• Tidak ada hasil yang ditemukan

47 PENAMBAHAN DAGING IKAN LELE (Clarias Sp) TERHADAP KADAR PROTEIN DAN ORGANOLEPTIK CHIPS IKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "47 PENAMBAHAN DAGING IKAN LELE (Clarias Sp) TERHADAP KADAR PROTEIN DAN ORGANOLEPTIK CHIPS IKAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

47

PENAMBAHAN DAGING IKAN LELE (Clarias Sp) TERHADAP KADAR PROTEIN DAN ORGANOLEPTIK CHIPS IKAN

Nurul Mukminah1), Cindy Lestari2), Maulina Agustiana3)

1,2,3)Jurusan Agroindustri Politeknik Negeri Subang, Subang. 1) Email: [email protected]

Abstrak Chips ikan merupakan fortifikasi makanan ringan yang terbuat dari bahan utama serelia dan ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan nilai gizi serta untuk menentukan formulasi terbaik produk chips ikan yang disukai konsumen. Penelitian ini menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan konsentrasi penambahan daging ikan lele, yaitu 10%, 20%, dan 30% dengan 3 kali ulangan. Parameter pengujian adalah kadar protein dan uji organoleptik (kenampakan, warna, aroma, rasa, dan tekstur). Data parametrik dianalisa menggunakan analisa ragam (ANOVA) dan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan data diuji dengan uji Duncan, sedangkan data non-parametrik menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan daging ikan lele memberikan pengaruh yang nyata (P<0,01) terhadap kadar protein. Hasil organoleptik rasa dan tekstur, chips ikan dengan penambahan daging ikan lele sebanyak 20% adalah formulasi yang disukai oleh panelis. Formulasi penambahan daging ikan yang direkomendasikan pada pembuatan chips ikan adalah 20%.

Kata Kunci: Chips Ikan, Ikan Lele, Protein, Organoleptik.

Abstract. Fish chips are a fortified snack made from the main ingredients of serelia and fish. The purpose of this study was to improve the nutritional value and recommend the best formulation of catfish (Clarias Sp) chips. Completed Randomized Design method was employed-using three different concentration of meat of catfish treatments: 10%, 20%, and 30% with three repetition. Parameters of experiment were crude protein and hedonic test. Parametric data was analyzed with ANOVA; to distinguish treatment, Duncan was employed; to test non-parametric data, Kruskal-Wallis test was employed. The results showed that the increase of catfish meat percentage had significant effect (P <0,01) on protein content. Organoleptic results of flavor and texture, fish chips with meat of catfish as much as 20% is the preferred formulation by panelists. The recommended formulation of fish meat in the manufacture of fish chips is 20%.

Keywords: Fish Chips, Catfish, Protein, Organoleptik.

1. Pendahuluan

Snack merupakan salah satu jenis

makanan selingan atau makanan ringan yang sangat digemari oleh seluruh lapisan masyarakat mulai dari

anak-anak hingga dewasa. Snack mempunyai

(2)

48

rendah akan kandungan protein (Purwandani et al., 2013). Salah satu

solusi perbaikan gizi snack adalah

dengan melakukan fortifikasi makanan. Menurut WHO (2006), fortifikasi merupakan program perbaikan gizi yang paling murah biaya diantara berbagai program kesehatan. Ariani (2010) menyatakan bahwa pemenuhan

kebutuhan protein masyarakat

Indonesia masih tertumpu pada protein nabati. Disisi lain hasil perikanan memiliki potensi yang baik untuk pemenuhan gizi masyarakat, khususnya protein hewani.

Ikan lele (Clarias sp) termasuk salah

satu jenis ikan budidaya air tawar yang cukup banyak diminati masyarakat, kelebihan lain ikan lele adalah mudah didapat dan memiliki harga yang cukup murah. Menurut Nisa dan Wardani (2016) bahwa ikan lele mengandung kadar air sebesar 77,32%, kadar protein 15,38% dan kadar lemak sebesar 6,70%. Kandungan protein khususnya asam amino lisin dan leusin pada ikan lele berfungsi untuk pertumbuhan anak-anak, perbaikan jaringan, menghasilkan antibodi, dan membantu penyerapan kalsium (Ubadillah dan Hersoelistyorini, 2010; Murniyati et al., 2013).

Chips ikan adalah makanan ringan dari bahan utama tepung terigu dengan ikan

sebagai bahan tambahannya.

Penggunaan tepung ikan lele sebagai sumber protein hewani untuk fortifikasi dalam pembuatan snack belum banyak

dilakukan. Penambahan daging ikan lele dapat meningkatkan kandungan protein chips ikan. Penelitian ini

bertujuan untuk menentukan formulasi terbaik produk chips ikan yang disukai

konsumen.

2. Metode Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada Desember 2017 – Januari 2018 di Laboratorium Pangan dan Gizi Program Studi Agroindustri, Politeknik Negeri Subang. Hasil Analisis di analisis di Laboratorium Rekayasa Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro.

2.1. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah timbangan digital, timbangan analitik, wadah, kukusan, kompor, food proccessor, blender, cetakan chips,

gilingan kayu, wajan, spatula serta

penyaring minyak. Bahan yang

digunakan meliputi daging ikan lele (pasar Sukamelang, Subang), tepung terigu protein sedang, bawang merah, bawang putih, merica, garam, gula, margarin, air dan minyak goreng.

2.2. Metode Penelitian

Penelitian dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: tahap persiapan daging ikan lele, pembuatan

chips ikan, pengambilan sampel, dan

pengujian kadar protein dan uji oragnoleptik serta analisis data.

Tahap penyiapan daging ikan lele untuk chips ikan dimulai dengan

menyiapkan semua bahan dan

(3)

49

dibersihkan dengan dibuang bagian kepala dan isi perutnya. Setelah itu dilakukan pencucian dan pengukusan pada suhu 100oC selama 45 menit. Daging ikan kemudian dipisahkan dari kulit, duri, dan sirip ikan. Langkah

selanjutnya adalah melakukan

pengecilan ukuran daging ikan yang sudah dikukus dengan menggunakan

food proccessor.

Tahapan pembuatan Chips ikan lele

adalah Daging ikan lele yang sudah selesai pada tahap sebelumnya kemudian dicampurkan dengan bahan lain sesuai dengan formulasi perlakuan (Tabel 1).

Tabel 1. Formulasi Chips Ikan dengan

Penambahan Daging Ikan Lele yang Berbeda

Semua bahan kemudian dicampur hingga tercampur rata dan kalis.

Pencampuran dilakukan dengan

memasukkan bahan satu persatu.

Setelah kalis kemudian di cetak pipih menggunakan penggiling mie 3 kali pengilingan pertama menggunakan nomor 5 kemudian 2 kali penggilingan akhir dengan menggunakan nomor 3-2. Bahan yang telah pipih kemudian di bentuk kotak dengan ukuran 2x2 cm yang menyerupai sebuah chips. Chips

ikan kemudian digoreng masing-masing menggunakan minyak goreng baru untuk semua perlakuan dan ulangan. Masing-masing ulangan

kemudian dihomogenkan untuk

diambil sampel guna dilakukan analisis kadar protein dan tingkat kesukaan (organoleptik).

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan tiga

perlakuan yang masing-masing

perlakuan terdapat 3 ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah penambahan daging ikan lele pada

chips ikan yakni T1 (penambahan

daging ikan lele 10%), T2

(penambahan daging ikan lele 20%) serta T3 (penambahan daging ikan lele 30%). Parameter yang diamati kadar protein serta uji organoleptik (warna, tekstur, aroma, dan rasa). Prosedur pengujian kadar protein dilakukan dengan metode Mikro Kjeldahl (AOAC, 2005). Uji organoleptik chips

ikan yang digunakan adalah uji kesukaan, yaitu dengan menyajikan satu atau beberapa sampel secara bersamaan kepada 30 panelis dengan kategori panelis semi terlatih dan

dikonsumsi, kemudian dinilai

berdasarkan tingkat kesukaan

menggunakan skor1-4 dimana 1 = tidak suka, 2 = Agak suka; 3 = Suka dan 4=

Komposisi

Daging Ikan Lele 10% 20% 30% ---gram--- Daging ikan lele 100 200 300 Tepung terigu 720 620 520

Telur 50 50 50

Margarin 50 50 50

Bawang putih 25 25 25 Bawang merah 25 25 25

Tepung sagu 20 20 20

Garam 2 2 2

Penyedap 5 5 5

Merica 1 1 1

Ketumbar bubuk 1 1 1

Baking powder 1 1 1

(4)

50

sangat suka untuk masing-masing atribut sensori pada score sheet.

Parameter yang dinilai yaitu

kenampakan, rasa, aroma, warna dan tekstur.

2.3. Analisis Data

Data nilai kadar protein yang

diperoleh, diuji normalitas,

homogenitas dan dianalisis dengan sidik ragam atau Analysis of Varians

untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh perlakuan. Berdasarkan analisis tersebut diperoleh hasil uji F untuk mengetahui pengaruh sumber keragaman dan perbedaan variabel yang diamati karena perlakuan yang

berbeda. Apabila F hitung

menunjukkan perbedaan nyata pada taraf uji 95%, maka dilakukan uji lanjut Duncan. Uji lanjutan tersebut digunakan untuk mengetahui perlakuan mana yang paling berpengaruh pada suatu percobaan. Data non-parametrik yaitu hasil uji organoleptik dianalisa

dengan metode Kruskal Wallis

menggunakan SPSS 23 untuk

mengetahui perbedaan antar perlakuan, sedangkan data kualitatif yang diperoleh dianalisa secara deskriptif.

3. Hasil Dan Pembahasan

3.1. Kadar Protein

Protein merupakan zat makanan yang sangat penting bagi tubuh karena berfungsi sebagai bahan bakar, zat pembangun dan zat pengatur tubuh (Winarno 2008). Nilai rata-rata kadar protein chips ikan yang mendapat

penambahan daging ikan lele yang

berbeda dapat dilihat pada Tabel 2. Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi ikan lele memberi pengaruh sangat nyata terhadap peningkatan kadar protein (p<0,01) pada chips ikan yang

dihasilkan. Kadar protein produk chips

ikan berkisar antara 8,33% sampai 12,16%. Kadar protein tertinggi terdapat pada chips ikan dengan

penambahan ikan 30%, sedangkan kadar protein terendah ditunjukkan oleh chips ikan dengan penambahan

ikan 10%.

Tabel 2. Nilai Rata-Rata Kadar Protein

Chips Ikan dengan penambahan daging

ikan Lele yang berbeda

Perlakuan Nilai Rata-rata

Kadar Protein Daging ikan lele 10% 8.33a

Daging ikan lele 20% 10.42b

Daging ikan lele 30% 12.16c

*)Superscript dengan huruf berbeda menunjukkan berbeda nyata

Kadar protein chips ikan meningkat

dengan perlakuan penambahan daging ikan lele. Hal ini diduga karena chips

ikan dengan bahan utama tepung berprotein serta penambahan daging ikan mengakibatkan peningkatan kadar protein dari perlakuan 10% sampai perlakuan 30%. Hal ini sependapat dengan Pang et al (2013) tepung ikan

yang berasal dari ikan segar memiliki kandungan protein tinggi yang akan mempengaruhi kandungan protein pada produk. Ditambahkan oleh Netto et al.

(2014) bahwa penambahan jumlah ikan cincang dalam pembuatan snack ikan

(5)

51

(3,25 - 4,37%).

Kandungan protein pada chips dengan

tambahan daging ikan lele 30% (12,16 %) melebihi dari standar kadar protein makanan ringan ekstrudat dari tepung ikan yang di keluarkan oleh Badan Standarisasi Nasional Indonesia yaitu sebesar 10,77% (Oktavia, 2007). Kadar protein pada penelitian ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil penelitian Neiva et al. (2011) yang

menyatakan bahwa kadar protein

crekers ikan dengan teknik

penggorengan adalah 10,86%. Namun

chips ikan hasil penelitian ini memiliki

kadar protein lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil penelitian Utari et al (2016) bahwa kadar protein fish snack ekstrusi dengan penambahan

konsentrasi grit buah lindur sebesar 14,43-16,31%, dan hasil penelitian Kuzgun (2017) yaitu sebesar 13,01%. Perbedaan ini dimungkinkan karena jenis ikan dan persentase jumlah ikan yang digunakan berbeda.

3.2. Uji Organoleptik

Nilai rata-rata tingkat kesukaan (organoleptik) Chips ikan dengan

penambahan daging ikan lele yang berbeda ditunjukkan pada tabel 3.

Tabel 3. Nilai rata-rata tingkat kesukaan Chips ikan dengan

penambahan daging ikan lele.

Spesifikasi

Nilai Rata-Rata organoleptik chips

ikan

10% 20% 30%

Kenampakan 2.78a 2.82a 2.88a

Aroma 2.53a 2.54a 2.63a

Warna 2.74a 2.88a 2.74a

Rasa 2.54b 2.77c 2.43a

Tekstur 2.86a 3.00b 3.01b

*)Superscript dengan huruf berbeda menunjukkan berbeda nyata

Kenampakan

Kenampakan snack ikan merupakan

sifat yang sangat penting dalam

menentukan kualitas produk.

Kenampakan dapat mempengaruhi penerimaan konsumen terhadap suatu produk. Pada umumnya konsumen cenderung memilih makanan dengan penampilan yang menarik (Utari et al.,

2016). Nilai rata-rata penerimaan panelis terhadap kenampakan chips

ikan dengan penambahan daging ikan lele yang berbeda berkisar antara 2,78 sampai 2,88 (agak suka). Skor organoleptik tertinggi terdapat pada formula dengan penambahan daging ikan lele 30% dan skor organoleptik terendah terdapat pada formula penambahan daging ikan lele 10%.

Chips ikan dengan penambahan ikan

lele secara garis besar memiliki kenampakan yang utuh, rapi, ketebalan rata, dan warna coklat kekuningan. Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan bahwa penambahan daging ikan ikan lele pada pembuatan chips ikan tidak

memberikan pengaruh perbedaan

secara nyata (P>0,05). Hasil penelitian

Sa’adah (2017) menyebutkan bahwa

perbedaan penambahan daging ikan kembung dalam pembuatan tortilla

chips tidak mempengaruhi nilai

organoleptik kenampakan.

Warna

(6)

52

warna dengan penambahan daging ikan lele berkisar antara 2,74 sampai 2,88 (agak suka). Skor organoleptik tertinggi terdapat pada formula dengan penambahan daging ikan lele sebanyak 20%. Skor organoleptik chips ikan

dengan penambahan daging 10 dan 30% memiliki nilai rata-rata yang sama yaitu 2,74 yang berarti bahwa panelis agak suka. Hasil analisis Kruskal

Wallis menunjukkan bahwa

penambahan daging ikan lele

memberikan pengaruh tidak nyata terhadap warna chips ikan yang

dihasilkan (P>0,05). Hasil ini serupa dengan hasil penelitian Kuzgun (2017)

yang melaporkan bahwa hasil

organoleptik warna snack ikan hasil

penelitian tidak berbeda nyata dengan control.

Aroma

Nilai penerimaan panelis terhadap aroma chips ikan dengan perbedaan

penambahan daging ikan lele berkisar antara 2,53-2,63 (agak suka). Skor organoleptik tertinggi terdapat pada formula dengan ikan lele 30% dan skor organoleptik terendah terdapat pada formula dengan ikan lele 10%. Hasil analisis Kruskal Wallis menunjukkan bahwa perbedaan penambahan jumlah daging ikan lele tidak memberikan pengaruh secara nyata terhadap aroma

chips ikan yang dihasilkan (P>0,05).

Aroma pada ikan disebabkan adanya

senyawa-senyawa pemberi aroma

antara lain adalah senyawa-senyawa aldehid, keton dan alkohol (Hadiwiyoto 1993). Hasil ini juga serupa dengan hasil yang dilaporkan Kuzgun (2017) bahwa penambahan daging ikan tidak

mempengaruhi aroma dari snack ikan

hasil penelitian. Hal ini dikarenakan proses pengukusan daging ikan lele yang selama proses tersebut akan mengurangi bau amis dari ikan lele. Menurut Pang et al., (2013) pada

proses pengukusan daging ikan terjadi proses penghilangan sebagian cairan yang ada di dalam daging ikan, yaitu air dan minyak yang akan menetes ke bawah akibat dari uap panas yang diterima.

Rasa

Meilgaard et al., (2000) menyatakan

bahwa rasa merupakan tanggapan atas adanya rangsangan kimiawi yang sampai di indra pengecap, pada konsumsi tinggi indra pengecap akan mudah mengenal rasa-rasa tersebut. Nilai penerimaan panelis terhadap rasa

chips ikan dengan penambahan daging

ikan lele berkisar antara 2,43 sampai 2,77 (agak suka). Skor organoleptik tertinggi terdapat pada formula dengan ikan lele 20% dan skor organoleptik terendah terdapat pada formula dengan ikan lele 30%. Hasil analisis Kruskal

Wallis menunjukkan bahwa

penambahan ikan lele memberikan pengaruh secara nyata terhadap rasa

chips ikan yang dihasilkan (P<0,05).

(7)

53

pengolahan pangan menghasilkan pula senyawa volatil khas produk. Reaksi Maillard melalui degradasi Strecker akan menghasilkan senyawa aroma khas akibat terbentuknya senyawa furfural dan maltol (Nisa dan Wardani, 2016). Pembentukan furfural dan

maltol pada reaksi Maillard

menimbulkan aroma atau bau yang kuat (Winarno, 2008).

Tekstur

Tekstur merupakan parameter penting yang dijadikan untuk menentukan kualitas suatu produk (Utari et al.,

2016). Tekstur dapat dilihat dari penilaian fisik suatu bahan pangan yang dapat dirasakan. Berdasarkan pengujian organoleptik terhadap tekstur dapat diketahui bahwa produk chips

ikan dengan penambahan daging ikan lele menunjukkan nilai yang berbeda nyata (P<0,05). Chips ikan yang

memiliki nilai tertinggi yaitu chips ikan

dengan penambahan daging ikan lele sebesar 30% dengan nilai organoleptik tekstur sebesar 3,01 (suka) sedangkan nilai rata-rata tekstur terendah ditunjukkan pada chips ikan dengan

penambahan daging ikan lele 10 % dengan nilai 2,86 (agak suka). Semakin tinggi konsentrasi daging ikan lele maka semakin tinggi nilai rata-rata teksturnya.

4. Simpulan dan Saran

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi peningkatan jumlah daging ikan lele akan meningkatkan kandungan protein. Berdasarkan organoleptik rasa

dan tekstur, formulasi chips ikan

dengan penambahan daging ikan lele yang disarankan adalah sebanyak 20%.

Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menghilangkan rasa dan aroma ikan lele yang khas, sehingga dapat memperbaiki cita rasa. Perlu penelitian lanjutan untuk daya simpan produk dan penerimaan pasar chips ikan lele.

Daftar Pustaka

Ariani, M. (2010). Analisis Konsumsi Pangan Tingkat Masyarakat

Mendukung Pencapaian

Diversifikasi Pangan. Jurnal Gizi Indonesia. Vol,

33(1),20-28.

Association of Official Analytical Chemyst. [AOAC]. (2005). Official Method of Analysis of The Association of Official

Analytical of Chemist.

Arlington: The Association of Official Analytical Chemyst, Inc.

Hadiwiyoto. (1993). Teknologi Hasil Perikanan. Yogyakarta:

Liberty.

Kuzgun, N. K. (2017). Development of A Functional Snack Food

Product with Cyprinious

carpio. The Pharmaceutical and Chemical Journal. Vol,

4(6), 1-4.

Meilgaard, M., Civille, G.V., Carr,

B.T. (2000). Sensory

Evaluation Techniques. Boca

Raton, Florida: CRC Press.

Murniyati, Suryaningrum, T.,

(8)

54 Filet Lele dan Produk Olahannya. Jakarta: Penebar

Swadaya

Neıva, C.R.P, Machado, T.M, Tomıta,

R.Y, Furlan É.F, Lemos Neto, M.J, Bastos, D. H. M. (2011). Fish Crackers Development from Minced Fish and Starch: An Innovative Approach to A Traditional Product. Journal of Food Science and Technology.

Vol. 31(4), 973-979.

Netto, J. P. C., Filho, P. R. C. O.,

Lapa-Guimarães, J., VIEGAS,

E.M.M. Physicochemical and Sensory Characteristics of Snack Made with Minced Nile Tilapia. Journal of Food Science and Technology. Vol.

34(3), 591-596.

Nisa, A. K. dan Wardani, A. K. (2016). Pengaruh Lama Pengasapan dan Lama Fermentasi Terhadap Sosis Fermentasi Ikan Lele (Clarias gariepinus). Jurnal Pangan dan Agroindustri. Vol.

4 (1), 367-376,

Oktavia, D. A. (2007). Kajian SNI 01-28862000 Makanan Ringan

Ekstrudat. Jurnal

Standardisasi. Vol, 9(1),1-9.

Pang, C. J., Noerhartati, E., Rejeki, F. S. (2013). Optimasi Proses Pengolahan Mie Ikan Tongkol (Euthynnus Affinis). REKA Agroindustri. Vol. 1 (1).

Purwandari, L., Indrastuti, E., &

Ramadhia, M. (2013).

Fortifikasi Tepung Ikan Lele (Clarias gariepinus) pada

Pembuatan Snack dari Tepung Pati Jagung (Zea mays). Vokasi,

Vol, 9(2), 175-179.

Ubadillah, A. dan Hersoelistyorini, W. (2010). Kadar Protein dan Sifat Organoleptik Nugget Rajungan dengan Substitusi Ikan Lele (Clarias gariepinus). Jurnal Pangan dan Gizi. Vol, 1(2),

45-54.

Utari, K. S. T., Dewi, E. N., Romadhon. (2016). Sifat Fisika Kimia Fish Snack Ekstrusi Ikan

Nila (Oreochromis niloticus)

dengan Penambahan Grit Buah

Lindur (Bruguiera

gymnorrizha). J. Peng. & Biotek. Hasil. Vol. 5 (4), 33-43.

Winarno, F.G. (2008). Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia

Pustaka Utama.

World Health Organization (WHO) and Food and Agriculture Organization (FAO). (2006).

Guidelines on food fortification

Gambar

Tabel 1. Formulasi Chips Ikan dengan Penambahan Daging Ikan Lele yang Berbeda

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Tabel 12, hasil uji daya terima terhadap 25 panelis terhadap warna kerupuk dengan penambahan tepung tulang ikan lele 0% (kontrol) dan 5% tidak berbeda

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG TULANG IKAN LELE (Clarias Batrachus) PADA PEMBUATAN MIE BASAH TERHADAP KADAR KALSIUM,.. ELASTISITAS DAN

Berdasarkan Tabel 12, hasil uji daya terima terhadap 25 panelis terhadap warna kerupuk dengan penambahan tepung tulang ikan lele 0% (kontrol) dan 5% tidak berbeda

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara kombinasi perlakuan penambahan daging ikan lele dan ekstrak kunyit terhadap parameter kadar abu,

Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu: Bagaimana pengaruh paparan logam berat Cadmium (Cd) pada berbagai konsentrasi terhadap kadar bioakumulasi di dalam daging ikan

Hasil pengujian nilai asam amino lisin mi kering dengan penambahan tepung daging ikan lele dumbo berbagai konsentrasi tersaji pada Tabel 1.. Hasil Pengujian Asam Amino Lisin

Hasil pengujian nilai asam amino lisin mi kering dengan penambahan tepung daging ikan lele dumbo berbagai konsentrasi tersaji pada Tabel 1.. Hasil Pengujian Asam Amino Lisin

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa penambahan daging ikan lele dengan konsentrasi yang berbeda memberikan pengaruh sangat nyata terhadap nilai kadar abu