BAB IV: KONSEP
4.1. Topik dan Tema
4.1.1. Topik
4.1.2. Tema
4.1.3. Komposisi Pola Pikir
4.2. Filosofi Perancangan
4.2.1. Citra
4.2.2. Nuansa
4.3. Konsep Peruntukan (Zone Plan
4.3.1. Zone Plan Horizontal
4.3.2. Zone Plan Verkal
4.4. Konsep Tata Ruang Luar
4.4.1. Ruang Luar Aktif
4.5. Konsep Sirkulasi
4.5.1. Konsep Sirkulasi Dalam Tapak
4.5.2. Konsep Sirkulasi Dalam Bangunan
4.6. Konsep Orientasi Bangunan
4.6.1. Orientasi Ke Luar
4.7. Konsep Titik Tangkap Bangunan (Eye Cather)
4.8. Konsep As Bangunan dan Kawasan
4.9. Konsep Dimensi Bangunan
4.11. Konsep Struktur dan Konstruksi Bangunan
4.11.1. Ketinggian Bangunan
4.11.2. Bangunan Bentang Lebar
4.12. Konsep Utilitas Bangunan dan Kawasan
4.12.1. Jaringan Instalasi Air
4.12.2. Jaringan Listrik
4.12.3. Pengudaraan Ruang
4.12.5. Jaringan Pemadam Kebakaran
4.12.6. Pembuangan Sampah
4.12.7. Penangkal Petir
4.13. Konsep Dasar
Pembangunan yang sekarang sedang marak adalah pembangunan yang hanya bersifat sementara.Dengan tuntutan globalisasi, Indonesia mengikuti perkembangan jaman tanpa melihat prospek kedepan.Perkembangan masyarakat yang serba instan dan asal jadi, budaya konsumtif telah mendarah daging pada sebagian besar masyarakat Indonesia.Sedang sebenarnya, hakikat pembangunan adalah pembangunan yang berkelanjutan yang tidak parsial, instan dan pembangunan kulit. Maka, dengan adanya konsep Sustainable Development yang kemudian disebut SD akan berusaha memberikan wacana baru mengenai pentingnya melestarikan lingkungan alam demi masa depan, generasi yang akan datang. “Pembangunan yang memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengkompromikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.”
Dasar pemikiran munculnya tema “Sustainable Neighborhood” adalah upaya untuk merancang kawasan dengan pemecahan masalah yang ada. Namun
penekanan pemecahan masalah diutamakan pada prinsip lingkungan yang berkelanjutan atau memikirkan bagaimana kawasan ini berkembang beberapa tahun yang akan datang.
Melihat berbagai macam permasalahan yang dialami dakam kawasan, maka pendekatan penyelesaian permasalahan terfokus pada tema lingkungan berkelanjutan. Berdasarkan lokasi perancangan TOD merupakan lokasi yang cukup padat, terutama pada wakru berangkat dan pulang kantor. Kepadatan ditambah dari moda transportasi seperti kereta, bus, dan angkutan umum lainnya. Tema ini diangkat sebagai pertimbangan menuju masa depan kota yang lebih baik. Dengan menakankan perilaku manusia dan tumbuhnya bangunan di sekitar karena adanya kawasan ini.
UIA juga mengingatkan perlunya integrasi antara mikro – meso – makro untuk mencapai “SustainableArchitecture.” Konsep ini dapat tergambar dalam gambar sbb:
Gambar 14: Integrasi “Sustainable Architecture” dalam berbagai level menurut UIA. Sumber: Tanuwidjaja, Gunawan
4.14. Konsep Perancangan
Pembangunan berkelanjutan (Emil Salim,1990 dalam ) bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi manusia. Pembangunan yang berkelanjutan pada hekekatnya ditujukan untuk mencari pemerataan pembangunan antar generasi pada masa kini maupun masa
mendatang. Menurut KLH (1990) pembangunan (yang pada dasarnya lebih berorientasi ekonomi) dapat diukur keberlanjutannya berdasarkan tiga kriteria yaitu :
1. Tidak ada pemborosan penggunaan sumber daya alam atau depletion of natural resources;
2. Tidak ada polusi dan dampak lingkungan lainnya;
3. Kegiatannya harus dapat meningkatkan useable resources ataupun replaceable resource.
Meningkatkan kesejahteraan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan alam, masyarakat dan ekonomi untuk menaikan kesejahteraan generasi masa depan. Jadi, jika generasi saat ini bisa maju, maka generasi anak-anak kitapun minimal bisa mencapai kesejahteraan yang setingkat, demikian pula dengan cucu-cucu kita.Sehingga kemudian terdapat alur ekonomi yang berjalan terus menerus, tanpa mengurangi tingkat kesejahteraan dari generasi ke generasi.Itulah yang dimaksud dengan keberlanjutan ekonomi.Keberlanjutan ekonomi saja ternyata tidak cukup.Ekonomi berlangsung di dalam masyarakat, dan di dalam masyarakat terjadi juga pertumbuhan yang memerlukan keberlanjutan.Keberlanjutan masyarakat mensyaratkan adanya keutuhan, kondisi dan hubungan jaringan antar masyarakat yang terpelihara terus menerus, sehingga dijaga agar jangan sampai terjadi bahwa masyarakat yang sekarang lahir 5 tahun kemudian berantakan dan bubar.Masyarakat yang sustainable, masyarakat yang berlanjut, tidak mengenal konflik sosial, dan juga tidak mengenal disintegrasi sosial.
Pemikiran-pemikiran tentang syarat-syarat tercapainya proses pembangunan berkelanjutan :
DIMENSI Brundtland, G.H 1987 ICPQL. 1996 Becker, F.et al. 1997 Sosial Pemenuhan kebutuhan
dasar bagi semua
Keadilan sosial, kesetaraan gender, rasa aman, menghargai diversitas budaya
Penekanan pada proses pertumbuhan sosial yang dinamis, keadilan sosial dan pemerataan
Ekonomi Pertumbuhan ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan dasar
Ekonomi kesejahteraan Ekonomi kesejahteraan
Lingkungan Lingkungan untuk generasi sekarang dan yang akan datang
Keseimbangan
lingkunagan yang sehat
Lingkungan adalah dimensi sentral dalam proses sosial Tabel 1.Pemikiran syarat tercapainya proses pembangunan berkelanjutan
Sumber: Gondokusumo 2005 dalam Budhy 2005 : 407
Untuk mencapai pembangunan berkelanjutan perlu perencanaan dan perancangan yang bersifat ekologis dengan melakukan evaluasi terhadap kondisi kawasan-kawasan di kota tersebut, proses-proses yang terjadi didalam masyarakat dan lingkungannya. Hal tersebut dapat dilakukan berdasarkan pemikiran-pemikiran diatas dan dengan pemahaman bahwa kemiskinan dan kerusakan lingkungan adalah ancaman utama pembangunan.
Ada tiga kriteria pembangunan berkelanjutan di perkotaan disebut 3 PRO :
1. Pro keadilan sosial, artinya keadilan dan kesetaraan akses terhadap sumber daya alam dan pelayanan publik, menghargai diversitas budaya dan kesetaraan gender.
2. Pro ekonomi kesejahteraan, artinya pertumbuhan ekonomi ditujukan untuk kesejahteraan semua anggota masyarakat, dapat dicapai melalui tehnologi inovatif yang berdampak minimum terhadap lingkungan.
3. Pro lingkungan berkelanjutan, artinya etika lingkungan non-antroposentris menjadi pedoman hidup masyarakat, sehingga mereka selalu mengupayakan kelestarian dan keseimbangan lingkungan, konservasi sumberdaya alam vital, dan mengutamakan peningkatan kualitas hidup non-material.
Gambar 15: Konsep dari tema “Sustainabality” Sumber: Marc A. Rosen * and Hossam A. Kishawy
4.15. Keuntungan Dari Sustainable Design
A. Mengurangi Biaya Operasi1. Energi Efisiensi
Disain yang tanggap terhadap cuaca dan memakai teknologi hemat energi dapat mengurangi pemakaian pemanas dan pendingin sampai 60% serta, memotong pemakaian cahaya hingga 50% pada bangunan. Pengembalian break evan point untuk bangunan yang menerapkan
tidak menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan sustainable building.
Partisipasi masyarakat dengan menerapkan program penghematan pemakaian listrik secara menyeluruh dapat menghemat jutaan watt listrik dan mengurangi tagihan listrik nasional pertahun.
2. Efisiensi Air
Peralatan-peralatan untuk mengefisiensikan pemakaian air, perubahan cara pemakaian air dan perubahan metode irigasi dapat mengurangi konsumsi air hingga mencapai 30% atau lebih.
Seratus ribu kaki persegi gedung perkantoran tipikal dapat menghemat jutaan rupiah jika menginstal pengukuran energi efisiensi yang tinggi dan mengurangi pemakaian air sebanyak 30%.
3. Pengurangan Sampah Konstruksi
Sampah konstruksi dan demolisi adalah 35-40% dari sampah padat municipal.
Daur ulang sampah konstruksi dan demolisi dapat memberikan penghematan yang berarti. Perluasan lahan konstruksi bukan hanya dengan cara menguruk lahan tapi bisa juga dengan cara waste hauling dan tipping fest. Sebagai contoh dapat dilihat pada proyek konstruksi dan demolisi dari taman Portland Traibilazers Rose dapat melakukan penghemat kira-kira 186.000 USD melalui daur ulang sampah dan merubah bentuk sampah.
Daur ulang menciptakan pekerjaan. Merubah material-material sisa ini menjadi local processors jauh lebih baik dari pada hanya dijadikan bahan untuk menguruk tanah serta dapat menciptakan peluang-peluang ekonomi yang baru.
B. Mengurangi Biaya Pokok
1. Rehabilitasi bangunan yang sudah ada dapat mengurangi biaya infra struktur dan material.
2. Disain yang terintegrasi dapat menghemat biaya sehingga biaya-biaya tersebut dapat dialihkan untuk kebutuhan yang lain.
3. Gedung yang hemat energi dapat mengurangi kebutuhan peralatan, pengurangan pemakaian peralatan seperti chiller atau insulasi seperti
4. Dengan mempergunakan pervious paving dan strategi runoff prevantion dapat mengurangi ukuran dan biaya dari struktur management stormwater .
C. Mengekspansi Jangka Waktu untuk Mendapatkan Keuntungan Infestasi
Saat ini melalui analisa biaya life cycle building dapat dilihat nilai bersih sebuah design sebagai infestasi. Tujuan utama ialah untuk mencapai performance lingkungan yang paling baik dan paling efektif dalam biaya, jika memungkinkan hingga melewati dari masa perkiraan proyek tersebut. Dalam perputaran hidup sebuah bangunan 2% kurang lebih dari biaya keseluruhan life cycle adalah untuk biaya bangunan, 6% biaya operasi dan maintenance dan 92% adalah biaya personel.
Banyak penilaian bangunan (green building) memakai perkiraan ekonomi jangka panjang yang baik jika nilai pertama dikurangkan dari semua simpanan (saving) untuk masa depan, dan simpanan tersebut dikalkulasi dengan nilai (rate) pasar kapitalis (market capitalization).
Dengan kata lain banyak bangunan (green building) dinilai sebagai investasi yang nilainya akan bertambah sejalan dengan waktu, bahkan lebih dari nilai pasar.
Pengeluaran awal yang terlalu irit biasanya akan menghasilkan bangunan dengan pembiayaan yang lebih tinggi sepanjang life cycle dari bangunan tersebut.
D. Meingkatkan Produktifitas dan Kesehatan Manusia
1. Dengan meningkatkan lingkungan dalam ruang maka dapat meningkatkan produktifitas pegawai sehingga 16%.
2. Pegawai yang bekerja di lingkungan dalam ruang yang sehat cenderung kurang melakukan absen dan mau bekerja lebih lama.
3. US Environmental Protecion Agency menilai bahwa polusi udara di dalam ruangan termasuk dalam lima tertinggi factor yang membahayakan kesehatan. Sepertiga dari bangunan-bangunan ditemukan mempunyai kondisi ruang dalam yang jelek.
4. Sindrome “bangunan sakit” dan penyakit yang disebabkan oleh kondisi bangunan diperkitakan memakan biaya perobatan jutaan rupiah per tahun dan hilangnya jumlah produktifitas pekerja.
5. Keuntungan bagi penyewa bangunan green building selain secara keseluruhan mendapatkan kualitas lingkungan yang baik, lingkungan kerja yang baik, kurangnya kecenderungan absen pegawai, moral pegawai yang lebih baik, tapi juga menjadi “terpandang” di mata komunitas lain.
6. Memastikan kondisi ruang dalam yang sehat dapat mengurangi asuransi, biaya operasional dan resiko bahaya. Contoh kasus: US EPA dituntut oleh salah seorang pegawai yang menjadi sakit karena pemasangan karpet baru; pegawai tersebut memenagkan kasusnya dan mendapat ganti rugi sebesar USD 1 juta.
E. Memberikan Keuntutngan Pada Komunitas Tertentu Sustainable building dapat mendukung dan melindungi:
1. Ekonomi lokal melalui kebutuhannya akan material bangunan, pekerjaan dan industri.
2. Kualitas lingkungan seperti udara dan air yang bersih.
3. Infrastruktur yang tahan lama seperti industri tenaga, industri penanggulanagn air dan urugan tanah.