• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daftar media online lain yang menerima tulisan dan berhonor adalah

ideide.id janang.id gogirl.id apajake.id dnk.id alif.id berdikaribook.red kurungbuka.com nusantaranews.com jejakpublisher.com roemahcikal.com malangvoice.com simalaba.net cendananews.com cadik.co buruan.co balairungpress.com bacapetra.co satupena.id hot.detik.com

Menulis itu seperti naik sepeda. Ribuan kali membaca teori naik sepeda, kita tidak akan pernah bisa mengendarai kalau tidak pernah mencoba.

Sumber: https://www.halodoc.com/artikel/kapan-saat-yang-tepat-mengajarkan-anak-main-sepeda Jadi, menulislah. Itu satu-satunya cara belajar menulis.

85

DAFTAR PUSTAKA

Usman, Moh. Uzer. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Swantoro. P.2002. Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Silberman, M.L. 1996. Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject. Boston: Allyn Bacon. DePorter, B. dan Hernacki, M. 2005. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.

L. Rivers, William et, All. 2003. Media Massa dan Masyarakat Modern. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Buzan, Tony. 2008. Mind Map Untuk Meningkatkan Kreativitas. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Hakim, M. Arief. 2005. Kiat menulis Artikel di Media; Dari Pemula Sampai Mahir (Edisi Revisi). Bandung: Penerbit Nuansa Cendikia.

Dalman. 2012. Menulis Karya Ilmiah. Bandar Lampung: UM Lampung Pres.

Isnawijayani. 2019. Menulis Berita di Media Massa dan Produksi Feature. Yogyakarta: Penerbit Andi. Gunawan, Wawan. 2008. Tips Trik Menulis Artikel. Bandung: Harmax Publishing.

Website

http://writing2.richmond.edu/writing/wweb/journalism/types.html diunggah pada tanggal 30 September 2020 pukul 10:37

86

LAMPIRAN

Versi artikel asli:

Sukuk Tabungan: Instrumen Investasi Inklusif

Oleh: Eri Hariyanto, pegawai Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan*) 1. Konsistensi Pengembangan Pasar Sukuk Negara

Dalam waktu dekat, pemerintah kembali akan mengeluarkan instrumen investasi baru untuk investor individu Warga Negara Indonesia yaitu Sukuk Tabungan. Instrumen investasi ini mirip dengan Sukuk Negara Ritel yang telah terbit sebelumnya, yaitu memberikan imbal hasil tetap (fixed) dan imbal hasil dibayarkan secara periodik setiap bulan. Disebut sebagai Sukuk Tabungan karena instrumen investasi ini bisa menjadi sarana menyimpan dana masyarakat secara aman dan nyaman, sekaligus berinvestasi. Pemerintah selaku penerbit berharap masyarakat dapat lebih lama menyimpan dananya sehingga merasakan manfaat investasi berupa imbalan yang kompetitif dari pemerintah. Agar investasi masyarakat tersebut bisa bertahan lebih lama, maka Sukuk Tabungan didesain non-tradeable (tidak dapat diperdagangkan). Dengan begitu investor tidak dapat mencairkan investasinya setiap saat dengan cara menjual kepada pihak lain. Namun demikian, pemerintah memberikan opsi kepada investor sehingga dapat mencairkan pokok investasinya lebih awal (early redemption) dengan mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah. Sebagai ilustrasi, A berinvestasi pada Sukuk Tabungan sebesar Rp 10 juta. Lama investasi (tenor) yang ditetapkan oleh pemerintah adalah 2 tahun dengan opsi early redemption 1

87

tahun sebesar maksimal 50% dari nilai investasi. Hal ini berarti bahwa A berinvestasi di Sukuk Tabungan selama 2 tahun, tanpa bisa diperdagangkan atau dipindahnamakan sampai jatuh tempo. Dalam hal diperlukan, A dapat mengambil opsi early redemtion yaitu dengan cara mencairkan investasinya ketika telah berumur 1 tahun, dengan nilai maksimal yang dapat dicairkan sebesar 50% atau sebesar Rp 5 juta. Bagi pemerintah, penerbitan Sukuk Tabungan selain dijadikan sebagai sarana pemenuhan target defisit APBN juga dijadikan sebagai sarana pengembangan dan pendalaman pasar Sukuk Negara (SBSN). Sebagaimana diketahui, pemerintah telah melakukan upaya diversifikasi investor untuk mengembangkan pasar SBSN baik itu investor domestik maupun asing, juga investor institusi (korporasi) maupun ritel. Khusus untuk investor ritel, pemerintah telah menerbitkan Sukuk Negara Ritel yang telah memasuki seri ke delapan (SR-008). Penerbitan Sukuk Negara Ritel telah mencatatkan sukses baik dari sisi kontribusi terhadap pembiayaan defisit APBN maupun dari pencapaian target investor. Namun demikian, pemerintah melihat sisi-sisi yang dapat lebih dikembangkan dari penerbitan instrumen investasi untuk investor ritel dengan melihat catatan-catatan dari penerbitan Sukuk Negara Ritel. Beberapa catatan tersebut diantaranya adalah investor Sukuk Negara Ritel ternyata masyarakat Indonesia dengan kemampuan ekonomi menengah ke atas. Hal ini terbukti dari data penerbitan SR-008 bahwa mayoritas investornya (37,7%) berinvestasi pada kisaran 100 juta hingga 600 juta rupiah. Mayoritas investor tersebut berprofesi sebagai wiraswasta atau pegawai dari institusi swasta.

Dengan demikian, sebetulnya pasar Sukuk Negara dapat lebih dikembangkan lagi terutama untuk investor ritel yang nilai investasinya di bawah 100 juta rupiah. Selain itu, berdasarkan masukan masyarakat melalui sosialisasi Sukuk Negara yang dihimpun oleh Direktorat Pembiayaan Syariah, banyak sekali calon investor individu yang mengharapkan agar nilai investasi terendah pada Sukuk Negara Ritel dapat diturunkan sehingga dapat lebih terjangkau oleh para investor pemula. Sedangkan berdasarkan pengamatan penulis, investor pemula dan investor dengan nilai investasi yang relatif kecil cenderung untuk melakukan hold to maturity atau menahan investasinya sampai dengan jatuh tempo. Karakteristik investor tersebut, tentu sangat sesuai untuk berinvestasi pada Sukuk Tabungan.

2. Instrumen Investasi Inklusif

Sebuah instrumen investasi dapat dikatakan inklusif apabila instrumen investasi tersebut dapat mengikutsertakan semua orang dari berbagai lapisan untuk berkontribusi karena minimnya hambatan baik bersifat administratif maupun ekonomi. Sukuk Tabungan yang akan diterbitkan oleh pemerintah dalam waktu dekat diharapkan dapat memenuhi kriteria inklusifitas tersebut. Dari sisi administratif, persyaratan untuk berinvestasi pada Sukuk Tabungan adalah Warga Negara Indonesia yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Persyaratan ini tentu dengan mudah dapat dipenuhi karena setiap warga negara resmi tentu mempunyai KTP. Sedangkan dari sisi ekonomi, pemerintah berencana membuat nilai investasi terendah dari Sukuk Tabungan ini jauh dibawah Sukuk Negara Ritel yaitu hanya sebesar 2 juta rupiah (Sukuk Negara Ritel minimal investasi 5 juta rupiah). Nilai investasi tersebut, diharapkan akan lebih banyak menjangkau kalangan masyarakat dan memenuhi nilai ekonomis terendah suatu investasi (apabila lebih rendah, hasil investasi tidak dapat menutup biaya administrasi).

Rencananya Sukuk Tabungan masih akan menggunakan selling agents (agen penjual) yang sama dengan Sukuk Negara Ritel yaitu perbankan dan perusahaan sekuritas. Dalam rangka meningkatkan peran Sukuk Tabungan sebagai instrumen investasi yang inklusif dan merubah pola dari saving oriented society ke investmen oriented society, maka perlu dipikirkan untuk membuat channel distribution/selling agents yang bisa menjangkau kalangan masyarakat yang lebih luas dan lebih mudah. Bila mengutip data dari

88

TechiAsia, disebutkan bahwa saat ini pengguna smartphone di Indonesia telah mencapai 55 juta orang. Pemerintah sebenarnya dapat memanfaatkan hal tersebut untuk keperluan sosialisasi, maupun mempermudah masyarakat untuk melakukan investasi (web base investment) seperti halnya internet banking yang telah dilaksanakan dunia perbankan. Selain itu, perlu dipertimbangkan pula untuk dapat menerbitkan instrumen ini secara periodik sehingga lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk berinvestasi.

Perubahan pola masyarakat menuju investment oriented society sebaiknya juga diikuti dengan edukasi untuk menginformasikan kepada masyarakat bahwa dalam setiap investasi selain memperoleh manfaat juga selalu ada risiko yang mengikuti bahkan untuk investasi yang bersifat zero risk seperti Sukuk Negara atau Surat Utang Negara. Dalam hal Sukuk Tabungan, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan oleh masyarakat sebagai calon investor, yaitu:

1. Risiko Likuiditas (liqudity risk). Sukuk Tabungan merupakan instrumen yang tidak diperdagangkan sehingga investor yang berinvestasi pada instrumen ini tidak dapat menguangkan investasinya dengan menjualnya di pasar sekunder. Akibatnya, apabila investor membutuhkan likuiditas harus menunggu saat pencairan lebih awal (early redemption) atau pada waktu investasi jatuh tempo (maturity date).

2. Risiko Perubahan Tingkat Bunga (interest rate risk). Sukuk Tabungan merupakan instrumen investasi yang memberikan imbalan tetap (fixed return) dan tidak dapat diperdagangkan atau dipindahtangankan, apabila terjadi perubahan kondisi ekonomi makro yang menyebabkan perubahan suku bunga yang dijadikan acuan(misal: tingkat suku bunga SBI), yang diikiuti dengan perubahan imbalan instrumen investasi, maka investor Sukuk Tabungan akan kehilangan kesempatan untuk menganti instrumen investasi dengan tingkat imbalan yang lebih menarik. Banyak pihak berharap agar masyarakat dapat lebih banyak berkontribusi pada instrumen investasi yang diterbitkan oleh pemerintah, seperti Sukuk Negara. Seperti diketahui bahwa dana yang dihimpun dari masyarakat melalui Sukuk Negara, termasuk Sukuk Tabunga, dipergunakan untuk memperbanyak pembangunan infrastruktur yang memberikan multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi.

89 Versi Artikel Asli:

SBN sebagai Instrumen Repatriasi Dana Tax Amnesty

Oleh: Eri Hariyanto, pegawai Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan*)

Kebijakan Tax Amnesty (TA/pengampunan pajak) merupakan terobosan strategis untuk memperoleh tambahan penerimaan negara di tengah lesunya perkonomian global. Beberapa analis ekonomi menilai bahwa kondisi perekonomian global pada tahun 2016 tidak berbeda jauh dengan tahun 2015, dimana negara-negara yang memiliki porsi Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar dunia sekaligus mitra dagang utama Indonesia, seperti Amerika Serikat, Zona Eropa, Tiongkok dan Jepang, masih dilanda kelesuan ekonomi. Negara-negara tersebut diprediksikan masih mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016.

Kondisi ini tentu akan berpengaruh terhadap potensi penerimaan negara yang bersumber dari komoditi seperti minyak, gas dan sumber daya alam lainnya. Seperti diketahui bahwa penerimaan negara yang bersumber dari pajak, bagi hasil dan royalti minyak dan gas mencapai seperempat dari total

90

penerimaan negara. Penurunan pertumbuhan ekonomi mitra dagang utama Indonesia tentu menyebabkan berkurangnya impor komoditi dari Indonesia dan penurunan penerimaan negara. Sehingga, banyak sekali pihak yang berharap agar TA menjadi angin segar bagi penerimaan negara dan pertumbuhan ekonomi. TA adalah upaya Pemerintah untuk membawa para partisan potensial ke dalam sistem perpajakan nasional bersamaan dengan aset yang dimiliki, sehingga selain menambah penerimaan pajak diharapkan juga menambah likuiditas dalam negeri.

Berdasarkan data Global Financial Integrity tahun 2015 disebutkan bahwa sebenarnya dana warga Indonesia tercatat di luar negeri sebesar Rp3.147 triliun. Dana-dana tersebut biasanya ‘diparkir’ di wilayah yang menetapkan pajak sangat kecil atau bebas pajak (tax haven countries). Namun dari total dana tersebut hanya 60 persen yang bisa masuk TA. Hal ini disebabkan karena sekitar 30 persen terkait dengan tindak pidana narkoba, human trafficking, dan terorisme, dan 10 persen lainnya termasuk dalam tindak korupsi. Apabila TA dapat diimplementasikan, dana yang dapat “dibawa pulang” diperkirakan sebesar Rp560 triliun, hal ini berarti potensi tambahan penerimaan negara sebesar Rp60 triliun. Selain keuntungan berupa penerimaan negara, repatriasi dana tersebut akan menambah pertumbuhan ekonomi sebesar 0,3% dan nilai tukar rupiah akan menguat Rp120/dolar AS.

Sebagai syarat untuk memperoleh pengampunan pajak, dana tersebut harus dibawa masuk ke Indonesia serta diinvestasikan dalam berbagai instrumen baik keuangan maupun sektor riil minimal dalam waktu 3 tahun. Tentu pemerintah harus menyiapkan berbagai instrumen agar dana yang masuk tersebut dapat bertahan lebih lama dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih banyak. Pemerintah dapat mengarahkan dana-dana tersebut pada bidang investasi langsung yang sangat diperlukan misalnya investasi di bidang energi, transportasi, pariwisata atau properti. Selain itu pemerintah dapat pula mengarahkan dana-dana tersebut untuk diinvestasikan pada instrumen keuangan seperti deposito, saham, atau obligasi yang diterbitkan oleh BUMN. Melihat potensi dana repatriasi yang cukup besar, timbul harapan dana tersebut akan menambah likuiditas sehingga pembiayaan ke sektor riil menjadi lebih murah dan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi.

Selanjutnya agar dana-dana tersebut dapat bermanfaat dari sisi fiskal, pemerintah dapat mengarahkannya untuk diinvestasikan pada Surat Berharga Negara (SBN) baik Surat Utang Negara (SUN) maupun Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dalam denominasi Rupiah maupun valuta asing (misalnya US Dollar). Dengan melimpahnya dana yang tersedia diharapkan dapat menekan imbalan (bunga) SBN yang diberikan, sehingga Pemerintah dapat menerbitkan SBN dengan biaya yang lebih murah.

91

Masing-masing instrumen SBN tersebut memiliki keunggulan, bila diinvestasikan dalam SUN maka pemerintah mempunyai fleksibilitas menggunakan dana tersebut untuk berbagai jenis belanja di dalam APBN baik belanja pegawai, belanja modal, belanja barang, dll. Selain itu, Pemerintah dapat pula mengarahkan dana tersebut untuk diinvestasikan pada pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah melalui SBSN atau Sukuk Negara. Seperti diketahui bahwa saat ini mayoritas Sukuk Negara yang diterbitkan oleh Pemerintah digunakan untuk pembiayaan berbagai proyek pemerintah. Agar semakin banyak dana yang terserap melalui Sukuk Negara, tentu Pemerintah harus menyiapkan sebanyak mungkin proyek infrastruktur yang dapat dijadikan underlying asset. Untuk menyiapkan hal ini, tentu membutuhkan koordinasi yang erat baik internal Kementerian Keuangan maupun unit eksternal seperti Bappenas.

Di samping berbagai keuntungan yang akan diperoleh dengan masuknya dana repatriasi tersebut, Pemerintah juga perlu mempertimbangkan berbagai langkah untuk mengantisipasi risiko. Diantaranya adalah dengan memberikan pilihan SBN dalam berbagai tenor dan tingkat imbalan yang menyesuaikan dengan panjangnya tenor. Diversifikasi tenor SBN ini bertujuan agar dana repatriasi dapat bertahan lebih lama dan menghindari penarikan dana dalam waktu yang sama. Terjadinya penarikan dana dalam waktu yang sama tentu akan meningkatkan risiko pembiayaan kembali (refinancing risk) yang menyebabkan pembayaran utang lama dengan menerbitkan utang baru berbiaya lebih besar.

Selain itu, dengan diversifikasi tenor juga dapat menghidarkan risiko pasar (market risk) akibat pembalikan dana secara bersamaan yang menyebabkan tekanan harga SBN di pasar sekunder. Perlu lebih diwaspadai apabila dana tersebut kembali ke luar negeri karena dapat menyebabkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan mengurangi cadangan devisa. Akhirnya, potensi dana repatriasi merupakan peluang bagi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, namun Pemerintah perlu menerapkan kebijakan yang sangat prudent agar moment tersebut tidak menjadi bumerang bagi perekonomian.

*) Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja

92

Reputasi Sukuk Global Indonesia

Oleh: Eri Hariyanto, pegawai Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko*)

Ekonomi syariah, sebagai sistem ekonomi jalan tengah antara sistem ekonomi sosialis dan kapitalis, saat ini telah menunjukkan perkembangannya secara global. Perkembangan ekonomi syariah bukan lagi secara sporadic di wilayah-wilayah yang di dominasi oleh negara berpenduduk mayoritas muslim seperti kawasan Timur Tengah, Afrika Utara dan Asia Tenggara, namun telah menjadi perkembangan yang mendunia. Diantara implementasi praktik ekonomi syariah, perkembangan keuangan syariah menjadi motor penggerak ekonomi syariah yang menghubungkan antara sektor keuangan dan sektor riil. Meskipun praktik keuangan syariah berdasarkan kaidah-kaidah muamalah dalam hukum Islam, namun keuangan syariah dapat dipraktikkan oleh seluruh pelaku ekonomi dunia. Sistem keuangan syariah saat ini telah menjadi alternatif pilihan untuk mengembangkan ekonomi yang lebih berkeadilan dan berkesinambungan.

Salah satu indikasi meningkatnya pengembangan praktik keuangan syariah global yaitu semakin bertambahnya lembaga-lembaga keuangan syariah seperti bank, asuransi, reksadana dan dana pensiun yang didirikan. Selain itu semakin berkembang pula instrumen-instrumen keuangan syariah seperti sukuk, deposito, tabungan, instrumen hedging dan lain-lain. Melihat potensi pertumbuhannya di masa yang akan datang, saat ini telah banyak negara yang mengumumkan dirinya sebagai hub keuangan syariah di kawasan tertentu untuk menarik dana-dana dari potensial investor. Diantara negara-negara tersebut

93

adalah United Kingdom untuk kawasan Eropa, United Arab Emirates untuk kawasan Timur Tengah dan Nigeria untuk kawasan Afrika.

Salah satu instrumen keuangan syariah yang saat ini tengah berkembang pesat adalah sukuk. Sukuk sebenarnya merupakan instrumen keuangan yang telah lama dikenal oleh masyarakat muslim pada abad pertengahan, dalam bentuk surat berharga yang mewakili kewajiban pembiayaan yang berasal dari perdagangan dan kegiatan komersil lainnya (Huda dan Nasution, 2007:122). Kebangkitan penggunaan sukuk seiring dengan tumbuhnya industri keuangan syariah dalam dua dekade terakhir. Sukuk menjadi solusi keuangan inovatif bagi para pihak yang membutuhkan pembiayaan dan investasi. Saat ini sukuk telah diterbitkan oleh negara-negara yang bukan berpenduduk mayoritas muslim seperti United Kingdom, Saxony Anhalt (Jerman), Jepang, dll. Sampai dengan awal bulan Oktober 2015 nilai sovereign sukuk (sukuk pemerintah) yang telah diterbitkan mencapai USD 37,31 miliar.

I. Reputasi Sukuk Global Indonesia

Pemerintah memandang bahwa perkembangan keuangan syariah global merupakan peluang untuk menghubungkan investor global dengan sektor keuangan dan riil domestik. Selain itu, perkembangan keuangan syariah merupakan kesempatan bagi pemerintah untuk menyediakan instrumen-instrumen keuangan yang dibutuhkan oleh lembaga keuangan syariah domestik maupun global agar dapat mengembangkan investasinya. Di sisi lain dana yang dimiliki oleh lembaga keuangan syariah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pengelolaan pembiayaan APBN. Sehingga penerbitan instrumen investasi berbasis syariah tersebut menjadi simbiosis mutualis yang memberikan keuntungan bagi pemilik dana maupun pemerintah.

Untuk memanfaatkan perkembangan keuangan syariah global tersebut, sejak tahun 2009 pemerintah secara rutin telah menerbitkan instrumen investasi bagi institusi keuangan syariah global yang disebut Sukuk Negara Indonesia (SNI) atau Sukuk Global Indonesia. Penerbitan Sukuk Global juga merupakan salah satu upaya untuk melakukan diversifikasi sumber-sumber pembiayaan APBN. Selain itu, penerbitan Sukuk Negara di pasar internasional dipandang lebih efisien bila dibandingkan dengan penerbitan domestik. Hal tersebut dapat dilihat dengan membandingkan nilai imbal hasil yang diberikan Sukuk Global dengan Sukuk Negara yang diterbitkan di pasar domestik dengan tenor sama. Berdasarkan data yang ada, terdapat perbedaan selisih imbal hasil pada kisaran 300 s.d. 500 basis points (3-5 persen).

Penerbitan Sukuk Global juga mendapat sambutan yang sangat baik dari para investor. Hal tersebut terlihat dari minat investor yang sangat tinggi setiap penerbitan Sukuk Global sehingga selalu mengalami kelebihan permintaan (over subscribed). Selain itu, dari sisi distribusi geografi investor Sukuk Global juga menyebar di seluruh dunia. Dalam penerbitan Sukuk Global seri SNI 25 yang diterbitkan pada tahun 2015, 41% investor berasal dari Timur Tengah kemudian disusul Amerika Serikat 21%, Eropa 16%, Asia 12% dan Indonesia 10%. Berdasarkan sebaran investor terseut dapat diambil kesimpulan bahwa Sukuk Global Indonesia diterima oleh investor global baik dari sisi hukum posistif maupun dari sisi hukum syariah. Konsistensi pengembangan pasar Sukuk Negara mulai membuahkan hasil. Di pasar keuangan syariah internasional, Indonesia telah diakui sebagai issuer sukuk yang terpercaya. Berdasarkan data dari Direktorat Pembiayaan Syariah DJPPR, pada bulan Juni 2015 Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia dalam jumlah penerbitan Global Sukuk. Posisi Indonesia berada di atas Malaysia dan di bawah Uni Arab Emirate sebagai penerbit Sukuk terbesar. Jika dihitung berdasarkan outstanding (Sukuk yang belum jatuh tempo), maka Indonesia adalah penerbit Global Sukuk terbesar di dunia, di atas Malaysia dan Uni

94

Arab Emirate. Kepercayaan dunia internasional kepada Sukuk Negara tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah yang sangat berhati-hati (prudent) dalam mengelola utang serta kebijakan fiskal dan ekonomi makro. Tantangan Sukuk Global Indonesia

Penerbitan Sukuk Global Indonesia saat ini telah menjadi success story bagi pengelolaan pembiayaan di Indonesia. Sampai tahun 2015, Pemerintah telah enam kali menerbitkan Global Sukuk secara sukses. Namun, dalam kondisi ekonomi global yang penuh dengan dinamika, pemerintah perlu mewaspadai berbagai kondisi agar tidak menjadi gangguan bagi pengelolaan Sukuk Global. Berbagai kondisi yang perlu mendapat perhatian diantaranya adalah:

a. Pasar keuangan global

Dalam sistem ekonomi terbuka saat ini, kondisi perekonomian global saling berkaitan yang menimbulkan berbagai dinamika. Kekuatan negara-negara adi daya seperti: China dan Amerika Serikat sangat mempengaruhi kondisi perekonomian global. Berbagai kebijakan atau ekspektasi kondisi perekonomian yang terjadi di negara tersebut dapat berdampak terhadap instabilitas perekonomian negara-negara di dunia dan menuntut adanya penyesuaian agar terjadi keseimbangan. Sebagai contoh: kondisi perekonomian Amerika Serikat yang mulai membaik dan ditandai dengan meningkatnya inflasi, menimbulkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika (the Fed rate) untuk mengurangi laju inflasi. Ekspektasi tersebut biasanya menimbulkan instabilitas perekonomian dunia. Kenaikan suku bunga acuan akan mempengaruhi permintaan yield obligasi atau imbalan sukuk yang akan diterbitkan di pasar perdana dan harga obligasi/sukuk di pasar sekunder. Sebagai mana disampaikan Rudiyanto (2012), bahwa apabila yield Obligasi diekspektasikan akan naik, maka harga obligasi akan turun, dan sebaliknya apabila yield obligasi diekspektasikan akan naik, maka harga obligasi akan naik.

Sukuk Global tidak terlepas dari risiko pasar yang terjadi. Kondisi perekonomian yang sedang memburuk akan meningkatkan risiko berinvestasi sehingga investor meminta yield yang lebih tinggi pada saat penerbitan Sukuk Global di pasar perdana. Permintaan yield yang tinggi juga akan menurunkan harga sukuk di pasar sekunder. Penurunan harga Sukuk Global di pasar sekunder ini menuntut pemerintah untuk melakukan penetrasi pasar agar harga sukuk tidak semakin turun. Apabila harga dibiarkan semakin turun, maka akan semakin banyak investor yang menjual sukuk. Hal ini akan menjatuhkan kredibilitas dan menyulitkan pemerintah untuk melakukan penerbitan selanjutnya. Kondisi ini dapat menyebabkan biaya tinggi dalam memperoleh dana untuk pembiayaan APBN dan mengganggu pencapaian target penerbitan Sukuk Global.

b. Nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain

Dengan rezim nilai tukar mengambang dan integrasi perekonomian dunia, maka penerbitan Sukuk Global menjadi rentan terhadap risiko mata uang yaitu risiko penurunan nilai tukarmata uang rupiah terhadap mata uang negara lain. Krugman (2000) menyebutkan, bahwa depresiasi nilai tukar