POLA KEBERAGAMAAN MASYARAKAT URBAN :
Studi di Perum Chandra Indah Ngemplak BoyolaliOleh : Dr. Sarbini, M.Ag.
Dosen Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Surakarta
ABTRAKSI
Judul : Pola Keberagamaan Masyarakat Urban: Studi Di Perum Pondok Chandra Indah Gagaksipat Ngemplak Boyolali
Bagi masyarakat urban (perumahan) agama dipahami sebagai bentuk keyakinan dan menjadi inti dari sistem nilai untuk menjadi pendorong dan pengontrol tindakan anggota masyarakat agar tetap sesuai dengan nilai-nilai ajaran agamanya. Ketika pengaruh agama menjadi kuat terhadap sistem nilai suatu masyarakat, maka sistem nilai keberagamaan itu terwujud sebagai simbol suci yang maknanya bersumber pada ajaran agama yang menjadi kerangka acuannya. Apabila agama menjadi inti dari kebhidupan suatu masyarakat, maka fungsi dasar agama adalah memberikan orientasi, motivasi, dan membantu masyarakat untuk mengenal dan menghayati sesuatu yang sacral berdampak semakin baik dan teraturnya kehidupan masyarakat perumahan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi agama (socio-religius) yang berusaha menggambarkan realita emperik masyarakat beragama terkait doktrin, keyakinan, perilaku sosial dan ajaran-ajaran bersifat fungsional yang melahirkan fenomena keberagamaan. Untuk menggambarkan peristiwa tersebut pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan melancak dukumentasi yang dinarasikan dalam bentuk kualitatif-deskriptif dengan analisis kualitatif-deskriptif-interpretatif. Adapun teori yang digunakan teori Emile
Durkheim, tentang agama dan masyarakat berfungsi menciptakan dan mengembangkan sense of community, yang menghasilkan solidaritas sekaligus kesadaran kolektif. Agama merupakan suatu sistem interpretasi diri kolektif, yang meliputi aspek ideology, ritual, pengalaman, pengetahuan dan penghayatan.
Temuan-temuan dalam penelitian; (1) masyarakat perumahan yang nota bene sebagai masyarakat urban memiliki keragaman dalam beragama akan tetapi senantiasa mengutamakan kebersamaan atau persatuan masyarakat sebagaimana di simbolkan dalam penamaan masjid al-Ittihad (2) ketaatan dalam keberagamaan termanifestasikan dalam praktek shalat jama’ah di masjid sebagai bentuk kesadaran ritual sekaligus ideologi, (3) bentuk-bentuk solidaritas dalam keagamaan diwujudkan dalam keinginan yang kuat dalam menuaikan zakat infaq dan sedekah tidak hanya pada bulan Ramadan tetapi pada bulan lain secara rutin, (4) dalam rangka meningkatkan pengetahuan penyelenggaan kajian keagamaan melalui majelis taklim di posisikan sebagai lembaga pendidikan yang berfungsi untuk mentrasfer pengetahuan, (5) Agama Islam bagi masyakat dimaknai sebagai belief system untuk menentukan ukuran nilai dan norma-norma yang dijalankan dalam masyarakat, (6) pengahayatan keagamaan ditandai kemampuan individu warga dalam memfungsikan agama sebagai pusat pendidikan, penyelamatan dan pengawasan atau konrol sosial.
A. PENDAHULUAN
a. Problematik Masyakarat Urban
Penelitian ini berusaha untuk mengungkap bagaimana praktek-praktek keberagamaan, khusus agama Islam dijalankan oleh masyakarakat perumahan yang notabene sebagai masyarakat urban yang corak kehidupan relative modern ketimbang masyarakat pedesaan. Sebagaimana diketahui relasi sosial antara agama dan masyarakat dapat membentuk sistem sosial yang melahirkan keragaman dalam pemahaman agama. Saat ini agama memasuki wilayah sosial, tetapi penghayatan berisifat individual. Apa yang dipahami dan dihayati dalam agama tergantung pada latar belakang dan kepribadian penganutnya. Perbedaan penghayatan dari satu orang dengan orang lain melahirkan keberagaman beragama meskipun dalam satu keyakinan agama. Oleh kerena dalam agama selalu memiliki sifat obyektif dan subyektif.
Hal ini berkaitan dengan interpretasi ajaran-ajaran agama oleh masyarakat, baik menyangkut agama itu sendiri maupun modernitas. Nurcholis Majid (1993 :123) menyatakan bahwa agama memiliki dimensi doktriner yang digambarkan sebagai suatu sistem kebenaran yang memiliki daya mengubah budi pekerti jika agama di pegang secara iklas. Di sisi lain agama merupakan kebutuhan akan ekspresi rasa kesucian bagi masyarakat modern berkenaan dengan kehidupan mental dan spiritual. Dengan demikian identitas sosial-agama masyarakat yang berupa interaksi sosial dan keagamaan melahirkan dinamika keberagamaan dan mengkonstruksi identitas agama untuk kepentingan kehidupan yang lebih harmonis dalam suatu integrasi agama dengan kultur modern.
(kesendirian) yang didasarkan pada pendekatan spiritual dan emosioanal tertentu sebagai pedoman hidup. Kedua, agama sebagai kehidupan individual selalu dipahami adanya hubungan organis secara masyarakat secara keseluruhan dalam tataran moral dan perasaan. Ketiga, agama dipahami sebagai nilai yang relevan dengan kehidupan nyata. Keempat, respon manusia terhadap agama di dunia terus berkembang, sebab setiap perkembangan terdapat perubahan (Nurcholis Majid, 1993:126). Oleh karena agama harus mampu menampung perubahan masyarakat (social change)
Dalam menjalankan praktek keagamaan (Islam) dalam masyarakat perumahan Chandra Indah Ngemplak Boyolali, agama dipahami sebagai bentuk keyakinan dan menjadi inti dari sistem nilai untuk menjadi pendorong dan pengontrol tindakan anggota masyarakat agar tetap sesuai dengan nilai-nilai ajaran agamanya. Ketika pengaruh agama menjadi kuat terhadap sistem nilai suatu masyarakat, maka sistem nilai keberagamaan itu terwujud sebagai simbol suci yang maknanya bersumber pada ajaran agama yang menjadi kerangka acuannya (Kahmad, 2000:64). Apabila agama menjadi inti dari kehidupan suatu masyarakat, maka fungsi dasar agama adalah memberikan orientasi, motivasi, dan membantu masyarakat untuk mengenal dan menghayati sesuatu yang sakral berdampak semakin baik dan teraturnya kehidupan masyarakat perumahan. Melalui pengalaman beragama (religious experience), yaitu penghayatan kepada Tuhan menyebabkan masyarakat memiliki kesanggupan, kemampuan, dan kepekaan rasa untuk mengenal dan memahami eksistensi Sang Ilahi (Maman, dkk., 2006:1).
Dari problem akademik di atas penelitian ini untuk menjawab pertanyaan; (1) Bagaimanakah praktek-praktek keagamaan Islam di perumahan Pondok Chandra Indah Ngemplak Boyolali yang nota bene sebagai masyarakat urban, dan (2) Nilai-nilai keagamaan seperti apa yang dikembangkan oleh masyarakat perumahan?.
b. Kerangka Teori
Studi yang dilakukan Emile Durkheim, tentang agama menurut Briyan S Turner (2006 :87) bahwa agama dan masyarakat berfungsi menciptakan dan mengembangkan
sense of community, yang menghasilkan solidaritas atau perekat sosial sekaligus kesadaran kolektif dan telah menjadi bagian dari subyektivitas individual. Tujuan utama agama bagi masyarakat bukan saja membantu berhubungan dengan Tuhannya, melainkan dengan sesamanya. Agama menjadi faktor esensial bagi identitas dan integrasi masyarakat. Agama merupakan suatu sistem interpretasi diri kolektif, sebuah simbol dimana masyarakat bisa menjadi sadar akan dirinya bahwa ia adalah cara berfikir tentang eksistensi kolektif (Emile Durkheim, 1950; 315)
Meski agama dan masyarakat hampir-hampir tak terpisahkan, namun dalan teori sosiologi dan antropologi klasik mengenal suatu tahap evolusi bagi relasi keduanya; dari perbedaan, penyesuaian (akulturasi) dan pencairan (fluiditas). Bahkan sangat dimungkinkan mengalami proses usang. Itulah yang dikemukakan Auguste Comte (1855). Ia pernah menyodorkan gagasan bahwa agama yang pernah dipandang penting, tapi akan mengalami kondisi usang akibat perkembangan modernitas (Paul Jhonson,1990 :112). Meski teori ini masih dalam wacana perdebatan, namun geliatnya telah terasa. Sistem keyakinan yang menjadi wilayah otentik agama akan bergeser ke pengetahuan ilmiah, sistem pelayanan, penyembahan, pendidikan dan sosial dari lembaga agama akan bergeser diambil alih pemerintah atau kelompok-kelompok yang non religius.
tahap pemikiran manusia; teologis (religius), metafisis (filosofis) dan berkembang menjadi ilmiah (positif). Kalaupun tahap terakhir sah dan agama tetap bertahan, maka agama terbatas sebagai agama humanis yang berdasarkan ilmu pengetahuan.
Keberagamaan atau religiusitas tidaklah merupakan otoritas tetapi perlu diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan bermasyarakat. Aktivitas keberagamaan bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan aktivitas yang didorong oleh kekuatan batin dan bukan hanya yang berkaitan dengan aktifitas yang dampak oleh mata, tetapi juga aktifitas yang terjadi dalam hati seseorang. Oleh sebab itu keberagamaan seseorang akan meliputi berbagai macam dimensi yang saling terkait dengan realitas. Secara garis besar dimensi keberagamaan menurut Roland Robertson (1993: 295), dapat dilihat dalam 5 aspek dasar yaitu; Pertama, dimensi ideologi, pada dimensi ini seseorang yang beragama berpegang pada pandangan teologi tertentu dan mengakuinya sebagai sebuah perangkat kebenaran. Mesikupun demikian eksistensi doktrin ini bervariasi tidak hanya diantara agama-agama, tetapi juga terjadi pada tradisi-tradisi pada satu agama. Kedua, dimensi ritual dimensi ini juga disebut dengan dimensi peradaban karena terdiri dari berbagai macam ritus, tindakan keagamaan secara formal dan praktek-praktek suci. Ketiga, dimensi pengalaman, dimensi ini lebih berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi dan sensasi-sensasi yang dialami seseorang sebagai kepuasan batin. Keempat; dimensi penghayatan, dan Kelima, dimensi pengetahuan agama Sedangkan menurut Mahmud Syaltud, pada dasarnya Islam dibagi menjadi tiga bagian yaitu aqidah, syariah dan akhlaq.
mikrokosmos-makrokosmos sebagai pola legitimasi telah mengalami perkembangan dari pola dunia mistis ke pola filsafat dan teologi.
Agama dan masyarakat memang terjadi hubungan interdependensi. Joachim Wach menunjukkan bahwa hubungan timbal balik tersebut dapat terwujud dalam agama yang mempunyai keberpengaruhan terhadap masyarakat. Begitu pula sebaliknya, semisal pembentukan, pengembangan dan penentuan kelompok keagamaan yang spesifik dan masyarakat dapat memberikan pengaruh terhadap agama, seperti terwujud dalam keragaman perasaan dan sikap keagamaan yang terdapat dalam kelompok sosial tertentu. Di sini dapat dipahami bahwa agama atau kepercayaan pada dasarnya tak berdiri sendiri. Selain dibentuk oleh substansi ajarannya, agama sangat dipengaruhi oleh struktur sosial dimana suatu keyakinan dimanivestasikan oleh para pemeluknya. Sehingga, di satu sisi agama dapat beradaptasi dan disisi lain dapat berfungsi sebagai alat legitimasi dari proses perubahan yang terjadi di sekitar kehidupan para pemeluknya (Ahmad Muthohar & Anis Masykhur, 2011 :1-32).
c. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik, dengan pendekatan kualitatif. Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan status kelompok manusia, suatu obyek, suatu kondisi sistem pemikiran, suatu peristiwa pada suatu masa yang sedang berlangsung. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini dimaksudkan agar peneliti dapat memahami pola praktek-pratek keberagamaan masyarakat perumahan Pondok Chandra Indah sebagai masyarakat urban.
B. PEMBAHASAN
Keberagamaan atau religiusitas perlu diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan bermasyarakat. Aktivitas keberagamaan bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan aktivitas yang didorong oleh kekuatan batin dan bukan hanya yang berkaitan dengan aktifitas yang tampak oleh mata, tetapi juga aktifitas yang terjadi dalam hati seseorang. Oleh sebab itu keberagamaan seseorang akan meliputi berbagai macam dimensi yang saling terkait dengan realitas. Berikut disampaikan temuan-temuan dalam penelitian; 1. Struktur Sosial
Perumahan Pondok Chandra Indah Gagaksipat Ngemplak Boyolali dibangun pada awal krisis moneter pada tahun 1997 merupakan perumahan pertama dari sebelas perumahan yang saat ini ada di desa Gagaksipat Ngemplak. Perumahan Chanrda Indah pada awalnya merupakan perumahan anggota TNI AU yang pembiayaan awal melalui jasa ASABRI dengan status hak bangunan atau hak pakai yang menempati. Namun dalam perkembangannya dengan reformasi pengelolaan badan usaha, koperasi dan yayasan dibawah naungan TNI, perumahan ini dilepas kepada masyarakat umum, yang awalnya para penghuni hanya menempati hak guna bangunan pada akhirnya bisa di mohon menjadi hak milik bagi anggota TNI AU. Oleh karena itu pada tahun 2006 setelah resmi berubah menjadi hak milik, maka banyak rumah-rumah yang di jual ke masyarakat umum. Ketika penelitian ini dilakukan, dari 127 kepala keluarga (KK) terdapat 19 KK TNI aktif, 32 KK Pensiunan TNI, 36 KK anak atau keluarga TNI dan sisanya 40 KK dari masyarakat umum yang membeli rumah dari keluarga TNI. Dari 76 KK yang terdiri keluarga TNI dan masyarakat umum memiliki profesi pekerjaan yang beragam. Ada yang PNS, Pegawai BUMN, pensiunan PNS, Karyawan dan Wiraswasta, dan satupun tidak ada yang petani atau buruh kasar.
berasal dari masyakat sekitar Gagaksipat. Sedangkan mayoritas etnis berasal dari Jawa dan Sunda. Etnis Batak ada 2 KK, Minang 2 KK, Bali 1 KK, Dayak 2 KK, Bugis 1, Tionghoa 4 KK, Arab 2 KK, Aceh 2 KK, Papua dan Maluku masing-masing 1 KK.
Struktur sosial masyarakat Pondok Chandra Indah memiliki 2 struktur utama yaitu struktur masyarakat komunal1 dan struktur otoritas desa. Struktur komunal didasarkan pada pola hubungan sosial dibangun atas ikatan ketetanggaan, kekerabatan dan keagamaan, ha ini sangat berbeda pada perumahan-perumahan elit yang pola kekerabatan cenderung lebih invidualistik dan bercorak pasar. Sedangkan struktur otoritas desa hubungan sosial dalam masyarakat di dasarkan pada pola hubungan sosial pada pemerintahan desa, dengan corak hubungan organisasi, seperti hubungan antar RT, RW dan pemerintahan desa. Di Chandra Indah ini terbagi dalam 4 RT dan 1 RW yang masing-masing RT terdiri dari 25-35 KK. Pengelompokan menjadi bagian-bagian RT dan RW melahirkan hubungan sosial yang cenderung otoritatif dalam peran serta dalam masyarakat. Ketua dan pengurus RT dan RW memiliki peran dan otoritas yang menonjol dibanding anggota masyarakat lainnya.
Dalam struktur masyarakat komunal Chandra Indah melibatkan dua kelompok sosial utama yaitu kelompok tokoh terkemuka dan kelompok masyarakat biasa. Tokoh terkemuka di perumahan Chandra Indah terdiri pengurus RW, Pengurus RT, pensiunan TNI dengan pangkat terakhir Kolenel, Letnan Kolonel, Pengurus Takmir Masjid, Dosen, dan Pensiunan Sekda atau pejabat lainnya, atau mereka Pengusaha kaya. Kelompok masyarakat biasa terdiri pesiunan pangkat rendah, TNI aktif yang pangkatnya bintara tamtama, karyawan, orang yang ekonominya biasa biasa. Hubungan komunal ini merupakan hubungan kerjasa dalam rangka solidaritas vertical. Hubungan ini bersifat personal dan dilegitimasi oleh nilai-nilai sosial kemasyarakatan dalam bentuk tindakan kolektif berupa kerja bhakti warga (kurvai), dana sosial (penghimpunan dana sosial untuk besukan, kematian dll), dan pirukun (kegitan Rw-nan, RT-Rw-nan, membantu orang hajatan, kematian).
Dari gambaran struktur sosial masyarakat Chandra Indah di atas dapat dijelaskan bahwa masyarakat perumahan masyarakat yang majemuk atau heterogen. Oleh karena itu sebagai masyarakat bukan warga asli daerah setempat sehingga warga perumahan mempunyai banyak keragaman baik kelas sosial, cara interaksi sosial bahkan
stratifikasi sosial. Secara sosial warga perumahan dibentuk oleh perbedaan yang meliputi perbedaan kepentingan, etnis, profesi, faham politik, agama, dan lain-lain. Beragamnya orang yang ada di suatu lingkungan akan memunculkan stratifikasi sosial (pengkelas-kelasan) atau diferensiasi sosial (pembeda-bedaan) yang mempengaruhi perilaku individu maupun kelompok sosial masyarakat.
2. Struktur Keagamaan
Struktur keagaman Islam di perumahan Chandra Indah membentuk suatu komunitas dengan pola keberagamaan yang bisa berbeda dari norma yang di yakini. Perbedaan ini dipengaruhi oleh orientasi dalam menjalankan ibadah. Dari 127 KK terdapat 111 KK beragama Islam, 11 KK Nasrani, 1 KK Hindu dan 4 KK campuran dalam satu keluarga bapak/Ibu Islam atau Bapak/Ibu Nasrani dan juga anak-anaknya. Beragamnya agama di perumahan dan perbedaan orientasi beribadah melahirkan sikap keberagamaan. Pertama Islam taat, yaitu menjalankan keyakinan Islam dengan sungguh-sungguh minimal memnuhi rukun Islam yang lima. Kedua, Islam KTP, yaitu Islam hanya berupa pengakuan yang tertera dalam KTP, jarang sekali menjalankan kewajiban seperti shalat lima waktu dan puasa ramadhan. Untuk menggambarkan Islam taat sebagaimana penuturan dari pengurus takmir masjid adalah minimal mereka pernah shalat jum’at atau hari raya ke masjid, puasa pada bulan ramadhan, sesekali ikut shalat jamaah di masjid, dan pernah memberikan sedekah, infaq atau zakat ke masjid. Sedang Islam KTP meraka tercatat dalam KTP beragama Islam tetapi jarangkali terlihat dalam kegiatan keagamaan seperti shalat , puasa ataupun kegiataan lain. Beberapa informasi terungkap dari 115 KK yang beragama Islam yang masuk dalam kreteria Islam KTP 6 KK, selebihnya 109 masuk dalam katagori Islam taat.
mengikuti. Penyelenggaraan pengajian rutin ranting Muhammadiyah di masjid tiap bulan juga dipersilahkan dan tak seorangpun mempermasalahkan.
Berdasarkan gambaran diatas struktur keagamaan masyarakat Chandra Indah tidak berpegang pada pandangan teologi tertentu dan mengakuinya semua paham yang anut masyarakat sebagai sebuah perangkat kebenaran. Meski demikian pada saat tertentu terjadi kontestasi faham pada rapat-rapat takmir masjid ataupun pada pelaksanaan kegiatan keagamaan, seperti masalah pembagian daging kurban, penentuan awal ramadhan. Menyikapi persoalan ini pola yang dibangun oleh para tokoh agama di perumahan; pertama, mengembangkan paham kebersamaan dalam keagamaan untuk mewujudkan persatuan umat dengan pengertian bahwa semua agama yang secara formal itu berbeda-beda tetapi hakekat dan intinya adalah sama. Kedua, mengembangkan paham bahwa agama yang benar hanyalah satu, dan diturunkan kepada manusia dalam kondisi historis dan sosiologis yang berbeda, maka agama dalam konteks historis selalu hadir dalam yang satu pula. Artinya dalam konteks ini setiap agama memiliki kesamaan dengan yang lain, tetapi sekaligus juga memiliki kekhasan, sehingga berbeda-berbeda pemahaman sesuatu yang alamiah. Ketiga, mengembakan kesadaran religiusitas seseorang atau elompok melalui kegiatan beribadah bersama-sama.
3. Praktek-praktek Keagamaan
a. Arti dan Makna Shalat Jama’ah
Salah satu praktek keagamaan Islam yang sangat penting bagi masyarakat perumahan Chandra Indah adalah kegiatan shalat jama’ah di masjid. Shalat jama’ah dimaknai sebagian warga untuk menyatukan dan mengkokohkan umat muslim dalam beribadah kepada Allah swt. secara bersama-sama. Kedekatan seorang muslim, bukan hanya pada saat mereka melakukan silaturahim antar sesamanya, tetapi juga dari rutinitas mereka melakukan shalat berjamaah. Kalau kita perhatikan, shalat berjama’ah adalah merupakan salah satu ajaran Islam yang pokok dan merupakan sunnah Nabi yaitu perbuatan yang selalu dikerjakan oleh Nabi. Ajaran tentang shalat berjama’ah merupakan perintah yang benar-benar ditekankan kepada kaum muslimin.
lebih ramai ketimbang jama’ah shalat maghrib, isyak, ashar atau dhuhur. Rata-rata shalat jama’ah subuh diikuti lebih dari 75 orang yang terdiri dari 4-5 shaf, laki-laki dan perempuan dari anak-anak sampai orang tua. Beberapa alasan warga melakukan shalat jama’ah subuh yang sempat dikemukakan, karena mayoritas masyarakat Chandra Indah orang kantoran dan pelajar yang masuk kantor/sekolah jam 7. Inilah yang mendorong sebagian masyarakat melakukan shalat jama’ah shubuh, sekalian mempersiapkan aktivitas kerja/sekolah. Di samping dorongan lain yaitu untuk memperoleh kebaikan yang lebih dari Allah disbanding dengan yang lain, meskipun sebagian yang lain karena dorongan spritualisme.
Sedangkan kurang ramainya shalat jama’ah pada waktu magrib, isyak disebabkan banyak warga pulang kerja sore atau malam hari, dengan alasan capai dan butuh istirahat sebagian warga enggan shalat jama’ah, begitu juga dhuhur dan ashar rata-rata diikuti kurang dari 50 orang pada hari-hari biasa . Dari 115 KK Muslim dengan kurang lebih 430 jiwa warga muslim, rata-rata shalat jamaah shubuh dalam pengamatan kurang lebih 2 minggu, jama’ah subuh diikuti lebih 75 orang baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak atau dewasa. Berbeda shalat subuh pada bulan ramadahan awal 90% warga muslim mengikuti shalat jama’ah subuh maupun tarawih. Ini menandakan adanya kesadaran dalam menjalankan praktek-praktek keagamaan Islam dengan menjalan shalat wajib 5 waktu dan shalat Jum’at maupun shalat sunat khususnya pada shalat tarawih bulan ramadhan dan shalat hari raya idul adha di masjid, akan tetapi idul fitri tidak diselenggarak shalat, sebagian besar mudik. Masjid yang berukuran 10 x 15 pada momen tertentu tidak dapat menampung jamaah sehingga memfungsikan halaman masjid untuk kegiatan shalat . Meskipun demikian pada saat tertentu selain bulan dan hari jum’at seperti hari libur justru jama’ah shalat semakin berkurang, karena banyak yang keluar kota atau bepergian ke tempat lain.
tanyakan kepada orang mati adalah shalat . Oleh karena itu secara sosiologis ajaran shalat merupakan symbol bagi pemeluk ajaran Islam yang menjadi eksistensi manusia beragama, dan secara simbolik memberi makna pada keseimbangan dalam kehidupan manusia. Shalat bagi masyarakat perumahan merupakan doktrin yang memberikan pedoman moral untuk menjalankan kehidupan dalam dunia sosial yang berupa ketaatan dan kebersamaan.
b. Memakmurkan Masjid sebagai Tempat Membangun Kebersamaan
Kegiatan keagamaan di Chandra Indah selalu di pusatkan di Masjid Al-Ittihad, meski kadang-kadang ada permintaan dari warga yang mengundang kerumah misalnya pengajian karena aqiqah, menempati rumah baru, atau pembacaan tahlil setelah kematian warga, atau permintaan warga lainnya. Bagi masyarakat perumahan masjid tidak hanya di gunakan untuk kegiatan ibadah shalat tetapi juga digunakan untuk pengajian bapak bapak, pengajian ibu-ibu, pengajian remaja, pengajian ranting atau cabang Muhammadiyah dan rapat-rapat warga perumahan baik RT mapun RW, hal sesuai dengan nama Masjid Al-Ittihad yang oleh warga diartikan sebagai persatuan warga.
fungsi sosial masjid yang terjadi pada masyarakat akhirnya bisa diterima sebagai upaya memakmurkan masjid.
Proses dialektika pemaknaan fungsi masjid berkat peran dari pengurus Takmir Masjid Al-Ittihad yang cukup signifikan dalam membangun kehidupan religi dan sosial masyarakat di Perumahan Chandra Indah tentang aspek-aspek kesalehan sosial masyarakat. Pengurus Takmir Masjid terlihat berperanaktif dalam meningkatkan minat masyarakat terhadap pengetahuan agama dalam bentuk pengajian dan kajian yang bersifat rutin baik ibu-ibu, bapak-bapak, remaja maupun anak-anak, dan ini juga dimaknai sebagai kesalehan sosial lainnya. Hal tersebut dapat dilihat dalam program-program dan kegiatan–kegiatan keagamaan baik yang sifarnya vertikal atau hubungan manusia dengan Tuhan maupun yang bersifat horizontal atau hubungan antar sesama manusia. Perilaku keagamaan seperti mencerminkan kesalehan pribadi dan sekaligus kesalehan sosialnya tidak hanya pengurus takmir masjid melainkan seluruh jama’ah masjid. Kesalehan hanya memiliki makna individual, jika hanya ditujukan pada pemenuhan kepentingan diri sendiri, tidak mempedulikan kepentingan orang lain, untuk tidak mengatakan mengabaikan hak–hak orang lain. Kesalehan itu akan berubah dari kesalehan individu menjadi salehan sosial dengan tidak mementingkan kepentingan diri sendiri semata dengan melupakan kewajiban sosialnya. Di sinilah perlunya membangun kesalehan individual dan sosial sekaligus.
c. Zakat Infaq dan Shadaqah dan Solidaritas Sosial
berzakat, bersedekah menjadi pendorong bagi berjalannya proses ajaran Islam untuk memperoleh kekayaan.
Dalam buku catatan ZIS takmir masjid menunjukkan adanya peningkatan budaya bersedakah dan berinfaq pada masyarakat perumahan meski hal ini masih difahami sebagai ranah sosial. Religiusitas dan meningkatnya pendapatan keluarga berpengaruh terhadap praktik berderma khususnya dari kalangan para pensiunan. Sementara di para tokoh dan elit Chandra Indah memiliki komitmen terhadap kaum miskin dan lemah secara simbolis direpresentasikan oleh kewajiban membayar zakat karena alasan gaji yang telah diterima melebihi batas yang diwajibkan membayar zakat kepada pengurus takmir. Konsep zakat bermakna membersihan atau menambah harta. Zakat dapat diartikan sebagai sebuah proses purifikasi harta benda, karena harta yang dimiliki terdapat hak untuk orang-orang miskin. Oleh memberikan zakat juga menunjukkan ketaatan dan kepatuhan kepada perintah Allah Swt, seperti halnya seorang muslim yang menegakkan shalat karena zakat merupakan salah satu dari 5 rukun Islam (arkan al-Islam).
d. Majelis Taklim dan Transfer Pengetahuan Agama
Sebagaimana disebutkan diatas pengajian atau kajian rutin yang diselenggarakan masyarakat Islam Chandra Indah dikelola ibu-ibu waktunya tiap mingguan, bapak-bapak tiap bulanan, remaja juga tiap bulanan dan TPA tiap dua hari sekali. Forum kajian ini, meraka sering menyebut dengan istilah majelis taklim yang berarti tempat (majelis) pengajaran (taklim). Tempat pengajaran atau pengajian bagi masyarakat yang ingin mendalami ajaran-ajaran Islam sebagai sarana dakwah dan pengajaran. Kajian ini bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan akhlak mulia bagi jamaahnya, serta mewujudkan rahmat bagi alam semesta. Dalam prakteknya, majelis taklim di Masjid al-Ittihad di pandang sebagai tempat pangajaran atau pendidikan agama Islam yang paling fleksibel dan tidak terikat oleh waktu. Meskipun majelis taklim ini bersifat terbuka terhadap segala usia dan jelis kelamin kenyataan pesertanya tersegmentasi sesuai ide awal kajian yang difasiltasi oleh takmir masjid, seperti pengajian ibu-ibu, sesuai namanya Majelis Taklim khairun-nisa’ peserta semua Ibu-ibu. Sebagaimana disampaikan takmir masjid, majelis taklim memiliki dua fungsi sekaligus, yaitu sebagai lembaga dakwah dan tempat mencari ilmu agama Islam bagi masyarakat Chandra Indah. Pengajar atau ustadz-ustadzah diambilkan dari luar perumuhan dengan harapan menambah wawasan pengetahuan agama, termasuk khutbah jum’at.
Oleh karena itu secara filosofi hubungan antara jama’ah majelis taklim dan masjid (takmir dan para ustadz) pada dasarnya menurut Sastrapateja (1982) merupakan suatu proses dialektis yang terdiri atas tiga momen, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Melalui eksternalisasi manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dan memelihara dunianya. Melalui eksternalisasi ini masyarakat menjadi bagian dari manusia, kenyataan yang berada di luar manusia. Kenyataan ini menjadi realitas objektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia. Proses ini disebut objektivasi. Masyarakat dengan pranata sosialnya mempengaruhi, bahkan membentuk perilaku manusia. Dari sudut manusia dapat dikatakan bahwa masyarakat diserap kembali oleh manusia melalui proses internalisasi. Artinya, melalui eksternalisasi masyarakat menjadi kenyataan yang dibuat oleh manusia; melalui objektivasi masyarakat menjadi kenyataan yang berhadapan dengan manusia; melalui internalisasi manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat. Apabila manusia melupakan bahwa masyarakat diciptakan oleh manusia, maka ia terasing atau teralienasi.
e. Islam sebagai “Belief Sytem”
Masyarakat perumahan sebagai masyarakat yang heterogen, Islam diposisikan sebagai agama wahyu dana pada hakikatnya merupakan: (a) suatu system keyakinan (belief system) dan sistem kaidah normatif (normative system) yang berasal dari Allah, untuk mengatur tata kehidupan manusia oleh Tuhan, manusia dengan manusia maupun hubungan manusia dengan alam lainnya, (b) sistem keyakinan yang bertujuan dengan mengarahkan pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Sistem nilai dan norma, Islam mempunyai dua sumber pokok yaitu Al-Qur’an dan As Sunnah. Akidah yang diposisikan sebagai akar dan pokok dalam agama Islam, yang mana Agama Islam mengajarkan konsep rukun Iman yang dikenal dengan Arkanul Iman yang merupakan rukun-rukun Iman. Sedangkan agama Islam kaitannya dengan akhlaq, yang pada dasarnya akhlaq Islam berkaitan dengan kaidah nilai yang mendasari tata hubungan manusia dengan sang pencipta, manusia dengan manusia serta manusia dengan unsur alam non manusia.
keyakinan, masih cenderung menenkan tradisi yang biasa dilakukan, tanpa apresiasi dan pelibatan psikis secara mendalam meski sebagai masyarakat modern. . Sedang penghayatan religiusnya selalu menampakan Pengalaman individu masyarakat kelas menengah yang dipenuhi pelbagai modernitas cenderung menumbuhkan kognitif masyarakat tidak sesuai dengan ajaran agama itu sendiri. Rasionalisasi, materialisme, dan positivesme merupakan faktor modernitas yang mempengaruhi kondisi kesadaraan beragama masyarakat. Seorang tokoh perumahan Chandra Indah menyatakan bahwa; “ Warga Chandra Indah ini hampir 90% berlatar belakang pendidian tinggi dan mempunayi kedudukan penting di lingkungan kerjanya pada umumnya memiliki kecenderungan hidup modern, akan tetapi pemahaman kepercayaan agama cenderung tradisional”.
4. Nilai-nilai Penghayatan yang di Kembangkan
Dalam kehidupan bermasyarakat perumahan Chandra Indah, agama memegang peranan yang besar dan sangat penting. Keberadaan agama di tengah-tengah masyarakat tidak dapat diabaikan. Agama mengatur tentang bagaimana membentuk masyarakat yang madani. Agama juga yang mampu menciptakan kerukunan dalam kultur masyarakat yang majemuk. Seperti yang kita semua ketahui bahwa tidaklah mudah untuk hidup dalam perbedaan. Setiap perbedaan, utamanya perbedaan pendapat yang ada di masyarakat dapat memicu timbulnya perselisihan. Di sinilah posisi agama memainkan perannya yang penting sebagai penegak hukum dan menjaga agar masyarakat saling menghormati dan tunduk pada hukum yang berlaku. Jika dalam masyarakat agama sudah tidak dianggap memegang peran yang penting, dapat dipastikan kehidupan sosial masyarakat tersebut akan mengalami dekadensi moral dan kekacauan yang nantinya bakal meluas ke lingkup yang lebih luas, yakni bangsa dan negara.
Agama memainkan perannya yang sentral dalam membentuk kultur maupun kehidupan sosial kemasyarakatannya melalui nilai-nilai luhur yang diajarkannya. Dari sekian banyak nilai-nilai dalam agama tersebut, nilai luhur yang paling banyak dan paling relevan dengan sosial kemasyarakatan adalah nilai spiritual yang tetap menjaga agar masyarakat tetap konsisten dalam menjaga stabilitas lingkungan, serta nilai kemanusiaan yang mengajarkan manusia agar dapat saling mengerti satu sama lain, serta dapat saling bertenggang rasa. Saling memahami antar masyarakat merupakan langkah awal yang bagus untuk membentuk masyarakat yang madani. Beberapa fungsi agama secara sosiologis dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Fungsi edukatif, yanng berkaitan dengan upaya pemindahan dan pengalihan (transfer) nilai dan norma keagamaan dalam masyarakat. Dalam hal ini, fungsi terdasar dan paling universal dari apa yang diperankan oleh hampir semua jenis agama baik kategori agama wahyu maupun bukan wahyu adalah bahwa agama memberikan orientasi dan motivasi serta membantu untuk mengenal dan memahami sesuatu hal yang ”sakral” atau makhluk tertinggi.
kebahagiaan dan juga memberikan harapan-harapan ketika manusuia berada dalam situasi ketidakpastian, penderiataan, kekecewaan, frustasi, atau kemiskinan. c. Fungsi kontrol sosial (pengawasan sosial). Kontrol sosial yang dimaksud adalah
seluruh pengaruh kekuatan yang menjaga terbinanya pola-pola kelakuan dan kaidah-kaidah sosial milik masyarakat. Dalam hal ini, agama sebagai sistem norma dan sistem nilai yang memberikan pembatasan (limitasi) mdan pengkondisian
(conditioning) terhadap tindakan atau perilaku individu atau masyarakat, sehingga
dapat mengarahkan tercapainya tujuan masyarakat itu sendiri. Jadi, agama dapat disimpulkan lebih jauh pada kenyataannya ”bukan semata merupakan persoalan keyakinan pribadi yang melekat dalam diri individu, melainkan juga memiliki dampak sosial bagi masyarakat secara keseluruhan sebahai hakikat kolektifnya”. Dengan demikian, agama apapun namanya, sebagai sistem norma dan nilai maupun sebagai sistem relasi sosial mempunyai daya ubah (transformabilitas) bagi masyarakatnya, terutama bagi komonitas pemeluknya.
Dalam relasi sosial dan agama, sesuatu yang menjadi penting adalah bagaimana suatu teologi agama mendefinisikan dirinya di tengah-tengah masyarakat sehingga membentuk sistem sosial dan mampu berinteraksi dengan aneka keragaman budaya sehingga terjalin kondisi yang pluralisme. Hal ini berkaitan dengan interpretasi ajaran-ajaran agama oleh masyarakat, dialog agama baik menyangkut agama itu sendiri maupun modernitas, dan membangun pluralisme masyarakat. Dengan demikian akan terlihat identitas sosial-agama masyarakat yang bersangkutan. Dialektika sosial memang menempatkan manusia, masyarakat dan kebudayaan dalam hubungan yang dialektis dan interdependence. Satu sisi manusia menciptakan sejumlah nilai bagi masyarakatnya dan pada sisi yang lain, secara kodrati dan bersamaan, manusia berada dan berhadapan dengan masyarakatnya pula. Di dalam masyarakatlah dan sebagai hasil proses sosial, individu memperoleh dan berpegang pada suatu identitas. Inilah fenomena inheren dari fenomena masyarakat.
C. KESIMPULAN
masyarakat. Konsep-konsep moralitas dibangun sebagai sebuah kesadaran kolektif yang mengikat sebuah kelompok masyarakat secara kolektif. Dalam konteks ini, sebuah kehidupan etis, atau mungkin religious, sangat tergantung kepada kohesi dan solidaritas antara individu.
Dalam konteks masyarakat urban memiliki kecenderung melakukan pemaknaan baru terhadap sistem nilai dan norma-norma keagamaan yang yakin dan dihayati dalam suatu masyarakat yang heterogen, lalu mengekspresikan nilai-nilai penghayatan dalam bentuk upaya menjaga kebersamaan melalui pesan-pesan agama yang bersifat fungsional. Namun ketika pemaknaan baru indvidu dalam masyarakat tersebut terjebak konflik interes yang di pengaruhi materi, maka dibutuhkan sesuatu kekuatan nilai-nilai transenden. Penemuan pemaknaan transenden yang baru inilah yang kemudian disebut kesadaran kolektivitas dalam agama.
DAFTAR PUSTAKA
Buku-Buku
Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Andreski, Stanislav. 1989. Max Weber : Kapitalisme, Birokasi, dan Agama. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Bellah, Robert N. Beyond Belief, New York: Harper & Row, 1976.
Berger, Peter L. 1982. Piramida Kurban Manusia , terj. A. Rahman Tolleng, Jakarta: LP3ES,
________. 2005. The Other Side of God: Sisi Lain Tuhan. Yogyakarta: Qalam.
________. 1994. Langit Suci: Agama Sebagai Realitas Sosial (terjemahan: The Scred Canopy), Jakarta: Pustaka LP3ES.
________. 2005. Tanda-Tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer Suatu Pengantar Semiotika. Yogyakarta: Triara Wacana.
________. 1990, Tafsir Sosial atas Kenyataan: Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan, Jakarta: LP3ES.
Casanova, Jose. 2003. Agama Publik Di Dunia Modern: Public Religion in the Modern World. Surabaya: Pustaka Eureka; Malang: ReSIST, dan Yogyakarta: LPIP.
Doyle Paul Johnson dalam Robert M.Z. Lawang (terj.), Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Jakarta, Gramedia, 1990, hlm 112.
Durkheim, Emile.1950 The Elementary Form of the Religious Life, (A Free Press Paperback, Macmillan Publishing Cop.Inc,)
______. 2003. Sejarah Agama (The Elementary Forms of the Religious Life). Yogyakarta: IRCiSoD.
Hardiman, F. Budi. 2003. Melampaui Positivisme Dan Modernitas: Diskursus Filosofis Tentang Metode Ilmiah Dan Problem Modernitas. Yogyakarta: Kanisius.
Hardiman, F. Budi. 2007. Filsafat Fragmentaris: Deskripsi, Kritik, dan Dekontruksi. Yogyakarta: Kanisius.
Hardjana, Agus M. 2005. Religiousitas, Agama, dan Spiritualitas.Yogyakarta: Kanisius.
Kahmad, Dadang. 2000. Sosiologi Agama. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Leahy, Louis. 2005. Sains dan Agama Dalam Konteks Zaman Ini. Yogyakarta: Kanisius.
Lubis, Akhyar Yusuf. 2004. Masih Adakah Tempat Berpijak Bagi Ilmuwan. Bogor: Akademia.
Maman, KH, Deden Ridwan, M. Ali Mustofa, dan Ahmad Gaus. 2006. Metode Penelitian Agama: Teori dan Praktik, Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Mulkhan, Abdul Munir. 2003. Revolusi Kesadaran dalam Serat-Serat Sufi. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
Pals, Daniel L. 2001. Seven Theories of Religion. Yogyakarta: Qalam.
Peacock, James L, 2005, Ritus Modernisasi: aspek Sosial dan Sombolik Teater Rakyat Indonesia, Jakarta: Desantara.
Radhakrishnan, S. 2003. Agama-Agama Timur dan Pemikiran Barat. Denpasar: Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Universitas Hindu Indonesia.
Robertson, Roland. 1988. Agama: Dalam Analisas dan Interpretasi Sosiologi. Jakarta: Rajawali.
Sastrapratedja, M., 1982, Manusia Multi Dimensional: Sebuah Renungan FIlsafat, Gramedia, Jakarta.
Schoorl, JW, 1991, Modernisasi: Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-negara Sedang Berkembang, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Jurnal
Ahmad Muthohar & Anis Masykhur Islam Dayak; Dialektika Identitas Dayak Tidung dalam Relasi Sosial-Agama di Kalimantan Timur. HIKMAH, Vol. VII, No. 1, 2011, hl. 1-32.
Oka, Made.2006. “Neo Humanisme”. Artikel. Dalam Majalah Taksu : Nopember-Desember/VII/ 2006:hal 15-16.