Peran Guru Melalui Komunikasi Interpersonal Anak Autis Dalam Menumbuhkan Sikap Kemandirian Belajar SLB Cemara Wilis Samarinda

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Peran Guru Melalui Komunikasi

Interpersonal Anak Autis Dalam

Menumbuhkan Sikap Kemandirian

Belajar SLB Cemara Wilis Samarinda

Citra Anggraeni¹

Abstrak

Komunikasi identik terjadi saat 2 atau 3 orang secara langsung bertatap muka atau tidak langsung (media) melakukan interaksi verbal maupun non verbal. Guru saat dikelas secara khas terbentuk komunikasi interpersonal pada murid autis, proses belajar mengajar, mengayomi, membimbing dan memberi teladan sebagai peran guru. Mendidik anak autis maju bertumbuh, berkembang secara formal maupun informal di bangku sekolah. Penelitan ini bertujuan melihat, mendeskripsikan peran guru melalui komunikasi interpersonal pada murid autis yang terjadi di SLB (Sekolah Luar Biasa) cemara wilis. Berlangsung, penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Namun pada teknik pengumpulan data dilakukan dengan penelitian lapangan berupa observasi, wawancara, dan penelitian dokumen-dokumen terkait. Penelitian ini memberikan gambaran peran guru dikelas kepada anak murid autis yang dasar komunikasi interpersonal, menghasilkan .

Kata Kunci : Komunikasi Interpersonal, Peran Guru, Anak Autis

PENDAHULUAN

Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu hal yang umum dilakukan oleh semua orang. Urgensi komunikasi bersifat kebutuhan yang tak bisa di pisahkan sehari-hari oleh tiap kegiatan individu, serperti rapat kantor, guru mengajar murid, kegiatan jual-beli.

Penulis

¹ Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman , Samarinda, Indonesia

(2)

2

Pengajar atau guru menjadi sesuatu titik pencapaian keberhasilan pendidikan yang penting sebagai mencerdaskan anak bangsa, “Setiap orang berhak

mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat

manusia”tertuang dalam UUD 1945 Bab XA Pasal 28C Ayat 1. Artinya, bangku pendidikan secara keseluruhan bisa diraih oleh siapapun tanpa melihat status sosial individu. Sederhana, kaya atau miskin, anak yang normal, anak memiliki kekurangan atau berkebutuhan khusus secara dasar memiliki kesempatan yang sama untuk meraih bangku pendidikan. Faktor keberhasilan anak didik salah satunya guru, peranan guru memiliki tugas, tanggung jawab yang bukan sembarangan dalam mengajar, membimbing, menuntun anak murid pada belajar yang benar.

Menurut Dirjen Pendidikan Dasar Menengah Kemdikbud, Hamid Muhammad mengatakan angka partisipasi bersekolah anak berkebutuhan khusus (ABK) masih rendah hanya sebesar 10-11% dari jumlah total 1,6 juta anak berkebutuhan khusus di

Tanah Air, “Dari 1,6 juta di Indonesia, baru 164 ribu anak yang mendapatkan layanan pendidikan (Meirina, Zita. 2015 “Kemdikbud: angka partisipasi bersekolah anak berkebutuhan khusus rendah”, Harian Online Antara News, 3 November 2015, Padang), penyerapan angka partisipasi sekolah anak berkebutuhan khusus masih sangat kurang dan rendah. Salah satunya autis juga termasuk ke dalam berkebutuhan khusus, anak berkebutuhan khusus, anak-anak yang memiliki atribut fisik atau kemampuan belajar yang berbeda dari anak normal, baik di atas atau di bawah, yang tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan fisik, mental, atau emosi, sehingga membutuhkan program individual dalam pendidikan khusus.( Heward, Oslansky 1992)

Autisme atau yang sering disebut autis, suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal selain itu juga mengalami kesulitan untuk memahami bahwa sesuatu dapat dilihat dari sudut pandang orang lain (Baron, Cohen 1985). Autis gangguan kualitatif yang sangat kompleks, komunikasi yang sangat terbatas kepada orang lain, gangguan perkembangan saraf dan sosial anak juga membatasi anak autis untuk pada akhirnya dapat mengenyam pendidikan secara khusus atau inklusi.Perkembangan stigma di kalangan masyarakat masih terdengar jika anak autis itu tidak bisa memiliki hidup seperti pada anak umumnya, anak autis tidak bisa belajar, tidak bisa hidup mandiri, tidak bisa berkomunikasi.

Tampaknya, dalam pendidikan yang diberikan guru saat di sekolah, bukan hanya menjadikan anak autis pintar mengetahui segala sesuatu, tujuan lainnya anak juga dapat membentuk kemandirian, dan displin.Peran guru menjalankan tugas, membimbing,

(3)

Peran Guru Melalui Komunikasi Interpersonal Anak Autis Dalam Menumbuhkan Sikap Kemandirian Belajar SLB Cemara Wilis (Anggraeni)

3 mengajar dan mengarahkan anak autis dalam proses belajar mengajar didalam kelas bukan tugas yang mudah bagi guru. Saat guru di dalam kelas, komunikasi interpersonal menjadi kendali penting yang digunakan guru untuk memperhatikan anak autis, menyampaikan pesan atau maksud guru saat mengajari anak autis, dan membangun hubungan yang intens pada anak autis.Penyampaian pesan guru (komunikator) kepada murid autis (komunikan), terlihat saat dikelas memulai aktifitas kegiatan belajar mengajar hasil observasi peneliti, guru banyak berperan besar dalam mengirim pesan verbal dan non verbal, menerima pesan untuk memahami pesan atau perintah untuk tersampaikan ke anak autis, maupun anak autis menginginkan akan sesuatu hal menyampaikan secara komunikasi non verbal dan pengucapan kata masih kurang jelas.

Adanya, penelitian ini diharapkan dapat mememahami, menguraikan peran guru pada komunikasi interpersonal anak autis dalam menumbuhkan sikap kemandirian belajar yang terjadi saat dikelas proses belajar berlangsung.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini menggunakan kualitatif dan metode deskriptif yang memaparkan situasi atau peristiwa. Penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menjelaskan hipotesis atau membuat prediksi (Jalaluddin, 2009). Pengumpulan data atau sampel data menggunakan teknik Purposive Sampling, informasi dan wawancara penelitian didapatkan dari bagian internal sekolah luar biasa cemara wilis sebagai berikut, key informan kepala sekolah, dan informan 3 orang guru.

Pengumpulan data yang di dapatkan pada penelitian disusun dengan menggunakan beberapa teknik, observasi yang dilakukan sebelum penelitian berlangsung, wawancara yang dilakukan saat penelitian berjalan, dan dokumentasi yang didapatkan dan diambil berupa gambar atau tulisan. Fokus penelitian pada Peran Guru yaitu Pendidik (Nurturer), Pengajar dan pembimbing, Pelajar (Learner). ( Syaiful Djamah , Zain Aswan, 2010).

Analisis data dalam penelitian ini mengacu pada teknik model analisis interaktif. Miles, Huberma (2014) didalam analisis data kualitatif terdapat tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan. Aktivitas dalam analisis data yaitu : Pengumpulan data, Kondensasi data, Penyajian data, dan Penarikan kesimpulan.

PEMBAHASAN

Peran guru melalui komunikasi interpersonal

Sekolah Luar Biasa (SLB) cemara wilis berdiri tahun 2006 hanya di kenal menjadi tempat terapi menangani anak-anak berkebutuhan khusus, sampai pada tahun 2010 Cemara Wilis meningkatkan status untuk menjadi Pendidikan Luar Biasa Cemara Wilis yang secara legal dapat memberikan pendidikan khusus kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk mencapai potensinya secara maksimal, juga memberikan dorongan belajar bagi anak anak unik tersebut. Agar dapat berkarya dan mandiri dalam berkehidupan.

(4)

4

dalam belajar. Dalam melihat peran menurut Jalaluddin Rakhmat (2013:120) ada ekspetasi peranan, tuntutan peran, keterampilan peran, dan konflik peran. Peranan guru cemara wilis samarinda secara ekspetasi peranan yang mendasar pada kewajiban dan tugas seorang guru, memberikan pembelajaran yang sama didalam kelas kepada murid autis ringan, sedang, dan berat dengan waktu belajar sesuai jadwal, bantuan belajar pada siswa autis dan dukungan moril kepada murid autis.

Peranan guru cemara wilis terhadap murid autis ringan, sedang dan berat tidak ada yang berbeda signifikan, guru memberikan mata pelajaran dikelas sama, hanya yang membedakan cara atau metode, dan komunikasi belajar untuk murid autis. Saat guru memberikan tema belajar royong, guru akan menjelaskan tentang gotong-royong dengan bahasa indonesia dan kata yang sederhana bagi murid, guru juga memberikan praktek gotong-royong di kelas dengan komunikasi bahasa kata tiap kata sederhana, mudah adanya kolaborasi komunikasi non verbal dengan isyarat atau menujukkan benda serta memperagakan perintah, seperti membersihkan ruang kelas dengan memberikan tugas kepada anak autis, ada yang membuang sampah, menyapu lantai, merapikan alat perlengkapan belajar dikelas dan mengepel lantai.

Guru terus aktif membangun komunikasi interpersonal dari hal kecil yang baik kepada murid autis, dimulai memberi salam atau menyapa kepada siapapun saat disekolah, mengajarkan meminta sesuatu hal bukan dengan menangis dengan cara mendatangi guru sambil menujuk yang diinginkan dan berbahasa, berbicara yang baik dan sopan. Tugas guru autis juga menjaga dan memperhatikan anak autis ada yang hanya ingin menyendiri tidak mau berteman bersama teman sebaya, guru berusaha mengajarkan anak autis seperti menagajak, membawa anak untuk dapat bermain bersama, berbagi mainan/buku, dan berbagi makanan, sedangkan ada juga anak autis yang mudah tantrum guru akan terus sigap bertindak mengawasi gerak-gerik anak autis saat bermain maupun di kelas. Bahkan guru memberikan kata-kata menenangkan jika anak autis marah atau tantrum, mendekap atau memberikan pelukan yang erat oleh guru-guru agar tidak menyakiti dirinya maupun orang lain.

a. Pendidik (Nurturer)

Mempunyai peran dan tugas seorang pendidik, guru memberikan pengarahan materi secara interaktif dikelas kepada murid autisme saat belajar. Bukan hanya materi semata yang diajarkan, tetapi dalam mengajar untuk punya sikap mandiri terhadap diri (self) siswa autis.Saat belajar anak autis diminta oleh guru menulis menggunakan pensil, mengajarkan pada awalnya tidak seperti anak pada umum normal biasanya guru perlu membuat anak memperhatikan guru, itu tidak mudah membuat anak autis fokus memperhatikan yang guru ajarkan.Anak autis memiliki keasyikan dengan satu atau lebih pola minat yang terbatas atau stereotype yang bersifat abnormal baik dalam intesitas

(5)

Peran Guru Melalui Komunikasi Interpersonal Anak Autis Dalam Menumbuhkan Sikap Kemandirian Belajar SLB Cemara Wilis (Anggraeni)

5 maupun fokus (Theo Peeters, 2009). Guru berusaha menyampaikan materi yang sesuai dan sederhana untuk pembelajaran anak autis, terlihat seperti mewarnai, menulis, berhitung, mengenal huruf, menempel, bernyanyi, akan terlihat perbedaan dalam pembelajaran anak seperti biasanya seperti bisa membaca, berhitung dengan lancar, mengerti tentang pengetahuan umum dan sebagainya.

b. Pengajar dan Pembimbing

Kewajiban guru sebagai pengajar dan pembimbing sangat penting mengajarkan keterampilan dasar kepada setiap anak, tanpa terkecuali anak berkebutuhan khusus autis. Saat pelajaran belum dimulai mengingatkan tentang dasar negara dan menyebutkan pancasila, akan ada waktu bersama guru bernyanyi lagu wajib Indonesia, disini melatih, mengajarkan cinta tanah air kepada anak autis, walau mereka tidak memahami sepenuhnya dalam bernyanyi. Mengajarkan sesuatu hal yang mudah dilakukan, belum tentu mudah untuk anak berkebutuhan khusus autis lakukan. Membimbingnya perlu komunikasi pesan verbal dan nonverbal sederhana, perlu kata suara lembut membujuk untuk mempengaruhi emosi anak autis, saat anak tidak mau menulis atau belajar bersama guru.

Gambar 1.1 kegiatan belajar anak autis dan guru dikelas Sumber: dokumentasi peneliti

c. Pelajar (learner)

Guru sampai kapanpun akan terus belajar sebagai seorang pelajar atau murid, walau seorang guru yang sudah pintar sekalipun. Pengajar berkebutuhan khusus di sekolah inklusi dan sekolah luar biasa banyak belajar memahami anak autisme melalui seminar yang diselenggarakan lembaga pendidikan, pertemuan para guru antar sekolah, membaca buku dan artikel penelitian. Untuk memahami dan berinteraksi dengan anak autis tidak mudah halnya saat kita berkomunikasi seperti biasa normal, butuh belajar untuk mengerti kepada anak autis secara bertukar pengalaman antar pengajar dan membaca buku.

d. Kemandirian belajar

Sikap kemandirian belajar tidak terbentuk dengan sendirinya, perlu pembelajaran dalam diri anak agar sampai bisa belajar secara sendiri tanpa bantuan orang lain. Robert Havighurst (2010) dalam buku Enung Fatimah, menyebutkan bahwa kemandirian belajar terdiri dari 4 aspek, yaitu emosi, ekonomi, intelektual, dan sosial.

(6)

6

gangguan hambatan di dalam yang begitu komplek, jika dilihat hampir semua anak autis dalam hal emosi belum bisa dikelola oleh diri sendiri.

2. Aspek ekonomi, mengatur keuangan, mulai berpikir mencari hasil tambahan keuangan, mengenal uang. Anak autis disini belum pada tahap mengenal uang, kegunaan uang untuk membayar, bahkan anak autis tidak diberikan uang sebagi uang jajan atau sangu.

3. Aspek intelektual, kemampuan anak mengatasi berbagi masalah yang dialami. Saat anak autis mengalami kendala saat menumpahkan air minum diatas meja belajar, anak autis tidak segera untuk bangkit dari duduk, dengan ekspresi senang sambil tangan memegang genangan air tumpah di atas meja.

4. Aspek sosial, berkenaan kepada kemampuan anak secara berani bersosialisasi, membina pertemanan dengan teman-teman sebayanya. Anak autis dalam bersosialisasi cenderung menarik diri lebih menikmati asyik atau kesenangan sendiri.

Kemandirian belajar anak autis di nilai dari aspek-aspek di atas belum sampai anak bisa melakukan dengan sendiri, masih banyak bantuan, dukungan bagi anak autis untuk sampai kepada kemandirian belajar.Anak autis memiliki tingkat kemandirian yang berbeda dari anak biasa lainnya.Bahkan, melihat dari tingkat autis ringan, sedang, dan berat kemandirian anak juga berbeda-beda.Tumbuhnya sikap kemandirian belajar anak autis juga berkembang secara perlahan dan terbentuk sikap kemandirian yang di ajarkan dasar, anak autis mengikuti yang di ajarkan oleh guru.

Gambar 1.2 dan 1.3 anak autis belajar bersama guru dikelas Sumber : dokumentasi peneliti

(7)

Peran Guru Melalui Komunikasi Interpersonal Anak Autis Dalam Menumbuhkan Sikap Kemandirian Belajar SLB Cemara Wilis (Anggraeni)

7

Teori Interaksionisme Simbolik

Interaksionisme simbolik merupakan gerakan dalam komunikasi interpersonal secara verbal dan non verbal. Komunikasi terbentuk saat guru dan anak autis dikelas untuk bersiap belajar, dimulai guru memberikan respon gerak tangan dilipat menandakan siap memulai belajar, suara menyampaikan memulai belajar untuk membuka tas, mengambil buku, menyiapkan buku di atas meja dan memberikan instruksi pesan melakukan tugas yang sudah dijelaskan dengan kalimat atau kata yang mudah di pahami anak autis.

Namun, untuk anak autis sendiri perlu waktu mengerti atau memahami dalam setiap perkataan atau dan kata yang menjadi lawan bicaranya. Komunikasi, interaksi, respon dari setiap proses komunikasi terbentuk, dapat terkendala dalam pemahaman makna yang ditangkap oleh individu.

Gerak tubuh atau gesture mengartikan makna yang di berikan guru kepada anak autis saat belajar didalam kelas, saat anak autis melihat pensil itu tumpul dan mencari sesuatu yaitu peraut, pastinya guru mengetahui anak tersebut butuh peraut tanpa bisa menyebut yang dicarinya. Disini guru berusaha memperhatikan dengan saksama setiap gerak non verbal anak itu memberikan tanda komunikasi kepada guru. Ada keterbatasan gangguan perkembangan komunikasi, sosial pada anak autis, jika dilihat dan teramati anak autis masih tetap bisa berkomunikasi menyampaikan pesan secara non verbal. Sekitar separuh penyandang autis adalah orang yang mampu verbal (mampu berkata-kata), 75% dari mereka menunjukkan ungkapan-ungkapan ekolali yang jelas, sementara 25% lainnya menunjukkan ungkapan yang kurang jelas Theo Peeters (2009:75).

Komunikasi verbal anak autis, pada akhirnya ada anak yang bisa berbahasa, mengerti maksud pesan yang diterima juga ada anak yang tidak mengerti dengan mengulang kata-kata atau ungkapan yang sama sengan guru. Seperti, anak di minta guru untuk mengambil buku di tas, anak autis segera mengambil buku, ada anak autis yang mengulang-ulang kata atau perintah yang sama seperti guru hanya saja anak tidak mengerti maksudnya tanpa melakukan perintah/maksud guru tersebut. Anak autis cemara wilis terbagi 3 spesifikasi, autis ringan, sedang dan berat, anak autis.Untuk jumlah anak autis ringan 3 anak, autis sedang 10 anak, dan autis berat 7 anak. Guru dalam komunikasi interpersonal memberikan pesan secara verbal dengan berbahasa setiap kata sederhana agar anak autis bisa menangkap pesan dengan memahami maksud pesan yang tersampaikan. Dalam tahap mengerti komunikasi verbal, anak autis spesifikasi ringan bisa berbahasa dengan baik, dengan kata-kata yang mudah di pahami anak autis. Untuk autis sedang dan autis berat, anak akan cenderung terbatas dalam berkomunikasi verbal.

Makna tidak melekat pada obyek, melainkan dinegosiasikan melalui pengunaan bahasa.Bahasa adalah bentuk dari simbol.simbol di dapatkan jika komunikasi interpersonal berjalan secara interaktif 2 arah, guru dalam berkomunikasi secara verbal atau non verbal mengirim pesan berupa simbol serta berpikir untuk menyampaikan

(8)

8

autis. Guru mempunyai peranan yang mampu menyampaikan pesan, membuat pesan kepada penerima pesan agar merespon yang diharapkan melalui simbol atau bahasa sebagai timbal balik respon tersebut.

KESIMPULAN

Dapat dilihat dari hasil pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya dan setelah dilakukan analisismaka kesimpulan yang dapat diberikan peneliti, sebagai berikut,

1. Tugas guru kepada anak autis sebagai pendidik, pengajar, pembimbing dan pelajar, mampu memberikan dorongan untuk anak autis bertumbuh dalam sikap kemandirian belajar secara bertahap dan kemampuan mandiri mulai dari hal yang dasar.

2. Peran guru melalui komunikasi interpersonal secara tugas dan tanggung jawab guru memberikan pembelajaran yang sama didalam kelas kepada murid autis ringan, sedang, dan berat dengan waktu belajar sesuai jadwal, bantuan belajar pada siswa autis dan dukungan moril kepada murid autis. Peran guru bukan hanya sebagai pengajar saat disekolah, sekaligus menjadi orangtua yang terus mengajari anak, menenangkan anak saat tantrum.

3. Komunikasi interpersonal yang dilakukan guru dalam menyampaikan pesan verbal dan non verbal kepada anak autis sangat baik guru terapkan, untuk sampai kepada anak autis memahami komunikasi atau pesan sebagai respon balik beragam bisa simbol, bahasa yang yang terbatas

4. Anak autis SLB Cemara Wilis memiliki spesifikasi dari ringan, sedang, dan berat, gangguan komunikasi interpersonal juga berbeda-beda setiap spesifikasi tersebut.

5. Kemandirian belajar anak autis dalam aspek emosi, ekonomi, intelektual, dan sosial, cenderung masih memerlukan bantuan dan dorongan dari guru saat di sekolah.

SARAN

1. Guru memiliki peran menumbuhkan sikap kemandirian belajar dalam aspek emosi, ekonomi, intelektual, dan sosial, untuk terus mengupayakan melatih, mengajari dan memiliki catatan kemajuan perkembangan mandiri anak secara perlahan serta di evaluasi oleh guru setiap minggu.

2. Peran Guru dalam Komunikasi interpersonal yang terbangun secara verbal dan non verbal, untuk anak autis spesifikasi sedang dan berat komunikasi secara bahasa terlalu sulit disampaikan. Sebaiknya, guru bisa mencoba inovasi kartu

(9)

Peran Guru Melalui Komunikasi Interpersonal Anak Autis Dalam Menumbuhkan Sikap Kemandirian Belajar SLB Cemara Wilis (Anggraeni)

9 bergambar sambil mengajarkan kata atau kalimat dari gambar tersebut pada anak autis

3. SLB Cemara Wilis diupayakan terus memberikan support kepada guru melalui pelatihan yang mendapatkan sertifikat atau memberikan pendidikan untuk menambah wawasan penanganan secara ilmu psikologi, mendidik anak autis dari segi pembelajaran, dan komunikasi.

(10)

10

Danarjati Dwi, dkk. 2014. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta, Graha Ilmu

Effendy, Uchjana Onong. 2011. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung, PT Remaja Rosadakarya.

Fajar, Marhaeni. 2009. Ilmu Komunikasi Teori & Praktek.Jakarta : Graha Ilmu.

Fatimah, Enung. 2010. Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik), 3st ed. Bandung ,Cv Pustaka Setia.

Mulyana, D.2013. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung ,PT Remaja Rosdakarya. Maulana , Herdiyana dan Gumelar, Gungum. 2013. Psikologi Komunikasi dan

Persuasi.Jakarta ,Akademia Permata.

Pujileksono, Sugeng. 2015. Metode Penelitian Komunikasi Kualitatif. Jawa Timur, Intrans Publishing.

Peeters, T. 2009. Paduan Autisme Terlengkap. Jakarta, PT Dian Rakyat.

Rakhmat, Jalaluddin. 2013. Psikologi Komunikasi. Bandung, PT Remaja Rosdakarya. Riswandi. 2009. Ilmu Komunikasi. Jakarta ,Graha Ilmu.

Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta, PT Raja Grafindo Persada. Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung ,Alfabet.

Sudjana Nana. 2011. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung ,Sinar Baru Algensindo.

Widjaja. 2008. Komunikasi & Hubungan Masyarakat. Jakarta ,Bumi Aksara.

Widijati Utami. 2013. Mengatasi Anak Berkebutuhan Khusus Dengan Terapi Non Medis.Yogyakarta, Mitra Buku.

Veskaristanti A. 2008. 12 Terapi Autis Paling Efektif & Hemat.Yogyakarta, Pustaka Anggrek.

Asgarwijaya, Dwiyan.Strategi Komunikasi Interpersonal Antara Guru dan Murid Paud (Studi Deskriptif Komunikasi Interpersonal Antara Guru dan Murid Paud Tunas Bahari Dalam Kegiatan Belajar Mengajar).

Munadiroh, Lailatul. (2015). Perbedaan Kemandirian Dalam Belajar di Tinjau Dari Persepsi Terhadap Pola Asuh Orang Tua Pada Siswa Negeri 4 Bangkalan. Surabaya: UIN Sunan Ampel.

Nida, Fatma Laili Khoirun. (2013). Komunikasi Bagi Anak Berkebutuhan Khusus . Volume 1 nomor 2: (163-189). Kudus.

http://www.kemdikbud.go.id. (diakses 9 april 2017)

htpp://Harian online Antara News:Kemdikbud: angka partisipasi bersekolah anak berkebutuhan khusus rendah 3 November 2015. Diakses 9 april 2017

Figur

Memperbarui...

Related subjects :