• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Peradaban Islam (7) Peradaban Islam (8)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sejarah Peradaban Islam (7) Peradaban Islam (8) "

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah, bukan hanya deretan fakta dan peristiwa dari masa lampau umat manusia, tetapi juga interpretasi yang dilakukan oleh para penulis sejarah. Sejarah peradaban Islam merupakan salah satu aspek dari ajaran Islam, yang sudah barang tentu lebih memfokuskan perhatian pada penelusuran sejarah kaum muslimin itu sendiri sejak awal Islam hingga perkembangan terakhir, termasuk di dalamnya berkaitan dengan perluasan wilayah Islam, tumbuh suburnya kebudayaan dan peradaban Islami.

Sejak awal perkembangannya, Islam tumbuh dalam pergumulan dengan pemikiran dan peradaban umat manusia yang dilewatinya dan karena terlibat dalam proses dialektika yang di dalamnya terjadi pengambilan dan pemberian. Dari kebudayaan Arab, Islam telah mengambil, memelihara dan mengembangkan beberapa hal dari kebudayaan Arab. Pada masa klasik merupakan masa cikal bakal pertumbuhan dan pembentukan peradaban Islam, peradaban Islam dibangun dengan menjadikan agama Islam sebagai dasar pembentukannya.

مهلبق نم نيذللا ةبقع ناك فيك اورظنيف ضرلا ىف اوريسي ملوأ ط

اهو رمع املم رثكأ اهورمعوضرلا اور اثأول ةولق مهنم دشلأ اوناك

تنيلبلاب مهلسر مهتءاجو ط

) نوملظي مهسفنأ اوناك نكلو مهملظيل هللا ناك امف 9

(

Artinya :

“Dan tidaklah mereka berpergian dimuka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul)? Orang-orang-orang itu lebih kuat dari mereka (sendiri) dan mereka telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan, dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang jelas. Maka Allah samasekali tidak berlaku zalim kepada mereka, tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.” (Q.S. Ar-Ruum [30] :9]

B. Tujuan

(2)

BAB II

ARTI, KEDUDUKAN, DAN MANFAAT SEJARAH ISLAM

1. Arti Sejarah Peradaban Islam

Sejarah berasal dari kata arab ةرجشلا (al-syajarah) yang berarti pohon.1 Mengapa diambil dari kata pohon ini, barangkali karena sejarah mengandung konotasi geologi, yaitu pohon keluarga, yang menunjuk kepada asal usul suatu marga. Dalam bahasa arab yang lain sejarahnya disebut tarikh, sirah dan lain sebagainya.2 Dalam definisi yang paling umum kata history atau sejarah kini berarti masa lampau umat manusia.3 Ibnu khaldun (1406 M) memberikan definisi yang sedikit berbeda, yakni; sejarah ialah menunjuk kepada peristiwa peristiwa istimewa atau penting pada waktu atau ras tertentu.4 Sejarah juga mempunyai pengertian ambigius ( bermakna ganda ), yakni pengertian yang menunjuk kepada peristiwa itu sendiri dan pengertian pada penafsiran terhadap peristiwa tersebut. Sidi Gazalba mendefinisikan sebagai gambaran masa lalu tentang manusia dan sekitarnya sebagai makhluk sosial, yang disusun secara ilmiah dan lengkap, meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan yang memberi pengertian dan kepahaman tentang apa yang berlaku.5 Sayyid Quthub memberi definisi sejarah sebagai tafsiran peristiwa, dan pengertian mengenai hubungan-hubungan nyata dan tidak nyata, yang menjalin seluruh bagian-bagiannya serta memberinya dinamisme dalam waktu dan tempat.

Sedangkan Peradaban (hadlarah) adalah sekumpulan konsep (mafahim) tentang kehidupan6. Jadi bisa diketahui bahwa Sejarah Peradaban Islam adalah perkembangan kecerdasan akal yang dihasilkan kekuasaan Islam mulai dari periode nabi Muhammad SAW sampai perkembangan kekuasaan Islam sekarang. Selain itu sejarah peradaban Islam dapat juga diartikan sebagai hasil-hasil yang dicapai oleh umat Islam dalam lapangan kesustraan, ilmu pengetahuan, kesenian, dan lain-lain.

2. Faktor Penyebab Kesalahan dalam Penulisan Sejarah

Beberapa faktor kesalahan tersebut diuraikan oleh Ibnu Khaldun dalam bukunya muqoddimah adalah sebagai berikut7:

1. Faktor dari dalam (internal)

a) Penulis terlalu fanatik terhadap apa yang ditulisnya. Penulis terlibat membela golongannya secara gigih, sehingga golongannya saja yang benar.

b) Penulis terlalu percaya terhadap kebenaran sumber informasinya, dan menolak sumber-sumber informasi lain.

1Helius Syamsuddin dan Ismaun, 1996: 2

2 Nourouzzaman Shiddiqi, 1984

3 Louis Gottschulk, 1975 4Issawi, Charles:1976, h. 36. 5Sidi Gazalba, 1986: 13

6 An-Nabhani, Taqiyuddin. Nizham Al-Islam, Bab Hadlarah Islam

(3)

c) Keyakinan yang salah terhadap sesuatu hal yang benar atau sebaliknyaPenulis tidak mampu memahami masalah. Sering terjadi masalah yang sesungguhnya adalah laten dan bukan yang muncul dipermukaan.

d) Penulis tidak mampu menempatkan peristiwa pada proporsi yang semestinya. e) Sejarawan berusaha mencari muka agar disenangi oleh orang lain (penguasa)

dalam melakukan penulisan sejarahnya.

f) Penulis tidak cukup mengetahui hukum-hukum masyarakat (aturan-aturan yang berlaku, etika, struktur, kultur masyarakat).

g) Sejarawan gandrung untuk membesar-besarkan fakta. 2. Faktor dari luar (eksternal):

a) Adanya tekanan dari luar dirinya baik penguasa maupun masyarakat lingkungannya.

b) Terbatasnya data yang didapat di lapangan (minim data).

3. Kedudukan Sejarah

Kedudukan sejarah sebagai suatu ilmu atau disiplin yang berusaha menentukan pengetahuan tentang masa lalu masyarakat tertentu8, misalnya tentang masa lalu umat Islam. Dilihat dari karakteristiknya sebagai pengetahuan tentang masyarakat manusia, dengan demikian pada dasarnya sejarah sejajar dengan ilmu pengetahuan sosial lainnya, seperti: sosiologi, politik, antropologi dan psikologi. Kekhususan sejarah dibanding dengan ilmu-ilmu tersebut, ialah sejarah membicarakan masyarakat itu dengan senantiasa memperhatikan dimensi waktu (diakronis).

Karakteristik sejarah dengan kedisiplinannya itu dapat dilihat dalam tiga orientasi yang saling berhubungan. Pertama, sejarah merupakan pengetahuan mengenai kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa dan keadaan-keadaan manusia di masa lampau dalam kaitannya dengan keadaan-keadaan masa kini. Tipe sejarah seperti ini disebut sejarah tradisional (tarikh naqli). Kedua, sejarah merupakan pengetahuan tentang hukum-hukum yang tampak menguasai kehidupan masa lampau, yang diperoleh melalui penyelidikan dan analisis atas periwtiwa-peristiwa masa lampau itu. Sejarah seperti ini bersifat rasional (tarikh aqli). Ketiga, sejarah sebagai falsafah yang didasarkan kepada pengetahuan tentang perubahan-perubahan masyarakat, dengan kata lain sejarah merupakan ilmu tentang proses suatu masyarakat9.

4. Manfaat Sejarah

Sejarah merupakan jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, ia merupakan tempat belajar bagi para generasi penerus agar dapat memandang ke masa silam, melihat ke masa kini, dan menatap ke masa depan. Al- Qur’an adalah kitab suci yang merupakan pedoman hidup umat Islam yang telah memerintahkan umatnya untuk

8Sidi Ghasalba, Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu, Bharata, Jakarta, 1981.

(4)

memperhatikan sejarah. Beberapa ayat Al-Qur’an dengan jelas memerintahkan hal itu. Di antaranya adalah sebagai berikut.

Artinya : “Dan tidaklah mereka berpergian dimuka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul)? Orang-orang itu lebih kuat dari mereka (sendiri) dan mereka telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan, dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang jelas. Maka Allah samasekali tidak berlaku zalim kepada mereka, tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.” (QS. Ar-Rum [30] :9]10

Al-Qur’an bahkan tidak hanya memerintahkan umatnya untuk memperhatikan perkembangan sejarah manusia, tetapi Al-Qur’an juga menyajikan banyak kisah. Sebagian ulama bahkan ada yang berpendapat bahwa dua pertiga isi Al-Qur’an itu adalah kisah sejarah. Kisah dalam Al-Qur’an terbagi menjadi tiga macam antara lain sebagai berikut11 :

Kisah para nabi yang berisi usaha, fase-fase perkembangan dakwah mereka, dan sikap orang-orang yang menentang para nabi. Adapun yang termasuk ke dalam jenis kisah tersebut di antaranya adalah kisah nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Ishak, Ismail, Musa, Harun, Isa dan Muhammad saw.

Kisah orang-orang terdahulu yang termasuk ke dalam katagori nabi. Adapun yang termasuk ke dalam jenis kisah tersebut seperti kisah Talut, Jalut, dua orang putera nabi Adam, Ashab al Kahfi (penghuni gua), Zulkarnaen, Qarun, Firaun, Maryam, dan keluarga Imran.

Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa Nabi Muhammad saw. seperti peristiwa Perang Badar, Perang Uhud, Perang Ahzab, Perang Hunain, Perang Tabuk, peristiwa hijrah, dan peristiwa Isra mi’raj

Kisah-kisah ini dipaparkan dengan tujuan agar umat manusia mengambil i’tibar (pelajaran) darinya. Allah berfirman sebagai berikut:

(5)

Artinya : “Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu Muhammad, agar dengan kisah ini kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran ini Telah datang kepadamu kebenaran nasehat dan peringatan dan bagi orang-orang yang beriman.” (QS Hud [11]:120)12

Dari penjelasan ayat tersebut jelaslah bagaimana Islam mengajarkan pentingnya mempelajari sejarah, maka jangan sekali-kali melupakan sejarah. Jadi, tujuan dan manfaat mempelajari sejarah kebudayaan Islam adalah sebagai berikut.

1) Untuk mengetahui sejarah perkembangan peradaban Islam. 2) Sebagai pelajaran untuk diterapkan di masa sekarang.

3) Peradaban Islam pada masa Nabi Muhammad adalah peradaban yang paling sempurna sehingga dapat kita jadikan pelajaran di masa sekarang.

4) Untuk menyelidki dan mengetahui sejauh mana kemajuan yang telah di capai oleh umat Islam terdahulu dalam lapangan peradaban.

5) Untuk menggali dan meninjau kembali factor – faktor apa yang menyebabkan kemajuan islam dalam lapangan perdaban dan faktor apa pula yag menyebabkan kemundurannya kemudian menjadi cermin bagi masa – masa sesudahnya.

6) Untuk mengetahui dan membandingkan antara peradaban yang dijiwai islam dengan peradaban yang lepas dari jiwa Islam.Mengetahui sumbangan Islam dan umat Islam dalam lapangan peradaban umat manusia di muka bumi.

(6)

BAB III

SEJARAH PERKEMBANGAN PEMIKIRAN DAN PERADABAN ISLAM PADA PERIODE KLASIK [650 – 1800 M]

Masa ini merupakan masa ekspansi, integrasi dan keemasan Islam. Dalam hal ekspansi, sebelum Nabi Muhammad wafat di tahun 632 M, seluruh Semenanjung Arabia telah tunduk di bawak kekuasaan Islam, dan ekspansi ke daerah-daerah di luar Arabia dimulai pada zaman Khalifah pertama Abu Bakar al-Siddik13.

a. Masa Khulafa al-Rasyidin

Nabi Muhammad tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin politik umat Islam setelah beliau wafat. Tanpaknya beliau menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Setelah beliau wafat dan jenazahnya belum dimakamkan, sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul di balai kota Bani Sa’idah di Madinah untuk musyawarah menentukan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin.

Musyawarah tersebut berjalan cukup “alot”, karena masing-masing pihak baik kaum Muhajirin maupun Anshar, sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin umat Islam. Tetapi dengan semangat ukhuwah Islamiah yang tinggi, Abu Bakar terpilih sebagai pemimpin umat Islam14. Menurut Hassan Ibrahim Hassan, bahwa semangat keagamaan Abu Bakar, mendapatkan penghargaan yang dari umat Islam15, sehingga masing-masing pihak [Muhajirin dan Anshar] dapat menerima Abu Bakar dan membaitkannya sebagai pemimpin umat Islam.

1) Masa Khalifah Abu Bakar [632-634 M]

Sebagai pemimpin umat Islam setelah Rasul, Abu Bakar disebut Khalifah Rasulillah [pengganti Rasul] yang dalam perkembangan selanjutnya disebut khalifah saja. Abu Bakar menjadi khalifah di tahun 632 M dan usia kepemimpinannya hanya dua tahun, karena pada tahun 634 M Abu Bakar meninggal dunia16.

Masanya yang singkat itu banyak dipergunakan untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri, terutama tantangan atau sikap membangkan dari suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk pada pemerintahan Madinah17.

Setelah Abu Bakar, menyelesaikan persoalan dalam negeri, kemudian mulai mengirimkan kekuatan-kekuatan ke luar Arabia. Khalid ibn al-Walid dikirim ke Irak dan dapat menguasai al-Hirah di tahun 634 M18. Ke Syria dikirim ekspediri di bawah pimpinan tiga jenderal yaitu Amr Ibn al-Aas, Abu Ubaidah, Yazid ibn Abi Sufyan, dan Syurabbil ibn Hasanah. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah yang masih berusia 18 tahun. Kemudian untuk memperkuat tentara ini, Khalid ibn al-Walid diperintahkan meninggalkan Irak, melalui gurun pasir yang jarang dilalui dan ia sampai ke Syria delapanbelas hari kemudian19.

Pada tahun 634 M Abu Bakar meninggal dunia, sementara barisan depan pasukan Islam berada di Palestina, Irak dan kerajaan Hirah. Ketika Abu Bakar sakit

13 Ibid. hlm. 56-57.

14 Badri Yatim, 1999, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, hlm. 35.

15 Hassan Ibrahim Hassan,1989, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Penerbit Kota Kembang, Yogyakarta, hlm. 34. 16 Harun Nasution, 1985, hlm. 57 dan Badri Yatim, 1999, hlm. 36

17 Badri Yatim, 1999, hlm. 36

(7)

dan merasa ajalnya sudah dekat, maka ia bermusyawarah dengan para pemuka sahabat dan mengangkat Umar ibn Khattab sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam20. Kebijakan Abu Bakar tersebut, diterima umat Islam dan secara beramai-ramai membaiat Umar ibn Khattab untuk menjadi khalifah kedua.

2) Masa Khalifah Umar bin Khattab [634-644]

Umar ibn Khattab, menyebut dirinya sebagai khalifah Khalifati Rasulillah [pengganti dari pengganti Rasulullah]. Selain itu, Umar ibn Khattab, juga memperkenalkan istilah Amir al-Mu’minin [Komandan orang-orang yang beriman]. Usaha-usaha yang telah dilakukan Abu Bakar dilanjutkan oleh khalifah kedua Umar ibn Khattab.

Di zaman Umar ibn Khattab, gelombang ekspansi [perluasan daerah kekuasaan dan da’wah] pertama terjadi yaitu ibu kora Syria Damaskus jatuh pada tahun 635 M dan setahun kemudian, setelah tentara Bizantium kalah dipertempuran Yarmuk, maka seluruh daerah Syria jatuh di bawah kekuasaan dan da’wah Islam. Syria dijadikan sebagai basis, maka ekspansi diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan ‘Amr ibn ‘Aas dan ke Irak di bawah pimpinan Sa’ad ibn Abi al-Waqqas. Iskandaria, ibu kota Mesir ditaklukkan dan jatuh di bawah kekuasaan Islam pada tahun 641 M. Kemudian al-Qadisiyah sebuah kota dekat Hirah di Iraq jatuh tahun 637 M dan dari sana serangan dilanjutkan ke ibu kota Persia, al-Madain jatuh pada tahun itu juga dan pada tahun 641 M, Mosul dapat dikuasi. Dengan demikian, pada masa khalifah Umar ibn Khattab, wilayah kekuasaan dan da’wah Islam telah meliputi Jazirah Arabiah, Palestina, Syria, Irak, Persia dan Mesir21.

Periode pemerintahan Umar ibn Khattab selama sepuluh tahun [13-23 H/634-644 M] dan masa jabatannya berakhir dengan kematian, karena dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah seorang budak dari Persia.

3) Masa Khalifah Usman ibn Affan [644 – 655 M]

Pemerintahan Usman ibn Affan berlangsung selama 12 tahun dan terjadi perluasan wilayah kekuasaan dan da’wah sampai ke Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristan berhasil disebut. Ekspansi Islam pertama berhenti sampai di sini22.

(8)

4) Masa khalifah Ali ibn Abi Thalib [656 – 661 M]

Setelah Usman ibn Affan wafat, masyatakat Islam beramai-ramai membait Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah ke empat. Ali ibn Abi Thalib memerintah hanya enam tahun dan nasibnya sama dengan khalifah Umar ibn Khattab dan Usman ibn Affan yaitu mati terbunu. Selama masa pemerintahannya, Ali menghadapi berbagai tantangan dan pergolakan, sehingga pada masa pemerintahannya tidak ada masa sedikit pun yang dapat dikatakan stabil25.

Pada masa pemerintahannya, beliau memecat para gubernur yang pada saat itu dipilih oleh Khalifah Usman. Mulai dari itulah terjadi pemberontakan terhadap kekhalifahan Ali oleh para pendukung Khalifah Usman. Selain itu, beberapa kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh Khalifah Ali memicu pemberontakan daro pendukung Khalifah Usman, yang pada akhirnya memicu terjadinya perang yang dikenal dengan “perang shiffin”. Perang ini diakhiri dengan tahkim [arbitrase], tapi tahkim tersebut ternyata tidak menyelesaikan persoalan, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga yaitu golongan al-Khawarij, orang-orang yang keluar dari barisan Ali ibn Abi Thalib yang berbalik menentang Ali dan Mu’awiyah.

b. Masa Dinasti Umayyah dan Abasiyah

1) Khilafah Bani Umayyah

. Dinasti Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah. Muawiyah dapat menduduki kursi kekuasaan dengan berbagai cara,siasat, dan tipu muslihat yang licik, bukan atas dasar demokrasi yang berdasarkan atas hasil pilihan umat islam.

Dengan demikian, berdirinya dinasti ini bukan berdasarkan hukum musyawarah. Dinasti Bani Umayyah berdiri selama kurang lebih 90 tahun (40-132H/661750M), dengan Damaskus sebagai pusat pemerintahannya. Dinasti Umayyah sangat bersifat Arab Orientalis, artinya dalam segala hal dan segala bidang para pejabatnya berasal dari keturunan Arab murni, begitu pula dengan corak peradaban yang dihasilkan pada masa dinasti ini.

Pada masa pemerintahan dinasti ini banyak kemajuan, perkembangan, dan perluasan daerah yang dicapai, terlebih pada masa pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik (86-96H/705-715M). Pada masa awal pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan ada usaha memperluas wilayah kekuasaan ke berbagai daerah, seperti ke India dengan mengutus Mhallab bin Abu Sufyan, dan usaha perluasan ke Barat ke daerah Byzantium dibawah pimpinan Yazid bin Muawiyah. Selain itu juga diadakan perluasan wilayah ke Afrika Utara. Juga mengarahkan kekuatannya untuk merebut pusat-pusat kekuasaan diluar jazirah Arab, antara lain kota Konstantinopel. Adapun alasan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk terus berusaha Byzantium. Pertama, Byzantium merupakan basis kekuatan Agama Kristen Ortodoks, yang pengaruhnya dapat membahayakan perkembangan Islam. Kedua, orang-orang Byzantium sering mengadakan pemberontakan kedaerah Islam. Ketiga, termasuk wilayah yang mempunyai kekayaan yang melimpah.

Tidak hanya itu, Islam menjadi sebuah Agama yang mampu memberikan motifasi para pemeluknya untuk mengembangkan diri dalam berbagai bidang kehidupan social, politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya. Andalusia pun memcapai kejayaan pada masa pemerintahan Islam.

(9)

 Kemajuan Yang Dicapai

Pertama, Bani Umayyah berhasil memperluas daerah kekuasaan Islam ke berbagai penjuru dunia, seperti Spanyol, Afrika Utara, Suria, Palestina, Semenanjung Arabia, Irak, sebagian kecil Asia, Persia, Afghanistan, Pakistan, Rukhmenia, Uzbekistan, dan Kirgis.26

Kedua, Islam memberikan pengaruh bagi kehidupan masyarakat luas, Sikap fanatik Arab sangat efektif dalam membangun bangsa Arab yang besar sekaligus menjadi kaum muslimin atau bangsa Islam Setelah pada saat itu bangsa Arab merupakan prototipikal dari bangsa Islam sendiri.

Ketiga, telah berkembang ilmu pengetahuan secara tersendiri dengan masing-masing tokoh spesialisnya. Antara lain, dalam ilmu Qiro’at (7 qiro’at) yang terkenal yaitu: Ibnu katsir (120H), Ashim (127H), dan Ibnu Amr (118H). Ilmu Tafsi tokohnya ialah Ibnu Abbas (68H) dan muridnya Mujahid yang pertama kali menghimpun Tafsir dalam sebuah suhuf, Ilmu Hadits dikumpulkan oleh Ibnu Syihab Az-Zuhri atas perintah Umar bin Abdul Aziz, tokohnya ialah Hasan Al-Basri (110H), Sa’id bin Musayyad, Rabi’ah Ar-Ra’iy guru dari Imam Malik, Ibnu Abi Malikah, Sya’bi Abu Amir bin Syurahbil. Kemudian ilmu Kimia dan Kedokteran, Ilmu Sejarah, Ilmu Nahwu, dan sebagainya.

Keempat, perkembangan dalam hal administrasi ketatanegaraan, seperti adanya Lembaga Peradilan (Qadha), Kitabat, Hajib, Barid, dan sebagainya.

2) Khilafah Bani Abbasiyah

Awal kekuasaan Dinasti Bani Abbas ditandai dengan pembangkangan yang dilakukan oleh Dinasti Umayah di Andalusia (Spanyol). Di satu sisi, Abd al-Rahman al-Dakhil bergelar amir (jabatan kepala wilayah ketika itu); sedangkan disisi yang lain, ia tidak tunduk kepada khalifah yang ada di Baghdad. Pembangkangan Abd al-Rahman al-Dakhil terhadap Bani Abbas mirip dengan pembangkangan yang dilakukan oleh muawiyah terhadap Ali Ibn Abi Thalib. Dari segi durasi, kekuasaan Dinasti Bani Abbas termasuk lama, yaitu sekitar lima abad.

Abu al-Abbas al-Safah (750-754 M) adalah pendiri dinasti Bani Abbas. Akan tetapi karena kekuasaannya sangat singkat, Abu ja’far al-Manshur (754-775 M) yang banyak berjasa dalam membangun pemerintahan dinasti Bani Abbas. Pada tahun 762

(10)

M, Abu ja’far al-Manshur memindahkan ibukota dari Damaskus ke Hasyimiyah, kemudian dipindahkan lagi ke Baghdad dekat dengan Ctesiphon, bekas ibukota Persia. Oleh karena itu, ibukota pemerintahan Dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia.

Abu ja’far al-Manshur sebagai pendiri muawiyah setelah Abu Abbas al-Saffah, digambarkan sebagai orang yang kuat dan tegas, ditangannyalah Abbasiyah mempunyai pengaruh yang kuat. Pada masa pemerintahannya Baghdad sangatlah disegani oleh kekuasaan Byzantium.

Kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khilafah Abbasiyah, melanjutkan kekuasaan dinasti Umayah. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad saw. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d 656 H (1258 M).

Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, social dan budaya. Berdasarkan pola pemerintahan dan pola politik itu para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode :

a. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama.

b. Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama. c. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih

dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.

d. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasti Bani sejak dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah, biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.

e. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Baghdad.

BAB IV

(11)

Masa ini merupakan awal kemunduruan bagi umat islam, setelah lebih dari lima abad [132-656 H/750–1258 M] mampu membentuk dan mengembangkan kebudayaan Islam hingga mampu membawa peradaban yang tinggi dan mengalami kejayaan dibawah pemerintahan daylat Abbasiyah27.

A. Kejayaan Peradaban Islam

Puncak kejayaan daulat ini terjadi pada masa Khalifah Harun al Rasyid dan putranya, Al Ma’mun serta khalifah-khalifah sesudahnya hingga sampai masa Al Mutawakkil. Pada masa Harun al Rasyid, kekayaan negara yang banyak sebagian besar dipergunakannya untuk mendirikan rumah sakit, membiayai pendidikan kedokteran dan farmasi. Sementara pada masa Al Ma’mum, ia gunakan untuk menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen, Sabi, dan bahkan penyembah binatang untuk menerjemahkan berbagai buku berbahasa asing ke dalam bahasa Arab, serta mendirikan Bait al Hikmah sebagai pusat penerjemahan dan akademi yang dilengkapi dengan perpustakaan. Di dalamnya diajarkan berbagai cabang ilmu, seperti kedokteran, matematika, geografi dan filsafat. Disamping itu, masjid-masjid juga merupakan sekolah, tempat untuk mempelajari berbagai macam disiplin ilmu dengan berbagai halaqah di dalamnya. Pada masanya, kota Bagdad menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan28.

1. Faktor-faktor Kemajuan

Masyarakat Islam pada masa Abbasiyah ini, mengalami kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat pesat yang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu :

a) Faktor Politik

Faktor politik yang mempengaruhi perkembangan dan kemajuan peradaban Islam, adalah sebagai berikut :

1) Pindahnya ibu kota negara dari Syam ke Irak dan Bagdad sebagai Ibu kotanya [146 H].

2) Banyaknya cendekiawan yang diangkat menjadi pegawai pemerintahan dan istana. Khalifah-khalifah Abassiyah, misalnya Al Mansur, banyak mengangkat pegawai pemerintahan dan istana dari cendekiawan-cendekiawan Persia.

3) Diakuinya Muktazilah sebagai mazhab resmi negara pada masa khalifah Al Ma’mum pada tahun 827 M.

b) Faktor Sosiografi

Faktor sosiografi yang mempengaruhi perkembangan dan kemajuan peradaban Islam, adalah sebagai berikut :

1) Meningkatnya kemakmuran umat Islam pada waktu itu. Menurut Ibn Khaldun sebagaimana dikutip oleh Ahmad Amin, ilmu itu seperti industri, banyak atau sedikitnya tergantung kepada kemakmuran, kebudayaan, dan kemewahan masyarakat29

2) Luasnya wilayah kekuasaan Islam menyebabkan banyak orang Persia dan Romawi yang masuk Islam kemudian menjadi muslim yang taat.

3) Pribadi beberapa khalifah pada masa itu, terutama pada masa Dinasti Abbasiyah I, seperti Al Mansur, Harun al Rasyid, dan Al Ma’mum yang sangat mencintai ilmu pengetahuan sehingga kebijaksanaanya banyak ditujukan kepada kemajuan ilmu pengetahuan.

4) Adanya pengaturan, pembukuan dan pembidangan ilmu pengetahuan,

(12)

khususnya ilmu-ilmu naqli yang terdiri dari ilmu agama, bahasa, dan adab. Adapun ilmu aqli, seperti kedokteran, manthiq, dan ilmu-ilmu riyadhiyat, telah dimulai oleh umat Islam dengan metode yang teratur30

c) Aktivitas Ilmiah

1) Penyusunan Buku-buku Ilmiah

Penyusunan buku-buku ini berlangsung pada masa dinasti Abbasiyah I [132- 232 H ]. Pada masa sebelumnya, ulama-ulama mentransfer ilmu mereka hanya melalui hafalan atau lembaran-lembaran yang tidak teratur. Pada tahun 143 H, barulah mereka menyusun hadis, fikih, tafsir dan banyak buku dari berbagai bahasa yang meliputi segala bidang ilmu yang telah berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dalam bentuk buku yang tersusun secara sistematis.

2) Penerjemahan

Pada dasarnya, penerjemahan dari bahasa asing ke bahasa Arab telah dilakukan sejak masa Amawiyah, seperti yang dilakukan oleh Khalid bin Yazid yang memerintahkan sekelompok orang yang tinggal di Mesir untuk menerjemahkan buku-buku tentang kedokteran, bintang dan kimia yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab31.

Aktivitas penerjemahan mencapai puncaknya pada masa Al Ma’mum. Khalifah ini juga seorang cendekiawan yang sangat besar perhatiannya kepada ilmu pengetahuan. Pada tahun 832 M, Al Ma’mum mendirikan Bait al Hikmah di Bagdad sebagai akademi pertama, lengkap dengan teropong bintang, perpustakaan dan lembaga penerjemahan32.

Setelah masa Al Ma’mum, penerjemahan berjalan terus, bahkan tidak hanya menjadi urusan istana, tetapi telah menjadi urusan pribadi oleh orang-orang yang gemar dan mencintai ilmu.

3) Pensyarahan

Menjelang abad ke 10 M, kegiatan kaum muslimin bukan hanya menerjemahkan, bahkan mulai memberikan syarahan ( penjelasan ) dan melakukan tahqiq ( pengeditan ). Pada mulanya muncul dalam bentuk karya tulis yang ringkas, lalu dalam wujud yang lebih luas dan dipadukan dalam berbagai pemikiran dan petikan, analisis dan kritik yang disusun dalam bentuk bab-bab dan pasal-pasal.

Bahkan dengan kepekaan mereka, hasil kritik dan analisis itu memancing lahirnya teori-teori baru sebagai hasil renungan mereka sendiri. Misalnya apa yang telah dilakukan oleh Muhammad bin Musa al Khawarizmi dengan memisahkan aljabar dari ilmu hisab yang pada akhirnya menjadi ilmu tersendiri secara sistematis. Pada masa inilah lahir karya-karya ulama yang telah tersususn rapi33.

d) Kemajuan Ilmu Pengetahuan

1) Kemajuan Ilmu Agama

Ilmu agama yang dimaksudkan di sini adalah ilmu-ilmu yang muncul di tengah-tengah suasana hidup keislaman berkaitan dengan agama dan bahasa Al

30 Ahmad Amin,[tt],hlmn 14

31 Hassan Ibrahim Hasan,1976,hlmn 346 32 Ahmad Daudy,1989,hlmn 6

(13)

Qur’an. Syalabi menyebutnya dengan ilmu-ilmu Islam, dan sebagian penyusun menyebutnya dengan ilmu-ilmu naqli34. Ilmu pengetahuan agama telah berkembang sejak masa dinasti Umayyah. Namun, pada masa dinasti Abbasiyah, ia menalami perkembangan dan kemajuan yang luar biasa. Masa ini melahirkan ulama-ulama besar kenamaan dan karya-karya agung dalam berbagai bidang ilmu agama35.

a) Ilmu Tafsir

Pada masa Abbasiyah ini, ilmu tafsir mengalami perkembangan yang sangat pesat dengan dilakukannya penafsiran secara sistematis, berangkai dan menyeluruh serta terpisah dari hadis. Menurut riwayat Ibn Nadim, orang pertama yang melakukan penafsiran secara sistematis berdasarkan tertib mushaf adalah Al-Farra’ [wafat 207 H]26. Pada masa ini muncul berbagai aliran dengan tafsirnya masing-masing, seperti Ahlussunnah, Syiah, dan Mu’tazilah. Dari berbagai tafsir yang telah ada, diketahui bahwa corak tafsir ada dua macam, yaitu : Pertama, Tafsir bi al Ma’tsur, yaitu penafsiran Al Qur’an berdasarkan sanad dan periwayatan, meliputi penafsiran Al Qur’an dengan Al Qur’an, Al Qur’an dengan as-sunnah dan perkataan sahabat. Kedua, Tafsir bi al Ra’yi, yaitu penafsiran berdasarkan ijtihad27

Mufassirin lain yang terkenal pada masa ini adalah al-Baghawi [wafat 516 H] dengan tafsirnya Mu’alim al Tanzil,dan yang lain30

b) Ilmu Hadis

Pada masa Abbasiyah, kegiatan dalam bidang pengkodifikasian hadis dilakukan pula dengan giat sebagai kelanjutan dari usaha para ulama sebelumnya. Para ulama Islam pada masa Abbasiyah ini berusaha semaksimal mungkin untuk menyaring hadis-hadis Rasulullah agar diterima sebagai sumber hokum31.

Para ulama hadis yang terkenal pada masa ini adalah Imam Bukhari [wafat 256 H]. Bukunya Sahih Bukhari merupakan kumpulan hadis yang berkualifikasi shahih berisi sekitar 7200 hadis, kemudian Abu Muslim al Jajjaj [wafat 261 H] berasal dari Naisabur, dan yang lain32

c) Ilmu Kalam

Ilmu kalam lahir karena dorongan untuk membela Islam dengan pemikiran-pemikiran filsafat dari serangan orang-orang Kristen Yahudi yang mempergunakan senjata filsafat, dan untuk memecahkan persoalan-persoalan agama dengan kemampuan akal dan pikiran dan ilmu pengetahuan. Orang-orang Mu’tazilah mempunyai andil besar dalam mengembangkan ilmu kalam yang pemecahannya bercorak filsafat dalam Islam36.

(14)

Di antara kebanggan pemerintahan zaman Abbasiyah pertama adalah terdapatnya empat imam mazhab fikih yang ulung ketika itu. Mereka adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Keempat imam mazhab tersebut merupakan para ulama fikih yang paling agung dan tiada tandingannya di dunia Islam.

2. Ilmu Umum

a) Filsafat

Filsafat muncul sebagai hasil integrasi antara Islam dengan kebudayaan klasik Yunani yang terdapat di Mesir, Suria, Mesopotamia, dan Persia37, dan mulai berkembang pada masa khalifah Harun al Rasyid dan al Ma’mum. Para filosof muslim yang terkenal dan kemudian menjadi tokoh filsafat dunia adalah Ya’qub bin Ishaq al Kindi [796-873 M]. Ia dikenal sebagai filosof Arab yang telah menulis sekitar lima puluh buku yang sebagian besar dalam bidang filsafat; dan yang lainnya38

b) Kedokteran

Pada masa dinasti Abbasiyah, ilmu kedokteran telah mencapai puncaknya yang tertinggi dan telah melahirkan para dokter yang sangat terkenal. Diantara mereka yang sangat terkemuka adalah Yuhannah bin Musawaih ( wafat 242 H ), bukunya Al’ Asyr al Maqalat fi al’ Ain tentang pengobatan penyakit mata; dan yang lainnya39. Ahli kedokteran lainnya yang terkenal pada masa ini adalah Ibn Maimun, Abu al Qasim, Hunain Ibn Ishaq, Tsabit Ibn Qurrah, Qistha ibn Luqba, Ibn Bajjah, Ibn Thufail, Muhammad al Tamimi, dan lain-lain40.

c) Astronomi

Ilmu ini membantu orang Islam dalam menentukan letak kakbah serta garis politik para khalifah dan amir yang mendasarkan perhitungan kerjanya dan peredaran bintang. Astronom Islam yang terkenal adalah Al Fazzari yang hidup pada masa Al Mansur sebagai orang Islam yang pertama kali yang menyusun Astrolaber [Alat yang dahulu dipakai sebagai pengukur tinggi bintang]; Al Fargani yang telah mengarang ringakasan tentang ilmu astronomi kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin kemudian diterjemahkan oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis41. Sedangkan astronom Islam lainnya adalah Ya’qub bin Thariq [wafat 180 H], Muhammad bin Umar al Balkhi dengan karyanya Kitab Al Madhal al Kabir: Al Battani [wafat 319 H] penulis buku Al Zaij al Shabi: Al Khawarizmi [wafat 226 H[: Abu Hasan Ali [277-352 H] penulis kitab Al Nur wa Zu al Mahrajan: dan Abu Raihan al Biruni [wafat 440 H]42.

d) Ilmu Pasti/Matematika

Ilmu ini dibawa oleh ilmuwan India pada masa khalifah Al Mansur dalam buku Sindahind, dan dari terjemahan buku ini yang telah dilakukan oleh Al Fazzari

37 Harun Nasution, 1985, hlm. 11.

38 Abd al-Mun’im Majid, 1978, hlm. 173.

39 Hasan Ibrahim Hasan, 1976,hlm. 347.

40 Abd al Mun’im Majid, 1978,hlm. 243.

41 Harun Nasution, 1985, hlm. 71.

(15)

dikenallah sistem angka Arab dan angka nol yang mempermudah dalam perhitungan, selanjutnya dikembangkan lagi oleh Khawarizmi dan Habash al Hasib dengan memuat table angka-angka43. Selain membuat tabel angka, Al Khawarizmi juga telah menyusun buku tentang berhitung dan aljabar. Karyanya yang terkenal adalah Hisab al Jabar wa al Muqabalah yang sangat mempengaruhi ilmuwan sesudahnya seperti Umar Khayam, Leonardo Fibonacci, dan Jacob Florence44. Ahli ilmu pasti dan matematika lainnya adalah Ibn Tsabit [wafat 331 H] dan Ismail bin Abbas [wafat 328 H]45.

e) Geografi

Pada masa dinasti Abbasiyah, daerah perdagangan semakin luas, hubungan kota Bagdad sebagai ibukota negara dengan kota-kota lain, baik darat maupun laut berkembang pesat dan lalu lintas ramai sekali. Hal itu menimbulkan kegiatan untuk berusaha memudahkan perjalanan dan membuka jalan-jalan baru. Pada masa khalifah Harun al Rasyid misalnya, perlawatan kaum muslimin telah sampai ke India, Srilangka, Malaya, Indonesia, Cina, Korea, Afrika, Eropa,dan lain-lain. Dari perjalanan tersebut, kaum muslimin berusaha melukiskan selengkapnya hal ihwal negeri-negeri yang dilihatnya sehingga melahirkan ahli geografi Islam yang ternama. Diantara mereka yang terkenal adalah Ibn Khardazabah karyanya adalah kitab Al Masalik wa al Mamalik; Ibn al Haik [wafat 334 H] dengan karyanya kitab Al Ikli; Ibn Fadhlan; Al Muqaddasy [wafat 375 H] dengan karyanya ahsan al Taqasin fi Ma’rifat alAqalim; dan lain-lain46.

Dalam bidang lain seperti optika kita kenal Ibn Haytham dengan teorinya bahwa bendalah yang mengirim cahaya ke mata dan karena menerima cahaya, maka mata dapat melihat benda itu. Dalam ilmu kimia dikenal Jabir Ibn Hayyan dan Abu Bakar al Razi [865-925 M] dan dalam lapangan fifika dikenal Abu Raihan Muhammad al Biruni [973-1048 M] yang telah mengemukakan teori tentang bumi berputar sekitar as-nya, serta melakukan penyelidikan tentang kecepatan suara dan cahaya serta berhasil dalam menentukan berat dan kepadatan 18 macam permata dan metal47.

B. Kemunduran Peradaban Islam

Demikianlah puncak kejayaan yang dialami oleh khalifah Abbasiyah hingga masa khalifah Al Mutawakkil. Namun sepeninggalnya, daulat ini mulai mengalami kemunduran karena khalifah-khalifah penggantinya pada umumnya lemah dan tidak mampu melawan kehendak tentara yang sangat berkuasa di istana. Kondisi demikian akhirnya menjadikan khalifah tak ubahnya seperti sebuah boneka yang berada di tangan meeka. Roda pemerintahan tidak lagi diatur oleh khalifah, melainkan diatur oleh tentara-tentara dari Turki48.

Pada masa inilah daulat Abbasiyah mulai mengalami kemunduran. Sungguh pun telah mengalami berkali-kali pergantian khalifah, kemunduran daulat ini berakhir pada masa khalifah Al Mu’tashim [1242-1258 M]. Pada masa pemerintahannyalah kota

43 Philip K. Hitty., 1970, hlm. 310 .

44 Philip K. Hitty., 1970, hlm. 379

45 Hasan Ibrahim Hasan, 1976, hlm. 345

46 A.Hasjmi,Op.cit.,hlm.302.

47 Harun Nasution, 1985, hlm. 11.

(16)

Bagdad dihancurkan oleh Hulagu Khan. Selanjutnya, pembahasan ini akan mencoba untuk mengkaji factor-faktor kemundurannya hingga mengalami kehancurannya. Hal ini tentu sangat menarik untuk dikaji, karena suatu dinasti yang begitu besar dengan ditopang oleh perekonomian yang mapan serta kebudayaan maupun peradaban yang tinggi perlahan-lahan mundur dan kemudian hancur.

a. Faktor Internal

Munculnya pertentangan antara Arab dan non Arab,perselisihan antara muslim dengan non muslim, dan perpecahan di kalangan umat Islam sendiri telah membawa kepada situasi kehancuran dalam pemerintahan. Disamping itu, tampilnya gerakan-gerakan pembangkangyang berkedok keagamaan, seperti orang-orang Qaramithah, Hasyasyin dan pihak-pihak lain turut memporak-porandakan kesatuan akidah maupun nilai-nilai Islam yang bersih disepanjang masa49.Selain itu munculnya dinasti-dinasti kecil yang benar-benar menikmati independensi dari daulat Abbasiyah, seperti bani Thulun dan Ikhsyid di Mesir. Bani Thahir di Khurasam, bani Saman di Persia dan seberang sungai Oxus, orang-orang Ghaznawi di Afganistan, Punjab, dan India. Bahkan bani Buwaihi, penganut Syiah Itsna ‘Asyariah ini berhasil menduduki kekhalifahan di Syiraz dan Persia. Kemudian setelah Buwaihi tumbang digantikan oleh Saljuq yang Sunni50. Hal ini terjadi, karena lemahnya kekhalifahan pusat.

Dengan adanya independensi dinasti-dinasti tersebut perekonomian pusat menurun karena mereka tidak lagi membayar upeti kepada pemerintah pusat. Sementara itu, di sisi lain meningkatnya ketergantungan pada tentara bayaran. Pemakaian tentara bayaran berarti pengeluaran uang makin bertambah banyak, karena kesetiaan mereka hanya didapat dengan uang51. Adapun faktor terpenting yang membawa kehancurannya, adalah khalifah-khalifah Abbasiyah melalaikan salah satu sendi Islam, yaitu jihad. Mereka terjerat dalam berbagai problematika internal, sebab setelah Al Mu’tasim,tidak tercatat dalam sejarah adanya peperangan52.

b. Faktor Eksternal

Sebelum kedatangan Hulagu, di bagian barat wilayah dinasti Abbasiyah telah terjadi perang salib. Selama terjadi perang salib, di Bagdad sedang terjadi keresahan. Ketika kerajaan mereka sedang terancam perang salib, mereka tidak menyadari datangnya bahaya serangan-serangan bangsa Mongol53.

Bangsa Mongol yang biasa hidup nomaden, suka berperang, merampok dan berburu, mudah bagi mereka untuk menaklukkan negara-negara jajahannya. Dinasti Mongol didirikan oleh Jengis khan. Pada zamannya, bangsa Mongol menghancurkan wilayah-wilayah Islam. Pada tahun 1212 M, orang-orang Mongol berhasil menguasai Peking. Kemudian mereka mengalihkan serangannya kearah barat. Satu demi satu kerajaan Islam ditaklukkannya. Transoxania dan Khawarizm jatuh dalam kekuasaan Mongol pada tahun 1219-1220 M. Kerajaan Ghazna dikalahkan pada tahun 1221. Azerbaijan pada tahun 1223 M dan Saljuk di Asia kecil pada tahun 1243 M. Dari sini mereka meneruskan serangannya ke Eropa dan Rusia.

Kemudian pada tahun 656 H / 1258 M. Hulagu cucu Jengiskan, menyerang dan

49 Abdul Uwais, Dirasah Li Suqut Tsalatsina Daulah al-Islamiyah, terjemahan Yudian

Wahyudi, 1994, Analisis Runtuhnya Daulah-daulah Islamiyah, Pustaka Mantiq, Surakarta, hlm. 106.

50 Abdul Uwais, terjemahan Yudian Wahyudi, 1994, hlm. 104-105.

51 W. Montgomery Watt, terjemahan Hartono Hadikusumo, 199, hlm.156-167.

52 Abdul Uwais, 1994, hlm. 106.

(17)

memporak-porandakan Bagdad. Sebelumnya, mereka menyerang Persia. Kemudian ia berhasil pula menghancurkan Hasyasyin di Alamut54. Kondisi Bagdad saat porak-poranda, di mana-mana tercium bau yang menyengat. Ketika khalifah Al-Mu’tasim keluar, ditemani oleh tigaratus pendukungnya, ia menyerah tanpa syarat kepada Hulagu. Kemudian Hulagu memerintahkanagar mereka semua di bunuh. Akibatnya, berakhirlah kekuasaan daulat Abbasiyah. Jika daulat ini mampu mempersatukan atau mengkoordinasikan berbagai daulah yang berada di bawah kekuasaannya serta menegakkan prinsip jihad abadit.

BAB V

PERKEMBANGAN ISLAM PADA PERIODE MODERN (1800-Sekarang)

Periode ini merupakan kebangkitan Zaman Kebangkitan Islam. Ekspedisi Napoleon di Mesir yang berakhir di tahun 1801, membuka mata dunia Islam, terutama Turki dan Mesir, akan kemunduran dan kelemahan umat Islam di samping kemajuan dan kekuatan Barat. Raja dan pemuka-pemuka Islam mulai berfikir dan mencari jalan untuk mengembalikan balance of power, yang telah pincang dan membahayakan Islam. Kontak Islam dengan Barat sekarang berlainan sekali dengan kontak Islam dengan Barat di periode klasik. Pada waktu itu Islam

(18)

sedang menaik dan Barat sedang dalam kegelapan. Sekarang, sebaliknya sedang dalam kegelapan dan Barat sedang menaik. Kini Islam yang ingin belajar dari Barat.

Dengan demikian timbullah apa yang disebut pemikiran dan aliran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam. Pemuka-pemuka Islam mengeluarkan pemikiran-pemikiran bagaimana caranya membuat umat Islam maju kembali sebagai di periode klasik.Usaha-usaha ke arah itupun mulai dijalankan dalam kalangan umat Islam. Tetapi dalam pada itu, Barat juga bertambah maju.55

1. Kerajaan dan Negara Islam Beserta Era Pembaharuannya a. Kerajaan Mughal India

Kerajaan Mughal di India merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar di dunia yang tidak dapat dihilangkan dalam lintasan sejarah peradaban umat Islam. Pendiri kerajaan ini adalah Zahiruddin Muhammad, dikenal dengan Babur yang berarti singa.

Babur hanya dapat menikmati usaha merintis kerajaan Mughal selama lima tahun. Setelah wafat (1530 M), pemerintahan diteruskan oleh puteranya yang bernama Humayun. Tidak berbeda dengan ayahnya, ia juga menghiasi kepemimpinannya dengan peperangan.

Pergantian demi pergantian raja terus berlanjut, dari Sultan Akbar hingga Aurangzeb. Setelah wafatnya Aurangzeb, raja-raja kerajaan tercatat semakin melemah. Kerajaan Mughal tidak hanya sebagai simbol dan lambang belaka, bahkan raja hanya diberi gaji oleh kolonial Inggris yang telah datang untuk biaya hidup tinggal di istana.

Dengan fenomena ikut andilnya Negara Inggris, maka muncul dan menciptakan ide pembaharuan. Ide ini dicetuskan oleh Shah Waliyullah Dehalwi (abad ke-18) yang telah menyebar ke seluruh India. Salah satu muridnya, Shah Abdul Azizi, berusaha membersihkan ajaran-ajaran agama yang bukan dari Islam. Ia berprinsip daerah-daerah yang dikuasai selain Islam, harus segera direbut kembali. Dengan semangat tersebut, ia bersama para murid melakukan perlawanan terhadap hegeemoni kekuasaan colonial Inggris. Namun, akhirnya ia terbunuh dalam sebuah pertempuran di Balakot.56

Meski terbunuhnya tokoh di atas, tidak menciutkan nyali para tokoh lainnya. Maka muncul baru dari tokoh-tokoh Islam di India yang ingin berjuang untuk

55 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1979), hal. 88-89

56 M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher,

(19)

kemerdekaan India dari penjajah. Salah satunya adalah Sayyid Ahmad Khan. Ia mengajak umat Islam untuk belajar bahasa Inggris, dan melakukan politik kompromi dengan Inggris. Dalam berbagai tulisan, seminar dan pidato, Ahmad Khan menyampaikan misinya yaitu menginginkan agar umat Islam mendirikan Negara sendiri, jangan bercampur dengan umat Hindu. Karena umat Islam akan tersisih menjadi minoritas.

Pada 1885, orang India bergabung denganpartai politk all Indian National Congress, tujuannya adalah untuk mendapatkan kemerdekaan, baik kelompok Islam maupun non muslim dalam satu wadah. Namun, tokoh-tokoh muslim mulai berpikir kembali bahwa imat Islam di India harus memiliki Negara sendiri, maka terbentuklah Partai Liga Muslim pada tahun 1906 di Dhaka atas prakarsa Nawab Vikarul Mulk dan Sir Salimullah.

Usaha tersebut tidak sia-sia. Pada 15 Agustus 1947, mendapatkan tujuan yang dimaksud, yaitu memperoleh kemerdekaan dan mendirikan negara sendiri yang berbasis Islam. Negara itu dinamai Pakistan, dengan presiden pertamanya Ali Jinnah.57

b. Mesir

Mesir mulai zaman modern ketika terjadi persinggungan antara Barat (perancis) dan Mesir dengan ekspedisi Napoleon tahun 1798. Ketika Perancis angkat kaki dari Mesir pemerintahan diganti oleh Muhammad Ali Pasya sebagai gubernur Turki Usmani58. Ia memulai memodernisir Mesir, terutama di bidang militer dan berkuasa hingga tahun 1848 yang kemudian digantikan oleh anaknya, Ibrahim Pasya.

Tahun 1882 terjadi pemberontakan Urabi Pasya terhadap Inggris yang menguasai Mesir. Negeri lembah Nil itu baru merdeka dari Inggris tahun 1922. keturunan Muhammad Ali Pasya berkuasa di Mesir hingga tahun 1953, ketiak Mesir dipimpin oleh Raja Faruq. Kemudian digantikan oleh Muhammad Naguib dan Mesir berubah menjadi negara Republik. Ia menggalang persatuan dengan Syiria yang diberi nama Republik Persatuan Arab pada tahun 1958. Namun, persatuan itu tidak lama, hanya sampai September 1961.

c. Turki

Bangsa Turki tercatat dalam sejarah Islam dengan keberhasilannya mendirikan dua dinasti yaitu Dinasti Turki Saljuk dan Dinasti Turki Usmani. Di dunia Islam, ilmu

57 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam…, Hal. 188

(20)

pengetahuan modern mulai menjadi tantangan nyata sejak akhir abad ke-18, terutama sejak Napoleon Bonaparte menduduki Mesir pada tahun 1798 dan semakin meningkat setelah sebagian besar dunia Islam menjadi wilayah jajahan atau dibawah pengaruh Eropa.akhirnya serangkaian kekalahan berjalan hingga memuncak dengan jatuhnya dinasti Usmani di Turki. Proses ini terutama disebabkan oleh kemjuan tekhnologi barat. Setelah pendudukan Napoleon, Muhammad Ali memainkan peranan penting dalam kampanye militer melawan Perancis. Ia diangkat oleh pengusaha Usmani menjadi Pasya pada tahun 1805 dan memerintah Mesir hingga tahun 1894

Buku-buku ilmu pengetahuan dalam bahasa Arab diterbitkan. Akan tetapi, saat itu terdapat kontroversial percetakan pertama yang didirikan di Mesir ditentang oleh para ulama karena salah satu alatnya menggunakan kulit babi. Muhammad Ali Pasya mendirikan beberapa sekolah tekhnik dengan guru-gurunya dari luar negaranya. Ia mengirim lebih dari 4000 pelajar ke Eropa untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Kebudayaan turki merupakan perpaduan antara kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak menerima ajaran-ajaran tentang etika dan tatakrama kehidupan kerajaan atau organisasi pemerintahan. Prinsip kemiliteran mereka dapatkan dari Bizantium, sedangkan dari Arab, mereka mendapat ajaran tentang prinsip ekonomi, kemasyarakatan, dan ilmu pengetahuan.

Orang-orang Turki Usmani dikenal sebagai bangsa yang senang dan mudah berasimilasi dengan bangsa lain dan bersikap terbuka terhadap kebudayaaan luar. Para ilmuwan ketika itu tidak menonjol. Namun demikian, mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah seperti masjid Sultan Muhammad Al Fatih, masjid Sulaiman, dan masjid Abu Ayub Al Ansari. Masjid-masjid tersebut dihiasi pula dengan kaligrafi yang indah. Salah satu masjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah masjid yang awalnya berasalh dari gereja Aya Sophia.

Islam dan kebudayaannya tidak hanya merupakan warisan dari masa silam yang gemilang, namun juga salah satu kekuatan penting yang cukup diperhitungkan dunia dewasa ini. Al Qur’an terus menerus dibaca dan dikaji oleh kaum muslim. Budaya Islam pun tetap merupakan faktor pendorong dalam membentuk kehidupan manusia di permukaan bumi.

(21)

oleh Nabi Muhammad mengandung amanat yang mendorong kemajuan bagi seluruh umat manusia, khusunya umat Islam di dunia.

BAB VI

GAGASAN DAN HIKMAH SEJARAH

1. Gagasan Pembaharuan dalam Islam a. Pada Bidang Aqidah

Salah satu pelopor pembaruan dalam dunia islam Arab adalah suatu aliran yang bernama Wahabiyah yang sangat berpengaruh di abad ke-19. Pelopornya adalah Muhammad Abdul Wahab (1703-1787 M) yang berasal dari nejed, Saudi Arabia. Pemikiran yang dikemukakan oelh Muhammada Abdul Wahab adalah upaya memperbaiki kedudukan umat islam dan merupakan reaksi terhadap paham tauhid yang terdapat di kalangan umat islam saat itu.59 Paham tauhid mereka telah bercampur aduk oleh ajaran-ajaran tarikat yang sejak abad ke-13 tersebar luas di dunia islam

Disetiap negara islam yang dikunjunginya, Muhammad Abdul Wahab melihat makam-makam syekh tarikat yang bertebaran. Setiap kota bahkan desa-desa

(22)

mempunyai makam sekh atau walinya masing-masing. Ke makam-makam itulah umat islam pergi dan meminta pertolongan dari syekh atau wali yang dimakamkan disana untuk menyelesaikan masalah kehidupan mereka sehari-hari. Ada yang meminta diberi anak, jodoh disembuhkan dari penyakit, dan ada pula yang minta diberi kekayaan. Syekh atau wali yang telah meninggal. Syekh atau wali yang telah meninggal dunia itu dipandang sebagai orang yang berkuasa untuk meyelesaikan segala macam persoalan yang dihadapi manusia di dunia ini. Perbuatan ini menurut pajam Wahabiah termasuk syirik karena permohonan dan doa tidak lagi dipanjatkan kepada Allah SWT

Masalah tauhid memang merupakan ajaran yang paling dasar dalam islam . oleh karena itu, tidak mengherankan apabila Muhammad Abdul Wahab memusatkan perhatiannya pada persoalan ini. Ia memiliki pokok-pokok pemikiran sebagai berikut:

a. Yang harus disembah hanyalah Allah SWT dan orang yang menyembah selain dari-Nya telah dinyatakan sebagai musyrik

b. Kebanyakan orang Islam bukan lagi penganut paham tauhid yang sebenarnya karena mereka meminta pertolongan bukan kepada Allah, melainkan kepada syekh, wali atau kekuatan gaib. Orang Islam yang berperilaku demikian juga dinyatakan sebagai musyrik

c. Menyebut nama nabi, syekh atau malaikat sebagai pengantar dalam doa juga dikatakan sebagai syirik

d. Meminta syafaat selain kepada Allah juga perbuatan syrik e. Bernazar kepada selain Allah juga merupakan sirik

f. Memperoleh pengetahuan selain dari Al Qur’an, hadis, dan qiyas merupakan kekufuran

g. Tidak percaya kepada Qada dan Qadar Allah merupakan kekufuran.

h. Menafsirkan Al Qur’an dengan takwil atau interpretasi bebas juga termasuk kekufuran.

Untuk mengembalikan kemurnian tauhid tersebut, makam-makam yang banyak dikunjungi denngan tujuan mencari syafaat, keberuntungan dan lain-lain sehingga membawa kepada paham syirik, mereka usahakan untuk dihapuskan. Pemikiran-pemikiran Muhammad Abdul Wahab yang mempunyai pengaruh pada perkembangan pemikiran pembaruan di abad ke-19 adalah sebagai berikut.

(23)

b. Taklid kepada ulama tidak dibenarkan

c. Pintu ijtihad senantiasa terbuka dan tidak tertutup60

Muhammad Abdul Wahab merupakan pemimpin yang aktif berusaha mewujudkan pemikirannya. Ia mendapat dukungan dari Muhammad Ibn Su’ud dan putranya Abdul Aziz di Nejed. Paham-paham Muhammad Abdul Wahab tersebar luas dan pengikutnya bertambah banyak sehingga di tahun 1773 M mereka dapat menjadi mayoritas di Ryadh. Di tahun 1787, beliau meninggal dunia tetapi ajaran-ajarannya tetap hidup dan mengambil bentuk aliran yang dikenal dengan nama Wahabiyah.

Pembaruan Ibnu Abdul Wahhab dan ijtihadnya lebih banyak berupa pemilihan yang masih dalam lingkup mazhab Hambali serta mengajak kepada nash dan ucapan para tokohnya-khususnya ucapan pendiri mazhab, Imam Ahmad bin Hambal (164-241 H/780-855 M) dan Ibnu Taimiyah (661-728 H/1263-1328 M) daripada kreasi pemikiran, penemuan, dan hal-hal baru. Ijtihadnya adalah pilihan dalam lingkup mazhab, mengajak kepada nash dan pendapat yang memurnikan akidah tauhid dari tanda-tanda kesyirikan, bid’ah, dan khurafat61.

b. Pada Bidang Ilmu Pengetahuan

Islam merupakan agama yang sangat mendukung kemajuan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, islam menghendaki manusia menjalankan kehidupan yang didasarkanpada rasioanlitas atau akal dan iman. Ayat-ayat Al Qur’an banyak memberi tempat yang lebih tinggi kepada orang yang memiliki ilmu pengetahuan, Islam pun menganjurkan agar manusia jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang telah dimilikinya karena berapapun ilmu dan pengetahuan yang dimiliki itu, masih belum cukup untuk dapat menjawab pertanyaan atau masalah yang ada di dunia ini. Firman Allah SWT:

Artinya : “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepada tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan

60 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan bintang, 1975), 25

(24)

habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.”(QS Luqman : 27)62

Ajaran islam tersebut mendapat respon yang positif dari para pemikir islam sejak zaman klasik (650-1250 M), zaman pertengahan (1250-1800 M) hingga periode modern (1800 m dan seterusnya). Masa pembaruan merupakan zaman kebangkitan umat islam. Jatuhnya mesir ke tangan barat menyadarkan umat islam bahwa di barat telah timbul peradaban baru yang lebih tinggi dan merupakan ancaman bagi islam. Raja-raja dan pemuka-pemuka islam mulai memikirkan cara untul meningkatkan mutu dan kekuatan umat islam dengan cara melakukan pembaharuan dalam islam.63

Sebenarnya pembaruan dan perkembangan ilmu pengetahuan telah dimulai sjak periode pertengahan, terutama pada masa kerajaan usmani. Pada abad ke-17, mulai terjadi kemunduran khusunya ditandai oleh kekalahan-kekalahan yang dialami melalui peperangan melawan negara-negara Eropa. Peristiwa tersebut diawali dengan terpukul mundurnya tentara usmani ketika dikirm untuk menguasai wina pada tahun 1683. kerajaan usmani menyerahkan Hungaria kepada Austria, daerah Podolia kepada Polandia, dan Azov kepada Rusia dengan perjanjian Carlowiz yang ditandatangani tahun 1699.

Kekalahan yang menyakitkan ini mendorong raja-raja dan pemuka-pemuka kerajaan usmani mengadakan berbagai penelitian untuk menyelidiki sebab-sebab kekalahan mereka dan rahasia keunggulan lawan. Usaha pembaharuan dilakukan oleh Ibrahim Mutafarrika (170-1754M) diantaranya pembukaan suatu percetakan di istambul pada tahun 1727 yang membolehkan percetakan buku-buku selain Al-qur’an, Hadits, figh, ilmu kalam dan tafsir. Maka ia mencetak buku-buku mengenai ilmu kedokteran, astronomi, ilmu pasti, sejarah, dan sebagainya64

Selain itu, salah satu tentara Turki Usmani yang juga memiliki kecerdasan dan pemberani yaitu Muhammad Ali Pasya yang kemudian menjadi gubernur Mesir di bawah Turki Usmani.65 Mereka melakukan perubahan meninggalkan keterbelakangan menuju modernisasi di berbagai bidang khususnya bidang pendidikan. Upaya pembaharuan dipelopori oleh Muhammad Ali Pasya, kemudian diikuti oleh pemikir-pemikir lainnya.

62 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, h. 413.

63 Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam sejarah pemikiran dan Gerakan, h. 6

64 Ibid

(25)

Salah satu bidang yang menjadi sentral pembaruan Muhammad Ali adalah bidang-bidang militer dan bidang-bidang yang bersangkutan dengan bidang militer, termasuk pendidikan. Kemajuan di bidang ini tidak mungkin dicapai tanpa dukungan ilmu pengetahuan modern.66 Atas dasar inilah sehingga perhatian di bidang pendidikan mendapat prioritas utama. Hal ini terbukti dengan dibentuknya Kementerian Pendidikan untuk pertama kalinya di Mesir, dibuka sekolah militer (1815), sekolah teknik (1816), sekolah ketabibaban (1836), dan sekolah penerjemahan (1836).67

Muhammad Ali Pasya berpendapat bahwa kekuasaan dapat dipertahankan hanya dengan dukungan militer yang kuat yang dibentuk melalui ekonomi dan pendidikan. Maka pembangunan pendidikan, ekonomi dan militer segera dilakukan demi kelanggengan kekuasaannya di Mesir. Modernisasi yang dilakukannya antara lain: mengirim mahasiswa ke Prancis, mendatangkan dosen dari Prancis, mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang mempelajari ilmu militer, kesehatan, ekonomi dan penerjemahan.68

i. Pembaharuan dalam Islam di Indonesia

Adanya gerakan di Sumatera yang dikenal dengan sebutan Padri, yang melawan adat istiadat minangkabau yang bertentangan dengan ajaran islam. Selain itu, di Jakarta (jawa) lahir Jamiat Khair pada tahun 1901 M, dan Muhammadiyah (1912 M) yang didirikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan.

1. Tokoh-Tokoh Pembaruan Pada Periode Modern (1800 M – Dan Seterusnya)

Kaum muslim memiliki banyak sekali tokoh – tokoh pembaruan yang pokok – pokok pemikirannya maupun jasa-jasanya di berbagai bidang telah memberikan sumbangsih bagi umat islam di dunia. Beberapa tokoh yang terkenal dalam dunia ilmu pengetahuan atau pemikiran Islam tersebut antara lain sebagai berikut:

a. Jamaludin Al Afgani (Iran 1838 – Turki 1897)

Jamaludin Al-Afgani adalah seorang pemimpin pembaharuan dalam islam yang tempat tinggal dan aktivitasnya berpindah dari satu negara ke negara islam lainnya. Pengaruh terbesar ditinggalkan di Mesir. Ketika zaman Al Tahtawi buku-buku

66 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan.h.36

67 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan.h.36-38

(26)

diterjemahkan sudah menyebar dan di dalamnya terdapat salah satunya ide trias politika dan patriotisme, maka pada tahun 1879 Al-Afgani membentuk partai al-Hizb al-Wathan ( Partai Nasionalis) dengan slogan Mesir untuki orang Mesir mulai kedengaran dengan memperjuangkan universal, kemerdekaan pers dan pemasukan unsur-unsur Mesir ke dalam bidang militer.69

b. Muhammad Abduh (Mesir 1849-1905) dan Muhammad Rasyd Rida (Suriah 1865-1935)

Muhammad Abduh terlahir di desa dan keluarga kelas bawah dan mengenyam pendidikan yang menggunakan metode menghafal di luar kepala. Kemudian ia meneruskan pendidikan di Al-Azhar Kairo, ia bertemu dengan Jamaludin al-Afghani dan kemudian ia belajar filsafat di bawah bimbingan Afghani, di masa inilah ia mulai membuat karangan untuk harian al-Ahram yang pada saat itu baru didirikan. Pada tahun 1877 studinya selesai di al-Azhar dengan hasil yang sangat baik dan mendapat gelar Alim. Kemudian ia diangkat menjadi dosen al-Azhar disamping itu ia mengajar di Universitas Darul Ulum.70

Rasyd Rida merupakan murid Muhammad Abduh. Guru dan murid tersebut sempat mengunjungi beberapa negara Eropa dan amat terkesan dengan pengalaman mereka disana. Rasyd Rida mendapat pendidikan Islam tradisional dan menguasai bahasa asing (Perancis dan Turki) yang menjadi jalan masuknya untuk mempelajari ilmu pengetahuan secara umum. Oleh karena itu, tidak sulit bagi Rida untuk bergabung dengan gerakan pembaruan Al Afgani dan Muhammad Abduh di antaranya melalui penerbitan jurnal Al Urwah Al Wusqa yang diterbitkan di paris dan disebarkan di Mesir.71

c. Sir Sayid Ahmad Khan (India 1817-1898)

Sir Sayid Ahmad Khan adalah pemikir yang menyerukan saintifikasi masyarakat muslim. Seperti halnya Al Afgani, ia menyerukan kaum muslim untuk meraih ilmu pengetahuan modern. Akan tetapi, berbeda dengan Al Afgani ia melihat adanya kekuatan yang membebaskan dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi modern. Kekuatan pembebas itu antara lain meliputi penjelasan mengenai suatu peristiwa

69 Ibid. H. 31

70 Drs. H.M. Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam, Jakarta , hlm. 79

(27)

dengan sebab-sebabnya yang bersifat fisik materiil. Di barat, nilai-nilai ini telah membebaskan orang dari tahayuldan cengkeraman kekuasaan gereja. Kini, dengan semangat yang sama, Ahmad Khan merasa wajib membebaskan kaum muslim dengan melenyapkan unsur yang tidak ilmiah dari pemahaman terhadap Al Qur’an. Ia amat serius dengan upayanya ini antara lain dengan menciptakan sendiri metode baru penafsiran Al Qur’an. Hasilnya adalah teologi yang memiliki karakter atau sifat ilmiah dalam tafsir Al Qur’an.

d. Musthafa Kemal (1881-1938 M)

Mustafa Kemal memproklamirkan Republik Turki pada 29 Oktober 1923 dengan membentuk negara modern didasarkan kepada kekecewaan yang amat mendalam terhadap sistem kekhalifahan sebelumnya yang dianggap gila dan dibangun atas sendi-sendi keagamaan yang rapuh.Peraturan dan pengadilan agama kuno segera digantikan dengan hukum perdata yang modern dan ilmiah, begitu juga sokolah agama harus diserahkan kepada pemerintah sekuler.72

Salah satu bukti penghapusan kekhalifahan ,menghapus kementerian syariah dan waqaf dan menyatukan sistem pendidikan di bawah kementerian pendidikan lahirnya Undang-undang yang disetuhui Dewan Nasional Agung Turki pada tanggal 3 Maret 1924.73

Tujuan akhir Mustafa Kemal dengan reformasi berupa westernisasi adalah membawa Turki berbaris bersama dengan peradaban Barat, bahkan berusaha mencuri satu langkah mendahului perdaban Barat. Mustafa Kemal dikenal sebagai Bapak Rakyat Turki dengan julukan Ataturk, dan ia juga mendapat julukan Ghazi.74

2. Hikmah Sejarah Peradaban Islam

1) Sejarah dikemukakan dalam Al Qur’an sebagai kisah atau peristiwa yang dialami umat manusia di masa lalu. Orang yang tidak mau mengambil hikmah dari sejarah mendapat kecaman karena mereka tidak mendapat pelajaran apapun dari kisah dalam Al Qur’an. Melalui sejarah, kita dapat mencari upaya antisipasi agar kekeliruan yang mengakibatkan kegagalan di masa lalu tidak terulang di masa yang akan datang.

72 Ajid Tohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam h. 220

73 Ajid Tohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, h. 220

(28)

2) Pelajaran yang dapat diambil dari sejarah dapat menjadi pilihan ketika mengambil sikap. Bagi orang yang mengambil jalan sesuai dengan ajaran dan petunjuk Nya, orang tersebut akan mendapat keselamatan

3) Pembaruan akan memberi manfaat berupa inspirasi unutk mengadakan perubahan-perubahan sehingga suatu pekerjaan akan menajdi lebih efektif dan efisien

4) Dalam sejarah, dikemukakan pula masalah sosial dan politik yang terdapat di kalangan bangsa-bangsa terdahulu. Semua itu agar menjadi perhatian dan menjadi pelajaran ketika menghadapi permasalahan yang mungkin akan terjadi

5) Pembaruan mempunyai pengaruh besar pada setiap pemerintahan. Sebagai contoh, pada zaman Sultan Mahmud II sadar bahwa pendidikan madrasah tradisional tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman abad ke-19. oleh karena itu, dibuatlah pembaruan-pembaruan di bidang pendidikan yang memasukkan unsur ilmu pengetahuan umum ke dalam sistem pendidikan negara tersebut.

(29)

BAB VII PENUTUP A. Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa umat Islam terus berkembang baik dalam bidang peradaban, keilmuan, kebudayaan, dan lain sebagainya. Akan tetapi perkembangan tersebut juga diwarnai dengan beberapa masalah seperti halnya perbedaan dan perdebatan yang tak jarang menimbulkan perpecahan pada tubuh Islam yang didasarkn pada kekuasaan pada akhir tujuannya, hingga kemudian hal-hal itu menyebabkan kemunduran Islam.

Selain itu, modernisasi Islam dimulai dari zaman klasik meliputi zaman Rasulullah, Bani Umayyah, dan Bani Abbasiyyah, zaman pertengahan yang meliputi tiga kerajaan besar, dan zaman modern dari 1800 sampai dengan sekarang ini. Tidak luput juga Indonesia yang mengalami modernisasi yaitu periode mitos (zaman Ratu Andil), periode politik (negara), dan periode ilmu (sistem), dari sinilah kemudian dapat kita lihat bahwa umat Islam mengalami proses modern yang masih berlangsung sampai dewasa ini.

A. Saran

(30)

2. Dalam mempelajari sejarah umat Islam harus berhati-hati karena terdapat kesalah dalam penulisan sejarah.

DAFTAR PUSTAKA

Anwarudin, Drs, M.A, dkk. Modul Mata Kuliah Pendidikan Agama. Jakarta

http://pasaronlineforall.blogspot.com/2010/12/peradaban-islam-pada-periode-modern.html

http://daqoiqul.blogspot.com/2012/04/pembaharuandi-mesir-1-pendudukan.html

http://sanaky.com/wp-content/uploads/2009/02/07-periode-pertengan-1250-1800-m.pdf

Referensi

Dokumen terkait

dengan Formulir Isian Kualifikasi yang telah disampaikan melalui aplikasi SPSE. Demikian penyampaian kami, atas perhatiannya diucapkan

Siswa aktif, kreatif, mau berfikir, konsentrasi, mampu menjawab soal, dan bertanggung jawab.. Dari penemuan metode rolling question ini penulis dapat membuat kajian teori

Berdasarkan analisis yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, dapat diambil kesimpulan yaitu hubungan hukum antara para pihak dalam peer to peer lending (layanan

Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana perlindungan hukum terhadap konsumen pada perjanjian fidusia yang tidak dibuat dengan akta notaris dan tidak didaftarkan

Sistem tersebut adalah aplikasi yang dimaksudkan untuk memberikan informasi dan pelayanan perijinan bagi masyarakat dengan memanfaatkan peran teknologi informasi dan

Hal ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi fundamental (SEF) memang memiliki pola yang mirip dengan yang terjadi di negara maju seperti Australia yaitu umumnya sebagian besar

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran langsung berbantuan alat peraga mesin fungsi dapat meningkatkan pemahaman

Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi 6 kemacetan pelebaran jalan dengan. mengurangi taman /