• Tidak ada hasil yang ditemukan

T2 322010001 BAB III

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "T2 322010001 BAB III"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

87

BAB III

KEADILAN DI DALAM PERATURAN PENGELOLAAN

PERTAMBANGAN DI INDONESIA

Pada bab III ini, penulis akan membahas tentang keadilan di dalam

peraturan pengelolaan pertambangan di Indonesia. Sebelum menguraikan

keadilan di dalam peraturan pengelolaan pertambangan di Indonesia, dalam

bab ini penulis akan membahas mengenai sejarah pengaturan pertambangan

di Indonesia. Sedangkan hal yang terkait dengan pembahasan keadilan di

dalam peraturan pengelolaan pertambangan di Indonesia adalah kaidah

hukum asas keadilan dalam materi muatan peraturan perundang-undangan

Pertambangan, meliputi: PERPU 37 Tahun 1960 Tentang Pertambangan, UU

Nomor 11 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan,

UU Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Selain itu, dalam bab ini penulis juga akan membahas keadilan dalam

peraturan pelaksana pertambangan sebagai contoh UU Nomor 21 Tahun

2001 Tentang Otonomi Khusus Provinsi Papua berkaitan dengan pemaknaan

keadilan dalam pengaturan pengelolaan pertambangan di Indonesia.

Dalam melakukan analisis atas asas keadilan dalam peraturan

pengelolaan pertambangan di Indonesia, penulis akan memakai aspek-aspek

(2)

terkandung di dalam Pasal 33 UUD 1945 (lihat Bab II Sub B) dapat

dikategorikan sebagai berikut: orientasi, keberpihakan, hubungan dengan

pemilik modal, dan akses mengusahakan. Dari analisis tersebut penulis akan

dapat menginterprestasikan, jenis keadilan yang manakah terdapat dalam

peraturan pengelolaan pertambangan di Indonesia.

A. Sejarah Pengaturan Pertambangan di Indonesia

Sejarah kegiatan usaha dan hukum pertambangan di Indonesia

menurut Soetaryo Sigit, secara resmi dapat ditemukan dalam catatan-catatan

kegiatan parageologist Belanda yang pernah melakukan survey di negeri ini.

Antara lain Ter Braake (1944) dan R .W Van Bemmelen (1949), serta

berbagai laporan tahunan Dinas Pertambangan Hindia Belanda

(“Jaarverslag Dienst Van Den Mijn Bow”).1 Berdasarkan catatan sejarah tersebut, maka dapat diketahui pula bahwa penambangan emas, tembaga, dan

besi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera secara komersial sudah dimulai

menjelang tahun 700 Masehi. Maka pada masa itu Pulau Sumatera dikenal

sebagai Swarna Dwipa (Pulau Emas) dan Pulau Jawa dikenal sebagai Jawa

Dwipa (Pulau Beras). Selanjutnya sejak Belanda datang pada tahun 1602

Masehi, sebagai kelompok pedagang yang tergabung dalam Verenigde Ooze

Indische Company dan terkenal dengan sebutan VOC, maka mulailah era

1

(3)

baru dalam kegiatan pengusahaan pertambangan di Indonesia yang lebih

modern dengan sekala yang besar pula.2

Pada tahun 1852 Pemerintah Hindia Belandamendirikan “Dienst van

het Mijnwezen” (Jawatan Pertambangan). Tugas jawatan ini adalah

melakukan eksplorasi geologi-pertambangan di beberapa daerah untuk

kepentingan pemerintah Hindia Belanda. Hasil penemuannya antara lain

endapan batubara Ombilin Sumatera Barat (1866), namun baru berhasil

ditambang oleh Pemerintah HindiaBelanda pada tahun 1891.3

Pada tahun 1899, Pemerintah Hindia Belanda mengundangkan

Indische Mijnwet (Staatblad 1899-214). Indische Mijnwet hanya mengatur

mengenai penggolongan bahan galian dan pengusahaan pertambangan. Oleh

karena Indische Mijnwet hanya mengatur pokok-pokok persoalan saja,

sehingga Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan pelaksanaan

berupa Mijnordonnantie yang diberlakukan mulai 1 Mei 1907.

Mijnordonnantie mengatur mengenai Pengawasan Keselamatan Kerja (tercantum dalam Pasal 356 sampai dengan Pasal 612). Kemudian pada

tahun 1930 Mijnordonnantie 1907 dicabut dan diperbaharui dengan

Mijnordonnantie 1930 yang berlaku sejak tanggal 1 Juli 1930. Dalam Mijnordonnantie 1930 tidak lagi mengatur mengenai pengawasan

2

Ibid.

3

(4)

keselamatan kerja pertambangan, tetapi diatur tersendiri dalam Mijn Politie Reglement(Staatblad 1930 No. 341).4

Kebijakan politik Kolonial yang dilakukan pemerintah Belanda

dalam rangka pengelolaan sumber daya alam bahan galian di bumi Indonesia

ini, semakin terlihat sifat penjajahnya. Dengan menerapkan kebijakan

mineral yang bersifat diskriminatif, yang memberikan perlakuan yang sangat

istimewa kepada para investor swasta bangsa Belanda. Kenyataan ini

tercermin pada amandemen pertama dari Indische Mijn wet 1899, pada tahun

1910. Amandemen ini dilakukan, untuk meningkatkan minat investor swasta

asing non-Belanda dengan menambahkan Pasal 5 yang bersifat Publik

(Konsesi) dengan Pasal 5 A dari Indische Mijn Wet 1899 tersebut, yang

bersifat Kontrak (Perdata).

Bila ditinjau secara yuridis, maka kewenangan dari Kontraktor

Kontrak 5A ini tidak sekuat kewenangan yang dimiliki oleh para pemegang

Konsesi. Adapun secara lengkap amandemen Indishe Mijn Wet 1899 ini,

menurut Soetaryo Sigitadalah sebagai berikut:5

a. Pemerintah berwenang untuk melakukan penyelidikan dan

eksploitasi selama hal itu tidak bertentangan dengan hak-hak yang telah diberikan kepada penyelidik pemegang hak konsesi;

b. Untuk hal tersebut Pemerintah dapat melakukan sendiri

penyelidikan dan eksploitasi, atau mengadakan perjanjian dengan perorangan atau perusahaan yang memenuhi persyaratan

4

Ibid.

5

(5)

sebagaimana tercantum pada pasal 4 Undang-Undang ini dan sesuai perjanjian itu, mereka wajib melaksanakan eksploitasi ataupun penyelidikan dimaksud;

c. Perjanjian yang demikian itu tidak akan dilaksanakan kecuali bila

telah disyahkan dengan Undang-Undang.

Pelaksanaan pemberian Konsesi oleh Pemerintah Hindia Belanda ini,

dilakukan dalam rangka menetapkan politik dan kebijaksaan kolonialnya atas

kekayaan alam bahan galian di Indonesia. Undang-undang pertambangan

Hindia Belanda ini lahir, dari perkembangan politik pada waktu itu yang

dilandasi oleh alam fikiran mereka yang liberalistis dan kapitalis. Kebijakan

politik penjajah di bidang pertambangan ini telah melapangkan jalan bagi “Konsesi Pertambangan”. Selanjutnya cengkeraman konsesi tersebut

terhadap kekayaan nasional bangsa Indonesia ini, berlangsung hingga 15

tahun kita merdeka. Tepatnya hingga tahun 1960, dengan diundangkannya

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.37 tahun 1960 tentang

Pertambangan dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.44

tahun 1960 tentang Migas.6

Berlangsung terusnya cengkeraman konsesi oleh para investor asing

tersebut, atas bahan galian tambang kita ini hingga tahun 1960 disebabkan

oleh adanya ketentuan yang terdapat pada Bagian A Pasal I ayat (1)

Persetujuan KMB di Den Haag pada tahun 1948, yang menetapkan antara lain bahwa: “Hak Konsesi yang diperoleh sejak zaman Penjajahan Belanda

6

(6)

dan masih berlaku pada saat pengakuan kedaulatan, tetap dihormati sampai

berakhirnya masa pemberian Hak Konsesi tersebut.”7

Berdasarkan hal itulah

maka cengkeraman konsesi ini tetap dapat berlangsung terus walaupun kita

sudah merdeka, karena masa berlakunya konsesi ini dapat mencapai 75 tahun

dan Kontrak 5 A sampai 40 tahun. Perusahaan tambang asing bangsa

Belanda sebagai pemegang konsesi Pertambangan, waktu itu antara lain

adalah: Bataafsche Petroleum Maatschappijj (BPM), Nederlandsche Pacific

Petroleum Maatschappijj (NPPM) dan Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappijj (NKPM). Selanjutnya agar tidak terkesan berbau kolonial, maka mereka segera mengganti nama perusahaan-perusahaannya tersebut,

secara berturut-turut menjadi: SCHELL, STANVAC dan CALTEX

PACIFIC.8

Keinginan Pemerintah untuk menguasai sepenuhnya pengelolaan

pertambangan, diawali oleh adanya mosi dari DPR RI kepada Pemerintah.

Mosi ini dimotori oleh seorang ahli hukum dan bekas gubernur Pertama

Propinsi Sumatera, bernama Mr. Teuku H. Mochammad Hasan. Beliau saat

itu duduk sebagai anggota DPR Komisi Perekonomian, telah melihat

berbagai kejanggalan yuridis sehubungan dengan pengelolaan kekayaan alam

nasional kita yang sebagian besar masih dikuasai oleh pihak asing sebagai

pemegang konsesi pertambangan. Hal ini menurut pandangan yuridis beliau,

7

Ibid, hal 14.

8

(7)

sangat bertentangan dengan jiwa dan semangat UUD 1945 khususnya Pasal

33 ayat (3). Maka pada tanggal 19 Juli 1951, beliau mengajukan usul kepada

Pemerintah melalui surat DPR RI No.Agd.1446/RM/DPRRI/1951, oleh

karena itu mosi tersebut terkenal sebagai Mosi Teuku Mochammad Hasan.9

Adapun beberapa pertimbangan yang mendorong beliau mengajukan usul

atau mosi tersebut, antara lain:

1) Bahwa sebagian besar ekonomi rakyat baik dalam usaha

pertambangan, maupun diluar pertambangan masih dikuasai oleh Belanda dan pihak asing lainnya. Antara lain perusahaan-perusahaan besar seperti KLM (maskapai Penerbangan ), KPM (maskapai Pelayaran), BPM dan NKPM (maskapai Perminyakan) masih dikuasai pihak Belanda. Sedangkan ekonomi menengah s/d sedang masih dikuasai oleh sekelompok pedagang Cina;

2) Bahwa sebagian besar pengusahaan kekayaan bahan galian

tambang, berdasarkan Indische Mijn Wet 1899, masih dikuasai

oleh para pemegang Konsesi Pertambangan;

3) Bahwa bila tambang-tambang tersebut diusahakan dengan

sungguh-sungguh, maka hasilnya tentu dapat digunakan untuk menutupi sebagian besar dari APBN. Berarti hasil pertambangan dapat mengurangi dan sekaligus meringankan beban rakyat, dalam kewajibannya untuk membayar pajak untuk membiayai Negara tersebut. Dengan demikian hasil pertambangan itu telah dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dapat tercapai. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (3) UUDS

1950 ( Pasal 33 ( 3 ) UU DASAR 1945 ).10

Sebagai reaksi positif pemerintah atas mosi tersebut, maka

Pemerintahan Soekarno waktu itu segera membentuk panitia Negara yang

berhasil menyiapkan RUU Pertambangan di awal tahun 1952. Namun

berhubung kondisi politik waktu itu yang masih tidak stabil, karena

9

Ibid, hal 18.

10

(8)

gangguan dari beberapa tokoh RIS yang masih pro Belanda dan anti

Soekarno, serta Kabinet juga jatuh bangun, maka RUU tersebut terhambat

untuk disampaikan ke DPR. Langkah selanjutnya pemerintah membentuk

berbagai perangkat untuk mendukung program nasionalisasi, dan pada tahun

1958 dikeluarkan Undang-Undang Nomor 86 Tahun 1958 Tentang

Nasionalisasi Perusahaan Belanda yang berlaku surut hingga Desember

1957. Undang-undang ini menjadi dasar pengambil alihan perusahaan

Belanda yang kemudian dimiliki secara penuh oleh pemerintah RI. Untuk

menangani perusahaan industri dan tambang milik Belanda dibentuk Badan

Penyelenggara Perusahaan-perusahaan Industri dan Tambang (BAPPIT),

badan ini berada di bawah kendali Menteri Perindustrian.

Pada tahun 1960 Pemerintah Indonesia menerbitkan suatu peraturan

mengenai pertambangan yang diundangkan sebagai Peraturan Pemerintah

Pengganti Undang-Undang yang kemudian menjadi Undang-Undang No. 37

Prp. Tahun 1960 tentang Pertambangan yang lebih dikenal dengan

Undang-Undang Pertambangan 1960. Undang-Undang-Undang-Undang ini mengakhiri berlakunya

Indische Mijnwet 1899 yang tidak selaras dengan cita-cita kepentingan nasional dan merupakan Undang-Undang Pertambangan nasional yang

pertama. Kemudian, berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1960

(9)

milik negara menjadi perusahaan negara yang pada masa itu berjumlah

sekitar 822 perusahaan negara.

Tahun 1966, lahirlah Orde Baru yang ditandai dengan perubahan

besar dalam tata kehidupan masyarakat, peran militer dan modal asing

semakin kuat dan luas. Perubahan ini dimulai ketika MPRS mengadakan

sidang umumnya yang pertama. Sidang umum tersebut menghasilkan

berbagai keputusan penting, antara lain adanya komitmen orde baru untuk

membuka kesempatan seluas-luasnya bagi modal asing, termasuk dalam

pengelolaan kekayaan alam. Sebagai langkah konkrit adalah dengan

dikeluarkannya Ketetapan MPRS No.XXIII/1966 tentang pembaharuan

kebijaksanaan landasan ekonomi, keuangan dan pembangunan. Tindak lanjut

dari ketetapan MPRS dan instruksi presidium ditetapkanlah Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang

merupakan pengganti Undang-Undang Nomor 78 Tahun 1958. Selain itu

juga dikeluarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1968 Tentang Penanaman

Modal Dalam Negeri (PMDN). Melengkapi Undang-undang PMA,

pemerintah menetapkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang

Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. Meningkatnya sektor

pertambangan pada era Orde Baru, karena sebagian besar disebabkan oleh

(10)

Setelah hampir selama kurang lebih empat dasawarsa sejak

diberlakukannya Undang-Undang nomor 11 Tahun 1967 tentang

Ketentuan-Ketentuan Pokok pertambangan, maka lahirlah peraturan

perundang-undangan yang mengatur lebih spesifik tentang pertambangan mineral dan

batubara, yaitu Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan

Mineral dan Batubara. Lahirnya Undang ini disebabkan

Undang-Undang yang berlaku sebelumnya materi muatannya bersifat sentralistik dan

sudah tidak sesuai dengan perkembangan situasi sekarang dan tantangan di

masa depan.

B. Asas Keadilan Dalam Materi Muatan Peraturan

Perundang-Undangan Pertambangan

1. PERPU 37 Tahun 1960 Tentang Pertambangan

a. Law Making Proses PERPU 37 Tahun 1960

Pada era Orde Lama, kondisi politik yang diwarnai oleh gejolak dan

pertentangan yang tajam di antara partai-partai politik yang ada waktu itu,

telah mengakibatkanDewan Konstituante sebagai produk pemilu 1955 gagal

untuk menyusun UUD yang baru guna menggantikan UUDS 1950. Dalam

kondisi yang kacau tersebut, selanjutnya Pemerintah untuk tetap berupaya

mencari dana dari luar. Pada tahun 1950 menteri perdagangan dan

(11)

industrialisasi yang bertugas untuk menetapkan bidang-bidang usaha yang

terbuka bagi modal asing.

Walaupun dalam kondisi yang kurang stabil tersebut, maka pada

tahun 1958 Pemerintah mengeluarkan Undang-undang No.78 Tahun 1958

tentang Penanaman modal Asing (UU PMA). Sesuai semangat ekonomi

terpimpin, maka UU PMA ini tidakmemberikan peluang kepada Penanaman

Modal Asing untuk melakukan investasi langsung pada kegiatan usaha

pertambangan untuk bahan galian yang bersifat vital (Pasal 3 UU PMA).11

Kemungkinan untuk itu tetap terbuka, akan tetapi hanya melalui bentuk

pinjaman Luar Negeri dan tidak dapat ikut terlibat langsung menangani

proyek vital tersebut. Hal ini jelas sangat tidak menarik minat para investor,

karena tidak dapat ikutterlibat langsung untuk menangani proyek besar yang

memerlukan modalbesar pula. Di samping itu ditambah lagi dengan kondisi

politik di dalam negeri yang tidak stabil waktu itu, maka walaupun adanya

jaminan dari pemerintah terhadap kegiatan usaha pertambangan waktu itu

tetap sajatidak menarik, karena tidak bersifat “bankable”.12

Demi menyelamatkan bangsa dan Negara dari pertentangan yang

semakin tajam dan perpecahan bangsa, maka Presiden Sukarno pada tanggal

5 Juli 1959 mengeluarkan Dekrit Presiden yang didukung oleh segenap

11

Ibid, hal 20.

12

(12)

lapisan masyarakat dan Angkatan Perang. Dekrit ini menyatakan: “Pembubaran Dewan konstituante dan kita kembali kepada UUD 1945,

selanjutnya dibentuklah DPRS dan MPRS sambil menunggu pemilu yang

akan datang.” Akibat adanya dekrit Presiden ini, maka kehidupan politik

liberal yang berlandaskan UUDS 1950 berakhir dan diganti dengan

Demokrasi Terpimpin yang melahirkan kebijaksanaan Ekonomi Terpimpin

pula. Atas dasar kebijaksanaan ekonomi ini, maka mulai saat itu Pemerintah

akan terlibat langsung untuk mengurus berbagai sektor kegiatan

perekonomian yang dianggap penting dan menyangkut hajat hidup orang

banyak, salah satunya adalah sektor pertambangan. Salah satu upayanya

adalah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 37 Prp.Tahun 1960 tentang

Pertambangan, kemudian Pemerintah berusaha lagi untuk menarik PMA

melalui pola Production Sharing (bagi hasil), yang indentik dengan

Pinjaman Modal Luar Negeri yang akan dikembalikan dari hasil produksi

bahan galian yang bersangkutan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 20

Tahun 1963.13

b. Norma Hukum PERPU 37 Tahun 1960

Norma hukum atau isi dari PERPU 37 Tahun 1960 ini adalah judul,

konsiderans, batang tubuh dan penjelasan umum. Judul PERPU 37 Tahun

1960 adalah Pertambangan. Konsiderans, jelas di dalamnya tertuang arah dan

13

(13)

tujuan PERPU 37 Tahun 1960 ini yaitu mengatur penambangan bahan

galian di seluruh wilayah kedaulatan bangsa dipergunakan untuk

sebesar-besar kemakmuran rakyat, baik secara gotong-royong maupun secara

perseorangan.Dalam Konsiderans dipaparkan bahwa PERPU 37 Tahun 1960

ini mengacu pada Pasal 33 UUD 1945 yang merupakan payung hukum

pertambangan dan Pasal 22 ayat (1) UUD 1945.14

Batang tubuh, terdiri dari 13 bab dan 31 pasal. Bab 1, berisi

penjelasan istilah-istilah dalam peraturan. Bab 2, Penggolongan dan

pelaksanaan penguasaan bahan galian. Bahan galian dibagi menjadi 3 yaitu

golongan bahan galian strategis, vital dan yang tidak termasuk strategis dan

vital. Strategis adalah menyangkut keamanan, perekonomian negara dan

security approach. Vital adalah yang menjamin kebutuhan hidup orang

banyak. Bab 3, bentuk dan organisasi perusahaan pertambangan. Golongan

bahan galian strategis dilaksanakan oleh instansi pemerintah yang ditunjuk

oleh menteri, perusahaan negara, pihak swasta yang didirikan sesuai dengan

peraturan-peraturan RI bertempat kedudukan di Indonesia dan bertujuan

berusaha dalam lapangan pertambangan dan pengurusnya memiliki

kewarganegaraan Indonesia dan bertempat tinggal di Indonesia,dan menurut

pertimbangan dari segi ekonomi dan pertambangan lebih menguntungkan

14 Pasal 22 ayat (1) UUD 1945: “

(14)

bagi negara apabila diusahakan oleh swasta serta rakyat, yaitu bahan galian

yangsedemikian kecil sehingga lebih menguntungkan jika diusahakan secara

sederhana atau kecil-kecilan. Golongan bahan galian vital dilaksanakan oleh

instansi pemerintah (perusahaan negara atau daerah) dan badan atau

perseorangan swasta yang memenuhi syarat seperti di atas serta badan

hukum koperasi.

Bab 4, usaha pertambangan, meliputi penyelidikan umum eksplorasi,

eksploitasi, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan. Bab 5,

kuasa pertambangan. Dalam usaha pertambangan hanya boleh dilakukan

oleh pihak yang mempunyai kuasa pertambangan. Kuasa pertambangan

diberikan dengan Keputusan Menteri. Dalam kuasa pertambangan untuk

usaha pertambangan terdapatbeberapa ketentuan, di antaranya: 15

a) tidak boleh mengganggu pertambangan rakyat yangtelah ada

b) tidak meliputi tempat tertutupuntuk kepentingan umum

c) tidak meliputi makam-makam, tempat yang dianggap suci,

pekerjaan-pekerjaan kereta api, saluran air,listrik, gas dan sebagainya

d) tidak meliputi tempat-tempat pekerjaan usaha pertambangan lain

e) tidak meliputi bangunan-bangunan, rumah tempat tinggal atau

pabrik-pabrik beserta tanah-tanah pekarangan sekitarnya, kecuali ada ijin yang berkepentingan.

Bab 6, cara dan syarat-syarat memperoleh kuasa pertambangan.

Untukmemperoleh kuasa pertambangan diajukan kepada menteri dan

syarat-syaratnya diaturdengan PP. Bab 7, tentang berakhirnya kuasa pertambangan

ada 3 (tiga), yaitu: dikembalikan, dibatalkan, dan habis waktunya.

15

(15)

Dikembalikan, adalah dikembalikan kepada menteri dengan pernyataan

tertulis dan disetujui menteri. Dibatalkan, dapat dibatalkan dengan Kepmen

jika pemegang kuasa pertambangan tidak memenuhi syarat yang ditetapkan

dalam PP dan atau ingkar dalam menjalankan perintah-perintah danpetunjuk

dari negara. Bab 8, hubungan kuasa pertambangan dengan hak tanah.

Pemegang kuasa pertambangan wajib memberikan ganti rugi akibat

usahanya kepada pemegang hak atastanah, baik disengaja maupun tidak.

Bab 9, pungutan-pungutan negara. Pemegang kuasa pertambangan

membayar kepada negara berupa iuran tetap, iuran eksplorasi dan/atau

eksploitasi dan pembayaran-pembayaran yang berhubungan dengan kuasa

pertambangan yang bersangkutan. Bab 10, pengawasan pertambangan. Tata

usaha dan pengawasan pekerjaan dan pelaksanaan pertambangan dipusatkan

kepada Departemen yang lapangan tugasnya meliputi pertambangan.

Bab 11, ketentuan-ketentuan pidana. Kualifikasinya tindak pidana

kejahatan dan pelanggaran. Unsur kesalahan adalah adanya unsur

kesengajaan. Ancaman pidana berupa penjara, kurungan dan denda. Jenis

perbuatan pidana:16

1) tidak mempunyai kuasa pertambangan, namun melakukan usaha

pertambangan.

2) melakukan usaha pertambangan sebelum memenuhi kewajiban

terhadap pemegang hakatas tanah,

3) merintangi usaha pertambangan yang syah,

16

(16)

4) pemegang hak atas tanah merintangi usaha pertambangan padahal

kewajiban sudahterpenuhi,

5) pemegang kuasa pertambangan tidak memenuhi kewajibannya,

6) pemegang kuasa pertambangan tidak memenuhi syarat,

7) pemegang kuasa tidak melakukan perintah dan/atau petunjuk

negara.

Bab 12, ketentuan-ketentuan peralihan. Semua hak pertambangan

perusahaan dan/atau perseorangan yang bukan Perusahaan Negara, yang

diperoleh berdasarkan peraturan yang ada sebelum saat berlakunya Peraturan

Pemerintah Pengganti Undang-undang ini, tetap dapat dijalankan untuk

jangka waktu yang sesingkat-singkatnya. Bab 13, Ketentuan-ketentuan

penutup. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini mulai berlaku

pada hari diundangkan, dan dapat disebut "Peraturan Pemerintah Pengganti

Undang-undang Pertambangan".

c. Asas Keadilan Dalam PERPU 37 Tahun 1960

1. Orientasi

PERPU 37 Tahun 1960 merupakan pelaksanaan dari pada Dekrit

Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia tertanggal

5 Juli 1959, ketentuan-ketentuan dalam pasal 33 Undang-undang Dasar dan

Manifesto Politik Republik Indonesia tersebut 17 Agustus 1959, sebagai

yang ditegaskan dalam amanat Presiden pada tanggal 17 Agustus 1960 yang

mewajibkan Negara untuk mengatur penambangan bahan galian di seluruh

wilayah kedaulatan bangsa dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran

(17)

yang menjadi orientasi dalam PERPU 37 Tahun 1960. Dari konsideran

tersebut maka dapat dijabarkan ada dua orientasi dalam PERPU 37 Tahun

1960, yaitu:

a. Kedaulatan negara.

Hal tersebut tercermin dari Pasal 2 ayat (1) PERPU 37 Tahun 1960:

“Segala bahan galian yang berada di dalam, di atas dan di bawah

permukaan bumi, dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia yang merupakan letakan-letakan atau timbunan-timbunan alam

adalah kekayaan nasional dan dikuasai oleh Negara”17

Pada dasarnya prinsip kedaulatan negara yang diadopsi dalam

PERPU 37 Tahun 1960 sama dengan apa yang pada Indische Mijnwet 1899.

Namun terdapat perubahan yang signifikan antara lain, perubahan dari sistem

konsesi ke sistem pengusahaan pertambangan yang mana kegiatan usaha

pertambangan dilakukan oleh negara atau daerah. Kalaupun sebuah badan

usaha swasta hendak melakukan kegiatan usaha pertambangan dilakukan

melalui usaha bersama negara atau daerah.

b. Kemakmuran rakyat.

Dari kandungan konsideran PERPU 37 Tahun 1960 sangat terasa

bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia cukup dijamin. PERPU

37 Tahun 1960 ingin penambangan bahan galian di seluruh wilayah

kedaulatan bangsa dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat—

dengan demikian nasionalisme Indonesia jika ingin difungsikan dalam

17

(18)

kenyataan tidak harus sekedar ditujukan untuk melawan eksploitasi dan

dominasi asing dalam politik, ekonomi, dan budaya, tetapi juga harus

dihadapkan kepada unsur kolonial domestik. Hal ini tercermin dalam Pasal 8

PERPU 37 Tahun 1960: Pelaksanaan pertambangan golongan bahan galian

yang vital dapat dikuasakan kepada pihak swasta yaitu badan hukum yang

didirikan sesuai dengan peraturan-peraturan Republik Indonesia, bertempat

kedudukan di Indonesia dan bertujuan berusaha dalam lapangan

pertambangan dan pengurusnya mempunyai kewarganegaraan Indonesia dan

bertempat tinggal di Indonesia; dan juga perseorangan yang

berkewarganegaraan Indonesia dan bertempat tinggal di Indonesia. Namun

dalam Penjelasan Pasal 8 PERPU 37 Tahun 1960 menegaskan bahwa

ketentuan dalam pasal ini bermaksud untuk menjamin kepentingan

masyarakat seluruhnya. Dalam pelaksanaannya akan diberikan pengutamaan

kepada Koperasi. Hal ini sesuai dengan cita-cita keadilan Soekarno yang

pernah mengatakan bahwa:

“Sudah pernah saya katakan bahwa cita-cita dengan keadilan sosial

ialah suatu masyarakat yang adil dan makmur. Saya tekankan adil dan makmur, makmur dan adil, dengan menggunakan alat-alat

industri, alat-alat teknologi yang sangat modern....Tetapi

industrialisme modern itu kita pergunakan untuk kepentingan

umum.”18

2. Keberpihakan

18

(19)

Dalam konsiderans PERPU 37 Tahun 1960 dinyatakan bahwa untuk

mencapai kemakmuran rakyat dilakukan baik secara gotong-royong maupun

secara perseorangan. Gotong-royong adalah pembanting tulang bersama

pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama—amal

semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua.19

Gagasan keadilan sosial tidak bisa terlepas dari gerakan persatuan dan

gotong royong. Justru bangsa yang tahu bersatu dan mau berkerjasama akan

dapat memahami nilai keadilan sosial yang berujung pada kemakmuran

rakyat. Dari hal tersebutlah maka dalam keberpihakan PERPU 37 Tahun

1960 ini pro-rakyat.

3. Hubungan Dengan Pemilik Modal

Dalam PERPU 37 Tahun 1960, mengijinkan Pemerintah menarik

modal asing untuk mengembangkan eksplorasi dan eksploitasi pertambangan

berdasarkan pola production sharing contract seperti yang diatur dalam

Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 1963.20 Pola bagi hasil ini pada

dasarnya tidak lain berupa peminjaman modal dari pihak asing yang akan

dibayar kembali dengan hasil produksi.21 Production Sharing Contract

mempunyai beberapa ciri utama, yaitu :22

19

Saafroedin Bahar (ed), Op.cit, hal 82.

20

Departemen Pertambangan dan Energi, Op cit, hal. 265.

21

Abrar Saleng, Op cit, hal. 70.

22

(20)

a. Manajemen ada di tangan negara (perusahaan negara)

Negara ikut serta dan mengawasi jalannya operasi pertambangan

minyak dan gas bumi secara aktif dengan tetap memberikan

kewenangan kepada kontraktor untuk bertindak sebagai operator dan

menjalankan operasi di bawah pengawasannya. Negara terlibat

langsung dalam proses pengambilan keputusan operasional yang

biasanya dijalankan dengan mekanisme persetujuan (approval). Inti

persoalan dalam masalah ini adalah batasan sejauh mana persetujuan

negara atau perusahaan negara diperlukan dalam proses pengambilan

keputusan.

b. Penggantian biaya operasi (operating cost recovery)

Kontraktor mempunyai kewajiban untuk menalangi terlebih dahulu

biaya operasi yang diperlukan, yang kemudian diganti kembali dari

hasil penjualan atau dengan mengambil bagian dari pertambangan

yang dihasilkan. Besaran penggantian biaya operasi ini tidak harus

selalu penggantian penuh (full recovery). bisa saja hanya sebagian

tergantung darihasil negosiasi.

c. Pembagian hasil produksi (production split)

Pembagian hasil produksi setelah dikurangi biaya operasi dan

kewajiban lainnya merupakan keuntungan yang diperoleh oleh

(21)

kontraktor dan pemasukan dari sisi negara. Besaran pembagian hasil

produksi ini berbeda-beda tergantung dari berbagai faktor.

d. Pajak (Tax)

Pengenaan pajak dikenakan atas kegiatan operasi kontraktor,

besarannya dikaitkan dengan besarnya pembagian hasil produksi

antara negara dengan kontraktor. Prinsipnya adalah semakin besar

bagian negara maka pajak penghasilan yang dikenakan atas

kontraktor akan semakin kecil.

e. Kepemilikan asset ada pada negara (perusahaan negara)

Umumnya semua peralatan yang diperlukan untuk pelaksanaan

operasi menjadi milik perusahaan negara segera setelah dibeli atau

setelah depresiasi. Ketentuan ini mengecualikan peralatan yang

disewa karena kepemilikannya memang tidak pernah beralih kepada

kontraktor.

4. Akses Mengusahakan

Dalam PERPU 37 Tahun 1960, peran negara (melalui Perusahaan

Negara) dan atau daerah (Perusahaan Daerah) menjadi otoritas yang selalu

terlibat dalam kegiatan usaha pertambangan. Pelaksanaan kegiatan usaha

pertambangan dilakukan oleh negara (Perusahaan Negara) atau oleh negara

bersama-sama daerah untuk bahan galian strategis. Kemudian pelaksanaan

(22)

Negara) atau daerah (Perusahaan Daerah) serta dilakukan oleh Badan atau

perorangan swasta yang melakukan usaha bersama dengan negara atau

daerah dimana harus Badan usaha tersebut harus berbadan hukum Indonesia

dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan. Untuk bahan galian yang bukan

termasuk bahan galian strategis dan bahan galian vital diatur oleh

Pemrerintah Daerah Tk. I (Pemerintah Provinsi). Melihat ketentuan tersebut,

maka perusahaan asing tidak dapat secara langsung melakukan kegiatan

usaha pertambangan di Indonesia bahkan untuk bahan galian non-strategis

dan atau bahan galian non-vital sekalipun. Dalam hal inilah mencegah

adanya exploitation de I’homme par I’homme.

Pengusahaan pertambangan terhadap bahan-bahan galian

sebagaimana tersebut di atas (strategis dan vital) hanya dapat dilakukan

setelah memperoleh Kuasa Pertambangan. Pendapatan negara melalui

PERPU 37 Tahun 1960 didapat dari pungutan-pungutan terhadap iuran pasti,

iuran eksplorasi dan/atau eksplotasi dan/atau pembayaran-pembayaran

lainnya yang berhubungan dengan pemberian kuasa pertambangan yang

bersangkutan. Ketentuan yang berkaitan dengan perlindungan terhadap Hak

Masyarakat Adat yaitu, masyarakat yang terkena dampak negatif secara

langsung dari kegiatan usaha pertambangan sebagaimana terdapat dalam

Pasal 21 PERPU 37 Tahun 1960 yang menyatakan bahwa mereka yang

(23)

pertambangan atas tanah yang bersangkutan, jika kepadanya sebelum

pekerjaan dimulai, dengan diperlihatkannya surat kuasa pertambangan atau

salinannya yang syah, diberitahukan tentang maksud dan tempat

pekerjaan-pekerjaan itu akan dilakukan, diberi ganti kerugian atau jaminan ganti

kerugian itu terlebih dahulu. Selain itu, Pemegang kuasa pertambangan

diwajibkan mengganti kerugian akibat dari usahanya pada segala sesuatu

yang berada di atas tanah kepada yang berhak atas tanah, dengan tidak

memandang apakah perbuatan itu dilakukan dengan atau tidak dengan

sengaja, maupun kerugian yang dapat atau tidak dapat diketahui terlebih

dahulu. Analisis di atas menunjukkan bahwa susbstansi dalam PERPU 37

Tahun 1960 mencerminkan usaha untuk mewujudkan keadilan sosial.

2. UU Nomor 11 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok

Pertambangan

a. Law Making Proses UU Nomor 11 Tahun 1967

Pada pasca Pemerintahan Orde lama, maka Pemerintah Orde Baru

mulai menata kehidupan politik kembali dan memprioritaskan pembangunan

ekonomi, berdasarkan Tap MPRS Nomor XXIII-/MPRS/1966. Dalam

pembangunan di bidang pertambangan, Tap MPRS ini menetapkan antara

lain :23

23

(24)

1) Kekayaan potensial yang terdapat dalam alam Indonesia perlu digali dan diolah agar dapat dijadikan kekuatan ekonomi riil, (Pasal 8 Bab II);

2) Potensi modal, teknologi dan keahlian dari luar negeri dapat

dimanfaatkan untuk penanggulangan kemerosotan ekonomi serta pembangunan Indonesia (Pasal 10 Bab II );

3) Dengan mengingatnya terbatasnya modal dari luar negeri, perlu

segera ditetapkan undang-undang tentang modal asing dan modal domestic (Pasal 62 bab VIII );

Dengan menelaah isi Tap MPRS tersebut di atas, maka terlihat jelas

bahwa ketetapan yang dilakukan oleh Lembaga Tertinggi Negara tersebut,

adalah sangat tepat. Terutama ditujukan untuk pembangunan di bidang

pertambangan yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan sekaligus

sebagai andalan utama penghasil devisa waktu itu. Untuk mendukung

amanat MPRS tersebut, maka UU No. 37 Prp. Tahun 1960 tentang

Pertambangan dan UU No. 78 Tahun 1958 tentang PMA, perlu direvisi dan

disesuaikan dengan maksud dan tujuan amanat MPRS tersebut.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka Departemen perindustrian

dan Pertambangan waktu itu, segera membentuk panitia penyusun RUU

Pertambangan yang diketuai oleh Soetaryo Sigit.24 Selanjutnya hasil kerja

panitia ini, sudah dapat diajukan ke sidang DPR menjelang pertengahan

tahun 1967. Maka dimulailah babak baru dalam bisnis pertambangan di

Indonesia, yang diawali dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 1

Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing sebagai revisi UU No. 78

24

(25)

Tahun 1958. Dimana dalam dalam Pasal 8 ayat (1) Undang-UndangNomor 1 Tahun 1967 ini ditetapkan bahwa: “Penanaman Modal Asing di bidang Pertambangan didasarkan pada suatu kerjasama dengan Pemerintah atas dasar Kontrak Karya atau bentuk lain sesuai dengan peraturan yang berlaku”.

Untuk lebih mendukung masuknya PMA di bidang pertambangan ini, maka

menjelang akhir tahun 1967 Pemerintah mengundangkan Undang-Undang

No.11 Tahun 1967 sebagai penyempurnaan Undang-undang No.37 Prp.1960

yang belum berhasil menarik minat investor.

b. Norma Hukum UU Nomor 11 Tahun 1967

Norma hukum atau isi dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967

ini adalah judul, konsiderans, batang tubuh dan penjelasan umum. Judul,

ketentuan-ketentuan pokok pertambangan. Judul ini kurang tepat karena

adanya kata pokok. Idealnya ketentuan pokok hanya satu, dalam hal ini

adalah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang UUPA. Alasannya

dapat dilihat pada pasal 1 UUPA yang menyebutkan bahwa bumi, air dan

kekayaan alam yang terkandungdi dalamnya merupakan bagian dari agraria.

Pada masa ini perundang-undangan trendnyamenggunakan istilah

ketentuan-ketentuan pokok.

Konsiderans, jelas di dalamnya tertuang arah dan tujuan

(26)

dikemukakan oleh W.W Rostow25. Jadi tujuannya adalah bukan pemenuhan

target, tetapi pertumbuhan ekonomi yang bertujuan mengadakan eksploitasi

besar-besaran terhadap sumber daya alam. Seharusnya dalam konsiderans

dicantumkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang UUPA karena

dianggap sebagai payung dari undang-undang keagrariaan di Indonesia.

PencantumanKeppres RI No.163 tahun 1966 dan Keppres RI No.171 tahun

1967 tidak tepat karena peraturan ini berada di bawah UU. Aturannya

peraturan yang berada di bawahnya tidakboleh menjadi konsiderans.

Batang tubuh, terdiri dari 12 bab dan 37 pasal. Bab 1 ketentuan

umum berisi penguasaan dan pengusahaan sumber daya alam. Bab 2

Penggolongan dan pelaksanaan penguasaan bahan galian. Bahan galian

dibagi menjadi 3 yaitu golongan bahan galian strategis, vital dan yang tidak

termasuk strategis dan vital. Strategis adalah menyangkut keamanan,

perekonomian negara dan security approach. Vital adalah yang menjamin

kebutuhan hidup orang banyak. Bab 3, bentuk dan organisasi perusahaan

pertambangan. Golongan bahan galian strategis dilaksanakan oleh instansi

25

(27)

pemerintah yang ditunjuk oleh menteri, perusahaan negara, pihak swasta

yang didirikan sesuai dengan peraturan-peraturan RI bertempatkedudukan di

Indonesia dan bertujuan berusaha dalam lapangan pertambangan dan

pengurusnya memiliki kewarganegaraan Indonesia dan bertempat tinggal di

Indonesia, dan menurut pertimbangan dari segi ekonomi dan pertambangan

lebih menguntungkan bagi negara apabila diusahakan oleh swasta serta

rakyat, yaitu bahan galian yang sedemikian kecil, sehingga lebih

menguntungkan jika diusahakan secara sederhana atau kecil-kecilan.

Golongan bahan galian vital dilaksanakan oleh instansi pemerintah

(perusahaan negara atau daerah) dan badan atau perseorangan swasta yang

memenuhisyarat seperti di atas serta badan hukum koperasi.Terdapat 3 jenis

hak pengusahaan pertambangan, yaitu kuasa pertambangan, kontrak karya

dan pertambangan rakyat. Kuasa pertambangan diberikan untuk semua jenis

bahan tambang golongan A dan B dan tertutup bagi modal asing. Kontrak

karya merupakan hak pertambangan yang membuka peluang modal asing

untuk investasi di Indonesia. Pertambangan rakyat adalah hak yang dapat

diperoleh rakyat setempat (tempat bahan tambang) dengan luas dan waktu

yang sangat terbatas.

Bab 4, usaha pertambangan, meliputi penyelidikan umum eksplorasi,

eksploitasi, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan. Bab 5,

(28)

oleh pihak yang mempunyai kuasa pertambangan. Kuasa pertambangan

dapat diberikan kepada semua di atas, selain rakyat (pertambangan rakyat).

Dalam kuasa pertambangan untuk usaha pertambangan terdapat beberapa

ketentuan, di antaranya:26

a) tidak boleh mengganggu pertambangan rakyat yang telah ada

(kecuali untuk kepentingan negara)

b) tidak boleh dilakukan di tempat tertutup untuk kepentingan umum,

lapangan-lapangan dan bangunan-bangunan pertahanan.

c) makam-makam, tempat yang dianggap suci, pekerjaan-pekerjaan

kereta api, saluran air,listrik, gas dan sebagainya

d) tempat-tempat usahan pertambangan lain

e) bangunan-bangunan, rumah tempat tinggal atau pabrik-pabrik beserta

tanah-tanah pekarangan sekitarnya, kecuali ada ijin yang berkepentingan.

Bab 6, cara dan syarat-syarat memperoleh kuasa pertambangan.

Untukmemperoleh kuasa pertambangan diajukan kepada menteri dan

syarat-syaratnya diaturdengan PP. Bab 7, tentang berakhirnya kuasa pertambangan

ada 3 (tiga), yaitu: dikembalikan, dibatalkan, dan habis waktunya.

Dikembalikan, adalah dikembalikan kepada menteri dengan pernyataan

tertulis dan disetujui menteri. Dibatalkan, dapat dibatalkan dengan Kepmen

jika pemegang kuasa pertambangan tidak memenuhi syarat yang ditetapkan

dalam PP dan atau ingkar dalam menjalankan perintah-perintah danpetunjuk

dari negara.

26

(29)

Bab 8, hubungan kuasa pertambangan dengan hak tanah. Pemegang

kuasa pertambangan wajib memberikan ganti rugi akibat usahanya kepada

pemegang hak atastanah, baik disengaja maupun tidak. Selain itu pemegang

hak atas tanah juga wajib memperbolehkan pekerjaan pemegang kuasa

pertambangan atas tanah yang bersangkutan atas dasar mufakat, alurnya

adalah: 27

1) pemegang kuasa pertambangan dan pemilik hak atas tanah

bermufakat tentang besarnya ganti rugi, jika tidak tercapai

2) penentuan ganti rugi oleh menteri jika pemilik tidak menyetujui

3) diserahkan kepada pengadilan negeri yang daerah hukumnya

meliputi daerah/wilayah yang bersangkutan.

Bab 9, pungutan-pungutan negara. Pemegang kuasa pertambangan

membayar kepada negara berupa iuran tetap, iuran eksplorasi dan/atau

eksploitasi dan pembayaran-pembayaran yang berhubungan dengan kuasa

pertambangan yang bersangkutan. Untuk daerah tingkat I dan II juga

dilakukan pungutan-pungutan tersebut. Bab 10, pengawasan pertambangan.

Pengawasan hasil pertambangan dipusatkan kepada menteri, meliputi

keselamatan kerja, pengawasan produksi, kegiatan lainnya yangmenyangkut

kepentingan umum. Selain itu pemegang kuasa pertambangan juga

diwajibkan mengembalikan tanah sedemikian rupa sehingga tidak

menimbulkan bahaya penyakit atau bahaya lainnya bagi masyarakat

sekitarnya.

27

(30)

Bab 11, ketentuan pidana. Subyek hukumnya adalah orang

perorangan, badan hukum, negara (pemerintah pusat maupun daerah).

Kualifikasinya tindak pidana kejahatan dan pelanggaran. Unsur kesalahan

adalah adanya unsur kesengajaan. Ancaman pidana berupa penjara, kurungan

dandenda. Jenisperbuatan pidana: 28

1) melakukan usaha pertambangan tanpa surat kuasa pertambangan,

2) melakukan usaha pertambangan sebelum memenuhi kewajiban

terhadap pemegang hakatas tanah,

3) merintangi usaha pertambangan tanpa mempunyai hak atas tanah,

4) pemegang hak atas tanah merintangi usaha pertambangan padahal

kewajiban sudahterpenuhi,

5) pemegang kuasa pertambangan tidak memenuhi kewajibannya,

6) pemegang kuasa pertambangan tidak memenuhi syarat,

7) pemegang kuasa tidakmelakukan perintah dan/atau petunjuk.

Bab 12, ketentuan peralihan dan penutup. Untuk pelaksanaan lebih

lanjut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 membutuhkan peraturan

pelaksana, berupa peraturan pemerintah. Namun ternyata belum semua

peraturan pelaksana tersebut dapat terbentuk. Sehingga dalam

pelaksanaannya karena belum ada peraturan yang mengatur maka dalam

kegiatannya menggunakan peraturan lama atau menurut penafsiran

pemerintah sendiri. Sehinggaseringkali pihak-pihak yang berkuasa bertindak

untuk keuntungan sendiri danmengesampingkan kepentingan rakyat—alasan

yang sering digunakan adalah untukkepentingan umum.

28

(31)

c. Asas Keadilan Dalam UU Nomor 11 Tahun 1967

1. Orientasi

Sejak dari konsiderans sudah terlihat bahwa UU Nomor 11 Tahun 1967 beorientasi kepada eksploitasi. Ketentuan “Menimbang” huruf a

menyatakan, bahwa guna mempercepat terlaksananya pembangunan

ekonomi Nasional dalam menuju masyarakat Indonesia yang adil dan

makmur, materil dan spirituil berdasarkan Pancasila maka perlulah

dikerahkan semua dana dan daya untuk mengolah dan membina segenap

kekuatan ekonomi potensiil di bidang pertambangan menjadi kekuatan

ekonomi riil. Eksploitasi tambang yang diusung oleh UU Nomor 11 Tahun

1967 memang sejalan dengan politik pembangunan ekonomi yang

digerakkan oleh rezim yang berkuasa saat itu (1967), yaitu pada masa-masa

awal pemerintahan orde baru. Orientasi seperti itu semakin terlihat pada

ketentuan “Menimbang” huruf b, UU Nomor 11 Tahun 1967 dikeluarkan

dalam rangka memperkembangkan usaha-usaha pertambangan Indonesia di

masa sekarang dan di kemudian hari. Landasan filosofis, yang menyiratkan

tujuan dari UU Nomor 11 Tahun 1967 untuk mengembangkan usaha-usaha

pertambangan, memberi warna bagi isi UU Nomor 11 Tahun 1967 pasal

demi pasal.

(32)

Sejalan dengan orientasinya yang bersifat eksploitatif, UU ini

cenderung lebih berpihak kepada para pemilik modal atau pengusaha di

bidang pertambangan (prokapital). Dalam Penjelasan Umum Alinea 4 UU ini

dapat diketahui bahwa latar belakang lahirnya UU ini adalah untuk

kepentingan usaha di bidang pertambangan. Misi eksploitasi dan prokapital

tersebut mewarnai isi atau batang tubuh UU ini. Hal ini tergambar, salah

satunya, dari ketentuan yang terdapat pada Pasal 5 sampai dengan 12 yang mengatur tentang “Bentuk dan Organisasi Perusahaan Pertambangan”.

Konsep dasar penguasaan Negara atas bahan galian tambang,

dipertegas dalam Pasal 1Undang-undang No. 11 tahun 1967: “Segala bahan

galian yang terdapat di wilayah hukum pertambangan Indonesia yang

merupakan endapan-endapan alam sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa,

adalah kekayaan Nasional Bangsa Indonesia dan oleh karenanya dikuasai

dan dipergunakan olehNegara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Jika kita mengkaji tujuan hukum yang ada dalam Undang-undang Nomor 11

tahun 1967,pada bagian menimbang adalah untuk :29

a. Mempercepat terlaksananya pembangunan ekonomi nasional dalam

menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila;

b. Perlu adanya pengerahan semua dana dan daya untuk mengolah dan

membina segenap kekuatan ekonomi potensial di bidang pertambangan menjadi kekuatan ekonomi;

29

(33)

Berdasarkan konsep dasar dalam Pasal 1 Undang-undang No. 11

tahun 1967, merupakanpengakuan pembentuk Undang-undang bahwa :30

a. Bahan-bahan galian tambang yang ada di Bumi Indonesia merupakan

Karunia Tuhan Yang Maha Esa;

b. Negara menguasai bahan galian tersebut untuk diperuntukkan

sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Pengakuan penguasaan negara atas bahan galian dengan demikian

jelas tujuannya adalah diperuntukkan sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Demikian pula tujuan dari UU Nomor 11 Tahun 1967 adalah meningkatkan

perekonomian negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pada

konsep ini terlihat masih ada kesesuaian tujuan dengan teori hukum, bahwa

tujuan hukum adalah keadilan dan kemanfaatan. Pernyataan untuk

sebesar-besar kemakmuran rakyat mengandung unsur di dalamnya keadilan dan

kemanfaatan.

Namun jika ditinjau ke dalam substansi Undang-undang Nomor 11

tahun 1967, terdapat beberapa perbedaan dari tujuan semula untuk

sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan pandangan teori hukum bahwa hukum

ditujukan untuk menciptakan keadilan dan kemanfaatan. Beberapa substansi

yang tidak konsisten :

a. Tidak ada perlindungan khusus bagi pertambangan rakyat

30

(34)

Suatu usaha pertambangan dapat dilakukan oleh perseorangan atau

perusahaan yang kepadanya telah diberikan kuasa pertambangan, hal

ini diatur dalam Pasal 15 ayat 1 Undang-undang Nomor11 tahun 1967.

Menurut Pasal 2 (i), yang dimaksud dengan kuasa pertambangan adalah

wewenang yang diberikan kepada badan/perseorangan untuk

melaksanakan usaha pertambangan. Bagi pertambangan rakyat dapat

diberikan kuasa pertambangan jika mendapatkan ijin pertambangan

(Pasal 11 ayat (2)). Ketentuan tersebut tanpa maksud memberikan

perlindungan khusus membawa dampak hampir semua pertambangan

skala besar di Indonesia dikuasai modalasing, sehingga sebagian besar

keuntungan dari usaha pertambangan di Indonesia akan lari keluar

negeri. Sementara masyarakat adat yang telah menambang secara

turun-temurun tidak mendapatkan ijin pertambangan. Berdasarkan

ketentuan ini maka jelas tujuan menciptakan kemakmuran

sebesar-besarnyatidaklah terwujud.

b. Masyarakat pemilik hak atas tanah tidak memiliki hak tolak terhadap

pertambangan.

Di dalam Pasal 26 Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967, dinyatakan

apabila telah didapat ijin kuasa pertambangan atas sesuatu daerah atau

wilayah menurut hukum yang berlaku, maka kepada mereka yang

(35)

kuasa pertambangan atas tanah yang bersangkutan atas dasar mufakat

kepadanya:

a. sebelum pekerjaan dimulai, dengan diperlihatkannya surat kuasa

pertambangan atau salinannya yang sah diberitahukan tentang

maksud dan tempat pekerjaan-pekerjaan itu akan dilakukan ;

b. diberi ganti kerugian atau jaminan ganti kerugian itu terlebih

dahulu.

Berdasarkan ketentuan tersebut nampak bahwa tidak ada peluang bagi

masyarkat untuk menolak beroperasinya perusahaan pertambangan,

hak masyarakat hanyalah menerima ganti rugi saja. Ketentuan ini

jelas-jelas dapat merugikan kepentingan pemilik hak atas tanah yang

mungkin mempunyai orientasi lain untuk mengusahakan tanahnya

selain pertambangan. Ketentuan ini jelas mengesampingkan nilai-nilai

keadilan.

c. Hak Pemegang hak atas tanah terpinggirkan

Secara substansi ketentuan tentang hak-hak atas tanah dalam UU

Pokok Pertambangan ini rentan menimbulkan konflik dengan

pemegang hak atas tanah, hal ini terjadi karena kepentingan pemegang

(36)

kuasa pertambangan. Meskipun hak untuk mendapat ganti kerugian

secara tegas dinyatakan dalam Pasal 27, yaitu :31

a. Apabila telah ada hak tanah atas sebidang tanah yang bersangkutan

dengan wilayah kuasa pertambangan, maka kepada yang berhak diberi ganti rugi yang jumlahnya ditentukan bersama antara pemegang kuasa pertambangan yang mempunyai hak atas tanah tersebut atas dasar musyawarah dan mufakat, untuk penggantian sekali atau selama hak itu tidak dapat diperguanakan.

b. Jika yang bersangkutan tidak dapat mencapai kata mufakat tentang

ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini, maka penentuannya diserahkan kepada Menteri.

c. Jika yang bersangkutan tidak dapat menerima penentuan Menteri

tentang ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal ini, maka penentuannya diserahkan kepada Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi daerah/wilayah yang bersangkutan.

d. Ganti rugi yang dimaksud pada ayat (1), (2), dan (3) Pasal ini

beserta segala biaya yang berhubungan dengan itu dibebankan kepada pemegang kuasa pertambangan yang bersangkutan.

e. Apabila telah diberikan kuasa pertambangan pada sebidang tanah

yang di atasnya tidak terdapat hak tanah, maka atas sebidang tanah tersebut atau bagian-bagiannya tidak dapat diberi hak tanah kecuali dengan persetujuan Menteri.

d. Kriminalisasi Rakyat

Masyarakat yang berhadapan dengan perusahaan pertambangan harus

menghadapi upaya kriminalisasi.32 Bahkan upaya kriminalisasi tersebut

31

Lihat Pasal 27 UU Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan.

32

(37)

dilegalkan menurut ketentuan Undang-undang Nomor 11 tahun 1967 Pasal

32 yang ditentukan bahwa :33

1. Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya satu tahun

dan/atau dengan denda setinggi-tingginya lima puluh ribu rupiah, barangsiapa yang tidak berhak atas tanah merintangi atau mengganggu usaha pertambangan yang sah.

2. Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan

dan/atau dengan denda setinggi-tingginya sepuluh ribu rupiah, barang siapa yang berhak atas tanah merintangi atau mengganggu usaha pertambangan yang sah, setelah pemegang kuasa

pertambangan memenuhi syarat-syarat sebagaimana yang

tercantum dalam Pasal 26 dan 27 Undang-undang ini.

3. Hubungan dengan pemilik modal.

Dalam UU No 11 Tahun 1967 tentang pertambangan, hubungan

dengan pemilik modal diikat dengan perjanjian kontrak karya.Pasal 10 UU

No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan

menyatakan bahwa:

(1) Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor apabila

diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara ybs selaku pemegang kuasa pertambangan.

(2) Dalam mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti

yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara harus berpegang pada pedoman-pedoman, petunjuk-petunjuk dan syarat-syarat yang diberikan oleh Menteri.

(3) Perjanjian karya tersebut dalam ayat (2) pasal ini berlaku sesudah

disyahkan oleh Pemerintah setelah berkonsultasi dengan DPR apabila menyangkut eksploitasi golongan a sepanjang mengenai bahan-bahan galian yang ditentukan dalam pasal 13 UU ini dan/atau yang perjanjian karyanya berbentuk PMA.

33

(38)

Perjanjian karya merupakan perjanjian antara instanstansi pemerintah

atau perusahaan Negara sebagai pemegang kuasa pertambangan dengan

kontraktor yang ditunjuk oleh Menteri. Hal ini dilakukan jika diperlukan

untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dapat

dilaksanakan sendiri oleh Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara yang

bersangkutan. Pasal ini menjadi dasar untuk “kontrak karya” baik dengan

pihak modal dalam Negeri mau pun dengan modal Asing (Penjelasan Pasal

10).

4. Akses Mengusahakan.

Hal ini ditunjukkan pada hubungan antara orang dengan tambang

atau bahan galian dalam UU ini disebut dengan “kuasapertambangan”. Pasal

2 huruf (i) UU ini menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kuasa

pertambangan adalah wewenang yang diberikan kepada badan/perseorangan

untuk melaksanakan usaha pertambangan.

Analisis di atas menunjukkan bahwa susbstansi dalam UU Nomor 11

Tahun 1967 tidak mencerminkan usaha untuk mewujudkan keadilan sosial,

keadilan dalam UU Nomor 11 Tahun 1967 hanyalah keadilan keadilan

distributif yaitu keadilan yang tidak memberikan hak sama kepada setiap

orang, tapi keadilan yang memberikan hak proporsionalitas/kesebandingan

dalam penerapannya. Keadilan distributif dalam UU Nomor 11 Tahun 1967

(39)

Pada masa UU No 11 Tahun 1967, pengertian ”dikuasai negara” telah bergeser dari ”pemilikan dan penguasaan secara langsung” menjadi

”penguasaan secara tidak langsung”. Hal ini terjadi karena pemerintah

menyadari sepenuhnya bahwa mengelola sumber daya alam secara langsung

memerlukan sumber daya manusia yang terampil (skill), modal yang sangat

besar (high capital), teknologi tinggi (high technology), dan berisiko tinggi

(high risk). Hubungan dengan pemilik modal bersifat kontrak karya. Dalam hal ini, maka Negara cq Pemerintah dapat menjadi pihak dalam sengketa

dengan pihak swasta (asing) berkaitan dengan sumberdaya alam yang

dikuasainya. Hal ini tidak lain karena Pemerintah dapat melakukan

perjanjian atau kontrak dengan pihak swasta dalam ekonomi sumberdaya alam. Keadaan ini menurunkan derajat negara sebagai representasi “Yang

Publik.” Degradasi ini terjadi secara sistematis lewat deregulasi yang

dilakukan dengan mengadopsi hubungan perjanjian atau kontrak antara Pemerintah dengan Swasta dalam “pengalihan” suatu hak atas sumberdaya

alam pertambangan.

Hubungan keperdataan antara Pemerintah dengan Investor ini pada

masa UU No 11 Tahun 1967 dapat menggeser urusan publik ke dalam ruang

bisnis dan berorientasi pada keuntungan ekonomi. Pada hal-hal tertentu

pemerintahan yang demikian dapat dikategorikan sebagai Corporatocracy.

(40)

pemerintahan didominasi oleh orang berlatarbelakang saudagar dengan motif

ekonomi yang diraih dari kekuasaan politik, tetapi juga ditelaah dari konsep

hubungan hukum yang dibangun dengan pihak investor. Implementasi

hubungan hukum pemanfaatan pertambangan dilakukan dengan MoU dan

Kontrak Kerjasama oleh Pemerintah berkedudukan sederajat. Bukan

administrasi perizinan yang satu arah. Ketentuan ini jelas mengesampingkan

nilai-nilai keadilan sosial dalam Pasal 33 UUD 1945 yang berorientasi

kepada kemakmuran rakyat.

3. UU Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan

Batubara

a. Law Making Proses UU Nomor 4 Tahun 2009

Pada era Reformasi Undang-Undang yang merupakan produk Orde

Lama yang tidak sesuai dengan rakyat Indonesia dirubah, salah satunya

adalah Undang-undang mengenai pertambangan dengan merumuskan UU

Minerba. Tujuan dari dirumuskannya UU Minerba oleh pemerintah dan

parlemen (DPR) adalah untuk menggantikan UU No.11 Tahun 1967 tentang

Ketentuan–Ketentuan Pokok Pertambangan yang dianggap sudah tidak

sesuai lagi dengan perkembangan zaman ditingkat nasional maupun global.

Selain itu, perubahan sistem sentralisasi ke desentralisasi menjadi dasar

utama lahirnya UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan

(41)

Problem terbesar dari UU No.11 Tahun 1967 adalah sistem perjanjian

atau kontrak tambang. Dalam pertambangan mineral, dikenal istilah Kontrak

Karya (KK). Sementara dalam industri tambang batubara ada istilah

Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dan Kuasa

Pertambangan (KP). Sistem kontrak ini memposisikan negara dan korporasi

tambang secara sejajar. Dalam rezim kontrak, negara dipandang sebagai

mitra bisnis perusahaan tambang yang tidak memiliki sifat superior. Hal

inilah yang membuat negara selalu ‘impotent’ ketika berhadapan dengan

korporasi dalam perumusan pembaruan kontrak, penarikan royalti dan

pajak, juga di saat kasus-kasus lingkungan dan sosial bermunculan. Posisi

negara yang lemah dalam UU No.11 Tahun 1967 inilah yang berusaha untuk

dirubah oleh pemerintah dan DPR melalui UU No.4 Tahun 2009 tentang

Minerba tersebut. Maka, dalam UU Minerba terjadi perubahan rezim dalam

tata kelola industri tambang nasional. Perubahan itu terjadi dari rezim

kontrak/perjanjian kepada rezim perizinan. Berdasarkan hal itulah maka UU

No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba)

disahkan di Jakarta pada tanggal 12 Januari 2009.

b. Norma Hukum UU Nomor 4 Tahun 2009

Norma hukum atau isi dari UU Nomor 4 Tahun 2009 ini adalah

(42)

Tahun 2009 adalah Pertambangan Mineral dan Batubara. Dalam konsiderans

tertuang arah UU ini yaitu:34

a. bahwa mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah

hukum pertambangan Indonesia merupakan kekayaan alam tak terbarukan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak, karena itu pengelolaannya harus dikuasai oleh Negara untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan;

c. bahwa kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara yang

merupakan kegiatan usaha pertambangan di luar panas bumi, minyak dan gas bumi serta air tanah mempunyai peranan penting dalam memberikan nilai tambah secara nyata kepada pertumbuhan ekonomi nasional dan pembangunan daerah secara berkelanjutan;

d. bahwa dengan mempertimbangkan perkembangan nasional

maupun internasional, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan sudah tidak sesuai lagi sehingga dibutuhkan perubahan peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan mineral dan batubara yang dapat mengelola dan mengusahakan potensi mineral dan batubara secara mandiri, andal, transparan, berdaya saing, efisien, dan berwawasan lingkungan, guna menjamin pembangunan nasional secara berkelanjutan;

e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam

huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Batang tubuh, terdiri dari 26 bab dan 175 pasal. Bab 1, Ketentuan

Umum yang berisi penjelasan istilah-istilah dalam peraturan. Bab 2, Asas

34

(43)

dan Tujuan yang menjelaskan asas dan tujuan dari UU Nomor 4 Tahun 2009

ini, yaitu:35

Pasal 2

Pertambangan mineral dan/atau batubara dikelola berasaskan:

a. manfaat, keadilan, dan keseimbangan;

b. keberpihakan kepada kepentingan bangsa;

b. partisipatif, transparansi, dan akuntabilitas;

c. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Pasal 3

Dalam rangka mendukung pembangunan nasional yang

berkesinambungan, tujuan pengelolaan mineral dan batubara adalah:

a. menjamin efektivitas pelaksanaan dan pengendalian kegiatan

usaha pertambangan secara berdaya guna, berhasil guna, dan berdaya saing;

b. menjamin manfaat pertambangan mineral dan batubara secara

berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup;

c. menjamin tersedianya mineral dan batubara sebagai bahan baku

dan/atau sebagai sumber energi untuk kebutuhan dalam negeri;

d. mendukung dan menumbuhkembangkan kemampuan nasional

agar lebih mampu bersaing di tingkat nasional, regional, dan internasional;

e. meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, daerah, dan negara,

serta menciptakan lapangan kerja untuk sebesar-besar

kesejahteraan rakyat; dan

f. menjamin kepastian hukum dalam penyelenggaraan kegiatan

usaha pertambangan mineral dan batubara.

Bab 3, Penguasaan mineral dan batubara. Mineral dan batubara

sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan merupakan kekayaan nasional

yang dikuasai oleh negara untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat.

Penguasaan mineral dan batubara oleh negara diselenggarakan oleh

Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.

35

(44)

Bab 4, Kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara.

Bab ini membagi dan menjelaskan rincian kewenangan dalam pengelolaan

pertambangan mineral dan batubara. Kewenangan dalam pengelolaan

pertambangan mineral dan batubara dibagi menjadi: kewenangan pemerintah

pusat, kewenangan pemerintah propinsi dan kewenangan pemerintah

propinsi kabupaten/kota.

Bab 5, Wilayah Pertambangan. Wilayah Pertambangan ditetapkan

oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan

berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Penetapan Wilayah Pertambangan dilaksanakan:36

a. secara transparan, partisipatif, dan bertanggung jawab;

b. secara terpadu dengan memperhatikan pendapat dari instansi

pemerintah terkait, masyarakat, dan dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya, serta berwawasan lingkungan; dan

c. dengan memperhatikan aspirasi daerah.

Wilayah Pertambangan terdiri atas:37

a. Wilayah Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut WUP,

adalah bagian dari WP yang telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi geologi.

b. Wilayah Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut WPR,

adalah bagian dari WP tempat dilakukan kegiatan usaha pertambangan rakyat.

c. Wilayah Pencadangan Negara, yang selanjutnya disebut WPN,

adalah bagian dari WP yang dicadangkan untuk kepentingan strategis nasional.

36

Lihat Pasal 10 UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

37

(45)

Bab 6, Usaha Pertambangan. Usaha pertambangan dikelompokkan

atas: pertambangan mineral dan pertambangan batubara. Penggolongan

mineral dan batubara dalam UU Minerba terdiri dari mineral radioaktif,

mineral logam, mineral bukan logam dan batuan, dan batubara, sedangkan

dalam UU sebelumnya bahan galian digolongkan ke dalam, bahan galian

strategis, vital, non strategis dan non vital. Usaha pertambangan

dilaksanakan dalam bentuk:38

a. Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut IUP, adalah

izin untuk melaksanakan usaha pertambangan.

b. Izin Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut IPR, adalah

izin untuk melaksanakan usaha pertambangan dalam wilayah pertambangan rakyat dengan luas wilayah dan investasi terbatas.

c. Izin Usaha Pertambangan Khusus, yang selanjutnya disebut

dengan IUPK, adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan di wilayah izin usaha pertambangan khusus.

Bab 7, Izin Usaha Pertambangan. Pemegang IUP Eksplorasi dan

pemegang IUP Operasi Produksi dapat melakukan sebagian atau seluruh

kegiatan. Ijin Usaha Pertambangan (IUP) terdiri atas dua tahap:39

a. IUP Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi,

dan studi kelayakan;

b. IUP Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi,

penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.

38

Lihat Pasal 35 UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

39

(46)

Bab 8. Persyaratan Perizinan Usaha Pertambangan. Pemerintah dan

pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban

mengumumkan rencana kegiatan usaha pertambangan di WIUP serta

memberikan IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi kepada masyarakat

secara terbuka. Usaha pertambangan wajib memenuhi persyaratan

administratif, persyaratan teknis, persyaratan lingkungan, dan persyaratan

finansial.

Bab 9, Izin Pertambangan Rakyat. Bupati/walikota memberikan IPR

terutama kepada penduduk setempat, baik perseorangan maupun kelompok

masyarakat dan/atau koperasi. Luas wilayah untuk 1 (satu) IPR yang dapat

diberikan kepada perseorangan paling banyak 1 (satu) hektare, kelompok

masyarakat paling banyak 5 (lima) hektare, dan/atau koperasi paling banyak

10 (sepuluh) hektare dengan jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun dan

dapat diperpanjang.

Bab 10, Izin Usaha Pertambangan Khusus. IUPK diberikan oleh

Menteri dengan memperhatikan kepentingan daerah. IUPK terdiri atas dua

tahap:40

a. IUPK Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum,

eksplorasi, dan studi kelayakan;

b. IUPK Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi,

penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.

40

(47)

Bab 11, Persyaratan Perizinan Usaha Pertambangan Khusus.

Pemerintah berkewajiban mengumumkan rencana kegiatan usaha

pertambangan di WIUPK serta memberikan IUPK Eksplorasi dan IUPK

Operasi Produksi kepada masyarakat secara terbuka. Badan usaha yang

melakukan kegiatan dalam WIUPK wajib memenuhi persyaratan

administratif, persyaratan teknis, persyaratan lingkungan dan persyaratan

finansial.

Bab 12, Data Pertambangan. Untuk menunjang penyiapan WP dan

pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pertambangan, Menteri atau

gubernur sesuai dengan kewenangannya dapat menugasi lembaga riset

negara dan/atau daerah untuk melakukan penyelidikan dan penelitian tentang

pertambangan. Data yang diperoleh dari kegiatan usaha pertambangan

merupakan data milik Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan

kewenangannya. Data usaha pertambangan yang dimiliki pemerintah daerah

wajib di

Referensi

Dokumen terkait

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing

(3) Izin Perluasan bagi Perusahaan Kawasan Industri yang penanaman modalnya dilakukan dalam rangka Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing

(3) Izin Perluasan bagi Perusahaan Kawasan Industri yang penanaman modalnya dilakukan dalam rangka Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing

dengan menggunakan kekayaan atau modal dari luar negeri, sebagaimana dimaksud dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (Lembaran Negara Tahun

Penanaman modal asing diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Pasal 1 angka 3 menyatakan yang dimaksud dengan penanaman modal

Permasalahan dalam skripsi ini adalah bagaimana perlakuan terhadap penanam modal (investor) berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal

Pengaturan kepemilikan saham asing dalam perusahaan penanaman modal asing di Indonesia dalam Pasal 8 ayat 1 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, diatur

1 tahun 1967 mengenai Penanaman Modal Asing dan setiap undang-undang yang mengubah atau menggantikannya, dan terhadap penanaman modal oleh penanam modal dari