• Tidak ada hasil yang ditemukan

Vol. 18 Nomor 2, Mei 2016 | JURNAL PENELITIAN SAINS jps v18 no2 mei2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Vol. 18 Nomor 2, Mei 2016 | JURNAL PENELITIAN SAINS jps v18 no2 mei2016"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

UP2M FMIPA Universitas Sriwijaya

ISSN: 1410-7058

Jurnal Penelitian Sains

Jurnal Penelitian Sains

JPS

e

e

e

e

(2)

urnal Penelitian Sains (JPS) FMIPA UNSRI terbit tiga kali setahun pada bulan Januari, Mei,

J

dan September, sebagai wahana komunikasi ilmiah di bidang sains serta lintas ilmu yang terkait; diterbitkan sejak 1 Oktober 1996 oleh UP2M FMIPA Universitas Sriwijaya, ISSN 1410-7058. Jurnal ini berisikan tulisan atau karangan ilmiah dalam berbagai bidang tersebut yang diangkat dari hasil penelitian, survei, atau telaah pustaka, yang belum pernah dipublikasikan dalam terbitan lain. Pelindung : Drs. Muhammad Irfan, M.T. (Dekan FMIPA Universitas Sriwijaya) Penanggung Jawab : Dr. Arum Setiawan, M.Si. (Ketua UP2M FMIPA Universitas Sriwijaya) Pimpinan Redaksi : Dr. Akhmad Aminuddin Bama, M.Si.

Redaktur Pelaksana : Hadi, S.Si., M.T. Pelaksana Tata Usaha : Effendi M. Z.

Alamat Redaksi : UP2M FMIPA UNSRI, Gedung FMIPA UNSRI Lt. 1,

Jalan Raya Palembang-Prabumulih Km 32, Kampus Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Telp. 0711-580268, Faks. 0711-580056.

Homepage:http://www.jpsmipaunsri.wordpress.com

Email: [email protected]; [email protected]

Redaksi menerima sumbangan tulisan yang belum pernah diterbitkan sebelumnya oleh penerbit lain. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Inggris yang baik dan benar, tidak mengandung unsur politik, komersialisme, atau subjektifitas yang berlebihan.

JPS

e

e

e

e

N

Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc.

(3)

iii

J

urnal

P

enelitian

S

ains

ISSN: 1410-7058

Volume 18 Nomor 2, Mei 2016

JPS

e

e

e

e

DAFTAR ISI

Verifikasi Dosimetri Teknik Stereotactic Body Radiotherapy (SBRT) Metastasis Tulang: Studi Kasus Menggunakan Fantom Homogen dan Inhomogen

Yosi Sudarsi Asril, Wahyu Edy Wibowo, dan Supriyanto Ardjo Pawiro ... 18208-47

Komunitas Makrofauna di Kawasan Mangrove Desa Tanjung Leban dan Bukit Batu, Bengkalis

Radith Mahatma, Khairijon, dan Afrimaini ... 18209-51

Studi Pendahuluan: Inventarisasi Amfibidi Kawasan Hutan Lindung Bukit Cogong II

Doni Setiawan, Indra Yustian, dan Catur Yuono Prasetyo ... 18210-55

Saponin Biji Klabet pada Organ Reproduksi Tikus Jantan Sprague Dawley®

Sri Nita, Ummi Hiras Habisukan, dan Nyayu Fauziah Zen ... 18211-59

Pemanfaatan Hewan Sebagai Obat Tradisional oleh Etnik Lom di Bangka

Budi Afriyansyah, Nur Annis Hidayati, dan Hapis Aprizan ... 18212-66

Keterkaitan Jumlah Daerah Termutasi pada Gen β-globin dengan Indeks Korpuskular Pembawa Sifat β-thalassemia

Priyambodo, Niken Satuti Nur Handayani ... 18213-75

Variasi Rasio Amonium dan Nitrat terhadap Perkembangan Embrio Somatik Bawang Putih

(Allium sativum) secara In Vitro

Singgih Tri Wardana ... 18214-80

Analysis of Relation between Fluorescence Intensity and Ripeness Levels of Loosed Palm Oil Fruits

Minarni Shiddiq dan Reza Umami ... 18215-85

(4)
(5)

Jurnal Penelitian Sains Volume 18 Nomor 2 Mei 2016

© 2016 JPS MIPA UNSRI 18208-47

Verifikasi Dosimetri Teknik

Stereotactic Body Radiotherapy

(SBRT) Metastasis Tulang: Studi Kasus

Menggunakan Fantom Homogen dan Inhomogen

Yosi Sudarsi Asril1), Wahyu Edy Wibowo2), dan Supriyanto Ardjo Pawiro3)

1,3)Fakultas MIPA, Universitas Indonesia, 2)Departemen Radioterapi, RSUP Cipto Mangunkusumo

Intisari: Kanker menyebabkan 13% dari total semua kasus penyebab kematian, dan matastasis tulang adalah komplikasi umum dari kanker yang terjadi diatas 40% pada pasien onkologi. Sekitar 70% metastasis akan melibatkan tulang belakang. Stereotactic body radiotherapy (SBRT) adalah salah satu teknik yang dapat menangani metastasis tulang karena dapat memberikan dosis radiasi tinggi pada volume kecil dengan margin yang sangat rapat. Dalam perencanaan radioterapi untuk foton energi tinggi sering tidak sesuai dalam memperkirakan distribusi dosis dengan keberadaan material tidak homogen. Oleh karena itu dibandingkan hasil dosis pada fantom homogen (CIRS Model 002 H9K) dengan fantom inhomogen (CIRS Model 002 LFC) menggunakan tiga dosimeter, yaitu mikrochamber exradin A16, film gafchromic EBT3, dan TLD LiF: Mg, Ti rods. Hasil yang didapatkan dari pengukuran kedua fantom membuktikan bahwa film gafchromic EBT3 merupakan dosimeter terbaik dalam pengukuran dosis pada lapangan kecil dengan masing-masing deskripansi -0,30% pada fantom homogen dan -1,57% pada fantom inhomogen. Mikrochamber juga memperlihatkan kemampuannya dengan mendapatkan deskripansi tidak begitu jauh dengan film gafchromic EBT3 yaitu -0,52%

pada fantom homogen dan -3,87% pada fantom inhomogen. Sedangkan menggunakan TLD LiF:Mg, Ti rods

masing-masing deskripansinya -11,96% dan -13,88% pada fantom homogen dan inhomogen.

Kata kunci:Metastasis Tulang, SBRT, Mikrochamber Exradin A16, Film Gafchromic EBT3, TLD LiF:Mg, Ti rods

Abstract: Cancer causes 13% of all cases the cause of death, and bone metastases is a common complication of cancer that occurs above 40% in oncology patients. Approximately 70% will involve spinal metastases. Stereotactic body radiotherapy (SBRT) is one technique that can handle bone metastases because it can provide a high radiation dose to a small volume with a very tight margin. In the planning of radiotherapy for high-energy photons are often not suitable to estimating dose distribution in inhomogeneous material. Therefore, compared the dose results in homogeneous phantom (CIRS Model 002 H9K) with inhomogeneous phantom (CIRS Model 002 LFC) using three dosimeter; mikrochamber exradin A16, gafchromic film EBT3, and TLD LiF: Mg, Ti rods. The result from both phantom measurements prove that the gafchromic filn EBT3 is the best dosimeter in measuring dose in small field with descripansies dose -0,30% and -1,57% in homogeneous and inhomogeneous phantom. Mikrochamber also showed the ability to get descripansies as good as gafchromic film EBT3 is -0,52% and -3,87% in homogeneous and inhomogeneous phantom. While descripansies using the TLD LiF:Mg, Ti rods is -11,96% and -13,88% in homogeneous and inhomogeneous phantom.

Keywords: Bone Metastasis, SBRT, Mikrochamber Exradin A16, Gafchromic Film EBT3, TLD LiF:Mg, Ti rods

Email: [email protected]

1

PENDAHULUAN

anker menyebabkan 13% dari total semua kasus penyebab kematian, dan matastasis pada tulang adalah komplikasi umum dari kanker yang terjadi diatas 40% pada pasien onkologi[1].

Sekitar

sepertiga dari semua pasien kanker akan mengalami metastasis tulang dan sekitar 70% metastasis akan melibatkan tulang belakang[2]. Metastasis tulang tersebut dan kanker primer itu sendiri dapat menyebabkan pasien merasakan rasa sakit yang besar dan gangguan fungsional[3]. Stereotactic body radiotherapy (SBRT) adalah salah satu teknik yang dapat menangani metastasis tulang karena dapat

memberikan dosis radiasi tinggi pada volume kecil dengan margin yang sangat rapat. Dalam perencanaan radioterapi untuk foton energi tinggi sering tidak sesuai dalam memperkirakan distribusi dosis dengan keberadaan material tidak homogen[4]. Oleh karena itu dibandingkan hasil dosis pada fantom homogen (CIRS Model 002 H9K) dengan fantom inhomogen (CIRS Model 002 LFC) menggunakan tiga dosimeter, yaitu mikrochamber exradin A16, film gafchromic EBT3, dan TLD LiF: Mg, Ti rods.

(6)

Yosi D. A., dkk/Verifikasi Dosimetri Teknik … JPS Vol.18 No. 2 Mei. 2016

2

KAJIAN LITERATUR DAN

PEGEMBANGAN HIPOTESIS

Radioterapi paliatif efektif mengontrol rasa sakit pada pasien dengan metastasis tulang belakang, namun dosis yang lebih tinggi pada radioterapi mungkin dibutuhkan untuk kontrol tumor dan mencegah kerusakan tulang pada tulang belakang yang dapat menghasilkan ketidakstabilan tulang belakang. Sensitifitas tulang belakang pada radiasi umumnya tidak memungkinkan dosis radiasi tinggi pada tulang belakang atau re-iradiasi menggunakan teknik konvensional. Oleh karena itu, telah dikem-bangkan berbagai teknik untuk mengoptimalkan pengiriman dosis radiasi untuk kasus metastasis tulang untuk melindungi tulang belakang, salah satunya adalah Stereotactic Body Radiotherapy[5]. SBRT memberikan dosis radiasi dalam ukuran besar, biasanya 6-30 Gy tiap fraksi. Jumlah fraksi dalam SBRT adalah lima atau lebih sedikit selama waktu tertentu untuk mencapai biologically effective dose

(BED) tinggi [6].

3

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dilakukan di RSUP Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, mengguna-kan beberapa alat dan material, antara lain: Pesawat LINAC Synergy Elekta, TPS pinnacle3, pesawat CT

Simulator GE Brightspeed, fantom CIRS inhomogen model 002 LFC, fantom CIRS homogen model 002 H9K,dosimeter TLD LiF:Mg,Ti rod, Film gafchromic EBT3, dan detektor bilik ionisasi Exradin A16.

Kalibrasi dilakukan pada dosimetri TLD dan Film Gafchromic EBT3. Kalibrasi TLD dilakukan untuk mendapatkan hubungan nilai bacaan TLD dengan nilai dosis. Kalibrasi film gafchromic EBT3 dilakukan untuk menentukan hubungan antara dosis dengan bacaan nilai piksel film. Baik kalibrasi TLD maupun film gafchromic EBT3 dilakukan menggunakan dua nilai rentang dosis, yakni dosis rendah yang rentang dosisnya dari 10-500 cGy dan dosis tinggi yang rentang dosisnya dari 500-1800cGy dan menggu-nakan solid water phantom yang dipapar dengan energi foton 6 MV, menggunakan teknik SSD 100 cm, luas lapangan 10 x 10 cm2, dan kedalaman (z) 5

cm. Hanya TLD yang sensitivitasnya memiliki standar deviasi ±3% yang digunakan pada setiap kelompok TLD yang terdiri dari 3 buah rod TLD.

Gambar 1. Pengukuran pada fantom homogen

Sebelum pengukuran, dilakukan pemindaian sebelumnya terhadap kedua fantom menggunakan CT Simulator GE BrightSpeed. Pemindaian pada kedua fantom sangat penting dilakukan untuk kepentingan perencanaan dimana titik referensi dan volume target dapat diketahui; berhubung peng-ukuran yang dilakukan adalah pengpeng-ukuran dosis titik yang dilakukan tepat pada isocenter. Hasil citra per

slice yang didapatkan dari pemindaian tersebut,

akan dikirim ke software TPS Pinnacle3 dan

kemu-dian dilakukan proses countoring serta perencanaan radiasi yang akan diterapkan. Perencanaan radiote-rapi teknik SBRT menggunakan TPS Pinnacle3

dengan teknik perhitungan forward planning dengan dosis preskripsi 5 Gy/12 fraksi pada titik isocenter

tulang.

Gambar 2. Diagram Penelitian

(7)

(diskre-Yosi D. A., dkk/Verifikasi Dosimetri Teknik … JPS Vol.18 No. 2 Mei. 2016

18208-49 pansi) relatif antara nilai dosis dari hasil data dosi-metri pada pengukuran (Dmeasured) dengan nilai dosis

hasil perencanaan TPS (Dplanned) menggunakan

per-samaan sebagai berikut:

dengan Dmeas adalah nilai dosis hasil pengukuran

dan Dplan adalah nilai dosis hasil perhitungan

perencanaan TPS.

4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengukuran dosis di titik target secara statik pada fantom homogen dan fantom inhomogen dilakukan menggunakan tiga dosimeter; Film Gafchromic EBT3, Mikrochamber Exradin A16, dan TLD LiF: Mg, Ti rods. Ketiga dosimeter diukur pada titik iso-center pada target tulang yang disesuaikan dengan perencanaan yang telah dibuat.

Secara umum, pengukuran kedua fantom meng-gunakan teknik SBRT menunjukkan hasil yang baik walaupun pengukuran didominasi dengan pola

un-derestimate (dosis yang terukur lebih rendah

dari-pada dosis perencanaan). Hal ini disebabkan oleh beberapa hal; yaitu pertama, penggunaan lapangan kecil pada teknik SBRT menyebabkan tidak terpe-nuhinya charged particle equilibrium dikarenakan ukuran lapangan yang lebih kecil dibandingkan jarak elektron pada sisi lateral sehingga terjadilah lateral

electronic disequilibrium [7][8]. Kedua, yaitu efek

vo-lume averaging dimana ukuran ionisasi chamber

harus sebanding atau lebih kecil dibandingkan dengan ukuran lapangan radiasi[7] agar tidak mengalami penurunan resolusi spasial atau efek

volume averaging. Kedua efek ini berdampak pada

penelitian Oh et al., 2014[9] yang menyatakan bahwa hasil dari pengukuran dosis di lapangan kecil dominan underestimate disebabkan oleh adanya

lat-eral electron disequilibrium (LED).

Jika ditinjau dari densitas dan komposisi kedua fantom, hal tersebut juga dapat mempengaruhi nilai diskrepansi tiap dosimeter. Terlihat bahwa karakte-ristik fantom inhomogen terdiri dari berbagai densi-tas, yaitu paru, tulang dan jaringan lunak, sedangkan karakteristik fantom homogen hanya terdiri dari densitas jaringan lunak (soft tissue) dan tulang.

Adanya efek inhomogenitas ini juga mempengaruhi penurunan dosis disebabkan terdapatnya berkas foton pada rongga udara dalam paru, karena menu-rut Engelsman et al., 2001[4], foton energi tinggi sering tidak sesuai dalam memperkirakan distribusi dosis dengan keberadaan material tidak homogen. Terlihat pada tabel 1, nilai diskrepansi untuk

keselu-ruhan dosimeter di fantom inhomogen memang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan fantom ho-mogen.

Tabel 1. Diskrepansi dosis target pada ketiga dosimeter

Jika ditinjau dari masing-masing dosimeter, film gafchromic EBT3 memiliki nilai diskrepansi yang cu-kup baik dibandingkan dua dosimeter lainnya. Hal ini dikarenakan karakteristik film gafchromic EBT3 yang memiliki resolusi spasial yang tinggi, sehingga gradian film gafchromic EBT3 ini dapat menunjuk-kan kemampuannya saat diberimenunjuk-kan dosis tinggi. Hasil yang tidak begitu jauh dicapai oleh dosimeter Exra-din A16. Jenis mikrochamber ini memiliki volume sekitar 0,007 cm3 yang cocok dalam pengukuran

lapangan kecil[10]. Walaupun nilainya diskrepan-sinya underestimate dan menunjukan adanya efek

volume averaging, tetap saja nilai diskrepansinya

ti-dak begitu jauh dari film gafchromic EBT3 dan dapat membuktikan bahwa dosimeter exradin A16 cukup menunjukkan kemampuannya dalam mengukur di titik lapangan kecil. Tetapi pada dosimeter TLD LiF:Mg,Ti rod, diskrepansinya cukup jauh dan me-miliki akurasi yang buruk dibandingkan dua dosi-meter lainnya. Hal ini dikarenakan TLD adalah do-simeter dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi, selain karena ukuran dimensinya yang kecil, proses pembacaan (reading) dan annealing juga mempe-ngaruhi optimal atau tidaknya nilai dosis didalam-nya, berhubung pembacaan harus menggunakan suhu yang tepat agar elektron terlepas dari trap da-lam TLD[11]. Untuk lebih jelasnya, nilai diskrepansi ketiga dosimeter dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Grafik Pengukuran fantom homogen dan inhomogen secara statik

CT-number Dosimeter Diskrepansi

CIRS 002H9K (HOMOGEN)

Exradin A16 -0,52% Film Gafchromic EBT3 -0,30% TLD LiF: Mg, Ti -11,96%

CIRS 002LFC (INHOMOGEN)

Exradin A16 -3,87% Film Gafchromic EBT3 -1,57% TLD LiF: Mg, Ti -13,88%

(8)

Yosi D. A., dkk/Verifikasi Dosimetri Teknik … JPS Vol.18 No. 2 Mei. 2016

5

SIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada fantom homogen dan fantom inhomogen, dosimeter terbaik dalam pengukuran di titik tulang menggu-nakan teknik SBRT adalah Film Gafchromic EBT3 dengan diskrepansi pada fantom homogen sebesar -0,30% dan fantom inhomogen sebesar -1,57%.

REFERENSI _____________________________

[1] C. Greco, O. Pares, N. Pimentel, E. Moser, V. Louro, X.

Morales, B. Salas, and Z. Fuks, “Spinal metastases:

From conventional fractionated radiotherapy to

single-dose SBRT,” Reports Pract. Oncol. Radiother., vol. 20,

no. 6, pp. 1–10, 2015.

[2] G. M. Berardino De Bari, Filippo Alongi, Gianluca

Mortellaro, Rosario Mazzola, Schiappacasse Luis,

“Spinal Metastases: Is Stereotactic Body Radiation

Therapy Supported by evidences.pdf,” Crit. Rev. Oncolgy/Hematology, pp. 1–12, 2015.

[3] G. Bedard and E. Chow, “The failures and challenges

of bone metastases research in radiation oncology,” J. Bone Oncol., vol. 2, no. 2, pp. 84–88, 2013.

[4] M. Engelsman, E. M. F. Damen, K. De Jaeger, K. M.

Van Ingen, and B. J. Mijnheer, “The effect of breathing

and set-up errors on the cumulative dose to a lung

tumor,” Radiother. Oncol., vol. 60, no. 1, pp. 95–105, 2001.

[5] X. S. Wang, L. D. Rhines, A. S. Shiu, J. N. Yang, U.

Selek, I. Gning, P. Liu, P. K. Allen, S. S. Azeem, P. D.

Brown, H. J. Sharp, D. C. Weksberg, C. S. Cleeland,

and E. L. Chang, “Stereotactic body radiation therapy

for management of spinal metastases in patients

without spinal cord compression: A phase 1-2 trial,”

Lancet Oncol., vol. 13, no. 4, pp. 395–402, 2012.

[6] S. H. Benedict, D. Followill, J. M. Galvin, W. Hinson,

B. Kavanagh, P. Keall, M. Lovelock, S. Meeks, T. Purdie, M. C. Schell, B. Salter, T. Solberg, D. Y. Song, R. Timmerman, D. Verellen, and L. Wang,

“Stereotactic body radiation therapy : The report of

AAPM Task Group 101,” no. May, pp. 4078–4101, 2010.

[7] R. J. Underwood, “Small field dose calibrations with

gafchromic film,” no. May, p. 73, 2013.

[8] F. J. Spang, “Monte Carlo study of the dosimetry of

small-photon beams using CMOS active pixel sensors,”

2011.

[9] S. A. Oh, J. W. Yea, R. Lee, H. B. Park, and S. K. Kim,

“Dosimetric Verifications of the Output Factors in the

Small Field Less Than 3 cm 2 Using the Gafchromic

EBT2 Films and the Various Detectors,” vol. 25, no. 4,

pp. 218–224, 2014.

[10]M. R. McEwen, “Measurement of ionization chamber absorbed dose k(Q) factors in megavoltage photon

beams.,” Med. Phys., vol. 37, no. 5, pp. 2179–2193, 2010.

[11]A. Fitriandini, “Perbandingan Dosimetri Teknik 3d-Crt, IMRT dan SBRT Pada Kasus Kanker Paru-Paru Berbasis Bilik Ionisasi, TLD Dan Film Gafchromic EBT2No

(9)

Jurnal Penelitian Sains Volume 18 Nomor 2 Mei 2016

© 2016 JPS MIPA UNSRI 18209-51

Komunitas Makrofauna di Kawasan Mangrove Desa Tanjung

Leban dan Bukit Batu, Bengkalis

Radith Mahatma, Khairijon, dan Afrimaini

FMIPA, Universitas Riau, Indonesia

Abstract: Information on macrofauna community from mangrove areas in Indonesia is still scarce. The objec-tive of this research were study the abundance and community structure of macrofauna in mangrove area of Tanjung Leban and Bukit Batu Villages, Bengkalis Region, Riau Province. Macrofauna were sampled in Sep-tember 2014 using corer from 10 plot located in mangrove areas of Tanjung Leban and Bukit Batu Villages. Each plot were sampled three times as a replication. The macrofauna which were collected were classified to Nematoda, Gastropoda, Copepoda, Bivalvia, Polychaeta, Oligochaeta, Tardigrada, Insecta, Holothuroidea,

Ostracoda and Syncarida. The average of macrofaunal abundance was 1435 ind./m2 with Nematoda,

Gastro-poda, and Copepoda as the most dominant taxa. Analysis of ANOVA indicated that the abundance of macro-fauna between the plot inside each mangrove area were not statistically different (Tanjung Leban F = 0,96,

Bukit batu F = 0,86). Additionally, the Student’s t test indicated that the abundance of macrofauna between mangrove area in Tanjung Leban and Bukit Batu were not statistically different (t = 1,92).

Keywords: Macrofauna, mangrove, Bengkalis

Email: [email protected]

1

PENDAHULUAN

angrov memiliki komposisi vegetasi yang membentuk zonasi tertentu. Kelompok vege-tasi ini dibentuk dari berbagai jenis tumbuhan yang mampu beradaptasi secara fisiologi terhadap salini-tas, tipe sedimen, dan pasang surut (Walter 1971).

Sebagian besar ekosistem mangrov tersebar di daerah tropis, termasuk di Indonesia, namun demi-kian, ekosistem ini kurang mendapat kajian diban-ding ekosistem sejenis didaerah temperate. Sebagian ekosistem mangrov mengalami degradasi akibat aktivitas manusia, termasuk yang berada di Kecama-tan Bukit Batu Kabbupaten Bengkalis. Degradasi kawasan mangrov di kedua desa tersebut batkan abrasi yang cukup parah sehingga mengaki-batkan garis pantai bergeser. Upaya rehabilitasi ekosistem mangrov perlu dilakukan mengingat pentingnya ekosistem ini di daerah pesisir. Keberha-silan rehabilitasi ditentukan dengan ketersediaan

baseline data, yang berguna untuk dasar proses

rehabilitasi.

Salahsa tu data yang diperlukan dalam proses rehabilitasi mangrov adalah informasi tentang orga-nisme bentik avertebrata, misalnya makrofauna. Informasi mengenai komposisi hewan avertebrata bentik menjadi penting untuk menilai besarnya kerugian akibat kerusakan lingkungan karena orga-nisme bentik terkait secara langsung dengan sedi-men yang sedi-menjadi habitatnya (Dubois et al. 2009).

Informasi mengenai makrofauna di ekosistem mangrov tropis masih terbilang jarang, meskipun peranan kelompok organisme ini di habitatnya sangat penting. Di dalam rantai makanan, makro-fauna merupakan makanan bagi organisme yang lebih besar, makrofauna juga berperan dalam proses daur ulang bahan organik dan mineralisasi di per-airan (Thompson et al. 2004).

Komponen makrofauna dalam komunitas bentik juga sering dijadikan indikator untuk menentukan kesehatan lingkungan karena organisme tersebut relatif bersifat sedenter dan menunjukkan perbe-daan toleransi terhadap cekaman lingkungan (Dauer 1984; Gray et al. 1988; Zulkifli dan Setiawan 2011).

Makrofauna memiliki kemampuan untuk melaku-kan rekolonisasi didaerah yang mengalami gang-guan, tetapi kemampuan rekolonisasi tersebut mem-butuhkan waktu yang lama untuk bisa menyerupai kondisi alami (Grassle dan Morse-Porteous 1997).

Kajian makrofauna di kawasan mangrov Desa Tanjung Leban dan Bukit Batu penting untuk dilakukan mengingat langkanya informasi mengenai kelompok organisme ini. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk melengkapi baseline data mengenai keanekaragaman hayati dikawasan mang-rov yang mengalami degradasi.

(10)

Radith M., dkk/Komunitas makrofauna di Kawasan … JPS Vol.18 No. 2 Mei. 2016

2

METODE PENELITIAN

Daerah Kajian

Makrofauna disampling dari 10 stasiun yang berada di kawasan mangrov Desa Tanjung Leban dan Bukit Batu (Gambar 1). Kesepuluh stasiun yang berada di kedua desa tersebut menunjukkan kondisi yang berbeda. Stasiun-stasiun yang berada di Desa Bukit Batu berada didalam pemukiman penduduk dan didominasi oleh Rhizopora sp. Sementara, stasiun-stasiun di Desa Tanjung Leban berada diluar kawa-san pemukiman dengan vegetasi dominan

Rhizopho-ra sp. dan Avicennia sp. Selain itu, sedimen pada

stasiun-stasiun yang berada di Desa Tanjung Leban relatif bersih dari sampah rumah tangga sedangkan sedimen pada stasiun-stasiun yang ada di Desa Bukit-Batu dipenuhi oleh berbagai macam sampah rumah tangga.

Gambar 1. Daerah kajian

Sampling Sedimen

Sedimen dari sepuluh stasiun yang berada didalam masing-masing desa (Tanjung Leban and Bukit Batu) disampling pada bulan September 2014. Sedimen disampling sampai pada kedalaman 15 cm meng-gunakan pipa PVC, diameter dalam 4,4 cm, yang dimodifikasi menjadi corer. Tiap stasiun disampling sebanyak 3 kali sebagai ulangan untuk analisis makrofauna. Sampling dilakukan pada saat surut.

Segera setelah sampling, sedimen di disimpan dalam campuran air laut dan formalin pada kon-sentrasi akhir 4% dan dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.

Di laboratorium, makrofauna di isolasi dari sedi-men sedi-menggunakan metode penyaringan bertingkat. Selanjutnya, makrofauna disortir dan dikelompok-kan kedalam major taxa serta dihitung kelimpahan-nya.

Analisis Data

Perbedaan densitas makrofauna diantara stasiun pada masing-masing desa dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA, sedangkan perbedaan den-sitas makrofauna diantara kedua desa (Tanjung Leban dan Bukit Batu) dianalisis menggunakan uji t. Semua analisis statistika dilakukan menggunakan software SPSS versi 17.0.

3

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kelimpahan dan Komposisi Makrofauna di

daerah kajian

Hasil pengamatan terhadap makrofauna yang dite-mukan pada sampel sedimen menunjukkan bahwa setidaknya terdapat 10 major taxa makro fauna yang hidup di kawasan mangrov Desa Tanjung leban dan Bukit Batu (Tabel 1).

Tabel 1 Kelimpahan makrofauna

Taksa Jumlah

Gastropoda 324 Copepoda 281 Bivalvia 51 Polychaeta 49 Oligochaeta 26 Holothuroidea 5 Tardigrada 6 Insekta 6 Ostracoda 5 Syncarida 2

Jumlah total makrofauna yang ditemukan dalam penelitian ini adalah 755 individu, yang didominasi oleh Gastropoda, Copepoda, Bivalvia, Polychaeta, dan Oligochaeta (Gambar 1). Komposisi makrofauna yang ditemukan dalam penelitian ini hampir sama dengan yang dilaporkan oleh peneliti lain di kawa-san mangrov yang berbeda (Ernawati et al 2013; Fitriana 2005; Onrizal et al 2008; Setiawan 2010).

Hasil analisis terhadap kelimpahan makrofauna yang ditemukan di daerah kajian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa densitas makrofauna berki-sar antara 1573 ind/m2 s/d 9280 ind./m2 dengan

rata-rata 1435 ind./m2. Secara berurutan dua taksa yang

densitasnya tertinggi adalah Gastropoda, dan Cope-poda (Gambar 2).

(11)

Radith M., dkk/Komunitas makrofauna di Kawasan … JPS Vol.18 No. 2 Mei. 2016

18209-53 stasiun di area kajian, demikian juga dengan Copepoda, taksa tersebut terdistribusi pada sebagian besar area kajian.

Gambar 2. Komposisi makrofauna yang ditemukan di studi area (n= 755)

Gambar 3. Rata-rata densitas makrofauna yang ditemukan dalam penelitian ini

Dominasi makrofauna dalam penelitian ini ber-beda dengan yang pernah dilaporkan oleh beberapa peneliti dari ekosistem yang berbeda (Ibrahim et al.2006; Parr et al. 2007; Dubois et al. 2009). Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik habitat. Misalnya, produktivitas, predator, substrat dasar, dan sifat fisika dan kimia perairan.

Rata-rata densitas makrofauna yang ditemukan dalam penelitian ini lebih rendah dibanding yang dilaporkan oleh Netto dan Galucci (2003) dari kawa-san mangrov yang ada di Kenya. namun demikian rata-rata densitas makrofauna dalam penelitian ini lebih tinggi dari pada yang dilaporkan oleh Fitriana (2006)

Komposisi dan Kelimpahan Makrofauna di

Masing-masing Kawasan Mangrov

Makrofauna di kawasan mangrov Desa Tanjung Le-ban dan Bukit Batu menunjukkan komposisi yang berbeda. Keanekaragaman taksa di Desa Tanjung Leban lebih tinggi dibanding Bukit Batu, beberapa taksa diantaranya hanya ditemukan di Desa Bukit Batu (Gambar 4).

Gambar 4. Komposisi makrofauna pada masing-masing desa (Tanjung Leban dan Bukit Batu)

Perbedaan komposisi makrofauna yang ditemu-kan di kedua desa secara umum mengindikasiditemu-kan adanya perbedaan kondisi lingkungan di kedua desa tersebut mengingat perbedaan komposisi terjadi pada mayor taksa. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan perbedaan tersebut terjadi karena waktu sampling yang terbatas mengakibatkan akti-vitas sampling tidak merepresentasikan kondisi yang sesungguhnya mengenai kedua desa, sehingga ber-bagai kajian selanjutnya terkait makrofauna akan sangat diperlukan.

Analisis terhadap densitas makrofauna menun-jukkan bahwa rata-rata densitas makrofauna pada Desa Tanjung Leban dan Desa Bukit Batu secara statistik berbeda, thit = 1,92 dan p=0,05. Densitas

makrofauna pada Desa Tanjung Leban lebih tinggi dibanding Desa Bukit Batu, secara berurutan densi-tasnya adalah 12.818 ind./m2 dan 7.266 ind./m2.

Rendahnya densitas makrofauna di Desa Bukit Batu dibanding Desa Tanjung Leban diduga terkait de-ngan aktivitas manusia yang ada di Desa Bukit Batu, mengingat lokasi kajian ada di dalam pemukiman penduduk.

Hasil analisis terhadap perbedaan densitas mak-rofauna di kawasan mangrov Desa Tanjung Leban menunjukkan bahwa densitas makrofauna pada tiap stasiun secara statistik tidak berbeda nyata, Fhit =

0,96. Demikianpula halnya dengan Desa Bukit Batu, densitas makrofauna di tiap stasiun secara statistik tidak berbeda nyata, Fhit=0,86. Dengan demikian

dapat diduga bahwa kondisi lingkungan di masing-masing stasiun pada tiap desa relatif sama. Dugaan ini didasarkan pada adanya hubungan antara kon-disi lingkungan dengan densitas makrofauna.

4

KESIMPULAN

(12)

Radith M., dkk/Komunitas makrofauna di Kawasan … JPS Vol.18 No. 2 Mei. 2016

dalam kisaran yang pernah dilaporkan oleh para peneliti lain dari berbagai tempat dan tipe habitat. Densitas makrofauna di Desa Tanjung Leban dan Bukit Batu secara statistik tidak berbeda signifikan, demikian pula densitas makrofauna pada tiap stasiun di Desa yang sama.

REFERENSI _____________________________

[1] Dauer D.M. 1984. The use of Polychaete feeding guilds

as biological variables. Mar. Pollut. Bull. 15 (8): 301-305

[2] Dubois S., C.G. Gelpi Jr., R.E. Condrey, M.A. Grippo

and J.W. Fleeger. 2009. Diversity and composition of macrobenthic community associated with sandy shoals of the Louisiana continental shelf. Biodiversity and Conservation. 18 (14). 3759-3784

[3] Ernawati S.K.,A. Niartiningsih.,M.N. Nessadan S.A.

Omar. 2013. Jurnal Bionature, 14 (1). 49-60

[4] Fitriana Y.R. 2005. Keanekaragaman dan

kemelimpahan makrozoobenthos di hutan mangrov hasil rehabilitasi Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Bali. Biodiversitas. 7: 64-69

[5] Ibrahim S., W. M. R. W. Hussin, Z. Kassim. Z. M. Joni,

M. Z. Zakaria, S. Hajisamae. 2006. Seasonal

Abundance of Benthic Communities in Coral Areas of Karah Island. Terengganu, Malaysia. Turk. J. Fish. Aquat. Sci. 6: 129-136

[6] Grassle J.F., L.S. Morse-Porteous. 1997. Macrofaunal

colonization of disturbed deep-sea environments and the structure of deep-sea benthic communities. Deep-Sea Research. 34 (12) : 1911-1950

[7] Gray J.S., M. Aschan, M.R. Carr, K.R. Clarke, R.H.

Green, T.H. Pearson, R. Rosenberg, R.M. Warwick. 1988. Analysis of community attributes of the benthic macrofauna of Frierfjord / Langesundfjord and in a mesocosm experiment. Mar. Ecol. Prog. Ser. 46: 151-165

[8] Lasmana A.H. 2004.Struktur komunitas meiofauna di

perairan Bojonegara, Teluk banten, Kabupaten Serang. [skripsi]. Program Studi Ilmu Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor

[9] Mchenga, I. S.S and A. I. Ali. 2013. macrofauna

communities in a tropical mangrove forest of Zanzibar, Tanzania. Global Journal of Bioscience and

Biotechnology. 2(1): 260-266

[10]Netto S.A. and F. Galucci. 2003. Meiofauna and

macrofauna communities in a mangrove from the Island of Santa Catarina, South Brazil. Hydrobiologia. 505 : 159-170

[11]Onrizal, Simarmata F., Wahyuningsih H. 2008.

Keanekaragaman makrozoobentos di Pantai Timur SumatraUtara. Fakultas Kehutanan Universitas Sumatra Utara. Medan

[12]Parr T.D., R.D. Tait, C.L. Maxon, F.C. Newton III, J.L.

Hardin. 2007. A descriptive account of benthic macrofauna and sediment from an area of planned petroleum exploration in the southern Caspian Sea. Estuarine, Coastal and Shelf Science. 71. 170-180

[13]Setiawan D. 2010. Studi komunitas makrozoobenthos

di perairan Sungai Musi sekitar kawasan industri bagian hilir Kota Palembang. Prosiding Seminar Nasional Limnologi V

[14]Thompson B., Lowe S. 2004. Assesment Of

Macrobenthos Respons To Sediment in The San Fransisco Estuary. California. Usa. J. Environment Toxico Chem. 23 (9): 2178-2187

[15]Walter H. 1971. Ecology of tropical and sub tropical

vegetation. Van Rostrand Reinhold Company. New York. Cincinnati. Toronto. London. Melbourne.

[16]Zulkifli H., Setiawan D. 2011. Struktur komunitas

(13)

Jurnal Penelitian Sains Volume 18 Nomor 2 Mei 2016

© 2016 JPS MIPA UNSRI 18210-55

Studi Pendahuluan: Inventarisasi Amfibi

di Kawasan Hutan Lindung Bukit Cogong II

Doni Setiawan, Indra Yustian, dan Catur Yuono Prasetyo

.Biology Department Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sriwijaya University

Abstract: Which one big islands in Indonesian was have high biodiversity value is Sumatera Island. There was Amphibian groups. Amphibians class is one of the constituent components of the ecosystem which has a very important role, both ecologically and economically. Based on preliminary studies in the area of Protected Forest Cogong II Hill has been done survey in October 2015 showed the extent of damage, it's evident from the many of rubber plantation land clearing by the society which can impact negatively on the environment, especially the habitat of amphibian. So, inventory of amphibians in the Cogong Hill II protected forest areas need to be done. Observation of amphibian directly through using Visual Encounter Survey (VES) method. The results of the survey was found 10 species in to 5 families and 1 ordo. There is Bufonidae family : Bufo asper, Bufo melanosticus, Bufo biforcatus, Ranidae family is Hylarana baramica and Rana chancolnota, Di-croglossidae family is Fejevarya limnocharis, Fejevarya cancrivora, Limnonectes sp., Rhacophoriidae family is Polypedates leucomystax and Microhylidae family is Kaloula baleata. Based on IUCN status category from 10 amphibians species was found in the region, all species have Least Concern Status.

Keywords: Amphibian, Cogong II Hill, Protected forests areas, inventory, conservation status

Email: [email protected]

1

PENDAHULUAN

ndonesia merupakan salah satu negara yang men-jadi pusat konsentrasi keanekaragaman hayati dunia. Salah satu keanekaragaman hayati yang ting-gi di Indonesia adalah keanekaragaman jenis amfibi. Indonesia tercatat memiliki dua dari tiga ordo amfibi yang ada di dunia, yaitu Gymnophiona dan Anura. Ordo Anura dapat dengan mudah ditemukan di In-donesia, mencapai sekitar 450 jenis atau sekitar 11% dari seluruh jenis Anura di dunia. Amfibi merupakan salah satu komponen penyusun ekosistem yang me-miliki peranan sangat penting, baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis beberapa jenis amfibi juga memiliki sifat sensitif terhadap suhu, ke-lembaban dan perubahan lingkungan sehingga da-pat digunakan sebagai bio-indikator kerusakan ling-kungan serta berperan sebagai pemangsa konsumen primer seperti serangga atau hewan invertebrata lainnya (Kusrini, 2013). Secara ekonomis amfibi da-pat dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani.

Pulau Sumatera merupakan salah satu hotspot

keanekaragaman hayati Paparan Sunda yang memi-liki tingkat keanekaragaman hayati dengan endemi-sitas luar biasa namun dengan tekanan habitat terhadap kehilangan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi pula. Salah satu habitat satwa yang terdapat di Sumatera Selatan adalah kawasan Hutan Lindung Bukit Cogong II, yang terletak Kecamatan Suku Tengah Lakitan (STL) Ulu Terawas Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan (Setiawan et

al., 2016). Menurut Leliana (2014), tutupan lahan Bukit Cogong dan sekitarnya pada tahun 1960 masih berupa hutan alami, namun mulai pada tahun 1961 perambahan hutan semakin meluas hingga tahun 1980, dan pada tahun 1997 hutan lindung ini meng-alami kebakaran besar. Berdasarkan survei lapangan terbaru menunjukkan tingkat kerusakan kawasan Hutan Lindung Bukit Cogong II cukup besar. Ini terlihat dari hal ini terlihat dari masih banyaknya aktivitas penebangan pohon dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan karet oleh masyarakat yang bisa berdampak negatif terhadap lingkungan ter-utama habitat dari amfibi. Berdasarkan hal tersebut dan informasi serta data penelitian mengenai kebe-radaan jenis-jenis amfibi di daerah ini belum ada, maka perlu dilakukan studi pendahuluan melalui inventarisasi jenis-jenis amfibi di dalam kawasan be-serta status konservasinya.

2

STUDI LITERATUR

Amfibi merupakan salah satu fauna penyusun eko-sistem dan merupakan bagian keanekaragaman ha-yati yang menghuni habitat perairan, daratan hingga arboreal. Amfibi memegang peranan penting pada rantai makanan dan dalam lingkungan hidupnya, ju-ga bagi keseimbanju-gan alam serta bagi manusia se-lain itu juga jenis-jenis tertentu dapat dijadikan seba-gai bio-indikator kerusakan lingkungan.

Pada umumnya semua amfibi selalu hidup bera-sosiasi dengan air. Amfibi dapat dijumpai pada

(14)

Doni S., dkk/Studi Pendahuluan: Inventerisasi amfibi … JPS Vol.18 No. 2 Mei. 2016

bitat yang bervariasi, dari tergenang di bawah per-mukaan air sampai ada yang hidup di puncak pohon yang tinggi. Amfibi merupakan karnivora, untuk je-nis amfibi yang berukuran kecil makanan utamanya adalah artropoda, cacing dan larva serangga. Untuk jenis amfibi yang berukuran lebih besar makanannya adalah ikan kecil, udang, katak kecil atau katak mu-da, kadal kecil dan ular kecil. Namun kebanyakan berudu katak merupakan herbivora. Ada beberapa berudu katak sama sekali tidak makan, dan se-penuhnya mendapatkan makananan dari kuning telurnya (Iskandar, 1998).

Sebagian besar amfibi Indomalaya (82%) terda-pat di hutan, termasuk 66% di dataran rendah hutan tropis dan 47% di hutan tropis pegunungan (Bain et

al., 2008). Beberapa jenis katak dapat hidup pada

habitat yang terganggu. Amfibi tidak memiliki alat fisik untuk mempertahankan diri. Sebagian besar katak mengandalkan kaki belakangnya untuk me-lompat dan menghindar dari bahaya. Jenis-jenis yang memiliki kaki yang relatif pendek memiliki stra-tegi dengan cara menyamarkan warnanya menye-rupai lingkungannya untuk bersembunyi dari preda-tor. Beberapa jenis Anura memiliki kelenjar racun pada kulitnya, seperti pada famili Bufonidae (Iskan-dar, 1998 dalam Prasetyo et al., 2015). Beberapa waktu yang lalu telah ditemukan spesies katak ber-taring spesies baru endemik Pulau Sulawesi,

(Limno-nectes larvaepartus) yang demikian unik di antara

katak lainnya, yaitu katak ini memiliki kedua fertilisa-si, fertilisasi internal dan dan juga dapat melahirkan berudu. (Iskandar et al., 2014).

Kusrini (2007) menyatakan bahwa data mengenai keberadaan dan status amfibi di Indonesia masih sangat terbatas. Sedangkan penelitian mengenai biologi dan ekologi amfibi masih belum terlalu ba-nyak dan biasanya dilakukan hanya pada jenis-jenis yang umum dijumpai (Kusrini, 2013). Umumnya re-ferensi mengenai amfibi ada di Jawa dan Bali (Iskandar, 1998), Jawa Barat (Kusrini, 2013), Kali-mantan Tengah (Mistar, 2008), dan Alas Purwo, Ba-nyuwangi, Jawa Timur (Yanuarefa et al., 2012). se-dangkan panduan lapangan atau kunci identifikasi jenis-jenis amfibi di Sumatera masih sangat minim sekali datanya.

3

METODE PENELITIAN

Survei studi pendahulauan untuk inventarisasi ma-malia telah dilakukan pada 1-5 dan 10-14 Oktober 2015 di kawasan Hutan Lindung Bukit Cogong II, KPHP Model Benakat-Bukit Cogong Provinsi Suma-tera Selatan (Gambar 1). Secara administratif, kawa-san ini berada di Kecamatan Suku Tengah Lakitan Ulu, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera

Selatan. Dengan titik koordinat 03o08’06,2”LS dan

102o55’47,8”BT.

Gambar 1. Peta Tata Hutan Resort Bukit Cogong (KPHP Model-Benakat Bukit Cogong).

Alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu alat tulis, alat suntik, buku panduan identifikasi Amfibi (Iskandar, 1998, Kusrini, 2013 & Kurniati, 2003),

GPS (Global Positioning System), headlamp, jam

tan-gan/stop watch, jaring penangkap katak, kamera

DSLR Canon D1100, kaliper, kantong spesimen, ka-pas, kertas label, komka-pas, peta, senter, tabung sam-pel, dan tali raffia. Sedangkan bahan yang akan di-gunakan dalam penelitian ini adalah alkohol 70% yang digunakan untuk pengawetan spesimen.

Metode Pengamatan

Pengambilan data amfibi menggunakan metode

Vis-ual Encounter Survey (VES). Metode ini digunakan

untuk mengetahui keanekaragaman jenis amfibi su-atu daerah, mengumpulkan daftar jenis dan mem-perkirakan kelimpahan relatif spesies (Bismark, 2011). Pelaksanaan di lapangan yaitu dimulai den-gan observasi. Pembuatan jalur pengamatan pada masing-masing lokasi dilakukan secara Purposive

mempertimbangkan tipe komunitas yang ada, dima-na 200-400 meter untuk habitat akuatik dan 800-1000 meter untuk habitat terestrial Kusrini (2009). Panjang jalur pengamatan bisa lebih panjang atau lebih pendek, tergantung kondisi jalur pengamatan.

Pengumpulan data dilakukan dengan cara men-jelajahi jalur pengamatan pada pagi dan malam hari dengan 3 kali pengulangan untuk setiap jalur. Pen-gamatan pagi hari dilakukan pada pukul 08.00-11.00 WIB, sedangkan pengamatan malam hari dilakukan pada pukul 20.00-23.00 WIB.

(15)

Doni S., dkk/Studi Pendahuluan: Inventerisasi amfibi … JPS Vol.18 No. 2 Mei. 2016

18210-57

Pengawetan Spesimen

Menurut Darmawan (2008) pengawetan spesimen hanya dilakukan terhadap individu amfibi yang be-lum teridentifikasi. Spesimen amfibi yang diawetkan hanya diambil maksimal dua individu untuk tiap je-nis, sedangkan untuk jenis yang umum dan sudah teridentifikasi hanya diambil gambarnya secara me-nyeluruh. Pengawetan spesimen (preservasi) dimulai terlebih dahulu yaitu dengan mengidentifikasi ciri umum dan mendokumentasikan gambar pada saat spesimen masih hidup. Lalu menyiapkan alat dan bahan preservasi. Amfibi dimatikan dengan cara menyuntik amfibi dengan alkohol 70% dibagian ba-wah tengkorak.

Setelah mati, spesimen disuntik dengan alkohol 70% ke dalam bagian tubuh seperti perut, femur, tibia, tarsus dan bisep. Sebelum spesimen kaku, mu-lut spesimen dimasukan kapas untuk memudahkan identifikasi dan diberi kertas label yang berisi kete-rangan spesimen tesebut. Untuk penyimpanan se-mentara, spesimen tersebut dimasukkan ke dalam kotak yang beralaskan kapas yang sudah dibasahi alkohol 70%. Bentuk spesimen diatur supaya mudah untuk keperluan identifikasi. Spesimen kemudian dipindahkan ke dalam botol yang berisi alkohol 70% hingga terendam.

Identifikasi Amfibi

Identifikasi jenis-jenis amfibi dilakukan dengan menggunakan buku Panduan Lapangan Amfibi Ja-wa dan Bali (Iskandar, 1998), buku Panduan Ber-gambar Identifikasi Amfibi Jawa Barat (Kusrini, 2013), dan buku Amphibians & Reptiles of Gunung Halimun Natinal Park West Java, Indonesia (Kur-niati, 2003). Status Perlindungan mengacu pada sta-tus konservasi untuk jenis-jenis yang secara global terancam punah mengacu pada IUCN Red List 2016 (www.iucn.org) dan Daftar jenis yang dilindungi oleh Pemerintah Republik Indonesia (PI) mengacu pada Prijono, Noerdjito dan Maryanto (2001).

4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keragaman jenis-jenis amfibi selama survei di kawa-san Hutan Lindung Bukit Cogong II tercatat ditemu-kan 10 jenis dari 5 famili dan satu ordo yang berarti menunjukkan secara keseluruhan keanekaragaman amfibi di dalam kawasan tersebut masih cukup ren-dah. lengkap data mengenai jenis-jenis tersebut ter-saji pada Tabel 1.

Semua yang ditemukan tergolong dalam satu or-do yaitu oror-do Anura atau kelompok oror-do yang je-nisnya tidak berekor. Adapun pun jenis yang di da-pat tersebut yaitu famili Bufonidae: Bufo asper, Bufo

melanosticus, Bufo biporcatus, famili Ranidae yaitu

Hylarana baramica dan Rana chancolnota, famili

Di-croglossidae yaitu Fejevarya limnocharis, Fejevarya

cancrivora, Limnonectes sp. famili Rhacophoriidae,

yaitu Polypedates lecomystax dan famili Microhylidae yaitu Kaloula baleata.

Persentase jenis yang tertinggi ditemukan adalah dari kelompok famili Dicroglossidae yaitu jenis Fe-jervarya limnocharis sebanyak 44,44% dan Fejer-varya cancrivora sebanyak 33,33%, sedangkan jenis yang paling sedikit ditemukan adalah jenis Bufo as-per yang dalam usaha pencarian selama penelitian ditemukan hanya satu individu (2,22%).

Tabel 1. Jenis-jenis Amfibi di Kawasan Universitas Sriwi-jaya Indralaya

(River toad, Kodok buduk sungai) LC TD

Dicroglos-sidae

Fejervarya limnocharis (Grass frog,

Katak tegalan) LC TD

Fejervarya cancrivora

(Ricefield frog, Katak hijau/sawah) LC TD

Limnonectes sp.

(Creek frog, Katak bangkong) LC TD

Micro-hylidae

Kaloula baleata

(Flower toad frog, Katak belentuk) LC TD

Ranidae

Hylarana erythraea

(Green paddy frog, Kongkang gading) LC TD

Hylarana baramica

(Baram’s frog, Kongkang baram) LC TD

Rhacopho ridae

Polypedates leucomystax (Striped

tree-frog, Katak pohon bergaris) LC TD

Keterangan:

A Status Konservasi (IUCN, 2016); IUCN Status: LC (Least concern).

B Status konservasi (PI); PI ; Perlindungan Indonesia PP. No. 7 Thn 1999. TD (Tidak - dilindungi)

Perbandingan jumlah ini tidak terlalu jauh ber-beda bila dibandingkan dengan Novitasari (2013) di Hutan Lindung Gunung Ambawang sebanyak 11 jenis amfibi dan cukup berbeda dengan peneilitian Saepulloh (2011) di Gunung Poteng ditemukan se-banyak 24 jenis amfibi (Yani et al. 2015). Adanya perbedaan dalam peroleh jenis ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya; kondisi wilayah dan

effort (usaha) yang dilakukan dalam pencarian satwa

amfibi. Perhitungan effort biasanya berdasarkan la-manya waktu pencarian di lapangan dan luasan areal yang disurvei. Usaha dalam pencarian akan sangat menentukan penemuan spesies amfibi ketika penelitian (Kusrini et al., 2007).

(16)

Doni S., dkk/Studi Pendahuluan: Inventerisasi amfibi … JPS Vol.18 No. 2 Mei. 2016

°C. Menurut Berry (1975) dalam Yani et al 2015) amfibi mendapatkan suhu pertumbuhan yang opti-mum antara 26-33°C. Menurut Yuliana (2000), amfi-bi merupakan jenis satwa yang poikiloterm, tidak da-pat mengatur suhu tubuh sendiri sehingga suhu tu-buhnya sangat tergantung pada kondisi lingkungan-nya. Suhu udara berpengaruh secara nyata terha-dap perkembangan dan pertumbuhan amfibi selain itu amfibi membutuhkan kelembaban yang cukup untuk melindungi diri dari kekeringan pada kulitnya (Iskandar, 1998). Data pH air di habitat akuatik di sekitar lokasi penelitian berkisar 5,9–6,2 menunjuk-kan bahwa kondisi air hampir mendekati netral. Menurut Payne (1986) dalam Ariza et al. (2014), ki-saran pH air yang berada di daerah tropis adalah 4,3–7,5. Ukuran pH tersebut merupakan kondisi yang baik dalam kehidupan amfibi, sehingga pada penelitian ini tidak menemukan kecacatan yang ter-jadi pada amfibi. .

5

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

Jumlah jenis amfibi yang terdapat di kawasan Hutan Lindung Bukit Cogong II adalah 10 jenis yang terbagi ke dalam satu ordo Anura yang terdiri dari 5 famili.

Berdasarkan IUCN red list 2016 dari 10 jenis am-fibi yang ditemukan, semua jenis memiliki status konservasi beresiko rendah (Least Concern) dan ber-dasarkan status perlindungn Indonesia Peraturan Pemerintah No.7 tahun 1999 tidak ditemukan jenis yang dilindungi.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak Un-iversitas Sriwijaya yang telah memberi dukungan fi-nansial terhadap penelitian ini melalui Hibah Kompe-titif UNSRI dengan No.206/UN9.3.1/LT/2015 Tanggal 17 April 2015.

REFERENSI _____________________________

[1] Ariza, Y.S., Dewi B.S, dan Darmawan A., 2014.

Keane-karagaman Jenis Amfibi (Ordo Anura) pada beberapa Tipe Habitat di Yuth Camp Desa Hurun, Kecamatan padang Cermin Kab. Pesawaran. Bandang Lampung. Jurnal Sylva Lestari. Vol.2. No.1.

[2] Bain, R., Biju, S.D., Brown, R., Das, I., Diesmos, A.,

Dutta, S., Gower, D., Inger, R., Iskandar, D., Kaneko, Y., Neng, M.W., Lau., Meegaskumbura. M., Ohler, A., Papenfuss, T., Pethiyagoda, R., Stuart, B., Wilkinson, M., dan Xie, F. 2008. Chapter 7. Amphibians Of The

Indomalayan Realm. In Stuart, S. J. Hoffmann, J. Chanson, N. Cox, R. Berridge, P. Ramani and B. Young (eds). Threatened Amphibians of the World. IUCN-Conservation International-Lynx Press.

[3] Bismark, M. 2011. Prosedur Operasi Standar (SOP)

un-tuk Survei Keragaman Jenis pada Kawasan Konservasi. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Peruba-han Iklim dan Kebijakan Badan Penelitian dan Pen-gembangan Kehutanan, Kementerian Kehutanan, In-donesia.

[4] Iskandar, D.T. 1998. Amfibi Jawa dan BaliSeri

Pan-duan Lapangan. Bogor: Puslitbang Biologi LIPI.

[5] Iskandar, D.T, Evans, B.J, McGuire, J.A. 2014. A Novel

Reproductive Mode in Frogs: A New Species of Fanged Frog with Internal Fertilization and Birth of Tadpoles. PloS ONE 9(12): e115884. doi:10.1371/journal.pone. 0115884.

[6] IUCN. 2016. IUCN Red List of Threatened Species.

www.iucnredlist.org. diakses 1 Mei 2016.

[7] Kurniati, H. 2003. Amphibians and Reptiles of Gunung

Halimun National Park, West Java, Indonesia (frogs, liz-ards and snakes). Cibinong: Research Center for Biolo-gy – LIPI.

[8] Kusrini, M.D. 2007. Konservasi Amfibi di Indonesia:

Ma-salah Global dan Tantangan (Conservation of Amphi-bian in Indonesia: Global Problems and Challenges). Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan

Eko-wisata. Media Konservasi XII (2) Agustus 2007 : 89 – 95

[9] Kusrini, M.D. 2009. Pedoman Penelitian dan Survei

Am-fibi di Alam. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB

[10]Kusrini, M.D. 2013. Panduan Bergambar Identifikasi

Amfibi Jawa Barat. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB dan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati.

[11]Leliana, H.N. 2014. Rencana Pengelolaan Hutan

Jangka Panjang. KPHP Model Benakat Bukit Cogong Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2015-2024. Palembang.

[12]Prasetyo, C.Y., Yustian, I., dan Setiawan, D. 2015. The

diversity of amphians in Campus Area of Sriwijaya Uni-versity Indralaya, Ogan Ilir, South Sumatra. Biology Department FMIPA University of Sriwijaya. Biovalen-tia: Biological Research Journal Vol 1. November 2015.

[13]Setiawan, D, Yustian, I, Iqbal, M, dan Setiawan, A.

2016. Studi pendahuluan. Inventarisasi mamalia di Kawasan Hutan Lindung Bukit Cogong II. UGM, Jo-gyakarta. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan. Vol 2. No.1 Tahun 2016.

[14]Yani, A. Said, S. dan Erianto, 2015. Keanekaragaman

Jenis Amfibi Ordo Anura di kawasan Lindung Gunung Semahung, Kec. Senga Temila. Kab. Landak. Untan Kalimantan Barat. Jurnal Hutan Lestari Vol 3 (1) 2015.

[15]Yanuarefa, M.F., Hariyanto, G. dan Utami, J. 2012.

(17)

Jurnal Penelitian Sains Volume 18 Nomor 2 Mei 2016

© 2016 JPS MIPA UNSRI 18211-59

Saponin Biji Klabet pada Organ Reproduksi Tikus Jantan

Sprague Dawley®

Sri Nita1, Ummi Hiras Habisukan2, dan Nyayu Fauziah Zen3

1,3 Biologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya. 2STIK, Siti Khadijah, Palembang

Abstract:Fenugreek seed saponin is one alternative of antifertilitas medicinal plants. Research purposes is to determine the effect of the fenugreek seeds saponin againts the reproductive organ, that is weight and histological structure of the testis and epididymis Sprague Dawley® rat. Research design using randomized design complete. The control group was given distilled water, the treatment group were given fenugreek seed saponin with doses of 40, 80, & 120 mg/kg bw. Treatment is administered orally 1x/day for 24 days. Award saponin start dose of 40 mg/kg bw can reduce the weight of the testes and reduce the size of the diameter of seminiferous tubules. Thick germ cells begin to be affected at higher doses, 120 mg/kg bw. Epididymis weight is reduced significantly compared to the control start at dose 80 mg/kg bw and giving a higher dose, 120 mg/kg bw significantly further reduces the weight of the epididymis. Saponin administration starting dose of 80 mg/kg bw already significantly reduced the thickness of the epithelium of the epididymis. Giving a higher dose of 120 mg/kg bw increasingly signifcant cause epididymal epithelium thickness thinner. It can be concluded that the administration of saponin fenugreek seeds caused a reduction in weight and histological changes in the testis and epididymis structure of rat Spraque Dawley®

Keywords: Saponin Biji Klabet, Berat Testis dan Epididimis, Diameter Tubulus Seminiferus, Tebal Epitel Germinal, Tebal Epitel Epididimis

Email: [email protected], [email protected]

1

PENDAHULUAN

ertumbuhan penduduk Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir telah mengalami pe-ningkatan sebesar 1,49%. Dengan jumlah penduduk 245 juta pada Maret 2012, Indonesia berada pada urutan ke-empat setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menekan laju pertumbuhan ini adalah dengan program Keluarga Berencana (KB). Jumlah penduduk yang telah mengikuti program KB sebesar 61%. Dari jumlah ini hanya 8,5% pria yang merupakan akseptor KB, selebihnya adalah wanita (BKKBN, 2013).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendah-nya partisipasi pria untuk ikut serta dalam program KB. Diantaranya adalah kurangnya konseling pada pria mengenai KB, faktor sosial budaya yang meng-anggap KB hanya untuk wanita, kurangnya penge-tahuan serta kesadaran pria untuk berpartisipasi, dan yang paling utama adalah terbatasnya jenis atau pilihan alat kontrasepsi (BKKBN, 2013).

Alat kontrasepsi yang sesuai untuk pria harus dapat mencegah terjadinya fertilisasi, tidak memiliki efek samping, mempunyai kinerja yang cepat, aman, serta yang terpenting tidak mempengaruhi libido dan potensi seksual. Untuk memenuhi kriteria ter-sebut saat ini banyak peneliti yang melakukan riset.

Salah satunya adalah pengembangan kontrasepsi pil yang berbahan dasar tanaman obat yang diyakini memiliki khasiat sebagai antifertilitas pria.

Tanaman Trigonella foenum-graecum L. yang dikenal dengan istilah fenugreek dalam bahasa Ing-gris dan klabet dalam bahasa Indonesia merupakan salah satu tanaman obat alternatif antifertilitas. Biji tanaman ini mengandung saponin berupa diosgenin yang merupakan prekursor steroid yang sering digunakan sebagai bahan dasar pembuatan hormon steroid (Tarigan, 1980).

Senyawa antifertilitas pada prinsipnya bekerja dengan dua cara yaitu melalui efek sitotoksik dan melalui efek hormonal yang menghambat laju meta-bolisme sel spermatogenik dengan cara menggang-gu keseimbangan hormon (Kusumah, 1999). Menu-rut Wiryawan dkk., (2009), pemberian ekstrak biji klabet pada kelinci jantan menyebabkan kerusakan tubulus seminiferus dan penurunan jumlah sel spermatozoa.

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Saponin Biji Klabet (Trigonella

foenum-graecum L.) terhadap perubahan berat dan struktur

histologis testis dan epididimis tikus Sprague Dawley®.

(18)

Sri Nita, dkk/Saponin Biji Klabet pada Organ Reproduksi … JPS Vol.18 No. 2 Mei. 2016

2

KAJIAN LITERATUR

Spermatozoa dibentuk dari sel germinal primitif di sepanjang dinding seminiferi dalam proses yang disebut spermatogenesis (Guyton, 1997). Spermato-genesis dikendalikan oleh sistem saraf pusat dan dapat berjalan normal jika jalur antara hipotalamus-hipofisis-testis membentuk sistem neuroendokrin yang berjalan normal, melaui mekanisme release dan feed back antara ketiga organ tersebut. Hipotalamus merupakan tempat sintesa GnRH yang melalui sistem release akan merangsang hipofisis untuk mensekresikan Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Lutheinizing Hormone (LH) yang akan merangsang testis untuk mensekresikan testosteron dan inhibin. Inhibin akan berperan sebagai modulator signal feed back ke hipotalamus untuk menghambat sintesa GnRH yang kemudian akan berakibat pada hipofisis untuk menghambat sekresi FSH dan LH (Nieschlag, 2001).

Penurunan jumlah sel spermatozoa diduga kare-na penghambatan sekresi testosteron. Hal tersebut terjadi karena diosgenin dalam kandungan saponin mempunyai inti steroid dan struktur molekul mirip kolesterol yang merupakan prekursor testosteron, sehingga dapat menempati reseptor testosteron. Dengan ditempatinya reseptor testosteron, maka menimbulkan feedback negatif, sehingga testosteron yang dihasilkan oleh sel leydig juga dihambat sekresinya (Tarigan, 1980). Testosteron adalah hor-mon yang mempunyai fungsi dalam pembentukan spermatozoa (Guyton, 1997).

Sel sertoli berperan dalam menyediakan laktat, transferin dan androgen binding protein untuk metabolisme sel germinal (Walker & Cheng, 2005). Fungsi sel sertoli dikendalikan oleh Follicle Stimu-lating Hormone dan testosteron. Penurunan testos-teron karena efek diosgenin yang dikandung sapo-nin menyebabkan kinerja sel sertoli menjadi tidak optimal, sehingga terjadi gangguan proses spermio-genesis, gangguan metabolisme sel germinal, bah-kan bisa menyebabbah-kan apoptosis sel (Henriksen et al., 1996).

Penurunan jumlah sel spermatozoa juga dimung-kinan melalui beberapa mekanisme seperti adanya gangguan dalam proses meiosis, gangguan proses spermiogenesis awal karena lepasnya spermatid ke lumen tubulus, dan karena terjadi apoptosis sper-matid. Penurunan tersebut dihubungkan dengan penurunan testosteron dan FSH. Proses meiosis spermatosit primer menjadi spermatosit sekunder dan membentuk spermatid diatur oleh testosteron dan atau FSH melalui aksinya pada sel sertoli (Mc Lachlan, 2000).

Menurut penelitian Rekha & Chndrasekhara

(2014) saponin dalam kandungan daun Ziziphus jujuba dapat menyebabkan menurunnya jumlah dan motilitas sperma, menurunkan fertilitas, menurun-kan berat testis dan epididimis, dan menyebabmenurun-kan kerusakan pada tubulus seminiferus pada tikus jantan.

Dari beberapa penelitian di atas diketahui ekstrak biji klabet mengandung senyawa yang berpotensi sebagai antifertilitas. Hipotesis pada penelitian ini terjadi perubahan berat dan struktur histologis testis dan epididimis pada tikus jantan Sprague Dawley® akibat pemberian fraksi saponin dalam kandungan biji klabet (Trigonella foenum-graecum L.)

3

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian ekspe-rimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL)

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi hewan uji dalam penelitian ini adalah tikus jantan (Rattus norvegicus) strain Sprague Dawley®. Sampel dibagi ke dalam empat kelompok dengan cara complete random sampling sehingga jumlah tikus yang digunakan adalah 24 ekor.

Persiapan bahan uji

Biji klabet diekstraksi dengan cara maserasi meng-gunakan pelarut metanol.Maserasi dilakukan selama 3 x 24 jam sampai terekstraksi sempurna. Kemudian filtrat dipekatkan dengan rotary evaporator sampai menjadi ekstrak kental. Selanjutnya masuk ke tahap fraksinasi. Sejumlah 261 gram ekstrak metanol kental dilarutkan dengan 300 ml metanol destilat, dimasukkan ke dalam corong pisah (1000 ml), ditambahkan 300 ml n-heksana destilat, dikocok selama ± 15 menit dengan sesekali kran dibuka untuk membuang gas yang terbentuk, diamkan sehingga terbentuk 2 lapisan, lapisan atas (fase n-heksan), lapisan bawah (fase metanol).

Fase metanol dituang ke dalam erlenmeyer, sedangkan fase n-heksana ditampung dalam wadah (botol), fase metanol dimasukkan kembali kedalam corong pisah kemudian ditambahkan 300 ml n-heksana untuk dipartisi kembali. Partisi dilakukan berulang-ulang dengan menambahkan 300 ml n-heksan redestilat pada setiap kali partisi sampai warna fase n-heksana mendekati warna n-heksan destilat.

(19)

Sri Nita, dkk/Saponin Biji Klabet pada Organ Reproduksi … JPS Vol.18 No. 2 Mei. 2016

18211-61 ±40°C, kecepatan putaran labu rotavapor 80-90 rpm dan suhu chiller 10-15°C. Fase metanol dike-ringkan kembali dengan menggunakan rotavapor. Setelah kering dilarutkan kembali dengan 300 ml akuades, dimasukkan kedalam corong pisah (1000 ml). Etil asetat destilat dijenuhkan dengan akuades dan ditambahkan kedalam corong pisah sejumlah 300 ml, kocok selama ± 15 menit dengan sesekali kran dibuka untuk membuang gas yang terbentuk, diamkan sehingga terbentuk 2 lapisan, lapisan atas (fase etil asetat), lapisan bawah (fase akuades).

Fase akuades dituang ke dalam erlenmeyer dan fase etil asetat ditampung. Fase akuades dimasukkan kembali ke dalam corong pisah, kemudian ditam-bahkan 300 ml etil asetat destilat untuk mengulang partisi sampai warna fase etil asetat mendekati warna etil asetat destilat. Fase akuades dimasukkan kedalam corong pisah (1000 ml) kemudian ditam-bahkan 200 ml n-butanol destilat jenuh air, kocok selama ± 15 menit dengan sesekali kran dibuka untuk membuang gas yang terbentuk, diamkan sehingga terbentuk 2 lapisan, lapisan atas (fase n-butanol), lapisan bawah (fase akuades). Fase akua-des dituang ke dalam erlenmeyer dan fase n-butanol ditampung. Fase air dimasukkan kembali ke dalam corong pisah, kemudian ditambahkan 300 ml n-butanol destilat untuk mengulang partisi sampai warna fase n-butanol mendekati warna n-butanol destilat.

Fase n-butanol dipekatkan dengan rotavapor pada suhu waterbath ± 45°C, kecepatan putaran labu rotavapor 80-90 rpm dan suhu chiller 10-15°C sehingga diperoleh fraksi kental butanol. Fraksi n-butanol selanjutnya dicuci dengan eter, setelah itu dilarutkan dalam metanol, disaring dan kemudian filtrat metanol ditambah eter berlebih dan endapan disaring dan merupakan saponin.

Sebelum digunakan, dilakukan skrining fitokimia untuk mengetahui dan mengkonfirmasi keberadaan kandungan saponin pada fraksi yang didapatkan, diuji dengan cara sebagai berikut diambil 0,2 g fraksi biji Klabet lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 7 ml air panas, didinginkan dan kemu-dian dikocok vertikal selama 10 detik. Pembentukan busa setinggi 1 – 10 cm yang stabil selama kurang kelompok perlakuan dosis yang dipilih secara acak.

Tiap-tiap kelompok terdiri dari 6 ekor tikus. Kelom-pok kontrol diberikan aquades dan kelomKelom-pok perlakuan diberikan saponin biji klabet dengan dosis 40, 80 dan 120 mg/kg bb.Perlakuan diberikan secara oral 1x/hari selama 24 hari. Setelah 24 jam pemberian dosis terakhir dilakukan pembiusan dengan cara meletakkan kloroform pada dasar stoples lalu tikus dimasukkan ke dalam wadah yang tertutup. Hewan dikeluarkan dan dapat mulai dibedah jika sudah kehilangan kesadarannya. Tikus didekapitasi lalu ronggaabdomen dan pelvisdibuka dengan menggunakan gunting sirurgis untuk men-dapatkan testis dan epididimis. Pembuatan preparat histologis dilakukan di Laboratorium Patologi Anato-mi Dyatnitalis Palembang. Pengamatan dilakukan terhadap berat, diameter & tebal epitel germinal testis serta berat dan tebal epitel epididimis.

Pengamatan Berat dan Sediaan Histologi Testis Dan Epididimis Serta Pembuatan Mikrofoto

Organ reproduksi yang ditimbang adalah testis dan epididimis. Semua organ tersebut diambil dan diber-sihkan dalam larutan NaCl 0.9% sampai lemak yang menempel pada organ tersebut hilang, kemudian dikeringkan dengan kertas tissu dan ditimbang

Setiap testis dan epididimis dari seekor tikus putih jantan masing-masing dibuat 1 sediaan histologi. Pengamatan histologi testis dan epididimis menggu-nakan mikroskop dengan pembesaran 100 kali. Pengukuran diameter tubulus seminiferus, tebal epitel germinal dan tebal epitel epididimis dilakukan dengan menggunakan mikrometer okuler sebelum-nya dilakukan penyetaraan dengan menggunakan mikrometer objektif.

tebal sel germinal =Θ tubulus− Θ lumen

2

Untuk satu preparat testis diamati 5 tubulus niferus yang berbentuk bulat, karena tubulus semi-niferus yang berbentuk bulat berarti terpotong melintang. Dari kelima pengamatan tersebut diambil rata-ratanya. Histologi mikroanatomi testis akan disajikan dalam bentuk foto perbesaran 100x.

Penghitungan tebal epitel epididimis dari sediaan histologi epididimis sebagai berikut: diameter epidi-dimis dikurang diameter lumen epidiepidi-dimis kemudian dibagi dua. Untuk satu preparat epididimis diamati 3 potongan di daerah cauda epididimis. Dariketiga pengamatan tersebut diambil rata-ratanya.

Analisis Data

(20)

homo-Sri Nita, dkk/Saponin Biji Klabet pada Organ Reproduksi … JPS Vol.18 No. 2 Mei. 2016

gen dilakukan uji Anova yang dilanjutkan dengan Post Hoc Benferroni tahap 5% untuk melihat perbedaan antar kelompok kontrol dan masing-masing perlakuan. Namun, apabila data berdistribusi tidak normal atau tidak homogen maka dilakukan uji Anova yang dilanjutkan dengan Post Hoc Games Howell (SPSS 21).

4

HASIL PENELITIAN

Hasil pengamatan terhadap berat dan struktur histologis testis dan epididimis dapat dilihat pada Tabel 1dan Tabel 2.

______________________________________________________

Tabel 1. Rata-rata berat testis, diameter tubulus seminiferus, tebal sel-sel germinal kelompok kontrol dan perlakuan yang diberi fraksi saponin klabet

Kelompok Rata-rata Rata-rata Diameter Tubulus Rata-rata Tebal

Berat Testis ± SD (g) Seminiferus ± SD (µm) Sel Germinal ± SD (µm)

KA 1,35 ± 0,06a 335,72 ± 3,10a 86,68 ± 1,15a

KB 1,17 ± 0,03b 327,47 ± 5,02b 85,01 ± 1,24a

KC 1,06 ± 0,04c 318,55 ± 4,33c 84,63 ± 2,33a

KD 0,92 ± 0,08d 300,14 ± 5,46d 81,91 ± 0,71b

Post Hoc Test Bonferroni

Ket: Akuades(KA) , Dosis saponin biji klabet 40 mg/kg BB(KB) , Dosis saponin biji klabet 80 mg/kg BB(KC) , Dosis saponin biji klabet 120 mg/kg BB(KD). Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata ( p<0.05)

______________________________________________________

Rata-rata berat testis kelompok perlakuan menu-run secara signifikan dibandingkan kelompok kon-trol. Demikian juga antar kelompok perlakuan terjadi perbedaan yang nyata dalam penurunan berat testis akibat pemberian fraksi saponin. Dia-meter tubulus seminiferus kelompok yang diberi fraksi saponin berbeda dari kelompok kontrol, yaitu diameternya lebih kecil dibandingkan kelompok kontrol. Ukuran diameter tubulus seminiferi antar kelompok perlakuan juga berbeda signifikan.

Pemberian fraksi saponin mulai dosis 40 mg/kg bb sudah dapat menurunkan berat testis dan mengurangi ukuran diameter tubulus seminiferus. Bertambah tingginya dosis yang diberikan makin menurun pula berat testis dan ukuran diameter tubulus seminiferus. Tebal sel germinal baru terpengaruh pada dosis tinggi, yaitu fraksi saponin dosis 120 mg/kg bb (Tabel 1 dan Gambar 1).

Gambar 1. (A) Diameter Tubulus Seminiferus ( ) dan Tebal epitel germinal Kontrol ( ). (B) Diameter Tubulus Seminiferus dan Tebal epitel germinal setelah diberi perlakuan fraksi saponin 120 mg/kg bb (Pembesaran

100 X)

Tabel 2. Rata-rata berat epididimis dan tebal epitel epididimis kelompok kontrol dan perlakuan yang diberi

fraksi saponin klabet

Kelom-pok

Rata-rata Berat Epididimis ± SD (g)*

Tebal Epitel Epididi-mis ± SD (µm)**

KA 0,42 ± 0,03a 21,54 ± 1,35a

KB 0,36 ± 0,04ab 19,73 ± 0,78a

KC 0,31 ± 0,04b 15,96 ± 1,06b

KD 0,24 ± 0,04c 12,84 ± 0,19c

* Post Hoc Test Bonferroni ** Post Hoc Test Games Howell

Ket: (KA) Akuades, (KB) Dosis saponin biji klabet 40 mg/kg BB, (KC) Dosis saponin biji klabet 80 mg/kg BB, (KD) Dosis saponin biji klabet 120 mg/kg BB. Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata ( p<0.05)

Berat epididimis tikus jantan yang diberi fraksi saponin klabet terlihat menurun dibandingkan kon-trol. Berat epididimis dosis 40 mg/kg bb walaupun terjadi penurunan tetapi belum berbeda nyata dibandingkan kontrol. Penambahan dosis menjadi 80 mg/kg bb berat epididimisnya makin menurun tetapi belum berbeda nyata jika dibandingkan dengan dosis 40 mg/kg bb.

Berat epididimis menurun secara nyata diban-dingkan kontrol mulai dosis 80 mg/kg bb dan pem-berian dosis yang lebih tinggi yaitu 120 mg/kg bb secara nyata makin menurunkan berat epididimis bahkan jika dibandingkan dengan pemberian fraksi saponin klabet dosis 80 mg/kg bb.

Gambar

Gambar 2. Diagram Penelitian
Gambar 3. Grafik Pengukuran fantom homogen dan inhomogen secara statik
Gambar 1. Daerah kajian
Gambar 2. Komposisi makrofauna yang ditemukan di                  Perbedaan komposisi makrofauna yang ditemu-
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Galur harapan yang memiliki potensi hasil tinggi pada lahan masam optimal dan non optimal adalah Galur harapan KH2, KH31, KH35, KH40, KH42 dan

Penentuan berat molekul rerata Penentuan be- rat rerata terhadap poliblend polivinil klorida minyak biji karet epoksi sebelum dan sesudah biodegradasi de- ngan menggunakan

Adapun saran yang dapat diungkapkan dari peneli- tian ini adalah sebagai berikut agar dapat dilakukan penelitian lanjut terhadap kandungan alkoloid pada tumbuhan Avicennia marina

Intisari: Dalam suatu benda yang memiliki gradien temperatur maka akan terjadi perpindahan energi atau peram- batan panas dari bagian yang bertemperatur tinggi ke bagian

Nilai sensitivitas saham terhadap pasar yang tertinggi dimiliki oleh saham TINS yaitu sebe- sar 2,012526522, yang berarti bahwa saham TINS lebih sensitif dan agresif dari pasar

Intisari: Modul atas ring R merupakan generalisasi dari ruang vektor atas suatu lapangan. Jika gelanggang R di dalam modul adalah suatu lapangan, maka ada beberapa perbedaan

Untuk data ini, model yang didapat dari Metode Fraksi lebih baik daripada model terbaik dari Step- wise dan Best Subset Regression terutama jika pertim- bangan utamanya adalah

Gambar 3 menunjukkan bahwa spesies yang mendominasi pada lahan kontrol dan lahan dengan aplikasi trap crop adalah Marasmia patnalis yang merupakan Arthopoda herbivora dari