• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH LAYANAN INFORMASI STUDI LANJUT TERHADAP KEMANTAPAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN STUDI LANJUT Dwi Dessy Setyowati

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH LAYANAN INFORMASI STUDI LANJUT TERHADAP KEMANTAPAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN STUDI LANJUT Dwi Dessy Setyowati"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH LAYANAN INFORMASI STUDI LANJUT TERHADAP KEMANTAPAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN STUDI LANJUT

Dwi Dessy Setyowati1 dan Mochamad Nursalim2

Abstrak

Tujuan penelitian ini untuk menguji pengaruh layanan informasi studi lanjut terhadap kemantapan pengambilan keputusan studi lanjut, sehingga siswa mampu mengambil keputusan secara mantap sesuai dengan keadaan dirinya. Penelitian ini menggunakan rancangan pre-eksperiment design berupa one group pre test post test design. Metode pengumpulan data menggunakan angket langsung bentuk tertutup. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA 4, yang mempunyai kemantapan pengambilan keputusan rendah. Teknik analisis data menggunakan statistik parametrik dengan rumus t-test. Teknik analisis data diperoleh t hitung lebih besar dari t tabel (4,290 > 2,021). Maka

Ha diterima dan Ho ditolak. Hipotesis yang menyatakan “terdapat perbedaan yang

signifikan dalam kemantapan pengambilan keputusan studi lanjut antara sebelum dan sesudah penerapan layanan informasi studi lanjut” dapat diterima. Maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh positif dengan pemberian layanan informasi studi lanjut terhadap kemantapan pengambilan keputusan studi lanjut siswa, dan implementasi dari layanan informasi studi lanjut ini adalah siswa mantap dalam mengambil keputusan studi lanjut.

Kata Kunci: Layanan Informasi Studi Lanjut, Kemantapan Pengambilan Keputusan Studi Lanjut

Pendahuluan

Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) berada pada rentang usia 15-18 tahun. Pada rentangan usia tersebut seorang individu berada pada tahap perkembangan masa remaja akhir, yang dalam perkembangan mereka dihadapkan pada berbagai permasalahan. Berikut ada empat macam masalah yang sering dialami oleh siswa sekolah menengah atas menurut pendapat Gunawan (2001:197) adalah: keputusan meninggalkan sekolah, persoalan-persoalan belajar, pengambilan keputusan ke perguruan tinggi, problem sosial siswa sekolah menengah atas.

Keempat permasalahan tersebut, salah satunya dihadapi oleh siswa SMA adalah pengambilan keputusan ke perguruan tinggi, dimana seorang siswa yang telah lulus dari sekolah menengah atas dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Seorang siswa dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan sejumlah alternatif, baik yang berhubungan dengan kehidupan pribadi, sosial, belajar maupun karirnya. Adakalanya siswa mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dalam menentukan alternatif mana yang sebaiknya dipilih. Apakah nantinya akan meneruskan studi lanjut yakni melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, atau akan bekerja maupun mengikuti pelatihan-pelatihan/ kursus.

Para siswa SMA yang akan melanjutkan pendidikannya maupun yang langsung bekerja, tidak begitu saja dapat melakukannya melainkan melalui suatu proses

1Alumni Prodi BK Unesa 2

(2)

pengambilan keputusan. Mereka diharuskan siap dalam mengambil keputusan yang sangat penting dan sulit. Suatu keputusan yang khusus menentukan masa depannya sehubungan dengan karir yang dicita-citakan.

Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karir akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia karirnya. Maka seorang siswa membutuhkan bantuan bimbingan dari guru pembimbing yang ada di sekolah, guna memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik diri. Kekurangtahuan dan kekurangpahaman tersebut sering membuat mereka kehilangan kesempatan, salah pilih jurusan, salah pilih pekerjaan, dan tidak dapat meraih kesempatan dengan baik sesuai dengan cita-cita, bakat, minat, berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam diri individu tersebut.

Agar terhindarkan dari permasalahan tersebut maka para siswa perlu dibekali dengan informasi yang cukup dan akurat. Pemberian layanan informasi studi lanjut bertujuan membantu peserta didik agar dapat memahami diri dan lingkungannya. Seperti kondisi sosio-kultural, pasar kerja, persyaratan, jenis dan prospek pekerjaan, serta hal-hal lainnya yang bersangkutan dengan dunia kerja. Sehingga pada akhirnya siswa dapat membuat atau mengambil keputusan secara tepat dan terbaik bagi masa depannya terutama berkaitan dengan rencana karir yang akan ditempuhnya kelak.

Indikator utama yang digunakan untuk mengetahui kemampuan dalam mengambil keputusan adalah preferansi pekerjaan dan profesi setelah tamat jenjang pendidikan menengah. Berdasarkan kuesioner dari Hayadin yang dilaksanakan pada tahun 2008 diperoleh gambaran bahwa 35,75% siswa kelas tiga SMA/ MA/ SMK sudah mempunyai pilihan pekerjaan dan profesi, sementara 64,25% lainnya belum mengambil keputusan pilihan ke perguruan tinggi, pekerjaan atau profesi. Siswa-siswi yang belum mengambil keputusan adalah mereka yang memiliki prestasi akademik yang baik maupun yang memiliki prestasi akademik sedang. Hal ini didukung oleh pendapat dari Santrock (2002) yang menyatakan bahwa kesulitan, kebingungan, dan ketakutan terasa ketika harus memilih dan memutuskan jurusan di perguruan tinggi. Kurangnya informasi akan jurusan dan lapangan kerja yang akan dihadapi oleh remaja ketika mereka lulus menambah kekhawatiran dalam pengambilan keputusan tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Bimbingan Konseling di SMA Kemala Bhayangkari I Surabaya khusus kelas XII IPA 4 diketahui bahwa siswa dalam kelas tersebut memiliki permasalahan, yakni siswa kelas XII IPA 4 belum mengambil keputusan atau belum merencanakan pilihan studi lanjut.

Hal-hal yang diidentifikasikan menjadi penyebab siswa belum mengambil keputusan atau belum merencanakan pilihan studi lanjut adalah pelaksanaan layanan informasi dilaksanakan secara incidental, tingginya biaya untuk tes bakat minat yang dilengkapi dengan saran-saran jurusan, keadaan ekonomi orangtua, teman sebaya, faktor peluang kerja, dan kurangnya wawasan/ pengetahuan serta kurangnya informasi studi lanjut.

Banyak siswa yang mengalami kekurangan informasi tentang studi lanjut terutama yang berkaitan dengan perguruan tinggi sehingga cenderung menjadi salah satu hambatan dalam menentukan arah pilih studi lanjut ataupun karirnya. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kurang intensifnya pelaksanaan layanan informasi di sekolah.

(3)

jenis-jenis perguruan tinggi swasta tersebut. Beberapa faktor yang dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan memilih perguruan tinggi swasta adalah status perguruan tinggi, citra PTS, fasilitas fisik, biaya SPP, proses belajar mengajar, mutu dosen, mutu lulusan.

Pemberian informasi studi lanjut, baik yang diperoleh dari guru pembimbing maupun dari sumber-sumber informasi yang lain diharapkan siswa dapat memperoleh gambaran tentang studi lanjut yang akan dipilih dan ditempuhnya. Sehingga memudahkan siswa dalam mengambil keputusan kemana ia akan melanjutkan pendidikannya pasca SMA.

Layanan informasi ini bertujuan memberikan informasi secara lengkap tentang studi lanjut, dengan harapan agar siswa dapat merencanakan/ mengambil keputusan secara tepat dan mantap sesuai dengan potensi yang dimiliki. Alternatif pendidikan pasca SMA tersedia dalam jumlah yang cukup bervariasi, saat ini tercatat Indonesia memiliki sekitar 80-an perguruan tinggi negeri (PTN). Jumlah ini belum termasuk perguruan tinggi agama Islam negeri (PTAIN), institut, akademi, dan sekolah tinggi kedinasan yang tersebar di seluruh Indonesia. Banyaknya jumlah perguruan tinggi negeri ini sebenarnya memudahkan calon mahasiswa, tetapi karena tidak semua PTN favorit maka para calon mahasiswa pun bingung menetapkan pilihan.

Berbeda dengan jumlah perkembangan PTN yang bisa dianggap stabil dari tahun ke tahun, perkembangan perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia memiliki peningkatan yang sangat signifikan. Tercatat pada tahun 2000, jumlah PTS di Indonesia adalah 2.292. Pada tahun 2004, jumlahnya mengalami peningkatan yaitu sebanyak 2.600 PTS. Pada tahun 2008, jumlah ini meningkat lagi mencapai angka yang lebih fantastis, yaitu sekitar 2800-an dengan tingkat akreditasi yang beragam (Kompas, 4 Agustus 2008).

Keputusan untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki lapangan pekerjaan, keduanya memerlukan pertimbangan lebih dulu. Adapun faktor-faktor yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan bagi para siswa yang memilih akan melanjutkan pendidikan menurut Gani (1992:19) adalah: (1) faktor biaya studi (2) masalah pemilihan jurusan.

Berdasarkan data-data diatas bahwa pemberian layanan informasi studi lanjut perlu disampaikan kepada siswa agar mereka dapat mengambil keputusan secara tepat dan mantap, karena akan berhubungan dengan pilihan karir mereka di masa depan. Serta bertujuan agar siswa dapat mempersiapkan diri dalam memilih lembaga pendidikan pasca SMA sesuai dengan keadaan dirinya, dan dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan ekonomi orangtua. Artikel ini mengandung kajian materi sebagai berikut:

“Apakah ada pengaruh pemberian layanan informasi studi lanjut terhadap kemantapan pengambilan keputusan studi lanjut?”.

Untuk memudahkan dalam memecahkan masalah, maka rumusan masalah tersebut dirumuskan secara operasional sebagai berikut:

“Apakah terdapat perbedaan yang signifikan dalam kemantapan pengambilan keputusan

studi lanjut antara sebelum dan sesudah siswa diberikan layanan informasi studi lanjut

pada siswa kelas XII IPA 4?”.

A. Layanan Informasi Studi Lanjut

(4)

sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik (klien).

Layanan informasi (Nursalim, 2002:22) adalah kegiatan bimbingan yang bermaksud membantu siswa untuk mengenal lingkungannya, yang sekiranya dapat dimanfaatkan untuk masa kini maupun masa yang akan datang.

Sedangkan menurut Depdikbud, Dikdasmen (1996:4)

Layanan informasi adalah layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan siswa dan pihak-pihak lain (yang dapat memberi pengaruh besar pada siswa, terutama orangtua) menerima dan memahami informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan pertimbangan lainnya.

Berdasarkan pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian layanan informasi adalah suatu pemberian informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) yang dapat digunakan sebagai bahan pemikiran sebaik-baiknya untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk kepentingan atau kebutuhan peserta didik. Pengertian studi lanjut (Sutikna, 1998:17) adalah “kelanjutan studi”.

Berdasarkan pendapat diatas maka studi lanjut adalah pendidikan lanjutan atau sambungan setelah tamat dari SMA atau pendidikan yang lebih tinggi dari saat ini.

Berdasarkan uraian diatas, pengertian layanan informasi studi lanjut dapat didefinisikan sebagai suatu pemberian informasi tentang pendidikan pasca SMA atau program pendidikan lanjutan yang lebih tinggi sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk kepentingan atau kebutuhan peserta didik. Adapun hal-hal yang perlu diberikan adalah memperkenalkan bentuk perguruan tinggi, status perguruan tinggi, nama fakultas/ akademi, dan segala hal yang berkaitan dengan perguruan tinggi agar nantinya para peserta didik dapat mengambil keputusan yang tepat dalam pemilihan studi lanjut yang berhubungan dengan karir/ masa depannya.

Tujuan adanya informasi studi lanjut (Sutikna,1998) adalah sebagai berikut: a) agar siswa dapat memahami diri sendiri sehingga dapat mempersiapkan diri dalam pemilihan program, b) agar siswa mengetahui jenis-jenis pendidikan yang berkaitan dengan pemilihan program.

Fungsi dari pemberian informasi studi lanjut adalah: a) sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan yang disesuaikan dengan bidang karir dan keputusan studi lanjut pasca SMA, b) membantu siswa dalam berpikir rasional dalam mengambil keputusan jurusan di perguruan tinggi sehubungan dengan karir/ masa depannya.

Materi informasi studi lanjut (Depdikbud, 1998) meliputi: bentuk perguruan tinggi (universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, politeknik, Universitas Terbuka), jalur pendidikan tinggi (akademik, profesional), jenjang pendidikan tinggi, persyaratan masuk pendidikan tinggi, komponen biaya pendidikan di perguruan tinggi.

B. Kemantapan Pengambilan Keputusan Studi Lanjut

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:713) kemantapan memiliki arti

(5)

Kemantapan pengambilan keputusan studi lanjut ke perguruan tinggi adalah bagian dari pengambilan keputusan karir yang diartikan oleh Basori (2004:91), “sebagai suatu kematangan diri dalam proses untuk menentukan pilihan dari berbagai alternatif yang berkaitan dengan pendidikan ke perguruan tinggi yang berorientasi pada

pekerjaan/ jabatan”. Menurut Terry (dalam Manrihu, 1992:170) “Definisi pengambilan

keputusan (decision making) adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau

lebih”. Hal tersebut senada dengan yang dikemukakan oleh Basori (2004:91) menyebutkan bahwa “pengambilan keputusan merupakan suatu proses untuk menentukan berbagai alternatif yang berkaitan dengan suatu hal sesuai dengan keadaan

diri dan lingkungannya.” Menurut Sutikna (1998:17) “studi lanjut adalah kelanjutan studi”.

Berdasarkan uraian pendapat di atas tentang kemantapan, pengambilan keputusan, studi lanjut disimpulkan bahwa kemantapan pengambilan keputusan studi lanjut ke perguruan tinggi adalah kepastian dan tidak berubahnya pengambilan keputusan studi lanjut atau proses penentuan pilihan dari berbagai alternatif yang berkaitan dengan studi lanjut atau pendidikan lanjutan yang lebih tinggi yakni perguruan tinggi.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam proses pengambilan keputusan karir berkenaan dengan studi lanjut ke perguruan tinggi menurut Basori (2004: 92), terdiri dari dua faktor yakni faktor pribadi dan faktor lingkungan: Faktor pribadi, antara lain:a) tipe kepribadian dan ciri-ciri sifat yang menonjol, b) bakat atau kemampuan bidang akademis, c) bakat atau kemampuan bidang nonakademis, d) minat terhadap suatu jabatan/ pekerjaan, e) nilai kehidupan pribadi, f) Hobi dan kesenangan. Sementara itu faktor lingkungan, antara lain: a) nilai-nilai kehidupan masyarakat, b) Keadaan ekonomi keluarga/ orangtua, c) kebutuhan/ prospek lapangan pekerjaan yang terkait, d) kesempatan mendapatkan peluang suatu jabatan/ pekerjaan

Menurut Gunawan (2001:199), ada berbagai macam alasan yang sering ditemukan sehingga mempengaruhi siswa dalam mengambil keputusan untuk studi lanjut ke perguruan tinggi secara tepat, diantaranya: a) kecenderungan orangtua memasukkan anaknya ke perguruan tinggi almamater mereka, b) pengaruh sahabat, guru atau pembimbing yang pernah belajar di perguruan tinggi tersebut, c) perguruan tinggi yang terdekat dengan rumah orangtua siswa dengan resiko memilih jurusan apa saja, asalkan siswa dapat melanjutkan studinya seperti teman-teman yang lain, d) Mengisi waktu senggang sehingga mereka lebih senang pergi kuliah. Alasan-alasan tersebut belum menjamin anak dapat masuk ke perguruan tinggi yang sesuai dengan bakat dan minat anak.

Menurut Kansil (1997:25) bahwa: Suatu hal atau faktor yang dianggap sebagai pengganggu dalam proses pengambilan keputusan apabila faktor tersebut dapat mempersulit pengambilan keputusan atau pembelokan arah keputusan dari yang seharusnya. Salah satu faktor adalah lingkungan hidup terdekat seseorang, yaitu orangtua serta anggota keluarga terdekat lainnya. Gangguan lain dapat berasal dari lingkungan sekitar yang dapat timbul dari teman-teman terdekat.

(6)

bersama, meskipun bakat/ sifat pribadinya tidak sesuai untuk itu. Pengambilan keputusan semacam ini dapat berbahaya, khususnya menyangkut pilihan dalam melanjutkan pendidikan. Banyak kegagalan telah terjadi sebagai akibat pengambilan keputusan semacam ini.

Teori keputusan didasarkan pada pokok pikiran bahwa individu dapat memilih alternatif. Pendekatan teori Gellat (Sukardi, 1994) yang digunakan dalam penelitian ini. Beberapa hal yang mengarah pada suatu keputusan, mencakup: a) menentukan tujuan: dimulai apabila individu mengenal suatu kebutuhan untuk mengambil suatu keputusan, kemudian menentukan suatu sasaran atau tujuan, b) mengumpulkan informasi/ data: individu perlu mengumpulkan data dan mengadakan survei tentang kemungkinan bidang kegiatan, c) Pemanfaatan data: penggunaan data dalam menentukan kemungkinan keberhasilan, d) mengestimasi hasil: mengestimasi hasil-hasil yang dikehendaki, perhatian dipusatkan pada sistem nilai individu, e) mengevaluasi dan memilih: melibatkan evaluasi dan seleksi suatu keputusan.

Metode

Penelitian ini menggunakan rancangan metode one-group Pretest-Posttest Design. Eksperimen dilakukan pada satu kelompok tanpa menggunakan kelompok kontrol dengan memberikan pretes sebelum perlakuan bertujuan agar hasil perlakuan dapat diketahui secara akurat setelah diberikan postes dengan cara membandingkan keadaan sebelum dan sesudah diberi perlakuan.

Subyek penelitian adalah siswa kelas XII IPA 4 SMA Kemala Bhayangkari I Surabaya.

Penelitian ini menggunakan angket langsung bentuk tertutup, responden menjawab sendiri butir pertanyaan yang sudah tersedia jawabannya. Data dikumpulkan melalui angket yang telah dikembangkan sendiri. Proses pengumpulan data, memerlukan alat atau instrumen pengumpul data yang benar-benar dapat mengumpulkan data dengan baik.

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistic parametric dengan menggunakan rumus t-test. Penggunaan rumus t-test harus berdasarkan pada asumsi-asumsi yaitu harus berdistribusi normal dan bersifat homogen.

Hasil dan Pembahasan

Setelah melakukan pengumpulan data, langkah selanjutnya adalah memaparkan data hasil penelitian. Adapun sajian data terdiri dari pengukuran awal (pretest) dan pengukuran akhir (posttest) kelas XII IPA 4 sebagai kelas ekperimen yang mendapatkan treatment berupa layanan informasi studi lanjut.

Tabel. 1 Data Skor Pengukuran Awal (sebelum perlakuan layanan informasi studi lanjut) Siswa Kelas XII IPA 4

Subyek Pretest Subyek Pretest

1 88 22 88

2 85 23 66

3 66 24 86

4 79 25 83

5 86 26 91

(7)

7 94 28 90

8 68 29 84

9 83 30 83

10 77 31 85

11 83 32 88

12 91 33 72

13 86 34 85

14 94 35 84

15 91 36 89

16 94 37 90

17 83 38 79

18 83 39 83

19 87 40 89

20 88 41 79

21 82 42 72

Mean

83.61

SD

7.064

Tabel. 2 Data Skor Hasil Pengukuran Akhir (sesudah perlakuan layanan informasi studi lanjut) Siswa Kelas XII IPA 4

Subyek Postes Subyek Postes

1 96 22 90

2 92 23 67

3 66 24 85

4 85 25 92

5 87 26 91

6 90 27 77

7 94 28 96

8 70 29 82

9 83 30 92

10 80 31 85

11 81 32 88

12 94 33 77

13 86 34 90

14 94 35 94

15 96 36 94

16 85 37 96

17 90 38 81

18 83 39 83

19 90 40 90

20 87 41 80

21 91 42 71

Sebelum melakukan analisis menggunakan t-test maka terlebih dahulu dilakukan uji asumsi sebagai syarat menggunakan rumus t-test, terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas.

(8)

Uji normalitas data dalam penelitian ini menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov

Berdasarkan tabel didapat Nilai Kolmogorov-Smirnov Z untuk pretest sebesar 1.162 dengan nilai signifikansi 0.134 dan posttest sebesar 1.040 dengan nilai signifikansi 0.229. Dikarenakan nilai signifikansi kedua kelompok 0.05 maka data berdistribusi normal. (Ghozali, 2006).

2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas data dalam penelitian ini menggunakan Uji Homogenitas (Levene Test) dengan menggunakan program SPSS versi 13, hasilnya sebagai berikut:

Tabel. 4 Hasil Uji Homogenitas

Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai F hitung (Levene Statistic) sebesar 0,978 dengan nilai signifikansi 0,326 dimana lebih besar dari 0,05 maka data tersebut diatas adalah homogen (Ghozali, 2006).

Selanjutnya untuk hasil uji t test untuk penerimaan dan penolakan hipotesis (Ha) yaitu ada pengaruh pemberian layanan informasi studi lanjut terhadap kemantapan pengambilan keputusan studi lanjut. Adapun ketentuan penerimaan hipotesis, apabila signifikansi dibawah atau sama dengan 0.05 maka Ha diterima dan Ho ditolak.

Tabel. 4 Hasil Analisis t-test antara pretes dan postes siswa kelas XII IPA 4 Data XII IPA 4 antara

(9)

B. Pembahasan

Hasil penelitian ini menunjukkan ada perbedaan yang signifikan tingkat kemantapan pengambilan keputusan studi lanjut antara sebelum dan sesudah layanan informasi studi lanjut diberikan pada siswa kelas XII IPA 4. Layanan informasi studi lanjut memiliki pengaruh positif terhadap kemantapan pengambilan keputusan studi lanjut pada siswa, dengan demikian hipotesis yang menyatakan “Terdapat perbedaan yang signifikan pada skor kemantapan pengambilan keputusan studi lanjut antara sebelum dan sesudah pemberian layanan informasi studi lanjut terhadap siswa kelas XII

IPA 4 SMA Kemala Bhayangkari I Surabaya” telah teruji. Dengan t hitung 4,290 dengan taraf signifikansi 5%.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kapes dan Strickler (dalam Manrihu, 1992:160) ditemukan bahwa kurikulum Sekolah Lanjutan Atas yang berisi bimbingan terutama tentang paket bimbingan informasi perguruan tinggi yang berbeda antara satu sama lain menyebabkan perubahan dan peningkatan yang berbeda dalam kematangan pengambilan keputusan karir terutama studi lanjut.

Selanjutnya Gunawan (2001:31) menjelaskan bahwa pilihan untuk memasuki perguruan tinggi atau dengan kata lain melanjutkan studi/ pendidikan ke perguruan tinggi adalah salah satu persoalan yang sangat penting yang dihadapi oleh orangtua dan siswa Sekolah Menengah Atas.

Pemahaman berbagai informasi karir dalam hal ini khususnya studi lanjut, siswa dapat menggunakannya sebagai bahan untuk pertimbangan sehingga pada akhirnya akan lebih memiliki kesiapan untuk mengambil keputusan terkait dengan studi lanjut ke perguruan tinggi.

Simpulan dan Saran

Penelitian dengan judul pengaruh pemberian layanan informasi studi lanjut terhadap kemantapan pengambilan keputusan studi lanjut mengungkapkan hipotesis

“Terdapat perbedaan yang signifikan pada skor kemantapan pengambilan keputusan

studi lanjut antara sebelum dan sesudah pemberian layanan informasi studi lanjut

terhadap siswa kelas XII IPA 4 SMA Kemala Bhayangkari I Surabaya” diterima,

dengan hasil t hitung 4,290 lebih besar dari t tabel 2,021 (4,290>2,021). Perbedaan inilah yang menunjukkan bahwa ada pengaruh positif dengan pemberian layanan informasi studi lanjut terhadap kemantapan pengambilan keputusan studi lanjut siswa. Artinya sesudah diberikan layanan informasi studi lanjut, siswa mengalami peningkatan berupa dapat memantapkan pengambilan keputusan studi lanjut ke perguruan tinggi.

(10)

diharapkan dapat menghubungkan kelompok teman sebaya (peer group), serta menggunakan kelompok kontrol sebagai pembanding. Agar dapat melihat apakah terdapat perbedaan dalam pengambilan keputusan studi lanjut ke perguruan tinggi dan menggunakan subyek atau sampel yang heterogen.

DAFTAR ACUAN

Arikunto, Suharsimi. 2005. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Basori, Muh. 2004. Paket Bimbingan Perencanaan dan Pengambilan Keputusan Karir Bagi Siswa SMU. Malang: Universitas Negeri Malang.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998. Mengenal Pendidikan Tinggi di Indonesia (Online, diakses 26 Februari 2009). _________: Pusat Informasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan.

Gani, Ruslan Abdul. 1992. Bimbingan Karir. Bandung: Angkasa.

Gunawan, Yusuf. 2001. Pengantar Bimbingan dan Konseling Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta: Prenhallindo.

Ghozali, Imam. 2006. Statistik Multivarian dengan SPSS. Semarang: BPFE UNDIP.

Hadi, Sutrisno. 2000. Statistik Jilid 2. Yogyakarta: Andi.

Hayadin. 2008. Pengambilan Keputusan Pelajar Jenjang Menengah (Online). (http://petamasadepanku.blogspot.com/2008/02/artikel-pengambilan-keputusan-pelajar.html, diakses 26 Februari 2009).

Hidayati, Novi Wahyu. 2007. Pengaruh Layanan Informasi Studi Lanjut Terhadap Perencanaan Karir Siswa. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JBK FIP Unesa.

Kansil, C.S.T dan Kansil, Christine. S.T. 1997. Melangkah ke Perguruan Tinggi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Kartono, Kartini. 1985. Seri Psikologi Terapan “Menyiapkan dan Memandu Karir”. Jakarta: Rajawali.

(11)

Manrihu, Muh. Thayeb. 1992. Pengantar Bimbingan dan Konseling Karir. Jakarta: Bumi Aksara.

Muhlis. 2007. Hubungan Antara Tingkat Pemahaman Informasi Karir Tentang Perguruan Tinggi Dengan Tingkat Kesiapan Pengambilan Keputusan Studi Lanjut Ke Perguruan Tinggi. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JBK FIP Unesa.

Nurihsan, Achmad Juntika. 2005. Strategi Layanan Bimbingan Konseling. Bandung: Refika Aditama.

Nursalim, Moch dan SA, Suradi. 2002. Layanan Bimbingan dan Konseling. Surabaya: Unipress.

Prayitno dan Ermananti. 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Rubin, Theodore Isaac. 1993. 8 Strategi Keputusan Yang Efektif. Semarang: Dahara Prize.

Sudjana, Nana dan Ibrahim. 2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar baru Algesindo.

Sugiono. 2007. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sukardi, Dewa Ketut dan Sumiati, Desak Made. 1994. Tes Dalam Konseling Karir. Surabaya: Usaha Nasional.

Sutikna, Agus. 1998. Bimbingan Karir untuk SMA. Jakarta: Intan Pariwara.

Syamsi, Ibnu. 2000. Pengambilan Keputusan dan Sistem Informasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Tim. 2005. Pengembangan Analisis Multivariat dengan SPSS. Jakarta: Salemba Infotek.

Walgito, Bimo. 2004. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Yogyakarta: Andi Offset.

(12)
(13)

Gambar

Tabel. 2 Data Skor Hasil Pengukuran Akhir (sesudah perlakuan layanan informasi studi lanjut) Siswa Kelas XII IPA 4
Tabel. 4 Hasil Analisis t-test antara pretes dan postes siswa kelas XII IPA 4

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan mengenai sumber oligosakarida yang terdapat di alam, menambah pengetahuan mengenai

Binjai Selatan Kota Binjai tepatnya di sebuah ruangan kelas lantai dua sekolah SMK HAIDIR NUR adanya para terdakwa yang sedang menggunakan Narkotika golongan I jenis

Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data, maka dari hasil penelitian ini adalah terdapat pengaruh rebound dan assist terhadap persentase kemenangan dalam cabang

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang

Terdapat beberapa cara dalam pemberian lapisan lindung, dalam penulisan ini akan dibahas proses pemberian lapisan lindung secara organik dengan menggunakan cat, pembahasan dibatasi

pemberantasan korupsi khususnya mengetahui tentang pengembalian uang Negara akibat dari tindak pidana korupsi serta mengetahui kendala yang dihadapi dalam pengembalian kerugian

Analisis Implementasi ASEAN Currency Unit (ACU) Berbasis Parallel Currency Di Kawasan ASEAN ; Totok Boy Aryansyah, 080810101076; 2012; 86 Halaman; Jurusan Ilmu Ekonomi

Berdasarkan hasil Berita Acara Penetapan Pemenang Nomor : 09/PPBJ-KONS/B/DIKBUD- BU/IX/2013 Tanggal 19 September 2013, Serta memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam Perpres