Memahami Maulid Nabi Saw Secara Mendalam

Teks penuh

(1)

Memahami Maulid Nabi Saw

Secara Mendalam, Komprehensif dan Kontekstual

Oleh: Yan S. Prasetiadi, M.Ag

Akademisi, Tinggal di Purwakarta - Jabar

Umat Islam di Indonesia setiap tanggal 12 Rabiul Awwal senantiasa memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, hari kelahiran beliau. Perayaan Maulid Nabi merupakan perwujudan rasa penghormatan yang begitu tinggi terhadap sosok Rasulullah saw tersebut. Baginda saw merupakan manusia yang paling istimewa di bumi ini, tidak hanya muslim, bahkan non muslim pun mengakuinya.

Michael H. Heart, Profesor astronomi, fisika dan sejarah sains, dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (New York: 1978, hal. 33), dia menulis: "My choice of Muhammad to lead the list of the world's most influential persons may surprise some readers and may be questioned by others, but he was the only man in history who was supremely successful on both the religious and secular level." (Saya memilih Nabi Muhammad sebagai urutan pertama tokoh yang paling berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sebagian pembaca dan mungkin dipertanyakan oleh yang lainnya. Tapi memang hanya dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa, baik dari ukuran agama maupun ruang lingkup dunia).

William Montgomery Watt (1909-2006), Profesor (emeritus) Studi Bahasa Arab dan Islam University of Edinburgh, dalam bukunya

Mohammad At Mecca (Oxford: 1953, hal. 52), menulis: "His readiness to undergo persecutions for his beliefs, the high moral character of the men who believed in him and looked up to him as leader, and the greatness of his ultimate achievement –all argue his fundamental integrity..." (Kerelaannya dalam mengalami penganiayaan demi keyakinan, ketinggian akhlak orang-orang yang mempercayai dan menghormatinya sebagai pemimpin, dan kegemilangan prestasi puncaknya –semua itu membuktikan ketulusan hatinya yang sempurna..).

John William Draper (1811-1882), Ilmuwan, filosof, dan sejarawan Amerika, dalam bukunya A History of the Intellectual Development of Europe (London: 1875, vol. 1, hal. 329-330): "Four year after the death of Justinian, A.D. 569, was born at Mecca, in Arabia the man who, of all men exercised the greatest influence upon the human race.. Mohammed..” (Empat tahun setelah runtuhnya kekaisaran Roma Timur (Kaisar Justin), tahun 569 Masehi, di kota Makkah jazirah Arab, lahirlah manusia yang di antara seluruh manusia telah memberikan pengaruh amat besar bagi umat manusia.. Muhammad).

(2)

happiness: I have prophesied about the faith of Muhammad that it would be acceptable to the Europe of tomorrow as it is beginning to be acceptable to the Europe of today.” (Saya yakin, apabila orang semisal Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, beliau akan berhasil mengatasi segala macam permasalahan, hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia: Ramalanku, keyakinan yang dibawanya akan diterima Eropa di masa datang dan memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini).

Demikianlah beberapa pernyataan para intelektual Barat tentang Nabi Muhammad saw. Namun jika kita kembali berbicara tentang perayaan Maulid Nabi saw –terlepas dari sikap kontra sebagian kalangan terhadap kegiatan Peringatan Maulid Nabi saw; penulis mencermati bahwa Maulid masih terkesan seremonial belaka dan setengah-setengah. Karena itu, tulisan ini mencoba untuk memaknai Maulid Nabi saw secara mendalam, sehingga umat Islam mampu membawa semangat Maulid Nabi saw dalam konteks dunia modern dan mampu mewujudkan cinta hakiki terhadap Rasul saw secara benar.

Sekilas Sejarah dan Berbagai Peristiwa Besar

Menurut catatan sejarah, Peringatan Maulid Nabi saw, pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, Gubernur Irbil, Irak, pada masa pemerintahan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (1138-1193 M). Menurut sumber lain, yang pertama mencetuskan ide Peringatan Maulid Nabi saw, adalah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi sendiri. Kala itu bertujuan untuk memperkokoh semangat umat Islam umumnya, khususnya mental tentara Muslim yang lemah dalam menghadapi serangan tentara Salib dari Eropa, yang ingin merebut tanah suci Yerusalem dari tangan kaum Muslim. (Al-Islam, ed. 348, tahun 2007). Inilah sekilas awal mula perayaan Maulid Nabi saw. Selanjutnya, apa sebenarnya yang terjadi pada bulan Rabiul Awwal?

Berdasarkan penelusuran historis, sesungguhnya pada bulan Rabiul Awwal telah terjadi tiga peristiwa besar yang patut umat Islam senantiasa mengingatnya. Ketiga peristiwa besar tersebut adalah:

Pertama, peristiwa Maulid (lahirnya) Nabi saw

Nabi dilahirkan hari Senin 12 Rabiul Awwal pada tahun Gajah di Makkah (Rawwas Qal’ahji, Sirah Nabawiyah (terj), hal. 15; Ibnul Qayyim,

Zadul Ma’ad, I/28). Menurut sebagian ulama, kelahirannya diiringi berbagai keajaiban. Qadhi Iyadh menyebut ada 132 keajaiban. Salah satunya, ketika lahir dan digendong Asy-Syifa` Ummu Abdurrahman bin Auf, beliau –Nabi saw– menangis keras dan berkata kepada Asy-Syifa’: “Rahimakillah” (Semoga Allah merahmatimu). (Asy-Syifa` bi Ta’rif Huquq al-Mushtafa, hal. 205).

(3)

116-117). Hal tersebut didasari keterangan dua tema ayat, yang satu berkaitan dengan tabligh (penyampaian wahyu; QS. Al-Maidah [5]: 67); dan ayat yang lain berkaitan dengan tugas menerapkan hukum yang diturunkan Allah (QS Al-Maidah [5]: 48 dan 49).

Tugas kenabian memang berakhir dengan wafatnya Nabi saw, akan tetapi tugas kepemimpinan negara tak berakhir, melainkan diteruskan oleh para khalifah sebagai kepala negara Khilafah sepeninggal Nabi saw.

“Dahulu Bani Israil diatur segala urusannya oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, dia digantikan nabi lainnya. Dan sesungguhnya tak ada lagi nabi sesudahku, yang ada adalah para khalifah dan jumlah mereka akan banyak…” (HR Muslim, no 1842).

Kedua, hijrahnya Nabi saw

Menurut M. Shiddiq al-Jawi (hizbut-tahrir.or.id; 5/1/2014), bulan Muharram memang patokan awal perhitungan tahun Hijriyah. Tapi hijrahnya sendiri bukan pada bulan Muharram, melainkan bulan Rabiul Awwal. Beliau saw mulai berhijrah meninggalkan Gua Tsur malam Senin, tanggal 1 Rabiul Awwal tahun I Hijriyah (16 September 622 M). Nabi saw sampai di Quba’ hari Senin, 8 Rabiul Awwal tahun 1 H (23 September 622 M), lalu berdiam di sana selama empat hari: Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Beliau lalu memasuki Madinah hari Jumat, 12 Rabiul Awwal tahun 1 H. (Shafiyurrahman Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah (terj), hal. 232-233; Ahmad Ratib Armusy, Qiyadah ar-Rasul, hal. 40).

Berdasarkan itu, tanggal 12 Rabiul Awwal adalah sampainya Nabi di Madinah. Ini menandai berdirinya Daulah Islamiyah. (Taqiyuddin an-Nabhani, Ad-Daulah al-Islamiyah, hal. 48). Sebelum hijrah, terjadi peristiwa Baiat Aqabah II di Makkah antara Nabi saw dan Suku Auz dan Khrazraj dari Madinah. Baiat ini adalah akad pendirian Daulah Islamiyah, antara Nabi saw dan Suku Aus dan Khazraj. (Al-Marakbi, Khilafah al-Islamiyah Baina Nuzhum al-Hukm al-Muashirah, hal. 16).

Jadi dengan baiat itu, secara hukum, Nabi saw sudah menjadi kepala negara di Madinah. Tapi secara fakta (de facto) kepemimpinan ini baru efektif sesudah Baginda tiba di Madinah. Perlu dipahami, Nabi saw hijrah ke Madinah bukan karena takut dibunuh Quraisy. Namun motif hijrah adalah karena di Madinah terdapat kesiapan masyarakat untuk menegakkan Daulah Islamiyah dan mendukung dakwah Islam yang diemban Nabi saw. (Taqiyuddin an-Nabhani, Ad-Daulah al-Islamiyah, hal. 47).

Ketiga, wafatnya Nabi saw

(4)

pertengahan malam pada malam Rabu. (Ajhizah Daulah al-Khilafah, hal.13).

Tiga kejadian besar ini menunjukan alur historis yang sangat penting dalam membangun rasa cinta kepada Nabi Muhammad saw.

Manifestasi Cinta Rasulullah saw yang Sejati

Cinta tanpa manifestasi dan pembuktian tentunya hanyalah kedustaan belaka, karenanya berikut akan dijelaskan, perwujudan cinta hakiki kepada Rasulullah saw, diantaranya:

Pertama, mentauhidkan Allah. Sebab, para rasul diutus, termasuk Rasulullah saw, adalah untuk menyeru manusia pada tauhid yang murni dan menentang syirik (QS. an-Nahl [16]: 36).

Kedua, mempelajari, memahami dan mengamalkan al-Quran yang Beliau bawa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi manusia (QS. an-Nahl [16]: 89). Berkenaan dengan ini, Ibnu Mas’ud berkata: “Janganlah seseorang meminta untuk dirinya kecuali Quran. Jika dia mencintai al-Quran berarti dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Firyabi, Fadha’il al-Qur’an, no. 6).

Ketiga, meneladani segala ucapan dan perbuatan Nabi saw. (Lihat: QS al-Ahzab [33]: 21).

Keempat, mencintai mereka yang dicintai Nabi saw, seperti keluarga dan Sahabatnya, serta seluruh kaum muslim yang berpegang teguh kepada ajarannya; serta membenci orang yang dibenci Beliau, seperti orang kafir yang memusuhi Islam dan kaum Muslim.

Kelima, membela Nabi saw, dari serangan kaum kafir dan munafik, sebagaimana akhir-akhir ini semakin nampak dilakukan mereka.

Keenam, menaati semua perintah Nabi saw, dan menjauhi larangan Beliau (QS al-Hasyr [59]: 7).

Ketujuh, mengemban risalah Beliau, yakni mendakwahkan syariah yang Beliau bawa. Allah saw berfirman: “Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan al-khair (Islam) serta melakukan amar ma’ruf nahi munkar.” (QS Ali Imran [3]: 103).

Kedelapan, karena pada bulan Rabiul Awwal terjadi tiga peristiwa besar, yaitu Maulid Nabi saw, Maulid Daulah Islamiyah, dan Maulid Khilafah Rasyidah. Maka, ketiganya wajib dipahami dan dijadikan sebagai sumber spirit di masa kini, demi berjuang menegakkan kembali sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah. Sebab Khilafah inilah sunnah

(metode) yang dirintis Nabi saw sebagai Daulah Islamiyah, lalu sunnah ini dilanjutkan para Khulafaur Rasyidin sebagai Khilafah Rasyidah. Inilah relevansi Sabda Nabi saw: “Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, dan gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi-gigi gerahammu [peganglah dan amalkan dengan kuat].” (HR. At-Tirmidzi, no 2816).

(5)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...