Asal Muasal Maulid Nabi Muhammad SAW Ber

10  32  Download (1)

Teks penuh

(1)

Asal Muasal Maulid Nabi Muhammad

SAW Berkembang di Indonesia

OPINI | 14 January 2014 | 02:27 Dibaca: 4413 Komentar: 17 10

Asal Muasal Maulid Nabi Muhammad SAW Berkembang di Indonesia

Besok, tepatnya, di medio, Selasa, 14 Januari 2014, semua kaum Muslimin di Indonesia akan merayakan atau memperingati hari lahir Sang Pencerah, Nabi terakhir, penutup dari para Nabi yakni junjungan Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Lebih familiar disebut Maulid Nabi Muhammad SAW. Atau, Maulud Nabi. Semua penjuru tanah air ini merayakan atau memperingati hari kelahirannya. Dan pada tahun ini memasuki tahun 1435 Hijriyah pada hitungan Tahun Islam.

Jika menurut istilah pengertian Maulid Nabi Muhammad SAW atau Bahasa Arabnya mawlid an-nabi adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal, 12 Rabiul Awwal dalam penanggalan Hijriyah. Dan menurut bahasa pengertian kata mauled atau milad dalam Bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan dimana merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Secara substansi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah sebuah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW seluruh umat di dunia.

Maka malam ini ataupun besok kaum Muslimin sudah mulai merayakan dan memperingan Nabi Muhammad SAW. Siapapun kita sudah pantas menjunjung dan menghaturkan shalawat serta salam padanya. Nabi paling sempurna! Tanpa cacat dan dosa. (Ini ketika saat Nabi Muhammad masih usia belia saat menggembala kambing di gurun kalbunya sudah disucikan oleh malaikat Jibril dengan air zam-zam).

Dan inilah sejarah awal mula Maulid Nabi Muhammad SAW

(2)

perbedaannya atau bagaimana sejarah awal memperingati hari lahir Nabi Muhammad berkembang. Apalagi membicarakan bid’ah tentang peringatan ini tetapi melainkan saya hanya menuliskan dari sudut pandang kecintaan kaum Muslimin pada junjungan Baginda Rasulullah SAW. Itu saja. Bukan dari mana awal muasal hari kelahiran itu bersumber dan segala bid’ahnya itu. Saya tidak membahas hal itu di sini.

Memang ada yang mengatakan Maulid Nabi Muhammad SAW pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa, yakni dari Prancis, Jerman, dan Inggris.

Kita mengenal musim itu sebagai Perang Salib atau The Crusade di tahun 1099 M. Tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Meskipun ada satu khalifah tetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana, namun hanya sebagai lambang persatuan spiritual.

Sultan Salahuddin Al-Ayyubi ketika ia menjabat menjadi seorang gubernur pada tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub. Dia mengatakan; bahwa semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi mereka. Dia mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal kalender Hijriyah, yang setiap tahun berlalu seharusnya dirayakan secara massal.

(3)

Tetapi menurut para ahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn al-Jauzi, Ibn Kathir, al-Hafizh al-Sakhawi, al-Hafizh al-Suyuthi dan lainnya telah bersepakat menyatakan bahawa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan al-Muzhaffar, bukan dari Shalahuddin al-Ayyubi.

Awal Maulid Nabi Muhammad SAW berkembang di Indonesia.

Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, perayaan Maulid Nabi atau Muludan sudah dilakukan oleh Wali Songo untuk sarana dakwah dengan berbagai kegiatan yang menarik masyarakat agar mengucapkan syahadatain sebagai pertanda memeluk Islam. Itulah sebabnya perayaan Maulid Nabi disebut Perayaan Syahadatain, yang oleh lidah Jawa diucapkan Sekaten

Pada zaman kesultanan Mataram, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW disebut “Gerebeg Mulud”. Kata “gerebeg” artinya mengikuti, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya. Di samping Gerebeg Mulud, ada juga perayaan Gerebeg Poso (menyambut Idul Fitri) dan Gerebeg Besar (menyambut Idul Adha).

Maka dari itu tidak menyampingkan persoalan apakah peringatan merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW ini adalah bid’ah atau tidak. Bagi saya dalam

Madarirushu’ud Syarhul Barzanji sudah dikisahkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Siapa menghormati hari lahirku, tentu aku berikan syqfa’at kepadanya di Hari Kiamat.” Pun diaminkan pula oleh Umar bin Khattab. “Siapa yang menghormati hari lahir Rasulullah sama artinya dengan menghidupkan Islam!”

(4)

Origin of Prophet Muhammad's Birthday Growing in Indonesia OPINION | 14 January 2014 | 02:27 Viewed: 4413 Comments: 17 10 Origin of Prophet Muhammad's Birthday Growing in Indonesia

Tomorrow, precisely, in medio, Tuesday, January 14th, 2014, all Muslims in Indonesia will celebrate or commemorate the birth of the Enlightenment, the last prophet, the cover of the Prophet namely lord the king of the prophet Muhammad. More familiar is called Birth of the Prophet Muhammad. Or, Maulud Prophet. All parts of the country is celebrating or

commemorating his birth. And this year entered the year 1435 Hijri on the count of Islam. If according to the definition of the term or the Prophet Muhammad's Birthday Arabic word Mawlid an-nabi is the birth anniversary of Prophet Muhammad that in Indonesia the

celebration falls on any date, 12 Rabi 'al-Awwal in the Hijri calendar. And according to language understanding mauled or milad word in Arabic means the day of birth. The celebration which is a tradition that developed in the Islamic community long after the Prophet Muhammad died. Substantially commemorate the birth of the Prophet Muhammad is an expression of joy and reverence to the Prophet Muhammad all people in the world.

So tonight or tomorrow Muslims have started to celebrate and lighten the Prophet

Muhammad. Anyone we already deserve respect and deliver to the blessings and greetings to him. Prophet of the most perfect! Without defects and sins. (This is when the time of the Prophet Muhammad's still a very young age while herding goats in desert his heart has been cleansed by the angel Gabriel to the zam-zam water).

And this is the beginning of the history of the Prophet Muhammad's Birthday

Actually, the history of the beginning of the birth of the prophet Muhammad are no two opinions that I know of. But in this article I am not looking for differences or how early history commemorate the birth of Prophet Muhammad growing. Moreover, heresy talking about this alert, but instead I just write from the point of view of the Muslims love the lord the king of the Prophet Muhammad. That is all. Instead of which the early origins of the birth day comes and all the heretical. I do not discuss it here.

Indeed, some say the birth of the prophet Muhammad was originally celebrated to evoke the spirit of the Muslims. For when the Muslims are struggling to defend themselves against the crusaders of Europe, from France, Germany, and England.

We recognize that season as the Crusades or the Crusade in 1099 AD crusaders have captured Jerusalem and the Aqsa Mosque conjure into the church. Muslims when it lost its fighting spirit and brotherhood brotherhood. Although there is a caliph remains one of the Abbasid dynasty in Baghdad and there, but only as a symbol of spiritual unity.

Sultan Salahuddin Al-Ayyubi when he was being a governor in 1174-1193 AD or 570-590 H on Bani Ayyub Dynasty. He said; that the morale of Muslims to be revived by means of reinforcing their love for the people of the Prophet. He called on Muslims around the world to the birth of the Prophet Muhammad, 12 Rabi al-Awwal Islamic calendar, which should be celebrated each year passes in bulk.

(5)

Caliph agreed. So the pilgrimage season months Hijjah 579 AH (1183 AD), Saladin as a ruler Haramain (two holy land, Mecca and Medina) issued instructions to all the pilgrims, so that when returning home each menyosialkan immediately to the Islamic community in which they are, that began the year 580 AH (1184 AD) Rabi-Early 12th is celebrated as the birth of the prophet with a variety of activities that evoke the spirit of the Muslims.

But according to historians, like Ibn Khallikan, Sibth Ibn Jawzi, Ibn Kathir, Hafiz al-Sakhawi, al-Hafiz al-Suyuti and others have agreed to declare THAT the first person to hold a birthday reminder is Sultan al-Muzhaffar , instead of Saladin.

Birthday of Prophet Muhammad's early growing in Indonesia.

In the history of the spread of Islam in the archipelago, the celebration of the Prophet's Birthday or Muludan already done by the Wali Songo for propaganda tool with a variety of activities that attract people to say Syahadatain as a sign of Islam. That is why the celebration of the birth of the prophet called Celebration Syahadatain, which by Java tongue spoken Sekaten

In the days of the empire of Mataram, Prophet Muhammad's Birthday celebration called "Gerebeg Mulud". The word "raided" means to follow, to follow the sultan and his officials out of the palace to the mosque to follow the Prophet Muhammad's Birthday celebration, complete with ritual paraphernalia, such as rice mountains and so on. In addition Gerebeg Mulud, there is also a celebration Gerebeg Poso (Eid) and Gerebeg Large (welcome Eid al-Adha).

Therefore it does not rule out the issue of whether a warning celebrate the birth of Prophet Muhammad SAW is heretical or not. For me in Madarirushu'ud Syarhul Barzanji already narrated that the Prophet once said:

"Who respect my outside day, of course I gave syqfa'at him in the last day." Even diaminkan also by Umar. "Who is honoring the birthday of the Prophet is tantamount to revive Islam!" So I was no reason to say that commemorate the birthday of the Prophet Muhammad was a heretic or not. Because've missed clear from the words of the above. Wallahua'lambishowab. [] Diruangtanpatelingadanmata, 14012014

Awal Mula Peringatan Maulid Nabi Muhamad SAW

Menurut catatan sejarah, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali

diperkenalkan seorang penguasa Dinasti Fatimiyah (909-117 M). Jauh sebelum al-Barzanji lahir dan menciptakan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Langkah ini secara tidak langsung dimaksudkan sebagai sebuah penegasan kepada khalayak, bahwa dinasti ini betul-betul keturunan Nabi Muhammad SAW. Setidaknya ada dimensi politis dalam kegiatan tersebut.

(6)

khususnya mental para tentara yang lengah bersiap menghadapi serangan tentara Salib dari Eropa, yang ingin merebut tanah suci Jerusalem dari tangan kaum Muslimin.

Menurut sumber lain, orang pertama yang mencetuskan ide memperingati maulid Nabi Muhammad SAW justru Malik Mudzaffar Abu Said,yang lebih dikenal sebagai Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (orang Inggris menyebutnya Saladin). Pemuka Islam yang kharismatik ini pernah mengundang pujangga terkenal AI-Hafidz Ibnu Dahiah untuk

menggubah naskah riwayat singkat perjuangan Nabi Muhammad SAW. Naskah itu kemudian diberi judul At-Janwir If Maulid al-Basyir an-Nashir dan Ibnu Dahiah diberi honorarium 1000 dinar.

Peringatan maulid perdana yang diadakan oleh Malik Mudzaffar ternyata menimbulkan surprise pada banyak kalangan. Betapa tidak! Kala itu Malik mengundang para ulama, para sufi dan kalangan pemuka dan pembesar beserta masyarakat Islam lainnya untuk ikut

menyemarakkan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW tersebut. Dalam peringatan besar-besaran itu di sembelih 5OOO ekor kambing, 1O.OOO ekor ayam dan dimasak

1OOO.OOO roti bermentega. Konon biaya keseluruhan peringatan itu mencapai 3OOO.OOO dinar, selain honorarium penulisan naskah di atas. (HA Fuad Said, Yayasan Masagung, 1985). Dalam peringatan Nabi Muhammad SAW itu seorang sufi terkenal. Syekh Hasan Bashri berkomentar: “Seandainya saya memiliki mas sebesar bukit Uhud niscaya akan saya sumbangkan seluruhnya untuk keperluan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW...." Banyak kalangan berpendapat bahwa ungkapan dan pujian tersebut tidak berlebihan kalau diukur dan dibandingkan dengan koberhasilan Nabi Muhammad SAW membawa manusia dari peradaban jahili menuju peradaban islami

Beginning of the Prophet Mohammed's Birthday Commemoration

According to historical records, memorial birthday of the Prophet Muhammad first introduced a ruler Fatimids (909-117 AD). Long before al-Barzanji born and create praise to the Prophet Muhammad. This step is not directly intended as an affirmation to the audience, that this dynasty actually descendants of the

Prophet Muhammad. At least there is a political dimension in these activities.

Warning birthday later became a ritual that often do Muslims in various parts of the world. It happened after Abu Sa'id al-Kokburi, governor of Irbil, Iraq,

popularized during the reign of Sultan Saladin (1138-1193M). At that time

tujuannyauntuk strengthen religious fervor of Muslims in general, especially the soldiers who guard down mentally preparing for the attack of the European Crusaders, who wants to seize the holy land of Jerusalem from the hands of the Muslims.

(7)

Warning birthday premiere held by Malik Mudzaffar had caused surprise in many circles. Why not! Malik was then invited the scholars, Sufis and the nobles and princes as well as other Islamic societies to enliven the anniversary of the birth of Prophet Muhammad. In a massive warning that 5OOO slaughtered goats, chickens and cooked 1O.OOO 1OOO.OOO buttered bread. It is said that the overall cost to the warning reached 3OOO.OOO dinars, in addition honorarium above script writing. (HA Fuad Said, Masagung Foundation, 1985).

In commemoration of Prophet Muhammad was a famous Sufi. Shaykh Hasan Basri commented: "If I have a goldfish at the hill of Uhud will undoubtedly I donated entirely for the purpose of warning Birth of the Prophet Muhammad ...." Many people see the expression and praise is not excessive when measured and compared with koberhasilan Prophet Muhammad brought jahili human civilization towards Islamic civilization

Baru

Perayaan Maulid Nabi sesungguhnya pertama kali diperkenalkan oleh Shalahuddin al Ayyubi pada abad ke XII sebagai upaya membangkitkan semangat umat Islam yang kendor di tengah-tengah kehancuran ketika itu dengan meneladani semangat dan episode perjuangan Rasulullah melalui sebuah perayaan. Sumber yang lain menyebutkan bahwa Maulid pertama kali dalam sejarah Islam diselenggarakan oleh penguasa Dinasti Fatimiyah di Mesir, yaitu Mu’iz Li Dinillah (341 H/953 M – 365 H/975 M). Al Sandubi seorang sejarawan mengemukakan bahwa perayaan maulid diselenggarakan oleh Muiz dimotivasi oleh keinginannya menjadi seorang penguasa yang populer di kalangan Syiah. Dalam menyelenggarakannya mereka memberikan hadiah kepada orang-orang tertentu seperti penjaga masjid, perawat makam, dan sebagainya.

Setelah Dinasti Fatimiyah, perayaan maulid selanjutnya dilakukan oleh orang-orang sunni yang ketika itu diselenggarakan oleh Sultan Atabek Nuruddin (569 H) yang merupakan seorang penguasa di Shuriah. Perayaan maulid ketika itu dilaksanakan pada malam hari dengan mendeklamasikan syair yang berisi puji-pujian kepada raja. Di Mosul (Irak) perayaan maulid dilaksanakan oleh seorang ulama yang bernama Umar al Malla. Perayaan maulid dilaksanakan setiap tahun dengan mengundang para tokoh masyarakat, ulama, dan fuqaha ke kediamannya. Sementara di Ibril (10 km dari Mosul), pada masa pemerintahan Muzafaruddin, perayaan maulid pertama kali dirayakan secara besar-besaran dan populer hingga ke berbagai daerah, sehingga setiap tahun perayaan ini selalu menarik perhatian orang-orang dari berbagai daerah.

Dalam perkembangan selanjutnya, perayaan maulid Nabi makin beragam corak dan warnanya, sesuai dengan perkembangan adat, tradisi, kondisi sosio-kultural masyarakat. Di Lombok umpamanya perayaan Maulid Nabi kental dengan tradisi

(8)

dan egalitarian yang dibingkai dalam figura al Quran dan al Hadits. Dengan demikian, 12 Rabiul Awal merupakan tonggak sejarah yang memotivasi masyarakat untuk merayakan maulid Nabi sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas kehadiran beliau di tengah-tengah masyarakat dunia. Situasi dan kondisi umat yang semakin terpuruk akibat kontak budaya dan peradaban yang ‘menggila’, juga turut mengundang motivasi masyarakat untuk merayakan kelahiran Nabi sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya oleh Shalahuddin al Ayyubi pada abad ke XII.

Kedua: motivasi teologis, aspek teologis ternyata juga memiliki peran yang cukup strategis dalam memotivasi masyarakat merayakan maulid Nabi. Hal ini dapat dilihat dari fatwa-fatwa yang dikemukakan oleh para ulama madzhab Hanafi dan Maliki yang mengemukakan bahwa “diktum hukum yang ditetapkan dengan diktum tradisi sama dengan diktum hukum yang ditetapkan berdasarkan hukum syar’i”. Hal yang senada pernah juga diungkapkan oleh Syarakhsyi yang menyebutkan bahwa “menetapkan hukum dengan tradisi seolah-olah menetapkan hukum dengan nash”. Namun hukum yang ditetapkan berdasarkan tradisi tersebut sejatinya harus memiliki relevansi dan senafas dengan nilai-nilai al Quran dan al Hadits. Ketiga: motivasi filosofis-sosiologis, masyarakat merupakan sebuah sistem yang terdiri dari kumpulan sekian banyak individu kecil maupun besar yang terikat oleh satuan adat, tradisi, hukum dan hidup bersama. Masyarakat akan dapat hidup tegak berdiri jika instrumen dalam masyarakat tersebut dapat berinteraksi dengan harmonis, tanpa adanya ketimpangan-ketimpangan sosial yang dapat menyuburkan benih-benih pertikaian. Dengan demikian, secara filosofis-sosiologis, perayaan maulid Nabi dapat dijadikan sebagai suplemen yang akan menggugah semangat serta sebagai pondasi yang akan memperkokoh bangunan ukhuwah masyarakat yang diwujudkan dalam sebuah kebersamaan.

Perayaan maulid Nabi yang sejatinya menjadi wahana instropeksi diri dan sekaligus sebagai sarana dalam meningkatkan kualitas kepribadian dengan merenungi dan meneladani episode-episode perjuangan Nabi, ternyata tidak lebih hanya sekedar acara seremonial belaka. Bahkan jika dicermati lebih jauh, perayaan Maulid Nabi dewasa ini telah terkontaminasi dan ternodai oleh virus-virus isrof, hedonisme, hura-hura dan sebagainya. Virus-virus ini selanjutnya menjalar menggerogoti jiwa umat. Tradisi Maulid Nabi seperti ini tentu saja sudah sangat jauh menyimpang dari nilai-nilai Islami yang sejatinya menjadi nafas perayaan tersebut. Padahal al Quran menegaskan “janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara syaitan dan syaitan itu sesungguhnya sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS. al Isro: 26-27).

(9)

Prophet's Birthday celebration actually first introduced by Salahuddin Al Ayubi in the XII century in an attempt to evoke the spirit of Muslims who saggy in the middle of destruction when it is by imitating the spirit and struggle episodes Messenger through a celebration. Another source said that the first time in the history of the Birth of Islam held by the Fatimid rulers in Egypt, namely Mu'iz Li Dinillah (341 AH / 953 AD - 365 AH / 975 AD). Al Sandubi a historian argues that the birthday celebrations organized by Muiz motivated by his desire to be a ruler who is popular among the Shia. In host them they give gifts to certain people such as guard mosques, tombs nurses, and so on.

After the Fatimids, the next birthday celebration conducted by the Sunni who was held by the Sultan Atabek Nuruddin (569 H) which is a ruler in Shuriah. Birthday celebration when it was held at night to recite the poem that contains praise to the king. Mosul (Iraq) birthday celebration held by a scholar named Umar al Malla. Birthday celebration held every year by inviting community leaders, scholars and jurists to his residence. While in Ibril (10 km from Mosul), during the reign of Muzafaruddin, first celebrated the birthday celebration of a massive and popular to the various regions, so that every year this festival has always attracted the attention of people from various regions.

In a further development, the Prophet's birthday celebration more varied patterns and colors, in accordance with the development of custom, tradition, socio-cultural society. In Lombok eg Prophet's Birthday celebration with a strong tradition of civil, nyunatan, ngurisan and some other traditions. When analyzed, the Prophet's Birthday celebration on the island of Lombok motivated three factors: first: historical motivation, historically Muslims believe Muhammad's completely legal as a figure who contributed to build a new civilization to undertake a fundamental reform of the pagan tradition when it was on the degradation morals are very alarming. In these conditions, Muhammad subsequently rose to formulate an ethical order of life and egalitarian framed in figura Quran and al-Hadith. Thus, 12 Rabi al-Awwal is a milestone that motivate people to celebrate the Prophet's birthday as a form of expression of gratitude for his presence in the midst of the world community. Circumstances people are worse off as a result of cultural and civilizational contacts 'craze', also invited the motivation of people to celebrate the birth of the Prophet, as has been done previously by Salahuddin Al Ayubi in the XII century.

Second: the theological motivation, the theological aspect it also has a strategic role in motivating the community to celebrate the Prophet's birthday. It can be seen from the fatwas expressed by the Hanafi and Maliki scholars who argued that "the legal dictum set with the same tradition with the dictum dictum law established under the laws of Shar'ie". The same thing had also expressed by Syarakhsyi which states that "the tradition set by the law as if set legal texts". However, the law established by the tradition of a true must have relevance and in the same breath with the values of the Quran and al-Hadith. Third: the philosophical-sociological motivations, society is a system that consists of a collection of many small and large individuals are bound by a set of customs, traditions, laws and live together. The public will be able to live upright if the instrument in the community can interact with harmony, without any social imbalances that can fertilize the seeds of dissension. Thus, as a

philosophical-sociological, the Prophet's birthday celebration can be used as a supplement which will inspire the spirit as well as the foundation that will strengthen brotherhood building society embodied in a togetherness.

A true celebration of the Prophet's birthday became a vehicle for self introspection and also as a means to improve the quality of personality to contemplate and imitate episodes struggle of the Prophet, it is no more just a ceremonial event. Even if we look more closely, the

(10)

people. The tradition of the Prophet's Birthday like this course is very far away from Islamic values, which in essence is the breath of the celebration. Yet the Quran asserts "do not squander your wealth in extravagant. Indeed it spender-wasters are brothers of Satan and the devil is in fact very dissenter to his Lord "(QS. Al Isro: 26-27).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...