Draft Proposal Skripsi -- Seminar Pemilihan Masalah (Percepatan)
Nama : Erika
NPM : 0706291243
Dilema Pemberian Paten Obat-Obatan pada Perjanjian TRIPs di WTO:
Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual vs Kesehatan Publik
1.1. Latar Belakang
Dewasa ini, berbagai perubahan teknologi dan perubahan ekonomi yang terjadi akibat
masifnya globalisasi telah menyebabkan berbagai perubahan dalam relasi dan hubungan antar
negara-negara di dunia, terutama dalam hubungan perdagangan internasional. Adanya globalisasi,
yang ditandai dengan semakin kaburnya batas-batas teritorial negara, menyebabkan perpindahan
barang dan jasa terjadi secara masif dan cepat. Hal ini kemudian menuntut perlu diciptakannya
suatu peraturan yang dapat mengatur seluruh perdagangan barang dan jasa tersebut. Dalam
menyelesaikan berbagai masalah perdagangan yang mungkin timbul pada negara-negara dunia,
World Trade Organization (WTO) hadir sebagai lembaga internasional legal yang memiliki hak untuk mengeluarkan peraturan mengenai hubungan dagang antar negara dan menyelesaikan
sengketa perdagangan yang mungkin timbul melalui panel Dispute Settlement Mechanism yang dimilikinya. Dari sekian banyak isu perdagangan yang diatur dalam WTO, isu yang cukup menyita
perhatian negara berkembang adalah masalah Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Rights/IPR, HKI dalam bahasa Indonesia). Hubungan antara kepemilikan HKI dan investasi, perdagangan internasional, transfer teknologi, inovasi dan pertumbuhan ekonomi terus menjadi isu
penting yang kontroversial, terutama bagi negara berkembang. Masalah hak kekayaan intelektual
memang telah menjadi masalah pelik yang krusial dalam hubungan perdagangan antar negara
dunia. Sebagai aktor global yang berwenang mengatur mengenai perdagangan internasional, WTO
sebenarnya telah memiliki kebijakan untuk mengatur masalah hak kekayaan intelektual ini, yaitu
melalui perjanjian Trade-Related Aspects of Intelectual Property Rights (TRIPs), salah satu pilar perjanjian dalam WTO.
Perjanjian Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) sendiri merupakan salah satu pilar perjanjian dalam WTO yang dihasilkan dalam Uruguay Round, bersamaan dengan pembentukan WTO pada 1995, di mana pilar yang lainnya adalah mengenai perdagangan barang dan perdagangan jasa. Pengakuan pada perjanjian TRIPs merupakan
keharusan bagi semua negara anggota WTO, dan implementasi perjanjian TRIPs akan diawasi oleh WTO Dispute Setlement Mechanism.1 Sejalan dengan WTO, perjanjian TRIPs mengakuisisi prinsip non-diskriminasi (melalui pemberian status most-favoured nation dan national treatment
sama pada seluruh negara anggota) dan transparansi. Sebagai salah satu komponen dalam rejim kekayaan intelektual dunia, TRIPs disebut-sebut merupakan “pemimpin dalam proteksi HAKI kontemporer yang standarnya telah diakui dalam sejumlah perjanjian bilateral, yang pada akhirnya akan menentukan peraturan HAKI nasional di seluruh dunia”.2 Perjanjian TRIPs resmi dilaksanakan sejak 1 Januari 1995, di mana implementasi di negara-negara industri maju anggota WTO dimulai sejak Januari 1996, sementara negara berkembang baru mengimplementasikannya empat tahun setelahnya.
Sejak perjanjian TRIPs resmi dilaksanakan, protes dari negara berkembang terus muncul.
Negara berkembang melihat perjanjian TRIPs yang diatur dalam WTO sebagai bentuk
proteksionisme teknologi dari negara-negara industri maju yang memanfaatkan posisi negara
berkembang sebagai pasar dari produk buatan mereka.3 Pada umumnya, protes ini berkisar pada
monopolisasi kekayaan properti yang terus tumbuh pada tangan pihak berkuasa. Monopolisasi ini
terutama terjadi pada sektor obat-obatan, di mana pemberian paten pada industri farmasi negara
maju menimbulkan kesulitan akses negara berkembang pada obat-obatan tertentu. Kesulitan akses
tersebut terjadi karena industri farmasi negara maju pemegang paten kemudian dapat menerapkan
restriktif pemberian lisensi dan pengaturan kontrol vertikal melalui outlet-outlet distribusi yang
mencegah terjadinya kompetisi produk.4 Tidak hanya itu, industri farmasi negara maju juga
seringkali melakukan diskriminasi harga pada perusahaan lokal.
Permasalahan kemudian semakin meruncing ketika paten diberikan pada produk
obat-obatan penyelamat nyawa (life-saving drugs). Pemberian paten pada obat-obatan penyelamat nyawa tersebut dinilai sangat memberatkan negara berkembang. Tingginya harga obat-obatan
penyelamat nyawa yang disebabkan karena adanya kepemilikan paten pada akhirnya menyulitkan
masyarakat negara berkembang dan miskin untuk memperoleh akses pada obat-obatan tersebut.
Hubungan antara pemberian paten pada industri farmasi negara maju dan akibatnya pada kesulitan
1Ringkasan dan artikel lengkap mengenai perjanjian TRIPs dapat dilihat dalam
http://www.wto.org/english/docs_e/legal_e/27-trips_01_e.htm.
2 Thomas Cottier, “The Impact of the TRIPs Agreement on Private Practice and Litigation”, dalam James Cameron dan Karen
Campbell (eds.), Dispute Resolution in the WTO. (London: Cameron May, 1998).
3 Carlos M. Correa, Intellectual Property Rights, The WTO and Developing Countries: The TRIPS Agreement and Policy Options.
(Penang, Malaysia: Third World Network, 2000), h. 5.
4 Anna Lanoszka, “The Global Politics of Intellectual Property Rights and Pharmaceutical Drug Policies in Developing
akses obat-obatan bagi negara berkembang nyata tergambar pada sengketa yang muncul antara
pemerintah Afrika Selatan dan 39 industri farmasi terkemuka dunia. Di Afrika Selatan, terdapat
lebih dari 200.000 orang penderita HIV/AIDS yang mengalami kesulitan mengakses obat-obatan
dikarenakan tingginya harga obat-obatan tersebut.5 Jika dijumlahkan, total harga obat-obatan HIV/
AIDS untuk seorang penderita HIV/AIDS di Afrika Selatan bahkan mencapai US$12.000 per
tahunnya, sementara pendapatan nasional rata-rata penduduk Afrika Selatan bahkan tidak
mencapai US$3.000.6
Masalah yang terjadi di Afrika Selatan ini kemudian membuka mata dunia akan masalah akses obat-obatan krusial yang muncul di negara berkembang akibat pemberian paten pada industri-industri farmasi. Kritik mulai muncul seputar apakah perlindungan HKI dapat dijustifikasi bila perlindungan tersebut mengerosi hak absolut seseorang untuk kesehatan. Beberapa pihak juga meragukan apakah pemberian hak paten tersebut dapat menstimulasi terjadinya inovasi seperti yang selama ini digaungkan oleh negara-negara maju pengusul perjanjian TRIPs. Bahkan surat kabar terkemuka seperti The Economist yang pro-perdagangan bebas mengatakan “tough as it is today to get cheap drugs to the poor, it is likely yo get tougher still in the future”, The Economist juga mengakui bahwa hak paten yang diberikan malah berpotensi menghancurkan daripada menstimulasi inovasi.7 Lebih lanjut lagi, perusahaan farmasi seringkali tidak tertarik untuk memberikan investasi dan mengembangkan penelitian pada obat-obatan yang bertujuan untuk mengobati penyakit-penyakit di negara berkembang—penyakit tropik seperti malaria, misalnya— yang relatif tidak memberikan keuntungan bagi mereka.8 Pencapaian hak untuk kesehatan bagi setiap negara dunia, karenanya, sepertinya masih sulit dilaksanakan jika sistem pemberian paten tetap seperti sekarang.
1.2. Permasalahan
Pemberian paten pada industri farmasi yang mengakibatkan kesulitan akses obat-obatan
pada masyarakat negara berkembang dinilai tidak sesuai dengan tujuan awal pemberian paten yang
diatur dalam Perjanjian TRIPs. Pasal 27 dalam Perjanjian TRIPs, misalnya, mengatakan bahwa,
“... eksklusi sebuah paten dapat dilakukan untuk melindungi kehidupan manusia, hewan atau
5 Tshimanga Kongolo, "Public Interest Versus the Pharmaceutical Industry's Monopoly in South Africa", dalam Journal of World
Intellectual Property, No. 4, 2001, h. 609-627.
6 Anna Lanoszka, loc.cit.
7 The Economist, “Who Owns the Knowledge Economy?”, dalam The Economist, edisi 8 April 2000.
8 Caroline Dommen, “Raising Human Rights Concernc in the World Trade Organization: Actors, Processes and Possible
Strategies”, dalam Human Rights Quarterly, Vol. 24, No. 1 (Feb., 2002), h. 28.
tumbuhan, atau kesehatan, atau menghindari bahaya tertentu bagi lingkungan”.9 Selain itu, Pasal 8
menyebutkan bahwa negara anggota WTO wajib “... melakukan upaya untuk melindungi
kesehatan publik dan nutrisi, dan mempromosikan kepentingan publik pada sektor-sektor vital
bagi pembangunan teknologi dan sosial-ekonomi”10. Kedua pasal tersebut menunjukkan bahwa
seharusnya kejadian sulitnya akses negara berkembang pada obat-obatan penyelamat nyawa tidak
terjadi, sebab kesehatan publik dan perlindungan pada kehidupan manusia merupakan hal yang
lebih krusial dibanding perlindungan pada HKI untuk memperkaya pihak-pihak tertentu.
Berangkat dari kasus tersebut, penelitian ini akan difokuskan untuk menjawab pertanyaan:
Mengapa pemberian paten pada industri farmasi yang diatur dalam Perjanjian TRIPs di WTO tidak berhasil mewujudkan kesehatan publik di negara berkembang?
1.3. Kerangka Pemikiran
1.3.1. Definisi Konseptual: Konsep Rejim Internasional
Konsep rejim internasional merupakan salah satu konsep dalam teori neoliberal
institusionalisme, yang pertama kali dipopulerkan oleh Robert O. Keohane. Neoliberal
institusionalisme sendiri merupakan sintesis dari neoliberalisme dan neorealisme yang berangkat
dari tiga prinsip utama. Pertama, negara adalah sebuah aktor yang bersifat rasional dan egois,
sehingga negara kemudian akan melakukan kerja sama dalam rangka mencapai keuntungan
absolutnya, dan atas dasar rasionalitas ini pun kerja sama tetap dapat berjalan. Kedua, dunia
bukanlah seperti yang dipercaya oleh kaum liberalis yang dipenuhi oleh suasana harmoni maupun
kerja sama, melainkan sebuah pertentangan tiada akhir. Hal inilah yang kemudian dipercaya
kemudian melahirkan sebuah kerja sama itu sendiri, karena tanpa adanya konflik maka kerja sama
tidak akan lahir pula. Ketiga, Keohane kemudian mengekslusikan aktor non-negara dan
memfokuskan pada aktor negara dan hubungan antar aktor negara itu sendiri.11
Dengan meminjam prinsip rasionalitas dari kaum realis, Keohane membuktikan bahwa
kerja sama tidak terjadi secara spontan melainkan merupakan sebuah konstruksi untuk
memaksimalkan kepentingan jangka panjang negara anggotanya. Pemikiran Keohane akan kerja
sama tersebut kemudian disintesiskan dalam konsep rejim internasional. Tiga prinsip dasar dalam
9 Lihat Agreement On Trade-Related Intellectual Property Rights, dapat diakses secara online melalui http://
www.wto.org/english/docs_e/ legal_e/ursum_e.htm#Agreement.
10Ibid.
konsep rejim internasional tersebut adalah: 1) rejim bersifat otonom absolut dari sistem anarki dan
distribusi kekuatan, dan otonom relatif dari negara; 2) kerja sama adalah hal yang fundamental
dalam maksimalisasi kepentingan jangka panjang; dan 3) pendefinisian sistem anarki dalam
konteks distribusi informasi yang tidak sempurna. Keohane percaya bahwa negara dapat secara
sukarela bekerja sama di dalam sebuah institusi karena mereka percaya akan keuntungan jangka
panjang yang akan didapatkannya melalui rezim tersebut. Rezim bahkan kemudian dipercaya
dapat membuat negara-negara bersama-sama menyelesaikan collective action problem dalam suatu sistem yang anarki.12
Keohane setuju dengan pemahaman bahwa pada dasarnya sistem anarki akan membuat
negara merasa tidak yakin dalam memberikan komitmennya. Namun hal ini terjadi bukanlah
karena terjadi sebuah distribusi kekuatan yang tidak merata, melainkan karena ketidaksempurnaan
distribusi informasi itu sendiri, masing-masing negara tidak mengetahui intensi yang dimiliki
negara lain. Di sinilah kehadiran rejim dinternasional diperlukan, agar informasi dapat
didistribusikan secara merata dalam rejim, untuk mencegah terjadinya defection dan cheating. Pada titik inilah kemudian transaction cost of agreements dapat diminimalisir sedemikian rupa, karena penyebaran informasi yang merata ini akan dapat mereduksi kebutuhan suatu negara untuk
memonitor ketaatan negara lain dalam sebuah kerja sama. Kepercayaan dan kerja sama-lah yang
kemudian dipromosikan dalam situasi ini.13
1.3.2. Model Organisasi Internasional dalam Teori Perubahan Rejim
Penelitian ini akan menggunakan Model Organisasi Internasional pada teori perubahan
rejim yang disampaikan Roberth O. Keohane dan Joseph S. Nye pada bukunya yang berujudul
Power and Interdependence. Salah satu cara untuk menjelaskan struktur politik dunia adalah melalui organisasi internasional yang menggambarkan relasi intergovernmental dan
transgovernmental pada negara-negara dunia. Terminologi organisasi internasional ini digunakan untuk menggambarkan jaringan, norma, dan institusi yang bersifat multilevel. Dalam Model
Organisasi Internasional, kehadiran jaringan, norma, dan institusi merupakan faktor independen
yang penting untuk menjelaskan perubahan rejim. Organisasi internasional memiliki cakupan yang
lebih luas dibanding rejim internasional, sebab di dalamnya terdapat jaringan elit dan institusi
12Ibid.,h. 96 dan 98. 13Ibid, h. 99.
formal. Menurut Model Organisasi Internasional, ketika suatu jaringan, norma, dan institusi telah
dibangun, akan sulit untuk menghilangkan atau merubah organisasi tersebut secara drastis.14 Hal
ini dikarenakan, biaya untuk menghilangkan atau merubah suatu organisasi secara drastis akan
sangat tinggi, sehingga rejim akan tetap bertahan walaupun bila kebijakan yang dihasilkannya
tidak sesuai dengan keinginan negara pemilik kapabilitas superior.15 Pemikiran ini bertentangan
dengan Model Struktural yang mengatakan perubahan rejim akan selalu terjadi apabila terjadi
perubahan power di dalamnya, di mana perubahan yang terjadi dapat bersifat drastis atau malah berupa pembentukan rejim yang benar-benar berbeda. Dalam Model Organisasi Internasional,
sangat sulit bahkan bagi negara yang memiliki kapabilitas superior--baik secara keseluruhan
ataupun secara isu--untuk mengusahakan keinginannya bila keinginan tersebut berbenturan dengan
pola tingkah laku dalam jaringan dan institusi yang telah ada.
Kapabilitas superior sendiri dipahami sebagai kondisi kepemilikan power dari negara-negara anggota dalam suatu organisasi internasional. Kapabilitas superior ini dapat dibagi menjadi
dua, kapabilitas superior keseluruhan dan kapabilitas superior sesuai isu.16 Kapabilitas superior
secara keseluruhan mengacu pada kepemilikan power berupa kekuatan militer dan/atau ekonomi yang dominan hampir di seluruh bentuk organisasi internasional, misalnya Amerika Serikat yang
dominan di hampir seluruh organisasi internasional yang diikutinya. Sementara, kapabilitas
superior sesuai isu mengacu pada kepemilikan power yang hanya dominan di beberapa jenis organisasi internasional seperti misalnya pada Organization of Petroleum Exporting Countries
(OPEC), kapabilitas superior dimiliki oleh negara-negara Arab selaku pemasok minyak terbesar di
dunia.
Pada Model Organisasi Internasional, rejim dibentuk dan dijalankan sesuai dengan
distribusi kapabilitas superior, akan tetapi jaringan, norma dan institusi yang relevan akan
mempengaruhi kemampuan aktor untuk menggunakan kapabilitas superior yang dimilikinya.
Seiring berjalannya waktu, kapabilitas superior negara (atau yang dalam model ini disebut dengan
istilah underlying capabilities of states) akan menjadi variabel yang kurang tepat dalam menentukan karakteristik rejim internasional.17 Kebijakan yang dihasilkan pun akan disesuaikan
14 Robert O. Keohane dan Joseph S. Nye, Power and Interdependence, (New York: Longman, 2001), h. 47. 15Ibid, h. 51.
16 Penjelasan mengenai kapabilitas superior secara keseluruhan dan kapabilitas superior secara isu dapat dilihat dalam
Ibid, h. 36-45.
Other Organization
Underlying capabilities (issue or overall)
Existing norms and networks Organizationally dependent capabilities
Outcomes
Bargaining
(in complex interdependence mode)
(Effect on regime)
dengan kapabilitas dependen organisasi (organizationally dependent capabilities), seperti kekuatan
voting, kemampuan untuk membentuk aliansi, dan kontrol jaringan elit; yang ditentukan oleh norma, jaringan, dan institusi dalam organisasi internasional. Pada Majelis Umum Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB), misalnya, resolusi yang dihasilkan tidak hanya ditentukan oleh negara
yang paling berkuasa karena adanya sistem satu-negara-satu-suara yang digunakan. Perubahan
rejim, karenanya, tidak hanya ditentukan oleh perubahan kapabilitas superior negara-negara
anggotanya. Lebih lanjut lagi, perubahan yang dihasilkan pada akhirnya akan mempengaruhi
jaringan, norma, dan institusi dari rejim itu sendiri.
Diagram Model Organisasi Internasional tentang Perubahan Rejim18
Diagram di atas menjelaskan mengenai Model Organisasi Internasional tentang
Perubahan Rejim yang disampaikan oleh Keohane. Dalam diagram tersebut, dapat dilihat norma
dan jaringan yang ada, bersama dengan kapabilitas superior negara anggota (underlying capabilities) akan mempengaruhi kapabilitas dependen organisasi, yang pada akhirnya akan menentukan kebijakan yang dihasilkan (outcome). Garis putus-putus yang menghubungkan organisasi lain dengan norma dan jaringan yang telah ada menggambarkan adanya kemungkinan
perubahan dari sisi eksternal rejim; jaringan, norma dan institusi lain dapat berperan dalam
18Ibid, h. 49.
konfigurasi organisasi, dan karenanya dapat mempengaruhi cara kerja rejim. Diagram tersebut
juga menunjukkan pentingnya proses politik dalam organisasi internasional yang meliputi strategi
aktor, untuk mempengaruhi perubahan dalam suatu rejim internasional. Lebih lanjut lagi, Keohane
mengatakan bahwa pada awal pembentukan suatu organisasi internasional, variabel kapabilitas
superior sangat menentukan arah rejim. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlangsung secara
terus-menerus karena lambat-laun, norma dan jaringan yang telah ada akan mengambil fungsi untuk
menentukan jalannya rejim tersebut.
1.4. Metodologi Penelitian 1.4.1. Metode Penelitian
Penelitian ini akan menggunakan metode penelitian kuantitatif, yang dilakukan dalam
prosedur di mana indikator yang akan digunakan telah secara sistematis ditetapkan sebelum
pengumpulan data. Penelitian ini pada dasarnya akan mengetes hipotesis yang didasarkan pada
konsep. Dengan demikian, alur berpikir yang dipergunakan adalah alur berpikir deduksi, yang
berjalan sebagai berikut:
Pengamatan Hipotesis Pengumpulan Data Pengujian Hipotesis Kesimpulan19.
Model Organisasi Internasional dalam Teori Perubahan Rejim dan konsep rejim
internasional dalam penelitian ini berfungsi sebagai “alat” untuk memahami fenomena yang
hendak diteliti. Kesimpulan atau jawaban atas penelitian ini akan diupayakan sebagai refleksi dari
pemahaman konsep yang dipergunakan.20 Akan tetapi, pengukuran yang akan digunakan dalam
penelitian ini bukanlah dengan angka-angka, melainkan lebih mengacu pada keakuratan deskripsi
setiap variabel dan keakuratan hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya.21 Dengan
demikian, penelitian ini tidak akan menempuh metode statistika dan matematika.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini akan dilakukan dengan metode studi
dokumentasi dan literatur untuk mengumpulkan informasi dalam materi-materi tertulis. Dokumen
dalam hal ini mengacu pada teks atau apa saja yang tertulis, tampak secara visual atau diucapkan
melalui medium komunikasi.22 Studi dokumen primer diperoleh dari sumber-sumber resmi WTO,
19 Dr. Prasetya Irawan, M.Sc, Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial, (Depok: Departemen Ilmu
Administrasi, FISIP UI, 2006), h. 98.
20Ibid, h. 94- 95. 21Ibid, h. 101.
22 Lawrence Neuman, Basics of Social Research: Qualitative and Quantitative Approaches, (Boston: Pearson
antara lain dari dokumen resmi Perjanjian TRIPs yang dapat diakses melalui website resmi WTO.
Sementara data-data dokumen sekunder bersumber pada buku, jurnal, atau hasil penelitian dari
sumber yang valid, yang berhubungan dengan topik penelitian. Teknik studi dokumentasi ini
digunakan dalam penelitian karena sifatnya yang membantu penelitian “at a distance” (pelaku-pelaku dalam Perjanjian TRIPs secara geografis tidak terjangkau oleh peneliti) sehingga teknik ini
dapat menghasilan temuan yang sulit diamati secara langsung.23
1.4.2. Operasionalisasi Konsep
Dengan menggunakan Model Organisasi Internasional pada Teori Perubahan Rejim yang
disampaikan Keohane dan Nye, terdapat satu variabel dependen dan tiga variabel independen.
Variabel dependen tersebut adalah outcomes/kebijakan yang dihasilkan dalam organisasi internasional, dalam hal ini kebijakan yang dihasilkan akan menjadi tidak berimbang karena
dipengaruhi berbagai variabel independen yang ada. Sementara variabel independen pada model
tersebut adalah peran organisasi lain, norma dan jaringan yang telah ada, serta kapabilitas superior
negara anggotanya. Pada variabel peran organisasi lain, penelitian ini akan melihat pada indikator
kuat/lemahnya desakan/peran dari organisasi di luar WTO untuk mempengaruhi Perjanjian TRIPs.
Sementara pada variabel norma dan jaringan yang telah ada, penelitian akan melihat indikator ada/
tidaknya peraturan pada Perjanjian TRIPs yang berhubungan dengan isu kesehatan publik dan
kesulitan akses obat-obatan di masyarakat negara berkembang. Indikator ini digunakan dengan
berangkat pada pemikiran bahwa pemahaman pasal-pasal dalam Perjanjian TRIPs harus dilakukan
secara holistik dengan tetap memperhatikan kesinambungannya dengan pasal-pasal lainnya. Pada
variabel independen ketiga, kapabilitas superior negara anggota, penelitian akan menggunakan
kapabilitas superior sesuai isu. Mengingat isu yang dibicarakan adalah tentang paten obat-obatan,
maka indikator untuk variabel ini adalah banyak/sedikitnya kepemilikan paten obat-obatan pada
negara anggota. Kepemilikan paten yang semakin banyak menandakan negara tersebut memiliki
kepentingan dan power yang besar dalam negosiasi di Perjanjian TRIPs. Berdasarkan variabel dan indikator tersebut, dapat dihasilkan bagan seperti di bawah ini.
Variabel Dependen Variabel Kategor Indikator
23Ibid, h. 221.
Independen i
memahami konsep rejim internasional. Realisme klasik mengatakan bahwa negara adalah aktor
yang uniter dan rasional. Pendekatan state-centric yang akan digunakan dalam penelitian ini berangkat pada pemikiran bahwa negara adalah aktor yang terpenting dalam politik dunia, dan
bahwa sebagai aktor yang rasional, negara akan berupaya mencapai kepentingan maksimal melalui
cara-cara yang tersedia.24 Berangkat dari asumsi dan kerangka teori yang disampaikan
sebelumnya, penelitian ini akan memfokuskan pada negosiasi yang dilakukan negara dalam
organisasi internasional. Penelitian ini tidak akan membahas mengenai peran dari NGO
24 Disampaikan oleh Robert O. Keohane dalam tulisannya yang berjudul “Theory of World Politics: Structural
Realism and Beyond”, dalam Paul R. Viotti dan Mark V. Kauppi, International Relations Theory: Realism, Pluralism, Globalism, (New York: Macmillan Publishing Company, 1993), h. 191.
internasional ataupun perusahaan multinasional dalam negosiasi di organisasi internasional. Akan
tetapi, peran perusahaan multinasional dan NGO internasional yang akan ikut mempengaruhi
membentuk tingkah laku negara pada rejim internasional akan tetap dibicarakan.
Berdasarkan operasionalisasi konsep dari Model Organisasi Internasional tentang Teori
Perubahan Rejim sebelumnya, penelitian ini memiliki hipotesa yang akan dibuktikan sebagai
berikut:
1. Kebijakan yang dihasilkan dalam Perjanjian TRIPs tidak berhasil mewujudkan kesehatan
publik di negara berkembang karena lemahnya peran organisasi lain di luar WTO yang
mengupayakan terwujudnya kesehatan publik di negara berkembang.
2. Kebijakan yang dihasilkan dalam Perjanjian TRIPs tidak berhasil mewujudkan kesehatan
publik di negara berkembang karena tidak adanya norma dan jaringan dalam Perjanjian TRIPs
yang memfasilitasi terwujudnya kesehatan publik di negara berkembang.
3. Kebijakan yang dihasilkan dalam Perjanjian TRIPs tidak berhasil mewujudkan kesehatan
publik di negara berkembang karena banyaknya peran negara anggota dengan kapabilitas
superior yang tidak menginginkan hal tersebut dan mengendalikan proses pembuatan
kebijakan.
1.5. Rencana Pembabakan Skripsi
Penelitian dengan permasalahan dan model analisa di atas akan disusun ke dalam lima
bab. Bab I adalah bagian pendahuluan yang berisi latar belakang permasalahan, pertanyaan
permasalahan, kerangka pemikiran, metodologi penelitian, tujuan dan signifikansi penelitian, dan
sistematika penelitian. Bab II akan menjelaskan mengenai Perjanjian TRIPs dan implementasi
pemberian paten dalam Perjanjian TRIPs pada sektor kesehatan di berbagai negara. Pada bagian
inilah, permasalahan kesulitan akses obat-obatan di berbagai negara berkembang akan mulai
dibahas. Selanjutnya, Bab III akan menjelaskan variabel dependen dalam penelitian, yaitu
kebijakan tidak berimbang yang dihasilkan dalam Perjanjian TRIPs sehubungan dengan pemberian
paten pada industri farmasi dan isu kesehatan publik. Kebijakan tidak berimbang inilah yang pada
akhirnya berdampak pada munculnya masalah kesulitan akses obat-obatan (yang akhirnya
menghambat perwujudan kesehatan publik) di negara berkembang. Bab IV kemudian akan berisi
analisa variabel-variabel independen dalam penelitian dan bagaimana variabel tersebut
mempengaruhi negosiasi yang berjalan dalam WTO. Variabel-variabel independen inilah yang
pada akhirnya berperan dalam menghasilkan kebijakan tidak berimbang yang dijelaskan pada Bab
III. Penelitian ditutup dengan Bab IV, yang berisi kesimpulan dari penelitian sekaligus
rekomendasi atau usulan untuk penelitian berikutnya.
1.6. Tujuan dan Signifikansi Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab dari ketidakberhasilan perwujudan
kesehatan publik di negara berkembang sehubungan dengan pemberian paten pada industri farmasi
yang diatur dalam Perjanjian TRIPs di WTO. Perdebatan antara masalah kesehatan publik dan
pemberian paten sudah menjadi isu yang ramai dibicarakan sejak tahun 1990-an. Oleh sebab itu,
penelitian ini diharapkan mampu memaparkan penyebab ketidakberhasilan perwujudan kesehatan
publik di negara berkembang, terutama dari segi negosiasi dalam WTO yang melibatkan banyak
negara anggota dan berbagai organisasi internasional, agar di kemudian hari permasalahan serupa
tidak muncul kembali.
Adapun signifikansi dari penelitian ini adalah untuk memberikan sudut pandang yang
berbeda mengenai dilema pemberian paten, di mana literatur yang ada kebanyakan belum atau
sangat jarang menyorot tentang kebijakan-kebijakan dalam Perjanjian TRIPs dan faktor politik
yang menyertainya. Analisa tentang faktor politik yang berpengaruh dalam menghasilkan
kebijakan dalam WTO ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritik pada perkembangan
studi Hubungan Internasional, khusunya pada kajian mata kuliah Organisasi Internasional ketika
membicarakan mengenai WTO sebagai organisasi ekonomi internasional, serta pada kajian mata
kuliah Perdagangan Internasional ketika membicarakan mengenai peran faktor politik dalam
perdagangan internasional.