• Tidak ada hasil yang ditemukan

SOP-Sterilisasi-Peralatan.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SOP-Sterilisasi-Peralatan.docx"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

Pengertian Suatu tindakan untuk membunuh kuman pathogen dan apatogen beserta sporanya pada peralatan perawatan dan kedokteran dengan cara merebus, stoom, panas tinggi atau menggunakan bahan kimia. 1.

1 2. Tujuan

2.

Untuk menjamin kualitas alkes, peralatan laboratorium dan linen dalam keadaan steril.

3. Kebijakan 4. Referensi

5.Alat dan Bahan  Medis

 Sterilisator kering yang terhubung dengan aliran listrik 1 buah.

 Sterilisator basah atu autoclave 1 buah.

 Larutan hypochlorite/klorin 0,5%.

 Sarung tangan 1 pasang.  Non Medis

 Ruangan 3 X 4 meter dengan ventilasi dan penerangan yang cukup 1 buah.

 Panci untuk mengukus 1 buah.

 Bak perendaman 1 buah.

 Wastafel dengan air mengalir 1 buah.

 Sabun (batang atau cair) dengan antiseptic maupun non antiseptic 1 buah.

 Handuk / lap sekali pakai ( tisu ) untuk mengeringkan tangan 1 buah.

 Tempat sampah medis beralas plastik dan tertutup 1 buah.

 Tempat sampah non medis beralas plastik 1 buah. 6.Langkah- langkah

/ prosedur

. Dekontaminasi

1. Memakai sarung tangan (Lihat SOP Memakai dan Melepas Handscoen).

2. Menyiapkan bak perendaman yang diisi dengan larutan klorin 0,5 % dengan cara :

3. Mencampur 1 sendok makan kaporit dengan 1 liter air. 4. Mengaduk larutan sampai terlarut.

5. Memasukkan alat – alat kesehatan atau alat laboratorium yang sudah terpakai dan bisa digunakan lagi kedalam bak

perendaman dengan cara :

 Mengambil satu persatu alkes dengan korentang.

 Memasukan satu persatu alkes atau peralatan laboratorium kedalam bak perendaman klorin 0,5% dengan korentang.

 Biarkan selama kurang lebih 10 menit. Pencucian dan Pembilasan

1. Membuka kran air dengan cara memutar searah jarum jam (model kran bukan putaran) dengan tangan kanan.

2. Mengambil peralatan bekas pakai yang sudah didekontaminasi (hati-hati bila memegang peralatan yang tajam, seperti gunting dan jarum jahit). Agar tidak merusak benda – benda yang terbuat dari plastik atau karet, jangan dicuci secara bersamaan dengan peralatan dari logam atau kaca.

3. Bila memungkinkan gunakan bak perendaman yang berbeda caranya dengan mengambil satu persatu alkes atau peralatan laboratorium yang sudah didekontaminasi dengan korentang. 4. Mencuci dengan hati-hati semua benda tajam atau yang terbuat

dari kaca dengan cara :

ii. Menggunakan sikat dengan air dan sabun untuk menghilangkan sisa darah dan kotoran dengan cara : menyikat dengan perlahan, searah dan berulang-ulang di bawah air mengalir sampai sisa darah dan kotoran bersih di semua permukaan.

iii. Membuka engsel, gunting dan klem dengan cara memutar skrup secara perlahan ke kiri sampai terlepas. Menyikat dengan seksama terutama pada bagian sambungan dan sudut peralatan dengan cara : menyikat dengan perlahan, searah dan berulang-ulang di bawah air mengalir sampai tidak tampak noda darah atau kotoran.

iv. Memastikan sudah tidak ada sisa darah dan kotoran yang tertinggal pada peralatan dengan cara melihat dengan membolak balik di bawah penerangan yang cukup terang. 5. Mengulangi prosedur di atas setiap benda sedikitnya tiga kali

( atau lebih bila perlu ) dengan air dan sabun atau detergen. 6. Membilas benda- benda tersebut dengan air bersih dengan cara 7. Mengambil satu persatu alkes dan peralatan laboratorium. 8. Membilas satu persatu di bawah air mengalir.

9. Mengulangi prosedur tersebut untuk benda- benda lain. Jika peralatan akan didesinfeksi tingkat tinggi secara kimiawi ( misalkan dalam larutan klorin 0,5% ), tempatkan peralatan

dalam wadah yang bersih dan biarkan kering sebelum mulai proses( DTT ) dengan cara :

a. Menyiapkan baki yang bersih dan kering.

b. Ambil alat satu-persatu sesuai dengan jenisnya ( mis : tabung reaksi dengan tabung reaksi, beaker glass dengan beaker glass).

10. Peralatan yang akan di desinfeksi tingkat tinggi dengan cara dikukus / rebus, atau di sterilisasi di dalam autoclave / oven panas kering, tidak perlu dikeringkan dulu sebelum proses sterilisasi dimulai.

11. Selagi masih menggunakan sarung tangan, cuci sarung tangan dengan air dan sabun, kemudian bilas dengan seksama menggunakan air bersih dengan cara :

a. Meletakan tangan yang masih bersarung tangan di bawah air mengalir.

b. Mengambil sabun.

c. Menggosokkan kedua tangan dengan sabun sampai bersih.

12. Melepas sarung tangan (lihat SOP memasang dan melepas handscoen).

13. Menggantung sarung tangan dan biarkan kering dengan cara diangin-anginkan dengan cara :

a. Menggantung sarung tangan dengan posisi jari dari sarung tangan di bawah, kemudian dijepit memakai jepitan yang telah dicuci di tempat jemuran.

b. Meletakan jemuran di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung.

14. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir (lihat SOP mencuci tangan).

Desinfeksi Tingkat Tinggi / Sterilisasi Metode Sterilisasi yang dapat dipilih :

1. AUTOCLAVE

1. Menuangkan air suling secukupnya ke dalam autoclave. 2. Menuang air suling sampai batas tertentu ke dalam autoclave. 3. Menata tabung reaksi atau peralatan gelas lain di dalam wadah

aluminium bagian dalam sedemikian rupa hingga tersedia ruangan untuk bergeraknya uap air secara bebas diantara alat-alat selama sterilisasi, letakkan wadah ke dalam autoclave dengan cara : tabung reaksi diambil satu-persatu dengan korentang, kemudian disusun di dalam wadah alumunium yang sudah terdapat di dalam autoclave dengan jarak minimal 0,5 cm dengan alat yang lain.

4. Meletakkan tutup sterilisator pada tubuh sterilisator dan meletakkan baut-baut penahan ke atas tempat yang sesuai dengan tutup sterilisator, kemudian kencangkan masing-masing murnya secara bersama pada tempat yang berlawanan dengan cara : memutar baut pada sudut yang bersilangan dan diputar kearah kanan, baru pada dua baut pada sisi sebelahnya kearah kanan sampai erat dan tidak bisa diputar lagi.

5. Membuka pengatur klep pengaman, dalam keadaan terbuka penahan tersebut letaknya lurus. Pasang pemanasnya. Uap yang terbentuk pada dasar sterilisator akan mengalir ke atas di seputar wadah bagian dalam dan kemudian ke bawah diantara labu-labu dan tabung-tabung ke dasar wadah, memaksa keluarnya udara dari dasar ke atas melalui tabung pengeluran fleksibel dan klep pengaman.

6. Bila uap air mulai keluar dengan deras ( menimbulkan bunyi mendesis ) tutuplah klep pengaman dengan cara mendorong pengaturnya ke bawah sehingga posisinya mendatar. Tekanan dalam sterilisator akan naik dan dapat dibaca pada alat pengukur tekanan.

7. Mempertahankan tekanan pada suhu 1210C, dengan cara

mengurangi pemanasan seperlunya untuk mempertahankan tekanan tersebut dengan cara : mengecek tekanan dan suhu pada alat penunjuk suhu dan tekanan.

8. Menyeterilkan media dan peralatan dengan cara mempertahankan tekanan 1 atm selama 15-20 menit dengan cara : membiarkan alat bekerja selama 15-20 menit sambil terus diawasi pada tekanan 1 atm.

9. Mengawasi tekanan selama proses sterilisasi dengan cara : mengawasi angka yang tertera pada penunjuk tekanan.

10. Mematikan pemanasan dan tunggulah sampai tekanan kembali nol. dengan cara : mematikan alat dengan cara mencabut steker listrik dan mendiamkannya selama 15 menit sambil dibuka penutupnya.

11. Bila alat penunjuk tekanan sudah mencapai nol dan suhu telah turun sampai jauh di bawah 1000C, bukalah pengatur klep

pengaman dengan cara meluruskannya untuk mengeluarkan sisa uap yang tertinggal di dalam. Kendurkan mur, lepaskan baut-bautnya dan angkat tutupnya.

12. Membuang air yang tersisa di dalam sterilisator dan keringkan baik-baik semua bagiannya dengan cara : menunggu sampai alatnya dingin kemudian membersihkan air yang tersisa sebanyak kurang lebih 1 cm dengan lap yang bersih sampai kering.

2. STERILISASI PANAS KERING ( OVEN )

1. Membuka pintu oven dan meletakkan alat-alat yang akan disterilisasi dengan rapi. Bila memungkinkan letakkan dalam nampan sesuai dengan klasifikasi penggunaannya ( misal : heacting set, partus set, THT set dan lain-lain ) dengan cara :Menyusun alat yang akan disterilkan dalam bak instrument tertutup dengan posisi yang sama (searah).

2. Memasukkan bak instrumen yang telah disusun ke dalam oven. 3. Menutup pintu oven dengan cara :

4. Memastikan semua peralatan sudah masuk dengan benar. 5. Menutup pintu oven dengan rapat.

6. Tunggu sampai suhu mencapai 1700 C dan biarkan selama 60

menit.

7. Setelah selesai, tunggu sampai suhu turun, buka pintu oven, keluarkan alat-alat yang sudah steril dengan menggunakan korentang steril dengan cara :

8. Menunggu sekitar 15 menit setelah lampu indikator mati. 9. Membuka pintu oven pelan-pelan.

10. Mengeluarkan alat yang telah disterilkan dengan korentang. 11. Untuk mendinginkan peralatan steril dilarang membuka bungkus

atau tutupnya.

3. METODE ALTERNATIF REBUS ATAU KUKUS

1. Mengambil panci dengan penutup yang rapat dengan cara : 2. Menaruh panci di tempat yang datar berdekatan dengan alat

pemanas.

3. Merendam peralatan di dalam air sehingga semuanya terendam air dengan cara :

4. Mengisi panci dengan alat yang akan disterilkan.

5. Menambahkan air setinggi kurang lebih 2,5 cm di atas alat yang akan direbus.

6. Pastikan semua alat yg akan di rebus telah di penuhi air. 7. Menutup rapat panci.

9. Menghitung waktu saat air mulai mendidih dengan cara :

10. Menghitung waktu saat air mulai mendidih dengan timer selama 20 menit.

11. Jangan tambahkan benda apapun ke dalam air mendidih setelah penghitungan waktu mulai.

12. Rebus selama 20 menit, catat lama waktu perebusan di dalam buku khusus.

13. Biarkan peralatan kering dengan cara diangin-anginkan sebelum digunakan atau disimpan.

14. Pada saat peralatan kering gunakan segera atau simpan dalam wadah disinfeksi tingkat tinggi bertutup. Peralatan bisa disimpan sampai satu minggu asalkan penutup tidak dibuka.

15. Mengganti air setiap kali mendisinfeksi peralatan dengan cara: 16. Membuang sisa air

17. Mengulangi kembali prosedur di atas

4

7. Unit terkait Ruang Pengobatan Gigi

 Ruang KIA

 Ruang Tindakan

 Ruang IGD

 

Referensi

Dokumen terkait

Sterilisasi panas kering ( heater ) menggunakan suhu 160 o C, suhu tinggi yang digunakan untuk mensterilkan instrument peralatan gigi yang terbuat dari. logam atau

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh suhu dan lama sterilisasi metode panas basah dan panas kering terhadap viskositas dan daya sebar basis gel alginat.. Gel alginat

Dari hasil dan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sterilisasi alginat dengan panas kering pada suhu tinggi dan durasi yang lama berpengaruh terhadap sifat

Alat Sterilisasi Kering dengan Pengunci Otomatis Berbasis Mikrokontroler ATMEGA16A adalah sebuah pemanas yang berfungsi sebagai peralatan untuk mensterilkan instrumen-

Proses sterilisasi panas untuk bahan yang tertera di Farmakope dengan menggunakan panas kering biasanya dilakukan dengan suatu proses bets di dalam suatu oven

Proses sterilisasi panas untuk bahan yang tertera di Farmakope dengan menggunakan panas kering biasanya dilakukan dengan suatu proses bets di dalam suatu oven

DEFINISI Sterilisasi adalah proses mensterilkan alat-alat kedokteran gigi untuk membunuh semua bentuk kehidupan mikroorganisme dengan mengalirkan udara kering dengan panas yang tinggi

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,