TUGAS 2
Psikologi Komunikasi
Karakteristik Manusia Komunikan
Dessrina Ismi 210110130337
Mankom C
Program Studi Manajemen Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi
Di Yunani, sejak abad VI SM., terkenal sebuah tempat pemujaan Apollo di Delphi. Ke tempat inilah raja-raja dan rakyat banyak meminta nasihat. Dari Delphi menyebar motto yang terkenal: Gnothi Seauthon (Kenalilah Dirimu). Motto inilah yang mendorong berkembangnya filsafat di Yunani.
Fokus psikologi komunikasi adalah manusia komunikan. Oleh karena itu, penting lebih dahulu kita mengenal diri kita.
Konsep Psikologi tentang Manusia
Teori-teori persuasi sudah lama menggunakan konsepsi psikoanalisis yang melukiskan manusia sebagai makhluk yang digerakkan oleh keinginan-keinginan terpendam (Homo Volens). Teori jarum hipodermik dilandasi konsepsi behaviorisme yang memandang manusia sebagai makhluk yang digerakkan semaunya oleh lingkungan (Homo Mechanicus). Teori pengolahan informasi jelas dibentuk oleh konsepsi psikologi kognitif yang melihat manusia sebagai makhluk yang aktif mengorganisasikan dan mengolah stimulus yang diterimanya (Homo Sapiens). Teori-teori komunikasi interpersonal banyak dipengaruhi konsepsi psikologi humanistis yang menggambarkan manusia sebagai pelaku aktif dalam merumuskan strategi transaksional dengan lingkungannya (Homo Ludens).
Walaupun psikologi telah banyak melahirkan teori-teori tentang manusia, tetapi empat pendekatan yang paling dominan adalah psikoanalisis, behaviorisme, psikologi kognitif, dan psikologi humanistis.
Konsepsi Manusia dalam Psikoanalisis
Psikoanalisis secara tegas memerhatikan struktur jiwa manusia. Menurut Sigmun Freud, perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian manusia: Id, Ego, dna Superego. Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia. Ada dua instink dominan: (1) Libido atau instink reproduktif yang menyediakan energy dasar untuk kegiatan-kegiatan manusia yang konstruktif; (2) Thanatos atau instink destruktif dan agresif. Id bergerak berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle), ingin segera memenuhi kebutuhannya. Id adalah tabiat hewani manusia.
Ego berfungsi menjembatani tuntutan Id dengan realitas di dunia luar. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistic. Ia bergerak berdasarkan prinsip realitas (reality principle).
Superego adalah hati nurani (conscience) yang merupakan internalisasi dari norma-norma social dan kultural masyarakatnya. Baik Id maupun Superego berada dalam bawah sadar manusia. Ego berada di tengah, antara memenuhi desakan Id dan peraturan Superego.
Konsepsi Manusia dalam Behaviorisme
Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme dan juga psikoanalisis. Behaviorisme ingin menganalisis hanya perilaku yang tampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan.
Menurut kaum empiris, pada waktu lahir manusia tidak mempunyai warna mental. Warna ini didapat dari pengalaman. Secara psikologis, seluruh perilaku manusia, kepribadian, dan temperamen ditentukan oleh pengalaman inderawi (sensory experience).
penderitaan. Dalam utilitarianisme, seluruh perilaku manusai tunduk pada prinsip ganjaran dan hukuman. Nature has placed mankind under the governance of two sovereign masters, pain and pleasure (Jeremy Bentham :1879).
Sejak Thorndike dan Watson sampai sekarang, kaum Behavioris berpendirian: organisme dilahirkan tanpa sifat-sifat social atau psikologis; perilaku adalah hasil pengalaman; dan perilaku digerakkan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan.
“Berikan padaku selusin anak0anak sehat, tegap, dan berikan dunia yang aku atur sendiri untuk memelihara mereka. Aku jamin, aku sanggup mengambil seoran ganak sembarang saja, dan mendidiknya untuk mnejadi spesialis yang aku pilih —dokter, pengacara, seniman, saudara, dan bahkan pengemis dan pencuri, tanpa memerhatikan bakat, kecenderungan, tendensi, kemampuan, pekerjaan, dan ras orang tuanya).” (J.B. Watson, 1934:104)
Ekperimen yang dilakukan Watson & Rayner pada seorang anak bernama Albert melahirkan metode pelaziman klasik (classical conditioning). Pelaziman klasik adalah memasangkan stimulus yang netral atau stimulus terkondisi dengan stimulus tertentu yang melahirkan perilaku tertentu (Sechenov & Pavlov).
Skinner menambahkan jenis pelaziman yang lain yang ia sebut operant conditioning. Proses memperteguh respons yang baru dengan mengasosiasikannya pada stimuli tertentu berkali-kali, disebut peneguhan (reinforcement). Bentuk-bentuk penghargaan yang diberikan dalam hal ini disebut peneguh (reinforcer).
Bandura menambahkan konsep belajar social (social learning). Ia mempermasalahkan peranan ganjaran dan hukuman dalam proses belajar. Menurut Bandura, belajar terjadi karena peniruan (imitation). Ganjaran dan hukuman bukanlah factor yang penting dalam belajar, tetapi factor yang penting dalam melakukan satu tindakan (performance). Melakukan satu perilaku ditentukan oleh peneguhan, sedangkan kemampuan potensial untuk melakukan ditentukan oleh peniruan.
Konsepsi Manusia dalam Psikologi Kognitif
Ketika asumsi-asumsi Behaviorisme diserang habis-habisan pada akhir tahun 60-an dan awal tahun 70-an, manusia dipandang sebagai makhluk yang selalu berusaha memahami lingkungannya: makhluk yang selalu berpikir (Homo Sapiens).
Descartes dan Kant menyimpulkan bahwa jiwa (mind) yang menjadi alat utama pengetahuan, bukan alat indera. Jiwa menafsirkan, mendistorsi, dan mencari makna. Rasionalisme ini tampak jelas pada aliran psikologi Gestalt di awal abad XX. Menurut para psikolog Gestalt, manusia tidak memberikan respons kepada stimulasi secara otomatis. Manusia adalah organisme aktif yang menafsirkan dan bahkan mendistorsi lingkunagn. Seblu memberikan respons, manusia menangkap dulu “pola” stimulus secara keseluruhan dalam satuan-satuan yang bermakna. Pola ini disebut Gestalt. Di kalangan ilmu komunikasi terkenal proposisi Words don’t mean, people mean —kata-kata tidak bermakna, oranglah yang memberi makna.
melahirkan istilah teori (konsistensi kognitif). Teori ini menyatakan bahwa individu berusaha mengoptimalkan makna dalam persepsi, perasaan, kognisi, dan pengalamannya.
Sejak pertengahan tahun 1950-an berkembang penelitian mengenai perubahan sikap dengan kerangka teoretis manusia sebagai pencari konsistensi kognitif (The Person as Consistency Seeker). Leon Festinger mengemukakan sebuah teori, yaitu teori disonansi kognitif. Disonansi artinya ketidakcocokan antara dua kognisi (pengetahuan). Dalam keadaan disonan, orang berusaha mengurangi disonansi dengan berbagi cara. Dihadapkan dalam situasi disonan, seseorang akan:
(1) mengubah perilaku,
(2) mengubah kognisi tetang lingkungan, (3) memperkuat salah satu kognisi,
(4) mengurangi disonansi dengan memutuskan bahwa salah satu kognisi tidak penting. Dalam teori komunikasi, teori disonansi menyatakan bahwa orang akan mencari informasi yang mengurangi disonansi, dan menghindari informasi yang menambah disonansi.
Awal 1970-an, teori disonansi dikritik, dan muncul konsepsi manusia sebagai pengolah informasi (The Person as Information Processor). Dalam konsepsi ini, perilaku manusia dipandang sebagai produk strategi pengolahan informasi yang rasional, yang mengarahkan penyandian, penyimpanan, dan pemanggilan informasi. Contoh perspektif ini adalah teori atribusi yang menganggap manusia sebagai ilmuwan yang naïf (naïve scientists), yang memahami dunia dengan metode ilmiah yang elementer.
Kenyataan menunjukan bahwa manusia tidaklah serasional dugaan tersebut. Sering penilaian orang terjadi didasarkan pada data yang kurang, lalu dikombinasikan dan diwarnai oleh prakonsepsi. Kehneman dan Tversky (1974) menyebutnya cognitive heuristics (dalil-dalil kognitif). Dari sinilah muncul konsepsi Manusia sebagai Miskin Kognitif (The Person as Cognitive Miser).
Manusia dalam Konsepsi Psikologi Humanistik
Pada behaviorisme manusia hanyalah mesin yang dibentuk lingkungan, pada psikoanalisis manusia selalu dipengaruhi oleh naluri primitifnya. Psikologi humanistic mengambil banyak dari psikoanalisi Neo-Freudian, tetapi lebih banyak lagi mengambil dari fenomenologi dan eksistensialisme. Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi dan diinerpretasi secara subjektif. Eksistensialisme menekankan pentingnya kewajiban individu pada sesame manusia.
Carl Rogers menggarisbesarkan pandangan humanism sebagai berikut:
1) Setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi di mana dia menjadi pusat.
2) Manusia berperilaku untuk mempertahankan, meningkatkan, dan mengaktualisasi diri.
3) Individu bereaksi pada situasi sesuai dengan persepsi tentang dirinya dan dunianya. 4) Anggapan adanya ancaman terhadap diri akan diikuti oleh pertahanan diri.
5) Kecenderungan batiniah manusia ialah menuju kesehatan dan keutuhan diri.
Faktor-faktor Personal yang Mempengaruhi Perilaku Manusia
pendekatan dalam psikologi social: ada yang menekankan faktor-faktor social; atau dengan istilah lai: faktor-faktor yang timbul dari dalam diri individu (faktor personal), dan faktor-faktor berengaruh yang dating dari luar diri individu (faktor environmental).
Menurut McDougall, faktor-faktor personallah yang menentukan perilaku manusia. Populernya behaviorisme memorakporandakan dalil-dalil McDougall. Orang melihat faktor situasilah yang penting.
Faktor Biologis
Menurut Wilson, perilaku social dibimbing oleh aturan-aturan yang sudah deprogram secara genetis dalam jiwa manusia. Program ini disebut sebagai epigenetic. Emil Dofivat menyebutkan kemungkinan menggunakan manipulasi biologis untuk menguasai massa suatu negeri. Dofivat menyebutkan psychochemische machen (penguasaan psikokimiawi). Ia mengutip, dosis kloral dan skopolamin dapat mengubah seluruh massa manusia menjadi sangat mudah dipengaruhi.
Telah diakui secara meluas adanya perilaku tertentu yang merupakan bawaan manusa, dan bukan pengaruh lingkungan atau situasi. Diakui pula adanya faktor-faktor biologis yang mendorong perilaku manusia, yan glazim disebut sebagai motif biologis.
Faktor-faktor Sosiopsikologis
Karena manusia makhluk social, dari proses sosial ia memeroleh beberapa karakteristik yang memengaruhi perilakunya. Kita dapat mengklasifikasinya ke dalam tiga komponen: afektif, kognitif, dan konatif. Komponen afektif merupakan aspek emosional dari faktor sosiopsikologis. Komponen kognitif adalh aspek inteletual. Komponen konatif adalh aspek volisional yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak.
Motif Sosiogenis
Motif-motif sosiogenis dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Motif ingin tahu: mengerti, menat, dan menduga (predictability). Kita memerlukan kerangka rujukan untuk mengevaluasikan situasi varu dan mengarahkan tindakan yang sesuai.
2) Motif kompetensi. Motif ini erat hubungannya dengan kebuthan akan rasa aman.
3) Motif cinta. Berbagai penelitian membuktikan bahwa kebutuhan akan kasih sayang yang tidak terpenuhi akan menimbulkan perilaku manusia yang kurang baik.
4) Motif harga diri dan kebutuhan untuk mencari identitas. Erat kaitannya dengan kebutuhan untuk memperlihatkan kemampuan dan memeroleh kasih sayang, ialah kebutuhan untuk menunjukan eksistensi di dunia.
5) Kebutuhan akan nilai, kedambaan, dan makna kehidupan. Bila manusia kehilangan nilai, tidak tahu apa tujuan hidup sebebarnya, ia tidka memiliki kepastian untuk bertindak. Dengan demikian, ia akan lekas putus asa dan kehilangan pegangan.
6) Kebutuhan pemenuhan diri. Dengan ucapan Maslow, “What a man can be, he must be.”
Sikap
Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi. Sikap relatif lebih menetap. Sikap mengandung aspek evaluatif. Dan sikap timbul dari pengalaman.
Emosi
Emosi menunjukan kegoncangan organisme yang disertai oleh gejala-gejala kesadaran, keperilakuan, dan proses fisiologi. Ada empat fungsi emosi menurut Coleman dan Hummen. Pertama, emosi adalah pembangkit energy (energizer). Kedua, emosi adalah pembawa informasi (messenger). Ketiga, emosi juga merupakan pembawa pesan dalam komunikasi interpersonal. Keempat, emosi juga merupakan sumber informasi tentang keberhasilan kita.
Kepercayaan
Kepercayaan adalah kecakinan bahwa sesuatu itu ′benar′ atau ′salah′ atas dasar bukti, sugesti otoritas, pengalaman, atau intuisi (Hohler, et al., 1978: 48). Menurut Solomen E. Asch, kepercayaan dibentuk oleh pengetahuan, kebutuhan, dan kepentingan.
Kebiasaan
Kebiasaan adalah aspek perilaku manusia yang menetap, belangsung secara otomatis tidak direncanakan.
Kemauan
Kemauan erat kaitannya dengan tindakan, bahkan ada yang mendefinisikan kemauan sebagai tindakan yang merupakan usaha seseoran guntuk mencapai tujuan: (1) hasil keinginan untuk mencapai tujuan tertentu yang begitu kuat sehingga mendorong oran guntuk mengorbankan nilai-nilai yang lain, yang tidak sesuai dengan pencapaian tujuan; (2) berdasarkan pengetahuan tentang cara-cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan; (3) dipengaruhi oleh kecerdasan dan energy yang diperlukan untuk mencapai tujuan; (4) pengeluaran energi yang sebenarnya dengan satu cara yang tepat untuk mencapai tujuan.
Faktor-faktor Situasional yang Memengaruhi Perilaku Manusia
Berdasarkan eksperimen yang telah ia lakukan pada kera-kera gibbon, Delgado menyimpulkan bahwa respons otak sangat dipengaruhi oleh “setting” atau suasana yang melingkupi organisme (Packard, 1978: 45).
Edward G. Sampson merangkumkan seluruh faktor situasional sebagai berikut:
Faktor Ekologis
Kaum determinisme lingkungan sering menyatakan bahwa keadaan alam memengauhi gaya hidup dan perilaku. Contoh dari faktor ini adalah faktor geografis dan faktor iklim dan meteorologis.
Satu rancangan arsitektut dapat memengaruhi pola komunikasi di antara orang0orang yang hidup dalam naungan arsitektrual tertentu. Pengarutan ruangan juga telah terbukti memengaruhi pola-pola perilaku yang terjadi di tempat itu.
Faktor Temporal
Telah banyak diteliti pengaruh waktu terhadap bioritma manusia. Satu pesan komunikasi yan gdisampaikan pada pagi hari akan memberikan makna yang lain bila disampaikan pada tengah malam.
Suasana Perilaku (Behavior Settings)
Roger Barker dan rekan-rekannya membagi lingkungan ke dalam beberapa satuan yang terpisah, yang disebut suasana perilaku. Pada setiap suasana terdapat pola-pola hubungan yan gmengatur perilaku orang-orang di dalamnya.
Teknologi
Alvin Tofler melukiskan tifa gelombang peradaban manusia yang terjadi sebagai akibat perubahan teknologi. Lingkungan teknologis (technosphere) yang meliputi system energy, system reproduksi, dan system distribusi, membentuk serangkaian perilaku social yang sesuai dengannya (sociosphere). Bersamaan dengan itu tumbuhlah pola-pola penyebaran informasi (infosphere) yang memengaruhi suasana kejiwaan (psychosphere) setiap anggota masyarakat.
Faktor-faktor Sosial
Sestem peranan yang ditetapkan dalam suatu masyarakat, struktur kelompok dan organisasi, karakteristik populasi, adalah faktor-faktor social yang menata perilaku manusia. Karakteristik populasi seperti usia, kecerdasan, karakteristik biologis, memengaruhi jaringan komunikasi dan system pengambilan keputusan, serta memengaruhi pola-pola perilaku anggota-anggota populasi itu.
Lingkungan Psikososial
Persepsi kita tentan gsejaumana lingkungan memuaskan atau mengecewakan kita, akan memengaruhi perilaku kita dalam lingkungan itu. Pola-pola kebudayaan yang dominan atau ethos, ideologi dan nilai dalam persepsi anggota masyarakat, memengaruhi seluruh perilaku social.
Stimulus yang Mendorong dan Memperteguh Perilaku