• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH BUDAYA TRADISIONAL TERHADAP TEK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH BUDAYA TRADISIONAL TERHADAP TEK"

Copied!
158
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S2 Program Magister Akuntansi

Diajukan oleh: Gusti Made Priya Nugraha

14/371298/PEK/19316

Kepada:

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS

UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

ketika kamu ragu saat melangkah mengejar impianmu, jangan berhenti.

(5)
(6)

vi atas asung wara kerta nugraha-Nya, penulis dapat menyelesaikan tesis yang

berjudul “Pengaruh Budaya Tradisional terhadap Tekanan Pekerjaan dan

Kepuasan Kerja Auditor Internal pada Industri Perhotelan di Provinsi Bali” sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Strata Dua (S2) pada Program

Magister Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini tidak akan berhasil tanpa

bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak yang telah meluangkan waktunya

dalam penyusunan tesis ini. Dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan terima

kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Goedono, M.B.A., CMA., selaku Ketua Program Magister

Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Yogyakarta

2. Bapak Drs. Sugiarto, M.Acc., M.B.A., CMA., Ak., CA., selaku dosen

pembimbing atas waktu, bimbingan, serta masukan, sehingga penulis dapat

menyelesaikan penulisan tesis ini.

3. Bapak dan Ibu dosen Pendidikan Program Magister Akuntansi Fakultas

Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, selaku staf

pengajar yang telah memberikan ilmu pengetahuannya selama penulis

(7)

vii 5. Kepada ajik Gusti Putu Surata, tante Sari Norma, wik Gusti Made

Mahadwipa, bli Komang Arthadana dan mbok Ayu Sulastini, serta

teman-teman Kadek, Eka Setyarini, Dessy, dan seluruh pihak yang telah membantu

penulis dalam menyebarkan dan mengisi kuesioner penelitian yang diperlukan

dalam penulisan tesis ini.

6. Kepada orang tua, Gusti Ketut Gunarsa dan Ni Luh Sukri, kakak Gusti Ayu

Putu Wulan Rahmasari, dan keluarga yang selalu memberikan dukungan,

dorongan semangat, kesabaran, perhatian, kasih sayang, serta doa yang tulus

tiada hentinya untuk memotivasi penulis dalam menyelesaikan pendidikan.

7. Terspesial untuk Putu Pujawati, yang selalu menemani, memberikan

dukungan, dan memotivasi penulis selama menempuh pendidikan hingga

menyelesaikan penulisan tesis ini.

8. Bli Dalem, yang telah membantu dan memberikan banyak masukan dan saran,

serta menjadi teman diskusi penulis dalam menyelesaikan penulisan tesis ini.

9. Para sahabat Berry, Fadli, Dhandy, Astri, Pajaruddin, Haviz, Adit, Kiki, Gio,

Dilla, Meta, serta teman-teman seperjuangan kelas konsentrasi Audit, Sistem

Informasi, dan Sektor Publik di Program Magister Akuntansi Fakultas

Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang tidak dapat

penulis sebutkan satu per satu atas persahabatan, motivasi, canda dan tawa

(8)

viii terdapat banyak kelemahan yang disebabkan karena keterbatasan kemampuan

serta pengalaman penulis, karenanya penulis memohon maaf atas segala

kekurangan yang ada. Namun demikian penulis berharap tesis ini dapat

memberikan manfaat bagi yang berkepentingan.

Yogyakarta, 8 September 2015

(9)

ix

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

HALAMAN MOTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR PERSAMAAN... xiii

INTISARI ... xiv

ABSTRACT ... xv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah... 6

1.3 Pertanyaan Penelitian ... 7

1.4 Tujuan Penelitian ... 7

1.5 Kontribusi Penelitian ... 8

1.5.1 Kontribusi Teoritis ... 8

1.5.2 Kontribusi Praktis ... 8

1.6 Sistematika Penulisan ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Auditor Internal ... 11

2.2 Kepuasan Kerja ... 11

2.2.1 Definisi Kepuasan Kerja ... 11

2.2.2 Teori Kepuasan Kerja ... 12

2.2.3 Aspek-aspek Kepuasan Kerja ... 14

2.3 Tekanan Pekerjaan ... 15

2.3.1 Definisi Tekanan Pekerjaan ... 15

(10)

x

2.6.1.1Definisi Konflik Pekerjaan-Keluarga ... 27

2.6.1.2Teori-teori Konflik Pekerjaan-Keluarga ... 27

2.6.1.3Aspek-aspek Konflik Pekerjaan-Keluarga .... 29

2.6.2 Konflik Pekerjaan-Hubungan Sosial Kemasyarakatan ... 29

2.7 Pengembangan Hipotesis ... 30

2.7.1 Pengaruh Tekanan Pekerjaan terhadap Kepuasan Kerja ... 30

2.7.2 Pengaruh Pengendalian Diri terhadap Kepuasan Kerja ... 32

2.7.3 Pengaruh Pengendalian Eksternal terhadap Kepuasan Kerja ... 33

2.7.4 Pengaruh Pengendalian Diri terhadap Hubungan Tekanan Pekerjaan dan Kepuasan Kerja ... 36

2.7.5 Pengaruh Pengendalian Eksternal terhadap Hubungan Tekanan Pekerjaan dan Kepuasan Kerja .. 37

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Populasi dan Sampel ... 39

3.2 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 41

3.2.1 Variabel Terikat ... 42

3.2.2 Variabel Bebas ... 43

3.2.3 Variabel Moderasi ... 44

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 48

3.4 Teknik Analisis Data ... 48

3.4.1 Uji Kualitas Data ... 48

3.4.2 Uji Hipotesis ... 50

(11)

xi

4.3.1 Uji Validitas ... 54

4.3.2 Uji Reliabilitas ... 57

4.4 Uji Asumsi Klasik ... 57

4.4.1 Uji Normalitas ... 57

4.4.2 Uji Heteroskedastisitas ... 58

4.4.3 Uji Multikolinearitas... 59

4.5 Hasil Analisis Regresi dan Pengujian Hipotesis... 59

4.6 Pembahasan ... 64

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 72

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 73

5.3 Implikasi dan Saran ... 74

(12)

xii

Tabel 4.1 Ringkasan Kuesioner Penelitian ... 52

Tabel 4.2 Demografi Responden ... 53

Tabel 4.3 Hasil Uji Validitas ... 55

Tabel 4.4 Hasil Uji Reliabilitas ... 57

Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas ... 57

Tabel 4.6 Hasil Uji Heterokedastisitas ... 58

Tabel 4.7 Hasil Uji Multikoleniaritas (Regresi Moderasi) ... 59

(13)
(14)

xiv Judul : Pengaruh Budaya Tradisional terhadap Tekanan Pekerjaan dan Kepuasan Kerja Auditor Internal pada Industri Perhotelan di Provinsi Bali

Sebagai seorang masyarakat Bali yang mempertahankan budaya tradisional, cara pandang auditor internal dalam menjalankan pekerjaannya juga dipengaruhi oleh budaya tradisional Catur Purusa Artha dan Tri Hita Karana. Cara pandang pekerjaan dan budaya tradisional menimbulkan benturan yang kemudian memberikan tekanan pekerjaan dan mempengaruhi kepuasan kerja auditor internal. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris pengaruh budaya tradisional terhadap tekanan pekerjaan dan kepuasan kerja auditor internal pada industri perhotelan di provinsi Bali. Budaya tradisional diwakili oleh variabel pengendalian diri dan pengendalian eksternal. Pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner penelitian dari penelitian yang telah ada sebelumnya dan yang dikembangkan sendiri oleh peneliti. Pengujian hipotesis dilakukan melalui metode analisis regresi sederhana dan moderasi. Hasil pengujian menunjukkan budaya tradisional memoderasi hubungan tekanan pekerjaan dan kepuasan kerja auditor internal melalui variabel pengendalian diri. Penelitian ini diharapkan dapat membantu direktur dan manajer audit internal untuk lebih mengerti tekanan pekerjaan dan dampak negatif yang dapat ditimbulkan olehnya. Selain itu dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan kebijakan untuk meningkatkan kepuasan kerja auditor internal. Penelitian ini juga memberikan gambaran umum mengenai efek budaya tradisionalterhadap para pekerja dan memberikan kesadaran tentangnya sehingga dapat tetap mempertahankan budaya tradisional Bali di tengah derasnya pergeseran mata pencaharian masyarakat bali dari agraris menjadi industrialis.

(15)

xv Title : The Influence of Traditional Culture on the Job Stress and Job Satisfaction of Internal Auditors in Hotel Industry in the Province of Bali

As a Balinese who maintain traditional culture, the perspectives of work of internal auditors is also influenced by traditional culture Catur Purusa Artha and Tri Hita Karana. The perspectives of work and traditional culture result in a conflict which then exert job stress and influence internal auditor job satisfaction. This study aims to obtain empirical evidence of the influence of traditional culture on job stress and job satisfaction of internal auditors in the hotel industry in the province of Bali. Traditional culture is represented by two variables which consists of self-control and external control. Data collection using questionnaires instrument of research studies from previous researchers and some were developed by researcher himself. Hypothesis testing is done through a simple regression and moderation analysis method. The results showed traditional culture moderate the relationship of job stress and job satisfaction of internal auditors through self-control variable. This research is expected to help internal audit directors and managers to better understand the job stress and the negative impact that might be caused by it. Moreover, it provides material consideration in develop a policy to increase the job satisfaction of internal auditors. This study also provides an overview of the traditional cultural effects on workers and provide awareness of it so as to maintain the Balinese traditional culture in the middle of the swift shift of Balinese livelihood from an agrarian into industrialists.

(16)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Salah satu pekerjaan dengan tingkat tekanan yang tinggi adalah auditor

internal. Pekerjaan ini memiliki beban kerja yang berat, batas waktu pekerjaan yang

padat, dengan waktu yang terbatas. Auditor internal merasakan tekanan untuk

melakukan pekerjaannya dengan baik. Pekerjaan mungkin melibatkan perjalanan

bisnis dan perpindahan lokasi kerja dari satu tempat ke tempat lain (Sears dalam

Larson, 2004) yang meningkatkan tingkat tekanan pekerjaan dari auditor internal.

Hubungan pekerjaan dengan auditan yang berbeda-beda dan dengan kondisi yang

stressful juga mempengaruhi fisik dan mental (Chau dalam Larson, 2004). Kondisi

ini dapat meningkatkan tingkat tekanan pekerjaan auditor internal (Wood dan

Wilson dalam Larson, 2004). Karakteristik dan tuntutan pekerjaan sebagai seorang

auditor internal kemudian membentuk cara pandang seseorang dalam menjalankan

pekerjaannya. Selain karakteristik dan tuntutan pekerjaan, cara pandang auditor

internal dalam menjalankan pekerjaannya juga dipengaruhi oleh faktor lain, yaitu

budaya tradisional.

Masyarakat Bali merupakan salah satu contoh masyarakat yang

mempertahankan budaya tradisional dalam kehidupannya. Masyarakat Bali

mengenal sebuah konsep yang disebut sebagai Catur Purusa Artha. Catur Purusa

Artha adalah empat dasar dan tujuan hidup manusia, yang terdiri dari Dharma

(17)

nafsu), dan Moksa (kebahagiaan tertinggi). Budaya lainnya yang mempengaruhi

kehidupan masyarakat Bali adalah Tri Hita Karana. Tri Hita Karana diartikan

sebagai tiga penyebab kesejahteraan. Masyarakat Bali mempercayai bahwa

kesejahteraan dapat dicapai dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan

harmonisasi hubungan antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan

sesama manusia (Pawongan), dan hubungan manusia dengan lingkungan

(Palemahan). Masyarakat Bali membentuk suatu keyakinan bahwa kebudayaan

tersebut merupakan blue print yang telah menjadi kompas dalam perjalanan hidup

dan menjadi pedoman tingkah laku (Sukarma, 2015).

Pengaplikasian budaya Catur Purusa Artha dan Tri Hita Karana dilakukan

dalam lingkup yang kecil dan lingkup yang lebih besar. Lingkup yang kecil dapat

dilakukan dengan memenuhi kewajiban di dalam keluarga. Sedangkan dalam

lingkup yang lebih luas, kedua budaya ini dilakukan dalam kaitan individu sebagai

seorang anggota masyarakat.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dalam konsep Catur Purusa

Artha, salah satu tujuan hidup yang diyakini oleh masyarakat Bali adalah

memperoleh harta atau materi (Artha). Tidak dapat dipungkiri, harta atau materi

adalah hal yang penting. Tanpa harta atau materi seorang individu tidak dapat

menyelenggarakan kewajiban-kewajban agama (Dharma), kehidupan rumah

tangga (Kama), pendidikan anak, dan kebutuhan lainnya. Dalam beberapa

dasawarsa terakhir, pariwisata telah menjadi leading sector atau sektor penggerak

yang telah terbukti mampu mendongkrak perekonomian (Pitana, 1999 dalam

(18)

bagi para pekerja pada industri parisiwata. Para pekerja mungkin sulit untuk

memenuhi tuntutan pekerjaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan

harmonisasi Tri Hita Karana yaitu hubungan antara manusia dengan Tuhan

(Parahyangan), kewajiban sosial dan bermasyarakat (Pawongan), dan kewajiban

kepada lingkungan (Palemahan) secara bersamaan.

Dharma mempunyai kedudukan yang paling penting dalam Catur Purusa

Artha. Dharma diartikan sebagai kebenaran dan kebajikan, yang menuntun umat

manusia untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan. Pada hakekatnya, Dharma

dilakukan terlebih dahulu dan menjadi landasan dalam melakukan segala sesuatu.

Karenanya, konsep Dharma sendiri melebur dalam konsep Catur Purusa Artha dan

Tri Hita Karana, serta konsep-konsep budaya Bali atau agama Hindu lainnya.

Melaksanakan Dharma akan menuntun manusia untuk mencapai kebahagiaan dan

kelepasan, lepas dari ikatan duniawi ini dan mencapai Moksa yang merupakan

tujuan tertinggi. Dharma telah melekat dan melebur dalam setiap kegiatan budaya

Bali. Sedangkan Moksa, bagi sebagian besar masyarakat Bali, dari pengamatan

penulis tidak menjadi tujuan hidup yang benar-benar harus dicapai.

Pekerjaan dan keluarga adalah dua dari banyak hal terpenting dalam

kehidupan seorang individu dewasa (Frone et al., 1992). Dalam konsep Catur

Purusa Artha, hubungan suami istri dapat dikategorikan sebagai Kama (aktivitas

seksual) yang berfungsi sebagai prokreasi (regenerasi dan penerusan keturunan).

Kedua aktivitas seksual berfungsi rekreasi (re=kembali, kreasi=menciptakan) dan

peneguhan (kembali) hubungan cinta kasih antara suami dan istri (Paduarsana,

(19)

disebut keluarga. Seorang individu dewasa harus dapat memerankan dua peran,

yaitu menjadi karyawan dan bertanggung-jawab atas keluarga (Ozbag dan Ceyhun,

2013). Dua peran ini kemudian memunculkan konflik (Ozbag dan Ceyhun, 2013)

yang menyebabkan terjadinya perceraian, dan keterlibatan wanita dalam pekerjaan

penuh-waktu (Ruppaner, 2012). Salah satu faktor keterlibatan wanita dalam

pekerjaan penuh-waktu adalah untuk memperoleh Artha guna memenuhi

kebutuhan keluarga. Keterlibatan wanita dalam pekerjaan penuh-waktu semakin

meningkatkan jumlah pekerja yang berusaha menyeimbangkan tuntutan kehidupan

keluarga dan tuntutan di tempat kerja (Lynn, 1990). Karyawan yang telah menikah

cenderung merasakan jenis dan tingkat tekanan yang berbeda dibandingkan

karyawan yang masih lajang (Kessler, 1979; Thoiys, 1987 dalam O’Neill dan

Davis, 2010).

Pengaplikasian konsep Tri Hita Karana dalam kehidupan masyarakat Bali

tertuang pada sebuah ketentuan yang dikenal dengan istilah awig-awig. I Wayan

Surpha memberikan pengertian awig-awig sebagai suatu ketentuan yang mengatur

tata-krama pergaulan hidup dalam masyarakat untuk mewujudkan tata kehidupan

yang ajeg di masyarakat (dalam Bligung, 2012). Definisi lain dari awig-awig

menurut Perda Propinsi Bali No. 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman adalah:

“Aturan yang dibuat oleh krama Desa Pakraman atau kramapakraman yang dipakai sebagai pedoman dalam pelaksanaan Tri Hita Karana sesuai dengan Desa Mewacara Dharma Agama di Desa Pakraman/Banjar Pakraman masing-masing.”

Awig-awig merupakan keseluruhan hukum yang mengatur tata cara

(20)

pelaksanaanya. Masyarakat yang tidak patuh dapat dikenakan sanksi-sanksi adat

baik berupa sanksi denda, sanksi fisik, hingga sanksi psikologi dan sanksi yang

bersifat spiritual yang sangat dihindari.

Kondisi yang diamati, masyarakat Bali cenderung untuk mempertahankan

budaya tradisional selama hidupnya. Aktivitas guna memenuhi dan

mempertahankan budaya tradisional, tidak jarang masyarakat mengorbankan waktu

dan sumber daya yang sangat panjang dan besar, bahkan membaginya dengan

pekerjaan mereka. Cara pandang profesional (standar profesional) dalam

menjalankan pekerjaan ini mereka terkadang harus berbenturan dengan cara

pandang di luar pekerjaan (budaya tradisonal) yang mempengaruhi kehidupan

mereka. Bagi karyawan dengan jam kerja yang fleksibel dan beban pekerjaan yang

ringan, waktu tidak menjadi masalah dalam memenuhi tuntutan keluarga dan

hubungan sosial kemasyarakatan. Namun, bagi seorang auditor internal pada

industri perhotelan dengan jam kerja yang padat dan pekerjaan yang berat, tuntutan

untuk memenuhi kedua kebutuhan tersebut semakin membuat waktu yang dimiliki

menjadi lebih sedikit. Hal ini membuat potensi terjadinya benturan antara kedua

cara pandang (standar profesional dan budaya tradisional) menjadi lebih besar.

Benturan kedua cara pandang ini kemudian dapat mempengaruhi bagaimana

seorang individu melaksanakan pekerjaannya dan menyebabkan adanya tekanan

bagi internal auditor.

Para manajer sumber daya manusia di beberapa organisasi menyatakan

bahwa tekanan pekerjaan merupakan halangan terbesar pekerja untuk mencapai

(21)

ini dapat menjadi penyebab ketidakpuasan kerja pada auditor internal (Gavin et al.

dalam Larson, 2004). Ketidakpuasan kerja dapat berupa peningkatan absensi

kehadiran, hilangnya gairah atau semangat kerja, dan perubahan psikologis lainnya.

Hal ini akan memberikan dampak negatif pada efesiensi, efektivitas, dan semangat

atau daya juang karyawan pada unit audit internal. Karenanya, penting bagi manajer

dan direktur audit internal untuk lebih mengerti tekanan pekerjaan dan dampak

negatif yang dapat ditimbulkan olehnya yang dimiliki oleh karyawan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, rumusan masalah

penelitian ini adalah adanya dualisme cara pandang yang dialami oleh auditor

internal. Karakteristik dan tuntutan pekerjaan sebagai seorang auditor internal,

dengan dengan beban kerja yang berat, batas waktu pekerjaan yang padat dengan

waktu yang terbatas, perjalanan bisnis dan perpindahan lokasi kerja dari satu tempat

ke tempat lain, pekerjaan melibatkan auditan yang berbeda-beda dan dengan

kondisi yang stressful membentuk sebuah cara pandang bagi auditor internal dalam

menjalankan pekerjaannya. Namun disisi lain, sebagai bagian dari masyarakat Bali,

para auditor internal memiliki cara pandang lain yang dipengaruhi oleh budaya

tradisional, yaitu sebagai sebuah bagian dari keluarga dan masyarakat dengan

tuntutan yang berbeda. Dualisme cara pandang ini kemudian berpotensi

memberikan tekanan bagi auditor internal dalam menjalankan pekerjaannya dan

mempengaruhi kepuasan kerja yang dirasakan. Untuk itu, perlu diadakan sebuah

penelitian mengenai pengaruh budaya tradisional terhadap tekanan pekerjaan dan

(22)

1.3 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan permasalahan diatas, penulis

merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh tekanan pekerjaan terhadap kepuasan kerja auditor

internal pada industri perhotelan di Provinsi Bali?

2. Bagaimanakah pengaruh pengendalian diri terhadap kepuasan kerja

auditor internal pada industri perhotelan di Provinsi Bali?

3. Bagaimanakah pengaruh pengendalian eksternal terhadap kepuasan kerja

auditor internal pada industri perhotelan di Provinsi Bali?

4. Apakah pengendalian diri memoderasi hubungan tekanan pekerjaan

dengan kepuasan kerja auditor internal pada industri perhotelan di Provinsi

Bali?

5. Apakah pengendalian eksternal memoderasi hubungan tekanan pekerjaan

dengan kepuasan kerja auditor internal pada industri perhotelan di Provinsi

Bali?

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan riset di atas, penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mendapatkan bukti empiris pengaruh tekanan pekerjaan terhadap

kepuasan kerja auditor internal pada industri perhotelan di Provinsi Bali.

2. Mendapatkan bukti empiris pengaruh pengendalian diri terhadap kepuasan

(23)

3. Mendapatkan bukti empiris pengaruh pengendalian eksternal terhadap

kepuasan kerja auditor internal pada industri perhotelan di Provinsi Bali.

4. Mendapatkan bukti empiris apakah pengendalian diri memoderasi

hubungan tekanan pekerjaan dengan kepuasan kerja auditor internal pada

industri perhotelan di Provinsi Bali.

5. Mendapatkan bukti empiris apakah pengendalian eksternal memoderasi

hubungan tekanan pekerjaan dengan kepuasan kerja auditor internal pada

industri perhotelan di Provinsi Bali.

1.5 Kontribusi Penelitian

1.5.1 Kontribusi Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan empiris mengenai

pengaruh budaya tradisional terhadap tekanan pekerjaan dan kepuasan kerja auditor

internal pada industri perhotelan di Provinsi Bali.

1.5.2 Kontribusi Praktis

1. Bagi Manajer dan Direktur Audit Internal

Penelitian ini diharapkan dapat membantu manajer dan direktur audit

internal untuk lebih mengerti tekanan pekerjaandan dampak negatif yang

dapat ditimbulkan olehnya yang dimiliki oleh karyawan. Selain itu dapat

menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan kebijakan untuk

(24)

2. Bagi Masyarakat

Penelitian ini dapat memberikan gambaran kecil mengenai efek budaya

tradisionalterhadap para pekerja dan memberikan kesadaran tentangnya

yang dapat memperkuat budaya tradisional Bali.

1.6 Sistematika Penulisan

Penelitian ini terdiri dari 5 (lima) bagian dengan rincian sebagai berikut:

BAB I Bab pendahuluan yang menjabarkan latar belakang masalah,

rumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian,

manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II Tinjauan teoritis dan pengembangan hipotesis menjelaskan

alur dan logika penelitian, teori, hipotesis dan tinjauan

pustaka yang melandasi penelitian ini.

BAB III Bab metodologi penelitian, menjelaskan hal yang berkaitan

dengan populasi, sampel, metode pengumpulan data,

instrumen, dan analisis data.

BAB IV Bab pembahasan yang menjabarkan tingkat pengembalian

kuesioner, deskripsi statistik demografi responden,

pengujian instrumen penelitian, uji asumsi klasik, hasil

analisis regresi dan pengujian hipotesis, serta pembahasan

(25)

BAB V Bab penutup akan menjadi bagian terakhir yang membahas

kesimpulan dari penelitian, keterbatasan yang ada, dan

implikasi dan saran untuk berbagai pihak yang akan

(26)

11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Auditor Internal

Audit internal adalah aktivitas independen, objektif dan konsultasi yang

dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi. Ini

membantu organisasi mencapai tujuannya dengan memberikan pendekatan yang

disiplin dan sistematis, untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas

manajemen risiko, pengendalian internal, dan proses tata kelola (Institute of

Internal Auditor dalam Boyton, 2001). Pihak yang melakukan audit internal disebut

dengan auditor internal. Ruang lingkup audit internal harus mencakup kecukupan

dan efektivitas sistem kinerja organisasi dalam melaksanakan tanggung jawab yang

ditugaskan, yaitu: 1) keandalan dan menyokong informasi; 2) sesuai dengan

kebijakan, rencana, prosedur, hukum, peraturan dan kontak; 3) pengamanan aktiva;

4) penggunaan sumber daya yang ekonomis dan efisien; dan 5) tercapainya target

yang ditetapkan dan tujuan program operasi. Tujuan dari audit internal menurut

Suksrisno Agoes (2004) adalah membantu manajemen dalam melaksanakan

tanggung-jawabnya dengan menganalisa, menilai dan memberikan saran serta

komentar tentang aktivitas yang diperiksa.

2.2Kepuasan Kerja

2.2.1 Definisi Kepuasan Kerja

Menurut Robbins (1996) kepuasan kerja adalah suatu sikap terhadap

(27)

pekerja dan jumlah yang diyakini harus diterima. Definisi lain dari kepuasan kerja

juga dijelaskan oleh Kreitner dan Kinichi (2001) sebagai tanggapan emosi terhadap

berbagai segi suatu pekerjaan. Individu dapat relatif dipuaskan dengan satu aspek

pekerjaannya dan merasa tidak puas dengan satu atau beberapa aspek lainnya.

2.2.2 Teori Kepuasan Kerja

Menurut Lawler (1991) terdapat empat pendekatan teoritis mengenai kepuasan

kerja, yaitu:

a. Fulfillment theory

Teori ini menyatakan bahwa kepuasan kerja merupakan refleksi dari

pekerjaan yang memberikan nilai positif. Jika kita melihat seseorang puas

dengan suatu objek, maka dapat dikatakan bahwa objek tersebut

memberikan nilai positif bagi orang tersebut.

b. Discrepancy theory

Teori ini menyatakan bahwa kepuasan kerja diukur dengan menghitung

selisih apa yang yang seharusnya dengan kenyataan yang dilakukan.

Seorang individu akan merasa puas jika tidak terdapat perbedaan antara apa

yang seharusnya didapat dengan pekerjaan yang telah dilakukan atau

dengan kata lain batas minimum yang diinginkan telah terpenuhi. Namun

jika terjadi selisih yang besar dimana seorang individu mendapatkan sesuatu

yang lebih besar dari yang diinginkan, maka dapat dikatakan menjadi lebih

puas, walaupun ini merupakan selisih. Seorang individu merasa puas karena

(28)

dengan kata lain terjadi selisih yang negatif, maka semakin besar juga

ketidakpuasan kerja yang dirasakan seorang individu.

c. Equity theory

Menurut teori ini, seorang individu akan merasa puas atau tidak puas

bergantung pada keadilan atau suatu situasi. Keadilan ditentukan dengan

membandingkan diri sendiri dengan orang lain dengan tingkat yang sama

pada perusahaan yang sama maupun perusahaan lain. Elemen dari equity

adalah input (sumbangan terhadap pekerjaan, misalnya pendidikan,

pengalaman, keahlian, dan sebagainya), outcome (hasil pekerjaan, misalnya

gaji, simbol status, pengakuan, kesempatan, dan sebagainya), dan

comparison person (seseorang di organisasi yang sama maupun berbeda

atau bisa pula dengan dirinya sendiri di masa lalu). Teori ini menyatakan

setiap karyawan akan membandingkan rasio input-outcome orang lain. Jika

perbandingan ini cukup adil, seorang individu akan merasakan kepuasan,

dan begitu juga sebaliknya.

d. Two factor theory

Teori ini menyatakan bahwa kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja adalah

dua hal yang berbeda. Menurut teori ini, terdapat dua keompok yang

mempengaruhi seorang individu terhadap pekerjaan, yaitu satisfiers

(sumber kepuasan kerja, misalnya prestasi, pengakuan, pekerjaan itu

sendiri, dan tanggung jawab) dan dissatisfier (sumber ketidakpuasan,

misalnya kebijaksanaan dan administrasi organisasi, gaji, hubungan antar

(29)

sumber ketidakpuasan akan mengurangi atau menghilangkan

ketidakpuasan, namun tidak menimbulkan kepuasan.

2.2.3 Aspek-aspek Kepuasan Kerja

Smith et al. (1969) menyatakan bahwa terdapat lima dimensi kepuasan

kerja, yaitu:

a. Pekerjaan. Seorang individu cenderung lebih menyukai

pekerjaan-pekerjaan yang memberi mereka kesempatan untuk menggunakan

keterampilan dan kemampuan dan menawarkan beragam tugas, kebebasan,

serta umpan balik mengenai betapa baik mereka mengerjakan tugas.

b. Upah. Seorang individu menilai sejauh mana manajemen dapat menghargai

kontribusi (pekerjaan) dalam organisasi dengan melihat tingkat upah yang

diterima dan kemampuan upah tersebut untuk dapat memenuhi kebutuhan

hidup.

c. Promosi. Berkaitan dengan adanya kesempatan untuk berkembang,

tanggung jawab yang lebih banyak, dan status sosial yang meningkat.

d. Pimpinan. Karakteristik pribadi seorang pemimpin sangat mempengaruhi

tingkat kepuasan kerja karyawan.

e. Rekan kerja. Dukungan rekan kerja akan dapat meningkatkan kepuasan

kerja karena seorang karyawan merasa diterima dan mendapatkan bantuan

dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Sedangkan menurut Luthans (1996) kepuasan kerja dapat dipahami melalui

(30)

kondisi pekerjaan. Kedua, kepuasan kerja sering ditentukan oleh hasil pekerjaan

atau kinerja. Ketiga, kepuasan kerja berkaitan dengan sikap lainnya yang dimiliki

oleh setiap karyawan. Satu faktor lainnya adalah kondisi kerja. Karyawan

cenderung akan bekerja lebih baik dalam kondisi kerja yang baik, bersih, dan

menarik. Sebaliknya, kondisi kerja yang kurang baik, berisik dan kotor akan

membuat karyawan merasakan adanya hambatan dalam menyelesaikan pekerjaan

(Luthans dalam Finanto, 2010).

2.3Tekanan Pekerjaan

2.3.1 Definisi Tekanan Pekerjaan

Tekanan dapat diartikan sebagai respon tidak tentu dari tubuh terhadap

sebuah tuntutan (Selye dalam Larson, 1997). Penelitian mengenai pengaruh

tekanan pekerjaan terhadap kesehatan mental dan psikis karyawan pertama kali

dilakukan oleh Institute for Social Reasearch Universitas Michigan pada tahun

1957 (French dan Caplan dalam Larson, 1972). Tekanan pekerjaan didefinisikan

sebagai ekspresi emosional yang berhubungan dengan ketegangan, kepanikan, dan

tensi yang berasal dari pekerjaan atau profesi (Cooke dan Rousseau dalam Radzali

et al., 2013). Cooper (dalam Stewart, 1990) menyebutkan lima tanda dan gejala

tekanan secara umum maupun tekanan pekerjaan. Gejala tekanan tersebut adalah:

1) kesulitan dalam berpikir rasional dan melihat masalah secara komprehensif; 2)

berpikir sempit; 3) agresi dan menyakiti orang lain; 4) menjauh dari hubungan

(31)

2.3.2 Aspek-aspek Tekanan Pekerjaan

Penyebab tekanan dapat didefinisikan sebagai tuntutan yang diciptakan oleh

lingkungan eksternal dan internal yang menyebabkan ketidakseimbangan pada

seseorang dan karenanya dibutuhkan restorasi (Matteson dan Ivancevich dalam

Larson, 1997). Beehrs dan Bhagat (1985) menyebutkan tiga faktor yang

menentukan apakah sebuah situasi menyebabkan tuntutan yang cukup pada

seseorang yang menghasilkan tekanan. Ketiga faktor tersebut adalah tingkat

kepentingan, ketidakpastian, dan durasi. Semakin penting sebuah kejadian bagi

seseorang, semakin tinggi potensi tekanan. Ketidakpastian merujuk pada

kurangnya kejelasan mengenai hasil akhir. Semakin tidak pasti sebuah situasi,

semakin besar tekanan pada situasi tersebut bagi seseorang. Terakhir, semakin lama

tuntutan khusus pada seseorang, semakin situasi tersebut memberikan tekanan.

Penyebab tekanan pekerjaan dapat dipisahkan menjadi dua jenis, yaitu

episodic dan chronic (Baliley dan Bhagat, 1987). Episodic adalah kejadian atau

situasi yang bersifat temporer dan berjangka pendek. Chronic bersifat lebih

permanen dan memiliki jangka waktu yang panjang. Beberapa situasi chronic

terjadi secara berulang. Tekanan pekerjaan dapat terjadi ketika seseorang

terpengaruh oleh penyebab tekanan yang negatif dalam pekerjaan atau ketika

lingkungan kerja gagal untuk memenuhi kebutuhan seorang individu (Schuler

dalam Larson, 1997).

Dalam penelitiannya, Ivancevic dan Matteson (1983) mengembangkan

(32)

yang terdiri dari tujuh yang berasal dari organisasi (organizational stressors) dan

delapan yang berasal dari individu itu sendiri (individual stressors). Organizational

stressors adalah faktor yang berhubungan erat dengan lingkungan pekerjaan dan

kondisi pekerjaan yang harus dihadapi pekerja. Sedangkan yang dimaksud dengan

individual stressors adalah faktor yang erat hubungannya dengan individu itu

sendiri dan bagaimana pekerja berhubungan dengan tugas dalam pekerjaannya.

1. Role conflict. Konflik ini timbul ketika seorang individu dihadapkan pada

tuntutan pekerjaan yang berbeda. Kepatuhan atas sekumpulan tekanan

membuat kepatuhan atas kumpulan lainnya sulit atau tidak mungkin.

Besarnya konflik peran akan bergantung pada besarnya tekanan peran.

Tuntutan peran tertentu mungkin mustahil untuk dipenuhi tanpa

mengabaikan tuntutan atas peran lain (Kahn et al. dalam Larson, 1997).

2. Role ambiguity. Menurut Everly dan Gidarno (1980) ketidakjelasan

pekerjaan terjadi ketika pekerjaan memiliki tujuan tugas atau prosedur yang

tidak jelas, harapan yang membingungkan, atau seorang individu tidak

menerima umpan balik yang cukup. Ketidakjelasan peran juga terjadi ketika

karyawan tidak memiliki informasi yang memadai untuk melaksanakan

perannya (French dan Caplan, 1972).

3. Qualitative overload. Konflik ini terjadi ketika pekerjaan membutuhkan

keterampilan, kemampuan, dan pengetahuan yang lebih tinggi dari yang

dimiliki seseorang (French dan Kaplan, 1972). Menurut Matteson dan

Ivancevich (1987) qualitative overload terjadi ketika karyawan merasa

(33)

terlepas dari waktu yang tersedia bagi mereka untuk menyelesaikan

pekerjaannya.

4. Quantitative overload. Quantitative overload terjadi ketika karyawan

merasa mereka memiliki pekerjaan yang terlalu banyak untuk dilakukan,

terlalu banyak hal berbeda yang harus dilakukan, atau ketidakcukupan

waktu untuk menyelesaikan tugas yang diberikan (Matteson dan

Ivancevich, 1987).

5. Time pressure. Tekanan waktu didefinisikan oleh Ivancevich dan Matteson

(1987) sebagai tingkat yang mana deadline yang tidak masuk akal dan

tuntutan waktu dipaksakan. Konflik ini terjadi ketika seorang individu tidak

memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas. Deadline yang

terlalu ketat akan memberikan tekanan waktu, terutama ketika kemampuan

untuk memenuhi tuntutan waktu menjadi faktor yang penting dalam

evaluasi kinerja individual (Larson, 1997).

6. Responsibility for others. Aspek ini berkaitan dengan perasaan seorang

individu tentang bertanggung jawab atas karyawan lain (Ivancevich dan

Matteson, 1987). Semakin besar tanggung jawab atas orang lain, secara

umum tekanan yang dirasakan akan semakin besar. Tanggung jawab ini

termasuk tanggung jawab atas pekerjaan orang lain, karir dan

pengembangan professional, dan keamanan kerja (Caplan, Cobb, French,

Harrison dan Pinneau dalam Larson, 1997).

7. Carrer progress. Aspek ini merujuk pada bagaimana individu menilai

(34)

dengan tidak terdapat cukup kesempatan untuk kenaikan pangkat

(Ivancevich dan Matteson, 1987). Potensi tekanan termasuk kurangnya

keamanan kerja, halangan yang nyata maupun tidak, dan ketidakpantasan

status atau jabatan (Cooper dan Marshall dalam Larson, 1997).

8. Job scope. Tekanan yang berasal dari lingkup pekerjaan disebabkan oleh

jangkauan dan kedalaman pekerjaan. Tekanan ini terjadi ketika individu

menilai pekerjaan yang dilakukan tidak penting atau tidak beragam.

9. Politic. Tekanan tercipta ketika keputusan organisasi lebih dipengaruhi oleh

politik dibandingkan kinerja (Ivancevich dan Matteson, 1987). Masalah

yang umum terjadi adalah persaingan antar rekan (Cooper dan Marshall,

1978). Politik yang tinggi dalam organisasi menimbulkan inefisiensi,

dibandingkan atmosfir kerja sama yang kondusif bagi efektivitas organisasi.

10.Human resource development. Beberapa organisasi tidak ingin melakukan

investasi dalam pelatihan dan pengembangan lebih lanjut bagi karyawan.

Hal ini dapat memberikan tekanan bagi karyawan yang ingin tumbuh dan

berkembang bagi peningkatan karir mereka.

11.Reward. Tekanan tercipta ketika hadiah tidak didasarkan pada kinerja

(Ivancevich dan Matteson, 1987). Karyawan berharap bahwa hadiah yang

diberikan berupa gaji dan keuntungan.

12.Participation. Tekanan kemungkinan tercipta jika manajemen tidak

menerima ide dan saran dari karyawan (Ivancevich dan Matteson, 1987).

(35)

yang diberikan seseorang pada keputusan yang mempengaruhi dirinya

(dalam Larson, 1997).

13.Underutilization. Aspek ini menyebabkan tekanan ketika tugas yang

diberikan secara personal tidak menantang (Ivancevich dan Matteson,

1987). Misalnya, ketika seseorang dengan kualifikasi yang lebih tinggi

dipekerjakan untuk mengisi posisi kerja dengan kebutuhan keterampilan

yang lebih rendah.

14.Supervisory style. Tekanan yang dirasakan karyawan mungkin berasal dari

rendahnya tingkat supervisi (Ivancevich dan Matteson, 1987). Supervisi

yang rendah misalnya rendahnya dukungan manajerial dan kurangnya

umpan balik. Karyawan menginginkan atasan mereka untuk peduli terhadap

kesejahteraan personal mereka, dapat ditemui, dan memperlakukan mereka

dengan hormat (Cooper dan Marshall dalam Larson, 1997).

15.Organization structure. Tekanan ini biasanya terjadi pada organisasi

dengan skala besar, tingkat hirarki dan birokrasi yang panjang dimana

karyawan tidak memiliki kendali atas pekerjaannya. Hal ini dapat

menyebabkan tekanan bagi karyawan. (Ivancevich dan Matteson, 1977).

2.4Budaya

Budaya berasal dari kata kata sansekerta buddayah, yang merupakan bentuk

jamak dari buddhi, yang berarti budi atau akal. Goodenough (dalam Kalangie,

1994) mengemukakan, bahwa kebudayaan adalah suatu sistem kognitif, yaitu suatu

sistem yang terdiri dari pengetahuan, kepercayaan, dan nilai yang berada dalam

(36)

suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni,

kesusilaan, hukum, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang

dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat (E. B. Tylor, 1974).

Soemardjan dan Soemardi (dalam Soekanto, 2007) merumuskan,

kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya

masyarakat menghasilkan apapun yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai

alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan

masyarakat. Selanjutnya Koentjaraningrat (2005) mengatakan, bahwa menurut

ilmu antropologi kebudayaan adalah segala pikiran dan perilaku manusia yang

secara fungsional dan disfungsional ditata dalam masyarakatnya. Koentjaraningrat

(2005) mengatakan kebudayaan terbagi atas tujuh unsur, yaitu sistem religi, sistem

organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian hidup,

sistem teknologi dan peralatan, bahasa, dan kesenian.

1. Sistem Religi

Sistem religi meliputi kepercayaan, nilai, pandangan hidup, komunikasi

keagamaan dan upacara keagamaan. Definisi kepercayaan mengacu kepada

pendapat Fishbein dan Azjen (dalam Soekanto, 2007), yang menyebutkan

pengertian kepercayaan atau keyakinan dengan kata “belief”, yang memiliki pengertian sebagai inti dari setiap perilaku manusia. Aspek kepercayaan

tersebut merupakan acuan bagi seseorang untuk menentukan persepsi

terhadap sesuatu objek. Kepercayaan membentuk pengalaman, baik

(37)

2. Sistem Organisasi dan Kemasyarakatan

Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial meliputi kekerabatan,

organisasi politik, norma atau hukum, perkawinan, kenegaraan, kesatuan

hidup dan perkumpulan. Sistem organisasi adalah bagian kebudayaan yang

berisikan semua yang telah dipelajari yang memungkinkan bagi manusia

mengkoordinasikan perilakunya secara efektif dengan tindakan-tindakan

orang lain (Syani, 1995). Kekerabatan merupakan bagian yang sangat

penting dalam struktur sosial. Kekerabatan suatu masyarakat dapat

dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang

bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa

keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan.

3. Sistem Pengetahuan

Spradlye (dalam Kalangie, 1994) menyebutkan, bahwa pengetahuan budaya

itu bukanlah sesuatu yang bisa kelihatan secara nyata, melainkan

tersembunyi dari pandangan, namun memainkan peranan yang sangat

penting bagi manusia dalam menentukan perilakunya. Pengetahuan budaya

yang diformulasikan dengan beragam ungkapan tradisional itu sekaligus

juga merupakan gambaran dari nilai-nilai budaya yang mereka hayati. Nilai

budaya sebagaimana dikemukan oleh Koentjaraningrat (2005) adalah

konsep-konsep yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga

suatu masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat

bernilai dalam hidup. Dan suatu sistem nilai budaya, yang sifatnya abstrak,

(38)

4. Sistem Mata Pencaharian Hidup

Sistem mata pencaharian hidup merupakan produk dari manusia sebagai

homo economicus yang menjadikan kehidupan manusia terus meningkat.

Dalam tingkat sebagai food gathering, kehidupan manusia sama dengan

hewan. Tetapi dalam tingkat food producing terjadi kemajuan yang pesat.

Setelah bercocok tanam, kemudian beternak yang terus meningkat (rising

demand) yang kadang-kadang serakah. Sistem mata pencaharian hidup atau

sistem ekonomi meliputi jenis pekerjaan dan penghasilan

(Koentrajaningrat, 2005).

5. Sistem Teknologi dan Peralatan

Teknologi dan peralatan berkaitan dengan karya masyarakat, menghasilkan

apapun yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya

agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat.

6. Bahasa

Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk

saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun

gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau

kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia

dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata-krama

masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala

(39)

7. Kesenian

Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari

ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata

ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi,

manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana

hingga perwujudan kesenian yang kompleks. Kesenian yang meliputi: seni

patung/pahat, seni rupa, seni gerak, lukis, gambar, rias, vocal, musik/seni

suara, bangunan, kesusastraan, dan drama (Koentrajaningrat, 2005).

2.5Pengendalian Diri

Pengendalian diri berkaitan dengan kesadaran yang berasal dari dalam diri

yang mempengaruhi cara pandang seorang individu dalam melakukan suatu hal.

Seorang auditor internal dipengaruhi oleh kesadaran dirinya dalam melaksanakan

dan menyelesaikan pekerjaannya. Kesadaran ini berupa kesadaran sebagai krama

atau bagian dari masyarakat Bali, kesadaran profesional, dan kesadaran untuk

menyelesaikan tugas.

Kesadaran profesional dapat dikatakan sebagai hal yang paling

mempengaruhi seorang auditor internal. Auditor internal merupakan seorang

tenaga profesional. Tenaga profesional diatur dalam standar profesi atau standar

profesional yang mengaturnya, begitu juga dengan profesi auditor internal yang

diatur salah satunya oleh International Standards for the Professional Practice of

(40)

aktivitas audit internal. Auditor internal wajib untuk patuh pada standar, yang

relevan dengan kinerja dalam menyelesaikan tanggung jawab pekerjaannya.

Seorang pekerja berkewajiban untuk memenuhi keinginan dan harapan dari

organisasi yang mempekerjakannya. Harapan ini dicapai melalui tugas dan

pekerjaan yang diberikan kepada masing-masing pekerja. Kesadaran untuk

menyelesaikan tugas berasal dari kesadaran seorang individu bahwa dirinya

merupakan bagian dari organisasi. Kesadaran juga berasal dari hubungan timbal

balik yang diharapkan oleh pekerja. Menyelesaikan tugas dan pekerjaan artinya

auditor internal telah membantu organisasi mencapai tujuannya. Meskipun,

kesadaran untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaan cenderung dipengaruhi oleh

gaji, bonus, dan keuntungan lainnya yang diperoleh atas penyelesaian tugas dan

pekerjaannya.

Sebagai mahluk sosial, manusia tak dapat hidup menyendiri tanpa

bersama-sama dengan manusia lainnya. Hubungan antara manusia dengan sebersama-samanya

(Pawongan) didasarkan pada dilakukan melalui konsep yang dikenal sebagai

menyama-braya. Menurut Puja Media (dalam Damayana, 2002), menyama-braya

bagi masyarakat Bali dimengerti sebagai bingkai pelindung kerukunan hidup

masyarakat dari ancaman kehidupan yang individualistis, materialistis, dan

disintegrasi masyarakat dan bangsa atau sebagai energi perekat kebersamaan atau

intregasi. Kesadaran sebagai krama atau bagian dari masyarakat Bali diperoleh dari

adanya manfaat yang diterima. Krama yang rajin melakukan kegiatan

bermasyarakat akan memperoleh manfaat salah satunya bantuan dari krama lain

(41)

yang diamati, masyarakat Bali melakukan banyak upakara (upacara) keagamaan,

mulai dari yang dilakukan setiap bulan, enam bulan, setiap tahun, ataupun upacara

khusus seperti kematian. Jika seorang krama tidak pernah berpartisipasi dalam

kegiatan kemasyarakatan, akan sangat berat untuk menjalankan upakara (upacara)

keagamaan tanpa bantuan krama lain. Hal ini kemudian memunculkan kesadaran

seorang individu sebagai krama atau bagian dari masyarakat Bali. Kesadaran

sebagai krama juga dapat dipengaruhi karena adanya awig-awig yang merupakan

keseluruhan hukum yang mengatur tata cara kehidupan bagi warga Desa Adat, baik

hak dan kewajiban beserta sanksi dan aturan pelaksanaanya. Masyarakat yang tidak

patuh dapat dikenakan sanksi-sanksi adat baik berupa sanksi denda, sanksi fisik,

hingga sanksi psikologi dan sanksi yang bersifat sprirtual, yang sangat dihindari.

2.6Pengendalian Eksternal

Pengendalian eksternal berkaitan dengan kesadaran yang berasal dari luar

diri yang mempengaruhi cara pandang seorang individu dalam melakukan suatu

hal. Seorang auditor internal mendapatkan pengaruh dari faktor-faktor lain di luar

dirinya yang membentuk cara pandang lain dan mempengaruhi bagaimana dirinya

melakukan pekerjaan. Faktor-faktor yang berasal dari luar ini berupa keluarga dan

hubungan sosial kemasyarakatan. Keluarga dan hubungan sosial kemasyarakatan

ini berbenturan dengan kesadaran internal dan menimbulkan konflik

(42)

2.6.1 Konflik Pekerjaan-Keluarga

2.6.1.1Definisi Konflik Pekerjaan-Keluarga

Dalam penelitiannnya, Greenhaus dan Beutell (1985) mendefinisikan

konflik pekerjaan-keluarga sebagai suatu bentuk konflik antar peran yang mana

tekanan-tekanan peran dari domain pekerjaan dan keluarga dalam beberapa hal

tidak selaras. Frone dan Cooper (1994) menjelaskan konflik pekerjaan-keluarga

sebagai benturan yang terjadi antara tanggung jawab pekerjaan di tempat kerja atau

kehidupan pekerjaan dengan tanggung jawab pekerjaan di rumah atau kehidupan

rumah tangga. Konflik pekerjaan-keluargadapat terjadi bila individu dituntut untuk

melakukan berbagai peran, yaitu peran sebagai pekerja, rekan kerja, pasangan

hidup, dan orang tua (Hammer, 1998). Kesulitan dalam memenuhi peran pekerjaan

dan keluarga (atau berbagai peran) inilah yang menyebabkan terjadinya konflik

pekerjaan-keluarga (Grenhaus dan Connolly, 1983; Kompelmen, Greenhaus dan

Beutell, 1985; Voydanoff, 1987; Beiden et al., 1988, dalam Aryee et al., 1999).

2.6.1.2Teori-teori Konflik Pekerjaan-Keluarga

Greenhaus dan Beutell (1986) dalam Netemeyer, Boles, dan McMurrian

(1996) menyebutkan 3 (tiga) sumber utama konflik pekerjaan-keluarga, yaitu:

a. Konflik berdasarkan waktu (time-based conflict)

Menurut teori ini, konflik pekerjaan-keluargaterjadi ketika jumlah waktu

yang dicurahkan untuk peran dalam pekerjaan (keluarga) mengganggu

seseorang untuk memenuhi tanggung jawab yang berhubungan dengan

(43)

berlebihan dapat membuat seseorang mengalami kesulitan untuk

memenuhi tanggung jawab dalam keluarga (pekerjaan).

b. Konflik berdasarkan ketegangan (strain-based conflict)

Konflik pekerjaan-keluarga dalam bentuk ini terjadi ketika ketegangan

yang timbul dari pemenuhan peran dalam pekerjaan (keluarga)

mengganggu seseorang untuk dapat memenuhi tanggung jawab yang

berhubungan dengan keluarga (pekerjaan). Misalnya, sifat lekas marah dan

kegelisahan yang dirasakan dalam pekerjaan mengganggu pemenuhan

tanggung jawab keluarga, dan sebaliknya.

c. Konflik berdasarkan tuntuntan peran tertentu (general demands of a role)

Tuntutan peran tertentu merujuk pada tanggung jawab, kebutuhan,

harapan, tugas atau tanggung jawab, dan komitmen atas peran yang

diberikan. Konflik pekerjaan-keluarga dalam bentuk ini terjadi ketika

adanya perbedaan perilaku dengan harapan atas perilaku pada peran lain.

Misalnya, seseorang memiliki perilaku untuk mengatur, ambisius, dan

objektif. Namun, anggota keluarganya menginginkan seseorang yang

hangat, memiliki sifat membimbing, dan berinteraksi secara emosional

dengan mereka. Jika seseorang tidak dapat mengatur perilakunya untuk

memenuhi keinginan peran yang berbeda, maka akan terjadi konflik di

(44)

2.6.1.3Aspek-aspek Konflik Pekerjaan-Keluarga

a. Konflik Pekerjaan-Keluarga (Work-Family Conflict/WFC)

Konflik pekerjaan-keluarga adalah sebuah bentuk dari konflik antar peran

dimana kebutuhan, waktu yang dicurahkan, dan ketegangan yang

ditimbulkan oleh pekerjaan mengganggu pemenuhan tanggung jawab

keluarga (Netemeyer, Boles, dan McMurrian, 1996).

b. Konflik Keluarga-Pekerjaan (Family-Work Conflict/FWC)

Konflik keluarga-pekerjaan adalah sebuah bentuk dari konflik antar peran

dimana kebutuhan, waktu yang dicurahkan, dan ketegangan yang

ditimbulkan oleh pemenuhan tanggung jawab keluarga mengganggu

pekerjaan (Netemeyer, Boles, dan McMurrian, 1996).

2.6.2 Konflik Pekerjaan-Hubungan Sosial Kemasyarakatan

Penulis tidak dapat menemukan referensi berkaitan dengan konflik

pekerjaan-hubungan sosial kemasyarakatan sehingga tidak dapat mendefinisikan

pengertian konflik pekerjaan-hubungan sosial kemasyarakatan menurut penelitian

sebelumnya. Merujuk pada pengertian konflik pekerjaan-keluarga oleh Greenhaus

dan Beutell (1985) dan Frone dan Cooper (1994), konflik pekerjaan-hubungan

sosial kemasyarakatan dapat diartikan sebagai suatu bentuk konflik antar peran

yang mana tekanan-tekanan peran dari domain pekerjaan dan hubungan sosial

kemasyarakatan dalam beberapa hal tidak selaras. Konflik ini dapat terjadi ketika

terdapat benturan tanggung jawab pekerjaan di tempat kerja atau kehidupan

(45)

yang telah dijelaskan sebelumnya, masyarakat Bali cenderung memiliki kesadaran

sebagai krama atau bagian dari masyarakat Bali. Kesadaran diperoleh dari adanya

manfaat yang diterima ataupun tuntutan dari adanya awig-awig yang merupakan

keseluruhan hukum yang mengatur tata cara kehidupan bagi warga Desa Adat, baik

hak dan kewajiban beserta sanksi dan aturan pelaksanaanya. Sehingga, seorang

individu merasa perlu untuk memenuhi peran sebagai bagian dari masyarakat dan

tuntutan dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Kesulitan dalam memenuhi peran

pekerjaan dan hubungan sosial kemasyarakatan inilah yang dapat menyebabkan

terjadinya konflik pekerjaan-hubungan sosial kemasyarakatan.

2.7Pengembangan Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara dari pokok permasalahan

penelitian yang diuji kebenarannya (Sugiyono, 2007:93). Penelitian ini akan

menguji hipotesis yang berkaitan dengan pengaruh budaya tradisional terhadap

tekanan dan kepuasan kerja. Terdapat lima hipotesis yang akan dirumuskan sebagai

berikut.

2.7.1 Pengaruh Tekanan Pekerjaan terhadap Kepuasan Kerja

Gallardo et al. (2010) melakukan analisis perbedaan kepuasan kerja di

antara para karyawan pada industri perhotelan di dua wilayah yang berbeda.

Penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kepuasan kerja yang dirasakan di

antara para karyawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaji merupakan aspek

yang paling berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan. Ketika gaji tidak

(46)

pekerjaannya (Ivancevich dan Matteson, 1987). Tekanan pekerjaan kemudian akan

menyebabkan karyawan merasa tidak puas dalam pekerjaannya.

Lamberts (2011) melakukan penelitian mengenai hubungan antara tingkat

tekanan dan kepuasan kerja diantara tenaga pendidik sekolah menengah atas.

Penelitian yang dilakukan mencoba untuk melihat apakah variabel biografi (seperti

jenis kelamin, usia, lama bekerja, status perkawinan, dan jumlah anak) memiliki

pengaruh terhadap kepuasan kerja dan tingkat tekanan. Instrumen Job Satisfaction

Survey (JSS) dan Stress Diagnostic Survey (SDS) digunakan untuk menilai tingkat

tekanan pekerjaan dan kepuasan kerja responden. Hasil penelitian menunjukkan

adanya hubungan yang signifikan antara tingkat tekanan pekerjaan dan kepuasan

kerja diantara para tenaga pendidik. Penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat

tingkat tekanan pekerjaan dan kepuasan kerja yang berbeda berdasarkan

karakteristik biografi di antara para tenaga pendidik.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Jehangir et al. (2011) mencoba

mengetahui pengaruh fundamental dari tekanan pekerjaan yang dialami oleh para

perawat wanita. Selain itu, penelitian juga mencoba mencari tahu bagaimana

tekanan pekerjaan tersebut mempengaruhi kinerja dan kepuasan kerja mereka. Dari

hasil penelitian ditemukan bahwa tekanan pekerjaan memiliki hubungan yang

negatif terhadap kinerja dan kepuasan kerja para perawat wanita. Beban kerja yang

berlebihan dan lingkungan kerja yang tidak sehat dan berbahaya menjadi penyebab

utama tekanan kerja yang dialami para perawat wanita dan selanjutnya menurunkan

(47)

Berdasarkan pemikiran di atas, maka hipotesis alternatif adalah sebagai

berikut:

H1 : Tekanan pekerjaan berpengaruh negatif terhadap kepuasan kerja auditor

internal

2.7.2 Pengaruh Pengendalian Diri terhadap Kepuasaan Kerja

Peneliti mencoba mengembangkan variabel dari unsur kebudayaan yang

dikemukakan oleh Koentjaraningrat. Kebudayaan menurut Koentjaraningrat

(2005) terdiri dari 7 unsur, yaitu: 1) bahasa, 2) teknologi, 3) sistem mata

pencaharian hidup atau ekonomi, 4) organisasi sosial, 5) sistem pengetahuan, 6)

religi, dan 7) kesenian. Menurut Koentjaraningrat masing-masing kelompok

masyarakat kehidupannya diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai

berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan di mana mereka hidup dan bergaul.

Dari kondisi yang diamati, masyarakat Bali sangat memegang teguh kehidupan

sosial kemasyarakatan ini. Seorang individu merasakan perasaan bangga ketika

dapat terlibat dalam kegiatan menyama-braya terlepas karena adanya paksaan

maupun atas kesadaran diri sendiri. Unsur religi dalam kebudayaan berkaitan

dengan kepercayaan yang dimiliki oleh manusia kepada adanya suatu kekuatan gaib

atau supranatural yang dianggap lebih tinggi daripada manusia dan mengapa

manusia itu melakukan berbagai cara untuk berkomunikasi dan mencari

hubungan-hubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural tersebut (Koentjaraningrat

dalam Mulyadi, 2013). Dapat menjalankan kehidupan beragama (misalnya

melaksanakan upakara, ataupun upacara keagamaan lainnya) dengan baik

(48)

individu dapat memenuhi tuntutan dalam pekerjaan yang harus dipenuhi dan

tuntutan kehidupan sosial secara baik, menurut penulis hal ini akan memberikan

kepuasan kerja pada individu tersebut.

Sebagai seorang pekerja profesional, seseorang tidak lepas dari aturan dan

kebijakan yang menaungi profesinya. Aturan dan kebijakan ini menjadi pedoman

dalam menjalankan pekerjaan secara profesional. Pengetahuan, dan pengalaman

yang dimiliki individu cenderung membuatnya merasakan kebanggaan ketika dapat

melaksanakan komitmen profesionalnya ketika bekerja. Selanjutnya akan timbul

rasa kepuasan kerja dalam diri individu tersebut.

Penyelesaian tugas menjadi hal yang penting bagi seorang pekerja.

Penyelesaian tugas menjadi indikator kinerja seseorang dan menjadi dasar dari gaji,

bonus, dan keuntungan yang telah dan mungkin akan didapatkan. Seseorang dengan

kesadaran untuk menyelesaikan tugas yang tinggi cenderung akan menyelesaikan

tugasnya dengan baik, dan memperoleh hasil yang sepadan dengan kinerjanya, serta

pada akhirnya, akan memberikan rasa kepuasan kerja.

Berdasarkan pemikiran di atas, maka hipotesis alternatif adalah sebagai

berikut:

H2 : Pengendalian diri berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja auditor internal

2.7.3 Pengaruh Pengendalian Eksternal terhadap Kepuasan Kerja

Allen et al. (2001) menemukan hubungan negatif yang signifikan antara

WFC dan kepuasan kerja. Penelitian yang dilakukan oleh Ghiselli et al. (2001) pada

(49)

kepuasan kerja dan konflik antar-peran. Selanjutnya Zhao et al. (2011) mencoba

untuk meneliti hubungan antara konflik pekerjaan-keluarga pada kepuasan kerja

dan hidup. Penelitian dilakukan pada 121 manajer penjualan di 26 hotel di Cina.

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif antara konflik

keluarga dan kepuasan kerja, dan hubungan positif antara konflik

pekerjaan-keluarga dan kepuasan hidup. Ketiga hubungan negatif ini mungkin terjadi ketika

seseorang menghadapi tuntutan dalam pekerjaannya maka akan kesulitan untuk

memenuhi tuntutan rumah tangga dan keluarga.

Salah satu unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat adalah sistem

organisasi sosial. Salah satu bentuk organisasi sosial adalah adat istiadat dan

aturan-aturan sebagai pengatur kelakuan. Adat dapat dibagi dalam empat tingkat, yaitu

antara lain (Koentjaraningrat, 1984:11-13): 1) Tingkat nilai budaya, berakar dalam

bagian emosional dari alam jiwa manusia; 2) Tingkat norma-norma, nilai-nilai

budaya yang sudah terkait kepada peranan-peranan tertentu dari manusia dalam

masyarakat; 3) Tingkat hukum, sistem hukum baik hukum adat maupun hukum

tertulis; dan 4) Tingkat aturan khusus, mengatur aktifitas-aktifitas yang amat jelas

dan terbatas ruang lingkupnya dalam kehidupan masyarakat (dalam Antariksa,

2011). Adat istiadat mempunyai kekuatan dari suatu kebiasaan sosial dan

mempengaruhi perilaku seseorang sehingga secara moral dapat dievaluasi. Tatanan

adat yang diturunkan oleh nenek moyangnya diyakini sebagai jalan hidup yang baik

sehingga dengan mengikuti tatanan hidup tersebut seseorang akan menjadi manusia

yang berkualitas dan akan selalu mendapatkan berkah dari yang Maha Kuasa

(50)

untuk memenuhi kepentingan sosial yang berlaku di lingkungan dimana ia berada,

yang diatur dalam adat-istiadat. Tuntutan ini dapat dikatakan cukup berat, karena

adanya hak dan kewajiban, serta hukuman yang jika seseorang tidak melaksanakan

kewajiban dan perannya dalam masyarakat. Selain itu, kesadaran adanya manfaat

dari penegakan adat-istiadat juga membuat seseorang terlibat dalam hubungan

sosial kemasyarakatan (dalam lingkup religi, bantuan dari masyarakat, maupun

evaluasi moral). Namun, hal ini terkadang membuat seseorang untuk

mementingkan kehidupan sosialnya dibandingkan pekerjaannya pada waktu

tertentu. Contohnya, seseorang tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya tepat

waktu karena harus terlibat dalam upakara di Desa Adat. Rasa sulit untuk

memenuhi tuntutan keluarga dan hubungan sosial kemasyarakatan sembari

memenuhi tuntutan pekerjaan akan membuat seseorang merasa pekerjaannya tidak

bernilai dan memiliki perasaan negatif pada pekerjaan, yang selanjutnya

mempengaruhi kepuasan kerja secara negatif.

Berdasarkan pemikiran di atas, maka hipotesis alternatif adalah sebagai

berikut:

H3 : Pengendalian eksternal berpengaruh negatif terhadap kepuasan kerja auditor

internal

2.7.4 Pengaruh Pengendalian diri terhadap Hubungan Tekanan Pekerjaan dan

Kepuasan Kerja

Dalam menjalankan tuntutan sebagai seorang krama atau masyarakat,

(51)

lainnya. Kegiatan di Desa Adat mungkin dilakukan saat hari kerja, dan seseorang

merasa harus hadir dalam kegiatan tersebut. Pekerjaan harus tertunda untuk

diselesaikan. Atau mungkin mendapat pekerjaan yang diserahkan oleh orang lain.

Sebagian gaji harus disisihkan dan terkadang jumlahnya cukup besar. Seseorang

juga merasakan peran yang berbeda-beda, menjadi karyawan dan krama atau

masyarakat, dan menghadapi berbagai jenis hal.

Seseorang yang memiliki komitmen tinggi untuk menyelesaikan

pekerjaannya dan menjaga komitmen profesionalnya cenderung akan berusaha

untuk melakukan yang terbaik. Jika seseorang telah melakukan yang terbaik sesuai

dengan apa yang diinginkannya dalam pekerjaan, maka akan timbul kepuasan kerja

dalam dirinya. Namun terkadang, keinginan untuk melakukan yang terbaik justru

dapat menimbulkan tekanan pekerjaan. Tekanan pekerjaan ini dapat ditimbulkan

oleh faktor-faktor lain selain yang berasal dari seseorang. Tekanan juga dapat

menyebabkan seseorang tidak mengeluarkan kemampuan terbaiknya sehingga hasil

yang diinginkan mungkin tidak tercapai. Selanjutnya, seseorang akan merasakan

kurangnya kepuasan kerja.

Berdasarkan pemikiran di atas, maka hipotesis alternatif adalah sebagai

berikut:

H4 : Pengendalian diri memoderasi hubungan tekanan pekerjaan dan kepuasan

(52)

2.7.5 Pengaruh Pengendalian Eksternal terhadap Hubungan Tekanan Pekerjaan

dan Kepuasan Kerja

Tuntutan keluarga dan hubungan sosial kemasyarakatan berasal dari

kebutuhan untuk meluangkan waktu, tenaga, dan sumber daya dana. Tuntutan

keluarga, hubungan sosial kemasyarakatan, dan pekerjaan juga membuat seseorang

memainkan peran yang berbeda-beda. Budaya tradisional Bali begitu beragam, dan

seringkali terjadi dalam interval yang pendek antara satu dan lainnya, contohnya

upakara dalam keluarga dapat terjadi bersamaan dengan upakara di Desa Adat,

belum lagi dengan hari raya umat Hindu. Hal ini dapat memberikan tekanan pada

pekerjaan, dalam hal gaji atau reward karena mungkin seseorang merasa gajinya

tidak cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan hubungan sosial

kemasyarakatan. Tekanan dapat juga terjadi karena adanya tukar-menukar

pekerjaan di antara rekan kerja, contohnya meminta bantuan rekan kerja karena

tidak dapat hadir di kantor dan sebaliknya mengerjakan pekerjaan rekan kerja lain

karena ia tidak hadir. Atau dengan seringnya menunda pekerjaan membuat

seseorang tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya sehingga merasa batas waktu

penyelesaian pekerjaan menjadi tidak masuk akal. Kemudian muncul perasaan

tidak nyaman pada rekan kerja, perasaan memiliki terlalu banyak tugas kantor,

hingga rasa tidak senang dengan pekerjaan yang dilakukan. Semua rasa ini

selanjutnya akan menimbulkan penurunan kepuasan kerja yang dirasakan oleh

seseorang.

Berdasarkan pemikiran di atas, maka hipotesis alternatif adalah sebagai

(53)

H5 : Pengendalian eksternal memoderasi hubungan tekanan pekerjaan dan

(54)

39

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang mempunyai kuantitas dan

karakter tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian

ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2000:56). Populasi dalam penelitian ini adalah

auditor internal pada industri perhotelan di provinsi Bali. Konteks ini dipilih karena

industri perhotelan menyumbang ± 29 persen terhadap PDRB (Produk Domestik

Regional Bruto) Provinsi Bali Tahun 2013 atau sekitar Rp 28 Triliun (BPS Provinsi

Bali, 2014). Jumlah kedatangan wisatawan bertambah pada tahun 2014 yaitu

3.768.362 orang atau naik ± 14,94 persen dibandingkan tahun 2013 (Dinas

Pariwisata Provinsi Bali, 2014). Jumlah kamar mengalami peningkatan dari ±

22.794 pada tahun 2012 menjadi ± 24.860 kamar di tahun 2014 (BPS Provinsi Bali,

2014). Namun, tingkat hunian hotel justru mengalami penurunan ± 3 persen pada

tahun 2013. Rata-rata tingkat hunian hotel pada tahun 2011-2013 adalah ± 63,23

persen; 63,21 persen; dan 60,68 persen (BPS Provinsi Bali, 2014).

Angka-angka ini menunjukkan 2 (dua) sisi. Satu sisi, pendapatan hotel dapat

meningkat seiring meningkatnya jumlah wisatawan yang datang. Namun disisi lain,

dengan bertambahnya jumlah kamar menyebabkan persaingan antar hotel semakin

besar. Potensi pendapatan yang tinggi dan persaingan yang besar ini mau tidak mau

membuat manajemen hotel harus meningkatkan kinerjanya, dengan melaksanakan

(55)

hunian hotel yang cukup rendah. Hal inilah yang membuat penulis merasa bahwa

auditor internal pada industri perhotelan memiliki tekanan pekerjaanyang tinggi.

Berikut adalah daftar jumlah hotel berbintang di Provinsi Bali:

Tabel 3.1

Daftar jumlah hotel di Provinsi Bali Tahun 2013

Sumber: BPS Provinsi Bali, 2014

Industri perhotelan dalam penelitian ini difokuskan hanya kepada hotel

bintang 4 dan 5. Pemilihan sampel ini berdasarkan asumsi bahwa pada hotel bintang

1, 2, dan 3 tidak terdapat fungsi audit internal yang beragam. Sedangkan pada hotel

bintang 4 dan 5, memiliki fungsi internal audit yang lebih bervariasi untuk menjaga

kualitas dan eksistensi hotel. Jumlah hotel bintang 4 dan 5 di Provinsi Bali

masing-masing adalah 62 dan 54 hotel atau dengan kata lain jumlah keseluruhan sampel

untuk penelitian ini adalah 116 hotel.

Sampel adalah kelompok kecil yang diamati dan merupakan bagian dari

populasi, sehingga sifat dan karakteristik populasi juga dimiliki oleh sampel

(Indriantoro dan B. Supomo, 1999: 115). Pengambilan sampel (sampling)

dilakukan dengan menggunakan tipe non probability sampling yaitu dengan

metode purposive sampling. Alasan pengambilan sampel dengan metode purposive

Klasifikasi Hotel Jumlah

Bintang Total

1 24

2 24

3 63

4 62

5 54

Gambar

Tabel 3.1 Daftar jumlah hotel di Provinsi Bali Tahun 2013
Tabel 4.1 Ringkasan Kuesioner Penelitian Jumlah 150
Tabel 4.2 Demografi Responden
Tabel 4.3 Hasil Uji Validitas Variabel r Hitung
+5

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menemukan bukti empiris tentang pengaruh ukuran KAP, audit tenure, dan auditor spesialis industri terhadap manajemen

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris yang menunjukkan adanya pengaruh budaya organisasi dan kepuasan kerja terhadap kinerja melalui

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti secara empiris mengenai pengaruh reputasi auditor, pergantian manajemen, financial distresss dan pertumbuhan perusahaan

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris dari hasil pengujian atas ketiga informasi yang terdapat dalam prospektus, yakni reputasi auditor

PENGARUH ORIENTASI ETIS DAN BUDAYA JAWA TERHADAP PERILAKU ETIS AUDITOR.. (Studi Empiris Pada Auditor

Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh budaya organisasi, pengendalian internal, peran audit internal dan whistleblowing terhadap

PENGARUH ORIENTASI ETIS DAN BUDAYA JAWA TERHADAP PERILAKU ETIS AUDITOR.. (Studi Empiris Pada Auditor

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bukti empiris tentang pergantian auditor, komisaris independen, leverage dan spesialisasi industri auditor terhadap