PERENCANAAN PERBAIKAN TEBING BENGAWAN
SOLO HILIR DI KANOR, BOJONEGORO
Oleh :
Dyah Riza Suryani (3107100701)
Dosen Pembimbing :
1. Ir. Fifi Sofia
BAB I
Pendahuluan
Latar Belakang
Perencanaan ini perlu mempelajari penyebab kerusakan
tebing sungai di Desa Kanor, Kecamatan Kanor, Kabupaten
Bojonegoro (BM 114 dari hilir) dan di Desa Kanorejo,
Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, total sepanjang ± 900
m.
Pada lokasi Sungai Bengawan Solo di Desa Kanor telah
dibangun konstruksi tanggul penahan banjir. Gerusan
tebing sungai yang terjadi, apabila terus dibiarkan akan
dikhawatirkan berbahaya bagi tanggul tersebut.
Ruas sungai di Desa Kanorejo, Kecamatan Rengel, Kabupaten
Tuban, merupakan tikungan luar sungai sehingga sangat
rawan terjadi gerusan dan kelongsoran tebing sungai.
BAB I
Pendahuluan (lanjutan)
Perumusan Masalah
•
Apa penyebab gerusan tebing pada ruas Sungai
Bengawan Solo hilir di Desa Kanor, Bojonegoro
dan ruas sungai di Desa Kanorejo, Tuban?
•
Bagaimana struktur penahan gerusan tebing
(revetmen) yang sesuai dengan kondisi lapangan?
•
Bagaimana cara mengatasi peluapan yang terjadi
dan pengamanan lereng tanggul dan tebing
sungai apabila penampang sungai tidak mampu
menampung debit maksimum yang melintasi
sungai tersebut?
BAB I
Pendahuluan (lanjutan)
Tujuan
•
Dengan melakukan analisa hidrolika pada ruas sungai
yang
bersangkutan
dapat
diketahui
penyebab
terjadinya gerusan tebing pada ruas Sungai Bengawan
Solo hilir di Kanor, Bojonegoro dan di Desa Kanorejo,
Tuban.
•
Mendapatkan desain struktur penahan gerusan tebing
(revetment) yang sesuai dengan kondisi lapangan.
•
Meningkatkan
kapasitas
tanggul
serta
dan
mengamankan lereng tanggul dan tebing sungai agar
aman terhadap debit maksimum rencana.
BAB I
Pendahuluan (lanjutan)
Batasan Masalah
•
Analisa data geometri dan karakteristik fisik sungai
dilakukan hanya di beberapa titik lokasi yang di tinjau
(CP 114/2 s/d CP 113/2).
•
Analisa data debit berdasarkan hasil pengukuran debit
Sungai Bengawan Solo hilir di lokasi yang ditinjau.
•
Menganggap bahwa aliran sungai pada ruas-ruas yang
ditinjau dalam kondisi aliran tetap seragam (
steady
uniform flow
) karena data yang diperoleh dari Dinas PU
Pengairan Pengolaan Banjir dan Perbaikan Sungai
Bengawan Solo I yang di Madiun kurang lengkap.
BAB I
Pendahuluan (lanjutan)
Batasan Masalah (Lanjutan)
•
Analisa data angkutan sedimen bed-load didasarkan
pada pengukuran di daerah Sungai Bengawan Solo di
Desa Kedung Arum, Kecamatan Kanor, Kabupaten
Bojonegoro dan di Desa Kedung Harjo, Kecamatan
Widang,
Kabupaten
Tuban
karena
tidak
ada
pengukuran sedimen di lokasi studi Tugas Akhir.
•
Hanya memilih satu macam konstruksi revetmen.
•
Tidak menganalisa anggaran biaya pembangunan dan
metode
pelaksanaan
konstruksi
revetmen
yang
direncanakan.
BAB I
Pendahuluan (lanjutan)
Manfaat
•
Struktur pengamanan tebing yang di desain
mampu mengatasi gerusan tebing pada ruas
Sungai Bengawan Solo hilir di Desa Kanor,
Bojonegoro dan ruas sungai di Desa Kanorejo,
Tuban.
•
Tanggul yang ditingkatkan kapasitasnya mampu
dilalui debit maksimum rencana sehingga
peluapan dapat dihindarkan.
•
Lereng tanggul dan tebing sungai aman terhadap
BAB II
GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN LOKASI STUDI
Lokasi Studi
BAB II
GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN LOKASI STUDI
(lanjutan)
Kondisi Lokasi Studi
•
di beberapa titik lokasi Sungai Bengawan Solo
membutuhkan
proteksi
tebing
untuk
mencegah
kelongsoran, terutama pada bagian tikungan sungai.
•
Sungai Bengawan Solo di wilayah Bojonegoro dan
Tuban dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai sarana
transportasi penyeberangan dari Bojonegoro-Tuban,
maupun dari Tuban-Bojonegoro.
•
Lahan sekitaran Sungai Bengawan Solo dijadikan warga
sebagai pemukiman penduduk dan lahan persawahan.
BAB II
GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN LOKASI STUDI
(lanjutan)
Kondisi Karakteristik Sungai Objek Tugas Akhir
•
Bagian hilir Sungai Bengawan Solo adalah termasuk jenis
sungai
meander
yang mengalir di daratan alluvial.
•
fluktuasi debit yang terjadi pada Sungai Bengawan Solo
sangat besar.
•
Jenis angkutan sedimen
bed-load
Sungai Bengawan Solo
dari hasil pengukuran yang paling dominan pada musim
hujan adalah jenis
sand
(pasir), sedangkan pada musim
kemarau yang dominan adalah lanau (silt).
BAB III
Tinjauan Pustaka
Morfologi Sungai
Pada umumnya, pola sungai di daerah hilir atau dataran rendah adalah
bermeander atau berkelok-kelok, misalnya Bengawan Solo. Hal tersebut
terjadi akibat erosi horizontal lebih besar dari erosi vertikal.
BAB III
Tinjauan Pustaka (lanjutan)
Duration Curve
Dalam menentukan suatu desain bangunan
air,
jika
bangunan
tersebut
digunakan
sepanjang tahun, maka debit andalan yang
digunakan
adalah
debit
yang
memiliki
prosentase besar. Debit dengan prosentase
besar di sini adalah debit yang prosentase
frekuensi kejadiannya sering terjadi sepanjang
tahun.
BAB III
Tinjauan Pustaka (lanjutan)
Debit Periode Ulang
Dimana :
= debit rata-rata
T = periode ulang
1
n Tx
K
X
2825
,
1
)
577
,
0
(
y
TK
1
)
(
2 1
N
x
x
n
x
]
1
ln
[ln
T
T
y
TBAB III
Tinjauan Pustaka (lanjutan)
Persamaan Manning
Q = V . A
Dimana : V = 1/n R
2/3
S
1/2
n = angka Manning
R = A/P = jari-jari hidrolik (m)
S = kemiringan dasar saluran
A = luas penampang basah (m
2
)
BAB III
Tinjauan Pustaka (lanjutan)
Analisa Kapasitas Penampang Sungai dan Kecepatan Aliran
dengan HEC-RAS
1. Memasukkan data geometri sungai
2. Memasukkan data
steady flow
BAB III
Tinjauan Pustaka (lanjutan)
Gaya Seret (
Tractive Force
)
Dimana :
Ws = berat butir terendam
a = luas efektif butir (m
2
)
Φ = sudut kemiringan dinding
θ =
angle of repose
tan
tan
2 2 1 tan cos a Ws sBAB III
Tinjauan Pustaka (lanjutan)
Angkutan Sedimen Dasar (
Bedload Transport
)
Dimana :
qb = debit sedimen (kg/dt/m)
q = debit air (m
3
/dt)
d = diameter butiran sedimen (m)
γ dan γ
s
= berat jenis air dan berat jenis sedimen (kg/m
3
)
•
Jika q
b
in > q
b
out , maka terjadi agradasi.
•
Jika q
b
in < q
b
out, maka terjadi degradasi.
d S q s c s b
q
) ( 10
BAB III
Tinjauan Pustaka (lanjutan)
Analisa
Local Scour
Langkah perhitungan ini digunakan untuk menentukan
kedalaman
scouring
di antara dua pilar jembatan.
1. Tentukan kecepatan rata-rata U yang berkaitan dengan
Q
max
. Asumsikan tidak ada scour.
2. Tentukan kecepatan batas yang disebut “competent
velocity” dengan menggunakan grafik Gambar 3.7.
3. Bandingkan U dengan Ucomp. Bila U > Ucomp. scour
akan terjadi.
4. Asumsikan kedalaman scour dan ulangi langkah 1, 2, 3
sampai diperoleh U = Ucomp.
BAB III
Tinjauan Pustaka (lanjutan)
Bangunan Perkuatan Lereng (
Revetment
)
Terdapat dua jenis pasangan, yaitu pasangan batu
kosong (
dry masonry
) tanpa pengikat dan pasangan
batu biasa (
wet masonry
) dengan pengikat dari
BAB III
Tinjauan Pustaka (lanjutan)
Kelongsoran Tebing
Dimana:
• N = beban komponen vertikal yang timbul dari berat setiap irisan bidang luncur = γ A Cos α
• T = beban komponen tangensial yang timbul dari berat setiap irisan bidang luncur = γ A sin α
• U = tekanan air pori yang bekerja pada setiap bidang luncur
• Ne = komponen vertikal beban seismic yang bekerja pd setiap irisan bidang luncur = γ A sin α e
• Te = komponen tangensial beban seismic yg bekerja pd setiap irian bidang luncur = γ A cos α e
• φ = sudut geser dalam bahan yang membentuk dasar setiap irisan bidang luncur
• C = angka kohesi bahan yang membentuk dasar setiap irisan bidang luncur
• e = intensitas seismic horizontal
• ϒ = berat isi dari setiap bahan pembentuk irisan bidang luncur
• A = luas irisan bidang luncur
• α = sudut kemiringan rata-rata dasar setiap irisan bidang luncur
) ( tan ) ( Te T Ne U N L C Fs BAB IV
METODOLOGI
BAB IV
BAB V
Analisa dan Pembahasan
Duration Curve
Cara menentukannya adalah dengan menggunakan
metode statistik
duration curve.
R = 1379 m
3
/dt
Jumlah data (n) adalah jumlah data yang diolah,
yakni sebanyak 40 tahun data pengukuran debit
bulanan. n
= 480.
faktor K
= 1 + 3,3322 log n
= 1 + 3,3322 log 480
= 9,934
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
Perhitungan interval debit metode statistik :
R/K = 1379/9,934 = 139
y = 0,153x2- 26,49x + 1208 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 0 20 40 60 80 100 Q (m 3/d t) %Duration Curve
Q80% = 0,153 (802) – (26,49 x 80) + 1208 = 979,2 – 2119 + 1208 = 68 m3/dtBAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
Menghitung Debit Periode Ulang
Rata-rata debit selama 480 bulan : X
rata2= 328 m
3/dt
Jumlah data yang digunakan adalah sebesar N = 480 bulan
Diperoleh dari perhitungan ∑ (X-X
rata2)
2= 47426607 (m
3/dt)
2Standar deviasi =
Perhitungan debit periode ulang :
T = 10 tahun
y
T= -(ln . Ln (10/9)) = 2,25
Karena harga N untuk metode gumbel terbatas untuk 100, maka
untuk menghitung N > 100 digunakan Persamaan 3.5 (Bab III
Tinjauan Pustaka)
66 , 314 1 480 47426607 1)
(
2 1
Nx
x
N
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
K = (2,25 – 0,577)/1,2825 = 1,305
X
10
= X + Kσ
N-1
= 328 + 1,305 . 314,66 = 738,86
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
Perhitungan Debit Tampungan Penuh
Contoh perhitungan untuk penampang CP 114/2 :
Diketahui :
n
= 0,08 (angka kekasaran Manning)
h = 8,72 m (ketinggian air fullbank)
A = 1276,31 m
2P
= 177,75 m
Jari-jari hidrolis R = A/P = 1276,31 / 177,75 = 7,18 m
Kecepatan aliran V untuk masing-masing bagian penampang
dengan kedalaman tertentu adalah :
V = 1/n R
2/3S
1/2= 1/0,08 . 7,18
2/3. 0,0006
1/2= 1,1 m/dt
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
Berikut ini adalah pentabelan hasil perhitungan
Persamaan Manning untuk masing-masing
ruas.
h A P R2/3 V Q m m2 m (A/P)2/3 1/nR2/3S1/2 m3/dt 1 CP 114/2 8.72 1276.31 177.75 3.72 0.024 0.10 0.9 1161.9 2 CP 114/1 8.39 1291.95 218.21 3.27 0.044 0.10 1.4 1840.1 3 BM 114 11.74 1359.86 205.84 3.52 0.093 0.10 3.3 4462.8 4 CP 113/4 11.95 1248.46 203.66 3.35 0.083 0.10 2.8 3472.7 5 CP 113/3 11.40 1415.02 227.22 3.38 0.078 0.10 2.6 3740.9 6 CP 113/2 13.05 1450.20 207.73 3.65 0.092 0.10 3.4 4883.7 No. Ruas S1/2 nBAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
Analisa
Kapasitas
Penampang
Sungai
dan
Menghitung
Kecepatan
Aliran
dengan
Menggunakan HEC-RAS
Elevasi muka air maksimum dari analisa HEC-RAS
mulai kering diperkirakan sebesar 9,00 m dari
elevasi terdalam sungai sampai elevasi muka air
tertinggi.
Kedalaman
tersebut
berdasarkan
analisa HEC-RAS debit kapasitas tampungan
penuh. Hal ini bisa dijadikan acuan untuk tinggi
revetmen yang akan digunakan sebagai pelindung
gerusan tebing sungai tersebut.
BAB V
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
Analisa Tractive Force
•
Untuk bagian tebing sisi Tuban
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
Analisa Tractive Force (lanjutan)
Untuk bagian tebing sisi Bojonegoro :
Nilai τ
cr= 0,43 kg/m (diperoleh dari grafik pada Gambar 3.6 Bab
III) dengan memilih nilai yang disarankan untuk saluran yang
mengandung banyak endapan halus dalam air.
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
No. τs (kg/m2) τcr (kg/m2) Keterangan 0.5 0.43 tidak stabil 0.70 0.43 tidak stabil 0.5 0.43 tidak stabil 0.3 0.43 stabil 0.70 0.43 tidak stabil 0.5 0.43 tidak stabil 0.4 0.43 stabil 0.70 0.43 tidak stabil 0.5 0.43 tidak stabil 0.4 0.43 stabil 0.70 0.43 tidak stabil 0.3 0.43 stabil 0.4 0.43 stabil 0.70 0.43 tidak stabil 0.6 0.43 tidak stabil 0.3 0.43 stabil 0.70 0.43 tidak stabil 0.5 0.43 tidak stabil CP 113/4 Bojonegoro 5 6 CP 113/3 Tuban CP 113/3 Tengah CP 113/3 Bojonegoro CP 113/2 Tuban CP 113/2 Tengah CP 113/2 Bojonegoro CP 114/1 Bojonegoro BM 114 Tuban BM 114 Tengah BM 114 Bojonegoro CP 113/4 Tuban CP 113/4 Tengah 2 3 4 CP 114/2 Bojonegoro CP 114/2 Tuban CP 114/2 Tengah CP 114/1 Tuban CP 114/1 Tengah 1 Ruas
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa ada bagian sisi tebing
sungai tidak stabil. Hal ini menunjukkan bahwa sisi tersebut
membutuhkan proteksi untuk melindungi terangkutnya
butiran-butiran tanah tebing oleh arus sungai.
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
Analisa Angkutan Sedimen Dasar
Dari Tabel di atas dapat dilihat bahwa ada beberapa ruas yang mengalami degradasi
pada dasar salurannya dan ada juga yang mengalami agradasi pada dasar
salurannya. Jika q
b,in> q
b,outmaka terjadi agradasi, sedangkan jika q
b,in< q
b,outmaka
terjadi degradasi pada dasar salurannya.
bulan basah bulan kering bulan basah bulan kering bulan basah bulan kering basah + kering 1 CP 114/2 0.050 0.003 0.00000016 0.00000001 0.00000017 2 CP 114/1 0.38 0.027 degradasi degradasi 0.000001 0.000000 0.0000012 0.09 3 BM 114 12.10 1.343 degradasi degradasi 0.000037 0.000004 0.0000418 3.51 4 CP 113/4 8.53 1.216 agradasi agradasi 0.000022 0.000004 0.0000261 1.35 5 CP 113/3 4.89 1.216 agradasi degradasi 0.000012 0.000004 0.0000161 0.87 6 CP 113/2 11.64 2.199 degradasi degradasi 0.000026 0.000007 0.0000326 1.43 volume kedalaman (m/th) No. Penampang bedload qb (kg/dt/m) kondisi dasar saluran
Titik jarak antar titik (m) elevasi titik awal (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) CP 114/2 117 1,23 1,30 0,07 0,0006 negatif CP 114/1 132 1,30 -1,05 0,25 0,0019 positif BM 114 122 -1,05 -2,11 1,06 0,0087 positif CP 113/4 145 -2,11 -1,11 1,00 0,0069 negatif CP 113/3 152 -1,11 -2,04 0,93 0,0061 positif CP 113/2 172 -2,04 -0,58 1,46 0,0085 negatif
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
Analisa local scour
Dari perhitungan local scour di atas, dapat diketahui ruas sungai pada CP 113/2 terjadi
local scour
akibat kecepatan arus yang melewati penampang tersebut. Kecepatan
aliran yang terjadi memiliki nilai yang lebih besar.
Kedalaman scour = S
T= 1,4 a
Dimana a = karakteristik geometri pilar = 2
S
T= 1,4 a = 1,4 x 2 = 2,8 m
Stasiun Ruas Kedalaman Kecepatan
Aliran (U) Ucomp. Ket.
6 CP 114/2 7.71 1.5 1.66 no scouring 5 CP 114/1 7.41 1.34 1.5 no scouring 4 BM 114 9.52 1.56 1.8 no scouring 3 CP 113/4 10.03 1.64 1.9 no scouring 2 CP 113/3 8.64 1.72 1.75 no scouring 1 CP 113/2 8.68 2.51 1.77 scouring
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
Analisa Kelongsoran Tanah Tebing Sungai
•
Angka kohesi tanah C
= 2 t/m
2(lempung)
•
Berat volume tanah γ
d= 1,4 t/m
3•
Sudut geser dalam φ = 44,5
o•
Tekanan air pori U
= γ h = 1000 kg/m
3x 8,41 m = 8,41 t/m
2•
Intensitas seismik horizontal e
= 0,15
•
Untuk penampang CP 114/2 sisi Tuban
•
Data kemiringan tebing sungai :
•
n = 1 : 3
•
φ = 18
o4’
•
R = jari-jari kelongsoran = 19.5 m
• Contoh perhitungan untuk pias 1 sisi CP 114/2 Tuban adalah sebagai berikut :
• A = luas pias = 14,62 m2
• b = lebar masing-masing pias = 4,1325 m
• α = sudut kemiringan rata-rata tiap bidang luncur = 14o
• ϕ = sudut geser dalam tanah = 44,5o
• N = A γ cosα = 14,62 . 1,4 . 0,97 = 19,9 t/m
• Ne = A γ sinα e = 14,62 . 1,4 . 0,242 . 0,15 = 0,7 t/m
• T = A γ sinα = 14,62 . 1,4 . 0,242 = 5 t/m
• Te = A γ cosα e = 14,62 . 1,4 . 0,97 . 0,15 = 3 t/m
• U = u cosα / b = (8,41 . 0,97)/4,1325 = 35,8 t/m
• Untuk pias ke-2 hingga pias ke-8 digunakan perhitungan yang sama dengan perhitungan pias ke-1 dan hasilnya ditabelkan pada Lampiran 6, sehingga diperoleh :
• ∑N = 379,8 t/m
• ∑Ne = 13,8 t/m
• ∑T = 91,8 t/m
• ∑Te = 57 t/m
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
Analisa Kelongsoran Tanah Tebing Sungai
No. Fs Ket. 1 2.9 OK 2 3.1 OK 3 3.6 OK 4 3.4 OK 5 3.9 OK 6 7.7 OK 7 3.5 OK 8 9.9 OK 9 3.1 OK 10 6.1 OK 11 4.9 OK 12 7.8 OK CP 113/3 Bojonegoro CP 113/2 Tuban CP 113/2 Bojonegoro BM 114 Tuban BM 114 Bojonegoro CP 113/4 Tuban CP 113/4 Bojonegoro CP 113/3 Tuban Ruas CP 114/2 Tuban CP 114/2 Bojonegoro CP 114/1 Tuban CP 114/1 Bojonegoro
Dari tabel di samping dapat
disimpulkan bahwa tanah tebing
Sungai Bengawan Solo pada ruas
yang ditinjau aman dari kelongsoran.
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
Desain Konstruksi Revetmen
Contoh perhitungan dilakukan pada CP 114/2 sisi Tuban Perhitungan Berat Struktur tiap 20 m sambungan: Pasangan Batu • γ batu = 2,6 t/m3 • tebal = 0,45 m • W = γ A L = 2,6 x 7,46 x 20 = 387,74 ton Pasir Urug • γ pasir = 1,4 t/m3 • tebal = 0,3 m • W = γ A L = 1,4 x 5,27 x 20 = 147,59 ton Beton Bertulang • γ beton = 2,4 t/m3 • W = γ A L = 2,4 x 4,16 x 20 = 199,68 ton • Wtotal = W1 + W2 + W3 • = 387,74 + 147,59 + 199,68 • = 735,01 ton
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
Jika dalam 20 m segmen digunakan 10 buah tiang
pancang dengan jarak antar tiang 2 m dan jarak
tiang ke tepi 1 m, maka gaya yang bekerja untuk
masing-masing tiang adalah 73,5 ton.
Dari Gambar 5.34 diperoleh :
•
Kedalaman yang digunakan untuk diameter 60
cm = 5,8 m
•
Kedalaman yang digunakan untuk diameter 50
cm = 9 m
•
Kedalaman yang digunakan untuk diameter 40
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
40 cm
50 cm
60 cm
Tuban
735.01
12.5
9
5.8
Bojonegoro
735.01
12.5
9
5.8
Tuban
729.60
12.4
9.5
6.7
Bojonegoro
545.16
9
6.5
4.3
Tuban
620.21
10.6
7.6
5.2
Bojonegoro
547.39
9
5
4.3
Tuban
616.39
10.3
7.4
5
Bojonegoro
565.51
10.8
7
4.5
Tuban
737.23
12.4
9.4
7
Bojonegoro
494.98
8.2
5.4
4
Tuban
683.17
12
9
6.3
Bojonegoro
560.42
9.8
7
4.6
Kedalaman pancang (m)
Profil
Lokasi
Wt (ton)
CP 114/2
CP 114/1
BM 114
CP 113/4
CP 113/3
CP 113/2
Dari hasil perhitungan
di atas, dipilih tiang pancang
diameter
40
cm,
karena
untuk menyesuaikan panjang
tiang pancang di pasaran
dengan
kedalaman
yang
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
Desain Revetmen
Desain revetmen yang digunakan adalah
pasangan batu dengan diameter batu 300
mm. kemiringan lereng revetmen digunakan
lebih besar dari 1:1. Struktur revetmen dibagi
tiap segmen sepanjang 20 meter.
BAB V
BAB V
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
Kontrol Kestabilan Revetmen
1. Kontrol geser :
•
Beban air = ½ x γair x h x t
= ½ x 1 x 3,68 x 3,68
= 6,77 t
BAB V
Analisa dan Pembahasan (lanjutan)
2. Kontrol Tegangan Tanah
Hasil Perhitungan Kontrol terhadap Geser dan Tegangan Tanah
Tuban 0.735 0.41 aman Bojonegoro 0.735 0.41 aman Tuban 0.756 0.81 aman Bojonegoro 0.304 0.90 aman Tuban 0.008 1.26 aman Bojonegoro 0.234 0.76 aman Tuban 0.336 1.28 aman Bojonegoro 0.534 0.97 aman Tuban 0.377 0.37 aman Bojonegoro 0.407 0.42 aman Tuban 0.161 0.71 aman Bojonegoro 0.247 0.88 aman CP 114/2 CP 114/1 BM 114 CP 113/4 CP 113/3 CP 113/2Profil Lokasi Geser Teg.