87
BAB III
KEADILAN DI DALAM PERATURAN PENGELOLAAN
PERTAMBANGAN DI INDONESIA
Pada bab III ini, penulis akan membahas tentang keadilan di dalam
peraturan pengelolaan pertambangan di Indonesia. Sebelum menguraikan
keadilan di dalam peraturan pengelolaan pertambangan di Indonesia, dalam
bab ini penulis akan membahas mengenai sejarah pengaturan pertambangan
di Indonesia. Sedangkan hal yang terkait dengan pembahasan keadilan di
dalam peraturan pengelolaan pertambangan di Indonesia adalah kaidah
hukum asas keadilan dalam materi muatan peraturan perundang-undangan
Pertambangan, meliputi: PERPU 37 Tahun 1960 Tentang Pertambangan, UU
Nomor 11 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan,
UU Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
Selain itu, dalam bab ini penulis juga akan membahas keadilan dalam
peraturan pelaksana pertambangan sebagai contoh UU Nomor 21 Tahun
2001 Tentang Otonomi Khusus Provinsi Papua berkaitan dengan pemaknaan
keadilan dalam pengaturan pengelolaan pertambangan di Indonesia.
Dalam melakukan analisis atas asas keadilan dalam peraturan
pengelolaan pertambangan di Indonesia, penulis akan memakai aspek-aspek
terkandung di dalam Pasal 33 UUD 1945 (lihat Bab II Sub B) dapat
dikategorikan sebagai berikut: orientasi, keberpihakan, hubungan dengan
pemilik modal, dan akses mengusahakan. Dari analisis tersebut penulis akan
dapat menginterprestasikan, jenis keadilan yang manakah terdapat dalam
peraturan pengelolaan pertambangan di Indonesia.
A. Sejarah Pengaturan Pertambangan di Indonesia
Sejarah kegiatan usaha dan hukum pertambangan di Indonesia
menurut Soetaryo Sigit, secara resmi dapat ditemukan dalam catatan-catatan
kegiatan parageologist Belanda yang pernah melakukan survey di negeri ini.
Antara lain Ter Braake (1944) dan R .W Van Bemmelen (1949), serta
berbagai laporan tahunan Dinas Pertambangan Hindia Belanda
(“Jaarverslag Dienst Van Den Mijn Bow”).1 Berdasarkan catatan sejarah tersebut, maka dapat diketahui pula bahwa penambangan emas, tembaga, dan
besi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera secara komersial sudah dimulai
menjelang tahun 700 Masehi. Maka pada masa itu Pulau Sumatera dikenal
sebagai Swarna Dwipa (Pulau Emas) dan Pulau Jawa dikenal sebagai Jawa
Dwipa (Pulau Beras). Selanjutnya sejak Belanda datang pada tahun 1602
Masehi, sebagai kelompok pedagang yang tergabung dalam Verenigde Ooze
Indische Company dan terkenal dengan sebutan VOC, maka mulailah era
1
baru dalam kegiatan pengusahaan pertambangan di Indonesia yang lebih
modern dengan sekala yang besar pula.2
Pada tahun 1852 Pemerintah Hindia Belandamendirikan “Dienst van
het Mijnwezen” (Jawatan Pertambangan). Tugas jawatan ini adalah
melakukan eksplorasi geologi-pertambangan di beberapa daerah untuk
kepentingan pemerintah Hindia Belanda. Hasil penemuannya antara lain
endapan batubara Ombilin Sumatera Barat (1866), namun baru berhasil
ditambang oleh Pemerintah HindiaBelanda pada tahun 1891.3
Pada tahun 1899, Pemerintah Hindia Belanda mengundangkan
Indische Mijnwet (Staatblad 1899-214). Indische Mijnwet hanya mengatur
mengenai penggolongan bahan galian dan pengusahaan pertambangan. Oleh
karena Indische Mijnwet hanya mengatur pokok-pokok persoalan saja,
sehingga Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan pelaksanaan
berupa Mijnordonnantie yang diberlakukan mulai 1 Mei 1907.
Mijnordonnantie mengatur mengenai Pengawasan Keselamatan Kerja (tercantum dalam Pasal 356 sampai dengan Pasal 612). Kemudian pada
tahun 1930 Mijnordonnantie 1907 dicabut dan diperbaharui dengan
Mijnordonnantie 1930 yang berlaku sejak tanggal 1 Juli 1930. Dalam Mijnordonnantie 1930 tidak lagi mengatur mengenai pengawasan
2
Ibid.
3
keselamatan kerja pertambangan, tetapi diatur tersendiri dalam Mijn Politie Reglement(Staatblad 1930 No. 341).4
Kebijakan politik Kolonial yang dilakukan pemerintah Belanda
dalam rangka pengelolaan sumber daya alam bahan galian di bumi Indonesia
ini, semakin terlihat sifat penjajahnya. Dengan menerapkan kebijakan
mineral yang bersifat diskriminatif, yang memberikan perlakuan yang sangat
istimewa kepada para investor swasta bangsa Belanda. Kenyataan ini
tercermin pada amandemen pertama dari Indische Mijn wet 1899, pada tahun
1910. Amandemen ini dilakukan, untuk meningkatkan minat investor swasta
asing non-Belanda dengan menambahkan Pasal 5 yang bersifat Publik
(Konsesi) dengan Pasal 5 A dari Indische Mijn Wet 1899 tersebut, yang
bersifat Kontrak (Perdata).
Bila ditinjau secara yuridis, maka kewenangan dari Kontraktor
Kontrak 5A ini tidak sekuat kewenangan yang dimiliki oleh para pemegang
Konsesi. Adapun secara lengkap amandemen Indishe Mijn Wet 1899 ini,
menurut Soetaryo Sigitadalah sebagai berikut:5
a. Pemerintah berwenang untuk melakukan penyelidikan dan
eksploitasi selama hal itu tidak bertentangan dengan hak-hak yang telah diberikan kepada penyelidik pemegang hak konsesi;
b. Untuk hal tersebut Pemerintah dapat melakukan sendiri
penyelidikan dan eksploitasi, atau mengadakan perjanjian dengan perorangan atau perusahaan yang memenuhi persyaratan
4
Ibid.
5
sebagaimana tercantum pada pasal 4 Undang-Undang ini dan sesuai perjanjian itu, mereka wajib melaksanakan eksploitasi ataupun penyelidikan dimaksud;
c. Perjanjian yang demikian itu tidak akan dilaksanakan kecuali bila
telah disyahkan dengan Undang-Undang.
Pelaksanaan pemberian Konsesi oleh Pemerintah Hindia Belanda ini,
dilakukan dalam rangka menetapkan politik dan kebijaksaan kolonialnya atas
kekayaan alam bahan galian di Indonesia. Undang-undang pertambangan
Hindia Belanda ini lahir, dari perkembangan politik pada waktu itu yang
dilandasi oleh alam fikiran mereka yang liberalistis dan kapitalis. Kebijakan
politik penjajah di bidang pertambangan ini telah melapangkan jalan bagi “Konsesi Pertambangan”. Selanjutnya cengkeraman konsesi tersebut
terhadap kekayaan nasional bangsa Indonesia ini, berlangsung hingga 15
tahun kita merdeka. Tepatnya hingga tahun 1960, dengan diundangkannya
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.37 tahun 1960 tentang
Pertambangan dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.44
tahun 1960 tentang Migas.6
Berlangsung terusnya cengkeraman konsesi oleh para investor asing
tersebut, atas bahan galian tambang kita ini hingga tahun 1960 disebabkan
oleh adanya ketentuan yang terdapat pada Bagian A Pasal I ayat (1)
Persetujuan KMB di Den Haag pada tahun 1948, yang menetapkan antara lain bahwa: “Hak Konsesi yang diperoleh sejak zaman Penjajahan Belanda
6
dan masih berlaku pada saat pengakuan kedaulatan, tetap dihormati sampai
berakhirnya masa pemberian Hak Konsesi tersebut.”7
Berdasarkan hal itulah
maka cengkeraman konsesi ini tetap dapat berlangsung terus walaupun kita
sudah merdeka, karena masa berlakunya konsesi ini dapat mencapai 75 tahun
dan Kontrak 5 A sampai 40 tahun. Perusahaan tambang asing bangsa
Belanda sebagai pemegang konsesi Pertambangan, waktu itu antara lain
adalah: Bataafsche Petroleum Maatschappijj (BPM), Nederlandsche Pacific
Petroleum Maatschappijj (NPPM) dan Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappijj (NKPM). Selanjutnya agar tidak terkesan berbau kolonial, maka mereka segera mengganti nama perusahaan-perusahaannya tersebut,
secara berturut-turut menjadi: SCHELL, STANVAC dan CALTEX
PACIFIC.8
Keinginan Pemerintah untuk menguasai sepenuhnya pengelolaan
pertambangan, diawali oleh adanya mosi dari DPR RI kepada Pemerintah.
Mosi ini dimotori oleh seorang ahli hukum dan bekas gubernur Pertama
Propinsi Sumatera, bernama Mr. Teuku H. Mochammad Hasan. Beliau saat
itu duduk sebagai anggota DPR Komisi Perekonomian, telah melihat
berbagai kejanggalan yuridis sehubungan dengan pengelolaan kekayaan alam
nasional kita yang sebagian besar masih dikuasai oleh pihak asing sebagai
pemegang konsesi pertambangan. Hal ini menurut pandangan yuridis beliau,
7
Ibid, hal 14.
8
sangat bertentangan dengan jiwa dan semangat UUD 1945 khususnya Pasal
33 ayat (3). Maka pada tanggal 19 Juli 1951, beliau mengajukan usul kepada
Pemerintah melalui surat DPR RI No.Agd.1446/RM/DPRRI/1951, oleh
karena itu mosi tersebut terkenal sebagai Mosi Teuku Mochammad Hasan.9
Adapun beberapa pertimbangan yang mendorong beliau mengajukan usul
atau mosi tersebut, antara lain:
1) Bahwa sebagian besar ekonomi rakyat baik dalam usaha
pertambangan, maupun diluar pertambangan masih dikuasai oleh Belanda dan pihak asing lainnya. Antara lain perusahaan-perusahaan besar seperti KLM (maskapai Penerbangan ), KPM (maskapai Pelayaran), BPM dan NKPM (maskapai Perminyakan) masih dikuasai pihak Belanda. Sedangkan ekonomi menengah s/d sedang masih dikuasai oleh sekelompok pedagang Cina;
2) Bahwa sebagian besar pengusahaan kekayaan bahan galian
tambang, berdasarkan Indische Mijn Wet 1899, masih dikuasai
oleh para pemegang Konsesi Pertambangan;
3) Bahwa bila tambang-tambang tersebut diusahakan dengan
sungguh-sungguh, maka hasilnya tentu dapat digunakan untuk menutupi sebagian besar dari APBN. Berarti hasil pertambangan dapat mengurangi dan sekaligus meringankan beban rakyat, dalam kewajibannya untuk membayar pajak untuk membiayai Negara tersebut. Dengan demikian hasil pertambangan itu telah dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dapat tercapai. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (3) UUDS
1950 ( Pasal 33 ( 3 ) UU DASAR 1945 ).10
Sebagai reaksi positif pemerintah atas mosi tersebut, maka
Pemerintahan Soekarno waktu itu segera membentuk panitia Negara yang
berhasil menyiapkan RUU Pertambangan di awal tahun 1952. Namun
berhubung kondisi politik waktu itu yang masih tidak stabil, karena
9
Ibid, hal 18.
10
gangguan dari beberapa tokoh RIS yang masih pro Belanda dan anti
Soekarno, serta Kabinet juga jatuh bangun, maka RUU tersebut terhambat
untuk disampaikan ke DPR. Langkah selanjutnya pemerintah membentuk
berbagai perangkat untuk mendukung program nasionalisasi, dan pada tahun
1958 dikeluarkan Undang-Undang Nomor 86 Tahun 1958 Tentang
Nasionalisasi Perusahaan Belanda yang berlaku surut hingga Desember
1957. Undang-undang ini menjadi dasar pengambil alihan perusahaan
Belanda yang kemudian dimiliki secara penuh oleh pemerintah RI. Untuk
menangani perusahaan industri dan tambang milik Belanda dibentuk Badan
Penyelenggara Perusahaan-perusahaan Industri dan Tambang (BAPPIT),
badan ini berada di bawah kendali Menteri Perindustrian.
Pada tahun 1960 Pemerintah Indonesia menerbitkan suatu peraturan
mengenai pertambangan yang diundangkan sebagai Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang yang kemudian menjadi Undang-Undang No. 37
Prp. Tahun 1960 tentang Pertambangan yang lebih dikenal dengan
Undang-Undang Pertambangan 1960. Undang-Undang-Undang-Undang ini mengakhiri berlakunya
Indische Mijnwet 1899 yang tidak selaras dengan cita-cita kepentingan nasional dan merupakan Undang-Undang Pertambangan nasional yang
pertama. Kemudian, berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1960
milik negara menjadi perusahaan negara yang pada masa itu berjumlah
sekitar 822 perusahaan negara.
Tahun 1966, lahirlah Orde Baru yang ditandai dengan perubahan
besar dalam tata kehidupan masyarakat, peran militer dan modal asing
semakin kuat dan luas. Perubahan ini dimulai ketika MPRS mengadakan
sidang umumnya yang pertama. Sidang umum tersebut menghasilkan
berbagai keputusan penting, antara lain adanya komitmen orde baru untuk
membuka kesempatan seluas-luasnya bagi modal asing, termasuk dalam
pengelolaan kekayaan alam. Sebagai langkah konkrit adalah dengan
dikeluarkannya Ketetapan MPRS No.XXIII/1966 tentang pembaharuan
kebijaksanaan landasan ekonomi, keuangan dan pembangunan. Tindak lanjut
dari ketetapan MPRS dan instruksi presidium ditetapkanlah Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang
merupakan pengganti Undang-Undang Nomor 78 Tahun 1958. Selain itu
juga dikeluarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1968 Tentang Penanaman
Modal Dalam Negeri (PMDN). Melengkapi Undang-undang PMA,
pemerintah menetapkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang
Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. Meningkatnya sektor
pertambangan pada era Orde Baru, karena sebagian besar disebabkan oleh
Setelah hampir selama kurang lebih empat dasawarsa sejak
diberlakukannya Undang-Undang nomor 11 Tahun 1967 tentang
Ketentuan-Ketentuan Pokok pertambangan, maka lahirlah peraturan
perundang-undangan yang mengatur lebih spesifik tentang pertambangan mineral dan
batubara, yaitu Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara. Lahirnya Undang ini disebabkan
Undang-Undang yang berlaku sebelumnya materi muatannya bersifat sentralistik dan
sudah tidak sesuai dengan perkembangan situasi sekarang dan tantangan di
masa depan.
B. Asas Keadilan Dalam Materi Muatan Peraturan
Perundang-Undangan Pertambangan
1. PERPU 37 Tahun 1960 Tentang Pertambangan
a. Law Making Proses PERPU 37 Tahun 1960
Pada era Orde Lama, kondisi politik yang diwarnai oleh gejolak dan
pertentangan yang tajam di antara partai-partai politik yang ada waktu itu,
telah mengakibatkanDewan Konstituante sebagai produk pemilu 1955 gagal
untuk menyusun UUD yang baru guna menggantikan UUDS 1950. Dalam
kondisi yang kacau tersebut, selanjutnya Pemerintah untuk tetap berupaya
mencari dana dari luar. Pada tahun 1950 menteri perdagangan dan
industrialisasi yang bertugas untuk menetapkan bidang-bidang usaha yang
terbuka bagi modal asing.
Walaupun dalam kondisi yang kurang stabil tersebut, maka pada
tahun 1958 Pemerintah mengeluarkan Undang-undang No.78 Tahun 1958
tentang Penanaman modal Asing (UU PMA). Sesuai semangat ekonomi
terpimpin, maka UU PMA ini tidakmemberikan peluang kepada Penanaman
Modal Asing untuk melakukan investasi langsung pada kegiatan usaha
pertambangan untuk bahan galian yang bersifat vital (Pasal 3 UU PMA).11
Kemungkinan untuk itu tetap terbuka, akan tetapi hanya melalui bentuk
pinjaman Luar Negeri dan tidak dapat ikut terlibat langsung menangani
proyek vital tersebut. Hal ini jelas sangat tidak menarik minat para investor,
karena tidak dapat ikutterlibat langsung untuk menangani proyek besar yang
memerlukan modalbesar pula. Di samping itu ditambah lagi dengan kondisi
politik di dalam negeri yang tidak stabil waktu itu, maka walaupun adanya
jaminan dari pemerintah terhadap kegiatan usaha pertambangan waktu itu
tetap sajatidak menarik, karena tidak bersifat “bankable”.12
Demi menyelamatkan bangsa dan Negara dari pertentangan yang
semakin tajam dan perpecahan bangsa, maka Presiden Sukarno pada tanggal
5 Juli 1959 mengeluarkan Dekrit Presiden yang didukung oleh segenap
11
Ibid, hal 20.
12
lapisan masyarakat dan Angkatan Perang. Dekrit ini menyatakan: “Pembubaran Dewan konstituante dan kita kembali kepada UUD 1945,
selanjutnya dibentuklah DPRS dan MPRS sambil menunggu pemilu yang
akan datang.” Akibat adanya dekrit Presiden ini, maka kehidupan politik
liberal yang berlandaskan UUDS 1950 berakhir dan diganti dengan
Demokrasi Terpimpin yang melahirkan kebijaksanaan Ekonomi Terpimpin
pula. Atas dasar kebijaksanaan ekonomi ini, maka mulai saat itu Pemerintah
akan terlibat langsung untuk mengurus berbagai sektor kegiatan
perekonomian yang dianggap penting dan menyangkut hajat hidup orang
banyak, salah satunya adalah sektor pertambangan. Salah satu upayanya
adalah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 37 Prp.Tahun 1960 tentang
Pertambangan, kemudian Pemerintah berusaha lagi untuk menarik PMA
melalui pola Production Sharing (bagi hasil), yang indentik dengan
Pinjaman Modal Luar Negeri yang akan dikembalikan dari hasil produksi
bahan galian yang bersangkutan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 20
Tahun 1963.13
b. Norma Hukum PERPU 37 Tahun 1960
Norma hukum atau isi dari PERPU 37 Tahun 1960 ini adalah judul,
konsiderans, batang tubuh dan penjelasan umum. Judul PERPU 37 Tahun
1960 adalah Pertambangan. Konsiderans, jelas di dalamnya tertuang arah dan
13
tujuan PERPU 37 Tahun 1960 ini yaitu mengatur penambangan bahan
galian di seluruh wilayah kedaulatan bangsa dipergunakan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat, baik secara gotong-royong maupun secara
perseorangan.Dalam Konsiderans dipaparkan bahwa PERPU 37 Tahun 1960
ini mengacu pada Pasal 33 UUD 1945 yang merupakan payung hukum
pertambangan dan Pasal 22 ayat (1) UUD 1945.14
Batang tubuh, terdiri dari 13 bab dan 31 pasal. Bab 1, berisi
penjelasan istilah-istilah dalam peraturan. Bab 2, Penggolongan dan
pelaksanaan penguasaan bahan galian. Bahan galian dibagi menjadi 3 yaitu
golongan bahan galian strategis, vital dan yang tidak termasuk strategis dan
vital. Strategis adalah menyangkut keamanan, perekonomian negara dan
security approach. Vital adalah yang menjamin kebutuhan hidup orang
banyak. Bab 3, bentuk dan organisasi perusahaan pertambangan. Golongan
bahan galian strategis dilaksanakan oleh instansi pemerintah yang ditunjuk
oleh menteri, perusahaan negara, pihak swasta yang didirikan sesuai dengan
peraturan-peraturan RI bertempat kedudukan di Indonesia dan bertujuan
berusaha dalam lapangan pertambangan dan pengurusnya memiliki
kewarganegaraan Indonesia dan bertempat tinggal di Indonesia,dan menurut
pertimbangan dari segi ekonomi dan pertambangan lebih menguntungkan
14 Pasal 22 ayat (1) UUD 1945: “
bagi negara apabila diusahakan oleh swasta serta rakyat, yaitu bahan galian
yangsedemikian kecil sehingga lebih menguntungkan jika diusahakan secara
sederhana atau kecil-kecilan. Golongan bahan galian vital dilaksanakan oleh
instansi pemerintah (perusahaan negara atau daerah) dan badan atau
perseorangan swasta yang memenuhi syarat seperti di atas serta badan
hukum koperasi.
Bab 4, usaha pertambangan, meliputi penyelidikan umum eksplorasi,
eksploitasi, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan. Bab 5,
kuasa pertambangan. Dalam usaha pertambangan hanya boleh dilakukan
oleh pihak yang mempunyai kuasa pertambangan. Kuasa pertambangan
diberikan dengan Keputusan Menteri. Dalam kuasa pertambangan untuk
usaha pertambangan terdapatbeberapa ketentuan, di antaranya: 15
a) tidak boleh mengganggu pertambangan rakyat yangtelah ada
b) tidak meliputi tempat tertutupuntuk kepentingan umum
c) tidak meliputi makam-makam, tempat yang dianggap suci,
pekerjaan-pekerjaan kereta api, saluran air,listrik, gas dan sebagainya
d) tidak meliputi tempat-tempat pekerjaan usaha pertambangan lain
e) tidak meliputi bangunan-bangunan, rumah tempat tinggal atau
pabrik-pabrik beserta tanah-tanah pekarangan sekitarnya, kecuali ada ijin yang berkepentingan.
Bab 6, cara dan syarat-syarat memperoleh kuasa pertambangan.
Untukmemperoleh kuasa pertambangan diajukan kepada menteri dan
syarat-syaratnya diaturdengan PP. Bab 7, tentang berakhirnya kuasa pertambangan
ada 3 (tiga), yaitu: dikembalikan, dibatalkan, dan habis waktunya.
15
Dikembalikan, adalah dikembalikan kepada menteri dengan pernyataan
tertulis dan disetujui menteri. Dibatalkan, dapat dibatalkan dengan Kepmen
jika pemegang kuasa pertambangan tidak memenuhi syarat yang ditetapkan
dalam PP dan atau ingkar dalam menjalankan perintah-perintah danpetunjuk
dari negara. Bab 8, hubungan kuasa pertambangan dengan hak tanah.
Pemegang kuasa pertambangan wajib memberikan ganti rugi akibat
usahanya kepada pemegang hak atastanah, baik disengaja maupun tidak.
Bab 9, pungutan-pungutan negara. Pemegang kuasa pertambangan
membayar kepada negara berupa iuran tetap, iuran eksplorasi dan/atau
eksploitasi dan pembayaran-pembayaran yang berhubungan dengan kuasa
pertambangan yang bersangkutan. Bab 10, pengawasan pertambangan. Tata
usaha dan pengawasan pekerjaan dan pelaksanaan pertambangan dipusatkan
kepada Departemen yang lapangan tugasnya meliputi pertambangan.
Bab 11, ketentuan-ketentuan pidana. Kualifikasinya tindak pidana
kejahatan dan pelanggaran. Unsur kesalahan adalah adanya unsur
kesengajaan. Ancaman pidana berupa penjara, kurungan dan denda. Jenis
perbuatan pidana:16
1) tidak mempunyai kuasa pertambangan, namun melakukan usaha
pertambangan.
2) melakukan usaha pertambangan sebelum memenuhi kewajiban
terhadap pemegang hakatas tanah,
3) merintangi usaha pertambangan yang syah,
16
4) pemegang hak atas tanah merintangi usaha pertambangan padahal
kewajiban sudahterpenuhi,
5) pemegang kuasa pertambangan tidak memenuhi kewajibannya,
6) pemegang kuasa pertambangan tidak memenuhi syarat,
7) pemegang kuasa tidak melakukan perintah dan/atau petunjuk
negara.
Bab 12, ketentuan-ketentuan peralihan. Semua hak pertambangan
perusahaan dan/atau perseorangan yang bukan Perusahaan Negara, yang
diperoleh berdasarkan peraturan yang ada sebelum saat berlakunya Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-undang ini, tetap dapat dijalankan untuk
jangka waktu yang sesingkat-singkatnya. Bab 13, Ketentuan-ketentuan
penutup. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini mulai berlaku
pada hari diundangkan, dan dapat disebut "Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-undang Pertambangan".
c. Asas Keadilan Dalam PERPU 37 Tahun 1960
1. Orientasi
PERPU 37 Tahun 1960 merupakan pelaksanaan dari pada Dekrit
Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia tertanggal
5 Juli 1959, ketentuan-ketentuan dalam pasal 33 Undang-undang Dasar dan
Manifesto Politik Republik Indonesia tersebut 17 Agustus 1959, sebagai
yang ditegaskan dalam amanat Presiden pada tanggal 17 Agustus 1960 yang
mewajibkan Negara untuk mengatur penambangan bahan galian di seluruh
wilayah kedaulatan bangsa dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran
yang menjadi orientasi dalam PERPU 37 Tahun 1960. Dari konsideran
tersebut maka dapat dijabarkan ada dua orientasi dalam PERPU 37 Tahun
1960, yaitu:
a. Kedaulatan negara.
Hal tersebut tercermin dari Pasal 2 ayat (1) PERPU 37 Tahun 1960:
“Segala bahan galian yang berada di dalam, di atas dan di bawah
permukaan bumi, dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia yang merupakan letakan-letakan atau timbunan-timbunan alam
adalah kekayaan nasional dan dikuasai oleh Negara”17
Pada dasarnya prinsip kedaulatan negara yang diadopsi dalam
PERPU 37 Tahun 1960 sama dengan apa yang pada Indische Mijnwet 1899.
Namun terdapat perubahan yang signifikan antara lain, perubahan dari sistem
konsesi ke sistem pengusahaan pertambangan yang mana kegiatan usaha
pertambangan dilakukan oleh negara atau daerah. Kalaupun sebuah badan
usaha swasta hendak melakukan kegiatan usaha pertambangan dilakukan
melalui usaha bersama negara atau daerah.
b. Kemakmuran rakyat.
Dari kandungan konsideran PERPU 37 Tahun 1960 sangat terasa
bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia cukup dijamin. PERPU
37 Tahun 1960 ingin penambangan bahan galian di seluruh wilayah
kedaulatan bangsa dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat—
dengan demikian nasionalisme Indonesia jika ingin difungsikan dalam
17
kenyataan tidak harus sekedar ditujukan untuk melawan eksploitasi dan
dominasi asing dalam politik, ekonomi, dan budaya, tetapi juga harus
dihadapkan kepada unsur kolonial domestik. Hal ini tercermin dalam Pasal 8
PERPU 37 Tahun 1960: Pelaksanaan pertambangan golongan bahan galian
yang vital dapat dikuasakan kepada pihak swasta yaitu badan hukum yang
didirikan sesuai dengan peraturan-peraturan Republik Indonesia, bertempat
kedudukan di Indonesia dan bertujuan berusaha dalam lapangan
pertambangan dan pengurusnya mempunyai kewarganegaraan Indonesia dan
bertempat tinggal di Indonesia; dan juga perseorangan yang
berkewarganegaraan Indonesia dan bertempat tinggal di Indonesia. Namun
dalam Penjelasan Pasal 8 PERPU 37 Tahun 1960 menegaskan bahwa
ketentuan dalam pasal ini bermaksud untuk menjamin kepentingan
masyarakat seluruhnya. Dalam pelaksanaannya akan diberikan pengutamaan
kepada Koperasi. Hal ini sesuai dengan cita-cita keadilan Soekarno yang
pernah mengatakan bahwa:
“Sudah pernah saya katakan bahwa cita-cita dengan keadilan sosial
ialah suatu masyarakat yang adil dan makmur. Saya tekankan adil dan makmur, makmur dan adil, dengan menggunakan alat-alat
industri, alat-alat teknologi yang sangat modern....Tetapi
industrialisme modern itu kita pergunakan untuk kepentingan
umum.”18
2. Keberpihakan
18
Dalam konsiderans PERPU 37 Tahun 1960 dinyatakan bahwa untuk
mencapai kemakmuran rakyat dilakukan baik secara gotong-royong maupun
secara perseorangan. Gotong-royong adalah pembanting tulang bersama
pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama—amal
semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua.19
Gagasan keadilan sosial tidak bisa terlepas dari gerakan persatuan dan
gotong royong. Justru bangsa yang tahu bersatu dan mau berkerjasama akan
dapat memahami nilai keadilan sosial yang berujung pada kemakmuran
rakyat. Dari hal tersebutlah maka dalam keberpihakan PERPU 37 Tahun
1960 ini pro-rakyat.
3. Hubungan Dengan Pemilik Modal
Dalam PERPU 37 Tahun 1960, mengijinkan Pemerintah menarik
modal asing untuk mengembangkan eksplorasi dan eksploitasi pertambangan
berdasarkan pola production sharing contract seperti yang diatur dalam
Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 1963.20 Pola bagi hasil ini pada
dasarnya tidak lain berupa peminjaman modal dari pihak asing yang akan
dibayar kembali dengan hasil produksi.21 Production Sharing Contract
mempunyai beberapa ciri utama, yaitu :22
19
Saafroedin Bahar (ed), Op.cit, hal 82.
20
Departemen Pertambangan dan Energi, Op cit, hal. 265.
21
Abrar Saleng, Op cit, hal. 70.
22
a. Manajemen ada di tangan negara (perusahaan negara)
Negara ikut serta dan mengawasi jalannya operasi pertambangan
minyak dan gas bumi secara aktif dengan tetap memberikan
kewenangan kepada kontraktor untuk bertindak sebagai operator dan
menjalankan operasi di bawah pengawasannya. Negara terlibat
langsung dalam proses pengambilan keputusan operasional yang
biasanya dijalankan dengan mekanisme persetujuan (approval). Inti
persoalan dalam masalah ini adalah batasan sejauh mana persetujuan
negara atau perusahaan negara diperlukan dalam proses pengambilan
keputusan.
b. Penggantian biaya operasi (operating cost recovery)
Kontraktor mempunyai kewajiban untuk menalangi terlebih dahulu
biaya operasi yang diperlukan, yang kemudian diganti kembali dari
hasil penjualan atau dengan mengambil bagian dari pertambangan
yang dihasilkan. Besaran penggantian biaya operasi ini tidak harus
selalu penggantian penuh (full recovery). bisa saja hanya sebagian
tergantung darihasil negosiasi.
c. Pembagian hasil produksi (production split)
Pembagian hasil produksi setelah dikurangi biaya operasi dan
kewajiban lainnya merupakan keuntungan yang diperoleh oleh
kontraktor dan pemasukan dari sisi negara. Besaran pembagian hasil
produksi ini berbeda-beda tergantung dari berbagai faktor.
d. Pajak (Tax)
Pengenaan pajak dikenakan atas kegiatan operasi kontraktor,
besarannya dikaitkan dengan besarnya pembagian hasil produksi
antara negara dengan kontraktor. Prinsipnya adalah semakin besar
bagian negara maka pajak penghasilan yang dikenakan atas
kontraktor akan semakin kecil.
e. Kepemilikan asset ada pada negara (perusahaan negara)
Umumnya semua peralatan yang diperlukan untuk pelaksanaan
operasi menjadi milik perusahaan negara segera setelah dibeli atau
setelah depresiasi. Ketentuan ini mengecualikan peralatan yang
disewa karena kepemilikannya memang tidak pernah beralih kepada
kontraktor.
4. Akses Mengusahakan
Dalam PERPU 37 Tahun 1960, peran negara (melalui Perusahaan
Negara) dan atau daerah (Perusahaan Daerah) menjadi otoritas yang selalu
terlibat dalam kegiatan usaha pertambangan. Pelaksanaan kegiatan usaha
pertambangan dilakukan oleh negara (Perusahaan Negara) atau oleh negara
bersama-sama daerah untuk bahan galian strategis. Kemudian pelaksanaan
Negara) atau daerah (Perusahaan Daerah) serta dilakukan oleh Badan atau
perorangan swasta yang melakukan usaha bersama dengan negara atau
daerah dimana harus Badan usaha tersebut harus berbadan hukum Indonesia
dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan. Untuk bahan galian yang bukan
termasuk bahan galian strategis dan bahan galian vital diatur oleh
Pemrerintah Daerah Tk. I (Pemerintah Provinsi). Melihat ketentuan tersebut,
maka perusahaan asing tidak dapat secara langsung melakukan kegiatan
usaha pertambangan di Indonesia bahkan untuk bahan galian non-strategis
dan atau bahan galian non-vital sekalipun. Dalam hal inilah mencegah
adanya exploitation de I’homme par I’homme.
Pengusahaan pertambangan terhadap bahan-bahan galian
sebagaimana tersebut di atas (strategis dan vital) hanya dapat dilakukan
setelah memperoleh Kuasa Pertambangan. Pendapatan negara melalui
PERPU 37 Tahun 1960 didapat dari pungutan-pungutan terhadap iuran pasti,
iuran eksplorasi dan/atau eksplotasi dan/atau pembayaran-pembayaran
lainnya yang berhubungan dengan pemberian kuasa pertambangan yang
bersangkutan. Ketentuan yang berkaitan dengan perlindungan terhadap Hak
Masyarakat Adat yaitu, masyarakat yang terkena dampak negatif secara
langsung dari kegiatan usaha pertambangan sebagaimana terdapat dalam
Pasal 21 PERPU 37 Tahun 1960 yang menyatakan bahwa mereka yang
pertambangan atas tanah yang bersangkutan, jika kepadanya sebelum
pekerjaan dimulai, dengan diperlihatkannya surat kuasa pertambangan atau
salinannya yang syah, diberitahukan tentang maksud dan tempat
pekerjaan-pekerjaan itu akan dilakukan, diberi ganti kerugian atau jaminan ganti
kerugian itu terlebih dahulu. Selain itu, Pemegang kuasa pertambangan
diwajibkan mengganti kerugian akibat dari usahanya pada segala sesuatu
yang berada di atas tanah kepada yang berhak atas tanah, dengan tidak
memandang apakah perbuatan itu dilakukan dengan atau tidak dengan
sengaja, maupun kerugian yang dapat atau tidak dapat diketahui terlebih
dahulu. Analisis di atas menunjukkan bahwa susbstansi dalam PERPU 37
Tahun 1960 mencerminkan usaha untuk mewujudkan keadilan sosial.
2. UU Nomor 11 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Pertambangan
a. Law Making Proses UU Nomor 11 Tahun 1967
Pada pasca Pemerintahan Orde lama, maka Pemerintah Orde Baru
mulai menata kehidupan politik kembali dan memprioritaskan pembangunan
ekonomi, berdasarkan Tap MPRS Nomor XXIII-/MPRS/1966. Dalam
pembangunan di bidang pertambangan, Tap MPRS ini menetapkan antara
lain :23
23
1) Kekayaan potensial yang terdapat dalam alam Indonesia perlu digali dan diolah agar dapat dijadikan kekuatan ekonomi riil, (Pasal 8 Bab II);
2) Potensi modal, teknologi dan keahlian dari luar negeri dapat
dimanfaatkan untuk penanggulangan kemerosotan ekonomi serta pembangunan Indonesia (Pasal 10 Bab II );
3) Dengan mengingatnya terbatasnya modal dari luar negeri, perlu
segera ditetapkan undang-undang tentang modal asing dan modal domestic (Pasal 62 bab VIII );
Dengan menelaah isi Tap MPRS tersebut di atas, maka terlihat jelas
bahwa ketetapan yang dilakukan oleh Lembaga Tertinggi Negara tersebut,
adalah sangat tepat. Terutama ditujukan untuk pembangunan di bidang
pertambangan yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan sekaligus
sebagai andalan utama penghasil devisa waktu itu. Untuk mendukung
amanat MPRS tersebut, maka UU No. 37 Prp. Tahun 1960 tentang
Pertambangan dan UU No. 78 Tahun 1958 tentang PMA, perlu direvisi dan
disesuaikan dengan maksud dan tujuan amanat MPRS tersebut.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka Departemen perindustrian
dan Pertambangan waktu itu, segera membentuk panitia penyusun RUU
Pertambangan yang diketuai oleh Soetaryo Sigit.24 Selanjutnya hasil kerja
panitia ini, sudah dapat diajukan ke sidang DPR menjelang pertengahan
tahun 1967. Maka dimulailah babak baru dalam bisnis pertambangan di
Indonesia, yang diawali dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing sebagai revisi UU No. 78
24
Tahun 1958. Dimana dalam dalam Pasal 8 ayat (1) Undang-UndangNomor 1 Tahun 1967 ini ditetapkan bahwa: “Penanaman Modal Asing di bidang Pertambangan didasarkan pada suatu kerjasama dengan Pemerintah atas dasar Kontrak Karya atau bentuk lain sesuai dengan peraturan yang berlaku”.
Untuk lebih mendukung masuknya PMA di bidang pertambangan ini, maka
menjelang akhir tahun 1967 Pemerintah mengundangkan Undang-Undang
No.11 Tahun 1967 sebagai penyempurnaan Undang-undang No.37 Prp.1960
yang belum berhasil menarik minat investor.
b. Norma Hukum UU Nomor 11 Tahun 1967
Norma hukum atau isi dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967
ini adalah judul, konsiderans, batang tubuh dan penjelasan umum. Judul,
ketentuan-ketentuan pokok pertambangan. Judul ini kurang tepat karena
adanya kata pokok. Idealnya ketentuan pokok hanya satu, dalam hal ini
adalah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang UUPA. Alasannya
dapat dilihat pada pasal 1 UUPA yang menyebutkan bahwa bumi, air dan
kekayaan alam yang terkandungdi dalamnya merupakan bagian dari agraria.
Pada masa ini perundang-undangan trendnyamenggunakan istilah
ketentuan-ketentuan pokok.
Konsiderans, jelas di dalamnya tertuang arah dan tujuan
dikemukakan oleh W.W Rostow25. Jadi tujuannya adalah bukan pemenuhan
target, tetapi pertumbuhan ekonomi yang bertujuan mengadakan eksploitasi
besar-besaran terhadap sumber daya alam. Seharusnya dalam konsiderans
dicantumkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang UUPA karena
dianggap sebagai payung dari undang-undang keagrariaan di Indonesia.
PencantumanKeppres RI No.163 tahun 1966 dan Keppres RI No.171 tahun
1967 tidak tepat karena peraturan ini berada di bawah UU. Aturannya
peraturan yang berada di bawahnya tidakboleh menjadi konsiderans.
Batang tubuh, terdiri dari 12 bab dan 37 pasal. Bab 1 ketentuan
umum berisi penguasaan dan pengusahaan sumber daya alam. Bab 2
Penggolongan dan pelaksanaan penguasaan bahan galian. Bahan galian
dibagi menjadi 3 yaitu golongan bahan galian strategis, vital dan yang tidak
termasuk strategis dan vital. Strategis adalah menyangkut keamanan,
perekonomian negara dan security approach. Vital adalah yang menjamin
kebutuhan hidup orang banyak. Bab 3, bentuk dan organisasi perusahaan
pertambangan. Golongan bahan galian strategis dilaksanakan oleh instansi
25
pemerintah yang ditunjuk oleh menteri, perusahaan negara, pihak swasta
yang didirikan sesuai dengan peraturan-peraturan RI bertempatkedudukan di
Indonesia dan bertujuan berusaha dalam lapangan pertambangan dan
pengurusnya memiliki kewarganegaraan Indonesia dan bertempat tinggal di
Indonesia, dan menurut pertimbangan dari segi ekonomi dan pertambangan
lebih menguntungkan bagi negara apabila diusahakan oleh swasta serta
rakyat, yaitu bahan galian yang sedemikian kecil, sehingga lebih
menguntungkan jika diusahakan secara sederhana atau kecil-kecilan.
Golongan bahan galian vital dilaksanakan oleh instansi pemerintah
(perusahaan negara atau daerah) dan badan atau perseorangan swasta yang
memenuhisyarat seperti di atas serta badan hukum koperasi.Terdapat 3 jenis
hak pengusahaan pertambangan, yaitu kuasa pertambangan, kontrak karya
dan pertambangan rakyat. Kuasa pertambangan diberikan untuk semua jenis
bahan tambang golongan A dan B dan tertutup bagi modal asing. Kontrak
karya merupakan hak pertambangan yang membuka peluang modal asing
untuk investasi di Indonesia. Pertambangan rakyat adalah hak yang dapat
diperoleh rakyat setempat (tempat bahan tambang) dengan luas dan waktu
yang sangat terbatas.
Bab 4, usaha pertambangan, meliputi penyelidikan umum eksplorasi,
eksploitasi, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan. Bab 5,
oleh pihak yang mempunyai kuasa pertambangan. Kuasa pertambangan
dapat diberikan kepada semua di atas, selain rakyat (pertambangan rakyat).
Dalam kuasa pertambangan untuk usaha pertambangan terdapat beberapa
ketentuan, di antaranya:26
a) tidak boleh mengganggu pertambangan rakyat yang telah ada
(kecuali untuk kepentingan negara)
b) tidak boleh dilakukan di tempat tertutup untuk kepentingan umum,
lapangan-lapangan dan bangunan-bangunan pertahanan.
c) makam-makam, tempat yang dianggap suci, pekerjaan-pekerjaan
kereta api, saluran air,listrik, gas dan sebagainya
d) tempat-tempat usahan pertambangan lain
e) bangunan-bangunan, rumah tempat tinggal atau pabrik-pabrik beserta
tanah-tanah pekarangan sekitarnya, kecuali ada ijin yang berkepentingan.
Bab 6, cara dan syarat-syarat memperoleh kuasa pertambangan.
Untukmemperoleh kuasa pertambangan diajukan kepada menteri dan
syarat-syaratnya diaturdengan PP. Bab 7, tentang berakhirnya kuasa pertambangan
ada 3 (tiga), yaitu: dikembalikan, dibatalkan, dan habis waktunya.
Dikembalikan, adalah dikembalikan kepada menteri dengan pernyataan
tertulis dan disetujui menteri. Dibatalkan, dapat dibatalkan dengan Kepmen
jika pemegang kuasa pertambangan tidak memenuhi syarat yang ditetapkan
dalam PP dan atau ingkar dalam menjalankan perintah-perintah danpetunjuk
dari negara.
26
Bab 8, hubungan kuasa pertambangan dengan hak tanah. Pemegang
kuasa pertambangan wajib memberikan ganti rugi akibat usahanya kepada
pemegang hak atastanah, baik disengaja maupun tidak. Selain itu pemegang
hak atas tanah juga wajib memperbolehkan pekerjaan pemegang kuasa
pertambangan atas tanah yang bersangkutan atas dasar mufakat, alurnya
adalah: 27
1) pemegang kuasa pertambangan dan pemilik hak atas tanah
bermufakat tentang besarnya ganti rugi, jika tidak tercapai
2) penentuan ganti rugi oleh menteri jika pemilik tidak menyetujui
3) diserahkan kepada pengadilan negeri yang daerah hukumnya
meliputi daerah/wilayah yang bersangkutan.
Bab 9, pungutan-pungutan negara. Pemegang kuasa pertambangan
membayar kepada negara berupa iuran tetap, iuran eksplorasi dan/atau
eksploitasi dan pembayaran-pembayaran yang berhubungan dengan kuasa
pertambangan yang bersangkutan. Untuk daerah tingkat I dan II juga
dilakukan pungutan-pungutan tersebut. Bab 10, pengawasan pertambangan.
Pengawasan hasil pertambangan dipusatkan kepada menteri, meliputi
keselamatan kerja, pengawasan produksi, kegiatan lainnya yangmenyangkut
kepentingan umum. Selain itu pemegang kuasa pertambangan juga
diwajibkan mengembalikan tanah sedemikian rupa sehingga tidak
menimbulkan bahaya penyakit atau bahaya lainnya bagi masyarakat
sekitarnya.
27
Bab 11, ketentuan pidana. Subyek hukumnya adalah orang
perorangan, badan hukum, negara (pemerintah pusat maupun daerah).
Kualifikasinya tindak pidana kejahatan dan pelanggaran. Unsur kesalahan
adalah adanya unsur kesengajaan. Ancaman pidana berupa penjara, kurungan
dandenda. Jenisperbuatan pidana: 28
1) melakukan usaha pertambangan tanpa surat kuasa pertambangan,
2) melakukan usaha pertambangan sebelum memenuhi kewajiban
terhadap pemegang hakatas tanah,
3) merintangi usaha pertambangan tanpa mempunyai hak atas tanah,
4) pemegang hak atas tanah merintangi usaha pertambangan padahal
kewajiban sudahterpenuhi,
5) pemegang kuasa pertambangan tidak memenuhi kewajibannya,
6) pemegang kuasa pertambangan tidak memenuhi syarat,
7) pemegang kuasa tidakmelakukan perintah dan/atau petunjuk.
Bab 12, ketentuan peralihan dan penutup. Untuk pelaksanaan lebih
lanjut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 membutuhkan peraturan
pelaksana, berupa peraturan pemerintah. Namun ternyata belum semua
peraturan pelaksana tersebut dapat terbentuk. Sehingga dalam
pelaksanaannya karena belum ada peraturan yang mengatur maka dalam
kegiatannya menggunakan peraturan lama atau menurut penafsiran
pemerintah sendiri. Sehinggaseringkali pihak-pihak yang berkuasa bertindak
untuk keuntungan sendiri danmengesampingkan kepentingan rakyat—alasan
yang sering digunakan adalah untukkepentingan umum.
28
c. Asas Keadilan Dalam UU Nomor 11 Tahun 1967
1. Orientasi
Sejak dari konsiderans sudah terlihat bahwa UU Nomor 11 Tahun 1967 beorientasi kepada eksploitasi. Ketentuan “Menimbang” huruf a
menyatakan, bahwa guna mempercepat terlaksananya pembangunan
ekonomi Nasional dalam menuju masyarakat Indonesia yang adil dan
makmur, materil dan spirituil berdasarkan Pancasila maka perlulah
dikerahkan semua dana dan daya untuk mengolah dan membina segenap
kekuatan ekonomi potensiil di bidang pertambangan menjadi kekuatan
ekonomi riil. Eksploitasi tambang yang diusung oleh UU Nomor 11 Tahun
1967 memang sejalan dengan politik pembangunan ekonomi yang
digerakkan oleh rezim yang berkuasa saat itu (1967), yaitu pada masa-masa
awal pemerintahan orde baru. Orientasi seperti itu semakin terlihat pada
ketentuan “Menimbang” huruf b, UU Nomor 11 Tahun 1967 dikeluarkan
dalam rangka memperkembangkan usaha-usaha pertambangan Indonesia di
masa sekarang dan di kemudian hari. Landasan filosofis, yang menyiratkan
tujuan dari UU Nomor 11 Tahun 1967 untuk mengembangkan usaha-usaha
pertambangan, memberi warna bagi isi UU Nomor 11 Tahun 1967 pasal
demi pasal.
Sejalan dengan orientasinya yang bersifat eksploitatif, UU ini
cenderung lebih berpihak kepada para pemilik modal atau pengusaha di
bidang pertambangan (prokapital). Dalam Penjelasan Umum Alinea 4 UU ini
dapat diketahui bahwa latar belakang lahirnya UU ini adalah untuk
kepentingan usaha di bidang pertambangan. Misi eksploitasi dan prokapital
tersebut mewarnai isi atau batang tubuh UU ini. Hal ini tergambar, salah
satunya, dari ketentuan yang terdapat pada Pasal 5 sampai dengan 12 yang mengatur tentang “Bentuk dan Organisasi Perusahaan Pertambangan”.
Konsep dasar penguasaan Negara atas bahan galian tambang,
dipertegas dalam Pasal 1Undang-undang No. 11 tahun 1967: “Segala bahan
galian yang terdapat di wilayah hukum pertambangan Indonesia yang
merupakan endapan-endapan alam sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa,
adalah kekayaan Nasional Bangsa Indonesia dan oleh karenanya dikuasai
dan dipergunakan olehNegara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”
Jika kita mengkaji tujuan hukum yang ada dalam Undang-undang Nomor 11
tahun 1967,pada bagian menimbang adalah untuk :29
a. Mempercepat terlaksananya pembangunan ekonomi nasional dalam
menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila;
b. Perlu adanya pengerahan semua dana dan daya untuk mengolah dan
membina segenap kekuatan ekonomi potensial di bidang pertambangan menjadi kekuatan ekonomi;
29
Berdasarkan konsep dasar dalam Pasal 1 Undang-undang No. 11
tahun 1967, merupakanpengakuan pembentuk Undang-undang bahwa :30
a. Bahan-bahan galian tambang yang ada di Bumi Indonesia merupakan
Karunia Tuhan Yang Maha Esa;
b. Negara menguasai bahan galian tersebut untuk diperuntukkan
sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Pengakuan penguasaan negara atas bahan galian dengan demikian
jelas tujuannya adalah diperuntukkan sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Demikian pula tujuan dari UU Nomor 11 Tahun 1967 adalah meningkatkan
perekonomian negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pada
konsep ini terlihat masih ada kesesuaian tujuan dengan teori hukum, bahwa
tujuan hukum adalah keadilan dan kemanfaatan. Pernyataan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat mengandung unsur di dalamnya keadilan dan
kemanfaatan.
Namun jika ditinjau ke dalam substansi Undang-undang Nomor 11
tahun 1967, terdapat beberapa perbedaan dari tujuan semula untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan pandangan teori hukum bahwa hukum
ditujukan untuk menciptakan keadilan dan kemanfaatan. Beberapa substansi
yang tidak konsisten :
a. Tidak ada perlindungan khusus bagi pertambangan rakyat
30
Suatu usaha pertambangan dapat dilakukan oleh perseorangan atau
perusahaan yang kepadanya telah diberikan kuasa pertambangan, hal
ini diatur dalam Pasal 15 ayat 1 Undang-undang Nomor11 tahun 1967.
Menurut Pasal 2 (i), yang dimaksud dengan kuasa pertambangan adalah
wewenang yang diberikan kepada badan/perseorangan untuk
melaksanakan usaha pertambangan. Bagi pertambangan rakyat dapat
diberikan kuasa pertambangan jika mendapatkan ijin pertambangan
(Pasal 11 ayat (2)). Ketentuan tersebut tanpa maksud memberikan
perlindungan khusus membawa dampak hampir semua pertambangan
skala besar di Indonesia dikuasai modalasing, sehingga sebagian besar
keuntungan dari usaha pertambangan di Indonesia akan lari keluar
negeri. Sementara masyarakat adat yang telah menambang secara
turun-temurun tidak mendapatkan ijin pertambangan. Berdasarkan
ketentuan ini maka jelas tujuan menciptakan kemakmuran
sebesar-besarnyatidaklah terwujud.
b. Masyarakat pemilik hak atas tanah tidak memiliki hak tolak terhadap
pertambangan.
Di dalam Pasal 26 Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967, dinyatakan
apabila telah didapat ijin kuasa pertambangan atas sesuatu daerah atau
wilayah menurut hukum yang berlaku, maka kepada mereka yang
kuasa pertambangan atas tanah yang bersangkutan atas dasar mufakat
kepadanya:
a. sebelum pekerjaan dimulai, dengan diperlihatkannya surat kuasa
pertambangan atau salinannya yang sah diberitahukan tentang
maksud dan tempat pekerjaan-pekerjaan itu akan dilakukan ;
b. diberi ganti kerugian atau jaminan ganti kerugian itu terlebih
dahulu.
Berdasarkan ketentuan tersebut nampak bahwa tidak ada peluang bagi
masyarkat untuk menolak beroperasinya perusahaan pertambangan,
hak masyarakat hanyalah menerima ganti rugi saja. Ketentuan ini
jelas-jelas dapat merugikan kepentingan pemilik hak atas tanah yang
mungkin mempunyai orientasi lain untuk mengusahakan tanahnya
selain pertambangan. Ketentuan ini jelas mengesampingkan nilai-nilai
keadilan.
c. Hak Pemegang hak atas tanah terpinggirkan
Secara substansi ketentuan tentang hak-hak atas tanah dalam UU
Pokok Pertambangan ini rentan menimbulkan konflik dengan
pemegang hak atas tanah, hal ini terjadi karena kepentingan pemegang
kuasa pertambangan. Meskipun hak untuk mendapat ganti kerugian
secara tegas dinyatakan dalam Pasal 27, yaitu :31
a. Apabila telah ada hak tanah atas sebidang tanah yang bersangkutan
dengan wilayah kuasa pertambangan, maka kepada yang berhak diberi ganti rugi yang jumlahnya ditentukan bersama antara pemegang kuasa pertambangan yang mempunyai hak atas tanah tersebut atas dasar musyawarah dan mufakat, untuk penggantian sekali atau selama hak itu tidak dapat diperguanakan.
b. Jika yang bersangkutan tidak dapat mencapai kata mufakat tentang
ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini, maka penentuannya diserahkan kepada Menteri.
c. Jika yang bersangkutan tidak dapat menerima penentuan Menteri
tentang ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal ini, maka penentuannya diserahkan kepada Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi daerah/wilayah yang bersangkutan.
d. Ganti rugi yang dimaksud pada ayat (1), (2), dan (3) Pasal ini
beserta segala biaya yang berhubungan dengan itu dibebankan kepada pemegang kuasa pertambangan yang bersangkutan.
e. Apabila telah diberikan kuasa pertambangan pada sebidang tanah
yang di atasnya tidak terdapat hak tanah, maka atas sebidang tanah tersebut atau bagian-bagiannya tidak dapat diberi hak tanah kecuali dengan persetujuan Menteri.
d. Kriminalisasi Rakyat
Masyarakat yang berhadapan dengan perusahaan pertambangan harus
menghadapi upaya kriminalisasi.32 Bahkan upaya kriminalisasi tersebut
31
Lihat Pasal 27 UU Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan.
32
dilegalkan menurut ketentuan Undang-undang Nomor 11 tahun 1967 Pasal
32 yang ditentukan bahwa :33
1. Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya satu tahun
dan/atau dengan denda setinggi-tingginya lima puluh ribu rupiah, barangsiapa yang tidak berhak atas tanah merintangi atau mengganggu usaha pertambangan yang sah.
2. Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan
dan/atau dengan denda setinggi-tingginya sepuluh ribu rupiah, barang siapa yang berhak atas tanah merintangi atau mengganggu usaha pertambangan yang sah, setelah pemegang kuasa
pertambangan memenuhi syarat-syarat sebagaimana yang
tercantum dalam Pasal 26 dan 27 Undang-undang ini.
3. Hubungan dengan pemilik modal.
Dalam UU No 11 Tahun 1967 tentang pertambangan, hubungan
dengan pemilik modal diikat dengan perjanjian kontrak karya.Pasal 10 UU
No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan
menyatakan bahwa:
(1) Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor apabila
diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara ybs selaku pemegang kuasa pertambangan.
(2) Dalam mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti
yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara harus berpegang pada pedoman-pedoman, petunjuk-petunjuk dan syarat-syarat yang diberikan oleh Menteri.
(3) Perjanjian karya tersebut dalam ayat (2) pasal ini berlaku sesudah
disyahkan oleh Pemerintah setelah berkonsultasi dengan DPR apabila menyangkut eksploitasi golongan a sepanjang mengenai bahan-bahan galian yang ditentukan dalam pasal 13 UU ini dan/atau yang perjanjian karyanya berbentuk PMA.
33
Perjanjian karya merupakan perjanjian antara instanstansi pemerintah
atau perusahaan Negara sebagai pemegang kuasa pertambangan dengan
kontraktor yang ditunjuk oleh Menteri. Hal ini dilakukan jika diperlukan
untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dapat
dilaksanakan sendiri oleh Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara yang
bersangkutan. Pasal ini menjadi dasar untuk “kontrak karya” baik dengan
pihak modal dalam Negeri mau pun dengan modal Asing (Penjelasan Pasal
10).
4. Akses Mengusahakan.
Hal ini ditunjukkan pada hubungan antara orang dengan tambang
atau bahan galian dalam UU ini disebut dengan “kuasapertambangan”. Pasal
2 huruf (i) UU ini menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kuasa
pertambangan adalah wewenang yang diberikan kepada badan/perseorangan
untuk melaksanakan usaha pertambangan.
Analisis di atas menunjukkan bahwa susbstansi dalam UU Nomor 11
Tahun 1967 tidak mencerminkan usaha untuk mewujudkan keadilan sosial,
keadilan dalam UU Nomor 11 Tahun 1967 hanyalah keadilan keadilan
distributif yaitu keadilan yang tidak memberikan hak sama kepada setiap
orang, tapi keadilan yang memberikan hak proporsionalitas/kesebandingan
dalam penerapannya. Keadilan distributif dalam UU Nomor 11 Tahun 1967
Pada masa UU No 11 Tahun 1967, pengertian ”dikuasai negara” telah bergeser dari ”pemilikan dan penguasaan secara langsung” menjadi
”penguasaan secara tidak langsung”. Hal ini terjadi karena pemerintah
menyadari sepenuhnya bahwa mengelola sumber daya alam secara langsung
memerlukan sumber daya manusia yang terampil (skill), modal yang sangat
besar (high capital), teknologi tinggi (high technology), dan berisiko tinggi
(high risk). Hubungan dengan pemilik modal bersifat kontrak karya. Dalam hal ini, maka Negara cq Pemerintah dapat menjadi pihak dalam sengketa
dengan pihak swasta (asing) berkaitan dengan sumberdaya alam yang
dikuasainya. Hal ini tidak lain karena Pemerintah dapat melakukan
perjanjian atau kontrak dengan pihak swasta dalam ekonomi sumberdaya alam. Keadaan ini menurunkan derajat negara sebagai representasi “Yang
Publik.” Degradasi ini terjadi secara sistematis lewat deregulasi yang
dilakukan dengan mengadopsi hubungan perjanjian atau kontrak antara Pemerintah dengan Swasta dalam “pengalihan” suatu hak atas sumberdaya
alam pertambangan.
Hubungan keperdataan antara Pemerintah dengan Investor ini pada
masa UU No 11 Tahun 1967 dapat menggeser urusan publik ke dalam ruang
bisnis dan berorientasi pada keuntungan ekonomi. Pada hal-hal tertentu
pemerintahan yang demikian dapat dikategorikan sebagai Corporatocracy.
pemerintahan didominasi oleh orang berlatarbelakang saudagar dengan motif
ekonomi yang diraih dari kekuasaan politik, tetapi juga ditelaah dari konsep
hubungan hukum yang dibangun dengan pihak investor. Implementasi
hubungan hukum pemanfaatan pertambangan dilakukan dengan MoU dan
Kontrak Kerjasama oleh Pemerintah berkedudukan sederajat. Bukan
administrasi perizinan yang satu arah. Ketentuan ini jelas mengesampingkan
nilai-nilai keadilan sosial dalam Pasal 33 UUD 1945 yang berorientasi
kepada kemakmuran rakyat.
3. UU Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara
a. Law Making Proses UU Nomor 4 Tahun 2009
Pada era Reformasi Undang-Undang yang merupakan produk Orde
Lama yang tidak sesuai dengan rakyat Indonesia dirubah, salah satunya
adalah Undang-undang mengenai pertambangan dengan merumuskan UU
Minerba. Tujuan dari dirumuskannya UU Minerba oleh pemerintah dan
parlemen (DPR) adalah untuk menggantikan UU No.11 Tahun 1967 tentang
Ketentuan–Ketentuan Pokok Pertambangan yang dianggap sudah tidak
sesuai lagi dengan perkembangan zaman ditingkat nasional maupun global.
Selain itu, perubahan sistem sentralisasi ke desentralisasi menjadi dasar
utama lahirnya UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Problem terbesar dari UU No.11 Tahun 1967 adalah sistem perjanjian
atau kontrak tambang. Dalam pertambangan mineral, dikenal istilah Kontrak
Karya (KK). Sementara dalam industri tambang batubara ada istilah
Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dan Kuasa
Pertambangan (KP). Sistem kontrak ini memposisikan negara dan korporasi
tambang secara sejajar. Dalam rezim kontrak, negara dipandang sebagai
mitra bisnis perusahaan tambang yang tidak memiliki sifat superior. Hal
inilah yang membuat negara selalu ‘impotent’ ketika berhadapan dengan
korporasi dalam perumusan pembaruan kontrak, penarikan royalti dan
pajak, juga di saat kasus-kasus lingkungan dan sosial bermunculan. Posisi
negara yang lemah dalam UU No.11 Tahun 1967 inilah yang berusaha untuk
dirubah oleh pemerintah dan DPR melalui UU No.4 Tahun 2009 tentang
Minerba tersebut. Maka, dalam UU Minerba terjadi perubahan rezim dalam
tata kelola industri tambang nasional. Perubahan itu terjadi dari rezim
kontrak/perjanjian kepada rezim perizinan. Berdasarkan hal itulah maka UU
No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba)
disahkan di Jakarta pada tanggal 12 Januari 2009.
b. Norma Hukum UU Nomor 4 Tahun 2009
Norma hukum atau isi dari UU Nomor 4 Tahun 2009 ini adalah
Tahun 2009 adalah Pertambangan Mineral dan Batubara. Dalam konsiderans
tertuang arah UU ini yaitu:34
a. bahwa mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah
hukum pertambangan Indonesia merupakan kekayaan alam tak terbarukan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak, karena itu pengelolaannya harus dikuasai oleh Negara untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan;
c. bahwa kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara yang
merupakan kegiatan usaha pertambangan di luar panas bumi, minyak dan gas bumi serta air tanah mempunyai peranan penting dalam memberikan nilai tambah secara nyata kepada pertumbuhan ekonomi nasional dan pembangunan daerah secara berkelanjutan;
d. bahwa dengan mempertimbangkan perkembangan nasional
maupun internasional, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan sudah tidak sesuai lagi sehingga dibutuhkan perubahan peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan mineral dan batubara yang dapat mengelola dan mengusahakan potensi mineral dan batubara secara mandiri, andal, transparan, berdaya saing, efisien, dan berwawasan lingkungan, guna menjamin pembangunan nasional secara berkelanjutan;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
Batang tubuh, terdiri dari 26 bab dan 175 pasal. Bab 1, Ketentuan
Umum yang berisi penjelasan istilah-istilah dalam peraturan. Bab 2, Asas
34
dan Tujuan yang menjelaskan asas dan tujuan dari UU Nomor 4 Tahun 2009
ini, yaitu:35
Pasal 2
Pertambangan mineral dan/atau batubara dikelola berasaskan:
a. manfaat, keadilan, dan keseimbangan;
b. keberpihakan kepada kepentingan bangsa;
b. partisipatif, transparansi, dan akuntabilitas;
c. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Pasal 3
Dalam rangka mendukung pembangunan nasional yang
berkesinambungan, tujuan pengelolaan mineral dan batubara adalah:
a. menjamin efektivitas pelaksanaan dan pengendalian kegiatan
usaha pertambangan secara berdaya guna, berhasil guna, dan berdaya saing;
b. menjamin manfaat pertambangan mineral dan batubara secara
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup;
c. menjamin tersedianya mineral dan batubara sebagai bahan baku
dan/atau sebagai sumber energi untuk kebutuhan dalam negeri;
d. mendukung dan menumbuhkembangkan kemampuan nasional
agar lebih mampu bersaing di tingkat nasional, regional, dan internasional;
e. meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, daerah, dan negara,
serta menciptakan lapangan kerja untuk sebesar-besar
kesejahteraan rakyat; dan
f. menjamin kepastian hukum dalam penyelenggaraan kegiatan
usaha pertambangan mineral dan batubara.
Bab 3, Penguasaan mineral dan batubara. Mineral dan batubara
sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan merupakan kekayaan nasional
yang dikuasai oleh negara untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat.
Penguasaan mineral dan batubara oleh negara diselenggarakan oleh
Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.
35
Bab 4, Kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara.
Bab ini membagi dan menjelaskan rincian kewenangan dalam pengelolaan
pertambangan mineral dan batubara. Kewenangan dalam pengelolaan
pertambangan mineral dan batubara dibagi menjadi: kewenangan pemerintah
pusat, kewenangan pemerintah propinsi dan kewenangan pemerintah
propinsi kabupaten/kota.
Bab 5, Wilayah Pertambangan. Wilayah Pertambangan ditetapkan
oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan
berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
Penetapan Wilayah Pertambangan dilaksanakan:36
a. secara transparan, partisipatif, dan bertanggung jawab;
b. secara terpadu dengan memperhatikan pendapat dari instansi
pemerintah terkait, masyarakat, dan dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya, serta berwawasan lingkungan; dan
c. dengan memperhatikan aspirasi daerah.
Wilayah Pertambangan terdiri atas:37
a. Wilayah Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut WUP,
adalah bagian dari WP yang telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi geologi.
b. Wilayah Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut WPR,
adalah bagian dari WP tempat dilakukan kegiatan usaha pertambangan rakyat.
c. Wilayah Pencadangan Negara, yang selanjutnya disebut WPN,
adalah bagian dari WP yang dicadangkan untuk kepentingan strategis nasional.
36
Lihat Pasal 10 UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
37
Bab 6, Usaha Pertambangan. Usaha pertambangan dikelompokkan
atas: pertambangan mineral dan pertambangan batubara. Penggolongan
mineral dan batubara dalam UU Minerba terdiri dari mineral radioaktif,
mineral logam, mineral bukan logam dan batuan, dan batubara, sedangkan
dalam UU sebelumnya bahan galian digolongkan ke dalam, bahan galian
strategis, vital, non strategis dan non vital. Usaha pertambangan
dilaksanakan dalam bentuk:38
a. Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut IUP, adalah
izin untuk melaksanakan usaha pertambangan.
b. Izin Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut IPR, adalah
izin untuk melaksanakan usaha pertambangan dalam wilayah pertambangan rakyat dengan luas wilayah dan investasi terbatas.
c. Izin Usaha Pertambangan Khusus, yang selanjutnya disebut
dengan IUPK, adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan di wilayah izin usaha pertambangan khusus.
Bab 7, Izin Usaha Pertambangan. Pemegang IUP Eksplorasi dan
pemegang IUP Operasi Produksi dapat melakukan sebagian atau seluruh
kegiatan. Ijin Usaha Pertambangan (IUP) terdiri atas dua tahap:39
a. IUP Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi,
dan studi kelayakan;
b. IUP Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi,
penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.
38
Lihat Pasal 35 UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
39
Bab 8. Persyaratan Perizinan Usaha Pertambangan. Pemerintah dan
pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban
mengumumkan rencana kegiatan usaha pertambangan di WIUP serta
memberikan IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi kepada masyarakat
secara terbuka. Usaha pertambangan wajib memenuhi persyaratan
administratif, persyaratan teknis, persyaratan lingkungan, dan persyaratan
finansial.
Bab 9, Izin Pertambangan Rakyat. Bupati/walikota memberikan IPR
terutama kepada penduduk setempat, baik perseorangan maupun kelompok
masyarakat dan/atau koperasi. Luas wilayah untuk 1 (satu) IPR yang dapat
diberikan kepada perseorangan paling banyak 1 (satu) hektare, kelompok
masyarakat paling banyak 5 (lima) hektare, dan/atau koperasi paling banyak
10 (sepuluh) hektare dengan jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun dan
dapat diperpanjang.
Bab 10, Izin Usaha Pertambangan Khusus. IUPK diberikan oleh
Menteri dengan memperhatikan kepentingan daerah. IUPK terdiri atas dua
tahap:40
a. IUPK Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum,
eksplorasi, dan studi kelayakan;
b. IUPK Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi,
penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.
40
Bab 11, Persyaratan Perizinan Usaha Pertambangan Khusus.
Pemerintah berkewajiban mengumumkan rencana kegiatan usaha
pertambangan di WIUPK serta memberikan IUPK Eksplorasi dan IUPK
Operasi Produksi kepada masyarakat secara terbuka. Badan usaha yang
melakukan kegiatan dalam WIUPK wajib memenuhi persyaratan
administratif, persyaratan teknis, persyaratan lingkungan dan persyaratan
finansial.
Bab 12, Data Pertambangan. Untuk menunjang penyiapan WP dan
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pertambangan, Menteri atau
gubernur sesuai dengan kewenangannya dapat menugasi lembaga riset
negara dan/atau daerah untuk melakukan penyelidikan dan penelitian tentang
pertambangan. Data yang diperoleh dari kegiatan usaha pertambangan
merupakan data milik Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan
kewenangannya. Data usaha pertambangan yang dimiliki pemerintah daerah
wajib di