Tarian yang ada di Lampung Tengah
1.Tarian GajahDi wahana sirkus, gajah biasa unjuk berbagai kebolehan. Sesuai arahan pawang. Di berbagai kebun binatang, para orangtua biasanya sengaja memperkenalkan binatang purba itu kepada anak-anak. Langsung. Bukan dari foto/video tayangan smartphone. Lokasinya di Kecamatan Way Jepara, Labuan Meringgai, Sukadana, Purbolinggo, Rumbia dan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah. pengunjung siap disuguhi beraneka atraksi gajah-gajah (Elephas maximus sumatranus) terlatih. Mereka diprogram menjadi gajah tunggang, gajah sirkus. Binatang berbobot ratusan kilo berbelalai panjang itu mampu bermain sepakbola. Atraksi lainnya: mengangkat beban, menari dengan iringan musik, mengalungkan bunga, berjabat tangan, berenang, main bola, memberi hormat, tarik tambang, berenang, duduk, melompati jajaran orang. Tentu saja di bawah instruksi sang pawang.
Pusat Pelatihan dan Penangkaran Way Kambas mudah dicapai. Hanya sekitar 2 jam berkendara dari Bakauheni ke arah Labuhan Ratu. Lanjut ke lokasi 15 menit perjalanan. Tepatnya, 9 km dari pintu gerbang Plang Ijo. Di atas lahan 1.300 km² itulah gajah-gajah liar ditangkarkan dan dilatih. Menyaksikan proses pengembangbiakan gajah secara alami tentu makan waktu lama. Ini porsinya para peniliti dari berbagai negara sangat berkepentingan mengembangkan riset. Selain di sini, sebuah sekolah gajah (Pusat Latihan Gajah) lainnya hanya bisa ditemui di Minas, Riau.
Berdiri sejak 1985, “Pusat Konservasi Gajah” ini dikelola pemerintah setempat, di bawah naungan Kementerian Kehutanan. Pengunjung dapat sepuasnya ‘berkenalan’ dan berinteraksi dengan makhluk berkuping lebar itu. Pihak pengelola Pusat Pelatihan Gajah membuka keleluasaan untuk itu, dengan memberlakukan jam operasional mulai pukul 08.00 hingga pukul 6.00 WIB. Jadi, sekali seumur hidup berkunjung ke sini, khususnya bersama anak, akan jadi kenangan yang indah.
Selain pusat latihan gajah, Taman Nasional Way Kambas (TNWK) memiliki Suaka Rhino Sumatera (SRS), yang dikelola International Rhino Foundation. Ini satu-satunya tempat pengembangbiakan satwa liar badak Sumatera di Indonesia. Bahkan satu-satunya lokasi tempat pengembangbiakan badak Sumatera secara semi alami di Asia, bahkan mungkin di dunia. Dari tempat penangkaran dan
pengembangbiakan inilah gajah-gajah terlatih ini disebarkan ke seluruh Nusantara. Sejak programnya dimulai, Pusat Konservasi menghasilkan lebih dari 400 gajah pintar.
2.Tarian Ittar Mullei 3Tarian Beladau
1. Tari Bedana
Tari Bedana
Tari Bedana merupakan tari tradisional yang bernafaskan ajaran agam Islam dan mencerminkan tata kehidupan masyarakat Provinsi Lampung yang ramah dan juga terbuka sebagai simbol persahabatan serta pergaulan anak muda Provinsi Lampung dengan komitmen beragama.
2. Tari Cangget
Tari Cangget
Tarian ini merupakan tarian para muda-mudi di Provinsi Lampung. Konon katanya, pada tahun 1942 sebelum kedatangan bangsa Jepang ke Indonesia, Tari Canget ini selalu ditampilkan disetiap acara yang berhubungan dengan gawi adat, seperti halnya pada panen raya, upacara mendirikan rumah, dan dipakai untuk mengantar orang yang akan berpergian menunaikan ibadah haji.
Dalam pertunjukannya, Tari Cangget ini akan diiringi oleh alat musik tradisional seperti canang, lunik 8 sampai 12 buah, gujeh sebuah, bende 1 buah, gong 2 buah, gendang 1 buah dan pepetuk 2 buah. Tarian cangget yang menjadi ciri khas
Cangget dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Cangget, Tarian Tradisional Dari Lampung".
3. Tari Melinting
Tari Melinting
Tari Melinting merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Melinting, Kecamatan Labuhan Meringgai, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Kesenian tari ini dianggap sebagai salah satu kesenian klasik, dikarenakan tarian ini telah ada semenjak masuknya Islam di Nusantara.
Sejarah munculnya tari Melinting ini dipercaya berasal dari kata meninting, yang memiliki arti membawa. Kata meninting juga muncul bersamaan dengan masuknya ajaran agama Islam di Nusantara, sehingga dapat disimpulkan bahwa Meninting ini dapat berarti membawa misi Islam. Selain bermakna membawa misi Islam, Tari Melinting ini juga dipercaya dibuat oleh Ratu Melinting. Ratu Melinting adalah seorang ratu yang memimpin di sebuah daerah yang diberi nama Melinting. Selengkapnya tentang Tari Melinting dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Melinting, Tarian Tradisional Dari Provinsi Lampung".
Tari Sigeh Pengunten
Tarian ini merupakan salah satu tari kreasi baru dari Lampung. Tari Sigeh Pengunten merupakan pengembangan dari Tari Sembah yang merupakan tari tradisi asli dari masyarakat Lampung. Melalui Peraturan Daerah, tari sigeh
pengunten ini diresmikan sebagai tarian Lampung didalam penyambutan para tamu penting. Koreografi tarian ini juga mengambil unsur dari berbagai macam tari
tradisional Lampung dalam merepresentasikan kebudayaan Lampung yang beragam.
Tari sembah telah umum ditampilkan sebagai bagian dari acara ritual penyambutan para tamu dalam acara-acara resmi seperti prosesi pernikahan. Tarian ini
menggambarkan sebuah ekspresi kegembiraan atas kedatangan para tamu undangan. Selain itu juga, makna esensial dari tarian ini merupakan bentuk dari penghormatan kepada para tamu undangan yang hadir. Dalam tarian ini, para penari mengekspresikan hal tersebut didalam rangkaian gerakan yang luwes, ramah, dan juga penuh kehangatan. Selengkapnya tentang Tari Sigeh Pengunten dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Sigeh Pengunten, Tarian Tradisional Dari Lampung".
Tari Merak
Tari Merak merupakan tarian tradisional yang banyak dipentaskan di seluruh Indonesia, bahkan dibeberapa provinsi juga mempunyai Tari Merak ini. Begitu pula dengan Provinsi Lampung mempunyai tari merak yang memiliki fungsi sebagai penyambutan gelar. Tari Merak ini melambangkan keluhuran budi dan juga susila dari masyarakyat Provinsi Lampung.
Tarian yang ada di Lampung Selatan
1. Tari Sembah
Tari sembah merupakan tarian tradisional dari Provinsi Lampung yang berasal dari Suku Pepadun. Pada awalnya Tari Sembah ditampilkan pada acara penyambutan para raja dan tamu-tamu istimewa. Saat ini Tari Sembah dikenal sebagai tari penyambutan yang tujuannya adalah menghormati tamu yang datang. Selain ditampilkan pada upacara adat penyambutan tamu, tari sembah juga ditampilkan pada upacara pernikahan dengan tujuan yang sama yaitu menyambut para tamu yang hadir pada acara tersebut.
Sembah ini adalah Sesapur yaitu baju kurung bewarna putih atau baju yang tidak berangkai pada sisinya namun pada sisi bagian bawah terdapat hiasan berbentuk koin berwarna perak atau emas yang digantung secara berangkai (rumbai ringgit). Sedangkan busana yang digunakan sebagai bawahan adalah kain tapis. Kain tapis adalah kain tenun tradisional lampung yang terbuat dari bahan katun bersulam emas dengan motif tumpal atau pucuk rebung. Kain tapis bermotif sepeti ini biasanya disebut dengan nama kain tapis Dewasana (Dewo sanaw).
Selain busana, ada beberapa aksesoris yang dipergunakan oleh para penari tari sembah. Aksesoris yang dipergunakan antara lain :
Mahkota siger Pending, yaitu ikat pinggang dari uang ringgit Belanda dengan gambar ratu Wihelmina di bagian atas.
Bulu serti, yaitu ikat pinggang yang terbuat dari kain beludru berlapis kain merah. Bagian atas ikat pinggang ini dijaitkan
kuningan yang digunting berbentuk bulat dan bertahtakan hiasan berupa bulatan kecil-kecil. ikat pinggang bulu serti dikenakan diatas pending.
Mulan temanggal, yaitu hiasan dari kuningan berbentuk seperti tanduk tanpa motif yang digantungkan di leher sebatas dada. Dinar, yaitu mata uang Arab dari emas yang diberi peniti
dandigantungkan pada sesapur,tepatnya di bagian atas perut. Buah jukum, yaitu hiasan berbentuk buah-buah kecil di atas kain
yang dirangkai menjadiuntaian bunga dengan benang dan dijadikan kalung panjang yang dipakai melingkar mulai dari bahu ke bagian perut sampai ke belakang.
Gelang burung, yaitu hiasan dari kuningan berbentuk burung bersayap yang diatasnya direkatkan bebe yaitu kain halus yang berlubang-lubang. Gelang burung ini diikatkan pada lengan kiri dan kanan, tepatnya di bawah bahu.
Gelang kana adalah sebuah gelang yang terbuat dari kuningan berukir dan gelang Arab, yang dikenakan bersama-sama di lengan atas dan bawah.
Tanggai adalah hiasan yang berbentuk seperti kuku berwarna keemasan terbuat dari bahan kuningan yang dikenakan di jari penari.
tajam-tajam pada bagian atas serta berhiaskan bunga. Mahkota siger ini secara keseluruhan terbuat dari bahan kuningan.
Untuk iringan musik, tentu saja tari sembah diiringi oleh musik tradisional Provinsi Lampung.
2. Tari Cangget Agung
Sukubangsa Lampung sendiri terbagi menjadi dua bagian yaitu Lampung Pepadun dan lampung Sebatin. Lampung Sebatin adalah sebutan bagi orang Lampung yang berada di sepanjang pesisir pantai selatan Lampung. Sedangkan, Lampung Pepadun adalah sebutan bagi orang Lampung yang berasal dari Sekala Brak di punggung Bukit Barisan (sebelah barat Lampung Utara) dan menyebar ke utara,timur dan tengah provinsi ini. Sebagaimana masyarakat lainnya, mereka juga mereka menumbuh-kembangkan kesenian yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi jatidirinya. Dan, salah satu kesenian yang ditumbuhkembangkan oleh masyarakat Lampung, khususnya Orang Pepadun, adalah jenis seni tari yang disebut “tari cangget”.
Konon, sebelum tahun 1942 atau sebelum kedatangan bangsa Jepang ke Indonesia, tari cangget selalu ditampilkan pada setiap upacara yang berhubungan dengan gawi adat, seperti: upacara mendirikan rumah, panen raya, dan mengantar orang yang akan pergi menunaikan ibadah haji. Pada saat itu orang-orang akan berkumpul, baik tua, muda, laki-laki maupun perempuan dengan tujuan selain untuk mengikuti upacara, juga berkenalan dengan sesamanya. Jadi, pada waktu itu tari cangget dimainkan oleh para pemuda dan pemudi pada suatu desa atau kampung dan bukan oleh penari-penari khusus yang memang menggeluti seni tari tersebut.
dan orang tuanya setuju, maka mereka meneruskan ke jenjang perkawinan
Macam-macam Tari Cangget
Tarian cangget yang menjadi ciri khas orang Lampung ini sebenarnya terdiri dari beberapa macam, yaitu:
Cengget Nyambuk Temui, adalah tarian yang dibawakan oleh para pemuda dan pemudi dalam upacara menyambut tamu agung yang berkunjung ke daerahnya.
Cangget Bakha, adalah tarian yang dimainkan oleh pemuda dan pemudi pada saat bulat purnama atau setelah selesai panen (pada saat upacara panen raya).
Cangget Penganggik, adalah tarian yang dimainkan oleh pemuda dan pemudi saat mereka menerima anggota baru. Yang dimaksud sebagai anggota baru adalah pada pemuda dan atau pemudi yang telah berubah statusnya dari kanak-kanak menjadi dewasa.
Perubahan status ini terjadi setelah mereka melalukan upacara busepei (kikir gigi).
Cangget Pilangan, adalah tarian yang dimainkan oleh para pemuda dan pemudi pada saat mereka melepas salah seorang anggotanya yang akan menikah dan pergi ke luar dari desa, mengikuti isteri atau suaminya.
Cangget Agung adalah tarian yang dimainkan oleh para pemuda dan pemudi pada saat ada upacara adat pengangkatan seseorang menjadi Kepala Adat (Cacak Pepadun). Pada saat upacara
pengangkatan ini, apabila Si Kepala Adat mempunyai seorang anak gadis, maka gadis tersebut akan diikutsertakan dalam tarian
cangget agung dan setelah itu ia pun akan dianugerahi gelar Inten, ujian, Indoman atau Dalom Batin.
Gerakan Tari Cangget
Walau tarian cangget terdiri dari beberapa macam, namun tarian ini pada dasarnya mempunyai gerakan-gerakan yang relatif sama, yaitu:
(1) gerak sembah (sebagai pengungkapan rasa hormat); (2) gerakan knui melayang (lambang keagungan);
(3) gerak igel (lambang keperkasaan);
(4) gerak ngetir (lambang keteguhan dan kesucian hati; (5) gerak rebah pohon (lambang kelembutan hati);
(6) gerak jajak/pincak (lambang kesiagaan dalam menghadapi mara bahaya);
(7) gerak knui tabang (lambang rasa percaya diri).
Peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi tari Canget diantaranya adalah:
(1) canang lunik 8–12 buah; (2) bende sebuah;
Busana yang dikenakan oleh penari perempuan adalah: (1) kain tapis;
(2) kebaya panjang warna putih; (3) siger; (4) gelang burung;
(5) gelang ruwi; (6) kalung papan jajar; (7) buah jarum;
(8) bulu seratai; (9) tanggai; (10) peneken; (11) anting-anting;
(12) kaos kaki warna putih.
Sedangkan busana dan perlengkapan pada penari laki-laki adalah: (1) kain tipis setengah tiang;
(2) bulu seratai; menggunakan perlengkapan-perlengkapan pendukung lainnya, yaitu: (1) jepana (tandu usungan) yang dipakai pada saat mengantar dan menjemput tamu agung, sesepuh adat atau
pun puteri kepala adat dan kutamara;
(2) tombak dan keris, dipakai pada saat tari igel;
(3) talam emas, dipakai untuk landasan menurunkan serta menaikkan para sesepuh atau tetua adat dari Jepana memasuki Sesat Agung ataupun sebaliknya;
(4) Payung adat yang warna putih (lambang kesucian) dan warna kuning (lambang keagungan).
Lagu-lagu yang dimainkan saat Tari Cangget
Adapun lagu-lagu yang sering dinyanyikan untuk mengiringi tarian Cangget Agung adalah
(1) tabuh mapak/nyabuk temui; (2) tabuh tari (tarey);
(5) gupek; (6) hujan turun.
Catatan: Saat ini, seiring dengan perkembangan zaman, penyelenggaraan tarian ini semakin berkurang. Tarian cangget tidak lagi ditarikan oleh para pamuda dan pemudi untuk saling berkenalan, melainkan telah menjadi suatu tarian khusus yang dimainkan oleh penari-penari tertentu (tidak sembarang orang) dan pada saat-saat tertentu saja (upacara adat saja).
Tari Tupping
dipertunjukan.
Tarian yang ad diLampung Barat
TARI HALIBAMBANG
TARI Tradisional Halibambang merupakan warisan nenek moyang suku Lampung Sekala Brak. Apabila ada perayaan perkawinan biasanya diadakan pesta muli mekhanai yang di sebut Nyambai. Keberadaan Tari Halibambang di daerah Liwa di perkirakan pada abad ke VI pada masa keadatan Lampung Sekala Brak.
Tari Tradisional adalah tari yang telah baku oleh aturan-aturan tertentu. Dalam kurun waktu yang telah disepakati, aturan baku diwariskan secara turun
menurun melalui generasi ke generasi.
Tari Halibambang dapat diartikan sebagai Hali: Seperti, Bagaikan sedangkan Bambang: Kupu-kupu. Jadi Tari Halibambang dapat simpulkan sebagai tarian yang menggambarkan kupu-kupu yang sedang beterbangan dengan mengibas-ibas sayapnya di alam yang bebas dan berayun-ayun di bunga
sembarangan orang pementasanya pun hanya terbatas pada saat acara Nyambai adat dalam adat Lampung Sekala Brak saja.Personil penarinya puin hanya terbatas pada putri keluarga Lampung Sekala Brak yang funsinya sebagai tari hiburan keluarga.
Namun sekarang fungsi tari halibambang tidak lagi mutlak sebagai tarian
keluarga adat Lampung saja,tetapi sudah diperbolehkan tarian ini dipentaskan di tempat terbuka serta tarian ini berfungsi sebagai tarian hiburan lepas atau sebagai tarian penyambut tari Lampung.
Busana tari:
Kumbang Gijekh (Kumbang Goyang) sebgai lambang keanggunan dan keindahan.
Sanggul (keindahan).
Tali Galah(tali leher) yang diberi kumbang tabokh (keindahan). Kipas (properti)lambang sayap kupu-kupu.
Gelang Kana (kemakmuran).
Gajah Minung atau kalung selembok (kemakmuran) Busung /ikat pinggang (kemakmuran).
Kawai/baju beludru (kesucian). Injang bumpek
Musik pengiring Tari Halibambang menggunakan Talo Balak, nada yang
dihasilkan dari bunyi tabuhan Talo balak ini dapat disimpulkan pada kunci nada = G ( Sedikit Sumbang ), Gong besar berbunyi nada = 1( do ), Gong Kecil berbunyi nada = 2/ ( ri ), Talo Balak dan Gendang.
Tari Halimbambang
TARI Tradisional Halibambang merupakan warisan nenek moyang suku Lampung Sekala Brak. Apabila ada perayaan perkawinan biasanya diadakan pesta muli mekhanai yang di sebut Nyambai. Keberadaan Tari Halibambang di daerah Liwa di perkirakan pada abad ke VI pada masa keadatan Lampung Sekala Brak.
Tari Tradisional adalah tari yang telah baku oleh aturan-aturan tertentu. Dalam kurun waktu yang telah disepakati, aturan baku diwariskan secara turun menurun melalui generasi ke generasi.
Tari Halibambang dapat diartikan sebagai Hali: Seperti, Bagaikan
sedangkan Bambang: Kupu-kupu. Jadi Tari Halibambang dapat simpulkan sebagai tarian yang menggambarkan kupu-kupu yang sedang
beterbangan dengan mengibas-ibas sayapnya di alam yang bebas dan berayun-ayun di bunga
Dahulu Tari Halibambang adalah merupakan tarian keluarga Lampung Sekala Brak yang beradat Sai Batin dan hanya dapat dipentaskan oleh lingkungan keluarga Sekala Brak di tempat yang tertutup,tidak boleh ditarikan oleh sembarangan orang pementasanya pun hanya terbatas pada saat acara Nyambai adat dalam adat Lampung Sekala Brak
Namun sekarang fungsi tari halibambang tidak lagi mutlak sebagai tarian keluarga adat Lampung saja,tetapi sudah diperbolehkan tarian ini
dipentaskan di tempat terbuka serta tarian ini berfungsi sebagai tarian hiburan lepas atau sebagai tarian penyambut tari Lampung.
Busana tari:
Kumbang Gijekh (Kumbang Goyang) sebgai lambang keanggunan dan keindahan.
Sanggul (keindahan).
Tali Galah(tali leher) yang diberi kumbang tabokh (keindahan). Kipas (properti)lambang sayap kupu-kupu.
Gelang Kana (kemakmuran).
Gajah Minung atau kalung selembok (kemakmuran) Busung /ikat pinggang (kemakmuran).
Kawai/baju beludru (kesucian). Injang bumpek
Musik pengiring Tari Halibambang menggunakan Talo Balak, nada yang dihasilkan dari bunyi tabuhan Talo balak ini dapat disimpulkan pada kunci nada = G ( Sedikit Sumbang ), Gong besar berbunyi nada = 1( do ), Gong Kecil berbunyi nada = 2/ ( ri ), Talo Balak dan Gendang.
Tari Nyambai
TARI Nyambai diperkirakan lahir bersamaan dengan kebiasaan masyarakat untuk meresmikan gelar adat, pelaksanaanya
diselenggarakan bersamaan dengan upacara perkawinan. Nama Nyambai diambil dari kata Cambai dalam bahasa Lampung berarti sirih. Sirih
menjadi simbol keakraban bagi masyarakat Lampung pada umumnya. Oleh karena itu, sirih digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan upacara adat, yang memiliki makna berbeda-beda tergantung penempatanya.
Nyambai adalah acara pertemuan khusus diselenggarakan untuk
Meghanai (bujang) dan Muli (gadis) sebagai ajang silaturahmi, berkenalan, dengan menunjukan kemampuannya dalam menari. Di lain pihak,
dan media untuk mencari jodoh antara Muli dan Meghanai. Selain itu, tari Nyambai juga merupakan sarana untuk mempererat kekerabatan adat Saibatin
Tari Nyambai tergolong sebagai tari klasik, penampilan tari Nyambai diikuti dan dihadiri oleh kalangan bangsawan, yang diselenggarakandi Lamban Gedung. Lamban Gedung merupakan tempat tinggal Ketua Adat sekaligus istana yang digunakan untuk musyawarah adat.
Konon tari Nyambai sudah dipertunjukan sebelum Indonesia merdeka namun tidak diketahui secara pasti awal kemunculannya. Tari Nyambai adalah salah satu bentuk seni pertunjukan dalam konteks upacara
perkawinan yang ditarikan oleh putra dan putri dari para para ketua adat. Tari ini dijadikan salah satu sarana untuk tetap mempertahankan daerah kebangsawan adat Saibatin. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwasanya tari Nyambai bagi adat Saibatin menunjukan adanya sebuah pretise dan legitimasi seorang Ketua Adat.
Gerakan tari Nyambai merupakan perpaduan dari dua bentuk pertunjukan yaitu tari Dibingi dan tari Kipas. Gerak dalam tari Nyambai terdiri dari tiga ragam yaitu, kekindai, Ngesesayak, dan Mampang kapas. Tiga ragam gerak ini dilakukan oleh Muli dan Meghanai secara berulang-ulang. Ragam gerak memiliki keunikan pada gerak yang dilakukan pada level rendah (jongkok).
Tari Piring duabelas
SEJARAH
Tari Piring Duabelas merupakan tari tradisional yang berkaitan dengan gawi adat masyarakat Lampung yang beradat Saibatin. Tari ini berasal dari Sekala Bekhak, kecamatan Belalau, Lampung Barat. Awalnya orang orang dari Sekala Bekhak ini hijrah ke wilayah Kota Agung (Teluk Semaka) untuk mencari tempat baru dan membentuk sebuah kerajaan yaitu Kerajaan Beniting. Disebut Kerajaan Beniting karena dulu di Sumatera terdapat banyak harimau, sedangkan raja di Kerajaan Beniting ini bisa berubah menjadi harimau.
Agar rakyat tidak keliru maka sang raja memiliki sebuah tanda yang ada di bagian pinggangnya yang biasa disebut babiti, maka raja tersebut disebut raja
beniting.Setelah mendapat pengaruh para pedagang, Kerajaan Beniting berubah menjadi Kerajaan Semaka.Tari Piring 12 muncul saat Kerajaan Semaka dan dikembangkan menjadi empat macam tarian.
a.Tari Piring Biasa (Asli), dibawakan oleh bujang gadis (mulei mekhanai) b.Tari Piring Buha (Buaya), dibawakan oleh mekhanai
c.Tari Piring Maju Ngekkes (Pengantin), dibawakan oleh mulei d.Tari Piring Duabelas yang ditarikan oleh mulei/mekhanai
perdagangan. Lalu kerajaan tersebut diberi nama Kerajaan Benawang. Benawang sendiri memiliki arti uang yang banyak dan bertebaran.Di Kerajaan Benawang inilah terciptanya 12 bandar.
Tari piring adalah tarian sang ratu yang ditarikan dikala menyambut para ulu balak dari medan laga atau medan perang. Sang ratu memberikan suguhan kepada ulu balak berupa tarian sebagai ungakapan rasa gembira. Sang ratu berasal dari Kerajaan Paksi Marga Benawa.
Tari piring diperkirakan mulai ditarikan sebelum agama islam masuk ke
Indonesia. Adapun disebut piring 12 sebab, paksi marga benawang mempunyai 12 bandar, dari setiap bandar mempunyai ulubalang - ulubalang dan setiap ulubalang pasti mempunyai pasukan perang.
Adapun nama-nama 12 bandar tersebut adalah : 1). Bandar Rajabasa (gunung subuwujo)
2). Bandar Sani (gunung subuwujo),
3). Bandar Narip (sekarang daerah nuropangko),
4). Bandar Talagening dibagi lagi menjadi 4 bandar lop Bandar Talagening, Bandar Maja, Bandar Muara, Bandar Kelunggu (Kota Agung),
5). Bandar Baturuga (Terahutimur), 6). Bandar Limau (kecamatan limau), 7). Bandar Putih,