BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setiap daerah di Indonesia memiliki kebudayaan tradisional yang luar biasa. Kebudayaan tradisional tersebut adalah sebuah kekayaan bagi bangsa Indonesia, dimana berbagai kebudayaan tradisional yang terbentuk merupakan hasil dari karya, cipta dan karsa manusia dalam menghadapai tantangan alam dalam ruang dan waktu. Hasil kebudayaan tersebut terus menerus digunakan dalam masyarakat.
Kebudayaan tradisional atau kearifan lokal itu sudah berabad-abad dijadikan pandangan hidup oleh masyarakat ketika dihadapkan kepada permasalahan kehidupan sehari-hari. Kearifan lokal tersebut biasanya mengatur: (1) pandangan hidup tentang manusia sebagai pribadi, (2) pandangan hidup tentang manusia dengan lingkungan masyarakat, (3) pandangan hidup tentang manusia dengan alam, (4) pandangan hidup tentang manusia dengan Tuhan, (5) pandangan hidup tentang manusia dalam mengejar kemajuan lahiriyah dan kepuasan batin (Warnaen, 1987, hal. 8).
Namun seiring berjalannya waktu, era globalisasi datang dan tak bisa dihadang, kebudayaan tradisional pun seakan-akan lenyap ditelan waktu. Kearifan-kearifan lokal seolah-olah dilupakan oleh masyarakatnya. Masyarakat digempur habis-habisan oleh budaya luar yang banyak tidak sesuai dengan budaya kita. Pengaruh globalisasi ini telah membuat masyarakat kita cenderung materialistis, hedonis, egois, dan konsumtif.
muda yang lebih memilih kebudayaan Barat daripada kebudayaan tradisionalnya. Hal ini dikarenakan pola pikir (mindset) yang menganggap bahwa kebudayaan Barat itu lebih modern dan lebih populer, sehingga kesadaran mereka dalam melestarikan kebudayaan tradisional menurun.
Fenomena tersebut telah menyebabkan keberadaan kebudayaan tradisional di negara kita mulai memprihatinkan tergerus oleh arus globalisasi. Padahal negara kita yang „Bhineka Tunggal Ika‟ itu adalah sebuah negara yang memiliki beraneka ragam jenis budaya. Keberagaman kebudayaan ini sebenarnya merupakan kekayaan bangsa yang harus tetap dijaga. Apabila tetap dibiarkan maka kebudayaan itu dengan sendirinya akan hilang ditelan zaman.
Realitas yang seperti ini, sebenarnya dapat diminimalisir dengan melalui pendidikan. Pendidikan seperti yang dikatakan Durkheim, merupakan proses mempengaruhi yang dilakukan oleh generasi orang dewasa kepada mereka yang belum siap untuk melakukan fungsi-fungsi sosial. Sasarannya adalah melahirkan dan mengembangkan sejumlah kondisi fisik, intelek, dan watak sesuai dengan tuntutan masyarakat secara keseluruhan dan oleh lingkungan khusus tempat ia akan hidup dan berada (Ballantine, 1985, hlm. 22). Berdasarkan pengertian tersebut, pendidikan dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Hal ini selaras pula dengan perspektif Durkheim, persepsi individu tentang kepentingan pribadinya tidak dibentuk dalam isolasi dari sesamanya, melainkan dibentuk oleh kepercayaan bersama serta nilai-nilai yang dianut bersama orang lain dalam masyarakat (Johnson, 1990, hlm. 173).
dikumpulkan umat manusia. Ia menjadi pewaris simpanan modal peradaban. Pendidikan yang paling formal dan paling teknis di dunia tidak bisa menyingkir secara aman dari proses umum. Ia hanya bisa mengorganisir proses itu atau membuatnya berbeda dalam arah-arah tertentu saja (O‟neal, 2002, hlm. 380).
Salah satu upaya pendidikan adalah dengan adanya sebuah lembaga pendidikan yang kita kenal dengan nama „sekolah‟. Berkenaan dengan sekolah, Dewey menjelaskan bahwa sekolah merupakan lembaga sosial. Pendidikan adalah proses sosial, sekolah merupakan bentuk kehidupan komunitas dimana seluruh agennya dipusatkan, bagian yang menjadi paling efektif dalam membawa anak untuk berbagi sumber daya warisan rasnya, dan untuk membantu anak menggunakan kemampuan-kemampuannya sendiri demi mencapai tujuan sosial. Jadi, pendidikan merupakan proses kehidupan dan bukan persiapan untuk hidup di masa mendatang, sedangkan sekolah harus mewakili kehidupan di masa sekarang, yaitu kehidupan nyata dan vital bagi anak sebagaimana yang dijalaninya di rumah, di lingkungan sekitar, serta di tempat bermain (O‟neal, 2002, hlm. 383). Berdasarkan pengertian tersebut, pendidikan tidak hanya diartikan sebagai sekolah karena proses pembiasaan yang berlangsung di keluarga dan masyarakat merupakan proses pendidikan juga, agar anak dapat menjalani kehidupannya sesuai dengan kehidupan yang dijalaninya.
Pembiasaan tersebut adalah untuk menghadapi globalisasi. Ada benarnya apa yang dikemukakan oleh para futurolog, seperti Naisbitt dan Aburdene (Wiriaatmadja, 2002, hlm. 164) bahwa dalam proses homogenisasi global terkandung sekaligus hasrat untuk tetap mempertahankan identitas, apakah yang ditandai oleh agama, budaya, bahasa, nasionalitas, ataupun ras. Selain itu juga seperti diungkap Zinn dan dikutip Ankersmit (1987, hlm. 358-359) mengatakan,
Ungkapan Zinn bertujuan memberi jawaban kepada pertanyaan, aspek-aspek mana dalam masa silam paling berguna untuk diteliti.
Dalam tulisan “Kesadaran Sejarah dan Pembangunan”, Soedjatmoko mengingatkan kita betapa pentingnya sebagai bangsa memiliki kesadaran sejarah. Kesadaran sejarah diartikan sebagai suatu refleksi tentang kompkleksitas perubahan-perubahan yang ditimbulkan oleh interaksi dialektis masyarakat yang ingin melemparkan diri dari gangguan realitas yang ada. Melalui kesadaran sejarah, manusia berusaha menghargai upaya mengungkapkan terhadap kejadian-kejadian yang melingkupinya dan menghargai keunikan masing-masing keadaan. Dengan kesadaran sejarah juga membantu manusia untuk waspada terhadap pemikiran yang telalu sederhana, analogi yang terlalu dangkal serta penerimaan pola-pola hukum yang terlalu mudah, mengarahkan jalannya sejarah ataupun berada dalam cengkraman determinisme sejarah. Untuk mewujudkan kesadaran sejarah seharusnya sebagai bangsa harus mampu mengambil makna atau pesan moral pada setiap peristiwa, jika tidak maka dalam konteks ini akan mewujudkan bahwa ketidakarifan dalam pemanfaatan kekayaan alam dan budi akal manusia itu pada akhirnya akan menghancurkan eksistensi kemanusiaan dan peradabannya sendiri (Soedjatmoko, 1995a, hlm 63-71).
Hamid Hasan (1999) dalam tulisannya “Pendidikan Sejarah untuk Membangun Manusia Baru Indonesia” membuat perspektif baru dengan berpijak kepada pengalaman masa lalu untuk memahami apa yang terjadi pada masa sekarang. Secara tradisional tujuan pendidikan selalu dikaitkan atas pandangan
“transmission of culture” (Hasan, 1999, hlm. 13). Pandangan tersebut sebenarnya
menghendaki pendidikan sejarah sebagai pengetahuan yang diharapkan menjadi wahana pendidikan untuk mencapai “the glorious past” dalam arti agar generasi muda dapat menghargai hasil karya agung di masa lampau terutama untuk memupuk rasa bangga (dignity) sebagai bangsa.
Selanjutnya perkembangan pendidikan sejarah seperti yang diungkap Hasan (1999, hlm. 19):
Perkembangan dalam pendidikan sejarah terjadi pergeseran dari perenialisme ke esensialisme bahkan rekonstruksionisme sosial bergabung secara ekletik. Pendidikan sejarah tidak saja menjadi wahana memahami keagungan masa lampau dan pengembangan kemampuan intelektual tetapi juga menjadi wahana dalam upaya memperbaiki kehidupan sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Berpikir sejarah, disatu sisi mampu menyelami masa lalu, mencoba memahami konteks jamannya (historical minded), dan pada bagian lainnya, memanfaatkan pemahaman tersebut menjadi proses “memanusiakan” manusia, sehingga dapat bertindak lebih paham, humanioris, berperasaan, arif, bijak, dan tentu menjadi penilaian serta pemikiran yang lebih jeli, teliti sekaligus kritis. Dengan kata lain, masa kini dan masa lalu dikontradiksikan menjadi awal sebuah perbandingan, dan sebuah sinkronisasi, agar dapat diperoleh pemahaman yang serupa, sama, tanpa mereduksi (mengurangi) makna masa lalu, dan menerapkan untuk kepentingan masa kini agar lebih manusiawi.
Kesadaran sejarah ini, adalah sikap mental, jiwa pemikiran yang dapat membawa untuk tetap dalam rotasi sejarah. Artinya, dengan adanya kesadaran sejarah, manusia seharusnya menjadi semakin arif dan bijaksana dalam memaknai kehidupan ini. Dalam realitas yang nyata, pada proses pembelajaran sejarah di sekolah, guru dan peserta didik tidak hanya: “bagaimana belajar sejarah, melainkan belajar dari sejarah”.
di sekolah tidak hanya memberikan pengetahuan saja kepada peserta didik, melainkan memberikan kontribusinya untuk lebih menumbuhkan kesadaran sejarah, baik pada posisinya sebagai anggota masyarakat maupun warga negara, serta mempertebal semangat kebangsaan.
Keberhasilan dari sebuah peristiwa di masa lampau dapat ditularkan melalui sebuah kesadaran sejarah, dimana kesadaran sejarah ini dapat terlihat dari adanya perubahan perilaku manusia terhadap lingkungan dari sekarang sampai dengan masa depannya. Hal ini dapat terlihat dari perilaku peserta didik dalam kehidupan di lingkungannya, dimana peserta didik mampu mengaitkan informasi baru dan kemudian akan mengkaitkannya pada informasi sejarah yang telah dipahaminya. Seperti yang diungkap David Ausabel dengan teori belajar bermaknanya (dalam Hariyono, 1995, hlm. 169) belajar akan menjadi bermakna
(meaningful), bila informasi yang dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan
struktur kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. Menjadi bermakna dalam hal ini yaitu peserta didik dapat mengkaitkan informasi barunya sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki.
Hubungan sejarah dan pendidikan akan tampak jika dikaitkan dengan proses pewarisan nilai, yakni nilai-nilai luhur yang dikembangkan oleh generasi terdahulu yang perlu diwariskan pada generasi masa kini. Dalam konteks seperti ini sejarah dapat kita pahami sebagai sekumpulan pengalaman hidup manusia pada masa lampau dalam bentuk kisah, baik lisan maupun tertulis. Kesadaran sejarah ini tidak saja penting untuk membangun kepribadian, melainkan juga penting untuk mempersiapkan diri dalam rangka menghadapi tantangan pada masa kini dan masa yang akan datang.
semua yang mempunyai kepedulian terhadap budaya Sunda (Suharto, 2002, hlm. 47; Ekadjati, 2004, hlm. 55).
Sesuai dengan yang tercantum dalam anggaran dasarnya, salah satu jalan yang ditempuh Paguyuban Pasundan dalam mencapai cita-citanya dalam memelihara budaya adalah melalui jalur pendidikan dan pengajaran. Upaya pendirian sekolah dimulai dengan mendirikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Pasoendan di Tasikmalaya pada tahun 1922, diikuti pendirian Meer
Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Pasoendan, juga di Tasikmalaya, yang
mendapat bantuan dari pemerintah. Sampai dengan tahun 1941 Paguyuban Pasundan cabang Tasikmalaya berhasil mendirikan sebanyak tujuh sekolah (Fallah, 2010, hlm. 81). Peristiwa di masa lalu yang menggambarkan keberhasilan Paguyuban Pasundan di Tasikmalaya dalam mengimplementasikan tujuan dari didirikannya Paguyuban Pasundan.
Kebudayaan Sunda yang ditumbuhkembangkan oleh Paguyuban Pasundan salah satunya adalah filsafat Sunda, “silih asih – silih asah – silih asuh” yang telah menjadi ungkapan nasional. Ini terbukti dengan seringnya para pejabat negara dalam berpidato atau memberikan pengarahan menyampaikan ungkapan tersebut. Hal ini bisa dimaklumi karena konsep silih asih – silih asah – silih asuh merupakan konsep tradisional yang penting dalam membina hubungan antar masyarakat, sekaligus mencegah terjadinya konflik (Suryani, 2008, hlm. 101; Suryalaga, 2010, hlm. 123-124). Hal ini juga tercantum dari apa yang menjadi strategi SMA Pasundan 1 Tasikmalaya pointer keenam yaitu mengimplementasikan budaya sekolah silih asih – silih asah – silih asuh dalam kehidupan pribadi dan organsasi intansi sekolah.
untuk mendapatkan pemahaman akan kesadaran sejarah bisa diperoleh dengan pembelajaran sejarah lokal.
Mengapa perlu pembelajaran sejarah lokal? Hal ini seperti yang diungkap oleh Robert Douch (dalam Mulyana & Gunawan 2007, hlm. 1) yang menyatakan bahwa pembelajaran sejarah di sekolah sebaiknya lebih mudah dipahami peserta didik dengan melihat langsung kehidupan yang nyata, bukan materi pelajaran yang jauh dari realitas. Bahkan belajar yang baik dapat bersumber dari pengalaman peserta didik sehari-hari. Kedekatan emosional peserta didik dengan lingkungannya merupakan sumber belajar yang berharga bagi terjadinya proses pembelajaran di kelas. Dimana peserta didik tidak terlepas dari identitas komunitasnya di samping mereka harus memahami sejarah nasional. Seperti yang diungkapkan Hasan (2012, hlm. 27) bahwa materi sejarah nasional sebagai
“collective memory” harus dikembangkan oleh pendidikan sejarah. Identitas diri
sebagai bangsa dikembangkan melalui pendidikan nasional dengan materi yang diterima pada tingkat nasional pun terlalu didominasi oleh materi sejarah yang terjadi di pulau Jawa. Tetapi, orang tidak mungkin melepaskan dirinya dari identitas komunitas terdekatnya.
Adanya kecenderungan Indonesia sentries dalam penulisan sejarah, yang pada hakikatnya sekaligus bisa kita anggap sebagai pencerminan yang makin disadari arti penting dari kajian sejarah lokal itu, antara lain dikatakan, Widja (1991, hlm. 15) dalam melakukan penelitian tentang sejarah lokal, kita tidak hanya akan bisa memperkaya perbendaharaan Sejarah Nasional, tapi lebih penting lagi memperdalam pengetahuan kita tentang dinamika sosio-kultural dari masyarakat Indonesia yang majemuk ini secara lebih intim. Dengan begini kita makin menyadari pula bahwa ada berbagai corak penghadapan manusia dengan lingkungannya dan dengan sejarahnya. Selanjutnya pengenalan yang lebih memperdalam pula kesadaran sejarah kita, yaitu kita diberi kemungkinan untuk mendapatkan makna dari berbagai peristiwa sejarah yang dilalui.
menekankan pada struktur; (3) Studi yang mengambil perkembangan aspek tertentu dalam kurun waktu tertentu (seringkali disebut dengan studi tematis), dan (4) Studi sejarah umum yang menguraikan perkembangan daerah tertentu (propinsi, kota, kabupaten) dari masa ke masa. Berdasarkan klasifikasi di atas, salah satu peristiwa lingkungan terdekat tersebut dapat diambil dalam beberapa bidang, seperti perkembangan ekonomi, sosial, atau budaya merupakan bagian dari kelompok studi sejarah yang bersifat tematis. Bahkan dalam arus gerak sejarah tak jarang peristiwa sejarah terjadi akibat dari perjuangan identitas, baik identitas pribadi, golongan ataupun kelompok tertentu.
Jelas sekali, peranan pendidikan sejarah dalam menumbuhkembangkan ataupun menjaga kebudayaan yang ada, dimana melalui pembelajaran sejarah lokal dapat menciptakan sebuah sumber dalam pembelajaran. Kegiatan belajar dan pembelajaran memerlukan sumber belajar untuk memperlancar tercapainya tujuan belajar. Sumber belajar yang kontekstual tidak hanya berupa media di dalam kelas, tetapi memiliki sumber yang luas. Tidak hanya berupa sumber belajar bacaan, tetapi juga sumber belajar non bacaan, termasuk di dalamnya kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitar kehidupan peserta didik seperti adat istiadat (Komalasari, 2010, hlm. 107).
Salah satu cara untuk sumber dalam pembelajaran sejarah hendaknya peserta didik diajak melihat langsung kehidupan yang nyata dan dekat dengan lingkungan peserta didik, bukan pada buku teks semata yang jauh dari realitas. Seperti yang diungkapkan oleh Supriatna (2007a, hlm. 157) bahwa:
lingkungan sosial peserta didik merupakan sumber belajar yang sangat kaya bagi pembelajaran. Apabila dalam pembelajaran tradisional guru lebih banyak mengandalkan sumber berupa buku teks dan diceramahkan kembali di kelas maka pemanfaatan sumber dari luar kelas (lingkungan sosial) melalui berbagai strategi akan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran terutama dalam pembelajaran sejarah yang dekat dengat aspek sosial.
Peranan guru adalah menyediakan, menunjukkan, membimbing dan memotivasi peserta didik agar mereka dapat berinteraksi dengan berbagai sumber belajar yang ada. Bukan hanya sumber belajar yang sengaja dirancang untuk keperluan belajar, melainkan juga sumber belajar yang telah tersedia. Semua sumber belajar itu dapat kita temukan, kita pilih, dan kita manfaatkan sebagai sumber belajar bagi peserta didik.
Pada kenyataannya, dewasa ini banyak para guru yang mengajar dengan pola tradisional dan mengabaikan keterampilan-keterampilan yang sangat mendasar. Keterampilan dasar mengajar ini adalah merupakan panduan pengajaran dengan menggunakan perangkat “Sydney Micro Skills” (Turney,1975). Adapun Keterampilan Dasar Mengajar ini adalah: (1) keterampilan bertanya, (2) keterampilan memberi penguatan, (3) keterampilan mengadakan variasi, (4) keterampilan menjelaskan, (5) keterampilan membuka dan menutup pelajaran, (6) keterampilan memimpin diskusi kelompok kecil, (7) keterampilan mengelola kelas, (8) keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan.
Guru inovatif hendaknya melihat pelajaran bukan sekedar pelajaran bersifat teoritis, tetapi harus mampu menciptakan hal-hal praktis seperti nilai-nilai kemandirian, membangun rasa yang sarat nilai, sangat penting ditumbuhkembangkan kepada peserta didik. Peserta didik bukan hanya belajar nilai-nilai kepahlawanan, nasionalisme dan lain-lain yang bersifat umum, namun mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal sekitar seperti sikap mental mandiri, berani/perkasa, ulet, tekun, aktif, kreatif, bermoral tinggi, memiliki kepekaan lingkungan, mandiri, menjadi pencipta lapangan kerja dan bukan sekedar pencari kerja akan menjadi benteng survival terhadap imperialisme ekonomi gaya baru dari globalisasi (Wiriaatmadja, 2007, hlm. 217).
Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan dukungan nilai karakternya memberikan peluang kepada guru sejarah untuk mengembangkan sejarah di lingkungan sekitarnya sehingga membangun memory
collective dari tingkat lokal ke nasional. Memory collective tingkat lokal dapat
mengetahui dan pada akhirnya bermuara pada kesadaran sejarah lingkungannya. Akan tetapi, realitas di lapangan berkata lain, dimana terjadinya mis-interpretasi terhadap kurikulum itu sendiri. Dampak dari anggapan tersebut, mereka masih tetap melakukan pembelajaran yang konvensional. Padahal, kalau guru berpikir dan bertindak kreatif, banyak sumber-sumber belajar sejarah di sekitar lingkungan peserta didik untuk dikembangkan. Sumber-sumber belajar tersebut sangat bermanfaat untuk mengembangkan kesadaran sejarah.
Salah satu upaya yang dilakukan dalam memahami masyarakat pada masa lalu dapat dilakukan melalui pembelajaran sejarah lokal di lingkungan peserta didik. Hal ini diupayakan agar pembelajaran sejarah dengan materi pembelajaran sejarah lokal akan lebih mudah dipahami peserta didik dan melihat secara langsung realitas kehidupan sesungguhnya di lingkungan terdekatnya. Aspek-aspek sosial yang dapat dikaji dalam sejarah lokal dapat berupa perilaku individu maupun kelompok dalam suatu komunitas tertentu. Perilaku tersebut dipengaruhi oleh berbagai struktur, baik geografis, budaya, sosial, ekonomi dan lainnya. Pembelajaran sejarah lokal di sekolah dapat dimulai dari lingkungan terdekat hingga terjauh peserta didik. Hal terpenting adalah bagaimana peserta didik diberikan pemahaman konsep-konsep dari sejarah yang dapat dijadikan alat analisa oleh peserta didik dalam melihat realitas masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan (Mulyana & Gunawan, 2007, hlm. 4-7).
Dengan mengangkat materi sejarah lokal, peserta didik merasa ada kedekatan emosional terhadap lingkungannya sehingga nilai genealogis, kesadaran sejarah, dan kolektif memori akan terbangun dimulai dari lokalitas menuju nasional. Hal ini sejalan dengan pemikiran Hasan (2012, hlm. 122) bahwa
“posisi materi sejarah lokal dianggap penting karena pendidikan harus dimulai
dari lingkungan terdekat dan peserta didik harus menjadi dirinya sebagai
anggota masyarakat terdekat”. Sehingga pada akhirnya kesadaran sejarah akan
identitas dirinya sebagai anggota masyarakat akan terwujud.
perhatian yang tinggi dengan mengkaji peranan dan implementasi modal sosial. Menurut definisi World Banks (1999) adalah:
“social capital refers to the institution, relationship and norms that shape
the quality and quantity of a society’s social interactions. Increasing evidence shows that social cohesion is critical for societis to prosperecomically and for developments to be sustainable. Social capital
is not just the sum of the instituions (that) undepin a society – it is the glue
that holds them together” (Halpern, 2005, hlm. 16).
Modal Sosial menjadi semacam perekat yang mengikat setiap individu dalam suatu komunitas. Di dalamnya berjalan “nilai saling berbagi” (sharedvalues) serta pengorganisasian peran-peran (rules) yang diekspresikan dalam hubungan-hubungan personal (personal relationships), kepercayaan (trust), dan common
sense tentang tanggung jawab bersama. Jadi, elemen utama dalam modal sosial
mencakup norm, reciprocity, trust, dan network. Social capital tercipta dari ratusan sampai ribuan interaksi antar orang setiap hari. Ia tidak berlokasi di diri pribadi atau dalam struktur sosial, tapi pada space between people. Ia menjadi pelengkap institusi. Modal sosial merupakan fenomena yang tumbuh dari bawah, yang berasal dari orang-orang yang membentuk koneksi sosial dan network yang didasarkan atas prinsip kepercayaan dalam hubungan yang saling menguntungkan
(mutual reciprocity). Ia tidak dapat diciptakan oleh seorang individual, namun
sangat tergantung kepada kapasitas masyarakat (Hasbullah, 2007).
Pembelajaran sejarah lokal perlu diperkenalkan kepada peserta didik agar peserta didik dapat mengenali identitas kelokalannya maupun penghargaan terhadap lokalitas atau identitas daerah lain dengan mempertimbangkan asas belajar dan tahap perkembangan peserta didik. Mengingat pembelajaran sejarah bukan hanya tanggung jawab guru pelajaran semata, maka pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu memotivasi pelaksanaan pendidikan sejarah di sekolah agar pembelajaran lokal dapat dilaksanakan (Supardan, 2004, hlm. 262).
mempelajari asal-usul daerah lain, namun tidak memahami asal-usul daerahnya sendiri. Di sisi lain juga muncul persoalan yang terkait dengan kecurigaan dari kelompok tertentu yang merasa tidak diuntungkan dalam kurikulum.
Pembelajaran sejarah lokal yang dapat diangkat di lingkungan SMA Pasundan 1 Tasikmalaya dapat dilaksanakan dengan tidak keluar dari lingkungan sekolah. Gedung yang menjadi kampus SMA Pasundan 1 Tasikmalaya adalah saksi bisu dari haru-birunya perkembangan pendidikan di Tasikmalaya. Kampus SMA Pasundan 1 yang terletak di Jl. Dewi Sartika Kota Tasimalaya (sekarang) dulunya merupakan gedung bekas Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Pasundan yang didirikan pada tahun 1922. HIS Pasundan ini adalah sebuah sekolah yang dibangun oleh Paguyuban Pasundan dalam mengimplementasikan visi misinya dalam bidang pengajaran. Keberadaan bangunan HIS Pasundan yang sampai sekarang dipakai oleh SMP dan SMA Pasundan Tasikmalaya adalah sebuah bukti eksistensi dari Paguyuban Pasundan yang berkomitmen dalam bidang pengajaran. Selain itu pula dapat digunakan berbagai peristiwa sejarah mengenai apa yang menjadi modal sosial Paguyuban Pasundan dalam menjaga eksistensi organisasinya. Dimana hal ini tidak terlepas dari budaya Sunda yang ikut dilestarikan oleh organisasi ini.
Dengan demikian, berdasarkan latar belakang masalah, penulis mengambil judul penelitian “Penerapan Modal Sosial orang Sunda melalui kajian sejarah
Paguyuban Pasundan di Tasikmalaya” (Studi naturalistik inquiri terhadap peserta didik SMA Pasundan 1 Tasikmalaya).
B. Fokus Penelitian
C. Rumusan Masalah Penelitian
Adapun rumusan masalah yang akan dikaji yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana desain pembelajaran penerapan modal sosial orang Sunda dalam kajian sejarah Paguyuban Pasundan di Tasikmalaya?
2. Bagaimana implementasi pembelajaran penerapan modal sosial orang Sunda melalui kajian sejarah Paguyuban Pasundan di Tasikmalaya?
3. Bagaimana hasil yang diperoleh dengan pembelajaran penerapan modal sosial orang Sunda melalui kajian sejarah Paguyuban Pasundan di Tasikmalaya? 4. Bagaimana solusi dalam memecahkan kendala yang dihadapi dalam
pembelajaran penerapan modal sosial orang Sunda melalui kajian sejarah Paguyuban Pasundan di Tasikmalaya?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin diperoleh dengan melakukan penelitian ini adalah: 1. Memperoleh desain pembelajaran penerapan modal sosial orang Sunda
melalui kajian sejarah Paguyuban Pasundan di Tasikmalaya.
2. Memperoleh gambaran implementasi pembelajran penerapan modal sosial orang Sunda melalui kajian sejarah Paguyuban Pasundan di Tasikmalaya. 3. Mengidentifikasi hasil yang diperoleh dari pembelajaran penerapan modal
sosial orang Sunda melalui kajian sejarah Paguyuban Pasundan di Tasikmalaya.
4. Mengidentifikasi solusi dalam memecahkan kendala yang dihadapi dalam pembelajaran penerapan modal sosial orang Sunda melalui kajian sejarah Paguyuban Pasundan di Tasikmalaya.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis
b. Sebagai sumber data untuk penelitian kedepannya dalam memahami lebih jauh mengenai pengaruh implementasi pembelajaran sejarah lokal dengan mengintegrasikan nilai kearifan lokal dalam pembelajaran sejarah terhadap pengembangan kesadaran sejarah peserta didik.
2. Manfaat Kebijakan
Memberikan informasi terhadap sekolah atau lembaga terkait melalui pengembangan kesadaran sejarah pada peserta didik dengan menggunakan pembelajaran penerapan modal sosial orang Sunda melalui kajian sejarah Paguyuban Pasundan di Tasikmalaya. Dengan demikian, informasi diharapkan menjadi pertimbangan dalam materi sejarah pada kurikulum yang dilaksanakan di sekolah.
3. Manfaat Praktis
a. Bagi guru yaitu sebagai motivasi dan bahan pertimbangan guru untuk lebih memanfaatkan sejarah lokal untuk mengaitkannya dengan sejarah nasional dalam merencanakan dan mengemas proses pembelajarannya b. Bagi peserta didik yaitu diharapkan lebih mengenal, memahami dan
menghargai sejarah lokalnya yang merupakan bagian dari sejarah bangsanya serta menjadi momentum kesadaran sejarahnya terhadap apa yang ada di lingkungan sekitarnya.
c. Bagi sekolah yaitu meningkatkan prestasi sekolah melalui inovasi-inovasi yang dilakukan oleh guru sehingga guru lain termotivasi untuk meningkatkan profesionalisme.
F. Paradigma Penelitian
melakukan studi itu telah diterima secara luas. Dalam hal ini Chalmers (1983, hlm. 13) menyatakan, ”bahwa pengembangan ilmu bertitik tolak dari observasi, dan observasi memberikan dasar yang kokoh untuk membangun pengetahuan ilmiah di atasnya, sedangkan pengetahuan ilmiah disimpulkan dari keterangan-keterangan observasi yang diperoleh melalui induksi”.
Adapun bagan paradigma dari penelitian ini adalah: