• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERENCANAAN PERBAIKAN TEBING BENGAWAN SOLO HILIR DI KANOR, BOJONEGORO. Oleh : Dyah Riza Suryani ( )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERENCANAAN PERBAIKAN TEBING BENGAWAN SOLO HILIR DI KANOR, BOJONEGORO. Oleh : Dyah Riza Suryani ( )"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

PERENCANAAN PERBAIKAN TEBING BENGAWAN

SOLO HILIR DI KANOR, BOJONEGORO

Oleh :

Dyah Riza Suryani (3107100701)

Dosen Pembimbing :

1. Ir. Fifi Sofia

(2)

BAB I

Pendahuluan

Latar Belakang

Perencanaan ini perlu mempelajari penyebab kerusakan

tebing sungai di Desa Kanor, Kecamatan Kanor, Kabupaten

Bojonegoro (BM 114 dari hilir) dan di Desa Kanorejo,

Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, total sepanjang ± 900

m.

Pada lokasi Sungai Bengawan Solo di Desa Kanor telah

dibangun konstruksi tanggul penahan banjir. Gerusan

tebing sungai yang terjadi, apabila terus dibiarkan akan

dikhawatirkan berbahaya bagi tanggul tersebut.

Ruas sungai di Desa Kanorejo, Kecamatan Rengel, Kabupaten

Tuban, merupakan tikungan luar sungai sehingga sangat

rawan terjadi gerusan dan kelongsoran tebing sungai.

(3)

BAB I

Pendahuluan (lanjutan)

Perumusan Masalah

Apa penyebab gerusan tebing pada ruas Sungai

Bengawan Solo hilir di Desa Kanor, Bojonegoro

dan ruas sungai di Desa Kanorejo, Tuban?

Bagaimana struktur penahan gerusan tebing

(revetmen) yang sesuai dengan kondisi lapangan?

Bagaimana cara mengatasi peluapan yang terjadi

dan pengamanan lereng tanggul dan tebing

sungai apabila penampang sungai tidak mampu

menampung debit maksimum yang melintasi

sungai tersebut?

(4)

BAB I

Pendahuluan (lanjutan)

Tujuan

Dengan melakukan analisa hidrolika pada ruas sungai

yang

bersangkutan

dapat

diketahui

penyebab

terjadinya gerusan tebing pada ruas Sungai Bengawan

Solo hilir di Kanor, Bojonegoro dan di Desa Kanorejo,

Tuban.

Mendapatkan desain struktur penahan gerusan tebing

(revetment) yang sesuai dengan kondisi lapangan.

Meningkatkan

kapasitas

tanggul

serta

dan

mengamankan lereng tanggul dan tebing sungai agar

aman terhadap debit maksimum rencana.

(5)

BAB I

Pendahuluan (lanjutan)

Batasan Masalah

Analisa data geometri dan karakteristik fisik sungai

dilakukan hanya di beberapa titik lokasi yang di tinjau

(CP 114/2 s/d CP 113/2).

Analisa data debit berdasarkan hasil pengukuran debit

Sungai Bengawan Solo hilir di lokasi yang ditinjau.

Menganggap bahwa aliran sungai pada ruas-ruas yang

ditinjau dalam kondisi aliran tetap seragam (

steady

uniform flow

) karena data yang diperoleh dari Dinas PU

Pengairan Pengolaan Banjir dan Perbaikan Sungai

Bengawan Solo I yang di Madiun kurang lengkap.

(6)

BAB I

Pendahuluan (lanjutan)

Batasan Masalah (Lanjutan)

Analisa data angkutan sedimen bed-load didasarkan

pada pengukuran di daerah Sungai Bengawan Solo di

Desa Kedung Arum, Kecamatan Kanor, Kabupaten

Bojonegoro dan di Desa Kedung Harjo, Kecamatan

Widang,

Kabupaten

Tuban

karena

tidak

ada

pengukuran sedimen di lokasi studi Tugas Akhir.

Hanya memilih satu macam konstruksi revetmen.

Tidak menganalisa anggaran biaya pembangunan dan

metode

pelaksanaan

konstruksi

revetmen

yang

direncanakan.

(7)

BAB I

Pendahuluan (lanjutan)

Manfaat

Struktur pengamanan tebing yang di desain

mampu mengatasi gerusan tebing pada ruas

Sungai Bengawan Solo hilir di Desa Kanor,

Bojonegoro dan ruas sungai di Desa Kanorejo,

Tuban.

Tanggul yang ditingkatkan kapasitasnya mampu

dilalui debit maksimum rencana sehingga

peluapan dapat dihindarkan.

Lereng tanggul dan tebing sungai aman terhadap

(8)

BAB II

GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN LOKASI STUDI

Lokasi Studi

(9)

BAB II

GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN LOKASI STUDI

(lanjutan)

Kondisi Lokasi Studi

di beberapa titik lokasi Sungai Bengawan Solo

membutuhkan

proteksi

tebing

untuk

mencegah

kelongsoran, terutama pada bagian tikungan sungai.

Sungai Bengawan Solo di wilayah Bojonegoro dan

Tuban dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai sarana

transportasi penyeberangan dari Bojonegoro-Tuban,

maupun dari Tuban-Bojonegoro.

Lahan sekitaran Sungai Bengawan Solo dijadikan warga

sebagai pemukiman penduduk dan lahan persawahan.

(10)

BAB II

GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN LOKASI STUDI

(lanjutan)

Kondisi Karakteristik Sungai Objek Tugas Akhir

Bagian hilir Sungai Bengawan Solo adalah termasuk jenis

sungai

meander

yang mengalir di daratan alluvial.

fluktuasi debit yang terjadi pada Sungai Bengawan Solo

sangat besar.

Jenis angkutan sedimen

bed-load

Sungai Bengawan Solo

dari hasil pengukuran yang paling dominan pada musim

hujan adalah jenis

sand

(pasir), sedangkan pada musim

kemarau yang dominan adalah lanau (silt).

(11)

BAB III

Tinjauan Pustaka

Morfologi Sungai

Pada umumnya, pola sungai di daerah hilir atau dataran rendah adalah

bermeander atau berkelok-kelok, misalnya Bengawan Solo. Hal tersebut

terjadi akibat erosi horizontal lebih besar dari erosi vertikal.

(12)

BAB III

Tinjauan Pustaka (lanjutan)

Duration Curve

Dalam menentukan suatu desain bangunan

air,

jika

bangunan

tersebut

digunakan

sepanjang tahun, maka debit andalan yang

digunakan

adalah

debit

yang

memiliki

prosentase besar. Debit dengan prosentase

besar di sini adalah debit yang prosentase

frekuensi kejadiannya sering terjadi sepanjang

tahun.

(13)

BAB III

Tinjauan Pustaka (lanjutan)

Debit Periode Ulang

Dimana :

= debit rata-rata

T = periode ulang

1

n T

x

K

X

2825

,

1

)

577

,

0

(

y

T

K

1

)

(

2 1

 

N

x

x

n

x

]

1

ln

[ln

T

T

y

T

(14)

BAB III

Tinjauan Pustaka (lanjutan)

Persamaan Manning

Q = V . A

Dimana : V = 1/n R

2/3

S

1/2

n = angka Manning

R = A/P = jari-jari hidrolik (m)

S = kemiringan dasar saluran

A = luas penampang basah (m

2

)

(15)

BAB III

Tinjauan Pustaka (lanjutan)

Analisa Kapasitas Penampang Sungai dan Kecepatan Aliran

dengan HEC-RAS

1. Memasukkan data geometri sungai

2. Memasukkan data

steady flow

(16)

BAB III

Tinjauan Pustaka (lanjutan)

Gaya Seret (

Tractive Force

)

Dimana :

Ws = berat butir terendam

a = luas efektif butir (m

2

)

Φ = sudut kemiringan dinding

θ =

angle of repose

tan

tan

2 2 1 tan cos   a Ws s

(17)

BAB III

Tinjauan Pustaka (lanjutan)

Angkutan Sedimen Dasar (

Bedload Transport

)

Dimana :

qb = debit sedimen (kg/dt/m)

q = debit air (m

3

/dt)

d = diameter butiran sedimen (m)

γ dan γ

s

= berat jenis air dan berat jenis sedimen (kg/m

3

)

Jika q

b

in > q

b

out , maka terjadi agradasi.

Jika q

b

in < q

b

out, maka terjadi degradasi.

d S q s c s b

q

) ( 10

  

(18)

BAB III

Tinjauan Pustaka (lanjutan)

Analisa

Local Scour

Langkah perhitungan ini digunakan untuk menentukan

kedalaman

scouring

di antara dua pilar jembatan.

1. Tentukan kecepatan rata-rata U yang berkaitan dengan

Q

max

. Asumsikan tidak ada scour.

2. Tentukan kecepatan batas yang disebut “competent

velocity” dengan menggunakan grafik Gambar 3.7.

3. Bandingkan U dengan Ucomp. Bila U > Ucomp. scour

akan terjadi.

4. Asumsikan kedalaman scour dan ulangi langkah 1, 2, 3

sampai diperoleh U = Ucomp.

(19)

BAB III

Tinjauan Pustaka (lanjutan)

Bangunan Perkuatan Lereng (

Revetment

)

Terdapat dua jenis pasangan, yaitu pasangan batu

kosong (

dry masonry

) tanpa pengikat dan pasangan

batu biasa (

wet masonry

) dengan pengikat dari

(20)

BAB III

Tinjauan Pustaka (lanjutan)

Kelongsoran Tebing

Dimana:

• N = beban komponen vertikal yang timbul dari berat setiap irisan bidang luncur = γ A Cos α

• T = beban komponen tangensial yang timbul dari berat setiap irisan bidang luncur = γ A sin α

• U = tekanan air pori yang bekerja pada setiap bidang luncur

• Ne = komponen vertikal beban seismic yang bekerja pd setiap irisan bidang luncur = γ A sin α e

• Te = komponen tangensial beban seismic yg bekerja pd setiap irian bidang luncur = γ A cos α e

• φ = sudut geser dalam bahan yang membentuk dasar setiap irisan bidang luncur

• C = angka kohesi bahan yang membentuk dasar setiap irisan bidang luncur

• e = intensitas seismic horizontal

• ϒ = berat isi dari setiap bahan pembentuk irisan bidang luncur

• A = luas irisan bidang luncur

• α = sudut kemiringan rata-rata dasar setiap irisan bidang luncur

      ) ( tan ) ( Te T Ne U N L C Fs

(21)

BAB IV

METODOLOGI

(22)

BAB IV

(23)

BAB V

Analisa dan Pembahasan

Duration Curve

Cara menentukannya adalah dengan menggunakan

metode statistik

duration curve.

R = 1379 m

3

/dt

Jumlah data (n) adalah jumlah data yang diolah,

yakni sebanyak 40 tahun data pengukuran debit

bulanan. n

= 480.

faktor K

= 1 + 3,3322 log n

= 1 + 3,3322 log 480

= 9,934

(24)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

Perhitungan interval debit metode statistik :

R/K = 1379/9,934 = 139

y = 0,153x2- 26,49x + 1208 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 0 20 40 60 80 100 Q (m 3/d t) %

Duration Curve

Q80% = 0,153 (802) – (26,49 x 80) + 1208 = 979,2 – 2119 + 1208 = 68 m3/dt

(25)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

Menghitung Debit Periode Ulang

Rata-rata debit selama 480 bulan : X

rata2

= 328 m

3

/dt

Jumlah data yang digunakan adalah sebesar N = 480 bulan

Diperoleh dari perhitungan ∑ (X-X

rata2

)

2

= 47426607 (m

3

/dt)

2

Standar deviasi =

Perhitungan debit periode ulang :

T = 10 tahun

y

T

= -(ln . Ln (10/9)) = 2,25

Karena harga N untuk metode gumbel terbatas untuk 100, maka

untuk menghitung N > 100 digunakan Persamaan 3.5 (Bab III

Tinjauan Pustaka)

66 , 314 1 480 47426607 1

)

(

2 1    

N

x

x

N

(26)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

K = (2,25 – 0,577)/1,2825 = 1,305

X

10

= X + Kσ

N-1

= 328 + 1,305 . 314,66 = 738,86

(27)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

Perhitungan Debit Tampungan Penuh

Contoh perhitungan untuk penampang CP 114/2 :

Diketahui :

n

= 0,08 (angka kekasaran Manning)

h = 8,72 m (ketinggian air fullbank)

A = 1276,31 m

2

P

= 177,75 m

Jari-jari hidrolis R = A/P = 1276,31 / 177,75 = 7,18 m

Kecepatan aliran V untuk masing-masing bagian penampang

dengan kedalaman tertentu adalah :

V = 1/n R

2/3

S

1/2

= 1/0,08 . 7,18

2/3

. 0,0006

1/2

= 1,1 m/dt

(28)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

Berikut ini adalah pentabelan hasil perhitungan

Persamaan Manning untuk masing-masing

ruas.

h A P R2/3 V Q m m2 m (A/P)2/3 1/nR2/3S1/2 m3/dt 1 CP 114/2 8.72 1276.31 177.75 3.72 0.024 0.10 0.9 1161.9 2 CP 114/1 8.39 1291.95 218.21 3.27 0.044 0.10 1.4 1840.1 3 BM 114 11.74 1359.86 205.84 3.52 0.093 0.10 3.3 4462.8 4 CP 113/4 11.95 1248.46 203.66 3.35 0.083 0.10 2.8 3472.7 5 CP 113/3 11.40 1415.02 227.22 3.38 0.078 0.10 2.6 3740.9 6 CP 113/2 13.05 1450.20 207.73 3.65 0.092 0.10 3.4 4883.7 No. Ruas S1/2 n

(29)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

Analisa

Kapasitas

Penampang

Sungai

dan

Menghitung

Kecepatan

Aliran

dengan

Menggunakan HEC-RAS

Elevasi muka air maksimum dari analisa HEC-RAS

mulai kering diperkirakan sebesar 9,00 m dari

elevasi terdalam sungai sampai elevasi muka air

tertinggi.

Kedalaman

tersebut

berdasarkan

analisa HEC-RAS debit kapasitas tampungan

penuh. Hal ini bisa dijadikan acuan untuk tinggi

revetmen yang akan digunakan sebagai pelindung

gerusan tebing sungai tersebut.

(30)

BAB V

(31)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

Analisa Tractive Force

Untuk bagian tebing sisi Tuban

(32)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

Analisa Tractive Force (lanjutan)

Untuk bagian tebing sisi Bojonegoro :

Nilai τ

cr

= 0,43 kg/m (diperoleh dari grafik pada Gambar 3.6 Bab

III) dengan memilih nilai yang disarankan untuk saluran yang

mengandung banyak endapan halus dalam air.

(33)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

No. τs (kg/m2) τcr (kg/m2) Keterangan 0.5 0.43 tidak stabil 0.70 0.43 tidak stabil 0.5 0.43 tidak stabil 0.3 0.43 stabil 0.70 0.43 tidak stabil 0.5 0.43 tidak stabil 0.4 0.43 stabil 0.70 0.43 tidak stabil 0.5 0.43 tidak stabil 0.4 0.43 stabil 0.70 0.43 tidak stabil 0.3 0.43 stabil 0.4 0.43 stabil 0.70 0.43 tidak stabil 0.6 0.43 tidak stabil 0.3 0.43 stabil 0.70 0.43 tidak stabil 0.5 0.43 tidak stabil CP 113/4 Bojonegoro 5 6 CP 113/3 Tuban CP 113/3 Tengah CP 113/3 Bojonegoro CP 113/2 Tuban CP 113/2 Tengah CP 113/2 Bojonegoro CP 114/1 Bojonegoro BM 114 Tuban BM 114 Tengah BM 114 Bojonegoro CP 113/4 Tuban CP 113/4 Tengah 2 3 4 CP 114/2 Bojonegoro CP 114/2 Tuban CP 114/2 Tengah CP 114/1 Tuban CP 114/1 Tengah 1 Ruas

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa ada bagian sisi tebing

sungai tidak stabil. Hal ini menunjukkan bahwa sisi tersebut

membutuhkan proteksi untuk melindungi terangkutnya

butiran-butiran tanah tebing oleh arus sungai.

(34)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

Analisa Angkutan Sedimen Dasar

Dari Tabel di atas dapat dilihat bahwa ada beberapa ruas yang mengalami degradasi

pada dasar salurannya dan ada juga yang mengalami agradasi pada dasar

salurannya. Jika q

b,in

> q

b,out

maka terjadi agradasi, sedangkan jika q

b,in

< q

b,out

maka

terjadi degradasi pada dasar salurannya.

bulan basah bulan kering bulan basah bulan kering bulan basah bulan kering basah + kering 1 CP 114/2 0.050 0.003 0.00000016 0.00000001 0.00000017 2 CP 114/1 0.38 0.027 degradasi degradasi 0.000001 0.000000 0.0000012 0.09 3 BM 114 12.10 1.343 degradasi degradasi 0.000037 0.000004 0.0000418 3.51 4 CP 113/4 8.53 1.216 agradasi agradasi 0.000022 0.000004 0.0000261 1.35 5 CP 113/3 4.89 1.216 agradasi degradasi 0.000012 0.000004 0.0000161 0.87 6 CP 113/2 11.64 2.199 degradasi degradasi 0.000026 0.000007 0.0000326 1.43 volume kedalaman (m/th) No. Penampang bedload qb (kg/dt/m) kondisi dasar saluran

Titik jarak antar titik (m) elevasi titik awal (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) CP 114/2 117 1,23 1,30 0,07 0,0006 negatif CP 114/1 132 1,30 -1,05 0,25 0,0019 positif BM 114 122 -1,05 -2,11 1,06 0,0087 positif CP 113/4 145 -2,11 -1,11 1,00 0,0069 negatif CP 113/3 152 -1,11 -2,04 0,93 0,0061 positif CP 113/2 172 -2,04 -0,58 1,46 0,0085 negatif

(35)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

Analisa local scour

Dari perhitungan local scour di atas, dapat diketahui ruas sungai pada CP 113/2 terjadi

local scour

akibat kecepatan arus yang melewati penampang tersebut. Kecepatan

aliran yang terjadi memiliki nilai yang lebih besar.

Kedalaman scour = S

T

= 1,4 a

Dimana a = karakteristik geometri pilar = 2

S

T

= 1,4 a = 1,4 x 2 = 2,8 m

Stasiun Ruas Kedalaman Kecepatan

Aliran (U) Ucomp. Ket.

6 CP 114/2 7.71 1.5 1.66 no scouring 5 CP 114/1 7.41 1.34 1.5 no scouring 4 BM 114 9.52 1.56 1.8 no scouring 3 CP 113/4 10.03 1.64 1.9 no scouring 2 CP 113/3 8.64 1.72 1.75 no scouring 1 CP 113/2 8.68 2.51 1.77 scouring

(36)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

Analisa Kelongsoran Tanah Tebing Sungai

Angka kohesi tanah C

= 2 t/m

2

(lempung)

Berat volume tanah γ

d

= 1,4 t/m

3

Sudut geser dalam φ = 44,5

o

Tekanan air pori U

= γ h = 1000 kg/m

3

x 8,41 m = 8,41 t/m

2

Intensitas seismik horizontal e

= 0,15

Untuk penampang CP 114/2 sisi Tuban

Data kemiringan tebing sungai :

n = 1 : 3

φ = 18

o

4’

R = jari-jari kelongsoran = 19.5 m

(37)
(38)

• Contoh perhitungan untuk pias 1 sisi CP 114/2 Tuban adalah sebagai berikut :

• A = luas pias = 14,62 m2

• b = lebar masing-masing pias = 4,1325 m

• α = sudut kemiringan rata-rata tiap bidang luncur = 14o

• ϕ = sudut geser dalam tanah = 44,5o

• N = A γ cosα = 14,62 . 1,4 . 0,97 = 19,9 t/m

• Ne = A γ sinα e = 14,62 . 1,4 . 0,242 . 0,15 = 0,7 t/m

• T = A γ sinα = 14,62 . 1,4 . 0,242 = 5 t/m

• Te = A γ cosα e = 14,62 . 1,4 . 0,97 . 0,15 = 3 t/m

• U = u cosα / b = (8,41 . 0,97)/4,1325 = 35,8 t/m

• Untuk pias ke-2 hingga pias ke-8 digunakan perhitungan yang sama dengan perhitungan pias ke-1 dan hasilnya ditabelkan pada Lampiran 6, sehingga diperoleh :

• ∑N = 379,8 t/m

• ∑Ne = 13,8 t/m

• ∑T = 91,8 t/m

• ∑Te = 57 t/m

(39)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

Analisa Kelongsoran Tanah Tebing Sungai

No. Fs Ket. 1 2.9 OK 2 3.1 OK 3 3.6 OK 4 3.4 OK 5 3.9 OK 6 7.7 OK 7 3.5 OK 8 9.9 OK 9 3.1 OK 10 6.1 OK 11 4.9 OK 12 7.8 OK CP 113/3 Bojonegoro CP 113/2 Tuban CP 113/2 Bojonegoro BM 114 Tuban BM 114 Bojonegoro CP 113/4 Tuban CP 113/4 Bojonegoro CP 113/3 Tuban Ruas CP 114/2 Tuban CP 114/2 Bojonegoro CP 114/1 Tuban CP 114/1 Bojonegoro

Dari tabel di samping dapat

disimpulkan bahwa tanah tebing

Sungai Bengawan Solo pada ruas

yang ditinjau aman dari kelongsoran.

(40)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

Desain Konstruksi Revetmen

Contoh perhitungan dilakukan pada CP 114/2 sisi Tuban Perhitungan Berat Struktur tiap 20 m sambungan: Pasangan Batu • γ batu = 2,6 t/m3 • tebal = 0,45 m • W = γ A L = 2,6 x 7,46 x 20 = 387,74 ton Pasir Urug • γ pasir = 1,4 t/m3 • tebal = 0,3 m • W = γ A L = 1,4 x 5,27 x 20 = 147,59 ton Beton Bertulang • γ beton = 2,4 t/m3 • W = γ A L = 2,4 x 4,16 x 20 = 199,68 ton • Wtotal = W1 + W2 + W3 • = 387,74 + 147,59 + 199,68 • = 735,01 ton

(41)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

Jika dalam 20 m segmen digunakan 10 buah tiang

pancang dengan jarak antar tiang 2 m dan jarak

tiang ke tepi 1 m, maka gaya yang bekerja untuk

masing-masing tiang adalah 73,5 ton.

Dari Gambar 5.34 diperoleh :

Kedalaman yang digunakan untuk diameter 60

cm = 5,8 m

Kedalaman yang digunakan untuk diameter 50

cm = 9 m

Kedalaman yang digunakan untuk diameter 40

(42)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

40 cm

50 cm

60 cm

Tuban

735.01

12.5

9

5.8

Bojonegoro

735.01

12.5

9

5.8

Tuban

729.60

12.4

9.5

6.7

Bojonegoro

545.16

9

6.5

4.3

Tuban

620.21

10.6

7.6

5.2

Bojonegoro

547.39

9

5

4.3

Tuban

616.39

10.3

7.4

5

Bojonegoro

565.51

10.8

7

4.5

Tuban

737.23

12.4

9.4

7

Bojonegoro

494.98

8.2

5.4

4

Tuban

683.17

12

9

6.3

Bojonegoro

560.42

9.8

7

4.6

Kedalaman pancang (m)

Profil

Lokasi

Wt (ton)

CP 114/2

CP 114/1

BM 114

CP 113/4

CP 113/3

CP 113/2

Dari hasil perhitungan

di atas, dipilih tiang pancang

diameter

40

cm,

karena

untuk menyesuaikan panjang

tiang pancang di pasaran

dengan

kedalaman

yang

(43)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

Desain Revetmen

Desain revetmen yang digunakan adalah

pasangan batu dengan diameter batu 300

mm. kemiringan lereng revetmen digunakan

lebih besar dari 1:1. Struktur revetmen dibagi

tiap segmen sepanjang 20 meter.

(44)

BAB V

(45)

BAB V

(46)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

Kontrol Kestabilan Revetmen

1. Kontrol geser :

Beban air = ½ x γair x h x t

= ½ x 1 x 3,68 x 3,68

= 6,77 t

(47)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

2. Kontrol Tegangan Tanah

(48)

Hasil Perhitungan Kontrol terhadap Geser dan Tegangan Tanah

Tuban 0.735 0.41 aman Bojonegoro 0.735 0.41 aman Tuban 0.756 0.81 aman Bojonegoro 0.304 0.90 aman Tuban 0.008 1.26 aman Bojonegoro 0.234 0.76 aman Tuban 0.336 1.28 aman Bojonegoro 0.534 0.97 aman Tuban 0.377 0.37 aman Bojonegoro 0.407 0.42 aman Tuban 0.161 0.71 aman Bojonegoro 0.247 0.88 aman CP 114/2 CP 114/1 BM 114 CP 113/4 CP 113/3 CP 113/2

Profil Lokasi Geser Teg.

(49)

BAB V

Analisa dan Pembahasan (lanjutan)

3. Kontrol Kelongsoran

Kondisi lereng ini bisa dikatakan stabil karena

persyaratan Fs adalah lebih besar dari 1,2.

(50)

BAB VI

KESIMPULAN

Dari analisa hidrolika, kecepatan aliran yang diperoleh rata-rata

lebih besar dari 1 m/dt. Hal ini bisa menyebabkan tergerusnya

saluran. Sedangkan pada analisa tractive force, saluran tidak

stabil, karena gaya seret yang bekerja lebih besar dari gaya seret

kritis pada tebing dan dasar saluran. Oleh karena itu perlu diberi

pengamanan pada tebing sungainya.

Struktur bangunan penahan gerusan tebing dipilih pasangan batu

dengan kemiringan lebih besar dari 1:1. Diameter dan kedalaman

tiang pancang diperoleh dari perhitungan daya dukung tanah dan

disesuaikan dengan ketersediaan ukurannya di lapangan.

Kapasitas tanggul eksisting di lapangan sudah mampu menampung

debit banjir rencana 200 tahun dan debit banjir

(51)

Referensi

Dokumen terkait

Kualitas perairan Sungai Bengawan Solo Kabupaten Bojonegoro secara keseluruhan berdasarkan indeks keanekaragaman plankton adalah 2,3481, yang termasuk dalam kategori

Konsep dasar dalam perencanaan dan perancangan Bengawan Solo Resto And Park di Bojonegoro adalah suatu tempat yang menyediakan makanan dan minuman untuk dikonsumsi

Dari penjabaran diatas maka dapat maksud dari “ BENGAWAN SOLO RESTO AND PARK di BOJONEGORO “ yaitu sebuah wadah yang dirancang sebagai tempat untuk menyajikan

Maksud dan tujuan perencanaan konstruksi pintu air ini adalah untuk mengatasi kendala pelayaran perahu yang melalui sungai Bengawan Solo yang melewati bangunan Bendung Gerak

Jenis ikan yang ditemukan selama penelitian pada hilir Sungai Bengawan Solo Kabupaten Lamongan sebanyak 3188 ekor yang terdiri dari 28 spesies dalam 16 famili

Pengambilan sampel air dilaksanakan di perairan anak Sungai Bengawan Solo yaitu Sungai Pepe yang dibagi menjadi dua stasiun yaitu stasiun A (daerah hilir Sungai

Pengendalian banjir yang telah dilaksanakan, salah satunya terletak pada Sungai Bengawan Solo Hilir melalui pembangunan Sudetan Banjir (Floodway) Plangwot-Sedayu

Uji statistik ukuran mikroplastik pada air sungai Bengawan Solo dilakukan dengan menggunakan Kruskall-Wallis, hasil menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan dari ketiga lokasi