• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum Keuangan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum Keuangan"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

DAMPAK PEMBENTUKAN DAERAH OTONOM BARU

TEHADAP KEBIJAKAN ALOKASI DANA PERIMBANGAN

Disampaikan Oleh:

Drs. Kadjatmiko, M.Soc.Sc

Direktur Dana Perimbangan

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Departemen Keuangan Republik Indonesia

I. PENDAHULUAN

Otonomi adalah penyerahan tanggung jawab antar berbagai tingkatan

pemerintahan dalam mendukung pelayanan publik yang lebih baik. Sejak

disahkannya Undang-undang (UU) Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah

Daerah dan UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara

Pemerintah Pusat dan Daerah, perubahan sistem pemerintahan dari yang

sentralistik menjadi desentralistik menjadi tuntutan yang tidak terhindarkan.

Kedua UU tersebut menekankan bahwa pengembangan otonomi Daerah

diselenggarakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip demokrasi, partisipasi

masyarakat, pemerataan, keadilan, pengembangan peran dan fungsi Dewan

Perwakilan Rakyat (DPRD), serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman

Daerah. Kedua UU tersebut, juga telah memberi kejelasan arah yang ingin dicapai

dan memberi keleluasaan bagi Daerah melebihi apa yang ada di masa sebelumnya.

Pada dasarnya titik sentral otonomi Daerah adalah penyerahan wewenang

dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah, dimana salah satu aspek

pentingnya adalah masalah keuangan. Dengan pelaksanaan otonomi Daerah,

(2)

hubungan keuangan Pusat dan Daerah yang selama ini dijalankan sampai dengan

Tahun 2000. Pada hakekatnya hubungan keuangan Pusat dan Daerah meliputi

masalah pembagian, yakni pembagian tanggung jawab pelaksanaan

kegiatan-kegiatan tertentu pada tingkat pemerintahan serta pembagian sumber-sumber

keuangan yang akan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan

kegiatan-kegiatan tersebut. Dengan kata lain, hubungan ini menyangkut pembagian

kekuasaan diantara tingkat pemerintahan.

Kewenangan dibidang keuangan yang pada dasarnya melekat pada setiap

kewenangan pemerintahan yang diserahkan ke Daerah, turut pula diserahkan

untuk menjadi kewenangan Daerah. Termasuk dalam kesatuan penyerahan

kewenangan ini adalah penyerahan dan pengalihan sarana dan prasarana serta

sumber daya manusia yang terkait dengan kewenangan tersebut. Adapun

penyerahan kewenangan dibidang keuangan sebagaimana diatur dalam UU

Nomor 25 Tahun 1999 diwujudkan dalam pemberian kewenangan untuk

memanfaatkan sumber keuangan Daerah sendiri (PAD) dan didukung dengan

perimbangan keuangan Pusat dan Daerah.

Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah adalah

suatu sistem pembiayaan pemerintahan dalam kerangka negara kesatuan, yang

mencakup pembagian keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah secara

proporsional, demokratis, adil, transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi

dan kebutuhan Daerah, sejalan dengan kewajiban dan pembagian kewenangan

(3)

dialokasikan kepada Daerah sesuai dengan potensi dan hasil Daerah guna

melaksanakan otonomi daerah. Pengalokasian sumber daya nasional juga

dimaksudkan untuk mengurangi kesenjangan antar Daerah yang bersangkutan.

Potensi fiskal daerah sebagai sumber pembiayaan dikelola oleh daerah untuk

membiayai kebutuhannya dalam melayani masyarakat.

Pengaturan sistem Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan

Daerah selaras dengan sistem pembagian kewenangan Pemerintahan atara

Pemerintah Pusat dan Daerah. Inisiatif penyempurnaan UU No. 25 tahun 1999

tersebut adalah untuk menyelaraskan pembiayaan dengan kewenangan agar

penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada

masyarakat dapat dilaksanakan secara proporsional dan merata di seluruh

daerah.

II. KEBIJAKAN DANA PERIMBANGAN

A. Dana Perimbangan Sebagai Transfer Dana Pemerintah Pusat Ke Daerah

Sesuai dengan UU Nomor 25 Tahun 1999, bahwa sumber penerimaan

Daerah dalam pelaksanaan desentralisasi meliputi antara lain (a) Pendapatan Asli

Daerah (PAD), (b) Dana Perimbangan, yang terdiri dari: Bagian Daerah dari

penerimaan Pajak Bumi dan Bagunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan

Bangunan (BPHTB), Pajak Penghasilan (PPh) Perseorangan, dan penerimaan

Sumber Daya Alam (SDA); Dana Alokasi Umum (DAU); dan Dana Alokasi Khusus

(DAK), (c) Pinjaman Daerah, dan (d) Lain-lain Penerimaan yang sah.

Dari berbagai sumber penerimaan Daerah tersebut, Dana Perimbangan

(4)

Transfer dana dari Pemerintah Pusat kepada Daerah (intergovernmental fiscal

transfer) merupakan satu dari beberapa pilar pokok desentralisasi fiskal. Isu-isu

lainnya adalah pembagian kewenangan (expenditure assignment), pembagian

sumber pendapatan (revenue assignment), dan pinjaman Daerah. Dalam konteks

Indonesia dewasa ini, transfer dana dari Pemerintah Pusat ke Daerah tersebut

adalah dalam wujud DAU dan DAK. DAU merupakan transfer dana yang bersifat

umum (block grant), sementara DAK merupakan transfer dana yang bersifat

spesifik, yaitu untuk tujuan-tujuan tertentu yang sudah digariskan (specific grant).

Dengan demikian, transfer dana dimaksud tidak termasuk bagi hasil (revenue

sharing) antara Pemerintah Pusat dan Daerah.

Dalam APBN TA 2001, total Dana Perimbangan adalah sebesar Rp81,48

triliun atau 5,5% dari PDB, yang terdiri dari Bagian Daerah sebesar Rp20,3 triliun,

DAU sebesar Rp60,5 triliun, dan DAK sebesar Rp700,6 miliar. Sementara dalam

RAPBN TA 2002, total Dana Perimbangan mencapai Rp 94.531, 8 milyar yang

terdiri dari Bagian Daerah mencapai Rp 24.600,4 milyar, DAU mencapai Rp

69.114,1 milyar, dan DAK mencapai Rp 817,3 miliar.

B. Bagian Daerah

Sebelum dikeluarkannya UU Nomor 25 Tahun 1999, pada dasarnya antara

Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah telah dilakukan berbagai bagi hasil

(5)

(migas) dan sektor perikanan. Penerimaan tersebut dibagihasilkan kepada Daerah

dengan prosentase tertentu yang masih mempertimbangkan unsur subsidi silang

antar Daerah yang mempunyai SDA dengan Daerah yang miskin SDA.

Dengan berlakunya UU Nomor 25 Tahun 1999, Bagian Daerah yang

merupakan penerimaan dari bagi hasil pajak dan SDA diperluas sehingga bagi

hasil atas penerimaan SDA meliputi penerimaan dari minyak bumi dan gas alam

(migas), pertambangan umum, kehutanan, dan perikanan. Sementara itu, untuk

penerimaan bagi hasil pajak terdiri dari penerimaan PBB dan BPHTB. Dana bagi

hasil tersebut diperoleh dengan prosentase tertentu yang ditetapkan dalam UU

Nomor 25 Tahun 1999 jo PP Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan

yang didasarkan atas Daerah Penghasil (by origin).

Selanjutnya berdasarkan Undang-undang PPh karyawan yang baru (UU

Nomor 17 Tahun 2000), Daerah memperoleh bagi hasil dari Pajak Penghasilan

(PPh) perorangan (personal income tax), yaitu PPh Karyawan (Pasal 21) serta

PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi. Ditetapkannya PPh Perorangan sebagai objek

bagi hasil dimaksudkan sebagai kompensasi dan penyelaras bagi Daerah-daerah

yang tidak memiliki SDA tetapi memberikan kontribusi yang besar bagi

penerimaan negara (APBN). Secara keseluruhan, persentase bagian Daerah dari

(6)

Tabel: PROPORSI BAGI HASIL BEBERAPA PENERIMAAN NEGARA

SEBELUM DAN SESUDAH UU-PKPD SERTA

UU OTONOMI KHUSUS PROP. NAD DAN PROP. PAPUA (Persentase)

(7)

Melalui penerimaan dari Bagian Daerah berdasarkan tabel diatas

diharapkan potensi penerimaan Daerah menjadi semakin besar dan juga dapat

meredam keinginan Daerah untuk menguasai sendiri pemanfaatan SDA yang

dimilikinya. Hal ini karena Daerah penghasil/asal (origin) dapat menikmati

sebagian penerimaan yang benar-benar diperoleh dari potensi Daerah yang

bersangkutan. Namun demikian, pembagian tersebut pada dasarnya cenderung

menimbulkan terjadinya ketimpangan antar Daerah. Hal ini disebabkan hanya

beberapa Daerah di Indonesia yang memiliki potensi SDA secara signifikan,

seperti minyak bumi dan gas alam (migas), pertambangan, dan kehutanan.

Demikian pula halnya dengan potensi penerimaan Daerah dari PBB, BPHTB, dan

PPh Perorangan, dimana potensi yang cukup signifikan hanya dimiliki oleh

beberapa Daerah saja.

Berdasarkan ketentuan dalam UU Nomor 25 Tahun 1999 dan UU Nomor

17 Tahun 2000, dalam APBN TA 2001 Pemerintah Daerah akan memperoleh

Bagian Daerah dari dana bagi hasil dari pajak dan SDA sebesar Rp20.259,2 miliar

atau 24,8 persen dari total Dana Perimbangan. Pemerintah Propinsi akan

memperoleh Rp4.694,7 miliar, sedangkan Pemerintah Kabupaten/Kota akan

memperoleh Rp15.564,5 miliar. Realisasi pencairan dana bagi hasil sampai

dengan bulan Agustus 2001 telah mencapai Rp8.870,7 atau 43,3% dari

keseluruhan dana bagi hasil yang akan diterima Daerah.

Proyeksi Dana Bagi Hasil dalam tahun anggaran 2002 sangat tergantung

dari besarnya penerimaan pajak dan SDA yang dibagihasilkan. Secara nasional,

kebijakan alokasi dana bagi hasil dalam tahun 2002 masih tetap mengacu pada

(8)

Darussalam (NAD) dan Propinsi Papua. Imbangan bagi hasil minyak bumi dan

gas alam masing-masing menjadi 70% baik untuk Propinsi NAD maupun Propinsi

Papua dan 30% untuk Pusat. Disamping itu untuk Propinsi Papua disediakan

dana setara 2% dari DAU secara nasional atau sebesar Rp1.382,3 triliun dalam

RAPBN 2002.

Dalam tahun 2002, besarnya Dana Bagi Hasil secara nasional diperkirakan

juga mengalami kenaikan apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini

tercermin dari besarnya Dana Bagi Hasil tahun 2002 yang mencapai Rp. 24,6

triliun atau meningkat sekitar 21% dari tahun sebelumnya sebesar Rp. 20,3 triliun.

Dari keseluruhan komponen dana bagi hasil, baik dana bagi hasil pajak maupun

bagi hasil sumber daya alam (SDA) juga mengalami kenaikan. Secara nasional,

dana bagi hasil PBB dan BPHTB masing-masing mengalami kenaikan sekitar

25% dan 50%. Sedangkan dana bagi hasil PPh Orang Pribadi dan PPh Pasal 21

diperkirakan juga mengalami peningkatan. Sementara itu, Dana Bagi Hasil SDA

diperkirakan mengalami kenaikan sekitar 25% yang terdiri dari Dana Bagi Hasil

SDA kehutanan meningkat sekitar 142%, bagi hasil pertambangan umum sekitar

44%, minyak bumi dan gas alam masing-masing mengalami kenaikan sekitar 12%

dan 13%, sedangkan bagi hasil dari SDA perikanan diperkirakan akan sama

(9)

C. Dana Alokasi Umum (DAU)

Sebagai salah satu bentuk transfer dana dari Pemerintah Pusat, alokasi

DAU mempunyai peranan yang cukup besar bagi pendapatan Daerah mengingat

DAU menduduki porsi jumlah terbesar dibandingkan komponen lainnya dalam

Dana Perimbangan.

Per definisi, DAU adalah dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan

dengan tujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan antar Daerah untuk

membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

Dengan adanya DAU ini diharapkan perbedaan kemampuan keuangan antara

Daerah yang maju dengan Daerah yang belum berkembang dapat diperkecil.

Pembagian dana bagian Daerah melalui bagi hasil (revenue sharing)

berdasarkan daerah penghasil (by origin) cenderung menimbulkan ketimpangan

antar Daerah, dimana Daerah yang mempunyai potensi pajak dan SDA yang

besar hanya terbatas pada beberapa Daerah tertentu. Peran strategis distribusi

DAU terletak pada kemampuannya untuk menciptakan pemerataan berdasarkan

pertimbangan atas potensi fiskal dan kebutuhan nyata dari masing-masing

Daerah. Oleh karena itu, DAU untuk suatu Daerah ditetapkan berdasarkan fiscal

gap yang dihitung berdasarkan potensi penerimaan (fiscal capacity) dan

kebutuhan belanja (fiscal needs). Dengan demikian, fungsi dari alokasi DAU

adalah untuk menutup gap yang terjadi karena fiscal needs melebihi fiscal

capacity yang dimiliki suatu Daerah.

Karena “fungsinya” sebagai alat untuk mengurangi ketimpangan fiskal

(10)

dari Dana Perimbangan dan juga kapasitas fiskal Daerah sendiri (PAD). Artinya,

DAU tidak boleh dilihat secara terpisah dengan (terutama) bagi hasil pajak (PBB,

BPHTB, PPh perorangan) dan bagi hasil SDA, karena DAU memiliki fungsi untuk

menetralisasi dampak yang diakibatkan oleh bagi hasil tersebut atau bisa

dianggap sebagai equalization grant.

Sebagaimana diatur dalam UU Nomor 25 Tahun 1999, jumlah DAU

ditetapkan sekurang-kurangnya 25% dari Penerimaan Dalam Negeri (PDN) netto

dalam APBN (PDN setelah dikurangi dengan bagi hasil ke Daerah termasuk Dana

Reboisasi) pada tahun yang sama, dimana untuk Propinsi sebesar 10%-nya dan

Kabupaten/Kota sebesar 90%-nya.

Dengan menggunakan bobot DAU masing-masing Daerah, maka dapat

dihitung besarnya alokasi DAU untuk suatu Propinsi ataupun suatu

Kabupaten/Kota.

(a) Besarnya alokasi DAU ke suatu Propinsi

Besarnya alokasi DAU ke suatu Propinsi dihitung dengan mengalikan bobot

Propinsi yang bersangkutan dengan besarnya total DAU yang tersedia untuk

Propinsi, yang secara nasional adalah 10% dikalikan dengan 25% dari PDN

netto.

(11)

(b) Besarnya alokasi DAU ke suatu Kabupaten/Kota

Mirip dengan perhitungan alokasi ke Propinsi, perbedaannya adalah total DAU

yang tersedia untuk Kabupaten/Kota sebesar 10% terhadap 25% dari PDN

netto.

Alokasi DAU Ke Suatu Kabupaten/Kota = 90% x 25% x PDN netto x

Bobot Kabupaten/Kota

Dalam penghitungan DAU yang dialokasikan kepada Daerah (Propinsi,

Kabupaten, dan Kota) seluruh Indonesia dilakukan oleh Sekretariat Bidang

Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah pada Dewan Pertimbangan Otonomi

Daerah (DPOD) yang hasilnya akan direkomendasikan kepada DPOD yang

selanjutnya akan dikonsultasikan dengan Panitia Anggaran DPR RI. Dengan

pertimbangan untuk menghindari kemungkinan penurunan kemampuan Daerah

dalam pembiayaannya, maka perhitungan DAU dimaksud juga

mempertimbangkan adanya Faktor Penyeimbang yang sudah ditentukan.

Selanjutnya, hasil perhitungan DAU untuk masing-masing Daerah yang sudah

menjadi kesepakatan dalam DPOD akan disampaikan kepada Presiden untuk

dapat ditetapkan dengan Keputusan Presiden.

Hasil perhitungan DAU TA 2001 telah ditetapkan dalam Keppres Nomor

181 Tahun 2000 tentang Dana Alokasi Umum Daerah Propinsi dan Daerah

Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2001. Dalam APBN TA 2001, alokasi DAU yang

didistribusikan kepada seluruh Daerah berdasarkan Keppres dimaksud mencapai

(12)

dialokasikan untuk Daerah. Dari jumlah tersebut, Pemerintah Propinsi

memperoleh Rp6,2 triliun, sedangkan untuk Pemerintah Kabupaten/Kota

memperoleh Rp54,3 triliun. Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor

556/KMK.03/2000, penyaluran DAU kepada masing-masing Daerah dilakukan

oleh Menteri Keuangan c.q Ditjen Anggaran secara berkala setiap bulan sebesar

1/12 dari plafon DAU masing-masing Daerah sesuai yang ditetapkan dalam

Keppres Nomor 181 Tahun 2000.

DAU Tahun Anggaran 2002

Dalam rangka perhitungan DAU untuk TA 2002 dan tahun-tahun

selanjutnya sudah diadakan komitmen bersama antara Pemerintah dan Panitia

Anggaran DPR-RI untuk mengkaji ulang sekaligus mereformulasi DAU TA 2002,

agar dihasilkan perhitungan dan distribusi DAU yang lebih baik dan mencerminkan

rasa keadilan antar Daerah. Hal ini mengingat bahwa perhitungan dan distribusi

DAU TA 2001 seperti yang tercantum dalam Keppres 181 Tahun 2000 belum

sepenuhnya dapat mencerminkan pemerataan kemampuan keuangan antar

Daerah sesuai dengan amanat UU Nomor 25 Tahun 1999. Dengan pengertian

lain, bahwa DAU belum dapat berfungsi sebagai equalization grant.

Reformulasi dan perhitungan DAU yang akan digunakan dalam TA 2002

pada dasarnya merupakan penyempurnaan dari perhitungan fiscal gap, baik yang

menyangkut kebutuhan Daerah (fiscal needs) maupun kapasitas fiskal (fiscal

(13)

masih memperhitungkan keberadaan Faktor Penyeimbang yang diharapkan

semakin kecil peranannya dibandingkan dengan formulasi DAU TA 2001.

Beberapa variabel yang digunakan dalam formulasi fiscal gap dalam

perhitungan DAU TA 2002 meliputi :

a. Variabel-variabel potensi Daerah (fiscal capacity), terdiri dari potensi PAD

(dihitung dari PDRB sektor jasa dengan menggunakan metode ekonometrika)

dan potensi penerimaan bagi hasil (PBB, BPHTB, PPh Perseorangan, dan

SDA). Bagi hasil SDA hanya diperhitungkan 75%, dengan pertimbangan untuk

mengakomodasi adanya kekhawatiran Daerah mengenai ketidakpastian

jumlah bagi hasil SDA yang akan diterima serta untuk memberikan insentif ke

Daerah sebagai biaya untuk perbaikan lingkungan dan sosial cost akibat

dampak dari eksploitasi SDA dimaksud.

b. Variabel-variabel kebutuhan Daerah (fiscal needs) dibagi atas variabel

kependudukan dan variabel kewilayahan. Variabel kependudukan meliputi

Jumlah Penduduk, Indeks Kemiskinan Relatif (proxi : Poverty Gap), dan

Kepadatan Penduduk. Sementara untuk variabel kewilayahan meliputi Luas

Wilayah dan Indeks Harga Bangunan. Masing-masing variabel diberi bobot

nilai yang berbeda, yaitu :

Variabel kependudukan (0,5), yang terdiri atas Indeks Penduduk (IP)

sebesar 0,4, Indeks Kemiskinan Relatif (IKR) sebesar 0,1, dan Indeks

Density (ID) sebesar 0,0;

Variabel kewilayahan (0,5), yang terdiri atas Indeks Wilayah (IW) sebesar 0,1 dan

(14)

Untuk menghindari kemungkinan penurunan kemampuan Daerah dalam

membiayai beban pengeluaran yang sudah menjadi tanggung jawabnya, maka

perhitungan DAU 2002 disamping menggunakan formula Fiscal Gap juga

menggunakan Faktor Penyeimbang (sesuai PP Nomor 104 tentang Dana

Perimbangan sebagaimana telah direvisi dengan PP Nomor 84 Tahun 2001).

Dengan adanya Faktor Penyeimbang, alokasi DAU kepada Daerah ditentukan

dengan perhitungan formula Fiscal Gap dan Faktor Penyeimbang.

Dalam rangka perhitungan DAU untuk TA 2002 dan tahun-tahun selanjutnya

sudah ada komitmen bersama antara Pemerintah dan Panitia Anggaran DPR-RI

untuk mengkaji ulang sekaligus mereformulasi DAU TA 2002, agar dihasilkan

perhitungan dan distribusi DAU TA 2002 yang lebih baik dan mencerminkan rasa

keadilan antar Daerah. Formula DAU TA 2002 merupakan rekomendasi dari Tim

Independen yang terdiri dari 4 (empat) universitas yang selama ini terlibat dalam

kajian dibidang keuangan Daerah (UI, UGM, UNAND, dan UNHAS) kepada

Pemerintah.

Formula DAU tersebut telah disetujui oleh DPOD dan oleh Pemerintah telah

ditetapkan dengan PP Nomor 84 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas PP Nomor

104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan. Namun demikian, dalam

perhitungan DAU TA 2002 berdasarkan plafon DAU dalam APBN TA 2002

(Rp69,1 triliun) dengan formula tersebut terdapat Daerah-daerah baik Provinsi

maupun Kabupaten/Kota yang mengalami penurunan penerimaan DAU TA 2002

(15)

Sesuai dengan pembahasan perhitungan DAU TA 2002 dengan Panitia

Anggaran telah disepakati bahwa hasil akhir perhitungan DAU TA 2002

menggunakan formula DAU sebagaimana dimaksud di atas dengan dilakukan

beberapa penyesuaian dengan tujuan tidak ada Daerah yang menerima DAU TA

2002 lebih kecil dari DAU TA 2001 ditambah Dana Kontinjensi 2001 bagi Daerah

yang menerima. Untuk tujuan tersebut telah ada tambahan dana untuk DAU

(bukan dari plafon) yang disebut dengan Dana Penyeimbang sebesar Rp2.054,72

miliar yang perhitungannya bersamaan dengan perhitungan DAU (dalam tabel

terlampir).

Keberadaan Dana Penyeimbang juga dimaksudkan untuk menambah

penerimaan DAU Provinsi, dimana dengan 10% dari total DAU secara nasional

untuk penerimaan DAU Provinsi dirasa masih kurang dibandingkan dengan

kebutuhan DAU seluruh Provinsi. Dalam TA 2002, penerimaan DAU seluruh

Provinsi sebesar Rp6,91 triliun, sementara penerimaan DAU TA 2001 ditambah

Dana Kontinjensi untuk Provinsi sebesar Rp7,47 triliun.

Alokasi DAU TA 2002 untuk Provinsi dan Kabupaten/Kota telah ditetapkan

dengan Keputusan Presiden Nomor 131 Tahun 2001 tentang Dana Alokasi Umum

Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2002 tertanggal 31

Desember. Selanjutnya pada tanggal yang sama telah pula ditetapkan Keputusan

Menteri Keuangan Nomor 685/KMK.07/2001 tentang Penetapan Rincian Dana

Penyeimbang Tahun Anggaran 2002 Kepada Daerah Provinsi dan Daerah

Kabupaten/Kota. Rincian alokasi DAU TA 2002 dan Dana Penyeimbang untuk

(16)

Sedangkan perhitungan DAU Tahun 2002 untuk 12 Kota baru yang dibentuk

pada tahun 2001 belum dapat dilakukan secara nasional, hal ini karena

keterbatasan data terutama data kapasitas fiskal. Adapun metode penghitungan

untuk 12 Kota baru tersebut sebagai berikut :

a. Alokasi Minimum

Mendapatkan lumpsum yang diperhitungkan secara Nasional, dengan

besaran yang sama dengan Kabupaten/Kota lainnya

Proporsional Belanja Pegawai antara Kabupaten Induk dan Kota

pemekarannya

b. Kesenjangan Fiskal (KF)

Dibagi proporsional berdasarkan Luas Wilayah dan jumlah Pendudk antara

Kabupaten Induk dan Kota Pemekarannya, dengan rasio 50% : 50%.

D. DANA ALOKASI KHUSUS (DAK)

Pada hakikatnya pengertian Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang

berasal dari APBN, yang dialokasikan kepada Daerah untuk membantu

membiayai kebutuhan khusus. Pengalokasian DAK ditentukan dengan

memperhatikan tersedianya dana dalam APBN.

Untuk itu kebutuhan khusus yang dapat dibiayai dengan DAK yaitu :

a. Kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus alokasi

umum;

(17)

c. 40% dari penerimaan negara yang berasal dari Dana reboisasi disediakan

kepada Daerah penghasil sebagai DAK untuk membantu membiayai kegiatan

reboisasi dan penghijauan.

Persyaratan umum DAK Khususnya untuk butir a di atas adalah sebagai berikut:

a. Adanya usulan daerah yang diajukan ke Menteri Teknis/Instansi terkait;

b. Daerah tidak mampu membiayai keseluruhan kegiatan tersebut dari PAD,

DAU, Bagi Hasil, Penerimaan lain yang sah;

c. Daerah menyediakan dana pendamping sekurang-kurangnya 10%;

d. Kegiatan tersebut memenuhi kriteria teknis sektor/kegiatan yang ditetapkan

oleh Menteri Teknis/Instansi terkait.

Pengalokasian DAK kepada Daerah ditetapkan oleh Menteri Keuangan

setelah memperhatikan pertimbangan Menteri Dalam Negeri, Menteri Teknis

terkait dan instansi yang membidangi perencanaan pembangunan nasional.

Sesuai dengan penjelasan pasal 19 ayat (2) PP Nomor 104 Tahun 2000

disebutkan bahwa:

a. DAK digunakan untuk membiayai investasi peningkatan dan atau perbaikan

prasarana dan sarana fisik dengan umur ekonomis yang panjang;

b. Dalam keadaan tertentu DAK dapat membantu membiayai pengoperasian dan

pemeliharaan prasarana dan sarana tertentu untuk periode terbatas, tidak

melebihi 3 (tiga) tahun;

Kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan secara umum dengan rumus

adalah kebutuhan yang bersifat khusus yang tidak sama dengan kebutuhan

(18)

jenis investasi/prasarana baru, pembangunan jalan di kawasan terpencil, saluran

irigasi primer, dan saluran drainase primer. Sementara kebutuhan yang

merupakan komitmen atau prioritas nasional termasuk antara lain: proyek yang

dibiayai donor, pembiayaan reboisasi oleh daerah, dan proyek-proyek

kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia.

Adapun kegiatan yang tidak dapat dibiayai dari DAK yaitu untuk keperluan

biaya: administrasi, penyiapan proyek fisik, penelitian, perjalanan dinas,

administrasi umum, dan lain-lain biaya umum sejenis. Penyaluran DAK diatur

dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 556/KMK.03/2000 tanggal 26

Desember 2000 tentang Tata Cara Penyaluran Dana Alokasi Umum dan Dana

Alokasi Khusus.

Untuk DAK tahun 2001 hanya dialokasikan untuk Dana Reboisasi dimana

berdasarkan penyesuaian APBN tahun 2001, alokasi DAK-Dana Reboisasi

(DAK-DR) semula sebesar Rp. 900,6 milyar menjadi Rp. 700,6 milyar. Adapun Pedoman

Umum Pengelolaan DAK-DR untuk Penyelenggaraan Rehabilitasi Hutan dan

Lahan Tahun 2001 diatur dalam Surat Edaran Bersama Departemen Keuangan,

Departemen Kehutanan, Departemen Dalam Negeri dan Otda, dan Bappenas

Nomor: SE-59/A/2001, Nomor: SE-720/MENHUT-II/2001, Nomor: 2035/D.IV/

05/2001, dan Nomor: SE-522.4/947/5/BANGDA. Sedangkan penetapan

pengalokasian DAK-DR APBN tahun 2001 kepada Propinsi telah ditetapkan

melalui Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 491/KMK.02/2001 tanggal 6

(19)

Dalam rangka pengalokasian DAK TA 2002 dilakukan dengan

memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Mengingat keterbatasan dana dalam APBN, untuk tahun 2002 DAK hanya

dialokasikan untuk Dana Reboisasi, sebagaimana tahun 2001 yang dalam

RAPBN tahun 2002 dialokasikan sebesar Rp. 817,3 milyar.

Untuk persiapan penyusunan dan pengalokasian DAK-DR tahun 2002 tersebut,

saat ini sedang dilakukan permintaan data ke Departemen Kehutanan.

III. Dampak Pembentukan daerah otonom baru terhadap kebijakan alokasi

dana perimbangan

Sebagaimana diamanatkan UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang

Pemerintahan Daerah, dimungkinkan dibentuknya suatu daerah otonom baru

sepanjang memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh peraturan

perundang-unda-ngan yang berlaku. Demikian juga halnya apabila suatu daerah otonom tidak

mampu untuk mengurus daerah otonomnya maka dimungkinkan dilebur dengan

daerah otonomi lainnya. Pada Tahun Anggaran 2000 dibentuk sebanyak 42

derah kabupaten/kota dan 3 daerah Propinsi, sedangkan pada Tahun Anggaran

2001 dibentuk 12 daerah Kota baru.

Dengan adanya pembentukan daerah otonom baru tidak terlalu

berpengaruh terhadap kebijakan dana perimbangan secara nasional khususnya

terhadap kebijakan pengalokasian DAU. Pengalokasian DAU untuk daerah

(20)

yaitu dengan mengunakan konsep kesenjangan fiskal yaitu kebutuhan DAU suatu

daerah ditentukan oleh selisih kapasitas daerah dengan kebutuhan suatu daerah.

Tetapi walaupun demikian dengan adanya pembentukan daerah otonom baru

akan sangat berdampak terhadap penerimaan DAU baik terhadap daerah otonom

induknya maupun terhadap daerah-daerah otonom lainnya, karena dalam

pembagian DAU dengan plafond DAU yang sama dibagi dengan daerah yang

lebih banyak, sehingga alokasi DAU yang diterima akan semakin kecil.

Untuk kebijakan Bagian Daerah dari bagi hasil secara nasional dengan

adanya pembentukan daerah otonom baru juga tidak akan terlalu berpengaruh,

tetapi walaupun demikian penerimaan daerah dari bagi hasil terutama untuk

daerah otonom induknya dan daerah otonom definitif lainnya dalam satu propinsi

akan sangat berpengaruh.

Terhadap 22 (dua puluh dua) Kabupaten/Kota yang baru dibentuk pada

Tahun 2002, dapat diperhitungkan dalam penghitungan DAU TA 2003 selama

variabel dan data yang digunakan dalam formulasi DAU TA 2003 tersedia, adapun

jika data dan variabel yang digunakan dalam formulasi DAU TA 2003 tidak

tersedia, maka kebijakan alokasi DAU terhadap ke 22 Kabupaten/Kota baru

tersebut sama dengan kebijakan alokasi DAU TA 2002 terhadap 12 Kota yang

dibentuk pada tahun 2001, yaitu hanya diperhitungan dengan Kabupaten

Induknya.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Departemen tersebut memperoleh dana dari APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) selain dari APBN dana juga dapat diperoleh dari dana pemerintah daerah yang sering disebut

(1) Dana Penguatan Desentralisasi Fiskal dan Percepatan Pembangunan Daerah (DPDF dan PPD) yang dialokasikan kepada daerah provinsi dan kabupaten/kota adalah bagian dari Dana

(2) Perkiraan alokasi Dana Bagi Hasil Pajak Bumi dan Bangunan masing-masing daerah untuk Tahun Anggaran 2009 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan atas rencana

(2) Alokasi sementara Dana Bagi Hasil PPh Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 masing-masing daerah untuk Tahun Anggaran 2007

antara lain, menambah jenis pajak daerah dan retribusi daerah, memperluas basis pajak daerah dan retribusi daerah yang sudah ada , mengalihkan beberapa jenis pajak pusat

Menimbang : bahwa dalam rangka penetapan alokasi kurang bayar Dana Bagi Hasik Pajak (DBH) Tahun Anggaran 2005 dan 2006 untuk daerah provinsi, kabupaten, dan kota yang

KESATU : Membatalkan Peraturan Daerah Kabupaten Serang Nomor 24 Tahun 2001 tentang Pajak Pengelolaan Dermaga dengan alasan bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000

Dana Bagi Hasil, adalah dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan.. kepada Daerah berdasarkan angka prosentase untuk mendanai kebutuhan