TEMUAN DAN BAHASAN
A. Hatsu tanjo
4.2.2 Perbandingan makna tedhak siten dan hatsu tanjo
Pada setiap prosesi dalam tedhak siten dan hatsu tanjo memiliki makna yang tersirat. Ada beberapa prosesi dengan makna yang berbeda, tetapi pada beberapa prosesi kedua upacara ini memiliki makna yang sama.
Pada upacara tedhak siten banyak terdapat angka 7 dan 5. Bukan tanpa alasan, angka 7 dan 5 memiliki makna tertentu. Angka tujuh atau dalam bahasa jawa disebut pitu memiliki arti pitulungan atau pertolongan. Angka ini diharapkan membawa keberuntungan dan pertolongan pada setiap kehidupan yang dijalani. Sedangkan angka 5 diambil dari istilah sedulur papat, limo pancer yang artinya kita sebagai manusia ketika lahir memiliki 4 saudara yaitu watman, wahman,
rahman dan ariman. Watman berarti kondisi ibu saat pertama kali mengejan,
37
melahirkan, ariman adalah ari-ari atau plasenta bayi. Sedangkan limo pancer memiliki arti jati diri atau diri sendiri.
Menurut Eyang Djati Kusumo 7 dan 5 juga melambangkan perjalanan hidup serta kunci hidup manusia. Dapat diartikan angka 7 dan lima sebagai lambang kunci perjalan manusia. Oleh karena itu, pada saat anak berusia 7x35 hari anak harus di”selameti”. Tidak seperti di Jawa yang memiliki perhitungan tanggal untuk melaksanakan upacara, pada upacara hatsu tanjo tidak memiliki makna tertentu dalam pemilihan tanggal. Upacara dilaksanakan tepat pada hari kelahiran sang anak.
Salah satu persamaan yang menonjol antara hatsu tanjo dan tedhak siten adalah media injak saat upacara. Pada upacara tedhak siten penggunaan jadah 7 warna memiliki arti warna-warni kehidupan. Makna jadah pada upacara tedhak
siten adalah supaya lengket dengan bumi, tidak merusak dan menjaga kelestarian alam.Warna pada jadah juga memiliki arti sendiri-sendiri. Berikut adalah arti dari setiap warna jadah.
1. Merah : merah memiliki arti berani. Selain itu, warna darah manusia adalah merah, jadi merah juga dapat diartikan sebagai manusia.
2. Hijau : melambangkan dedaunan atau bumi. 3. Biru : melambangkan angin dan kesetiaan 4. Kuning : melambangkan air dan kekuatan 5. Putih : timur cahaya matahari atau kesucian 6. Hitam : kecerdasan dan api
Jadah disusun dari warna yang paling gelap lalu warna yang paling terang, hal ini menggambarkan cobaan yang dialami ketika sang anak dewasa mulai yang paling berat hingga mendapatkan pencerahan.
Di Jepang, mochi digunakan untuk melaksakan perayaan. Pada upacara
hatsu tanjo, mochi yang digunakan memiliki berat hampir 2 kilogram dan berwarna merah putih. Mochi dengan berat 2 kilogram ini memiliki makna perjalanan kehidupan manusia dari hidup sampai meninggal. Warna merah memiliki arti kehidupan dan warna putih memiliki arti kematian.
Pada kedua upacara ini, ritual menginjak jadah dan mochi sama-sama memiliki tujuan untuk memperingati anak pertama kali menapaki kehidupan baru sebagai manusia. Bayi merasakan pengalaman baru sebagai manusia yaitu berjalan, dan orang tua menggunakan media jadah dan mochi sebagai tanda bahwa sang anak sudah mulai bertumbuh.
Prosesi selanjutnya pada upacara tedhak siten adalah menaikki tangga tebu. Tebu memiliki arti anteb ing kalbu yang artinya kemantaban hati. Pada prosesi ini anak diharapkan memiliki kemantaban hati dan tidak mudah digoyahkan keputusannya. Setelah itu, anak melakukan ritual ceker-ceker yang memiliki makna agar ketika dewasa anak dapat mencar nafkah sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.
Hatsu tanjo dan tedhak siten memiliki prosesi yang mirip, yaitu prosesi memilih barang. Pada upacara tedhak siten sebelum memilih barang anak dimasukkan kedalam kurungan ayam terlenih dahulu, sedangkan pada hatsu tanjo anak langsung diarahkan untuk memilih. Kurungan ayam pada upacara tedhak
39
siten memiliki makna dunia, anak diibaratkan telah memasuki dunia yang sesunggguhnya dan telah dapat memilih apa yang akan dilakukannya pada saat dewasa nanti. Barang-barang yang digunakan juga hampir sama, makna dari setiap barang-barang juga sama.Berikut adalah makna dari barang-barang yang terdapat pada erabitori:
1. Kuas atau pensil : di masa depan anak akan menjadi seniman atau penulis. 2. Sempoa : pedagang atau seseorang yang pandai dalam menghitung.
3. Uang atau dompet : akan diberkahi dengan kekayaan, properti, dan barang-barang mewah lainnya.
4. Gunting : memiliki bakat dibidang fashion atau memiliki keahlian tangan yang bagus.
5. Penggaris ukur : memiliki rumah yang besar ketika dewasa nanti.
6. Alat makan (sumpit, sendok) : akan menjadi juru masak atau tidak akan kelaparan dimasa depannya nanti.
7. Kamus : akan menjadi orang yang pintar dan memiliki pengetahuan yang luas.
8. Bola atau sepatu : akan menjadi atlet.
Dalam upacara tedhak siten juga memiliki arti yang hampir sama dengan
erabitori, hanya saja biasanya orang tua menambahkan alat-alat yang sesuai dengan keinginan orang tua atau profesi orang tua. Apabila orang tua adalah seorang dokter maka akan ditambahkan alat-alat kedokteran seperti suntik dan stetoskop.
Kedua ritual ini sama-sama memiliki makna memprediksi masa depan sang anak, sebagai doa untuk profesi anak di masa depan. Untuk masyarakat Jepang biasanya tidak terlalu mempercayai hal ini, sehingga ritual erabitori biasanya hanya untuk bersenang-senang saja. Masyarakat Jepang percaya bahwa upacara hatsu tanjo dapat menjadi awal kehidupan sang anak sehingga orang tua mempersiapkan dan memberikan doa agar anak dapat menjadi anak yang sukses di kehidupannya nanti. Pada setiap ritual yang dilaksakan juga mengandung doa agar sang anak tidak lupa akan orang tuanya dan menjadi anak yang selalu diberkati oleh Tuhan.
Tujuan utama dari upacara tedhak siten adalah agar anak mengenal bumi. Dalam masyarakat kejawen, alam dan manusia harus saling berkaitan. Ketika anak sudah menjalani ritual untuk mengenal bumi, maka bumi tidak akan jahat kepada sang anak. ritual ini juga bertujuan agar anak secara spiritual dapat menjalani kehidupan yang baik dan tidak melupakan orang tua serta keluarganya. Selain itu, anak juga harus dermawan terhadap sesama, sehingga saat kesulitan sang anak akan mendapat pertolongan dari orang lain. Terlepas dari ramalan masa depan, orang tua juga berharap anak dapat mendapatkan profesi yang diinginkan. Pada upacara hatsu tanjo juga memiliki makna yang baik. Anak diharapkan menjadi anak yang kuat, sehat, bisa menjadi apa yang diharapkan ketika dewasa nanti dan menjadi anak berbakti pada orang tuanya. Setiap perjalanan hidup dari lahir sampai meninggal nanti selalu diberkahi oleh Tuhan, dan diberi rejeki yang cukup.
41
Meskipun kedua budaya ini berasal dari dua negara yang berbedahatsu
tanjo dan tedhak siten sama-sama memiliki makna agar sang anak dapat menjalani kehidupan yang baik di masa depan. Keduanya juga sama-sama berisi doa keselamatan dan kesuksesan untuk sang anak.
41 BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada sub bab ini, peneliti akan menarik kesimpulan berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan pada bab sebelumnya. Adapun kesimpulan yang ditarik oleh peneliti adalah sebagai berikut:
1. Upacara hatsu tanjo dan tedhak siten memiliki beberapa kesamaan. Terutama pada ritual mochi fumi dan tedhak jadah, kedua ritual ini memiliki prosesi yang hampir sama yaitu menginjak media perantara. Selain itu, ritual meramal masa depan juga memiliki prosesi dan media yang yang sama meskipun terdapat beberapa perbedaan. Adapun perbedaan antara upacara hatsu tanjo dan tedhak siten adalah kemeriahan dan makna pada setiap prosesi. Upacara tedhak siten lebih memiliki makna yang rumit dan selalu berhubungan dengan kesinambungan antara manusia dan alam, sedangkan hatsu tanjo dilaksanakan hanya untuk merayakan dan kesenangan semata.
2. Kesamaan makna antara kedua upacara ini adalah setiap ritual yang dilaksanakan mengandung doa dari orang tua dan keluarga agar ketika sang anak beranjak dewasa, mereka dapat menjalani kehidupan yang baik. Selain itu, anak diharapkan ketika dewasa dapat membanggakan orang tua dan tidak pernah lupa kepada orang tua yang membesarkannya.
Upacara ini juga memiliki makna bahwa ketika anak pertama kali belajar berjalan, saaat itu pula kehidupan baru sebagai manusia telah dimulai.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan yang ditarik berhubungan dengan penelitian ini, maka peneliti memberikan saran untuk pengembangan penelitian lebih lanjut yang terbagi menjadi saran teoritis dan praktis.