1
UBAH DUNIA DENGAN OPINIMU
KIAT SUKSES MENULIS OPINI
DI MEDIA MASA
Penulis:
ERI HARIYANTO
Editor:
RAHMAT DWI KURNIAWAN
2
KATA PENGANTAR
Menulis merupakan pekerjaan luar biasa. Menulis bukan sekedar mencatat
atau merekam suatu peristiwa dengan tulisan. Lihatlah! Bagaimana kerja seorang
Utsman bin Affan bersama para sahabat Rasululullah yang melakukan penulisan
ulang mushaf Al Qur’an. Karya mereka hingga 1400 tahun dan lebih akan senantiasa
dipakai umat manusia. Milyaran manusia terbimbing dalam cahaya Tuhan dengan
membaca Al Qur’an. Jutaan manusia bahkan bersyahadat setelah mereka membaca
kitab Al Qur’an. Sesuai janji Sang Pemilik Al Qur’an, kitab ini akan hadir di Bumi
sampai kiamat tiba.
Lihatlah pula! Bagaimana para penulis Hadits Rasululllah SAW yang rela
berjalah ribuan kilometer demi mengumpulkan hadits-hadits murni yang berasal
dari para periwayat terpercaya. Kita lihat kitab yang dituliskannya telah berusia lebih
dari satu milenium namun tetap terjaga keasliannya. Milyaran manusia mengikuti
jejak langkah Rasululllah berdasarkan kitab hadits tersebut. Dari bangun tidur,
beribadah wajib atau sunnah, bermuamalah, dan aktivitas lainnya menjadi bernilai
ibadah karena mengikuti apa yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
Lihatlah dahsyatnya sebuah tulisan yang mampu mengubah sistem
pemerintahan suatu negara! Voltaire seorang berkebangsaan Perancis yang pernah
mengenyam pendidikan di Inggris, begitu terpukau bagaimana Inggris menjalankan
sistem demokrasi sehingga terjadi pembagian peran antara pemerintahan dan
kerajaan secara serasi. Berbeda dengan negerinya saat itu yang dikuasai oleh
keluarga kerajaan. Voltaire kemudian menulikan ide-ide tentang demokrasi dalam
beberapa karya esainya. Karya tulisnya ini kemudian menginspirasi generasi
3
berikutnya hingga menjadi pendorong terjadinya Revolusi Perancis pada tanggal 14
Juli 1789. Akhirnya dinasti Bourbon tumbang dan Perancis berubah sistem
pemerintahannya dari Monarki menjadi Republik.
Lihatlah pula bagaimana karya tulis yang mendorong Indonesia menjadi
bangsa merdeka. Multatuli (bahasa Latin atinya banyak yang sudah aku derita)
merupakan nama pena dari Eduard Doewes Dekker seorang berkebangsaan
Belanda pengarang buku “Max Havelaar” tahun 1860. Buku ini mengkritik perlakuan
penjajah Eropa kepada negara jajahannya terutama Hindia Belanda. Menurutnya,
kemakmuran bangsa Eropa yang selama ini dinikmati adalah hasil keringat dan
darah dari rakyat yang dijajahnya. Bukunya menyadarkan kaum Borjuis Eropa hingga
kemudian lahirlah “Politik Balas Budi”. Melalui gerakan ini dibukalah akses
pendidikan untuk para pribumi yang akhirnya membuka mata rakyat Indonesia. Para
Bapak Bangsa memanfaatkan “Politik Etis” ini untuk memperoleh bekal intelektual
guna melawan imperialisme. Akhirnya Politik Etis menjadi bumerang bagi penjajah
dan Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.
Masih banyak lagi untuk dituturkan kisah-kisah karya tulis yang menginspirasi
dan akhirnya mendorong perubahan sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Masih
banyak yang dapat dijadikan bukti bahwa menulis merupakan pekerjaan yang luar
biasa, baik proses maupun hasilnya. Menulis merupakan proses mensintesa hasil
pemikiran, bukti-bukti empiris, bahkan mimpi menjadi suatu ramuan yang mampu
menjadi penggerak perubahan.
Di masa kini, hakikat menulis tetaplah sama dengan kegiatan serupa yang
telah berjalan ribuan tahun, meskipun menggunakan media yang berbeda. Menulis
bukan sekadar membuat orang lain mengagumi atau tulisannya menjadi populer
dan laku secara komersial. Namun yang lebih penting dari itu, menulis adalah
4
tentang kemampuan penulis secara kritis menangkap fenomena-fenomena yang
ada di sekitarnya menjadi sebuah artikel yang mampu memberikan inspirasi bagi
lingkungannya serta perubahan menuju arah yang lebih baik.
Melalui buku ini, Penulis tidak bisa menyulap para pembaca menjadi penulis
handal dalam waktu singkat. Penulis ingin mengajak pembaca yang ingin belajar
menulis atau mendalami ilmu menulis agar artikelnya semakin baik dan tajam. Untuk
menjadi penulis handal, membutuhkan kesabaran, keuletan dan kemauan untuk
berlatih dan mencoba.
Buku ini dikhususkan bagi pembaca yang ingin memahami seluk beluk
menulis opini dan langkah-langkah agar artikelnya mudah dimuat di media massa.
Para pembaca diajak secara bertahap berlatih menulis hingga mengirimkan
karyanya ke media massa.
Seperti judul buku ini, Penulis ingin mengajak pembaca menjadikan menulis
opini sebagai sarana untuk melakukan perubahan dan perbaikan di sekitar kita,
termasuk memberikan masukan bagi kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh
Pemerintah. Tentu saran kebijakan yang diberikan bersifat konstruktif atau
membangun agar kebijakan tersebut semakin efektif dan berhasil mengangkat
kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.
Kita semua menyadari, bahwa di masa sekarang sulit untuk membuat sebuah
artikel yang mampu memberikan perubahan dengan sangat signifikan sebagai
halnya Utsman bin Affan, Voltaire, Multatuli dan lain sebagainya. Namun kita
meyakini bahwa artikel opini yang kita buat mampu mengubah dunia menjadi
semakin baik.
Di ujung pengantar, tiada rasa yang patut diungkap selain syukur kehadirat
Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala limpahan karunia yang tak terhingga
5
termasuk selesainya penulisan buku ini. Semoga buku ini menjadi wasilah ridhoNya
dan jalan manfaat bagi sesama manusia. Penghargaan tak terhingga penulis
sampaikan kepada keluarga, pimpinan dan rekan-rekan di Pusdiklat Keuangan
Umum BPPK Kementerian Keuangan. Semoga buku ini mampu menjadi
penyemangat bagi pembaca dalam menuangkan hasil pemikiran dan opini yang
dapat membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik. Terima kasih.
Bogor, 23 November 2020
6
KATA SAMBUTAN
Kementerian Keuangan merupakan salah satu institusi Pemerintah yang
sangat dinamis. Dinamika tersebut dipicu oleh perubahan kebutuhan yang terjadi
pada masyarakat dan situasi global yang mendorong diterbitkannya berbagai
kebijakan fiskal dalam rangka mengantisipasi dan mengatasi perubahan-perubahan
tersebut termasuk di dalam menghadapi era VUCA (Vulnerability, Uncertainty,
Complexity dan Ambiguity). Kebijakan-kebijakan tersebut diimplementasikan dalam
rangka menjaga kondisi perekonomian nasional agar tetap berada dalam jalur yang
diharapkan. Selain itu, ultimate goal dari kebijakan tersebut adalah upaya membawa
kondisi perekonomian sebagai jalan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat
secara adil dan merata.
Setiap bentuk kebijakan adalah produk pemikiran yang sangat bernilai,
sehingga penting untuk didokumentasikan. Selain perlu didokumentasikan,
kebijakan tersebut juga perlu terus menerus dikawal serta diberi masukan (saran)
agar menjadi kebijakan yang sangkil dan mangkus. Kementerian Keuangan sangat
terbuka menerima saran dan ide-ide dari masyarakat agar kebijakan yang
diformulasikan sesuai dengan harapan masyarakat. Berbagai saluran aspirasi
tersebut telah dibuka oleh Kementerian Keuangan dan Pemerintah secara umum
sebagai pelaksanaan demokrasi di Indonesia.
Salah satu cara untuk memberikan masukan, saran, evaluasi dan kritik
konstruktif kepada Pemerintah adalah melalui opini yang ditulis di media massa baik
cetak maupun daring. Menulis opini di media massa memerlukan keterampilan
tersendiri dalam mengolah data dan kata, hingga menjadi sebuah artikel semi ilmiah
yang ringkas namun sarat dengan berbagai informasi. Menulis opini juga
7
memerlukan keahlian sehingga redaktur sebuah media massa yakin bahwa opini
yang ditulis layak untuk dimuat. Selain itu, jenis artikel ini juga menuntut kepiawaian
penulisnya dalam menarik pembaca untuk menyelami kalimat demi kalimat hingga
akhir tulisan.
Pudiklat Keuangan Umum Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK),
sebagai tempat pelatihan Pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan,
menyediakan pelatihan yang berkaitan dengan keterampilan menulis jurnalistik,
termasuk penulisan opini. Pelatihan tersebut, selain menunjang Pegawai
Kementerian Keuangan di bidang kehumasan, juga memberi keterampilan Pegawai
lainnya yang ingin memiliki kemampuan dalam menulis opini. Secara khusus,
keterampilan menulis opini dapat digunakan untuk mempublikasikan
kebijakan-kebijakan di Kementerian Keuangan, sekaligus sarana menuangkan masukan dan
ide untuk kebijakan fiskal yang lebih baik.
Kami menyambut gembira ide Sdr. Eri Hariyanto yang menuliskan buku ini
berdasarkan pengalamannya dalam melatih penulisan jurnalistik di Pusdiklat
Keuangan Umum. Dengan terbitnya buku ini, harapan kami teknik-teknik menulis
artikel opini di media massa semakin mudah dipelajari khusunya insan Kementerian
Keuangan, dan khalayak publik pada umumnya. Ide-ide cemerlang dari ASN
Kementerian Keuangan dan masyarakat luas yang dimuat di media massa
diharapkan dapat menyempurnakan berbagai kebijakan yang ada untuk kebaikan
bangsa.
8
Dengan mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT, kami mengucapkan
selamat kepada penulis atas terbitnya buku ini dan teriring harapan semoga buku
ini memberi manfaat luas kepada masyarakat Indonesia.
9 Daftar isi
BAGIAN 1 ... 11
PILIH SEMANGATMU UNTUK MENULIS ... 11
A. Menulis Untuk Mengangkat Tingkat Literasi Indonesia... 11
B. Menulis Adalah Budaya Kita Sejak Nenek Moyang... 13
C. Menulis Adalah Jalan Rezeki ... 15
D. Menulis Adalah Bagian Beramal Kebaikan ... 17
E. Menulis Memperbaiki Kondisi Bangsa ... 19
MENGGALI IDE DAN KREATIVITAS MENULIS ... 20
A. Mengasah Kepekaan dan Memetik Hikmah peristiwa ... 21
B. Ide Muncul Setiap Waktu ... 23
C. Inspirasi Tidak Boleh Ditunggu ... 24
D. Berimajinasi untuk Menghasilkan Gagasan ... 25
E. Kreatif Tetapi Tetap Realistis dan Rasional ... 26
F. Bercerita tentang Pengalaman Pribadi atau Pengalaman Hidup ... 27
G. Menulis tentang Sesuatu yang Dikuasai Ilmunya ... 28
H. Hobi atau Hal yang Disukai ... 29
I. Memperluas Pergaulan dan Silaturahmi ... 29
J. Rajin Membaca ... 30
K. Berdiskusi atau Curah Pendapat (Brainstorming) ... 32
L. Melakukan Perjalanan ... 32
M. Petik Idenya, Kembangkan Tulisannya... 34
BAGIAN 3 ... 35
LANGKAH MUDAH LANCAR MENULIS ... 35
A. Seni Menulis ... 35
B. Langkah Mudah Menjadi Penulis ... 36
C. Memulai Menulis Bagi Orang Awam ... 37
Bagian 4 ... 44
JENIS TULISAN DI MEDIA MASSA ... 44
A. Jenis Karya Tulis Secara umum ... 44
B. Karya Tulis Fiksi ... 45
10
Bagian 5 ... 55
KARYA TULIS OPINI ... 55
A. Jenis-jenis artikel opini di media massa ... 55
(1) Kolom: Opini Pakar... 55
(2) Tajuk: Opini Redaksi ... 57
B. Struktur Umum Tulisan Opini ... 57
BAGIAN 6 ... 59
KIAT MENULIS ARTIKEL OPINI ... 59
A. Ciri-ciri Artikel Opini ... 60
B. Bentuk Artikel Opini: Skripsi Mini ... 61
C. Langkah-Langkah Menulis Artikel Opini... 62
BAGIAN 7 ... 72
TEKNIK EDITING: CARA MENYUNTING NASKAH OPINI ... 72
A. Lingkup Tugas Editor ... 72
B. Tujuan Editing ... 73
C. Fokus Dalam Editing ... 74
D. Teknik Editing: Redaksional dan Substansial ... 74
E. Kelengkapan Editor ... 75
BAGIAN 8 ... 76
KIAT SUKSES NASKAH OPINI DIPUBLIKASIKAN ... 76
A. Kiat Kompetensi Penulis Pemula ... 76
B. Kiat Opini dimuat di Media Masa ... 76
C. Kiat Opini Tampil Aktual = Kecepatan ... 77
D. Kiat Menghindari Dosa Besar Penulis ... 77
E. Kiat Singkat Menulis Opini yang Baik ... 78
BAGIAN 9 ... 80
PENGIRIMAN ARTIKEL KE MEDIA MASSA ... 80
A. Ketentuan Umum ... 80
B. Alamat Email Redaktur Opini Beberapa Media Cetak di Indonesia ... 80
C. Alamat Email Redaktur Opini Beberapa Media Daring di Indonesia ... 82
11
BAGIAN 1
PILIH SEMANGATMU UNTUK MENULIS
A. Menulis Untuk Mengangkat Tingkat Literasi Indonesia
Menulis merupakan budaya intelektual manusia yang telah dilakukan sejak ribuan tahun sebelum masehi. Penemuan aksara dan munculnya budaya menulis menjadi babak terpenting bagi manusia. Penggunaan aksara dalam kehidupan sehari-hari menjadi sebab manusia meninggalkan zaman nirleka (prasejarah). Beberapa sumber menyebutkan awal mula tulisan diketahui pada masa proto dengan sistem ideografik dan simbol mnemonik. Arkeolog menemukan tulisan pada dua tempat yang berbeda yaitu Mesopotamia (khususnya Sumeria kuno) sekitar 3200 SM dan Mesoamerika sekitar 600 SM. Dua belas naskah kuno Mesoamerika diketahui berasal dari Zapotec, Meksiko. Sementara itu, tempat berkembangnya tulisan masih menjadi perdebatan antara di Mesir yaitu sekitar 3200 SM atau di China pada 1300 SM. Pada masa tersebut tulisan berkembang dengan variasi yang beraneka ragam. Bangsa Sumeria menciptakan tulisan cuneiform sementara bangsa Mesir menciptakan tulisan hieroglif. Jenis tulisan lain yang berkembang pada masa ini misalnya logograf Cina dan Naskah Olmec yang diciptakan oleh Mesoamerika.
Jadi, menulis merupakan budaya yang sudah sangat lama dijalankan oleh manusia. Pada zaman modern budaya menulis terus berkembang dan memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan manusia.
Aktivitas menulis biasanya berkaitan erat dengan aktivitas membaca. Seseorang yang mampu menulis dengan baik, biasanya juga merupakan seorang pembaca yang baik. Kemampuan membaca dan menulis ini kemudian memiliki kaitan erat bagi kemajuan pengetahuan, pendidikan, kesehatan, teknologi, karakter, kesejahteraan dan budaya suatu bangsa. Secara empiris masyarakat dari suatu bangsa yang memiliki budaya membaca dan menulis dengan baik, biasanya memiliki derajat kesejahteraan yang lebih baik. Kemampuan membaca dan menulis ini sering disebut dengan literasi.
Istilah literasi dalam bahasa Latin disebut sebagai literatus, memiliki arti orang yang belajar. Secara umum, literasi merupakan istilah yang merujuk pada kemampuan dan keterampilan seseorang
12
dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, serta memecahkan masalah di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan seseorang dalam berbahasa. Sedangkan UNSECO memberikan pengertian literasi, yakni seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif seseorang dalam membaca dan menulis yang dipengaruhi oleh kompetensi di bidang akademik, konteks nasional, institusi, nilai-nilai budaya, dan pengalaman.
Aktivitas literasi juga berkaitan dengan fungsi otak. Semakin meningkat aktivitas literasi tentu akan meningkatkan daya pikir yang menjadi fungsi utama dari otak. Dengan banyak berpikir, daya nalar manusia akan semakin berkembang. Hal ini akan menjadi kegiatan yang sangat bermanfaat ketika pemikirannya digunakan untuk mengembangkan sesuatu yang berguna bagi manusia. Aktivitas berpikir, membaca dan menulis tentu akan meningkatkan kecerdasan sesorang.
Beberapa organisasi internasional pernah melakukan penelitian untuk memberikan peringkat literasi kepada negara-negara yang menjadi responden. Organisasi tersebut diantaranya adalah Program for International Student Assessment (PISA) dari Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) dan World's Most Literate Nations produk dari Central Connecticut State University (CCSU). Penelitian PISA dirilis pada tahun 2015 sedangkan CCSU dirilis pada Maret 2016.
Sayangnya, berdasarkan penelitian mereka Indonesia selalu berada pada peringkat nyaris paling bawah. Hasil penelitian PISA menunjukkan rendahnya tingkat literasi Indonesia dibanding negara-negara di dunia. Indonesia berada pada ranking 62 dari 70 negara yang disurvei. Demikian halnya hasil penelitian CCSU, Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara yang diteliti. Berdasarkan hasil penelitian, rendahnya tingkat literasi di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah budaya bertutur yang lebih dominan dibandingkan membaca dan menulis, akibatnya minat membaca jadi rendah. Faktor kedua adalah belum meratanya akses ke fasilitas pendidikan. Faktor ketiga adalah kualitas dan kuantitas buku di Indonesia masih kurang.
13
Peringkat Literasi menurut CCSU
Sumber: http://pustakawanjogja.blogspot.com/
Melihat kenyataan di atas, kita sebagai bagian dari masyarakat Indonesia tentu tidak ingin tingkat literasi negaranya terus terpuruk. Jika memang benar mencintai Indonesia, inilah salah satu cara kita berjuang. Mari kita angkat tingkat literasi bangsa ini dengan banyak membaca, menulis, dan menyebarkan ilmu pengetahuan dengan berbagai media yang ada. Kemajuan teknologi informasi seharusnya dapat kita manfaatkan untuk mengangkat derajat literasi bangsa ini.
Mari kita mulai dari diri sendiri dan dari saat ini. Semoga bagian ini menjadi penyemangat menulis yang pertama.
B. Menulis Adalah Budaya Kita Sejak Nenek Moyang
Nenek moyangku seorang pelaut. Begitulah lirik lagu anak-anak yang masih sering kita dengar. Namun, sebenarnya budaya menulis juga budaya nenek moyang kita. Barangkali hal ini jarang diungkap sehingga dapat lekang ditelan zaman. Banyak sekali karya sastra yang dapat menjadi bukti bahwa budaya menulis telah berkembang di Indonesia sejak masa kerajaan Nusantara, sebelum kemerdekaan, maupun era paska kemerdekaan dideklarasikan.
14
Dapat diambil contoh misalnya Babad Tanah Jawi. Kitab ini dalam bahasa Indonesia disebut dengan “Sejarah Tanah Jawa”. Buku ini berbentuk kumpulan tembang macapat berbahasa Jawa yang berisi sejarah raja-raja yang pernah bertahta di pulau Jawa. Babad Tanah Jawi ini memiliki banyak versi.
Menurut ahli sejarah Hoesein Djajadiningrat, keragaman versi itu dapat dipilah menjadi dua kelompok. Pertama, babad yang ditulis oleh Carik Braja atas perintah Sunan Paku Buwono III. Tulisan Carik Braja inilah yang kemudian diedarkan untuk umum pada tahun 1788. Sementara kelompok kedua adalah babad yang diterbitkan oleh P. Adilangu II dengan naskah tertua bertanggal tahun 1722 (Moertono, 2017). Babad Tanah Jawi diakui sebagai kitab “marterpiece” yang sangat bermakna bagi sejarah Indonesia.
Contoh lainnya kita bisa ambil Babad Diponegoro. Kitab ini berisi autobiografi kehidupan dan perjuangan Pangeran Diponegoro yang ditulis ketika beliau dipenjara oleh Belanda di kota Manado Sulawesi utara pada tahun 1832-1833. Menurut P. Swantoro, isi dari Babad Diponegoro dibagi menjadi beberapa bagian kisah. “Sepertiga bagian dari Babad Diponegoro menceritakan sejarah Jawa dari jatuhnya Majapahit (1527) sampai Perjanjian Giyanti (1755). Duapertiga lainnya memaparkan keadaaan Kesultanan Yogyakarta dan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sendiri dari saat kelahirannya pada 1785 sampai ia diasingkan ke Manado pada 1830,” tulis P. Swantoro dalam Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu (Swantoro, 2002).
Pada tanggal 21 Juni 2013, Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya (UNESCO) menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World). Kita patut bersyukur dan berbangga atas apresiasi dari dunia terhadap warisan Indonesia yang terkadang justru dilupakan oleh bangsanya sendiri.
Selepas itu, muncullah sastra-sastra karangan para “Pujangga Lama”. Nama ini merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya bernuansa keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Indonesia#).
15
Demikianlah, masih banyak untuk dikisahkan kepiawaian para pendahulu kita dalam tulis menulis. Barangkali perlu satu buku tersendiri untuk mengulas lengkap karya nenek moyang kita. Sebagai generasi penerus, kita tidak memiliki alasan tidak dapat menulis karena tidak memiliki kemampuan. Meski menulis bukan urusan bakat, tapi para pendahulu kita sudah memberi contoh, bahwa kita bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki budaya menulis. Dalam suasana yang dilingkupi oleh kemudahan untuk memperoleh informasi, maka kita juga tidak memilki alasan jika menulis sulit untuk dilakukan. Banyak sekali hal yang dapat ditulis dan dibagi kepada khalayak ramai.
Mari kita lanjutkan budaya nenek moyang kita dalam hal tulis menulis. Budaya ini bukan saja mengangkat daya nalar seseorang, tetapi juga menjadi barometer kemajuan bangsa.
C. Menulis Adalah Jalan Rezeki
Rezeki memang tidak selalu berbentuk uang dan menulis dapat mendatangkan rezeki baik berupa uang maupun bentuk rezeki lainnya.
Jika menulis mendatangkan rezeki, maka kita bisa tengok J.K. Rowling dengan karya novelnya yaitu Harry Potter. Perempuan lulusan Universitas Exeter, Inggris ini menjadi salah satu penulis buku terkaya di dunia setelah novel Harry Potter sukses terjual lebih dari 450 juta kopi dan diadaptasi menjadi film layar lebar. Estimasi kekayaannya lebih dari 1 miliar USD atau sekitar 14.4 triliun Rupiah. Dengan jumlah kekayaan ini, Rowling bahkan melewati jumlah harta kekayaan yang dimiliki ratu Inggris, Ratu Elizabeth II. Dengan kekayaan yang melimpah ini, J.K Rowling memutuskan menjadi salah satu filantropis yang gemar menyumbangkan hartanya untuk kegiatan-kegiatan sosial, terutama yang menyangkut kegiatan di bidang literatur dan penulisan. Inilah rezeki berupa uang dan bukan uang. Bukankah dapat beramal kebaikan juga merupakan rezeki?
Bagaimana di Indonesia? Penulis Indonesia tidak kalah menginspirasi. Banyak penulis produktif di Indonesia yang memperoleh rezeki dari menulis. Sebutlah Andrea Hirata, Tere Liye, Habiburrahman El Shirazy, Mira W, Asma Nadia, Raditya Dika, dll.
Andrea Hirata adalah penulis sukses best seller Laskar Pelangi dan beberapa buku lainnya seperti Sang Pemimpi, Maryamah Karpov, Edensor, dll. Beberapa sumber menyebutkan, Andrea menjual lebih dari 600.000 kopi eksemplar bukunya dan dengan total keuntungan lebih dari Rp 3,6 miliar saja dalam satu judul laskar pelangi. Bila ditambah dengan beberapa bukunya yang mencetak
16
best seller, kita bisa membayangkan berapa penghasilan pria asal Belitung tersebut. Belum lagi hasil dari karya yang difilmkan, seperti Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi.
Rezeki menulis Andrea Hirata ini tidak dinikmatinya seorang diri. Royalti yang berhasil dikantongi dari novel pertamanya mencapai Rp4 Milyar. Sebuah jumlah yang sangat banyak. Angka tersebut ternyata tidak digunakan serta merta untuk kantong pribadinya. Ternyata sebagian besar digunakan untuk kegiatan sosial. Seperti yang dikutip oleh liputan6.com bahwa dari hasil royaltinya, Andrea Hirata menanggung beasiswa 30 anak.
Tidak hanya itu, uangnya juga disumbangkan untuk membuka rumah singgah di Bandung. Rumah singgah tersebut digunakan untuk memberikan pembelajaran seperti beberapa cabang ilmu seperti kimia, fisika dan bahasa Inggris dsb.
Belum lagi pulau Belitung, lokasi kisah Laskar Pelangi bermula yang ikut menjadi terkenal dan saat ini menjadi destinasi wisata unggulan di Indonesia. Masyarakat pulau Belitung ikut merasakan berkah dari penulisan kisah Laskar Pelangi.
Apakah para penulis ulung saja yang memperoleh bagian rezeki dari menulis? Kadar rezeki, besar-kecilnya dan banyak-sedikitnya, memang telah ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah. Namun siapapun dapat memperoleh rezeki dari menulis baik berupa uang maupun bukan uang.
Jika Anda menulis dalam dua atau tiga halaman artikel, kemudian tulisan itu dikirimkan ke media massa dan ditayangkan, besar kemungkinan Anda akan memperoleh honor dari penulisan tersebut. Memang tidak semua media massa memberikan honor.
Kita juga bisa melihat bagaimana aktivitas menulis yang dilakukan oleh para dosen, peneliti atau widyaiswara pada jurnal-jurnal terakreditasi yang dapat mendatangkan rezeki berupa uang dan angka kredit. Banyak sekali diantara mereka yang karirnya melaju dengan cepat karena menulis.
Menulis juga akan sangat penting bagi para Aparat Sipil Negara (ASN). Pemerintah dalam waktu dekat akan mengurangi jabatan struktural menjadi jabatan fungsional (delayering). Seperti jabatan fungsional lainnya, aktivitas menulis akan menjadi aktivitas penting bagi para ASN untuk memperoleh angka kredit.
Untuk itu, mari singsingkan lengan baju, gelorakan semangat, dan jaga stamina. Kita mulai menulis dari sekarang. Kalahkan rasa malas, jangan sampai menjajah kita. Seperti petuah Buya Hamka berikut ini.
17
Sumber: https://www.merdeka.com/jateng/33-kata-kata-bijak-buya-hamka-tentang-kehidupan-penuh-makna-dan-inspiratif-kln.html
D. Menulis Adalah Bagian Beramal Kebaikan
Nabi Muhammad memerintahkan kepada ummatnya agar menulis ilmu yang dikuasainya. Beliau bersabda: “Ikatlah ilmu dengan kitab (menuliskannya)”. Ilmu yang ditulis ke dalam sebuah buku (kitab) tentu akan membuat ilmu tersebut bertahan lama dan tidak hilang begitu saja bahkan hingga penulisnya tiada ilmu yang terikat di dalam sebuah buku tidak akan hilang bersama penulisnya.
Kita dapat melihat bagaimana buku-buku yang ditulis oleh para ilmuwan atau alim ulama ribuan tahun lalu yang masih dapat kita baca sampai saat ini. Kaum Muslimin sangat berhutang jasa dengan para Khulafaur Rasyidin dan para penulis ayat-ayat Alquran yang telah bersusah payah mengumpulkan manuskrip Al Qur’an kemudian membuatnya dalam sebuah kitab.
Kita juga dapat melihat bagaimana para penulis kitab hadis yang berjuang mengumpulkan hadis yang terserak dari satu tempat ke tempat lain. Mereka mengumpulkan hadis dari sumber-sumber terpercaya dengan jarak ribuan kilometer merentang, bagaikan mengumpulkan mutiara dari satu
18
lembah ke lembah lainnya. Imam Bukhari, sang penulis kumpulan hadits Shahih Bukhari, melakukan perjalanan ribuan kilometer di negara-negara Islam untuk bertemu langsung dengan para perawi hadits. Beliau membutuhkan waktu 16 tahun untuk mengumpulkan, membandingkan, menyeleksi, dan menuliskannnya dalam sebuah buku. Kini buku yang Beliau tulis telah dibaca oleh jutaan manusia di dunia dan memberikan manfaat yang luar biasa baik dalam ibadah maupun muamalah manusia.
Inilah rahasia diperintahkannya menulis ilmu yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw. Tidak lain agar ilmu tersebut dapat bertahan lama dan memberi manfaat kepada manusia yang jumlahnya tidak terkira. Ilmu tersebut dapat melintasi waktu dan tempat yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Al Qur’an dan Al Hadits yang telah berusia 14 abad itu terus menerus menebar ilmu, manfaat dan pahala bagi siapa yang yang membaca dan mengamalkannya.
Setelah itu, kita juga dapat melihat bagaimana para cerdik cendekia menyusun buku-buku panduan kehidupan berdasarkan fenomena alam, penemuan dan pemikiran.
Lantas bagaimana dengan kita?
Tentu kita tidak dapat menyaingi kitab hadits atau mungkin kitab-kitab yang ditulis oleh para alim ulama dan ilmuwan pada masa lalu. Tetapi kita juga tetap memilki peluang untuk menuliskan segala pengetahuan yang dimiliki dan menyebarluaskannya melalui berbagai jenis tulisan serta media yang ada.
Berbagai jenis media yang tersedia untuk menulis, misalnya melalui menulis pada buku, jurnal, artikel ilmiah dan lainnya, dapat menjadi sarana untuk menebar ilmu pengetahuan. Bagi para akademisi yang rajin menulis buku atau jurnal tentu dapat mengecek melalui piranti yang ada (misalnya: Google Scholar) berapa kali jumlah tulisannya telah dikutip oleh orang lain untuk menjadi bagian sebuah karya ilmiah dalam bentuk yang berbeda. Meskipun tidak sedahsyat manfaatnya dengan tulisan para cendekia atau ulama terdahulu, namun setidaknya tulisan kita dalam buku, jurnal atau karya tulis lainnya telah membantu seseorang untuk menyelesaikan jenjang sarjana, master ataupun doktor. Kita tidak bisa meremehkan hasil karya kita meskipun hanya sedikit. Siapa tahu karena keikhlasan menyumbangkan ilmu kepada orang lain dapat menyebabkan nilai pahalanya menjadi sangat besar di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.
Oleh karena itu, mari kita jadikan menulis menjadi sarana berbuat kebaikan. Menulis dapat menjadi sarana menebar ilmu pengetahuan. Menulis juga menjadi sarana menebar manfaat. Tentu
19
saja, menulis juga dapat menjadi sarana memperoleh kebaikan dari Sang Pencipta berupa pahala yang melimpah.
E. Menulis Memperbaiki Kondisi Bangsa
Bukan hanya lidah yang dapat lebih tajam dari sebilah pisau. Tulisan juga dapat lebih tajam dari sebuah silet. Seseorang dapat saja melukai perasaan seseorang dengan goresan tulisan. Bahkan, tulisan juga dapat mengundang murka dari penguasa. Sebaliknya pula, tulisan juga dapat digunakan untuk memperbaiki kondisi masyarakat atau bangsa.
Seorang penulis dituntut untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga dia dapat memahami kondisi-kondisi yang sesuai dengan harapan atau aturan. Selain itu, penulis sebaiknya memahami kondisi-kondisi yang belum sesuai dengan harapan.
Penulis dapat menangkap fenomena-fenomena yang ada disekitarnya menjadi sebuah tulisan. Melalui tulisan inilah penulis dapat menyampaikan fakta dan data yang dijumpai. Kondisi tersebut kemudian dapat disebarluaskan melalui berbagai media massa yang ada.
Seorang penulis yang baik tentu selain mengungkap data dan fakta secara terukur, juga disertai dengan analisis yang menyebabkan para pembacanya paham mengenai kondisi yang sedang terjadi. Tentu yang paling baik ketika seorang penulis dapat menyumbangkan gagasan-gagasan untuk perbaikan terhadap kondisi yang ada.
Penulis yang telah mencapai tahap ini tentu akan sangat bermanfaat bagi negara dan bangsa. Sumbangsihnya berupa karya-karya yang mengkritisi kondisi yang ada, diserta dengan analisis yang memadai dan solusi yang tepat, akan menjadi sebuah oase yang memberikan kekuatan bagi para penguasa untuk membuat kebijakan-kebijakan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.
Disinilah peran sebuah tulisan bukan hanya sekedar pisau tetapi juga obat untuk memperbaiki kondisi suatu bangsa. Dengan tulisan, seseorang bukan hanya menyampaikan kondisi yang ada tetapi juga dapat memperbaiki kondisi yang ada.
Mari kita jadikan menulis sebagai sarana memperbaiki bangsa ini. Sehebat apapun sebuah bangsa tetap memerlukan gagasan rakyatnya agar bangsa tersebut semakin baik.
20
BAGIAN 2
MENGGALI IDE DAN KREATIVITAS MENULIS
Perkembangan teknologi membuat pilihan-pilihan profesi menjadi semakin berkembang dan mudah. Saat ini, perkembangan teknologi menyebabkan banyak orang memilih pekerjaan yang berbasis teknologi. Menjadi penulis juga merupakan pilihan profesi sebagian orang yang dapat dikerjakan dengan basis teknologi informasi. Kemudahan akses internet dapat dimanfaatkan para penulis untuk memperoleh ide dan bahan tulisan dari dunia maya. Pilihan pada profesi penulis juga disebabkan karena profesi ini dapat dikerjakan di mana saja bahkan tanpa meninggalkan rumah sekalipun. Kondisi jalanan yang semakin macet, jarak tempuh dari rumah ke tempat pekerjaan yang semakin banyak memerlukan waktu, menjadi pertimbangan sebagian orang memilih berprofesi sebagai penulis yang dapat dikerjakan secara domestik.
Banyak orang beranggapan menulis adalah pekerjaan yang sulit. Sebenarnya menjadi penulis tidak sesulit dalam pandangan orang. Memang ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk menekuni bidang ini. Berkarir sebagai penulis membutuhkan kesabaran, keuletan, dan ketekunan. Sebelum menjadi penulis handal, seseorang dapat memulai langkahnya dari menulis yang sederhana terlebih dahulu. Seiring dengan waktu dan usaha yang dilakukan secara terus menerus, keahlian itu akan muncul.
Bagi orang awam yang ingin memulai menjadi penulis, terkadang banyak dijumpai hambatan yang sepertinya sepele. Tetapi jika hambatan itu tidak diatasi, bukan hanya menyebabkan karya tulisnya terlambat diselesaikan bahkan bisa jadi karya tulisnya tidak dapat dimulai alias “mogok ditempat”. Hambatan yang terlihat sepele tersebut adalah: IDE MENULIS.
Seorang penulis pemula terkadang mengalami kesulitan untuk memulai menulis karena tidak adanya ide untuk mengawali sebuah tulisan. Ide sebenarnya sangat penting, karena berawal ide tulisan bisa menjadi sangat hebat. Jika dicermati, sebenarnya ide itu berada di sekitar penulis. Dengan bahasa konotatif, ide itu bagaikan kupu-kupu yang beterbangan di sekitar penulis. Namun penulis sendiri seakan tidak melihat ide yang beterbangan itu. Perlu ilmu tersendiri agar penulis bisa melihat ide-ide
21
yang beterbangan tersebut, kemudian menangkapnya, mengolahnya dan menyajikannya menjadi sebuah karya tulis yang layak untuk dinikmati oleh para pembacanya.
Kreativitas dalam melakukan teknik menulis membuat hasil tulisan terlihat lebih menarik dan disukai banyak orang. Narasi yang kreatif akan membangun daya tarik tersendiri bagi pembaca untuk terus mengikuti perkembangan tulisan yang dibuat.
Ide atau gagasan untuk membuat tulisan kreatif bisa muncul dari mana saja. Namun, bagi seorang pemula yang ingin melakukan teknik menulis buku dengan kreatif mungkin akan kesulitan untuk mendapatkan ide agar hasil tulisannya kreatif dan berbeda.
Berikut ini disajikan beberapa tips dan trik kreatif agar para penulis pemula dapat menemukan ide menulis dengan baik dan cepat.
A. Mengasah Kepekaan dan Memetik Hikmah peristiwa
Ide menulis terkadang melintas begitu saja dalam pikiran. Namun terkadang ide itu juga begitu sulit ditemukan. Jika seseorang hanya menunggu ide saja, mungkin langkah-langkah menulis tidak akan pernah dimulai. Seorang penulis pemula kadang tidak menyadari jika ide-ide itu berada di sekitarnya. Seseorang kadang terjebak dengan rutinitas sehingga memandang sekitarnya begitu saja setiap waktu dan setiap harinya.
Matahari yang terbit dari timur dan tenggelam di ufuk barat adalah rutinitas yang disaksikan oleh semua orang. Berangkat pagi untuk bekerja dan pulang di sore hari, kepadatan angkutan umum, kemacetan jalan raya, polusi udara dari kendaraan semua adalah keseharian yang dijumpai. Menjalankan tugas kantor bagi para pegawai, berjualan bagi para pedagang, mengajar bagi para guru dan dosen, semuanya adalah kegiatan yang rutin dilakukan setiap hari. Semua seolah tiada bedanya.
Namun jika kita amati dari semua rutinitas keseharian tersebut pasti ditemukan hal-hal yang berbeda. Matahari yang terbit di ufuk timur, terkadang tertutup awan. Jika senja hari tiba, terkadang matahari begitu indahnya terbenam di lazuardi. Namun adakalanya cakrawala tertutup awan sehingga keindahan matahari yang tenggelam tidak nampak. Para pekerja kantoran terkadang merasakan pekerjaannya membosankan dan sangat membebani. Para pedagang terkadang merasakan hari-hari ketika banyak sekali pembeli, namun terkadang para pedagang juga merasakan hari-hari ketika pembeli tiada menghampiri.
22
Sumber: https://www.antarafoto.com/spektrum/v1305256218/pedagang-kangkung Kita bisa merasakan perbedaan-perbedaan itu. Jika kepekaan yang dimiliki kita latih sedemikian rupa sehingga mampu merasakan perbedaan-perbedaan suasana dari rutinitas yang terjadi setiap hari. Kepekaan, dalam Bahasa Inggris disebut sebagai sensitivity, kemudian diserap dalam bahasa Indonesia menjadi sensitif. Peka atau sensitif memiliki arti mudah merasakan, atau mudah terangsang.
Seseorang yang peka berarti mudah merasakan kondisi sekitarnya. Misalnya: seorang pedagang yang merasakan dagangannya sepi pembeli kemudian bertanya-tanya. Mengapa sepi pembeli? Apakah dagangan saya saja yang sepi pembeli? Jika benar, apa penyebabnya? Jika semua pedagang merasakan hal yang sama, apa penyebabnya? Dan seterusnya.
Kepekaan seperti inilah yang dapat dimanfaatkan oleh para penulis untuk mendatangkan ide. Setiap penulis dapat mengasah kepekaan dan sensitivitasnya pada bidang yang menjadi latar belakang pendidikan, disenangi atau dikuasai oleh penulis.
Seorang penulis yang menyenangi pada bidang ekonomi dapat memanfaatkan kepekaannya untuk mengamati fenomena-fenomena yang terjadi sehari-hari. Misalnya, adanya fenomena
pusat-23
pusat perbelanjaan (mall) yang sepi pengunjung dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini kemudian dapat mendatangkan beragam pertanyaan untuk mengungkap fenomena tersebut secara lebih jauh:
- Mengapa pusat perbelanjaan/mall menjadi sepi pengunjung? - Apa penyebabnya?
- Apakah akan terjadi sesaat atau seterusnya? - Kemana masyarakat saat ini berbelanja? - Bagaimana dampak dari kondisi ini? - Dan seterusnya.
Penulis kemudian dapat mengembangkan jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut menajdi sebuah narasi yang dapat menjelaskan dari sebuah peristiwa.
Melalaui cara-cara tersebut, disamping dapat menjawab atas berbagai pertanyaan yang muncul, penulis juga akan mendapat hikmah dari sebuah peristiwa yang terjadi. Seorang penulis akan dapat memetik pelajaran dari sebuah kejadian. Hikmah inilah yang sebenarnya merupakan “harta” tak ternilai yang dapat ditangkap oleh seorang penulis.
B. Ide Muncul Setiap Waktu
Para penulis pasti sering merasa gelisah dan bingung apabila belum mampu memperoleh ide yang terbaik dengan cepat untuk menulis sebuah artikel. Padahal kenyataannya, ide menarik akan muncul setiap waktu dalam hidup setiap orang. Jika seorang penulis sudah pandai mengasah kepekaannya, maka ia akan merasakan bahwa sebenarnya ide menulis itu muncul di mana saja dan kapan saja.
Ide-ide menarik itu bisa saja muncul ketika kita membaca koran, majalah, atau berita dari media daring. Ide menarik dapat juga muncul ketika kita sedang berjalan, bersepeda, menggunakan angkutan umum, atau menyetir mobil. Ide-ide itu bisa juga muncul ketika kita mencari-cari buku di toko buku, di perpustakaan, dll. Semua kegiatan baik di rumah, di kantor, di tempat umum atau di tempat lainnya sesungguhnya dapat kita jadikan sebagai ide cerita dalam penulisan artikel. Terkadang kita masih kurang menyadarinya, sehingga ide itu terlewat begitu saja.
24
Seorang penulis yang bekerja di Kementerian Keuangan sedang membaca berita tentang korupsi di sebuah perusahaan negara. Akibatnya perusahaan tersebut tidak dapat menepati janjinya kepada masyarakat yang telah menitipkan uangnya di sana. Penulis tersebut kemudian bertanya-tanya, jika uangnya habis dikorupsi, dari mana perusahaan tersebut akan membayar tagihan masyarakat? Jangan-jangan akan dibenakan kepada Pemerintah dan berakibat memberatkan keuangan negara?
Nah dari sini ide sudah muncul. Sebagai contoh, penulis kemudian bisa mengambil topik tentang risiko keuangan negara terhadap perusahaan milik negara.
C. Inspirasi Tidak Boleh Ditunggu
Danny Strong seorang penulis naskah film mengatakan “Don’t wait for inspiration” atau jangan tunggu datangnya inspisrasi. Inspirasi atau ide memang tidak bisa ditunggu, tetapi harus dicari dan ditemukan. Jika hanya menunggu datangnya inspirasi maka kita seperti “menunggu datangnya hujan di musim kemarau”. Pepatah ini sesungguhnya ingin menjelaskan bahwa apabila kita benar-benar ingin menjadi seorang penulis yang profesional, kita harus mampu untuk menulis sesuatu setiap harinya dan jangan pernah menunggu hingga inspirasi datang kepada Anda. Inspirasi harus dicari, ditemukan, kemudian dikembangkan menjadi sebuah tulisan.
Ilmu “kepepet” dengan adanya tenggat waktu (deadline) terkadang menjadi pendorong munculnya sebuah ide. Penulis profesional biasanya memiliki deadline untuk mengumpulkan hasil tulisannya. Apabila penulis hanya menunggu inspirasi untuk menulis maka akan banyak waktu terbuang dalam menunggu. Waktu yang terbatas tersebut sebaiknya segera digunakan untuk mencari ide dan menulis. Jangan sampai waktu terbuang yang menyebabkan artikel yang ditulis menjadi basi karena terlewat “moment” nya.
Bila kita sudah dapat menangkap datangnya sebuah inspirasi, maka catatlah inspirasi tersebut. Inspirasi atau Ide yang tidak dicatat terkadang dapat hilang begitu saja karena kesibukan atau dilalaikan oleh peristiwa lainnya. Jika tidak membawa catatan, kita dapat merekam suara kita tentang ide tersebut melalui perekam dalam HP. Begitu memiliki keluangan waktu, maka segera tuangkan ide tersesut menjadi tulisan.
25
D. Berimajinasi untuk Menghasilkan Gagasan
Seorang penulis artikel bukan hanya sekedar sebagai seorang yang dapat menangkap sebuah realita dari kehidupan sehari-hari. Seorang penulis diharapkan juga mampu menganalisis hubungan dari satu faktor dengan faktor lainnya. Dengan begitu seorang penulis dapat mengetahui apa menyebakan apa atau siapa menyebabkan apa, dan seterusnya. Dengan pengamatan dan analisis yang dilakukan oleh seorang penulis, maka penulis akan dapat menemukan apa yang sedang terjadi. Kemudian menghubungkan realita tersebut dengan yang seharusnya terjadi atau menanyakan apakah realita yang terjadi sesuai dengan yang diharapkan atau seharusnya?
Misalnya:
Seorang penulis yang sehari-hari menggunakan angkutan umum, seperti kereta rel listik (KRL) jurusan Jakarta dan Bogor akan merasakan padatnya naik kendaraan umum itu ketika bertepatan dengan masyarakat berangkat atau pulang bekerja. Berdasarkan kondisi ini, di benak seorang penulis kemudian muncul berbagai pertanyaan: mengapa terjadi seperti ini? Apakah akan seperti ini seterusnya? Bagaimana cara mengatasi kepadatan ini? Siapa yang bertanggung jawab?
Sumber: https://independensi.com/2019/04/04/jumlah-penumpang-krl-capai-11-juta-dan-nilai-transaksi-rp-33-miliar-perhari/
26
Jika sudah mencari jawaban terhadap sebuah solusi, maka seorang penulis harus memiliki kemampuan untuk berimajinasi. Seorang penulis harus mampu memikirkan atau menggambarkan solusi apa yang tepat untuk mengatasi hal tersebut. Tentu imajinasi yang dilandasi oleh kekayaan ilmu pengetahuan serta pengalaman dari Sang Penulis akan melahirkan suatu solusi yang baik dan realistis. Imajinasi merupakan kerja akal dalam mengembangkan suatu pemikiran yang lebih luas dari sesuatu yang pernah dilihat, didengar, dan dirasakan. Berkat imajinasi, manusia mengembangkan sesuatu dari hal yang sederhana menjadi lebih bernilai dalam pikiran. Ia dapat mengembangkan sesuatu dari ciptaan Tuhan dalam pikirannya. Dengan tujuan untuk mengembangkan suatu hal yang lebih bernilai dalam bentuk benda, atau sekadar pikiran yang terlintas dalam benak (https://id.wikipedia.org/wiki/Imajinasi).
E. Kreatif Tetapi Tetap Realistis dan Rasional
Seorang penulis, terutama penulis karya tulis ilmiah populer seperti berita, feature dan artikel opini memang dituntut kreatif. Namun perlu diingat bahwa jenis tulisan tersebut diatas adalah jenis tulisan non-fiksi. Berbeda dengan tulisan fiksi, maka tulisan non-fiksi harus tetap berdasarkan fakta dan data. Tulisan ilmiah populer seperti di atas harus tetap realistis dan rasional. Pada bagian lain, jenis-jenis tulisan ini akan dibahas secara lebih detil.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) realistis berarti bersifat nyata atau bersifat wajar. Sedangkan rasional dalam KBBI diartikan menurut pikiran dan pertimbangan yang logis; menurut pikiran yang sehat atau cocok dengan akal.
Tulisan yang kreatif atau yang diciptakan berbeda dengan tulisan pada umumnya memang akan menjadi tulisan yang menarik. Jika kita sering membaca koran atau majalah, maka akan kita jumpai beberapa pakar dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan menyampaikan pendapatnya dalam sebuah tulisan dengan gaya yang kreatif, berbeda dengan penulis lainnya. Kreatifitas itu bisa saja membuat pembacanya takjub, senang atau nyaman ketika membaca tulisan yang kreatif.
Namun yang perlu diingat, tulisan kita harus tetap realistis, sesuai dengan kenyataan yang terjadi, serta tetap rasional atau sesuai dengan akal sehat.
Kreatifitas, rasionalitas dan realistis ini juga berhubungan dengan analisis dan solusi yang akan ditulis oleh seorang penulis artikel opini. Misalnya saja, ketika menawarkan solusi terhadap kondisi
27
Bumi yang semakin padat, bisa saja seorang penulis yang kreatif akan menawarkan untuk pindah ke planet Mars. Namun dalam kondisi saat ini, tentu akan menimbulkan kontroversi dan menganggap gagasan tersebut kurang realistis dan rasional. Contoh lainnya, ketika menawarkan solusi untuk kepadatan angkutan umum di Jakarta, penulis bisa menawarkan ide membuat jenis angkutan umum baru misalnya kereta bawah tanah (subway). Saat ini, subway sudah banyak diimmplementasikan di berbagai negara dunia, sehingga ide tersebut dapat dianggap realistis dan rasional.
F. Bercerita tentang Pengalaman Pribadi atau Pengalaman Hidup
Pada saat tertentu, kita terkadang benar-benar merasa sangat tidak lagi memiliki ide yang harus ditulis dalam lembar naskah. Sebenarnya ada cara paling mudah untuk menggali ide yaitu dengan menuliskan pengalaman kita sehari-hari. Pengalaman yang berisi perasaan-perasaan hati seperti senang dan sedih, suka dan duka, serta keluh kesah. Selain perasaan, lintasan-lintasan gagasan atau ide yang ada dalam benak pikiran juga dapat dituangkan menjadi sebuah tulisan. Semua hal tersebut dapat dijadikan sebagai naskah artikel. Dengan begitu, kita jangan pernah merasa kehabisan mendapatkan ide untuk menulis.
Banyak penulis yang memulai keterampilannya melakukan teknik menulis buku melalui pengalaman hidup. Pengalaman yang pernah dilalui dan pernah Anda rasakan dapat dituangkan kedalam sebuah tulisan. Bisa juga pengalaman perjalanan Anda yang sangat mengesankan dapat dituangkan dalam sebuah tulisan, sehingga pembaca merasakan seolah-olah berada di tempat yang Anda tulis.
28
Desa Edensor di East Midland Inggris yang Diceritakan dalam novel Edensor karya Andrea Hirata Sumber:
https://www.hipwee.com/list/tidak-terkenal-di-negerinya-tetapi-desa-di-uk-ini-populer-di-indonesia/
Jadikanlah pengalaman Anda yang menarik sebagai sebuah gagasan untuk dituangkan menjadi sebuah buku. Kemudian buat tulisan Anda sekreatif mungkin agar orang lain tertarik untuk mengetahui tentang pengalaman berharga yang pernah Anda lalui.
G. Menulis tentang Sesuatu yang Dikuasai Ilmunya
Pengetahuan seseorang mengenai sesuatu yang dikuasai atau dipahami dengan baik akan menciptakan suatu ide yang terus mengalir tanpa henti. Menulis tentang sesuatu yang dikuasai akan membuat tulisan yang dibuat menjadi lebih menarik dan mudah dipahami oleh pembaca. Menulis sesuatu yang dipahami membuat kita dapat menguraikan pengetahuan yang kita miliki dengan mudah dan bebas hingga menjadi sebuah tulisan yang kreatif dan mampu memberikan informasi dengan benar.
Jika Anda seorang yang berlatar belakang pendidikan ekonomi, bekerja di bidang perekonomian, maka ketika Anda menulis tentang masalah tersebut para pembaca langsung mudah
29
memahaminya dan memercayai apa yang disajikan. Sebaiknya jika anda seorang ekonom kemudian menulis tentang masalah biologi, mungkin tulisan Anda terasa datar dan kurang mendalam. Pembaca pun kurang tertarik dengan tulisan Anda.
Akhirnya, jangan sampai Anda mengambil ide yang disukai namun Anda belum menguasainya. Hal ini akan membuat Anda kesulitan untuk mengembangkan gagasan Anda. Biasanya jika naskah Anda dapat diselesaikan, nuansa pembahasan dan analisisnya menjadi datar dan kurang mendalam. Sebaliknya, jika Anda mengambil ide tulisan berdasar keahlian Anda, biasanya tulisan akan mudah diselesaikan dan analisisnya pun mendalam. Yang lebih pentng lagi, sebagai orang yang menguasai bidang tersebut, Anada dapat memberi saran atau solusi yang tepat untuk sebuah permasalahan.
H. Hobi atau Hal yang Disukai
Hobi biasanya dijalankan oleh seseorang dengan perasaan gembira. Tanpa terasa orang yang menyukai hobi tertentu akan mendalami pengetahuan yang terkait dengan hobi tersebut sehingga tanpa sadar orang tersebut memiliki keahlian tentang hobi yang ditekuninya.
Menulis berdasarkan hobi bisa jadi sangat mudah, sebagaimana halnya menulis tentang pengalaman diri sendiri. Menceritakan sesuatu melalui tulisan mengenai hal-hal yang gemar dilakukan (passion) akan menjadi lebih mudah. Setiap orang pasti memiliki hobi yang disukai. Anda dapat mengambil ide atau gagasan dari hobi yang Anda sukai. Dengan menulis sesuatu yang Anda gemari, maka Anda akan mudah untuk menemukan ide kreatif untuk membangun sebuah tulisan.
Misalnya:
Anda adalah seorang yang mempunyai hobi fotografi. Maka Anda akan dengan mudah menceritakan bagaimana teknik mengambil foto yang terbaik sehingga memiliki nilai sebagai foto jurnalistik. Anda juga akan dengan mudah menuliskan bagaimana teknik memotret yang baik sehingga dapat menghasilkan foto yang indah. Bisa juga Anda menuliskan tinjauan (review) mengenai kamera-kamera yang beredar di pasaran berkenaan dengan kelebihan dan kekurangannya.
I. Memperluas Pergaulan dan Silaturahmi
Untuk menjadi penulis yang berwawasan luas maka kita tidak boleh membatasi pergaulan. Misalnya saja, Anda adalah seorang ahli lingkungan hidup. Maka jangan batasi pergaulan Anda dengan
30
kolega yang memiliki ilmu serumpun. Perluaslah pergaulan Anda dengan beragam pribadi yang memiliki berbagai latar belakang ilmu, pendidikan, taraf ekonomi, tempat tinggal, dll. Pergaulan yang luas akan memberikan ide yang luas pula. Dapat diibaratkan jika Anda memiliki seribu teman maka ada seribu kemungkinan ide yang dapat Anda ambil sebagai gagasan atau ide menulis. Dengan luasnya pergaulan maka tulisan Anda akan semakin kaya dengan berbagai ilmu dan pembahasan dari berbagai sudut wawasan yang berbeda. Luasnya pergaulan juga memungkinkan Anda memahami permasalahan dari cara pandang yang berbeda.
Anda juga dapat memanfaatkan silaturahmi dengan berbagai kalangan untuk berdiskusi. Dengan berdiskusi, maka Anda akan memperoleh banyak pengetahuan dan cara menyelesaikan masalah dari sudut pandang yang berbeda. Silaturahim dengan berbagai kalangan yang memiliki ragam pengetahuan dan keahlian akan menambah kebijaksanaan pada diri kita. Keragaman tersebut memberikan pendapat dan solusi yang berbeda ketika berhadapan dengan sebuah masalah yang sama.
J. Rajin Membaca
Menulis dan membaca ibarat sebuah koin yang memiliki dua wajah. Menulis dan membaca adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang yang ingin mahir dalam menulis, sebaiknya juga memiliki kegemaran membaca.
Membaca memiliki banyak manfaat bagi seorang penulis. Kegiatan membaca menjadi pintu pembuka ilmu pengetahuan. Dengan membaca, penulis akan memperoleh tambahan wawasan dari para penulis lain. Sepandai apapun seorang penulis, dia tidak memiliki dan mampu menguasai semua ilmu pengetahuan yang ada. Meskipun ia membaca pengetahuan yang sama dari penulis lain dengan ilmu yang sama ditekuni oleh penulis, tetap saja dia akan memperoleh tambahan-tambahan pengetahuan baru dari penulis lain.
Manfaat selanjutnya, membaca juga mendatangkan ide bagi para penulis. Dengan membaca, seorang penulis dapat mengetahui apa saja yang telah dan belum dibahas oleh penulis lain. Dengan kondisi tersebut, seorang penulis dapat melakukan modifikasi tulisan yang telah dibuat oleh orang lain dengan menuliskan apa yang belum dibahas oleh penulis tersebut.
Membaca juga merupakan proses mengamati gaya menulis orang lain. Beberapa penulis pemula sangat mengidolakan gaya menyampaikan gagasan penulis lain dalam sebuah tulisan. Teknik
31
seperti ini dapat saja dilakukan jika dirasa cocok dengan gaya penulis. Hal lain perlu menjadi pertimbangan adalah pembaca juga menyukai gaya penulisan tersebut. Beberapa jurnalis senior seperti Dahlan Iskan mempunyai gaya menulis yang menarik. Para ekonom senior seperti Khatib Basri (mantan Menteri Keuangan) juga memilki gaya menulis yang sangat menarik. Mereka memerlukan pengalaman hidup yang sangat kaya dan rekam jejak menulis yang sudah cukup lama untuk dapat mencapai tahap mahir dalam menulis. Sebagai penulis pemula, kita dapat meniru mereka dengan syarat tidak pernah bosan menambah wawasan dan berlatih menulis.
Selain mengatahui gaya menulis, membaca tulisan orang lain juga memberi pengetahuan tentang bagaimana penulis tersebut melihat sudut pandang suatu permasalahan sehingga menarik untuk dibaca. Selain itu, membaca juga akan memperkaya pengetahuan bagaiman melakukan terhadap suatu permasalahan, serta membuat kesimpulan dan merekomendasikan suatu solusi dari sebuah peristiwa.
Selain itu, satu hal yang tidak kalah penting dari membaca adalah dapat memperkaya kosakata. Kekayaan kosakata sangat diperlukan bagi penulis. Kosakata ibarat sebuah kekayaan yang akan menjadi bekal dalam menulis. Perbendaharaan kosakata yang mencukupi akan membuat sebuah tulisan menarik dan tidak membosankan untuk dibaca.
Selain itu, membaca buku juga dapat membuat kita menemukan berbagai inspirasi dan ide unik untuk bahan tulisan. Sekali lagi saya tekankan, jika Anda memang serius untuk bisa melakukan teknik menulis buku, maka mau tidak mau, Anda harus banyak-banyak “melahap” buku bacaan.
Membaca tentu tidak sebatas membaca buku, majalah, atau koran saja. Kita juga dapat membaca dari sumer lainnya, misal: sumber-sumber informasi yang berasal dari internet. Kemajuan teknologi informasi memudahkan kita untuk memperoleh informasi dari mana saja dan kapan saja. Kita tidak hanya dapat melihat perkembangan suatu teknologi dari dalam negeri saja, tetapi kita juga bisa membandingkan dengan perkembangan yang terjadi di negara lain dengan sangat mudah. Internet menjadi sarana semua informasi ada dalam genggaman kita. Manusia yang menentukan bagaimana dan untuk apa informasi yang ada dalam genggamannya itu digunakan.
Dengan membaca sebanyak mungkin tentang berbagai macam topik, otak Anda menjadi terlatih. Otak, seperti juga tubuh butuh latihan untuk membuatnya tetap fit. Tanpa latihan yang cukup otak akan menjadi lembek dan tidak berguna. Latih otak Anda dengan banyak membaca, ngobrol
32
dengan orang pintar, dan berdebat dengan orang lain. Berdebat dan diskusi bisa menjadi sebuah latihan yang luar biasa bagi sel otak.
K. Berdiskusi atau Curah Pendapat (Brainstorming)
Menurut Mohammad Uzer Usman (2005:94), arti diskusi adalah suatu proses komunikasi yang teratur dengan melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagi pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, dan solusi/pemecahan masalah. Diskusi bisasanya dilakukan untuk memecahkan persoalan tertentu. Namun, dalam upaya memperoleh ide seorang penulis dapat menggunakan media diskusi untuk memperoleh ide.
Penulis dapat mengundang kolega, teman kerja, sahabat, para pakar, atau siapan untuk mendiskusikan suatu topik yang menarik atau permasalahan yang sedang menjadi perhatian masyarakat umum. Dengan berdiskusi biasanya terjadi saling bertukar pikiran dan ide antar sesama peserta diskusi. Para peserta berdiskusi dengan mengeluarkan hasil pemikiran mereka sesuai dengan sudut pandang masing-masing. Penulis sebagai peserta diskusi secara tidak langsung sudah memperoleh bahan-bahan penulisan bersumber dari diskusi yang dilakukan. Penulis kemudian dapat menyeleksi mana hasil diskusi yang layak untuk ditulis atau hanya sekedar menjadi wawasan penulis.
Jika dilakukan dengan benar, brainstorming bisa membantu Anda memunculkan banyak ide segar. Selain itu, Anda juga dapat memilih pendapat terbaik dari teman diskusi.
Ketika berlangsung diskusi jangan lupa untuk mencatat atau merekamnya. Penulis dapat membawa catatan kecil dan pulpen atau pensil. Penulis juga dapat memanfaatkan alat perekam yang tersedia pada handphone. Agar tidak kehilangan ide-ide dari hasil diskusi, maka sebaiknya sgera dirumuskan hasil diskusi tersebut dalam sebuah karya tulis.
L. Melakukan Perjalanan
Ide menulis juga bisa diperoleh dengan cara melakukan perjalanan. Dengan melakukan perjalanan, kita dapat menjumpai berbagai keadaan yang belum pernah kita jumpai sebelumnya. Perjalanan ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi tentu akan mempertemukan kita dengan suasana yang baru, tradisi yang berbeda, masyarakat dengan budaya yang berbeda, suasana alam yang tidak biasanya kita jumpai, dan hal-hal baru lainnya.
33
Misalnya saja, kita berkunjung ke Kampung Baduy Luar, sebuah kampung yang berada di Kabupaten Lebak Banten. Kita akan menjumpai banyak hal baru yang belum pernah ditemui, budayanya, alamnya, penduduknya, mata pencaharian mereka, keterampilan mereka, dan lain sebagainya. Kebaruan inilah yang menjadi sumber inspirasi bagi penulis. Kita dapat mengambil dari sudut keilmuan apa yang dikuasai oleh penulis. Jika seorang penulis adalah pemerhati masalah lingkungan, maka penulis dapat melakukan eksplorasi berkaitan tersebut. Jika penulis seorang ekonom, penulis dapat menggali tentang kondisi ekonomi masyarakat setempat.
Kampung Baduy Luar
34
Perlu diingat, melakukan perjalanan tidak harus ke tempat yang jauh dari domisili kita. Penulis dapat saja mengunjungi pasar tradisional, masjid raya, museum, perpustakaan, atau bahkan pusat perbelanjaan (mall). Jika kita peka, banyak juga hal-hal menarik yang dapat diangkat sebagai artikel dari tempat-tempat yang ada di sekitar kita.
M. Petik Idenya, Kembangkan Tulisannya
Uraian di atas telah menjelaskan berbagai kegiatan yang dapat digunakan untuk membantu memunculkan ide di dalam menulis. Anda dapat melakukan satu atau beberapa kegiatan di atas untuk memeunculkan ide dalam menulis. Jika Anda seorang yang gemar melakukan perjalanan, maka Anda menggunakan hobi traveling atau bersilaturahim untuk mendatangkan ide menulis. Jangan lupa ketika melakukan kegiatan, Anda harus menyiapkan peralatan untuk mencatat atau merekam ketika inspirasi itu tiba-tiba menghampiri. Siapkan selembar kertas, bawa selalu netbook, laptop, HP, atau apa saja yang bisa digunakan untuk membuat catatan.
Jika Anda seorang yang gemar membaca, bawalah selalu alat tulis dan kertas. Teknologi Informasi juga dapat kita manfaatkan utk merekam atau mencatat. Bila Anda sedang berkunjung ke perpustakaan, kemudian menemukan pragraf yang menarik dari sebuah buku, Anda dapat membaca sambil merekamnya. Jangan lupa catat siapa pengarang dan penerbitnya sebagai bahan daftar pustaka.
Jika ide-ide menarik tersebut telah Anda tangkap, jangan lupa segera tuangkan ide tersebut ke dalam laptop atau komputer. Jika Anda belum memiliki kesempatan untuk menulis secara penuh, maka tulislah terlebih dahulu hal-hal yang pentung menurut Anda. Setidaknya Anda telah membuat sebuah kerangka karangan dan siap untuk melengkapi kerangka karangan tersebut dengan data, fakta dan informasi yang sudah Anda miliki.
Video Pembelajaran Memancing Ide Menulis
Selain yang telah dijelaskan di atas, pembaca juga dapat melihat video berikut ini untuk mempelajari lebih dalam mengenai langkah-langkah untuk memperoleh ide-ide dalam menulis. Selamat menyaksikan!
35
BAGIAN 3
LANGKAH MUDAH LANCAR MENULIS
Jika menyaksikan film-film romantisme Indonesia zaman dulu, kita akan disuguhkan adegan seseorang sedang menulis surat pada selembar kertas. Tak lama kemudian, aktor tersebut meremas kertas yang sudah ditulisnya dan membuangnya ke tempat sampah sampai berkali-kali. Adegan tersebut tentu tidak akan dijumpai saat ini, di zaman modern yang serba paperless ini.
Namun masalahnya bukan pada meremas kertas atau menghapus tulisan pada layar laptop. Masalahnya adalah bagaimana agar kita dapat menuangkan isi pikiran dan hati dalam sebuah tulisan dengan lancar?
Disuatu waktu dalam sebuah pelatihan menulis, ada seorang peserta pelatihan yang diberi waktu sekian jam untuk menulis. Namun panjang tulisannya hanya 3 kalimat saja. Waktunya banyak digunakan untuk melihat layar laptop dan mengawang-awang. Hanya sedikit dari imajinasinya yang dapat dituangkan menjadi tulisan. Berbeda dengan peserta lain yang begitu lancar menulis. Hanya membutuhkan beberapa jam untuk menulis dalam dua halaman. Bagaimana mengatasi hal ini?
A. Seni Menulis
Pengertian seni menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, dan sebagainya). Seni juga didefinisikan sebagai sebuah karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa, seperti tari, lukisan, ukiran, dan sebagainya.
Sedangkan menulis menurut KBBI adalah melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Menulis berarti menuangkan isi hati si penulis ke dalam bentuk tulisan, sehingga maksud hati penulis bisa diketahui banyak orang melalui tulisan yang dituliskan.
Disamping pengetian dari KBBI, ada beberapa pengertian menulis lainnya. Pada intinya menulis merupakan bagian dari sarana komunikasi. Menulis merupakan aktivitas untuk menyatakan
36
pikiran (ide) dan perasaan dalam bentuk tulisan yang diharapkan dapat dipahami oleh pembaca dan berfungsi sebagai alat komunikasi secara tidak langsung
Menulis adalah seni. Hal ini disebabkan menulis membutuhkan keahlian untuk menuangkan pikiran atau perasaan dengan tulisan. Tidak setiap orang memiliki keahlian menulis dengan baik. Namun demikian, menulis dapat dilatih sehingga memunculkan keahlian menulis pada diri seseorang. Aktivitas sehari-hari, profesi, pengalaman hidup dan keinginan yang kuat sangat menentukan seseorang untuk memiliki keahlian dalam menulis.
Emha Ainun Nadjib dalam bukunya “Gelandangan di Kampung Sendiri” menyebutkan modal untuk menjadi penulis adalah:
“Pertama anugerah Allah. Kedua, belajar dan bekerja keras. Ketiga, keikhlasan doa ibu saya dan Anda semua. Apa yang kita perjuangkan adalah etos kerja, kesediaan untuk bekerja keras dan “kejam” kepada diri sendiri…”
B. Langkah Mudah Menjadi Penulis 1. Tetapkan Niat dan Bulatkan Tekad
Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai. Demikian kesimpulan yang diperoleh setelah mengikuti berbagai pelatihan menulis dan penelitian. Namun, ungkapan tersebut tidak semudah diucapkan. Pada kenyataannya untuk menyelesaikan sebuah tulisan baik itu artikel opini, skripsi, thesis, dan jenis tulisan lainnya dibutuhkan sebuah niat dan tekad yang kuat. Seorang penulis tidak bisa mengatakan “sedang tidak mood” sehingga berhenti menulis. Terkadang, penulis harus memaksakan diri sehingga bisa terus menulis. Bentuk pemaksaan ini dapat bermacam-macam, misalnya memaksakan menulis diantara kesibukan yang ada, memaksakan menulis diantara minimnya sarana, dll.
2. Membaca dan Menulis Setiap Hari
Stephen King, seorang pengarang fiksi terkenal dari Amerika Serikat mengatakan: “If you don’t have time to read, then you will don’t have the time to write.” Membaca ibarat nutrisi bagi penulis. Menulis ibarat memanfaatkan nutrisi menjadi energi dan prestasi. Melalui membaca kita dapat mempelajari bagaimana para penulis menyusun kata, memilih kata (diksi), dan mengolah tulisan hingga memiliki rasa. Dengan membaca kita akan memperoleh ilmu dan pengalaman dari penulis lain
37
yang lebih mumpuni. Berdasarkan pengalaman tersebut, kita ambil dan tuangkan dalam tulisan. Sempatkanlah setiap hari untuk menulis meski hanya beberapa paragraf. Kita dapat menentukan sendiri waktu yang tepat untuk menyempatkan diri menulis setiap hari.
Jika itu belum cukup untuk mendorong semangat Anda, maka jadikanlah menulis seolah-olah pekerjaan Anda. Anda terpicu untuk menulis karena jika tidak menulis Anda seolah-olah tidak akan memperoleh “gaji” pada hari itu. Saat kita mulai terbiasa menganggap menulis adalah pekerjaan, bukan sekadar hobi pengisi waktu luang, maka kita pun akan terpacu untuk selalu lebih baik.
Kita akan rela menginvestasikan segalanya untuk bisnis atau pekerjaan yang dimiliki. Kita akan mau “menginvestasikan” waktu untuk belajar teknik menulis yang lebih baik. Selanjutnya, kita akan berkomitmen untuk menyelesaikan tulisan yang sudah dimulai.
3. Berkawan dengan pemilik hobi yang sama
Bergabung dalam sebuah komunitas yang memiliki hobi yang sama dapat menjaga semangat menulis dan memunculkan ide-ide baru. Interaksi dan komunikasi yang timbul biasanya menjadi sarana berbagi pengalaman serta mendorong anggota komunitas agar lebih semangat menulis.
C. Memulai Menulis Bagi Orang Awam
Suatu waktu, kita pasti pernah memiliki pengalaman “mogok” ketika menulis, yaitu kondisi ketika menulis baru satu kalimat kemudian berhenti lama sekali. Kita seolah tidak memiliki ide lagi untuk ditulis. Mungkin juga, tulisan yang dibuat terasa janggal kemudian dihapus sampai berulang kali.
Kita tidak perlu berkecil hati dengan kondisi tersebut. Siapapun dapat mengalami hal tersebut. Sebagai solusi, kita dapat melakukan beberapa tahapan latihan yang mendorong tahap demi tahap menjadi ahli dalam menulis. Berikut ini beberapa langkah yang digunakan sebagai teknik untuk memulai menulis.
1. Teknik menulis buta (blind writing technique)
Teknik menulis buta adalah sebuah teknik menulis bebas dengan tanpa melihat hasil tulisan. Gaya menulis ini digunakan untuk merangsang otak kanan berimajinasi kemudian Anda menyalin imajinasi tersebut dalam tulisan. Anda dapat berlatih menulis apapun yang disukai. Kegiatan ini
38
dilakukan terutama untuk melatih berimajinasi dan berani menuangkan ide Anda menjadi sebuah tulisan. Anda dapat mengetik selama Anda mau atau membatasinya dalam waktu tertentu.
Contoh:
- Untuk memulai berimajinasi, Anda dapat membayangkan ketika sedang berwisata dengan keluarga di sebuah pegunungan yang sejuk dan asri.
- Gunakan laptop atau komputer Anda. Tutuplah layar komputer dengan kertas putih. - Mulailah mengetik bebas berdasarkan imajinasi Anda.
- Hiraukan hasil tulisan Anda. Jangan lakukan editing selama waktu menulis. - Anda bisa membatasi waktu yang digunakan misalnya 15 menit.
- Setelah selesai menulis, bacalah tulisan Anda. Rasakan tulisan Anda. - Anda Boleh melakukan penyuntingan setelah selesai membaca.
- Cara ini dapat Anda lakukan berulangkali hingga Anda telah merasakan keberanian dan kebebasan menulis.
Contoh hasil tulisan:
Minggu lalu kami sekeluarga berkemah di Puncak. Anak-anak kami ikut semua dalam perkemahan tersebut. Kami sangat bahagia dapat pergi bersama menghasiskan liburam. Tempat berkemahnya cukup nayaman berada di lereng bukit yang berhawa dingin. Disekeling perkemahan terdapat banyak phon pinus yang menjulang tinggi. Meskupun berada di alam bebas, kami merasa aman karen adisekeliling bumi perkemahan tersebut terdaoat sekuriti yang ikut menjaga.
Malam hanrinya kami menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh. Kami duduk berkeling menikmati makan malam sambil bercerita dan berbincang tentang apa saja. Suasana bahagoa dan gelak tawa menghisasi suasana malam itu. Dst…
Tulisan di atas banyak memiliki kesalahan ketik karena ditulis dengan metode “blind writing”. Setelah membaca kembali, Anda dapat menyuntingnya.
2. Mudah Menulis dengan Mind Mapping
Penulis pemula biasanya menemui tantangan untuk menemukan kalimat menarik dan informatif, serta saling terkoneksi antar paragraf. Seorang penulis terkadang kehilangan arah, hingga membuat kalimat berulang yang tentunya membuat tulisan tidak efektif dan bertele-tele. Mind Mapping dapat menjadi salah satu solusi untuk memudahkan penulis pemula membuat kerangka