DISCLAIMER : Tulisan ini diperuntukan Penulis untuk kepentingan tugas perkuliahan sehingga apabila terdapat kekeliruan mohon dikoreksi. Sebagai insan
akademis yang taat. jika ingin men Copy-Paste harap izin ke nomor berikut 082114497494
TOKOH JOHN RAWLS
Salah satu tokoh yang membahas secara komprehensif tentang konsep keadilan adalah John Rawls. Tokoh ini memiliki nama lengkap John Borden (Bordley) Rawls, akan tetapi awam lebih mengenalnya sebagai Rawls. Beliau dilahirkan di Baltimore, Maryland, Amerika Serikat pada 21 Februari 1921 silam. Ayahnya adalah William Lee Rawls yang merupakan seorang ahli hukum perpajakan dan pakar konstitusi, sedangkan ibunya adalah Anna Abel Stump yang memiliki status sebagai bangsawan Jerman dan aktif mendukung gerakan feminisme. Masa remaja Rawls dihabiskan dengan belajar di sekolah formal Baltimore dan Connecticut. Semasa di Connecticut Rawls memasuki fase religius dalam hidupnya, hal tersebut dibuktikan dengan kepekaan religius Rawls yang relatif lebih tinggi jika di komparasikan dengan teman-teman sebayanya yang berpaham liberal.
Ketika muda Rawls telah menemukan passion nya di bidang ilmu filsafat, sehingga ia memutuskan untuk melanjutkan studinya di Princeton University pada 1939. Pada saat kuliah, Rawls aktif bergabung dalam The Ivy Club yang merupakan sebuah kelompok diskusi akademis, hal inilah yang menyebabkan kreatifitas dan gagasan Rawls berkembang pesat.
Setelah lulus pada 1943 dengan predikat Bachelor of Arts (B.A), Rawls kemudian terpaksa bergabung menjadi anggota tentara. Ketika Perang Dunia ke II, beliau juga sempat ditugaskan di kawasan negara Asia Pasifik, seperti Papua Nugini, Filipina, dan Jepang. Akan tetapi Rawls akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari karir militernya karena trauma dengan tragedi bom Hiroshima.
hayatnya Rawls memilih fokus untuk mengajar di Harvard University, yang dikenal sebagai salah satu kampus terbaik di dunia saat ini.
Semasa hidupnya, Rawls beberapa kali di percaya memegang jabatan stuktural yang penting, diantaranya adalah Presiden American Association of Political and Legal Philisopher, Presiden the Eastern Division of the American Philosophical Association (1974), dan Professor Emeritus di James Bryant Conant University, Harvard (1979). Selain itu, dirinya juga terlibat aktif dalam the American Philosophical Society, the British Academy, dan the Norwergian Academy of Science.
Selain itu terdapat pula beberapa mahakarya nya yang menjadi rekomendasi utama dalam membicarakan filsafat hukum, diantaranya adalah “A Theory of Justice” (1971). Buku yang diterbitkan oleh Belkap Press (Cambridge) ini, telah dicetak kembali pada 1991 dengan beberapa penyempurnaan di dalamnya. Hingga kini, buku yang yang dikenal dengan sebutan populer “TJ” tersebut telah diterjemahkan setidaknya ke dalam 27 bahasa berbeda. Kedua, “Political Liberalism” (1993). Buku yang diterbitkan oleh Columbia University Press ini dikenal dengan sebutan popular “PL”. Setelah dicetak kembali pada 1996, buku tersebut kian syarat isinya dengan adanya penambahan tulisan yang berjudul “Reply to Habermas”. Ketiga, “The Law of Peoples” (1999) yang diterbitkan oleh Harvard University Press. Buku ini merupakan perpaduan dari dua karya Rawls yang cukup terkenal, yaitu “The Law of Peoples” dan “Public Reason Revisited”. Kemudian, keempat, “Collected Papers” (1999). Buku yang juga diterbitkan oleh Harvard University Press ini merupakan kompilasi dari karya-karya singkatnya yang telah disunting secara baik oleh Samuel Freeman.1 Selain itu, masih terdapat banyak
karya-karya nya yang lain seperti Artikel Ilmiah, hingga rangkuman perkuliahnnya di Harvard yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Saat ini Rawls juga dinobatkan sebagai salah satu tokoh liberal paling berpengaruh di dunia. Karya-karyanya tentang filsafat keadilan telah banyak mengubah tatanan sosial yang ada di masyarakat, khususnya dalam memandang keadilan. Tidak jarang pula gagasan yang dikemukakan oleh Rawls kini menjadi denyut nadi dalam membuat kebijakan di negara-negara maju dan
1 Pan Mohamad Faiz, “ Teori Keadilan John Rawls,” Jurnal Konstitusi. (April – Mei
berkembang.Tidak hanya itu, Rawls juga kini di asosiasikan sebagai filsuf modern yang menelaah hukum, keadilan dari kacamata liberal.
METODOLOGI DISKUSI
Untuk membahas teori keadilan dari Rawls secara komprehensif, penulis melakukan metodologi Focus Group Discussion bersama rekan-rekan penulis di kelompok 10 kelas Tanggung Jawab Profesi – C Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Diskusi kualitatif tersebut dilakukan secara bertahap pada tanggal 13 dan 19 Maret 2015 di ruang F104. Tujuan dipilihnya metode Focus Group Discussion adalah agar masing-masing anggota kelompok dapat aktif berdiskusi dan memberikan pandangannya tentang isu yang sedang di angkat. Seperti diketahui bahwa Focus Group Discussion adalah bentuk diskusi yang didesain untuk memunculkan informasi mengenai keinginan, kebutuhan, sudut padang, kepercayaan dan pengalaman yang dikehendaki oleh peserta.2 Dalam diskusi
tersebut masing-masing anggota bertindak sebagai narasumber dengan materi yang telah di bagi-bagi sebelumnya.
Dengan metode tersebut diharapkan semakin banyak pandangan-pandangan yang di paparkan oleh masing-masing anggota, sehingga pembahasan tidak berputar di ruang diskusi yang sama. Objek utama dari pembahasan tersebut adalah gagasan Rawls yang dikritisi oleh Samuel Freeman terkait Fair Equality of Opportunity dan Difference Principle.
KEADILAN MENURUT RAWLS
Banyak orang yang sulit mendefinisikan konsep keadilan secara metodologis dikarenakan keadilan itu sifatnya sangatlah relatif. Tetapi hal ini tidak buat John Rawls. Menurut beliau keadilan dapat dilihat dari dua spektrum, spektrum yang pertama adalah kebebasan yang sama sebesar-besarnya (principle of greatest equal liberty), kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan dalam berpolitik, berbicara, dan berkeyakinan. Sedangkan spektrum yang kedua terdiri dari dua
2 Astridya Paramita dan Lusi Kristiana, “Teknik Focus Group Discussion Dalam
bagian yaitu prinsip perbedaan (the difference principle) dan prinsip persamaan yang adil atas kesempatan (the principle of fair equality of opportunity). Secara umum, Rawls melihat keadilan sebagai stabilitas hidup manusia, dan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan kehidupan bersama.
di dalam masyarakat dilakukan dengan cara membuat peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang berwenangn untuk mengatur mengenai mekanisme pasar, kontrak, pajak, dan keamanan. Jadi intinya terdapat peran serta pemerintah dalam menciptakan keadilan ekonomi. Kriteria kesuksesan menurut Rawls ketika pendapatan dan kekayaan yang dimiliki oleh anggota masyarakat berpenghasilan terendah dan keahlian terendah mencapai titik tertingginya. Berikut adalah visualisasinya dalam grafik :
Di dalam grafik ini, sumbu y adalah menggambarkan pendapatan dan kekayaan dari anggota masyarakat yang memiliki pendapatan terendah dan keahlian terendah. Sedangkan sumbu x adalah menggambarkan pendapatan dan kekayaan dari anggota masyarakat yang memiliki pendapatan tertinggi dan keahlian tertinggi. Kondisi ideal menurut teori keadilan ekonomi Rawls tercapai di titik D yang merupakan titik tertinggi dari sumbu y dalam kurva OP tersebut. Menurut penulis kondisi ideal tersebut ketika orang-orang yang kurang beruntung tersebut diberikan perlindungan dalam pendistribusian pendapatan, kekayaan, kekuasaan, dan jabatan agar dapat dimaksimalkan perolehan dari anggota masyarakat yang memiliki pendapatan dan keahlian terendah.
kenyataanya tidak banyak pihak yang sadar bahwa keadilan bagi orang-orang yang tidak beruntung tersebut dapat dituntut kepada pemerintah.
Sedangkan Prinsip Persamaan yang Adil atas Kesempatan (the principle of fair equality of opportunity) diartikan sebagai ketidaksamaan dan ketidakmerataan sosial ekonomi harus diatur bagaimanapun caranya agar dapat membuka jembatan dan akses kedudukan sosial yang sama bagi semua orang dengan kondisi persamaan kesempatan. Itu artinya, orang-orang yang memiliki kompetensi, kualitas, dan motivasi yang sama dapat menikmati kesempatan yang sama pula, tidak boleh ada sistem yang mendiskriminasi seseorang untuk mendapatkan kesempatan yang sama. Intinya teori ini, melekat pada profesi-profesi dan posisi – posisi yang terbuka bagi semua orang dan menjamin persamaan peluang yang adil. Ide tersebut berawal dari bantahan bahwa keturunan menentukan posisi seseorang secara turun temurun. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Immanuel Kant bahwa semua orang harus memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai status yang diinginkan, karena ia memiliki suatu bakat, kemampuan industri, dan anugrah, maka dari itu orang lain tidak berhak menghalanginya dengan dalih hak istimewa karena faktor keturunan.
Prinsip perbedaan (the difference principle) dan prinsip persamaan yang adil atas kesempatan (the principle of fair equality of opportunity) lebih menekankan bahwa keadilan dapat dicapai dengan cara mengontrol perbedaan sosial, maka dari itu kesenjangan sosial dan kegiatan ekonomi harus diatur oleh pemegang kebijakan agar dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kaum marginal yang kurang beruntung. Dengan adanya prinsip tersebut diharapkan memberikan keuntungan kepada orang-orang yang terlahir sebagai orang miskin dengan cara memberikan-nya kondisi, kesempatan, dan akses yang sama bagi semua posisi dan jabatan. Itu artinya Rawls lebih menekankan pada terwujudnya proporsionalitas antara hak dan kewajiban para pihak dengan syarat-syarat tertentu. Adapun syaratnya adalah good faith and fairness. Syarat pertama adalah kemungkinan keuntungan yang paling tinggi harus diperuntukan bagi golongan orang-orang kecil yang kurang beruntung. Syarat kedua adalah perbedaan objektif tidak boleh mendiskriminasi peluang mengisi jabatan yang ada. Perbedaan-perbedaan yang bersifat primordial seperti ras, warna kulit, suku, agama, etnis, dan bangsa harus ditolak.
Menurut penulis, kedua prinsip tersebut seperti dua mata koin yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Peran dari Difference Principle pada Fair Equality of Opportunity adalah untuk menjamin bahwa sistem kerja sama adalah salah satu keadilan prosedural murni untuk membangun distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil. Kedua prinsip tersebut bermutualisme dan saling mengisi kekurangannya. Dimana Rawls mencoba menjadi mediator antara golongan kiri dan kanan, beliau tidak ingin keadilan di dominasi secara ekstrim oleh kapitalisme, tapi tidak juga mau memberikanya begitu saja kepada sosialisme. Sebagai tokoh kiblat aliran liberal, beliau cukup cerdas dalam memandang keadilan sebagai fairness.
harus diberikan perlindungan khusus oleh negara. Disini keadilan lebih ditekankan sebagai asas resiprositas yang mempertimbangkan distribusi kekayaan, hal itu dilakukan tanpa melihat perbedaan-perbedaan yang objektif antar anggota masyarakat.
Rawls juga menjelaskan mengenai Distributive Justice. Menurutnya keadilan harus dapat disalurkan dalam bentuk pendapatan dan kekayaan, serta bukan merupakan target individual. Masyarakatlah yang memiliki tugas untuk mendistribusikan pendapatan dan kekayaan mereka kepada orang-orang yang terikat kerjasama dengan mereka tanpa memperhatikan mereka miskin atau tidak. Ide awal Distributive Justice berangkat dari kondisi kesenjangan sosial yang sang sangat tinggi antara pekerja dan majikan. Kaum-kaum sosialis menyatakan bahwa kesenjangan sosial tersebut berawal karena pekerja telah memiliki peranan yang sangat besar sebagai faktor produksi, sehingga mereka memiliki hak atas hasil produksi dan bukannya upah yang rendah.
Selain itu juga Rawls memperkenalkan prinsip Utilitiarisme. Utilitiarisme adalah suatu paham yang memandang bahwa kegunaan suatu hal bisa dimaksimalkan bukan hanya pada saat ini, tetapi juga buat masa yang akan datang. Teori ini adalah bentuk etika normatif yang memaksimalkan kebahagiaan dan mengurangi penderitaan, serta mengupayakan kebaikan terbesar dalam jumlah terbesar. Untuk menilai baik-buruknya, adil atau tidaknya hukum tergantung apakah hukum mampu memberikan kebahagiaan kepada manusia atau tidak.
Untuk mendapatkan keadilan terkadang harus ada kepentingan umum yang dikorbankan, akan tetapi pengorbanan tersebut tidak boleh berasal dari orang-orang yang kurang beruntung dalam masyarakat, alih alih menciptkan keadilan, justru sangat tidak adil bagi mereka yang kurang beruntung untuk mengorbankan kesejahteraan mereka demi mayoritas.
Kesimpulan menurut Rawls bahwa dalam menegakan keadilan haruslah berdimensi kerakyatan. Hal itu dapat diwujudkan dengan memberikan hak dan kesempatan yang sama bagi setiap orang. Selain itu juga harus mampu mengatur kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi sehingga dapat memberi keuntungan yang bersifat timbal balik bagi setiap orang, baik bagi mereka yang yang berasal dari kelompok beruntung ataupun tidak.
PRAKTEK PERSAMAAN YANG ADIL ATAS
KESEMPATAN (
Principle of Fair Equality of
Opportunity)
DI INDONESIA
Di Indonesia praktek atas teori persamaan yang adil atas kesempatan sudah cukup baik di beberapa sektor pekerjaan. Salah satunya adalah pekerjaan Pegawai Negeri Sipil. Menurut Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 2002, seseorang yang ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :3
1. Warga Negara Indonesia;
2. Berusia serendah-rendahnya 18 (delapan belas) tahun dan setinggi-tingginya 35 (tiga puluh lima) tahun;
3. Tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan keputusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, karena melakukan suatu tindak pidana kejahatan;
4. Tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil, atau diberhentikan tidak dengan hormat sebagai pegawai swasta;
5. Tidak berkedudukan sebagai Calon/Pegawai Negeri;
6. Mempunyai pendidikan, kecakapan, keahlian dan ketrampilan yang diperlukan;
3 Indonesia, Peraturan Pemerintah Tentang Pengadaan PNS , PP No.11 Tahun
7. Berkelakuan baik;
8. Sehat jasmani dan rohani;
9. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia atau negara lain yang ditentukan oleh Pemerintah; dan
10. Syarat lain yang ditentukan dalam persyaratan jabatan.
Dari ketentuan normatif yang disebutkan di atas, sudah cukup menggambarkan bahwa terdapat akses kesempatan yang adil (principle of fair equality of opportunity ) bagi setiap anggota masyarakat yang ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil. Penulis berpendapat demikian karena ketentuan-ketentuan diatas tidak bersifat diskriminatif dan tidak menjunjung tinggi primordialisme seperti Suku, Agama, Ras, Gender. Syarat-syarat yang tercantum di atas masih dalam batas kewajaran kompetensi seseorang untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil, kecuali di dalam ketentuan tersebut terdapat syarat khusus yang berbunyi “1. Calon Pegawai Negeri Sipil haruslah orang kaya” atau “1. Calon Pegawai Negeri Sipil harus berasal dari Suku Batak” barulah dapat dinyatakan bahwa ketentuan tersebut tidak adil bagi anggota masyarakat yang ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil. Intinya adalah setiap orang berhak mencapai suatu kedudukan yang sama.
Syarat-syarat tersebut tidak jauh berbeda dengan syarat untuk menjadi Advokat, hanya saja terdapat perbedaan berupa pelatihan khusus untuk menjadi Advokat. Ketentuan untuk menjadi Advokat di atur dalam Pasal 2 ayat (1) UU No.18 Tahun 2003 tentang Advokat, bahwa syarat utamanya adalah berlatar pendidikan tinggi hukum berupa lulusan fakultas hukum, fakultas syariah, perguruan tinggi hukum militer, atau perguruan tinggi ilmu hukum. Adapun syarat lebih lanjut untuk menjadi Advokat diatur dalam Pasal 3 ayat (1) UU Advokat yaitu :
a. warga negara Republik Indonesia; b. bertempat tinggal di Indonesia;
c. tidak berstatus sebagai pegawai negeri atau pejabat negara; d. berusia sekurang-kurangnya 25 (dua puluh lima) tahun;
e..berijazah sarjana yang berlatar belakang pendidikan tinggi hukum __.dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1);
f. lulus ujian yang diadakan oleh Organisasi Advokat;
h. Tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana kejahatan yang _.=diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih;
i. Berperilaku baik, jujur, bertanggung jawab, adil, dan mempunyai integritas _ yang tinggi
Dari jabaran ketentuan untuk menjadi Advokat di atas, poin utama Fair Equality of Opportunity yang di gagas oleh Rawls ada pada poin E dan F. Seseorang yang kurang beruntung untuk menempuh pendidikan tinggi hukum harus di permudah oleh Negara. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memberikan akses informasi, beasiswa, keringanan biaya, dan bentuk lainnya agar orang-orang yang kurang beruntung tersebut dapat mendapatkan akses yang sama untuk menjadi juris. Selain itu, ketidakmampuan finansial untuk mengikuti ujian yang diadakan oleh Organisasi Advokat harus diminimalisir agar orang-orang yang kurang beruntung tersebut tetap dapat menjadi Advokat. Karena jika tidak begitu, Advokat hanyalah orang-orang yang terdiri dari pemilik modal besar, padahal pemilik modal besar tersebut belum tentu lebih kompeten ketimbang pemiliki modal kecil.
Misalkan Akbar dan Budi sama-sama ingin mencapai suatu posisi Partner di suatu firma hukum. Dimana untuk meraih posisi tersebut dibutuhkan pendidikan khusus di luar negeri. Akan tetapi kenyataanya keluarga Akbar sangat miskin dan tidak mampu membiayai secara sendiri pendidikan khusus tersebut. Sedangkan si Budi terlahir sebagai keluarga kaya raya dan mampu membiayai pelatihan itu. Berdasarkan teori Fair Equality of Opportunity yang di gagas oleh Rawls maka Akbar yang lahir sebagai keluarga miskin haruslah dijamin oleh institusi negara agar tidak kehilangan kesempatan yang sama seperti Budi untuk mencapai kedudukan sebagai Partner di Law Firm tersebut.
Bentuk nyata Fair Equality of Opportunity juga dapat kita lihat dalam kasus yang menimpa Putri Joko Widodo yaitu Kahiyang Ayu. Dimana Ayu tidak lulus ujian CPNS Pemerintah Kota Surakarta, karena nilainya tidak memenuhi standar kriteria yang telah di buat oleh pemerintah.4 Dari kasus tersebut dapat kita simpulkan
bahwa status sebagai anak Presiden bukanlah hak istimewa dalam mendapatkan suatu pekerjaan. Karena yang dinilai dalam kelulusan CPNS bukanlah statusnya dia
4Erik Purnama Putra, “ Tak Lulus CPNS, Ini Nilai Putri Presiden Jokowi”
sebagai anak siapa, dan berapa harta orang tuanya, akan tetapi hal yang lebih penting adalah apakah dia qualified untuk memegang jabatan tersebut atau tidak. Buktinya Ayu telah kalah bersaing dengan pendaftar-pendaftar lain yang dinilai lebih mumpuni ketimbang Ayu. Padahal jika diasumsikan tentunya Ayu lebih memiliki kesempatan yang lebih besar ketimbang peserta lainnya, mengingat statusnya sebagai puteri dari Presiden, sedangkan peserta yang lain boleh dibilang adalah manusia biasa saja tapa keistimewaan apapun. Kasus ini merupakan role model
dari praktek Fair Equality of Opportunity di Indonesia yang saat ini sedang di tegakan.
Akan tetapi tidak semua cerita seperti itu, banyak juga kejadian-kejadian yang tidak mencerminkan Fair Equality of Opportunity di Indonesia. Salah satunya adalah cerita yang penulis dapatkan dari salah satu Senior (Nama disamarkan) yang pernah menjabat sebagai tim pengawas seleksi masuk perguruan tinggi negeri untuk program Magister. Banyak juga kepentingan-kepentingan transaksional yang bergulir sesaat pengumuman penerimaan program Magister, dan syarat di terima atau tidaknya seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu kekuatan finansial calon, kedekatan personal dengan pengawas, satu almamater dan sebagai politik balas budi. Misalkan kuota penerimaan mahasiswa magister adalah 10 orang, dan 10 orang tersebut dipilih sesuai dengan kapabiltasnya dalam menjawab soal-soal ujian. Akan tetapi kenyataanya, masih terdapat dari 10 orang tersebut yang terpilih bukan berasal dari kemampuannya, akan tetapi karena hal-hal lain yang bersifat ilegal, seperti gratifikasi, korupsi, dan nepotisme.
MANFAAT PERSAMAAN YANG ADIL ATAS
KESEMPATAN DI INDONESIA
Di Indonesia angka kesenjangan sosial masih relatif tinggi ketimbang negara-negara lain di Asia. Berdasarkan data yang di publikasikan oleh lembaga Unicef Indonesia pada tahun 2012 silam, dinyatakan bahwa angka kesenjangan sosial di Indonesia ditinjau dari Prosentase penduduk miskin masing sangat tinggi.5
Kesenjangan sosial tersebut tentunya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada di masyarakat, mulai dari kesenjangan ekonomi, kesenjangan sosial, dan kesenjangan pendidikan.
5 Unicef Indonesia, “MDG, Keadilan dan Anak-Anak : Jalan ke depan bagi
Salah satu contohnya, di Jakarta, gaji seorang guru bisa mencapai nominal 5 juta rupiah per bulannya, sedangkan guru di pedalaman hanya dihargai senilai 500 ribu rupiah perbulannya. Terlebih lagi di Jakarta mendapatkan fasilitas-fasilitas yang dapat mempermudah kegiatan belajar mengajar, sedangkan di pedalaman terkadang lantainya saja beralaskan tanah, bahkan atapnya sudah jebol dan tidak layak pakai. Padahal jika kita perhatikan, guru di daerah pedalaman tidak kalah berkualitasnya dengan guru-guru yang ada di daerah Jakarta, hanya saja yang membedakan keduanya adalah kesempatan untuk bekerja. Guru-guru di pedalaman tentunya juga ingin berdedikasi di kota-kota besar, akan tetapi keterbatasan informasi, transportasi, dan biaya-lah yang membuat mereka mengurungkan niatnya untuk bekerja di Jakarta.
Teori yang di gagas oleh Rawls tentang Persamaan yang adil atas kesempatan di Indonesia dapat di gunakan dalam kasus-kasus seperti ini. Manfaatnya adalah terciptanya kesempatan yang adil bagi setiap orang untuk mendapatkan pekerjaan yang di inginkan, tanpa memperdulikan perbedaan-perbedaan objektif diantara para pelakunya. Jika kita terapkan teori ini dalam kasus di atas, maka seharusnya guru di pedalaman juga memiliki akses yang sama untuk mengajar di kota-kota besar, karena perbedaan strata sosial, indentitas primordialis, dan kesenjangan ekonomi haruslah di kesampingkan.
Maka dari itu negara memiliki peran utama dalam mewujudkan penyerataan akses bagi setiap orang dalam mendapatkan pekerjaan. Hal itu dapat dilakukan dengan membuat aturan-aturan hukum yang menjamin tidak adanya diskriminasi dalam mengakses suatu pekerjaan, selain itu penegakan dan pengawasan terhadap aturan-aturan yang telah dibentuk juga harus dilakukan agar tetap sesuai dengan koridor keadilan menurut Rawls. Karena dia orang miskin maka di tolak menjadi seorang guru, hal tersebut bukanlah alasan yang relevan dalam konteks keadilan menurut Rawls. Oleh karena itu, orang-orang miskin yang kurang beruntung harus ditingkatkan derajatnya oleh negara dengan cara mempermudah akses dalam mendapatkan suatu pekerjaan.
Pada kesempatan ini penulis mengkomparasikan teori keadilan Rawls menjadi beberapa babak besar, yaitu sumber tertulis di Indonesia, aliran klasik, zaman pertengahan, dan keadilan menurut agama. Untuk aliran klasik di wakili oleh filsuf ternama dunia yaitu Plato dan Aristotles. Secara garis besar aliran ini masih banyak di pengaruhi oleh ide-ide yang bernuansa metafisik, karena pada saat itu nalar manusia masih terbatas pada hal-hal yang bersifat abstrak. Untuk aliran zaman pertengahan di wakili oleh Thomas Aquinas. Beliau adalah salah satu tokoh yang disegani oleh Gereja. Dimana pada zaman itu dominasi Gereja sangatlah menghegemoni masyarakat di dunia, khususnya di Eropa.
Selanjutnya adalah keadilan menurut sumber tertulis di Indonesia, yang terdiri dari Pancasila dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pancasila adalah landasan filosofis bangsa Indonesia dalam menjalankan segala aktivitas, dalam ilmu perundang-undangan Pancasila dikategorikan sebagai grundnorm (norma dasar) yaitu cita hukum rakyat Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang menjadi bintang pemandu dalam memberikan pedoman dan bimbingan dalam semua kegiatan dan tiap peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia.6 Sedangkan KBBI adalah salah satu referensi utama bangsa
Indonesia dalam mencari definisi tentang sesuatu. Terakhir adalah mengkomparasikan teori keadilan menurut agama dengan teori keadilan dari Rawls, adapun agama yang menjadi objek studi kali ini adalah agama Islam dan agama Kong Hu Cu.
1. Keadilan menurut Pancasila
Di dalam Pancasila terdapat dua sila yang menyebutkan kata “adil” dan “keadilan”. Kata adil tercantum pada sila ke-2 yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradab, sedangkan kata keadilan tercantum pada sila ke-5 yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dari sila-sila tersebut, Indonesia secara tegas memilih keadilan sosial sebagai salah satu falsafah bangsanya, itu artinya Indonesia memegang teguh prinsip bahwa manusia diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, yang sama derajatnya, yang sama hak dan kewajibannya, tanpa membedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit,
6 Maria Farida Indrati S., Ilmu Perundang Undangan, (Yogyakarta : Kanisius, 2007).
dan sebagainya.7 Jadi keadilan sosial tidak hanya bicara untuk menuntut hak-nya
melulu, tetapi juga sadar akan kewajibannya sebagai seorang warga negara.
Jika di kaitkan dengan prinsip perbedaan (the difference principle) dan prinsip persamaan yang adil atas kesempatan (the principle of fair equality of opportunity) maka Pancasila merupakan wujud konkret dari kedua prinsip tersebut. Pancasila hadir untuk menjamin warganya mendapatkan akses kesejahteraan, pendapatan, dan perlakuan yang sama oleh negara, akan tetapi pada dasarnya Pancasila tidak secara tegas menyatakan bahwa keadilan itu dikhususkan untuk kaum-kaum marjinal seperti Rawls . Sehingga yang menjadi pertanyaan besar adalah, keadilan yang dimaksud oleh Pancasila itu diperuntukan bagi siapa? Apa bagi “sosial”? “Sosial” yang mana?.
Hal ini tentunya bertentangan dengan gagasan yang di kemukakan oleh Rawls. Menurutnya, keadilan itu dikhususkan bagi mereka kaum yang kurang berutung agar dapat memberikan peluang, kesempatan, dan wewenang yang sama untuk mendapatkan akses.
2. Keadilan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan salah satu referensi yang dapat dipercaya untuk mencari definisi dan makna tentang sesuatu. KBBI dibuat oleh instansi pemerintah yang di delegasikan kepada Pusat Bahasa di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menurut KBBI adil adalah suatu sikap yang berpihak pada yang benar, tidak memihak salah satunya, atau tidak berat sebelah. Sedangkan keadilan didefinisikan sebagai suatu tuntutan sikap dan sifat yang seimbang antara hak dan kewajiban.8
Itu artinya keadilan merupakan sebuah tindakan yang memberikan perlakuan yang sama kepada setiap orang dalam situasi yang sama. Hal ini dikarenakan bahwa pada hakikatnya, setiap manusia itu mempunyai nilai yang sama sebagai manusia. Namun, pada kasus-kasus atau situasi tertentu, perlu suatu perlakuan yang tidak sama untuk mencapai apa yang dikatakan sebagai keadilan.9
7 Majelis Permusyawaratan Rakyat, Ketetapan MPR tentang Pedoman Penghayatan
Dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetia Pancakarsa) , TAP MPR Nomor : II/MPR/197 , Naskah.
8 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Umum Bahasa Indonesia,
(Jakarta : Balai Pustaka, 1976). hlm.16
9 Gilang Ramadhan, “Konsep Keadilan Dalam Pandangan M.H. Kamali : Suatu
Jika penulis kaitkan makna yang ada di dalam KBBI dengan teori Fair Equality of Opportunity milik Rawls, maka kedua teori tersebut saling mendukung satu dengan yang lain. Karena menurut Fair Equality of Opportunity seorang yang memiliki motivasi, kapabilitas, dan kompetensi yang sama juga berhak untuk mendapatkan peluang yang sama, tidak peduli apakah terdapat perbedaan objektif seperti warna kulit, gender, suku, bangsa, ataupun ras. Keadilan adalah milik semua orang, akan tetapi lebih diperuntukan bagi kalangan manusia yang kurang beruntung. Tujuannya adalah agar terciptanya tatanan masyarakat yang adil bagi semua orang, sehingga yang kaya tidak menjadi lebih kaya, dan yang miskin tidak terus terjerat dalam pedihnya kemiskinan.
3. Teori Keadilan Aristotles
Aristotles mendefinisikan teori keadilan berdasarkan prinsip-prinsip rasional yang dilandasi oleh masyarakat politik dan undang-undang yang telah ada. Hal tersebut telah ia tuangkan dalam Magnum Opus-nya yang ke 5 berjudul Nicomachean Ethics. Menurutnya keadilan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu keadilan distributif dan keadilan korektif.10 Keadilan distributif diterapkan pada hukum publik sehingga
yang lebih ditekankan adalah kausalitas yang sama rata atas pencapaian yang sama rata pula, hal ini mengacu pada pembagian barang dan jasa kepada setiap orang sesuai kedudukannya dalam masyarakat dan perlakuan yang sama di hadapan hukum, sedangkan keadilan korektif di implementasikan kepada hukum perdata dan pidana yang berfokus pada pembetulan sesuatu yang salah. Dalam prakteknya apabila terjadi pelanggaran atas suatu kesalahan, maka keadilan korektif bertugas untuk memberikan kompensasi yang memadai bagi pihak yang dirugikan. Itu artinya keadilan distributif diperankan oleh pemerintah, sedangkan keadilan korektif adalah tugas dari pengadilan.
Konsep keadilan yang kedua menurut Aristotles adalah membedakan antara keadilan positif dan keadilan hukum alam. Menurutnya keadilan dari hukum positif mendapat kekuasaanya dari apa yang ditetapkan sebagai hukum, apakah sesuatu hal itu adil atau tidak. Sedangkan keadilan hukum alam mendapatkan kekuasaan dari apa yang menjadi sifat dasar manusia yang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Intinya Aristotles berpandangan bahwa keadilan haruslah dipahami sebagi suatu kesetaraan dalam kelayakan dan tindakan manusia.
10 Aristotle Translated by W.D.Ross, Nicomachean Ethics : Book V (Kitchener 1999),
Penulis menyatakan bahwa Aristotles adalah filsuf yang sangat cerdas dalam menggali nilai-nilai yang ada di masyarakat dan dirumuskan menjadi suatu definisi. Hal tersebut tentunya tidaklah mudah, karena melalui banyak proses berpikir yang telah di telaah. Konsep keadilan menurut Aristotles tergolong sangat jenius, beliau mensegmentasikan keadilan menjadi beberapa kuadran yang relevan. Bahkan menurut saya prinsip perbedaan (the difference principle) dan prinsip persamaan yang adil atas kesempatan (the principle of fair equality of opportunity) yang dikemukakan oleh Rawls adalah tindak lanjut dari keadilan distributif milik Aristotles, hanya saja Aristotles lebih menekankan pada akses barang dan jasa dalam ruang lingkup ekonomi, sedangkan Rawls lebih menekankan kepada segala aspek. Baik Aristotles dan Rawls memiliki tujuan mulia agar keadilan dapat diakses oleh semua orang, dan bukan oleh segelintir orang saja.
4. Teori Keadilan Plato
Plato adalah filsuf kelas dunia yang memiliki karakterisik idealis dan abstrak dalam setiap ide-ide yang di gagasnya. Beliau percaya bahwa terdapat kekuatan-kekuatan yang diluar kemampuan dan akal manusia (metafisik) yang mempengaruhi tatanan sosial masyarakat. Sama halnya ketika Plato mendefinisikan tentang keadilan, menurutnya keadilan berada dalam tataran diluar kemampuan manusia biasa yang dapat mempengaruhi orang untuk mengendalikan diri dan perasaanya dikendalikan oleh akal.11 Sumber ketidakadilan berasal dari perubahan
dalam masyarakat itu sendiri. Maka dari itu untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat maka harus mempertahankan struktur asli masyarakatnya (status quo), dan hal tersebut adalah tugas negara untuk menghentikan perubahan. Dengan demikian Plato menekankan bawah keadilan bukanlah hubungan antara individu dengan individu, akan tetapi antara individu dengan negara.
Selain itu, menurut Plato makna keadilan bersifat metafisik yang menjadi fungsi super manusia, yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa. Konsekuensinya adalah makna keadilan menjadi sulit di gapai dan terjadi pergeseran paradigma dengan menarik keadilan ke dimensi lain yang diluar akal manusia. Akibatnya
11 Plato’s Utopia by Bertrand Rusell, The History of Western Philosophy (New
adalah keadilan merupakan keputusan-keputusan tuhan yang tidak dapat di duga dan tidak dapat di ganggu gugat.
Menurut penulis, konsep keadilan Plato dapat dikatakan konsep yang paling tidak relevan jika di implementasikan dengan makna keadilan saat ini. Hal itu dapat dimaklumi karena zaman ketika Plato hidup, manusia masih dalam proses bernalar yang sederhana, dan banyak dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa alam. Jika dikaitkan dengan teori keadilan Rawls, maka sesungguhnya teori keadilan dari Plato sangatlah tidak apple to apple. Hal tersebut dikarenakan teori keadilan dari Plato kental akan nuansa metafisik yang artinya tidak dapat dirasa dengan panca indera manusia. Padahal sejatinya menurut Rawls keadilan itu dapat ditempuh dengan cara perlakuan yang serius oleh pemerintah.
Menurut Penulis dengan menggeser paradigma keadilan ke dimensi lain, hal itu akan membuat keadilan menjadi sangat sulit untuk dijangkau dan rawan untuk di politisir. Nuansa politisnya terdapat pada orang-orang yang disebut oleh Plato sebagai manusia super. Alih-alih menggapai keadilan, bisa-bisa keadilan itu justru di monopoli oleh manusia super tersebut. Tidak heran ketika zaman Plato hidup terdapat istilah bahwa Raja yang berkuasa haruslah seperti Tuhan karena sebagai penganut Filsuf Raja, Plato percaya bahwa orang yang mengerti hukum dan mengerti bagaimana hukum itu adalah raja. Nantinya raja akan menjadikan negaranya sebagaimana negara yang ideal menurut interpretasinya.
5. Teori Keadilan Thomas Aquinas
Thomas Aquinas adalah salah seorang filsuf bermazhab hukum kodrat yang sangat terkenal. Popularitasnya bahkan dapat di setarakan dengan Santo Paulus dan Santo Agustinus yang mendapatkan gelar doctor angelicus dari Gereja Katolik. Menurutnya nilai yang paling utama dalam hidup adalah keadilan. Ia menyatakan bahwa keadilan diperlukan untuk mengatur hubungan antar manusia. Menurutnya, keadilan itu terdiri atas tiga kuadran utama, yaitu keadilan distributif (hal-hal yang mengatur umum), keadilan komutatif (tindakan tukar-menukar atau balas jasa), dan keadilan legal (mengatur kedua keadilan sebelumnya dalam suatu produk hukum).12
Itu artinya Thomas lebih menekankan pada interaksi sesama manusia yang bersifat
12 Antonius Cahyadi dan E. Fernando M. Manullang, Pengantar ke Filsafat Hukum,
iustum atau mengenai apa yang sepatutnya bagi orang lain adil berdasarkan kesamaan proporsional.
Jika dikaitkan dengan teori keadilan Rawls maka secara umum kedua teori ini dapat dikatakan tidak apple to apple. Karena teori yang digagas oleh Thomas Aquinas lebih menekankan pada bentuk legal formal dari keadilan itu sendiri, sedangkan Rawls lebih fokus kepada prinsip-prinsip untuk menjamin persamaan akses bagi orang yang kurang beruntung. Hanya saja, baik Thomas dan Rawls percaya bahwa institusi penegak hukum memang memiliki peran yang signifikan untuk menciptakan keadilan kepada masyarakat dan hal tersebut dapat dituangkan dalam hukum positif. Selain itu Thomas juga meyakini bahwa keadilan menurut setiap orang itu berbeda-beda, akan tetapi ada yang dinamakan sebagai kesamaan proporsional yang merupkaan konsensus kamu mayoritas tentang sesuatu yang adil atau tidak.
6. Teori Keadilan Adam Smith
Adam Smith adalah filsuf dan ekonom terkenal yang berasal dari Skotlandia. Beliau lahir pada tahun 1723 dan meninggal pada tahun 1790. Karya-karyanya membuat beliau di nobatkan sebagai bapak ilmu ekonomi Modern, salah satu karyanya adalah The Wealth Nations. Meskipun fokusnya ada di bidang ilmu ekonomi, akan tetapi Adam Smith tidak canggung untuk berbicara tentang konsep keadilan dalam berbisnis. Menurutnya keadilan adalah keadilan komutatif, yang menyangkut kesetaraan, keseimbangan, keharmonisan hubungan antara satu orang dengan pihak lain. Adam Smith berprinsip bahwa keadilan itu dapat dicapai dengan tiga prinsip, pertama No Harm yaitu tidak merugikan kepentingan orang lain, kedua Non-Intervention yaitu tidak perlu ikut campur, ketiga Prinsip keadilan tukar yaitu pertukaran dagang yang fair akan terwujud dan terungkap dalam mekanisme harga dalam pasar, dimana terdapat harga alamiah dan harga pasar.13
Jika dikaitkan dengan Teori Keadilan Rawls, maka teori Keadilan Adam Smith bersifat lebih khusus ruang lingkupnya dan lebih spesifik, karena Adam Smith menitikberatkan pada keadilan dalam dunia bisnis. Akan tetapi prinsip keadilan tukar yang di gagas oleh Adam Smith telah dikembangkan oleh John Rawls dalam bukunya a Theory of Justice. Bahwa Keadilan dalam bisnis terdiri menjadi dua bagian, yaitu harga alamiah dan harga pasar. Harga alamiah adalah harga yang
mencerminkan biaya produk yang telah dikeluarkan oleh produsen, seperti upah, laba pemilik, sewa, dan ongkos produksi. Sedangkan Harga Pasar adalah harga yang sebenarnya ditawarkan, dibara, dan ditransaksikan kepada konsumen dalam mekanisme pasar. Adam Smith juga pernah menyatakan bahwa untuk mendapatkan efisiensi ekonomi, maka penentuan suatu posisi harus didasarkan pada bakat dan kemampuan, dengan cara tersebut maka dapat diambil keuntungan dari bakat seseorang yang menghasilkan produksi maksimum.
Secara Pribadi penulis tidak sepakat dengan prinsip Non-Intervention yang dikemukakan oleh Adam Smith. Dengan tidak adanya intervensi dari pihak yang berwenang, maka kehidupan ekonomi di lepaskan seutuhnya pada mekanisme pasar. Konsekuensinya adalah memberatkan bagi pemodal kaum menengah kebawah yang akan tergerus oleh pemodal besar, disinilah seharusnya pemerintah dapat berperan dalam memberikan keseimbangan dan kesetaraan dalam mekanisme pasar. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membuat regulasi yang jelas dalam suatu peraturan perundang-undangan.
7. Teori Keadilan Kong Hu Cu
Di Indonesia Kong Hu Cu diakui sebagai salah satu dari lima agama yang ada di Indonesia. Agama Kong Hu Cu mengajarkan konfusianisme yang berarti agama dari orang-orang yang lembut hati, terpelajar, dan berbudi luhur. Dalam memaknai keadilan, Kong Hu Cu menyatakan bahwa keadilan dapat terjadi apabila anak sebagai anak, ayah sebagai ayah, raja sebagai raja, yang mana masing-masing telah melaksanakan kewajibannya.14 Itu artinya, pendapat ini hanya terbatas pada
nilai-nilai yang telah ajeg, diyakini, dan disepakati.
Jika dikaitkan teori keadilan Kong Hu Cu dengan Rawls, maka kedua teori ini menekankan pada dua hal yang berbeda. Kong Hu Cu lebih menekankan kepada kewajiban seseorang sesuai dengan koridornya masing-masing, sedangkan Rawls lebih menekankan pada hak-hak seseorang sesuai dengan apa yang menjadi miliknya, mulai dari peluang, kesempatan, dan wewenang untuk mendapatkan akses.
8. Teori Keadilan Islam
14 Tim Pengajar Gunadarma, “Manusia dan Keadilan”
Di Indonesia frasa “adil” di serap dari bahasa Arab “al ‘adl” yang artinya sesuatu yang baik, sikap yang tidak memihak, penjagaan hak-hak seseorang dan cara yang tepat dalam mengambil keputusan. Untuk menggambarkan keadilan juga digunakan kata-kata yang lain (sinonim) seperti qisth, hukum, dan sebagainya.
Beberapa kata yang memiliki arti sama dengan kata “adil” di dalam Al-Qur’an digunakan berulang ulang. Kata “al ‘adl” dalam Al qur’an dalam berbagai bentuk terulang sebanyak 35 kali. Kata “al qisth” terulang sebanyak 24 kali. Kata “al wajnu” terulang sebanyak kali, dan kata “al wasth” sebanyak 5 kali.15
Salah satu filsuf Islam ternama adalah Abu Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Farabi, atau lebih dikenal sebagai Al-Farabi. Beliau adalah ilmuwan dan filsuf islam yang lahir di Farab, Kazakhstan. Menurutnya keadilan adalah kebaikan-kebaikan tertinggi yang diupayakan manusia untuk diolah dan ditanam di dalam dirinya dan merupakan fondasi yang diatasnya ditegakan dalam tatanan politik.16
Jika dikaitkan paham keadilan Rawls dengan Al-Farabi maka terdapat unsur pembeda berupa tatanan politik. Menurut Al-Farabi penegakan keadilan dilakukan dengan cara masuk ke dalam ranah perpolitikan, sehingga penguasa dapat menegakan keadilan sesuai dengan apa yang telah diolah dan ditanam oleh dirinya. Hal ini tentunya berbeda dengan teori keadilan Rawls yang menyatakan bahwa tanpa masuk ke politik pun keadilan tetap harus di junjung tinggi, terutama bagi orang-orang yang kurang beruntung. Dengan atau tanpa politik keadilan merupakan prinsip dan nilai keutamaan dalam hidup yang bertujuan untuk manfaat yang paling besar bagi kaum marginal menurut Rawls.
DAFTAR PUSTAKA
JURNAL DAN KARYA ILMIAH
Asse, Ambo. “Konsep Adil Dalam Al-Quran.” Al-Risalah. (November–Desember 2010). Hlm.
______275
Dwisvimar, Inge. “Keadilan Dalam Perspektif Filfsafat Ilmu Hukum.” Jurnal Dinamika Hukum,
______Vol. 11. (September-Oktober 2011). Hlm. 504-511
Fadhilah. “Refleksi Terhadap Makna Keadilan Sebagai Fairness Menurut John Rawls Dalam
______Perspektif Ke Indonesia-an.” Jurnal Madani Edisi II. (November-Desember 2007).
______Hlm. 36
15 Ambo Asse, “ Konsep Adil Dalam Al-Quran,” Al-Risalah. (November–Desember
2010), hlm. 275
Faiz, Pan Mohamad. “Teori Keadilan John Rawls.” Jurnal Konstitusi. (April – Mei 2009).
____ _Hlm. 138.
Faturochman. “ Keadilan Sosial : Suatu Tinjauan Psikologi.” Buletin Psikologi, Tahun VII,
______No.1 (Juni – Juli 1999). Hlm. 14.
Fauzan. “Pesan Keadilan di Balik Teks Hukum yang Terlupakan (Refleksi atas Kegelisahan
______Prof. Asikin).” Varia Peradilan, No. 299. (Oktober- November 2010). Hlm 48.
Paramita, Astridya dan Lusi Kristiana. “Teknik Focus Group Discussion Dalam Penelitian
______Kualitatif.” Buletin Penelitian Sistem Kesehatan-Vol 16. (April – Mei 2013). Hlm. 119. Ramadhan, Gilang. “Konsep Keadilan Dalam Pandangan M.H. Kamali : Suatu Tinjauan
____ _Filsafat Hukum Islam.” Skripsi Sarjana Universitas Indonesia, Jakarta, 2011.
Taufik, Muhammad. “Filsafat John Rawls Tentang Teori Kadilan. “ Jurnal Mukaddimah, Vol 19, No. 1. (Januari-Februari 2013). Hlm 42-62
BUKU
Aristotle Translated by W.D.Ross. Nicomachean Ethics : Book V. Kitchener, 1999.
Cahyadi, Antonius dan E. Fernando M. Manullang. Pengantar ke Filsafat Hukum. Jakarta :
______Kencana, 2011.
Campbell, B. H. Edisi VI. Black’s Law Dictionary. St. Paul Minesota: West Publishing, 1999. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta :
______Balai Pustaka, 1976.
Indrati, Maria Farida S. Ilmu Perundang Undangan.Yogyakarta : Kanisius, 2007.
Plato’s Utopia by Bertrand Rusell. The Hitory of Western Philosophy . New York : Simon
______and Schuster.
Sumaryono, E. Etika dan Hukum : Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas.
______Yogyakarta : Kanisius, 2002
Uzair Fauzan dan Heru Prasetyo. Teori Keadilan, Dasar-dasar Filsafat Politik untuk
______Mewujudkan Kesejahteraan Sosial dalam Negara : Terjemahan dari Rawls, John.
______1997. A Theory of Justice, Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts.
______Pustaka Pelajar : Yogyakarta, 2006.
WEBSITE
Putra, Erik Purnama. “Tak Lulus CPNS, Ini Nilai Putri Presiden Jokowi”
______
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/12/22/ngxv18-tak-lulus-cpns-______ini-nilai-putri-presiden-jokowi . Diunduh pada 21 Maret 2015.
Rahmi, Sri. “Penerapan Keadilan Resoratif Dalam Sistem Peradilan Pidana Anak di Kota
______Makassar (Suatu Pembaruan Hukum Acara Pidana Anak)
______http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/f3f5469b3e964a1f8ced78b7c685d1c1.pdf.
______Diunduh pada 22 Maret 2015
Tim Pengajar Gunadarma. “Manusia dan Keadilan” ______http://elearning.gunadarma.ac.id/ docmodul/ilmu_budaya_dasar/bab7- ______manusia_dan_keadilan.pdf diunduh pada 19 Maret 2015
Indonesia. Undang-Undang Tentang Advokat, UU No. 18 Tahun 2003, LN No.39 Tahun
______2003, TLN. 4279
Majelis Permusyawaratan Rakyat. Ketetapan MPR tentang Pedoman Penghayatan Dan
______Pengamalan Pancasila (Ekaprasetia Pancakarsa) , TAP MPR Nomor : II/MPR/197 ,