• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran “komunitas “orong-orong” dalam pengembangan tarekat qodiriyah wa naqsabandiyah al-ustmaniyah di Kecamatan Gresik tahun 1988-2005 M.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peran “komunitas “orong-orong” dalam pengembangan tarekat qodiriyah wa naqsabandiyah al-ustmaniyah di Kecamatan Gresik tahun 1988-2005 M."

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana dalam Program Strata Satu (S-1) Pada Jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI)

Oleh: Muhammad Irfan

A02213067

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Skripsi ini merupakan hasil penelitian sejarah yang berjudul Peran Komunitas “Orong-Orong” Dalam Pengembangan Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Ustmaniyah Di Kecamatan Gresik Tahun (1987 M -2005 M). Yang menjadi fokus pembahasannya adalah tentang (1) Sejarah Komunitas Orong-Orong (2) Ajaran, Amaliyah, dan kegiatan Komunitas Orong-Orong (3) Peran Komunitas Orong-Orong dalam pengembangan Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Ustmaniyah.

Untuk menjawab permasalahan di atas penulis menggunakan metode historis, yaitu suatu langkah atau cara merekontruksi masa lampau secara sistematis dan objektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis (sejarah) dan bersifat kualitatif. Sedangkan teori yang digunakan adalah teori developmentalisme dari Sartono Kartodirjo. Dimana teori ini mengemukakan tentang bahwa masyarakat mengalami pertumbuhan dan perkembangan, suatu proses adaptasi terhadap lingkungan, serta lebih efektif mempunyai tujuan.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa, (1) Komunitas Orong-Orong

terbentuk berawal dari pertemuan anak jalanan dengan KH. Achmad Asrori pada tahun 1988 M. Di rumah KH. Achmad Asrori mereka berbincang-bincang hingga tercetus nama Orong-Orong oleh KH. Asrori, dikarenakan kehidupan anak jalanan tersebut sama dengan kehidupan hewan Orong-Orong dimana hewan tersebut beraktifitas di malam hari sama halnya yang dilakukan anak jalanan tersebut yang suka begadang di malam hari. (2) Ajaran, amaliyah Komunitas Orong-orong yang diberi pengarahan secara langsung oleh KH. Achmad Asrori yaitu dengan menekankan pada akhlak dan adab, karena dengan ahklaq dan adab yang baik kita dapat bersimpuh di

hadirat Allah SWT. (3) Peran Komnunitas Orong-orong dalam

(7)

ABSTRACT

This thesis is the result of historical research entitled The Role of

Orong-orong Community In Development of Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Ustmaniyah In Gresik Sub-district Year (1987-2005 AD). The focus of the

discussion is about (1) History of Orong-orong Community.(2) Teachings,

Practice, and Orong-orong Community Activities.(3) The Role of

Orong-orong Community in the development of the Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Ustmaniyah Order.

To answer the above problems the author uses the historical method, which is a step or way to reconstruct the past in a systematic and objective. This study uses a historical approach and is qualitative. While the theory used is the developmentalism theory of Sartono Kartodirjo. Where this theory suggests that people experience growth and development, a process of adaptation to the environment, and more effectively have a purpose.

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...i

PERNYATAAN KEASLIAN...ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ...iv

TRANSLITERASI ...v

MOTTO ...vi

PERSEMBAHAN...vii

KATA PENGANTAR ...viii

ABSTRAK ...x

DAFTAR ISI...xii

BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah...5

C. Tujuan Penelitian ...5

D. Kegunaan Penelitian ...5

E. Pendekatan dan Kerangka Teori ...6

F. Penelitian Terdahulu ...8

G. Metode Penelitian ...11

H. Sistematika Pembahasan...19

BAB II: SEJARAH KOMUNITAS ORONG-ORONG A. Terbentuknya Komunitas Orong-Orong ...21

B. Metamorosis Nama dari KACA, Orong-Orong, dan Al-Khidmah ...26

1. Nama Kaca (1989–1990 M)...26

2. Dari Kaca Menjadi Orong-Orong (1990–1992 M) ...28

3. Dari Orong-Orong Hingga Al-Khidmah (1992-2005 M) ...31

(9)

2. Adab ...44

B. Amaliyah Komunitas Orong-Orong Dalam Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsabandiyyah Al-Ustmaniyyah ...47

1. Penjelasan Murid ...47

2. Majlis Al Khushushy Al Khotmy ...50

3. Dzikir Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsabandiyyah Al Ustmaniyyah ...54

4. Amalan Pada Bulan Ramadhan...59

C. Kegiatan Orong-Orong Di Kecamata Gresik ...59

1. Istighosah ...59

2. Majlis Dzikir Maulid Dan Manaqib Serta Ta’lim...60

3. Majlis Haul ...62

BAB IV: PERAN KOMUNITAS ORONG-ORONG DALAM PENGEMBANGAN THORIQOH QODIRIYAH WA NAQSABANDIYAH AL-USTMANIYYAH A. Faktor Yang Mendorong Komunitas Orong-Orong Dalam Mengembangkan Thoriqoh Qodiriyah Wa Naqsabandiyyah Al-Ustmaniyyah ...65

1. Faktor Kondisi Sosial Mayarakat Kecamatan Gresik ...65

2. Faktor Kebutuhan Pemahaman Agama Masyakat Kecamatan Gresik ...67

B. Peran Orong-Orong Dalam Thoriqoh Qodiriyah Wa Naqsabandiyyah Al-Ustmaniyyah ...68

1. Penjaringan Anggota Komunitas Orong-Orong ...68

2. Membuat Majlis Hingga Mengikuti Kegiatan Thoriqoh Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Ustmaniyyah ...72

3. Jumlah Pengikut Thoriqh Qodiriyah Wa Naqsabandiyyah Al-Ustmaniyyah ...78

BAB V: PENUTUP A. Kesimpulan ...81

B. Saran ...83

DAFTAR PUSTAKA

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Komunitas merupakan kelompok sosial yang tinggal dalam suatu tempat, saling berinteraksi satu sama lain, saling mengenal serta mempunyai minat dan interest yang sama. Dalam hal ini ada komunitas di wilayah Gresik dimana komunitas ini merupakan suatu komunitas anak jalanan terdiri dari arek enom mbeling (anak muda nakal) kesehariannya suka mabuk, judi dan ada juga yang merupakan seniman music dan pelukis melebur menjadi satu menjadi komunitas yang bernama Orong-orong.

(11)

beraktifitas dimalam hari.1. Fenomena ini perlu dikaji lebih jauh, agar dapat diperoleh pemahaman yang bermakna.

Ajaran tarekat, dewasa ini lebih banyak dikenal dalam organisasi-organisasi berbagai macam tarekat. Ajaran tarekat itu berkembang dan diterima oleh para pemeluk Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di Jawa pada abad 17 dan 18. Gabungan tarekat Qadiriyah dengan Naqsabandiyah pun telah diamalkan oleh syekh termasyhur yaitu Ahmad Khatib ibn Abd Al-Ghaffar Sambas yang bermukim dan mengajar di Makkah pada pertengahan abad 19.2

Salah seorang penerus dan pengembang Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Al-Ustmaniyah. Al-Utsmaniyah dinisbatkan karena tarekat yang dibawa ayahnya yaitu KH. Mumammad Utsman al Ishaqi. KH. Achmad Asrori al-Ishaqi adalah pendiri dan pengasuh pondok pesantren Assalfi Al-Fithrah yang berada di Kota Surabaya, dan memiliki organisasi besar bernama Jama’ah al-Khidmah yang tersebar di berbagai pelosok nusantara. Ajaran tasawuf K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy, nampaknya sederhana dan mengena ke masyarakat. Ini terbukti dengan hadir nya ribuan jama’ah, mana kala ia menyampaikan taushiyah. Meski jama’ah ini juga merupakan bentukannya, namun tak dapat dipungkiri bahwa banyak di antara mereka hanya simpatisan, yang bukan merupakan anggota tarekat yang dipimpinnya, yang tertarik mengikuti kegiatan karena dorongan kebutuhan akan spiritualitas, dan sosok santun sang

1

Khusnul Hadi,Wawancara, Gresik, 9 Oktober 2016. 2

(12)

kiyai. Selain itu, jama’ah ini dibentuk untuk mewadahi masyarakat dalam mengabdi kepada Allah Swt, mensuri tauladani baginda Rasul SAW dan

juga menegakkan ajaran-ajaran ulama salafus solih.3

Dalam kegiatan spiritual K.H. Achmad Asrori Al-Ishaqy tergolong

sangat welas asih tidak menekankan terhadap jama’ah secara langsung untuk melakukan kegiatan spiritual tarekat melainkan bertahap seperti

yang dilakukan KH. Achmad Asrori kepada komunitas orong-orong

dimulai dengan pengajian rutin dari rumah kerumah hingga berkembang

menjadi suatu pengajian besar yang di kenal saat ini dengan nama Majlis

Dzikir Jamaah Al-Khidmah. peran Orong-orong sangat besar dalam

perluasan dakwah tarekat qodriyah wa naqsabandiyah al-utsmaniyah yaitu

dengan mengajak anak jalanan lainya dengan tidak begitu memaksa yaitu

mengikuti acara rutinan tahlil, bermain musik, cangkru’an dan melakukan

aktifitas lainnya yang diminati para pemuda pada masa itu.

Ketertarikan anak jalanan terhadap sosok KH. Achmad Asrori

yaitu tertarik pada ceramah beliau yang mana bisa menjawab

persoalan-persoalan duniawi maupun rukhaniyah sehingga dapat menyentuh hati

tiap-tiap orang yang mendengarkannya. Adapun kegiatan spiritual

Komunitas Orong-orong yaitu mengadakan rutinitas istighosa tahlil

disertai dengan tausiyah/ceramah dari KH. Achmad Asrori, lama kelamaan

rutinitas itu mulai di minati oleh banyak pemuda, sehabis itu KH. Achmad

3

(13)

Asrori menambah dengan kegiatan spriritual lainya seperti bai’at, manaqib,dzikir fida’, khususiyah, maulid, mubayaah, dan haul-haul ditiap desa yang ada di sekitar Kecamatan Gresik.4

K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy dalam ajaran tasawufnya, terlihat

lebih menekankan adab. Menurutnya, Adab adalah kunci pintu menuju

Allah, jika tidak ada adab, maka kita tidak dapat memasuki pintu menuju

Allah, dan kita tidak bisa sampai dan disampaikan bersimpuh di hadirat

Allah SWT.5 Meski demikian, ajaran tasawuf KH. Achmad Asrori

Al-Ishaqy, cenderung praktis. Seperti halnya yang diajarkan pada komunitas

orong-orong untuk menyelaraskan kehidupan buruknya dengan diselingi

ingat kepada Allah SWT melalui dzikir. Dalam hal ini komunitas

Orong-orong berperan dalam penjaringan masa, merangkul anak jalanan

bertujuan untuk beribadah dan selalu ingat kepada Allah dengan berdzikir.

Dzikir yang diajarkan adalah dzikir tauhid yang dapat menguatkan akidah

dan keimanan seseorang, jiwa akan hidup dan akal akan selamat. Selain itu

fisik akan selalu sehat, karena keimanan merupakan tulang yang mampu

membawa manusia dari keputusasaan kepada semangat yang kuat dan dari

kekacauan kepada ketenteraman. Seseorang yang beriman akan merasakan

bahwa ketenteraman itu memenuhi ruang jiwanya. Di tengah berbagai

krisis kehidupan yang serba materialis, sekular serta kehidupan yang

4

Khusnul Hadi, Wawancara, Gresik, 9 Oktober 2016. 5

Achmad Asrorial-Ishaqy, Al-Muntakhabat fi Rabithah al-Qalbiyyah wa Shilah al-Ruhiyyah

(14)

sangat sulit secara ekonomi maupun psikologis, ajaran tasawuf KH.

Achmad Asrori al-Ishaqy dapat menjadi obat penawar ruhaniah.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam penelitihan ini

mengangkat suatu permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana sejarah munculnya komunitasOrong-orong?

2. Apa saja ajaran, amaliyah dan kegiatan komunitasOrong-orong?

3. Bagaimana perananya dalam pengembangan Tarekat Qadiriyah Wa

Naqsyabandiyah Al-Utsmniyah di Kecamtan Gresik ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, maka dalam penelitihan ini

memiliki tujuan sebagai berikut:.

1. Mengetahui sejarah munculnya komunitasOrong-orong.

2. Mengetahui ajaran, amaliyah dan kegiatan komunitasOrong-orong.

3. Peran komnitasOrong-orongdalam pengembangan Tarekat Qadiriyah

Wa Naqsyabandiyah Al-Usmaniyah di Kecamatan Gresik.

D. Kegunaan Penelitihan

Peran komunitas Orong-orong dalam pengembangan Tarekat

Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Ustmaniyah Di kecamatan Gresik yang

satu ini menarik untuk dibahas lebih lanjut, sebab sebelum Jama’ah

(15)

munculnya jama’ah tersebut hingga berkembang diberbagai pulau di Indonesia maupun luar negri seperti Singpura, Malaysiah, Thailand,

Makkah dll, banyak sekali upaya yang dilakukannya dalam pengembangan

jama’ah, agar dapat diterima oleh masyarakat di satu sisi, dan memenuhi kehausan masyarakat akan spiritualitas di sisi lain. Agar dapat menjadi

sumbangan pemikiran keagamaan guna menambah wawasan khasanah

ketasawufan, maka peneliti melakukan penelitian lanjut dengan judul,

”PERAN KOMUNITAS “ORONG-ORONG” Dalam Pengembangan Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Usmaniyah Di kecamatan

Gresik Tahun 1988 M - 2005 M)”. Jama’ah yang dikomandoi oleh KH.

Achmad Asrori al-Ishaqy yang mengalami perkembangan cukup pesat

dalam waktu yang relatif singkat (1988 M – 2009 M), yang gerakannya nampak hampir ada di seluruh provinsi di Indonesia, bahkan sampai ke

luar negeri, ini sungguh menarik.

E. Pendekatan dan Kerangka Teoritik

Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini ialah pendekatan

sosiologi dan teori peranan sangat penting digunakan sebagai basis analisis

dalam penelitian Menurut Sartono Kartodirdjo, yakni deskripsi dalam

(16)

sosial, jenis hubungan sosial, pelapisan sosial, peranan dan status sosial,

dan lain-lain.6

Hal ini sebagai mana yang di jelaskan oleh Dudung Abdurrahman,

bahwa pendekatan sosiologi adalah sebuaah penggambaran peristiwa masa

lalu yang di dalamnya akan terungkap segi-segi sosial, yakni membahas

golongan sosial yang berperan, jenis hubungan sosial, pelapisan sosial,

peranan dan status sosial, dan sebagainya.7

Oleh karenanya pendekatan sosiologi dan konsep peranan sangat

relevan untuk penulisan penelitian ini. Dengan menggunakan pendekatan

sosiologi yang dimaksud akan membantu untuk mengungkap peranan

yang dilakukan komunitas Orong-orong dalam pengembangan Tarekat

Qodiriyah Wa Naqsabandiyyah Al-Ustmaniyyah.

Selain pendekatan, teori juga sangat penting di dalam sebuah

penelitian sosio-historis yang akan penulis lakukan untuk mendapatkan

jawaban dari sebuah pertanyaan bagaimana sebuah peristiwa itu bisa

terjadi. Sebuah teori berfungsi sebagai eksplanasi suatu fenomena sosial

yang berarti teori itu akan menjelaskan peristiwa yang sudah terjadi,

memprediksikan sesuatu yang akan terjadi dan juga akan mengontrol

ataupun mempengaruhi peristiwa yang akan terjadi.8

6

Sartono Kartodirjo,Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992), 5.

7

Dudung Abdurahman,Metodologi Penelitian Sejarah (Ciputat: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), 22.

8

(17)

Di dalam penelitian ini teori yang relevan digunakan untuk

menjelaskan tentang PERAN KOMUNITAS “ORONG-ORONG” Dalam

Pengembangan Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Ustmaniyah Di

Kecamatan Gresik Tahun 1988 M -2005 M adalah teori

developmentalisme dari Sartono Kartodirjo.9 Teori ini menggambarkan

bahwa masyarakat mengalami pertumbuhan dan perkembangan, suatu

proses adaptasi terhadap lingkungan, serta lebih efektif mempunyai

tujuannya.

Dalam skripsi ini, teori developmentalisme dipakai untuk

menjelaskan terjadinya pengembangan Tarekat Qodiriyah Wa

Naqsabandiyyah Al-Ustmaniyyah di kecamatan Gresik. Yang mana

komunitasOrong-orongbisa menarik banyak pengikut Tarekat Qodiriyah

Wa Naqsabandiyyah Al-Ustmaniyyah atas perintah KH. Ahcmad Asrori

sebagai guru mursyid. Dan juga berhasil mengubah anak jalanan yang

awam akan syari’at Islam menjadi mengerti tentang agama. Selain itu disertai prilaku para penganut tarekat menjadi lebih baik dilingkungannya.

Sehingga tidak jarang orang luar anggota tarekat, melihat perubahan itu

menjadi mempunyai keinginan untuk menjadi anggota tarekat.

F. Penelitihan Terdahulu

Memang sudah cukup banyak informasi tentang tokoh dan

organisasi yang berkaitan dengan objek penelitian tentang KH. Achmad

9Sartono Kartodirjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah (Jakarta: Gramedia

(18)

Asrori Al-Ishaqy dan juga Jama'ah Al-Khidmah sudah pernah dilakukan

oleh generasi sebelum penulis, namun focus pembahasannya berbeda.

Diantara penelitian-penelitian yang sudah membahas tentang KH. Achmad

Asrori Al-Ishaqy dan juga Jama'ah Al Khidmah, sebagai berikut:

1. Kusairi, “KH. Ahmad Asrori (studi historis tentang kemursyidan tarekat qadiriyah wa naqsabandiyah al usmaniyah di pondok

pesantren al fitrah kedinding surabaya pada tahun 1985-2005)”10,

Surabaya: Skripsi mahasiswa jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam

Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Surabaya, 2012. Isi: Pada skripsi Kusairi ini fokusnya kepada biografi

KH. Ahmad Asrori al-Ishaqy sampai beliau diangkat sebagai mursyid

menggantikan ayahandanya KH. Muhammad Usman al-Ishaqy. Selain

itu pada skripsi ini juga membahas tentang pendidikan di Pondok

Pesantren Assalafi Al Fitrah, sedangkan pada tulisan skripsi ini tidak

terfokus pada sejarah komuntasOrong-orongdan peranannya.

2. Mokh. Sya`rani yang berjudul Pemikiran Tasawuf Kyai Achmad

Asrori al-Ishaqy Kajian terhadap Pengajian Tasawuf Program

Mutiara Hikmah Radio Rasika FM Semarang.11 Penelitian ini cukup

relevan dengan kajian yang akan peneliti lakukan. Memang tidak

secara spesifik membahas mengenai system pengembangan tarekat

10Kusairi,“KH. Ahmad Asrori (studi historis tentang kemursyidan tarekat qadiriyah wa

naqsabandiyah al usmaniyah di pondok pesantren al fitrah kedinding surabaya pada tahun 1985-2005)”(Skripsi, UIN Sunan Ampel, Surabaya. 2012)

11

(19)

yang dilakukan oleh KH. Achmad Asrori. Ia hanya meneliti tentang

pemikiran KH. Achmad Asrori melalui ceramah-ceramahnya yang

diputar di Radio Rasika FM. Lokus dari Radio Rasika FM ini

mencakup Jawa Tengah, maka penelitian ini bisa dianggap sebagai

representasi pemikiran KH. Achmad Asrori al-Ishaqy yang

diperuntukkan bagi jama’ah al-Khidmah Jawa Tengah. Sebab, hampir menjadi kesepakatan umum, bahwa Radio Rasika FM ini menjadi

sarana komunikasi dan informasi berkenaan dengan al-Khidmah yang

ditujukan kepada para jama’ah di tingkat Jawa Tengah. Penelitian ini tidak menyinggung sejarah orong-orong dan peranannya.

3. Skripsi Wiwit 2001 Jurusan SPI, IAIN Sunan Ampel Surabaya,

berjudul “Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah Al Utsmaniyah di Pondok Pesantren As-Salafi Al-Fitrah Kedinding Kenjeran Surabaya (

studi tentang terapi dzikir)”12. Di dalamnya membahas tentang terapi

dzikir yang dilakukan di pondok pesantren As-Salafi Al Fitrah

Kedinding Kenjeran Surabaya.

4. Muhamad Amir Yusuf, “Pengaruh Majlis Dzikir Terhadap Keharmonisan Keluarga(Studi Kasus Majlis Dzikir al-Khidmah di

Pondok Pesantren Hidayatul Falah Bantul Yogyakarta)”13,

Yogyakarta: Skripsi mahasiswa jurusan al-ahwal asy-syakhsiyyah

12Wiwit, “Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah Al Utsmaniyah di Pondok Pesantren As-Salafi

Al-Fitrah Kedinding Kenjeran Surabaya ( studi tentang terapi dzikir)” (Skripsi, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2001).

13

Muhammad Amir Yusuf,“Pengaruh Majlis Dzikir Terhadap Keharmonisan Keluarga(Studi Kasus Majlis Dzikir al-Khidmah di Pondok Pesantren Hidayatul Falah Bantul

(20)

Fakultas Syari'ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Yogyakarta, 2014. Isi: Di dalam skripsi ini Amir Yusuf terfokus

terhadap keharmonisan keluarga yang bisa tercipta dengan berdzikir

dan dengan mengikuti majlis dzikir Al Khidmah diharapkan keluarga

bisa harmonis. Tentu tulisan ini berbeda dengan tulisan penulis yang

terfokus terhadap sejarah lahir dan berkembangnya Perkumpulan

Jama'ah Al Khidmah.

Dari tulisan di atas, tentu beda dan sangat berbeda dengan tulisan

yang akan dipaparkan dalam penelitian skripsi ini, karena pembahasan

dalam skripsi ini lebih ditekankan pada Komunitas Orong-Orong dan

peranannya dalam perkembangan jama’ah Al-Khidmah Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah di Desa Sukodono Kecamatan Gresik.

G. Metode penelitihan

Oleh karena itu, penelitian ini kemudian diarahkan pada metode

pendekatan análisis sejarah, di mana fenomena sosial dengan pendekatan

sosiologi, lebih banyak dijadikan bahan kajian. Analisis data dengan

pendekatan semacam ini, mengikuti saran Sartono Kartodirdjo. Menurut

Sartono Kartodirdjo, pendekatan sejarah intelektual adalah suatu langkah

penelitian dengan melakukan pembedaan atas tiga jenis fakta, yaitu artifact

(21)

langsung menyangkut semua fakta seperti yang terjadi dalam jiwa, pikiran

atau kesadaran manusia.14

Metode hostoris ialah sebuah penelitian yang tujuannya

mendiskripsikan dengan menganalisis peristiwa-peristiwa masa lampau

yang bertumpu pada empat langkah diantaranya:15

1. Heuristik

Heuristik merupakan tahapan pertama, yakni kegiatan

pengumpulan sumber. Pengumpulan sumber dilakukan penulis

melalui survey lapangan, data tertulis berupa dokumen, buku-buku,

majalah dan wawancara (interview) langsung. Dalam pengumpulan

data peneliti menggunakan berbagai teknik pengumpulan data yaitu :

a. Sumber primer

Untuk mencari sumber primer yang digunakan sebagai

acuan utama dalam penelitian ini, penulis mendapatkan

bukti-bukti tertulis yang ditulis oleh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy

yaitu: Pertama Al-Muntakhabat fi Rabithah al-Qalbiyyah wa

Shilah al-Ruhiyyah, (Surabaya: al-Khidmah, 2009) Kedua

Ahmad Asrori al-Ishaqy, Tuntunan dan Bimbingan (Surabaya:

Al Khidmah, 2011).

14

Sartono Kartodirdjo,Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1992), 176.

15

(22)

Studi lapangan adalah suatu upaya untuk menghimpun

jejak sejarah dengan cara terjun langsung ke lapangan. Teknik ini

sangat bermanfaat penulis untuk bahan perbandingan antara data

dari berbagai sumber tertulis dengan keadaan sesungguhnya.

Penulis melakukan observasi terhadap tempat-tempat yang

dijadikan tempat kegiatan tareka Qodiriyah Wa Naqsabandiyah

Al-Ustmaniyah. Penulis mengabadikan gambar-gambar dari

peninggalan yang sekarang masih ada. Misalnya berupa masjid,

pondok, rumah komunitas Orong-orong serta

bangunan-bangunan lain yang mempunyai arti sejarah bagi perkembangan

tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Ustmaniyah. Dari

bukti-bukti peninggalan tersebut dijadikan sumber bahan untuk

merekonstruksi Peran Komunitas Orong-orong Dalam

Pengembangan Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Di

Kecamatan Gresik.

Penulis juga akan menggunakan metode wawancara

sebagai sumber lisan dalam penelitian ini. Teknik wawancara

bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang berupa

tanggapan pribadi, pendapat atau opini serta keyakinan. Metode

wawancara juga mencakup cara yang digunakan untuk suatu

tujuan khusus dengan cara mencari keterangan atau pendapat

(23)

berhadapan muka mengenai apa yang dirasakan, dipikirkan dan

diakuinya.

Dalam teknik wawancara ini penulis mendapat

sumber-sumber lisan dari beberapa informan pelaku sejarah yang ada

dalam Orong-orong yaitu Khusnul Hadi orang sezaman yang

sekaligus orang pertama dari perkumpulanOrong-orong. Metode

sejarah lisan ini di gunakan sebagai metode pelengkap terhadap

bahkan dokumenter.16

b. Sumber Sekunder

Sumber sekunder yaitu tulisan atau kesaksian dari

siapapun yang bukan saksi pandangan mata. Dalam penelitian

ini peneliti menggunakan buku-buku literatur yang digunakan

sebagai sumber pendukung dalam penulisan skripsi ini, yakni

anatara lain : Pertama Aboebakar Atjeh. Pengantar Ilmu

Tarekat, Uraian Tentang Mistik (Solo: Ramadhani, 1993),

kedua Martin Van Bruinessen,Tarekat Naqsabandiyah Di

Indonesia, (Bandung: mizan,1992).

Dan masih banyak lagi buku kepustakaan yang

digunakan oleh penulis yang diperoleh dari Perpustakaan

Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya, Perpustakaan

Wilayah Jawa Timur, Perpustakaan Fakultas Adab dan

16

(24)

Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya, Taman Bacaan

pendidikan Sejarah dan lain-lain.

2. Kritik Sumber

Kritik sumber merupakan tahap kedua setelah melakukan

pengumpulan data. Dalam tahap ini penulis menganalisis dan

mengkritisi sumber-sumber yang didapat dari komunitasOrong-orong

serta melakukan perbandingan terhadap sumber-sumber yang didapat

agar mendapatkan sumber yang valid dan relevan dengan tema yang

dikaji penulis.

Dari berbagai sumber data yang berhasil diperoleh, tentu saja

tidak semuanya dapat diterima. Oleh karena itu diperlukan adanya

kritik terhadap data-data yang telah berhasil dikumpulkan. Kritik

sumber merupakan suatu metode yang digunakan untuk menilai

sumber-sumber yang kita butuhkan dalam arti benar-benar autentik

serta benar-benar mengandung informasi yang relevan dalam

penulisan sejarah yang disusun. Kritik sumber ini dibagi menjadi dua

bagian yaitu :

a. Kritik Ekstern

Kritik Ekstern dapat digunakan untuk menentukan

keaslian dan keautentikan suatu sumber sejarah. Dalam penulisan

skripsi ini penulis akan melakukan kritik ekstern terhadap sumber

(25)

dengan berbagai pertanyaan terhadap keotentikan sumber.

Pertanyaan yang penulis ajukan terhadap sumber-sumber yang

telah penulis dapatkan itu kepada pelaku komunitas yaitu

orang-orang yang ada dalam komunitas Orong-orong meliputi kapan

sumber itu dibuat, dimana sumber itu dibuat, siapakah yang

membuat dan apakah sumber itu dalam bentuk asli ataukah tidak.

Dari berbagai macam pertanyaan itu bisa disimpulkan bahwa

mana saja sumber-sumber yang layak untuk penulis jadikan

rujukan dan juga sumber yang mana yang tidak pantas penulis

jadikan rujukan untuk sebuah penulisan sejarah.

b. Kritik Intern

Kritik Intern bertujuan untuk mencapai nilai pembuktian

yang sebenarnya dari sumber sejarah. Kritik intern dilakukan

terutama untuk menentukan apakah sumber itu dapat memberikan

informasi yang dapat dipercaya atau tidak.17

Kritik intern lebih tegasnya adalah bertujuan untuk

menetapkan kesahihan dan dapat dipercaya isi dari sumber itu

sendiri. Sumber-sumber sejarah yang telah mengalami kritik

ekstern lalu dikritik kembali dengan menggunakan kritik intern.

Lantas setelah itu penulis bandingkan dengan wawancara yang

penulis dapatkan. Untuk sumber yang berupa wawancara penulis

17

(26)

lebih teliti dengan memilih orang-orang yang akan penulis

wawancarai mengingat banyaknya informasi yang tidak bisa

dipertanggung jawabkan keasliannya. Setelah semuanya

dilakukan dan penulis memperoleh sumber yang benar-benar

layak untuk merekonstruksi sebuah peristiwa masa lampau, maka

barulah penulis menyusun sebuah karya Peran Komunitas

“Orong-Orong” Dalam Pengembangan Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Utsmaniyah Di kecamatan Gresik.

3. Interpretasi

Setelah sumber-sumber yang didapat dianalisis dan kritisi,

tahap selanjutnya yang dilakukan ialah penulis mencoba menafsirkan

terhadap sumber yang telah dikritisi dan melihat serta menafsirkan

fakta-fakta yang di dapat penulis, sehingga mendapatkan pemecahan

atas permasalahan.

Kensekuensi logis di dalam metode sejarah, bahwa

sumber-sumber itu kemudian diuji keaslian dan kesahihanya melalui kritik

ekstern dan intern. Setelah pengujian dan analisis data dilakukan,

maka fakta-fakta yang diperoleh disintesiskan melalui eksplanasi

sejarah dari komunitasorong-orong.

Pada tahap ini data yang diperoleh diseleksi, disusun, diberi

atau dikurangi tekanannya, ditempatkan dalam suatu urutan untuk

(27)

fakta sejarah dapat dimasukkan, tetapi harus dipilih mana yang

relevan dengan sistematis pembahasan dari komunitas Orong-orong

dan mana yang kurang relevan untuk dijadikan sebagai fakta sejarah.

Fakta-fakta sejarah yang telah melalui tahap kritik sumber

dihubungkan atau saling dikaitkan pada akhirnya akan menjadi suatu

rangkaian yang bermakna.

4. Historiografi

Tahap ini ialah tahap akhir dari penelitian atau sebagai

penulisan akhir, yang berupa skripsi sebagai tugas akhir dalam

perkuliahan di program study Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas

Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tahap ini merupakan bagian terakhir dari metode sejarah.

Apabila peneliti sudah membangun ide-ide tentang hubungan satu

fakta dengan fakta lain melalui kegiatan interpretasi maka langkah

akhir dari penelitian adalah penulisan atau penyusunan cerita sejarah.

Bentuk dari cerita sejarah ini akan ditulis secara kronologis

dengan topik yang jelas terkait dengan pembahasan penulisan tentang

sejarah Orong-orong, dengan demikian akan mempermudah untuk

dimengerti dan dengan tujuan pembaca dapat mudah memahaminya.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, sehingga dalam

pengumpulan data dilakukan pada natural setting, sumber data

(28)

berperan (participan observasion) serta wawancara mendalam (depth

interview).18

H. Sistematika Pembahasan

Sistematika yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah

untuk meruntutkan berbagai bab agar tersusun secara sistematis. Penelitian

ini terdiri dari lima bab yang akan dijabarkan garis besarnya sebagai

berikut:

Bab I : Pendahuluan, BAB ini merupakan sebagai pengantar untuk

memasuki wacana-wacana yang akan di bahas secara mendalam. Dalam

bab ini akan disampaikan sub bab diantaranya: A. latar Belakang yakni

hal-hal yang melatar belakangi diangkatnya tema penulisan.; B.

RumusanMasalah, yakni sebagai gambaran dan batasan masalah yang

akan dibahas agar tidak terlaluluas.; C. tujuan penelitian; D. kegunaan

penelitian; E. pendekatan dan kerangka teoritik; F. metode penelitian; G.

sistematika pembahasan.

Bab II : Membahas tentang Sejarah munculnya komunitas

Orong-orong mencakup latar belakang terbentuknya di desa Sukodono

Kecamatan Gresik, metamorfosis nama dari KACA,Orong-orong sampai

dengan Al-khidmah.

Bab III : Pada bab ini akan membahas tentang kegiatan, ajaran,

amaliyah dan juga kegiatan yang dilakukan komunitasOrong-orongdalam

18

(29)

ketarekatan Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Utsmaniyah di Kecamatan

Gresik.

Bab IV : Di dalam bab ini akan menjelaskan perananya dalam

pengembangan tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Utsmaniyah di

Kecamatan Gresik yaitu bagaimana komunitas tersebut menjaring masa

dan peran dalam membuat majlis dzikir di sekitar Kota Gresik.

Bab V : Bab ini adalah bab penutup yang terdiri dari kesimpulan

(30)

BAB II

SEJARAH KOMUNITAS ORONG-ORONG

A. Latar Belakang Terbentuknya Komunitas Orong-Orong

Orong-orong merupakan komunitas anak muda yang mana dalam

komunitas tersebut terdiri dari berbagai kalangan mulai dari seniman

musik, Pelukis anak jalanan yang suka mabuk dan juga anak muda

berbagai macam karakter melebur menjadi satu komunitas yang bernama

Orong-orong. Latar belakang terbentuknya Orong-orong berawal dari

pertemuan seorang pemuda bernama Khusnul Hadi yang merupakan anak

jalanan Desa Sukodono Kecamatan Gresik dengan KH. Ahmad Asrori.

Pertemuan tersebut terjadi di Desa Tlogo Dendo pada bulan Oktober tahun

1987 M.1

Awalnya Khusnul Hadi yang juga berprofesi sebagai penjual

lampu di daerah Desa Tlogo Dendo. Khusnul Hadi bertemu dengan

seorang pembeli bernama Yusuf yang berprofesi sebagai dokter. Yusuf

merupakan seorang kawan dari Haji Udin yang bertempat tinggal di

Surabaya. Haji Udin sendiri adalahjuraganlampu di tempat Khusnul Hadi

bekerja. Di hari itu Yusuf membeli banyak lampu dan Khusnul Hadi

(31)

disengaja, dibelakang mobil Yusuf telah duduk KH. Achmad Asrori.

Disini awal pertemuan KH. Achmad Asrori dengan Khusnul Hadi.2

Keesokan harinya Yusuf memesan lampu lagi dan meminta agar

Khusnul Hadi mengantarkannya di rumahnya di Surabaya. Akhirnya

Khusnul Hadi mengantarkan pesanan tersebut ke Surabaya bersama Haji

Udin. Sesampai dirumah Yusuf, Khusnul Hadi kembali bertemu dengan

KH. Achmad Asrori.3Dipertemuan tersebut Khusnul Hadi mulai berdialog

dengan KH Achmad Asrori.

Disela-sela dialog tersebut KH. Achmad Asrori menawarkan

pekerjaan kepada Khusnul Hadi sebagai pegawai yang tugasnya menemani

dan mengawal dirinya. KH Ahmad Asrori juga menawarkan gaji yang

lebih tinggi dari pekerjaannya sebagai penjual lampu. Sebelum

menawarkan pekerjaan kepada Khusnul Hadi, KH. Ahmad Asrori sudah

meminta izin kepada Haji Udin supaya Khusnul Hadi bisa dijadikan

olehnya sebagai pegawai. Haji Udin mengijinkan Khusnul Hadi untuk

menerima tawaran tersebut jika itu memang kehendak dari Khusnul Hadi

sendiri. Akhirnya Khusnul Hadi menerima tawaran pekerjaan tersebut

dikarenakan gaji yang diterimanya lebih besar dibandingkan gaji sebagai

penjual lampu.

Dihari selanjutnya Khusnul Hadi mulai bekerja dengan KH.

Achmad Asrori. Dihari pertamanya bekerja, Khusnul Hadi sudah

2

(32)

dihadapkan dengan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan.

Seperti halnya dalam hal berpakaian. KH Achmad Asrori memberinya

pakaian seragam berupa pakaian busana muslim seperti baju taqwa, sarung

dan peci.

Awalnya Khusnul Hadi enggan untuk memakai pakaian tersebut

dikarenakan malu jika dilihat oleh teman-temannya. Sebab menurut

Khusnul Hadi, dirinya yang seorang anak jalanan tidak pantas jika harus

memakai pakaian busana muslim. Namun dengan perlahan KH Achmad

Asrori memberikan pemahaman kepada Khusnul Hadi. Dia mengatakan

kepada Khusnul Hadi jika bekerja dengannya, dia harus berpakaian busana

muslim. Dikarenakan gaji yang tinggi, akhirnya Khusnul Hadi bersedia

memakai pakaian tersebut.4Dalam perjalanan ini anak jalanan yang tidak

pernah memakai pakaian yang semestinya dipakai seorang muslim

akhirnya mau untuk berpakaian layaknya seorang muslim.

KH. Achmad Asrori mempunyai tiga pegawai. Pertama adalah Pak

Arip sebagai pembantu rumah tangga yang menyiapkan makanan dan

mencuci pakaian, kedua Pak Kholik yang tugasnya sebagai tukang kebun,

dan yang ketiga pegawai barunya yaitu Khusnul Hadi sebagai pengawal

KH Achmad Asrori dalam mengisi acara majlis.5 Khusnul Hadi bertugas

menemani dan membawakan kitab serta air mineral untuk KH Achmad

Asrori.

4

(33)

Seiring berjalannya waktu Khusnul Hadi terketuk hatinya untuk

bisa belajar bagaimana tatacara sholat. Dimana suatu ketika banyak orang

yang tidak suka dengan kedekatan Khusnul Hadi dengan KH. Achmad

Asrori yang dikenal dengan seorang kiyai dan juga seorang mursyid

tarekat sedangkan Khusnul Hadi anak jalanan yang suka mabuk-mabukan.

Karena Khusnul Hadi malu dengan juragan-nya seorang kiyai maka

Khusnul Hadi ingin belajar sholat dimana agar Khusnul Hadi tidak dibenci

orang-orang kalau sedang mendampingi KH. Achmad Asrori ketika

mengisi acara majlis.6 Maka diberilah Khusnul Hadi oleh KH. Achmad

Asrori kitab tentang tatacara melakukan sholat. Selama seminggu Khusnul

Hadi mempelajari kitab tersebut dengan bimbingan langsung dari KH.

Achmad Asrori. Sehabis itu Khusnul Hadi diperintah oleh KH. Achmad

Asrori agar supaya mengajak teman-temannya main kerumah KH. Ahmad

Asrori yang ada di Surabaya.

Pada tanggal 30 Desember 1987 M menjelang pergantian tahun

Khusnul Hadi pamit kepada KH. Achmad Asrori untuk pulang ke Gresik.

Sebab pada malam pergantian tahun Khusnul Hadi diajak oleh

teman-temannya untuk mendaki gunung. Namun tawaran dari teman-temanya

tersebut ditolak olehnya. Dia mengusulkan kepada teman-temannya agar

mengisi acara malam tahun baru di pondok pesantren Darul Ubudiyah

dengan tujuan mendengarkan lantunan musik manaqib. Hal tersebut

(34)

Hadi berkata kepada temannya kalau di pondok pesantren Darul Ubudiyah

di Surabaya ada lantunan musik yang sangat indah yaitu lantunan musik

manaqib.7 Disini mulai ada ketertarikan dari teman-teman Khusnul Hadi

terhadap musik islami dimana musik tersebut dapat di-aragement ulang

kembali menjadi nada dari musik pop.

Setelah mendengarkan musik manaqib Khusnul Hadi mengajak

teman-temannya bertemu dengan KH. Achmad Asrori. Diantaranya adalah

Khusnul Hadi, Hariyadi, Anam, Mamak, Gusno, Ula, Edi. Mereka

disambut dengan hangat oleh KH. Achmad Asrori dengan mengajak

ngobrol tentang segala hal mengenai kehidupan dan percintaan anak muda.

Dari percakapan ini mereka sangat terkesan dengan jawaban-jawaban serta

pemikiran beliau sehingga terjalin hubungan yang akrab diantara mereka

dengan KH. Achmad Asrori.8

Lambat tahun suatu hari mereka kembali bertamu dirumah KH.

Achmah Asrori. Disana mereka diberi banyak suguhan menu makanan.

Setelah berbincang-bincang santai dengan beliau mereka dipersilahkan

untuk menyantap makanan yang telah dihidangkan oleh beliau. Akhirnya

mereka menghabiskan makanan tersebut dengan tidak sedikitpun yang

tersisa.

Melihat sikap mereka ketika menyantap makanan. KH. Achmad

Asrori berkata kepada Khusnul Hadi bahwa teman-temannya itu

ngorong-7

(35)

ngorong.9 Istilah Ngorong-ngorong dalam bahasa jawa memiliki arti

kelaparan atau kehausan. Dari sini mulai ada penyebutan nama

Orong-orong yang awalnya berasal dari kata ngorong-ngorong yang akhirnya

diplesetkan menjadi kata Orong-orong oleh sebagian banyak orang

terhadap Khusnul Hadi dan teman-temannya.

B. Metamorfosis Nama Dari KACA, Orong-Orong, dan Al-Khidmah

1. Nama Kaca

Sebelum bernama Orong-orong komunitas anak jalanan ini

bernama KACA. Kaca disini bukan berarti kaca cermin ataupun kaca

jendela. Namun Kaca adalah kepanjangan dari Karunia Cahaya

Agung. Adapun penamaan kaca sendiri bermula dari usulan Khusnul

Hadi. Awal mulanya dikarenakan KH. Achmad Asrori hendak

berkunjung ke Gresik untuk bertemu dengan Khusnul Hadi beserta

teman-temannya.10 Hal tersebut dikarenakan inisiatif dari KH.

Achmad Asrori agar Khusnul Hadi dan teman-teman tidak

mengeluarkan biaya yang begitu banyak untuk ongkos pergi ke

kediaman KH. Achmad Asrori di Surabaya. Sebab dengan jumlah

orang yang lebih dari 50 orang, maka banyak pula biaya yang

dikeluarkan untuk bisa sampai ke Surabaya. Dari situ muncul inisiatif

dari KH. Achmad Asrori untuk datang ke Gresik agar tidak banyak

9Hadi,wawancara, Gresik, 11 November 2016. 10

(36)

beban biaya yang dikeluarkan oleh Khusnul Hadi dan

teman-temannya.

Informasi kedatangan tersebut disampaikan oleh Khusnul Hadi

kepada teman-temannya. Dari sini Khusnul Hadi bersama lima

temannya berinisiatif menggunakan undangan guna memberikan

informasi kepada seluruh teman yang lainnya. Dikarenakan sejauh ini

aktifitas mereka hanya sekedar kumpul bersama maka belum ada

nama resmi dalam perkumpulan tersebut. Akhirnya Khusnul Hadi

mengusulkan nama KACA sebagai nama perkumpulannya selama

ini.11 Dalam undangan yang ditujukan kepada teman-teman lainnya.

Terdapat tulisan KACA yang tertera dalam kop undangan tersebut.

Acara kumpul bersama pertama yang diadakan anak jalanan ini

bertepatan dengan munculnya pemberian nama komunitas menjadi

Komunitas KACA pada tahun 1989 setelah satu tahun lebih

perkenalan Khusnul Hadi dengan KH. Ahmad Asrori. Acara kumpul

bersama ini diadakan di Desa Bedilan Kecamatan Gresik kediaman

haji Udin dengan dihadiri tujuh puluh lima orang. Acara tersebut

dibuka dengan istighosah selanjutnya dilanjutkan dengan forum tanya

jawab anggota kepada KH. Achmad Asrori. Anggota sangat antusias

mengikuti acara tersebut, mereka tertarik pada forum tanya jawab.

Pada saat itu banyak anggota merupakan kalangan pemuda. Mereka

(37)

KH. Achmad Asrori menjawab pertanyaan para pemuda itu dengan

sangat bijak. Para pemuda yang hadir dalam acara tersebut semakin

tertarik dengan komutitas KACA.

Nama KACA (karunia cahaya agung) mempunyai makna atau

filosofi sebagai berikut :

a. Karunia yang artinya belas kasih yang mana belas kasih diberikan

Allah kepada hambanya manakala setelah kita mendapatkan

sesuatu atau petunjuk tersebut dapat membuat kita semakin dekat

dengan Allah.

b. Cahaya artinya sinar yaitu dimana kita diberi cahaya atau nur dari

Allah (nur ilahiyah).

c. Agung artinya besar yaitu Maha Besar zat yang memiliki segala

kebesaran yang jauh dari sifat-sifat makhluk, zat yang paling

sempurna hanya milik Allah.

Jadi arti dari KACA (karunia cahaya agung) adalah belas kasih

Allah yang diberikan kepada hambanya menuju jalan yang benar

sehingga dalam komunitas tersebut diberikan petunjuk oleh Allah

SWT.12

2. Dari Kaca MenjadiOrong-Orong

Setelah nama KACA terbentuk komunitas KACA merubah nama

(38)

belakang namaOrong-orong sendiri muncul dari KH. Achmad Asrori

ketika ada suatu peristiwa dimana anak jalanan ini berkunjung

kerumah beliau disitu mereka dihidangkan berbagai macam makanan.

Setelah ngobrol santai dengan KH. Achmad Asrori, teman-teman

Khusnul Hadi menyantap makanan tersebut dengan lahap tidak

sedikitpun mereka menyisakan suguhan makanan yang telah

dihidangkan. Sumber pertama yang diceritakan Khusnul Hadi

menyebutkan awal munculnya namaOrong-orong.

Pada saat Khusnul Hadi beserta teman-temannya berkunjung dan

sedang menyantap makanan di rumah KH. Achmad Asrori, ia berkata

kepada Khusnul Hadi “koncomu ngorong-ngorong yo (teman kamu kelaparan yo), lalu dijawab oleh Khusnul Hadi : Enggeh, rencang kulo

panceng ngorong-ngorong”.13

Awalnya Khusnul Hadi dan teman-temannya ketika di suguhkan

makanan oleh KH. Ahmad Asrori merasa malu ketika hendak

memakannya. Namun ketika di tinggal oleh KH. Achmad Asrori

kedalam rumah, makanan tersebut sudah habis dimakan oleh Khusnul

Hadi dan teman-temannya. Sehingga ketika KH. Achmad Asrori

kembali dan melihat makanan yang sudah habis, terucap kata

ngorong-ngorong yang diucapkan oleh KH. Achmad Asrori kepada

(39)

Ngorong-ngorong dalam bahasa jawa (jawa timur) artinya

kelaparan/kehausan. Penyebutan nama Orong-orong yang asalnya

ngorong-ngorong menjadi sebutan orang-orang disekitar rumah KH.

Achmad Asrori menyebut Khusnul Hadi dan temannya dengan

sebutan anakOrong-orong.

Selanjutnya dari sumber yang lain mengatakan namaOrong-orong

mulai dikenal banyak orang, ketika salah satu teman KH. Achmad

Asrori yaitu KH. Safi’i memanggil Khusnul Hadi dan temannya

dengan sebutan Orong-orong. Suatu ketikan ada acara dirumah KH.

Achmad Asrori menyiapkan banyak hidangan makanan untuk

tamunya, pada saat ramah-tamaKH. Safi’i disuruh beliau memanggil Khusnul Hadi dan teman-temannya untuk ikut serta makan bersama.

KH. Safi’i memanggil Khusnul Hadi “Arek Orong-orong dikongkon yai Asrori mangan bareng (Anak Orong-orongdisuruh yai

Asrori makan bersama) dan seketika itu KH. Safi’i mendapat gelar dari beliau sebagai ayah dariOrong-orong.”14

Karena banyaknya orang memanggil Khusnul Hadi dan

teman-temannya dengan sebutan anak Orong-orong KH. Achmad Asrori

setuju dengan sebutan tersebut. Lama-kelamaan nama kaca tenggelam

(40)

Adapun penjelasan KH. Ahmad Asrori kepada Khusnul Hadi

Orong-orong adalah hewan yang di cintai oleh wali, (hikayat wali

songo) seorang wali yang bernama Sunan Demak ketika itu

memotong kayu dengan pisau, tidak disengaja leher binatang

orong-orong ikut terpotong dan terlepas dari tubuhnya. Merasa kasihan

dengan binatang tersebut Sunan Demak menyambung kepala dan

tubuh orong-orong dengan kayu kecil, tidak lama kemudian hewan

orong-orong tersebut hidup lagi. Penjelasan Khusnul Hadi selanjutnya

bawasanya binatang orong-orong merupakan hewan yang beraktifitas

dimalam hari dan gemar mengorek-ngorek tanah sama hal nya dengan

komunitas Orong-orong banyak anggotanya suka cangkru’an

(begadang) dimalam hari, pada siang harinya tidak ada yang keluar

rumah.15

Jadi pengambilan nama Orong-orong yang dijelaskan oleh

Khusnul Hadi mempunyai arti atau makna bawasanya komunitas

Orong-orong adalah anak jalanan yang beraktifitas dimalam hari

(cangkru’an) dan dicintai KH. Achmad Asrori beliau sebagai guru

mursyid tarekatQodiriyyah Wan Naqsabandiyyah Al-Ustmaniyah.16

3. DariOrong-OrongHingga Al-Khidmah

Sejalan dengan makin bertambahnya anggota dan tersebar

didesa-desa yang ada di Kecamatan Gresik yang mencapai kurang lebih lima

15

(41)

ribu anggota, memerlukan pengaturan dan penanganan yang sangat

khusus secara profesional dalam mensamakan dan menyatuhkan detak

hati, desah nafas dan langkah tujuan bersama.17 Karena didalam

komunitas Orong-orong belum ada kepengurusan yang paten KH.

Ahmad Asrori membentuk kepengurusan yang diberi nama

Al-khidmah. Nama Al-khidmah menurut Khusnul Hadi artinya

melayani/membantu, dari kata-kata melayani yang dimaksud adalah

melayani tanpa imbalan diniatkan untuk beramal/shodaqoh.18

Dari keterangan Khusnul Hadi perpindahan nama Orong-orong

menjadi Al-khidmah yang sudah beranggotakan kurang lebih lima

ribu orang, sembilan puluh persen anak jalanan yang ikut dalam

komunitas mulai berhenti meninggalkan kebiasaan buruknya yang

suka mabuk-mabukan. Dan mulai ada penggabungan antara murid

Kyai sepuh, ayah dari KH. Ahmad Asrori yaitu KH. Muhammad

Usman Al-Iskhaqy dalam satu majlis dzikir. Al-khidmah yang

awalnya bernama komunitas Orong-orong bertugas sebagai

penanggung jawab mengatur pelaksana acara dan murid KH.

Muhammad Ustman sebagai imam-imam dalam acara kemajlisan.19

Sumber ini juga didukung sumber lainya yaitu pedoman

kepemimpinan dan kepengurusan Al-khidmah menulis tentang

pengurus Al-khidmah adalah orang-orang yang telah dipilih dan

17Achmad Asrori,Lima Pilar Utama Soko Guru Tuntunan Dan Bimbingan(surabaya:Rakernas

III, 2009), 17. 18

(42)

ditetapkan oleh rapat Al-khidmah, untuk memfasilitasi

terselenggaranya kegiatan dan amaliah yang telah ditetapkan dan

diamalkan oleh guru thoriqoh atau para ulama’ salafush sholih, pinisepuh pendahulu kita.20

Awal kepengurusan Al-khidmah dibentuk oleh KH. Achmad

Asrori sendiri dengan ketua pertama yaitu Bung Rizal pada tahun

1992 M. Dalam kepengurusan Al-khidmah masa jabatan paling lama

selama 2 periode dengan catatan waktu 1 periode 3 tahun.21 Sumber

dari Khusnul Hadi diperkuat lagi dengan buku pedoman

kepemimpinan dan kepengurusan Al-khidmah.

Masa Kerja Dewan Penasihat dan Kepengurusan ATh Thoriqoh

dan Al Khidmah disetiap tingkatan :

a. Dewan Penasihat selama sehat wal afiat, jasmani dan rohani, dan

mampu berfikir secara bersih dan jernih selamanya bisa dipilih

dan didudukan.

b. Setiap 3 tahun sekali diadakan pemilihan dan pembentukan

kepengurusan baru .

c. Setiap pengurus hanya bisa dipilih dan duduk di kepengurusan

selama 2 periode.22

d. Setelah 2 periode bisa dipilih lagi pada kedudukan yang berbeda.

20

Achmad Asrori,Pedoman Kepemimpinan Dan Kepengurusan Dalam Kegiatan Dan Amaliah Ath Thoriqoh Dan Al Khidmah(Surabaya: Al Wafa, 2003), 13.

21Hadi,wawancara, Gresik, 04 Desember 2016 22

(43)

Seiring berjalan nya waktu Al-khidmah menyebar diberbagai

wilayah di Indonesia, adapun tingkatan kepengurusan didalam

al-khidmah sebagai berikut :

a. Tingkat Pusat

Tingkat Pusat adalah pengurus Al-khidmah yang berkedudukan di

pusat keguruan dan perguruan Al-khidmah.

b. Tingkat Propinsi

Tingakat Propinsi adalah pengurus Al-khidmah yang berkedudukan

di tingkat propinsi

c. Tingkat Kota/Kabupaten

Tingkat Kota/Kabupaten adalah pengurus Al khidmah yang

berkedudukan di tingkat kota/kabupaten.

d. Tigkat Kecamatan

Tingakat Kecamatan adalah pengurus Al-khidmah yang

berkedudukan di tingkat kecamatan.

e. Tingkat Desa

Tingkat Desa adalah pengurus Al-khidmah yang berada di tingkat

desa yang disebut dengan koordinator.23

Adapun pembentukan pengurus.

23Asrori,Pedoman Kepemimpinan Dan Kepengurusan Dalam Kegiatan Dan Amaliah Ath

(44)

a. Pembentukan kepengurusan dapat dilakukan jika dalam suatu

daerah/desa, jumlah jama’ahnya sedikitnya sudah mencapai 40 orang.

b. Pembentukan kepengurusan yang lebih tinggi dimungkinkan jika

sudah terbentuk lebih dari 2 pengurus di tingkatan bawahnya.

Kriteria Pengurus

a. Sudah baligh.

b. Sehat wal afiat, jasmani dan rohani.

c. Mempunyai keahlian dan kemampuan di bidangnya.

d. Mempunyai kemampuan yang tinggi untuk berkhidmah.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanah dan tugas

kewajiban sebagai pengurus.24

24Asrori,Pedoman Kepemimpinan Dan Kepengurusan Dalam Kegiatan Dan Amaliah Ath

(45)

Stuktur Al-Khidmah

BAGANPENGURUSAL-KHIDMAH

Uraian Tugas Pengurus

a. Ketua Al-Khidmah

1) Bertanggung jawab kepada dewan penasehat dan pengurus

Ath Thoriqoh.

2) Melaksanakan segala keputusan yang telah ditetapkn oleh

pengurus Ath Thoriqoh bersama pengurus Al-khidmah.

3) Mengadakan kegiatan lain yang tidak bertentangan dengan

ketentuan hukum syari’at.

4) Mengarahkan sesama pengurus untuk mensukseskan

(46)

b. Sekretaris Al-Khidmah

1) Bertanggung jawab kepada ketua Al-Khidmah.

2) Melaksanakan segala keputusan yang telah ditetapkan oleh

pengurus Ath Thoriqoh bersama pengurus Al-Khidmah.

3) Meng-administrasikan segala kegiatan pengurus

Al-Khidmah.

4) Mengadakan keoordinasi dengan sesama pengurus dalam

rangka mensukseskan kegiatan yang telah ditetapkan.

c. Bendahara Al-Khidmah

1) Bertanggung jawab kepada ketua Al-Khidmah.

2) Merencanakan biaya dan pendapatan setiap kegiatan yang

telah ditetapkan.

3) Mencatat setiap pendapatan dan pengeluaran.

4) Melaporkan hasil kerja kepada dewan penasehat, pengurus

ATh Thoriqoh dan pengurus Al-Khidmah.

Al-khidmah juga mempunyai lambang perkumpulan,

Lambang Al-khidmah dibuat oleh KH. Achmad Asrori sendiri.

Ketika lambang Al-khidmah belum sempurna beliau menjelaskan

kepada Khusnul Hadi tepatnya pada lambang tiga pentolan tasbih

(47)

luar saja)”.25 Khusnul Hadi dijelaskan oleh KH. Achmad Asrori kalau perilaku yang baik itu harus ditaruh didalam jangan

dilihatkan kepada orang. Sehabis itu beliau mengganti pentolan

tasbih mengarah kedalam lingkaran dan lambang tersebut dipakai

hingga sekarang tanpa ada perubahan sedikitpun.

Lambang Al-Khidmah

Arti lambang Al-khidmah

a. Pena, alat untuk menulis

b. Arah pena yang menunjukan kearah bawah

c. Kitab empat buah

d. Bintang tiga buah

(48)

f. Pentolan tasbih yang mengarah kedalam lingkaran

g. Pentolan tasbih yang panjang dibawah mengarah ke atas

Filosofi yang terdapat didalam lambang Al-Khidmah

a. Pena sebagai lambang mencari ilmu

b. Arah pena ke bawah melambangkan menuntut dan menambah

ilmu sejak lahir hingga kembali ke liang lahat.

c. Empat buah kitab melambangkan berlandaskan pada

Al-Qur’an, Al-Hadist, Al-ijma’ dan Al-Qiyas.

d. Tiga buah bintang melambangkan memantabkan dan

menyempurnakan Al Islam Al Iman dan Al ihsan

e. Tasbih melambangkan mengikuti ketetapan dan amaliyah

ulama’ salafus shaleh.

f. Pentolan tasbih yang mengarah ke dalam melambangkan

kesungguhan dan ke-ikhlasan dalam mengabdi dan

berkhidmah kepada Allah SWT.

g. Pentolan tasbih yang panjang mengarah ke atas melambangkan

berkepribadian dan berprilaku rendah hati, mawas diri dan

toleransi serta arif bijaksana demi meraih rahmat dan ridho

serta keutamaan dan kemuliaan Allah SWT.

Tujuan Perkumpulan Al Khidmah

a. Untuk menghimpun menyatuhkan potensi anggota didalam

(49)

b. Melaksanakan segala keputusan yang telah ditetapkan oleh

pengurus At Thoriqoh.

c. Sebagai alat pemersatu segenap ikhwan dan akhwat dengan

semangat kebersamaan saling hormat menghormati dan

menghargai, toleransi yang tinggi, hidup rukun dan guyup

didalam berkhidmah secara istiqomah mengikuti contoh suri

tauladan KH. Ahmad Asrori, mewarisi tuntunan dan sunnah

Rasulillah SAW, baik dalamubudiyahmaupun amaliyah.26

d. Menghimpun kekuatan dan potensi yang ada dan dimiliki

oleh jama’ah sebagai sarana dan wahana untuk meningkatkan kesejahteraan jama’ah.

e. Membina ukhuwah islamiyyah.

26

(50)
(51)

BAB III

AJARAN, AMALIYAH, DAN KEGIATAN KOMUNITAS

ORONG-ORONG

A. Ajaran KomunitasOrong-Orong

1. Akhlaq

Ajaran yang ditekankan dan difahami komunitas Orong-orong

secara mendasar yang telah diajarkan oleh KH. Achmad Asrori yaitu

dengan menitik beratkan pada pembentukan seseorang yang

mempunyai akhlak. Akhlak menurut bahasa adalah bentuk mufrod

dari khuluq, yang berarti watak atau karakter. Sedangkan akhlak

menurutistilah ulama’ berpendapat akhlak yang baik adalah ungkapan dari sikap yang tertanam dalam jiwa seseorang hamba, yang berfungsi

sebagai penggerak jiwa dalam bergaul dengan makhluk, dan sebagai

pengendali jiwa ketika syahwat dan amarah.1 Pembentukan akhlak

yang baik sesuai dengan ajaran yang diajaran oleh Rasulullah, dalam

hadist beliau menjelaskan :

Baginda Habibillah Rasulillah Muhammad bersabda :

“Sesungguhnya kami diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak

yang mulia” (HR. Imam Al Bukhori)2

(52)

Dalam Riwatyat lain, beliau bersabda : “Sesungguhnya kami diutus

hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik” (HR. Imam

Ahmad)3

Dan Allah SWT berfirman dalam surat Al-Qolam ayat 4 :











”Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang

agung”.4

Selanjutnya Khusnul Hadi menceritakan

Suatu hari beliau KH. Achmad Asrori menawarkan kepada anggota

dalam komunitas Orong-orong dengan ilmu kekebalan karena

kebanyakan pemuda dalam komunitas Orong-orong ini suka

berkelahi, KH. Achmad Asrori menawarkan kepada mereka ilmu

kekebalan dan mereka sangat senang akan berita tersebut. ”Khusnul

Hadi teman kamu suka berkelahi bagaimana kalau saya kasih ilmu

kekebalan tapi yang ngisi bukan saya teman saya kiyai Safi’i, Khusnul

Hadi menawarkan kepada teman-temannya dan mereka mau diisi

dengan ilmu kekebalan”.5 Ada sekitar 25 orang yang di isi dengan

ilmu kekebalan. Setelah pengisihan ilmu kebal mereka dicoba

satu-persatu dengan pisau yang sangat tajam, tidak ada sedikitpun tubuh

mereka yang terluka. Sehabis ilmu itu sudah masuk dalam tubuh

mereka yai Safi’i memberi syarat tertentu yaitu dengan syarat ilmu

Ibid., 13.

(53)

kekebalan ini tidak boleh mabuk-mabukan dan main perempuan jika

melanggar kulit mereka akan terkelupas. Disini teman Khusnul Hadi

mulai dikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan buruknya. Hingga

sekarang 25 orang tersebut tidak pernah mabuk-mabukan dan bermain

perempuan.

Menurut Khusnul Hadi yang telah diajarkan KH. Achmad Asrori

orang sebelum melakukan kebaikan (ibadah) lebih baik meninggalkan

kebiasaan buruknya terlebih dahulu, yang bertetangan dengan syari’at Islam. Seperti halnya kebiasaan yang dilakukan Khusnul Hadi dan

teman-temannya yang suka mabuk-mabukan.6 Beliau KH. Achmad

Asrori juga mengatakan kepada Khusnul Hadi bawasanya nabi

Muhammad ketika masih kecil sebelum diangkat menjadi rasul hati

beliau nabi Muhammad dibersihkan terlebih dahulu. Sama halnya

yang diajarkan KH. Ahmad Asrori kepada komunitas Orong-orong

sebelum kejenjang ibadah lebih baik meninggalkan kebiasaan

buruknya yang suka mabuk-mabukan. Hal ini juga di jelaskan dalam

Al-Qur’an tentang larangan meminum khamr. Allah berfirman dalam

surat Al-Maidah ayat 90-91 :

(54)

                          

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jahuilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian dintara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan

shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”.7

Dan juga dijelaskan oleh firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat

219 :

                                                     

“Mereka beranya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, “pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa’at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa’atnya”. Dan

mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafqahkan. Katakanlah,

“yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat

-ayat nya kepadamu agar kamu berfikir.”8

2. Adab

K.H. Achmad Asrori al-Ishaqy dalam ajaran tasawufnya, terlihat

lebih menekankan adab. Menurutnya, Adab adalah kunci pintu

menuju Allah, jika tidak ada adab, maka kita tidak dapat sampai

menuju Allah, dan kita tidak bisa disampaikan bersimpuh di hadirat

(55)

Allah SWT.9Meski demikian, ajaran tasawuf KH. Achmad Asrori

Al-Ishaqy cenderung praktis. Seperti halnya yang diajarkan pada

komunitas Orong-orong untuk menyelaraskan kehidupan buruknnya,

KH. Achmad Asrori lebih menekankan pada akhlak dan adab terlebih

dahulu. Lafad adab dalam bahasa adalah bentuk mufrod dari aadab

dan lafadz addabahu berma’na mengajarkan adab kepadanya. Sedangkan adab menurut istilah adalah ungkapan dari perilaku yang

terpuji dengan cara-cara yang bisa diupayakan.10

Khusnul Hadi menceritakan pada pengajian pertama dalam acara

istighosah yang ada di Gresik tepatnya di Wisma Ahmad Yani

tanggal 4 Oktober 1990 M yang mana komunitas Orong-orongmasih

bernama KACA. KH. Achmad Asrori Al-Iskhaqy menjelaskan

tentang pengajiannya dengan judul wong ngeseng (orang berak)

disampaikan oleh KH. Achmad Asrori bahwasanya orang melakukan

ibadah itu sebaiknya seperti halnya orang berak. Sebelum berak,

orang tersebut makan makanan berbagai macam jenis makanan

dengan tidak ada hitungan apa saja yang telah dimakan. setelah

banyak makanan yang ada di dalam diperut dikeluarkan melalui

kotoran berak.

KH. Achmad Asrori menjelaskan bahwasanya orang melakukan

ibadah itu lebih baik tidak dihitung, sama halnya mengeluarkan

9

(56)

makanan melalui kotoran berak dan orang berak selalu tertutup tidak

mau dirinya dilihat orang.11 Dalam ibadah kita senantiasa memiliki

adab ubudiyyah (sifat menghamba) tidak menghitung amal ibadah kita

lakukan dan senantiasa ikhlas dalam menjalankan ibadah kepada

Allah tanpa pamrih (sifat riya’) menunjukkan segala ibadanya kepada orang lain, sama halnya orang berak merasa malu ketika dilihat orang.

Adapun ulama shufiyah mengatakan adab mempunyai peranan

yang sangat agung dalam agama, bahkan adab merupakan pokok dan

pusat dalam kesungguhan ber-tawajjuh kepada Allah.12 Adab-adab

dalam mensucikan hati, menjaga sirri-rahasia, memenuhi kewajiban

setelah berjanji, tidak memperdulikan lintasan, gerak gerik hati dan

perkara yang baru datang yakni mereka yang tidak bertujuan mencari

karomah dan lain-lain, yang dituju hanyalah ridho dari Allah SWT.

Dan juga mempunyai adab yang baik dalam melakukan kewajiban dan

kesunahan, maqom-maqom mendekatkan diri kehadirat Allah, waktu

menghadirkan hati kehadirat Allah dan mempunyai kedekatan yang

sangat dalam ikatan hati dan jalinan rohani kehadirat Allah.13

Induk atau kunci dalam adab adalah menyaksikan dan merasa

kekurangan pada diri sendiri, serta menyaksikan kesempurnaan pada

11Hadi,wawancara, Gresik, 04 Desember 2016.

12Asrori al-Ishaqy et al,Untaian Mutiara Ikatan Hati Jalinan Rohani, vol. IV, terj. Muhammad

(57)

orang lain.14Oleh karena itu, ketika kita melihat seseorang yang lebih

tua dari kita, maka kita memuliakan dan menghormatinya, sebab kita

merasa dan menyaksikan bahwa keta’atannya kepada Allah SWT serta mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW lebih banyak dari pada kita.

Demikian juga sebaliknya ketika kita melihat seseorang yang lebih

muda dari ita, maka kita melihat dan menyaksikan bahwa kelalaian

dan kesalahannya lebih sedikit dari kita. Jika melihat seorang pemeluk

agama lain, kita bergaul dengan penuh lemah lembut, dan

mendo’akannya agar mendapatkan hidayah dari Allah, karena kita menyaksikan bahwa iman kita berada pada ilmu dan kehendak Allah

SWT.

B. Amaliyah komunitas orong-orong dalam thoriqoh Qodiriyah Wan

Naqsyabandiyyah Al Ustmaniyyah.

1. Penjelasan Murid

Dalam komunitas Orong-orong (Al-khidmah) amalan-amalan

terekat hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu ada yang

langsung menuju ke tarekat dan ada juga yang hanya sebagai

simpatisan mengituti kegiatan majlis yang diadakan komunitas

Orong-orong. Puncak dari keanggotaan yang menuju ketarekat yaitu

mereka yang sudah bai’at, anggota yang sudah bai’at diharapkan dapat secara rutin mengamalkan wirid dan dzikir sebagaimana yang

(58)

Ustmaniyah. Pengertian bai’at sendiri adalah pertalian hati dan ruhani segenap guru thoriqoh sampai kepada habibillah rasulillah

Muhammad SAW, hingga kehadirat Allah‘Azza wa jalla.15

KH. Achmad Asrori menjelaskan bahwasanya murid dibagi

menjadi dua macam muridhakikidan muridmajazi:16

a. Murid hakiki

Seseorang yang sempurna dalam kesiapan untuk menjadi

murid. Sejak pertama ia mempunyai antusias sangat kuat dalam

kesanggupan berguru pada guru mursyidnya memasrahkan jiwanya

dalam pengaturan dan penanganannya. Disamping itu ia

mempunyai kehati-hatian dalam gerak-geriknya, menanggung

perkara yang berat, menjahui perkara yang syubhat perkara yang

belum jelas status halal dan haramnya, memperbaiki akhlak,

melakukan perkara yang berat dan memikul cobaan dan musibah

yang menimpanya.

b. Murid majazi

Seseorang yang tujuannya hanya ingin masuk bersama kaum

shufiyah, berhias dengan pakaian mereka, tersusun dalam

perjalanan ikatan mereka, dan memperbanyak golongan mereka.

Murid majazi tidak mempunyai keharusan memenuhi syarat-syarat

15Achmad Asrori al-Ishaqy,Setetes Embun Penyejuk Hati(Subaraya: Al Wafa, 2009), 74. 16

(59)

shuhbah akan tetapi ia diperintah untuk menetapi aturan-aturan

syara’ dan bergaul dengan kaum syufiyah sehingga ia akan meraih barokah mereka. Dan ia melihat ahwal dan perjalanan mereka,

sehingga ia akan berjalan di atas jalan mereka dan siap untuk

menjadi murid.

Adapun macam-macam murid dalam anggota komunitas

Orong-orong yang sudah bai’at terbagi menjadi tiga macam bai’at yaitu bai’attarbiyah, husnudz-dzon, dantabarrukan:17

a. Bai’at tarbiyah atau irodah yaitu seseorang yang telah mengikuti bai’at tarbiyahwajib melakukan kewajiban yang telah ditetapkan oleh guru mursyid.

b. Bai’athusnudz-dzonatau tasyabbuhyaitu bai’at ini didasari oleh perasaan baik sangka seseorang kepada guru mursyid, oleh

karenanya orang yang telah mengikuti bai’at husnudzon tidak berkewajiban untuk melaksanakan kewajiban yang telah

ditetapkan oleh guru mursyid.

Gambar

  Tabel. 2
  Tabel. 2

Referensi

Dokumen terkait