BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Permasalahan yang cukup besar di alami bangsa Indonesia adalah di bidang

21  29  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Permasalahan yang cukup besar di alami bangsa Indonesia adalah di bidang kependudukan dan lingkungan hidup. Pertumbuhan penduduk yang cepat menjadi masalah, karena tidak diimbangi dengan pemerataan pembangunan, dan menjadikan bertambahnya jumlah masyarakat miskin. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 1993 sebanyak 185 juta jiwa, tahun 1997 mencapai 200 jiwa, dan tahun 2004 mencapai 218 juta jiwa, 16.66 % (36,3 juta jiwa) dinyatakan sebagai penduduk miskin, (BPS, 2004).

Kemiskinan merupakan gejala nyata akibat kekurangan secara materi dan ketidakmampuan masyarakat secara ekonomi, politik dan sosial budaya. Sebagian besar masyarakat miskin berada di pedesaan, khususnya komunitas petani di pedesaan yang terabaikan suaranya meski memiliki andil besar dalam pembangunan dari sektor pertanian. Kemiskinan alamiah dan kultural ini ditunjukkan oleh situasi lingkaran ketidakberdayaan masyarakat yang bersumber dari rendahnya tingkat pendidikan, pendapatan, kesehatan dan gizi, produktivitas, penguasaan modal, keterampilan dan teknologi serta hambatan infrastruktur maupun etnis sosial lainnya.

Salah satu solusi yang ditawarkan pemerintah untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui program transmigrasi. Transmigrasi adalah perpindahan penduduk secara sukarela untuk meningkatkan kesejahteraan dan menetap di Wilayah Pengembangan Transmigrasi. Wilayah Pengembangan Transmigrasi adalah wilayah potensial yang ditetapkan sebagai pengembangan permukiman transmigrasi untuk

(2)

mewujudkan pusat pertumbuhan wilayah baru sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah.

Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Transmigrasi mengungkapkan bahwa penyelenggaraan transmigrasi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya, peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah, serta memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. Peningkatan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya diwujudkan melalui penyediaan kesempatan kerja, peluang usaha, pemberian hak milik atas tanah, pemberian bantuan pemodalan atau sarana prasarana produksi, memfasilitasi pengurusan administrasi dengan badan usaha, peningkatan pendapatan, pendidikan dan pelatihan, pelayanan kesehatan, pemantapan ideologi, mental spiritual, sosial dan budaya. Peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah diwujudkan melalui pembangunan pusat pertumbuhan wilayah baru atau mendukung pusat pertumbuhan wilayah yang sudah ada atau yang sedang berkembang. Memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa diwujudkan melalui pengelolaan temu budaya, tata nilai dan perilaku transmigran dan masyarakat sekitarnya untuk pemantapan rasa kebangsaan dan cinta tanah air.

Berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan unit-unit permukiman transmigrasi diantaranya tingkat aksesibilitas ke lokasi transmigrasi yang rendah, produksi para transmigran yang tidak dapat dipasarkan, lahan transmigrasi yang marginal (tidak subur), sarana dan prasarana sosial-ekonomi kurang mendukung pengembangan usaha transmigran, serta adanya masalah sengketa kepemilikan lahan. Hal ini menyebabkan kegiatan ekonomi di lokasi transmigrasi tidak berkembang, pendapatan transmigran tetap rendah, desa transmigrasi tidak memiliki daya tarik bagi

(3)

para pemilik modal untuk mengembangkan usahanya, dan kebutuhan masyarakat masih tergantung dari luar permukiman.

Permasalahan lainnya yaitu penduduk lokal yang berada di sekitar unit-unit permukiman transmigran masih belum mendapat sentuhan pemberdayaan yang setara dengan transmigran, sehingga tingkat produktivitas dan pendapatannya masih relatif rendah, serta timbulnya kecemburuan sosial karena adanya perbedaan perlakuan antara transmigran dan masyarakat lokal. Keseluruhan masalah tersebut berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat transmigran yang sampai saat ini masih belum meningkat.

Permasalahan yang dialami transmigran bermuaran pada dua permasalahan utama, yaitu permasalahan kualitas dan kuantitas sarana prasarana pada kawasan transmigrasi dan kualitas sumber daya manusia. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat dilaksanakan melalui pemenuhan kebutuhan sarana prasarana pada kawasan transmigrasi dan peningkatan kompetensi masyarakat transmigrasi.

Menyadarai permasalahan yang berkaitan dengan lokasi transmigrasi, maka pada saat ini penyelenggaraan transmigrasi diarahkan pada pendekatan untuk mendukung pembangunan daerah melalui pembangunan pusat-pusat produksi, perluasan kesempatan kerja serta penyediaan tenaga kerja terampil. Pembangunan pusat-pusat produksi di kawasan transmigrasi telah dinyatakan secara eksplisit dalam program “Kota Terpadu Mandiri (KTM)” yang dicanangkan oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada tahun 2006. Melalui program tersebut, dilakukan pembangunan kota di kawasan-kawasan transmigrasi, sebagai upaya untuk meningkatkan kegiatan ekonomi di daerah transmigrasi. Dalam konteks pembangunan transmigrasi secara keseluruhan, strategi pembangunan KTM sangat penting untuk

(4)

mendorong pertumbuhan daerah dan mentransformasikan pola usaha tani tradisional ke dalam perdagangan dan pertanian yang lebih modern.

Kota Terpadu Mandiri (KTM) adalah kawasan yang dirancang untuk menjadi pusat pertumbuhan melalui pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan yang mempunyai fungsi sebagai: (i) Pusat kegiatan pertanian berupa pengolahan barang pertanian jadi dan setengah jadi serta kegiatan agrobisnis; (ii) Pusat pelayanan agroindustri khusus dan pemuliaan tanaman unggul; (iii) Pusat pendidikan, pelatihan di sektor pertanian, industri dan jasa; serta (iv) Pusat perdagangan wilayah yang ditandai dengan adanya pasar-pasar grosir dan pergudangan komoditas sejenis.

Pengembangan kawasan transmigrasi melalui program KTM dilakukan sebagai upaya untuk: (i) Meningkatkan kemudahan dalam memenuhi berbagai kebutuhan dasar yang memungkinkan terbukanya kesempatan pertumbuhan sosial-ekonomi daerah transmigrasi; dan (ii) Menciptakan sentra-sentra aktifitas bisnis yang menarik para investor sebagai upaya menumbuh-kembangkan kegiatan ekonomi transmigran dan masyarakat sekitar kawasan wilayah transmigrasi.

Proses pelaksanaan program KTM perlu mempertimbangkan karakteristik kawasan transmigrasi seperti sumber daya alam, demografi, lingkungan sosial budaya. Program KTM harus dijadikan pembelajaran oleh masyarakat transmigrasi, melalui peran serta mereka dalam proses pembangunan. Pada proses pembangunan diharapkan dapat terjadi proses belajar sambil bekerja (learning by doing) dan adopsi inovasi teknologi.

Nolker (1983) menyatakan bahwa pendidikan berlangsung di setiap lingkungan kehidupan : dalam keluarga, diantara kawan-kawan, disampaikan oleh tokoh teladan, saat sedang bekerja dan sebagainya. Dalam konteks belajar dari

(5)

pekerjaan, Nolker (1983) mengatakan bahwa terdapat berbagai taraf “pedagogisasi” tempat kerja. Tuntutan untuk terus belajar sambil bekerja, lebih-lebih lagi sangat diperlukan ketika persaingan diantara dunia usaha semakin kompetitif, dan ketika perubahan dan perkembangan teknologi terjadi sedemikian cepat. Konsekuensinya, dibutuhkan kualitas sumber daya manusia yang adaptif dan antisipatif terhadap perkembangan teknologi. Ini hanya mungkin terjadi, jika tenaga kerja terus belajar dari pekerjaan.

Masalah sumber daya manusia (SDM) telah menjadi perhatian penting dan tumpuan harapan dunia masa kini dan terlebih-lebih di masa depan. Sedikitnya ada tiga argumen penting yang mendasari hal ini. Pertama, sumber daya alam, terutama sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui yang justru tidak jarang menjadi penopang penting bagi kesinambungan kesejahteraan hidup manusia, akan semakin langka, bahkan akan habis. Dunia masa depan adalah dunia kompetisi, yang menghadirkan pula corak kehidupan yang semakin menekan (stessfull), bukan saja secara fisik, namun juga secara psikis dan sosial. Kedua kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan ledakan komunikasi (communication explotion) yang kini telah menghadirkan era informasi membuahkan berbagai kemudahan bagi kehidupan manusia. Hal ini memang memberikan harapan, namun kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih serta ledakan informasi dan komunikasi, sudah pasti mensyaratkan kemampuan penguasaan IPTEK itu oleh manusia. Ini akan berimplikasi bahwa jaman kini dan masa depan lebih banyak menuntut kualitas sumber daya manusia yang sesuai. Ketiga, subjek kehidupan dan segala upaya untuk menghadirkan dunia yang lebih baik adalah manusia itu sendiri.

(6)

Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program pendidikan diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, non formal dan informal yang dalam aplikasinya dapat saling melengkapi dan memperkaya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menuntun manusia untuk selalu melakukan aktifitas pendidikan, peningkatan kualitas dalam rangka mengantisipasi segala kemungkinan perubahan di masa yang akan datang.

Pendidikan diyakini sebagai salah satu institusi yang memiliki peran sentral dan strategis dalam proses transformasi sosial serta pemberdayaan insani, baik sebagai individu dan anggota dari sub-sistem sosial maupun sebagai warga negara. Sebagai individu, setiap orang memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui pendidikan hingga terbentuknya manusia terdidik, yang menjadi sarana pemahaman diri dan lingkungannya, upaya adaptasi atau menjadi pelaku dari suatu perubahan, kemudian lebih lanjut memiliki kemampuan untuk antisipasi. Kemampuan-kemampuan tersebut dapat dimiliki melalui pendidikan yang inovatif dalam suasana belajar yang demokratis bagi tumbuh kembangnya kreativitas peserta didik. Belajar inovatif sangat penting untuk mempersiapkan peserta didik memiliki kemampuan antisipatif dan kreatif (Botkin, 1979).

Proses lahirnya manusia terdidik tidak terlepas dari pengaruh lingkungan, yakni lingkungan sosial budaya dan lingkungan fisik alamiah. Mereka memiliki kemampuan dalam memanfaatkan lingkungan secara optimal, upaya melestarikannya dan dapat pula mempengaruhi lingkungan. Pandangan kaum behaviorisme menempatkan lingkungan sebagai faktor dominan terhadap terjadinya perubahan perilaku. Sedangkan secara sosial, manusia terdidik menjadi acuan perilaku bagi

(7)

warga masyarakat yang merupakan bentuk partisipasinya dalam pembentukan masyarakat yang sesuai dengan nilai sosial budaya.

Berkenaan dengan perannya sebagai pelaku yang inovatif, institusi pendidikan menjadi inovator sehingga memiliki konsekuensi pada deseminasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Dengan demikian, pendidikan juga berperan sebagai pelaku perubahan bagi terjadinya transformasi sosial. Pendidikan yang indegenous dan modern (institusi formal) akan menjadi wahana bagi masyarakat ke arah terwujudnya masyarakat madani, manakala desiminasi dan sosialisai inovasi yang memberikan harapan adanya intensif. Intensif tersebut dapat berupa pekerjaan, perbaikan cara kerja (efisiensi usaha), meningkatkan produksi dan pendapatan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan status sosial.

Pelaksanaan pendidikan nasional diakui banyak pihak mengalami banyak kendala, salah satu hambatannya adalah kondisi masyarakat yang pluralistik baik secara sosial budaya maupun secara geografis. Kenyataan empirik ini nampak dari kondisi tingkat pendidikan penduduk yang proporsi terbesar berpendidikan rendah (Sekolah Dasar), sebagian besar tinggal di pedesaan yang secara geografis merupakan daerah pinggiran dengan bercirikan agraris, taraf kesejahteraan relatif rendah, dan terisolasi secara kultural.

Pendidikan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang mendukung bagi peningkatan produktivitas mereka. Tetapi untuk mengikuti pendidikan sekolah secara formal tidak memungkinkan karena faktor jarak, waktu, dan usial (Tilaar, 1998). Untuk itu kehadiaran pendidikan luar sekolah (PLS) sebagai sub-sistem pendidikan nasional dan mitra pendidikan sekolah

(8)

memberikan pelayanan bagi mereka yang kurang beruntung dalam mendapatkan kesempatan pendidikan.

Secara umum program PLS selalu dihubungkan dengan kebutuhan sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan hidup yang lebih spesifik dari kelompok belajar. Artinya kurikulum harus fleksibel, program mengikuti prinsip diversifikasi yang responsif terhadap masalah-masalah yang memerlukan pemecahan, berhubungan dengan isu yang dihadapi masyarakat pada saat ini, termasuk penguatan motivasi kelompok belajar untuk berusaha atau berkarya. Sebagai sub sistem pendidikan yang mampu memupuk profesionalisme dan jati diri sumberdaya manusia melalui berbagai program pendidikan sepanjang hayat (life long education), PLS juga mampu sebagai pendorong utama bagi masyarakat untuk memperoleh kemajuan secara terus-menerus dalam berbagai lapangan usaha.

Penerapan berbagai program PLS, kurikulum dan kegiatan pembelajaran atau waktu belajarnya dapat disepakati bersama antara warga belajar dengan fasilitator, dan diusahakan dengan mendayagunakan sumber-sumber daya lokal. Santoso dalam Trisnamansyah (1992) dan Sudjana (1993), mengemukkan untuk melaksanakan agar tugas-tugas PLS mampu berperan optimal, ada tujuh azas yang perlu diperhatikan, yaitu : (1) asas inovasi, (2) asas penentuan dan perumusan tujuan pendidikan, (3) asas perencanaan dan pengembangan program pendidikan nonformal, (4) asas kebutuhan, (5) asas pendidikan seumur hidup, dan (6) asas relevansi dengan pembangunan, dan (7) asas wawasan ke masa depan.

Pendidikan nonformal (PLS) menekankan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian professional. Penguasaan keterampilan fungsional menunjukkan bahwa keterampilan yang

(9)

diselenggarakan melalui pembelajaran atau pelatihan pada jalur pendidikan nonformal harus sesuai fungsi, kebutuhan dan terkait dengan kehidupan serta pekerjaan sehari-hari peserta didik. Dengan demikian keterampilan fungsional memiliki peran penting untuk meningkatkan dan mengembangkan keterampilan peserta didik yaitu masyarakat transmigrasi.

Untuk mencapai harapan tersebut dalam jangka panjang, program PLS untuk meningkatkan kompetensi masyarakat transmigrasi perlu diarahkan pada:

a. Usaha membangkitkan rasa sadar dan tanggung jawab terhadap perlunya menciptakan situasi lingkungan yang sehat dalam masyarakat transmigrasi.

b. Meningkatkan kemampuan masyarakat transmigrasi agar mampu memenuhi kebutuhannya secara swadaya serta mengusahakan tumbuhnya perubahan berencana yaitu pembangunan.

c. Memperkuat potensi masyarakat transmigrasi untuk membangun, sehingga sumber-sumber yang ada di masyarakat semakin bertambah, serta kreativitas individu dan kelompok semakin meningkat.

d. Meningkatkan pengertian terhadap relevansi fungsi belajar bagi kelompok belajar dan seluruh masyarakat transmigrasi.

e. Mencapai tingkat perkembangan yang lebih baik secara individual, sosial, budaya dan ekonomi, melalui aksi demokratik dan partisipasi aktif dari masyarakat transmigrasi.

f. Membangun suatu lingkungan belajar yang kondusif yang memungkinkan setiap individu dalam masyarakat memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar mandiri.

(10)

g. Menciptakan pembagian kesempatan dan kekayaan sosial secara adil, khususnya kesempatan memperoleh pengetahuan yang lebih banyak pada berbagai segmen yang ada dalam masyarakat transmigrasi.

Ungkapan diatas menunjukkan bahwa PLS mampu memberikan kontribusi dalam bentuk perubahan. Adanya perubahan dalam bentuk pengetahuan baru, keterampilan baru, dan sikap mental yang positif, adalah merupakan dasar bagi perubahan kehidupan dalam struktur sosial-ekonomi maupun sosial-budaya. Masyarakat transmigrasi dapat menjadi sumberdaya manusia (SDM) yang produktif dan mandiri dalam arti mampu menciptakan lapangan kerja baru, dan mampu meningkatkan pendapatan bagi masyarakat, terutama masyarakat transmigrasi apabila mereka memiliki kompetensi sesuai dengan karakteristik kawasan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan asas relevansi dengan pembangunan masyarakat, PLS memiliki makna untuk menjawab tuntutan pembangunan masyarakat dengan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia. Pembangunan masyarakat transmigran terfokus pada peningkatan sosial ekonomi, disamping perlunya pendidikan yang dilaksanakan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Untuk itu, pendekatan pendidikan berdasarkan potensi lingkungan dapat menjadi salah satu alternatif bagi peningkatan kompetensi masyarakat transmigran.

Ogburn (1953) mengemukakan pengaruh lingkungan sosial budaya, terutama budaya material (teknologi) yang menjadi motor penggerak bagi berjadinya perubahan sosial, karena unsur budaya tersebut lebih cepat diterima oleh masyarakat dari pada unsur budaya non-material (ide atau gagasan). Pengembangan sarana dan prasarana

(11)

fisik pada kawasan transmigrasi melalui pembangunan KTM diharapkan menjadi pengerak perubahan sosial masyarakat transmigran. Pada proses pengembangan KTM didasarkan pada potensi SDA dan SDM yang ada pada kawasan transmigrasi.

Secara internal, masyarakat transmigran perlu mendapat perhatian dalam upaya memenuhi kebutuhan belajar dan peningkatan kompetensinya. Dengan demikian sangat diperlukan pengetahuan tentang masyarakat transmigran, kebutuhan belajar, potensi lingkungan, motivasi, aspek-aspek teknis ekonomis, kelembagaan yang menghambat, baik sosial maupun kultural. Di samping itu, penggunaan metode, teknik, dan jenis teknologi yang dikembangkan di masyarakat merupakan faktor esensial. Teknologi tersebut berkenaan dengan perubahan teknik (technical change) dan inovasi (innovation) yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas.

Untuk itu, bagi masyarakat transmigran diperlukan program peningkatan kompetensi yang berorientasi pada potensi lingkungan dengan memperhatikan faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang perlu mendapat perhatian adalah pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat transmigran; dan faktor eksternal meliputi lingkungan sosial dan lingkungan alam seperti kondisi iklim dan geologi. Kedua faktor tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kompetensi masyarakat transmigrasi.

Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan umum yang diteliti adalah: “Bagaimanakah model program peningkatan kompetensi masyarakat transmigrasi melalui pelatihan berbasis potensi lingkungan?”

Berdasarkan permasalahan utama tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini diuraikan dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut :

(12)

1. Bagaimanakah gambaran potensi lingkungan kawasan transmigrasi Lunang Silaut Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat?

2. Bagaimanakah bentuk perencanaan fisik pada kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Lunang Silaut Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat?

3. Bagaimanakah gambaran urutan kompetensi yang dibutuhkan masyarakat transmigrasi pada kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Lunang Silaut Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat?

4. Bagaimana pengembangan model pelatihan Tenaga Kerja Bangunan pada kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM) dalam membangun kompetensi masyarakat transmigrasi Lunang Silaut Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat?

5. Bagaimana model konseptual pelatihan Tenaga Kerja Bangunan pada kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM) dalam membangun kompetensi masyarakat transmigrasi Lunang Silaut Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat? 6. Bagaimana gambaran hasil uji efisiensi model pelatihan Tenaga Kerja Bangunan

pada kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM) dalam membangun kompetensi masyarakat transmigrasi Lunang Silaut Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat ?

C. Tujuan Penelitian

Studi ini secara umum bertujuan mengembangkan sebuah model program peningkatan kompetensi masyarakat transmigran melalui pelatihan berbasis potensi lingkungan. Secara rinci tujuan penelitian ini adalah untuk :

(13)

1. Mendapatkan gambaran empirik kondisi eksisting potensi lingkungan kawasan transmigrasi Lunang Silaut Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat. 2. Mendeskripsikan bentuk perencanaan fisik pada kawasan Kota Terpadu Mandiri

(KTM) Lunang Silaut Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat.

3. Mendeskripsikan gambaran urutan kompetensi yang dibutuhkan masyarakat transmigrasi pada kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Lunang Silaut Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat.

4. Mendeskripsikan proses pengembangan model pelatihan Tenaga Kerja Bangunan pada kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM) dalam membangun kompetensi masyarakat transmigrasi Lunang Silaut Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat.

5. Mendeskripsikan model konseptual pelatihan Tenaga Kerja Bangunan pada kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM) dalam membangun kompetensi masyarakat transmigrasi Lunang Silaut Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat.

6. Menguji efisiensi model pelatihan Tenaga Kerja Bangunan pada kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM) dalam membangun kompetensi masyarakat transmigrasi Lunang Silaut Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat ?

D. Kerangka Pemikiran

Peningkatan kompetensi masyarakat transmigran dilakukan melalui proses pembelajaran. Proses belajar dapat dilakukan melalui kegiatan tatap muka dalam bentuk pelatihan atau melalui penciptaan kondisi lingkungan yang dapat memicu terjadinya pembelajaran. Pengembangan fisik kawasan transmigrasi menjadi suatu

(14)

Kota Terpadu Mandiri (KTM) dengan berbagai fasilitas yang mendukung keberlangsungan suatu kota diharapkan menjadi pemicu masyarakat untuk belajar dan meningkatkan kompetensi dalam rangka memenuhi tuntutan kehidupan.

Proses pengembangan fasilitas fisik kawasan transmigrasi memperhatikan kondisi SDA seperti kondisi geografis, keadaan tanah, curah hujan dan iklim, kondisi morfologi dan ketinggian, kondisi hidrografi, dan kondisi geologi. Sedangkan lingkungan sosial budaya meliputi kondisi demografi, tradisi, dan organisasi sosial. Kondisi lingkungan tersebut dijadikan pertimbangan dalam merancang sarana fisik suatu kawasan transmigrasi.

Kondisi SDA, lingkungan sosial budaya, dan fasilitas fisik kota mandiri memerlukan beragam kemampuan (kompetensi) dari masyarakat yang berada pada kawasan tersebut. Kompetensi tersebut diperlukan dalam upaya memanfaatkan sumberdaya yang ada dan mengatasi tuntutan teknologi dari berkembangnya suatu kawasan pedesaan menjadi kawasan perkotaan. Model hubungan fungsional antara SDA, SDM, fasilitas KTM dengan komptensi yang dibutuhkan masyarakat transmigran tertera pada gambar 1.1.

Gambar 1.1 Model Hubungan Fungsional Peningkatan Kompetensi Masyarakat Transmigran Potensi Lingkungan

(SDA dan kondisi sosial budaya masyarakat

transmigran)

Pengembangan Sarana Fisik Kawasan

Transmigrasi (Kota Terpadu Mandiri)

Kompetensi Masyarakat Transmigran Program Peningkatan Kompetensi Masyarakat Transmigrasi Melalui Pelatihan Berbasis Lingkungan Pengembangan Model Pelatihan Tenaga Kerja Bangunan pada Kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM)

(15)

Pengembangan program peningkatan kompetensi masyarakat transmigran dilakukan melalui kegiatan pelatihan. Dalam studi ini, komponen-komponen pembelajaran terdiri dari: (1) masukan mentah (raw input), yaitu masyarakat transmigran yang berada pada suatu kawasan transmigrasi dengan berbagai karakteristik yang dimilikinya; (2) lingkungan (environmental input) yang mendukung dan bahan pertimbangan dalam penyusunan program, yang terdiri dari lingkungan alam (SDA), lingkungan sosial budaya, dan kondisi fisik fasilitas kawasan transmigrasi; (3) sarana (instrumental input) adalah yang menjadi inti dari kegiatan pembelajaran, yaitu program peningkatan kompetensi masyarakat transmigran yang dirumuskan berdasarkan kondisi SDA, lingkungan sosial budaya, dan kondisi fasilitas fisik kawasan transmigrasi; (4) proses (process) yaitu yang menjadi komponen krusial bagi terpenuhinya kebutuhan belajar untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat transmigran dalam mengatasi kondisi SDA, lingkungan sosial budaya, dan mengantisipasi perkembangan fasilitas fisik kawasan transmigrasi; (5) keluaran (output) yaitu masyarakat transmigran yang terpenuhi kebutuhan belajarnya dan terjadinya peningkatan kompetensi mereka untuk mengatasi kondisi SDA, lingkungan sosial budaya, dan mengantisipasi perkembangan fasilitas fisik kawasan transmigrasi; (6) masukan lain (other input) yaitu kondisi lingkungan yang mendukung terjadinya perubahan perilaku masyarakat transmigran; (7) pengaruh (impact atau outcome) yaitu kebermaknaan program yang dikembangkan dalam meningkatkan kompetensi masyarakat transmigrasi.

(16)

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kepentingan teoritis dan praktis. Penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi institusi yang terkait dengan pembangunan masyarakat, terutama masyarakat transmigran, dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat dan bagi perumus serta agen pelaksana program, sehingga setiap program yang disampaikan mendapat respon positif dari masyarakat dan memiliki pengaruh bagi kehidupan mereka dalam meningkatkan produktivitas sebagai upaya peningkatan taraf kehidupan.

1. Manfaat Teoritis

Hasil studi ini secara umum memberikan sumbangan konseptual pada bidang pendidikan luar sekolah (PLS) dalam meningkatkan perannya pada pengembangan program pendidikan berbasis partisipasi masyarakat. Sebagai studi yang bersifat aplikatif, studi ini memberikan sumbangan substansial terhadap studi pengembangan masyarakat, pengembangan fasilitas lingkungan berbasis SDA dan SDM, difusi inovasi, baik dalam penyusunan program maupun strategi dalam mempercepat proses adopsi inovasi.

Pendidikan luar sekolah sebagai bidang studi yang memberikan layanan pendidikan dan memberikan bantuan kepada warga belajar dalam mengenali, mengembangkan, dan mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya dalam kehidupan, mempunyai kewajiban untuk memenuhi kebutuhan belajar masyarakat. Bagi pembelajaran masyarakat, studi ini memberikan sumbangan terhadap peningkatan motivasi belajar masyarakat dalam meningkatkan sumber daya manusia ke arah kondisi masyarakat gemar belajar dalam menuju situasi masyarakat madani,

(17)

khsusunya dalam upaya penyadaran masyarakat untuk gemar belajar. Masyarakat dapat belajar secara alamiah dari kondisi lingkungan yang ada. Pengembangan fasilitas kawasan transmigrasi dapat menjadi wahana bagi masyarakat transmigran untuk belajar dan berusaha meningkatkan kompetensi untuk mengantisipasi perkembangan fasilitas tersebut.

Studi ini memberikan sumbangan bagi program pembangunan masyarakat dengan pendekatan partisipatif dalam proses pengambilan keputusan, sehingga program yang dikembangkan mendapatkan respons positif dan partisipasi aktif dari masyarakat. Masyarakat diharapkan dapat merasakan manfaat dari program yang dikembangkan. Masyarakat secara alamiah memiliki bawaan untuk berubah dan proses perubahannya dapat dipercepat melalui penerapan pendidikan berbasis masyarakat. Studi ini juga memberikan sumbangan terhadap strategi pendidikan yang bersifat preventif untuk jangka pendek maupun jangka panjang dan mempercepat perubahan sosial.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini secara praktis diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut :

a. Mendapatkan gambaran umum kondisi lingkungan kawasan transmigrasi Lunang Silaut Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat.

b. Mendapatkan gambaran hasil perencanaan fasilitas fisik kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Lunang Silaut Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat.

(18)

c. Menemukan kompetensi-kompetensi yang diperlukan masyarakat transmigrasi dalam mengantisipasi kondisi lingkungan dan perkembangan fasilitas fisik kawasan transmigrasi.

d. Memberikan sumbangan model pelatihan Tenaga Kerja Bangunan pada kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM) dalam membangun kompetensi masyarakat transmigrasi Lunang Silaut Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat.

F. Definisi Operasional

Beberapa konsep istilah yang digunakan dalam penelitian ini dipandang perlu untuk didefenisikan, menghindari kesalahan pemaknaan penelitian ini. Untuk lebih memperjelas definisi operasional perlu diuraikan mengenai kompetensi masyarakat transmigran dan potensi lingkungan.

1. Pengembangan Program

Pengembangan diartikan sebagai proses disain konseptual dalam upaya peningkatan fungsi dari yang telah ada sebelumnya, melalui penambahan komponen yang dianggap mampu meningkatkan pencapaian tujuan dalam bentuk efisiensi hasil.

Pengembangan program pada penelitian ini adalah proses desain konseptual dalam bentuk format. Proses yang dilakukan berdasarkan kajian terhadap bentuk penyederhanaan dari konstruk yang ada. Bentuk penyederhanaan melibatkan sikap memilih informasi yang telah ada menjadi suatu sistem teori dalam format yang terdiri dari komponen in-put, process, out-put dan out-come yang saling berhubungan, dan hubungan-hubungannya relatif menentukan suatu perubahan program dimaksud.

(19)

2. Kompetensi Masyarakat Transmigran

Kompetensi merupakan tingkat pengetahuan, keterampilan/keahlian dan tingkah laku yang dimiliki oleh seorang individu dalam melaksanakan tugas yang ditekankan kepadanya dalam organisasi. Kompetensi dikelompokkan kedalam empat jenis kompetensi, yaitu :

a. Kompetensi Teknis (Technical Competence), yaitu kompetensi mengenai bidang yang menjadi tugas pokok organisasi. Kompetensi teknis ini misalnya dalam hal mengoperasikan sistem prosedur kerja yang berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan dan tugas instansi, atau dalam menerapkan sistem dan prinsip-prinsip akuntabilitas dalam pelaksanaan kebijakan unit organisasinya. Termasuk bagaimana melaksankan keseluruhan kegiatan-kegiatan pengelolaan kebijakan dan program termasuk pelaporan pertanggungjawaban.

b. Kompetensi Manajerial (Manajerial Competence), adalah kompetensi yang berhubungan dengan berbagai kemampuan manajerial yang dibutuhkan dalam menangani tugas-tugas organisasi. Kompetensi manajerial ini meliputi antara lain dalam hal kemampuan menerapkan teknik perencanaan, pengorganisasian, pengendalian dan evaluasi kinerja unti organisasi, juga kemampuan dalam hal melaksanakan prinsip-prinsip good governence dalam manajemen pemerintahan dan pembangunan, termasuk bagaimana mendayagunakan kemanfaatan sumber daya pembangunan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas.

c. Kompetensi Sosial (Social Competence), yaitu kemampuan melakukan komunikasi yag dibutuhkan oleh organisasi dalam pelaksanaan tugas pokoknya. Kompetensi sosial dapat terlihat dilingkungan internal seperti memotivasi SDM dan atau peran serta masyarakat guna meningkatkan produktivitas kerja, atau yang

(20)

berkaitan dengan lingkungan eksternal seperti melaksanakan pola kemitraan, kolaborasi, dan pengembangan jaringan kerja dengan berbagai lembaga dalam rangka meningkatkan citra dan kinerja organisasi, termasuk didalamnya bagaimana menunjukkan kepekaan terhadap hak-hak asasi manusia, nilai-nilai sosial budaya, dan sikap tanggap terhadap aspirasi dan dinamika masyarakat. d. Kompetensi Intelektual/Strategik (Intelectual/Strategic Competence), yaitu

kemampuan untuk berpikir secara strategic dengan visi jauh ke depan.

Kata kunci dalam mengembangkan kompetensi adalah rekayasa perilaku/

behaviour engineering. Rekayasa perilaku mengandung makna tersirat bahwa perilaku dapat diubah dan diperbaiki. Untuk mencapai pengembangan perilaku harus dilakukan secara sadar, yaitu melalui proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi sistem. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan sumber daya manusia adalah usaha meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, konseptual dan moral sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.

Pada penelitian ini kompetensi masyarakat transmigrasi terkait dengan kecakapan hidup yang harus dimiliki oleh transmigran untuk mengantisipasi kondisi lingkungan dan perkembangan fasilitas fisik lingkungan transmigrasi. Skill dalam arti keahlian biasanya dipakai untuk seseorang yang mempunyai kemahiran pada bidang teknik dan atau manajemen. Skill dalam arti keterampilan digunakan pada seseorang yang memiliki kemampuan praktis di bidang kejuruan, pertukangan atau kerajinan. Sementara skill dalam arti kecakapan cenderung berkenaan dengan seseorang yang menguasasi bidang ilmu tertentu dan mampu menyelesaikan tugas organisasi atau lembaga.

(21)

Secara sederhana kompetensi masyarakat transmigrasi yang dimaksud dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi : (1) kompetensi untuk mendukung pengembangan fisik kawasan transmigrasi yang berada pada daerah yang rawan terhadap terjadinya gempa bumi dan akan dikembangkan menjadi kawasan kota terpadu mandiri (KTM), (2) kompetensi untuk mendukung pengembangan usaha, dan (3) kompetensi untuk mendukung pengembangan masyarakat.

3. Potensi Lingkungan

Potensi lingkungan yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar adalah lingkungan fisik, lingkungan sosial dan budaya, sumber belajar yaitu orang yang memiliki keterampilan atau keahlian tertentu. Keberadaan lingkungan alam dan lingkungan sosial merupakan sumber potensial yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Proses belajar mengajar menjadi wahana transformasi pengetahuan dan keterampilan.

Belajar merupakan perubahan yang terjadi dalam diri individu karena terjadinya interaksi dengan lingkungan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan mampu berhubungan dengan lingkungan (Burton, 1983). Faktor lingkungan fisik alamiah dan sosio kultural sebagai potensi lingkungan dapat dijadikan sebagai sumber belajar bagi masyarakat transmigran dalam rangka meningkatkan kompetensinya. Lingkungan fisik alamiah adalah kondisi geografis, geologi, morfologi dan tanah, iklim dan curah hujan serta hidrografi, sedangkan lingkungan sosio kultural adalah tradisi, mata pencaharian, tingkat pendidikan, dan organisasi sosial yang dapat mempengaruhi sikap masyarakat transmigran sebagai warga belajar.

Figur

Gambar 1.1 Model Hubungan Fungsional   Peningkatan Kompetensi Masyarakat Transmigran Potensi Lingkungan

Gambar 1.1

Model Hubungan Fungsional Peningkatan Kompetensi Masyarakat Transmigran Potensi Lingkungan p.14

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :