BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA
JURNAL
JBSP
DITERBITKAN OLEHPROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DENGAN
MASYARAKAT LINGUISTIK INDONESIA (MLI)
CABANG UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT, BANJARMASIN DAN
HIMPUNAN SARJANA KESUSASTERAAN INDONESIA (HISKI) DAERAH BANJARMASIN
JILID 2, NOMOR 1, APRIL 2012 ISSN 2089-0117
JBSP
JILID 2 NOMOR 1 HALAMAN1-138 BANJARMASIN APRIL 2012 ISSN 2089-0117 9 7 7 2 0 8 9 0 1 1 0 0 0 I S S N 2 0 8 9 - 0 1 1 7
Terbit dua kali setahun pada bulan April dan Oktober. Berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian atau hasil pemikiran di bidang bahasa, sastra, dan pembelajarannya.
ISSN 2089-0117 Ketua Penyunting M. Rafiek Penyunting Pelaksana Rusma Noortyani Noor Cahaya Dwi Wahyu Candra Dewi Penelaah Ahli (Mitra Bebestari) Imam Suyitno (Universitas Negeri Malang) Hilaluddin Hanafi (Universitas Halu Oleo, Kendari)
M. Siddik (Universitas Mulawarman, Samarinda) Akmal Hamsa (Universitas Negeri Makasar) Suminto A. Sayuti (Universitas Negeri Yogyakarta) Zulkifli (Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin) Jumadi (Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin) Rustam Effendi (Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin)
Pelaksana Tata Usaha Noor Fajriah
Pembantu Pelaksana Tata Usaha Deny Erwansyah
Ratna Yulinda Rezki Amelia
Alamat Penyunting dan Tata Usaha: Ruang bidang Akademik Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kode Pos 70123, Gedung Sekretariat Bersama Lt. II Jl. Brigjend. H. Hasan Basry Telepon/Fax. (0511) 3308295. E-mail : [email protected]
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA diterbitkan sejak 1 April 2011 oleh Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia (HISKI) Daerah Banjarmasin dan Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) cabang Universitas Lambung Mangkurat
Penyunting menerima sumbangan tulisan yang belum pernah diterbitkan oleh media yang lain. Naskah diketik di atas kertas HVS kuarto spasi ganda sepanjang lebih kurang 20 halaman, dengan format seperti tercantum pada halaman belakang (Petunjuk bagi Calon Penulis JBSP). Naskah yang masuk dievaluasi dan disunting untuk keseragaman format, istilah, dan tata cara lainnya.
Petunjuk bagi (Calon) Penulis
Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya (JBSP)
1. Artikel yang ditulis untuk JBSP meliputi hasil pemikiran dan hasil penelitian di bidang bahasa, sastra, dan pembelajarannya. Naskah diketik dengan huruf Times New Roman, ukuran 11 pts, dengan spasi At least 11 pts, dicetak pada kertas A4 sepanjang maksimum 20 halaman, dan diserahkan dalam bentuk print out sebanyak 3 eksemplar beserta disketnya. Berkas (file) dibuat dengan Microsoft Word.
2. Nama penulis artikel dicantumkan tanpa gelar akademik dan ditempatkan di bawah judul artikel. Jika naskah ditulis oleh tim, penyunting hanya berhubungan dengan penulis utama atau penulis yang namanya tercantum pada urutan pertama. Penulis perlu memcantumkan alamat e-mail dan/atau alamat korespondensi.
3. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan format esai, disertai judul pada masing-masing bagian artikel kecuali bagian pendahuluan yang disajikan tanpa judul bagian. Judul artikel dicetak dengan huruf besar di tengah-tengah, dengan huruf sebesar 14 poin. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan jenis huruf yang berbeda (semua judul bagian dan sub bagian dicetak tebal atau tebal dan miring), dan tidak menggunakan angka atau nomor pada judul bagian:
PERINGKAT 1 (HURUF BESAR SEMUA, TEBAL, RATA TEPI KIRI) Peringkat 2 (Huruf Besar Kecil, Tebal, Rata Tepi Kiri)
Peringkat 3 (Huruf Besar Kecil, Tebal-Miring, Rata Tepi Kiri)
4. Sistematika artikel telaah adalah: judul; nama penulis (tanpa gelar akademik); abstrak (maksimum 100 kata); kata kunci; pendahuluan yang berisi latar belakang dan tujuan atau ruang lingkup tulisan; bahasan utama (dapat dibagi ke dalam beberapa subbagian); penutup atau kesimpulan, daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk).
5. Sistematika artikel hasil penelitian adalah: judul; nama penulis (tanpa gelar akademik), abstrak (maksimum 100 kata) yang berisi tujuan, metode, dan hasil penelitian; kata kunci; pendahuluan (tanpa judul) yang berisi latar belakang, sedikit tinjauan pustaka, dan tujuan penelitian, metode; hasil; pembahasan; kesimpulan dan saran; daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk).
6. Sumber rujukan sedapat mungkin merupakan pustaka-pustaka terbitan 10 tahun terakhir. Rujukan yang diutamakan adalah sumber-sumber primer berupa laporan penelitian (termasuk skripsi, tesis, disertasi) atau artikel-artikel penelitian dalam jurnal dan/atau majalah ilmiah.
7. Perujukan dan pengutipan menggunakan teknik rujukan berkurung (nama, tahun). Pencantuman sumber pada kutipan langsung hendaknya disertai keterangan tentang nomor halaman tempat asal kutipan. Contohnya: (Rafiek, 2011: 2).
8. Daftar Rujukan disusun dengan tata cara seperti contoh berikut ini dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis.
9. Tata cara penyajian kutipan, rujukan, tabel, dan gambar mengikuti ketentuan dalam Pedoman Penulisan Karya Ilmiah atau mencontoh langsung dari artikel yang sudah terbit dalam JBSP.
10. Semua naskah ditelaah oleh penelaah ahli yang ditunjuk oleh penyunting menurut bidang kepakarannya. Penulis artikel diberi kesempatan untuk memperbaiki artikelnya atas saran perbaikan dari penelaah ahli. Kepastian pemuatan artikel ilmiah akan diberitahukan kepada penulis. 11. Segala sesuatu yang menyangkut izin pengutipan atau penggunaan software komputer untuk pembuatan naskah artikel atau hal ikhwal lain
yang terkait dengan HAKI yang dilakukan oleh penulis artikel termasuk konsekuensi hukum yang mungkin timbul karenanya, menjadi tanggung jawab penuh penulis artikel tersebut.
12. Sebagai prasyarat bagi pemrosesan artikel, para penyumbang artikel wajib menjadi pelanggan minimal selama satu tahun. Penulis yang artikelnya dimuat wajib membayar kontribusi biaya cetak sebesar Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) per judul. Sebagai imbalannya, penulis menerima nomor bukti pemuatan sebanyak 2 (dua) eksemplar.
Buku:
Rafiek, Muhammad. 2010. Psikolinguistik: Kajian Bahasa Anak dan Gangguan Berbahasa. Malang: Universitas Negeri Malang Press.
Buku kumpulan artikel:
Saukah, Ali & Waseso, Mulyadi Guntur (Eds.). 2002. Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang Press. Buku terjemahan:
Bucaille, Maurice. 1995. Firaun dalam Bibel dan Al-Quran: Menafsirkan Kisah Historis Firaun dalam Kitab Suci Berdasarkan Temuan Arkeologi. Terjemahan oleh Muslikh Madiyant. 2007. Bandung: Mizania.
Artikel dalam buku kumpulan artikel:
Bottoms, J. C. 1965. Some Malay Historical Sources: A Bibliographical Note. Dalam Soedjatmoko, Mohammad Ali, G. J. Resink, & G. MCT. Kahin (Eds.), An Introduction to Indonesian Historiography (hlm. 156-193). New York: Cornell University Press.
Artikel dalam jurnal:
Bertens, K. 1989. Etika dan Etiket Pentingnya Sebuah Perbedaan. Basis, XXXVIII (7): 266-273. Artikel dalam Koran:
Antemas, Anggraini. 6 Desember 2006. Adat Istiadat Perkawinan Urang Banjar (III), Bapingit-Badudus Sebelum Akad Nikah. Banjarmasin Post, tanpa halaman. Dokumen resmi berupa kamus atau pedoman atau undang-undang:
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 1990. Jakarta: PT Armas Duta Jaya. Skripsi, Tesis, Disertasi, Laporan Penelitian:
Rafiek, Muhammad. 2010. Mitos Raja dalam Hikayat Raja Banjar. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Makalah seminar, lokakarya, penataran:
Indriyanto. 2001. Peranan dan Posisi Ilmu Sejarah dalam Menjawab Tantangan Zaman. Makalah disajikan dalam Diskusi Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah di Semarang, Fakultas Sastra UNDIP, Semarang, 30 Mei.
Rujukan dari internet:
Ahmad, Syarwan. 2009. Filologi Hikayat Prang Sabi (Online), ( , diakses 18 Desember 2009).
Manuaba, Putera. 2001. Hermeneutika dan Interpretasi Sastra, (Online), ( , diakses 10 November 2009). http://blog.harian-aceh.com/filologi-hikayat-prang-sabi.jsp
http://www.angelfire.com/journal/fsulimelight/hermen.html
ISSN 2089-0117 JILID 2, NOMOR 1, APRIL 2012
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA
JBSP
KATA PENGANTAR
Pengelola Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya (JBSP) mulai jilid 2, nomor 1, April 2012 tampil dengan perubahan pada nama Program Studi Magister yang semula Program Studi Magister Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah menjadi Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Isi jurnal tetap 11 artikel ilmiah yang disaring dengan seleksi ketat oleh tim pengelola JBSP. Dalam terbitan ini pula, Pengelola jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya pun menambah satu orang penyunting pelaksana, yaitu Dra. Hj. Zakiah Agus Kusasi, M. Pd. dan satu orang penelaah ahli (mitra bebestari), yaitu Prof. Dr. Suminto A. Sayuti dari Universitas Negeri Yogyakarta.
Dalam terbitan ini kami juga masih menggunakan abstrak dalam bahasa Inggris dan rencananya dalam terbitan keempat, Oktober 2012, akan dilengkapi dengan abstrak berbahasa Indonesia. Dalam format penyajiannya, JBSP mengacu pada Jurnal Ilmu Pendidikan (JIP) Universitas Negeri Malang, Jurnal Linguistik Indonesia Masyarakat Linguistik Indonesia, dan Jurnal Humaniora Universitas Gadjah Mada. Khusus pencantuman nama penelaah ahli atau mitra bebestari, kami mengacu kepada Jurnal Linguistik Indonesia Masyarakat Linguistik Indonesia dan Jurnal Humaniora Universitas Gadjah Mada.
DAFTAR ISI
Hikayat Raja Banjar, Tutur Candi, dan Pararaton: Suatu Perbandingan
M. Rafiek (Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin) 5-17 Proposing the Future Implementation of E-Books for English (Rethinking of the Use
of E-Books in Indonesian Schools
Raudhatun Nisa (MTs Negeri Kelayan, Banjarmasin) 18-23 Tinjauan Strategis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing
Zulkifli (Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin) 24-30 Meningkatkan Kecepatan Membaca Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 11 Banjarmasin
dengan Metode SQ3R
Syafruddin Noor (SMAN 11, Banjarmasin) 31-44 Pengaruh Perlakuan Guru dalam Proses Pembelajaran terhadap
Penguasaan Kemampuan Siswa Membaca
Ahmad Yasluh (Universitas Palangka Raya) 45-51 Bentuk-Bentuk Sapaan Kekerabatan Bahasa Maanyan
Patrisia Cuesdeyeni (Universitas Palangka Raya) 52-65 Analisis Keefektifan Penulisan Judul Naskah Berita Warta Kalsel TVRI
Kalimantan Selatan Tahun 2010
Rusma Noortyani (Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin) 66-74 Pemerolehan Kalimat pada Anak Usia Dini
Nurril Rahmadani Maliq dan Jumadi (Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin 75-101 Pelaksanaan dan Pelanggaran Prinsip Kesantunan dalam Acara Big Brother Indonesia
di Trans TV
Ifriani Syahwinda dan Zakiah Agus Kusasi
Nilai-Nilai Karakter dalam Antologi Puisi Indonesia Modern Anak-Anak Terbitan Pusat Bahasa Depdiknas
Elsy Suriani (SMP Negeri 8, Palangka Raya) 114-125 Struktur dan Fungsi Mantra Masyarakat Dayak Deah Desa Pangelak
Kecamatan Upau Kabupaten Tabalong
HIKAYAT RAJA BANJAR, TUTUR CANDI, DAN PARARATON: SUATU PERBANDINGAN
M. Rafiek1
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Lambung Mangkurat, e-mail [email protected]
Abstract
This research is aimed at describing and explaining the comparison among Hikayat Raja Banjar and Pararaton. The result of the research encompasses findings on (1) the similarity of story motif of myth of miasma I in the story si Saban, (2) the similarity of story motif of myth of miasma II in the story of Raden Rangga Kesuma, and (3) the similarity of story motif of a character whose supranatural power, (4) unsuitability (name error) of king Majapahit in Hikayat Raja Banjar with that in the history.
Keywords: comparison, the similarity of story motif
PENDAHULUAN
Hikayat Raja Banjar (selanjutnya disingkat HRB) merupakan karya sastra sejarah dari Banjar, Kalimantan Selatan yang cukup fenomenal. Penelitian ini dimaksudkan untuk menanggapi tulisan Ras (dalam Hellwig dan Robson, 1986: 184-203) yang berjudul Hikayat Banjar dan Pararaton: A Structural Comparison of Two Chronicles. Dalam tulisannya itu, Ras menyatakan bahwa struktur isi dari HRB terdiri atas (1) pendirian Negara Dipa, (2) mitos asal-usul rumah (tempat tinggal) raja Banjar (kraton I) (3) raja-raja Negara Dipa, (4) pendirian Negara Daha (kraton II), (5) raja-raja Negara Daha, (6) pendirian Banjarmasin (kraton III), (7) raja-raja Banjarmasin, (8) pendirian Martapura (kraton IV). Ras juga menyatakan bahwa struktur isi dari Pararaton (selanjutnya disingkat P) terdiri atas (1) mitos asal-usul rumah (tempat tinggal) raja Singhasari, (2) raja-raja Tumapel-Singhasari, (3) pendirian Majapahit, dan (4) raja-raja Majapahit. Pada intinya, Ras ingin menyatakan bahwa HRB dan P sama-sama terbagi atas cerita empat masa pemerintahan. Penelitian ini ingin mengkritisi hasil temuan Ras tersebut dari sisi yang lain, yaitu dengan mengkaji perbandingan HRB dan P dari sisi kesamaan motif cerita. Memang seperti temuan Ras di atas bahwa HRB berisi cerita masa Negara Dipa, Negara Daha, Banjarmasih, dan Martapura, akan tetapi masa praIslam, khususnya masa Negara Dipa dan Negara Daha masih sangat gelap dasar historisnya.
Penelitian ini berusaha membuktikan bahwa apa yang sudah ditemukan oleh Ras sebenarnya hanya temuan struktur luar cerita HRB saja yang sama dengan P. Sekalipun dalam pembahasan selanjutnya dalam tulisannya tersebut, Ras membahas hubungan sastra antara Borneo dan Jawa, akan tetapi yang dibahas hanya kesamaan motif pelayaran saudagar dari Keling menuju Borneo dalam HRB dan cerita tentang Awab, saudara raja Gujerat yang berlayar ke Jawa dan menetap di sana. Cerita yang menurut Ras juga ditemukan dalam Serat Kanda. Menurut Ras, adanya episode Empu Jatmaka dalam HRB merepresentasikan pinjaman langsung dari sastra Jawa Pesisir. Kehadiran cerita tersebut dalam HRB menurut Ras, penting, karena hal itu membuktikan bahwa tradisi Kanda Jawa telah dikenal di Borneo Tenggara pada abad ke-16. Dalam perbandingannya atas HRB dan P, Ras (dalam Hellwig dan Robson, 1986: 196) memang ada menyatakan bahwa
motif Watu Gunung juga terjadi dalam HRB. Berdasarkan penjelasan di atas, memang Ras dalam tulisannya itu sudah ada sedikit membahas tentang adanya kesamaan motif cerita antara HRB
dan P, namun tidak dibahasnya secara jelas dan terperinci. Untuk itu, penelitian ini sangat penting dilakukan untuk menemukan persamaan apa saja yang ada antara HRB dan P itu.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan perbandingan, dalam hal ini persamaan antara HRB, Tutur Candi (TC), dan P. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pembacaan dan pencatatan serta analisis isi. Teknik pembacaan dan pencatatan digunakan untuk mengumpulkan data penelitian, sedangkan teknik analisis isi digunakan untuk menganalisis isi HRB, TC, dan P dari segi persamaan motif ceritanya. Sejalan dengan pendapat Holsti (1969: 116-118), analisis isi terdiri atas unit-unit yang tercatat, unit-unit konteks, dan menggunakan sistem enumerasi. Unit-unit hasil pembacaan dan pencatatan kemudian dibagi atas unit-unit konteks. Peneliti melakukan analisis unit-unit konteks dengan cara seperti dalam tabel di bawah ini.
Dengan teknik analisis isi diharapkan unit tercatat dapat disesuaikan dengan unit konteks. Untuk membatasi banyaknya data atau berulangnya data yang sama, peneliti menggunakan sistem enumerasi seperti yang disarankan oleh Holsti (1969: 119-120).
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Kesamaan Motif Cerita Mitos Miasma I
Cerita Maharaja Mangkubumi dibunuh oleh si Saban dan si Saban disuruh bunuh oleh Pangeran Tumenggung dalam HRB adalah cerita ’senjata makan tuan’ bagi orang yang disuruh. Cerita ini dimulai dengan pertentangan antara Maharaja Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung dalam menyelesaikan masalah si Saban yang berzina dengan si Harum. Masalah ini dimanfaatkan oleh Pangeran Tumenggung untuk menghasut si Saban agar dia membunuh Maharaja Mangkubumi. Pangeran Tumenggung beralasan bahwa si Saban akan dibunuh dengan cara diracun oleh Maharaja Mangkubumi. Si Saban pun akhirnya mau disuruh membunuh Maharaja Mangkubumi karena terus-menerus didesak oleh Pangeran Tumenggung. Setelah selesai membunuh, si Saban malah disuruh bunuh oleh Pangeran Tumenggung. Hal itu bisa dilihat pada kutipan di bawah ini.
Kemudian daripada itu hatta berapa lamanya maka kata Pangeran Tumenggung: “Hai Saban, maukah engkau membunuh Maharaja Mangkubumi itu? Kalau dia itu masih ada hidup tiada sebulan-sebulan engkau dibunuhnya, karena engkau masih disuruhnya matikan pada orang. Engkau barang kerjamu tiada sedap rasa hatimu. Baik kalau masih ada hajatku; kalau aku tiada akan tiada engkau dibunuhnya itu. Adapun kalau sudah mati maharaja itu, si Harum itu kuberikan pada engkau. Jangankan si Harum itu, meski barang yang lain itu engkau kehendaki, kuberikan”. Maka sembah si Saban: “Bisa hamba membunuh itu. Seperti apa hamba sekarang ini. Sudah terjauh, tiada hampir seperti dahulu itu”. Kata Pangeran Tumenggung: “Sahil itu”, artinya gampang itu, “nanti aku
berbuat sandi upaya maka gong. Maka Pangeran Tumenggung menyuruh perempuan empat orang kepada Maharaja Mangkubumi. Maka suruhan itu diajarinya berkata oleh Pangeran Tumenggung itu. Maka suruhan itu datang kepada Maharaja Mangkubumi itu, sembahnya: “Hamba dititahkan adinda Pangeran Tumenggung kepada paduka syah alam. Sembah adinda menyembahkan si Saban itu, karena sudah si Saban itu dinasihati adinda itu. Maka sembahnya hamba syah alam si Saban itu tiada dua-dua memohonkan ampun, hendak kembali, minta perhambakan kepada syah alam”. Maka kata Maharaja Mangkubumi: “Baik, kalau demikian si Saban itu suruh kemari”. Maka suruhan itu memohon kembali. Maka datang suruhan itu, sembahnya pada Pangeran Tumenggung: “Sabda kakanda Maharaja Mangkubumi: Si Saban itu suruh kembali karena sudah kuampuni”. Maka kata Pangeran Tumenggung: “Antarkanlah si Saban itu”. Sudah dipersembahkan oleh suruhan itu Pangeran Mangkubumi itu maka banyak tiada tersebut itu si Saban itu dipercayai pula seperti mulanya serta dijadikan sekali dengan si Harum itu. Maka si Saban itu hilanglah hatinya yang hendak membunuh itu (HRB edisi Ras alinea ke-170).
Hatta maka berapa lamanya maka si Saban disuruh panggil oleh Pangeran Tumenggung itu. Datang si Saban, kata Pangeran Tumenggung: “Hai Saban, bagaimana janji kita?” Kata si Saban: “Nanti jua dahulu, karena hamba mencari jalan yang patut”. Maka berkata demikian si Saban itu takut pada Pangeran Tumenggung itu karena katanya sudah bercakap itu. Kata Pangeran Tumenggung, berbuat sandi upaya membujuk si Saban itu: “Hai Saban, tiadakah engkau tahu engkau itu maka dijadikan dengan si Harum itu engkau hendak dibunuh? Supaya jangan serupa berubah katanya yang mengampuni engkau itu malu dia kepada orang raja-raja yang berubah katanya itu, itulah maka engkau hendak dimatikannya dengan racun; karena engkau itu masih hendak dibunuhnya jua itu oleh Maharaja Mangkubumi itu. Segera-segera engkau membunuh itu, kalau engkau kedahuluan dimakaninya racun”. Maka kata si Saban: “Kalau demikian tiada akan tiada aku dibunuh jua itu”. Maka sembahnya si Saban: “Malam nanti hamba membunuh kakanda itu”. Sudah itu si Saban memohon kembali. Maka dia membawa keris Pangeran Tumenggung itu, malela (HRB edisi Ras alinea ke-171).
Sudah itu, hari pun malam, maka Maharaja Mangkubumi berjejogetan bersuka-sukaan berminum-minuman. Si Saban itu masih hampir di bawah Maharaja Mangkubumi itu. Kira-kira sudah masuk dekat waktu dini hari besar, orang pun ada yang mabuk ada yang mengantuk itu, maka dihunusnya kerisnya itu serta menerjang menusuk di ulu hati Maharaja Mangkubumi itu, terus ke belakang; serta si Saban itu lari keluar, tiada terbuntuti itu karena orang sama gempar terkejut itu. Maka si Saban itu lari ke seberang bernenaung kepada Pangeran Tumenggung itu. Maka datang Aria Trenggana serta menteri sekaliannya. Si Saban dicari, tiada dapat. Maharaja Mangkubumi sudah payah, maka dia berkata: “Hai Aria Trenggana, si Saban itu jangan diapa-apakan karena tiada kehendaknya sendiri itu; karena itu kehendak adikku si Tumenggung, hendak menjadi raja mengganti kerajaanku ini. Tetapi anakku si Dayang Sari Bulan suruh peliharakan pada si Tumenggung itu”. Sudah itu maka Maharaja Mangkubumi itu mati (HRB edisi Ras alinea ke-172).
Si Saban itu datang dia pada Pangeran Tumenggung menyembahkan keris malela itu serta mengatakan perihalnya itu. Sudah itu si Saban ditangkap serta disuruh bunuh oleh Pangeran Tumenggung itu. Kata Pangeran Tumenggung: “Membahayakan pada aku pula. Maka benar seandainya orang ada mengupah menyuruh membunuh aku
dibunuhnya jua aku. Saling pada Maharaja Mangkubumi tiada akan kepalang kasihnya itu lagi dibunuhnya, istimewa aku”. Maka benar hatinya itu, lagi pula hendak melindungkan kejahatannya, Pangeran Tumenggung itu. Maka si Saban itu disuruhnya bunuh itu. Tetapi orang sekalian tahu akan perbuatan Pangeran Tumenggung itu. Banyak tiada tersebut (HRB edisi Ras alinea ke-173).
Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa Pangeran Tumenggung menyuruh si Saban untuk membunuh Maharaja Mangkubumi, kakaknya. Si Saban berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Sekembalinya dari membunuh itu, si Saban kemudian disuruh bunuh oleh Pangeran Tumenggung. Senjata yang digunakan oleh si Saban untuk membunuh Maharaja Mangkubumi adalah keris malela. Keris ini namanya sama dengan pisau yang digunakan oleh istri Empu Mandastana untuk bunuh diri. Kisah ’senjata makan tuan’ ini juga terdapat dalam P. Dalam P, Ken Arok membunuh Empu Gandring dengan keris buatan empu itu. Empu Gandring adalah pandai keris di Lulumbang. Cerita ini mengingatkan kita pada tokoh pembuat keris yang digunakan oleh Empu Mandastana bunuh diri. Dalam HRB edisi Ras, Empu Mandastana diceritakan bunuh diri dengan menggunakan keris Parungsari2 buatan Empu Lumbang di
Majapahit. Ada dugaan Empu Lumbang dalam HRB edisi Ras adalah pinjaman dari P. Empu Gandring, Pandai keris di Lulumbang lalu bersumpah bahwa Ken Arok dan keturunannya akan mati akibat keris itu. Ken Arok juga membunuh Tunggul Ametung dengan keris tersebut. Ken Arok akhirnya mati dibunuh oleh orang Batil dengan keris itu atas suruhan Anusapati, anak Tunggul Ametung dari Ken Dedes. Anusapati sendiri juga dibunuh oleh Raden Tohjaya, anak Ken Arok dari istri mudanya dengan menggunakan keris itu.
Cerita Maharaja Mangkubumi dibunuh oleh si Saban dan si Saban disuruh bunuh oleh Pangeran Tumenggung ini sebenarnya hampir mirip dengan kisah orang Batil dalam P. Orang Batil itu adalah suruhan Anusapati. Setelah berhasil membunuh Ken Arok, orang Batil sendiri akhirnya dibunuh oleh Anusapati. Hal itu sama dengan kisah si Saban dalam HRB edisi Ras. Si Saban disuruh membunuh Maharaja Mangkubumi oleh Pangeran Tumenggung. Setelah tugasnya berhasil, si Saban lalu disuruh bunuh oleh Pangeran Tumenggung. Di bawah ini disajikan mitos yang terdapat dalam P itu.
Tersebutlah seorang hamba Anusapati berpangkat pengalasan di Batil. Dipanggillah dia oleh Anusapati. Disuruhnya membunuh Ken Angrok. Diberinya keris buatan Mpu Gandring untuk membunuh sang Amurwabumi. Orang dari Batil itu dijanjikan akan diberi upah oleh Anusapati.
Berangkatlah orang Batil itu dan kemudian masuk ke dalam istana. Dijumpainya sang Amurwabumi sedang bersantap. Ditusuklah sang Amurwabumi dengan segera oleh orang Batil. Kejadian itu terjadi pada hari Kamis Pon, Minggu Landep, saat dia sedang makan, pada waktu senjakala, matahari telah terbenam dan ketika orang telah menyiapkan pelita pada tempatnya. Sesudah sang Amurwabumi mati, maka larilah orang Batil mencari perlindungan pada sang Anusapati. Orang Batil berkata, “Sudah wafatlah ayahanda tuan oleh hamba”. Kemudian orang Batil ditusuk oleh Anusapati (Komandoko, 2008: 36-37).
2 Kisah Keris Parungsari juga terdapat dalam PKN Dalam PKN , namanya adalah keris Parangsari. Keris
Parangsari adalah salah satu perangkat pakaian pria yang diberikan Resi Narada untuk Dewi Sekartaji ketika diubah menjadi pria (Sastronaryatmo dan Nitriani, 1983: 21-22).
Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa Anusapati menyuruh orang Batil untuk membunuh Ken Arok. Orang Batil akhirnya berhasil membunuh Ken Arok dengan menggunakan keris Empu Gandring. Setelah berhasil membunuh Ken Arok, orang Batil pun juga dibunuh oleh Anusapati. Dalam P dan HRB edisi Ras terdapat kesamaan, yaitu orang Batil dan si Saban sama-sama dijanjikan akan diberi hadiah jika berhasil membunuh maharaja. Tetapi setelah tugasnya berhasil, mereka malah dibunuh oleh orang yang menyuruh. Selain itu, setelah maharaja wafat, orang yang menyuruh membunuh pada akhirnya menjadi raja. Hal ini terlihat pada tokoh Anusapati dan Pangeran Tumenggung. Perbedaannya, tokoh Anusapati terbunuh oleh keris Empu Gandring, sedangkan tokoh Pangeran Tumenggung tidak terbunuh oleh keris malela.
Cerita pembunuhan Maharaja Mangkubumi oleh si Saban, suruhan Pangeran Tumenggung sama dengan kisah pembunuhan Ken Arok oleh pengalasan, suruhan Anusapati. Setelah si Saban membunuh Maharaja Mangkubumi, dia datang kepada Pangeran Tumenggung memberitahukan keberhasilannya itu. Namun akhirnya, si Saban disuruh bunuh oleh bawahan Pangeran Tumenggung, sedangkan dalam P, setelah orang Batil membunuh Ken Arok, dia datang kepada Anusapati memberitahukan keberhasilannya. Dia juga akhirnya dibunuh oleh Anusapati. Bedanya, si Saban membunuh Maharaja Mangkubumi, kakak Pangeran Tumenggung, sedangkan orang Batil membunuh Ken Arok, ayah tiri Anusapati. Di bawah ini disajikan cerita pembunuhan Maharaja Mangkubumi oleh si Saban sampai akhirnya dia sendiri dibunuh oleh Pangeran Tumenggung.
Dalam HRB dan P terdapat perbedaan keris yang digunakan untuk membunuh sang raja. Dalam HRB edisi Ras, keris yang digunakan oleh si Saban adalah keris malela, sedangkan dalam
P, keris yang digunakan oleh orang Batil adalah keris Empu Gandring. Keris malela si Saban itu adalah milik Pangeran Tumenggung. Nama keris malela itu mengingatkan kita kepada lading malela atau pisau malela yang digunakan oleh istri Empu Mandastana untuk bunuh diri di pinggir Candi Agung. Lading malela itu adalah buatan pandai besi di Negeri Keling yang kemudian diambil oleh Lembu Mangkurat. Di bawah ini disajikan pula cerita singkat peristiwa pembunuhan Ken Arok oleh orang Batil, suruhan Anusapati.
Ada pada Anusapati seorang pengalasan, berasal dari dusun Batil. Orang itu segera dipanggilnya. Ia diperintahkan membunuh sang Amurwabumi dengan keris pusaka Empu Gandring. Orang Batil itu lalu berangkat menuju kedaton. Pada waktu itu, sang Amurwabumi sedang bersantap. Dengan serta merta keris Gandring ditikamkan kepadanya. Ketika itu hari Kamis Pon Wuku Landep pada waktu senja; matahari baru saja terbenam. Orang Batil itu tergopoh-gopoh lari, mengungsi kepada Anusapati, katanya: “Telah mati terbunuh ayah paduka oleh hamba!” Dengan serta merta pula orang Batil itu dihabisi hidupnya oleh Anusapati. Kabar yang tersiar: “Sang Prabu mati kena amuk orang Batil. Anusapati angembari amuk. Pangalasannya dibunuh!
Kedua cerita dalam HRB edisi Ras dan P tersebut memberikan gambaran kepada kita tentang peristiwa senjata makan tuan. Namun tuan di sini bukan menimpa orang yang menyuruh tetapi menimpa orang yang disuruh. Senjata makan tuan itu menimpa si Saban dan orang Batil. Mereka disuruh membunuh seseorang kemudian mereka sendiri dibunuh oleh orang yang menyuruh. Cerita serupa ditemukan pula pada Pangeran Singasari yang dibunuh oleh si Bagar (alinea ke-260) dan Raden Kesuma Negara yang dibunuh si Rendah yang akhirnya dapat dibunuh oleh Kiai Tanuraksa (alinea ke-267). Kisah seperti dalam P itu juga ditemukan dalam TC edisi Kadir. Hal itu dapat diketahui dari kutipan di bawah ini.
.... Maka Pangeran Suka Rama di seberang itu pun dengan beberapa waktu sudah hendak membunuh tiada jua dapat. Maka pada suatu malam orang bermain wayang di rumah Pangeran Tumenggung. Maka kata Pangeran Suka Rama, “Hai kamu sekalian ini, adakah yang cakap membunuh kakanda itu”. Maka sembahnya yang sekalian, “Tiadalah hamba berani membunuh. Jangan membunuh, beritikat pun tiada berani jua”. Maka kata Pangeran Suka Rama, “Jika ada yang cakap aku gelari Pangeran Mas Prabu, untuk di bawahku dan sekalian perintah habis padanya. Lagi negeri sebuah kuberi padanya, dan istriku itu aku berikan seorang”. Maka di antara yang banyak itu ada seorang berdatang sembah, “Hamba orang Biyantu”. Sembahnya, “Ya tuanku, hambalah cakap membunuhnya”. Maka kata Pangeran Suka Rama, “Baiklah, jika engkau berani nanti aku gelari Pangeran Mas Prabu, buat di bawahku dan perintah habis padamu. Lagi negeri sebuah aku beri dan istri seorang aku berikan jua”. Maka kata pangeran, “Hai Danta, jika engkau cakap ini malam jua, karena Pangeran Tumenggung sidin jadi dedalang”. Maka sembah Danta, “Ya tuanku, hamba saat ini jua membunuh”. Maka kata pangeran, “Hai Danta, inilah keris pakai membunuh, tetapi jangan engkau celup ke air itu keris. Kalau engkau celup, tiadalah aku percaya padamu ini, supaya aku melihat keris”. Maka sembah Danta, “Hamba junjunglah titah tuanku ini”. Maka Danta pun terjunlah menyeberang air berenang serta datanglah, lalu ia naik pada tempat Pangeran Tumenggung itu, lalu ia duduk di belakang pangeran itu. Katanya pangeran, “Hai Danta, apakah habar ikam ini”. Maka sembah Danta sambil menangis-nangis sembahnya, “Ya tuanku pangeran. Hamba minta hidupi karena ulun hendak dibunuh oleh Pangeran Sukarama. Hamba tiada berisi bulan dan matahari lagi lain daripada tuanku ini”. Maka kata pangeran, “Jika demikian duduklah engkau di belakangku ini. Tiadalah Pangeran Suka Rama kemari lagi”. Maka Danta itu pun duduklah, maka Pangeran Tumenggung itu pun pada saat mengadu wayang itu, maka lalu saja ditikamnya oleh Danta dengan keris dari belakang, maka terus ke dada, maka Danta itu pun lari ke luar lalu terjun menyeberang dan keris itu dijunjungnya. Maka Pangeran Suka Rama itu menghadang di tebing, katanya, “Hai Danta, marilah keris ini aku melihat”. Lalu diberikannya oleh Danta. Maka kata Pangeran Suka Rama, “Hai Danta, engkau ini tiada berisi akal. Rakaku Pangeran Tumenggung raja besar, kamu bunuh mati. Maka kamu berdosa besarlah”. Maka lalu dilemasnya itu Danta oleh Pangeran Suka Rama. Pangeran Tumenggung itu meninggallah, dan Danta itu pun mati jua, sebab dilemas oleh Pangeran Suka Rama. .... (TC edisi Kadir alinea ke-102).
Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa Pangeran Sukarama menyuruh Danta untuk membunuh Pangeran Tumenggung. Danta akhirnya berhasil membunuh Pangeran Tumenggung. Akan tetapi Danta sendiri juga dibunuh oleh Pangeran Sukarama. Raden Samudera, anak Pangeran Tumenggung yang berhasil dihanyutkan oleh ibunya dan ditemukan oleh Patih Masih, setelah besar meminta bantuan ke Giri untuk meminta dibunuh juga oleh pamannya itu. Namun Pangeran Sukarama terlebih dahulu melarikan diri dan tidak mau bertemu dengan kemenakannya itu. Hal yang sama juga ditemukan dalam TC edisi Saleh di bawah ini.
.... maka kata Pangeran Sukarama, “Hai sekalian kamu, adakah yang jago membunuhkan kakanda Pangeran Tumenggung itu”. Maka sembahnya yang sekalian itu, “Hamba tiada berani membunuh. Mengangkatkan muka pun tiada berani”. Maka kata Pangeran Sukarama, “Adakah yang jago kalau ada aku ganjar lalu aku gelar Pangeran Mas Prabu untuk di bawahku”. Maka sekalian perintah habislah padanya
dan negeri sebuah aku berikan dan isteriku satu aku berikan padanya. Maka ada seorang hambanya orang berlainan katanya, “Ya tuanku, hambalah yang jago”. Maka kata pangeran, “Baiklah jika engkau jago aku gelar Pangeran Mas Prabu dan isterinya seorang aku berikan padamu dan negeri sebuah aku berikan padamu”. Maka kata Pangeran Sukarama, “Hai Nata, jika engkau jago malam ini jua karena Pangeran Tumenggung beliau jadi dedalang. Maka orang berwayanglah ini malam” (TC edisi Saleh alinea ke-576).
Maka sembahnya Nata, “Ya tuanku, hamba saat ini jua membunuh Pangeran Tumenggung itu”. Maka kata Pangeran Sukarama, “Ini kerisku pakai engkau membunuh. Jika engkau sudah tikamkan jangan engkau celup ke air karena tiadalah aku percaya kepadamu”. Maka sembahnya, “Ya tuanku, hamba junjunglah titah tuanku ini”. Maka Nata pun terjun ke seberang dengan tilasan sarung dia menyelam dan berenang serta datang lalu naik pada istana Pangeran Tumenggung. Maka Pangeran Tumenggung berwayang. Maka katanya Nata, “Ya tuanku Pangeran hamba hendak minta hidupi karena hamba hendak dibunuh Pangeran Sukarama karena hamba tiada berisi bulan matahari hanya sampian yang menghidupi hamba ini”. Maka kata Pangeran Tumenggung, “Jika demikian duduklah engkau di belakangku ini, tiadalah Pangeran Sukarama kemari”. Maka Nata pun duduklah (TC edisi Saleh alinea ke-577).
Maka pangeran pada saat mengadu wayang lalu ditikamnya oleh Danata di belakang. Maka terus ke dada. Maka Danata itu pun lari lalu dia terjun pula ke seberang. Maka keris pun diberikannya. Maka Pangeran Sukarama itu menghadang di batang, katanya, “Hai Danata, marilah keris ini aku melihat”. Lalu diberikannya oleh Danata. Maka kata Pangeran Sukarama, “Hai Danata, engkau ini tiada lalu berisi akal, gelarku ini Pangeran Tumenggung raja baru. Cakap engkau membunuh mandahin, maka aku tiada dibunuhmu, “Lalu ditikam oleh Pangeran Sukarama jatuh ke air lalu mati. Maka Pangeran Tumenggung mati jua (TC edisi Saleh alinea ke-578).
Maka Puteri Intan Sari, “Hai kamu sekalian, buatkan rakit untuk membuat puteraku ini pada lanting itu dan orang dalam seorang dan panakawan seorang dan beras dibuat, dan ringgit banyak-banyak pakai sangu. Maka dilarutkan lanting itu tiada tahu Pangeran Sukarama daripada puteri itu bunting dan melahirkan. Jika tahu Pangeran Sukarama pasti dibunuhnya jua. Maka Puteri Intan Sari itu pun menangis siang dan malam tiada berhenti lagi (TC edisi Saleh alinea ke-580).
Alkisah tersebut perkataan Patih Minasih dia menahan rengge pada batang banyu itu beberapa lamanya dia merengge mendapat lanting hanyut serta diusirnya lanting itu. Ada bersuara maka, kata yang di dalam lanting, “Hai kakekku yang bijaksana, hidupi hamba ini”, lalu dia menangis (TC edisi Saleh alinea ke-581).
Maka Ki patih, “Hai dayang, datang di manakah lanting ini?” Maka sahut orang dalam, “Karena hamba ini dibuang oleh Puteri Intan Sari dan putera sidin kalau ketahuan oleh Pangeran Sukarama karena Pangeran Tumenggung sudah mati dibunuh oleh Pangeran Sukarama, saudara tua oleh Pangeran Sukarama. Maka kata Patih Minasih, “Inilah putera Pangeran Tumenggung”. Maka kata orang dalam, “Inilah puteranya”. Maka kata Patih Minasih, “Baiklah aku memeliharanya gustiku ini”, lalu berbuat pada lanting itu serta dikayuhnya berhanyut banyu (TC edisi Saleh alinea ke-582).
.... Maka, yaitu Pangeran Sukarama, “Baiklah kita langkur, tetapi berlayar dahulu ke Negeri Giri minta bantu kepada Susunan Serabut itu mamarina Pangeran Tumenggung itu. Maka kata Raden Jaya Samudera, “Baiklah kita bersegera” (TC edisi Saleh alinea ke-589).
.... Maka kata susunan, “Aku berilah bantuan engkau meminta melainkan aku beri, tetapi islamlah engkau kalau tiada Islam tiadalah aku mau”. Maka sembahnya, “Ya tuanku, hamba junjunglah titah tuanku ini” (TC edisi Saleh alinea ke-590).
Maka beberapa lamanya dia berlayar itu maka datanglah dia pada negeri Candi Agung maka dia pun mengislamkan negeri Candi Agung dan Kuripan serta dia pergi pula ke Babirik menanyakan ibunya, ada juakah lagi. Maka berlayar pula ke Penyeberangan lalu dia langgar Pangeran Sukarama (TC edisi Saleh alinea ke-596).
Maka dia bertanya kepada orang di dalam negeri katanya, “Sultan pada orang dalam negeri, hai kamu engkau beritahukan kepada Pangeran Sukarama ini Pangeran Agung, puteranya Pangeran Tumenggung ini hendak minta bunuh juga karena tiada patutlah sekali-kali, kalau bapaknya saja yang dibunuh baiklah anaknya ini dibunuh juga”. Maka sembah orang di dalam negeri itu, “Pangeran Sukarama tiada, karena pangeran itu berburu dengan jerat” (TC edisi Saleh alinea ke-597).
Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa Pangeran Sukarama menyuruh Danata untuk membunuh Pangeran Tumenggung, kakaknya. Danata akhirnya berhasil membunuh Pangeran Tumenggung. Akan tetapi dia sendiri juga dibunuh oleh Pangeran Sukarama. Peristiwa ’senjata makan tuan’ itu sangat mirip dengan cerita dalam P. Pinjaman cerita dari P ini menunjukkan bahwa HRB edisi Ras ditulis oleh orang yang pernah membaca atau mengetahui cerita Ken Arok tersebut.
2. Kesamaan Motif Cerita Mitos Miasma II
Mitos Kiai Wangsa dan keluarganya disuruh dibunuh oleh Raden Rangga Kesuma dan Raden Rangga Kesuma disuruh dihukum mati oleh Marhum Panembahan mengandung makna hukum karma. Karma dalam bahasa Sanskerta berarti tindakan. Karma juga berarti hukum yang mengatur semua tindakan dan akibat yang tidak terelakkan pada orang yang melakukan (Syuropati, 2010: 72). Karma juga diartikan sebagai perbuatan atau kerja yang dilakukan (Kawuryan, Tanpa tahun: 365). Pada awalnya istilah ini merujuk pada perbuatan, termasuk tindakan mental seperti ketakutan, keterikatan, hasrat, atau kebencian. Jadi, hukum karma berarti hukuman atas tindakan atau perbuatan yang telah dilakukan oleh seseorang. Menurut Munoz (2009: 526), karma atau kamma
itu adalah doktrin Hindu dan Buddha tentang sebab dan akibat dari hasil kebebasan bersikap dan memilih. Tindakan itu memiliki akibat bagi si pelaku terkait dengan tindakan yang dilakukan. Oleh karena itu, hukum karma diartikan sebagai hukum balasan atas perbuatan seseorang di dunia (Kawuryan, Tanpa tahun: 365). Dalam HRB edisi Ras diceritakan bahwa Raden Rangga Kesuma sebelum dihukum mati, dia pernah melakukan pembunuhan terhadap Kiai Wangsa dan keluarganya. Raden Rangga Kesuma kemudian diceritakan juga dihukum mati oleh Marhum Panembahan sebagai akibat perbuatannya tersebut. Di bawah ini disajikan kutipan ceritanya.
Sudah itu disuruhkanlah segala Biaju itu oleh Raden Rangga Kesuma itu serta soraknya, berajak, bersumpit, beramuk. Huru-haralah bunyi sawak, bunyi tangis orang itu. Anak-anak dan perempuan dan yang berlaung daun pucuk tiada dibunuhnya oleh Biaju itu. Habis mati Kyai Wangsa itu, Kyai Warga itu, Kyai Kanduruan, Kyai Jagabaya, Kyai Lurah Sanan sekeluarganya itu. .... (HRB edisi Ras alinea ke-235).
.... Maka pangandika Marhum Panembahan dan Ratu Agung: Balik kamu. Suruh lestarikan, tetapi kujut3 saja itu”. Serta Marhum Panembahan
dan Ratu Agung sedih (menangis) itu. Maka Gedungsalat kembali, datang pada Raden Rangga Kesuma: “Pangandika raka andika keduanya meminta maaf, andika dilestarikan”. Kata Raden Rangga Kesuma: “Insya Allah ta’ala suka, halal dunia akhirat aku”. Maka sudah itu Raden Rangga Kesuma dikujut itu. Seperti orang tidur itu rupanya (HRB edisi Ras alinea ke-242).
Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa Raden Rangga Kesuma sebelum dihukum mati oleh Marhum Panembahan, dia juga pernah menyuruh suku Biaju untuk membunuh Kiai Wangsa beserta keluarganya. Perbuatannya itu harus dibayarnya dengan hukuman mati sebagai balasannya. Cerita ini seolah-olah ingin mengesahkan adanya hukum karma bagi pelaku pembunuhan. Mitos Raden Rangga Kesuma yang semula menyuruh suku Biaju membunuh Kiai Wangsa beserta keluarganya dan dia sendiri akhirnya dihukum mati oleh raja mempunyai kemiripan dengan P. Dalam P, Raja Jayanagara sebelumnya juga menyuruh menumpas pemberontakan Rangga Lawe, Lembu Sora, dan Nambi. Raja Jayanagara sendiri akhirnya dibunuh oleh Tanca. Peristiwa pembunuhan Raja Jayanagara itu diawali oleh fitnahan dari istri Tanca yang menyatakan bahwa dia diperlakukan tidak baik oleh raja. Pada saat itu, raja dalam keadaan sakit bengkak dan atas perintah Gajah Mada, Tanca disuruh membedahnya dengan taji. Hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh Tanca untuk membalaskan sakit hatinya. Semula tajinya tidak tembus untuk menusuk karena raja memakai jimat. Setelah raja diminta melepaskan jimatnya, baru Tanca berhasil menusuk sang raja hingga tewas. Perbuatan Tanca itu akhirnya diketahui oleh Gajah Mada yang segera membunuhnya. Jika dilihat dari cerita P ini, terdapat kesamaan dengan HRB edisi Ras. Kesamaan itu terletak pada cerita fitnah dan letak ilmu kebal dari kedua tokoh. Dalam P, Raja Jayanagara difitnah oleh istri Tanca dengan mengatakan raja berbuat tidak baik padanya, sedangkan dalam HRB edisi Ras, Raden Rangga Kesuma difitnah oleh Pangeran Mangkunegara dengan mengatakan dia telah mengganggu anak-istri orang. Dalam P, ilmu kebal Raja Jayanagara dapat hilang ketika jimatnya dilepaskan, sedangkan dalam HRB edisi Ras, ilmu kebal Raden Rangga Kesuma dapat hilang ketika dia sendiri menunjukkan letak kelemahannya. Cerita Raden Rangga Kesuma menyuruh suku Biaju menumpas pemberontakan Kiai Wangsa, Kiai Warga, Kiai Kanduruan, Kiai Jagabaya, Kyai Lurah Sanan dan keluarganya dapat disamakan dengan cerita Raja Jayanagara dalam P. Dalam P, Raja Jayanagara juga pernah menyuruh menumpas pemberontakan Rangga Lawe, Lembu Sora, dan Nambi. Bedanya Raden Rangga Kesuma dalam HRB edisi Ras bukan seorang raja, dia hanya diceritakan sebagai seorang anak raja yang menyuruh Biaju menumpas pemberontakan itu karena diperintah oleh Sultan Hidayatullah, ayahnya.
Cerita tentang hasutan Pangeran Mangkunegara bahwa Raden Rangga Kesuma itu suka mengganggu anak-istri orang sama seperti dalam P. Dalam P, Raja Jayanagara juga diceritakan difitnah oleh istri Tanca bahwa dia diperlakukan tidak baik. Fitnahan istri Tanca itu menyebabkan suaminya membunuh Raja Jayanagara. Di bawah ini disajikan kutipan cerita P itu selengkapnya.
Istri Tanca menyiarkan berita bahwa dia diperlakukan tidak baik oleh raja. Tanca dituntut Gajah Mada. Kebetulan Raja Jayanagara menderita sakit bengkak, tidak dapat pergi ke
3 Kujut adalah ikat atau kebat. Mengujut berarti mengikat (mencekik) leher dengan tali. Berkujut berarti
menggantung diri dengan mengikat (mencekik) leher dengan tali (Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 751). Kujut di sini berarti hukuman gantung.
luar. Tanca mendapat perintah untuk melakukan pembedahan dengan taji. Dia menghadap di dekat tempat tidur. Raja ditusuk oleh Tanca dengan taji sekali-dua kali, namun tidak makan tajinya. Lalu raja diminta supaya meletakkan jimatnya. Dia meletakkan jimatnya di dekat tempat tidur. Ditusuk oleh Tanca, tajinya makan. Diteruskan ditusuk oleh Tanca sehingga mati di tempat tidur itu. Tanca segera dibunuh oleh Gajah Mada, matilah Tanca (Komandoko, 2008: 66-67).
Jika diperhatikan dari penyebab munculnya hasutan Pangeran Mangkunegara kepada saudaranya dan Marhum Panembahan, yaitu Raden Rangga Kesuma sangat disayangi raja dan ratu karena berjasa dalam menumpas pemberontakan Kiai Wangsa, Kiai Warga, Kiai Kanduruan, Kiai Jagabaya, dan Kiai Lurah Sanan serta keluarganya yang ikut. Hal itu ternyata sama pula dengan P, yaitu pada cerita pemberontakan Nambi. Dia terpaksa memberontak karena hasutan Mahapati dan juga raja yang tidak pernah memperhatikan jasa-jasa perangnya. Pemberontakannya akhirnya dapat ditumpas oleh pasukan Majapahit. Hal yang sama pun terjadi pada tokoh Raden Rangga Kesuma dalam HRB edisi Ras, dia dijatuhi hukuman mati oleh raja tanpa mempertimbangkan lagi jasanya dalam menumpas pemberontakan. Hal itu terjadi karena raja telah dihasut oleh Pangeran Mangkunegara.
3. Kesamaan Motif Cerita Tokoh Mempunyai Ilmu Kebal
Mitos kesaktian Raden Rangga Kesuma yang mempunyai ilmu kebal ternyata juga memiliki kemiripan dengan P. Dalam P diceritakan bahwa Raja Jayanagara juga mempunyai ilmu kebal. Raja Jayanagara baru dapat ditembus senjata setelah melepaskan jimatnya. Sebelumnya Raja Jayanagara tidak bisa ditembus senjata, sekalipun sudah ditusuk sebanyak dua kali oleh Tanca. Hal ini sama dengan yang dialami oleh Raden Rangga Kesuma. Raden Rangga Kesuma diceritakan mempunyai ilmu kebal sekalipun sudah ditusuk oleh Wirayuda sebanyak tiga kali. Raden Rangga Kesuma baru dapat ditembus oleh keris setelah memberitahukan letak kelemahannya. Cerita tentang Raja Jayanagara yang mempunyai ilmu kebal dalam P itu dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.
Tanca mendapat perintah untuk melakukan pembedahan dengan taji. Dia menghadap di dekat tempat tidur. Raja ditusuk oleh Tanca dengan taji sekali-dua kali, namun tidak makan tajinya. Lalu raja diminta supaya meletakkan jimatnya. Dia meletakkan jimatnya di dekat tempat tidur. Ditusuk oleh Tanca, tajinya makan. Diteruskan ditusuk oleh Tanca sehingga mati di tempat tidur itu. (Komandoko, 2008: 66-67).
Cerita kesaktian Raden Rangga Kesuma yang mempunyai ilmu kebal tidak pernah ditemukan dalam sejarah Banjar. Cerita ini hanya merupakan rekaan pengarang HRB edisi Ras agar tokoh Raden Rangga Kesuma mempunyai kesaktian yang sama seperti Raja Jayanagara dalam P. Jika diperhatikan sekali lagi kutipan di atas dapat diketahui bahwa tokoh Raja Jayanagara mempunyai kesaktian yang sama dengan Raden Rangga Kesuma, yaitu memiliki ilmu kebal. Sebagaimana diketahui, Raden Rangga Kesuma dalam HRB edisi Ras juga mempunyai ilmu kekebalan tubuh atau tidak mempan dengan senjata. Raden Rangga Kesuma baru dapat ditembus oleh keris setelah dia memberitahukan letak kelemahannya. Hal itu pun terjadi pada tokoh Raja Jayanagara di atas, dia baru dapat ditembus oleh taji setelah melepaskan jimatnya.
4. Ketidaksesuaian (Kesalahan Nama) Raja Majapahit dalam HRB dengan Sejarah
Dalam HRB edisi Ras diceritakan bahwa raja Majapahit yang pernah menaklukkan daerah nusantara adalah Tunggul Ametung. Sepeninggalnya, pemerintahan dilanjutkan oleh Dipati Hangrok. Patih pada masa Tunggul Ametung bernama Gajah Mada, sedangkan pada masa pemerintahan Dipati Hangrok yang menjadi patihnya adalah Patih Maudara. Ketidaksesuaian nama raja Majapahit itu menunjukkan bahwa cerita ini mengandung mitos yang menyamakan Tunggul Ametung dan Dipati Hangrok dengan Raja Hayam Wuruk yang pernah menaklukkan daerah nusantara. Di bawah ini disajikan kutipan mengenai mitos raja Majapahit itu.
“Adapun tatkala dahulu kala kaula mendengar kabar orang yang tua-tua itu negeri Majapahit, tatkala rajanya itu bernama Tunggul Ametung mangkubuminya Patih Gajah Mada itu, sekaliannya orang besar-besar di tanah Jawa itu sama takluk pada raja Tunggul Ametung itu. Banten, Jambi, Palembang, Bugis, Makasar, Johor, Patani, Pahang, Campa, Minangkabau, Aceh, Pasai, sekaliannya negeri itu sama takluk pada raja Tunggul Ametung itu. Sudah itu mati, Gajah Mada mati, turun-temurun pada cucunya Majapahit patih itu, rajanya bernama Dipati Hangrok, mangkubuminya Patih Maudara namanya (HRB edisi Ras alinea ke-197).
Dalam kutipan di atas terdapat kejanggalan mengenai nama raja Majapahit yang memerintah yaitu Tunggul Ametung dan Dipati Hangrok. Tunggul Ametung bukan raja Majapahit, dia adalah seorang Akuwu (kepala daerah) di Tumapel seperti diceritakan dalam P. Sementara itu, Dipati Hangrok dalam P bernama Ken Angrok. Ken Angrok diceritakan sebagai anak Dewa Brahma yang lahir dari rahim Ken Endok. Dia adalah titisan Dewa Wisnu dari anak janda di Jiput. Dia diceritakan sebagai tokoh yang telah membunuh Tunggul Ametung dengan keris buatan Empu Gandring. Dia juga berhasil mengalahkan raja Daha yang bernama Dandang Gendhis. Setelah itu, dia menguasai tanah Jawa. Raja Majapahit yang seharusnya adalah Hayam Wuruk atau Rajasanagara karena dia yang memerintahkan Mahapatih Gajah Mada untuk menaklukkan nusantara. Ketidaktepatan pemberian nama raja Majapahit ini menandakan perlunya pemisahan mitos dan realitas dalam HRB edisi Ras.
Pemasukan nama Tunggul Ametung dan Dipati Hangrok menjadi raja Majapahit dalam
HRB edisi Ras merupakan peminjaman nama tokoh dari P. Dalam P, tokoh Tunggul Ametung dan Dipati Hangrok bukan raja Majapahit, melainkan tokoh yang kelak menurunkan raja-raja Singasari dan Majapahit. Mereka adalah penguasa daerah Tumapel. Dipati Hangrok sebelum menjadi penguasa Tumapel adalah hamba Tunggul Ametung. Dia lalu membunuh Tunggul Ametung karena ingin mendapatkan istrinya yang bernama Ken Dedes. Hal itu dia lakukan karena menurut Dang Hyang Loh Gawe, Ken Dedes memiliki tanda yang baik, barang siapa yang dapat memperistrinya akan menjadi maharaja. Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok lalu memperistri Ken Dedes.
Ken Arok yang telah menguasai Tumapel kemudian melakukan penyerangan terhadap kerajaan Kediri dan berhasil mengalahkan Raja Kertajaya. Setelah itu, dia menjadi penguasa seluruh Jawa Timur. Ken Arok atau Ken Angrok adalah raja Singasari yang memerintah dari tahun 1222 sampai 1227 M. Dia adalah pendiri dinasti Girindra atau dinasti Rajasa. Dengan nama lain, dia disebut wangsakara atau pendiri wangsa atau dinasti. Dia juga bergelar Sri Ranggah Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Dia yang kemudian menurunkan raja-raja Singasari dan Majapahit.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa perbandingan HRB dan P
dilihat dari kesamaan motif cerita menunjukkan adanya peminjaman cerita dari P oleh HRB. Hal ini berdasarkan fakta bahwa P lebih dahulu ditulis, yaitu pada tahun 1535 Saka atau 1613 Masehi. Bahkan menurut Ras (dalam Hellwig dan Robson, 1986: 192), bagian akhir dari P
telah ditulis antara tahun 1481 sampai 1600. Sementara, HRB baru ditulis antara tahun 1761 sampai 1801 atau abad ke-18. Peminjaman cerita itu dimaksudkan untuk memperkaya isi HRB.
Saran
Bagi para peneliti selanjutnya, agar melakukan penelitian perbandingan HRB dan P dari segi realitas sejarah yang terkandung di dalamnya terutama tentang tokoh pada awal ceritanya. Dengan penelitian yang disarankan tersebut, diharapkan nanti akan diketahui apakah tokoh pendiri dinasti atau kerajaan itu adalah mitos atau realitas.
DAFTAR RUJUKAN
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Holsti, Ole R. 1969. Content Analysis for the Social Sciences and Humanities. Reading, Massachusetts: Addison-Wesley Publishing Company.
Kadir, M. Saperi. 1982. Tutur Candi. Kalimantan Selatan: Depdikbud.
Kawuryan, Megandaru W. Tanpa tahun. Kamus Lengkap Jawa-Indonesia, Indonesia-Jawa.
Yogyakarta: Panji Pustaka.
Komandoko, Gamal. 2008. Pararaton, Legenda Ken Arok dan Ken Dedes. Yogyakarta: Narasi. Munoz, Paul Michel. 2006. Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia,
Perkembangan Sejarah dan Budaya Asia Tenggara (Zaman Prasejarah-Abad XVI). Terjemahan oleh Tim Media Abadi. 2009. Yogyakarta: Mitra Abadi.
Rafiek, Muhammad. 2010. Mitos Raja dalam Hikayat Raja Banjar. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Rafiek, Muhammad. 2011. Hikayat Raja Banjar: Kajian Jenis, Makna, dan Fungsi Mitos Raja. Dalam Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya, 1 (1): 3-27.
Ras, Johanes Jacobus. 1968. Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography. The Hague: Martinus Nijhoff.
Ras, J. J. 1986. Hikayat Banjar dan Pararaton: A Structural Comparison of Two Chronicles. Dalam C. M. S. Hellwig dan S. O. Robson (Eds.). A Man of Indonesian Letters, Essays in Honour of Professor A. Teeuw (hal. 184-203). Dordrecht-Holland/Cinnaminson-U.S.A: Foris Publications. Saleh, M. Idwar. Tanpa tahun. Sedjarah Bandjarmasin. Bandung: KPPK Balai Pendidikan Guru. Saleh, M. Idwar. 1986. Tutur Candi, Sebuah Karya Sastra Sejarah Banjarmasin. Jakarta: Depdikbud. Sastronaryatmo, Moelyono & Nitriani, R. Aj. Indri. 1983. Panji Kuda Narawangsa. Jakarta: Proyek
Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Syuropati, Mohammad A. 2010. Kamus Pintar Kawruh Jawa. Yogyakarta: In Azna Books.
PROPOSING THE FUTURE IMPLEMENTATION OF E-BOOKS FOR ENGLISH (RETHINKING OF THE USE OF E-BOOKS IN INDONESIAN SCHOOLS)
Raudhatun Nisa4
Guru Bahasa Inggris MTs N Kelayan, Banjarmasin
Abstract
An e-book is an electronic design of an ordinary book. It is expected to be the solution for every student who cannot get the instructional materials easily or those who cannot buy them because of economical reason. However, the implementation of the policy of e-books nowadays, according to some opinions, is susceptible to fail. The reasons of why it is so will be explained in the following discussion. The discussion will investigate about the challenges, consideration, and controversy in implementing e-books as the instructional materials in Indonesian schools. In addition, the writer proposes the future implementation of e-books in Indonesian schools.
Keywords: e-book
INTRODUCTION
The quality of students of Indonesian schools cannot be generalized as a whole. The quality of students in remote areas, for instance, is absolutely not the same with those who lives in big cities. One of the reasons of why this imbalance condition happens is that the supply of books as instructional materials is sometimes difficult to get because of the isolated area or the expensiveness of the books per se. Meanwhile, those who live in big cities can get the books easily. The price of the books are usually cheap because of the method of distribution of the books is not as difficult as in the remote areas.
Responding that imbalance condition, particularly about the problem of the difficulties in supplying the books as instructional materials, the government which is represented by the Ministry of National Education (Mendiknas) of Indonesia, through PERMENDIKNAS No. 2/2008, has launched BSE (Buku Sekolah Elektronik) or e-books, which absolutely can be downloaded through internet connection, as the alternative instructional materials for students in Indonesian schools. An e-book is an electronic design of an ordinary book. The only distinction between an ordinary book and an e-book is that e-books are paperless. E-books are published in several of electronic file formats (PDF files for instance) and can therefore be attained in formats which suitable for almost any hardware device. E-books can be downloaded in a matter of minutes depending on the size of the file and the speed of the internet connection. E-books have several amount different sizes, depending on the length of the book and the number of images. It is expected to be the solution for every student who cannot get the instructional materials easily or those who cannot buy them because of economical reason. Although realization of the policy of e-books is only for a few subject matters, such as English, Indonesian, Mathematics, etc., but the government can certainly say that the existence of e-books can help many teachers and students to get the cheaper instructional materials rather than buy them in the bookstore or purchase them to the publishers.
In line with the notion about the use of internet connection to support the implementation of e-books as instructional materials, Kellough & Kellough (1999: 356) state that teachers can get the
free and inexpensive teaching materials which appropriate with the age or the level of students’ proficiency through internet. The role of the teachers, in this case, is very important to maximize the effectiveness of every new technology (including e-books) to help their students in the process of teaching and learning (Richards & Renandya, 2002: 368). In short, beside the facilities, the qualified human resources, which are mostly represented by the teachers in this case, are really needed to succeed the implementation of this policy.
However, the implementation of the policy of e-books nowadays, according to some opinions, is susceptible to fail. The reasons of why it is so will be explained in the following discussion. The discussion will investigate about the challenges, consideration, and controversy in implementing e-books as the instructional materials in Indonesian schools. In addition, the writer proposes the future implementation of e-books in Indonesian schools.
SOME ISSUES IN THE IMPLEMENTATION OF E-BOOKS 1. The Challenges in the Implementation of E-books
Responding on the policy of the implementation of e-books, Rattahpinnusa (2008) stated that there are several challenges in using e-books as instructional materials in Indonesian schools. The challenges include several aspects; namely human resources (man), facilities (machine), and method of distribution (method). The more explanation about the challenges is in the following:
- Human resources (man): In fact, Indonesia still has low number of qualified-human resources. It is proven by the numbers of teachers in Indonesia who can work with internet (or those who understand how to operate internet) are about 10% - 15% (only). Consequently, it can hamper the implementation of using e-books as instructional materials in Indonesian schools. It can be worst if the teachers are accustomed to apply the conventional pedagogic without the use of instructional media in their teaching practice, while the students are accustomed to be the ‘rote learners’ who always accept whatever the ways of teaching of their teachers are. - Facilities (machine): Ideally, the use of e-books as instructional materials needs some facilities, such as computer / multimedia lab, internet network, and so forth. In fact, the facilities of some schools in Indonesia are still incomplete to support the implementation of e-books. Even if the complete facilities are provided, according to several opinions of those who have tried to get the instructional materials in the form of e-books from JARDIKNAS website, the process of opening and downloading the website is still considerably hard or, let’s say, difficult. - Method of distribution (method): The government claimed that the use of e-books can
minimize the educational fund by purchasing the copyright of some ordinary books from the authors (to get the right) to change the format of ordinary books become e-books and uploading them in the website of JARDIKNAS. However, as mentioned before, the process of downloading and transferring e-books or printing them will cost much more money than just buy it in the bookstore (for a certain area of Indonesia). The fact implies condition that the method of distribution of e-books in Indonesia nowadays is not easy or still impractical.
The challenges, then, are expected to be some considerations of government to the future implementation of e-books as the instructional materials in Indonesian schools.
2. Rethinking of the Use of E-books in Indonesian Schools a. Why should e-books?
E-books are used by government to be an alternative of instructional materials in Indonesian schools because of several considerations; such as the advantages of e-books and the prestige of using e-books.By using e-books, it is expected that we can get many advantages as follows:
• E-book format is ideal for searching text automatically and having cross-referenced using hyperlinks.
• Unlike ordinary books, we only need less physical space to store e-books, and hundreds to thousands of books may be stored on the same device.
• For those who have difficulty in reading printed books can take advantage from the adjustment of text size and font face.
• E-books can be adapted to audio books automatically by using text-to-speech software. • It does not cost much to reproduce or copy an e-book.
• We can purchase e-books from reading devices themselves and we do not oblige to visit a bookstore to obtain.
• Etc.
Beside the reason of beneficial, the discourse on using e-books as the instructional materials can be seen as the attempt of government to improve the quality of human resources of Indonesian people in general. It also implies the prestige that the government wishes to achieve by doing so; that Indonesian people are not “blind” with the sophistication of a latest technology, including e-books.
b. Controversy on the use of e-books as the instructional materials in Indonesian schools
The implementation of e-books as instructional materials emerges some controversy among several members of society of Indonesia. They are debating on some aspects around the use of e-books which has determined by government as the alternative instructional materials for students. The controversy covers several things; about the concept of using e-books, consideration of the publishers in relation to the implementation of e-e-books, consideration of the disadvantages of e-books, do e-books really overcome the problems of all students of any level?, and are there any solutions of students’ problems beside e-books?
The policy of using e-books, as mentioned before, is still become controversy. Although according to several opinions, it is already good but the planning and the implementation of books per se are still unsatisfied. Moreover, Yusuf (2008) viewed that the policy of using e-books, especially BSE (Buku Sekolah Elektronik), is conceptually contrast with the concept of KTSP (School-Based Curriculum). The reason is that the policy of the implementation of e-books is still centralized or determined by government, meaning that the Content Standard
(Standar Isi) of curriculum, which is represented by the content of instructional materials, is developed by considering more on the exploration of the special quality or national condition of Indonesia in general rather than the exploration of the special quality or condition of every local or area of Indonesia specifically. Meanwhile the policy of School-Based Curriculum is already decentralized, meaning that the content of instructional materials can be adapted based on the exploration of the special quality of every local / area of Indonesia. In other word, the concept of School-Based Curriculum will provide students the instructional materials which match with the real context of their daily life or authentic condition and environment
around them. Consequently, if the policy is still maintained, there is a worry that it will hamper the creativity of the teachers who wish to write / adapt the materials which suitable with the concept of School-Based Curriculum; by considering their environment, the level of their students (age, proficiency, etc.), their own preference (teaching styles, personality, etc.), and so forth (Tomlinson & Masuhara, 2005: 12).
Furthermore, the implementation of using e-books as the instructional material in Indonesian schools so far has not given any extreme effects towards the quality of education in particular, and the whole aspects of life of Indonesian people yet, whether good effect or bad one. It cannot be said has a very good effect because the implementation of e-book per se is still “infant”. To the extent whether it has or not a very bad effect, IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) has stated that in the future, the implementation of using e-books as the instructional material in Indonesian schools will stop the existing of the publishers. It might happen because students do not need to buy books from publishers anymore. Hence, it will make many workers of any publishers are unemployed. In other word, it will destroy the infrastructures which already exist so far.
Next, although there are so many advantages of using e-books, however, there are also several disadvantages of using it, such as:
- Some e-books need the purchase of an electronic device and/or nonessential software to display.
- An e-book can be affected by faults in external hardware or software because it is really dependent on equipment to be read.
- All e-book devices require electrical power, so if the electricity turn off, it is hard for us to display or read an e-book.
- Certain e-book designs may become out of date and unsuited with future devices. - Book readers are more easily broken than paper books and more at risk to physical
damage.
- E-books can be hacked, or distributed without agreement from the author or publisher, through the use of hardware or software mods, etc.
Apart from the disadvantages above, there are also many things that we should consider in implementing or using e-books as instructional material at school. Some of them that we should take into account are the level of society, the area (whether or not it can connect to internet), and the completeness of facilities to support the implementation of e-books. Otherwise, the policy of using e-books as instructional materials is only beneficial for a few teachers and students of Indonesian schools.
Considering some factors about the implementation of e-books above, IKAPI (2008) offers an alternative solution to government to overcome the problem of instructional materials supply for the whole students and teachers of all over area. IKAPI suggests that it will be better if the financial to implement the policy of e-books are replaced with other policy, by giving the subsidy for purchasing books, for instance, in order to get a low price or free of charge books. Obviously, the suggestion is aimed at two things, solving the problems above, and helping the publishers to be survived.
3. Proposing the future implementation of e-book in Indonesian School
Having a small discussion about the implementation of e-books with some colleagues, the writer comes to the crucial thing, proposing the future implementation of e-books as instructional material in Indonesian schools. The proposal covers the format and the method of distribution of
books. The writer also proposes the notion to train those who will take advantage of using e-books, in this case, students and teachers, particularly if the policy of e-books is still maintained. The proposals are:
- the format of e-books
The existed format of e-books nowadays (by using electronic device) is considered have many problems in its use as instructional materials in terms of impracticality, either in the process of downloading or in providing facilities to support the implementation, and the budget of government to do so. To the reason of practicality and feasibility, it will be better if the formats of e-books in the future are changed to the form of CD or DVD. The government, in this case, can ask Diknas to download and make copy of the materials in these forms. It will be very beneficial to lessen the budget of government in the attempt to improve the implementation of using e-books rather than to provide facilities, such as internet connection, for schools. Furthermore, it will not only make the method of distribution of e-books easier, but also give the possibility for e-books to be reached by the whole level of society in any area all over Indonesia.
- the method of distribution of e-books
Relating to the proposed format of e-books as mentioned above, the method of distribution can be easier than the previous format. The copies of CD or DVD of e-books (from the government) are, for instance, distributed to the Depdiknas of every municipality all over Indonesia. Afterwards, Depdiknas can distribute the copies into schools. The practitioners of the schools, then, can print out the copy of materials in order to be shared to their students, so that it can be used as the instructional materials of the schools.
- train ‘the man behind the gun’
The use of computers (and the internet) in education generally continues to increase at an extraordinary speed (Harmer, 2002: 145). One of the examples is the implementation of e-books, which absolutely needs not only the use such kind of technology, but also those who can operate or apply it. So, if the policy of e-books is still maintained (particularly in relation with the existed-format of e-books per se), there is a suggestion to the government to socialize more about the policy and give chances to the “man behind the gun of the school” to know more about how to implement the policy well, for example by having a training to apply computer or internet (especially for those who never being touched by the sophisticated technology or those who live in remote area) and so forth. By doing so, it is expected that the use of technology, such as computers, can become an integral part of their daily life (Tompkins & Hoskisson, 1995: 50).
CONCLUSION
The policy of using e-books as instructional materials in Indonesian schools nowadays is still considered susceptible to fail. Having several challenges, advantages and disadvantages in using it as instructional materials, make e-books become controversy among several members of Indonesian people. Therefore, some considerations are raised and directed to government in order to rethink about the planning and implementation of the policy of e-books in the future. However, it can be maintained by more and more improvement, in terms of the human resources who implement it, the method and distribution, and the facilities to do so.
REFERENCES
Antara. 2008. Ikapi: Buku Elektronik Matikan Penerbit, (Online), (http://www.antara.co.id/arc/ 2008/7/31/ikapi-buku-elektronik-matikan-penerbit/, retrieved on November, 21st 2008).
Forum Detik. 2008. E-books.(Online),(http://forum.detik.com/archive/index.php/t-49729.html, retrieved on December, 2nd 2008).
Harmer, J. 2002. The Practice of English Language Teaching (3rd edition). Edinburgh: Longman.
HH., Rattahpinnusa. 2008. Kontroversi Penggunaan E-Book Sebagai Bahan Ajar, (Online), (http://www.timorexpress.com/index.php?act=news&nid=25311, retrieved on December, 2nd
2008).
Kellough, R. D. & Kellough, N. G. 1999. Middle School Teaching: A Guide to Method and Resourches 3rd edition. New Jersey: An Imprint of Prentice Hall.
N.N. 2008. E-book, (Online), (http://en.wikipedia.org/wiki/E-book, retrieved on October, 22nd 2008).
N.N. 2008. Why E-Digital E-Books? (Online), (http://www.edigitalbooks.com/, retrieved on October, 22nd 2008).
Richard, J. C. & Renandya, W. A .(Eds.). 2002 Methodology in Language Teaching: An Anthology of Current Practice. Cambridge: Cambridge University Press.
Tompkins, G.E. & Hoskisson, K. 1995. Language Arts: Content and Teaching Strategies (3rd ed.).
New Jersey: Prentice Hall.
Tomlinson, B. & Masuhara, H. 2005. Developing Language Course Materials. Singapore: SEAMEO Regional Language Centre.
Tuhusetya, S. 2008. Buku Sekolah Elektronik: Terobosan yang Jitu dan Visioner?(Online),(http:// sawali.info/2008/06/27/buku-sekolah-elektronik-terobosan-yang-jitu-dan-visioner/, retrieved on November, 21st 2008).
Yusuf, I. 2008. Kegagalan Implementasi Program BSE, (Online), (http://www.kabarindonesia.com/ berita.php?pil=20&dn=20081106164311, retrieved on December, 2nd 2008).
TINJAUAN STRATEGIS DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING
Zulkifli
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unlam
Abstract
Teaching and learning BIPA (Indonesian Language for Foreign Student) necessarily needs to be paid more attention from many parties. Experts in Indonesian language need to hold a careful study for the success of BIPA learning. They that are involved in the teaching and learning of BIPA ought to consider aspects affecting the success of learning, such as institutional management aspect, academic aspect, marketing aspect, and cooperation aspect. By taking those aspects into account, it is hoped that the teaching and learning BIPA will be more ultimately successful. BIPA students not only learn Indonesian language but also want to know about Indonesia as a country.
Keywords: teaching and learning Indonesian language, foreign student
PENDAHULUAN
Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing atau biasa disingkat BIPA sudah cukup dikenal, baik di Indonesia maupun di beberapa negara di luar negeri. Kenyataan menunjukkan bahwa pembelajaran BIPA telah berlangsung cukup lama di banyak tempat, misalnya di Perancis, Jepang, Australia, Amerika, Cina, dan juga di beberapa kota besar di Indonesia (Usman, 2002: 42). Saat ini, bahasa Indonesia telah dipelajari di 35 negara, antara lain di Australia, Amerika, Jepang, Korea, Singapura, serta negara-negara Eropa Barat (Gani, 2000: 58). Orang yang berminat untuk belajar bahasa Indonesia dari waktu ke waktu semakin meningkat. Ada berbagai tujuan dan kepentingan yang melatarbelakangi banyak orang asing mempelajari bahasa Indonesia. Sebagian mereka mempelajari bahasa Indonesia dilatarbelakangi oleh tujuan dan kepentingan untuk pengkajian tentang Indonesia (misalnya pengkajian budaya Indonesia), untuk memperoleh kesempatan (sekaligus kelancaran) bekerja di Indonesia, untuk kelancaran perjalanan wisata, dan termasuk dalam rangka kerjasama pada bidang tertentu. Di lain pihak, keadaan ini tidak terlepas dari keberadaan Indonesia dalam kancah kehidupan dunia internasional. Negara-negara lain merasa berkepentingan untuk menjalin hubungan ekonomi dan politik serta kerjasama dalam banyak hal dengan Indonesia. Salah satu faktor penunjang tercapainya hubungan dan kerjasama tersebut adalah dengan penguasaan bahasa Indonesia. Dengan demikian, mereka berusaha untuk dapat menguasai bahasa Indonesia. Memang, prioritas pertama mereka adalah belajar bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi resmi dan dipergunakan secara menasional di Indonesia (Suhardi, 2000: 134).
PENGAJARAN BIPA DAN PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA
Pengajaran BIPA tidak bisa dilepaskan dari keberadaan bahasa Indonesia dengan segala perkembangannya. Bahasa Indonesia telah banya mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Perkembangan bahasa Indonesia tersebut juga mendapat pengaruh, baik dari bahasa-bahasa daerah maupun dari bahasa-bahasa asing. Hal ini merupakan hal yang wajar karena dalam banyak situasi terjadi kontak antarbudaya, termasuk kontak antarbahasa.Bahasa Indonesia lahir sebagai bahasa kedua bagi sebagian besar warga bangsa Indonesia karena yang pertama kali muncul atas diri seseorang adalah bahasa daerah atau bahasa ibu (Arifin dan Tasai, 2002: 13). Oleh karena