LAPORAN KINERJA
KOTA SURABAYA
2015
SURABAYA 2016
PEMERINTAH KOTA SURABAYA Jalan Taman Surya nomor 1, Surabaya
Telepon (031) 5345689, 5312144 ext. 113, 356, 353 Faksimile (031) 5474482
DAFTAR ISI
Daftar Isi
Kata Pengantar ___________________________________________________________________________________________ 1 Ikhtisar Eksekutif ________________________________________________________________________________________ 2 Bab I Pendahuluan _______________________________________________________________________________________ 7 Bab II Perencanaan Kinerja ____________________________________________________________________________ 12 Bab III Akuntabilitas Kinerja ___________________________________________________________________________ 19 Bab IV Penutup __________________________________________________________________________________________ 53 Lampiran ________________________________________________________________________________________________ 55 Informasi Penyusun ____________________________________________________________________________________ 56
IKHTISAR EKSEKUTIF
Ikhtisar Eksekutif
Arah pembangunan Kota Surabaya telah ditetapkan berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya Tahun 2010-2015. Oleh karena itu pelaksanaan RPJMD Kota Surabaya harus terus dimonitor dan dievaluasi agar pembangunan Kota Surabaya tetap berjalan sesuai dengan perencanaan semula.
Pelaksanaan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah tersebut didasarkan pada tujuan, sasaran strategis dengan indikator kinerjanya serta target yang telah ditentukan. Dalam RPJMD Kota Surabaya terdapat 16 (enam belas) sasaran dan sesuai dengan Keputusan Walikota Nomor : 188.45/280/436.1.2/2015 terdapat 24 (dua puluh empat) indikator utama yang menjadi ukuran keberhasilan pelaksanaan RPJMD Kota Surabaya.
Dari 16 sasaran dan 24 indikator utama pada tahun 2015 secara keseluruhan telah mencapai target, hanya terdapat 8 sasaran dengan 9 indikator utama yang belum berhasil melampaui target yang telah ditetapkan yaitu:
1. Sasaran mewujudkan kehidupan pribadi dan sosial yang dilandasi asas
kesetaraan, khususnya dengan memberikan kesempatan yang setara kepada segenap warga untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kualitas hidupnya dengan indikator kinerja utama persentase Penduduk Miskin;
2. Sasaran meningkatkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual
sebagai tolok ukur kinerja utama dalam menuju kehidupan kota yang lebih mandiri dan berbudaya dengan indikator utama jumlah siswa berprestasi;
3. Sasaran menegaskan komitmen bahwa untuk menghadirkan suasana kota
yang lebih manusiawi harus dimulai dari penyediaan layanan publik yang prima sesuai norma-norma kemanusiaan yang berlaku secara universal
dengan indikator utama persentase layanan publik yang memiliki nilai minimal
BAIK pada Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM);
4. Sasaran mengutamakan penerapan standar pelayanan publik yang mengarah
pada kesetaraan dengan tolok ukur internasional demi mendukung peningkatan daya saing kota dari perspektif ekonomi, bisnis, dan investasi global dengan indikator utama nilai nominal investasi yang masuk di Surabaya.
IKHTISAR EKSEKUTIF
5. Sasaran memastikan pengelolaan sumber-sumber keuangan daerah secara
efektif, efisien, ekonomis, transparan, berkeadilan, dan bertanggung jawab dengan menempatkan kepentingan warga kota sebagai tujuan utama dengan
indikator utama rasio SILPA terhadap total pendapatan;
6. Sasaran merealisasikan komitmen penciptaan lapangan kerja yang
berlandaskan kemandirian dan kreatifitas individu warga kota yang diwadahi dalam kelembagaan berbasis komunitas dengan indikator utama persentase Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT);
7. Sasaran memastikan berjalannya fungsi-fungsi kebijakan pengeloaan
keuangan daerah dalam konteks peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan warga, khususnya terkait dengan pengurangan angka pengangguran dan pengentasan kemiskinan dengan indikator utama Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita per bulan (Rp dan Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita per bulan (Rp);
8. Memastikan diprioritaskannya pembangunan infrastruktur fisik dan sosial
sesuai strategi pembangunan ekonomi yang berwawasan lingkungan dengan titik berat pada perekonomian berbasis kreatifitas dan kebersamaan antar warga kota dengan indikator kinerja utama Persentase termanfaatkannya pasar tradisional dan sentra PKL yang dibangun.
Capaian kinerja tahun 2015, sebagai berikut :
NO TUJUAN STRATEGIS
INDIKATOR KINERJA
UTAMA
2015
TARGET REALISASI CAPAIAN
1 Meningkatkan kualitas hidup
warga kota dengan cara
memfasilitasi serta mendorong pengembangan daya saing secara menyeluruh dan berkesinambungan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 78.80 78.87 100.09% 2 Mewujudkan kehidupan
pribadi dan sosial yang dilandasi asas kesetaraan, khususnya dengan
memberikan kesempatan yang setara kepada segenap warga untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kualitas hidupnya Jumlah partisipasi angkatan kerja perempuan 38.00% 53.26% 140.16% Persentase Penduduk Miskin 6.00% 10.22% 29,67%
IKHTISAR EKSEKUTIF NO TUJUAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA UTAMA 2015
TARGET REALISASI CAPAIAN
3 Meningkatkan kecerdasan
intelektual, emosional, dan spiritual sebagai tolok ukur kinerja utama dalam menuju kehidupan kota yang lebih mandiri dan berbudaya
Angka Kelulusan (AL) SD/MI 100.00% 100.00% 100.00% Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs 99.50% 100.00% 100.50% Angka Kelulusan (AL) SMA/MA 99.50% 99.97% 100.47% Angka Kelulusan (AL) SMK 99.21% 99.97% 100.77% Jumlah siswa berprestasi 5,000 siswa 2,482 siswa 49.64% 4 Memfasilitasi peningkatan
derajat kesehatan jasmani dan rohani segenap warga kota dengan mengimplementasikan gagasan pengembangan kota yang sehat, bersih, dan hijau
Angka Harapan Hidup
71.50 72.13 100.88%
5 Menegaskan komitmen bahwa
untuk menghadirkan suasana kota yang lebih manusiawi harus dimulai dari penyediaan layanan publik yang prima sesuai norma-norma kemanusiaan yang berlaku secara universal Persentase layanan publik yang memiliki nilai minimal BAIK pada Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) 100.00% 95.00% 95.00% 6 Mengutamakan penerapan
standar pelayanan publik yang mengarah pada kesetaraan dengan tolok ukur
internasional demi mendukung peningkatan daya saing kota dari perspektif ekonomi, bisnis, dan investasi global
Nilai nominal investasi yang masuk di Surabaya Rp. 1,446,664,4 63,443 Rp. 1,026,530,35 0,000 70.96% 7 Memastikan pengelolaan sumber-sumber keuangan daerah secara efektif, efisien, ekonomis, transparan,
berkeadilan, dan bertanggung jawab dengan menempatkan kepentingan warga kota sebagai tujuan utama
Opini BPK (Transparansi dan Akuntabilitas) WTP WTP 100.00% Rasio SILPA terhadap total pendapatan 20.00% 21.38% 93,10%
IKHTISAR EKSEKUTIF NO TUJUAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA UTAMA 2015
TARGET REALISASI CAPAIAN
8 Menempatkan optimalisasi
pemanfaatan aset atau kekayaan daerah sebagai tulang punggung upaya peningkatan kapasitas keuangan daerah Kota Surabaya dengan cara membangun loyalitas warga kota untuk berkontribusi secara aktif dalam
pengelolaan, peningkatan, serta pengawasan kekayaan daerah Persentase Pendapatan Asli Daerah terhadap pemanfaatan Aset (ROA) 8.64% 9.53% 110.30% 9 Merealisasikan komitmen
penciptaan lapangan kerja yang berlandaskan
kemandirian dan kreatifitas individu warga kota yang diwadahi dalam kelembagaan berbasis komunitas Persentase Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 5.10% 7.01% 62,55% 10 Mengoptimalkan pemanfaatan
sumber daya ekonomi kota guna mempercepat
pembangunan ekonomi berbasis komunitas, khususnya melalui
implementasi strategi investasi serta dukungan sumber daya kelembagaan pemerintah kota
Persentase nilai investasi UMKM terhadap nilai investasi
10.07% 19.04% 189.08%
11 Meningkatkan kesesuaian dan
keterkaitan antara kebijakan pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dengan strategi pengembangan ekonomi warga kota Peningkatan jumlah sarana pendidikan, kesehatan, dan perdagangan (pasar) 4.00% 6.84% 171.00% 12 Memastikan berjalannya fungsi-fungsi kebijakan
pengeloaan keuangan daerah dalam konteks peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan warga, khususnya terkait dengan pengurangan angka pengangguran dan
pengentasan kemiskinan
Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita per bulan (Rp) 2,530,366 1,388,848 54.89% Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita per bulan (Rp) 1,579,691 877,523 55.55%
IKHTISAR EKSEKUTIF NO TUJUAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA UTAMA 2015
TARGET REALISASI CAPAIAN
13 Mempertegas komitmen
dalam memfasilitasi dinamika aktifitas warga kota,
khususnya dalam konteks penyediaan sarana dan prasarana dasar dengan kapasitas yang memadai serta kualitas yang setara dengan standar metropolis
kontemporer
Lama Jam Sibuk 6 jam 22
menit
6 jam 22 menit
100.00%
14 Menjaga, menata, sekaligus
mengoptimalkan pemanfaatan kekayaan lingkungan hidup kota demi terciptanya kota hunian yang sehat serta mampu berdampak nyata dalam mencerdaskan kehidupan warga kota
Peningkatan luas RTH yang dapat dimanfaatkan untuk rekreasi edukasi publik 1.20% 1.56% 130.00% 15 Menempatkan aspek
pelestarian dan revitalisasi budaya warga kota sebagai salah satu landasan terpenting dalam penyediaan
infrastruktur fisik dan sosial, demi menghadirkan
lingkungan hunian berfasilitas kontemporer dengan suasana khas sesuai tradisi dan
budaya lokal Jumlah bangunan fasilitas publik yang termanfaatkan untuk pelestarian nilai budaya 7 lokasi 7 lokasi 100.00% 16 Memastikan diprioritaskannya pembangunan infrastruktur fisik dan sosial sesuai strategi pembangunan ekonomi yang berwawasan lingkungan dengan titik berat pada perekonomian berbasis kreatifitas dan kebersamaan antar warga kota
Persentase termanfaatkanny a pasar tradisional dan sentra PKL yang dibangun 88.37% 84.09% 95.16% Persentase tindak lanjut permasalahan/ko nflik pertanahan dan penataan ruang 100.00% 100.00% 100.00%
BAB I PENDAHULUAN
Bab I
Pendahuluan
A. GAMBARAN UMUM KEDUDUKAN, TUGAS DAN KEWENANGAN PEMERINTAH KOTA SURABAYA
Pembentukan Pemerintah Kota Surabaya berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kota Besar Dalam Lingkungan Provinsi Djawa Timur, Djawa Tengah, Djawa Barat dan Daerah Istimewa Jogjakarta sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1965 (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 19 Tambahan Lembaran Negara Nomor 2730) dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2014 Nomor 244 Tambahan Lembaran Negara Nomor 5587) bahwa Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan.
Dalam pelaksanaan otonomi, daerah mempunyai hak mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya; memilih pimpinan daerah; mengelola aparatur daerah; mengelola kekayaan daerah; memungut pajak daerah dan retribusi daerah; mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah; mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah; dan mendapatkan hak lainnya yang diatur dalam Peraturan perundangundangan.
Sedangkan dalam pelaksanaan otonomi, daerah mempunyai kewajiban melindungi masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan nasional, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia; meningkatkan kualitas kehidupan, masyarakat; mengembangkan kehidupan demokrasi; mewujudkan keadilan dan pemerataan; meningkatkan pelayanan dasar pendidikan; menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan; menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak; mengembangkan sistem jaminan sosial;
BAB I PENDAHULUAN
menyusun perencanaan dan tata ruang daerah; mengembangkan sumber daya produktif di daerah; melestarikan lingkungan hidup; mengelola administrasi kependudukan; melestarikan nilai sosial budaya; membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya; dan kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Tugas dan Wewenang Walikota sebagai Kepala Daerah, memimpin penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD; mengajukan rancangan Perda; menetapkan Perda yang telah mendapat persetujuan bersama DPRD; menyusun dan mengajukan rancangan Perda tentang APBD kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan bersama; mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah; mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan, dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundangundangan; dan melaksanakan tugas dan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Kewajiban Walikota sebagai Kepala Daerah, memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia; meningkatkan kesejahteraan masyarakat; memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat; melaksanakan kehidupan demokrasi; mentaati dan menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan; menjaga etika dan norma dalam penyelenggaran pemerintahan daerah; memajukan dan mengembangkan daya saing Daerah; melaksanakan prinsip taat kepemerintahan yang bersih dan baik; melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan daerah; menjalin hubungan kerja dengan seluruh instansi vertikal di Daerah dan semua perangkat Daerah; menyampaikan rencana strategis penyelenggaraan pemerintahan daerah di hadapan Rapat Paripurna DPRD.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 8 Tahun 2013 tentang Penggabungan Kelurahan Di Lingkungan Pemerintah Kota Surabaya,
wilayah Kota Surabaya terbagi menjadi 31 Kecamatan dan 154 Kelurahan,
Untuk menjalankan tugas dan fungsi tersebut, Pemerintah Kota Surabaya memiliki struktur organisasi sebagaimana terlampir.
BAB I PENDAHULUAN
B. GAMBARAN UMUM PROFIL KOTA SURABAYA B.1. KONDISI GEOGRAFIS
Kota Surabaya secara geografis terletak pada 7°9’ sampai dengan 7°21’ Lintang Selatan dan 112° 36’ sampai dengan 112° 54’ Bujur Timur, secara umum kondisi topografi Kota Surabaya merupakan dataran rendah (25.919,04 Ha) dengan ketinggian antara 3-6 meter diatas permukaan laut yang terdapat di sisi barat (12,77%), dan daerah perbukitan landai dengan ketinggian 25-50 meter diatas permukaan laut yang terdapat di sisi selatan. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Surabaya nomor 12 tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya luas wilayah Kota Surabaya meliputi daratan seluas + 33.048 Ha dengan wilayah laut sejauh 1/3 dari wilayah kewenangan Provinsi Jawa Timur, dengan batas wilayah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara : Laut Jawa dan Selat Madura
b. Sebelah Selatan : Kabupaten Sidoarjo
c. Sebelah Timur : Selat Madura
d. Sebelah Barat : Kabupaten Gresik
B.2. KONDISI DEMOGRAFIS
Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, jumlah penduduk Surabaya tahun 2015 sebesar 2.853.661 jiwa dengan komposisi relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan, yaitu jenis kelamin laki-laki 1.430.985 jiwa dan penduduk perempuan 1.422.676 jiwa. Sedangkan komposisi penduduk Kota Surabaya Tahun 2015 berdasarkan kelompok usia dapat dijelaskan bahwa proporsi terbanyak adalah adalah pada kelompok usia 15 sampai dengan 64 tahun (2.069.212 jiwa) selanjutnya kelompok usia kurang dari 15 tahun (613.554 jiwa) dan kelompok usia diatas 64 tahun (170.895 jiwa).
C. PERMASALAHAN UMUM PEMBANGUNAN DAN ISU-ISU STRATEGIS YANG DIHADAPI PEMERINTAH KOTA SURABAYA
Dalam perjalanan pelaksanaan pembangunan Kota Surabaya serta dari hasil evaluasi terhadap kinerja pembangunan, masih ditemukan berbagai permasalahan yang menjadi hambatan dalam mewujudkan target yang direncanakan. Beberapa permasalahan pembangunan di Kota Surabaya tahun 2015 adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
2. Belum optimalnya upaya penertiban bangunan liar;
3. Belum sempurnanya koneksi antar saluran serta tingginya sedimentasi saluran;
4. Tingginya tingkat pertumbuhan penggunaan kendaraan pribadi dibandingkan pertumbuhan jalan;
5. Belum sempurnanya aksesbilitas antar kawasan, kapasitas jalan dan jembatan;
6. Belum optimalnya daya tampung sekolah khususnya sekolah negeri untuk menampung lulusan jenjang sebelumnya;
7. Belum optimlanya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan;
8. Masih rendahnya relevansi pendidikan dengan dunia kerja;
9. Belum optimalnya pemenuhan sumber daya kesehatan dalam mendukung pelayanan kesehatan yang berkualitas dan merata bagi seluruh penduduk Kota Surabaya;
10. Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), sehingga masih perlu ditingkatkannya pengawasan kecukupan gizi dan keamanan bahan pangan di masyarakat; 11. Masih rendahnya kemampuan dan ketrampilan keluarga miskin;
12. Belum optimalnya pemberdayaan keluarga miskin;
13. Masih rendahnya aksesibilitas keluarga miskin dalam usaha skala mikro; 14. Keterbatasan sistem jaringan kerjasama usaha dan pemasaran pelaku
usaha skala mikro dan kecil;
15. Belum optimalnya pengelolaan lembaga dan usaha koperasi;
16. Masih terbatasnya pemahaman masyarakat tentang konsep dan manfaat koperasi;
17. Rendahnya kualitas calon tenaga kerja yang disebabkan belum selarasnya dunia pendidikan dengan dunia usaha, serta rendahnya minat pencari kerja untuk menciptakan lapangan kerja baru;
18. Masih adanya lahan aset pemerintah kota yang bukti kepemilikannya baik secara administrasi maupun fisik kurang/tidak lengkap sehingga belum dapat memenuhi persyaratan yang diberikan oleh Badan Pertanahan Nasional untuk diproses sertifikatnya/legalitasnya;
19. Kurangnya kesadaran dan ketaatan hukum masyarakat terhadap peraturan daerah ketentraman dan ketertiban;
BAB I PENDAHULUAN
20. Belum optimalnya prasarana olahraga di masyarakat dan sekolah yang berstandard nasional dan internasional;
21. Kurangnya apresiasi masyarakat terhadap seni dan budaya dalam mendukung pengembangan potensi pariwisata;
22. Pencemaran air dan tanah yang disebabkan oleh limbah industri dan kegiatan/usaha serta limbah rumah tangga;
23. Pencemaran udara yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari suatu kegiatan/usaha;
24. Belum optimalnya pelaksanaan pengembangan sistem sanitasi terpadu dan monitoring penyelenggaraan prasarana dan sarana air limbah di Kota Surabaya;
25. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan;
26. Belum optimalnya partisipasi perempuan dan anak dalam mendukung pengarusutamaan gender.
Permasalahan-permasalahan tersebut menjadi perhatian dan prioritas bagi Pemerintah Kota Surabaya untuk dapat lebih memberikan pelayanan prima bagi masyarakat Kota Surabaya karena tujuan utama pemerintah kota adalah menjadi pelayan bagi warga kota Surabaya.
BAB II PERENCANAAN KINERJA
Bab II
Perencanaan Kinerja
Uraian singkat Perencanaan Kinerja Kota Surabaya tahun 2010-2015 yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kota Surabaya nomor 18 tahun 2012, sebagai berikut :
Tujuan 1
Meningkatkan kualitas hidup warga kota dengan cara memfasilitasi serta mendorong pengembangan daya saing
secara menyeluruh dan berkesinambungan
Tujuan 2
Mewujudkan kehidupan pribadi dan sosial yang dilandasi asas kesetaraan, khususnya dengan memberikan kesempatan yang setara kepada segenap warga untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kualitas hidupnyal
Tujuan 3
Meningkatkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual sebagai tolok ukur kinerja utama dalam menuju
kehidupan kota yang lebih mandiri dan berbudaya
Tujuan 4
Memfasilitasi peningkatan derajat kesehatan jasmani dan rohani segenap warga kota dengan mengimplementasikan gagasan pengembangan kota yang sehat, bersih dan hijau Misi 1
Membangun kehidupan kota yang lebih CERDAS melalui peningkatan sumber daya manusia yang didukung oleh peningkatan kualitas intelektual, mental-spiritual, ketrampilan
serta kesehatan warga secara terpadu dan berkelanjutan
Tujuan 1
Menegaskan komitmen bahwa untuk menghadirkan suasana kota yang lebih manusiawi harus dimulai dari penyediaan layanan publik yang prima sesuai norma-norma
kemanusiaan yang berlaku secara universal
Tujuan 2
Mengutamakan penerapan standar layanan publik yang mengarah pada kesetaraan dengan tolok ukur internasional
demi mendukung peningkatan daya saing kota dari perspektif ekonomi, bisnis, dan investasi global
Tujuan 3
Memastikan pengelolaan sumber-sumber keuangan daerah secara efektif, efisien, ekonomis, transparan, berkeadilan, dan bertanggungjawab dengan menempatkan kepentingan
warga kota sebagai tujuan utama
Tujuan 4
Menempatkan optimalisasi pemanfaatan aset atau kekayaan daerah sebagai tulang punggung upaya peningkatan kapasitas keuangan daerah Kota Surabaya dengan cara
membangun loyalitas warga kota untuk berkontribusi secara aktif dalam pengelolaan, peningkatan, serta
pengawasan kekayaan daerah Misi 2
Menghadirkan suasana kota yang MANUSIAWI melalui peningkatan aksesibilitas, kapasitas dan kualitas pelayanan publik, reformasi birokrasi, serta
pemanfaatan sumber daya kota untuk sebesar-besar kesejahteraan wargakehidupan kota yang lebih CERDAS melalui peningkatan sumber daya manusia yang didukung oleh peningkatan kualitas intelektual, mental-spiritual,
ketrampilan serta kesehatan warga secara terpadu dan berkelanjutan
Visi
“Menuju Surabaya Lebih Baik sebagai Kota Jasa dan Perdagangan yang Cerdas, Manusiawi, Bermartabat dan Berwawasan Lingkungan”
BAB II PERENCANAAN KINERJA
Indikator kinerja utama mengalami perubahan pada tahun 2015. Tahun 2014, terdapat 17 sasaran strategis dan 81 indikator kinerja utama. Sedangkan tahun 2015, terdapat 16 sasaran strategis dari tujuan RPJMD 2010-2015 dan 24 indikator kinerja utama yang merupakan indikator dari tujuan RPJMD. Perubahan tersebut disesuaikan dengan saran Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi saat evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Kota Surabaya.
Sasaran strategis Kota Surabaya tahun 2015, yaitu :
NO TUJUAN/SASARAN STRATEGIS INDIKATOR
KINERJA UTAMA TARGET
1 Meningkatkan kualitas hidup
warga kota dengan cara
memfasilitasi serta mendorong
pengembangan daya saing secara
menyeluruh dan berkesinambungan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 78.80 Tujuan 1
Merealisasikan komitmen penciptaan lapangan kerja yang berlandaskan kemandirian dan kreatifitas individu warga kota yang diwadahi dalam kelembagaan berbasis komunitas
Tujuan 2
Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya ekonomi kota guna mempercepat pembangunan ekonomi berbasis komunitas, khususnya melalui implementasi strategi investasi serta dukungan sumber daya kelembagaan
pemerintah kota
Tujuan 3
kesesuaian dan keterkaitan antara kebijakan pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dengan
strategi pengembangan ekonomi warga kota
Tujuan 4
Memastikan berjalannya fungsi-fungsi kebijakan pengelolaan keuangan daerah dalam konteks peningkatan
taraf hidup dan kesejahteraan warga, khususnya terkait dengan pengurangan angka pengangguran dan pengentasan
kemiskinan Misi 3
Mewujudkan perikehidupan warga yang BERMARTABAT melalui pembangunan ekonomi berbasis komunitas yang mengutamakan perluasan akses ekonomi demi mendukung peningkatan daya cipta serta kreatifitas segenap warga kota Surabaya dalam upaya penguatan struktur ekonomi lokal yang
mampu bersaing di kawasan regional dan internasional
Tujuan 1
Mempertegas komitmen dalam memfasilitasi dinamika aktifitas warga kota, khususnya dalam konteks penyediaan
sarana dan prasarana dasar dengan kapasitas yang memadai serta kualitas yang setara dengan standar
metropolis kontemporer
Tujuan 2
Menjaga, menata, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan kekayaan lingkungan hidup kota demi terciptanya kota hunian yang sehat serta mampu berdampak nyata dalam
mencerdaskan kehidupan warga kota
Tujuan 3
Menempatkan aspek pelestarian dan revitalisasi budaya warga kota sebagai salah satu landasan terpenting dalam
penyediaan infrastruktur fisik dan sosial, demi menghadirkan lingkungan hunian berfasilitas kontemporer
dengan suasana khas sesuai tradisi dan budaya lokal
Tujuan 4
Memastikan diprioritaskannya pembangunan infrastruktur fisik dan sosial sesuai strategi pembangunan ekonomi yang
berwawasan lingkungan dengan titik berat pada perekonomian berbasis kreatifitas dan kebersamaan antar
warga kota Misi 4
Menjadikan Kota Surabaya semakin layak-huni melalui pembangunan infrastruktur fisik dan sosial secara merata
BAB II PERENCANAAN KINERJA
NO TUJUAN/SASARAN STRATEGIS INDIKATOR
KINERJA UTAMA TARGET
2 Mewujudkan kehidupan pribadi
dan sosial yang dilandasi asas kesetaraan, khususnya dengan memberikan kesempatan yang setara kepada segenap warga untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kualitas hidupnya
Jumlah partisipasi angkatan kerja perempuan 38.00% Persentase Penduduk Miskin 6.00% 3 Meningkatkan kecerdasan
intelektual, emosional, dan spiritual sebagai tolok ukur kinerja utama dalam menuju kehidupan kota yang lebih mandiri dan berbudaya
Angka Kelulusan (AL) SD/MI
100.00% Angka Kelulusan (AL)
SMP/MTs
99.50% Angka Kelulusan (AL)
SMA/MA
99.50% Angka Kelulusan (AL)
SMK
99.21% Jumlah siswa
berprestasi
5000 siswa
4 Memfasilitasi peningkatan derajat
kesehatan jasmani dan rohani segenap warga kota dengan mengimplementasikan gagasan pengembangan kota yang sehat, bersih, dan hijau
Angka Harapan Hidup 71.50
5 Menegaskan komitmen bahwa
untuk menghadirkan suasana kota
yang lebih manusiawi harus
dimulai dari penyediaan layanan publik yang prima sesuai norma-norma kemanusiaan yang berlaku secara universal
Persentase layanan publik yang memiliki nilai minimal BAIK pada Indeks
Kepuasan Masyarakat (IKM)
100.00%
6 Mengutamakan penerapan standar
pelayanan publik yang mengarah pada kesetaraan dengan tolok ukur internasional demi mendukung peningkatan daya saing kota dari perspektif ekonomi, bisnis, dan investasi global
Nilai nominal investasi yang masuk di
Surabaya
Rp. 1.446.664.463.443 atau US$ 115.972.367
7 Memastikan pengelolaan
sumber-sumber keuangan daerah secara efektif, efisien, ekonomis, transparan, berkeadilan, dan bertanggung jawab dengan menempatkan kepentingan warga kota sebagai tujuan utama
Opini BPK
(Transparansi dan Akuntabilitas)
WTP
Rasio SILPA terhadap total pendapatan
BAB II PERENCANAAN KINERJA
NO TUJUAN/SASARAN STRATEGIS INDIKATOR
KINERJA UTAMA TARGET
8 Menempatkan optimalisasi
pemanfaatan aset atau kekayaan daerah sebagai tulang punggung upaya peningkatan kapasitas keuangan daerah Kota Surabaya dengan cara membangun loyalitas warga kota untuk berkontribusi secara aktif dalam pengelolaan, peningkatan, serta pengawasan kekayaan daerah Persentase Pendapatan Asli Daerah terhadap pemanfaatan Aset (ROA) 8.64% 9 Merealisasikan komitmen
penciptaan lapangan kerja yang berlandaskan kemandirian dan kreatifitas individu warga kota yang diwadahi dalam kelembagaan berbasis komunitas Persentase Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 5.10% 10 Mengoptimalkan pemanfaatan
sumber daya ekonomi kota guna mempercepat pembangunan
ekonomi berbasis komunitas,
khususnya melalui implementasi strategi investasi serta dukungan sumber daya kelembagaan pemerintah kota Persentase nilai investasi UMKM terhadap nilai investasi 10.07%
11 Meningkatkan kesesuaian dan
keterkaitan antara kebijakan pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dengan strategi pengembangan ekonomi warga kota Peningkatan jumlah sarana pendidikan, kesehatan, dan perdagangan (pasar) 4.00%
12 Memastikan berjalannya
fungsi-fungsi kebijakan pengeloaan keuangan daerah dalam konteks peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan warga, khususnya terkait dengan pengurangan angka pengangguran dan pengentasan kemiskinan
Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita per bulan (Rp)
Rp. 2.530.366
Pengeluaran
konsumsi non pangan perkapita per bulan (Rp)
Rp. 1.579.691
13 Mempertegas komitmen dalam
memfasilitasi dinamika aktifitas warga kota, khususnya dalam konteks penyediaan sarana dan prasarana dasar dengan kapasitas yang memadai serta kualitas yang setara dengan standar metropolis kontemporer
Lama Jam Sibuk 6 jam
BAB II PERENCANAAN KINERJA
NO TUJUAN/SASARAN STRATEGIS INDIKATOR
KINERJA UTAMA TARGET
14 Menjaga, menata, sekaligus
mengoptimalkan pemanfaatan kekayaan lingkungan hidup kota demi terciptanya kota hunian yang sehat serta mampu berdampak nyata dalam mencerdaskan kehidupan warga kota
Peningkatan luas RTH yang dapat dimanfaatkan untuk rekreasi edukasi publik 1.20%
15 Menempatkan aspek pelestarian
dan revitalisasi budaya warga kota sebagai salah satu landasan terpenting dalam penyediaan infrastruktur fisik dan sosial, demi menghadirkan lingkungan hunian berfasilitas kontemporer dengan suasana khas sesuai tradisi dan budaya lokal
Jumlah bangunan fasilitas publik yang termanfaatkan untuk pelestarian nilai budaya
7
16 Memastikan diprioritaskannya
pembangunan infrastruktur fisik dan sosial sesuai strategi pembangunan ekonomi yang berwawasan lingkungan dengan titik berat pada perekonomian berbasis kreatifitas dan kebersamaan antar warga kota
Persentase
termanfaatkannya pasar tradisional dan sentra PKL yang dibangun 88.37% Persentase tindak lanjut permasalahan/konflik pertanahan dan penataan ruang 100.00%
Jumlah anggaran yang tersedia untuk Pemerintah Kota Surabaya adalah
Rp.4.613.497.362.594,-yang terdiri dari program-program sebagai berikut :
1. Program Perencanaan Pembangunan Daerah; 2. Program Keluarga Berencana;
3. Program Mengintensifkan Penanganan Pengaduan Masyarakat; 4. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial; 5. Program Pembangunan Jaringan Air Bersih Perkotaan; 6. Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir;
7. Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial; 8. Program Pembinaan dan Pemasyarakatan Olahraga;
9. Program Pembinaan Pedagang Kaki Lima dan Asongan;
10. Program Pemeliharaan Kamtrantibmas dan Pencegahan Tindak Criminal; 11. Program Penanggulangan Kemiskinan;
12. Program Penataan Administrasi Kependudukan; 13. Program Penataan Daerah Otonom;
14. Program Penataan Kelembagaan dan Ketatalaksanaan; 15. Program Penataan Peraturan Perundang-Undangan; 16. Program Penataan Ruang;
BAB II PERENCANAAN KINERJA
18. Program Pendidikan Anak Usia Dini; 19. Program Pendidikan Menengah; 20. Program Pendidikan Non Formal;
21. Program Pengadaan, Peningkatan dan Perbaikan Sarana dan Prasarana Puskesmas/Puskesmas Pembantu dan Jaringannya;
22. Program Pengelolaan dan Pembangunan Jalan dan Jembatan;
23. Program Pengelolaan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi; 24. Program Pengelolaan Kebersihan Kota;
25. Program Pengelolaan Keragaman Budaya;
26. Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH);
27. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan; 28. Program Pengembangan Destinasi Pariwisata;
29. Program Pengembangan Komunikasi, Informasi dan Media Massa; 30. Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata;
31. Program Pengembangan Sistem Pendukung Usaha Bagi Usaha Mikro Kecil Menengah;
32. Program Pengembangan Sistem Transportasi; 33. Program Pengendalian Banjir;
34. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup; 35. Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak; 36. Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah; 37. Program Peningkatan Iklim Investasi dan Realisasi Investasi;
38. Program Peningkatan Kapasitas Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah; 39. Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Aparatur;
40. Program Peningkatan Kerjasama Antar Pemerintah Daerah; 41. Program Peningkatan Kesejahteraan Petani;
42. Program Peningkatan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak; 43. Program Peningkatan Kesempatan Kerja;
44. Program Peningkatan Ketahanan Pangan (Pertanian/Perkebunan); 45. Program Peningkatan Kompetensi Tenaga Kerja dan Produktifitas; 46. Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan; 47. Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi;
48. Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan;
49. Program Peningkatan Pemanfaatan Teknologi Informasi Dan Komunikasi; 50. Program Peningkatan Peran Serta Kepemudaan;
51. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata;
52. Program Peningkatan Sistem Pengawasan Internal dan Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan KDH;
53. Program Perbaikan Sistem Administrasi Kearsipan;
54. Program Perlindungan Konsumen dan Pengamanan Perdagangan; 55. Program Perlindungan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan; 56. Program Perumahan dan Permukiman;
BAB II PERENCANAAN KINERJA
58. Program Upaya Kesehatan Masyarakat; 59. Program Utilitas Perkotaan; Serta
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
Bab III
Akuntabilitas Kinerja
A. PENGUKURAN CAPAIAN KINERJA
Pada Tahun 2015 sesuai dengan visi dan misi pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Surabaya tahun 2010-2015 telah ditetapkan 16 tujuan/sasaran strategis yang akan dicapai dengan 24 indikator kinerja.
Adapun program dan kegiatan berikut kendala/hambatan, upaya dan dukungan yang dilaksanakan pada masing-masing indikator kinerja utama per sasaran strategis diuraikan sebagai berikut:
1. Sasaran Strategis Meningkatkan kualitas hidup warga kota dengan cara memfasilitasi serta mendorong pengembangan daya saing secara menyeluruh dan berkesinambungan diukur dengan indikator
kinerja utama:
INDIKATOR KINERJA UTAMA
TARGET REALISASI CAPAIAN
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
78.80 78.87 100.09%
Sumber Data: BPS Provinsi Jawa Timur
Keterangan: *) memakai data tahun 2014 karena data tahun 2015 masih proses pengolahan data di BPS
Pada tahun 2015 nilai Indeks Pembangunan Manusia Kota Surabaya adalah 78.87, jika dibandingkan dengan target tahun 2015 sebesar 78.80 maka capaian kinerjanya adalah 100.09%. Indikator kinerja ini diukur dengan menggunakan data Badan Pusat Statistik yang menggabungkan dari indikator angka harapan hidup, angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah.
Menurut Human Development Report (HDR) pada tahun 1990, pembangunan manusia adalah suatu proses untuk memperbanyak pilihan-pilihan yang dimiliki oleh manusia. Diantara banyak pilihan-pilihan tersebut, pilihan-pilihan yang terpenting adalah untuk berumur panjang dan sehat, untuk berilmu pengetahuan, dan untuk mempunyai akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan agar dapat hidup secara layak.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
dasar. Dimensi tersebut mencakup umur panjang dan sehat; pengetahuan, dan kehidupan yang layak. Ketiga dimensi tersebut memiliki pengertian sangat luas karena terkait banyak faktor. Untuk mengukur dimensi kesehatan, digunakan angka harapan hidup waktu lahir. Selanjutnya untuk mengukur dimensi pengetahuan digunakan gabungan indikator angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Adapun untuk mengukur dimensi hidup layak digunakan indikator kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari rata-rata besarnya pengeluaran per kapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup layak. Perkembangan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tahun 2011 s.d. 2015 adalah sebagai berikut :
INDIKATOR KINERJA UTAMA 2011 2012 2013 2014 2015
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
77.62 78.05 78.51 78.87 78.87
Sumber Data: BPS Provinsi Jawa Timur
Keterangan: *) data disamakan dengan tahun sebelumnya karena data tahun 2015 masih dalam proses pengolahan di BPS
Beberapa program yang telah dilaksanakan Pemerintah Kota Surabaya untuk mencapai sasaran strategis meningkatkan kualitas hidup warga kota dengan cara memfasilitasi serta mendorong pengembangan daya saing secara menyeluruh dan berkesinambungan, antara lain :
1. Program Pembinaan dan Pemasyarakatan Olahraga; 2. Program Pendidikan Anak Usia Dini;
3. Program peningkatan peran serta kepemudaan
2. Sasaran Strategis Mewujudkan kehidupan pribadi dan sosial yang dilandasi asas kesetaraan, khususnya dengan memberikan kesempatan yang setara kepada segenap warga untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kualitas hidupnya diukur
dengan indikator kinerja utama:
NO INDIKATOR KINERJA
UTAMA TARGET REALISASI CAPAIAN
1. Jumlah partisipasi angkatan
kerja perempuan
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
NO INDIKATOR KINERJA
UTAMA TARGET REALISASI CAPAIAN
2. Presentase Penduduk
Miskin
6.00% 10.22% 29,67%
Sumber Data:1. BPS Provinsi Jawa Timur tahun 2014
2. Badan Pemberdayaan Masyarakat & Keluarga Berencana Kota Surabaya
2.1. Indikator jumlah partisipasi angkatan kerja perempuan diukur dengan formulasi: (Jumlah partisipasi perempuan : jumlah angkatan kerja perempuan) x 100%. Pada tahun 2015 jumlah partisipasi angkatan kerja perempuan mencapai 53,26%, jika dibandingkan dengan target tahun 2015 sebesar 38% maka capaian kinerjanya adalah 140.16%.
2.2. Indikator kinerja presentase penduduk miskin diukur dengan menggunakan formulasi : (jumlah penduduk miskin : jumlah penduduk) x 100%. Pada tahun 2015 persentase penduduk miskin Kota Surabaya mencapai 10.22%, jika dibandingkan dengan target tahun 2015 sebesar 6% maka capaian kinerjanya adalah 29,67%.
Jumlah penduduk miskin di kota Surabaya diambil berdasarkan keputusan walikota yang ditetapkan secara berkala. Perkembangan jumlah penduduk miskin mulai tahun 2011 s.d. 2015 adalah sebagai berikut:
INDIKATOR
KINERJA UTAMA 2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah Penduduk
Miskin 112.465 112.465 112.465 291.686 291.686
Sumber Data: Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana
Data jumlah penduduk miskin menurut hasil pendataan tahun 2010 dan tahun 2014, jumlah penduduk miskin tahun 2010 sampai dengan 2013 menurut Keputusan Walikota Nomor : 188.45/158/436.1.2/2011 sebanyak 112.465 kepala keluarga. Jumlah penduduk miskin tahun 2014 sampai dengan 2015 menurut Keputusan Walikota Nomor : 188.45/363/436.1.2/2014 sebanyak 291.686 orang.
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
Beberapa kegiatan yang dilaksanakan dalam memberdayakan masyarakat dan menurunkan jumlah penduduk miskin antara lain:
1. Fasilitasi Pengembangan Hasil Usaha Ekonomi Mikro 2. Fasilitasi Pelaksanaan Program Beras Miskin
3. Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat dan Lembaga Kelurahan 4. Lomba Karya Penanggulangan Kemiskinan (Pro Poor Award)
5. Monitoring dan Evaluasi Program Penanggulangan Kemiskinan dengan monitoring dan evaluasi program penanggulangan kemiskinan, tahun 2015 survey dan monitoring terhadap keluarga miskin calon penerima intervensi pendidikan (mitra warga), surat keterangan miskin (SKM), dan didaftarkan ke BPJS Kesehatan PBI dalam bidang kesehatan.
Sedangkan program yang telah dilaksanakan program yang telah dilaksanakan untuk mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran strategis mewujudkan kehidupan pribadi dan sosial yang dilandasi asas kesetaraan, khususnya dengan memberikan kesempatan yang setara kepada segenap warga untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kualitas hidupnya antara lain :
1. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial; 2. Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial;
3. Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak;
4. Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan.
3. Sasaran Strategis Meningkatkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual sebagai tolok ukur kinerja utama dalam menuju kehidupan kota yang lebih mandiri dan berbudaya diukur dengan
indikator kinerja utama:
NO INDIKATOR KINERJA
UTAMA TARGET REALISASI CAPAIAN
1. Angka Kelulusan (AL)
SD/MI
100.00% 100.00% 100.00%
2. Angka Kelulusan (AL)
SMP/MTs
99.50% 100.00% 100.50%
3. Angka Kelulusan (AL)
SMA/MA
99.50% 99,97% 100.47%
4. Angka Kelulusan (AL)
SMK
99.21% 99,97% 100.77%
5. Jumlah siswa
berprestasi
5.000 siswa 2.482 siswa 49.64%
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
3.1 Indikator kinerja angka kelulusan (AL) SD/MI diukur dengan formulasi jumlah peserta didik SD/MI yang lulus : (jumlah peserta didik SD/MI) x 100%
Angka kelulusan SD/MI diukur berdasarkan perbandingan antara jumlah siswa SD/MI yang lulus dengan jumlah keseluruhan siswa SD/MI kelas 6. Jumlah keseluruhan siswa SD/MI kelas 6 dihitung berdasarkan data siswa kelas 6 yang mengikuti ujian. Dari target yang telah ditetapkan sebesar 100%, maka pada tahun 2015 seluruh siswa jenjang SD/MI sebanyak 45.990 orang dinyatakan lulus ujian tingkat akhir, sehingga capaian kinerjanya mencapai 100%. Adapun perkembangan angka kelulusan SD/MI dalam 5 (lima) tahun terakhir
dapat dilihat pada tabel berikut:
INDIKATOR KINERJA
UTAMA 2011 2012 2013 2014 2015
Angka Kelulusan (SD/MI) 100% 100% 100% 100% 100%
Sumber Data: Dinas Pendidikan Kota Surabaya
3.2 Indikator kinerja angka kelulusan (AL) SMP/MTs diukur dengan formulasi jumlah peserta didik SMP/MTs yang lulus : (jumlah peserta didik SMP/MTs) x 100%
Angka kelulusan SMP/MTs diukur berdasarkan perbandingan antara jumlah siswa SMP/MTs yang lulus dengan jumlah keseluruhan siswa SMP/MTs kelas 9. Jumlah keseluruhan siswa SMP/MTs kelas 9 dihitung berdasarkan data siswa kelas 9 SMP/MTs yang mengikuti ujian. Pada tahun 2015, jumlah siswa kelas 9 SMP/MTs yang mengikuti ujian tingkat akhir sebanyak 43.090 orang. Dari jumlah tersebut, seluruhnya dinyatakan lulus ujian tingkat akhir sehingga capaian kinerjanya mencapai 100.50% dari target yang telah ditetapkan sebesar 99.50. Adapun perkembangan angka kelulusan SMP/MTs dalam 5 (lima) tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut:
INDIKATOR
KINERJA UTAMA 2011 2012 2013 2014 2015
Angka Kelulusan
(SMP/MTs) 99,73% 99,89% 99,89% 99,99% 100.00%
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
3.3. Indikator kinerja angka kelulusan SMA/MA diukur berdasarkan perbandingan antara jumlah siswa SMA/MA yang lulus dengan jumlah keseluruhan siswa SMA/MA kelas 12. Jumlah keseluruhan siswa SMA/MA kelas 12 dihitung berdasarkan data siswa kelas 12 yang mengikuti ujian.
Pada tahun 2015, jumlah siswa kelas 12 SMA/MA yang mengikuti ujian tingkat akhir sebanyak 17.578 orang. Dari jumlah tersebut, siswa yang dinyatakan lulus ujian tingkat akhir sebanyak 17.573 orang atau 99,97%. Dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan sebesar 99,50%, maka capaian kinerjanya sebesar 100,47%.
Perkembangan Angka Kelulusan SMA/MA selama 5 (lima) tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut:
INDIKATOR KINERJA UTAMA 2011 2012 2013 2014 2015 Angka Kelulusan (SMA/MA) 99.33% 99.93% 99.94% 99.93% 99.97%
Sumber Data: Dinas Pendidikan Kota Surabaya
Peningkatan angkatan lulus didukung dengan program latihan try out online dan offline serta program intensif ujian nasional yang dilaksanakan di sekolah-sekolah maupun di luar sekolah.
3.4. Indikator kinerja angka kelulusan SMK diukur berdasarkan perbandingan antara jumlah siswa SMK yang lulus dengan jumlah keseluruhan siswa SMK kelas 12.
Jumlah keseluruhan siswa SMK kelas 12 dihitung berdasarkan data siswa kelas 12 yang mengikuti ujian. Pada tahun 2015, jumlah siswa kelas 12 SMK yang mengikuti ujian tingkat akhir sebanyak 18.189 orang. Dari jumlah tersebut, siswa yang dinyatakan lulus ujian tingkat akhir sebanyak 18.183 orang atau 99,97%. Dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan sebesar 99,21%, maka capaian kinerjanya sebesar 100,77%.
Perkembangan Angka Kelulusan SMK selama 5 lima (tahun) terakhir dapat dilihat pada gambar
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA INDIKATOR KINERJA UTAMA 2011 2012 2013 2014 2015 Angka Kelulusan (SMA/MA) 99.94% 99.88% 99.99% 99.95% 99.97%
Sumber Data: Dinas Pendidikan Kota Surabaya
3.5. Indikator kinerja jumlah siswa berprestasi diukur dengan
menggunakan formulasi jumlah siswa jenjang pendidikan dasar dan menengah yang berprestasi. Pada tahun 2015 jumlah siswa berprestasi adalah 2.482 siswa, jika dibandingkan dengan target tahun 2015 sebesar 5000 siswa maka capaian kinerjanya adalah 49,64%. Data perkembangan jumlah siswa berprestasi selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
INDIKATOR KINERJA
UTAMA 2011 2012 2013 2014 2015
jumlah siswa berprestasi - 658 1.091 1.927 2.482
Sumber Data: Dinas Pendidikan Kota Surabaya
Beberapa program yang telah dilaksanakan untuk mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran strategis meningkatkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual sebagai tolok ukur kinerja utama dalam menuju kehidupan kota yang lebih mandiri dan berbudaya, antara lain :
1. Program Pendidikan Non Formal;
2. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan;
3. Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan; 4. Program Pendidikan Menengah;
5. Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun.
4. Sasaran Strategis Memfasilitasi peningkatan derajat kesehatan
jasmani dan rohani segenap warga kota dengan mengimplementasikan gagasan pengembangan kota yang sehat, bersih, dan hijau diukur dengan indikator kinerja utama:
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
INDIKATOR KINERJA
UTAMA TARGET REALISASI CAPAIAN
Angka Harapan Hidup 71.5 72.13 100.88%
Sumber Data: BPS Provinsi Jawa Timur
Keterangan : *) data disamakan dengan tahun sebelumnya karena data tahun 2015 masih dalam proses pengolahan di BPS
Indikator kinerja angka Harapan Hidup adalah suatu perkiraan rata-rata lamanya hidup sejak lahir yang akan dicapai oleh penduduk. Pada tahun Target Angka Harapan Hidup yang ditetapkan adalah 71.5, jika dibandingkan realisasinya yang mencapai 72.13 maka capaian kinerjanya adalah 100.88%. Perkembangan Angka Harapan Hidup Kota Surabaya adalah sebagaimana dalam tabel berikut:
INDIKATOR KINERJA UTAMA 2011 2012 2013 2014 2015
Angka Harapan Hidup 71,02 71,33 72,63 72.13 72.13
Sumber Data: BPS Jawa Timur
Beberapa program yang telah dilaksanakan untuk mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran strategis memfasilitasi peningkatan derajat kesehatan jasmani dan rohani segenap warga kota dengan mengimplementasikan gagasan pengembangan kota yang sehat, bersih, dan hijau, antara lain :
1. Program Keluarga Berencana;
2. Program pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas/puskesmas pembantu dan jaringannya;
3. Program peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak;
4. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata;
5. Program Upaya Kesehatan Masyarakat
5. Sasaran Strategis Menegaskan komitmen bahwa untuk menghadirkan suasana kota yang lebih manusiawi harus dimulai dari penyediaan layanan publik yang prima sesuai norma-norma kemanusiaan yang berlaku secara universal diukur dengan indikator kinerja utama:
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET REALISASI CAPAIAN
Persentase layanan publik yang memiliki nilai minimal BAIK pada Indeks Kepuasan Masyararakat (IKM)
100% 95% 95%
Pada tahun 2015 target persentase layanan publik yang memiliki nilai minimal BAIK pada Indeks Kepuasan Masyararakat (IKM) adalah sebesar 100%, jika dibandingkan dengan realisasinya sebesar 95% maka capaian kinerjanya adalah 95%. Data realisasi dari indikator kinerja ini dari tahun 2011 s.d. 2015 adalah sebagai berikut:
INDIKATOR KINERJA UTAMA 2011 2012 2013 2014 2015
Persentase layanan publik yang memiliki nilai minimal BAIK pada
Indeks Kepuasan Masyararakat (IKM)
100% 100% 99% 100% 95%
Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, pada setiap Pemerintah Kabupaten/Kota, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang pelayanan publik, perlu dievaluasi dari sisi kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh penyelenggara pelayanan kepada masyarakat (public), yang indikator pengukuran dan perhitungannya sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menpan Nomor KEP/25/M.PAN/2/2004, tentang Indeks Kepuasan Masyarakat.
Maksud dan tujuan dilaksanakannya Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat, adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendapatkan data tingkat kepuasan melalui survei kepada masyarakat terhadap pelayanan publik yang dilakukan di Dinas di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya;
2. Untuk mendapatkan feed back /umpan balik atas kinerja/kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat guna perbaikan/peningkatan kinerja /kualitas pelayanan secara berkesinambungan.
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
Uraian dari data indikator kinerja diatas adalah sebagai berikut:
NO INSTANSI
TAHUN
2010 2011
2012 2013 2014 2015
I II I II
1 Jumlah Kecamatan yang
≥ Baik 31 31 31 31 31 30 31 31
Jumlah Seluruh
Kecamatan 31 31 31 31 31 31 31 31
2
Jumlah Puskesmas dan UPTD Kesehatan yang ≥ Baik
53 53 53 53 62 62 62 57
Jumlah Seluruh Puskesmas dan UPTD Kesehatan
53 53 53 53 62 62 62 63
3 Jumlah Dinas, Lemtek,
dan PD yang ≥ Baik 19 19 19 19 20 21 22 0
Jumlah Seluruh Dinas,
Lemtek, dan PD 19 19 19 19 20 21 22 0
4 Jumlah Kelurahan yang ≥ Baik 0 0 0 0 0 0 0 31 Jumlah Seluruh
Kelurahan 0 0 0 0 0 0 0 31
Jumlah SKPD yang ≥ Baik 103 103 103 103 113 113 115 119 Jumlah seluruh SKPD 103 103 103 103 113 114 115 125 Target SKPD yang di survey
103 103 103 103 103 114 115 115
capaian 100% 100% 100% 100% 100% 99% 100% 95%
Sumber Data: Bagian Organisasi dan Tata Laksana Kota Surabaya
Beberapa program yang telah dilaksanakan untuk mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran strategis menegaskan komitmen bahwa untuk menghadirkan suasana kota yang lebih manusiawi harus dimulai dari penyediaan layanan publik yang prima sesuai norma-norma kemanusiaan yang berlaku secara universal, antara lain :
1. Program Mengintensifkan penanganan pengaduan masyarakat;
2. Program pemeliharaan kamtrantibmas dan pencegahan tindak kriminal; 3. Program Penataan Administrasi Kependudukan;
4. Program Penataan Daerah Otonom;
5. Program Penataan Kelembagaan dan Ketatalaksanaan; 6. Program Penataan Peraturan Perundang-undangan;
7. Program Pengembangan Komunikasi, Informasi dan Media;
8. Program peningkatan kapasitas lembaga perwakilan rakyat daerah; 9. Program peningkatan kapasitas sumberdaya aparatur;
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
11. Program peningkatan sistem pengawasan internal dan pengendalian pelaksanaan kebijakan KDH;
12. Program perbaikan sistem administrasi kearsipan.
6. Sasaran Strategis Mengutamakan penerapan standar layanan publik yang mengarah pada kesetaraan dengan tolok ukur internasional demi mendukung peningkatan daya saing kota dari perspektif ekonomi, bisnis, dan investasi global diukur dengan indikator kinerja
utama:
INDIKATOR KINERJA UTAMA
TARGET REALISASI CAPAIAN
Nilai nominal Investasi yang masuk di
Surabaya
Rp1.446.664.463.443 Rp. 1.026.530.350.000 70.96%
Indikator kinerja ini melihat jumlah investasi yang masuk ke Surabaya baik investasi asing maupun investasi dalam negeri sampai dengan akhir tahun 2015. Pada tahun 2015 nilai nominal investasi yang masuk di Surabaya ditargetkan sebesar Rp1.446.664.463.443,- sedangkan realisasi investasi yang masuk pada tahun 2015 adalah Rp. 1.026.530.350.000,- sehingga
capaian kinerja dari indikator ini mencapai 70,96%. Berikut adalah
perkembangan nilai investasi selama 5 tahun terakhir:
TAHUN PMA PMDN TOTAL
2011 265.834.000.000 725.630.000.000 991.464.000.000
2012 420.420.000.000 4.396.370.000.000 4.816.790.000.000
2013 314.623.873.021 490.271.432.498 804.895.305.519
2014 5.023.922.400.000 639.625.900.000 5.663.548.300.000
2015 198.113.850.000 828.416.500.000 1.026.530.350.000
Beberapa program yang telah dilaksanakan untuk mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran strategis mengutamakan penerapan standar layanan publik yang mengarah pada kesetaraan dengan tolok ukur internasional demi mendukung peningkatan daya saing kota dari perspektif ekonomi, bisnis, dan investasi global, antara lain :
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
2. Program peningkatan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi.
7. Sasaran Strategis Memastikan pengelolaan sumber-sumber keuangan daerah secara efektif, efisien, ekonomis, transparan, berkeadilan, dan bertanggungjawab dengan menempatkan kepentingan warga kota sebagai tujuan utama diukur dengan indikator kinerja utama:
NO INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET REALISASI CAPAIAN
1. Opini BPK (transparansi dan
akuntabilitas)
WTP WTP 100%
2. Rasio SILPA terhadap total
pendapatan
20% 21.38% 93.10%.
*) Sumber Data : Inspektorat Kota Surabaya
**) Sumber Data: Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Kota Surabaya (belum diaudit)
7.1. Indikator opini BPK merupakan salah satu indikator kualitas akuntabilitas keuangan dilihat dari opini auditor eksternal (BPK) atas penyajian laporan keuangan. Pada tahun 2015 realisasi opini BPK adalah WTP, jika dibandingkan dengan target tahun 2015 yakni WTP maka capaian kinerjanya adalah 100%. Berikut adalah perbandingan realisasi opini BPK mulai tahun 2010-2015.
INDIKATOR KINERJA UTAMA 2011 2012 2013 2014 2015
Opini BPK WDP WTP WTP WTP WTP
Dalam mencapai target tersebut dilaksanakan dengan beberapa kegiatan yang mendukung dalam pencapaian kinerja tersebut antara lain:
1. Peningkatan sistem pengawasan internal dan pengendalian pelaksanaan kebijakan KDH
2. Inventarisasi hasil temuan pengawasan
3. Koordinasi pengawasan yang lebih komprehensif 4. Evaluasi Laporan Kinerja SKPD
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
6. Pelatihan teknis pengawasan dan penilaian akuntabilitas kinerja aparatur pengawasan
7. Pelaksanaan pengawasan dan penanganan kasus pada inspektorat pembantu I, II dan III di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya
8. Pelaksanaan monitoring pada inspektorat pembantu I, II dan III di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya.
7.2. SILPA merupakan selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. Jumlah SILPA yang ideal perlu ditentukan sebagai salah satu dasar evaluasi terhadap pelaksanaan program/kegiatan. Pelampauan target SILPA yang bersumber dari pelampauan target penerimaan daerah dan efisiensi sangat diharapkan sedangkan yang bersumber karena ditiadakannya program/kegiatan akan merugikan masyarakat. Pada tahun 2015 nilai presentase SILPA terhadap total pendapatan ditargetkan sebesar 20%, jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2015 adalah sebesar 21.38% maka capaian kinerjanya adalah sebesar 93.10%.
Data realisasi presentase SILPA terhadap total pendapatan dari tahun 2011 s.d. tahun 2015 adalah sebagai berikut:
INDIKATOR KINERJA UTAMA 2011 21012 2013 2014 2015 Rasio SILPA terhadap total pendapatan 13.38% 13.78% 18.66% 21.67% 21.38%
Uraian dari realisasi indikator kinerja diatas adalah sebagai berikut:
Tahun
SILPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) Tahun Berjalan Total Pendapatan 2011 Rp. 502.999.263.251 Rp. 3.759.034.427.310 2012 Rp. 805.419.392.938 Rp. 4.634.301.938.654 2013 Rp. 977.089.154.745 Rp. 5.235.293.716.914 2014 Rp. 1.311.544.540.067 Rp. 6.052.441.118.039 2015 Rp. 1.414.757.771.996 Rp. 6.618.584.947.038
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
Program yang telah dilaksanakan untuk mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran strategis memastikan pengelolaan sumber-sumber keuangan daerah secara efektif, efisien, ekonomis, transparan, berkeadilan, dan bertanggungjawab dengan menempatkan kepentingan warga kota sebagai tujuan utama adalah peningkatan dan Pengembangan pengelolaan keuangan daerah.
8. Sasaran Strategis Menempatkan optimalisasi pemanfaatan aset atau kekayaan daerah sebagai tulang punggung upaya peningkatan kapasitas keuangan daerah Kota Surabaya dengan cara membangun loyalitas warga kota untuk berkontribusi secara aktif dalam pengelolaan, peningkatan, serta pengawasan kekayaan daerah diukur
dengan indikator kinerja utama:
INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET REALISASI CAPAIAN
Persentase Pendapatan Asli Daerah terhadap pemanfaatan Aset (ROA)
8.64% 9.53% 110.30%
Sumber Data: Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan
Indikator kinerja ini diukur dengan formulasi Pendapatan Asli Daerah : Total Aset x 100%. Pada tahun 2015 persentase pendapatan asli daerah terhadap pemanfaatan aset (ROA) ditargetkan sebesar 8.64%, jika dibandingkan dengan target tahun 2015 sebesar 9.53% maka capaian kinerjanya adalah sebesar 110.30%. Data realisasi indikator kinerja ini dari tahun 2011-2015 adalah sebagai berikut:
INDIKATOR KINERJA UTAMA 2011 2012 2013 2014 2015
Persentase Pendapatan Asli Daerah terhadap pemanfaatan Aset (ROA)
5,99% 7,06% 8,48% 9,53% 9,53%
Sumber Data: Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan
Uraian dari indikator kinerja diatas adalah sebagai berikut:
Tahun Pendapatan Asli Daerah Total Aset Tetap
2011 Rp. 1.886.514.301.580 Rp. 31.484.362.969.80
2012 Rp. 2.279.613.848.832 Rp. 32.276.066.905.289
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
Tahun Pendapatan Asli Daerah Total Aset Tetap
2014 Rp. 3.307.323.863.978 Rp. 34.690.400.238.418
2015 Rp. 4.035.203.264.499*) Proses rekonsiliasi
Sumber Data: Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Keterangan: *) data belum diaudit
Adapun program yang telah dilaksanakan untuk mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran strategis menempatkan optimalisasi pemanfaatan aset atau kekayaan daerah sebagai tulang punggung upaya peningkatan kapasitas keuangan daerah kota surabaya dengan cara membangun loyalitas warga kota untuk berkontribusi secara aktif dalam pengelolaan, peningkatan, serta pengawasan kekayaan daerah adalah Program Sertifikasi Tanah Milik Pemerintah Kota.
9. Sasaran Strategis Merealisasikan komitmen penciptaan lapangan kerja yang berlandaskan kemandirian dan kreatifitas individu warga kota yang diwadahi dalam kelembagaan berbasis komunitas diukur dengan indikator
kinerja utama:
INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET REALISASI CAPAIAN
Persentase Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
5.10% 7.01% 62,55%
Sumber Data : BPS Provinsi Jawa Timur
Tingkat pengangguran adalah banyaknya jumlah angkatan kerja yang tidak bekerja dan aktif mencari pekerjaan. Pada tahun 2015 nilai Persentase Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah sebesar 7.01%, jika dibandingkan dengan target tahun 2015 sebesar 5.10% maka capaian kinerjanya adalah 62,55%. Data Tingkat Pengangguran Terbuka mulai tahun 2011 s.d. 2015 adalah sebagai berikut:
INDIKATOR KINERJA UTAMA 2011 2012 2013 2014 2015
Persentase Tingkat Pengangguran
Terbuka (TPT) 5.15 5.07 5.28 5.82 7.01
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
Adapun program yang telah dilaksanakan untuk mendukung pencapaian target indikator kinerja sasaran strategis merealisasikan komitmen penciptaan lapangan kerja yang berlandaskan kemandirian dan kreatifitas individu warga kota yang diwadahi dalam kelembagaan berbasis komunitas, antara lain :
1. Program Peningkatan Kesempatan Kerja;
2. Program Peningkatan Kompetensi Tenaga Kerja dan Produktifitas; 3. Program Perlindungan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan.
10. Sasaran Strategis Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya ekonomi kota guna mempercepat pembangunan ekonomi berbasis komunitas, khususnya melalui implementasi strategi investasi serta dukungan sumber daya kelembagaan pemerintah kota diukur dengan indikator
kinerja utama:
INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET REALISASI CAPAIAN
Persentase nilai investasi UMKM terhadap nilai investasi
10.07% 19.04% 189.08%
Sumber Data: Dinas Perdagangan & Perindustrian dan Badan Perencanaan Pembangunan (diolah)
Nilai investasi UMKM diukur dari total modal yang terdaftar di Dinas Perdagangan dan Perindustrian dari Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) yang dikeluarkan dibagi total investasi di kota Surabaya. Pada tahun 2015 persentase nilai investasi UMKM terhadap nilai investasi ditargetkan sebesar 10.07%, jika dibandingkan dengan realisasinya sebesar 19.04% maka capaian kinerjanya adalah 189.08%. Data perkembangan nilai investasi UMKM terhadap nilai investasi mulai tahun 2011 s.d. 2015 adalah sebagai berikut:
TAHUN TOTAL INVESTASI INVESTASI UMKM %
2011 23,435,822,920,000.00 4,494,995,077,950 19.18%
2012 35,366,767,415,886.00 5,283,384,496,014 14.94%
2013 21,515,790,414,234.00 5,927,872,813,345 27.55%
2014 33,678,858,619,578.00 5,789,871,515,912 17.19%
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
Adapun program yang telah dilaksanakan untuk mendukung pencapaian target indikator sasaran strategis mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya ekonomi kota guna mempercepat pembangunan ekonomi berbasis komunitas, khususnya melalui implementasi strategi investasi serta dukungan sumber daya kelembagaan pemerintah kota, antara lain :
1. Program Pembinaan pedagang kaki lima dan asongan; 2. Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata;
3. Program Pengembangan Sistem Pendukung Usaha Bagi Usaha Mikro Kecil Menengah;
4. Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi;
5. Program Perlindungan Konsumen dan pengamanan perdagangan.
11. Sasaran Strategis Meningkatkan kesesuaian dan keterkaitan antara kebijakan pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dengan strategi pengembangan ekonomi warga kota diukur
dengan indikator kinerja utama:
INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET REALISASI CAPAIAN
Peningkatan jumlah sarana pendidikan, kesehatan dan perdagangan (pasar)
4% 6.84% 171%
Sumber Data: Dinas Pekerjaan Umum, Cipta Karya dan Tata Ruang
Indikator kinerja ini diukur dengan formulasi rata-rata peningkatan jumlah sarana pendidikan, kesehatan dan perdagangan (pasar). Pada tahun 2015 peningkatan jumlah sarana pendidikan, kesehatan dan perdagangan (pasar) ditargetkan sebesar 4%, jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2015 sebesar 6.84% maka capaian kinerjanya adalah sebesar 171%.
Adapun program yang telah dilaksanakan untuk mendukung pencapaian target indikator sasaran strategis meningkatkan kesesuaian dan keterkaitan antara kebijakan pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dengan strategi pengembangan ekonomi warga kota adalah Program perencanaan pembangunan daerah.
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
12. Sasaran Strategis Memastikan berjalannya fungsi-fungsi kebijakan pengelolaan keuangan daerah dalam konteks peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan warga, khususnya terkait dengan pengurangan angka pengangguran dan pengentasan kemiskinan diukur dengan indikator
kinerja utama:
NO INDIKATOR KINERJA
UTAMA
TARGET REALISASI CAPAIAN
1. Pengeluaran konsumsi
rumah tangga per kapita per bulan (Rp)
Rp. 2.530.366 Rp.1.388.484 54.89%
2. Pengeluaran konsumsi non
pangan perkapita per bulan (Rp)
Rp. 1.579.691 Rp. 877.523 55.55%
Sumber Data: BPS Provinsi Jawa Timur
12.1. Indikator kinerja Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita per bulan (Rp).
Pada tahun 2015 realisasi pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita per bulan (Rp) adalah sebesar Rp.1.388.484,- jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan sebesar Rp. 2.530.366,- maka capaian kinerjanya adalah 54.89%.
Menurut BPS, rumah tangga merupakan konsumen atau pemakai barang dan jasa sekaligus juga pemilik faktor-faktor produksi tenaga kerja, lahan, modal dan kewirausahaan. Rumah tangga menjual atau mengelola faktor-faktor produksi tersebut untuk memperoleh balas jasa. Balas jasa atau imbalan tersebut adalah upah, sewa, bunga dividen, dan laba yang merupakan komponen penerimaan atau pendapatan rumah tangga. Penerimaan lain yang mungkin diperoleh rumah tangga adalah transfer (pemberian cuma-cuma), perkiraan pendapatan (imputasi) dari rumah milik rumah tangga tersebut yang ditempati sendiri atau ditempati pihak lain dengan bebas sewa, dan hasil produksi barang/jasa dari kegiatan yang tidak digolongkan sebagai kegiatan usaha rumah tangga. Transfer yang diterima berasal dari pemerintah, badan usaha, lembaga nirlaba, rumah tangga lain, maupun dari luar negeri. Ada dua cara penggunaan pendapatan. Pertama, membelanjakannya untuk barang-barang konsumsi. Kedua,
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
tidak membelanjakannya seperti ditabung. Pengeluaran konsumsi dilakukan untuk mempertahankan taraf hidup. Pada tingkat pendapatan yang rendah, pengeluaran konsumsi umumnya dibelanjakan untuk kebutuhan-kebutuhan pokok guna memenuhi kebutuhan jasmani. Konsumsi makanan merupakan faktor terpenting karena makanan merupakan jenis barang utama untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Akan tetapi terdapat berbagai macam barang konsumsi (termasuk sandang, perumahan, bahan bakar, dan sebagainya) yang dapat dianggap sebagai kebutuhan untuk menyelenggarakan rumah tangga. Keanekaragamannya tergantung pada tingkat pendapatan rumah tangga. Tingkat pendapatan yang berbeda-beda mengakibatkan perbedaan taraf konsumsi.
Apabila penerimaan rumah tangga dikurangi dengan pengeluaran untuk konsumsi dan untuk transfer, maka diperoleh nilai tabungan rumah tangga. Kalau perilaku konsumsi memperlihatkan dasar pendapatan yang dibelanjakan, maka tabungan adalah merupakan unsur penting dalam proses pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Tabungan memungkinkan terciptanya modal yang dapat memperbesar kapasitas produksi perekonomian. Untuk dapat melihat apa yang dilakukan rumah tangga responden atas tabungannya dibutuhkan data tabungan seperti yang disimpan di bank atau koperasi, jumlah investasi, serta transaksi keuangan lainnya.
Kenyataannya, selisih penerimaan dengan pengeluaran rumah tangga responden ada yang negatif (defisit), sehingga dalam membiayai pengeluaran dan investasinya diperlukan pinjaman (hutang), maka rumah tanggapun ada yang berhutang, dan ada yang meminjamkan uang (piutang). Jadi selain dari tabungan, sumber dana investasi dapat berasal dari pinjaman. Disamping itu, ada pula rumah tangga responden yang melakukan kegiatan di pasar uang atau di pasar modal sehingga terjadi transaksi finansial (keuangan) antar rumah tangga maupun dengan sektor ekonomi lain. Investasi finansial dapat berupa uang tunai, simpanan di bank, dan pemilikan surat berharga.