• Tidak ada hasil yang ditemukan

Vol. 18 Nomor 1, Januari 2016 | JURNAL PENELITIAN SAINS jps v18 no1 lengkap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Vol. 18 Nomor 1, Januari 2016 | JURNAL PENELITIAN SAINS jps v18 no1 lengkap"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Penelitian Sains

Jurnal Penelitian Sains

JPS

e

e

e

e

(2)

urnal Penelitian Sains (JPS) FMIPA UNSRI terbit tiga kali setahun pada bulan Januari, Mei,

J

dan September, sebagai wahana komunikasi ilmiah di bidang sains serta lintas ilmu yang terkait; diterbitkan sejak 1 Oktober 1996 oleh UP2M FMIPA Universitas Sriwijaya, ISSN 1410-7058. Jurnal ini berisikan tulisan atau karangan ilmiah dalam berbagai bidang tersebut yang diangkat dari hasil penelitian, survei, atau telaah pustaka, yang belum pernah dipublikasikan dalam terbitan lain.

Pelindung : Drs. Muhammad Irfan, M.T. (Dekan FMIPA Universitas Sriwijaya) Penanggung Jawab : Dr. Arum Setiawan, M.Si. (Ketua UP2M FMIPA Universitas Sriwijaya)

Pimpinan Redaksi : Dr. Akhmad Aminuddin Bama, M.Si. Redaktur Pelaksana : Hadi, S.Si., M.T.

Pelaksana Tata Usaha : Effendi M. Z.

Alamat Redaksi : UP2M FMIPA UNSRI, Gedung FMIPA UNSRI Lt. 2,

Jalan Raya Palembang-Prabumulih Km 32, Kampus Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Telp. 0711-580268, Faks. 0711-580056.

Homepage:http://www.jpsmipaunsri.wordpress.com

Email: [email protected]; [email protected]

Redaksi menerima sumbangan tulisan yang belum pernah diterbitkan sebelumnya oleh penerbit lain. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Inggris yang baik dan benar, tidak mengandung unsur politik, komersialisme, atau subjektifitas yang berlebihan.

http://www.jpsmipaunsri.wordpress.com

JPS

e

e

e

e

N

Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc.

(3)

J

urnal

P

enelitian

S

ains

ISSN: 1410-7058

Volume 18 Nomor 1, Januari 2016

JPS

e

e

e

DAFTAR ISI

Aspek Reproduksi Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Block) di Perairan Terusan Dalam Kawa-san Taman Nasional Sembilang Pesisir Kabupaten Banyuasin

Moh. Rasyid Ridho dan Enggar Patriono ... 18101-1

Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga dengan Menggunakan Proses Gabungan Saringan Bertingkat dan Bioremediasi Eceng Gondok (Eichornia crassipes), (Studi Kasus di perumahan Griya Mitra 2, Palembang)

Elok Nilasari, M. Faizal, dan Suheryanto ... 18102-8

Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga: Sebuah Studi di Kecamatan Sukarami Kota Palembang

Martinawati, Imron Zahri, dan M. Faizal ... 18103-14

Kelimpahan Arthropoda Karnivora di Pertanaman Padi Ratun di Sawah Lebak yang Diapli-kasikan Bioinsektisida Bacillus thuringiensis

Fila Sunariah, Siti Herlinda, dan Yuanita Windusari ... 18104-22

Penggunaan Data Inderaja untuk Mengkaji Perubahan Kawasan Hutan Lindung Pantai Utara Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan Sejak Tahun 1978-2014

Fisop Nurhuri, Dedik Budianta, dan Moh. RasyidRidho ... 18105-29

Pengaruh Pemberian Hidrokuinon Terhadap Perkembangan Fetus Mencit (Mus musculus L.) Swiss Webster

Rubiyati ... 18106-34

Perilaku Masyarakat dalam Pengelolaan Kesehatan Lingkungan (Studi di Desa Segiguk sebagai Salah Satu Desa Penyangga Kawasan Hutan Suaka Margasatwa Gunung Raya Ogan Komering Ulu Selatan)

Masayoe Shari Fitriany, H. M. A. Husnil Farouk, dan Ridhah Taqwa ... 18107-41

(4)
(5)

Aspek Reproduksi Ikan Kakap Putih (

Lates calcarifer

Block)

di Perairan Terusan Dalam Kawasan Taman Nasional

Sembilang Pesisir Kabupaten Banyuasin

Moh. Rasyid Ridho dan Enggar Patriono

Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya

Intisari: Penelitian mengenai aspek reproduksi ikan Kakap putih (L. calcarifer Block) di Perairan Terusan Dalam kawasan Taman Nasional Sembilang Pesisir Kabupaten Banyuasin telah dilakukan pada bulan Maret sampai Juni 2012. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek reproduksi ikan Kakap putih (L. calcarifer Block) yang meliputi hubungan panjang-berat, rasio kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), fekunditas dan diameter telur. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan alat tang-kap jaring tangsi yaitu jaring dengan mata jala berdiameter 3-4 inchi dan berukuran 100-500 meter yang dipa-sang menutupi sebagian perairan sepanjang aliran sungai dengan tinggi jaring berkisar antara 5 - 15 m dengan sistem pemasangan zig-zag. Jumlah ikan Kakap putih yang diperoleh dari bulan Maret sampai bulan Juni ber-jumlah 31 ekor. Pola pertumbuhan ikan Kakap putih (L. calcarifer Block) bersifat allometrik negatif. Ikan Kakap putih (L. calcarifer Block) termasuk ikan hermaprodit protandri yaitu sifat perubahan kelamin dari jantan men-jadi betina. Tidak ditemukan ikan Kakap putih berjenis kelamin betina. Tingkat kematangan gonad (TKG) ikan Kakap putih (L. calcarifer Block) berdasarkan sampel dikelompokkan menjadi TKG I, II, dan III dengan kisaran indeks kematangan gonad (IKG) antara 0,0012 % sampai 0,006 %.

Kata kunci: Ikan Kakap putih, Perairan Terusan Dalam, Taman Nasional Sembilang, Reproduksi.

Abstract: The research about the aspect of White Snapper fish reproduction (Lates calcarifer Block) in Terusan Dalam Sembilang National Park Coast of Banyuasin had been carried out in March to June 2012. This research aimed to determine the reproduction aspect of White Snapper fish (L. calcarifer Block) which covered the lenght-weight relationship, sex ratio, maturity level of the gonads and gonad maturity index. The sampling was carried out using tangsi net with a mesh size 3-4 inches in diameter and 100-500 meters in lenght were installed to cover most of the waters along the river to the height of the nets ranged from 5-15 m with a zig-zag mounting system installation measuring. The sampling was conducted from March to June and obtained 31 fishes. The results of this research showed that the growth pattern of White Snapper fish (L. calca-rifer Block) was negative allometric. White Snapper fish (L.calcarifer Block) was included protandri hermaprodite fish that was the changing nature of male to female sex. The female sex of White Seabass were not founded. Gonad maturity level of White Snapper fish (L.calcarifer Block) based on the samples were grouped into I, II and III of gonad maturity level, with a range of gonad maturity index 0,0012 % to 0,006 %.

Keywords: White Snapper fish, Terusan Dalam Waters, Sembilang National Park, Reproduction.

Email: [email protected]

1

PENDAHULUAN

umatera Selatan memiliki keanekaragaman jenis

ikan yang tinggi. Hasil penelitian Ondara et al.,

(1987) menunjukkan sebanyak 90 jenis ikan dari 53 marga, 22 suku dan 11 bangsa telah teridentifikasi di Sumatera Selatan. Sebagian besar jenis ikan tersebut merupakan ikan air tawar (Patriono & Aryani 2001: 1).

Ikan merupakan salah satu organisme yang mendiami hampir seluruh lapisan perairan. Sebagai organisme yang paling banyak dikonsumsi manusia, ikan menjadi sangat penting di dalam dunia perikanan.

Ikan Kakap putih (Lates calcarifer Block) atau

lebih dikenal dengan nama lokal Seabass atau

Baramundi merupakan jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun luar negeri. Dipasaran harga ikan ini bisa mencapai Rp.

60.000,- per kg. Ikan Kakap putih (Lates calcarifer

Block) merupakan ikan yang mempunyai toleransi

yang cukup besar terhadap kadar garam (euryhaline)

dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan di air

tawar dan kawin di lautt) serta termasuk kedalam ikan karnivor (Febianto 2007: 4).

Ikan akan bereproduksi sebagai upaya untuk melestarikan jenisnya. Adanya kegiatan

(6)

Rasyid & Enggar/Aspek Reproduksi Ikan Kakap … JPS Vol.18 No. 1 Jan. 2016

18101-2 pan ikan Kakap putih secara terus menerus oleh para nelayan, akan mengakibatkan penurunan populasi ikan tersebut karena ikan yang tertangkap oleh nelayan terdiri dari berbagai ukuran sehingga dapat mempengaruhi kelestarian stok yang terdapat di alam.

Perairan Terusan Dalam merupakan perairan yang berada dikawasan Taman Nasional Sembilang dan secara geografis termasuk Desa Tanah Pilih terletak di sekitar muara Sungai Benu yang berbatasan dengan Propinsi Jambi. Salah satu potensi sumber daya di kawasan perairan Terusan Dalam adalah ikan. Terdapat banyak jenis ikan di kawasan perairan Terusan Dalam, salah satunya adalah ikan Kakap Putih.

Kawasan perairan Taman Nasional Sembilang

sebagian besar terdiri dari habitat muara (estuari)

dan terletak di pesisir timur Provinsi Sumatera Selatan, sehingga masukan air laut lebih dominan dibanding air tawar serta memiliki sentra perikanan tangkap dengan dinamika kadar salinitas lebih tinggi (Gaffar & Fattah 2006). Secara geografis kawasan

Taman Nasional Sembilang berada pada 104014’

-104054’BT dan 1053’- 2027’LS serta Taman Nasional

Sembilang termasuk ke dalam Kawasan Lindung Nasional dengan luas ± 202.896,31 ha (Balai TN. Sembilang & Departemen Kehutanan 2008: 1).

2

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Maret

sampai Juni 2012. Lokasi pengukuran kualitas air dan pengambilan ikan Kakap putih dilakukan di

Perairan Terusan Dalam Kawasan Taman Nasional Sembilang Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Identifikasi dan analisis aspek reproduksi ikan Kakap putih dilakukan di Laboratorium Taksonomi Hewan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya, Indralaya.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah alat tulis, dissecting set,

DO meter, ember, jaring tangsi, kamera, kantong

plastik, karet gelang, kertas label, kertas saring, ice

box, mikroskop, papan untuk bedah, petri disk, pH

meter, pipet tetes, penggaris, refraktometer, sarung

tangan, secchi disk, termometer, timbangan analitik

dan timbangan per kg serta tissue. Sedangkan bahan

yang dibutuhkan adalah air, larutan Gilson (alkohol

60%, air, asam nitrit, asam asetat glasial dan mercuri

chlorida) dan hasil tangkapan ikan Kakap Putih yang berasal dari perairan Terusan Dalam kawasan Taman Nasional Sembilang.

Cara Kerja

1. Pengambilan Sampel Ikan

Pengambilan sampel ikan dengan menggunakan jaring tangsi dengan sistem pemasangan zig-zag dengan jaring berukuran 100-500 meter dengan mata jala berdiameter 3-4 inchi yang dipasang menutupi sebagian perairan sepanjang aliran sungai dengan tinggi jaring berkisar antara 5 - 15 m yang dipasang pada sore hari dan diangkat pada pagi harinya.

Gambar 1. Pemasangan Jaring Tangsi dengan metode zig-zag

Ikan hasil tangkapan dihitung jumlahnya, diukur panjang total ikan, panjang standar ikan, difoto, ditimbang berat tubuh ikan, dicek jenis kelamin, dan secara morfologi, dibedah, dilihat TKG-nya, diambil gonadnya, kemudian diawetkan di dalam larutan gilson.

2. Pengukuran Kualitas Air

Parameter fisika dan kimia perairan yang diamati meliputi suhu air, kecerahan, pH, salinitas, dan DO

3. Parameter Pengamatan

Parameter pengamatan meliputi hubungan panjang-berat, rasio kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), fekunditas, dan diameter telur dengan menggunakan analisis regresi pada perangkat lunak Excel.

Hubungan Panjang dengan Berat Ikan

Hubungan panjang dengan berat dianalisis

menggunakan rumus (Hile 1963 dalam Effendie

2002: 97), yaitu:

b

aL W

dengan: W = berat tubuh ikan (gr), L = Panjang

total ikan (mm), a = intercept (perpotongan kurva

hubungan panjang-berat dengan sumbu y), dan b = slope (kemiringan).

Nilai b yang didapat dari persamaan tersebut

akan menunjukkan pola pertumbuhan isometrik atau

(7)

b = 3, yang berarti pertumbuhan ikan seimbang antara pertumbuhan panjang dengan pertumbuhan beratnya. Tetapi jika nilai b < 3 berarti pertambahan panjangnya lebih cepat dari pada pertambahan

beratnya (allometrik negatif) dan jika b > 3 maka

pertambahan beratnya lebih cepat dari

pertamba-han panjangnya (allometrik positif).

Rasio Kelamin

Rasio kelamin dihitung dengan rumus:

F M X

Ket : M = jumlah ikan jantan (ekor), dan F = jumlah ikan betina (ekor)

Untuk menganalisis perbandingan jenis kelamin

ikan contoh dilakukan uji Chi–kuadrat (χ2) (Effendie

1979) sebagai berikut:

ei ei Oi X2

Ket : oi = frekuensi ikan jantan dan betina ke-i yang diamati, ei = frekuensi harapan yaitu frekuensi ikan

jantan + frekuensi ikan betina dibagi dua, dan x2 =

nilai peubah acak x2 yang sebaran penarikan

contohnya mendekati sebaran Chi-kuadrat.

Tingkat Kematangan Gonad(TKG)

Pengamatan TKG ditentukan secara morfologi berdasarkan analisis ukuran, bentuk, warna, butiran minyak dan pengisian dalam rongga perut (Effendie 2002: 8).

Indeks Kematangan Gonad (IKG)

Menurut Effendie (1979 : 36), pengukuran indeks kematangan gonad dihitung dengan cara memban-dingkan berat gonad terhadap berat tubuh ikan dengan rumus:

% 100

 

Bt Bg IKG

dengan: IKG = Indeks kematangan gonad (%), Bg

= Berat gonad (g), dan Bt = Berat tubuh (g)

Fekunditas

Menurut Effendie (2002:44) menghitung fekunditas dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Q X V G

F  

dengan: F = fekunditas (butir), G = berat gonad

(g), V = isi pengenceran (100 ml), Q = telur

contoh (1 g), dan X = Jumlah telur tiap ml,

Diameter Telur

Pengamatan diameter telur dilakukan pada tiga bagian dari gonad untuk melihat perbedaan sebaran ukurannya, yaitu lapisan posterior, anterior, dan median sebagai gonad contoh. Masing-masing bagian gonad contoh tersebut diambil butir telurnya dengan jumlah total 150 butir telur, setelah itu diamati menggunakan mikroskop yang telah

dilengkapi dengan mikrometer okuler whiple grade.

3

HASIL

Hasil Pengukuran Panjang &Berat

Berdasarkan hasil penelitian yang telah

dilaksa-nakan, jumlah ikan Kakap Putih (Lates calcarifer

Block) yang diperoleh selama 4 bulan yaitu dari bulan Maret sampai bulan Juni 2012 di perairan Sungai Terusan Dalam Kawasan Taman Nasional Sembilang didapatkan sampel ikan berjumlah 31 ekor. Ikan yang diperoleh mempunyai ukuran panjang berkisar antara 19 cm sampai dengan 50

cm disajikan pada Gambar 2 di bawah ini:

Gambar 2. Grafik panjang dan berat tubuh ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Block).

Pada grafik terlihat panjang ikan yang diperoleh berkisar antara 19,3 cm hingga 50 cm dan jumlah ikan terbanyak berada pada ukuran panjang

berkisar antara 35,1 - 50 cm. Ikan Kakap Putih (Lates

calcarifer Block) terpanjang yang diperoleh beru-kuran 50 cm sesuai dengan ketentuan pengambilan sampel penelitian.

Panjang tubuh ikan Kakap Putih (Lates calcarifer

Block) dipengaruhi oleh habitat perairannya, karena berdasarkan hasil penelitian panjang rata-rata ikan berkisar antara 20-50 cm. Hal ini jauh berbeda dengan habitat perairan payau di muara sungai didapatkan ikan Kakap putih berukuran ± 90 cm dengan berat 10 kg. Tidak jauh berbeda dengan

pendapat Djamali et.al., (1997: 146) yang

(8)

Rasyid & Enggar/Aspek Reproduksi Ikan Kakap … JPS Vol.18 No. 1 Jan. 2016

18101-4

Hubungan Panjang dengan Berat

Hasil analisis panjang berat ikan Kakap Putih (Lates

calcarifer Block) didapatkan bahwa pertumbuhan ikan Kakap Putih bersifat allometrik negatif yaitu po-la pertumbuhan yang berarti pertambahan pan-jangnya lebih cepat dari pada pertambahan berat-nya dengan nilai b adalah 2,92 seperti disajikan pada Gambar 3 sebagai berikut:

Gambar 3. Grafik Hubungan panjang dan berat ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Block)

Pola pertumbuhan ikan dapat diketahui dengan melakukan analisis hubungan panjang berat ikan. Hubungan ini dapat menerangkan pertumbuhan ikan, kemontokan dan perubahan lingkungan. Richter (2007) & Blackweel (2000) menyebutkan bahwa pengukuran panjang-berat ikan bertujuan untuk mengetahui variasi berat dan panjang tertentu dari ikan secara individual atau kelompok-kelompok dan kondisi fisiologis termasuk perkembangan gonadnya.

Tingkat Kematangan Gonad(TKG)

Tingkat kematangan gonad ikan Kakap putih (L.

cal-carifer Block) jantan ditentukan melalui pengamatan secara morfologi. Pengamatan morfologi TKG ikan jantan berbeda dengan ikan betina. Menurut Effen-die (1979: 28), bahwa untuk ikan betina yang di-amati adalah bentuk, ukuran, warna, kehalusan, pengisian ovarium dalam rongga tubuh serta uku-ran, kejelasan bentuk dan warna telur dalam ova-rium. Sedangkan untuk ikan jantan yang diamati adalah bentuk, ukuran, warna dan pengisian testis dalam rongga tubuh serta keluar tidaknya cairan dari testis (keadaan segar).

Tingkat kematangan gonad ikan Kakap Putih (L.

calcarifer Block) berdasarkan sampel dapat dike-lompokkan dalam tingkat kematangan gonad I, II dan III (Tabel 1).

Tabel 1. Jumlah ikan Kakap putih (L. calcarifer Block) pada tiap tingkat kematangan gonad yang diperoleh se-lama penelitian beserta kisaran berat tubuh dan panjang

total

Jenis Kelamin TKG Jumlah (ekor)

Berat (g)

Panjang Total (cm) Jantan I 12 90-450 19,3 – 33,4

II 13 370-720 32 – 38,8 III 6 830-1300 41,7 - 50

IV - - -

Jumlah 31

Pada Tabel 1 terlihat bahwa sebanyak 31 individu

ikan Kakap putih (L.calcarifer Block) jantan dapat

dikelompokkan dalam tingkat kematangan gonad I, II dan III. TKG I berjumlah 12 individu dengan kisa-ran berat tubuh 90 - 450 g dan kisakisa-ran panjang total

19,3 – 33,4 cm. TKG II terdapat 13 individu dengan

kisaran berat tubuh 370 - 720 g dan kisaran panjang

total 32 – 38,8 cm. Pada TKG III, terdapat 6 individu

dengan kisaran berat tubuh 830 - 1300 g dan kisaran panjang total 41,7 - 50 cm, sedangkan TKG IV tidak didapatkan.

Pada Tabel 1 menunjukkan bahwa jenis kelamin

dan tingkat kematangan gonad ikan Kakap putih (L.

calcarifer Block) yang diamati kurang bervariasi. Ikan berkelamin jantan diperoleh jantan tingkat 1, 2 dan tingkat 3. Berikut ciri-ciri tingkat kematangan gonad

ikan Kakap putih (L. calcarifer Block) :

Gonad jantan ikan Kakap putih (L. calcarifer

Block) tidak jauh berbeda dengan gonad ikan jantan pada umumnya. Gonad jantan ikan Kakap putih (L.calcarifer Block) seperti benang pada seluruh bagian gonadnya. Gonad jantan tingkat 1 memiliki ukuran sangat kecil, pipih dan berwarna kelabu sehingga perlu ketelitian tinggi untuk dapat melihatnya.

Gambar 6. Gonad ikan Kakap putih (L.calcarifer Block) jantan tingkat 1

Gonad jantan tingkat 2 pada ikan Kakap putih (L.

calcarifer Block) tidak jauh berbeda dengan gonad tingkat 1. Bentuknya sama dengan gonad pada tingkat 1, namun ukurannya agak sedikit lebih besar dan panjang. Warna gonad jantan tingkat 2 juga sedikit lebih putih susu.

(9)

Gambar 7. Gonad ikan Kakap putih (L.calcarifer Block) jantan tingkat 2

Gonad jantan tingkat 3 pada ikan Kakap putih (L.

calcarifer Block) sudah cukup jelas terlihat. Bentuknya memanjang, warnanya putih susu dan telah terisi sedikit oleh sperma. Gambar gonad

jantan ikan Kakap putih (L.calcarifer Block) jantan

tingkat 3 tercantum pada Gambar 8 di bawah ini.

Gambar 8. Gonad ikan Kakap Putih (Latescalcarifer Block) jantan tingkat 3

Tidak ditemukannya ikan Kakap putih kelamin jantan tingkat 4, dikarenakan pada 31 sampel ekor ikan yang didapatkan ciri-ciri yang menunjukan kematangan gonad tingkat 4 tidak ada. Ciri-ciri tersebut meliputi bentuknya memanjang, warnanya putih susu dan telah terisi penuh oleh sperma. Pada saat ikan dalam kondisi segar, keluar cairan sperma dari testisnya.

Menurut Tang dan Affandi (1999) selama proses reproduksi, sebagian besar hasil metabolisme tertuju pada perkembangan gonad. Umumnya berat gonad pada ikan betina adalah 10-25 % sedangkan pada ikan jantan adalah 5-10%. Faktor umur, ukuran serta faktor lingkungan yang dominan mempengaruhi

perkembangan gonadnya seperti suhu dan

makanan, selain itu adalah periode cahaya (fotoperiode) dan musim (Scott, 1979). Periode penyinaran yang rendah dan suhu yang tinggi dapat mempercepat pematangan gonad.

Indeks Kematangan Gonad (IKG)

Nilai IKG ikan Kakap Putih yang didapatkan diterangkan pada Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Indeks Kematangan Gonad ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Block)

Jenis

Kelamin TKG IKG (%) Jumlah Individu

Jantan I

II III IV

0,0011-0,006 0,0012-0,007 0,006-0,008

-

12 13 6

- 31

Pada Tabel 2 terlihat bahwa nilai IKG ikan Kakap

Putih (Lates calcarifer Block) pada penelitian ini

ber-kisar antara 0,006% sampai 0,0012%. Indeks kema-tangan gonad (IKG) erat kaitannya dengan tingkat kematangan gonad (TKG). Menurut Effendie (2002) Indeks kematangan gonad dapat mengetahui peru-bahan dalam gonad secara kuantitatif. Pertumbuhan IKG berbanding lurus dengan TKG, artinya semakin tinggi nilai TKG maka semakin tinggi juga nilai IKG. IKG akan semakin meningkat nilainya dan akan mencapai nilai batas maksimum pada saat akan ter-jadi pemijahan dan akan menurun setelah ikan sele-sai memijah.

Rasio Kelamin, Fekunditas dan Diameter

Telur

Sistem reproduksi Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer

Block) termasuk hermaprodit. Ikan dikatakan her-maprodit apabila gonad ikan mempunyai jaringan jantan dan jaringan betina atau dapat dikatakan ikan yang menghasilkan spermatozoa dan ovum. Untuk

membedakan jenis kelamin ikan Kakap Putih (Lates

calcarifer Block) cukup sukar sekali, kecuali pada musim pemijahan.

Sistem reproduksi ikan Kakap Putih (Lates

calca-rifer Block) dapat mengalami perubahan kelamin

dari jantan menjadi betina yang disebut “protandry hermaprodit”. Hasil penelitian ini tidak ditemukan

ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Block) berjenis

ke-lamin betina hal ini dipengaruhi oleh faktor ukuran dan berat tubuh ikan serta habitat atau kondisi pe-rairannya, karena 31 sampel ikan yang didapatkan panjang tubuh maksimal ikan 50 cm dengan berat tubuh maksimal 1300 gr atau sama dengan 1,3 kg.

Menurut Ghufran (2010: 75) ikan Kakap Putih akan mengalami perubahan jenis kelamin menjadi betina terjadi pada berat tubuh ikan berkisar 2-4 kg. Ukuran biologi minimal induk jantan yang matang adalah 1,4 kg dengan panjang 45 cm dan induk be-tina 1,5 kg dengan panjang 47 cm.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan pendapat Mayunar (1994: 28) yang menyebutkan bahwa ikan Kakap Putih yang memiliki berat tubuh 1-2 kg

(10)

Rasyid & Enggar/Aspek Reproduksi Ikan Kakap … JPS Vol.18 No. 1 Jan. 2016

18101-6 minasi oleh jantan (60 %), dan berat tubuh 2,1 - 4,0 kg didominasi oleh betina, sedangkan berat tubuh > 4 kg kesemuanya betina. Perubahan jenis kelamin jantan menjadi betina banyak di jumpai pada ikan berukuran 2,0-3,0 kg. Pada ukuran tersebut ikan

Ka-kap Putih mengalami masa transisi (intersex) atau

masa perubahan kelamin. Perubahan kelamin ikan Kakap Putih dari jantan menjadi betina sangat di-pengaruhi oleh kondisi lingkungan dan geografis

suatu daerah. Pada ikan Kakap Putih (Lates calcarifer

Block), tidak semua induk betina berasal dari induk

jantan dewasa yang telah mengalami perubahan

kelamin (secondary female) tetapi dari awal tetap

betina (primary female).

Penelitian ini tidak ditemukan ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Block) yang berkelamin betina se-hingga nilai rasio kelamin, fekunditas dan diameter telur tidak dapat ditentukan. Pengukuran fekunditas dan diameter telur dapat dilakukan apabila terdapat gonad betina tingkat III- tingkat IV pada sampel yang diamati.

Sifat Fisika Kimia Air

Berdasarkan hasil pnelitian yang telah dilakukan didapatkan sifat fisika kimia air disajikan pada Tabel 3 berikut ini :

Tabel 3.Sifat fisika kimia Perairan Terusan Dalam 01°48'13,1" LS dan 104°30'05,8" BT

No Parameter Bulan

saat 3 kali perbedaan waktu pengukuran sampel air tidak jauh berbeda. Suhu menentukan jenis orga-nisme yang dapat hidup dan dapat bertahan di pe-rairan, mempengaruhi proses pemijahan, penetasan dan aktivitas organisme serta memicuatau meng-hambat pertumbuhan dan perkembangan (Hamzah, 2003). Suhu air sangat berpengaruh terhadap proses kimia, fisika dan biologi di dalam perairan, sehingga dengan perubahan suhu pada suatu perairan akan mengakibatkan berubahnya semua proses di dalam perairan.

Faktor lingkungan yang dominan mempengaruhi perkembangan gonad ikan Kakap Putih adalah suhu dan makanan, selain itu adalah periode cahaya (fo-toperiode) dan musim. Kecerahan air dipengaruhi oleh fotoperiode, pada awal pengukuran sampel air (bulan Maret) yaitu 19 cm menunjukan bahwa

kece-rahan kualitas perairan Terusan Dalam mengalami kekeruhan, dipengaruhi oleh substrat berlumpur atau padatan tersuspensinya sehingga kecerahan airnya berkurang (keruh). Berbeda dengan waktu pengukuran kualitas air bulan April dan Juni yang menunjukan angka 42 cm dan 52,5 cm itu berarti kecerahan air pada 2 bulan tersebut tidak menga-lami kekeruhan. Dikarenakan pada bulan Maret ma-sih termasuk musim penghujan sedangkan pada bu-lan April dan Juni sudah memasuki musim kemarau. Hal ini sesuai dengan pendapat Effendi (2003: 60) bahwa nilai kecerahan suatu perairan dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, padatan tersuspensi, serta ketelitian pada saat melakukan pengukuran. Hal ini berpengaruh terhadap populasi

dari ikan Kakap putih (Lates calcarifer Block)

terse-but.

Menurut Barus (2002: 61), bahwa nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air pada umumnya terdapat antara 7 sampai 8,5. Itu berarti bahwa

yang normal pada suhu air 30o C di perairan adalah

7,0 mg/L. Hal ini menunjukan bahwa ikan Kakap

Putih (Lates calcarifer Block) dapat hidup di perairan

Terusan Dalam karena perairan tersebut berada pada kisaran nilai oksigen terlarut antara 5 sampai 7 mg/L.

4

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan di perairan Terusan Dalam, dapat dikesimpulkan:

1. Pola pertumbuhan ikan Kakap putih (L. calcarifer

Block) pada bulan Maret-Juni bersifat allometrik

negatif.

2. Tingkat kematangan gonad (TKG) ikan Kakap

putih (L. calcarifer Block) berdasarkan sampel

di-kelompokkan menjadi TKG I, II, dan III dengan kisaran indeks kematangan gonad (IKG) antara 0,0012 % sampai 0,006 %.

3. Tidak ditemukan ikan Kakap putih (L. calcarifer

Block) yang berkelamin betina.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan dilaku-kan penelitian selanjutnya mengenai reproduksi idilaku-kan

Kakap Putih (Lates calcarifer Block) dalam jangka

waktu 1 tahun pada bulan-bulan lainnya selain

(11)

dan berat ≥ 2 kg serta pada tipe perairan yang lain

atau dilaut sehingga didapatkan ikan berjenis kela-min betina dan dapat diketahui ukuran ikan pada saat pertama memijah.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada (1) Kepala Balai Taman Nasional sembilang dan Kasi Tanah Pilih, atas ijin dan dukungan fasilitasnya, (2) Tim lapangan (Sapta, Astrijaya, Dila dan Vita).

REFERENSI _____________________________

[1] Balai Taman Nasional Sembilang & Departemen

Kehutanan. 2008. Rencana Pengelolaan Jangka

Panjang Taman Nasional Sembilang Periode 2009 s/d 2028. Kabupaten Banyuasin. Sumatera Selatan : ix + 128 hlm.

[2] Barus, T.A. 2002. Pengantar Limnologi. Jurusan Biologi

FMIPA USU. Medan : iv + 163 hlm.

[3] Blackweel, B.G., M.L. Brown & D.W. Willis. 2000.

Relative weight (Wr) status and current use in fisheries assessment and management. Reviews in fisheries Science, 8: 1-44 hlm.

[4] Djamali, A et.al,. 1998. Sumber Daya Benih Alam

Komersial. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi LIPI : vi + 160 hlm.

[5] Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air : Bagi Pengelolaan

Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta : iv + 249 hlm.

[6] Effendie, M.I. 1979. Metoda Biologi Perikanan. Yayasan

Dewi Sri. Bogor : vii + 112 hlm.

[7] Effendie, M.I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka

Nusantara. Yogyakarta : xii + 157 hlm.

[8] Febianto, S. 2007. Aspek Biologi Reproduksi Ikan

Lidah Pasir (Cynoglossus lingua Hamilton-Buchanan, 1822) di Perairan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik,

Jawa Timur. Skripsi. Jurusan Manajemen Sumberdaya

Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB : v + 66 hlm.

[9] Gaffar, Rupawan dan A.K, K.Fatah 2006. Riset

Karakteristik Perikanan Tangkap di Estuaria Sungai

Sembilang Kabupaten Banyuasin. Laporan Teknis

BRPPU Palembang.

[10]Ghufran, M: H.Kordi K & Tamsil, A. 2010. Pembenihan

Ikan Laut Ekonomis. Andi publisher. Yogyakarta: xiv + 190 hlm.

[11]Hamzah, M.S. 2003. Studi Variasi Musiman Beberapa

Parameter Oseanografi Terhadap Pertumbuhan dan

Kelangsungan Hidup Kerang Mutiara (Pinctada

maxima) di Perairan Teluk Kombal, Lombok Barat. Prosiding Seminar Ritek Kelautan Nasional. 2003. [12]Hoer, WS & D.J. Randall. 1969. Fish Physiology.

Aca-demic Press Inc. New York. I: 1-40.

[13]Mayunar. 1994. Beberapa Tipe dan Teori Hermaprodit

pada Ikan Laut. Jurnal Oseana Volume XIX No. 1. Sumber:www.oseanografi.lipi.go.id. 21-31 hlm. [14]Ondara Z. Arifin, K. Goffar. 1987. Jenis-jenis Ikan

Sungai Musi Sekitar Palembang Sumatera Selatan. Jurnal. Buletin Penelitian Perikanan Darat. 6(1): 1-4. [15]Patriono, E & Aryani, L. 2007. Inventarisassi Jenis Ikan

di Sungai Ogan Kecamatan Tanjung Raja Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. Prosiding Seminar Nasional Forum Perairan Umum Indonesia IV. Jurusan Biologi FMIPA UNSRI. Indralaya.

[16]Richter, T.J. 2007. Development and evaluation of

(12)

Jurnal Penelitian Sains Volume 18 Nomor 1 Januari 2016

© 2016 JPS MIPA UNSRI 18102-8

Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga dengan

Menggunakan Proses Gabungan Saringan Bertingkat dan

Bioremediasi Eceng Gondok (

Eichornia crassipes

),

(Studi Kasus di perumahan Griya Mitra 2, Palembang)

Elok Nilasari1), M. Faizal2), dan Suheryanto3)

1PT. WEHA-KS, 2Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Sriwijaya, 3Jurusan Teknik Kimia FT Universitas Sriwijaya

Intisari: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas dari masing-masing komposisi saringan berting-kat, yaitu komposisi A terdiri dari pasir dan kerikil, komposisi B terdiri dari pasir,kerikil, dan arang batok kela-pa, komposisi C terdiri dari pasir, kerikil, zeolit, dan komposisi D terdiri dari pasir, kerikil, arang batok kelakela-pa, dan zeolit.Keempat komposisi saringan tersebut kemudian analisis yang terbaik dalam menyaring air limbah rumah tangga. Air limbah rumah tangga berjenis greywater ini dikumpulkan dari lokasi yang berbeda dari satu perumahan yang sama, yaitu perumahan Griya Mitra 2 Palembang. Limbah greywater ini kemudian dikum-pulkan dalam satu ember dan dihomogenkan dahulu sebelum disaring. Hasil yang terbaik berdasarkan peneli-tian ini adalah komposisi saringan D,yaitu diperoleh penurunan TSS, BOD, dan Kadar Minyak dan lemak yang terbaik dari ke empat komposisi saringan tersebut, yaitu BOD turun sebesar 83,18%, TSS turun sebesar 83,05 %, dan Minyak Lemak turun sebesar 90 %. Sedangkan perubahan pH adalah tidak berbeda nyata dari ke em-pat saringan tersebut, tetapi kesemuanya menunjukkan adanya kenaikan pH setelah perlakuan. Hasil penya-ringan terbaik tersebut, yaitu sapenya-ringan D kemudian dilanjutkan dengan perlakuan bioremediasi dengan meng-gunakan tumbuhan Eceng gondok (Eichornia crassipes) dengan perlakuan selama 5 hari. Hasil bioremediasi tersebut ternyata mampu menghasilkan hasil yang lebih baik lagi, yaitu penurunan BOD sebesar 98,9 %, penu-runan TSS sebesar 97,8 %, penupenu-runan Minyak & Lemak sebesar 100 %, dan kenaikan pH sebesar 4,7 %.

Kata kunci: Saringan bertingkat, greywater, Fitoremediasi.

Abstract: The purpose of this research is to analyzed the effectiveness of each combination of graded filter composition; (composition A filter is composed of sand and gravel, composition B filter consists of sand, gravel and carbon of coconut shell charcoal, composition C fiter consists of sand, gravel and zeolith, and composition D filter consists of sand, gravel, carbon of coconut shell charcoal, composition and zeolith) and bioremediation using eceng gondok (Eichornia crassipes), for get domestic waste water treatment system that cheap and easy to implement, and also can provide optimal results that waste water impact on the environment can be con-trolled and reduced. This research is conducted from february until mei 2015 on the housing griya mitra 2, Pa-lembang. Domestic wastewater greywater manifold is collected from different locations of the same housing, in housing Griya Mitra 2 palembang. Greywater waste is then collected in a bucket and homogenized before fil-tered. The best results of this study are based on the composition of the filter D, which is obtained by a de-crease in TSS, BOD, and oil and fat content of the best of all four of the sieve composition, which fell by 83.18% BOD, TSS decreased by 83.05%, and Fat oil fell by 90%. While the change in pH is not significantly dif-ferent from the fourth filter, but all showed an increase in pH after treatment. The best screening results, the fil-ter D is then followed by treatment bioremediation using plants eceng gondok (Eichornia crassipes) by treat-ment for 5 days. The bioremediation result was able to produce the better results, is a decrease of 98.9% BOD, TSS decrease of 97.8%, a decrease Oils & Fats amounted to 100%, and an increase in pH by 4.7%. It can be concluded that the natural ingredients available in the natural surroundings can be utilized as a filter for treat-ing domestic wastewater is cheap and easy for the public.

Keywords: graded filter, greywater, bioremediation, eceng gondok (Eichornia crassipes).

Email:[email protected]

1

PENDAHULUAN

olume air limbah di Indonesia setiap tahun ber-tambah dengan penambahan rata-rata sebesar

5 juta m3, dan kandungan air limbah mengalami

peninkatan sebesar 50% dari jumlah jenis

kandun-gan yang ada sebelumnya. Pertambahan volume dan jenis tersebut sangat berpengaruh terhadap ke-mempuan lingkungan untuk menetralkannya (Ha-ryoto,1999).

(13)

Air limbah rumah tangga di Indonesia relatif be-lum terjangkau oleh teknologi pengolahan limbah, serta mahalnya biaya teknologi limbah yang ada, sehingga diperlukan sistem pengolahan limbah ru-mah tangga yang murah dan mudah diterapkan, dan dapat memberi hasil optimal.

Salah satu sistem pengolahan air limbah yang dapat digunakan adalah penyaringan air limbah menggunakan berbagai jenis bahan,seperti kerikil, arang, zeolit dan pasir. Sistem tersebut dianggap cukup efektif karena bahan-bahan anorganik yang digunakan rata-rata memiliki kemampuan untuk menurunkan kadar bahan pencemar di dalam air limbah, baik melalui prosese filtrasi maupun proses penyerapan. Untuk menganalisis efektivitas penggu-naan saringan bertingkat ini , maka diperlukan pene-litian pengolahan air limbah ruumah tangga meng-gunakan teknik penyaringan bertingkat. Penelitian ini dilakukan di perumahan Griya Mitra 2, karena limbah rumah tangga di perumahan tersebut ter-tampung dalam genangan, sehingga dapat dipasti-kan bahwa air limbah tersebut benar-benar air lim-bah rumah tangga dari perumahan tersebut.

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Menganalisa kualitas air limbah rumah tangga di perumahan Griya Mitra 2, Palembang.

2. Mendisain teknik pengolahan air limbah skala rumah tangga menggunakan penyaringan ber-tingkat.

2

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai April 2015 di Palembang. Prengambilan sampel air limbah domestik dilakukan di perumahan Griya Mi-tra 2. Pengukuran parameter kualitas air limbah do-mestik dilakukan insitu untuk parameter pH, se-dangkan parameter TSS, BOD, serta minyak dan lemak dilakukan di laboratorium.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalh ember dan gayung untuk pengumpul air limbah, pipa PVC diameter 4 inchi, alat-alat, penampung air limbah rumah tangga, bo-tol-botol sampel untuk uji laboratorium,pH meter,

cool box untuk wadah botol sampel.

Cara Kerja

Analisis Kualitas air limbah rumah tangga di peruma-han Griya mitra 2, palembang.

Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah survey lapangan. Pemilihan lokasi dilakukan

secara sengaja (purposive sampling) (Nazir,2003),

yaitu lokasi pengambilan air limbah adalah di peru-mahan Griya Mitra 2, Palembang.Air limbah dima-sukkan ke dalam ember pengumpul, kemudian di-homogenkan, dimasukkan botol-botol sampel,

ke-mudian dimasukkan ke dalam coolbox yang sudah

diberi batu es untuk dianalisis di laboratorium.

Analisis perubahan kualitas air limbah rumah tangga setelah melalui proses pengolahan dengan penyarin-gan bertingkat.

Tabel 1. Saringan Bertingkat dan Kontrol (Tanpa Saringan)

Pasir Sili-ka (cm)

Kerikil (cm)

Arang Ak-tif (cm)

Zeolit (cm)

Kontrol - - - -

Type 1 70 15 - -

Type 2 70 15 20 -

Type 3 70 15 - 40

Type 4 70 15 20 40

Penyaringan limbah dilakukan dengan debit yang sama yaitu 2l/jam. Hasil penyaringan air limbah di-masukkan ke dalam botol sampel. Air limbah sampel

dalam botol dimasukkan ke dalam coolbox yang

sudah diberi es batu. Sampel air limbah dianalisis di laboratorium.

Teknik Pengukuran Parameter

Pengama-tan

Parameter Kimia

pH

Pengukuran pH dilakukan dengan alat pH meter yang telah dikalibrasi, dan prosedurnya merujuk pa-da SNI 06-6989.11-2004 (APHA, 1998).

BOD (Biochemical Oxygen Demand)

Metode pengukuran BOD menggunakan metode titrasi (SNI 6989.72:2009). Metode titrasi dengan cara Winkler prinsipnya dengan menggunakan titra-si iodometri (APHA, 1998).

Minyak dan Lemak

Pengukuran minyak dan lemak menggunakan me-tode gravimetri dan merujuk pada SNI 06-6989.10-2004(APHA, 1998).

(14)

Elok N. Dkk./Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga … JPS Vol.18 No. 1 Jan. 2016

18102-10 Total Suspended Solid (TSS)

Penentuan kadar TSS dilakukan dengan metode gravimetri yang merujuk pada SNI 06-6989.3-2004 (APHA, 1998).

Analisis Data

Analisis Kualitas air limbah rumah tangga di peruma-han Griya Mitra 2, Palembang.

Hasil analisis kualitas air limbah rumah tangga di perumahan Griya Mitra 2, Palembang dibandingkan dengan Baku Mutu Air Limbah Domestik sesuai dengan Peraturan Gubernur Sumatera Selatan No-mor 8 Tahun 2012.

Analisis perubahan kualitas air limbah rumah tangga setelah melalui proses pengolahan dengan penyarin-gan bertingkat.

Hasil analisis kualitas air limbah rumah tangga yang sudah melalui proses penyaringan di perumahan Griya Mitra 2, Palembang, dibandingkan dengan Baku Mutu Air Limbah Domestik sesuai dengan Pe-raturan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 8 Tahun 2012. Kualitas air limbah rumah tangga hasil penya-ringan ini kemudian dibandingkan dengan kontrol menggunakan analisis kualitatif dengan persen (Su-giyono, 2005).

3

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kualitas Air Limbah Rumah Tangga di

Pe-rumahan Griya Mitra 2 Palembang.

Hasil analisis kualitas air limbah rumah tangga sebe-lum disaring disajikan pada Tabel 2.

_______________________________________________

Tabel 4. Kualitas air limbah rumah tangga di perumahan Griya Mitra 2, Palembang sebelum disaring

Parameter Satuan

Air Limbah Kontrol (K)

Rerata BML*

K1 K2 K3 K4

pH* 7,44 7,46 7,46 7,46 7,45 6-9

BOD5* mg/L 118,5 118,5 119,5 116,5 118,2 100

TSS* mg/L 224 224,5 224,2 224,2 224,2 100

Minyak dan Lemak* mg/L 5,63 5,13 6,6 6,7 6,01 10

Keterangan *Peraturan Gubernur Nomor 8 Tahun 2012; K1-K4: Ulangan/pengambilan sampel untuk Kontrol/sebelum air limbah disaring

_______________________________________________

pH (potential Hydrogen) adalah parameter penting yang dapat menentukan kadar asam/basa dalam air. pH adalah juga sebuah istilah yang digunakan secara univer-sal untuk menyatakan tingkat keasaman atau alkalinitas suatu larutan (Sawyer & McCarty,2003). Nilai pH air limbah sebagai kontrol atau sebelum diproses dalam pe-nyaringan bertingkat berkisar antara 7,44-7,46 dengan rata-rata sebesar 7,45. Nilai pH tersebut masih memenuhi baku mutu lingkungan yang ditetapka berdasarkan Pera-tutan Gubernur Sumatera selatan Nomor 8 Tahun 2012 yaitu sebesar antaqra 6-9.

Biochemical Oxygen Demand (BOD) adalah jum-lah oksigen yang dibutuhkan bakteri untuk menguraikan (mengoksidasi) hampir semua zat organik yang terlarut dan sebagian zat-zat organik yang tersuspensi dalam air. Semakin tinggi BOD, maka semakin banyak bahan or-ganic yang terkandung dalam air (Paramita dkk, 2012). Nilai BOD air limbah sebagai kontrol atau sebelum di-proses dalam penyaringan bertingkat berkisar antara (116,5-118,5) mg/L dengan rata-rata sebesar 118,2 mg/L. Nilai BOD tersebut tidak memenuhi baku mutu lingkun-gan berdasarkan Peraturan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 8 Tahun 2012 yaitu sebesar 100 mg/L.

Nilai TSS air limbah sebagai kontrol atau sebelum diproses dalam penyaringan bertingkat berkisar antara (224-224,5) mg/L dengan rata-rata sebesar 224,2 mg/L. Nilai TSS tersebut tidak memenuhi baku mutu lingkun-gan berdasarkan Peraturan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 8 Tahun 2012 yaitu sebesar 100 mg/L. Menurut Sawyer & McCarty (2003), nilai TSS sangat penting di-perhatikan, karena dampak TSS terhadap perairan adalah bila nilainya besar, maka akan mnyebabakan terhambat-nya proses masukterhambat-nya sinar matahari ke dalam perairan, sehingga menghambat proses fotosintesis dalam air, dan berdampak pada berkurangnya kadar oksigen dalam pe-rairan, sehingga bakteri aerobik akan cepat mati kekuran-gan oksigen.

(15)

Kualitas Air Limbah Rumah Tangga

Sete-lah Melalui Proses pengoSete-lahan Dengan

penyaringan Bertingkat

Hasil analisis kualitas air limbah rumah tangga di perumahan Griya Mitra 2, Palembang setelah

penyarin-gan bertingkat disajikan pada Tabel 3. Hasil analisis kua-litas tersebut sesuai dengan Baku Mutu Lingkungan ber-dasarkan Peraturan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 8 Tahun 2012, dan menunjukkan bahwa nilai pH, BOD,TSS, serta minyak dan lemak memenuhi baku mutu yang ditetapkan.

_______________________________________________

Tabel 3. Kualitas air limbah rumah tangga di perumahan Griya Mitra 2, Palembang setelah proses penyaringan bertingkat

Parameter Satuan Rata-rata A Rata-rataB Rata-rata C Rata-rata D BML*

pH* 7,42 7,8 7,53 7,6 6-9

BOD5* mg/L 94,7 65,45 48,525 19,9 100

TSS* mg/L 93,3 69,35 64,55 38 100

Minyak dan Lemak* mg/L 3,9 1,4 1,68 0,6 10

Keterangan: *Peraturan Gubernur Nomor 8 Tahun 2012.

_______________________________________________

Persentase Perubahan Kualitas Air

Lim-bah Setelah penyaringan

Persentase perubahan kualitas air limbah (pH, BOD, TSS serta Minyak dan Lemak) setelah proses penya-ringan dengan sapenya-ringan A,B,C dan D disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Persentase rata-rata perubahan kualitas air limbah setelah proses penyaringan

Perla-kuan pH (%) BOD (%) TSS(%)

Minyak & Lemak (%)

A 0,40 (-) 19,88 (-) 58,4 (-) 35,1 (-)

B 4,7 (-) 44,63 (-) 69,07 (-) 76,70 (-)

C 1,07 (+) 58,95 (-) 71,21 (-) 72,05 (-)

D 2 (+) 83,16 (-) 83,05 (-) 90 (-)

Keterangan : (+) : Pertambahan, (-) : Penurunan

pH

Nilai pH air limbah setelah proses penyaringan den-gan sarinden-gan bertingkat D (menggunakan pasir, ke-rikil, arang, zeolit) adalah sebesar rata-rata 7,6. Ter-jadi kenaikan pH rata-rata 2 %. Hal ini sesuai penda-pat Nurhayati (2009) yang menyatakan bahwa sa-ringan dengan media pasir silika, dan zeolit dapat menaikkan pH Meningkatnya nilai pH terjadi karena netralisasi muatan negatif karbon oleh ion-ion nitro-gen yang menyebabkan permukaan karbon lebih baik untuk mengadsorpsi bahan pencemar (Nurma-ja dan Setyowati, 2013).

BOD

Penurunan BOD terbanyak setelah proses penyarin-gan terjadi pada sarinpenyarin-gan bertingkat D, yaitu sebesar 83,16%. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Arsawan dkk, (2007) dengan media saringan kerikil, didapatkan hasil penurunan BOD. Menurut Hadiwidodo dkk, (2012) kerikil memiliki luas permukaan yang besar, dan bakteri dapat hidup dan melekat pada permukaannya.Hal tersebut

me-nyebabkan saringan kerikil dapat berfungsi untuk menurunkan nilai BOD air limbah domestik.

Ketika ditambahkan zeolit pada saringan , penu-runan BOD akan semakin banyak karena dengan adanya zeolit maka penyerapan zat organik di dalam air seemakin meningkat sehingga kandungan bahan-bahan organik semakin menurun. Hal ini sesuai dengan pernyataan Las (1995), bahwa zeolit sebagai filter kimia dapat digunakan dalam prose

penyera-pan gas seperti gas rumah kaca (NH 3+, CO2, H2S,

SO2, SO3 dan NOx), dan bahan-bahan organik.

TSS

Penurunan terbanyak kadar TSS air limbah setelah proses penyaringan dengan saringan bertingkat ter-jadi pada saringan bertingkat D, sebesar 83,05%. Menurut Susilawaty dkk, (2007) pasir merupakan tempat tumbuh dan hidupnya mikroorganisme yang akan membantu proses penurunan kandungan pen-cemar dengan memakan zat-zat organik yang ter-kandung pada air limbah. Hal ini terjadi pada saat air limbah melewati pasir penyaring. Pada lapisan tersebut terjadi proses oksidasi biologis yang ber-langsung dalam saringan pasir. Penggunaan zeolit , karena struktur pori zeolit yang berbeda-beda se-hingga zeolit banyak digunakan untuk pemisahan

berbagai molekul kecil (Shan et all ,2004)

Minyak dan lemak

Penurunan terbanyak kadar minyak dan lemak air limbah rumah tangga setelah proses penyaringan, terjadi pada saringan D, yaitu sebesar 90%.Menurut Said dkk, (2013), saringan pasir bertujuan mengu-rangi kandungan lumpur dan menyaring bahan-bahan padat terapung.

(16)

Elok N. Dkk./Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga … JPS Vol.18 No. 1 Jan. 2016

18102-12 dan 14,16%. Penyaringan dengan zeolit dapat me-nyerap minyak dan lemak hingga 67 % (Ga-wad,2014)

Persentase Perubahan Kualitas Air

Lim-bah Setelah penyaringan D dan

bioreme-diasi Eceng gondok (

Euchornia crassipes

)

Tabel 5. Persentase Perubahan Kualitas Air Limbah

Sete-lah penyaringan D dan bioremediasi Eceng gondok (

Eu-chornia crassipes) dengan saringan bertingkat D dan dilanjutkan den-gan fitoremediasi menggunakan tumbuhan Eceng gondok (perlakuan E) dari pengambilan pertama sampai pengambilan keempat rata-rata sebesar 7,1. Nilai pH awal sebelum penyaringan sebesar 7,45. Terjadi penurunan sebesar 4,7% dari nilai pH awal. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Kalsum, (2014) yang menyatakan bahwa terjadi penurunan nilai pH limbah cair domestik setelah diperlakukan dengan tumbuhan air.

Nilai BOD air limbah setelah proses penyaringan dengan saringan bertingkat D dan dilanjutkan den-gan fitoremediasi menggunakan tumbuhan Eceng gondok (perlakuan E) sebesar antara 1,1-1,8 mg/L dengan rata-rata sebesar 1,3 mg/L. Nilai BOD sebe-lum perlakuan sebesar 118,2 mg/L. Terjadi penuru-nan sebesar 116,9 mg/L atau sebesar 98,9 % dari nilai BOD limbah sebelum penyaringan. Menurut Moorhead & reddy (1988), sumber utama oksigen dari badan air diperoleh dari hasil fotosintesis tana-man melalui perakaran.

Nilai TSS air limbah setelah proses penyaringan dengan saringan bertingkat D dan dilanjutkan den-gan fitoremediasi menggunakan tumbuhan Eceng gondok (perlakuan E) sebesar antara 4,8-5,2 mg/L dengan rata-rata sebesar 4,95 mg/L. Nilai sebelum adanya perlakuan yaitu 224,2 mg/L, terjadi penuru-nan sebesar 219,25 mg/L atau 97,8 %. Hal tersebut menunjukkan terjadinya penurunan nilai TSS limbah setelah limbah disaring menggunakan saringan ber-tingkat D dan dilanjutkan dengan fitoremediasi

ta-naman Eceng Gondok. Menurut Prayitno et al

(2008), akar Eceng gondok menjadi tempat filtrasi dan adsorbsi padatan tersuspensi serta pertumbuhan mikroba yang menghilangkan unsur-unsur hara dari kolam air.

Nilai minyak dan lemak air limbah setelah proses penyaringan dengan saringan bertingkat D dan

di-lanjutkan dengan fitoremediasi menggunakan tum-buhan Eceng gondok (perlakuan E) sebesar antara 0 mg/L. Terjadi penurunan nilai minyak dan lemak sebesar 100% dari nilai sebelum perlakuan yaitu 6,01mg/L. Penurunan minyak dan lemak ini terjadi

karena adanya mekanisme phytoaccumulation yang

dilanjutkan dengan rhizodegradation yang akan

me-nurunkan kandungan minyak dan lemak dalam

kan-dungan air limbah. Menurut Smith (2005),

phytoac-cumulation adalah proses dimana tumbuhan akan menarik zat kontaminana dari media sehingga

tera-kumulasi di sekitar akar tumbuhan, sedangkan

rhi-zodegradation adalah penguraian zat-zat kontaminan oleh aktivitas mikroba yang berada di sekitar akar tumbuhan, sehingga minyak dan lemak yang ter-kumpul di sekitar akar tumbuhan akan diuraikan oleh mikroorganisme yang ada di sekitar akar tum-buhan tersebut.

4

SIMPULAN DAN SARAN

SIMPULAN

1. Kualitas air limbah rumah tangga perumahan Griya Mitra 2 Palembang, untuk parameter pH, minyak dan lemak memenuhi Baku Mutu Ling-kungan, sedangkan untuk parameter BOD,TSS tidak memenuhi Baku Mutu Lingkungan berda-sarkan Pergub Sumsel No.18 Tahun 2012.

2. Disain saringan bertingkat terbaik adalah dengan komposisi 70 cm pasir silika, 15 cm kerikil, 30 cm arang dan 40 cm zeolit (saringan bertingkat D)

SARAN

Saringan bertingkat dengan kompoisi 70 cm pasir silika, 15 cm kerikil, 30 cm arang dan 40 cm zeolit dapat disosialisasikan pada masyarakat untuk men-gatasi masalah pengolahan air limbah rumah tang-ga.

REFERENSI _____________________________

[1] APHA, 1998, Standard Methods for the Eximation of

Water an, twntieth ed, American Public Health Associ-ation, Washington, DC.

[2] Arsawan, M., I. W.B. Suyasa, dan W. Suarna. 2007.

Pemanfaatan Metode Aerasi dalam Pengolahan Lim-bah Berminyak, Ecotrophic. 2(2): 1 – 9.

[3] Dhayat.N.R. 2011. Bioremediasi lumpur minyak bumi

dengan zeolit dan mikroorganisme serta pengujiannya terhadap tanaman sengon ( Paraserianthes falcataria ). http://www.google.com. (diakses 16 April 2015).

[4] Hadiwidodo, Oktiawan, W., Primadani, A.R.,B.N.

(17)

Wetland, Jurnal Presipitasi Vol. 9 No.2 September 2012, ISSN 1907-187X, Program Studi Teknik Lingkun-gan Fakultas Teknik UNDIP.

[5] Haryoto, K. 1999. Kebijakan dan Strategi pengolahan

Limbah dalam Menghadapi Tantangan Global. Dalam : Teknologi Pengolahan Limbah dan Pemulihan Kerusa-kan Lingkungan. Prosiding Seminar Nasional; Jakarta. 13 Juli 1999. BPPT. Jakarta

[6] H. S. Abd El-Gawad, 2014. Research Article Oil and

Grease Removal from Industrial Wastewater Using New Utility Approach. Head of Organic Chemistry Department, Central Laboratory for Environmental Quality Monitoring (CLEQM), NationalWater Research Center (NWRC), P.O. Box 13621/6, El-Kanater, Qalu-biya, Cairo, Egypt Received 5 January 2014; Accepted 12 May 2014; Published 8 July 2014 Academic Editor: Hindawi Publishing Corporation Advances in Envi-ronmental Chemistry Volume 2014, Article ID 916878, 6 pages http://dx.doi.org/10.1155/2014/916878. [7] Kalsum, U. 2014. Efektivitas Pengolahan Limbah Cair

Domestik Dengan Fitoremediasi Secara Kontinyu Menggunakan Eceng Gondok (Eichornia crassipes), Hydrilla (Hydrilla verticillata), dan Rumput Payung (Cyperus alternifolius). Tesis. Pascasarjana Universitas Sriwijaya. Palembang.

[8] Nugroho, A.,2006. Biodiesel Jarak Pagar Bahan

Alter-natif Yang Ramah Lingkungan. PT Agro Media. Tange-rang.

[9] Nunung Nurhayati, 2009. Pengolahan Air Limbah

Rumah Tangga Dengan Metode Saringan Cepat, Jur-nal Ilmiah Limit’s Vol 5 no.213.

[10]Numaja I.,T.R. Setyawati. 2014. Jurnal Protobiont Vol.

3 (3): 56 – 62 56 Perbaikan kualitas lindi TPA Batu Layang menggunakan arang batok kelapa, arang kulit durian dan pasir, L. Irwan , Program Studi Biologi, Fa-kultas MIPA, Universitas Tanjungpura.

[11]Paramita P, Maya Shovitri dan N D Kuswytasari, 2012.

Biodegradasi Limbah Organik Pasar dengan

Menggu-nakan Mikroorganisme Alami Tangki Septik, Jurnal Sains dan seni ITS Vol. 1, (Sept, 2012) ISSN: 2301-928X E-23.

[12]Priyanto, B. dan Prayitno, J. 2006. Fitoremediasi

seba-gai Sebuah Teknologi Pemulihan Pencemaran, Khu-susnya Logam berat, (Online).

(http://ltl.bppt.tripod.com/sublab/lflora1.htm, diakses 13 September 2014).

[13]Peraturan Gubernur Sumatera Selatan no 8 tahun

2012, tentang Baku Mutu Lingkungan

[14]P. Sebayang, Muljadi, dan Anggito P. Tetuko, 2009.

Pembuatan Bahan Filter Keramik Berpori Berbasis Zeolit Alam dan Arang Sekam Padi. Pusat Penelitian Fisika-LIPI, Serpong-Tangerang SelatanTeknologi In-donesia 32 (2) 2009: 99–105

[15]Sawyer, C.N.,dan McCarty., 2003. Chemistry for

Envi-ronmental Engineering and Sciences 5th edition.Mc Gram Hill Co: Singapore.

[16]Scinto, L.J.,dan Reddy, K.R.,2003. Biotic and Abiotic

Uptake of Phosporus by Peryphyton in a Subtropical Freshwater Wetland. Aqua Botany Journal, 77:203-222.

[17]Shan, W , Y. Zhang, W.Yang , C. Ke , Z. Gao, Y.Ye , Y.

Tang. 2004. Electrophoretic deposition of nanosized zeolites in non-aqueous medium and its application in fabricating thin zeolite membranes. Microporous and Mesoporous Material, 69,35–42

[18]Susilawaty, A, Djaffar, MH, dan Daud, A, 2007, ‘Efekt i-vitas sistem saringan multimedia dalam menurunkan TSS, BOD, NH3-N, PO4 dan total coliform pada

lim-bah cair rumah tangga’, Jurnal Sains dan Teknologi,

vol. 7, no. 1, hal. 45-56, diakses tgl 24 Des. 14 [19]Las, T. 1995. ”Zeolite Untuk Pengolahan Limbah Indu

s-tri” Pertemuan PT.Minatama Mineral Perdana dengan

(18)

Jurnal Penelitian Sains Volume 18 Nomor 1 Januari 2016

© 2016 JPS MIPA UNSRI 18103-14

Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Rumah

Tangga: Sebuah Studi di Kecamatan Sukarami

Kota Palembang

Martinawati1), Imron Zahri2), dan M. Faizal2)

1)Mahasiswa Program Studi Pengelolaan Lingkungan PPS Universitas Sriwijaya. 2)Dosen Program Studi Pengelolaan

Ling-kungan PPS Universitas Sriwijaya

Intisari: Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan sampah ru-mah tangga yang dilaksanakan di Kecamatan Sukarame Kota Palembang dengan mengambil Kelurahan Su-kodadi sebagai kelurahan sampel. Kelurahan SuSu-kodadi dipilih sebagai sampel secara "purposive" dikarenakan pada RT 24 Kelurahan Sukodadi pada tahun 2011 pernah menjadi "Wilayah Ramah Lingkungan". Pengumpu-lan data lapangan dilakukan pada buPengumpu-lan Agustus sampai dengan September 2014. PengambiPengumpu-lan sampel dila-kukan dengan cara Proportinate Stratified Random Sampling. Pada Kelurahan Sukadadi terdapat 34 RT yang dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 24 RT dengan pengelolaan sampah yang kurang baik (Strata I), dan 10 RT dengan pengelolaan sampah yang baik (Strata II). Masing-masing strata diambil 2 RT, sehingga terdapat 4 RT sampel. Dari 4 RT tersebut diambil 10 % keluarga sampel, sehingga terdapat 54 sampel. Tingkat partisipasi masyarakat diukur dari segi pewadahan dan pengumpulan/pengangkutan sampah rumah tangga. Hasil peneli-tian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan sampah tergolong tinggi (rata-rata skor 73,46%), dengan skor St(rata-rata I (64,52%) lebih rendah dibandingkan dengan St(rata-rata II (85,51%). %). Menggunakan uji Chi-Square didapatkan hasil bahwa usia dan lama bermukim mempunyai hubungan tingkat partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Pendidikan dan pekerjaan/penghasilan tidak dapat di-buktikan. Untuk menciptakan lingkungan bebas sampah dapat mengurangi beban pemerintah dengan partisi-pasi masyarakat yang tinggi.

Kata kunci: partisipasi, pengelolaan, sampah, rumah tangga

Email: [email protected]

1

PENDAHULUAN

enurut Undang-undang Republik Indonesia nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah bahwa pertambahan jumlah penduduk mempengaruhi jumlah sampah yang dihasilkan. Sehingga semakin besar jumlah penduduk pada sua-tu wilayah dengan perubahan pola hidup konsumtif, masyarakat yang menimbulkan dampak pada jenis dan karakteristik sampah yang semakin bervariatif, maka semakin besar pula jumlah dan ragam sam-pah yang dihasilkan. Semakin hari semakin banyak jenis sampah yang dihasilkan oleh manusia akibat-nya semakin rumit cara pemilahan sampah.

Berdasarkan SNI 3242 tahun 2008 tentang Pen-gelolaan Sampah di permukiman bahwa jumlah sampah yang dihasilkan untuk kota kecil, setiap jiwa menghasilkan sampah sebanyak 2,5 liter per hari atau setara dengan 0,5 Kg/hari. Dengan demikian berdasarkan data dari Kelurahan Sukodadi, jumlah penduduk sebanyak 17.773 jiwa dan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 4.286 KK, maka jumlah sampah yang dihasilkan di Kelurahan ini mencapai 44.432,5 liter/hari atau 8886,5 kg/hari sebesar 8,886 ton/hari. Apabila sampah sebanyak ini tidak dikelola dapat

menjadi bencana bagi masyarakat itu sendiri. Penge-lolaan sampah sangat dibutuhkan dukungan partisi-pasi masyarakat. Tingkat partisipartisi-pasi masyarakat ada yang rendah, sedang dan tinggi.

Upaya mengatasi permasalahan sampah yang kian memperihatinkan membutuhkan pengelolaan sampah dengan mengikut sertakan masyarakat. Tanpa adanya partisipasi masyarakat dalam proses ini, maka dapat dikatakan mustahil pemerintah sen-diri bisa mengatasi masalah sampah yang kian hari kian menumpuk. Jika ada partisipasi demikian seti-daknya dapat mengurangi beban sampah di TPA, pewadahan dan pengumpulan/pengangkutan dari sumber sampah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga, selanjutnya dapat disusun strategi perbaikan pengelolaan sampah rumah tangga. Hi-potesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah sudah cukup baik.

(19)

2

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kecamatan Sukarami Kota Palembang, di pilih Kelurahan Suko-dadi sebagai kelurahan sampel yang dipilih secara "purposive". Alasan lokasi tersebut dipilih karena di salah satu Rukun Tetangga (RT) di kelurahan ini pernah ditetapkan sebagai wilayah Ramah Lingkun-gan Terbaik Kota Palembang Tahun 2011. Di kelu-rahan ini terdapat 34 Rukun Tetangga (RT) yang dapat dikelompokkan RT yang baik pengelolaan sampahnya dan RT yang kurang baik pengelolaan sampahnya, dan karena itu selanjutnya dipilih dua 2 RT yang baik dalam pengelolaan sampah dan dua RT yang kurang baik dalam pengelolaan sampah. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini

digunakan metode Acak Berlapis Berimbang (

Pro-portionate Stratified Random Sampling). Stratifikasi atau lapisan dalam penelitian ini adalah sampel pa-da RT yang kurang baik pengelolaan sampahnya (Strata I) dan RT yang baik dalam pengelolaan sam-pahnya (Strata II). RT sampel adalah 2 RT yang ku-rang baik dalam pengelolaan sampah (Strata I) dan RT yang baik dalam pengelolaan sampah (Strata II). Populasi pada 2 RT Strata I sebanyak 293 KK, dan pupulasi pada 2 RT Strata II sebanyak 216 KK. Dari populasi setiap RT dipilih sebanyak 10% kepala ke-luarga sampel, sehingga jumlah sampel dalam pene-litian ini sebanyak 54 kepala keluarga, yang terdiri lebih dari 100 orang dapat diambil 10-15% atau 20-25% atau lebih. Pengumpulan data lapangan dilak-sanakan pada bulan Agustus sampai dengan Sep-tember 2014.

Analisis data yang dilakukan pada dasarnya ada-lah untuk menjawab tujuan dan menguji hipotesis penelitian. Data yang dikumpulkan di lapangan dengan menggunakan kuesioner kemudian diolah secara tabulasi dan dilanjutkan dengan analisis de-skriftif dan analisis statistika. Tingkat partisipasi ma-syarakat dalam pengelolaan sampah di tingkat RT yang diduga bervariasi antara rendah sampai den-gan tinggi, baik pada RT yang baik dalam hal penge-lolaan sampahnya maupun pada RT yang kurang baik dalam hal pengelolaan sampahnya. Terdapat dua indikator yang menjadi ukuran tingkat partisipa-si, yaitu (1) Perlakuan masyarakat terhadap sampah untuk pewadahan, (2) Pengumpulan/pengangkutan sampah.Kedua faktor tersebut kemudian di kuantifi-kasi dengan menggunakan skor (nilai) yang merupa-kan data dengan skala ordinal, artinya dengan skor

yang lebih tinggi menunjukkan nilai partisipasi yang lebih tinggi. Penjumlahan dari skor tersebut untuk setiap sampel yang diwawancarai menggambarkan tingkat partisipasi dari sampel dalam hal pengelo-laan sampah. Pada Tabel 1 dapat dilihat skor dari indikator dalam pengukuran tingkat partisipasi ma-syarakat yang diwakili oleh sampel dalam penelitian ini.

Tabel 1. Skor dari indikator dalam pengukuran tingkat partisipasi.

Indikator Keterangan Skor

Perlakukan

Masyarakat telah mewadahi sampah, tetapi masih dalam satu Jenis pewada-han untuk semua sampah (belum ada pemilahan di tingkat masyarakat antara sampah organik dan sampah non organik).

2

Pewadahan terpilah antara sampah organik dan sampah non organik

3

Pengumpulan/ pengangkutan sampah

Masyarakat masih membuang sampah di sembarang tempat, tidak mengguna-kan pelayanan pengangkutan dan tidak berpartisipasi dalam membayar retribu-si sampah

1

Masyarakat membakar sampah, menggunakan pelayanan pengangkutan walaupun tidak rutin membayar retribusi sampah

2

Masyarakat telah menggunakan pelayanan pengangkutan/pengumpul sampah dan rutin membayar retribusi sampah.

3

Sumber: Kementrian Pekerjaan Umum Dirjend PUCK, 2008

Untuk menentukan tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah, maka untuk setiap strata ditentukan dengan penjumlahan skor dari dua indikator tersebut. Untuk setiap responden ditentu-kan partisipasi rendah jika skor 1-2, partisipasi se-dang jika skor 3-4, dan partisipasi tinggi jika skor 5-6. Kemudian secara keseluruhan tingkat partisipasi masyarakat diperhitungkan dengan menjumlahkan skor keseluruhan sampel. Dari jumlah skor maksimal (jumlah sampel dikali 3), maka dapat dikelompok-kan tingkat partisipasi masyarakat menjadi tiga kelompok, yaitu:

1. Partisipasi rendah adalah kelompok skor 0,00% -

33,32 %

2. Partisipasi sedang adalah kelompok skor 33,33% -

66,65 %

3. Partisipasi tinggi adalah kelompok skor 66,66% -

100%.

(20)

pendi-Martinawati Dkk./Partisipasi Masyarakat dalam … JPS Vol.18 No. 1 Jan. 2016

18103-16 dikan, pekerjaan yang ditunjukkan oleh besarnya penghasilan dan lamanya bermukim dari para res-ponden. Data mengenai faktor-faktor yang mem-pengaruhi tingkat partisipasi tersebut kemudian di-kuantifikasi dengan skor yang berskala ordinal seper-ti dapat dilihat pada Tabel 2.

Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempen-garuhi tingkat partisipasi masyarakat digunakan

Ana-lisis Statistika, yaitu Chi-Square, yaitu untuk melihat

hubungan antara faktor usia, pendidikan, peker-jaan/penghasilan dan lama bermukim. Oleh karena dianggap tingkat partisipasi sebagai variabel depen-dent dan faktor usia, pendidikan, pekerjaan/ peng-hasilan dan lama bermukim sebagai variabel inde-pendent, maka analisis ini dapat digunakan sebagai faktor yang saling mempengaruhi.

Tabel 2. Penentuan Skor Faktor-faktor yang Mempenga-ruhi Tingkat Partisipasi Masyarakat.

No. Indikator Kriteria Kelompok Skor Sumber : Diolah dari data primer, 2015

Untuk menyusun strategi perbaikan pengelolaan sampah rumah tangga dilakukan secara diskriptif. Dari wawancara dan kuesioner terdapat beberapa pendapat masyarakat tentang pelaksanaan pengelo-laan sampah sebagai persepsi masyarakat terhadap sampah, kemudian data dianalisis secara deskriptif yaitu analisis persepsi masyarakat terhadap pelaksa-naan pengelolaan sampah rumah tangga yang meli-puti pewadahan dan pengumpulan/pengangkutan yang ada di masyarakat.

3

HASIL PENELITIAN

Partisipasi Masyarakat Terhadap

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

dalam Pewadahan

Pewadahan sampah yang dilakukan oleh masyarakat dapat dilihat 4 indikator, yaitu tidak diwadahi/ dibu-ang sembardibu-ang tempat, satu jenis pewadahan untuk semua sampah, pewadahan terpilah antara sampah

organaik dan anorganik. Gambaran pewadahan sampah oleh masyarakat dapat dilihat Tabel 3.

Tabel 3. Distribusi responden berdasarkan pola pewadahan sampah

Pola Pewadahan Sampah Σ Strata I Strata II

resp. % Σ resp. %

1. Tidak diwadahi/

dibu-ang sembardibu-ang tempat 6 19,35 0 0,00 2. Satu jenis pewadahan

untuk semua sampah 17 54,84 12 52,17 3. Pewadahan terpilah

an-tara sampah organik & sampah non organik

8 25,81 11 47,83

Jumlah 31 100,00 23 100,00

Sumber : Diolah dari data primer, 2015

Berdasarkan Tab. 3, Pada strata I sebesar 19,35% warga yang tidak mewadahi sampah atau mem-buang sampah sembarangan. Sebenarnya semua warga juga mewadahi sampah, tetapi setelah diwa-dahi dengan kantong plastik, sampah dibuang di wilayah yang masih minim penduduknya yaitu wilayah-wilayah yang belum ditempati atau lahan masih kosong. Warga yang demikian biasanya tidak berlangganan dengan petugas pengumpul/ peng-angkut sampah. Selain membuang sampah di lahan kosong ada juga yang membuat lubang ditanah kemudian melakukan pembakaran sampah, sedang-kan pada strata II tidak ada. Pada strata I sekitar 54,84% warga mewadahi sampah masih dalam satu Jenis pewadahan untuk semua sampah, baik sam-pah organik, samsam-pah non organik dan Samsam-pah B3, sedangkan pada strata II sebesar 52,17 %. Walaupun di strata II wadah sampah sebagian kecil telah dis-iapkan tetapi data diatas menunjukkan sebagian be-sar sampah masih digabung menjadi satu. Hal ini disebabkan warga kurang paham akibat dan man-faat yang dapat diambil bila sampah dipilah secara benar sesuai dengan peruntukannya. Warga yang termasuk dalam strata I hanya sebesar 27,59% se-dangkan pada strata II sebesar 47,83%, masyarakat yang telah melakukan pemilahan antara sampah organik dan sampah non organik (sampah B3 dima-sukkan dalam sampah non organik). Hal ini disebab-kan belum ada penyuluhan secara khusus untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa pemilahan sampah sangat banyak manfaatnya bagi masyarakat maupun bagi pihak-pihak lain yang berkecimpung dalam persampahan.

Partisipasi Masyarakat Terhadap

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

dalam Pengumpulan/Pengangkutan

Gambar

Tabel 1. Saringan Bertingkat dan Kontrol                     (Tanpa Saringan)
Tabel 4. Kualitas air limbah rumah tangga di perumahan Griya Mitra 2, Palembang sebelum disaring
Tabel 4. Persentase rata-rata perubahan kualitas air limbah setelah proses   penyaringan
Tabel 1.  Skor dari indikator dalam pengukuran tingkat partisipasi.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Faktor yang mempengaruh lokasi pengelolaan sampah rumah tangga, antara lain: a. Lokasi shaft sampah berada di sisi kanan dan kiri bangunan seperti pada gambar 3.8, Renkonbang

Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan penelitian Cross Sectional, yang bertujuan : untuk mengetahui pengaruh pendapatan dan pendidikan

Dari hasil pengujian aktivitas antibakteri fraksi n -heksana, etilasetat dan metanol aktif terhadap bakteri uji yang ditunjukkan dengan terbentuknya zona hambat di se- kitar

Berdasarkan Tabel 3, secara umum dapat disim- pulkan bahwa mahasiswa angkatan 2001 dan 2002 yang memiliki masa studi yang relatif singkat ( ≤ 8 semester) cenderung memiliki IPK