• Tidak ada hasil yang ditemukan

retorika

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "retorika"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

A. Pengertian Retorika A. Pengertian Retorika

Retorika adalah teknik pemakaian bahasa seni, yang didasarkan pada suatu Retorika adalah teknik pemakaian bahasa seni, yang didasarkan pada suatu  penge

 pengetahuan ytahuan yang teang tersusun rsusun baik.baik.

Dua aspek penting dalam retorika adalah; pengetahuan mengenai bahasa dan Dua aspek penting dalam retorika adalah; pengetahuan mengenai bahasa dan  pengg

 penggunaan bunaan bahasa dahasa dengan engan baik.baik.

Studi tentang retorika mempengaruhi kebudayaan Eropa mulai jaman kuno hingga Studi tentang retorika mempengaruhi kebudayaan Eropa mulai jaman kuno hingga abad XVII M. Pada abad XVII, retorika dianggap tidak penting lagi. Pada abad XX abad XVII M. Pada abad XVII, retorika dianggap tidak penting lagi. Pada abad XX kembali mengambil tempat lagi sebagai cara untuk menyajikan berbagai macam kembali mengambil tempat lagi sebagai cara untuk menyajikan berbagai macam  bidang

 bidang pengepengetahuan tahuan dalam bdalam bahasa yahasa yang baang baik dan ik dan efektif.efektif.

Retorika menitiberatkan pada seni oratori atau teknik berpidato. Retorika menitiberatkan pada seni oratori atau teknik berpidato.

Beberapa pengertian retorika modern: Beberapa pengertian retorika modern:

Tujuan retorika untuk menerangkan kaidah-kaidah yang menjadi landasan dari Tujuan retorika untuk menerangkan kaidah-kaidah yang menjadi landasan dari tulisan yang bersifat prosa atau wacana lisan yang berbentuk pidato atau

tulisan yang bersifat prosa atau wacana lisan yang berbentuk pidato atau ceramah,untuk mempengaruhi sikap dan perasaan orang.

ceramah,untuk mempengaruhi sikap dan perasaan orang.

Prinsip-prinsip mengenai komposisi pidato yang persuasif dan efektif, maupun Prinsip-prinsip mengenai komposisi pidato yang persuasif dan efektif, maupun ketrampilan yang harus dimiliki seorang orator.

ketrampilan yang harus dimiliki seorang orator.

Prinsip-prinsip mengenai komposisi prosa pada umumnya, baik yang dimaksudkan Prinsip-prinsip mengenai komposisi prosa pada umumnya, baik yang dimaksudkan untuk penyajian lisan maupun untuk penyajian tertulis, entah yang bersifat fiktif  untuk penyajian lisan maupun untuk penyajian tertulis, entah yang bersifat fiktif  atau yang bersifat ilmiah.

atau yang bersifat ilmiah.

Kumpulan ajaran teoritis mengenai seni komposisi verbal, baik prosa maupun puisi, Kumpulan ajaran teoritis mengenai seni komposisi verbal, baik prosa maupun puisi,  beserta u

 beserta upaya-uppaya-upaya yanaya yang digg digunakan unakan dalam dalam kedua kedua jenis kojenis komposmposisi verbisi verbal tersebal tersebut.ut.

B. Jaman Yunani B. Jaman Yunani

(2)

Retorika mula-mula tumbuh dan berkembang di Yunani pada abad V dan IV sebelum Masehi.

Pengertian asli retorika adalah sebuah telaah atau studi simpatik tentang oratoria.

Orang yang pertama-tama dianggap memperkenalkan oratori adalah orang Yunani Sicilia, tetapi tokoh pendiri sebenarnya adalah Corax dari Sirakusa (500 SM) yang meletakkan sistematika oratori atas lima bagian, yaitu:

Poem atau pengantar dari pidato yang akan disampaikan.

Diegesis atau Narratio: bagian yang mengandung uraian tentang pokok persoalan yang akan disampaikan.

Agon atau argumen; bagian pidato yang mengemukakan bukti-bukti mengenai  pokok persoalan yang dikemukakan tersebut.

Parekbaksis atau Digressio; catatan pelengkap yang mengemukakan keterangan-keterangan lainnya yang dianggap perlu untuk menjelaskan persoalan tadi.

Peroratio; bagian penutup pidato yang mengemukakan kesimpulan dan saran-saran.

Terdapat tiga kontroversi tentang retorika yaitu: (1) menyangkut persoalan

 pemakaian unsur stilistika, (2) masalah hubungan antar retorika dan moral, dan (3) masalah pendidikan.

Kontroversi pertama: terdapat tiga aliran, yaitu: menyetujui penggunaan unsur-unsur stilistika, yang menolak, berada di luar kedua aliran pertama.

(3)

Gorgias dan Leontini, mula-mula memperkenalkan retorika pada orang Athena (42 SM) yang berpendapat perlu menggunakan upaya-upaya stilistika dalam retorika seperti: epitet-epitet penuh hiasan, antitese-antitese, terminasi (akhir kata) penuh ritme dan bersajak yang terdapat pada pidato maupun narasi historis Thucydides dan argumentasi sandiwara dari Euripides. Pemakaian unsur stilistika yang

 berlebihan tersebut dianggap berlebihan oleh Lysias yang menyukai gaya simple. Kemudian kedua teori tersebut dimentahkan oleh Demosthenes.

Kontroversi kedua menyangkut masalah retorika dan moral; Gorgias

mengemukanan bahwa dalam berpidato, seorang orator harus bermoral, karenanya retorika dianggap tiadak perlu/mubazir.

Kontroversi ketiga: terdapat pada bidang pendidikan. Retorika memicu para ahli retorika untuk memasukkan kurikulum yang berbeda dalam materi tersebut. Isocrates (perimasukkan pertengahan abad IV): aspek-aspek politik dapat dimasukkan dalam retorika.

Gorgias: membicarakan masalah etika dan politik  Phaeradus: membicarakan etika dan mistik.

Sokrates: memaklumkan retorika sebagai seni dangkal yang mengambil bagian dalam ilmu fillsafat

Aristoteles: Logika formal merupakan dasar yang tepat bagi pidato yang jujur dan efektif baik dalam dewan legislatif maupun pengadilan. Kemudian dalam buku Rhetorica, aristoteles membedakan tiga jenis pidato:

a. Pidato yudisial (legal/forensik), mengenai perkara di pengadilan yang menyangkut apa yang terjadi dan tidak pernah terjadi.

 b. PidatoPidato deliberatif (politik/suasoria), berisi nasihat yang disampaiakn  penasihat mengenai hal yang patut dan tidak patut dilakukan.

c. Pidato epideiktik (demonstratif), untuk pementasan dan upacara-upacara ibadah  berisi tentang kecaman dan pujian yang terjadi sekarang.

(4)

C. Jaman Romawi (300 sebelum Masehi -130 Masehi)

Retorika pada Jaman ini dibawa dan diajarkan oleh seorang budak Yunani Livius Andronicus (284-204 SM). Ahli-ahli retorika yang terkenal pada jaman Romawi adalah: Appius Claudius Caecus (300 SM), Cato de Censoris, Ser. Sulpicius Galba, Caius Grechus, Marcus Antonius, dan Lucius Licinius Crassus.

Dua orang guru retorika Romawi yang terkenal adalah Cicero dan Quintilianus. M. Tullius Cicero menghasilkan tiga karya: De oratore (prinsip-prinsip oratori terbagi tiga: a. studi yang diperlukan orator; b. penggarapan topic pidato; c. bentuk 

 penyajian sebuah pidato), Brutus dan Orator.

Karya terakhir yang terkenal pada jaman ini adalah: Institutio Oratoria kaeya Fabius Quintilianus.

D. Metode Retorika Klasik 

Ada beberapa pokok masalah retorika, antara lain: (1) seni retorika, (2) masalah  pidato, (3) situasi yang menimbulkan pidato.

Seni retorika. Terdapat lima langkah pembagian:

- Inventio/Heuresis: penemuan atau penelitian materi-materi yang mencangkup: menemukan, mengumpulkan, menganalisa, memilih materi yang cocok untuk   berpidato. Menurut Aristoteles argumen-argumen harus dicari melalui rasio, moral

dan afeksi.

- Dispositio/Taxis/Oikonomia: penyusunan dan pengurutan materi (argumen) dalam sebuah pidato.

- Elocutio atau Lexis: pengungkapan atau penyajian gagasan dalam bahasa yang sesuai. Ada tiga hal yang menjadi dasar elucutio: komposisi, kejelasan, langgam  bahasa dari pidato; kerapian, kemurnian, ketajaman dan kesopanan dalam bahasa;

kemegahan, hiasan pikiran dengan upaya retorika.

- Memoria/mneme: menghafalkan pidato, yaitu latihan untuk mengingat gagasan-gagasan dalam pidato yang sudah disusun.

(5)

- Actio/Hypokrisis: menyajikan pidato. Penyajian yang efektif dari sebuah  pidatoakan ditentukan juga oleh suara, sikap dan gerak-gerik.

 b. Masalah pidato. Aristoteles, Cicero dan Quintilianus membagi pidato atas lima  bagian:

- Poem/exordium: bagian pembukaan/introduksi (jelas,sopan, singkat) - Narratio/dicgesis: pernyataan mengenai kasus yang dibicarakan.

Mengandung pernyataan mengenai fakta-fakta awal yang jelas, dipercaya, singkat dan menyenangkan.

- Agon/Argumen: menyajikan fakta-fakta atau bukti untuk membuktikan masalah atau kasus yang sedang dibicarakan.

- Refutatio/Lysis: bagian yang menolak fakta-fakta yang berlawanan.

Pembicara menunjukkan bahwa keberatan-keberatan yang bersifat absurd,palsu/ tidak konsisten.

- Peroratio/epilogos: kesimpulan atau suatu rekapitulasi dari apa yang telah dikemukakan dengan suatu appeal emosional pada pendengar.

c. Situasi yang menimbulkan pidato

Merupakan semua faktor luar yang dapat mempengaruhi penyusunan pidato, cara membawakan pidato, untuk mencapai hasil yang optimal. Situasi juga mencangkup  psikologi pendengar, tujuan pidato, sifat umum dan khusus pidato.

Metode Pendidikan Retorika meliputi: imitasi dan deklamasi

Imitasi

Merupakan cara untuk melatih membawakan pidato-pidato dengan meniru cara-cara yang biasa digunakan orator-orator klasik. Karya terkenal pada masa itu adalah Progymnasmata (Hermogenes (c. 150 AD) dari Tarsus, dan buku Antonius (c.400 AD), seorang murid Libanius dari Antiokia.

(6)

Merupakan metode untuk menemukan suatu pokok persoalan yang dipergunakan dalam latihan akademis.

Dasar Latihan, merupakan teknik melatih diri untuk mencapai inti persoalan atau hal aktual yang sedang dihadapi.

E. Abad Pertengahan (V-XV)

Pada jaman Romawi, para kaisar memberi subsidi kepada sekolah-sekolah yang memasukkan retorika dalam silabus pendidikan. Sehingga ahli retorika yang

dihasilkan bisa menjadi imam agung pada upacara resmi. Tapi tiga abad berikutnya  pidato hanya dilakukan untuk peniruan masa lampau dengan metode imitasi dan

deklamasi.

Retorika pada abad pertengahan digolongkan dalam tujuh kesenian liberal. Retorika, tatabahasa dan logika (dialektika) membentuk satu trivium (tiga

serangkai). Bukubuku pegangan Abad pertengahan mengenai retorika mengikuti  prinsip-prinsip klasik dengan membedakan tiga gaya tulisan: kuat, sedang dan

lemah. Atau tinggi,menengah, rendah. Gaya tinggi bukan hanya menyangkut hiasan tetapi juga penggunaan figuratau warna retorika yang paling sulit dan tinggi

martabatnya.

Terdapat enam langkah pidato (dispositio) pada abad pertengahan: (a) Exordium: sebuah pembukaan yang jelas, sopan tapi singkat, (b) Narratio: sebuah pernyataan dari fakta awal yang jelas, dipercaya, singkat dan menyenangkan. (c) Propositio:  penyajian kasus, jika yang disajikan berbentuk isu disebut partitio, (d) Confirmatio:  penyajian argumen. (e) Refutatio: penolakan atas keberatan-keberatan, bahwa

keberatan itu tidak bersifat absud, palsu atau tidak konsisten, dan (f) peroratio: ringkasan, yaitu rangkuman dengan suatu appeal emosional.

F. Jaman Renaisance (XV-XVIII)

Pada jaman renaisance, tulisan-tulisan mannerisme menimbulkan reaksi keras yang merupakan wujud kembalinya retorika klasik yang bersifat imitatif. Pada abad XV dan XVI, buku-buku pegangan melanjutkan retorika sebagai seni untuk menyajikan dan menyiapkan langkah klasik mulai dari inventio, melalui dispositio, elocutio,

(7)

dan memoria, berakhir pada actio. Tokoh yang terkenal adalah Petrarchus yang mempopulerkan metode imitasi.

Kedatangan sarjana-sarjana Byzantium ke Italia pada abad XV, menyebabkan sistematisasi teknik imitasi menyebar ke Barat. Kelahiran kembali (renaisance) retorika klasik tersebut ditandai dengan kelahiran retorika humanis.

Retorika humanis menghasilkan kamus, buku pegangan mengenai ungkapan dan eksempla (adages = peribahasa, anekdote, materi ilustratif) dalam bahasa Latin, dan  prosedur-prosedur untuk menghafal. Sehingga aliran humanis menjadi aliran lebih  baik dari Graeco-Roman dan Byzantium.

Sajak humaniora berupa sanjak-sanjak klasik, filsuf, ahli sejarah, ahli pidato, yang  berbicara mengenai hidup dan nilai kemanusiaan., dipelajari dengan semangat yang

tak terbatas karena orang-orang sudah merasa capai dengan skolastisisme dan teologi yang sudah merosot.

Humanis adalah kelompok maju yang melihat kebudayaan klasik, dengan kebijaksanaan moralnya, rasionalitas yang kritis, dan seni yang agung, sebagai tingkat yang paling tinggi dicapai manusia.

Sejak tahun 1550, aliran humanisme memiliki suatu pegangan yang kuat dalam  pendidikan. Pada akhir abad Xvseorang humanis Belanda bernama Rodolphus

Agricola mengingatkan bahwa penulis-penulis harus mengembangkan subyek   penelitian mereka yang bertalian dengan genus, species, sebab, akibat, persamaan,

dan pertentangan.

G. Kemunduran Retorika (XVIII-XX)

Aliran Ramisme menandai keruntuhan seni retorika klasik, karena dianggap  berlebihan dan bukan hanya berdasar atas style saja.

(8)

Aliran positivisme logis menarik perhatian orang akan pentingnya mempelajari cara-cara mempergunakan bahasa dengan baik dan efektif.

Karya I.A. Richards yaitu philosophy of Rethoric (1941) menandaskan diperlukan adanya seni baru bagi wacana. Sehingga diperlukan usaha untuk menggaungkan retorika klasik yang saat ini sedang diusahakan oleh sekolah-sekolah dan

universitas-universitas di Amerika Serikat.

H. Retorika Modern

Retorika modern harusnya disampaikan secara efektif dan efisien dan lebih ditekankan kepada berbahasa secara tertulis, dengan tidak mengabaikan kemampuan secara lisan.

Berbahasa secara efektif diarahkan kepada hasil yang akan dicapai penulis dan  pembaca, bahwa amanat yang yang ingin disampaikan dapat diterima dan utuh.

Sedangkan secara efisien dimaksudkan bahwa alat atau cara yang dipergunakan untuk menyampaikan suatu amanat dapat membawa hasil yang besar, sehingga  penulis dan pembicara tidak perlu mengulang dan berlebihan dalam penyampaian.

Sehinnga retorika modern lebih mengedepankan bahasa tertulis tanpa mengesampingkan bahasa lisan.

Prinsip-prinsip dasar retorika modern/ retorika komposisi:

Penguasaan secara aktif sejumlah besar kosa kata bahasa yang dikuasainya. Semakin besar jumlah kosa kata yang dikuasai secara aktif, semakin mampu memilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikan pikiran.

Penguasaan secara aktif kaidah-kaidah ketatabahasaan yang memungkinkan penulis mempergunakan bermacam-macam bentuk kata dengan nuansa dan konotasi yang  berbeda-beda. Kaidah-kaidah ini meliputi bidang fonologi, morfologi, dan sintaksis.

Mengenal dan menguasai bermacam-macam gaya bahasa, dan mampu menciptakan gaya yang hidup dan baru untuk lebih memudahkan penyampaian pikiran penulis. Memiliki kemampuan penalaran yang baik, sehingga pikiran penulis dapat disajikan dalam suatu urutan yang teratur dan logis.

(9)

Mengenal ketentuan-ketentuan teknis penyusunan komposisi tertulis, sehingga mudah dibaca dan dipahami, disamping bentuknya dapat menarik pembaca.

Ketentuan teknis disini dimaksudkan dengan: masalah pengetikan/ pencetakan, cara  penyusunan bibliografi, cara mengutip, dan sebagainya.

Dengan demikian pencorakan komposisi dalam retorika modern akan meliputi  bentuk karangan yang disebut: eksposisi, argumentasi, deskripsi, dan narasi.

Eksposisi adalah suatu bentuk retorika yang tujuannya adalah memperluas  pengetahuan pembaca, agar pembaca tahu mengenai apa yang diuraikan.

Argumentasi merupakan teknik untuk berusaha mengubah dan mempengaruhi sikap  pembaca.

Deskripsi menggambarkan obyek uraian sedemikian rupa sehingga barang atau hal tersebut seolah-olah berada di depan mata pembaca.

 Narasi merupakan teknik retorika untuk mengisahkan kejadian –kejadian yang ingin disampaikan penulis sedemikian rupa, sehingga pembaca merasakan seolah-olah ia sendiri yang mengalami peristiwa tersebut.

o

Referensi

Dokumen terkait

Karya sastra yang berkembang di masyarakat sangat beragam, baik sastra yang berbentuk sastra lisan maupun sastra tulis. Sastra tulis dibedakan menjadi puisi

Dari hasil analisis dan deskripsi terhadap karya fiksi Using, baik menyangkut sastra lisan maupun sastra modern, baik dalam konteks ragam prosa maupun puisi dapat ditarik

dimanfaatkan oleh da’i dalam menyampaikan pesan dakwahnya baik dalam lisan atau tulisan. Media itu sendiri dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu media massa dan non media

Bahan ajar yang disusun berdasarkan prinsip-prinsip instruksional yang baik akan dapat membantu guru untuk mengurangi waktu penyajian materi dan mem- perbanyak

Pembahasan mengenai makna literasi dan ragam bahasa lisan dan tulis dimaksudkan untuk membangun kesadaran bawa ketika sekolah menyelenggarakan pendidikan, tugasnya bukan

Bahan ajar yang disusun berdasarkan prinsip-prinsip instruksional yang baik akan dapat membantu guru untuk mengurangi waktu penyajian materi dan mem- perbanyak

Kegiatan ini dimaksudkan mampu mengembangkan kecerdasan linguistic siswa untuk mempunyai kemampuan untuk menggunakan kata secara efektif, baik secara lisan maupun tertulis dengan

Kegiatan ini dimaksudkan mampu mengembangkan kecerdasan linguistic siswa untuk mempunyai kemampuan untuk menggunakan kata secara efektif, baik secara lisan maupun tertulis dengan