Studi Komparatif Ritual Tedhak Siten di Jawa dan Hatsu Tanjo di Kyushu Jepang
Bebas
58
0
0
Teks penuh
(2) STUDI KOMPARATIF RITUAL TEDHAK SITEN DI JAWA DAN HATSU TANJO DI KYUSHU JEPANG. SKRIPSI. LINTANG VIOLETTA YUVINDA PUTRI NIM 135110607111003. Diajukan Kepada Universitas Brawijaya untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2017.
(3)
(4)
(5)
(6) KATA PENGANTAR. Puji Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan berkah-Nya penulis mampu menyelesaikan skripsi berjudul “Studi Komparatif Ritual Tedhak Siten di Jawa dan Hatsu Tanjo di Kyushu Jepang” dengan lancar. Penulisan skripsi ini kemudian memiliki tujuan untuk memenuhi syarat guna mendapatkan gelar Sarjana di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya,Malang. Dalam proses penyelesaian penulisan skripsi ini penulis mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ingin meyampaikan terimakasih kepada: 1. Bapak Prof.Ir. Ratya Anindita,MS.Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya. 2. Bapak Syariful Muttaqin,M.A selaku Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Budaya yang telah memberikan bantuan serta kontribusi dalam rangka membantu kelancaran studi mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya. 3. Ibu Ulfah Sutiyarti,M.Pd selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang yang telah memberikan banyak kontribusinya terhadap kelancaran studi Penulis dan mahasiwa Pendidikan Bahasa Jepang lainnya serta untuk motivasi yang selalu diberikannya dalam berbagai kesempatan.Serta 4. Retno Dewi Ambarastuti,M.Si selaku Dosen Pembimbing Akademik dan Pembimbing Skripsi yang telah memberikan banyak bimbingan, dukungan dan arahan selama proses penyusunan skripsi. 5. Rr. Ratih Hayuningdyah Orang Tua Penulis dan Segenap Keluarga yang telah memberikan dukungan serta segala sesuatu yang selama ini penulis butuhkan. Serta untuk motivasinya yang tiada henti diberikan kepada penulis selama proses pengerjaan Skripsi sehingga tidak ada kata ‘menyerah’ sampai akhir. 6. Chaula Imanita Berti yang memberikan masukan dan informasi mengenai data temuan penulis. Tateishi Kenta dan Eyang Djati Kusumo yang. vi.
(7) bersedia memberikan informasi dan menjadi narasumber dalam penelitian ini. 7. Teman-teman terbaik Penulis, Virga, Hamidah, Zuriatme, Fatkul, Arafat, Ela, Bagus, Ana, Ari, Robby, Billy serta tidak lupa ム ム た ち dan kesayangan yang senantiasa menyediakan waktu, dukungan moril, dukungan materi dan motivasi tiada hentinya. Terakhir, penulis mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan, doa, dan motivasi. Semoga penelitian ini dapat memberikan banyak manfaat bagi berbagai pihak baik dari segi pengembangan penelitian maupun berbagai kebutuhan lainnya.. Malang, Juni 2017. Penulis. vii.
(8) ABSTRAK. Violetta Yuvinda Putri, Lintang. 2017. Studi Komparatif Ritual Tedak Siten di Jawa dan Hatsu Tanjo di Kyushu Jepang.Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya.. Pembimbing : Retno Dewi Ambarastuti Kata Kunci : Budaya, Tedak Siten, Hatsu Tanjo Masyarakat pada zaman dahulu kala seringkali menjadikan budaya sebagai acuan dalam melakukan sesuatu. Seringkali mereka membuat serangkaian upacara atau ritual untuk memperingati perayaan tertentu. Tedak Siten merupakan sebuah ritual masyarakat Jawa yang dilaksanakan untuk menyambut bayi dalam rangka memasuki usia balita. Tedak Siten ini kemudian memiliki beberapa kesamaan dengan salah satu ritual dari Kyushu, Jepang bernama hatsu tanjo. Seperti halnya tedak siten, upacara hatsu tanjo ini juga dilaksanakan untuk menyambut bayi saat mereka memasuki usia balita. Adapun penelitian ini menggunakan metode observasi langsung berupa wawancara dengan narasumber untuk mendapatkan data kualitatif yang kemudian dijabarkan menggunakan pendekatan deskriptif. Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, rumusan masalah yang ditarik peneliti adalah 1) persamaan ritual tedak siten dan hatsu tanjo serta 2) perbedaan ritual tedak siten dan hatsu tanjo. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya persamaan pada kedua ritual yaitu dalam hal menginjak perantara dan hal yang berkaitan dengan ritual meramal masa depan sang bayi. Sedangkan perbedaan terletak pada tingkat kerumitan dari upacara tedak siten yang pada pelaksanaan ritualnya memang lebih kompleks dibandingkan dengan hatsutanjo. Adapun saran peneliti terhadap penelitian berikutnya adalah untuk mengkaji peran orang tua dalam kedua ritual maupun peneltian khusus terhadap penggunaan jaddah dan mochi dalam kedua ritual.. viii.
(9) 要旨. オ ッ 祝い 九州 初誕生祝いを対象 学部 大学 指導教官: ッ ノ キ. ワ. :風習. 2017 年 ワ島 ッ 比較研究 日本語教育学科 人文. バ ッ. 祝い. 初誕生祝い. 社会 あ 文化を軸 物事を行 い 何 を祝う 儀式等を作 い ッ 祝い 幼児 幼少期を迎え 際 行わ ワ島 あ 伝統風習 あ こ 風習 日本 九州 あ 初誕生祝い いう伝統風習 幾 類似 を有 ッ 祝い 同 く 初 誕生祝い 幼児 幼少期を迎え 際 行わ い 儀式 あ 本研究 研究方法 記述的 解説さ 質的 筆者 研究対象者 ビ を実施 直接的 方法を用い そ 上記 述べ 研究背景 基 ) ッ 祝い 初誕生祝い 類似 い 初誕生祝い 相違 いう 本研究 結果 こ 儀式 幼児 将来性を占う事を目的 行わ 相違 段取 複雑さ あ ッ よ 一層複雑 あ 次 研究 こ ッ 祝い 使わ ッ 究 事 筆者 勧 い. ix. い. を取得 ポ いう研究 本研究 問題的 ) ッ 祝. 類似 幼少期を迎え 事 いう 一方 こ 儀式 祝い 初誕生祝い 比べ 儀式 け 親 役割又 初誕生祝い 使わ 餅 役割を研.
(10) DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL………………………………………………………........ PERNYATAAN KEASLIAN……………………………………..................... HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………........ KATA PENGANTAR……………...................................................................... ABSTRAK………………………………………………................................... 要旨……………………………………………………………………............... DAFTAR ISI……………………………………………………………........... DAFTAR TABEL……………………………………………............................ DAFTAR TRANSLITERASI……………………………………………........ i ii iii vi viii ix x xii xiii. BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang...............……………………………………………. 1.2 Fokus Penelitan ……………………………………………............... 1.3 Tujuan Penelitian ………………………………………………......... 1.4 Manfaat Penelitian................................................................................ 1.4.1 Manfaat Teoritis........................................................................... 1.4.2 Manfaat Praktis ........................................................................... 1.5 Definisi Operasional ............................................................................. 1 8 9 9 9 10 10. BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Budaya …………………………………………................................. 2.2 Tedhak Siten …………………………………………………............ 2.2.1 Tata Cara Tedhak Siten ………................................................... 2.3 Hatsu Tanjo ………………………………......................................... 2.3.1Tata Cara Hatsu Tanjo .................................................................. 2.4 Penelitian Terdahulu ……………………………………………......... 13 15 17 24 24 26. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ………………..…………………….......................... 3.2 Data …………………………………................................................. 3.3 Pengumpulan Data ……………………………….............................. 3.4 Teknik Analisa Data ............................................................................. 30 31 31 33. BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Temuan …………………………………………………………........ 4.1.2 Tabel Perbandingan Makna ........................................................ 4.2 Pembahasan …………………………………………………………. 4.2.1 Persamaan Tedhak Siten dan Hatsu Tanjo ................................ 4.2.2 Perbandingan Makna Tedhak Siten dan Hatsu Tanjo ............... BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ………………………………………………................... 5.2 Saran........................................................................................................ x. 35 37 37. 71 72.
(11) DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xi. xiv xvi.
(12) DAFTAR TABEL Tabel 4.1.1 Tabel 4.2. Perbandingan pada upacara tedhak siten dan hatsu tanjo........................................................................................... Perbandingan makna ................................................................. xii. 24 26.
(13) DAFTAR GAMBAR 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.. 2.1 2.2 2.3 2.4 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5. Ritual tedhak siten........................................................................ Tanjo mochi.................................................................................. Issho mochi............................................................................. Mochi fumi.................................................................................. Jadah dan tangga arjuna............................................................ Kurungan ayam........................................................................... Udik-udik..................................................................................... Mochi dan waraji........................................................................ Alat-alat untuk erabitori............................................................... xiii. 12 15 16 16 31 32 33 33 34.
(14) DAFTAR TRANSLITERASI あ. わ. ア. ワ. a ka sa ta na ha ma ya ra wa ga za da ba pa. い. イ. i ki shi chi ni hi mi. う. ウ. u ku su tsu nu fu mu yu ru. ri gi. gu zu zu. bi pi. bu pu. kya sha cha nya hya mya rya gya ja bya pya n. kyu shu chu nyu hyu myu ryu gyu ju byu pyu wo. Partikel ha ditulis sebagai /wa/ Partikel he ditulis sebagai /e/ Bunyi panjang hiragana /a/ ditulis sebagai /aa/ Bunyi panjang hiragana /i/ ditulis sebagai /ii/ Bunyi panjang hiragana /u/ ditulis sebagai /uu/ Bunyi panjang hiragana /e/ ditulis sebagai /ee/ Bunyi panjang hiragana /o/ ditulis sebagai /oo/ Huruf mati rangkap ditulis (tsu kecil) Bunyi panjang katakana ditulis sebagai [ ]. xiv. え. エ. e ke se te ne he me re ge de be pe. o ko so to no ho mo yo ro go zo do bo po kyo sho cho nyo hyo myo ryo gyo jo byo pyo.
(15) BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Budaya merupakan sesuatu yang menjadi representasi dari adat istiadat, agama, bahkan pandangan dari sekelompok masyarakat tertentu. Akan tetapi, meskipun budaya mencerminkan jati diri dari sekelompok masyarakat tertentu, beberapa daerah memiliki kesamaan dalam segi nilai budaya maupun bentuk dan macam tradisi dan ritual. Salah satu budaya yang memiliki persamaan di berbagai daerah di beberapa negara adalah tradisi persiapan anak untuk menghadapi dunia baru. Untuk mempersiapkan anak menghadapi dunia baru, masyarakat pada dahulu kala membuat serangkaian upacara atau ritual agar anak dapat diberkahi oleh Tuhan atau dewa. Upacara tersebut berlangsung dalam kurun waktu sekian lama hingga berkembang. menjadi tradisi yang selalu diperingati dan. dilaksanakan oleh beberapa generasi. Menurut El Rais (2012:686), tradisi adalah kebiasaan turun temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan dalam masyarakat, penilaian atau anggapan bahwa cara-cara telah ada merupakan baik dan benar. Sebagai masyarakat yang memiliki tradisi yang kental, masyarakat jawa meyakini jika segala sesuatu dikaitkan dengan beberapa ritual atau upacara tertentu. Upacara tersebut meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan hidup, manusia sejak dari kelahiran, kanak-kanak, remaja, dewasa,. 1.
(16) 2. sampai dengan kematiannya, juga upacara-upacara itu dilakukan dalam rangka untuk menangkal pengaruh buruk dari daya kekuatan gaib yang tidak dikehendaki yang akan membahayakan bagi kelangsungan kehidupan manusia. Dengan upacara tersebut harapannya adalah agar hidup senantiasa “selamet” (Darori, 2000:130-131). Dalam setiap upacara adat, tentunya terdapat berbagai macam ritual didalamnya. Ritual adalah serangkaian tindakan yang melibatkan agama atau magic, yang kemudian dimantapkan melalui tradisi. Ritual berbeda dengan pemujaan,. karena. ritual. merupakan. tindakan. yang bersifat. keseharian. (Winnick:2005). Di Indonesia khususnya di Jawa mengenal upacara menyambut bertumbuhnya bayi memasuki masa balita yang ditandai dengan pertama kalinya bayi berjalan yang disebut dengan tedhak siten / tedhak siti yang artinya menginjak tanah. Upacara ini diyakini menjadi awal mula kehidupan dan prediksi masa depan sang anak. Menurut kepercayaan Jawa, manusia hidup dipengaruhi oleh empat unsur, yaitu bumi, api, angin dan air, maka untuk menghormati bumi inilah upacara tedhak siten diadakan. Harapannya agar si anak selalu sehat, selamat, dan sejahtera dalam menapaki jalan kehidupannnya (Sutrisno, 2005:21). Tedhak siten merupakan bagian dari adat dan tradisi masyarakat Jawa Tengah. Upacara ini dilakukan ketika seorang bayi berusia tujuh bulan dan mulai belajar duduk dan berjalan di tanah. Secara keseluruhan, upacara ini dimaksudkan agar mereka mandiri di masa depan. Upacara tedhak siten selalu ditunggu-tunggu oleh orang tua serta kerabat keluarga Jawa karena dari upacara ini mereka dapat memperkirakan minat dan bakat anak yang baru saja dapat berjalan. Dalam pelaksanaannya, upacara ini dihadiri oleh seluruh keluarga inti, serta kerabat.
(17) 3. keluarga lainnya. Para keluarga hadir untuk mendoakan agar sang anak dapat terhindar dari gangguan setan.Dalam upacara tedhak siten salah satu persiapan yang harus disiapkan oleh orang tua adalah tujuh buah jadah atau ketan. Anak akan dipandu untuk melalui tujuh buah wadah berisi tujuh jadah berwarna. Seperti halnya di Jawa, di Jepang juga terdapat tradisi serupa yaitu hatsu tanjo (初誕生). Hatsu Tanjo adalah tradisi masyarakat Jepang untuk menyambut tahun pertama kelahiran sang anak. Ritual hatsu tanjoadalah salah satu dari ritual yang diadakan untuk menyambut kelahiran dan pertumbuhan bayi dalam agama Buddha di Jepang.Meskipun Jepang merupakan negara maju, Jepang selalu mempertahankan budaya yang ada di Jepang, upacara hatsu tanjo salah satunya.Tetapi, dikarenakan menurunnya angka kelahiran di Jepang menurun pula masyarakat yang menjalankan ritual ini. Ciri khas dari ritual hatsu tanjo adalah mochi. Mochi adalah makanan khas Jepang yang terbuat dari nasi yang ditumbuk. Mochi memiliki tekstur yang lengket sama seperti ketan atau jadah. Di Jepang, mochi menjadi makanan yang menjadi tanda untuk memulai sesuatu yang baru, seperti tahun baru, makanan pertama bayi, dan untuk perayaan ulang tahun.Mochi yang digunakan biasanya mochi dipesan di kuil-kuil tertentu. Ada dua tata cara hatsu tanjo di Jepang. Yang pertama sama dengan tata cara ritual tedhak siten, masyarakat di daerah Kyushu menjalankan upacara hatsu tanjo dengan menginjakkan kaki dan berjalan di atas mochidengan menggunakan waraji atau sandal dari rotan. Kedua masayarakat Jepang pada umumnya menjalan ritual tersebut dengan memanggul mochi seberat 1,8 kilogram dipunggung lalu berjalan dengan membawa mochi tersebut..
(18) 4. Masyarakat Jepang percaya bahwa anak yang bisa berjalan sebelum upacara hatsu tanjo dilaksanakan, maka di masa yang akan datang sang anak akan meninggalkan rumah. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh membantu anak saat upacara berlangsung, justru orang dewasa akan melemparkan mochi yang lebih kecil agar sang anak terjatuh pada saat berjalan diatas mochi atau pada saat memanggul mochi.Pada saat upacara Hatsu Tanjo selesai, anak dianggap akan menerima roh baru setiap tahunnya. Selain mochi dan jadah, dalam upacara tedhak siten dan hatsu tanjo memiliki persamaan lain, yaitu ritual memilih barang. Pada upacara hatsu tanjoterdapat ritual yang disebut dengan erabitori ( 選 び 取 り ) yang artinya memilih dan menyimpan. Orang tua akan menyiapkan beberapa barang yang berhubungan dengan keluarga atau barang apapun yang diinginkan seperti sempoa, uang, pensil dan lain-lain, lalu sang anak akan berjalan dan memilih barang, barang yang menjadi pilihan sanganak akan menjadi gambaran masa depan anak. Seperti halnya erabitori, dalam tedhak siten sang anak juga akan dihadapkan dengan beberapa pilihan barang yang disediakan, dan benda yang dipilih akan menjadi gambaran sang anak di masa depan. Bedanya adalah dalam upacara tedhak sitensang anak akan dimasukkan kedalam kurungan ayam terlebih dahulu. Meskipun dari dua negara yang berbeda, tedhak siten dan hatsu tanjo memiliki beberapa kesamaan, yaitu ritual dengan menggunakan bahan dasar ketan: jadah dan mochi. Kesamaan lainnya adalah, berjalan untuk yang pertama kalinya, dan memilih barang-barang yang nantinya akan menjadi gambaran minat dari sang anak di masa depan. Bedanya adalah pada upacara tedhak sitenorang tua.
(19) 5. diperbolehkan untuk membimbing sang anak ketika berjalan, sedangkan pada upacara hatsu tanjo orang tua tidak diperbolehkan untuk membantu sang anak sama sekali. Dengan adanya persamaan dan perbedaan tersebut, peneliti tertarik untuk membahasa perbandingan antara kedua upacara tersebut dengan judul “Studi Komparatif Ritual Tedhak Siten di Jawa dan Hatsu Tanjo di Kyushu Jepang”.. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah penulis jelaskan di atas, maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apakah perbandingan dari ritual tedhak siten dan hatsu tanjo? 2. Apakah perbandingan dari makna tedhak siten dan hatsu tanjo?. 1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan dari ritual tedhak siten dan hatsu tanjo. 2. Untuk mengetahui persamaan dan perbeedaan makna tedhak siten dan hatsu tanjo.. 1.4 ManfaatPenelitian 1.4.1. ManfaatTeoritis.
(20) 6. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan inspirasi, serta masukan terhadap beberapa penelitian berikutnya terutama dengan topik relevansi budaya. 1.4.2. ManfaatPraktis Diharapkan penelitian ini dapat memberikan masukan dan pengetahuan mengenai perbandingan budaya dari dua negara yaitu Jepang dan Indonesia serta beberapa perbandingan budaya lain.. 1.5 DefinisiIstilahKunci 1. Budaya: Adat istiadat yang sudah menjadi tradisi. 2. Tedhak. Siten:Upacara. atau. ritual. yang. dilaksanakan. untuk. menyambut bayi ketika pertama kali berjalan di Jawa. 3. Hatsu Tanjo:Upacara atau ritual untuk memperingati ulang tahun pertama bayi dan menyambut pertama kali bayi berjalan. 4. Studi Komparatif : Penelitian yang membandingkan dua obyek untuk mecari persamaan atau perbedaan..
(21) BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Budaya Budaya adalah sebuah pemikiran, adat istiadat atau akal budi. Kata budaya diambil dari bahasa sansekerta yaitu “buddhayah”. Arti dari kata ini adalah bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan akal serta budi manusia. Budaya juga dapat diartikan sebagai yang diguanakan sekelompok masyarakat yang diturunkan dari generasi kepada generasi berikutnya Budaya juga dapat didefinisikan sebagai kegiatan kepercayaan. Menurut E.B Taylor (1871) , budaya ialah suatu keseluruhan yang kompleks meliputi kepercayaan, kesusilaan, seni, adat istiadat, hukum, kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang sering dipelajari oleh manusia sebagai bagian dari masyarakat. Menurut Kluckhohn dan Kelly dalam Harsojo (1967:109-110) berpendapat bahwa budaya adalah semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun insplisit, rasional, irasional, yang ada pada suatu waktu, sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia. Menurut pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa budaya adalah tindakan atau adat istiadat yang mencerminkan tingkah laku suatu kelompok masyarakat. Tidak hanya perilaku, budaya juga mencerminkan kepercayaan, kesusilaan, seni, adat istiadat, hukum dan kebiasaan lainnya yang ada dan dipelajari secara turun-temurun oleh suatu kelompok masyarakat. Unsur-unsur budaya terbagi kedalam beberapa hal. Antara lain :. 7.
(22) 2. 1. Adanya perilaku-perilaku tertentu. 2. Adanya kebiasaan-kebiasaan. 3. Adanya kepercayaan. 4. Adanya adat istiadat. 5. Adanya tradisi. 6. Adanya gaya berpakaian. Ciri-ciri budaya terbagi ke dalam beberapa hal. Antara lain : 1. Budaya bisa disampaikan dari orang ke orang, dari kelompok ke kelompok serta dari generasi-generasi. 2. Budaya bukan bawaan, namun dipelajari. 3. Budaya berdasarkan simbol. 4. Budaya bersifat selektif. 5. Budaya bersifat dinamis, suatu sistem yang bisa berubah sepanjang waktu. 6. Berbagai unsur budaya saling berkaitan. 7. Etnosentrik Dalam penelitian ini, peneliti mengacu pada poin berbagai unsur budaya saling berkaitan. Karena penulis meneliti dua budaya yang berada di negara yang berbeda. Budaya yang dilangsungkan secara terus menerus disebut tradisi. Tradisi menurut Funk dan Wagnalls dalam muhaimin (2001:11), tradisi dimaknai sebagai kebiasaan, praktek, yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi juga bisa diartikan sebagai kebiasaan yang turun temurun diwariskan oleh nenek moyang..
(23) 3. Tradisi lahir disaat tertentu ketika orang menetapkan fragmen tertentu dari warisan masa lalu sebagai tradisi. Tradisi lahir dari masyarakat, dipengaruhi oleh masyarakat, kemudian masyarakat muncul lalu dipengaruhi oleh tradisi (Hanafi, 2003:3). Hal ini menandakan bahwa tradisi dan masyarakat saling berkaitan. Tanpa adanya masyarakat, tradisi tidak akan tumbuh dan berkembang, dan tanpa adanya tradisi masyarakat tidak akan muncul. Tradisi berubah ketika orang memberikan perhatian khusus pada fragmen tradisi tertentu dan mengabaikan fragmen yang lain. Tradisi dapat bertahan dalam jangka waktu tertentu dan tradisi ini dapat hilang bila benda material dibuang dan gagasan ditolek atau dilupakan. Sejarah tradisi lahir yaitu melalui dua cara. Cara pertama, tradisi muncul dari bawah melalui mekanisme kemunculan secara spontan dan tidak diharapkan serta melibatkan rakyat banyak. Karena sesuatu alasan, individu tertentu menemukan warisan historis yang menarik. Perhatian, ketakziman, kecintaan dan kekaguman yang kemudian disebarkan melalui berbagai cata, memengaruhi rakyat banyak. Sikap takzim dan kagum itu berubah menjadi perilaku dalam bentuk upacara, penelitiaan dan pemugaran peninggalan purbakala serta menafsir ulang keyakinan lama. Semua perbuatan itu memperkokoh sikap. Kekaguman dan tindakan individu menjadi milik bersama dan berubah menjadi fakta sosial sesungguhnya . Begitulah tradisi dilahirkan. Proses kelahiran tradisi sangat mirip dengan penyebaran temuan baru, hanya saja dalam kasus tradisi ini lebih berarti penemuan atau penemuan kembali yang telah ada di masa lalu ketimbang penciptaan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya..
(24) 4. Cara kedua, tradisi muncul dari atas melalui mekanisme paksaan. Sesuatu yang dianggap sebagai tradisi dipilih dan dijadikan perhatian umum atau dipaksakan oleh individu yang berpengaruh atau berkuasa. Raja mungkin memaksakan tradisi dinastinya kepada rakyatnya. Diktator menarik perhatian rakyatnya kepada kejayaan bangsanya di masa lalu. Kemudian militer menciptakan sejarah pertempuran besar kepada pasukannya. Perancang mode terkenal menemukan inspirasi dari masa lalu dan mendiktekan gaya “kuno” kepada konsumen. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengenal kesadaran sejarah pada masyarakat yaitu melalui upacara. Upacara yang dimaksud bukanlah upacara dalam pengertian upacara yang secara formal sering dilakukan, seperti upacara penghormatan bendera melainkan upacara adat yang melibatkan ritual-ritual tertentu dengan maksud dan tujuan tertentu pula. Upacara adat adalah serangkaian tindakan yang terikat pada aturan tertentu berdasarkan adat istiadat, agama, dan kepercayaan. Jenis upacara dalam kehidupan masyarakat, antara lain, upacara penguburan, upacara perkawinan, dan upacara pengukuhan kepala suku. Upacara adat adalah suatu upacara yang dilakukan secara turun-temurun yang berlaku di suatu daerah. Dengan demikian, setiap daerah memiliki upacara adat sendiri-sendiri, seperti upacara perkawinan, upacara labuhan, upacara camas pusaka dan sebagainya. Upacara adat yang dilakukan di daerah juga tidak lepas dari unsur sejarah. Upacara pada dasarnya merupakan bentuk perilaku masyarakat yang menunjukkan kesadaran terhadap masa lalunya. Masyarakat menjelaskan tentang.
(25) 5. masa lalunya melalui upacara. Melalui upacara, kita dapat melacak tentang asal usul baik itu tempat, tokoh, sesuatu benda, kejadian alam, dan lain-lain.. 2.2 Tedhak Siten Tedhak siten berasal dari kata thedak yang berarti turun atau menginjak sedang siten berasal dari kata siti yang berarti tanah. Dengan demikian maksud dari upacara tedhak siten adalah upacara turun tanah. Tedhak siten dilakukan ketika seorang anak sudah mencapai umur pitung lapan (7x35 hari) atau delapan bulan kalender masehi. Biasanya si anak sudah mulai belajar berjalan. Artinya, sudah harus turun ke tanah (Utomo,2002:21). Satu tahun dalam kalender bulan ada 12 bulan dan tiap bulan dirinci menjadi pasar, 1 pasar ada 5 hari. Peringatan yang mendasar kombinasi posisi matahari dan bulan akan berulang setiap 7x5 hari. Leluhur kita menentukan penanggalan berdasarkan pengaruh gravitasi matahari dan bulan terhadap bumi. Weton adalah hari atau tanggal kelahiran seseorang. Menurut masyarakat jawa weton dapat mempengaruhi sifat atau watak seorang anak. Wetonhari kelahiran yang berulang setiap 35 hari tersebut perlu dihormati. Pada dasarnya kita hidup di dunia, terkurung, terbelenggu oleh dunia. Dalam tedhak siten dapat dilihat anak sebenarnya tidak senang dimasukkan ke dalam kurungan dan menangis minta pertolongan pada ibunya. Manusia yang sadar pun ingin kembali pada yang maha kuasa..
(26) 6. Manusia memiliki beberapa tahap perkembangan diri. Pertama tahap bayi yang sangat bergantung pada orang tua dan orang lain, hanya bisa meminta. Tahap kedua adalah anak muda yang mandiri. Tahap ketiga adalah seorang yang dewsa, yang sudah sadar akan kemandirian, tidak egoitis dan menyadari bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling bergantung satu sama lain. Awal dari tahap kedua dimulai ketika anak pertama kali belajar berjalan, dalam tahap ini anak juga sudah mulai belajar melakukan aktivitasnya sendiri.. Gambar 2.1Ritual tedhak siten. Bayi lahir dengan naluri awal untuk makan. Apapun yang dipeganya akan dimasukkan kedalam mulut. Pada waktu seorang anak berusia 7x35 hari, atau kira-kira berusia 6 bulan, inting-naluri bawaan genetiknya masih ada, tetapi dalam perkembangandiri selanjutnya, insting bawaan akan terdorong ke dalam alam bawah sadar, tertutup oleh kegiatan-kegiatan baru. Pada saat anak berusia sekitar 6 bulan tersebut, potensi anak dapat diketahui. Pemilihan beberapa benda dalam Tedhak siten seperti buku tulis, dompet, perhiasan, gunting, kitab sastra selaras dengan pengetahuan itu. Potensi anak akan nampak jelas, sehingga orang tua paham bagaimana meningkatkan potensi anak sebaik-baiknya..
(27) 7. Bagi orang tua sendiri, kelahiran anak adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Semenjak di dalam kandungan hingga kelahirannya, setiap orang tua selalu berharap agar kelak anak tersebut menjadi manusia yang berguna. Pengharapan orang tua kepada anaknya diwujudkan dalam bentuk upacara adat (adat jawa) yang dimulai sejak bayi dalam kandungan, hingga anak tersebut lahir. 2.2.1 Tata Cara Tedhak Siten Upacara adat pasti memiliki tata cara dalam pelaksanaannya. Dalam setiap langkah yang harus disiapkan memiliki makna tersendiri. Tedhak siten dimaksudkan untuk menggambarkan persiapan seorang anak sampai dewasa dalam menjalani fase kehidupan dengan baik dan benar. Adapun tata cara upacara thedak siten adalah sebagai berikut : 1. Upacara biasanya dilaksakan pada pagi hari. Sang anak akan dituntun oleh ibunya berjalan menginjak 7 piring jadah atau ketan dengan warna yang berbeda-beda. Angka 7 (tujuh) dalam bahasa jawa disebut pitu memiliki makna pitulungan atau pertolongan, sedangkan tujuh piring jadah berwarna memiliki makna bermacam-macam fase kehidupan yang akan dialami. Berjalan diatas jadah secara bertahap memiliki harapan sang anak akan mampu melewati kehidupan pada setiap tahapnya dengan batuan atau pertolongan Tuhan Yang MahaEsa. 2. Selanjutnya anak akan dituntun menaiki tangga yang terbuat dari tebu. Tebu memiliki makna antebing kalbu atau kemantaban hati. Dalam proses ini, anak diharapkan memiliki kemantaban hati dalam menjalani hidupnya mulai dari kecil hingga dewasa.Setelah turun dari tebu, anak akan dituntun berjalan menuju gundukan pasir. Anak akan melakukan ritual ceker-ceker.
(28) 8. atau mengais pasir dengan kakinya. Hal ini bertujuan agar anak dapat mencari nafkah ketika sudah dewasa. 3. Anak kemudian dimasukkan kedalam kurungan ayam yang sudah dihias. Dalam kurungan tersebut terdapat benda-benda untuk memprediksi minat dari sang anak, misalnya bohlam, uang, buku, mainan, alat hitung dan lainlain. 4. Berikutnya adalah bapak atau kakek akan menyebar udik-udik atau uang logam yang sudah dicampur dengan berbagai macam uang. Harapannya adalah agar anak menjadi orang yang dermawan sehingga melancarkan rejekinya. 5. Setelah itu, anak dimandikan dengan kembang tujuh rupa atau bunga tujuh rupa. Tujuannya adalah agar anak membawa nama baik keluarga, agama dan berguna bagi masyarakat. 6. Terakhir, sang anak akan didandani dengan pakaian yang bagus dan bersih, tujuannya agar anak mempunyai jalan kehidupan yang bagus dan dapat membanggakan orang tua. Dari tahapan-tahapan tersebut dapat diketahui bahwa setiap ritual memiliki makna atau arti sendiri-sendiri. Segala sesutu yang dipersiapkan dalam upacara tedhak siten adalah simbol dari harapan orang tua untuk anaknya di masa depan.. 2.3 Hatsu Tanjo Hatsu tanjo. 初誕生. berarti ulang tahun pertama. Dalam budaya. Jepang, ulang tahun hanya dirayakan sekali yaitu pada saat umur 1 tahun..
(29) 9. Perayaan ini diselenggarakan dengan menggunakan tanjo mochi (誕生餅) atau mochiulang tahun.. Gambar 2.2Tanjo Mochi Pada ulang tahun pertama diadakan acara untuk meramal masa depan sang anak. Masyarakat Jepang pada umumnya melaksanakan upacara hatsu tanjo dengan membungkus mochi menggunakan furoshiki(風呂敷/kain pembungkus). Mochi tersebut berwarna putih, dan bertuliskan nama sang anak berwarna merah. Mochi ini memiliki berat 1800cc atau sekitar 1,8 kilogram. Selama upacara berlangsung, orang tua dilarang membantu anak untuk berjalan dengan lancar. Orang yang lebih dewasa akan melemparkan mochi kecil agar sang anak jatuh. Upacara menggendong mochi ini disebut “shoi” atau “seoi” mochi (背負餅) issho mochi (一升餅).. Gambar 2.3Issho Mochi.
(30) 10. Berbeda dengan masyarakat pada umumnya, di Kyushu perayaan hatsu tanjo dilakukan dengan sedikit berbeda. Upacara di Kyushu disebut dengan mochi fumi (餅踏み) yang artinya menginjak mochi.Sang anak harus menginjak mochi berwarna merah dan putih dengan menggunakan sandal anyaman yang disebut waraji (草鞋). Bedanya dengan masyarakat Jepang pada umumnya, orang tua boleh membimbing sang anak ketika berjalan diatas mochi.. Gambar 2.3 mochi fumi Pada dasarnya, kedua cara upacara ini memiliki tujuan yang sama, yaitu agar sang anak diberkahi kesehatan, makanan dan enman. 円満. Enman adalah. respesentasi dari kesempurnaan, harmoni, kedamaian, kelancaran, kelengkapan, kepuasan dan integritas. Pada penelitian ini penulis memilih untuk meneliti hatsu tanjo yang ada di Kyushu. 2.3.1 Tata cara upacara hatsu tanjo Pada momen hatsu tanjo keluarga di Jepang berkumpul untuk merayakan satu tahun ulang tahun sang anak. Kelurga akan mendoakan anak agar diberi kelancaran dalam hidupnya. Berikut adalah prosesi upacara hatsu tanjo:.
(31) 11. 1. Upacara dilakukan dirumah. Anak akan dituntun untuk menginjak mochi berwarna merah dan putih dengan menggunakan waraji. Makna dari mochi adalah sesuatu yang baru, sedangkan warna merah adalah kelahiran sedangkan putih adalah kematian. 2. Selanjutnya, keluarga akan melemparkan mochi kecil gara sang anak terjatuh. Ritual ini dimaksudkan agar anak tidak meninggalkan atau melupakan orang tuanya ketika dewasa nanti. Masyarakat jepang percaya anak yang bisa berjalan sebelum upacara akan cepat meninggalkan rumah. 3. Terakhir, anak akan diberikan beberapa barang yang akan memprediksi karir atau masa depan anak. Ritual ini disebut erabitori. Tidak hanya memprediksi masa depan, pilihan yang diambil anak juga bisa memperkiraan karirnya di masa lalu. Benda-benda tersebut adalah kuas atau pensil, sempoa, penggaris atau alat ukur, sumpit atau alat makan, kamus, dan bola Setiap ritual dalam hatsu tanjo juga memiliki makna agar anak dimudahkan jalannya di masa depan nanti. Terlepas dari kenyataan yang akan dihadapi, keluarga sang anak berharap agar sang anak akan sukses dan selalu memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya.. 2.4. Penelitian terdahulu Terdapat dua penelitian terdahulu yang digunakan sebagai acuan penulisan. penelitian ini. Penelitian terdahulu yang pertama memiliki obyek yang sama yaitu tedhak siten. Penelitian tersebut berjudul MAKNA TRADISI TEDHAK SITEN DAN RELEVANSINYA DENGAN AJARAN ISLAM DI DESA SUKOSONO.
(32) 12. KECAMATAN KEDUNG KABUPATEN JEPARA karya Ida Sholihatin dari UIN Walisongo Semarang yang dilakukan pada tahun 2015.Persamaan penelitian ini adalah sama-sama menggunakan tedhak siten sebagai obyek penelitian dan.Perbedaanya adalah penelitian terdahulu mencari relevansi dengan ajaran Islam. Dalam penelitian ini, ditemukan beberapa relevansi antara tedhak siten dengan ajaran Islam yaitu mengikat tali persaudaraan dan mensyukuri nikmat Tuhan yang diberikan. Penelitian terdahulu yang kedua adalah STUDI KOMPARATIF UNSUR PEMBENTUK DRAMA TRADISIONAL NOH DAN WAYANG TOPENG MALANGAN karya Chaula Imanita Bherti dari Universitas Brawijaya yang dilakukan pada tahun 2014. Penelitian ini sama-sama mengambil tema budaya dan membandingkan dua budaya. Dalam penelitian ini Chaula lebih fokus terhadap unsur pembentuk kedua budaya yaitu sejarah dan naskah pada setiap drama. Teknik pengumpulan data juga memiliki kesamaan yaitu wawancara dan studi literatur, bedanya dalam penelitian milik Chaula juga menggunakan metode observasi. Dalam penelitian ini Chaula menemukan beberapa kesamaan antara noh dan topeng malangan, yaitu skenario yang digunakan, jenis topeng-topeng yang digunakan, dan penokohan yang terdapat pada noh dan topeng malangan..
(33) BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Nazir (1988:63), metode deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti sekelompok manusia, suatu kondisi, suatu objek, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, suatu gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat tentang fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang sedang diselidiki. Sedangkan menurut Moleong (2007:6), penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian dan dideskripsikan dalam bentuk kata-kata serta bahasa yang berada pada suatu konteks khusus dengan memanfaatkan berbagai metode yang alamiah.Penelitian kualitatif bertujuan memperoleh suatu gambaran yang utuh mengenai suatu hal menurut pandangan manusia yang diteliti. Penelitian kualitatif berhubungan dengan ide, persepsi, pendapat atau kepercayaan orang yang diteliti dan kesemuanya tidak dapat diukur dengan angka. Jenis penelitian deskriptif kualitatif dalam penelitian ini kemudian digunakan untuk mendeskripsikan tentang perbandingan ritual dan makna tedhak siten di Jawa dan ritual hatsu tanjo di Kyushu, Jepang.. 20.
(34) 2. 3.2 Data dan Sumber Data Menurut Sutopo (2006:56-57), sumber data merupakan tempat data diperoleh dengan menggunakan metode tertentu baik yang berupa manusia, artefak, ataupun dokumen-dokumen. Pada penelitian kualitatif, kegiatan untuk memperoleh sumber data merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan secara sadar, terarah dan bertujuan untuk memperoleh suatu informasi yang diperlukan. Adapun sumber data yang ada pada penelitian iniadalah buku, jurnal, internet. Data dalam penelitian kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka. Data dalam penelitian kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data misalnya wawancara, analisis dokumen, diskusi terfokus, atau observasi yang telah dituangkan dalam catatan lapangan. Data dalam penelitian ini adalah wawancara dan analisis dokumen. Dalam penelitian ini, peneliti juga akan melakukan wawancara dengan beberapa narasumber mengenai hatsu tanjo dan tedhak siten. Narasumber yang akan peneliti wawancarai adalah Eyang djati Kusumo sebagagai narasumber untuk tedhak siten. Beliau merupakan budayawan dan mantan anggota DPR RI. Selain itu, narasumber penelitian ini adalah Tateishi Kenta native speaker dari kyushu Jepang.. 3.3 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan untuk mendapatkan data dalam sebuah penelitian. Menurut Sugiyono (2009:225), pengumpulan data dapat diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi,.
(35) 3. dan gabungan/triangulasi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian kali ini adalah studi literatur dan wawancara. Studi literatur adalah cara yang digunakan untuk mengumpulkan data-data dari sumber yang berhubungan dengan topik penelitian. Sumber dari studi literatur dapat diambil dari jurnal, buku, dokumentasi, internet dan pustaka. Menurut Pohan. dalam. Prastowo. (2012:81). kegiatan. studi. literatur. bertujuan. mengumpulkan data dan informasi ilmiah, berupa teori-teori, metode, atau pendekatan yang pernah berkembang dan telah didokumentasikan dalam bentuk buku, jurnal, naskah, catatan, rekaman, dan dokumen lainnya. Wawancara adalah salah satu metode pengumpulan data dengan bertanya langsung kepada responden untuk mendapatkan informasi. Sedangkan menurut Esterberg dalam Sugiyono (2013:231), wawancara merupakan pertemuan dua orang atau lebih yang bertujuan untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu.Untuk menghindari kehilangan informasi, maka peneliti akan menggunakan alat bantu perekam dalam melakukan wawancara kepada informan.. 3.4Teknik Analisis Data Menurut Moleong (2004:280- 281), analisis data merupakan sebuah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam sebuah pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukannya sebuah tema dan tempat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Teknik analisis data yang peneliti lakukan dalam penelitian kali ini adalah sebagai berikut : 1. Mengumpulkan data mengenai tedhak siten dan hatsu tanjo..
(36) 4. 2. Membaca setiap referensi mengenai tedhak siten dan hatsu tanjo. 3. Mewawancarai Eyang Djati Kusumo narasumber yang memahami tentang tedhak siten. 4. Mewawancarai Tateishi Kenta narasumber yang mengetahui tentang hatsu tanjo. 5. Menganalisis persamaan dari tedhak siten dan hatsu tanjo. 6. Hasil analisis referensi dan wawancara menggambarkan persamaan dan perbedaan dari tedhak siten dan hatsu tanjo. 7. Menarik kesimpulan..
(37) BAB IV TEMUAN DAN BAHASAN. 4.1 Temuan Setelah peneliti melakukan wawancara dengan narasumber, peneliti menemukan proses pada masing-masing upacara. Peneliti juga menemukan beberapa persamaan dan perbedaan pada masing-masing prosesi. Berikut adalah tabel pembeda pada setiap prosesi. Tabel 4.1.1 tabel perbandingan pada upacara tedhak siten dan hatsu tanjo. No. Unsur. Tedhak Siten. Hatsu Tanjo. 1. Anak melakukan ritual 1. Anak. ritual mochi fumi.. tedhak jadah.. 2. Anak menaiki tangga 2. Anak arjuna.. untuk. 3. Melakukan ritual ceker-. 4. Kemudian. menghentak-. hentakkan kakinya di. anak. tua.. dimasukkan ke dalam 3. Orang Prosesi. dibimbing. atas mochi oleh orang. ceker.. 1. melakukan. kurungan. ayam. dan. tua. akan. melemparkan. mochi. memilih. benda-benda. yang lebih kecil atau. untuk. memprediksi. memberikan. masa depan anak. 5. Bapak. atau. hentakkan kecil. kakek 4. Anak. menyebar udik-udik. 6. Anak. melakukan. ritual erabitori.. dimandikan 5. Keluarga yang sudah. dengan kembang 7 rupa. bekerja. dan. uang sebagai hadiah. dipakaikan. baju. yang bagus dan bersih.. 24. memberikan.
(38) 25. 2. 1. Jadah. 1. Mochi. 2. Tangga tebu. 2. waraji. 3. Pasir. 3. alat hitung. 4. Kurungan ayam. 4. alat tulis. 5. Kembang 7 rupa. 5. mainan. Alat yang. 6. Alat tulis. 6. uang. digunakan. 7. Alat hitung. 7. penggaris. 8. Uang. 8. alat makan. 9. Jajan pasar 10. Mainan. Tidak ada waktu spesifik.. 3.. Waktu dan tempat. Pagi hari di pekarangan rumah.. Upacara dilaksanakan dirumah, beberapa orang juga melaksanakannya di kuil.. Dari tabel di atas diketahui bahwa tedhak siten dan hatsu tanjo memiliki beberapa kesamaan juga perbedaan. Salah satu persamaan adalah pada prosesi menginjak mochi dan jadah. Perbedaan pada prosesi pertama adalah, jadah yang diinjak memiliki 7 warna, sedangkan mochi yang diinjak memiliki 2 warna saja. Selain prosesi, alat yang digunakan, dan waktu penulis juga menemukan makna dari masing-masing prosesi. Berikut adalah tabelmakna pada setiap prosesi dan media dari tedhak siten dan hatsu tanjo..
(39) 26. Tabel 4.1.2 tabel perbandingan makna No Ritual 1 Menginjak tanah. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tedhak siten Hatsu tanjo Tedhak jadah Mochi fumi 1. Diharapkan anak 1. Anak dapat mampu melewati menginjakkan kaki kehidupan dengan dengan yakin dan bantuan dari Tuhan menjdi orang yang Yang Maha Esa kuat 2. Jadah memiliki 2. Mochi memiliki makna supaya anak makna memulai “lengket” dengan sesuatu yang baru bumi Memantabkan hati Menaiki tangga tebu 1. Tebu = anteb ing kalbu 2. Diharapkan Tidak ada memiliki kemantaban hati Kesejahteraan hidup Ceker-ceker 1. Diharapkan anak dapat mencari Tidak ada nafkah ketika dewasa Memohon rejeki Menyebar udik-udik Keluarga yang lebih tua 1. Diharapkan anak memberikan uang menjadi orang yang 1. Uang diberikan dermawan sehingga sebagai hadiah dan tidak menghambat memiliki harapan agar rejekinya anak tidak kekurangan tidak kekurangan uang saat dewasa. Agar mengingat orang Melemparkan mochi tua kecil Tidak ada 1. Agar anak tidak meninggalkan orang tuanya ketika dewasa. Memprediksi masa Memilih barang-barang Erabitori depan 1. Untuk meprediksi 1. Untuk meramalkan masa depan anak masa depan anak. dan mengetahui bakat minat anak Membersihkan badan Mandi kembang tujuh rupa 1. Diharapkan anak dapat membawa Tidak ada.
(40) 27. nama baik keluarga, agama, dan berguna untuk masyarakat.. Pada kedua upacara sama-sama memiliki makna yang baik untuk sang anak ketika dewasa nanti. Selain persamaan makna, kedua upacara ini juga memiliki beberapa perbedaan makna dalam setiap prosesinya.. 4.2 Pembahasan Seperti yang sudah dijelaskan pada subbab sebelumnya, tedhak siten merupakan salah satu tradisi dari masyarakat jawa untuk merayakan pertama kali anak belajar berjalan atau menginjak bumi. Sedangkan hatsu tanjo adalah upacara untuk merayakan ulang tahun pertama dan pertama kali anak belajar berjalan. Meskipun berasal dari dua negara yang berbeda, kedua tradisi ini memiliki beberapa kesamaan. Selain itu, kedua tradisi ini memiliki beberapa perbedaan dalam setiap prosesinya. Untuk membandingkan kedua ritual, maka peneliti akan membahas setiap prosesi dan makna dari masing-masing upacara ini.. 4.2.1 Persamaan dan perbedaan tedhak siten dan hatsu tanjo 4.2.1.1 Prosesi A. Tedhak siten Masyarakat jawa memiliki keyakinan bahwa manusia dan bumi memiliki keterikatan. Eyang Djati Kusumo menjelaskan bahwa dalam kehidupan terdapat dua jagad yaitu jagad gedhe dan jagad cilik, jagad cilik melambangkan manusia.
(41) 28. sedangkan jagad gedhe melambangkan bumi. Jagad cilik tidak dapat hidup makmur dan bahagia tanpa adanya jagad gedhe. Bumi dan manusia memiliki keterkaitan, bumi memberikan dan manusia merawat. Bumi memberikan sumber daya untuk manusia agar bisa hidup dan manusia sebaiknya dapat merawat bumi sebagai bentuk terima kasih kepada bumi. Oleh karena itu, ketika anak pertama kali dapat menginjak bumi, maka orang tua memperkenalkan bumi kepada anak melalui ritual tedhak siten. Upacara tedhak siten ini juga sebagai wujud syukur atas karunia Tuhan atas anak yang dititipkan kepada orang tua. Pada saat upacara, keluarga juga menyiapkan tumpeng dengan ayam utuh. Masyarakat jawa menggunakan tumpeng untuk setiap perayaan. Tumpeng adalah nasi kuning yang memiliki bentuk kerucut dan terdapat 7 macam lauk disekitarnya. Upacara ini, biasanya dilaksanakan di pelataran rumah. Seluruh keluarga dan tetangga akan hadir pada upacara ini. Prosesi pertama adalah tedhak jadah atau menginjak jadah. Selain jadah, juga terdapat jenang sengkoloatau bubur ketan berwarna merah dan putih yang berarti ilang kolo ne atau hilang sialnya. Jadah memiliki 7 warna yaitu merah, putih, hijau, hitam, biru, putih, kuning, ungu yang melambangkan warna-warni kehidupan. Anak yang masih belajar berjalan dituntun oleh orang tuanya untukberjalan diatas 7 buah jadah yang diletakkan di atas tempeh atau wadah yang terbuat dari bambu. Setelah itu, anak dituntun untuk menaiki tangga yang tebuat dari tebu yang disebut tangga arjuna. Biasanya anak akan tertatih ketika menaikki tangga, tidak jarang anak akan menangis saat prosesi berlangsung. Selanjutnya anak dituntun.
(42) 29. berjalan keatas gundukan pasir dan melakukan ritual ceker-ceker, kemudian anak dimasukkan kedalam kurungan ayam yang sudah dihias dengan bunga-bunga. Dalam kurungan ayam telah tersedia berbagai macam barang seperti buku, pensil, kalkulator, alat-alat kedokteran, mainan, dan jajan pasar. Anak dibimbing untuk memilih salah satu dari barang yang nantinya akan menjadi prediksi masa depan sang anak. Biasanya anak diperbolehkan untuk memilih beberapa barang sesuai dengan keinginan orang tua. Setelah itu, keluarga akan melemparkan udik-udik atau uang logam yang sudah dicampur dengan kembang tujuh rupa. Biasanya yang melemparkan udikudik adalah ayah dan kakek, tetapi dengan seiring perkembangan zaman anggota keluarga yang lain akan ikut menyebarkan udik-udik yang dilemparkan kearah tamu. Prosesi terakhir adalah memandikan anak dengan kembang 7 rupa. Ibu akan menyiramkan anak dengan air kembang lalu mengganti pakaian sang anak dengan pakaian yang lebih bagus. Setelah itu acara dilanjutkan dengan makan bersama keluarga dan tamu undangan. Upacara tedhak siten biasanya diadakan dengan meriah dan dipandu oleh seorang pemandu acara wanita. Pemandu acara harus mengerti setiap prosesi dan makna yang terkandung dalam setiap langkah yang diambil sang anak. A. Hatsu tanjo Perayaan hatsu tanjo di Jepang tidak semeriah perayaan tedhak siten di Jawa. Ritual ini hanya dihadiri oleh keluarga yang tinggal serumah dengan sang.
(43) 30. anak. Upacara ini memiliki beberapa versi diantaranya issho atau shoi mochi, tate mochi dan mochi fumi. Masyarakat Kyushu menjalankan hatsu tanjo dengan mochi fumi yaitu dengan menginjak mochi. Mochi memiliki tekstur kenyal dan lengket sama seperti jadah. Mochi terbuat dari beras mochi atau mochigome. Menurut Tateishi Kenta, mochi memang sering digunakan untuk perayaan di Jepang, seperti untuk tahun baru, kelahiran, peresmian gedung baru dan lain lain. Warna mochi untuk ritual mochi fumi lebih sederhana dari tedhak siten.Mochi dalam ritual ini hanya memiliki dua warna yaitu merah dan putih. Mochi yang diinjak memiliki berat sekitar 2 kilogram yang melambangkan kehidupan dan kematian seseorang. Tata cara ritual mochi fumi adalah, anak akan dipakaikan sandal yang terbuat dari rotan atau yang disebut dengan waraji. Setelah itu , anak didampingi orang tua akan berjalan dan menginjak mochi. Tetapi, biasanya anak akan menangis saaat ritual ini karena merasa tidak nyaman dengan sandal rotan. Oleh karena itu, beberapa orang tua tidak memakaikan waraji agar anak merasa lebih nyaman. Pada saat berjalan diatas mochi anggota keluarga lainnya akan menyanyikan lagu untuk menyemangati sang anak. Lagu yang dinyanyikan adalah sebagai berikut : あんよ が 上手、あんよ が 上手、あんよ Anyo ga jouzu, anyo ga jouzu, anyo ga jouzu Kaki kecil hebat, kaki kecil hebat, kaki kecil hebat. が. 上手.
(44) 31. Apabila anak sudah pintar berjalan orang tua akan melemparkan mochi kecil agar anak terjatuh. Biasanya tidak semua anak akan dilempari mochi karena hal tersebut juga dapat membahayakan sang anak. Setelah berjalan diatas mochi, anak merangkak kearah barang-barang yang sudah disusun oleh orang tuanya. Barangbarang tersebut adalah sempoa, kamus, pensil atau kuas, kosmetik, uang atau dompet, alat ukur atau penggaris. Barang yang dipilih pertama kali akan menjadi prediksi masa depan anak. 4.2.1.2 Alat yang digunakan A. Tedhak siten Pada upacara tedhak siten terdapat banyak alat atau media yang digunakan, alat pertama adalah jadah. Jadah adalah unsur terpenting dalam upacara ini, karena jadah merupakan media penanda anak pertama kali menginjak bumi. Terdapat 7 buah jadah dengan warna yang bermacam-macam dan sang anak harus berjalan di atas jadah tersebut.. Gambar 4.1 jadah dan tangga arjuna.
(45) 32. Alat yang kedua adalah tangga arjuna. Tangga ini terbuat dari tebu yang disusun vertikal dan sudah dihiasi dengan berbagai macam bunga. Tangga ini dinaiki tepat setelah sang anak selesai berjalan diatas jadah. Setelah anak menaiki tangga Arjuna, anak melakukan ritual ceker-ceker. Pada ritual ini alat yang digunakan adalah gundukan pasir. Kaki dari sang anak harus menggali pasir yang sudah dicampur oleh bunga-bunga. Pasir yang digunakan adalah pasir hitam biasa yang diletakkan di dalam wadah wadah mangkuk atau di biarkan begitu saja di atas lantai. Bunga yang dicampurkan pada pasir adalah bunga-bunga yang biasa digunakan dalam ritual-ritual yaitu bunga mawar dan melati.. Gambar 4.2 Kurungan Ayam Selanjutnya anak dimasukkan kedalam kurungan ayam untuk memilih barang-barang yang menggambarkan masa depan mereka. Di dalam kurungan ini terdapat berbagai macam barang yang akan menjadi penuntun atau penanda masa depan anak yaitu, alat tulis, mainan, penggaris, buku, alat hitung, dan lain-lain..
(46) 33. Gambar 4. 3 Udik udik Alat selanjutnya adalah udik-udik atau uang logam yang sudah dicampur dengan bunga-bunga. Uang logam dimasukkan kedalam kendi yang dicampurkan dengan beras kuning dan kembang 7 rupa, yang nantinya akan disebar kepada tamu-tamu undangan yang hadir. B. Hatsu tanjo Pada upacara hatsu tanjo alat yang digunakan lebih sedikit dari tedhak siten. Pada prosesi mochi fumi, anak harus menginjak mochi. Mochi yang digunakan hanya 2 buah saja yang berwarna merah dan putih dengan berat sekitar 2 kilogram. Saat menginjak mochi sang anak menggunakan sandal yang bernama waraji, tidak ada ketentuan warna khusus pada waraji tetapi umumnya berwarna merah.. Gambar 4.5 Mochi dan waraji.
(47) 34. Pada prosesi selanjutnya, anak merangkak kearah barang-barang untuk melakukan erabirtori. Sama seperti tedhak siten, anak juga diharuskan memilih beberapa barang yang akan menentukan masa depan sang anak, seperti kuas, sempoa, uang, maianan, penggaris, gunting, dan lain-lain.. Gambar 4.6 Alat-alat untuk Erabitori Persamaan pertama adalah media injak kedua ritual. Meskipun memiliki nama yang berbeda dan bahan yang berbeda, tetapi tekstur dari kedua media sama-sama kenyal dan lengket. Bahan jadah berasal dari beras ketan sedangkan mochi berasal dari beras mochi atau mochigome. Perbedaan hatsu tanjo dan tedhak siten pada prosesi pertama adalah, pada saat menginjak mochi atau jadah upacara hatsu tanjo anak menggunakan sandal waraji, sedangkan pada tedhak siten anak bertelanjang kaki. Tidak ada makna khusus dalam penggunaan alas kaki pada setiap ritual. Tetapi hal ini, menjadi perbedaan yang signifikan pada kedua ritual. Perbedaan kedua pada prosesi pertama adalah, warna pada masing-masing jadah dan mochi. Warna jadah lebih beragam, sedangkan warna mochi hanya dua warna..
(48) 35. Persamaan selanjutnya adalah, ritual memilih barang. Masyarakat jepang menyebut ritual ini sebagai erabitori. Pada ritual erabitori anak akan dihadapkan dengan beberapa pilihan barang. Begitu pula dengan hatsu tanjo, anak juga akan dibimbing untuk memilih salah satu dari beberapa barang yang disediakan oleh orang tua. Pada upacara hatsu tanjo, ritual erabitori dilakukan setelah anak selesai menginjak dan berjalan di atas mochi. Anak akan dibiarkan duduk terlebih dahulu, lalu merangkak atau berjalan kearah barang –barang yang sudah disediakan. Biasanya anak diperbolehkan memilih 1 sampai 2 barang. Hampir sama dengan upacara hatsu tanjo, pada upacara tedhak siten anak juga dibimbing untuk memilih barang. Bedanya, pada upacara tedhak siten anak akan dimasukkan kedalam kurungan ayam yang sudah dihias terlebih dahulu. Di dalam kurungan ayam, anak akan memilih barang tanpa dibimbing oleh orang tua. Kedua ritual ini sama-sama memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk meramal masa depan anak dan untuk mengetahui minat anak. barang yang disedakan tidak memiliki ketentuan khusus. Tetapi biasanya, dalam kedua ritual terdapat beberapa kesamaan, yaitu alat tulis seperti kuas dan pensil, alat hitung seperti sempoa atau kalkulator, dan uang. Sisanya tergantung pilihan orang tua, seperti mainan, alatalat kedokteran, bola, penggaris, kosmetik, buku, dan jajan pasar. Arti dari barang yang disediakan juga memiliki beberapa kesamaan, yang nanti juga akan dibahas di bab setelah ini..
(49) 36. Prosesi selanjutnya pada upacara tedhak siten adalah menyebar uang logam yang dicapur dengan kembang tujuh rupa. Ritual ini dinamakan udik-udik. Biasanya yang menyebar atau melempar uang logam adalah kakek atau ayah. Sedangkan dalam upacara hatsu tanjo, anak diberikan uang oleh keluarga yang lebih dewasa sebagai hadiah ulang tahun. Setelah semua runtutan ritual berakhir, mochi akan dipersembahkan untuk leluhur dan seluruh keluarga akan merayakan dengan makan bersama. Dalam upacara tedhak siten, ritual terakhhir adalah memandikan anak dengan air kembang tujuh rupa dan didandani pakaian yang bagus. Setelah itu, keluarga dan tamu undangan makan bersama. 4.2.2 Perbandingan makna tedhak siten dan hatsu tanjo Pada setiap prosesi dalam tedhak siten dan hatsu tanjo memiliki makna yang tersirat. Ada beberapa prosesi dengan makna yang berbeda, tetapi pada beberapa prosesi kedua upacara ini memiliki makna yang sama. Pada upacara tedhak siten banyak terdapat angka 7 dan 5. Bukan tanpa alasan, angka 7 dan 5 memiliki makna tertentu. Angka tujuh atau dalam bahasa jawa disebut pitu memiliki arti pitulungan atau pertolongan. Angka ini diharapkan membawa keberuntungan dan pertolongan pada setiap kehidupan yang dijalani. Sedangkan angka 5 diambil dari istilah sedulur papat, limo pancer yang artinya kita sebagai manusia ketika lahir memiliki 4 saudara yaitu watman, wahman, rahman dan ariman. Watman berarti kondisi ibu saat pertama kali mengejan, wahman berarti kawah atau jalan lahir bayi, rahman darah yang keluar saat.
(50) 37. melahirkan, ariman adalah ari-ari atau plasenta bayi. Sedangkan limo pancer memiliki arti jati diri atau diri sendiri. Menurut Eyang Djati Kusumo 7 dan 5 juga melambangkan perjalanan hidup serta kunci hidup manusia. Dapat diartikan angka 7 dan lima sebagai lambang kunci perjalan manusia. Oleh karena itu, pada saat anak berusia 7x35 hari anak harus di”selameti”. Tidak seperti di Jawa yang memiliki perhitungan tanggal untuk melaksanakan upacara, pada upacara hatsu tanjo tidak memiliki makna tertentu dalam pemilihan tanggal. Upacara dilaksanakan tepat pada hari kelahiran sang anak. Salah satu persamaan yang menonjol antara hatsu tanjo dan tedhak siten adalah media injak saat upacara. Pada upacara tedhak siten penggunaan jadah 7 warna memiliki arti warna-warni kehidupan. Makna jadah pada upacara tedhak siten adalah supaya lengket dengan bumi, tidak merusak dan menjaga kelestarian alam.Warna pada jadah juga memiliki arti sendiri-sendiri. Berikut adalah arti dari setiap warna jadah. 1. Merah : merah memiliki arti berani. Selain itu, warna darah manusia adalah merah, jadi merah juga dapat diartikan sebagai manusia. 2. Hijau : melambangkan dedaunan atau bumi. 3. Biru : melambangkan angin dan kesetiaan 4. Kuning : melambangkan air dan kekuatan 5. Putih : timur cahaya matahari atau kesucian 6. Hitam : kecerdasan dan api 7. Ungu : melambangkan jiwa manusia dan ketenangan.
(51) 38. Jadah disusun dari warna yang paling gelap lalu warna yang paling terang, hal ini menggambarkan cobaan yang dialami ketika sang anak dewasa mulai yang paling berat hingga mendapatkan pencerahan. Di Jepang, mochi digunakan untuk melaksakan perayaan. Pada upacara hatsu tanjo, mochi yang digunakan memiliki berat hampir 2 kilogram dan berwarna merah putih. Mochi dengan berat 2 kilogram ini memiliki makna perjalanan kehidupan manusia dari hidup sampai meninggal. Warna merah memiliki arti kehidupan dan warna putih memiliki arti kematian. Pada kedua upacara ini, ritual menginjak jadah dan mochi sama-sama memiliki tujuan untuk memperingati anak pertama kali menapaki kehidupan baru sebagai manusia. Bayi merasakan pengalaman baru sebagai manusia yaitu berjalan, dan orang tua menggunakan media jadah dan mochi sebagai tanda bahwa sang anak sudah mulai bertumbuh. Prosesi selanjutnya pada upacara tedhak siten adalah menaikki tangga tebu. Tebu memiliki arti anteb ing kalbu yang artinya kemantaban hati. Pada prosesi ini anak diharapkan memiliki kemantaban hati dan tidak mudah digoyahkan keputusannya. Setelah itu, anak melakukan ritual ceker-ceker yang memiliki makna agar ketika dewasa anak dapat mencar nafkah sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Hatsu tanjo dan tedhak siten memiliki prosesi yang mirip, yaitu prosesi memilih barang. Pada upacara tedhak siten sebelum memilih barang anak dimasukkan kedalam kurungan ayam terlenih dahulu, sedangkan pada hatsu tanjo anak langsung diarahkan untuk memilih. Kurungan ayam pada upacara tedhak.
(52) 39. siten memiliki makna dunia, anak diibaratkan telah memasuki dunia yang sesunggguhnya dan telah dapat memilih apa yang akan dilakukannya pada saat dewasa nanti. Barang-barang yang digunakan juga hampir sama, makna dari setiap barang-barang juga sama.Berikut adalah makna dari barang-barang yang terdapat pada erabitori: 1. Kuas atau pensil : di masa depan anak akan menjadi seniman atau penulis. 2. Sempoa : pedagang atau seseorang yang pandai dalam menghitung. 3. Uang atau dompet : akan diberkahi dengan kekayaan, properti, dan barangbarang mewah lainnya. 4. Gunting : memiliki bakat dibidang fashion atau memiliki keahlian tangan yang bagus. 5. Penggaris ukur : memiliki rumah yang besar ketika dewasa nanti. 6. Alat makan (sumpit, sendok) : akan menjadi juru masak atau tidak akan kelaparan dimasa depannya nanti. 7. Kamus : akan menjadi orang yang pintar dan memiliki pengetahuan yang luas. 8. Bola atau sepatu : akan menjadi atlet. Dalam upacara tedhak siten juga memiliki arti yang hampir sama dengan erabitori, hanya saja biasanya orang tua menambahkan alat-alat yang sesuai dengan keinginan orang tua atau profesi orang tua. Apabila orang tua adalah seorang dokter maka akan ditambahkan alat-alat kedokteran seperti suntik dan stetoskop..
(53) 40. Kedua ritual ini sama-sama memiliki makna memprediksi masa depan sang anak, sebagai doa untuk profesi anak di masa depan. Untuk masyarakat Jepang biasanya tidak terlalu mempercayai hal ini, sehingga ritual erabitori biasanya hanya untuk bersenang-senang saja. Masyarakat Jepang percaya bahwa upacara hatsu tanjo dapat menjadi awal kehidupan sang anak sehingga orang tua mempersiapkan dan memberikan doa agar anak dapat menjadi anak yang sukses di kehidupannya nanti. Pada setiap ritual yang dilaksakan juga mengandung doa agar sang anak tidak lupa akan orang tuanya dan menjadi anak yang selalu diberkati oleh Tuhan. Tujuan utama dari upacara tedhak siten adalah agar anak mengenal bumi. Dalam masyarakat kejawen, alam dan manusia harus saling berkaitan. Ketika anak sudah menjalani ritual untuk mengenal bumi, maka bumi tidak akan jahat kepada sang anak. ritual ini juga bertujuan agar anak secara spiritual dapat menjalani kehidupan yang baik dan tidak melupakan orang tua serta keluarganya. Selain itu, anak juga harus dermawan terhadap sesama, sehingga saat kesulitan sang anak akan mendapat pertolongan dari orang lain. Terlepas dari ramalan masa depan, orang tua juga berharap anak dapat mendapatkan profesi yang diinginkan. Pada upacara hatsu tanjo juga memiliki makna yang baik. Anak diharapkan menjadi anak yang kuat, sehat, bisa menjadi apa yang diharapkan ketika dewasa nanti dan menjadi anak berbakti pada orang tuanya. Setiap perjalanan hidup dari lahir sampai meninggal nanti selalu diberkahi oleh Tuhan, dan diberi rejeki yang cukup..
(54) 41. Meskipun kedua budaya ini berasal dari dua negara yang berbedahatsu tanjo dan tedhak siten sama-sama memiliki makna agar sang anak dapat menjalani kehidupan yang baik di masa depan. Keduanya juga sama-sama berisi doa. keselamatan. dan. kesuksesan. untuk. sang. anak..
(55) 42.
(56) BAB V PENUTUP. 5.1 Kesimpulan Pada sub bab ini, peneliti akan menarik kesimpulan berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan pada bab sebelumnya. Adapun kesimpulan yang ditarik oleh peneliti adalah sebagai berikut: 1. Upacara hatsu tanjo dan tedhak siten memiliki beberapa kesamaan. Terutama pada ritual mochi fumi dan tedhak jadah, kedua ritual ini memiliki prosesi yang hampir sama yaitu menginjak media perantara. Selain itu, ritual meramal masa depan juga memiliki prosesi dan media yang yang sama meskipun terdapat beberapa perbedaan. Adapun perbedaan antara upacara hatsu tanjo dan tedhak siten adalah kemeriahan dan makna pada setiap prosesi. Upacara tedhak siten lebih memiliki makna yang rumit dan selalu berhubungan dengan kesinambungan antara manusia dan alam, sedangkan hatsu tanjo dilaksanakan hanya untuk merayakan dan kesenangan semata. 2. Kesamaan makna antara kedua upacara ini adalah setiap ritual yang dilaksanakan mengandung doa dari orang tua dan keluarga agar ketika sang anak beranjak dewasa, mereka dapat menjalani kehidupan yang baik. Selain itu, anak diharapkan ketika dewasa dapat membanggakan orang tua dan tidak pernah lupa kepada orang tua yang membesarkannya.. 41.
(57) 42. Upacara ini juga memiliki makna bahwa ketika anak pertama kali belajar berjalan, saaat itu pula kehidupan baru sebagai manusia telah dimulai. 5.2 Saran Berdasarkan kesimpulan yang ditarik berhubungan dengan penelitian ini, maka peneliti memberikan saran untuk pengembangan penelitian lebih lanjut yang terbagi menjadi saran teoritis dan praktis. 5.2.1 Saran Teoritis Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti memberikan saran teoritis terhadap peneliti berikutnya yang akan melakukan penelitian terhadap upacara tedhak siten dan hatsu tanjo untuk meneliti beberapa aspek, di antaranya: 1) Makna penggunaan mochi dan jadah dalam upacara tedhak siten dan hatsu tanjo. 2) Peran orang tua dalam upacara tedhak siten dan hatsu tanjo. 5.2.2 Saran Praktis Diharapkan terdapat lebih banyak penelitian mengenai studi perbandingan budaya antara budaya Indonesia dan Jepang. Mengingat Jepang pernah menduduki Indonesia selama 3,5 tahun yang membuat budaya dan tradisi antara kedua negara m ini memiliki beberapa kemiripan..
(58) DAFTAR PUSTAKA. Buku : AG. Muhaimin. (2001). Islam dalam Bingkai Budaya Local Potret dari cirebo. Jakarta : PT. Logos Wacana Ilmu Amin, Darori. (2000). Islam dan Kebudayaan Jawa . Yogyakarta : Gamamedia. Bratawidjaja, Thomas Wiyasa. (2000). Upacara Tradisional Masyarakat Jawa. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. El Rais, Heppy. (2012). Kamus Ilmiah Populer. Yogyakarta: Pusat Belajar. Harsojo. (1967). Pengantar Antropologi. Bandung: Bina Cipta. Moleong. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Nazir, Mohammad. (1988). Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia Prastowo, A. (2012). Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian. Yogyakarta : Ar Ruzz Media. Sugiyono. (2005). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabet. Sutopo. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS. Utomo, Sastro Sutrisno. (2002). Upacara daur Hidup Adat jawa. Semarang : Efflar. Skripsi : Ida Solihatin. 2015. Makna Tradisi Tedhak Siten dan Relevansinya dengan Ajaran Islam di Desa Sukosono Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. Chaula Imanita Berti. 2014. Studi komparatif Unsur Pembentuk Drama Tradisional Noh dan Wayang Topeng Malangan..
(59)
Gambar
+6
Garis besar
Dokumen terkait