A. Latar Belakang Masalah
PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta adalah perusahaan yang
berupaya mengoperasikan seluruh sumber daya untuk dapat menyediakan kebutuhan layanan jasa transportasi container pengiriman barang dari dan ke
Jakarta dengan seluruh kota-kota yang ada di pulau Jawa. Adanya peran dan tugas ini menuntut perusahaan untuk mampu berbenah diri memperbaiki kinerja yang selama ini belum sepenuhnya optimal, diantaranya timbul masalah yang urgen
atau penting yaitu permasalahan “operational handling” perusahaan yang belum optimal.
Organisasi perusahaan harus menyadari bahwa permasalahan “operational handling” disebabkan oleh banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang diperkirakan menentukan keberhasilan suatu perusahaan
adalah faktor sumberdaya manusia yang berkualitas. Sumberdaya manusialah yang merancang dan mengaplikasikan semua rancangan yang menjadi sasaran
atau target dari perusahaan. Mengingat pentingnya peran pengelolaan SDM dalam perusahaan agar tetap dapat survive dalam iklim persaingan bebas tanpa batas, maka peran manajemen SDM menjadi sangat strategis bagi perusahaan karena
sangat dituntut SDM berkinerja optimal agar dapat menjalankan “operational handling” perusahaan dengan baik.
supporting document-nya kemudian divisi terminal logistic memproses pemuatan ataupun pembongkaran cargo dari dan ke container. Dilanjutkan oleh divisi forwarding yang mengangkut container dengan trailer menuju door buyer.
Sementara itu rangkap dokumen cargo di proses oleh divisi treasury & credit untuk diterbitkan invoice. Karena saat ini seluruh transaksi pembayarannya
dilakukan dengan credit (term 15 – 30 hari), maka invoice yang terbit tadi juga diproses ke dalam Aging Receivable Repor Programme. Pembayaran yang dilakukan oleh shipper seluruhnya dilakukan secara tidak tunai atau giral,
umumnya menggunakan cheque, bilyet giro atau transfer lewat pilihan bank yang ditetapkan perusahaan. Untuk seluruh proses pencatatan akuntansi perusahaan
dilakukan oleh divisi controller. Melihat proses bisnis yang dilakukan PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta, memang menuntut sumberdaya manusia yang berkualitas dan berkinerja tinggi dengan salah satu ukurannya adalah hasil
penilaian kinerja.
Penilaian kinerja merupakan suatu perbandingan terhadap suatu
pencapaian hasil berdasarkan target yang telah ditetapkan sebelumnya. Dari penilaian inilah baru dapat suatu dasar penetapan nilai yang terukur dan jelas. Penilaian ini akan menunjukkan tingkat kemampuan karyawan di dalam
menjalankan tugas dan tanggung jawab yang diberikan perusahaan. Karyawan yang berkinerja baik adalah yang mampu mencapai hasil sesuai standar kerja atau
lebih. Kinerja yang ditunjukkan oleh karyawan akan menentukan keberhasilan suatu target yang akan dicapai oleh perusahaan. Menurut Harsey dalam Adnan (1996), mengungkapkan beberapa variabel yang mempengaruhi kinerja seseorang
lingkungan, umpan balik dan keahlian.
Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan dan melihat dari hasil penilaian terhadap kinerja karyawan pada PT. Putra Mustika Prajasa Cargo
(PMPC) Jakarta menunjukkan masih ada karyawan yang memiliki nilai kinerja yang sedang atau kurang. Berikut ini daftar penilaian kinerja karyawan PT. Putra
Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta tahun 2009 :
Tabel 1.1
Penilaian Kinerja Karyawan PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta Tahun 2009
No Nilai Jumlah (orang) %
1 Excellent 4 2,92%
2 Good 72 52,55%
3 Average 9 6,57%
4 Below Average 52 37,96%
Jumlah (orang) 137 100%
Target Penilaian Kinerja sesuai SOP maximal 100% karyawan memiliki nilai "Excellent" Target Penilaian Kinerja sesuai SOP minimal 100% karyawan memiliki nilai “Good”
Sumber : PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta Tahun 2009
Hasil penilaian kinerja pada Tabel 1.1 di atas diperoleh dari Divisi HRD PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta yaitu “Sistem Manajemen Performansi Karyawan” dengan indikator kinerja karyawan yang dinilai meliputi standar sasaran kerja individu dan kontribusi pencapaian sasaran kerja individu yang terdiri antara lain yaitu kecepatan kerja, orientasi pada pelanggan, inisiatif,
100% karyawan mempunyai nilai “good”. Penilaian dilakukan oleh atasan langsung karyawan setiap tahun mulai bulan Oktober sampai bulan November. Dari Tabel.1.1 tersebut menunjukkan bahwa hanya terdapat 2,92% karyawan yang
memiliki nilai ”excellent” atau karyawan tersebut mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab sangat baik yang telah diserahkan perusahaan kepada mereka.
Selanjutnya terdapat 52,55% karyawan memiliki kinerja ”good”, dan 6,57% karyawan hanya memiliki kinerja ”average” dan 37,96% karyawan memiliki kinerja ”bellow average”. Idealnya perusahaan diharapkan terus membina dan
memberdayakan karyawan untuk terus meningkatkan kinerjanya karena masih 97,08% atau 133 orang karyawan lagi harus bisa mencapai target maksimal
memiliki nilai “excellent” dan masih 47,45% atau 65 orang karyawan lagi harus bisa mencapai target minimal memiliki nilai ”good”. Melihat kondisi hasil penilaian kinerja karyawan yang masih dibawah dari target tadi, artinya masih
banyak karyawan yang belum siap melaksanakan pekerjaan dengan baik dan tentunya akan berdampak pada rendahnya “performance” perusahaan sehingga
menjadi tidak optimalnya “operational handling” yang harus dijalankan.
Perusahaan menyadari bahwa banyak faktor yang diduga menyebabkan masih banyak karyawan berkinerja ”average” dan ”bellow average”.
Berdasarkan pengamatan dan dugaan sementara menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan diantaranya disebabkan oleh
kepemimpinan, iklim organisasi dan motivasi kerja karyawan.
Beberapa indikasi permasalahan secara umum yang muncul pada PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta, diantaranya (1) belum optimalnya
didalam menyelesaikan masalah pekerjaan yang dihadapi dan (3) sikap karyawan yang hanya menjalankan kegiatan tanpa adanya suatu keinginan untuk mau dan mampu melakukan kreatifitas atas perubahan dalam suatu organisasi. Di samping
itu masih terdapat karyawan yang belum mampu menyelesaikan tugas dan tanggung jawab tepat pada waktunya, bahkan terjadi suatu kegagalan pada
pelaksanaan tugas yang telah diberikan pada karyawan. Hal ini ditunjukkan pada penilaian karyawan yang masih ada pada posisi kinerja yang “bellow average” atau hanya sekedar “average” tanpa adanya suatu peningkatan kinerja yang
berarti.
Belum optimalnya kegiatan kepemimpinan, sebagaimana diungkapkan
oleh Handoko (2001:294) kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar dapat bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Berdasarkan pendapat di atas, peranan kepemimpinan dalam
suatu perusahaan sangat penting, karena dengan kepemimpinan yang baik dari seorang pemimpin dalam menjalankan semua fungsinya (fungsi instruksi,
konsultasi, partisipasi, delegasi dan pengendalian) akan dapat membawa bawahan kepada sasaran yang diinginkan. Berkenaan dengan penerapan fungsi-fungsi kepemimpinan ini, berdasarkan pengamatan awal penulis sewaktu melaksanakan
survey awal terhadap 137 orang karyawan di PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta menunjukkan adanya fenomena-fenomena masih rendahnya
penerapan fungsi kepemimpinan. Hal ini dapat diindikasikan dengan : (1) 76 orang karyawan atau 55,47% menyatakan pimpinan tidak pernah mengikutsertakan karyawan dalam mengambil keputusan sebesar, (2) 62 orang
bimbingan terhadap bawahan, (3) 59 orang karyawan atau 43,07% menyatakan pimpinan jarang memberikan pengarahan terhadap bawahan, bahkan sebanyak 17 orang karyawan atau 12,41% menyatakan pimpinan tidak pernah memberikan
pengarahan terhadap bawahan, (4) 26 orang karyawan atau 18,98% menyatakan pimpinan jarang menggerakkan dan memotivasi para karyawan, bahkan
50 orang karyawan atau 36,50% menyatakan pimpinan tidak pernah menggerakkan dan memotivasi para karyawan, dan (5) 69 orang karyawan atau 50,36% menyatakan pimpinan tidak pernah menerapkan komunikasi dua arah
(konsultasi). Dari indikasi yang terjadi terlihat pimpinan perusahaan belum mengarahkan dengan keterlibatannya dalam menetapkan peranan yang seharusnya
dilakukan karyawan, memberitahukan karyawan tentang apa yang seharusnya bisa dikerjakan, dimana melakukan pekerjaan, bagaimana melakukan pekerjaan, serta belum melakukan pengawasan kepada karyawan dan juga belum mendukung
karyawannya lewat melibatkan diri dalam komunikasi dua arah yaitu lewat mendengar, menyediakan dukungan dan dorongan serta memudahkan interaksi
dengan karyawannya.
Permasalahan lain adalah iklim organisasi. Iklim organisasi juga merupakan faktor penting dalam mempengaruhi kinerja. Iklim organisasi yang
baik akan menciptakan kondisi yang kondusif, untuk mendorong terciptanya lingkungan yang dapat mendorong karyawan untuk bekerja dan meningkatkan
kinerjanya. Iklim organisasi merupakan suatu perlakuan individu terhadap dirinya, orang lain, pekerjaannya maupun pekerjaan orang lain. Sehubungan dengan iklim organisasi yang terjadi pada PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta
diindikasikan antara lain : (1) 62 orang karyawan atau 45,26% menyatakan bahwa karyawan tidak pernah diberi wewenang dalam rangka penyelesaian pekerjaan, (2) 64 orang karyawan atau 46,72% menyatakan bahwa karyawan tidak pernah
memperoleh kepercayaan dan kebebasan dalam penyelesaian pekerjaan, (3) 58 orang karyawan atau 42,34% menyatakan bahwa karyawan tidak pernah
mendapat perhatian atas masalah yang dihadapi dalam pekerjaannya, (4) 83 orang karyawan atau 60,58% menyatakan tidak pernah perusahaan memberi dorongan untuk tidak merasa takut jika memiliki perbedaan pendapat dan (5) 48 orang
karyawan atau 35,04% menyatakan tidak pernah diberikan kesempatan dalam meningkatkan keahlian dan ketrampilan. Dari indikasi tersebut terlihat lingkungan
yang tercipta saat ini di perusahaan belum memberikan inspirasi yang terbaik bagi karyawan dalam menjalankan pekerjaannya, hal ini mengakibatkan karyawan belum memiliki rasa keterlibatan kerja yang baik. Keterlibatan ini nantinya akan
tercermin dalam pengabdian kerja karyawan, apakah akan mementingkan perusahaan atau kepentingan pribadi dan juga karyawan yang belum merasa
terlibat dalam perusahaan tidak akan memiliki kepedulian terhadap pekerjaannya. Hal lainnya adalah belum optimalnya motivasi kerja karyawan. Motivasi kerja sangat penting bagi seorang karyawan, karena motivasi menurut Koonts
(1998:115) merupakan suatu keadaan didalam diri seseorang (Inner State) yang mendorong, mengaktifkan atau menggerakkan dan yang menggairahkan atau
menyalurkan prilaku kearah tujuan. Dengan adanya motivasi kerja dalam diri karyawan maka karyawan tersebut akan mau melaksanakan pekerjaan sesuai dengan kecakapan dan kemampuan yang dimiliki dan bekerja sesuai dengan apa
bekerja akan dapat meningkatkan kinerja, sebaliknya motivasi kerja yang rendah atau belum optimal cenderung menyebabkan karyawan belum mampu mencapai kinerja yang diharapkan. Berdasarkan pengamatan penulis sewaktu
melaksanakan survey awal terhadap 137 orang karyawan di PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta menunjukkan fenomena belum optimalnya
motivasi kerja dengan indikasi : (1) 90 orang karyawan atau 65,69% menyatakan tidak pernah memiliki kemauan untuk bekerja (gairah kerja / semangat kerja), (2) 76 orang karyawan atau 55,47% menyatakan cepat menyerah dalam
mengerjakan pekerjaan yang menantang dan dalam menghadapi masalah, (3) sebanyak 76 orang karyawan atau 55,47% menyatakan tidak pernah
memanfaatkan waktu dengan baik dalam bekerja, (4) 23 orang karyawan atau 16,79% menyatakan jarang untuk mampu membina hubungan kerja secara kondusif, bahkan sebanyak 53 orang karyawan atau sebesar 38,69% menyatakan
tidak pernah mampu membina hubungan kerja secara kondusif, (5) 63 orang karyawan atau 45,99% menyatakan tidak pernah melakukan pekerjaan jika tidak
ada perintah dari pimpinan, dan (6) 21 orang karyawan atau 15,33% menyatakan jarang untuk tidak mempergunakan jam dinas meninggalkan kantor bagi kepentingan pribadi, bahkan sebanyak 56 orang karyawan atau 40,88%
menyatakan tidak pernah untuk tidak meninggalkan kantor dalam jam dinas bagi kepentingan pribadi. Melihat indikasi yang ada saat ini di perusahaan dapat
dikatakan karyawan belum memiliki motivasi kerja yang baik, tidak menunjukkan semangat, tidak punya keinginan mempelajari hal-hal baru berkaitan dengan pekerjaannya, suka menunda-nunda pekerjaan yang diselesaikan dan
Dampaknya karyawan bekerja tidak produktif dan cenderung harus di lakukan pengawasan yang ketat selama jam kerja berlangsung karena jika mengalami kesulitan dalam pelaksanaan tugasnya maka karyawan yang belum memiliki
motivasi kerja akan pergi meninggalkan pekerjaannya dan tidak akan berusaha untuk keluar dari hambatan pekerjaan yang dialaminya.
Dari indikasi fenomena di atas, dapat dikatakan bahwa harapan-harapan atau tuntutan-tuntutan terhadap karyawan perusahaan dalam pencapaian kinerja yang baik belum dapat terwujud sebagaimana mestinya, kenyataan ini tidak bisa
dibiarkan karena hal-hal sebagaimana tersebut di atas akan dapat menimbulkan hambatan dalam pencapaian tujuan perusahaan. Dengan kepemimpinan yang
cenderung otoriter akan membawa dan menciptakan iklim organisasi yang tidak kondusif dan jika ini terjadi maka berdampak pada motivasi kerja karyawan yang tentunya mengakibatkan kinerja yang tidak baik.
Berdasarkan hal-hal yang berpengaruh terhadap kinerja serta mengingat banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan, maka berdasarkan
fenomena yang ada pada PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta sebagaimana terurai diatas, penulis membatasi faktor yang mempengaruhi kinerja kepada kepemimpinan, iklim organisasi dan motivasi kerja dan akan melakukan
penelitian ilmiah yang diangkat melalui tesis dengan judul :
”Pengaruh Kepemimpinan, Iklim Organisasi dan Motivasi Kerja terhadap
Kinerja Karyawan Perusahaan PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC)
B. Rumusan Masalah
Memperhatikan dari beberapa uraian di atas, maka perlu diteliti :
1. Sejauhmana pengaruh kepemimpinan terhadap iklim organisasi
perusahaan PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta ?
2. Sejauhmana pengaruh kepemimpinan dan iklim organisasi terhadap
motivasi kerja karyawan perusahaan PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta ?
3. Sejauhmana pengaruh kepemimpinan, iklim organisasi dan motivasi kerja
terhadap kinerja karyawan perusahaan PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan diatas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan :
a. Pengaruh kepemimpinan terhadap iklim organisasi PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta
b. Pengaruh kepemimpinan dan iklim organisasi terhadap motivasi kerja karyawan PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta
c. Pengaruh kepemimpinan, iklim organisasi dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan perusahaan PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta .
2. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian adalah :
2. Memberi bekal kemampuan dasar kepada penulis dalam melakukan analisis terhadap suatu fenomena yang terjadi di masyarakat dan merupakan sarana yang efektif dalam menambah wawasan dan pengetahuan
3. Jika hasil penelitian ini terbukti maka dapat digunakan sebagai :
a. Untuk masukan dan bahan pertimbangan bagi jajaran manajemen PT. Putra Mustika Prajasa Cargo (PMPC) Jakarta dalam meningkatkan performance perusahaan.