah atau kadar natrium plasma tetap normal. Hipovolemia atau disebut juga deplesi volume, dapat terjadi misalnya pada perdarahan atau diare (Santoso et al. 2011).

Dehidrasi adalah kondisi terjadinya pengurangan volume cairan intrasel. Dehidrasi terjadi bila air yang keluar adalah cairan hipotonik, yaitu volume air yang keluar jauh lebih besar dari jumlah natrium yang keluar (Santoso et al. 2011). Survei di Singapura menunjukkan 70% orang Singapura minum jika merasa haus (AFIC 1998). Asian Food Information Centre (AFIC) (1999) menyatakan bahwa pada saat manusia merasa haus, berarti sedang mengalami dehidrasi. Banyak orang mengasumsikan bahwa haus merupakan indikator yang baik dari kebutuhan cairan. Meskipun demikian, haus sebenarnya merupakan suatu tanda bahwa tubuh baru saja mengalami dehidrasi. Cairan harus diganti sebelum rasa haus ini timbul.

(9)

Tanda-tanda dehidrasi bervariasi mulai dari haus dan lemas hingga kerusakan fungsi ginjal. Kasus yang sangat parah dari dehidrasi dapat berakibat pada kematian. Tanda-tanda dehidrasi untuk (1) dehidrasi tingkat ringan adalah haus, lelah, kulit kering, mulut dan tenggorokan kering; (2) dehidrasi tingkat sedang adalah detak jantung makin cepat, pusing, tekanan darah rendah, lemas, konsentrasi urin pekat, tetapi volumenya kurang; serta (3) dehidrasi tingkat berat adalah muscle spams (kejang), swollen tongue (lidah bengkak), dan kegagalan fungsi ginjal (AFIC 1999).

Beberapa penelitian mengenai dehidrasi menunjukkan bahwa sebagian besar individu tidak minum dalam jumlah yang cukup. Menurut Asian Food Information Centre (1999), berdasarkan survei di Singapura menunjukkan bahwa pada usia yang lebih muda (15-24 tahun), laki-laki dan perempuan minum air dalam jumlah yang lebih sedikit yaitu sekitar 1,4 L/hari dari kebutuhan air yang dianjurkan adalah 2 L/hari. Alasan sampel tidak minum secara cukup berdasarkan survei di Singapura karena 72% tidak merasa haus, 20% sampel mengatakan lupa minum, 5% mengatakan sulit memperoleh minuman, dan 3% sisanya tidak ingin sering ke kamar mandi. Penelitian di Indonesia yang dilakukan oleh Hardinsyah et al. (2010) menyatakan bahwa sebagian besar sampel tidak minum cukup air dengan alasan tidak mengetahui pentingnya air bagi kesehatan tubuh, serta kesulitan memperoleh air minum.

Penelitian mengenai kecenderungan dehidrasi pada remaja juga dilakukan di Indonesia oleh Hardinsyah et al. (2010). Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa kejadian dehidrasi ringan pada remaja sebesar 49.5% ternyata lebih tinggi dibandingkan orang dewasa sebesar 42.5%. Penelitian yang dilakukan oleh Kant dan Graubard (2010) menggunakan data National Health and Nutrition Examination Surveys (NHANES) tahun 2005-2006, juga menunjukkan bahwa remaja di United States hanya mengonsumsi 2.4 L air dari kebutuhan air remaja sebesar 3.3 L.

Mutu Gizi Asupan Pangan

Berdasarkan UU No. 7 tahun 1996, pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman. Tujuan fisiologis dari mengonsumsi pangan adalah

(10)

untuk memenuhi keinginan makan (rasa lapar) atau untuk memperoleh zat-zat gizi yang diperlukan tubuh. Tujuan psikologisnya adalah untuk memenuhi kepuasan emosional atau selera, sedangkan tujuan sosiologis adalah untuk memelihara hubungan manusia dalam keluarga dan masyarakat (Sediaoetama 1996).

Penilaian mutu gizi pada pangan biasanya dilakukan pada setiap kandungan zat gizi pangan kaitannya dengan kebutuhan seseorang (Hardinsyah et al. 2000). Namun saat ini sudah berkembang penilaian mutu gizi yang menilai mutu gizi secara komprehensif. Mutu Gizi Asupan Pangan (MGP) secara sederhana diartikan sebagai suatu nilai untuk menentukan apakah pangan tersebut bergizi atau tidak yang didasarkan pada kandungan zat gizi pangan berkaitan dengan kebutuhan tubuh secara komprehensif. Mutu gizi asupan pangan diartikan pula sebagai persentase asupan zat gizi terhadap kecukupan atau kebutuhannya. Penentuan mutu gizi asupan pangan didasarkan pada jumlah zat gizi yang tersedia untuk dikonsumsi relatif terhadap kebutuhannya (Hardinsyah 2001).

Menurut McCollum dan Becker (1934) dalam Hardinsyah (2001), mutu gizi pangan adalah totalitas kandungan gizi dari makanan yang dibutuhkan oleh manusia. Hal ini berarti bahwa komponen mutu gizi tidak hanya ditentukan dari kandungan energi, karbohidrat, dan lemak, tetapi ditentukan juga oleh kandungan vitamin, dan mineral. Sejak ada konsep mutu gizi pangan tersebut, konsep mutu gizi yang semula diartikan sebagai kandungan zat gizi pangan, berubah menjadi tingkat kecukupan semua zat gizi, yaitu persentase asupan zat gizi terhadap kecukupan atau kebutuhannya. Penilaian Mutu Gizi Asupan Pangan (MGP) menggunakan metode rata-rata tingkat kecukupan gizi secara lebih komperehensif dan dinyatakan dalam persen.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian Fauji (2011) di Indonesia yang dilakukan terhadap 1200 sampel di kota-kota tertentu, menunjukkan persentase konsumsi cairan yang berasal dari makanan dan

Penelitian yang dilakukan oleh Kirana (2011) pada remaja putri di SMA Negeri 2 Semarang yang menyatakan bahwa ada hubungan antara asupan vitamin C dengan kejadian

Kejadian gizi lebih bukan hanya dikarenakan oleh konsumsi minuman berperisa, namun dapat juga disebabkan oleh asupan energi berlebih yang merupakan total dari asupan

Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Utami, Ratnawati, & Fatmawati (2011) dalam penelitiannya menyatakan bahwa wanita yang melakukan hubungan

Penelitian yang dilakukan oleh Wibowo (2011) menyatakan bahwa apabila sekolah mengembangkan pembelajaran kewirausahaan yang lebih baik, akan semakin memberikan pengaruh

Pada penelitian ini didapatkan rerata total asupan serat, asupan serat larut air, dan asupan serat tidak larut air yang lebih tinggi pada subjek sindrom metabolik

Berbagai studi tentang kontribusi minuman manis terhadap berat badan berlebih telah dilakukan beberapa peneliti antara lain; penelitian yang dilakukan di Bandung yang

Kebiasaan makan adalah faktor penting yang mempengaruhi status gizi dan kesehatan seseorang khususnya remaja yang membutuhkan asupan gizi yang cukup dalam perkembangannya