Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana dalam Program Strata Satu (S-1) Pada Jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI)
Oleh: Muhammad Irfan
A02213067
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
ABSTRAK
Skripsi ini merupakan hasil penelitian sejarah yang berjudul Peran Komunitas “Orong-Orong” Dalam Pengembangan Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Ustmaniyah Di Kecamatan Gresik Tahun (1987 M -2005 M). Yang menjadi fokus pembahasannya adalah tentang (1) Sejarah Komunitas Orong-Orong (2) Ajaran, Amaliyah, dan kegiatan Komunitas Orong-Orong (3) Peran Komunitas Orong-Orong dalam pengembangan Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Ustmaniyah.
Untuk menjawab permasalahan di atas penulis menggunakan metode historis, yaitu suatu langkah atau cara merekontruksi masa lampau secara sistematis dan objektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis (sejarah) dan bersifat kualitatif. Sedangkan teori yang digunakan adalah teori developmentalisme dari Sartono Kartodirjo. Dimana teori ini mengemukakan tentang bahwa masyarakat mengalami pertumbuhan dan perkembangan, suatu proses adaptasi terhadap lingkungan, serta lebih efektif mempunyai tujuan.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa, (1) Komunitas Orong-Orong
terbentuk berawal dari pertemuan anak jalanan dengan KH. Achmad Asrori pada tahun 1988 M. Di rumah KH. Achmad Asrori mereka berbincang-bincang hingga tercetus nama Orong-Orong oleh KH. Asrori, dikarenakan kehidupan anak jalanan tersebut sama dengan kehidupan hewan Orong-Orong dimana hewan tersebut beraktifitas di malam hari sama halnya yang dilakukan anak jalanan tersebut yang suka begadang di malam hari. (2) Ajaran, amaliyah Komunitas Orong-orong yang diberi pengarahan secara langsung oleh KH. Achmad Asrori yaitu dengan menekankan pada akhlak dan adab, karena dengan ahklaq dan adab yang baik kita dapat bersimpuh di
hadirat Allah SWT. (3) Peran Komnunitas Orong-orong dalam
ABSTRACT
This thesis is the result of historical research entitled The Role of
Orong-orong Community In Development of Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Ustmaniyah In Gresik Sub-district Year (1987-2005 AD). The focus of the
discussion is about (1) History of Orong-orong Community.(2) Teachings,
Practice, and Orong-orong Community Activities.(3) The Role of
Orong-orong Community in the development of the Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Ustmaniyah Order.
To answer the above problems the author uses the historical method, which is a step or way to reconstruct the past in a systematic and objective. This study uses a historical approach and is qualitative. While the theory used is the developmentalism theory of Sartono Kartodirjo. Where this theory suggests that people experience growth and development, a process of adaptation to the environment, and more effectively have a purpose.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...i
PERNYATAAN KEASLIAN...ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ...iv
TRANSLITERASI ...v
MOTTO ...vi
PERSEMBAHAN...vii
KATA PENGANTAR ...viii
ABSTRAK ...x
DAFTAR ISI...xii
BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...1
B. Rumusan Masalah...5
C. Tujuan Penelitian ...5
D. Kegunaan Penelitian ...5
E. Pendekatan dan Kerangka Teori ...6
F. Penelitian Terdahulu ...8
G. Metode Penelitian ...11
H. Sistematika Pembahasan...19
BAB II: SEJARAH KOMUNITAS ORONG-ORONG A. Terbentuknya Komunitas Orong-Orong ...21
B. Metamorosis Nama dari KACA, Orong-Orong, dan Al-Khidmah ...26
1. Nama Kaca (1989–1990 M)...26
2. Dari Kaca Menjadi Orong-Orong (1990–1992 M) ...28
3. Dari Orong-Orong Hingga Al-Khidmah (1992-2005 M) ...31
2. Adab ...44
B. Amaliyah Komunitas Orong-Orong Dalam Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsabandiyyah Al-Ustmaniyyah ...47
1. Penjelasan Murid ...47
2. Majlis Al Khushushy Al Khotmy ...50
3. Dzikir Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsabandiyyah Al Ustmaniyyah ...54
4. Amalan Pada Bulan Ramadhan...59
C. Kegiatan Orong-Orong Di Kecamata Gresik ...59
1. Istighosah ...59
2. Majlis Dzikir Maulid Dan Manaqib Serta Ta’lim...60
3. Majlis Haul ...62
BAB IV: PERAN KOMUNITAS ORONG-ORONG DALAM PENGEMBANGAN THORIQOH QODIRIYAH WA NAQSABANDIYAH AL-USTMANIYYAH A. Faktor Yang Mendorong Komunitas Orong-Orong Dalam Mengembangkan Thoriqoh Qodiriyah Wa Naqsabandiyyah Al-Ustmaniyyah ...65
1. Faktor Kondisi Sosial Mayarakat Kecamatan Gresik ...65
2. Faktor Kebutuhan Pemahaman Agama Masyakat Kecamatan Gresik ...67
B. Peran Orong-Orong Dalam Thoriqoh Qodiriyah Wa Naqsabandiyyah Al-Ustmaniyyah ...68
1. Penjaringan Anggota Komunitas Orong-Orong ...68
2. Membuat Majlis Hingga Mengikuti Kegiatan Thoriqoh Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Ustmaniyyah ...72
3. Jumlah Pengikut Thoriqh Qodiriyah Wa Naqsabandiyyah Al-Ustmaniyyah ...78
BAB V: PENUTUP A. Kesimpulan ...81
B. Saran ...83
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Komunitas merupakan kelompok sosial yang tinggal dalam suatu tempat, saling berinteraksi satu sama lain, saling mengenal serta mempunyai minat dan interest yang sama. Dalam hal ini ada komunitas di wilayah Gresik dimana komunitas ini merupakan suatu komunitas anak jalanan terdiri dari arek enom mbeling (anak muda nakal) kesehariannya suka mabuk, judi dan ada juga yang merupakan seniman music dan pelukis melebur menjadi satu menjadi komunitas yang bernama Orong-orong.
beraktifitas dimalam hari.1. Fenomena ini perlu dikaji lebih jauh, agar dapat diperoleh pemahaman yang bermakna.
Ajaran tarekat, dewasa ini lebih banyak dikenal dalam organisasi-organisasi berbagai macam tarekat. Ajaran tarekat itu berkembang dan diterima oleh para pemeluk Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di Jawa pada abad 17 dan 18. Gabungan tarekat Qadiriyah dengan Naqsabandiyah pun telah diamalkan oleh syekh termasyhur yaitu Ahmad Khatib ibn Abd Al-Ghaffar Sambas yang bermukim dan mengajar di Makkah pada pertengahan abad 19.2
Salah seorang penerus dan pengembang Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Al-Ustmaniyah. Al-Utsmaniyah dinisbatkan karena tarekat yang dibawa ayahnya yaitu KH. Mumammad Utsman al Ishaqi. KH. Achmad Asrori al-Ishaqi adalah pendiri dan pengasuh pondok pesantren Assalfi Al-Fithrah yang berada di Kota Surabaya, dan memiliki organisasi besar bernama Jama’ah al-Khidmah yang tersebar di berbagai pelosok nusantara. Ajaran tasawuf K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy, nampaknya sederhana dan mengena ke masyarakat. Ini terbukti dengan hadir nya ribuan jama’ah, mana kala ia menyampaikan taushiyah. Meski jama’ah ini juga merupakan bentukannya, namun tak dapat dipungkiri bahwa banyak di antara mereka hanya simpatisan, yang bukan merupakan anggota tarekat yang dipimpinnya, yang tertarik mengikuti kegiatan karena dorongan kebutuhan akan spiritualitas, dan sosok santun sang
1
Khusnul Hadi,Wawancara, Gresik, 9 Oktober 2016. 2
kiyai. Selain itu, jama’ah ini dibentuk untuk mewadahi masyarakat dalam mengabdi kepada Allah Swt, mensuri tauladani baginda Rasul SAW dan
juga menegakkan ajaran-ajaran ulama salafus solih.3
Dalam kegiatan spiritual K.H. Achmad Asrori Al-Ishaqy tergolong
sangat welas asih tidak menekankan terhadap jama’ah secara langsung untuk melakukan kegiatan spiritual tarekat melainkan bertahap seperti
yang dilakukan KH. Achmad Asrori kepada komunitas orong-orong
dimulai dengan pengajian rutin dari rumah kerumah hingga berkembang
menjadi suatu pengajian besar yang di kenal saat ini dengan nama Majlis
Dzikir Jamaah Al-Khidmah. peran Orong-orong sangat besar dalam
perluasan dakwah tarekat qodriyah wa naqsabandiyah al-utsmaniyah yaitu
dengan mengajak anak jalanan lainya dengan tidak begitu memaksa yaitu
mengikuti acara rutinan tahlil, bermain musik, cangkru’an dan melakukan
aktifitas lainnya yang diminati para pemuda pada masa itu.
Ketertarikan anak jalanan terhadap sosok KH. Achmad Asrori
yaitu tertarik pada ceramah beliau yang mana bisa menjawab
persoalan-persoalan duniawi maupun rukhaniyah sehingga dapat menyentuh hati
tiap-tiap orang yang mendengarkannya. Adapun kegiatan spiritual
Komunitas Orong-orong yaitu mengadakan rutinitas istighosa tahlil
disertai dengan tausiyah/ceramah dari KH. Achmad Asrori, lama kelamaan
rutinitas itu mulai di minati oleh banyak pemuda, sehabis itu KH. Achmad
3
Asrori menambah dengan kegiatan spriritual lainya seperti bai’at, manaqib,dzikir fida’, khususiyah, maulid, mubayaah, dan haul-haul ditiap desa yang ada di sekitar Kecamatan Gresik.4
K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy dalam ajaran tasawufnya, terlihat
lebih menekankan adab. Menurutnya, Adab adalah kunci pintu menuju
Allah, jika tidak ada adab, maka kita tidak dapat memasuki pintu menuju
Allah, dan kita tidak bisa sampai dan disampaikan bersimpuh di hadirat
Allah SWT.5 Meski demikian, ajaran tasawuf KH. Achmad Asrori
Al-Ishaqy, cenderung praktis. Seperti halnya yang diajarkan pada komunitas
orong-orong untuk menyelaraskan kehidupan buruknya dengan diselingi
ingat kepada Allah SWT melalui dzikir. Dalam hal ini komunitas
Orong-orong berperan dalam penjaringan masa, merangkul anak jalanan
bertujuan untuk beribadah dan selalu ingat kepada Allah dengan berdzikir.
Dzikir yang diajarkan adalah dzikir tauhid yang dapat menguatkan akidah
dan keimanan seseorang, jiwa akan hidup dan akal akan selamat. Selain itu
fisik akan selalu sehat, karena keimanan merupakan tulang yang mampu
membawa manusia dari keputusasaan kepada semangat yang kuat dan dari
kekacauan kepada ketenteraman. Seseorang yang beriman akan merasakan
bahwa ketenteraman itu memenuhi ruang jiwanya. Di tengah berbagai
krisis kehidupan yang serba materialis, sekular serta kehidupan yang
4
Khusnul Hadi, Wawancara, Gresik, 9 Oktober 2016. 5
Achmad Asrorial-Ishaqy, Al-Muntakhabat fi Rabithah al-Qalbiyyah wa Shilah al-Ruhiyyah
sangat sulit secara ekonomi maupun psikologis, ajaran tasawuf KH.
Achmad Asrori al-Ishaqy dapat menjadi obat penawar ruhaniah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam penelitihan ini
mengangkat suatu permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah munculnya komunitasOrong-orong?
2. Apa saja ajaran, amaliyah dan kegiatan komunitasOrong-orong?
3. Bagaimana perananya dalam pengembangan Tarekat Qadiriyah Wa
Naqsyabandiyah Al-Utsmniyah di Kecamtan Gresik ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas, maka dalam penelitihan ini
memiliki tujuan sebagai berikut:.
1. Mengetahui sejarah munculnya komunitasOrong-orong.
2. Mengetahui ajaran, amaliyah dan kegiatan komunitasOrong-orong.
3. Peran komnitasOrong-orongdalam pengembangan Tarekat Qadiriyah
Wa Naqsyabandiyah Al-Usmaniyah di Kecamatan Gresik.
D. Kegunaan Penelitihan
Peran komunitas Orong-orong dalam pengembangan Tarekat
Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Ustmaniyah Di kecamatan Gresik yang
satu ini menarik untuk dibahas lebih lanjut, sebab sebelum Jama’ah
munculnya jama’ah tersebut hingga berkembang diberbagai pulau di Indonesia maupun luar negri seperti Singpura, Malaysiah, Thailand,
Makkah dll, banyak sekali upaya yang dilakukannya dalam pengembangan
jama’ah, agar dapat diterima oleh masyarakat di satu sisi, dan memenuhi kehausan masyarakat akan spiritualitas di sisi lain. Agar dapat menjadi
sumbangan pemikiran keagamaan guna menambah wawasan khasanah
ketasawufan, maka peneliti melakukan penelitian lanjut dengan judul,
”PERAN KOMUNITAS “ORONG-ORONG” Dalam Pengembangan Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Usmaniyah Di kecamatan
Gresik Tahun 1988 M - 2005 M)”. Jama’ah yang dikomandoi oleh KH.
Achmad Asrori al-Ishaqy yang mengalami perkembangan cukup pesat
dalam waktu yang relatif singkat (1988 M – 2009 M), yang gerakannya nampak hampir ada di seluruh provinsi di Indonesia, bahkan sampai ke
luar negeri, ini sungguh menarik.
E. Pendekatan dan Kerangka Teoritik
Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini ialah pendekatan
sosiologi dan teori peranan sangat penting digunakan sebagai basis analisis
dalam penelitian Menurut Sartono Kartodirdjo, yakni deskripsi dalam
sosial, jenis hubungan sosial, pelapisan sosial, peranan dan status sosial,
dan lain-lain.6
Hal ini sebagai mana yang di jelaskan oleh Dudung Abdurrahman,
bahwa pendekatan sosiologi adalah sebuaah penggambaran peristiwa masa
lalu yang di dalamnya akan terungkap segi-segi sosial, yakni membahas
golongan sosial yang berperan, jenis hubungan sosial, pelapisan sosial,
peranan dan status sosial, dan sebagainya.7
Oleh karenanya pendekatan sosiologi dan konsep peranan sangat
relevan untuk penulisan penelitian ini. Dengan menggunakan pendekatan
sosiologi yang dimaksud akan membantu untuk mengungkap peranan
yang dilakukan komunitas Orong-orong dalam pengembangan Tarekat
Qodiriyah Wa Naqsabandiyyah Al-Ustmaniyyah.
Selain pendekatan, teori juga sangat penting di dalam sebuah
penelitian sosio-historis yang akan penulis lakukan untuk mendapatkan
jawaban dari sebuah pertanyaan bagaimana sebuah peristiwa itu bisa
terjadi. Sebuah teori berfungsi sebagai eksplanasi suatu fenomena sosial
yang berarti teori itu akan menjelaskan peristiwa yang sudah terjadi,
memprediksikan sesuatu yang akan terjadi dan juga akan mengontrol
ataupun mempengaruhi peristiwa yang akan terjadi.8
6
Sartono Kartodirjo,Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992), 5.
7
Dudung Abdurahman,Metodologi Penelitian Sejarah (Ciputat: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), 22.
8
Di dalam penelitian ini teori yang relevan digunakan untuk
menjelaskan tentang PERAN KOMUNITAS “ORONG-ORONG” Dalam
Pengembangan Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Ustmaniyah Di
Kecamatan Gresik Tahun 1988 M -2005 M adalah teori
developmentalisme dari Sartono Kartodirjo.9 Teori ini menggambarkan
bahwa masyarakat mengalami pertumbuhan dan perkembangan, suatu
proses adaptasi terhadap lingkungan, serta lebih efektif mempunyai
tujuannya.
Dalam skripsi ini, teori developmentalisme dipakai untuk
menjelaskan terjadinya pengembangan Tarekat Qodiriyah Wa
Naqsabandiyyah Al-Ustmaniyyah di kecamatan Gresik. Yang mana
komunitasOrong-orongbisa menarik banyak pengikut Tarekat Qodiriyah
Wa Naqsabandiyyah Al-Ustmaniyyah atas perintah KH. Ahcmad Asrori
sebagai guru mursyid. Dan juga berhasil mengubah anak jalanan yang
awam akan syari’at Islam menjadi mengerti tentang agama. Selain itu disertai prilaku para penganut tarekat menjadi lebih baik dilingkungannya.
Sehingga tidak jarang orang luar anggota tarekat, melihat perubahan itu
menjadi mempunyai keinginan untuk menjadi anggota tarekat.
F. Penelitihan Terdahulu
Memang sudah cukup banyak informasi tentang tokoh dan
organisasi yang berkaitan dengan objek penelitian tentang KH. Achmad
9Sartono Kartodirjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah (Jakarta: Gramedia
Asrori Al-Ishaqy dan juga Jama'ah Al-Khidmah sudah pernah dilakukan
oleh generasi sebelum penulis, namun focus pembahasannya berbeda.
Diantara penelitian-penelitian yang sudah membahas tentang KH. Achmad
Asrori Al-Ishaqy dan juga Jama'ah Al Khidmah, sebagai berikut:
1. Kusairi, “KH. Ahmad Asrori (studi historis tentang kemursyidan tarekat qadiriyah wa naqsabandiyah al usmaniyah di pondok
pesantren al fitrah kedinding surabaya pada tahun 1985-2005)”10,
Surabaya: Skripsi mahasiswa jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam
Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya, 2012. Isi: Pada skripsi Kusairi ini fokusnya kepada biografi
KH. Ahmad Asrori al-Ishaqy sampai beliau diangkat sebagai mursyid
menggantikan ayahandanya KH. Muhammad Usman al-Ishaqy. Selain
itu pada skripsi ini juga membahas tentang pendidikan di Pondok
Pesantren Assalafi Al Fitrah, sedangkan pada tulisan skripsi ini tidak
terfokus pada sejarah komuntasOrong-orongdan peranannya.
2. Mokh. Sya`rani yang berjudul Pemikiran Tasawuf Kyai Achmad
Asrori al-Ishaqy Kajian terhadap Pengajian Tasawuf Program
Mutiara Hikmah Radio Rasika FM Semarang.11 Penelitian ini cukup
relevan dengan kajian yang akan peneliti lakukan. Memang tidak
secara spesifik membahas mengenai system pengembangan tarekat
10Kusairi,“KH. Ahmad Asrori (studi historis tentang kemursyidan tarekat qadiriyah wa
naqsabandiyah al usmaniyah di pondok pesantren al fitrah kedinding surabaya pada tahun 1985-2005)”(Skripsi, UIN Sunan Ampel, Surabaya. 2012)
11
yang dilakukan oleh KH. Achmad Asrori. Ia hanya meneliti tentang
pemikiran KH. Achmad Asrori melalui ceramah-ceramahnya yang
diputar di Radio Rasika FM. Lokus dari Radio Rasika FM ini
mencakup Jawa Tengah, maka penelitian ini bisa dianggap sebagai
representasi pemikiran KH. Achmad Asrori al-Ishaqy yang
diperuntukkan bagi jama’ah al-Khidmah Jawa Tengah. Sebab, hampir menjadi kesepakatan umum, bahwa Radio Rasika FM ini menjadi
sarana komunikasi dan informasi berkenaan dengan al-Khidmah yang
ditujukan kepada para jama’ah di tingkat Jawa Tengah. Penelitian ini tidak menyinggung sejarah orong-orong dan peranannya.
3. Skripsi Wiwit 2001 Jurusan SPI, IAIN Sunan Ampel Surabaya,
berjudul “Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah Al Utsmaniyah di Pondok Pesantren As-Salafi Al-Fitrah Kedinding Kenjeran Surabaya (
studi tentang terapi dzikir)”12. Di dalamnya membahas tentang terapi
dzikir yang dilakukan di pondok pesantren As-Salafi Al Fitrah
Kedinding Kenjeran Surabaya.
4. Muhamad Amir Yusuf, “Pengaruh Majlis Dzikir Terhadap Keharmonisan Keluarga(Studi Kasus Majlis Dzikir al-Khidmah di
Pondok Pesantren Hidayatul Falah Bantul Yogyakarta)”13,
Yogyakarta: Skripsi mahasiswa jurusan al-ahwal asy-syakhsiyyah
12Wiwit, “Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah Al Utsmaniyah di Pondok Pesantren As-Salafi
Al-Fitrah Kedinding Kenjeran Surabaya ( studi tentang terapi dzikir)” (Skripsi, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2001).
13
Muhammad Amir Yusuf,“Pengaruh Majlis Dzikir Terhadap Keharmonisan Keluarga(Studi Kasus Majlis Dzikir al-Khidmah di Pondok Pesantren Hidayatul Falah Bantul
Fakultas Syari'ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta, 2014. Isi: Di dalam skripsi ini Amir Yusuf terfokus
terhadap keharmonisan keluarga yang bisa tercipta dengan berdzikir
dan dengan mengikuti majlis dzikir Al Khidmah diharapkan keluarga
bisa harmonis. Tentu tulisan ini berbeda dengan tulisan penulis yang
terfokus terhadap sejarah lahir dan berkembangnya Perkumpulan
Jama'ah Al Khidmah.
Dari tulisan di atas, tentu beda dan sangat berbeda dengan tulisan
yang akan dipaparkan dalam penelitian skripsi ini, karena pembahasan
dalam skripsi ini lebih ditekankan pada Komunitas Orong-Orong dan
peranannya dalam perkembangan jama’ah Al-Khidmah Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah di Desa Sukodono Kecamatan Gresik.
G. Metode penelitihan
Oleh karena itu, penelitian ini kemudian diarahkan pada metode
pendekatan análisis sejarah, di mana fenomena sosial dengan pendekatan
sosiologi, lebih banyak dijadikan bahan kajian. Analisis data dengan
pendekatan semacam ini, mengikuti saran Sartono Kartodirdjo. Menurut
Sartono Kartodirdjo, pendekatan sejarah intelektual adalah suatu langkah
penelitian dengan melakukan pembedaan atas tiga jenis fakta, yaitu artifact
langsung menyangkut semua fakta seperti yang terjadi dalam jiwa, pikiran
atau kesadaran manusia.14
Metode hostoris ialah sebuah penelitian yang tujuannya
mendiskripsikan dengan menganalisis peristiwa-peristiwa masa lampau
yang bertumpu pada empat langkah diantaranya:15
1. Heuristik
Heuristik merupakan tahapan pertama, yakni kegiatan
pengumpulan sumber. Pengumpulan sumber dilakukan penulis
melalui survey lapangan, data tertulis berupa dokumen, buku-buku,
majalah dan wawancara (interview) langsung. Dalam pengumpulan
data peneliti menggunakan berbagai teknik pengumpulan data yaitu :
a. Sumber primer
Untuk mencari sumber primer yang digunakan sebagai
acuan utama dalam penelitian ini, penulis mendapatkan
bukti-bukti tertulis yang ditulis oleh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy
yaitu: Pertama Al-Muntakhabat fi Rabithah al-Qalbiyyah wa
Shilah al-Ruhiyyah, (Surabaya: al-Khidmah, 2009) Kedua
Ahmad Asrori al-Ishaqy, Tuntunan dan Bimbingan (Surabaya:
Al Khidmah, 2011).
14
Sartono Kartodirdjo,Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1992), 176.
15
Studi lapangan adalah suatu upaya untuk menghimpun
jejak sejarah dengan cara terjun langsung ke lapangan. Teknik ini
sangat bermanfaat penulis untuk bahan perbandingan antara data
dari berbagai sumber tertulis dengan keadaan sesungguhnya.
Penulis melakukan observasi terhadap tempat-tempat yang
dijadikan tempat kegiatan tareka Qodiriyah Wa Naqsabandiyah
Al-Ustmaniyah. Penulis mengabadikan gambar-gambar dari
peninggalan yang sekarang masih ada. Misalnya berupa masjid,
pondok, rumah komunitas Orong-orong serta
bangunan-bangunan lain yang mempunyai arti sejarah bagi perkembangan
tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Ustmaniyah. Dari
bukti-bukti peninggalan tersebut dijadikan sumber bahan untuk
merekonstruksi Peran Komunitas Orong-orong Dalam
Pengembangan Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Di
Kecamatan Gresik.
Penulis juga akan menggunakan metode wawancara
sebagai sumber lisan dalam penelitian ini. Teknik wawancara
bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang berupa
tanggapan pribadi, pendapat atau opini serta keyakinan. Metode
wawancara juga mencakup cara yang digunakan untuk suatu
tujuan khusus dengan cara mencari keterangan atau pendapat
berhadapan muka mengenai apa yang dirasakan, dipikirkan dan
diakuinya.
Dalam teknik wawancara ini penulis mendapat
sumber-sumber lisan dari beberapa informan pelaku sejarah yang ada
dalam Orong-orong yaitu Khusnul Hadi orang sezaman yang
sekaligus orang pertama dari perkumpulanOrong-orong. Metode
sejarah lisan ini di gunakan sebagai metode pelengkap terhadap
bahkan dokumenter.16
b. Sumber Sekunder
Sumber sekunder yaitu tulisan atau kesaksian dari
siapapun yang bukan saksi pandangan mata. Dalam penelitian
ini peneliti menggunakan buku-buku literatur yang digunakan
sebagai sumber pendukung dalam penulisan skripsi ini, yakni
anatara lain : Pertama Aboebakar Atjeh. Pengantar Ilmu
Tarekat, Uraian Tentang Mistik (Solo: Ramadhani, 1993),
kedua Martin Van Bruinessen,Tarekat Naqsabandiyah Di
Indonesia, (Bandung: mizan,1992).
Dan masih banyak lagi buku kepustakaan yang
digunakan oleh penulis yang diperoleh dari Perpustakaan
Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya, Perpustakaan
Wilayah Jawa Timur, Perpustakaan Fakultas Adab dan
16
Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya, Taman Bacaan
pendidikan Sejarah dan lain-lain.
2. Kritik Sumber
Kritik sumber merupakan tahap kedua setelah melakukan
pengumpulan data. Dalam tahap ini penulis menganalisis dan
mengkritisi sumber-sumber yang didapat dari komunitasOrong-orong
serta melakukan perbandingan terhadap sumber-sumber yang didapat
agar mendapatkan sumber yang valid dan relevan dengan tema yang
dikaji penulis.
Dari berbagai sumber data yang berhasil diperoleh, tentu saja
tidak semuanya dapat diterima. Oleh karena itu diperlukan adanya
kritik terhadap data-data yang telah berhasil dikumpulkan. Kritik
sumber merupakan suatu metode yang digunakan untuk menilai
sumber-sumber yang kita butuhkan dalam arti benar-benar autentik
serta benar-benar mengandung informasi yang relevan dalam
penulisan sejarah yang disusun. Kritik sumber ini dibagi menjadi dua
bagian yaitu :
a. Kritik Ekstern
Kritik Ekstern dapat digunakan untuk menentukan
keaslian dan keautentikan suatu sumber sejarah. Dalam penulisan
skripsi ini penulis akan melakukan kritik ekstern terhadap sumber
dengan berbagai pertanyaan terhadap keotentikan sumber.
Pertanyaan yang penulis ajukan terhadap sumber-sumber yang
telah penulis dapatkan itu kepada pelaku komunitas yaitu
orang-orang yang ada dalam komunitas Orong-orong meliputi kapan
sumber itu dibuat, dimana sumber itu dibuat, siapakah yang
membuat dan apakah sumber itu dalam bentuk asli ataukah tidak.
Dari berbagai macam pertanyaan itu bisa disimpulkan bahwa
mana saja sumber-sumber yang layak untuk penulis jadikan
rujukan dan juga sumber yang mana yang tidak pantas penulis
jadikan rujukan untuk sebuah penulisan sejarah.
b. Kritik Intern
Kritik Intern bertujuan untuk mencapai nilai pembuktian
yang sebenarnya dari sumber sejarah. Kritik intern dilakukan
terutama untuk menentukan apakah sumber itu dapat memberikan
informasi yang dapat dipercaya atau tidak.17
Kritik intern lebih tegasnya adalah bertujuan untuk
menetapkan kesahihan dan dapat dipercaya isi dari sumber itu
sendiri. Sumber-sumber sejarah yang telah mengalami kritik
ekstern lalu dikritik kembali dengan menggunakan kritik intern.
Lantas setelah itu penulis bandingkan dengan wawancara yang
penulis dapatkan. Untuk sumber yang berupa wawancara penulis
17
lebih teliti dengan memilih orang-orang yang akan penulis
wawancarai mengingat banyaknya informasi yang tidak bisa
dipertanggung jawabkan keasliannya. Setelah semuanya
dilakukan dan penulis memperoleh sumber yang benar-benar
layak untuk merekonstruksi sebuah peristiwa masa lampau, maka
barulah penulis menyusun sebuah karya Peran Komunitas
“Orong-Orong” Dalam Pengembangan Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Utsmaniyah Di kecamatan Gresik.
3. Interpretasi
Setelah sumber-sumber yang didapat dianalisis dan kritisi,
tahap selanjutnya yang dilakukan ialah penulis mencoba menafsirkan
terhadap sumber yang telah dikritisi dan melihat serta menafsirkan
fakta-fakta yang di dapat penulis, sehingga mendapatkan pemecahan
atas permasalahan.
Kensekuensi logis di dalam metode sejarah, bahwa
sumber-sumber itu kemudian diuji keaslian dan kesahihanya melalui kritik
ekstern dan intern. Setelah pengujian dan analisis data dilakukan,
maka fakta-fakta yang diperoleh disintesiskan melalui eksplanasi
sejarah dari komunitasorong-orong.
Pada tahap ini data yang diperoleh diseleksi, disusun, diberi
atau dikurangi tekanannya, ditempatkan dalam suatu urutan untuk
fakta sejarah dapat dimasukkan, tetapi harus dipilih mana yang
relevan dengan sistematis pembahasan dari komunitas Orong-orong
dan mana yang kurang relevan untuk dijadikan sebagai fakta sejarah.
Fakta-fakta sejarah yang telah melalui tahap kritik sumber
dihubungkan atau saling dikaitkan pada akhirnya akan menjadi suatu
rangkaian yang bermakna.
4. Historiografi
Tahap ini ialah tahap akhir dari penelitian atau sebagai
penulisan akhir, yang berupa skripsi sebagai tugas akhir dalam
perkuliahan di program study Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas
Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.
Tahap ini merupakan bagian terakhir dari metode sejarah.
Apabila peneliti sudah membangun ide-ide tentang hubungan satu
fakta dengan fakta lain melalui kegiatan interpretasi maka langkah
akhir dari penelitian adalah penulisan atau penyusunan cerita sejarah.
Bentuk dari cerita sejarah ini akan ditulis secara kronologis
dengan topik yang jelas terkait dengan pembahasan penulisan tentang
sejarah Orong-orong, dengan demikian akan mempermudah untuk
dimengerti dan dengan tujuan pembaca dapat mudah memahaminya.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, sehingga dalam
pengumpulan data dilakukan pada natural setting, sumber data
berperan (participan observasion) serta wawancara mendalam (depth
interview).18
H. Sistematika Pembahasan
Sistematika yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah
untuk meruntutkan berbagai bab agar tersusun secara sistematis. Penelitian
ini terdiri dari lima bab yang akan dijabarkan garis besarnya sebagai
berikut:
Bab I : Pendahuluan, BAB ini merupakan sebagai pengantar untuk
memasuki wacana-wacana yang akan di bahas secara mendalam. Dalam
bab ini akan disampaikan sub bab diantaranya: A. latar Belakang yakni
hal-hal yang melatar belakangi diangkatnya tema penulisan.; B.
RumusanMasalah, yakni sebagai gambaran dan batasan masalah yang
akan dibahas agar tidak terlaluluas.; C. tujuan penelitian; D. kegunaan
penelitian; E. pendekatan dan kerangka teoritik; F. metode penelitian; G.
sistematika pembahasan.
Bab II : Membahas tentang Sejarah munculnya komunitas
Orong-orong mencakup latar belakang terbentuknya di desa Sukodono
Kecamatan Gresik, metamorfosis nama dari KACA,Orong-orong sampai
dengan Al-khidmah.
Bab III : Pada bab ini akan membahas tentang kegiatan, ajaran,
amaliyah dan juga kegiatan yang dilakukan komunitasOrong-orongdalam
18
ketarekatan Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Utsmaniyah di Kecamatan
Gresik.
Bab IV : Di dalam bab ini akan menjelaskan perananya dalam
pengembangan tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Utsmaniyah di
Kecamatan Gresik yaitu bagaimana komunitas tersebut menjaring masa
dan peran dalam membuat majlis dzikir di sekitar Kota Gresik.
Bab V : Bab ini adalah bab penutup yang terdiri dari kesimpulan
BAB II
SEJARAH KOMUNITAS ORONG-ORONG
A. Latar Belakang Terbentuknya Komunitas Orong-Orong
Orong-orong merupakan komunitas anak muda yang mana dalam
komunitas tersebut terdiri dari berbagai kalangan mulai dari seniman
musik, Pelukis anak jalanan yang suka mabuk dan juga anak muda
berbagai macam karakter melebur menjadi satu komunitas yang bernama
Orong-orong. Latar belakang terbentuknya Orong-orong berawal dari
pertemuan seorang pemuda bernama Khusnul Hadi yang merupakan anak
jalanan Desa Sukodono Kecamatan Gresik dengan KH. Ahmad Asrori.
Pertemuan tersebut terjadi di Desa Tlogo Dendo pada bulan Oktober tahun
1987 M.1
Awalnya Khusnul Hadi yang juga berprofesi sebagai penjual
lampu di daerah Desa Tlogo Dendo. Khusnul Hadi bertemu dengan
seorang pembeli bernama Yusuf yang berprofesi sebagai dokter. Yusuf
merupakan seorang kawan dari Haji Udin yang bertempat tinggal di
Surabaya. Haji Udin sendiri adalahjuraganlampu di tempat Khusnul Hadi
bekerja. Di hari itu Yusuf membeli banyak lampu dan Khusnul Hadi
disengaja, dibelakang mobil Yusuf telah duduk KH. Achmad Asrori.
Disini awal pertemuan KH. Achmad Asrori dengan Khusnul Hadi.2
Keesokan harinya Yusuf memesan lampu lagi dan meminta agar
Khusnul Hadi mengantarkannya di rumahnya di Surabaya. Akhirnya
Khusnul Hadi mengantarkan pesanan tersebut ke Surabaya bersama Haji
Udin. Sesampai dirumah Yusuf, Khusnul Hadi kembali bertemu dengan
KH. Achmad Asrori.3Dipertemuan tersebut Khusnul Hadi mulai berdialog
dengan KH Achmad Asrori.
Disela-sela dialog tersebut KH. Achmad Asrori menawarkan
pekerjaan kepada Khusnul Hadi sebagai pegawai yang tugasnya menemani
dan mengawal dirinya. KH Ahmad Asrori juga menawarkan gaji yang
lebih tinggi dari pekerjaannya sebagai penjual lampu. Sebelum
menawarkan pekerjaan kepada Khusnul Hadi, KH. Ahmad Asrori sudah
meminta izin kepada Haji Udin supaya Khusnul Hadi bisa dijadikan
olehnya sebagai pegawai. Haji Udin mengijinkan Khusnul Hadi untuk
menerima tawaran tersebut jika itu memang kehendak dari Khusnul Hadi
sendiri. Akhirnya Khusnul Hadi menerima tawaran pekerjaan tersebut
dikarenakan gaji yang diterimanya lebih besar dibandingkan gaji sebagai
penjual lampu.
Dihari selanjutnya Khusnul Hadi mulai bekerja dengan KH.
Achmad Asrori. Dihari pertamanya bekerja, Khusnul Hadi sudah
2
dihadapkan dengan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan.
Seperti halnya dalam hal berpakaian. KH Achmad Asrori memberinya
pakaian seragam berupa pakaian busana muslim seperti baju taqwa, sarung
dan peci.
Awalnya Khusnul Hadi enggan untuk memakai pakaian tersebut
dikarenakan malu jika dilihat oleh teman-temannya. Sebab menurut
Khusnul Hadi, dirinya yang seorang anak jalanan tidak pantas jika harus
memakai pakaian busana muslim. Namun dengan perlahan KH Achmad
Asrori memberikan pemahaman kepada Khusnul Hadi. Dia mengatakan
kepada Khusnul Hadi jika bekerja dengannya, dia harus berpakaian busana
muslim. Dikarenakan gaji yang tinggi, akhirnya Khusnul Hadi bersedia
memakai pakaian tersebut.4Dalam perjalanan ini anak jalanan yang tidak
pernah memakai pakaian yang semestinya dipakai seorang muslim
akhirnya mau untuk berpakaian layaknya seorang muslim.
KH. Achmad Asrori mempunyai tiga pegawai. Pertama adalah Pak
Arip sebagai pembantu rumah tangga yang menyiapkan makanan dan
mencuci pakaian, kedua Pak Kholik yang tugasnya sebagai tukang kebun,
dan yang ketiga pegawai barunya yaitu Khusnul Hadi sebagai pengawal
KH Achmad Asrori dalam mengisi acara majlis.5 Khusnul Hadi bertugas
menemani dan membawakan kitab serta air mineral untuk KH Achmad
Asrori.
4
Seiring berjalannya waktu Khusnul Hadi terketuk hatinya untuk
bisa belajar bagaimana tatacara sholat. Dimana suatu ketika banyak orang
yang tidak suka dengan kedekatan Khusnul Hadi dengan KH. Achmad
Asrori yang dikenal dengan seorang kiyai dan juga seorang mursyid
tarekat sedangkan Khusnul Hadi anak jalanan yang suka mabuk-mabukan.
Karena Khusnul Hadi malu dengan juragan-nya seorang kiyai maka
Khusnul Hadi ingin belajar sholat dimana agar Khusnul Hadi tidak dibenci
orang-orang kalau sedang mendampingi KH. Achmad Asrori ketika
mengisi acara majlis.6 Maka diberilah Khusnul Hadi oleh KH. Achmad
Asrori kitab tentang tatacara melakukan sholat. Selama seminggu Khusnul
Hadi mempelajari kitab tersebut dengan bimbingan langsung dari KH.
Achmad Asrori. Sehabis itu Khusnul Hadi diperintah oleh KH. Achmad
Asrori agar supaya mengajak teman-temannya main kerumah KH. Ahmad
Asrori yang ada di Surabaya.
Pada tanggal 30 Desember 1987 M menjelang pergantian tahun
Khusnul Hadi pamit kepada KH. Achmad Asrori untuk pulang ke Gresik.
Sebab pada malam pergantian tahun Khusnul Hadi diajak oleh
teman-temannya untuk mendaki gunung. Namun tawaran dari teman-temanya
tersebut ditolak olehnya. Dia mengusulkan kepada teman-temannya agar
mengisi acara malam tahun baru di pondok pesantren Darul Ubudiyah
dengan tujuan mendengarkan lantunan musik manaqib. Hal tersebut
Hadi berkata kepada temannya kalau di pondok pesantren Darul Ubudiyah
di Surabaya ada lantunan musik yang sangat indah yaitu lantunan musik
manaqib.7 Disini mulai ada ketertarikan dari teman-teman Khusnul Hadi
terhadap musik islami dimana musik tersebut dapat di-aragement ulang
kembali menjadi nada dari musik pop.
Setelah mendengarkan musik manaqib Khusnul Hadi mengajak
teman-temannya bertemu dengan KH. Achmad Asrori. Diantaranya adalah
Khusnul Hadi, Hariyadi, Anam, Mamak, Gusno, Ula, Edi. Mereka
disambut dengan hangat oleh KH. Achmad Asrori dengan mengajak
ngobrol tentang segala hal mengenai kehidupan dan percintaan anak muda.
Dari percakapan ini mereka sangat terkesan dengan jawaban-jawaban serta
pemikiran beliau sehingga terjalin hubungan yang akrab diantara mereka
dengan KH. Achmad Asrori.8
Lambat tahun suatu hari mereka kembali bertamu dirumah KH.
Achmah Asrori. Disana mereka diberi banyak suguhan menu makanan.
Setelah berbincang-bincang santai dengan beliau mereka dipersilahkan
untuk menyantap makanan yang telah dihidangkan oleh beliau. Akhirnya
mereka menghabiskan makanan tersebut dengan tidak sedikitpun yang
tersisa.
Melihat sikap mereka ketika menyantap makanan. KH. Achmad
Asrori berkata kepada Khusnul Hadi bahwa teman-temannya itu
ngorong-7
ngorong.9 Istilah Ngorong-ngorong dalam bahasa jawa memiliki arti
kelaparan atau kehausan. Dari sini mulai ada penyebutan nama
Orong-orong yang awalnya berasal dari kata ngorong-ngorong yang akhirnya
diplesetkan menjadi kata Orong-orong oleh sebagian banyak orang
terhadap Khusnul Hadi dan teman-temannya.
B. Metamorfosis Nama Dari KACA, Orong-Orong, dan Al-Khidmah
1. Nama Kaca
Sebelum bernama Orong-orong komunitas anak jalanan ini
bernama KACA. Kaca disini bukan berarti kaca cermin ataupun kaca
jendela. Namun Kaca adalah kepanjangan dari Karunia Cahaya
Agung. Adapun penamaan kaca sendiri bermula dari usulan Khusnul
Hadi. Awal mulanya dikarenakan KH. Achmad Asrori hendak
berkunjung ke Gresik untuk bertemu dengan Khusnul Hadi beserta
teman-temannya.10 Hal tersebut dikarenakan inisiatif dari KH.
Achmad Asrori agar Khusnul Hadi dan teman-teman tidak
mengeluarkan biaya yang begitu banyak untuk ongkos pergi ke
kediaman KH. Achmad Asrori di Surabaya. Sebab dengan jumlah
orang yang lebih dari 50 orang, maka banyak pula biaya yang
dikeluarkan untuk bisa sampai ke Surabaya. Dari situ muncul inisiatif
dari KH. Achmad Asrori untuk datang ke Gresik agar tidak banyak
9Hadi,wawancara, Gresik, 11 November 2016. 10
beban biaya yang dikeluarkan oleh Khusnul Hadi dan
teman-temannya.
Informasi kedatangan tersebut disampaikan oleh Khusnul Hadi
kepada teman-temannya. Dari sini Khusnul Hadi bersama lima
temannya berinisiatif menggunakan undangan guna memberikan
informasi kepada seluruh teman yang lainnya. Dikarenakan sejauh ini
aktifitas mereka hanya sekedar kumpul bersama maka belum ada
nama resmi dalam perkumpulan tersebut. Akhirnya Khusnul Hadi
mengusulkan nama KACA sebagai nama perkumpulannya selama
ini.11 Dalam undangan yang ditujukan kepada teman-teman lainnya.
Terdapat tulisan KACA yang tertera dalam kop undangan tersebut.
Acara kumpul bersama pertama yang diadakan anak jalanan ini
bertepatan dengan munculnya pemberian nama komunitas menjadi
Komunitas KACA pada tahun 1989 setelah satu tahun lebih
perkenalan Khusnul Hadi dengan KH. Ahmad Asrori. Acara kumpul
bersama ini diadakan di Desa Bedilan Kecamatan Gresik kediaman
haji Udin dengan dihadiri tujuh puluh lima orang. Acara tersebut
dibuka dengan istighosah selanjutnya dilanjutkan dengan forum tanya
jawab anggota kepada KH. Achmad Asrori. Anggota sangat antusias
mengikuti acara tersebut, mereka tertarik pada forum tanya jawab.
Pada saat itu banyak anggota merupakan kalangan pemuda. Mereka
KH. Achmad Asrori menjawab pertanyaan para pemuda itu dengan
sangat bijak. Para pemuda yang hadir dalam acara tersebut semakin
tertarik dengan komutitas KACA.
Nama KACA (karunia cahaya agung) mempunyai makna atau
filosofi sebagai berikut :
a. Karunia yang artinya belas kasih yang mana belas kasih diberikan
Allah kepada hambanya manakala setelah kita mendapatkan
sesuatu atau petunjuk tersebut dapat membuat kita semakin dekat
dengan Allah.
b. Cahaya artinya sinar yaitu dimana kita diberi cahaya atau nur dari
Allah (nur ilahiyah).
c. Agung artinya besar yaitu Maha Besar zat yang memiliki segala
kebesaran yang jauh dari sifat-sifat makhluk, zat yang paling
sempurna hanya milik Allah.
Jadi arti dari KACA (karunia cahaya agung) adalah belas kasih
Allah yang diberikan kepada hambanya menuju jalan yang benar
sehingga dalam komunitas tersebut diberikan petunjuk oleh Allah
SWT.12
2. Dari Kaca MenjadiOrong-Orong
Setelah nama KACA terbentuk komunitas KACA merubah nama
belakang namaOrong-orong sendiri muncul dari KH. Achmad Asrori
ketika ada suatu peristiwa dimana anak jalanan ini berkunjung
kerumah beliau disitu mereka dihidangkan berbagai macam makanan.
Setelah ngobrol santai dengan KH. Achmad Asrori, teman-teman
Khusnul Hadi menyantap makanan tersebut dengan lahap tidak
sedikitpun mereka menyisakan suguhan makanan yang telah
dihidangkan. Sumber pertama yang diceritakan Khusnul Hadi
menyebutkan awal munculnya namaOrong-orong.
Pada saat Khusnul Hadi beserta teman-temannya berkunjung dan
sedang menyantap makanan di rumah KH. Achmad Asrori, ia berkata
kepada Khusnul Hadi “koncomu ngorong-ngorong yo (teman kamu kelaparan yo), lalu dijawab oleh Khusnul Hadi : Enggeh, rencang kulo
panceng ngorong-ngorong”.13
Awalnya Khusnul Hadi dan teman-temannya ketika di suguhkan
makanan oleh KH. Ahmad Asrori merasa malu ketika hendak
memakannya. Namun ketika di tinggal oleh KH. Achmad Asrori
kedalam rumah, makanan tersebut sudah habis dimakan oleh Khusnul
Hadi dan teman-temannya. Sehingga ketika KH. Achmad Asrori
kembali dan melihat makanan yang sudah habis, terucap kata
ngorong-ngorong yang diucapkan oleh KH. Achmad Asrori kepada
Ngorong-ngorong dalam bahasa jawa (jawa timur) artinya
kelaparan/kehausan. Penyebutan nama Orong-orong yang asalnya
ngorong-ngorong menjadi sebutan orang-orang disekitar rumah KH.
Achmad Asrori menyebut Khusnul Hadi dan temannya dengan
sebutan anakOrong-orong.
Selanjutnya dari sumber yang lain mengatakan namaOrong-orong
mulai dikenal banyak orang, ketika salah satu teman KH. Achmad
Asrori yaitu KH. Safi’i memanggil Khusnul Hadi dan temannya
dengan sebutan Orong-orong. Suatu ketikan ada acara dirumah KH.
Achmad Asrori menyiapkan banyak hidangan makanan untuk
tamunya, pada saat ramah-tamaKH. Safi’i disuruh beliau memanggil Khusnul Hadi dan teman-temannya untuk ikut serta makan bersama.
KH. Safi’i memanggil Khusnul Hadi “Arek Orong-orong dikongkon yai Asrori mangan bareng (Anak Orong-orongdisuruh yai
Asrori makan bersama) dan seketika itu KH. Safi’i mendapat gelar dari beliau sebagai ayah dariOrong-orong.”14
Karena banyaknya orang memanggil Khusnul Hadi dan
teman-temannya dengan sebutan anak Orong-orong KH. Achmad Asrori
setuju dengan sebutan tersebut. Lama-kelamaan nama kaca tenggelam
Adapun penjelasan KH. Ahmad Asrori kepada Khusnul Hadi
Orong-orong adalah hewan yang di cintai oleh wali, (hikayat wali
songo) seorang wali yang bernama Sunan Demak ketika itu
memotong kayu dengan pisau, tidak disengaja leher binatang
orong-orong ikut terpotong dan terlepas dari tubuhnya. Merasa kasihan
dengan binatang tersebut Sunan Demak menyambung kepala dan
tubuh orong-orong dengan kayu kecil, tidak lama kemudian hewan
orong-orong tersebut hidup lagi. Penjelasan Khusnul Hadi selanjutnya
bawasanya binatang orong-orong merupakan hewan yang beraktifitas
dimalam hari dan gemar mengorek-ngorek tanah sama hal nya dengan
komunitas Orong-orong banyak anggotanya suka cangkru’an
(begadang) dimalam hari, pada siang harinya tidak ada yang keluar
rumah.15
Jadi pengambilan nama Orong-orong yang dijelaskan oleh
Khusnul Hadi mempunyai arti atau makna bawasanya komunitas
Orong-orong adalah anak jalanan yang beraktifitas dimalam hari
(cangkru’an) dan dicintai KH. Achmad Asrori beliau sebagai guru
mursyid tarekatQodiriyyah Wan Naqsabandiyyah Al-Ustmaniyah.16
3. DariOrong-OrongHingga Al-Khidmah
Sejalan dengan makin bertambahnya anggota dan tersebar
didesa-desa yang ada di Kecamatan Gresik yang mencapai kurang lebih lima
15
ribu anggota, memerlukan pengaturan dan penanganan yang sangat
khusus secara profesional dalam mensamakan dan menyatuhkan detak
hati, desah nafas dan langkah tujuan bersama.17 Karena didalam
komunitas Orong-orong belum ada kepengurusan yang paten KH.
Ahmad Asrori membentuk kepengurusan yang diberi nama
Al-khidmah. Nama Al-khidmah menurut Khusnul Hadi artinya
melayani/membantu, dari kata-kata melayani yang dimaksud adalah
melayani tanpa imbalan diniatkan untuk beramal/shodaqoh.18
Dari keterangan Khusnul Hadi perpindahan nama Orong-orong
menjadi Al-khidmah yang sudah beranggotakan kurang lebih lima
ribu orang, sembilan puluh persen anak jalanan yang ikut dalam
komunitas mulai berhenti meninggalkan kebiasaan buruknya yang
suka mabuk-mabukan. Dan mulai ada penggabungan antara murid
Kyai sepuh, ayah dari KH. Ahmad Asrori yaitu KH. Muhammad
Usman Al-Iskhaqy dalam satu majlis dzikir. Al-khidmah yang
awalnya bernama komunitas Orong-orong bertugas sebagai
penanggung jawab mengatur pelaksana acara dan murid KH.
Muhammad Ustman sebagai imam-imam dalam acara kemajlisan.19
Sumber ini juga didukung sumber lainya yaitu pedoman
kepemimpinan dan kepengurusan Al-khidmah menulis tentang
pengurus Al-khidmah adalah orang-orang yang telah dipilih dan
17Achmad Asrori,Lima Pilar Utama Soko Guru Tuntunan Dan Bimbingan(surabaya:Rakernas
III, 2009), 17. 18
ditetapkan oleh rapat Al-khidmah, untuk memfasilitasi
terselenggaranya kegiatan dan amaliah yang telah ditetapkan dan
diamalkan oleh guru thoriqoh atau para ulama’ salafush sholih, pinisepuh pendahulu kita.20
Awal kepengurusan Al-khidmah dibentuk oleh KH. Achmad
Asrori sendiri dengan ketua pertama yaitu Bung Rizal pada tahun
1992 M. Dalam kepengurusan Al-khidmah masa jabatan paling lama
selama 2 periode dengan catatan waktu 1 periode 3 tahun.21 Sumber
dari Khusnul Hadi diperkuat lagi dengan buku pedoman
kepemimpinan dan kepengurusan Al-khidmah.
Masa Kerja Dewan Penasihat dan Kepengurusan ATh Thoriqoh
dan Al Khidmah disetiap tingkatan :
a. Dewan Penasihat selama sehat wal afiat, jasmani dan rohani, dan
mampu berfikir secara bersih dan jernih selamanya bisa dipilih
dan didudukan.
b. Setiap 3 tahun sekali diadakan pemilihan dan pembentukan
kepengurusan baru .
c. Setiap pengurus hanya bisa dipilih dan duduk di kepengurusan
selama 2 periode.22
d. Setelah 2 periode bisa dipilih lagi pada kedudukan yang berbeda.
20
Achmad Asrori,Pedoman Kepemimpinan Dan Kepengurusan Dalam Kegiatan Dan Amaliah Ath Thoriqoh Dan Al Khidmah(Surabaya: Al Wafa, 2003), 13.
21Hadi,wawancara, Gresik, 04 Desember 2016 22
Seiring berjalan nya waktu Al-khidmah menyebar diberbagai
wilayah di Indonesia, adapun tingkatan kepengurusan didalam
al-khidmah sebagai berikut :
a. Tingkat Pusat
Tingkat Pusat adalah pengurus Al-khidmah yang berkedudukan di
pusat keguruan dan perguruan Al-khidmah.
b. Tingkat Propinsi
Tingakat Propinsi adalah pengurus Al-khidmah yang berkedudukan
di tingkat propinsi
c. Tingkat Kota/Kabupaten
Tingkat Kota/Kabupaten adalah pengurus Al khidmah yang
berkedudukan di tingkat kota/kabupaten.
d. Tigkat Kecamatan
Tingakat Kecamatan adalah pengurus Al-khidmah yang
berkedudukan di tingkat kecamatan.
e. Tingkat Desa
Tingkat Desa adalah pengurus Al-khidmah yang berada di tingkat
desa yang disebut dengan koordinator.23
Adapun pembentukan pengurus.
23Asrori,Pedoman Kepemimpinan Dan Kepengurusan Dalam Kegiatan Dan Amaliah Ath
a. Pembentukan kepengurusan dapat dilakukan jika dalam suatu
daerah/desa, jumlah jama’ahnya sedikitnya sudah mencapai 40 orang.
b. Pembentukan kepengurusan yang lebih tinggi dimungkinkan jika
sudah terbentuk lebih dari 2 pengurus di tingkatan bawahnya.
Kriteria Pengurus
a. Sudah baligh.
b. Sehat wal afiat, jasmani dan rohani.
c. Mempunyai keahlian dan kemampuan di bidangnya.
d. Mempunyai kemampuan yang tinggi untuk berkhidmah.
e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanah dan tugas
kewajiban sebagai pengurus.24
24Asrori,Pedoman Kepemimpinan Dan Kepengurusan Dalam Kegiatan Dan Amaliah Ath
Stuktur Al-Khidmah
BAGANPENGURUSAL-KHIDMAH
Uraian Tugas Pengurus
a. Ketua Al-Khidmah
1) Bertanggung jawab kepada dewan penasehat dan pengurus
Ath Thoriqoh.
2) Melaksanakan segala keputusan yang telah ditetapkn oleh
pengurus Ath Thoriqoh bersama pengurus Al-khidmah.
3) Mengadakan kegiatan lain yang tidak bertentangan dengan
ketentuan hukum syari’at.
4) Mengarahkan sesama pengurus untuk mensukseskan
b. Sekretaris Al-Khidmah
1) Bertanggung jawab kepada ketua Al-Khidmah.
2) Melaksanakan segala keputusan yang telah ditetapkan oleh
pengurus Ath Thoriqoh bersama pengurus Al-Khidmah.
3) Meng-administrasikan segala kegiatan pengurus
Al-Khidmah.
4) Mengadakan keoordinasi dengan sesama pengurus dalam
rangka mensukseskan kegiatan yang telah ditetapkan.
c. Bendahara Al-Khidmah
1) Bertanggung jawab kepada ketua Al-Khidmah.
2) Merencanakan biaya dan pendapatan setiap kegiatan yang
telah ditetapkan.
3) Mencatat setiap pendapatan dan pengeluaran.
4) Melaporkan hasil kerja kepada dewan penasehat, pengurus
ATh Thoriqoh dan pengurus Al-Khidmah.
Al-khidmah juga mempunyai lambang perkumpulan,
Lambang Al-khidmah dibuat oleh KH. Achmad Asrori sendiri.
Ketika lambang Al-khidmah belum sempurna beliau menjelaskan
kepada Khusnul Hadi tepatnya pada lambang tiga pentolan tasbih
luar saja)”.25 Khusnul Hadi dijelaskan oleh KH. Achmad Asrori kalau perilaku yang baik itu harus ditaruh didalam jangan
dilihatkan kepada orang. Sehabis itu beliau mengganti pentolan
tasbih mengarah kedalam lingkaran dan lambang tersebut dipakai
hingga sekarang tanpa ada perubahan sedikitpun.
Lambang Al-Khidmah
Arti lambang Al-khidmah
a. Pena, alat untuk menulis
b. Arah pena yang menunjukan kearah bawah
c. Kitab empat buah
d. Bintang tiga buah
f. Pentolan tasbih yang mengarah kedalam lingkaran
g. Pentolan tasbih yang panjang dibawah mengarah ke atas
Filosofi yang terdapat didalam lambang Al-Khidmah
a. Pena sebagai lambang mencari ilmu
b. Arah pena ke bawah melambangkan menuntut dan menambah
ilmu sejak lahir hingga kembali ke liang lahat.
c. Empat buah kitab melambangkan berlandaskan pada
Al-Qur’an, Al-Hadist, Al-ijma’ dan Al-Qiyas.
d. Tiga buah bintang melambangkan memantabkan dan
menyempurnakan Al Islam Al Iman dan Al ihsan
e. Tasbih melambangkan mengikuti ketetapan dan amaliyah
ulama’ salafus shaleh.
f. Pentolan tasbih yang mengarah ke dalam melambangkan
kesungguhan dan ke-ikhlasan dalam mengabdi dan
berkhidmah kepada Allah SWT.
g. Pentolan tasbih yang panjang mengarah ke atas melambangkan
berkepribadian dan berprilaku rendah hati, mawas diri dan
toleransi serta arif bijaksana demi meraih rahmat dan ridho
serta keutamaan dan kemuliaan Allah SWT.
Tujuan Perkumpulan Al Khidmah
a. Untuk menghimpun menyatuhkan potensi anggota didalam
b. Melaksanakan segala keputusan yang telah ditetapkan oleh
pengurus At Thoriqoh.
c. Sebagai alat pemersatu segenap ikhwan dan akhwat dengan
semangat kebersamaan saling hormat menghormati dan
menghargai, toleransi yang tinggi, hidup rukun dan guyup
didalam berkhidmah secara istiqomah mengikuti contoh suri
tauladan KH. Ahmad Asrori, mewarisi tuntunan dan sunnah
Rasulillah SAW, baik dalamubudiyahmaupun amaliyah.26
d. Menghimpun kekuatan dan potensi yang ada dan dimiliki
oleh jama’ah sebagai sarana dan wahana untuk meningkatkan kesejahteraan jama’ah.
e. Membina ukhuwah islamiyyah.
26
BAB III
AJARAN, AMALIYAH, DAN KEGIATAN KOMUNITAS
ORONG-ORONG
A. Ajaran KomunitasOrong-Orong
1. Akhlaq
Ajaran yang ditekankan dan difahami komunitas Orong-orong
secara mendasar yang telah diajarkan oleh KH. Achmad Asrori yaitu
dengan menitik beratkan pada pembentukan seseorang yang
mempunyai akhlak. Akhlak menurut bahasa adalah bentuk mufrod
dari khuluq, yang berarti watak atau karakter. Sedangkan akhlak
menurutistilah ulama’ berpendapat akhlak yang baik adalah ungkapan dari sikap yang tertanam dalam jiwa seseorang hamba, yang berfungsi
sebagai penggerak jiwa dalam bergaul dengan makhluk, dan sebagai
pengendali jiwa ketika syahwat dan amarah.1 Pembentukan akhlak
yang baik sesuai dengan ajaran yang diajaran oleh Rasulullah, dalam
hadist beliau menjelaskan :
Baginda Habibillah Rasulillah Muhammad bersabda :
“Sesungguhnya kami diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak
yang mulia” (HR. Imam Al Bukhori)2
Dalam Riwatyat lain, beliau bersabda : “Sesungguhnya kami diutus
hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik” (HR. Imam
Ahmad)3
Dan Allah SWT berfirman dalam surat Al-Qolam ayat 4 :
”Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang
agung”.4
Selanjutnya Khusnul Hadi menceritakan
Suatu hari beliau KH. Achmad Asrori menawarkan kepada anggota
dalam komunitas Orong-orong dengan ilmu kekebalan karena
kebanyakan pemuda dalam komunitas Orong-orong ini suka
berkelahi, KH. Achmad Asrori menawarkan kepada mereka ilmu
kekebalan dan mereka sangat senang akan berita tersebut. ”Khusnul
Hadi teman kamu suka berkelahi bagaimana kalau saya kasih ilmu
kekebalan tapi yang ngisi bukan saya teman saya kiyai Safi’i, Khusnul
Hadi menawarkan kepada teman-temannya dan mereka mau diisi
dengan ilmu kekebalan”.5 Ada sekitar 25 orang yang di isi dengan
ilmu kekebalan. Setelah pengisihan ilmu kebal mereka dicoba
satu-persatu dengan pisau yang sangat tajam, tidak ada sedikitpun tubuh
mereka yang terluka. Sehabis ilmu itu sudah masuk dalam tubuh
mereka yai Safi’i memberi syarat tertentu yaitu dengan syarat ilmu
☎
Ibid., 13.
kekebalan ini tidak boleh mabuk-mabukan dan main perempuan jika
melanggar kulit mereka akan terkelupas. Disini teman Khusnul Hadi
mulai dikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan buruknya. Hingga
sekarang 25 orang tersebut tidak pernah mabuk-mabukan dan bermain
perempuan.
Menurut Khusnul Hadi yang telah diajarkan KH. Achmad Asrori
orang sebelum melakukan kebaikan (ibadah) lebih baik meninggalkan
kebiasaan buruknya terlebih dahulu, yang bertetangan dengan syari’at Islam. Seperti halnya kebiasaan yang dilakukan Khusnul Hadi dan
teman-temannya yang suka mabuk-mabukan.6 Beliau KH. Achmad
Asrori juga mengatakan kepada Khusnul Hadi bawasanya nabi
Muhammad ketika masih kecil sebelum diangkat menjadi rasul hati
beliau nabi Muhammad dibersihkan terlebih dahulu. Sama halnya
yang diajarkan KH. Ahmad Asrori kepada komunitas Orong-orong
sebelum kejenjang ibadah lebih baik meninggalkan kebiasaan
buruknya yang suka mabuk-mabukan. Hal ini juga di jelaskan dalam
Al-Qur’an tentang larangan meminum khamr. Allah berfirman dalam
surat Al-Maidah ayat 90-91 :
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jahuilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian dintara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan
shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”.7
Dan juga dijelaskan oleh firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat
219 :
“Mereka beranya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, “pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa’at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa’atnya”. Dan
mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafqahkan. Katakanlah,
“yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat
-ayat nya kepadamu agar kamu berfikir.”8
2. Adab
K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy dalam ajaran tasawufnya, terlihat
lebih menekankan adab. Menurutnya, Adab adalah kunci pintu
menuju Allah, jika tidak ada adab, maka kita tidak dapat sampai
menuju Allah, dan kita tidak bisa disampaikan bersimpuh di hadirat
Allah SWT.9Meski demikian, ajaran tasawuf KH. Achmad Asrori
Al-Ishaqy cenderung praktis. Seperti halnya yang diajarkan pada
komunitas Orong-orong untuk menyelaraskan kehidupan buruknnya,
KH. Achmad Asrori lebih menekankan pada akhlak dan adab terlebih
dahulu. Lafad adab dalam bahasa adalah bentuk mufrod dari aadab
dan lafadz addabahu berma’na mengajarkan adab kepadanya. Sedangkan adab menurut istilah adalah ungkapan dari perilaku yang
terpuji dengan cara-cara yang bisa diupayakan.10
Khusnul Hadi menceritakan pada pengajian pertama dalam acara
istighosah yang ada di Gresik tepatnya di Wisma Ahmad Yani
tanggal 4 Oktober 1990 M yang mana komunitas Orong-orongmasih
bernama KACA. KH. Achmad Asrori Al-Iskhaqy menjelaskan
tentang pengajiannya dengan judul wong ngeseng (orang berak)
disampaikan oleh KH. Achmad Asrori bahwasanya orang melakukan
ibadah itu sebaiknya seperti halnya orang berak. Sebelum berak,
orang tersebut makan makanan berbagai macam jenis makanan
dengan tidak ada hitungan apa saja yang telah dimakan. setelah
banyak makanan yang ada di dalam diperut dikeluarkan melalui
kotoran berak.
KH. Achmad Asrori menjelaskan bahwasanya orang melakukan
ibadah itu lebih baik tidak dihitung, sama halnya mengeluarkan
9
makanan melalui kotoran berak dan orang berak selalu tertutup tidak
mau dirinya dilihat orang.11 Dalam ibadah kita senantiasa memiliki
adab ubudiyyah (sifat menghamba) tidak menghitung amal ibadah kita
lakukan dan senantiasa ikhlas dalam menjalankan ibadah kepada
Allah tanpa pamrih (sifat riya’) menunjukkan segala ibadanya kepada orang lain, sama halnya orang berak merasa malu ketika dilihat orang.
Adapun ulama shufiyah mengatakan adab mempunyai peranan
yang sangat agung dalam agama, bahkan adab merupakan pokok dan
pusat dalam kesungguhan ber-tawajjuh kepada Allah.12 Adab-adab
dalam mensucikan hati, menjaga sirri-rahasia, memenuhi kewajiban
setelah berjanji, tidak memperdulikan lintasan, gerak gerik hati dan
perkara yang baru datang yakni mereka yang tidak bertujuan mencari
karomah dan lain-lain, yang dituju hanyalah ridho dari Allah SWT.
Dan juga mempunyai adab yang baik dalam melakukan kewajiban dan
kesunahan, maqom-maqom mendekatkan diri kehadirat Allah, waktu
menghadirkan hati kehadirat Allah dan mempunyai kedekatan yang
sangat dalam ikatan hati dan jalinan rohani kehadirat Allah.13
Induk atau kunci dalam adab adalah menyaksikan dan merasa
kekurangan pada diri sendiri, serta menyaksikan kesempurnaan pada
11Hadi,wawancara, Gresik, 04 Desember 2016.
12Asrori al-Ishaqy et al,Untaian Mutiara Ikatan Hati Jalinan Rohani, vol. IV, terj. Muhammad
orang lain.14Oleh karena itu, ketika kita melihat seseorang yang lebih
tua dari kita, maka kita memuliakan dan menghormatinya, sebab kita
merasa dan menyaksikan bahwa keta’atannya kepada Allah SWT serta mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW lebih banyak dari pada kita.
Demikian juga sebaliknya ketika kita melihat seseorang yang lebih
muda dari ita, maka kita melihat dan menyaksikan bahwa kelalaian
dan kesalahannya lebih sedikit dari kita. Jika melihat seorang pemeluk
agama lain, kita bergaul dengan penuh lemah lembut, dan
mendo’akannya agar mendapatkan hidayah dari Allah, karena kita menyaksikan bahwa iman kita berada pada ilmu dan kehendak Allah
SWT.
B. Amaliyah komunitas orong-orong dalam thoriqoh Qodiriyah Wan
Naqsyabandiyyah Al Ustmaniyyah.
1. Penjelasan Murid
Dalam komunitas Orong-orong (Al-khidmah) amalan-amalan
terekat hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu ada yang
langsung menuju ke tarekat dan ada juga yang hanya sebagai
simpatisan mengituti kegiatan majlis yang diadakan komunitas
Orong-orong. Puncak dari keanggotaan yang menuju ketarekat yaitu
mereka yang sudah bai’at, anggota yang sudah bai’at diharapkan dapat secara rutin mengamalkan wirid dan dzikir sebagaimana yang
Ustmaniyah. Pengertian bai’at sendiri adalah pertalian hati dan ruhani segenap guru thoriqoh sampai kepada habibillah rasulillah
Muhammad SAW, hingga kehadirat Allah‘Azza wa jalla.15
KH. Achmad Asrori menjelaskan bahwasanya murid dibagi
menjadi dua macam muridhakikidan muridmajazi:16
a. Murid hakiki
Seseorang yang sempurna dalam kesiapan untuk menjadi
murid. Sejak pertama ia mempunyai antusias sangat kuat dalam
kesanggupan berguru pada guru mursyidnya memasrahkan jiwanya
dalam pengaturan dan penanganannya. Disamping itu ia
mempunyai kehati-hatian dalam gerak-geriknya, menanggung
perkara yang berat, menjahui perkara yang syubhat perkara yang
belum jelas status halal dan haramnya, memperbaiki akhlak,
melakukan perkara yang berat dan memikul cobaan dan musibah
yang menimpanya.
b. Murid majazi
Seseorang yang tujuannya hanya ingin masuk bersama kaum
shufiyah, berhias dengan pakaian mereka, tersusun dalam
perjalanan ikatan mereka, dan memperbanyak golongan mereka.
Murid majazi tidak mempunyai keharusan memenuhi syarat-syarat
15Achmad Asrori al-Ishaqy,Setetes Embun Penyejuk Hati(Subaraya: Al Wafa, 2009), 74. 16
shuhbah akan tetapi ia diperintah untuk menetapi aturan-aturan
syara’ dan bergaul dengan kaum syufiyah sehingga ia akan meraih barokah mereka. Dan ia melihat ahwal dan perjalanan mereka,
sehingga ia akan berjalan di atas jalan mereka dan siap untuk
menjadi murid.
Adapun macam-macam murid dalam anggota komunitas
Orong-orong yang sudah bai’at terbagi menjadi tiga macam bai’at yaitu bai’attarbiyah, husnudz-dzon, dantabarrukan:17
a. Bai’at tarbiyah atau irodah yaitu seseorang yang telah mengikuti bai’at tarbiyahwajib melakukan kewajiban yang telah ditetapkan oleh guru mursyid.
b. Bai’athusnudz-dzonatau tasyabbuhyaitu bai’at ini didasari oleh perasaan baik sangka seseorang kepada guru mursyid, oleh
karenanya orang yang telah mengikuti bai’at husnudzon tidak berkewajiban untuk melaksanakan kewajiban yang telah
ditetapkan oleh guru mursyid.