ANALISIS KOMPETENSI KARYAWAN KOPERASI TERHADAP TINGKAT KEPUASAN ANGGOTA
KOPERASI MITRA USAHA MANDIRI, SUBANG Oleh :
Jajat Sudrajat, S.Pd., M.M. ABSTRAK
Tujuan dari penelitian disini adalah sebagai berikut Untuk mengetahui tingkat kepuasan Anggota Koperasi Mitra Usaha Mandiri dipengaruhi oleh tiga interval dari variabel Kompetensi Karyawan Koperasi secara parsial. Untuk mengetahui tingkat kepuasan Anggota Koperasi Mitra Usaha Mandiri dipengaruhi oleh tiga interval dari variabel Kompentensi Karyawan Koperasi Mitra Usaha Mandiri secara simultan.
Hasil penelitian dan pembahasan serta landasan teori diatas telah menghsilkan suatu kesimpulanadalah secara parsial terdapat pengaruh antara tiga interval (Komunikasi, Peranan Diri Personil dan Kepemimpinan) dari variabel kompetensi karyawan Koperasi terhadap kepuasan anggota koperasi. Tingkat kepuasan kerja pegawai anggota koperasi dipengaruhi oleh tiga interval (Komunikasi, Peranan Diri Personil dan Kepemimpinan) dari variabel Kompetensi secara simultan sebesar 66%, dan yang sebesar 34% adalah dipengaruhi oleh variabel lain. Dari uji hipotesa menunjukkan bahwa hipotesa diterima karena terbukti bahwa T hitung > dari T tabel begitu juga dengan nilai F hitung > F tabel.
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pembinaan sumber daya manusia koperasi yang benar, tepat dan efisien, hal ini sangat diperlukan sekali sebab betapapun baiknya sumber daya lain yang dimiliki oleh organisasi, seperti : modal, bahan mentah dan tehnologi, tanpa dukungan oleh sumber daya manusia yang baik dan berkuwalitas, maka tidak akan dapat mencapai tujuan organisasi secara memuaskan, bahkan akan ditemui kegagalan. Hal inilah yang membuat setiap pemimpin akan selalu lebih memperhatikan sumber daya manusia daripada sumber daya yang lain, perhatian ini dilakukan oleh setiap manajer demi untuk mengusahakan agar kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dapat dilakukan dengan cara yang efisien dan efektif.
kesadaran dan kesediaan pegawai untuk mengerjakan semua tugasnya dengan baik, dimana hal ini mencerminkan prestasi kerja yang baik dari pegawai. Hubungan kepuasan pegawai dengan prestasi kerja dapat dilihat dari seberapa besar kepuasan/ketidakpuasan pegawai terhadap aspek-aspek pekerjaan dan aspek dirinya. Pegawai akan merasa puas bekerja apabila aspek-aspek pekerjaan dan aspek-aspek dirinya mendukung dan sebaliknya jika aspek-aspek tersebut tidak mendukung, pegawai akan merasa tidak puas. Pegawai yang merasa puas akan dapat dilihat dari tingkat kemampuan yang tinggi, keinginan yang kecil untuk pindah ke perusahaan/instansi lain, kualitas pekerjaannya yang baik, disiplin kerja yang baik, dan sebagainya. Indikator-indikator tersebut menggambarkan prestasi kerja pegawai yang tinggi.
Dari uraian-uraian di atas, secara kualitatif memang dapat dilihat adanya hubungan/pengaruh yang signifikan antara kompetensi Kantor Koperasi Mitra Usaha Mandiri dengan/terhadap kepuasan Anggota Binaan. Namun demikian, secara kuantitatif anggapan tersebut masih perlu dibuktikan kebenarannya. Hal inilah yang menarik minat untuk dilakukan penelitian lebih lanjut.
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka penulis mencoba mengadakan penelitian, dengan mengambil judul “ANALISIS KOMPETENSI KARYAWAN KOPERASI TERHADAP TINGKAT KEPUASAN ANGGOTA KOPERASI MITRA USAHA MANDIRI, SUBANG”.
B. Perumusan Masalah
Dengan memperhatikan uraian tersebut diatas, maka dalam penelitian ini pokok masalah yang akan dibahas dirumuskan sebagai berikut :
1. Sejauh mana tingkat kepuasan Anggota Koperasi Mitra Usaha Mandiri dipengaruhi oleh tiga interval dari variabel Kompetensi Karyawan Koperasi secara parsial?.
2. Sejauh mana tingkat kepuasan Anggota Koperasi Mitra Usaha Mandiri dipengaruhi oleh tiga interval dari variabel Kompentensi Karyawan Koperasi Mitra Usaha Mandiri secara simultan?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian disini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui tingkat kepuasan Anggota Koperasi Mitra Usaha Mandiri dipengaruhi oleh tiga interval dari variabel Kompetensi Karyawan Koperasi secara parsial.
2. Untuk mengetahui tingkat kepuasan Anggota Koperasi Mitra Usaha Mandiri dipengaruhi oleh tiga interval dari variabel Kompentensi Karyawan Koperasi Mitra Usaha Mandiri secara simultan.
D. Hipotesis
harus diuji secara empiris”. Dan hipotesis yang diajukan oleh penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut
Ho = Secara parsial dan secara simultan tingkat kepuasan kerja Anggota Koperasi tidak dipengaruhi oleh Tiga Interval dari variabel Kompetensi Karyawan Koperasi Mitra Usaha Mandiri.
H1 = Secara parsial dan secara simultan tingkat kepuasan kerja Anggota Koperasi dipengaruhi oleh Tiga Interval dari variabel Kompetensi Karyawan Koperasi Mitra Usaha Mandiri.
II. LANDASAN TEORI A. Pengertian Manajemen
Proses manajeman adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh manajer yang secara terperinci akan berbeda-beda tergantung pada besarnya perusahaan , macam produknya, kebijaksanaan perusahaan dan lain-lain. Didalam manajemen terdapat proses-proses yang pokok antara lain sebagai berikut :
Perencanaan (Planning).
Dalam proses ini tercakup usaha-usaha penentuan tujuan perusahaan yang merupakan pedoman kegiatan perusahaan, sehingga pencapain tujuan dan kegiatan-kegiatan lain dapat diintegrasikan selain itu juga dapat mengurangi ketidakpastian.
Perencanaan (Planning) adalah : Suatu decision making dari tindakan-tindakan yang akan diambil perusahaan (Harold Koonts, Cyril O’Donnel & Heinz Weihrich, Manajemen, 1980 ; terjemahan A.A. Rachmat MZ, SE, 1986 : 23).
Pengorganisasian (Organizing).
George R. Terry, 1986:233 lebih lanjut mengatakan bahwa : Organisasi adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang, hingga mereka dapat bekerja sama secara efisien dan dengan demikian memperoleh kepuasan pribadi dalam hal melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu.
Organisasi meliputi beberapa masalah terdiri dari : orang-orang, alat-alat(tools), tugas-tugas, tanggung jawab, wewenang; organisasi adalah “ suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh seorang manajer dalam mengkoordinir Kantor dan menggerakan semua sarana yang tersedia serta mengadakan pembagian tugas dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. (IG. Wursanto, 1989:99).
Pelaksanaan (Actuating)
Pengawasan (Controlling).
Controlling adalah salah satu fungsi manajemen yang harus dilaksanakan oleh seorang pimpinan organisasi / manajer perusahaan, yang mana pengertian pengawasan adalah fungsi manajer yang merupakan pengukuran dan perbaikan dari pelaksanaan kegiatan-kegiatan para bawahannya agar supaya yakin bahwa sasaran dan rencana-rencana perusahaan yang telah dirancang dapat dicapai.
B. Teori Sumber Daya Manusia
Masalah-masalah sumberdaya manusia tetap saja bermunculan, kekhawatiran kalangan bahwa suatu saat masalah ini akan terjadi di organisasinya masih banyak pihak manajemen yang belum menguasai dengan baik dan benar pengetahuan tentang bagaimana sumberdaya manusia dengan segala seluk beluknya. Pengelolaan sumberdaya manusia sebagai salah satu faktor produksi dalam suatu organisasi hendaknya dipengaruhi oleh hubungan baik di dalam suatu pekerjaan, seperti dikemukakan oleh Edwin B. Flippo dalam buku manajemen personalia (1994 : 5), tentang definisinya mengenai manajemen personalia adalah :
Manajemen personalia adalah perencanaan, pengorganisasian, penghargaan dan pengendalian atas pengadaaan tenaga kerja, pengembangan, kompetisi, integrasi, pemeliharaan dan pemutusan hubungan kerja dengan sumberdaya manusia untuk mencapai sasaran perorangan, organisasi dan masyarakat.
C. Pengertian Kompetensi
Boyatzis memberikan batasan kompetensi secara luas yaitu sesuatu yang mendasari karakteristik seseorang,. Kompetensi dapat berupa suatu motif, sift, keterampilan, aspek self image seseorang atau peran sosial, ataupun suatu pengetahuan yang digunakan oleh seseorang.
Selanjutnya menurut Rotwell dapat dibedakan menjadi empat, yaitu: 1. Kompetensi teknis (Technical Competence), yaitu kompetensi mengenai
bidang yang menjadi tugas pokok organisasi.
2. Kompetensi Manajerial (Managerial Competence) adalah kompetensi yang berhubungan dengan berbagai kemampuan manajerial yang dibutuhkan dalam menangani tugas-tugas organsasi.
3. Kompetensi Sosial (Social Competence) yaitu kemampuan melakukan komunikasi yang dibutuhkan oleh organisasi dalam pelaksanaan tugas pokoknya.
4. Kompetensi Intelektual/Strategik (Intelectual Strategic Competence), yaitu kemampuan untuk berpikir secara stratejik dengan visi jauh kedepan.
Dalam kaitan pengembangan kompetensi, pada hakekatnya kompetensi SDM dapat dikelompokkan atas 2 kelompok yaitu :
1. Kompetensi Umum
Jabatan eselom III dalam Organisasi Pemerintahan baik Pusat maupun daerah, bahwa dalam hal kemampuan manajerialnya adalah sama.
2. Kompetensi Khusus
Artinya setiap satuan unit kerja/organisasi tidak dapat disamakan jenis kompetensinya, karena latar belakang teknis substantif. Contoh ; Jabatan Penyuluh Pertanian tidak dapat disamakan dengan Jabatan Penyuluh Hukum.
Dari kedua kelompok kompetensi tersebut, apabila dicermati secara seksama, maka pada umumnya pokok-pokok kompetensi tersebut dapat dikembangkan sebagai berikut :
1. Kompetensi kerjasama tim 2. Kompetensi komunikasi
3. Kompetensi adaptasi terhadap perbuatan 4. Kompetensi kepuasan pelanggan
5. Kompetensi pemecahan masalah 6. Kompetensi kepemimpinan 7. Kompetensi pencapaian tujuan 8. Kompetensi teknis opersional 9. Kompetensi efektifitas pribadi
D. Lingkungan Kerja SDM dalam Organisasi
Dalam buku Manajemen Sumber Daya Manusia yang disusun oleh Marwansyah dan Mukaram, menguraikan lingkungan eksternal dan lingkungan internal sebagai berikut :
1. Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal adalah kekuatan-kekuatan utama di luar organisasi yang memiliki potensi untuk mempengaruhi keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuan. Lingkungan eksternal dibagi dalam 2 kategori yaitu
A. Mega Environment
a. Unsur Teknologi, yang mengambarkan kondisi pengetahuan saat ini yang terkait dengan produksi yang mempengaruhi kegiatan organisasi.
b. Unsur Ekonomi, yaitu yang meliputi sistem produksi,distribusi dan konsumsi atau kondisi ekonomi secara umum.
c. Unsur Politik dan Hukum d. Unsur Sosial Budaya e. Unsur Internasional
a. Task Environment
Task Environment adalah unsur-unsur luar yang spesifik mempengaruhi secara langsung dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
Task Environment antara lain terdiri dari : a. pegawai
b. Pemegang saham dan Dewan Direksi c. Konsumen,klein
e. Pemasok
f. Penawaran Tenaga kerja
g. Lembaga-lembaga lain yang terkait h. Media
i. Dan lain-lain 2. Lingkungan Internal
Lingkungan internal adalah factor-faktor atau kondisi yang berada di dalam suatu organisasi yang dapat mempengaruhi manajemen organisasi.
Menurut Mondy dan Noe (1990), paling tidak ada 3 faktor lingkungan internal yaitu :
a. Misi Organisasi, yang akan sangat mempengaruhi cara kerja dalam pencapaian tujuan organisasi, karena semua unit kerja dalam bagian-bagian terkecilnyapun harus mengacu pada misi organisasi. b. Kebijakan, adalah suatu pedomanan yang menetapkan untuk
memberikan arah dalam proses pengambilan keputusan. Sebagai pedoman maka kebijakan bersifat fleksibel, sehingga dalam penggunaannya disesuaikan dengan kondisi dan waktu yang tepat. c. Budaya organisasi, adalah system nilai kepercayaan dan
kebiasaan yang dianut bersama di dalam sebuah organisasi yang berinteraktif dengan struktur formal untuk mencapai norma-norma perilaku.
A. Pengertian Komunikasi
Keith Davis (1985 : 458) mengemukakan bahwa “commnication is the transfer of information and understanding from one person to another person”. (Komunikasi adalah pemindahan informasi dan pemahaman dari seseorang kepada orang lain). Edwib B. Flippo (1976:448) berpendapat bahwa “Communication is the act of inducing others to interpret an idea in the manner intended by the speaker or writer”. (Komunikasi adalah aktivitas yang menyebabkan orang lain menginterpretasikan suatu ide, terutama yang dimaksudkan oleh pembicara atau penulis).
1. Proses Komunikasi
Di bawah ini dikemukakan tiga model proses komunikasi, yaitu model proses komunikasi menurut Keith Davis, Andrew E. Sikula, dan George S. Odiorne.
a. Model Proses Komunikasi Menurut Keith Davis
Berdasarkan pendapat Keith Davis, proses komunikasi merupakan suatumetode di mana pengirim pesan (sender) dapat menyampaikan pesannya kepada penerima pesan (receiver). Hal ini memerlukan enam tahap, apakah mereka berbicara, menggunakan isyarat, atau melakukan beberapa tujuan lain dari komunikasi. b. Model Proses Komunikasi Menurut Andrew E. Sikula.
Andrew e. Sikula (1981:96) mengemukakan bahwa proses komunikasi adalah sangat baik dijelaskan dalam bentuk suatu model yang menggambarkan serangkaian tahapannya.
George S. Odiorne (2982:87) menggambarkan komunikasi termasuk semua perilaku yang dihasilkan dari saling bertukar pengertian. Hal tersebut termasuk segala sesuatu yang dilakukan dalam menyampaikan maksud atau ide-ide kepada orang lain.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komunikasi.
Ada dua tinjauan faktor yang mempengaruhi komunikasi, yaitu faktor dari pihak sender atau disebut pula komunikator, dan faktor dari pihak receiver atau komunikan.
a. Faktor dari pihak sender atau komunikator, yaitu keterampilan sikap, pengetahuan sender, media saluran yang digunakan.
b. Faktor dari pihak receiver, yaitu keterampilan receiver, sikap receiver, pengetahuan receiver dan media saluran komunikasi.
3. Rintangan Dalam Komunikasi
Ada tiga rintangan dalam berkomunikasi, yaitu rintangan pribadi, rintangan fisik dan rintangan bahasa. Hal ini sesuai denganpendapat yang dikemukakan oleh Keith Davis (1985:465) bahwa “Three types of barriers are personal, physycal and semantic”.
a. Rintangan Pribadi, Rintangan pribadi yang dimaksud adanya hambatan pribadi yang disebabkan karena emosi, alat indera yang terganggu, kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada norma atau nilai budaya tertentu.
b. Rintangan Fisik, Rintangan fisik yang dimaksud adalah terlalu jauh jarak tempat berkomunikasi antara sender receiver. Dalam hal ini diperlukan media komunikasi seperti telepon, alat pengeras suara, SSB (Single side Band), dan komunikasi lainnya.
c. Rintangan Bahasa, tantangan bahasa yang dimaksud adalah kesalahan dalam menginterpretasikan istilah kata. Misalnya kata atos, sender orang sunda dalam pesannya bermaksud mengatakan atos itu berarti sudah, sedangkan receiver orang Jawa menerima pesan tersebut dengan pengertian itu keras.
4. Saluran Komunikasi
Berdasarkan pendapat edwin B. Flippo tersebut arah saluran komunikasi adalah sebagai berikut :
a. Saluran komunikasi Pegawai Bawahan terhadap atasan, yaitu : 1. Kontak secara tatap muka
2. Pertemuan kelompok pengawasan
3. pertemuan dengan pemimpin (top management) secara periodic 4. Program “Speak up” di mana pegawai diberikan nomor telepon
untuk memanggil 5. Kotak keluhan tanpa nama
6. Pertemuan pegawai dengan pemegang saham setiap tahun 7. Menggunakan prosedur pengaduan
8. Kuesioner mengenai moral 9. Wawancara
12. The grapevine
13. Ombudsmrn and Ombudswomen 14. Program penyuluhan pegawai
b. Saluran Komunikasi yang Digunakan Atasan kepada Bawahan , yaitu :
1. Perintah berantai
2. Bulletin dinding dan poster 3. Majalah perusahaan
4. Surat kepada pegawai 5. Buku pedoman pegawai 6. rak informasi
7. Sistem pengeras suara 8. Pay inserts
9. The grapevine 10. Laporan tahunan 11. Pertemuan kelompok
12. Perserikatan buruh atau PBSI.
B. Gaya Kepemimpinan
Secara ekstrim dan diakui oleh para ahli terdapat dua kategori gaya kepemimpinan yaitu gaya kepemimpinan otokratis dan gaya kepemimpinan demokratis.
a. Kepemimpinan otokratis adalah gaya kepemimpinan yang berdasarkan atas kekuatan posisi dan penggunaan otoritas.
b. Kepemimpinan demokratis adalah gaya kepemimpinan dikaitkan dengan kekuatan personal dan keikutsertaan dalam proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
Selain kedua gaya kepemimpinan tersebut beberapa ahli mencoba memberikan beberapa teori tentang gaya/perilaku kepemimpinan antara lain (Agus Sunyoto; 1998, 114-118)
1) Gaya Kepemimpinan Kontinum
Pertama kali dikenalkan oleh Robert Tannenbaum dan Waren Schmid, menurut mereka ada dua bidang yang mempengaruhi yang ekstrim, pertama bidang pengaruh pimpinan dan kedua bidang pengaruh kebebasan bawahan. Pada bidang pertama pimpinan menggunakan otoritasnya dalam gaya kepemimpinannya, sedangkan pada bidang kedua pimpinan menunjukkan gaya yang demokratis.
2) Gaya Kepemimpinan Grid
Gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam manajemen dikemukakan oleh Robert, Blake dan Jane S. Moutm. Dalam pendekatan manajerial Grid ini manajer (pimpinan) berhubungan dengan dua hal yaitu memikirkan produksi disatu pihak dan hubungan kerja dengan orang-orang dipihak lain.
Ada empat gaya kepemimpinan yang dikelompokkan sebagai gaya yang ekstrem yaitu :
b) Grid 9.9. Manajer mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi untuk memikirkan produksi dan orang-orang yang bekerja dengannya.
c) Grid 1.9. gaya kepemimpinan dari manajer ini ialah rasa tanggung jawab yang tinggi untuk selalu memikirkan orang-orang yang bekerja tetapi memikirkan mengenai produksi rendah.
d) Grid 9.1. Manajer hanya memikirkan tentang usaha peningkatan efesiensi dan sedikit/kurang rasa tanggung jawabnya pada orang-orang yang bekerja dengannya.
e) Sedangkan gaya yang satu lagi berada di tengah-tengah, manajer semacam dalam Grid 5.5. dalam hal ini manajer mempunyai pemikiran medium baik pada produksi maupun pada orang-orang.
3) Gaya Kepemimpinan Situasional
Konsepsi model gaya kepemimpinan situasional yang dikembangkan oleh Paul Hersey dan Ken Blanchard menyatakan perilaku pemimpin ada dua hal yang biasanya dilakukan yakni perilaku pengarahan dan perilaku mendukung.
a) Perilaku mengarahkan bentuknya pengarahan dalam komunikasi satu arah antara lain memberitahukan kepada pengikutnya tentang apa seharusnya bisa dikerjakan dimana dan bagaimana melakukannya dan melakukan pengawasan secara ketat. b) Perilaku mendukung adalah sejauhmana seorang
pemimpin melibatkan diri dalam komunikasi dua arah.
G. Pengertian Kepuasan
Menurut Wexley dan Yuki ada tiga teori yang diketahui tentang kepuasan kerja :
a. Disperacy Theory
Kepuasan kerja atau ketidak puasan kerja tergantung pada perbedaan antara apa yang diharapkan atau diinginkan.
b. Equity Theory
Theory ini dikemukakan oleh Adam (1963). Prinsip-prinsip dari teori ini adalah bahwa orang akan merasa puas atau tidak puas tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan (equity) atau tidak atas situasi yang diperoleh dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain. Dalam theory ini terdapat tiga unsur, yaitu :
1) Input, yaitu segala sesuatu yang berharga yang dirasakan pegawai sebagai sumbangan terhadap pekerjaan.
2) Pitcomes, yaitu segala sesuatu yang berharga yang dirasakan pegawai sebagai hasil dari pekerjaannya, seperti gaji, tunjangan, status, pengakuan dan kesempatan untuk berprestasi. 3) Comparison person, yaitu orang lain yang dijadikan suatu perbandingan comparison person ini bisa berupa seorang di perusahaan yang sama, ditempat lain atau bisa pula dengan dirinya sendiri diwaktu lampau.
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Humberg (1959). Prinsip dari teori ini adalah bahwa kepuasan kerja dan ketidak puasan kerja merupakan dua hal yang berbeda artinya, kepuasan dan ketidak puasan terhadap pekerjaan itu merupakan suatu variabel yang kontinu.
Kepuasan kerja adalah sikap seorang pegawai terhadap pekerjaan yang dilaksanakannya. Kepuasan kerja merupakan sikap umum yang dirasakan oleh seseorang pegawai. Seorang pegawai yang merasakan kepuasan kerja yang tinggi akan mempunyai pandangan yang positif terhadap pekerjaan yang ditanganinya. Kepuasan kerja diperoleh tidak hanya pada hasil suatu kegiatan kerja itu sendiri, namun dapat diperoleh juga dari sikap dan tanggapan dari atasan, teman sejawat dan para bawahan. Faktor-faktor yang mempengruhi tingkat kepuasan kerja pegawai / karyawan adalah antara lain :
1. Letak / posisi kantor / Tempat Kerja 2. Fasilitas lingkungan kerja
3. Tingkat Keamanan Di Lingkungan Kerja 4. Alat Tulis Kantor
5. Sikap Teman Kerja 6. Sikap Atasan / Pemimpin 7. Tingkat Peranan Diri
H. Mengukur Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja didefinisikan sebagai suatu sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya. Kedua pendekatan yang paling meluas digunakan adalah suatu angka-nilai global atau tunggal dan skor penjumlahan yang tersusun atas sejumlah fase/aspek kerja. Metode angka-nilai tunggal tidak lebih dari meminta individu-individu untuk menjawab pertanyaan, seperti misalnya “ Bila semua hal dipertimbangkan, betapa dipuaskan anda oleh pekerjaan anda?. Kemudian responden menjawab dengan melingkari suatu bilangan antara 1 dan 5 yang berpadanan dengan jawaban dari sangat dipuaskan sampai dengan sangat takterpuaskan. Pendekatan yang lain penjumlahan fase pekerjaan lebih canggih. Metode ini mengenal unsur -unsur utama dalam suatu pekerjaan dan menanyakan perasaan pegawai mengenai tiap unsur . Faktor-faktor yang lazim akan dicakup adalah kodrat kerja penyediaan upah sekarang, kesempatan promosi dan hubungan rekan sekerja. Faktor-faktor ini dinilai dengan angka pada suatu skala baku dan kemudian dijumlahkan untuk menciptakan skor kepuasan kerja keseluruhan.
bahwa konsep kepuasan kerja secara inheren adalah begitu luas, sehingga pertanyaan tunggal itu sebenarnya menjadi suatu ukuran yang lebih inklusif.
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Sifat / Jenis Penelitian
Jenis atau sifat penelitian ini adalah diskripsi dan kuantitatif. Mengamati dan juga menganlisa data yang ada.
B. Populasi dan Sampel
Di dalam penelitian ini jumlah sample diambil adalah dari total populasi yang ada di dalam atau yang berada di dalam obyek penelitian.
C. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel Sampel (sample)
Sampel adalah bagian dari populasi yang merupakan wakil-wakil yang representatif dari suatu populasi tersebut (Suhaimi Arikunto, 1998 : 117). Definisi yang hampir sama juga dikemukakan oleh Sugiyono (2000 : 73), yaitu : sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.
Dalam penelitian ini penulis tidak mengambil data dari populasi, melainkan mengambilnya dari sampel. Alasannya adalah jumlah populasi (koperasi) yang cukup besar, sementara waktu penulis cukup terbatas. Alasan lainnya adalah karena sampel dapat digeneralisasikan ke dalam populasi dan kesimpulan yang diperoleh dari sampel dapat mewakili populasi tersebut.
Teknik Pengambilan Sampel (Teknik Sampling)
Teknik sampling merupakan cara pengambilan sampel. Yang dimaksud sampling adalah mengambil sampel atau mengambil sesuatu bagian populasi sebagai wakil (representatif) populasi tersebut. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan simple random sampling, yaitu pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan memberi peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.
Jumlah Anggota Koperasi Mitra Usaha Subang sebanyak 200, Dari jumlah populasi tersebut maka jumlah sampel pada taraf kesalahan 5% adalah 127 orang, namun karena keterbatasan peneliti akan waktu dan lain hal maka sample yang dipakai hanya sebanyak 100 Anggota Koperasi Mitra Usaha Mandiri.
D. Teknik Pengumpulan Data
Data dapat dibagi menurut beberapa kelompok (J. Supranto, 1993 : 7-8). Menurut cara memperolehnya, data dibagi menjadi data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan langsung dari obyeknya dan diolah sendiri oleh penulis. Data sekunder adalah data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi.
yaitu data mengenai persepsi responden terhadap dua variabel bebas dan satu variabel terikat. Untuk data kuantitatif, antara lain : data jumlah pegawai, jumlah sampel (responden). Data sekunder adalah data yang berhubungan dengan teori-teori yang relevan dengan judul penelitian, yaitu teori manajemen sumber daya manusia, kompetensi, dan teori kepuasan yang diambil atau dikutip dari beberapa buku manajemen.
Adapun teknik pengumpulan data yang dimaksudkan dalam penelitian ini berkaitan dengan data primer. Kuesioner (angket) digunakan untuk mengetahui persepsi responden terhadap variabel yang ditanyakan. Dalam kuesioner tersebut berisi beberapa pertanyaan yang bersifat tertutup mengenai variabel-variabel yang ada. Terhadap pertanyaan yang diajukan, para responden diharapkan memilih salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan (Sugiyono, 2000 : 136).
D. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif dan parametris. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut :
Analisis Deskriptif
Digunakan untuk menggambarkan (mendeskripsikan) data variabel yang telah terkumpul tanpa bermaksud memberi kesimpulan kepada populasi.
2. Analisis Statistik
Digunakan untuk menguji ukuran populasi melalui sampel. Sesuai dengan rancangan penelitian yang telah disusun, maka analisis statistik parametris yang digunakan untuk mengetahui hubungan atau pengaruh variabel X1, X2 dan X3 dengan/terhadap variabel Y adalah analisis
regresi berganda. Perhitungan analisis korelasi dan regresi berganda dilakukan dengan program SPSS release 10.0 for windows (Singgih Santoso, 1999 : 255-267) statistik juga digunakan untuk pengujian hipotesis.
Untuk meneliti keeratan hubungan variabel bebas (komunikasi, peranan diri dan kepemimpinan) dan variabel terikat (kepuasan kerja) dipergunakan teori korelation “product moment” yaitu nilai koefisien korelasi (r).
Oleh Sugiyono (2003, 182) dapat dituliskan :
rxy =
n
.
ΣX
.
Y
−
ΣX
.
ΣY
√
[
nΣX
2−(
ΣX
)
2][
nΣY
2−(
ΣY
)
2]
dimana =rxy = koefisien korelasi variabel X terhadap Y
n = jumlah sample X = variabel bebas Y = variabel terikat
Hasil perhitungan nilai r atau korelasi memiliki kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut :
2) Bila r = +1 atau mendekati 1, berarti antara variabel X dan Y mempunyai hubungan yang kuat positif.
3) Bila r = -1 atau mendekati –1, berarti antara variabel X dan Y mempunyai hubungan yang kuat negatif.
4) Bila r berada pada (Diambil dari Buku Metodologi Sugiono, 2000, 183)
0,00 < r 0,19,9 : Positif lemah 0,20 r 0,39.9 : Positif sedang 0,40 r 0,59.9 : Positif cukup 0,60 < r 0,79.9 : Positif kuat
0,80 < r < 1,00 : Positif sangat kuat
Dari hasil analisis regresi berganda akan diperoleh : descriptive statistics, nilai koefisien korelasi parsial, nilai koefisian korelasi dan determinasi berganda, nilai F hitung dan persamaan regresi berganda. Persamaan regresi berganda ditulis dengan rumus sebagai berikut :
Y’ = a + b1X1 + b2X2 + e Dimana :
Y’ = Nilai kepuasan anggota koperasi binaan yang diprediksikan b0 = Intersep (nilai konstanta) atau harga Y’ apabila X = 0
b1, b2 = Angka arah (koefisien regresi) untuk mengukur besarnya
pengaruh X terhadap Y, jika X naik satu satuan/poin. X1 = Kompetensi dg interval Kominikasi
X2 = Kompetensi dg intervalnya X1
X3 = Kompetensi dg interval X2
e = Error Uji Hipotesis
Untuk mengetahui apakah variabel X1 dan X2 berpengaruh signifikan
terhadap variabel Y, dilakukan uji hipotesis yang telah diajukan sebelumnya. Uji hipotesis didasarkan pada nilai koefisien korelasi berganda. Uji hipotesis (uji signifikansi) dari koefisien korelasi berganda dilakukan dengan uji dan uji-T dan uji-F, yaitu dengan membandingkan nilai T-hitung dan F hitung dengan nilai T tabel dan F tabel pada taraf signifikansi 5%, derajat bebas 2;47. Keputusan pengujian adalah apabila nilai F hitung lebih besar dari nilai F tabel pada taraf signifikansi 5%, derajat bebas 2;47 maka hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol
(Ho) ditolak.
Rumus Uji t-hitung
t
=
r
√
n−2
1−r
2Dimana :
r = Koefisien Korelasi Sederhana n = Responden
Rumus Uji F-hitung
F
=
R
2Dimana :
R2 = Koefisien Korelasi Ganda yang telah ditemukan
k = Jumlah Variabel Independen n = Jumlah Anggota Sampel
F = F hitung yang selanjutnya dibandingkan dengan F tabel
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Penelitian
Analisis Diskriptif
Dengan jumlah tenaga Koperasi yang relatif sedikit maka akan berarti jumlah anggota koperasi yang dapat terbina dengan baik relatif kecil, hal ini bukan berarti jumlah tenaga koperasi yang banyak akan dapat menjamin tingkat kepuasan anggota koperasi binaan dan dapat terbina dengan baik, namun demikian dengan adanya jumlah tenaga personil pembina dan dengan mempunyai tingkat kompetensi yang baik maka akan dapat meningkatkan kepuasan anggota koperasi binaan sehingga tercipta koperasi-koperasi binaan yang baik dan unggul.
Analisis Skor
Analisis skor jawaban responden ini dilakukan berdasarkan total nilai jawaban responden sesuai tabel tentang tabulasi skor jawaban responden untuk masing-masing variabel bebas dan terikat.
Untuk menentukan tinggi rendahnya katagori jawaban responden perlu dicari kreterianya (interval), yaitu :
Interval = 5 - 1 = 4 = 0,8
5 5
Tabel 05 Kreteria Analisa Skor
Interval Katagori
1.0 S/d 1.80 1.81 s/d 2.60 2.60 s/d 3.40
3.41 s/d 4.20 4.21 s/d 5.00
Sangat rendah Rendah Sedang
Tinggi Sangat Tinggi
Analisis Variabel Kompetensi Dg Interval Komunikasi (X1). Tabel 6. Distribusi Jawaban Responden untuk Indikator Kompetensi dengan
Kategori Skor Frekuensi Skor Total
Indikator Kompetensi dg interval komunikasi ini terdiri dari 10 pertanyaan, sehingga akan didapatkan jawaban responden sebanyak 100 x 10 = 1000 dari tabel diatas dapat diketahui bahwa skor total jawaban responden untuk indikator Kompetensi interval komunikasi adalah :
4415 = 4415 = 4.415 100 x 10 1000
Nilai tersebut termasuk dalam kategori tinggi, karena terletak di antara skor 3,41 hingga 5.00. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kompetensi dengan interval komunikasi mempunyai peran yang sangat tinggi.
Indikator Kompetensi dg interval Peranan Diri Personil (X2)
Tabel 7. Distribusi Jawaban Responden untuk Indikator Kompetensi dg Interval Peranan Diri Personil (X2)
Kategori Skor Frekuensi Skor Total Sangat Tinggi
Indikator kompetensi dg interval Peranan Diri Personil ini terdiri dari 10 pertanyaan, sehingga akan didapatkan jawaban responden sebanyak 100 x 10 = 1000 Jawaban.
Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa skor total jawaban responden untuk indikator Peranan Diri Personil ini sebesar 4214. Dengan demikian nilai rata-rata jawaban responden untuk interval Peranan Diri Personil adalah :
4214 = 4214 = 4.214 100 x 10 1000
Indikator Kompetensi dg interval Kepemimpinan (X3)
Tabel 8. Distribusi Jawaban Responden untuk Indikator Kompetensi dg Interval Kepemimpinan (X3)
Kategori Skor Frekuensi Skor Total Sangat Tinggi
Indikator kompetensi dg interval Kepemimpinan ini terdiri dari 10 pertanyaan, sehingga akan didapatkan jawaban responden sebanyak 100 x 10 = 1000 Jawaban.
Nilai tersebut termasuk dalam kategori tinggi, karena terletak diantara skor 3,41 hingga 5.00 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kepemimpinan di dalam organisasi mempunyai peran yang tinggi.
Melalui hasil analisis skor yang dilakukan atas indikator-indikator variabel bebas Perolehan skor dalam variabel bebas yang merupakan sumbangan skor dari indikator-indikator variabel bebas (X1, X2),
sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 9. Distribusi Jawaban Untuk Variabel Bebas (X1, X2, X3).
Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa skor total jawaban responden untuk variabel X ini sebesar 12929 jawaban. Dengan demikian nilai rata-rata jawaban responden untuk variabel X adalah : 12929 = 12929 = 4.3096
100x 30 3000
Nilai tersebut termasuk dalam kategori tinggi, karena terletak di antara skor 3,41 sehingga 5.00. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tiga interval dari Kompetensi termasuk tinggi.
Analisis Variabel Terikat Kepuasan Anggota Koperasi (Y). Tabel 10. Distribusi Jawaban Untuk Indikator Kepuasan Anggota Koperasi
Kategori Skor Frekuensi Skor Total Sangat Tinggi
Indikator Kepuasan Anggota ini terdiri dari 10 pertanyaan, sehingga akan didapatkan jawaban responden sebanyak 100 x 10 = 1000 jawaban. Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa skor total jawaban responden untuk indikator kepuasan ini sebesar 4547. Dengan demikian nilai rata-rata jawaban responden untuk indikator adalah: 4547 = 4547 = 4.547
100 x 10 1000
Nilai tersebut termasuk dalam kategori tinggi, karena terletak di antara skor 3,41 hingga 5.00. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat kepuasan anggota binaan di organisasi termasuk tinggi.
Analisis Statistik dan Hipotesis
Analisis ini diambil dari total jawaban responden atas kusioner yang disebarkan pada 100 responden (data primer). Analisis ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel Kompetensi dengan tiga intervalnya terhadap kepuasan anggota Koperasi Mitra Usaha Mandiri yang mana proses pengolahannya menggunakan bantuan program SPSS release 10.0 for windows (Singgih Santoso, 1999 : 255-267). Dan hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut :
1. Analisa Regresi antara variabel bebas Kompetensi dengan interval Komunikasi terhadap variabel terikat kepuasan Anggota Koperasi Mitra Usaha Mandiri
Model R R Square Adjusted R Kompetensi dg interval Tingkat Peranan Diri terhadap variabel terikat kepuasan Anggota Koperasi Mitra Usaha Mandiri
Tabel 13. Model Sumarry
Model R R Square Adjusted R
Square Std Error of theEstimate
1 .758 .575 .571 3.228 Kompetensi dg interval Kepemimpinan terhadap variabel terikat kepuasan Anggota Koperasi Mitra Usaha mandiri
Tabel 15. Model Sumarry
Model R R Square Adjusted R
Square Std Error of theEstimate
1 .774 .600 .595 3.133
Tabel 16. Cefficient
Kompensasi 16.5470.676 2.0890.056 .774 12.1137.919 .000.000
Sumber Hasil Olahan SPSS
4. Analisa Regresi antara variabel bebas Kompetensi dan Lingkungan Kerja terhadap variabel terikat kepuasan kerja pegawai pada Koperasi Mitra Usaha Mandiri
Tabel 17. Descriptive Statistics
Model R R Square Adjusted R
Square
Square df Mean Square F Sig
D. Hasil Penelitian
1. Hasil perhitungan tabel 8 dan 9 diatas dapat diterjemahkan bahwa berarti :
a. Nilai R = .776 dapat diartikan bahwa secara parsial terdapat adanya hubungan antara variabel bebas kompetensi-komunikasi dengan varaibel terikat kepuasan anggota Koperasi Mitra Usaha Mandiri sebesar 0.776 dan bernilai positif.
b. Nilai R Square = 0.602 dapat diartikan bahwa varaibel terikat kepuasan anggota Koperasi Mitra Usaha Mandiri dipengaruhi oleh variabel bebas kompetensi-komunikasi sebesar 60% secara parsial. c. Nilai t hitung = 12.172 > t tabel = 0.195, hal ini berarti bahwa Ho
ditolak dan Ha dterima.
2. Hasil perhitungan tabel 10 dan 11 diatas dapat diterjemahkan bahwa berarti :
a. Nilai R = .758 dapat diartikan bahwa secara parsial terdapat adanya hubungan antara variabel bebas kompetensi-tingkat peranan diri personil dengan varaibel terikat kepuasan anggota binaan Koperasi Mitra Usaha Mandiri sebesar 0.758 dan bernilai positif.
b. Nilai R Square = 0.575 dapat diartikan bahwa varaibel terikat kepuasan anggota binaan Koperasi Mitra Usaha Mandiri dipengaruhi oleh variabel bebas kompetensi dengan interval tingkat peranan diri personil sebesar 58% secara parsial.
c. Nilai t hitung = 11.512 > t tabel = 0.195, hal ini berarti bahwa Ho
ditolak dan Ha dterima.
3. Hasil perhitungan tabel 12 dan 13 diatas dapat diterjemahkan bahwa berarti :
a. Nilai R = .774 dapat diartikan bahwa secara terdapat adanya hubungan antara variabel bebas kompetensi-kepemimpinan dengan varaibel terikat kepuasan anggota Koperasi Mitra Usaha Mandiri sebesar 0.774 dan bernilai positif.
b. Nilai R Square = 0.600 dapat diartikan bahwa varaibel terikat kepuasan anggota Koperasi Mitra Usaha Mandiri dipengaruhi oleh variabel bebas kompetensi dengan interval kepemimpinan sebesar 60% secara parsial.
c. Nilai t hitung = 12.113 > t tabel = 0.195, hal ini berarti bahwa Ho
ditolak dan Ha dterima.
4. Hasil perhitungan tabel 14 dan 15 serta 16 diatas dapat diterjemahkan bahwa berarti :
a. Nilai R = .812 dapat diartikan bahwa secara silmultan ke tiga interval kompetensi mempunyai hubungan dengan varaibel terikat kepuasan anggota koperasi Mitra Usaha Mandiri sebesar 0.812 dan bernilai positif.
variabel tiga bebas dari interval kompetensi secara simultan sebesar 66%.
c. Nilai F hitung = 62.080 > F tabel = 1.39 hal ini berarti bahwa Ho
ditolak dan Ha dterima.
V. KESIMPULAN
Hasil penelitian dan pembahasan serta landasan teori diatas telah menghsilkan suatu kesimpulan sebagai berikut :
1. Secara parsial terdapat pengaruh antara tiga interval (Komunikasi, Peranan Diri Personil dan Kepemimpinan) dari variabel kompetensi karyawan Koperasi terhadap kepuasan anggota koperasi
2. Tingkat kepuasan kerja pegawai anggota koperasi dipengaruhi oleh tiga interval (Komunikasi, Peranan Diri Personil dan Kepemimpinan) dari variabel Kompetensi secara simultan sebesar 66%, dan yang sebesar 34% adalah dipengaruhi oleh variabel lain.
3. dari uji hipotesa menunjukkan bahwa hipotesa diterima karena terbukti bahwa T hitung > dari T tabel begitu juga dengan nilai F hitung > F tabel.
DAFTAR PUSTAKA
Buchari Zainun, Manajemen dan Motivasi, Balai Aksara Jakarta, 1994
J. Ravianto, Produktivitas dan Mutu Kehidupan, Lem. Sarana Informasi Usaha & Produktivitas, Jakarta, 1985
Johannes Basuki, Budaya Organisasi Konsep dan Terapan, Yayasan Pembina Manajemen LAN RI, 1997
Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat. Gramedia Jakarta, 1986
Kusriyanto, Ikhtisar Study Organisasi, Antar Kota Jakarta, 1985
Moekijat, Kamus Manajemen,- Manajemen Kepegawaian , Alumi Bandung, 1979-1990
………., Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia, Penerbit CV.Mondar Maju, Bandung, 2003
Robins,Stephen P, Organizational Behavior, Englewood Cliffs,N.J. Prentice-Hall 1996
Siagian.Sondang P, Sistem Informasi untuk Pengambilan Keputusan, Penerbit PT.Gunung Agung, Jakarta 1974
……….., Manajemen Sumber Daya Manusia, Bumi Aksara Jakarta, 1993
……….., Manajemen Abad 21, PT.Bumi Aksara, Jakarta 1998
………., Kiat Meningkatkan Produktifitas Kerja, Penerbit Tineka Cipta, Jakarta 2002
Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, CV.ALFABETA, Bandung 2003