• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bidikmisi UNAIR Resmi Miliki Ketua Baru

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bidikmisi UNAIR Resmi Miliki Ketua Baru"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Bidikmisi UNAIR Resmi Miliki

Ketua Baru

UNAIR NEWS – Organisasi Bidikmisi Universitas Airlangga

(AUBMO, -red), hari ini (24/3) resmi memiliki ketua baru. Setalah musyawarah penentuan ketua dilaksanakan pada penghujung tahun lalu, serah terima jabatan (sertijab) ketua AUBMO periode 2016-2017 resmi memutuskan Irsyad Qori’in menjadi nahkoda organisasi yang membawahi seluruh mahasiswa bidikmisi di UNAIR.

Berlangsung di Aula SC UNAIR, sertijab tersebut dihadiri oleh pihak Direktorat Kemahasiswaan yang di wakili oleh Drs. Trijas Sarwendah, Ketua BEM UNAIR terpilih Rizky Fadhilah, Ketua AUBMO demisioner Ihwanun Mudhofiri Hariri, dan seluruh jajaran pengurus AUMBO periode 2016-2017.

Pada kesempatan tersebut, Hariri sapaan akrab ketua demisioner AUBMO mengajak para pengurus baru untuk tetap memegang teguh kultur organisasi yang sudah dibangun sejak AUBMO berdiri. Sebagai organisasi, baginya AUBMO tidak sekedar menjalankan serangkaian program kerjanya, tapi juga menjadi titik temu bagi berbagai elemen yang berkaitan dengan bidikmisi.

“Saya harap AUBMO akan tetap menjadi wadah aspirasi bagi semua mahasiswa bidikmisi, dan ingat budaya sebagai pelayan ini harus tetap menjadi fondasi,” jelas mahasiswa yang kini menjabat sebagai wakil ketua BEM UNAIR.

(2)

Ketua BEM UNAIR, Rizky Fadhilah Menandatangani Berita Acara Serah Terima Jabatan AUBMO 2016-2017 (Foto: Nuri Heramawan) Senada dengan Hariri, ketua BEM UNAIR yang hadir diacara tersebut juga menghimbau kepada pengurus AUBMO yang baru agar senantiasa bekerjasama dengan BEM UNAIR, selain itu mahasiswa Ilmu Sejarah tersebut juga mengatakan bahwa AUBMO bisa bersama dengan BEM UNAIR menjadi garda terdepan dalam membawa nama baik UNAIR.

“Buatlah suatu agenda yang bisa bermanfaat bagi semua masyarakat, karena AUBMO merupakan BSO dari BEM, ke depan kita harus saling bersinergi,” jelasnya.

Mewakili direktur kemahasiswaan, Drs. Trijas Sarwendah memberikan ucapan terimakasih kepada pengurus lama atas amanah yang sudah dijalankan dengan baik, pasalnya AUBMO memiliki peran sentral dalam mengawal dan membantu kelancaran jalannya program bidikmisi di UNAIR.

(3)

dalam membantu proses berjalananya bidikmisi di UNAIR, mulai dari pembinaan, monitoring dan evaluasi IPK mahasiswa, dan ke depan nanti masih banyak hal-hal yang harus dilakukan oleh pihak kemahasiswaan dan AUBMO secara bersama-sama,” jelasnya. Dipengujung, ketua terpilih Irsyad Qori’in dengan semangat Bidikmisi UNAIR Bersatu, Berkarya, Meraih Asa memberikan sambutan pertamanya. Mahasiswa Ilmu Informasi dan Perpustakan tersebut mengajak seluruh anggotanya untuk memiliki jiwa yang besar, pasalnya tanggung jawab yang besar dalam mengemban jalannya roda organisasi sudah di depan mata.

“Mengutip sambutan rektor pada saat pelantikan pengurus ormawa, beliau mengajak kita agar senantiasa, bekerja keras, cerdas, dan ikhlas, namun disini kita juga perlu bekerja tuntas,” pungkasnya. (*)

Penulis: Nuri Hermawan

Bahas Isu Hukum Lingkungan,

FH Undang Pakar dari Jepang

UNAIR NEWS – Dua orang professor dari Jepang, Prof. Noriko Ookubo dan Prof. Naoyuki Sakumoto, Kamis (24/3) memberikan kuliah umum bertajuk ‘General Lecture on Environmental Law’. Bertempat di Ruang Gondowardojo FH UNAIR, kuliah umum tersebut dihadiri oleh puluhan mahasiswa dan dimoderatori oleh dosen hukum lingkungan FH UNAIR, Franky Butarbutar.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Ookubo menjelaskan mengenai perubahan kebijakan hukum Jepang dalam upaya melindungi hak-hak para korban kerusakan lingkungan. Ia juga menjelaskan upaya perbaikan sistem hukum yang telah dilakukan oleh Jepang

(4)

untuk meminimalisasi terjadinya pencemaran lingkungan.

Langkah yang ditempuh Jepang, menurut professor hukum lingkungan dari Universitas Osaka tersebut, tidak lepas dari tragedi Minamata yang sempat mewabah di tahun 1950-an. Saat itu, warga di Kota Minamata, Prefektur Kumamoto menderita sindrom kelainan fungsi saraf yang disebabkan keracunan akut air raksa. Setelah dilakukan penelitian diketahui bahwa asal muasal keracunan tersebut karena mereka mengonsumsi banyak makanan laut yang sudah tercemar logam berat yang dihasilkan oleh pabrik batu baterai Chisso.

Prof. Sakumoto yang merupakan perwakilan dari Japan External

Trade Organization (JETRO) membahas mengenai upaya preventif

kerusakan lingkungan. Menurutnya, negara-negara Asia terutama sangatlah membutuhkan kebijakan lingkungan yang terintegrasi dan komprehensif dalam upaya mengurangi kerusakan yang ditimbulkan oleh pencemaran lingkungan. Environmental Impact

Assessment (EIA) atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) bisa menjadi alat yang esensial dalam mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan tersebut.

Menanggapi diadakannya kuliah umum tersebut, Wakil Dekan III FH UNAIR, Dr. Radian Salman menjelaskan bahwa kedatangan dua orang profesor dari Jepang tersebut pada awalnya dalam rangka melakukan penelitian mengenai implementasi UU Pengelolaan Lingkungan di Indonesia. Di FH UNAIR, mereka meminta pendapat para dosen yang merupakan pakar di bidang hukum lingkungan. “Pak Suparto Wijoyo banyak memberikan masukan bahkan juga memberikan literatur-literatur yang berkaitan kepada mereka,” ujarnya.

Tidak ingin kedatangan dua orang professor tersebut hanya sekadar diskusi antara keduanya dengan dosen FH UNAIR, Prof. Ookubo dan Prof. Sakumoto, lanjut Radian, kemudian juga diminta untuk memberikan kuliah umum kepada mahasiswa FH UNAIR

(5)

yang mengambil kelas hukum lingkungan.

Radian menambahkan bahwa ke depan dua orang profesor tersebut diharapkan dapat melaksanakan joint-research dengan para dosen FH UNAIR.

“Kami juga mengupayakan agar Prof. Sakumoto nantinya juga bisa menjadi visiting professor di FH UNAIR,” pungkasnya. (*)

Editor : Yeano Andhika

EMOTION, Permainan Mirip

Monopoli Tingkatkan Kemampuan

Bahasa Inggris

UNAIR NEWS – EMOTION atau English Monopoli Education merupakan

gagasan dua sejoli yang bernama Dia Kurnia Dewi dan Hanifah Puspita Sari. Gagasan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris bagi masyarakat di wilayah kepulauan ini bermula dari ide yang sederhana, yakni sadar akan semakin pentingnya bahasa Inggris di tengah percaturan global serta langkah Indonesia yang sudah memasaku era MEA. Berangkat dari hal itulah, dua sahabat karib yang sedang menempuh semester empat tersebut akhirnya mencoba menciptakan sebuah media yang menarik untuk digunakan belajar Bahasa Inggris. EMOTION, karya yang sempat menyabet juara dua dalam

Archipelago Essay Competition yang diselenggarakan di

Universitas Patimura Ambon ini hampir mirip dengan permainan monopoli, hanya saja media serta cara mainnya yang berbeda. “EMOTION ini merupakan media pembelajaran bahasa inggris yang mengadaptasi dari permainan monopoli, meski terlihat sederhana

(6)

media pembelajaran ini memiliki kelebihan untuk meningkatkan keaktifan pemain dalam berbahasa inggris,” ujar Dia Kurnia Dewi.

Ditemui tim UNAIR NEWS di kantor redaksi News Room, keduanya menjelaskan cara bermain EMOTION. Aturan pertama, permainan ini harus dimainkan oleh 3-5 orang dan 1 orang pemandu, dimulai dari start semua pemain diwakii dengan boneka EMOTION. Kemudian, semua pemain berhak melempar dua buah dadu secara bergantian. Uniknya hasil lemparan bisa di tambah, dikurang, dibagi atau dikali. Dari hasil tersebut pemain yang berhenti pada kotak, harus mengambil kartu yang warnanya sesuai dengan kotak.

Dua Sejoli Dia Kurnia Dewi (kiri) dan Hanifah Puspita Sari (kanan), Sesaat Setelah Dinayatakan Sebagai Juara II Pada Ajang Archipelago Essay Competition di Universitas Patimura Ambon (Foto: Istimewa)

(7)

“Setiap warna memiliki kategori merah untuk kategori nationalisme, hijau untuk kategori budaya, merah muda untuk kategori musik, biru untuk kategori opini, dan warna ungu untuk kategori kebiasaan,” jelas Hanifah Puspitasari.

Saat tim UNAIR NEWS mencoba bermain, keduanya juga menjelaskan apabila pemain berhenti pada kotak yang berada di atas pelampung ikan atau balon udara, maka pemain diberikan kesempatan untuk memilih jenis kartu yang dinginkan. Kemudian jika pemain berhenti di peta Pulau Jawa atau Sumatera pemain diberi kesempatan untuk memilih antara membuka kamus The

Dictionary of Emotion atau bertanya pada pemandu jika ada

pertanyaan atau kalimat yang tidak dimengerti. Dalam permainan ini pemenang ditentukan oleh dua orang yang pertama kali mampu menjawab kelima kategori pertanyaan yang berbeda dengan benar.

“Apabila sampai finish belum ada pemain yang mampu menjawab kelima kategori pertanyaan yang berbeda dengan benar maka permainan tetap harus dilanjutkan. Namun, jika ada yang menang, pemenang pertama maupun kedua dalam permainan EMOTION ini berhak untuk mendapatkan pin The Honorable of EMOTION,” imbuh Hanif.

Ditanyai pengembangan karya ini ke depan, kedunya menuturkan bahwa rencananya EMOTION ini akan digunakan untuk pembelajaran bagi anak-anak marjinal di Surabaya, untuk kemudian bisa dikembangkan ke arah yang lebih luas.

“Kami tidak terbesit untuk mencari keuntungan, semoga hal kecil ini bisa memberikan perubahan dan bisa digunakan untuk pengabdian masyarakat, selain itu juga bisa dijadikan bahan pengajaran bagi komunitas atau organisasi mahasiswa yang fokus pada bidang pengajaran,” pungkasnya kompak. (*)

(8)

Puluhan Perusahaan Tawarkan

Kesempatan Kerja dan Beasiswa

di Airlangga Career Fair 2016

UNAIR NEWS – Ingin mencari kerja dan beasiswa studi lanjut?

Inilah kabar gembira buat Anda. Universitas Airlangga melalui Pusat Pembinaan Karir dan Kewirausahaan (PPKK) akan kembali menyelenggarakan bursa kerja “Airlangga Career Fair (ACF)

XXVI, Scholarship & Entrepreneur EXPO” selama tiga hari

berturut-turut pada tanggal 31 Maret hingga 2 April 2016. Gelaran ACF ke-26 ini akan diadakan di Gedung Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C UNAIR Jl. Dr. Ir. Soekarno, Mulyorejo, Surabaya.

Ketua PPKK UNAIR Dr. Elly Munadziroh, drg., M.S., ditemui di kantornya, Kamis (24/3) menjelaskan, hingga saat ini sudah mendaftar 35 perusahaan yang menyatakan ambil bagian sebagai peserta program penyedia lapangan pekerjaan. Mereka itu baik BUMN, BUMD, perusahaan multinasional, maupun swasta terpercaya. Selain itu juga sudah terdapat sepuluh perusahaan yang menyatakan diri turut menjadi sponsor kegiatan ACF ini, diantaranya Bank Indonesia, Bank BTN, Bank BCA Tbk, Askrindo, PT KAI, dan Perum Peruri.

”Kita konsisten setiap tahun menyelenggarakan dua kali kegiatan ACF, setelah ini nanti ACF yang kedua sekitar September,” kata Dr. Elly Munadziroh.

Puluhan perusahaan yang turut menyediakan formasi pekerjaan (job) tersebut antara lain PT Persadha Pamunah Limbah Industri (PPLi), JNE, PT Sutindo Torrecid Indonesia, Bank CIMB Niaga, Bank Bukopin, PT Wika Ikon, PT Astra International Daihatsu,

(9)

PT Intrias Mandiri Sejati, PT Salam Pacific Indonesia Line, Gloria Christian School, PT Realfood Winta Asia, Bank BTPN, MPM Distributor, PT Dharma Polimetal, Prasetiya Mulya Business School, PT Supra Surya Indonesia, PT Dharma Lautan Utama, PT Blue Bird Tbk., HM Sampoerna Tbk, PT Mutual Plus Global Resources, PT Siantar Madju.

Staf pengajar Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) yang sudah bertahun-tahun memimpin PPKK ini berharap pengunjung ACF tahun ini meningkat dari rata-rata setiap penyelenggaraan dikunjungi 10.000 pencari kerja/beasiswa. Ia menyatakan demikian sebab beberapa tahun lalu pernah ACF UNAIR ini dikunjungi sebanyak 16.000 pencari kerja.

Apalagi kali ini pengunjung ACF tidak hanya mereka yang ingin mencari pekerjaan, tetapi juga mahasiswa atau lulusan S1 (sarjana) yang hendak mencari beasiswa studi lanjut. Hadirnya lembaga pemberi beasiswa ini berkat kerjasama PPKK dengan Pusat Urusan Internasional dan Kerjasama UNAIR atau IOP (International Office and Partnership). Lembaga tersebut antara lain Edlink+ConneX, SUN Education, IDP, TEC, Caraka Mulia, DAAD, Education USA, AUG Student Services, Konsulat Jenderal Jepang, dan IFI.

”Kami masih tetap menggratiskan tiket masuk bagi pendaftar online, karena itu kunjungi www.ppkk.unair.ac.id,” tambah Dr. Elly Munadziroh. (*)

Penulis: Bambang Bes

(10)

Masuk UNAIR

UNAIR NEWS – Siswa SMA dari seluruh penjuru tanah air

diberikan kesempatan untuk diterima menjadi mahasiswa UNAIR. Tidak ada pemberlakuan kuota daerah dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru yang dilakukan oleh UNAIR. Hal tersebut diungkapkan oleh staf Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) Djoko Adi Prasetyo ketika menerima kunjungan siswa dan guru SMA Al Irsyad, Kota Tegal, Rabu (23/3).

“UNAIR tidak memberlakukan kuota daerah. Hak untuk masuk UNAIR sama saja,” ujarnya. Jika selama ini UNAIR banyak menerima mahasiswa dari Jawa Timur, lanjut Djoko, hal tersebut tidak lain karena memang mereka yang berasal dari Jawa Timur lah yang selama ini paling banyak mendaftar di UNAIR.

Dosen Departemen Antropologi tersebut meminta mereka yang berasal dari luar Jawa Timur dan berkeinginan mendaftar di UNAIR untuk tidak khawatir mengenai hal tersebut. Ia meminta para siswa SMA untuk fokus meningkatkan nilai dan meraih prestasi unggulan sebagai bekal masuk UNAIR ke depannya.

Dalam kesempatan tersebut Djoko juga mengimbau mereka yang ingin masuk UNAIR untuk tidak khawatir mengenai masalah biaya pendidikan di UNAIR karena biaya pendidikan yang ditarik UNAIR disesuaikan dengan penghasilan orang tua masing-masing. Bagi mereka yang kurang mampu dari segi ekonomi, selama ini UNAIR juga telah banyak menerima mahasiswa dari jalur Bidik Misi yang sepenuhnya dibebaskan dari kewajiban membayar biaya pendidikan.

“UNAIR telah membatalkan beberapa orang sebagai penerima Bidik Misi karena setelah dilakukan visitasi ternyata tidak sesuai. Jadi jangan macam-macam,” pungkasnya mengingatkan bahwa Bidik Misi hanya diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar tidak mampu secara ekonomi. (*)

(11)

[Podcast] Pecel Airlangga,

Hadirkan Pecel dengan Nuansa

Berbeda

RADIO UNAIR – Makanan pecel adalah makanan yang sering kita

jumpai di kala pagi. Pecel biasanya dijajakan di pinggir jalan dengan pincuk yang khas sebagai wadah pengganti piring.

Dimas Farid, Mahasiswa Akuntansi Universitas Airlangga ini ingin menyajikan pecel dengan nuansa lain. Dia ingin membuat orang menikmati pecel dengan suasana bintang lima namun harga kaki lima. Hal ini mendorongnya membuat usaha yang dinamakannya Pecel Airlangga.

Rumah Makan (RM) Pecel Airlangga baru dia rintis sejak Desember 2015. Lokasinya di Jalan Srikana Timur. Di sana, Dimas menyuguhkan sajian pecel yang biasa kita nikmati di pinggir jalan sebagai menu utama. Dengan ruangan full AC dan

Free Wi-Fi , pembeli bisa menikmati pecel dengan nuansa

berbeda.

Meski RM ini berjuluk Pecel Airlangga, menu yang ditawarkan bermacam macam, antara lain Rawon, Sayur Asem, Nasi Goreng, Ayam Goreng, Jus Buto dan lain-lain. Untuk harga, Dimas tetap mematok harga yang bisa dijangkau kantong mahasiswa antara Rp 7.000,- hingga Rp 25.000,-.

Usaha Kuliner Berbasis Syariah

Awal mula Dimas memulai usaha ini karena kecintaannya pada kuliner. Dia memang berniat menekuni bisnis kuliner. Di awal 2012, dia pernah memiliki usaha Rice Box bersama salah

(12)

seorang rekannya. Namun karena ada beberapa halangan, usahanya berhenti. Itu tak menyurutkan niatnya untuk tetap bangkit dan memulai usaha baru.

Menjadi bagian dari komunitas IIBF (Indonesian Islamic

Bussiness Forum) mempertemukannya dengan seorang rekan yang

mau membantunya memulai usaha. Rekan inilah yang akhirnya menjadi investor Pecel Airlangga. Dimas berpegang teguh pada prinsip ekonomi Islam yang tidak menganjurkan ada unsur Riba’ dalam perdagangan.

Untuk memulai usahanya, dia hanya mengandalkan investor dan tak meminjam uang kepada instansi manapun yang ada bunganya. Dengan menerapkan ekonomi Islam, dia merasa usahanya lebih barokah. Dia memiliki kepuasan tersendiri dengan tidak hanya mengumpulkan materi namun juga moril. Menurutnya, usaha yang dia kelola merupakan salah satu sarana untuk mencari Ridho Tuhan. (*)

Penulis: Faridah Hari Editor: Iwan Iwe

Iuran BPJS Boleh Naik, Asal…

UNAIR NEWS – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo

menerbitkan Perpres no. 19 tahun 2016 tentang Jaminan Kesehatan. Salah satu isi dari Perpres itu berbunyi tentang kenaikan premi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Rencananya, kenaikan iuran resmi diberlakukan pada tanggal 1 April 2016 mendatang. Kebijakan ini menuai pro kontra berbagai kalangan.

Menurut pakar administrasi dan kebijakan kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Dr. Djazuli

(13)

Chalidyanto, S.KM., M.ARS, kenaikan iuran BPJS Kesehatan harus diimbangi dengan upaya pengendalian risiko penyakit dan perbaikan fasilitas layanan kesehatan.

Upaya pengendalian risiko yang dimaksud oleh Djazuli adalah upaya promotif dan preventif untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Bagi Djazuli, apabila masyarakat tak menerapkan PHBS dalam kehidupan sehari-hari, maka risiko kesehatan akan tetap tinggi. Akibatnya, BPJS Kesehatan akan terus mengalami defisit meski sudah berulang kali mengalami kenaikan premi.

Dr. Djazuli Chalidyanto, S.KM., M.ARS saat ditemui tim News UNAIR di ruangannya (Foto: UNAIR NEWS)

“Tugasnya pemerintah melalui Kementerian Kesehatan adalah mengendalikan faktor risiko yang sering kali kita sebut

(14)

sebagai upaya promotif dan preventif. Bagaimana agar masyarakat bisa berperilaku hidup bersih dan sehat, tidak merokok, dan rajin berolahraga. Ini yang mesti dikedepankan,” tutur Djazuli.

“Sampai kapanpun, uangnya BPJS tidak akan pernah cukup. Walaupun misalnya, dua tahun lagi, ada peraturan yang mengatakan bahwa iuran BPJS akan naik preminya. Itu tidak akan menyelesaikan masalah tanpa pengendalian faktor risiko. Harus ada upaya secara bersama-sama,” imbuh Djazuli.

Terkait dengan pelayanan fasilitas kesehatan, Djazuli berharap pemerintah terus berupaya melakukan perbaikan terhadap pelayanan kesehatan. Selama ini, keterbatasan jumlah mitra fasilitas kesehatan yang bekerjasama BPJS Kesehatan membuat pelayanan kesehatan tak berjalan optimal. Salah satu contohnya, adalah antrean panjang pasien di fasilitas kesehatan tingkat lanjut.

Pelayanan kesehatan itu harus diperbaiki dari segi jumlah, distribusi, dan kualitas. Menurut Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Daerah Jawa Timur, problem pelayanan kesehatan di Indonesia terdiri dari tiga hal. Pertama, jumlah fasilitas dan tenaga medis terbatas. Kedua, distribusi tidak merata. Ketiga, kualitas pelayanan belum optimal.

Meski demikian, Djazuli mendukung kenaikan iuran BPJS Kesehatan, khususnya untuk menekan defisit klaim pembayaran jaminan kesehatan nasional, dan mempercepat klaim rumah sakit. Namun, Djazuli mengimbau kepada masyarakat dan perusahaan untuk tetap rutin membayar iuran dan mendaftarkan karyawan untuk bergabung dengan BPJS Kesehatan.

Berdasarkan Perpres no. 19 tahun 2016 tentang Jaminan Kesehatan, iuran BPJS Kesehatan bagi peserta mandiri akan mengalami kenaikan. Pada kelas I iuran akan naik dari Rp59.500,- ke Rp80.000,-. Iuran kelas II akan naik dari

(15)

Rp42.500,- ke Rp51.000,-, dan kelas III akan naik dari Rp25.500,- ke Rp30.000,-. (*)

Penulis: Defrina Sukma S Editor: Nuri Hermawan

Dokter

Spesialis

Harus

Mengabdi ke Luar Jawa

UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga

kembali melantik 98 Dokter Spesialis – 1. Pelantikan yang dilaksanakan pada Rabu (23/3), dihadiri oleh Wakil Direktur RSUD Dr. Soetomo, dr. Bangun Trapsila Purwaka, dr., Sp.OG-K., Dekan FK UNAIR, Prof. Dr. dr. Soetojo, Sp.U., Wakil Rektor III UNAIR, Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D., manajemen RS UNAIR, Dekan FK UNAIR terdahulu, dan kerabat para lulusan.

Pada pelantikan yang dilaksanakan di Aula FK UNAIR tersebut, Wakil Direktur RSDS menjelaskan bahwa menjadi dokter spesialis tidak sekadar memberikan perawatan sesuai keahlian, tetapi juga menumbuhkan rasa empati dan selalu mengedepankan etika kedokteran kepada pasien.

“Rasa empati kemanusiaan ini harus dimiliki dokter spesialis saat mengobati pasien,” ujar Bangun dihadapan para dokter spesialis.

(16)

Suasana Khidmat Pelantikan Dokter Spesialis – 1 di Aula Fakultas Kedokteran UNAIR (Foto: UNAIR NEWS)

Pada kesempatan yang sama, Dekan FK UNAIR menyampaikan beberapa hal seputar kondisi dokter spesialis yang berada di luar Jawa. Dihadapan dokter spesialis angkatan ke 116 ini, ia mengajak agar para lulusan kelak mau mengabdikan dirinya ke luar Jawa.

“Menurut data yang saya dapat, 70% dokter spesialis ini ada di Jawa, sisanya tersebar ke berbagai pulau. Nah, pentingnya para lulusan ini bisa mengabdikan diri ke sana, di NTT, Bangka Belitung, apalagi Papua ini sangat butuh tenaga-tenaga kalian,” ujarnya.

Wakil Rektor III UNAIR Prof. Amin mengutarakan hal senada. Lulusan dokter spesialis baru ini diharapkan mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat luas.

“Dalam mengabdi, jangan pernah ragu dalam menjalin relasi. Tetap pegang teguh motto excellence with morality. Ingatlah

(17)

untuk meneladani para pendahulu kita yang telah membawa nama baik alamamater,” pungkas Prof. Amin. (*)

Penulis : Nuri Hermawan

Editor : Defrina Sukma Satiti

Belajar dari Jepang Tentang

Edukasi Lingkungan

UNAIR NEWS – Menyadari bahwa permasalahan lingkungan yang ada

dewasa ini begitu kompleks, program studi Ilmu dan Teknologi Lingkungan (ITL) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR terus berupaya membekali para mahasiswanya dengan pengetahuan lingkungan yang komprehensif. Salah satunya adalah dengan mengundang para pakar untuk memberikan pencerahan perihal masalah lingkungan ini.

Senin (21/3), Prof. Miyake Hiroyuki dari Fakultas Hukum, Universitas Kitakyushu Jepang memberikan kuliah tamu bertajuk “Cooperation on Environmental Activity Program in Surabaya”. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Hiroyuki memberikan pengetahuan kepada mahasiswa ITL mengenai Education for

Sustainable Development (ESD) serta berbagai proyek lingkungan

yang telah dilakukan oleh Jepang.

“Masyarakat dapat turut serta melakukan proyek-proyek lingkungan tersebut, dan mereka yang akan merasakan manfaat dari proyek itu sendiri,” ujar pakar hukum lingkungan yang fokus mengenai ESD di Universitas Kitakyushu ini.

Terkait ESD, Prof. Hiroyuki menjelaskan bahwa digencarkannya ESD di Jepang tidak lepas dari banyaknya tragedi lingkungan yang terjadi di Jepang, seperti tragedi Minamata dan

(18)

Itai-Itai. Tragedi Minamata yang mewabah sejak tahun 1958, secara hukum baru dapat terselesaikan di tahun 2004. Ia menekankan bahwa ESD menjadi penting karena dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat secara berkelanjutan.

Berkenaan dengan langkah-langkah Jepang yang dianggap berhasil dalam mewujudkan kepedulian terhadap lingkungan, Prof. Hiroyuki sekali lagi menekankan mengenai pentingnya edukasi. “Mereka diberi pengetahuan bahwa lingkungan harus dijaga kelestariannya secara berkelanjutan. Oleh sebab itu masyarakat secara bersama-sama harus ikut menjaga keberlangsungan kelestarian lingkungan di tempat mereka tinggal,” ujar Prof. Hiroyuki yang dalam kesempatan tersebut juga bicara mengenai kebijakan pengelolaan sampah tersebut.

Terkait dengan kedatangan Prof. Hiroyuki, Wakil Dekan III FST UNAIR Dr. Nanik Siti Aminah mengatakan bahwa ini adalah kali kedua professor dari Kitakyushu datang ke UNAIR.

“Dari universitasnya sudah dua kali datang ke sini. Kemarin orang lingkungan, ini orang hukum lingkungan. Jadi pas sekali karena kami memiliki program studi Ilmu dan Teknologi Lingkungan (ITL),” ujar Nanik. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh Editor : Yeano Andhika

Kemandirian Pangan dan Sejuta

Permasalahannya

Indonesia banyak disebut sebagai surga dunia. Negeri ini memiliki keagungan Sumber Daya Alam (SDA) melimpah. Hal

(19)

tersebut bisa diamati dari beranekaragamnya flora dan fauna yang kita sebut sebagai keanekaragaman hayati.

Potensi alam yang melimpah tentu saja menjadi aset dan kekuatan potensial untuk mendongkrak Indonesia menjadi negara yang disegani dan maju. Sayangnya, apa yang terjadi pada negara ini sangat bertolak belakang dari harapan tersebut. Indonesia terpuruk dan masih berstatus sebagai negara berkembang dengan berbagai polemik yang tidak kunjung selesai. Salah satu masalah adalah kemandirian sektor pangan. Jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang melimpah membuat krisis daya catu bahan pangan perlu serius diperhatikan.

Tuntutan masyarakat akan tersedianya makanan sehat, aman, namun tetap terjangkau, menjadikan produsen pangan menjadi panik. Sulitnya mencari bahan produksi, keterbatasan alat dan minimnya pengawasan dan standarisasi dari pemerintah menjadikan oknum produsen berani berbuat curang dengan mengelabuhi konsumen. Hal ini dilakukan dengan dalih agar mereka dapat bertahan dari gempuran produk impor yang datang membanjiri pasar.

Pemerintah melalui Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Dinas Peternakan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) bersama-sama Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak mau jika hanya diam dan melihat polemik masalah pangan ini. Mereka peduli dan turut andil berperan serta dalam menjaga kesehatan masyarakat melalui edukasi yang gencar terkait persoalan makanan ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal), terlebih makanan yang tergolong protein hewani.

Hadirnya sistem ASUH digunakan untuk melindungi masyarakat agar tidak salah dalam mengonsumsi dan menghindarkan mereka dari makanan berbahaya yang berpotensi menyebabkan penyakit. Selain itu, sistem ASUH diterapkan sebagai media evaluasi dan kontrol pemerintah terhadap industri pangan. Manfaatnya meminimalkan segala bentuk kecurangan maupun pelanggaran.

(20)

Ditemukannya daging palsu, yaitu daging babi dalam perdagangan daging sapi, adanya campuran ayam tiren (mati kemarin) dalam perdagangan daging ayam, terdapatnya bahan pengawet dan kimia berbahaya dalam makanan, adalah contoh kecil problematika pangan hewani. Hal ini merupakan indikator kepanikan kalangan produsen dalam memenuhi standar ASUH yang ditetapkan untuk konsumen Indonesia.

Selain berbagai masalah yang telah disebutkan diatas, Indonesia juga mengalami kepelikan dalam hal ketersediaan stok bahan pangan domestik yang berkualitas. Hal tersebut diakibatkan pemakaian insektisida dan obat-obatan secara terus-menerus sehingga menimbulkan pemakaian bahan kimia pada hewan. Penyebab lain adalah optimalisasi rumah potong hewan dan unggas yang masih rendah dan manajemen peternakan yang kurang modern. Penanganan hewan berpotensi zoonosis yang kecil, kelangkaan sumber plasma nutfah dengan genetik yang baik, pengolahan limbah rumah potong hewan dan peternakan yang tidak efektif, sistem perekonomian dan pasar yang termonopoli, serta masih lemahnya fungsi pengawasan pangan yang terjamin oleh BPOM juga dituding sebagai penyebab. Selain itu, lemahnya daya beli masyarakat terhadap protein hewani, semisal daging sapi menjadi masalah tersendiri bagi masyarakat.

Kondisi yang kian merosot ini patut menjadi cermin sebagai bahan evaluasi bersama. Indonesia harus belajar dan berbenah dalam menghadapi permasalahan krisis pangan ini. Peternakan rakyat dengan teknologi dan manajeman modern, sinergisitas k u a t a n t a r a p e t e r n a k , s w a s t a d a n p e m e r i n t a h h a r u s dikembangkan. Selain itu edukasi yang gencar kepada masyarakat terkait pemilihan pangan ASUH dan penegakkan hukum dengan bijaksana, baik di pusat maupun di daerah harus diklakukan. Hal ini semata untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk dalam negeri.

Penerapan disiplin ilmu Kesehatan Masyarakat Veteriner melalui

Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dan

(21)

dan ditingkatkan implementasinya oleh pemerintah. Penerapan HACCP dan epidemiologi yang tepat akan membuat rantai regulasi bahan pangan asal hewan dan perekonomiannya mengalami kenaikan mutu, terjaga keamanannya dan mencegah peluang tindakan penyelewengan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.

Demi mencapai hasil yang lebih besar, sinergitas antara Kementerian Pertanian, Puslitnak, Badan Ketahanan Pangan, MUI, Kementerian Kesehatan, Kementerian Industri dan Kementerian Kehutanan harus segera diwujudkan. Peran strategis setiap lembaga sesuai koridornya dengan kerja yang terintegrasi akan mewujudkan harapan masyarakat: yakni tercapainya kemandirian pangan di Indonesia.

Hal lain yang tidak kalah vital dalam menunjang terwujudnya kemandirian pangan di Indonesia adalah kualitas eksekutornya, yaitu pemuda. Keberadaan pemuda, terlebih mahasiswa dengan gelarnya sebagai kaum intelektual kritis dan generasi perubahan, mendapat peran besar dalam membantu memecahkan problematika pangan. Sudah selayaknya mahasiswa melalui karya dan kontribusinya kepada masyarakat memberikan bukti bahwa kualitas SDM di negeri ini tetap handal dan terus berkembang. Ayo generasi muda! (*)

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan data kuantitatif dan data kualitatif secara bersamaan untuk menjawab rumusan masalah apakah stratifikasi social

Hal yang diharapkan oleh klien yaitu setelah dirawat dan melalui proses penyembuhan dan pengobatan klien dapat sembuh dan dapat beraktivitas seperti biasa. Saat

Dengan mengamati teks siswa dapat menuliskan masalah dan penyelesaian masalah (sederhana) berkaitan dengan tubuh yang sehat dengan tepat4. Dengan mengamati cerita, siswa

Merupakan sarana dan prasarana yang mendukung kenyamanan wisatawan pada saat menikmati obyek dan daya tarik wisata yang disajikan seperti: sarana ibadah, kamar

Daerah Istimewa Yogyakarta Terakreditasi C 76 Kelompok Bermain Anak Samudera Kelompok Bermain Samas, Srigading, Sanden Kab.Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta

Pada bab terakhir ini diuraikan mengenai kesimpulan yang dapat ditarik dari pengerjaan Tugas Akhir ini. Selain itu juga diuraikan mengenai saran-saran yang dapat diperhatikan untuk

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif dimana dalam penelitian yang dilakukan hanya bersifat Deskriptif yaitu untuk mengetahui atau