• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keadilan sosial menurut John Rawls

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Keadilan sosial menurut John Rawls"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S.1)

Oleh: Mawardi

NIM: 1030333127753

44 4

Universitas Islam Negeri

SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

PROGRAM STUDI AQIDAH FILSAFAT

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi yang berjudul “KEADILAN SOSIAL MENURUT JOHN RAWLS” ini telah diujikan dalam sidang munaqasah di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada hari Kamis tanggal 16 September 2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1) pada Jurusan Aqidah Filsafat Faktultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta, 16 September 2010

Sidang Munaqasah

Ketua Merangkap Anggota Sekretaris Merangkap Anggota

Drs. Agus Darmaji, M. Fils Dra. Tien Rohmatin, MA. NIP. 19610827 199303 1 002 NIP. 19680803 199403 2 002

Penguji I Penguji II

Drs. Agus Darmaji, M. Fils Dr. Sri Mulyati, MA NIP. 19610827 199303 1 002 NIP.19560417 198603 2 001

Pembimbing

(3)

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan gelar Strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua Sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarihi Hiadayatullah Jakarta

3. Jika di Kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Depok, 25 Agustus, 2010

(4)

KATA PENGANTAR

Dalam segala keterbatasan dan ke-dhaif-an penulis, tuntasnya skripsi ini merupakan nikmat dan karunia terbesar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Tanpa kasih dan sayang, dan tanpa inayah dari-Nya, mustahil penulis mampu menulis, berpikir, dan menyelesaikan skripsi ini di titik nadir masa studi. Maka, sudah seharusnya pertama-tama penulis ucapkan rasa puji dan syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala beserta Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian, tuntasnya skripsi pun merupakan totalitas harmoni kehidupan sosial. Tanpa bantuan, dorongan, dan motivasi dari orang-orang di sekitar penulis, mustahil skripsi ini dapat eksis dan tuntas. Kekuatan dan semangat untuk dapat menuntaskan tugas akhir ini digerakkan oleh berbagai elemen dari hidup penulis. Utamanya kedua orang tua, keluarga, teman, para dosen dan civitas akademika fakultas dan UIN , sahabat, dan lain-lain. Maka sebagai rasa hormat dari lubuk hati terdalam, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Drs. Fakruddin, MA., selaku pembimbing skripsi, yang telah berkenan dan sabar membimbing, menasehati, dan mengarahkan penulis. Dan juga terima kasih setinggi-tingginya atas kesediaannya menjadi pembimbing penulis dalam mengerjakan tugas akhir ini.

(5)

Beserta seluruh staf pengajar di Jurusan Aqidah Filsafat, Fak. Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarih Hidayatullah Jakarta.

3. Kepada Bapak Penguji, Bapak Drs. Agus Darmadji, M. Fils., dan Ibu Dr. Sri Mulyati, yang telah berkenan dan bersedia untuk meluangkan waktunya menghadiri sidang ujian skripsi penulis. Utamanya, kepada Ibu Sri Mulyati ditengah kondisi suaminya yang kurang sehat bersedia untuk menjadi penguji. Dan juga penulis haturkan terima kasih setinggi-tingginya atas keikhlasan bapak dan ibu yang telah meluangkan waktunya untuk membaca, mengkoreksi, mengkritik, dan memberi komentar yang sangat berharga bagi perbaikan skripsi ini.

4. Kepada Ummi dan Abah, orang tua penulis. Keduanya adalah tiang utama dan pokok dari eksistensi skripsi ini. Tanpa keduanya, skripsi ini tidak pernah akan ada. Melalui keduanya, skripsi menjadi tidak sekedar

‗potensi’ melainkan bisa mewujud berkat kasih dan sayang dari keduanya

yang ‗tanpa syarat’ apa pun. Skripsi ini tidak akan pernah ada tanpa jasa

Ummi dan Abah. Semoga Allah selalu melindungi dan memberi kebaikan kepada keduanya dengan kebaikan yang berlipat dan lebih besar.

(6)

6. Kepada teman-teman forum kajian Piramida Circle Bung Alawi, Maman, Hafidz, Ali, Ujang, Mbah Liem, Syauqi, Jenal, Rouf, Mukhlisin, Nafi, Faiq, Romo, Uci, Bdul, dan lain- lain.

7. Wabil khusus, kepada Fakruddin Mukhtar yang telah berkenan meminjamkan hardisk komputernya untuk penulis pakai. Tanpa bantuannya, skripsi ini mungkin masih tetap dalam lembaran-lembaran virtual dan tidak akan sampai ke meja munaqasah. Wabil khusus juga, kepada Agus Santoso, yang telah mau memberi ruangan tinggalnya untuk penulis berkontemplasi, mau berhujan-hujan ria menemani penulis ke Karawaci dan Serpong, dan bersibuk ria membeli hidangan untuk pada waktu ujian. Dan juga kepada Bung Hafiz yang telah meminjam dua bukunya yang amat berharga. Dengan dua buku itu, rimba belukar pemikiran Rawls menjadi lebih mudah ditelusuri dan dijejak. Terima kasih atas bantuan yang tulus dan ikhlas, semoga Allah memberi kebaikan yang berlimpah kepadamu.

8. Kepada teman-teman Aqidah Filsafat 2003: Fakhrul, Ujang, Syamsudin, Kusna, Tatang, Syamsul, Muni, Yanti, Nadia, Tri, Latifah, Ely, Syafei, Dedi, Zakaria, Mohalli, Setiawan, dan lain- lain.

(7)

i

LEMBAR PERNYATAAN ………..……… iv

DAFTAR ISI ………..……… v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ……….……… 1

B. Tinjauan Pustaka ………...……… 14

C. Batasan dan Rumusan Masalah ………..…….. 17

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ……….……… 17

E . Metodelogi Penelitian ……….. 18

F . Sistematika Penulisan ………19

BAB II BIOGRAFI JOHN RAWLS ………...…… 21

A. Riwayat Hidup dan Pendidikan ………...… 21

B. Karya-Karya Ilmiah dan Pengaruhnya ……….. 29

C. Latar Belakang Tradisi Pemikiran ………...…… 34

BAB III TINJAUAN UMUM KEADILAN SOSIAL ………... 39

A. Pengertian dan Hakikat Keadilan Sosial ………... 39

B. Tiga Ciri Umum Keadilan ………...……… 43

C. Pembagian Keadilan ………... 46

(8)

ii

1. Timbulnya Masalah Keadilan Sosial ………...…… 55

2. Subjek Utama Keadilan Sosial ……… 58

B. Dua Prinsip Keadilan Sosial ……… 60

1. Konsepsi Umum ………. 60

2. Konsepsi Khusus ………. 64

a. Prinsip Pertama ……….……… 64

b. Prinsip Kedua ……… 67

c. Hubungan antara Dua Prinsip Keadilan ..…… 70

C. Posisi Asali (Original Position) ……….. 71

1. Legitimasi Prinsip Moral ……… 72

2. Tabir Ketidaktahuan (a Veil of Ignorance) ……… 73

3. Rasionalitas dan Strategi Maximin ………..…… 75

BAB V PENUTUP ……… 81

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pokok pembahasan utama yang hendak penulis ungkapkan dalam skripsi

ini adalah tentang keadilan sosial berdasarkan teori keadilan yang dikembangkan

oleh John Rawls (1921-2002). Pada awalnya, ide awal penulis untuk mengangkat

pembahasan skripsi mengenai John Rawls bermula ketika pada pertengahan tahun

2009 penulis melihat video acara Justice with Michael Sandel di internet. Acara

ini merupakan kuliah umum yang banyak diminati dan diikuti oleh ribuan

mahasiswa Universitas Harvard setiap tahunnya. Materi-materi yang dibahas ialah

berkaitan dengan masalah-masalah keadilan dalam perspektif para filsuf dalam

bidang filsafat politik dan moral, dan kebetulan yang penulis lihat saat itu adalah

tentang pembahasan mengenai keadilan John Rawls.

Penulis sangat terkesan dengan kuliah umum tentang filsafat yang

berlangsung di sebuah auditorium besar Universitas Harvard dengan setting tata

cahaya dan lampu bak layaknya sebuah acara program talk show di televisi yang

penuh gemerlap. Penulis terkesan karena jarang sekali ada sebuah acara yang

membahas tentang filsafat dengan begitu mengasyikkan dan menghibur dan

menarik minat begitu banyak mahasiswa. Program yang dipandu langsung oleh

Michael Sandel, seorang profesor filsafat di Harvard, yang terkenal sebagai tokoh

Neo-Aristotelian Komunitarian, berlangsung interaktif dengan audiens, dialogis,

(10)

keadilan, di antaranya John Rawls. Dari sinilah kemudian penulis terdorong dan

tertarik untuk memahami lebih lanjut tentang John Rawls.

Secara khusus, alasan pokok penulis pembahasan mengenai pemikiran

Rawls didasarkan pada arti penting pemikirannya bagi perkembangan kajian

filsafat politik normatif abad ke-20. Rawls, bisa dikatakan, merupakan salah satu

dari pemikir-pemikir penting dalam bidang filsafat politik yang terkemuka

sepanjang pertengahan abad ke-20 hingga sekarang.

Gagasan John Rawls mengenai keadilan tertuang dalam karya utamanya,

A Theory of Justice, yang diterbitkan kali pertama pada tahun 1971. Buku ini oleh

banyak kalangan dianggap sebagai karya terpenting dalam bidang filsafat politik

selama seratus tahun terakhir. Sebelum terbitnya A Theory, kajian filsafat politik

tengah mengalami masa redup dan kelesuan serta tidak menunjukkan suatu

progres yang signifikan. Hal demikian dikarenakan tidak adanya lagi karya-karya

besar berpengaruh yang lahir dan muncul pasca karya John Stuart Mill pada

pertengahan abad ke-19. Akan tetapi, kondisi itu sontak berubah dengan

kehadiran A Theory yang mendorong dan membawa gairah serta semangat baru

dalam perkembangan kajian filsafat politik.

Pasca A Theory, berbagai diskusi, kajian, artikel-artikel dan

mimbar-mimbar ilmiah hingga karya-karya besar semisal Anarchy, State and Utopia karya

Robert Nozick; Liberal Theory of Justice karya Brian Barry, dan sebagainya,

bermunculan sebagai reaksi terhadap karya Rawls. Karya Rawls juga telah

melahirkan berbagai perdebatan filosofis di berbagai universitas, buku-buku

(11)

dengan para kritikusnya yang paling terkemuka dan riak-riaknya masih

bergelombang hingga kini ialah debat yang dikenal dengan ―Debat Liberal

-Komunitarian‖. Debat ini melibatkan para filsuf dalam tradisi liberal yang

mewarisi filsafat Immanuel Kant (Neo-Kantian) dengan kelompok filsuf yang

dikenal dengan sebutan ―Komunitarian‖ yang sangat dipengaruhi oleh filsafatnya

Aristoteles, karena itu mereka juga disebut Neo Aristotelian, dengan

tokoh-tokohnya seperti Michael Sandel, Charles Taylor dan lain- lain.

Pengaruh A Theory begitu luas. Selang sepuluh tahun sejak diterbitkannya,

karya Rawls ini telah diterjemahkan ke dalam dua puluh tujuh (27) bahasa di

dunia (termasuk bahasa Indonesia), dan juga ada sekitar 2500 artikel yang

membahas tentang karya Rawls tersebut. Samuel Freeman, seorang profesor

filsafat Universitas Pennsylvania, mengatakan bahwa berbagai komentar atas A

Theory yang berlimpah ini menunjukkan betapa kuat dan luasnya pengaruh ide

dan gagasan Rawls yang merangsang berbagai kontroversi intelektual dan

filosofis.1

Secara umum, signifikansi pemikiran John Rawls dalam konteks filsafat

dapat disimpulkan ke dalam sebuah catatan sebagaimana diutarakan oleh Will

Kymlicka berikut ini:

―Rawls memiliki arti penting historis tertentu [pertama] dalam mendobrak kebuntutan intusionisme dan utilitarianisme. Tetapi teorinya penting karena alasan yang lain. [Kedua] Teori Rawls mendominasi filsafat politik, bukan dalam arti disepakati secara luas, sebab hanya sedikit orang yang setuju dengan seluruh teorinya, tetapi dalam arti bahwa para ahli teori yang muncul belakangan telah mempertegas dirinya berlawanan dengan Rawls. Mereka menjelaskan apa teori mereka dengan

1

(12)

membandingkannya dengan teori Rawls. Kita tidak akan memahami karya tentang keadilan yang muncul belakangan ini jika kita tidak memahami

Rawls.‖2

Dari deskripsi mengenai arti penting teorinya keadilannya dalam kajian

filsafat politik sebagaiman penjelasan penulis di atas, maka hal tersebut

mendorong minat dan ketertarikan penulis untuk mengangkat dan membahas teori

keadilan Rawls. Hal demikian menjadi alasan mengapa penulis mengangkat

pembahasan keadilan sosial berdasarkan teori keadilan yang dikembangkan oleh

Rawls. Wacana keadilan sosial yang berkembang dewasa ini tidak dapat

dilepaskan dari pengaruh teori keadilan Rawls, sebagaimana dijelaskan Kymlicka

di atas. Maka penelitian mengenai pemikiran Rawls tentang keadilan menjadi

sebuah usaha dan upaya yang penting dan signifikan dalam rangka memahami

lebih lanjut karya-karya tentang keadilan dewasa ini.

Dalam rangka teori keadilan, ―keadilan sosial‖ sering disebut juga sebagai

―keadilan distributif‖, di mana keduanya seringkali digunakan secara bergantian.

Keadilan distributif berkenaan dengan pembagian nikmat dan beban dalam

kehidupan sosial. Jenis keadilan satu ini memiliki tradisi pemikiran panjang yang

ditemukan dalam teori keadilan Aristoteles. Keadilan distributif ini berhubungan

dengan masalah membagi yang adil. Keputusan dalam membagi yang adil

haruslah didasarkan pada prinsip-prinsip yang dapat dipertanggungjawabkan, baik

secara intuitif maupun rasional. Artinya, prinsip dalam membagi sesuai dengan

kesadaran intuitif seseorang tentang apa yang adil (sense of justice), sekaligus

sejalan dengan pertimbangan akal sehat (rasional).

2

(13)

Keadilan sosial dipahami sebagai keadilan yang berkaitan dengan

bagaimana seharusnya hal-hal yang enak untuk didapatkan dan yang menuntut

pengorbanan, keuntungan (benefits) dan beban (burdens) dalam kehidupan sosial

dibagi dengan adil kepada semua anggota masyarakat. Dengan pengertian

sederhana ini, suatu kondisi sosial atau pun kebijakan sosial tertentu dinilai

sebagai adil dan tidak adil ketika seseorang, atau golongan/sekelompok orang

tertentu hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit dari apa yang seharusnya

mereka peroleh, atau beban yang begitu besar dari apa yang seharusnya mereka

pikul.3

Dalam hal ini, pengertian ―distribusi‖ tidak boleh dipahami secara literal,

yakni seolah-olah diandaikan adanya ‗agen‘ yang bertugas membagikan atau

mendistribusikan barang-barang. Melainkan ―distribusi‖, pengertiannya lebih

ditujukan pada ―cara‖ bagaimana lembaga-lembaga sosial utama menentukan hak

dan kewajiban, dan mengatur pembagian nikmat dan beban dengan layak.4

Pertautan makna keadilan sosial dengan keadilan distributif menjadi

semacam cara praktis untuk membedakan batas lingkup kajian keadilan sosial

dengan keadilan hukum, atau keadilan retributif. Aristoteles membagi tiga

macam keadilan: keadilan umum, keadilan distributif, dan keadilan retributif.

Secara umum, tiga macam keadilan itu bisa disederhanakan menjadi dua saja

3

David Miller, Principles of Social Justice, (London: Harvard University Press, 1999), h. 1

4

(14)

ditinjau dari segi pokok persoalannya, yaitu: keadilan distributif dan keadilan

retributif.5

Keadilan retributif berkenaan dengan ―hukuman‖ (punishment). Masalah

pokoknya ialah bagaimana orang yang melakukan kesalahan dihukum dengan

adil. Keadilan retributif berkenaan dengan kontrol bagi pelaksanaan keadilan

distributif, lebih berhubungan dengan keadilan legal atau hukum.6 Adapun

keadilan distributif berkenaan dengan ―pembagian‖ (distribution). Masalah

pokoknya berkaitan dengan bagaimana membagi dengan adil. Kendati hakikatnya

berbeda, terdapat titik temu antara keduanya, yaitu setiap putusan untuk

menghukum maupun membagi haruslah didasarkan pada prinsip-prinsip yang

dapat dipertanggungjawabkan secara moral maupun akal sehat.

Dari keduanya, keadilan distributif termasuk jenis keadilan paling penting

karena terbilang banyak menimbulkan kesulitan. Soalnya, bagaimana seharusnya

membagi dengan adil kepada setiap orang, karena setiap orang ingin bagian yang

lebih banyak daripada bagian yang sedikit, sementara itu tidak tersedia barang

yang cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang. Semakin terbatas dan

langka suatu barang atau nikmat maka ia semakin bernilai dan berharga.

Barang-barang sosial yang berharga itu tidak sekedar yang bersifat immaterial semisal

kekayaan dan pendapatan, tapi juga immaterial seperti kekuasaan, kebebebasan,

kesempatan dan kehormatan, serta lain sebagainya. Barang-barang sosial itu harus

dibagi dengan adil kepada semua orang. Dalam arti, pokok persoalan keadilan

5

John Christman, Social and Political Philosophy: A Contemporary Introduction,

(London: Routledge, 2002), h. 60

6

(15)

sosial itu mencakup pembagian dalam tiga bidang, yang disebut juga sebagai

masalah standar dalam keadilan sosial: politik (kuasa), ekonomi (uang), dan sosial

(status). Tiga bidang ini dalam skripsi ini kelak akan disebut dengan ―nilai-nilai

primer sosial‖.

Secara garis besar, prinsip keadilan sosial dibagi menjadi dua macam. Dua

macam prinsip: prinsip formal dan prinsip substantif atau material. Kedua prinsip

ini juga bisa disebut dengan keadilan formal dan keadilan substantif.7

Prinsip keadilan formal itu hanya ada satu saja, yakni prinsip persamaan.8

Prinsip ini memiliki tradisi pemikiran panjang, di mana Aristoles yang

merumuskannya. Prinsip formal berbunyi: ―equals ought to be created equally

and unequals may be treated unequally‖. Prinsip ini bisa dipahami sebagai

Morris Ginsberg, Keadilan dalam Masyarak at, (Yogyakarta: Pondok Edukasi, 2003), h. vii.

8

Dalam etika sering dikatakan, ada tiga hal umum yang selalu berkaitan dengan keadilan. (1) Keadilan selalu tertuju kepada orang lain, (2) Keadilan menuntut untuk ditegakkan (kewajiban), dan (3) Keadilan menuntut persamaan.

99

(16)

Oleh karena itu, prinsip formal sulit dijadikan pegangan untuk membagi

dengan adil, maka perlu ada prinsip-prinsip substantif yang melengkapi prinsip

formal. Prinsip-prinsip substantif merujuk pada salah satu aspek yang relevan

yang bisa dijadikan untuk membagi hal-hal yang dicari oleh pelbagai orang. Jika

prinsip formal (bentuk) hanya ada satu, ―prinsip persamaan‖, maka prinsip

substantif selalu masih dalam perdebatan dan proses. Kendati begitu, ada

pandangan yang dominan dan menjadi pandangan umum yang melandasi berbagai

teori-teori keadilan kontemporer ini ialah ―egalitarianiasme‖. Egalitarianisme

adalah nilai dasar bagi wacana keadilan sosial. Dalam hal ini kita patut

mencermati apa yang dikatakan oleh Will Kymlicka mengenai teori

egalitarianisme berikut ini:

―…Setiap teori memiliki nilai utama yang sama, yaitu persamaan (equalitiy). Semuanya merupakan teori-teori ‗egalitarian‘. Pernyataan semacam ini jelas tidak benar, jika yang kita maksudkan adalah dengan

‗teori egalitarian‘ adalah teori yang mendukung distribusi pendapatan yang

merata. Namun ada gagasan lain, yang lebih abstrak dan fundamental, tentang persamaan dalam teori politik, yaitu gagasan mengenai

memperlakukan orang ‗secara sama‘. Ada banyak cara untuk meng -ungkapkan gagasan tentang persamaan yang lebih mendasar ini. Sebuah teori adalah egalitarian menurut pengertian ini jika teori tersebut menerima bahwa kepentingan tiap-tiap anggota masyarakat itu penting dan sama-sama penting. Dengan kata lain, teori egalitarian mensyaratkan bahwa pemerintah memperlakukan warga negara dengan pertimbangan yang sama…Jadi, gagasan tentang persamaan yang bersifat abstrak dapat ditafsirkan dengan berbagai cara, tanpa harus mendukung persamaan dalam bidang khusus tertentu, apakah itu pendapatan, kekayaan, kesempatan, atau kebebasan. Mana bentuk khusus persamaannya yang diminta oleh gagasan memperlakukan orang secara sama yang lebih abstrak, itu merupakan masalah yang menjadi perdebatan berbagai

teori...‖10

10

(17)

Dengan demikian, prinsip persamaan adalah nilai dasariah dari keadilan

sosial.11 Gagasan persamaan tidak dipahami sebagai persamaan dalam distribusi

atau pembagian, tetapi persamaan dalam memperlakukan manusia dengan sama.

Manusia itu pada hakikatnya sama, dalam arti martabatnya.

Pandangan egalitarianisme ini mendapat simpati luas. Semua manusia

pada hakikatnya memang sama dari segi martabat. Tidak ada martabat manusia

satu lebih tinggi daripada manusia lainnya. Pemikiran ini merupakan keyakinan

umum sejak zaman modern, artinya sejak Revolusi Perancis menumbangkan

monarki absolut dan feodalisme. Dalam artikel pertama dari ―Deklarasi Hak

Manusia dan Warga Negara‖ (1789) yang dikeluarkan pada waktu Revolusi

Perancis dapat dibaca: ―manusia dilahirkan bebas serta sama haknya, dan mereka

tetap tinggal begitu‖.

Dalam konteks filsafat, pandangan ini umumnya didasarkan pada paham

deontologis dalam etika Immanuel Kant. Kant beranggapan bahwa manusia itu

menduduki wilayah ciptaan yang istimewa. Menurut pandangannya, manusia

mempunyai ―nilai instrinsik‖, yakni martabat, yang membuatnya bernilai

―mengatasi segala harga‖. Manusia adalah tujuan pada dirinya sendiri, tidak boleh

diperlakukan sebagai alat.12 Dalam konteks keadilan sosial, pandangan

deontologis tidak mengijinkan martabat manusia dikorbankannya demi

kepentingan atau pun manfaat ekonomi, politik dan lainnya. Hal inilah yang

membuat prinsip utilitarianisme ditolak sebagai landasan bagi konsep keadilan

11 Agus Wahyudi, ―Filsafat Politik Barat dan Masalah Keadilan: Catatan Kritis atas

Pemikiran Will Kymlicka‖ dalam Jurnal Filsafat, April 2004, Jilid 36, Nomor 1

12 Onora Oneil, ―Catatan Sederhana Tentang Etika Kant‖, dalam

(18)

sosial, karena menempatkan mengorbankan hak dan martabat manusia demi

kepentingan umum.

Lebih lanjut, kesepakatan bersama mengenai apa yang tidak adil,

ketidakadilan sosial, lebih sering tercapai ketimbang sebaliknya. Masyarakat

umumnya memiliki perasaan keadilan (sense of justice) yang cukup peka untuk

menilai suatu hubungan-hubungan sosial atau kondisi sosial tertentu sebagai tidak

adil. Tapi berbeda halnya untuk menentukan kondisi atau hubungan sosial

sebagai adil. Karena kesadaran keadilan masyarakat bukan sesuatu yang sudah

jadi melainkan terus berproses dalam kerangka dialogis.

Dalam arti, keadilan sosial, secara negatif, relatif mudah ditentukan,

namun penentuan positif mengenai kondisi sosial dan hubungan-hubungan sosial

mana yang dapat disebut adil seringkali sulit dicapai kesepakatan. Untuk itu,

kesadaran intuitif masyarakat mengenai apa yang adil dan tidak adil saja tidak

cukup dalam membangun konsep keadilan sosial, maka kita perlu teori untuk

memperjelas kesadaran moral atau sentimen moral mengenai apa yang adil

tersebut dalam bentuk yang lebih jelas. Inilah tugas teori keadilan.

Sebagaimana penulis jelaskan bahwa putusan moral mengenai pembagian

yang adil itu haruslah didasarkan pada prinsip-prinsip yang dapat

dipertanggungjawabkan, baik secara intuitif maupun rasional. Inilah peran teori

keadilan untuk menyelaraskan apa yang secara intuitif disebut adil, kemudian

mempertanggungjawabkan, membenarkan atau menjustifikasinya di hadapan

argumen rasional. Dalam teori keadilan Rawls, hal ini disebut dengan reflective

(19)

Itulah poin-poin penting yang penulis anggap patut dicermati dalam

analisis keadilan sosial di dalam skripsi ini.

Bagi Rawls, kesepakatan bersama mengenai keadilan sosial, atau apa yang

adil dan tidak adil, dalam kehidupan sosial masyarakat modern yang pluralistik

adalah sesuatu hal yang menjamin integritas sosial, stabilitas, dan keberlanjutan

sebuah masyarakat. Prinsip keadilan sosial dibutuhkan untuk mengatur cara

bagaimana lembaga-lembaga sosial utama mendistribusikan hak dan kewajiban,

nikmat dan beban hasil kerja sama sosial masyarakat itu dengan adil kepada

semua anggota masyarakat. Prinsip-prinsip keadilan sosial itu hanya dapat secara

efektif mengatur masyarakat hanya apabila ia dapat diterima oleh semua orang.

Akseptabiltias publik atau penerimaan semua orang terhadap prinsip keadilan

sosial yang akan mengatur mereka apabila prinsip-prinsip itu mampu menjamin

dan mengakomodasi kepentingan semua orang, khususnya orang-orang yang

lemah secara ekonomi dan sosial.

Bagi Rawls, prinsip keadilan sosial bagi Rawls tidak sekedar

mendistribusikan nilai-nilai sosial primer dengan adil, melainkan juga bagaimana

prinsip distributif itu bisa diterima oleh semua orang. Lebih jauh,

prinsip-prinsip keadilan sosial Rawls diposisikan landasan dasar bagi sebuah kerja sama

sosial sebuah masyarakat yang tertata dengan baik (well-ordered society).

Masyarakat tertata dengan baik dalam studi filsafat politik merupakan sebuah

konsepsi ideal mengenai bagaimana seharusnya masyarakat diatur dengan baik.

(20)

mengatur masyarakat dipertanggungjawabkan pada prinsip-prinsip moral dasar.

Dalam hal ini, keadilan adalah prinsip moral dasar.

Rawls adalah seorang pendukung egalitarianisme. Dalam arti, ia setuju

bahwa nilai dasariah keadilan sosial adalah prinsip persamaan. Kendati begitu,

Rawls bukan seorang egalitarian radikal dalam arti ia juga menerima prinsip

ketidaksamaan. Prinsip persamaan baginya bukan persamaan dalam distribusi

atau pembagian, melainkan persamaan manusia dari segi martabatnya. Hal ini

menunjukkan bahwa prinsip keadilan sosialnya menempatkan manusia sebagai

tujuan utama, bukan sekedar alat. Hal ini dapat dipahami karena ia merupakan

seorang Neo-Kantian. Dengan ini, utilitarianisme ditolak olehnya sebagai basis

bagi keadilan sosial, karena sifatnya yang teleologis –yang-manfaat (the good)

prioritas yang-hak (the right)— konsekuensinya utilitarianisme meletakkan

manusia sebagai alat dan sarana belaka untuk mencapai kesejahteraan dan

kebahagian. Karena itulah keadilan sosial tidak dapat dijamin oleh utilitarianisme.

Sementara itu, basis keadilan sosial Rawls sendiri didasarkan pada landasan

deontologis, yakni yang-hak prioritas atas yang manfaat. Manusia adalah tujuan

pada dirinya sendiri. Martabat manusia itu harus dihormati, tapi martabat

manusia itu ditandai dari segi apa? Tegasnya Rawls berusaha mereflesikan inti

persamaan itu dalam kehidupan sosial. Karena itu, prinsip keadilan sosial adalah

prinsip substantif, bukan prinsip formal.

Dengan demikian, Rawls mengakomodasi prinsip persamaan sebagai nilai

dasariah bagi keadilan sosial, tapi juga sekaligus menerima prinsip

(21)

kesamaan dan ketidaksamaan. Akan tetapi, apa yang harus dibagi secara sama,

dan juga apa yang boleh dibagi dengan tidak sama. Yang paling penting ialah

sebatas mana ketidaksamaan itu diperbolehkan. Lalu, hal-hal apa saja yang harus

dibagi dengan adil kepada semua orang. Apakah terbatas pada nikmat-nikmat

sosial, atau juga mencakup nikmat alamiah semisal, kecerdasan, kepintaran dan

sebagainya. Kemudian, juga penting ialah bagaimana ia menemukan

prinsip-prinsip keadilan sosial itu? Karena sebagaimana diketahui, prinsip-prinsip keadilan sosial

adalah prinsip moral. Dalam arti, prinsip keadilan adalah perkara moral, jadi tidak

dideduksi dari prinsip yang terbukti benar begitu saja, sebagaimana prinsip

Cartesian.

Tegasnya, prinsip moral itu harus sesuai dengan kesadaran moral intuitif

(subjektif), tapi bagaimana prinsip keadilan sosialnya dapat

dipertanggung-jawabkan secara rasional (objektif) tanpa harus bertentangan dengan intuisi. Ini

tak lepas dari tujuannya bahwa integritas sosial dan stabiltas masyarakat hanya

tercapai apabila prinsip keadilan sosial itu adalah manifestasi kehendak umum,

hasil kesepakatan bersama. Ini mengungkapkan gagasan utamanya teorinya yang

disebut dengan justice as fairnees. Maksudnya, prinsip-prinsip keadilan sosial

merupakan hasil kesepakatan orang-orang yang rasional, bebas, dan setara dalam

situasi awal persamaan yang fair.

Alhasil, dengan berbagai latar belakang masalah dan pertimbangan yang

ada, maka skripsi ini penulis beri judul: ―Konsep Keadilan Sosial Menurut John

Rawls”. Pijakan sederhananya, keadilan sosial adalah keadilan yang berkaitan

(22)

kerja sama sosial, di mana manifestasi kerja sama sosial itu termanifestasi dalam

lembaga yang disebut negara. Konsep keadilan sosial berkaitan dengan

prinsip-prinsip yang mengatur pembagian tersebut. Dengan demikian, teori keadilan

berusaha merumuskan prinsip-prinsip dasar bagi terwujudnya masyarakat yang

adil, di mana nilai-nilai sosial primer bisa terbagi dengan adil kepada semua

anggota masyarakat. Bagi Rawls, hal demikian sama dengan mempertanyakan apa

prinsip-prinsip dasar bagi terwujudnya masyarakat yang adil.

B. TINJAUAN PUSTAKA

Pemikiran John Rawls memiliki pengaruh besar dan arti penting dalam

memengaruhi perkembangan wacana filsafat abad ke-20. Maka tak heran apabila

ada banyak karya atau buku-buku yang juga mengupas dan menjelaskan

pemikiran Rawls. Di antara penulis Indonesia yang telah mengupas pemikirannya

antara lain: (1) Bur Rasuanto dengan bukunya yang berjudul Keadilan Sosial:

Pandangan Deontologis Rawls dan Habermas (2004); dan (2) Andre Ata Ujan

dengan bukunya, Keadilan dan Demokrasi: Telaah Filsafat Politiik John Rawls

(2001).

Buku pertama, Keadilan Sosial: Pandangan Deontologis Rawls dan

Habermas, merupakan disertasi Bur Rasuanto yang diterbitkan oleh penerbit

Gramedia. Pokok kajian dalam buku ini kajian komparatif antara teori keadilan

kontrak John Rawls dan teori diskurus Jurgen Habermas. Rasuanto menggunakan

istilah ―keadilan sosial‖ sebagai judul bukunya, namun ia menerangkan bahwa

istilah ―keadilan sosial digunakan sebagai istilah umum‖. Lebih lanjut, buku ini

(23)

membangun persetujuan konsensus bersama tentang prinsip-prinsip dasar bagi

masyarakat modern. Titik tekan buku ini ialah mengelaborasi titik persamaan dan

perbedaan serta posisi antara teori diskursus Habermas dalam hubungannya

dengan teori keadilan kontrak Rawls. Dalam hasil penelitiannya itu, Rasuanto

menjelaskan bahwa teori keadilan kontrak Rawls merupakan justifikasi bagi teori

diskursus Habermas.

Dalam menerangkan teori keadilan Rawls, Rasuanto berpegang dan

bertolak dari pertanyaan yang diajukan Rawls dalam bukunya, Political

Liberalism (1993). Rasuanto menulis rumusan masalah bukunya, ―bagaimanakah

suatu masyarakat stabil dan adil yang warganya bebas dan sederajat namun

secara mendalam terpecah dalam doktrin-doktrin moral, filsafat, dan agama yang

saling berkonflik bahkan tidak dapat didamaikan itu mungkin‖.13 Pertanyaan ini

adalah pertanyaan dasar yang diajukan Rawls dalam Political Liberalism (1993).

Buku Rawls ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari ide-ide dan gagasan

yang dikemukakannya dalam A Theory of Justice (1971), di mana ia melihat

toleransi merupakan salah satu ciri atau nilai yang harus ada dalam masyarakat

modern. Jadi, Rasuanto membicarakan teori keadilan Rawls berikut pergeseran

pemikirannya dari dalam A Theory of Justice ke konsepsi keadilan politik dalam

Political Liberalism.

Sementara buku kedua, Keadilan dan Demokrasi: Telaah Filsafat Politik

John Rawls, merupakan karya tesis Andre Ata Ujan yang diterbitkan oleh penerbit

Kanisus tahun 2001. Di buku ini, Ata Ujan mengelaborasi teori keadilan Rawls

13

(24)

dalam hubungannya dengan masalah demokrasi, dan juga bagaimana implikasi

teori tersebut dalam penataan politik dan ekonomi. Kajian buku ini berusaha

mencari dan menemukan elemen-elemen fundamental dari teori keadilan Rawls

yang dapat diterapkan pada masalah- masalah dalam masyarakat demokrasi.

Dalam kaitannya dengan skripsi ini, pembahasan skripsi ini tidak

mengelaborasi masalah-masalah yang diungkapkan Rawls dalam bukunya

Political Liberalism, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasuanto. Kemudian,

penulis juga tidak membahas bagaimana implikasi dan penerapan teori Rawls

dalam penataan ekonomi dan politik dalam masyarakat demokrasi. Penulis dalam

dalam hal ini, membatasi pembahasan skripsi ini lebih kepada teorinya yang

dikembangkan oleh Rawls dalam A Theory of Justice (1971), dan juga tidak

berusaha membahas mengenai pergeseran pemikirannya dalam Political

Liberalism. Hal ini dikarenakan masalah yang berusaha penulis kaji di sini fokus

pada bagaimana Rawls merefleksikan substansi keadilan sosial. Penulis juga lebih

condong menggunakan logika pembahasan yang digunakan Rawls sendiri dalam

menerangkan teorinya dalam A Theory of Justice, di mana ia membagi teori

keadilan-nya menjadi dua bagian, isi (content) dan metode (method). Menurut

Paul Graham, teori keadilan Rawls membagi teorinya menjadi dua bagian. Bagian

pertama membahas mengenai metode (method) Rawls menemukan

prinsip-prinsip keadilan sosial. Bagian kedua membahas mengenai ―isi‖ atau ―substansi‖

(25)

melainkan satu kesatuan yang membentuk konsepsinya tentang keadilan sosial

ideal. 14

C. BATASAN DAN RUMUSAN MASALAH

Dari uraian dalam latar belakang masalah dan tinjauan pustaka di atas,

maka agar pembahasan mengenai keadilan sosial di sini tidak terlalu melebar,

penulis akan membatasi pembahasan ini pada konsepsi keadilan sosial yang

ditawarkan John Rawls dengan mengurai teorinya dan perspektif yang

diajukannya.

Dengan pembatasan masalah seperti ini, maka permasalahan yang akan

menjadi objek dan fokus penulisan ini adalah bagaimana konsepsi keadilan sosial

menurut John Rawls.

D. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui dan memahami secara lebih

jelas konsepsi ideal yang ditawarkan oleh John Rawls mengenai keadilan sosial.

Serta melakukan analisis kritis terhadapnya. Sementara kegunaan penelitian ini

adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut:

1. Mengetahui bagaimana timbulnya masalah keadilan sosial, sumber

ketidakadilan sosial, dan apa saja yang harus dibagi dengan adil

kepada semua anggota masyarakat?

2. Mengetahui prinsip-prinsip dasar bagi terwujudnya sebuah masyarakat

yang adil

14

(26)

3. Mengetahui metode dalam membangun sebuah konsensus rasional

dalam merumuskan prinsip-prinsip keadilan substantif.

4. Mengetahui konsepsi ideal mengenai keadilan sosial bagi terciptanya

sebuah masyarakat yang tertata dengan baik, atau mengetahui

bagaimana seharusnya masyarakat diatur dengan baik dan benar?

E. METODOLOGI PENELITIAN DAN TEKNIK PENULISAN

Dalam menyusun skripsi ini, penulis menggunakan satu metodelogi

penelitian, yaitu studi kepustakaan. Studi kepustakaan bertujuan untuk

memperoleh data melalui sumber bacaan meliputi buku-buku dan artikel yang

ditulis oleh John Rawls, khususnya buku A Theory of Justice15 yang memuat

secara lengkap teorinya. Selain itu studi kepustakaan ini akan diperkaya dengan

sejumlah data yang ditulis oleh penulis lain mengenai Rawls atau mengenai

teorinya, atau juga mengenai keadilan sosial secara umum dan lain sebagainya

yang berkenaan dengan pembahasan skripsi.

Sementara teknik penulisan dalam karya tulis ini, analisis data yang

digunakan bersifat kualitatitf dengan teknik pembahasan deskriptif analitis yang

bertujuan menggambarkan konsep keadilan sosial ideal menurut John Rawls.

Tentu saja, pengumpulan data, pembahasan masalah, dan penulisan dalam

skripsi ini disesuaikan dengan Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis,

Dan Disertasi) yang diterbitkan Center for Quality Development and Assurance

(CeQDA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

15

(27)

F. SISTEMATIKA PENULISAN

Setelah penulis memaparkan latar belakang masalah, pokok-pokok

masalah, tujuan, metode, serta sistematika penulisan, pada bab BAB II penulis

mencoba memaparkan dengan jelas riwayat hidup, latar belakang pendidikan,

karya-karya tulis ilmilahnya, dan latar belakanng tradisi pemikirannya.

Pada BAB III, penulis akan menyajikan tinjauan umum atas teori

keadilannya. Penjelasan pada ini bertujuan memberikan pemahaman umum

mengenai teorinya sebelum memasuki konsepsinya mengenai keadilan sosial. Di

BAB III ini, penulis sudah mulai memasuki bagian teorinya. Kendati demikian,

poin-poin yang dijelaskan lebih pada pokok-pokok atau gambaran besar dari

teorinya. Dengan demikian, tidak ada terjadi tumpang tindih dengan bab

setelahnya, dan justru menjadi batu pijakan awal yang lebih mudah dalam

memahami pembahasan bab selanjutnya. Pokok-pokok teorinya yang akan

dibahas adalah tujuan dan latar belakang teorinya, gagasan utama teorinya,

Justice as Fairness‖, dan metode yang digunakan dalam teori keadilannya.

Uraian dalam BAB IV dibagi menjadi tiga bagian. Pada bagian pertama

penulis menguraikan lebih dahulu mengenai lingkup masalah keadilan sosial.

Pembahasan ini mencakup timbulnya masalah keadilan sosial, subjek utama

keadilan sosial, dan nilai-nilai sosial primer, yakni hal-hal yang harus dibagi

dengan adil kepada semua orang.

Lalu bagian kedua menguraikan mengenai isi dari prinsip-prinsip keadilan

sosial yang dikemukan secara intuitif oleh Rawls, yakni dua prinsip keadilan

(28)

aturan prioritas antara kedua prinsip tersebut. Dan bagian ketiga, uraiannya

mengenai syarat prinsip keadilan sosial yang harus disepakati oleh semua orang.

Dalam hal ini penulis menjelaskan posisi asali, yakni metode yang digunakan

(29)

BAB II

BIOGRAFI JOHN RAWLS

A. Riwayat Hidup Dan Pendidikan John Rawls

John (Jack) Bordley Rawls lahir pada 21 Februari 1921 di Balltimore,

Maryland, Amerika Serikat. Dia anak kedua dari pasangan William Lee dan

Anna Abell Stump. William Lee dan Anna Rawls memiliki lima orang putra:

William Stowe (Bill), John Bordley (Jack), Robert Lee (Bobby), Thomas

Hamilton (Tommy), dan Richard Howland (Dick). Kedua orang tuanya berasal

dari keluarga yang mapan. Kakek-nenek Rawls dari garis ibunya adalah keluarga

kaya yang tinggal di Greenspring Valley, sebuah daerah elit pinggiran kota

Balltimore. Kekayaan yang begitu banyak itu berasal harta warisan, seperti

tambang minyak dan batubara di Pennsylvania. Mereka dikaruniai empat orang

putri: Lucy, Anna (ibu Rawls), May, dan Marnie.1

Keluarga Rawls berasal dari Utara, dimana nama ‗Rawls‘ masih cukup

lazim digunakan. Kakek dari garis ayahnya, William Stowe Rawls, adalah

seorang bankir di sebuah kota kecil dekat Greenville, Carolina Utara. Karena

menderita penyakit TBC (tuberculosis), William Stowe pindah bersama istri

beserta ketiga anaknya ke Balltimore pada tahun 1895 agar lebih dekat dengan

Rumah Sakit Universitas Johns Hopkins. Pasca pindah ke Balltimore, Ayah

Rawls, William Lee menderita TBC selama beberapa tahun, dan kesehatannya

yang tidak baik itu terus berlanjut hingga masa mudanya. Karena tidak cukup

1

(30)

biaya, William Lee terpaksa putus sekolah. Di usia 14 tahun, ia telah bekerja

sebagai pembantu di sebuah kantor hukum. Pekerjaannya itu pun membuka jalan

kesempatan bagi William Lee muda untuk membaca buku-buku hukum yang ada

di situ pada malam harinya. Ia mendidik dirinya sendiri dengan cukup baik

sehingga berhasil lulus ujian pengacara tanpa pendidikan formal apa pun. Dan ia

pun akhirnya menjadi seorang pengacara kondang, memiliki kantor hukum sendiri

dan terpilih menjadi ketua asosasi pengacara di Balltimore pada tahun 1919.2

Kedua orang tua Rawls memiliki minat yang kuat terhadap politik.

Ayahnya merupakan pendukung Liga Nasional, dan kawan akrab sekaligus

penasehat pribadi Albert Ritchie, seorang Gubernur Maryland dari Partai

Demokrat (1924-1936). Ia juga pernah menjadi penaseha t hukum Franklin D.

Roosevelt. Adapun ibu Rawls adalah perempuan pendukung0020gerakan

feminisme. Ia pernah menjabat sebagai presiden dari League of Women Voters di

daerah kediamannya. Karena latar belakang kedua orang tuanya itu, Rawls

disebut memiliki ―darah biru‖ oleh sebagian sahabatnya. Hal itu membuat Rawls

memiliki sense of noblese oblige.3

Pengalaman tragis di masa kecil Rawls yang sangat menggoncang keadaan

jiwanya adalah ketika ia harus kehilangan dua orang adiknya, Bobby dan Tommy

, akibat tertular penyakit yang diderita oleh Rawls. Bobby –usianya lebih muda

21 bulan- meninggal pada tahun 1928 setelah tertular penyakit diphteria dari

Rawls yang saat itu justru kondisinya justru semakin berangsur pulih. Sementara

itu, Tommy meninggal pada tahun berikut, tepatnya di bulan Febuari 1929, juga

2

Thomas Pogge, John Rawls, h. 4-5

3

(31)

setelah tertular penyakit pheunomia yang diderita oleh John Rawls. Sebagaimana

yang terjadi pada Bobby, Tommy juga meninggal ketika Rawls tengah berangsur

pulih dari penyakitnya. Menurut penuturan ibunya, kejadian tragis itu telah

mengoyak batin Rawls dan ‗memicu‘ bicara Rawls menjadi tidak lancar (gagap),

dan hal itu semakin bertambah parah di masa tuanya.4 Demikian riwayat masa

kecilnya.

Di samping itu, ada beberapa pengalaman masa kecil Rawls yang

memengaruhi kesadarannya akan keadilan. Kepekaan Rawls terhadap masalah

keadilan dan sesamanya tidak terlepas dari berbagai pengalaman masa kecilnya.

Pengaruh itu antara lain berasal dari ibunya yang merupakan seorang pejuang

hak-hak kaum perempuan. Selain itu, semasa kecil ia mengalami secara langsung

berbagai bentuk diskriminasi ras dan kelas sosial, di kota tempat ia tinggal.

Hampir 40 persen kota Balltimore itu penduduknya adalah orang-orang berkulit

hitam.

Rawls melihat langsung perlakuan yang membeda-bedakan manusia dari

warna kulitnya. Perlakuan berbeda atas para warga kulit hitam tampak jelas

baginya. Anak-anak berkulit hitam belajar di sekolah yang berbeda dan terpisah

dari anak-anak berkulit putih. Bahkan ibunya sendiri pun melarang dirinya

bergaul dengan anak-anak kulit hitam. Ibunya sempat marah besar kepadanya

ketika ia bermain ke rumah temannya yang berkuli hitam di daerah perkumuhan.

Hal itu karena Rawls sering bermain ke rumah anak itu yang berada di daerah

4

(32)

perumahan kumuh dan sempit yang menjadi ciri khas tempat tinggal orang-orang

berkulit hitam.5

Di samping itu, masih ada lagi peristiwa yang membuka kesadarannya

akan keadilan, yakni ketika ia melihat langsung kehidupan kaum miskin kulit

putih di desa Brooklin, tidak jauh dari rumah singgahnya selama musim panas.

Hampir kebanyakan masyarakat desa tersebut berprofesi sebagai nelayan dan

penjaga dari rumah-rumah musim panas yang banyak di daerah itu.

Pergaulannya yang luas dengan anak-anak miskin setempat membuka

kesadarannya bahwa kemiskinan yang dialami sebagian besar mereka telah

mempersempit peluang mendapat pendidikan dan masa depan yang lebih baik.

Kondisi yang amat berbeda dengan kota di mana ia tinggal.6 Pengalaman masa

kecilnya tersebut meninggalkan kesan yang begitu kuat sehingga telah

menggoreskan dan membangkitkan serta menumbuhkan sense of justice dalam

dirinya.

Lebih lanjut, mengenai pendidikan Rawls. Pendidikan dasar Rawls

dimulai di sekolah umum di kota Balltimore, tempat tinggalnya. Selesai di

sekolah itu, ia pun melanjutkan sekolah menengahnya di Kent, sebuah lembaga

pendidikan swasta di Connecticut, yang terkenal dengan mutu dan disiplinnya

yang tinggi. Di Connecticut ini pula Rawls memasuki suatu fase religius dalam

pengalaman hidupnya. Meski fase ini tidak berlangsung lama dan juga tidak

mendorong Rawls untuk menjadi seorang religius dalam arti konvensionalnya.

Kendati begitu, fase ini telah membawa pengaruh yang besar di dalam hidupnya.

5

Thomas Pogge, John Rawls, h. 6-7

6

(33)

Nilai-nilai religius bahkan cukup kuat tertanam di dalam dirinya. Oleh karena itu,

Rawls dikenal memiliki kepekaan religius yang relatif lebih tinggi dibanding

dengan rekan-rekannyanya sesama liberal.7

Pada tahun 1939, Rawls melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas

Princeton. Disini ia bertemu dan berkenalan dengan Norman Malcolm salah

seorang sahabat dan pengikut Wittgenstein. Perkenalannya dengan tokoh inilah

yang menimbulkan minat Rawls terhadap filsafat. Rawls menyelesaikan studinya

di Universitas Princeton dalam waktu singkat.

Selepas itu, ia masuk wajib militer dan ikut terlibat pertempuran pertama

kali dalam Perang Pasifik. Rawls juga sempat ditempatkan di Papua Nugini,

Filipina, dan Jepang. Selama masa tugas milter ini Rawls mengalami pengalaman

paling buruk sepanjang hidupnya. Tujuh belas temannya satu angkatan di

Universitas Princeton mati terbunuh, dan dua puluh tiga orang lainnya dari

angkatan di bawahnya juga meninggal karena keganasan perang.

Inilah mungkin, menurut kesaksian teman-temannya, alasan kenapa Rawls

tidak pernah mau bercerita mengenai pengalamannya sebagai tentara. Masa

perang, khususnya peristiwa pengeboman kota Hiroshima pada bulan Agustus

1945, telah menggoreskan pengalaman yang mengerikan bagi Rawls. Ketika

pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat menjatuhkan bom untuk mengakhiri

perlawanan Jepang, Rawls tengah bertugas di Pasifik.8

Selama kariernya, Rawls hampir tidak pernah menulis tentang

pengalamannya pada masa perang dunia tersebut. Setelah lima puluh tahun

7

Andre Ata Ujan,: Keadilan dan Demok rasi: Telaah Filsafat Politik John Rawls,

(Yogyakarta: Kanisius, 2001), h.14

(34)

kemudian, Rawls menulis artikel dalam jurnal politik Amerika, Dissent, terkait

pengalaman buruknya semasa perang. Dalam artikel tersebut, Rawls mengecam

keras penguasa Amerika Serikat atas keputusannya mem-bom atom Jepang. Ini

adalah satu-satunya artikel yang pernah ditulis Rawls sebagai tanggapannya atas

situasi politik konkret.9

Menurutnya, keputusan yang pada akhirnya membawa akibat jatuhnya

banyak korban dari warga sipil itu adalah suatu kesalahan terbesar yang tidak

pernah bisa diterima. Pada waktu itu, sesungguhnya tidak ada krisis sedemikian

gawat yang dapat dijadikan dasar. Meski demikian, bom atas kota Nagasaki dan

Hiroshima sesungguhnya membawa nasib baik juga bagi Rawls. Seandainya

keputusan membom atom kota tersebut tersebut tidak diambil, Rawls

bersama-sama temannya besar kemungkinan juga akan segera dikirim untuk berperang di

Jepang. Dan Rawls sendiri pun mungkin akan menjadi salah satu korban

keganasan perang.10

Pengalaman perang bagi Rawls sedemikian buruknya hingga ia lebih

memilih mundur ketika pangkatnya akan dinaikkan menjadi perwira. Ia bahkan

menjadi sangat benci pada perang. Pada tahun 1946, Rawls keluar dari dinas

militer dan memilih menjadi orang sipil. Rawls pun kemudian ikut bergabung

dengan kelompok Harvard yang menentang perang Vietnam, dan menolak

pengiriman mahasiswa untuk ikut wajib militer.

Kemudian, Rawls akhirnya menjalani hidupnya dengan kembali ke dunia

kampus untuk belajar kembali di almamater sebelumnya. Ia menulis disertasi

9

Joe Mandle, Rawls’s ‘A Theory of Justicean Introduction, (New York: Cambridge University Press, 2009) , h. 6-7

10

(35)

untuk menjadi doktor dalam bidang filsafat moral. Pada tahun 1945-1950, tahun

terakhir kuliahnya, Rawls sempat mengambil mata kuliah teori politik.

Pengetahuannya dalam bidang inilah yang kemudian mendorongnya lebih jauh

untuk menulis sebuah risalah mengenai keadilan. Oleh karena itu, apabila dihitung

dari tahun pertama munculnya ide untuk menulis risalah tersebut, maka boleh

dikatakan bahwa Rawls memerlukan 20 tahun untuk mempersiapkan lahirnya A

Theory of Justice.11

Pasca studi doktoralnya, ia mengajukan diri untuk menjadi pengajar.

Meski Rawls adalah seorang yang brilian, tetapi Princeton rupanya tidak terarik

untuk meliriknya. Karena itu, Rawls akhirnya menerima tawaran untuk memberi

kuliah di Oxford. Di universitas inilah Rawls mulai merumuskan konsep ―the

original position‖, meskipun konsep tersebut secara matang baru muncul ketika ia

memperbaiki gagasannya mengenai "the veil of ignorance‖. Di Universitas

Oxford, Rawls setahun memberi perkuliahan. Pada tahun 1953, Rawls menulis

artikel ―Justice as Fairness‖ yang merupakan gagasan inti teori keadilannya.

Ketika itu, Rawls berusia 30-an tahun dan artikel tersebut merupakan

artikelnya yang ketiga. Pada tahun 1960, draft A Theory of Justice

diperkenalkannya di dalam sebuah seminar. Draft awal teori keadilan ini terus

digumulinya secara tekun sampai pada akhirnya siap diterbitkan sebagai bukunya

pada tahun 1971. Pada awal tahun 1960-an, Rawls mendapat sebuah kedudukan

penting di Massachussets Institute of Technology (MIT). Akan tetapi, dua tahun

kemudian ia pindah ke universitas Harvard dan menjadi guru besar di universitas

11

(36)

tersebut hingga akhir hidupnya. Setelah terbit A Theory of Justice, Rawls masih

terus rajin menulis berbagai artikel. Dalam arti tertentu, artikel-artikel ini

menjelaskan lebih lanjut bahkan mengoreksi sebagian gagasannya di dalam A

Theory of Justice, sebuah master piece yang telah menghantarnya menjadi filsuf

terkemuka di dalam bidang filsafat moral dan politik. Pelbagai karangan itulah

yang kemudian di-edit dan diterbitkan dalam bukunya Politcal Liberalism,

1993.12

Rawls menikah dengan Margaret Fox, seorang pelukis yang baru lulus dari

bangku Universitas Brown, pada tahun 1949. Rawls sendiri juga dikenal sebagai

seorang pengamat dan kritikus seni, khususnya seni Amerika. Pandangannya

mengenai seni ini juga banyak membantu karya seni istrinya. Sebaliknya, istrinya

pun sangat mendukung kariernya. Pada saat menghabiskan bulan madunya,

mereka bersama-sama menyusun indeks sebuah buku mengenai Nietzsche yang

ditulis oleh Walter Kauffman.

Hingga menjelang masa pensiunnya, Rawls masih mengajar di Universitas

Harvard. Aktivitas itu akhirnya berhenti setelah ia terkena serangkaian stroke

yang membuat diri makin lemah hingga tidak lagi mampu mengajar. Dan pada

tahun 2002, Rawls meninggal dunia akibat gagal jantung di rumahnya di

Lexington, Mass. Dia meninggalkan istrinya, Margaret Warfield Fox Rawls,

empat anak - Anne Warfield, Robert Lee, Alexander Emory, dan Elizabeth Fox -

dan empat cucu.13

***

12

Joe Mandle, Rawls’s ‘A Theory of Justice‘.

13Ken Gewertz, ―John Rawls, Influental Political Philosopher Dead at 81‖, artike

(37)

B. Karya-Karya Ilmiah Dan Pengaruhnya

Rawls adalah seorang pemikir yang produktif dalam menuangkan

gagasannya ke dalam tulisan. Gagasan Rawls tersebar dalam bentuk artikel ilmiah

maupun buku. Artikel-artikel tersebar di berbagai jurnal filsafat terkemuka seperti

Philosophical Review,dan Journal Philosophy, maupun di dalam buku-buku yang

membahas tema-tema tertentu. Oleh karena itu, karya-karya Rawls disini dibagi

dalam dua bagian: buku dan artikel. Karya-karya Rawls yang berupa artikel antara

lain:

1. ―Review of An Examination of The Place of Reason in Ethics‖, artikel

dalam jurnal Philosophical Review, 1951

2. ―Justice as Fairness‖, 1954. Artikel Rawls dalam jurnal Philosophical

Review yang merupakan gambaran dan ide dasar awal tentang gagasan

utama tentang keadilan yang kemudian secara komprehensif dijelaskan

dalam bukunya A Theory of Justice.14

3. ―Replay to Lyon and Teitleman‖, artikel dalam Journal of Philosophy,

1972

4. ―Fairness to Goodness‖. Artikel dalam jurnal Philosophical Review,

1975.15

5. ―Kantian Constructivism in Moral Theory‖. Artikel Rawls dalam Journal

of Philosophy, 1980.

6. ―Basic Liberties and Their Priority. Artikel Rawls dalam buku Liberty,

Equality and Law, 1987.

14

Bur Rasuanto, Keadilan Sosial,Pandangan Deontologis Rawls dan Habermas: (Jakarta, Gramedia, 2004), h. 25

15

(38)

7. ―Themes in Kant‘s Moral Philosophy‖, artikel Rawls dalam buku Kant’s

Trancendental Deductions: The Three Critiques and Opus Postumum,

1989.16

8. ―Roderick Firth, His Life and Work‖, artikel Rawls dalam buku

Philosophy and Phenomenological Research, 1991.

9. ―Reconciliaton through The Public Use of Reason‖ (Reply to Jurgen

Habermas), artikel Rawls dalam Journal Philosophy, 1992.17

Sedangkan karya-karya Rawls yang berbentuk buku antara lain:

1. A Study in the Ground of Ethical Knowledge, Considered with Reference

to Judgement on the Moral Worth of Character. Ini merupakan disertasi

Rawls untuk meraih gelar Phd.

2. A Theory of Justice, 1971

3. Political Liberalism, 1993

4. The Law of Peoples, with”The Idea of Public Reason Revisen‖, 1999

5. Collected Papers, buku ini merupakan kumpulan 27 artikel yang ditulis

oleh Rawls dari tahun 1951 hingga 1998.

6. Lectures on History of Moral Philosophy, buku ini merupakan kumpulan

perkuliahan Rawls yang dikumpulkan oleh Barbara Herman, 2001.

7. Justice as Fairness: A Restatement, 2001.

16

Thomas Pogge, John Rawls, h. 199-200

17

(39)

8. Lectures on Political Philosophy, buku ini juga merupakan kumpulan

perkuliahan Rawls ketika ia menjadi dosen yang dikumpulkan oleh

Samuel Freeman.18

Di antara sekian karya-karya John Rawls tersebut, A Theory of Justice

-terbit pertama kali pada tahun 1971- adalah master piece yang membuat Rawls

dikenal sebagai pemikir terkemuka dalam bidang filsafat politik pada abad ke-20.

Buku ini merupakan salah satu buku paling berpengaruh dalam filsafat moral dan

filsafat politik sepanjang seratus tahun terakhir. Buku ini tidak hanya dibaca oleh

para pengkaji dan peminat filsafat, tetapi juga oleh orang-orang yang bekerja di

berbagai bidang, semisal ilmu politik, hukum, dan kebijakan sosial.19 Tidak

mengherankan apabila A Theory of Justice yang tebalnya mencapai 600 halaman

hingga saat ini telah diterjemahkan ke 23 bahasa dari berbagai macam bahasa di

dunia.

Buku ini dianggap telah membangkitkan dan mensemarakkan kembali

gairah kajian filsafat politik yang sebelumnya sempat meredup. Sampai lebih

separuh pertama abad ke-20, filsafat politik tidak mengalami perkembangan

istimewa karena tidak ada lagi karya-karya besar yang lahir sejak karya John

Stuart Mill. Keadaan itu berubah setelah terbit A Theory of Justice, 1971. A

Theory segera mendapat sambutan luas, dan dibicarakan di berbagai jurnal filsafat

dan mimbar akademi, khususnya di wilayah berbahasa Inggris. Buku ini telah

melahirkan sejumlah tanggapan, sambutan dan perdebatan di berbagai jurnal

18

Untuk semua sumber informasi pada bagian karya berbentuk buku yang ditulis Rawls, penulis merujuk seluruhnya pada buku Thomas Pogge sebagai telah disebut diatas. Thomas Pogge, John Rawls, h.200

19

(40)

maupun mimbar akademik. Setelah A Theory terbit, wacana filsafat politik

mengalami perkembangan dan orientasi baru, bahkan bergerak meluas dari tema

sentral keadilan sosial ke masalah hak, kebebasan, human subject, komunitas, dan

teori moral sendiri, memperkaya tema-tema tradisional seperti masalah legitimasi,

kekuasaan, hakikat hukum dan lainnya.

Arti penting A Theory of Justice dalam kajian filsafat setidaknya

mencakup dua hal, sebagaimana diutarakan Will Kymlicka. Kymlicka

mengatakan A Theory memiliki dua arti penting. Pertama, Rawls memiliki arti

penting historis tertentu dalam mendobrak intusionisme dan utilitarianisme.

Sebagaimana diketahui, utilitarianisme adalah pandangan moral yang

mendominasi seluruh periode filsafat modern, sekaligus menjadi doktrin moralitas

politik paling dominan. Berbagai kritik ditujukan kepada utiltarianisme karena

dianggap tidak mampu menjamin keadilan sosial, dan menempatkan manusia

sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan.

Sejumlah pandangan dan teori muncul dari berbagai pemikir untuk

mengatasi pandangan utilitarianisme. Satu di antaranya adalah John Rawls. Teori

keadilannya salah satu tujuannya adalah mengatasi dan membersihkan

utilitarianisme dari teori-teori keadilan. Kedua, teori Rawls mendominasi filsafat

politik, bukan dalam arti disepakati secara luas, tetapi dalam arti bahwa para ahli

teori yang muncul belakangan harus mempertegas dirinya sebagai dirinya

berlawanan dengan Rawls atau tidak. Mereka menjelaskan apa teori mereka

(41)

memahami karya tentang keadilan yang muncul belakang ini jika kita tidak

memahami Rawls‖, kata Kymlicka.20

Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Will Kymlicka, polemik sekitar

buku Rawls membawa dampak positif dalam merangsang dilakukannya

penelitian-penelitian luas dan mendalam dalam filsafat praktis, baik dari sisi

filsafat politik maupun dari sisi filsafat moral. Hal itu juga diikuti suburnya

karya-karya baru baik berupa artikel di jurnal-jurnal dan rangkaian publikasi besar yang

langsung maupun tidak langsung membahas tema-tema di atas.

Publikasi-publikasi filsafat praktis setelah terbitnya A Theory of Justice umumnya bertolak

dari, mengacu kepada, dirangsang oleh, atau bahkan mengarahkan sasaran

terhadap tesis Rawls.

Karya Rawls lainnya yang juga penting adalah Political Liberalism, terbit

pertama kali pada tahun 1993. Isi buku ini di samping mengoreksi beberapa aspek

teori yang sudah dikemukakannya, juga memperjelas pikiran-pikiran pokok yang

mendasari status teorinya justice as fairness sebagai konstruktivisme politik. Di

buku ini, Rawls mengemukakan bahwa teori keadilannya berada dari latar tradisi

politik tertentu, yakni tradisi politik liberalisme. Hal ini menegaskan bahwa

prinsip keadilannya didasarkan pada landasan politik bukan landasan metafisis

dari nilai atau kepercayaan tertentu dalam kelompok masyarakat.

Lalu ada Law of Peoples yang terbit pada tahun 1996. Buku ini membahas

mengenai pandangan Rawls tentang masalah keadilan dalam konteks hubungan

internasional. Di sini Rawls membahas mengenai prinsip-prinsip keadilan dalam

20

(42)

kontek hubungan internasional. Hal ini merupakan perluasan dan kelanjutan dari

gagasannya sebelumnya mengenai prinsip-prinsip keadilan bagi struktur dasar

masyarakat.

C. Latar Belakang Tradisi Pemikiran

Lingkup pemikiran ataupun teori seorang filsuf tidak lahir begitu saja dari

ruang hampa. Seringkali teori ataupun pemikiran lahir sebagai kritik,

pengembangan, perluasan dan sebagainya, atas teori ataupun tradisi pemikiran

yang telah ada sebelumnya. Begitu juga halnya dengan pemikiran John Rawls. Di

sini, penulis hanya menulis secara singkat tradisi-tradisi pemikiran yang berkaitan

dengan teori keadilannya. Antara lain, tradisi politik liberalisme egalitarian, tradisi

kontrak sosial semisal John Locke, JJ. Rousseau, dan pandangan utilitarianisme.

Pertama, tradisi politik liberalisme. Liberalisme adalah doktrin moralitas

politik normatif, atau filsafat politik normatif, yakni seperangkat argumen moral

mengenai justifikasi tindakan politik dan institusi-institusi. Rawls sendiri

memahami liberalisme sebagai produk zaman Reformasi abad ke-16 di Eropa

yang melahirkan pluralitas agama, berkembangnya negara modern dengan

administrasi pusat yang menggeser kekuasaan raja, dan berkembangnya sains

modern pada abad ke-17.21

Liberalisme menuntut masyarakat ditata secara netral dan adil, tanpa acuan

pada nilai dan kepercayaan masing-masing kelompok. Masyarakat yang tertata

dengan baik ialah masyarakat yang diatur dengan adil. Dalam arti, masyarakat

tertata baik atau gambaran mengenai masyarakat ideal ialah apabila ia didasarkan

21

(43)

pada prinsip moral dasar. Dan keadilan adalah prinsip moral dasar. Para filsuf

yang berada dalam tradisi ini antara lain Jurgen Habermas, John Rawls, Karl Otto

Apel, dan sebagainya. Dalam tradisi Immanuel Kant, mereka mencari

prinsip-prinsip moral dasar kehidupan masyarakat. Dan karena prinsip-prinsip moral dasar adalah

keadilan, maka mereka mencari pendasaran suatu prinsip universal. 22 Karena itu,

filsuf ini juga sering disebut filsuf Neo-Kantian.

Dengan demikian, teori keadilan Rawls yang dikembannyak berasal dalam

tradisi liberalisme. Konsekuensinya, teorinya hanya cocok diterapkan dalam

masyarakat yang tradisi politiknya adalah demokrasi liberal, atau demokrasi

konstitusional. Tetapi perlu dilihat bahwa liberalisme Rawls berbeda dengan

liberalisme klasik yang justru dikritik olehnya. Bahkan bisa dikatakan liberalisme

Rawls melampaui titik perjuangan liberalisme itu sendiri dan juga sosialisme.

Karena teorinya berhasil menyatukan dua nilai dasar, kebebasan dan

kesamaan, yang selama ini sulit disatukan, bahkan seolah mustahil. Dalam prinsip

keadilannya, Rawls menempatkan persamaan dalam kerangka persamaan hak-hak

dan kebebasan fundamental. Oleh karena itu, liberalisme Rawls harus dililhat

―liberalisme egalitarian‖, bukan dalam kerangka liberalisme klasik. Karena

masyarakat yang diatur menurut prinsip kebebasan saja, justru yang terjadi adalah

ketidakbebasan, sementara jika didasarkan pada prinsip kesamaan saja, yang

terjadi justru ketidaksamaan.

Kedua, tradisi kontrak sosial. Tujuan Rawls menggunakan teori kontrak

sosial karena, menurutnya, masyarakat tertata dengan baik (well-ordered society)

22

Gambar

tabel yang dibuat oleh Rawls.41

Referensi

Dokumen terkait

Karyawan memberikan reaksi terhadap informasi tentang kesesuaian pemberian perlakuan yang adil antara hak dan kewajiban dalam suatu prosedur keadilan. 6

Tak satupun anggota masyarakat dari seluruh bangsa di dunia yang tidak menginginkan perlakuan adil. Hal ini menjadi tugas atau peran institusi yang ada dalam setiap

Solidaritas bersama dalam bangsa Israel, yang coba diangkat oleh Amos adalah pengahargaan kepada orang lain sebagai sesama ciptaan Tuhan yang patut diperlakukan dengan

sudah mengabdikan hidupnya untuk bekerja di perusahaan sehingga perusahaan tersebut dapat berjalan, sehingga sudah menjadi hak pekerja untuk mendapatkan hak-hak

Pemerintah dan masyarakat dapat memperkuat upaya perlindungan hak-hak penyandang disabilitas dengan mengadopsi perspektif Sila Kelima Pancasila. Sebab, prinsip keadilan sosial menjadi landasan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh negara Indonesia. Semangat keadilan sosial dalam penerapan nilai-nilai Pancasila tercermin dalam kesetaraan, pengakuan hak, dan partisipasi penuh penyandang disabilitas di segala bidang kehidupan. Dalam perspektif Sila Kelima Pancasila, sekolah inklusif berfungsi sebagai sarana untuk mengamalkan prinsip keadilan sosial dan memberikan layanan pendidikan kepada anak penyandang disabilitas, tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, sosial, emosional, atau lainnya. Gagasan ini menegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama atas pendidikan yang bebas dari diskriminasi. Pembelajaran, pengajaran, kurikulum, sarana dan prasarana, serta sistem penilaian, semuanya diciptakan dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusi. Hal ini untuk memastikan mereka dapat menyesuaikan diri dan mendapatkan pendidikan terbaik berdasarkan kemampuan unik mereka. Sekolah inklusif tidak hanya memperhatikan berbagai keadaan siswanya, tetapi juga memperlakukan mereka dengan layak, memperhatikan minat, jiwa, serta aspek masyarakat dengan segala kreatifitas, empati, dan pemberdayaan