• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFISIENSI PEMANFAATAN RADIASI SURYA, PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SOBA (Fagopyrum esculentum Moench.) DI CIAWI BOGOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EFISIENSI PEMANFAATAN RADIASI SURYA, PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SOBA (Fagopyrum esculentum Moench.) DI CIAWI BOGOR"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

EFISIENSI PEMANFAATAN RADIASI SURYA, PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SOBA (Fagopyrum esculentum Moench.) DI CIAWI BOGOR Solar Radiation Use Efficiency, Growth and Soba (Fagopyrum esculentum Moench.)

Production in Ciawi Bogor

Taufan Hidayat 1), Yonny Koesmaryono 2) 1)

Staf pengajar Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

2)

Staf pengajar Departemen Geofisika dan Meteorologi, FMIPA Institut Pertanian Bogor, Bogor

ABSTRACT

Soba (Fagopyrum esculentum Moench) is potential alternative food source because of its chemical contents which are not so different from other main food sources. In its agronomical development, intensive and sustain research are needed to study solar radiation uses efficiencies, growth and yield of soba under different population an time planting. This research conducted from April to August 2000 at BPLP Ciawi – Bogor experiment station 415 meter top of sea level, 106 51 BT and 06 38 LS. Unit of research arranged by factorial completely randomized block design. The population factor consist of 3 level : 200 plants m-2 (P1), 160 plants m-2 (P2) and 133 plants m-2 (P3), and time of planting also consist of 3 levels : on April (T1), May (T2) and June (T3). Solar radiation uses efficiency at early growth to weeks after planting was higher at high population compared to low population, but after 5 weeks of planting or when maximum efficiencies, its higher on P2 compared P3 and P1. This showed that when grain filling and maturing, its is more intensive on low population then high population, however the anova for two factors at maximum efficiencies did not showed significant differences. Growth and yield of soba is better on high population compare to low population. This because on high population the microclimate condition and water availability is more adequate then on low population. There was no significant different on 1000 grain weight caused by two factors. For total yield P1 172,1 gm-2 was highest and significantly different then P2 143,6 gm-2 and P3 123,9 g m-2. Production cause by time of planting did not showed significant different between T1 and T2 but it did on T3.

Keywords: soba, Solar radiation, population, time planting

PENDAHULUAN

Konsumsi bahan pangan masyarakat Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Oleh karena itu diperkirakan beberapa tahun mendatang, dengan lahan yang tersedia (lahan potensial) saat ini sudah tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Upaya mencari sumber-sumber bahan pangan baru merupakan salah satu alternatif, karena dengan semakin beragamnya bahan pangan diharapkan akan mengurangi resiko kerawanan pangan masyarakat.

Soba (Fagopyrum esculentum

Moench.) adalah salah satu tanaman penghasil karbohidrat tinggi yang dapat digunakan sebagai bahan pangan altematif. Secara taksonomi, tanaman ini termasuk divisi Spermatophyta, kelas Angiospermae,

subkelas Dicotyledoneae, ordo

Caryophyllales, famili Polygonaceae, genus

Fagopyrum dan spesies Fagopyrum

esculentum Moench. Spesies ini merupakan

spesies yang paling banyak dibudidayakan. Selain F. esculentum terdapat spesies

Fagopyrum yang sudah diketahui yaitu F.

tartaricum, F. cymosum.

Tanaman soba telah dibudidayakan di Cina sejak 2000 tahun yang lalu, namun

dalam perkembangannya telah

dibudidayakan di Amerika Serikat, Jepang, negara-negara Eropa seperti Jerman, Belgia, Prancis dan beberapa negara lainnya (Wei 1995). Soba mempunyai komposisi gizi utama karbohidrat 77.5%, protein 6.4% dan lemak nabati 1.2% (USDA 1997). Selain sebagai bahan pangan manusia, soba juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan hijau bagi ternak, mulsa, pupuk hijau, alas di dalam kandang ternak

(2)

lebah madu. Keunggulan lainnya, soba dapat ditanam di lahan yang tidak dapat ditanami tanaman padi sehingga dapat dimanfaatkan untuk lahan-lahan yang tidak produktif. Lebih jauh lagi soba berpotensi besar sebagai komoditas ekspor terutama ke Jepang. Dalam kerangka itu maka perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam terhadap tanaman ini. Salah satu bentuk kajian yang penting dilakukan adalah mengetahui potensi tanaman ini pada berbagai tempat yang berbeda iklimnya sehingga dapat diketahui tingkat produksi dan efisiensinya. Sehingga pada akhirnya diharapkan tanaman ini akan dapat dikembangkan menjadi salah satu komoditas pangan substitusi di berbagai daerah tertentu yang sesuai.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Chodijah (2000) dan Irawati (2000) pada ketinggian 1150 m dpl., soba telah mampu berproduksi hingga 3.04 - 4.075 ton ha-1. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tanaman ini cukup berhasil dikembangkan di Indonesia terutama didataran tinggi. Untuk mengetahui potensi produksi secara lebih rinci maka perlu dilakukan penelitian untuk lokasi yang lebih rendah agar dapat diketahui prospek pengembangan soba di daerah dataran rendah.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Balai Penataran dan Latihan Pertanian, Ciawi-Bogor, Jawa Barat. Terletak pada bujur 106° 51’ BT dan lintang 06° 38’ LS dengan ketinggian 415 m dpl. Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan April hingga Agustus 2000.

Bahan-bahan yang digunakan : benih tanaman Soba varietas Kitawase

(Fagopyrum esculentum Moench. cv.

Kitawase), pupuk organik (3000 kg ha-1)

dan pupuk an organik (Urea 40 kg ha-1, SP36 15 kg ha-1 dan KCl 30 kg ha-1). Alat-alat yang digunakan : Alat pengolahan tanah, pemeliharaan, alat ukur, satu set

tube solarimeter, termometer, oven

pengering dan timbangan.

Rancangan Percobaan yang digunakan ini adalah Rancangan Dua Faktorial (faktor

waktu tanam dan faktor populasi), dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok. Pada masing-masing kelompok waktu tanam setiap perlakuan diulang tiga

kali. Pengelompokkan dilakukan

berdasarkan perbedaan waktu tanam. Faktor pertama adalah waktu tanam (T); Kelompok Tl = Penanaman I pada 27 April – Juni, Kelompok T2 = Penanaman II pada 28 Mei – Juli dan Kelompok T3 = Penanaman III pada 29 Juni – Agustus. Tiap-tiap kelompok diberi perlakuan jumlah populasi (P), dimana populasi adalah faktor kedua dengan perincian ; PI = Jumlah populasi 200 tanaman m-2 (jarak tanam antar baris 20 cm), P2 = Jumlah populasi 160 tanaman m-2 (jarak tanam antar baris 25 cm) dan P3 = Jumlah populasi 133 tanaman m-2 (jarak tanam antar baris 30 cm).

Persiapan lahan diawali dengan kegiatan pengolahan tanah dan pembuatan petak percobaan berukuran 10 m2 (5m x 2m) dengan jarak antar petak 0,5 m. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian pupuk dan penanaman yang dilakukan dengan menebarkan benih dengan jumlah 200 butir per baris.

Pengukuran iklim mikro dilakukan empat kali pengamatan seminggu pada masing-masing perlakuan populasi dan tiap petak. Pengukuran radiasi surya dengan menggunakan tube solarimeter yang diletakkan di atas dan di bawah tajuk tanaman. Pengukuran suhu dalam tajuk menggunakan termometer bola basah dan bola kering. Data curah hujan, suhu udara makro dan total intensitas radiasi selama penelitian diperoleh dan stasiun klimatologi terdekat. Pada komponen agronomis, parameter yang diukur tiap minggu adalah tinggi tanaman (10 sampel), luas daun dan berat kering tanaman (5 sampel), sedangkan untuk komponen hasil (berat biji 1000 butir ; g m-2) dan hasil (produksi total; g m-2) yang ditimbang setelah panen.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ciawi merupakan daerah dataran pertengahan (415 m dpl.). Terletak sekitar 13 km di sebelah selatan Kota Bogor. Curah hujan rata-rata bulanan 274 mm

(3)

dengan rata-rata tahunan 2840 mm. Kondisi curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus (114 mm) dan tertinggi pada bulan Januari (447 mm). Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidth dan Ferguson, Ciawi termasuk tipe iklim A, sedangkan menurut Oldeman termasuk dalam tipe iklim B2. Suhu udara rata-rata 22.90C – 24.80C dan kelembaban udara rata-rata 96%-98%, sedangkan total radiasi harian sekitar 9.03 MJ m-2 hari-1.

Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman

Hasil pengamatan menunjukkan pertumbuhan tanaman diawali oleh munculanya kecambah pada hari ke-5 setelah tanam. Pada awal masa pertumbuhan yaitu pada 1-2 MST baik pada P1, P2 maupun P3 memperlihatkan laju pertumbuhan yang relatif sama dengan tinggi sekitar 10 - 15 cm dan jumlah daun 3 helai pertanaman. Memasuki 3 MST laju pertumbuhan sudah mulai menunjukkan perbedaan antar populasi yang berbeda. Hal ini dapat dilihat pada P1 laju pertumbuhannya lebih tinggi di bandingkan dengan P2 dan P3. Pada minggu ke-3 setelah tanam selain proses pertumbuhan yang terus berlangsung, proses perkembangan juga sudah memperlihatkan tahap awalnya, yaitu dengan munculnya bakal bunga.

Pada umur 4 MST, hampir seluruh tanaman berbunga dan mekar, hanya pada bunga yang terletak dibagian ujung cabang yang belum seluruhnya mekar. Di akhir minggu ke-4 sudah terlihat terbentuknya polong namun dari segi bentuk maupun ukurannya belum seragam. Menjelang minggu ke-6 semua tanaman sudah mempunyai polong yang merata baik dari

ukuran maupun bentuknya. Pada

pertengahan minggu ke-6 polong sudah berisi cairan berwarna putih seperti susu dan beberapa hari kemudian berubah menjadi tepung yang berwarna putih, dan sudah mulai kelihatan beberapa bunga dan polong yang sudah berwama coklat.

Minggu ke-7 setelah tanam proses pemasakan terjadi lebih intensif, hal ini juga sangat dipengaruhi iklim mikro disekitarnya. Bila pada fase pemasakan biji

ini radiasi dan suhu udara di sekitar tanaman cukup tinggi maka proses pemasakan biji akan lebih cepat. Pemanenan dilakukan pada saat tanaman khususnya bijinya sudali 75% masak agar tidak terjadi kerontokan.

Tinggi Tanaman dan Indeks Luas Daun

Tinggi tanaman diukur sejak umur 2 MST hingga 6 MST. Berdasarkan hasil pengukuran yang dapat dilihat pada Tabel 1 dimana pada awal pertumbuhan tinggi tanaman relatif sama, namun setelah minggu ke-3 laju pertambahan tinggi tanaman pada populasi rapat lebih cepat dibandingkan dengan populasi rendah. Namun berdasarkan sidik ragam yang dilakukan terhadap tinggi tanaman, antar populasi yang berbeda tidak menunjukkan perberbedaan yang nyata hingga minggu ke-4. Laju pertambahan tinggi tanaman antara populasi rapat dengan populasi rendah mulai berbeda nyata sejak minggu ke-5. Hal ini terlihat pada Tabel 1, P1 tidak berbeda nyata dengan P2 tetapi berbeda nyata dengan P3, sedangkan P2 tidak berbeda nyata dengan P3.

Dari analisis terhadap ketiga waktu tanam, Tl memiliki laju dan tinggi akhir yang paling tinggi dibandingkan dengan T2 dan T3. Ini menandakan bahwa pada fase vegetatif Tl lebih baik, karena kondisi lingkungan yang lebih kondusif. Berdasarkan sidik ragam dari ketiga waktu tanam, mengindikasikan bahwa antar waktu tanam memperlihatkan laju kenaikan tinggi tanaman yang berbeda nyata antar waktu tanam terutama pada 5 - 6 MST.

Tinggi tanaman pada awal

pertumbuhan tanaman tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antar populasi. Hal ini di duga karena pada masa awal pertumbuhan pengaruh etiolasi, kondisi iklim mikro dan persaingan antar individu belum menunjukkan perbedaan yang terlalu besar. Tinggi tanaman terlihat perbedaannya setelah 5 MST dimana kondisi lingkungan dan persaingan mulai terjadi.

Tinggi tanaman umumnya relatif lebih tinggi pada populasi yang rapat. Namun perlu diperhatikan batang yang terlalu tinggi akan mempunyai resiko rebah yang

(4)

lebih besar. Berdasarkan fakta di lapangan selama penelitian pada populasi tinggi (P1) akibat adanya pengaruh etiolasi, tanaman akan memiliki batang dan daun yang lebih sukulen ini menyebabkan tanaman mudah rebah karena kekuatan batang yang menurun atau tidak kokoh. Hal ini dapat berakibat buruk pada proses pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya, terutama bila peristiwa tersebut terjadi pada fase vegetatif. Pada populasi rendah panjang batang lebih pendek namun lebih kokoh dan lebih tahan rebah. Hal ini disebabkan karena pada populasi rendah radiasi surya lebih banyak masuk kedalam tajuk tanaman sehingga pengaruh buruk etiolasi lebih kecil. Pada penelitian ini peristiwa rebah pernah terjadi pada P1 waktu T2 dan T3 yang menyebabkan produksi petak tersebut turun drastis. Perlu diperhatikan juga selain faktor tanaman itu sendiri yang menyebakan tanaman rebah, faktor lingkungan eksternal juga ikut berperan diantaranya adalah angin kencang dan hujan lebat.

Pertambahan Berat Kering

Menurut Monteith (1975) tanaman memanfaatkan radiasi surya untuk proses fotosintesis, yang kemudian hasilnya disimpan dalam bentuk senyawa organik (berat kering). Berat kering tanaman meningkat dengan bertambahnya umur tanaman. Suatu tanaman idealnya mampu memanfaatkan radiasi surya seefisien mungkin dalam upaya meningkatkan bahan kering terutama produksinya. Dalam penelitian ini bahan kering yang dianalisis adalah data tiap minggu bahan kering tanaman per meter persegi (g m-2).

Dari Tabel 2 terlihat bahwa peningkatan berat kering terus berlanjut hingga 6 MST, dan ketika minggu saat panen berat keringnya pun lebih besar dari minggu ke-6.

Berat kering tanaman per meter persegi (g m-2), pada P1 paling besar dibandingkan dengan P2 dan P3. Hal ini disebabkan karena pada P1 mempunyai populasi yang tinggi dan keadaan iklim mikro disekitar tanaman yang lebih kondusif bagi tanaman soba. Dengan demikian pada P1 karena

memiliki populasi yang rapat

menyebabkan termodifikasinya iklim mikro disekitar tanaman, sehingga suhu udara dalam tajuk akan lebih rendah dibandingkan P2 dan P3. Kemudian bila ditinjau dari pemenuhan kebutuhan air, pada populasi yang rapat proses evapotranspirasi akan terhambat sehingga ketersediaan air akan lebih terjaga. Karena sebagaimana diketahui tanaman soba merupakan tanaman daerah subtropis yang menyukai kondisi iklim mikro terutama suhu yang rendah (15°C - 25°C), kebutuhan air yang cukup dan radiasi surya yang tidak terlalu tinggi.

Untuk kebutuhan air, dipertegas lagi oleh Grubben & Siemonsma (1996) menyatakan bahwa tanaman soba sangat sensitif terhadap kekeringan, karena dapat mempengaruhi perkembangan akar. Dari hal inilah yang menyebabkan tanaman soba populasi rendah mempunyai berat kering yang lebih rendah dibanding populasi tinggi. Hal ini mengakibatkan berat kering per permeter persegi dan berat kering pertanaman pada P1 lebih tinggi. Dengan demikian berat kering tanaman tidak sepenuhnya ditentukan oleh ketersediaan radiasi surya dan hara, tetapi juga harus ditunjang oleh faktor-faktor lingkungan lainnya. Selain itu dari pengamatan dilapangan juga terlihat karakter soba lainnya yaitu pada kondisi intensitas radiasi matahari tinggi daunnya akan layu sementara terutama pada populasi rendah, hal ini mungkin merupakan upaya mengatasi transpirasi yang berlebihan melalui daun. Tetapi dampak dari layu sementara ini dapat menurunkan kapasitas fotosintesis yang akhirnya juga akan berdampak pada menurunnya produksi berat kering.

Dari sidik ragam pada populasi yang berbeda (Tabel 2), berat kering tanaman (g m-2) baik pada minggu awal (2-3 MST) hingga minggu akhir (4 - 6 MST), P1 selalu berbeda nyata dengan populasi P2 dan P3, sedangkan antara P2 dan P3 tidak selalu berbeda nyata. Untuk berat kering maksimum terdapat pada Pl (481.78 g m-2) dan berat kering minimum terdapat pada P3 (314.32 g m-2). Sidik ragam berat kering

berdasarkan waktu tanam tidak

(5)

secara umum Tl tidak berbeda nyata dengan T2. Sidik ragam berat kering tanaman maksimum (6 MST) berdasarkan waktu tanam tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata. Berat kering maksimum (g m-2) terjadi pada T2 (428.0 g m-2) dan terendah pada T3 (358.1 g m-2).

Produksi Total dan Berat 1000 butir

Pada penelitian ini data produksi yang dianalisis adalah berat 1000 butir (g), dan produksi total (g m-2).

Dari Tabel 3 berat biji rata-rata 1000 butir dari setiap populasi dan waktu tanam

berdasarkan sidik ragam tidak

menunjukkan perbedaan yang nyata. Meskipun demikian antar populasi dapat dilihat bahwa semakin tinggi populasi maka akan semakin rendah berat bijinya. Hasil total produksi tertinggi terdapat pada PI sebasar 172.1 g m-2 dan terendah pada P3 dengan nilai 123.9 g m-2. Pada P1 berdasarkan analisis sidik ragam berbeda nyata dengan P2 dan P3, tetapi produksi P2 dan P3 tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Dengan demikian secara umum produksi soba meningkat dengan populasi, hal yang sama juga diperoleh Chodijah (2000). Untuk sidik ragam terhadap waktu tanam yang berbeda terhadap produksi, antara T1 dengan T2 tidak berbeda nyata tetapi berbeda nyata dengan waktu T3, sedangkan T3 tidak berbeda nyata dengan T2. Dari ketiga waktu tanam tersebut berat tertinggi terdapat pada T1 (166.1 g m-2) dan terendah terdapat pada T3 (126.8 g m-2).

Efisiensi Pemanfaatan Radiasi Surya

Efisiensi pemanfaatan radiasi surya (EPR) dihitung berdasarkan nisbah antara pertambahan berat tanaman perminggu (dW: g m-2 minggu-1) dengan total intersepsi radiasi surya per minggu (Int : MJ m-2 minggu-1).

Tabel 4 memperlihatkan EPR pada populasi yang berbeda pada minggu ke-3 dan ke-4 tidak berbeda nyata, hanya pada 5 MST yang berbeda nyata antara Pl (3.31 g MJ-1) dengan P3 (1.43 g MJ-1). Selain itu, sejak minggu ke-3 hingga minggu ke-5 setelah tanam EPR lebih besar pada populasi tinggi (P1) tetapi memasuki minggu ke-6 MST terjadi penyimpangan

dimana pada populasi rendah menjadi lebih besar. Hal ini disebabkan karena pada minggu akhir ini terjadi proses pengisian bulir, pada tanaman populasi rendah lebih intensif dari pada yang berpopulasi tinggi dan juga kondisi lingkungan yang mendukung, sehingga dW (penambahan berat kering) pada populasi rendah lebih tinggi. Namun secara umum dari Tabel 4 dapat dilihat kecenderungan bahwa dengan meningkatnya umur tanaman EPRnya juga meningkat, pengecualian terjadi pada minggu ke-5 pada P2 dan P3 dimana pada minggu ini terjadi penurunan efisiensi (Gambar 1a dan 1b). Penurunan nilai efisiensi pada minggu ke-5 disebabkan oleh rendahnya curah hujan padahal pada minggu ini adalah waktu yang sangat peka terhadap proses pengisian bulir. Rendahmya curah hujan ini menyebabkan kebutuhan air tanaman terutama pada P2 dan P3 tidak tercukupi. Tetapi pada P1 karena populasinya yang tinggi mengakibatkan termodifikasinya iklim mikro, salah satunya adalah terhambatnya evapotranspirasi sehingga ketersediaan airnya lebih terjaga. Implikasi dari sangat rendahnya ketersediaan air pada P2 dan P3 ini adalah menurunnya laju fotosintesis yang pada akhirnya menyebabkan pertambahan berat kering juga turun. Selanjutnya pada minggu 5 MST ini dengan dW yang rendah dan total intensitas radiasi surya yang tinggi menyebabkan efisiensi pemanfaatan radiasi surya pada minggu ke-5 ini turun drastis.

Pada sidik ragam EPR berdasarkan waktu tanam, pada awal minggu penanaman (3 - 4 MST) terdapat beda nyata dalam pemanfaatan radiasi surya antar waktu tanam. Memasuki minggu ke 5 tidak lerdapat beda yang nyata antara Tl, T2 dan T3.

SIMPULAN DAN SARAN

Efisiensi pemanfaatan radiasi surya antar populasi pada akhir masa tanam tidak berbeda nyata, untuk P1 5.49 g MJ-1, P2 7.55 g MJ-1 dan P3 6.34 g MJ-1. Berdasarkan waktu tanam, T3 merupakan yang paling efisien dalam pemanfaatan

(6)

0 1 2 3 4 5 6 7 8 3 4 5 6 M ST E P R ( g /M J) T1 T2 T3 0 1 2 3 4 5 6 7 8 3 4 5 6 M ST E P R ( g /M J) P1 P2 P3 (a) (b)

Tabel 1. Tinggi tanaman (cm)

MST Populasi Waktu Tanam

P1 P2 P3 Tl T2 T3 2 13,1 a 13,2 a 13,3 a 11,3 b 17,4 a 11,0 b 3 30,9 a 30,1 a 30,0 a 36,3 a 33,3 b 21,4 c 4 63,2 a 58,2 a 53,8 a 65,0 a 54,7 ab 55,5 b 5 78,2 a 74,4 ab 71,8 b 86,4 a 75,2 b 62,7 c 6 80,3 a 76,1 ab 72,9 h 86,9 a 77,3 b 65,1 c

Keterangan : Data pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama, tidak berbeda nyata berdasarkan uji Tukey 5%.

Tabel 2. Berat kering tanaman (g m-2).

MST Poputasi Waktu Tanam

P1 P2 P3 Tl T2 T3 2 33,3 a 23,5 b 17,4 b 24,4 a 24,1 a 25,7 a 3 70,0 a 49,6 b 39,2 c 35,6 b 83,7 a 39,5 b 4 168,2 a 107,6 b 86,3 b 148,4 a 143,2 a 70,6 b 5 302,0 a 178,4 b 135,5 c 245,9 a 243,9 a 126,1 b 6 481,8 a 411,0 b 314,3 b 421,0 a 428,0 a 358,1 a

Keterangan : Data pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama, tidak berbeda nyata berdasarkan uji Tukey 5%.

Tabel 3. Produksi soba pada beberapa populasi dan waktu tanam.

Hasil Populasi Waktu Tanam

PI P2 P3 Tl T2 T3

Berat 1000 butir (g) 26,2 a 26,3 a 26,5 a 26,5 a 25,4 a 27,1 a Hasil total (g m-2) 172,1 a 143,6 b 123,9 b 166,1 a 146,8 ab 126,8 b Keterangan : Data pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama, tidak berbeda nyata

berdasarkan uji Tukey 5%.

Tabel 4. Efisiensi pemanfaatan radiasi surya (g MJ-1)

MST Populasi Waktu Tanam

P1 P2 P3 Tl T2 T3

1 1,474 a 1,612 a 1,215 a 0,424 a 2,858 b 1,019 c

4 2,680 a 2,167 a 2,019 a 3,456 a 1,832 b 1,578 b

5 1,312 a 1,832 ab 1,430 b 2,138 a 2,742 a 1,694 a

6 5,484 a 7,551 a 6,343 a 5,477 a 6,399 a 7,503 a

Keterangan : Data pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama, tidak berbeda nyata berdasarkan uji Tukey 5%.

Gambar 1. Hubungan umur tanaman dengan efisiensi pemanfaatan radiasi surya antar populasi (a) dan waktu tanam (b) yang berbeda.

(7)

radiasi dibandingkan dengan T2 danTl. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman soba pada populasi tinggi lebih baik dari populasi rendah, karena pada populasi tinggi kondisi iklim mikro tanaman lebih kondusif.

Berat biji 1000 butir antar populasi dan waktu tanam tidak berbeda nyata. Sedangkan produksi total P1 172.1 g m-2 berbeda nyata dengan P2 143.6 g m-2 dan P3 123.9 g m-2, tetapi P2 dan P3 tidak berbeda nyata.

DAFTAR PUSTAKA

Chodijah. 2000. Intersepsi radiasi matahari, pertumbuhan dan produksi tanaman soba

(Buckwheat Fagopyrumesculentum

Moench.). Skripsi. Jurusan Geofisika dan Meteorologi. FMIPA- IPB. Bogor.

Grubben, G. J. H & J. S. Siemonsma. 1996.

Cereals. In : G. J H. Grubben and S. Partohardjono (Editors), Plant Resources of South-east Asia no. 10 PORSEA. Bogor- Indonesia. P : 95-99.

Irawati, R. 2000. Karakteristik iklim mikro dan efisiensi penggunaan radiasi surya pada tanaman soba (Fagopyrnm esculentuin

Moench,). Skripsi, Jurusan Geofisika dan Meteorologi. FMIPA-IPB. Bogor.

Monteith, J. L. 1975. Vegetation &

Atmosphere. Academic Press. London. USDA, 1997. Composition & value common

food. United State Departement of Agriculture (USDA).

Wei, Yi-Min. 1995. Buckwheat production in China. Paper on The 6th International Symposium on Buckwheat, Faculty of Agriculture, Shinshu University on August 24-29, 1995. http://soba.shinshu-14. ac.jp.

Gambar

Tabel 3. Produksi soba pada beberapa populasi dan waktu tanam.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil bulir berdasarkan waktu tanarn yang berbeda tcrhadap produksi, TI dengan TI tidak berbeda nyata tetapi k k d a nyata dengan waktu TI, sedangkan TI tidak

• Pada musim kemarau, peningkatan suhu iklim mikro tanaman berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman terutama pada daerah yang. lengas

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,