• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rangkuman Berita UNAIR di Media (15/7 sd 20/7)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Rangkuman Berita UNAIR di Media (15/7 sd 20/7)"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Rangkuman Berita UNAIR di

Media (15/7 sd 20/7)

UNAIR- UBRU Thailand Sepakati Kerja Sama Riset

Dua lembaga pendidikan tinggi, yakni Universitas Airlangga dan Ubon Ratchathani Rajabhat University (UBRU) Thailand berkomitmen memperkuat kerja sama, terutama di bidang riset. Kesepakatan ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di Kampus C UNAIR Surabaya, Rabu (13/7). Menurut Rektor UNAIR, Prof. Nasih, bidang kerjasama yang dikolaborasikan meliputi riset dan publikasi jurnal internasional yang t e r i n d e k s S c o p u s s e r t a p e n g i r i m a n s t a f k e U B R U . Penandatanganan Memorandum of Agreement disaksikan oleh dekanat FKM, Presiden UBRU, dan delegasi UBRU lainnya. Penandatanganan Memorandum of Agreement ini merupakan kelanjutan dari nota kesepakatan yang berlangsung antara 2013-2015 lalu.

Republika, 15 Juli 2016 halaman 9

Mahasiswa Bidikmisi Lebihi Kuota, PTN Bingung

Kebijakan pemerintah pusat terkait dengan penetapan kuota beasiswa bidikmisi yang diberikan setelah penerimaan mahasiswa mengakibatkan beberapa PTN menerima mahasiswa Bidikmisi lebih banyak dari kuota yang diberikan pemerintah. Di UNAIR, ada kelebihan kuota bidikmisi. Dari kuota 440 mahasiswa, UNAIR telah menerima mahasiswa bidikmisi sebanyak 666 mahasiswa. Mereka berasal dari jalur SNMPTN sebanyak 373 mahasiswa dan SBMPTN sebanyak 293 mahasiswa. Dari jumlah tersebut, ada 116 mahasiswa yang terlanjur diterima jalur bidikmisi, tetapi diluar kuota pemerintah sehingga biaya kuliah menjadi beban UNAIR.

(2)

22 WNA Ikut Seleksi Kelas Internasional

PTN di Surabaya tidak hanya menarik minat siswa dari dalam negeri. Tidak sedikit juga warga negara asing yang ingin melanjutkan studi di Surabaya, salah satunya UNAIR. Setiap tahun ada saja WNA yang ikut pendaftaran penerimaan mahasiswa baru (PPMB) UNAIR. Tahun ini, ada 22 WNA yang mengikuti PPMB 2016. Menurut Rektor UNAIR, Prof. Moh Nasih, jumlah WNA yang mendaftar di UNAIR tahun ini turun jika dibandingkan dengan 2015. Tahun lalu ada 32 WNA yang mendaftar kelas internasional pada PPMB jalur Mandiri. Selain 22 WNA, kelas internasional UNAIR kebanjiran pendaftar dari lulusan dalam negeri. Tahun ini, UNAIR membuka kelas internasional pada empat prodi. Semuanya di Fakultas Kedokteran, dengan rincian 20 kursi prodi pendidikan dokter, 10 pendidikan dokter gigi, 15 pendidikan dokter hewan, dan 10 pendidikan apoteker.

Jawa Pos, 16 Juli 2016 halaman 28

Sempat Kesulitan Dana, Satu-satunya Peraih IPK 4.00

UNAIR kembali mewisuda 835 mahasiswa dari berbagai jurusan dan jenjang pendidikan. Para wisudawan tidak hanya dari Indonesia, tapi juga dari negara lain. Bahkan, Moro Kadjo Daniel Bitty dari pantai Gading menjadi wisudawan terbaik di jenjang S-3. Daniel mengaku sejak dulu sangat ingin belajar di Indonesia. Untuk bisa mendapatkan gelar doktornya, dia harus berjuang keras karena tidak punya biaya. Tetapi, selama melakukan penelitian tentang pentingnya pengaruh keuangan dalam kehidupan sehari-hari dan memahami kebijakan yang berkembang di negara Afrika dan Asia, dia mendapatkan bantuan dari sejumlah dosen di UNAIR. Hasil penelitian ini mengantarkan Daniel menjadi wisudawan terbaik di Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta menjadi satu-satunya peraih indeks prestasi kumulatif sempurna. Selain Daniel, ada 14 mahasiswa asing lain yang mengikuti prosesi wisuda di Airlangga Convention Center, 16 Juli 2016 lali.

(3)

Sindo, 17 Juli 2016 halaman 2, Jawa Pos, 17 Juli 2016 halaman 24, Republika, 18 Juli 2016 halaman 14

Terapi Gangguan Menelan dengan Setrum

Memakai sonde atau alat bantu makan dengan menggunakan selang memang banyak dialami para penyandang stroke. Sebab, orang yang pernah mengalami stroke terganggu di bagian saraf nomor 5,6,7,9,10, dan 12 yang berkaitan dengan kemampuan menelan seseorang. Spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, dr.Nunung Nugroho, SpKFR, mengungkapkan bahwa pasien dengan gangguan menelan disebut dysphagia. Hampir seluruh pasien stroke mengalami masalah itu. Namun, ada yang derajatnya ringan sampai berat. Pasien dengan sonde selama ini memang sulit hidup dengan nyaman. Mereka sama sekali tidak bisa menikmati rasa makanan lagi. Kini ada terapi yang dilakukan untuk membantu pasien. Selain dengan obat, memakai terapi wicara manual. Menurut alumnus FK UNAIR itu, ada alat yang lebih modern bernama neuromuscular electrical stimulation (NMES) dimana pasien distimulasi memakai elektroda.

Jawa Pos , 15 Juli 2016 halaman 36

Medcupe, Mencegah Tertukarnya Sampel di Rumah Sakit

Kasus tertukarnya sampel pasien saat pemeriksaan di laboratorium beberapa kali terdengar. Berangkat dari fenomena ini, lima mahasiswa UNAIR yang beranggotakan Mokhammad Dedy Batomi, Mokhammad Deny Basri, Masunatal Ubudiyah, Pratama bagus Baharsyah, dan Sucowati Dwi Jatis, membuat alat Medcupe (Medical Specimens Cube Shipper). Alat ini berfungsi sebagai alat ergonomis pengirim dan direct labelling spesimen pasien berbasis pengolahan citra solusi kasus malpraktik sampel tertukar di laboratorium medis. Sayangnya, mesin ini belum secara penuh mengontrol otomatis pengiriman sampel. Sesampainya sampel di ruang laboratorium, petugas masih harus memilah-milah sampel sesuai dengan jenis untuk diantarkan ke tempat uji masing-masing.

(4)

Sindo, 18 Juli 2016 halaman 13 dan 14

Diaper, Pilih Yang Cocok

Balita yang memakai popok sekali pakai atau diaper sering tidak tepat dalam pemakaian. Akibatnya, anak terancam ruam popok. Menurut Alumnus UNAIR, dr. Dian Pramastuti, SpA, jarang mengganti diaper menjadi penyebab utama ruam popok. Saat popok lembab karena penuh cairan, kulit tidak bisa bernapas. Hal itu menjadi tempat favorit berkembangnya bakteri. Akibatnya, timbul kemerahan di daerah sekitar genetalia atau bokong anak. Jika dibiarkan, ruam popok bisa memicu infeksi saluran kencing. Untuk menghindari ruam popok, idealnya popok diganti secara rutin, minimal empat jam sekali. Selain itu, pakai diaper dengan bahan yang lembut, termasuk bahan yang mudah menyerap cairan.

Jawa Pos, 19 Juli 2016 halaman 36

Dosen UNAIR Asuh Mahasiswa Bidik Misi

Terbatasnya anggaran bidikmisi untuk mahasiswa membuat UNAIR mewajibkan para dosennya menjadi orang tua asuh bagi anak-anak bidikmisi. Hal itu karena biaya bidikmisi yang didapat untuk keperluan bulanan hanya Rp 600 ribu, sedangkan kebutuhan sehari-hari bagi mereka apalagi yang datang dari luar kota cukup besar. Rektor UNAIR, Prof. Moh. Nasih mengakui bahwa pihaknya akan segera membuat kebijakan agar dosen mengambil mahasiswa bidikmisi sebagai anak asuh.

Radar, 20 Juli 2016 halaman 11, Surya, 20 Juli 2016 halaman 13 dan 16 , Jawa Pos, 20 Juli 2016 halaman 29

Penulis : Afifah Nurrosyidah Editor : Dilan Salsabila

(5)

Sampai Juli 2016, UNAIR

Luluskan

2.694

Dokter

Spesialis

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga kembali meluluskan putra putri terbaiknya untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Pada Rabu (20/7), bertempat di Aula Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR, sebanyak 98 mahasiswa spesialis-1 angkatan ke-117, dilantik menjadi dokter spesialis baru.

Pelantikan dokter spesialis-1 tersebut dihadiri oleh Rektor UNAIR, Sekretaris UNAIR, Direktur Rumah Sakit UNAIR, Dekan FK dan jajaran pimpinan fakultas serta departemen, dan Wakil Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo.

Sebelum acara pelantikan dimulai, sederet lulusan yang berprestasi dibacakan oleh Ketua Sub-komite Seleksi Sertifikasi dan Pelantikan, dr. Widodo, Sp.PD, K-GH, FINASIM. Prestasi yang dibacakan antara lain peraih nilai tertinggi ujian nasional bidang bedah plastik dan rekonstruksi di Makassar pada 28 Mei 2016, dr. Diah Rahmawati, Sp.BP-RE, dan peraih ujian nasional bidang bedah saraf, dr. I Gede Anom, Sp.BS, dan juara I poster ilmiah bidang bedah saraf se-Asia pada Maret 2016, dr. Taufik Faturahman, Sp.BS.

Sejak tahun 2002 hingga bulan Juli 2016, jumlah lulusan dokter spesialis yang telah dididik oleh pengajar FK UNAIR mencapai 2.694. Pada periode Juli 2016, jumlah departemen yang paling banyak meluluskan dokter spesialis adalah Departemen Ilmu Penyakit Dalam sebanyak 15 orang, disusul Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi sebanyak 12 orang, dan Departemen Radiologi sebanyak 12 orang.

Dalam prosesi pelantikan dokter spesialis, para lulusan baru mendapatkan Berbagai wejangan yang disampaikan oleh jajaran tamu yang hadir. Wakil Direktur RSUD Soetomo, misalnya,

(6)

berpesan agar lulusan dokter spesialis menjunjung etika kedokteran dan senantiasa mengutamakan kepentingan penderita. Sedangkan, Dekan FK UNAIR dalam sambutannya mengatakan, diharapkan lulusan dokter spesialis bisa menerapkan softskill dengan baik.

“Kalian harus bisa menjadi leader, dan berkomunikasi dengan baik dengan dokter-dokter dari berbagai daerah,” tutur Prof. Soetojo.

Ia juga berpesan, agar para lulusan baru tetap melakukan riset kesehatan. Menurutnya, kegiatan riset bisa berdampak terhadap perbaikan pelayanan kesehatan. “Kalau kalian memiliki riset yang bagus setelah berada di daerah, kirimkan ke FK UNAIR. Nanti kita akan coba proses ke jurnal yang terakreditasi,” imbuh Prof. Soetojo.

Sebagai penutup, Rektor UNAIR mengucapkan selamat kepada para lulusan baru dokter spesialis. Prof. Nasih juga berterima kasih kepada seluruh pihak, khususnya RSUD dr. Soetomo, yang telah memberikan jalan bagi proses lulusan spesialis.

“Dengan dikukuhkannya saudara-saudara sebagai tenaga profesional baru, diharapkan bisa meningkatkan daya saing bangsa Indonesia,” tutur Prof. Nasih. (*)

Penulis: Defrina Sukma S. Editor: Dilan Salsabila

Rektor Dengarkan Curhat Wali

Murid Hingga Canangkan Ide

(7)

Angkat Anak Asuh

UNAIR NEWS – Ratusan wali murid dari mahasiswa baru calon penerima bantuan pendidikan bidikmisi jalur SBMPTN disambut dengan sesi dialog bersama Rektor UNAIR, Prof. Dr. Moh. Nasih., SE., MT.,Ak., CMA,. rektor yang juga didampingi Direktur Kemahasiswaan, Dr. M. Hadi Subhan, SH., M.H., C.N, dan Ketua PIH (Pusat Informasi dan Humas) UNAIR, Drs. Suko Widodo, M.Si, mendengarkan beragam cerita dari mahasiswa baru calon penerima bidikmisi dan orang tua wali, Selasa (19/7). Dalam kesempatan tersebut, Prof. Nasih memberikan kesempatan kepada para wali murid calon mahasiswa bidikmisi, untuk menyampaikan beberapa pertanyaan dan keluh kesahnya, setelah putra-putri mereka akan menerima bidikmisi selama masa studi di UNAIR.

“Saya gak menyangka, anak saya bisa masuk ke gedung mewah ini (merujuk ke UNAIR, red). Karena saya ini orang gak mampu,” ungkap wali murid dari mahasiswa bernama Nararian.

Wali murid lainnya juga sempat menceritakan kisah hidupnya yang berujung pada ketidaksanggupan dirinya untuk membiayai perkuliahan putrinya di UNAIR.

“Anak saya sebenarnya mau masuk kedokteran umum, saya bilang k e d i a , m a u m a s u k p a k e u a n g a p a k o k k a m u m a u m a s u k kedokteran,” ujar wali murid dari Karina, mahasiswa asal Blitar. “Saya khawatir, tapi kok Alhamdulillah ada universitas yang mau menerima anak saya,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Nasih memberikan wejangan kepada mahasiswa calon penerima bidikmisi, agar selalu hormat kepada orang tua dan para dosen. Selain itu, ia juga mengaskan bahwa semua mahasiswa memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk menuntut ilmu di UNAIR.

(8)

bersikap mendengarkan para dosen,” seru Prof. Nasih. “Semua pada posisi yang sama untuk menuntut ilmu di UNAIR. Tidak ada yang dilebih-lebihkan,” imbuhnya.

Himbau jadi orang tua asuh

Ada yang unik dalam acara yang diadakan di Aula Garuda Mukti tersebut. Salah satu walimurid yang diberi kesempatan menceritakan kisah hidupnya, ia mengungkapkan bahwa anaknya menempuh sekolah SMAN 1 Geger Madiun, yang sama dengan Suko Widodo selaku moderator diacara tersebut.

Suko pun mempersilahkan mahasiswa yang bernama Ardion Massaid dan ibunya, Suhardiyah, untuk menuju panggung. Setelah berdialog, Kepala PIH tersebut menjadikan mahasiswa calon penerima bidikmisi tersebut sebagai anak asuh.

“Nanti bisa dititipkan ke saya, biar jadi anak asuh saya,” seru Suko Widodo.

Rupanya, kejadian tersebut membuat Rektor UNAIR, Prof. Nasih menghimbau kepada seluruh dosen UNAIR, agar menjadikan salah satu mahasiswa bidikmisi sebagai anak asuh oleh seluruh dosen yang merupakan satu almamater dengan mahasiswa tersebut.

“Mahasiswa bidikmisi yang berasal dari sekolah yang sama dengan salah satu dosen bisa dijadikan anak asuh,” ujar Prof. Nasih. “Kita identifikasi dulu, belum tentu dari semua sekolah ada (dosen dan mahasiswa se-almamater, red). Ini kita kembangkan lagi, dan kita himbaukan kepada para dosen di UNAIR,” imbuhnhya.

Prof. Nasih menegaskan, bahwa pengangkatan anak asuh tersebut, bukan berarti para dosen harus membantu secara finansial, namun lebih kepada sebuah bimbingan atau pembinaan kepada mahasiswa terkait selama perkuliahan di UNAIR.

“Bukan secara finansial namun dalam pembimbingan. Artinya, kalau mahasiswa terkait memiliki permasalahan, dosen selaku

(9)

orang tua asuh dapat membantu selesaikan masalah tersebut,” ujar Prof. Nasih. (*)

Penulis : Dilan Salsabila Editor : Nuri Hermawan

Penelitian

Rantai

Pasok

Perusahaan

Berkontribusi

Nyata Bagi UMKM

UNAIR NEWS – Yang menarik dari sebuah penelitian adalah bila hasil dari penelitian tersebut aplikatif di masyarakat. Maka itu, mahasiswa dituntut pandai mencari bahan atau topik penelitian. Tentu saja, kepiawaian dosen dalam membimbing juga menjadi faktor penentu.

Di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga Program Studi Manajamen pada konsentrasi Riset Manajemen Operasi, topik penelitian yang belakangan kerap dilakukan adalah soal rantai pasok sebuah perusahaan. Konsep tersebut menarik karena mahasiswa dapat meneliti bagaimana perusahaan menjalankan seluruh proses usaha. Dimulai dari pemilihan bahan baku/raw material hingga beragam proses produksi. Selanjutnya, proses distribusi ke agen penjual hingga proses transaksi ke konsumen dan berujung pada proses after sales/purna jual.

Setiap proses bisa diteliti oleh mahasiswa. Bahkan, beberapa mahasiswa bisa terbagi untuk meneliti full process sebuah perusahaan. Topik ini dianggap aplikatif karena mahasiswa bisa langsung berinteraksi dengan perusahaan. Mereka dapat belajar langsung dan memahami segala kelebihan dan kekurangan sebuah perusahaan.

(10)

“Penelitian tentang rantai pasok ini banyak membantu perusahaan skala Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mengidentifikasi aktivitas yang tidak efektif dalam proses bisnis,” kata dosen Prodi Manajemen Tuwanku Aria Auliandri saat diwawancara Senin lalu (18/7).

Jamak diketahui, perusahaan skala UMKM di indonesia memiliki kendala di aspek kemampuan dan pengetahuan. Tidak hanya terbatas dalam pendanaan modal usaha, pemahaman mereka tentang manajemen operasional terhadap sebuah proses usaha juga masih perlu dibenahi. Kehadiran mahasiswa yang melakukan penelitian, diharapkan dapat memberi alternatif solusi dan masukan bagi mereka. Dengan demikian, elemen kampus dapat memberi manfaat konkret di masyarakat.

Persoalan yang ada misalnya, tentang manajemen inventory bahan b a k u . P e r u s a h a a n l e v e l U M K M p e r l u d i b a n t u u n t u k mengidentifikasi bagaimana cara yang pas untuk proses order dan penyimpanan bahan baku.

“Banyak rekan-rekan UMKM yang stok bahan bakunya banyak, namun produksinya tidak optimal. Akibatnya, bahan baku tersebut rusak atau kadaluarsa. Sering hal ini terjadi pada rekan UMKM di bidang kuliner,” tambah Aria.

Ada juga yang berupaya memproduksi dalam jumlah banyak, namun terkendala proses jual. Bahkan, sebaliknya pun juga terjadi. Yakni, produk order banyak, namun terkendala proses produksinya. Contoh tersebut sering terjadi pada UMKM bidang

handycraft/kerajinan tangan.

Tantangan Mahasiswa

Saat meneliti beragam proses operasi di perusahaan, terkadang mahasiswa akan dihadapkan pada proses administrasi perusahaan yang tidak terbuka atau data sulit diminta. Karena untuk meneliti proses operasional, mahasiswa perlu mendapat data detail terkait penjualan, vendor, mesin, durasi aktivitas, jumlah barang rusak, jumlah bahan baku, dan lain sebangsanya.

(11)

“Ini tantangan bagi mahasiswa. Mereka dituntut mengasah skill komunikasi dan skill negosiasi dengan perusahaan sehingga seluruh data bisa didapatkan,” tambah Aria.

Terkadang, permasalahan belum selesai hanya setelah data didapat. Karena, mahasiswa setelahnya perlu untuk cross check data tersebut dengan staf pekerja lapangan. Upaya cross check data lapangan ini juga perlu ketelitian dan kesabaran. Keterbatasan waktu kerap menjadi kendala. Di sinilah kelihaian mengatur waktu diperlukan.

“Meneliti itu membutuhkan kesabaran, dan saya memiliki keyakinan bahwa mahasiswa S-1 Manajemen FEB UNAIR adalah bibit-bibit potensial yang bakal menjadi akademisi unggul di masa datang. Mereka memiliki segala kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan dan menghasilkan penelitian yang berkualitas. Sekaligus, berkontribusi nyata bagi masyarakat umum dan dunia usaha,” kata Aria. (*)

Penulis : Rio F. Rachman

Editor : Binti Q. Masruroh

Gali Inspirasi dari Negeri

Sakura

Tak salah bila banyak anggapan menyebut Jepang adalah sebuah negara yang berkarakter kuat dan memiliki ciri khas yang mencolok. Dari segi seni, cara berpakaian, dan kreatifitas bahkan jargon, Negeri Matahari Terbit memunyai sisi-sisi yang menarik nan berbeda dengan negeri-negeri lain.

Dengarkan lagu beraliran rock dari jepang. Selalu kental dengan cabikan bass yang melompat-lompat di setiap ketukan.

(12)

Musik popnya, penuh dengan irama melodik tuts keyboard dan dentingan gitar yang mendayu tajam. Siapa saja yang mendengar lagu atau nada-nada asal negeri Sakura, akan dengan mudah mengidentifikasi kelahiran lagu tanpa harus mendengar suara vokalis mendendangkan lirik lagu berlafal huruf kanji.

Di sisi lain, lihatlah para remaja jepang yang berkumpul dan bercengkrama di kawasan Harajuku, sekitar Stasiun JR Harajuku, Distrik Shibuya, Tokyo. Dandanan dan warna asal tubruk yang mungkin akan lebih terkesan norak serupa orang gila bila dipakai di negara lain, justru menjadi pusaran idola di sana. Bahkan, karakter unik tersebut sedikit demi sedikit menjangkit ke wilayah lain di Jepang bahkan dunia.

Perkara kreatifitas, Jepang tak perlu diragukan. Entah sudah berapa ribu judul komik manga yang banyak di antaranya menjadi tren dengan cerita variatif. Sebut saja Dragon Ball yang imajinatif dan telah diterbitkan versi bahasa inggrisnya, Slam Dunk dan Doraemon yang inspiratif, Samurai X yang sarat nilai-nilai kehidupan, serta Kapten Tsubasa yang fenomenal. Konon, komik karya Yoichi Takahashi yang disebut terakhir tadi menjadi motivasi tersendiri bagi tim Samurai Biru dalam meraih sukses merebut posisi di pentas sepak bola dunia.

Bila ditanya tentang jargon, Soichiro Honda si intelektual sangat brilian dengan ungkapan populernya: percayalah pada kekuatan mimpi (the power of dream). Pria kelahiran Iwatagun (kini Tenrryu City) tersebut telah menjadi simbol tersendiri di ranah otomotif dan bisnis level internasional.

Kekhasan

Salah satu kekhasan Jepang adalah bunga Sakura, yang memang identik dengan negeri tersebut. Pada Sakura, terkandung nilai-nilai luhur sebuah identitas dan semangat. Hal-hal itu ingin dipetik oleh Imam Robandi, penulis buku The Ethos of Sakura yang diterbitkan Penerbit Andi Yogyakarta. Melalui buku tersebut, guru besar teknik elektro ITS ini menjelaskan betapa

(13)

kuatnya sakura mempengaruhi pandangan dan pemikiran orang Jepang.

Ketika musim Sakura mekar, sang pohon membiarkan daun-daun gagah berjatuhan untuk kemudian digantikan dengan bunga yang jauh lebih indah dan mempesona. Pohon sakura tidak cukup puas dengan memiliki daun gagah dan batang kukuh. Bila memang bisa melakukan yang lebih mempesona, mengapa harus bangga dengan kebiasa-biasaan? Mungkin demikianlah yang ada dalam pikiran pohon sakura di seluruh penjuru Nippon andai pohon tersebut memiliki otak.

Semua warga Jepang sangat antusias meluangkan waktu untuk menyaksikan kejadian tersebut di taman-taman atau pelataran depan rumah mereka. Seluruh penduduk berusaha menggali hikmah dari tumbuh, kuncup, dan mengembang eloknya bunga yang bernama lain Japan Cherry Blossom tersebut.

Menghargai Waktu

Hidup memang tidak begitu lama. Tak ada yang abadi. Demikian pula bunga Sakura yang hanya hidup selama musim semi sekitar bulan April tiap tahunnya. Namun dalam keterbatasan tersebut, Sakura berusaha memberikan yang terbaik dari hidupnya.

Orang Jepang tak ingin membuang waktu dengan berjalan pelahan-lahan. Bila melangkah, mereka tampak seperti setengah berlari. Waktu berharga bagi mereka walau hanya beberapa detik ayunan kaki kanan dan kiri.

Imam Robandi sering menemui penundaan dan keterlambatan jam-jam penerbangan. Namun penundaan tersebut disikapinya sebagai anugerah, bukan musibah. Waktu yang molor digunakannya untuk melakukan hal yang bermanfaat. Dalam sebuah diskusi, pria yang mengambil program doctoral di Jepang ini mengatakan, buku yang berisi 75 artikel dan kisah pendek ini nyaris semua ditulis dengan cara mencuri-curi waktu dan kesempatan di balik kemelesatan jadwal bandara.

(14)

Semua artikel dan kisah merupakan sari pati dari pengalaman pria kelahiran Kebumen Jawa Tengah tersebut selama menjalani pendidikan S2 dan program doktoral di negeri Sakura. Ada juga yang murni bersumber dari penelaahan terhadap nilai-nilai kehidupan di negara itu.

Manusia yang sukses memang dia yang menghargai waktu. Pelajaran mengenai waktu tak hanya bisa dipetik melalui bangsa Jepang. Ungkapan dalam bahasa Inggris berbunyi, Time is Money (waktu adalah uang atau waktu sangat berharga).

Maestro asal Jazirah Arab Muhammad bin Abdullah pernah berkata, jagalah sempatmu sebelum sempitmu. Maksudnya, manusia harus memanfaatkan waktu dan kesempatan, sekecil apapun itu guna melakukan hal-hal yang bermanfaat. Sebab bila masa sempit telah tiba, seseorang tidak akan bisa melakukan apapun.

Buku

Judul: The Ethos Of Sakura, Bacaan strategik pribadi sukses Penulis: Imam Robandi

Penerbit: Penerbit Andi Cetakan: 2010 Yogyakarta Tebal: 254 Halaman

Tips Menembus Seminar dan

Publikasi Internasional

UNAIR NEWS – Mengikuti seminar bertaraf internasional merupakan kebanggaan tersendiri bagi kalangan akademisi, baik mahasiswa maupun dosen. Terlebih, bagi mereka yang berstatus staf pengajar. Partisipasi di event akademik berstandar internasional merupakan nilai plus.

(15)

Meski demikian, untuk menggapainya diperlukan kerja keras. Sebab, kompetisi yang ada didalamnya tentulah kental, tidak sembarang orang bisa menembusnya.

“Untuk menempatkan diri dalam seminar internasional, seseorang mesti lebih dulu mengirimkan abstrak penelitian atau konsep pemikiran sebagai persyaratan,” kata Dekan FIB Diah Ariani Arimbi SS., MA., PhD.

Perempuan yang menuntaskan program magister di Amerika Serikat ini mengutarakan, abstrak biasanya terdiri dari sekitar 200 hingga 400 kata. Bergantung pada ketentuan dalam pendaftaran seminar tersebut. Nah, pengirim abstrak harus pandai dalam mengolah kalimat. Tujuannya, memampatkan ide yang ingin dicetuskan. Dalam abstrak, terdapat elemen-elemen penting dalam karya yang akan dipresentasikan. Seperti argumen yang jelas, metodologi, hingga hasil yang diperoleh.

Yang harus diingat, kata dosen yang mengambil gelar doktor di Autralia ini, bahasa yang dipakai adalah bahasa Inggris khusus untuk penulisan akademik. Panitia seminar biasanya cukup saklek tentang ini. Untuk bisa memahami bahasa yang dimaksud, ada banyak literatur yang dapat dipelajari. Ada begitu jamak

link-link internet yang menyediakan informasi tentang ini.

Pengetahuan tentang bahasa Inggris khusus penulisan akademik juga mesti dimiliki oleh seseorang yang ingin masuk dalam publikasi internasional. Untuk yang satu ini, calon penulis publikasi internasional harus menyiapkan lebih banyak hal. Misalnya, karya yang lengkap (tidak hanya abstrak) dan memiliki unsur kebaruan.

“Biasanya, reviewer di level internasional itu sangat mempertimbangkan suatu isu yang dinamis di masyarakat,” kata Diah.

Misalnya, ada satu isu yang sudah dibahas oleh sejumlah peneliti. Nah, peneliti baru yang ingin karyanya dimuat dalam publikasi internasional, harus mempertimbangkan riset-riset

(16)

yang sudah ada dan mengisi lubang atau space kosong yang belum terbahas detail oleh peneliti sebelumnya. Dinamika penelitian perlu dijabarkan dengan lebih komplit.

Di tempat terpisah, Prof. Dr. Achmad Syahrani, Apt., MS mengungkapkan, publikasi internasional bukan merupakan hal yang mustahil diraih. Kuncinya adalah banyak-banyak membaca dan melakukan penelitian. Wawasan luas seputar topik yang lagi berkembang di dunia sangat diperlukan.

“Jangan biarkan diri larut dalam rutinitas sehari-hari yang monoton tanpa penambahan pengetahuan akan dunia luar,” ujar penulis tak kurang dari 31 publikasi internasional ini. (*) Penulis: Rio F. Rachman

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan tradisi pingit pengantin menjelang akad nikah di Desa Urung Kampung Dalam Kecamatan Kundur

Untuk menjaga sekuriti sistem, konstrain yang digunakan dalam OPF akan membatasi kuadrat aliran daya pada transformator atau saluran transmisi. Inisialisasi

Agar memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan, dibutuhkan suatu metode rekrutmen yang dapat digunakan dalam

Tabel 5.8 Perbedaan Tingkat Pengetahuan Remaja Mengenai Materi Pengenalan Alat Reproduksi Sebelum dan Sesudah Diberikan Informasi Dengan Metode Ceramah dan Diskusi

Penelitian terdahulu dilakukan oleh Aditya[6] menggunakan metode AHP-SAW (Simple Additive Weighting) dalam proses seleksi pegawai. AHP digunakan untuk pembobotan kriteria

Athens membahagikan masyarakatnya kepada tiga kumpulan yang terdiri daripada kumpulan pertama ialah warganegara, yang kedua penduduk bukan warganegara dan yang ketiga

Kecepatan sudut pada multicopter sama di semua tempat, jadi tidak masalah di mana gyro berada, tetapi sebaiknya pasang gyro di tengah multicopter dimana sebagian besar

Kondisi geologi lokasi penelitian terdiri dari Satuan lava trakit tersusun oleh perselang-selingan antara lava trakit dengan lapili dan aglomerat serta breksi