Jalan Menuju Media Kreatif
#9
Seni sebagai Ekspresi Pluralitas dan Perdamaian
Pameran dan Penayangan Seni Media Rekam Internasional
Fotografi | Film | Program Televisi | Video-Art | Animasi & Game
Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta
Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Jalan Parangtritis Km 6,5 Yogyakarta Tlp. & Fax. 0274-384107
[email protected] http://fsmr.isi.ac.id
P
ancaindra manusia memiliki kemampuan merekam fenomena objek/alam yang hadir di hadapannya. Setiap bagian dari indra manusia senantiasa dengan spontan dapat merasakan dan mengindentifikasi kualitas estetis dari objek yang dirasakannya. Proses ini kemudian mengembangkan sensibilitas manusia pada visi yang benar agar kepekaan daya estetis dan rasa artistiknya tumbuh berkembang membentuk akal pikirannya menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif.Memorizing by heart, merekam dengan hati.
Adalah pencitraan hasil dari sebuah proses kreatif dan olah rasa yang tumbuh oleh kepekaan indra manusia di dalam menangkap fenomena alam sekelilingnya.
Sebagai institusi pendidikan seni, Fakultas Seni Media Rekam memadukan kualitas intelektual dan kepekaan estetik yang disinergikan dengan kecanggihan teknologi untuk menghasilkan sarjana seni yang kreatif, berkepribadian, mampu mengembangkan eksistensi seni dan jati diri bangsa. Perpaduan antara keduanya mengkristal ke dalam rasa (heart) dan daya rekamnya (memorizing). Potensi ini menunjukkan kualitas ketajaman dan kepekaan jiwa atas reaksi sentuhan-sentuhan impresi dari luar dirinya.
Pameran dan Penayangan Seni Media Rekam Internasional
Fotografi | Film | Program Televisi | Video-Art | Animasi & Game
Jalan Menuju Media Kreatif
#9
Seni sebagai Ekspresi Pluralitas dan Perdamaian
Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta
Sambutan Ketua Panitia Dies Natalis XXXIII
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam budaya,
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah dan karunia-Nya kita dapat mengapresiasi dan menikmati karya-karya Seni Media Rekam dalam kegiatan pameran dan penayangan “Jalan Menuju Media Kreatif #9” (JMMK#9) Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) ISI Yogyakarta. Kegiatan pameran dan penayangan JMMK#9 FSMR ISI Yogyakarta kali ini terasa istimewa, karena dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta dengan tema “Seni sebagai Ekspresi Pluralitas dan Perdamaian”.
Tema ini kami angkat atas keprihatinan dengan fenomena yang terjadi di Indonesia dan dunia saat ini. Hampir setiap waktu berbagai informasi tentang pertikaian dan perselisihan selalu kita terima. Hampir setiap waktu informasi tentang krisis saling menghormati dan toleransi selalu kita terima. Seakan semua lebih mengedepankan ego dan superiornya dibanding dengan kebersamaan dan perdamaian. Carut marutnya kepentingan individu maupun kelompok seakan telah mengabaikan kita sebagai manusia yang berbudaya. Bahkan keadaan ini menjadi terbalik, bahwa apa yang sekarang ini terjadi terkadang dianggap sebagai sikap dan nilai yang berbudaya. Untuk
demi menjaga keragaman, sehingga suatu perbedaan bukanlah untuk diperdebatkan tetapi untuk dihargai dan dihormati sehingga terwujud satu kehidupan plural yang damai. Pepatah mengatakan seni lebih tajam daripada pedang, sehingga sesungguhnya seni sebagai karya universal memiliki kekuatan untuk mengajak kepada setiap orang untuk bisa menjaga pluralitas dan perdamaian. Demikian juga dengan pameran dan penayangan JMMK#9 FSMR ISI Yogyakarta, diharapkan karya-karya yang dipamerkan mampu menginspirasi masyarakat untuk menyuarakan nilai-nilai keberagaman dan perdamaian.
Semoga pameran dan penayangan JMMK#9 FSMR ISI Yogyakarta ini dapat memberikan pencerahan untuk menuju kesadaran akan pentingnya pluralitas dan perdamaian dalam kehidupan yang berbudaya. Atas nama panitia pusat Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta kami menyampaiakn ucapan terima kasih kepada FSMR ISI Yogyakarta yang telah memfasilitasi kegiatan pameran dan penayangan ini. Kepada panitia Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta bidang pameran dan penayangan seni media rekam saya sampaikan apresiasi dan penghargaan atas terselenggaranya kegiatan ini. Kepada pengelola Jogja Gallery dan galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta kami sampaikan apresiasi dan penghargan atas izin penggunaan galeri untuk perhelatan ini. Demikian juga kepada para para peserta pameran,kami sampaikan terima kasih atas partisipasinya. Kepada para pengunjung yang mengapresiasi karya-karya yang dipamerkan diucapkan terimakasih atas kehadirannya. Akhirnya, semoga karya-karya yang ditampilkan ini bisa menjadi inspirasi akan kehidupan yang lebih baik dengan saling menghargai dalam perdamaian bisa terwujud . Terima kasih
salam budaya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ketua Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta Pamungkas Wahyu Setiyanto, M.Sn
Sambutan Ketua Panitia/Koordinator Bidang
Pameran dan Penayangan Karya Seni Media Rekam
Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta – JMMK #9
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Sejahtera,
Om Swastiastu.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, karena atas rahmatNya kita dapat melakukan kegiatan apresiasi seni karya
civitas academica Fakultas Seni Media Rekam (FSMR), ISI Yogyakarta dalam
rangka Dies Natalis yang ke XXXIII. Perayaan Dies Natalis kali ini dilaksanakan bersamaan dengan pameran-pameran dan penayangan karya tahunan dari Fakultas Seni Media Rekam “Jalan Menuju Media Kreatif #9” (JMMK#9), yang merupakan agenda tahunan FSMR ISI Yogyakarta.
Tema Seni sebagai Ekspresi Pluralitas dan Perdamaian dipandang sesuai dengan kondisi sosial-budaya di Indonesia saat ini. Dapat dikatakan bahwa pameran ini merupakan sebuah upaya untuk menyuarakan kesadaran untuk hidup bersama dalam keberagaman. Seni sebagai suatu bentuk komunikasi merupakan media yang efektif dalam merayakan perbedaan di kehidupan manusia. Diharapkan, kehadiran pameran dan penayangan karya seni media rekam ini, dapat member pengaruh yang positif bagi masyarakat pada umumnya.
segenap panitia, serta kepada seluruh parsipan acara, baik dari dalam dan luar negeri. Semoga kerja kolektif yang kita lakukan bersama dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang baik untuk kehidupan berbudaya di masa mendatang.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Om Santi, Santi, Santi, Om.
Koordinator Bidang Penayangan dan Pameran Seni Media Rekam Dr. Irwandi, M.Sn.
Sambutan Dekan
Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam sejahtera,
Om Swastiastu,
Puji syukur marilah senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan karunia-Nya sehingga Pameran dan Penayangan Karya Seni Media Rekam “Jalan Menuju Media Kreatif #9” sekaligus dalam rangka Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta bertempat di Jogja Galeri, Jalan Pekapalan No. 7, Alun-Alun Utara Yogyakarta pada 3 – 6 Mei 2017 ini dapat terselenggara dengan baik.
Pameran dan Penayangan Karya Seni Media Rekam “Jalan Menuju Media Kreatif” merupakan program tahunan yang diselenggarakan oleh FSMR, ISI Yogyakarta sejak tahun 2009 dengan diikuti oleh mahasiswa dan staf pengajar Program Studi S-1 Fotografi serta Program Studi S-1 Televisi dan Film, lalu sejak tahun 2014 juga diikuti oleh Program Studi D-3 Animasi. Pameran ini sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap eksistensi dan pengembangan keilmuan bidang seni media rekam khususnya fotografi, program televisi dan film, animasi dan game serta sebagai indikator kualitas belajar mengajar di FSMR, ISI Yogyakarta. Pada tahun ini JMMK berintegrasi dengan tema besar “Seni Sebagai Ekspresi Pluralitas dan Perdamaian” dalam rangka memperingati Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta.
Pameran dan penayangan karya ini diikuti oleh:
1. dosen tetap serta Tenaga Pengajar Luar Biasa (TPLB) dan mahasiswa terpilih, FSMR, ISI Yogyakarta.
2. anggota BKS-PT Seni Indonesia dan Asosiasi Program Studi di Bidang Media Rekam, yaitu ISI Pandangpanjang; ISBI Bandung; IKJ Jakarta; ISI Surakarta; ISI Denpasar; Universitas Trisakti; Universitas Pasundan; Universitas Multimedia Nusantara; dan Universitas Serang Raya. 3. perwakilan dari perguruan tinggi seni luar negeri, yaitu UiTM - Universiti
Teknologi Mara Malaysia, CIT - Canberra Institue of Technology, VCA - University of Melbourne, SVA - School of Visual Art New York, dan EKU - Eszterhazy Karoly University di Hungaria.
4. praktisi dan tokoh seni media rekam yang diundang antara lain: Soedjai Kartasasmita, Anton Gautama, Sjaiful Boen, Kun Tanubrata, Ati Bachtiar dan sejumlah alumnus FSMR yang berkiprah di dunia kerja. Sebagai penutup, tidak lupa diucapkan rasa terima kasih kepada Rektor ISI Yogyakarta yang telah memberi sambutan sekaligus membuka pameran dan penayangan karya seni media rekam ini, para peserta pameran dan penayangan karya yang telah mempersiapkan dan mengirimkan karyanya untuk mengikuti pameran ini, dan para panitia yang telah bekerja keras menyelengarakan pameran dan penayangan karya ini. Semoga pameran dan penayangan karya ini bermanfaat terhadap pengembangan karya dan pengembangan ilmu seni media rekam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Om Santi, Santi Santi Om
Salam Budaya
Dekan FSMR, ISI Yogyakarta Marsudi, S.Kar., M.Hum.
Sambutan Rektor
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Sejahtera,
Om Swastiastu.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya kita dapat menyaksikan kembali karya-karya mutakhir Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta dalam rangka Dies Natalis XXXIII. Perayaan Dies Natalis kali ini terasa lebih semarak karena dilaksanakan bersamaan dengan pameran dan penayangan karya tahunan dari Fakultas Seni Media Rekam “Jalan Menuju Media Kreatif #9” (JMMK#9).
Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta 2017 mengangkat tema “Seni sebagai Ekspresi Pluralitas dan Perdamaian”. Tema ini diangkat sebagai respons atas berbagai fenomena perbedaan sosial budaya yang terjadi di Indonesia bahkan di dunia dewasa ini. Hampir setiap waktu berbagai informasi tentang benturan-benturan budaya selalu muncul ke permukaan. Informasi tentang krisis saling menghormati dan toleransi selalu kita terima. Seakan-akan semua lebih mengedepankan ego dan superioritasnya dibandingkan dengan kebersamaan dan perdamaian yang seharusnya dijaga bersama. Karut marut kepentingan, baik individu maupun kelompok, juga seakan telah mengabaikan nurani kita sebagai manusia yang berbudaya. Untuk itu,
diberdayakan secara produktif dan persuasif untuk mencerahkan kesadaran dan membangun perdamaian. Demikian juga pameran dan penayangan karya tahunan dari Fakultas Seni Media Rekam “Jalan Menuju Media Kreatif #9” (JMMK#9), dalam rangka Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta ini diharapkan dapat menyuarakan nilai-nilai kontekstual dan universal tersebut.
Akhirnya, mudah-mudahan pameran dan penayangan karya seni media rekam ini dapat membangun kembali makna akan pentingnya pluralitas dan perdamaian dalam kehidupan. Terima kasih juga disampaikan kepada Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta yang telah memfasilitasi pameran ini. Demikian juga kepada para partisipan pameran JMMK #9, karya-karya seni media rekam lain, maupun segenap civitas academica ISI Yogyakarta yang telah memberi bentuk akhir dalam mewujudkan karya bersama ini.
Terima kasih dan salam budaya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Om Santi, Santi, Santi, Om.
Rektor ISI Yogyakarta
Dosen FSMR ISI Yogyakarta
Anggota BKS-PT Seni Indonesia
Anggota Asosiasi Prodi
Praktisi dan Tokoh Seni Media Rekam
Perguruan Tinggi Seni Luar Negeri
Karya Undangan
Karya:
God’s Love Washington DC (2008)
Lekang Ditelan Jaman (2015) Risman Marah
Negeri Seribu Dewa (2016) Risman Marah
Masjid di Istambul Turki Soedjai Kartasasmita
Toke Pacu Jawi Soedjai Kartasasmita
Masjid Nabawi Rhohan F Mochtar
HOLI The Festival of Colors Johnny Hendarta
Ruang Kehidupan Edial Rusli
Blue
Charlie Hebdo
Lady in The Market Kintamani (2014)
Plural Similar, Wet Plate Simulation
Irwandi Fly Without WingsMuh. Fajar Apriyanto
Digital Imaging Ncop
Kontemplatis Arti Wulandari
Bendera Kita Masih Sama (2017) Pamungkas Wahyu Setiyanto Ritual Hudoq
Sunny Morning in Eger Hungary (2015) Oscar Samaratungga
Men Never Really Grow Old Pitri Ermawati
Siap Diajar (2017) Tanto Harthoko
My Inspiration
The Young Generation
Flashback
Dira Herawati (ISI Padangpanjang) The nex....
Dangerously Sexy Hadi Cahyono Untitled
Gerak dan Langkah 2699 Heriwanto (Unpas) Diplomasi Payung Jokowi Laily Rahmalia E
Filosofi Sapulidi
Menuju ke Sana Rahmadi (Unpas)
Bidadari Kentut
Beban Kecil
Merciful
Fadli Abdul Razak (UiTM Malaysia) Antara Kita Hanya Maaf dan Terima Kasih
Barbie Girl
Water Drop Ari Rex (CIT) The Girl
Merauk Maruk (2015) Sebastian Advent
The Complete Dances (2016) Benny Kurniadi
Photo Studio Series Abby Robinson (SVA)
Metro-polution #1 (2016); Labyrinth (2016); Illusion #1 (2016) Fachrozi Amri
Berdampingan
Ricky Permana (Unsera)
Frigid Afri Luhur P
The Masked Figure Alexandri Luthfi
Barber Shop (Video Art) Alexandri Luthfi
Imaulelep (Film Eksperimental) Qualsky Seran
Kota Gajah (Film Eksperimental) Sito Fossy Biosa
Siap Masak (Film Eksperimental) Mandella Majid
Ayah yang Menjadi Ikan (Film Fiksi, 2016)
Wei (Film Fiksi, 2016)
Salam Dari Anak-Anak Tergenang (Film Dokumenter, 2015)
Satulensa (ISBI Bandung)
Mencari Bomantaka (Dokumenter)
Tengai Tepet (Film Fiksi, 2016)
Si Anak Pisang (Film Fiksi, 2016)
Harta Karung (2016)
Book (Animasi, 2015) Kevin Wiyaya (UMN)
Bibi Siti Switi (Film Dokumenter, 2015) Wadon Production (UMN)
May Flies Caroline (VCA)
Habits
Kathy Sarpi (VCA)
Remaining Grandad Jenae Hall (VCA)
Lost and Found ParnK (VCA)
Of Safe Return Omeara (VCA)
Ebredes
Drop Shadow (EKU)
Lili is Currently Offline Pazsitka Akos (EKU)
UKLEK (Game Animasi)
Tim Produksi :
Samuel Gandang Gunanto, Troy, Rio Caesar, FX Satriyo Dwi Nugroho, Kathryn Widiyanti,Pandan Pareanom Purwachandra, Matahari Bhakti Nendya, Joanes Agung Satrio Pamungkas
Tim Kurator:
Pitri Ermawati (Fotografi) Greg Arya Dipayana (Televisi dan Film)
Mahendradewa Suminto (Animasi)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam sejahtera bagi kita semua Salam budaya!
Pameran dan Penayangan Karya Seni Media Rekam Jalan Menuju Media Kreatif (JMMK) merupakan pameran tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Seni Media Rekam (FSMR), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pameran ini menampilkan karya-karya terbaru dari segenap civitas academica FSMR, ISI Yogyakarta yang terdiri dari tiga program studi, yaitu Program Studi S-1 Fotografi, Program Studi S-1 Televisi dan Film, serta Program Studi D-3 Animasi. Pameran JMMK kali ini telah menginjak tahun ke-9 dan diselenggarakan bersamaan dengan Perayaan Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta. Tema yang diangkat dalam pameran kali ini ialah “Seni Sebagai Ekspresi Pluralitas dan Perdamaian”.
Karya Program Studi S-1 Fotografi
Program studi Fotografi ISI Yogyakarta mengakomodasi minat,
Catatan Kuratorial
Pameran dan Penayangan Karya Seni Media Rekam Internasional
Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta &
Jalan Menuju Media Kreatif (JMMK #9)
tersebut, tiap-tiap mahasiswa diharapkan dapat menciptakan serta mengkaji karya foto yang berbeda ‘roh’ serta nuansanya, meskipun itu dari subjek atau tema yang sama.
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat lepas dari memperhatikan manusia lain, termasuk pula dalam hal penentuan ide serta subjek penciptaan karya. Sejak terciptanya the first successful photograph in the world oleh Joseph Nicephore Niepce pada tahun 1826 yang bersubjek pemandangan samar-samar di sekitar rumahnya, manusia sudah menaruh asa akan citra dirinya terekam di dalam foto. Terlebih setelah Louis Jacques Mande Daguerre berhasil merekam sosok manusia pada foto pemandangan Kota Paris, yang difoto dengan waktu penyinaran amat panjang, kesadaran manusia untuk ‘masuk ke dalam foto’ menjadi semakin kuat.
Demikian halnya dengan karya-karya yang dipamerkan dalam JMMK#9 Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta ini. Walaupun tidak seluruhnya, namun karya-karya foto mahasiswa kali ini banyak menampilkan subjek manusia. Cabang-cabang fotografi seperti yang tersebut di atas pun menampakkan kekhasannya masing-masing. Aditya Fahmi, Dio Nanda, Bonfilio Yosafat, dan Nur Amir Fauzi misalnya. Mereka menampilkan manusia berjenis kelamin perempuan sebagai subjek foto, dengan visualisasi ‘clean and clear’ khas fotografi komersial. Pada karya Aditya Fahmi yang berjudul “Indonesia’s Glamour”, sosok perempuan ditampilkan dengan pakaian dan riasan Jawa bak putri keraton, dengan mood pencahayaan low key yang senada dengan warna sogan kain batiknya. Karya ini sekaligus menunjukkan kekayaan budaya Indonesia dalam hal busana tinggi. Senada dengan itu, karya Dio Nanda pun mengetengahkan konsep ‘beauty’ dengan model perempuan bernuansa hitam putih. Dengan berpegang pada cabang fotografi komersial, Dio menunjukkan kehalusan riasan wajah sitter dengan teknik extreme close-up. Kerudung dan anting-anting menjadi aksesoris
sitter yang menguatkan konsep beauty.
Di cabang fotografi seni, Lalu Diarta tampak “bergelayutan” dengan konsep semi abstrak seri fotonya yang berjudul “Gone”. Subjek manusia berjenis kelamin perempuan dipilih untuk menyeberangkan gejolak hati si pengkarya atas kehilangan sosok yang pernah mengisi kehidupannya. Subjek
pada foto-fotonya itu tidak ditampilkan secara gamblang, namun identitasnya ditutupi sebagian dengan teknik retouching dan reproduksi foto. Pada foto yang tercetak, bagian tubuh tertentu yakni badan, kepala, mata, dan rambut ditimpa dengan cat sehingga ciri-ciri subjek terkaburkan. Judul “Gone” direpresentasikan dengan visualisasi identitas yang dikaburkan tersebut.
Di cabang jurnalistik, Ade Aulia Rachman, mengangkat kekayaan budaya Indonesia dari daerah asalnya, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dalam karya yang memvisualisasikan empat buah sampan itu, subjek manusia tampak subordinat namun tetap terlihat perannya sebagai pengayuh sampan. Kekayaan budaya Indonesia lainnya ditampilkan oleh Febriansyah. Ia memotret salah satu kesenian rakyat dari tanah Jawa berupa Jathilan atau Kuda Lumping, dengan penonjolan subjek empat orang laki-laki yang duduk di rumput dan tangannya mengarah ke atas. Manusia yang berkumpul dalam jumlah banyak merupakan subjek fotogenik dengan komposisinya yang unik dan menarik, sebagaimana karya Khairunnisa dan Wie Geung Lintang. Karya Khairunnisa berjudul “Khutbah Jumat” yang bersubjek para jamaah yang sedang duduk di dalam Masjid Istiqlal, dan karya Wie Geung Lintang berjudul “Crowded” yang bersubjek para suporter sepak bola di dalam stadion, memiliki kesamaan dalam hal masifnya jumlah manusia di dalam foto. Dengan teknik komposisi repetisi dan diagonal tersebut, kumpulan manusia dapat menciptakan keindahan tersendiri, tanpa mengabaikan unsur informasi yang hendak disampaikan.
Lain halnya dengan karya Refi Pandawa. Dalam foto seascape yang berjudul “Harmony of The Sea” itu, manusia-manusia tampak sangat kecil di dalam bentang alam pantai. Refi mengambil gambar dari kejauhan dengan
high angle. Harmoni lautan terbentuk oleh kurva-kurva ombak yang mengalun
pelan, dengan dominasi visual foto bernuansa coklat gelap. Meskipun hanya sebagai unsur pengisi yang menunjukkan seberapa luas pantai, namun
dengan karyanya “Moana” juga menampilkan seascape dengan memasukkan unsur manusia yang subordinatif dalam bingkai foto. Subjek utama Jean berupa jajaran perahu kecil yang ditambatkan di atas air laut berwarna hijau toska, di tepi pantai berpasir putih yang terisi dengan bayangan mercusuar. Adapun manusia-manusia yang porsinya minimalis itu tampak sebagai turis yang hendak naik ke atas perahu. Foto yang bersifat piktorial ini seakan-akan mengajak pembaca untuk berwisata ke lokasi indah tersebut.
Saat ini, di era swafoto berkamera gawai yang terhubung dengan hingar-bingarnya media sosial daring, foto-foto manusia dengan dirinya sendiri sebagai fotografer sekaligus sitter-nya sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Dibalut dengan unsur sensasi dan popularitas, foto-foto tersebut acap kali terasakan sebagai “sampah visual” dunia maya yang membuat penat mata dan jiwa warganet. Karya-karya bersubjek manusia dalam pameran kali ini kiranya dapatlah menjadi oase kecil penyejuk atas riuh-rendahnya zaman fotografi digital ini, sekaligus menjadi pengingat yang baik untuk lebih bijaksana dalam memosisikan manusia sebagai subjek foto.
Karya Program Studi S-1 Televisi dan Film
Seni adalah sesuatu yang indah yang dapat diciptakan oleh manusia dan untuk dinikmati oleh manusia lainnya. Hampir dalam setiap sisi kehidupan manusia sangat memungkinkan untuk selalu bersinggungan dengan yang seni, hanya saja tergantung bagaimana kita melihat dan memaknainya. Seni merupakan hal yang sangat personal namun bukan individual. Pencipta seni membutuhkan penikmat seni atau pencipta lainnya untuk menilai serta memaknai apa itu seni atau bahkan hanya untuk sekadar bersama-sama berkesenian.
Kita sebagai manusia hidup dalam keberagaman (plural), keberagaman sosial, suku, ras, agama. Tentunya hal-hal ini juga memicu munculnya berbagai keragaman pemikiran. Ide, cita-cita, dan seni menjadi salah satu wadah untuk menampung keberagaman tersebut. Secara lebih spesifik lagi keragaman tentang berekspresi melalui media seni audiovisual atau bisa disebut sebagai film.
Film merupakan salah satu seni yang sangat universal, dapat dinikmati orang banyak dari berbagai macam kalangan. Seni film dapat menjadi alat untuk menyerukan dan mempertemukan banyak hal dari semua sisinya. Sebagai sebuah wadah berkesenian mungkin dapat dianalogikan sebagai suatu klub sepak bola, yang di dalamnya berisi pemain-pemain dari berbagai daerah bahkan dari berbagai negara dengan ragam kemampuan dan individu yang sifatnya berbeda-beda. Namun, mereka dapat bersatu padu dalam satu visi yang sama berjuang untuk menghasilkan sesuatu tanpa harus merendahkan dan meninggikan. Begitu juga dengan film, sebuah karya kolektif yang sangat tidak mungkin untuk dikerjakan seorang diri. Keberagaman dari tiap-tiap individu yang bekerja bersama tersebut harus lebur dalam sebuah proses berkesenian. Proses ini harus disadari dengan sesadar-sadarnya karena ada capaian yang harus diselesaikan bersama demi hasil yang terbaik.
“Anak Istimewa”, sebuah film dokumenter karya Nur Intan Savitri bercerita tentang keluarga tunanetra yang berdomisili di Jogja yang mengasuh anaknya (Fadhil) yang tidak tunanetra. Terdapat keragaman dalam cerita sederhana ini, namun hal itu tidak menjadi masalah. Jika ditarik lagi lebih luas, Intan seorang mahasiswi berasal dari Kalimantan bersama beberapa temannya berproses bersama untuk dapat memfilmkan kehidupan Fadhil. Karena keberagaman inilah yang kemudian membuat film ini menjadi punya sudut pandang yang menarik.
“Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP)” adalah sebuah film fiksi pendek karya Eka Wahyu Primadani yang menceritakan kisah cinta kernet bus AKDP dengan setting Jawa Timur. Eka yang juga berasal Jawa Timur menyuguhkan film dengan dialek Jawa Timuran, sesuatu yang mungkin jarang ditemui bahwa kemudian penonton tetap dapat menerima dan menikmati film tersebut dengan baik dan dapat meninggalkan kesan yang baik atas film
bapaknya. Sebuah cerita sederhana yang dihadirkan Reza Fahri dalam menangkap keragaman pola pikir. Walaupun ini bukan tipe film yang memberikan akhir cerita yang jelas, film ini memberi kesan yang jelas kepada penonton secara luas (di luar Kalimantan) untuk berpikir tentang permasalahan yang ditawarkan dalam film tersebut. Film ini juga sudah memenangi beberapa penghargaan di beberapa festival film di Indonesia. Karya Program Studi D-3 Animasi
ISI Yogyakarta pada 2017 ini menapak usia ke-33 tahun, dalam hal ini Program Studi Animasi baru berusia 4 tahun. Merupakan usia yang muda, namun cukup untuk modal melakukan refleksi, belajar dari sejumlah pengalaman, dan menapak masa depan yang lebih baik. Momentum ulang tahun adalah kesempatan para civitas academica untuk bertegur sapa dengan khalayak luas melalui sejumlah agenda acara pameran dan penayangan karya seni.
Program Studi D-3 Animasi lebih mengedepankan praktik, namun praktik seni mutlak perlu disertai pengetahuan seni, seiring dengan kecenderungan besar apa yang disebut riset artistik (artistic research) sebagai manifestasi dan tanggung jawab sebagai akademisi jenjang D-3.
Proses kurasi sangatlah penting ketika akan menyajikan karya-karya seni yang akan dipamerkan. Langkah kurasi memiliki dua nilai: pertama, mahasiswa harus semakin terbiasa dengan proses kurasi yang tajam agar lebih memacu kreativitas; kedua, para mahasiswa dan masyarakat penonton memiliki kesempatan membandingkan dengan karya-karya koleksi Tugas Akhir 2016/2017, yang notabene adalah karya-karya mahasiswa senior (yang sudah lulus). Membandingkan merupakan upaya kritik diri (self critic) terhadap kemampuan dan kapasitas diri.
Adapun karya-karya seni Program Studi D-3 Animasi meliputi karya hasil belajar mengajar selama satu tahun (2016/2017) yang meliputi:
1. Karya Film, ada 26 karya film animasi 2D dan 3D. Karya-karya ini merupakan karya tugas perkuliahan dan praktik terpadu Program Studi D-3 Animasi. Mahasiswa diarahkan untuk membuat film
animasi dengan desain lokal, artinya baik karakter, cerita, setting tempat merupakan ide-ide lokal (Indonesia). Misalnya cerita tentang “Sangkuriang” yang dibuat oleh mahasiswa bernama Balqis, “Legenda Rawa Pening” oleh Rizal, “Malin Kundang” oleh Yohanes, dan “Legenda Lutung Kasarung” oleh Fietrie. Ada pula yang mengangkat indahnya alam Nusantara, seperti film animasi tentang “Explore Bantul” oleh Restu, “Waduk Mini Kleco” oleh Arnold, “Bali dan Warisan Budaya” oleh Febri Faizin, dan “Suku Dayak” oleh Gugum. Isu nasional yang sedang hangat juga tidak luput dari tema yang diangkat mahasiswa untuk membuat film animasi, seperti “Bahaya Ganja” oleh Yoga, dan “HIV AIDS” oleh Awanis. Kreativitas mahasiswa sangat diuji dalam setiap penciptaan karya. Mereka dilatih dan digembleng oleh pada dosen untuk menghasilkan karya yang bermutu.
2. Karya Game, karya game yang dipamerkan dalam pameran dan penayangan karya ini ada 9 karya. Sama seperti dalam karya film animasi, karya game juga dilandasi semangat kelokalan. Karya yang dipamerkan adalah “Kite” oleh Ahmad Ahadi, “Nusantara War” oleh Angga Pratama, “Sealed Chest” oleh Bestari, “Lutung Kasarung” oleh Bimo, “Flo’s Journey” oleh Diajeng, “Free” oleh Euis Kurniati, “Jatayu to the Rescue” oleh Hizkia K. Wijaya, dan “Dolan Game Gunting Batu Kertas” oleh Robertus Adi.
3. Karya Tugas Akhir, menyajikan karya film animasi sebanyak 14 karya film baik dengan teknik 3D maupun 2D. Dalam pameran kali ini sebagian besar merupakan karya film 2D, dengan tidak lupa masing-masing mahasiswa tetap memasukkan unsur kearifan lokal untuk film mereka. Isu nasional juga tidak luput diangkat, seperti Kristyananda yang mengangkat tentang bahaya gadget ketika tidak digunakan dengan bijak. Teknik animasi rotoscope juga dihadirkan dalam karya
adalah “Argo dan Kebo Arema” oleh Liling dan lain-lain.
4. Karya Nirmana atau Desain Elementer, disajikan karena memiliki visual yang unik. Karya-karya desain tanpa makna ini dibuat oleh mahasiswa pada awal semester guna melatih mahasiswa terhadap kepekaan dalam mengolah warna, garis, bidang, dan tekstur. terdapat 9 karya yang disajikan.
5. Karya Menggambar dan Ilustrasi, tugas mengamati dan mengenal bentuk yang ada di sekitar kita menjadi kunci utama dalam mendasari pembuatan film animasi ataupun animasi game. Dalam mata kuliah ini mahasiswa dilatih mengamati benda-benda dan makhluk hidup yang ada di sekitar kita kemudian divisualkan menjadi sebuah gambar tangan dengan menggunakan pensil. Hasil pegamatan tersebut sangat berguna ketika mahasiswa akan membuat cerita film animasi atau animasi game. Karya film animasi ini disajikan dalam 15 gambar.
Demikian karya-karya yang bisa disajikan oleh Program Studi D-3 Animasi FSMR, ISI Yogyakarta dalam rangka Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta dan JMMK #9 FSMR kali ini.
Sebagai upaya membangun komunikasi yang lebih erat kepada pemirsa, dalam pameran ini juga akan diselenggarakan sarasehan yang bertujuan menjembatani jarak antara karya yang ditampilkan dan masyarakat luas, khususnya yang ingin tahu lebih mendalam tentang proses pemikiran dan praktik kekaryaan seni media rekam. Akhirnya, Pameran Seni Media Rekam Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta dan JMMK #9 kali ini kiranya dapat menjadi tradisi dialektika seni yang positif serta memberi nilai manfaat kepada pelaku dan pemirsanya.
Dibalik Kerudung (2016) Dio Nanda Baskara
Indonesia’s Glamour Aditya Fahmi
Beauty (2017) Ardhan Ragil S
Moana Jane Marsha
Harmony of the sea Refi Pandawa
Red Bonfilio
Dari Masa Lalu (2016) Febriansyah AP
Sunset Suramadu (2015) Big Stone (2016)
Hanif Imam
Khutbah Jumat Khairunnisa
Gone (series) Lalu Diarta
Keterpautan
M Nasikhul Colorfull
The Quiet Animated Can Make Down the Situation (2016) Maman Rachman
Selesai (2016) Nur fatimah
Holiday - Pulang, Berkumpul Bersama, Keluarga (series) Danysswara
Sosok Penambang Timah Fitri Hardiyanti
Kacamata Malam Eduardus Cahyo Bintoro
Visual Diary: Kesendirian (series) Deni Mufti Fidinillah
Terasingkan
Gudangan Abdul Kholid T
Idolaku
Ajeng Anissa Saraswati
Hidayat Santosa
Bayi Babi yang Malang Mai Hidayati
Jika
Frans Mendur: Ideologi Fotografi dan Revolusi Indonesia
Kusrini & Irwandi
Program Studi S-1 Fotografi, Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta
E-mail: [email protected] & [email protected]
Pendahuluan: Ideologi Fotografi
Fotografi bukanlah sekadar praktik visualisasi realistik yang hadir sebagai konsekuensi prinsip-prinsip alamiah semata (optis-kimiawi-elektronik). Bukan pula terbatas pada aktivitas pengabadian benda-benda tiga dimensi yang menarik hati fotografer menjadi lembaran-lembaran visual dua dimensi yang akurat, otentik, dan artistik. Lebih dari itu, fotografi dapat menjadi cerminan dari banyak hal yang tidak tampak secara kasat mata dalam lembaran foto itu sendiri. Hal semacam ini pernah dinyatakan oleh Clarke (1997:27-28) bahwasanya selembar foto dapat menjadi cerminan bahkan menciptakan sebuah wacana yang lebih luas. Lebih lanjut dikatakan, bahwa di setiap level karya foto selalu melibatkan aspek ideologi. Dalam kata lain dapat dikatakan semua foto yang dibuat dengan sebuah intensi atau sebuah niatan pastilah mencerminkan sesuatu yang lain, yang di luar fisik foto itu sendiri, yang tidak mesti tampak langsung dalam foto itu sendiri.
Merujuk pada persoalan wacana dan ideologi yang telah disinggung tadi, maka sudah selayaknyalah sebuah foto tidak lagi dipandang dari sisi nikmat indahnya semata, namun juga dibarengi dengan penelahaan wacana tercipta dan ideologi yang dicerminkan. Cara ini sungguh diperlukan agar fotografi tidak lagi dipandang secara terbatas sebagai praktik visualisasi yang diwujudkan hanya oleh bantuan ‘mesin’ kamera dan oleh seorang ‘tukang’, namun jauh lebih dari itu, fotografi ialah sebuah cara ungkap ideologis yang dihasilkan oleh seorang ‘orator’. Sejak kapan foto menjadi cara ungkap ideologis? Mungkin tidak ada yang berani menyatakan: sejak foto pertama tercipta!
Pertanyaannya, bagaimana lalu dapat dikatakan bahwa fotografi merupakan cara ungkap ideologis? Pernyataan Clarke bisa menjadi salah satu jawabannya. Clarke (1997: 29) menyatakan bahwa karya fotografi dibaca sebagai bentuk permainan bahasa
visual yang memosisikan sebuah foto sebagai produk seorang fotografer sehingga merefleksikan cara pandang, estetika, polemik, dan politik atau ideologi menurut budaya tertentu. Fotografer merupakan sebagai subjek aktif yang menyusun kembali apa-apa yang dilihatnya, menurut wacana budaya yang ada, sehingga pemotretan merupakan aktivitas penyandian atas berbagai kerangka acuan (terms of reference) yang berasal dari konteks sejarah, sosial, dan budaya yang lebih luas.
Masih soal ideologi dan wacana, dalam tulisan ini akan coba dibahas bagaimana ideologi tercermin dan wacana terbentuk dalam foto karya salah satu anak bangsa yang berkontribusi besar dalam menyuarakan kemerdekaan Indonesia melalui media fotografi. Ia adalah Frans Mendur. Sekali lagi perlu dinyatakan bahwa tulisan ini bermaksud menunjukkan bahwa fotografi adalah penyuara ideologis dan pembentuk wacana, serta fotografer adalah seorang orator.
Riwayat Singkat Kiprah Frans Mendur
Frans Mendur ialah putra daerah kelahiran Manado, 16 April 1913. Dia mendapat nama tambahan “Soemarto” atau “Sumartho” dari orang tua angkatnya yang orang Jawa saat merantau. Bahkan pernah ditulis sebagai Soemarto F. Mendur di media massa (Harian Merdeka, 9 April 1946). Sebelum menekuni dunia fotografi jurnalistik, Frans Mendur pernah menjalani beberapa pekerjaan. Pada usia sekitar 22 tahun, Frans Mendur bekerja sebagai juru tulis di kantor Departement van Burgenlijke Openbare Werken (BOW), yang merupakan cikal bakal Departemen Pekerjaan Umum. Karena kondisi politik di Indonesia pada tahun 1931 semakin menghangat, Frans Mendur kemudian berangkat ke Surabaya. Setelah kembali ke Jakarta pada 1935, dia menjadi pimpinan Serikat Buruh Perusahaan Percetakan “De Unie” di Jakarta (Soerjoatmodjo, 2013:18). Frans Mendur berhasil menyelamatkan percetakan ini dari politik “bumi hangus (penghancuran sumber daya agar tidak dikuasai musuh)” pada 1942, yang dilancarkan Belanda, dan karenanya mendapat bintang jasa dari tentara pendudukan Jepang (Soerjoatmodjo, 2013:14).
perjuangan RI dalam bidang penerangan. Percetakan ini yang pertama bergerak di bidang penerangan dengan menerbitkan Asia Raya hingga September 1945 berganti nama menjadi Harian Merdeka. Harian Merdeka menjadi gambaran semangat Frans Mendur dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui bidang penerbitan dan media massa, karena saat itu bisa saja dia terus bekerja untuk Jepang, namun dia memilih untuk merebut percetakan untuk kepentingan bangsanya. Frans Mendur tidak hanya berani di ranah organisasi, namun juga di lapangan tempur. Dia bekerja sama dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) memimpin penyebaran pamflet tanggapan pendaratan tentara Sekutu di Indonesia pada 1945. Frans Mendur tercatat sebagai salah satu pemuda pejuang yang ikut mempersiapkan proklamasi kemerdekaan (Editor Redaksi, 1975:9). Secara terbuka, catatan tersebut menunjukkan adanya pengakuan terhadap perjuangan Frans Mendur dalam revolusi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Membaca Ideologi dalam Karya Frans Mendur
Gambar 1. Salah satu foto karya Frans Soemarto Mendur yang diterbitkan oleh Harian Merdeka, yaitu prosesi pengibaran Sang Saka Merah Putih usai proklamasi kemerdekaan 17 Agustus
1945. Pada foto yang terpublikasi tersebut tidak tercantum nama fotografer. Sumber: “Harian Merdeka”, 20 Februari 1946. (Foto: IPPHOS, 1946)
Gambar 2. Pengibaran Sang Saka Merah Putih di halaman rumah Ir Soekarno. Sebagai pengerek bendera adalah Kolonel Latief Hendraningrat, dibantu S. Suhud.
Sumber: Reprografi Peter Mendur.
(Foto: Frans Mendur/IPPHOS, 1945. Reproduksi oleh: Peter Mendur)
Sebagai seorang jurnalis yang harusnya independen, Frans Mendur “menitipkan” semangat membela bangsa melalui karya jurnalistiknya. Saat hari proklamasi kemerdekaan tiba, 17 Agustus 1945, Frans Mendur berangkat pukul 05.00 pagi menuju kediaman Bung Karno setelah mendapat informasi pelaksanaan proklamasi kemerdekaan (IPPHOS Repport, 17 Agustus 1962). Secara profesional, Frans Mendur menerapkan intisari jurnalisme, yaitu disiplin dalam verifikasi informasi (Kovach & Tom Rosenstiel, 2001:87). Dengan berangkat pagi, dia bisa melakukan verifikasi informasi di lapangan serta mengantisipasi ketinggalan moment penting. Sebagai fotografer jurnalistik, Frans Mendur melakukan peliputan secara detail. Dia melakukan peliputan sekaligus sebagai anak bangsa Indonesia yang haus akan kemerdekaan.
Beberapa foto karya Frans Mendur yang diterbitkan oleh Harian Merdeka pada 1946 jika dilihat sekilas, memiliki subjek para pejuang Indonesia. Seperti pada foto pengibaran Sang Saka Merah Putih (Gambar 1), yang menunjukkan focus of interest pada pengibaran bendera. Namun di sebelah kiri, terdapat dua orang yang juga menarik
presiden serta wakil presiden…” menunjukkan jika keduanya merupakan saksi penting bagi peristiwa bersejarah Indonesia. Bendera Merah Putih yang merupakan hasil karya Fatmawati (istri Ir. Soekarno), dikerek oleh Kolonel Latief Hendraningrat. Sebagai pengatur acara adalah Dr. Muwardi. Peristiwa proklamasi ini pun dihadiri oleh para pemimpin Indonesia, baik yang berada di Jakarta maupun daerah lain (“IPPHOS Report”, 17 Agustus 1962).
Sikap hadirin saat pengibaran bendera Merah Putih menunjukkan khidmadnya peristiwa tersebut. Semua mata fokus pada pengibaran bendera, mengikuti prosesi upacara dengan serius. Kesederhanaan pelaksanaan upacara terlihat dari lokasi peristiwa serta atribut pakaian mereka. Lokasi peristiwa bukanlah di tanah lapang atau istana kepresidenan yang luas dan megah, namun di rumah Ir. Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Tembok dan kanopi di latar foto mengesankan bahwa upacara dilakukan berdekatan dengan sebuah bangunan. Atribut pakaian petugas dan peserta upacara, beragam. Hanya “Dwitunggal” yang mengenakan seragam putih jas. Petugas upacara yang menjadi tentara, tetap mengenakan seragam tentara. Peserta sipil mengenakan baju kemeja biasa.
Posisi berdiri antara petugas dengan peserta upacara berdekatan. Sementara Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta berdiri lebih tinggi satu trap di atas mereka karena berada satu undakan lantai di atas mereka. Tiang bendera juga tidak jauh dari mereka dan dekat dengan tembok rumah. Dalam kesaksiannya, Frans Mendur menyebutkan bahwa selama mengikuti prosesi upacara, semua peserta terdiam dan larut dalam haru. Air mata haru terlihat mengalir di masing-masing pipi mereka. Frans Mendur pun hampir lupa memotret karena terharu. “Dan kameraku pun hanja berhasil berketik sekali karena
bendera telah tiba diudjung tiang jang miring menempel ditembok gedung” (“IPPHOS
Report”, 17 Agustus 1962).
Foto itu kemudian diterbitkan oleh Harian Merdeka pada 20 Februari 1946, yang menjadikan kemerdekaan Indonesia diumumkan secara lebih luas. Bukti visual proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia memperkuat berbagai pemberitaan tentang kemerdekaan Indonesia. Sebuah rekaman sejarah yang bernilai besar bagi pengetahuan generasi-generasi mendatang. Saksi hidup peristiwa tersebut mungkin tinggal nama, namun saksi visual berupa foto membuat moment bersejarah bangsa menjadi tetap hidup meskipun zaman berganti. Karena foto karya Frans Mendur-lah,
peristiwa proklamasi kemerdekaan menjadi bernilai abadi (kesaksian Rosihan Anwar, dokumentasi pribadi Peter Mendur). Kredibilitas foto dalam merekam sebuah objek dengan tingkat presisi tinggi sesuai asli, menjadikan detail subjek masih jelas terlihat hingga saat ini. Dampak bagi bangsa Indonesia pun semakin besar ketika foto-foto tersebut dimuat media massa seperti Harian Merdeka.
Keikutsertaan Frans Mendur dalam berbagai perjuangan fisik, meskipun dalam kerangka peliputan berita, termasuk perang gerilya dengan Jenderal Soedirman, dapat dipandang sebagai kegigihan dan profesionalisme Frans Mendur sebagai seorang pewarta foto. Di sisi lain, tindakan tersebut bisa jadi merupakan salah satu bentuk kecintaan Frans Mendur terhadap bangsa atau disebut Grosby (2009:21) sebagai patriotisme. Oleh Frans Mendur, patriotisme itu dituangkan dalam visualisasi fotografi. Keberaniannya mengambil foto di medan perang memang seperti fotografer perang yang harus terjun langsung ke lapangan. Sebagai fotografer perang, menjadi hal biasa baginya untuk terjun langsung peliputan di medan perang. Namun, foto-foto karya Frans Mendur lebih banyak ditemukan tentang perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penjajah. Bukan foto tentara penjajah. Hal tersebut mengindikasikan kecenderungan politiknya terhadap Indonesia.
Foto Mendur yang lain menampilkan sebentuk kesejajaran sosial. Foto dalam Gambar 3 menampilkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Residen Yogyakarta, Leyland, duduk berhadapan dengan jarak sekitar satu meter, di kursi yang sama. Kaki kanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyilang kaki kiri (jegang), tangan kiri menyangga pipi, mata lurus menatap Leyland, bibir datar, dan tangan kanan dalam posisi menggenggam. Secara umum, sikap tersebut biasanya dilakukan terhadap orang yang kurang disukai atau untuk menegaskan sesuatu. Misal penegasan kekuasaan, kekuatan, atau kewenangan tertentu. Jika dilihat dalam perspektif jarak ruang, posisi kedua subjek foto berada pada jarak sosial-fase dekat atau social distance-close phase (Hall, 1966:121). Jarak ini berkisar 4-7 feet atau 1-2 meter. Biasanya digunakan dalam relasi sosial atau bisnis bersama, termasuk dalam acara-acara gathering, untuk menimbulkan efek kesejajaran atau mengurangi kesan dominasi salah satu pihak.
Jika dilihat dalam konteks politik, kedatangan Leyland yang berkaitan dengan hasil perundingan Rum-Royen, tentu bukan sesuatu yang menyenangkan. Apalagi isi perundingan tersebut merugikan Indonesia, antara lain wilayah RI yang hanya meliputi Karesidenan Yogyakarta (Poesponegoro, Marwati Djoened, & Nugroho Notosusanto (Ed.), 2008:266). Sebagai bangsa yang dijajah di negeri sendiri, ajakan perundingan tersebut disambut dengan perasaan curiga. Hal yang lumrah pula jika Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai raja Kraton Yogyakarta, bersikap tegas terhadap perwakilan penjajah. Jika merujuk pada subjek-subjek foto, Residen Belanda tersebut diperlakukan sama seperti tamu biasa. Duduk di kursi yang sama dan disuguhkan air minum. Di depan sebelah kanan Leyland terdapat gelas dengan air minum yang masih banyak. Kondisi tutup terbuka. Di bagian lain pada meja terdapat beberapa gelas minum yang lain, satu sudah habis dan dua masih tersisa setengah dengan kondisi gelas terbuka. Asumsinya, gelas di dekat Leyland tersebut merupakan suguhan minum untuknya.
Secara keseluruhan sikap yang ditunjukkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX menggambarkan keterbukaan pikiran yang dibalut dengan ketegasan sikap sebagai bangsa Indonesia yang merdeka. Terbuka untuk pembicaraan damai, namun tegas dalam membela bangsa Indonesia. Di sisi lain, posisi badan Leyland yang tidak bersandar menunjukkan keseriusannya dalam perundingan. Posisi tangan kiri dapat diasumsikan sebagai upaya memosisikan statusnya agar tidak lebih rendah dari Sri Sultan Hamengku Buwono. Dalam kehidupan sehari-hari, tangan di pinggang (berkacak pinggang) dapat
diartikan “menantang”. Posisi Leyland tersebut meskipun tidak diartikan sebagai sikap “menantang”, namun dapat menggambarkan sikap meninggikan “posisi tawar” dalam sebuah relasi sosial.
Gambar 4. “Rapat Raksasa” di Lapangan Ikada, Jakarta, 19 September 1945. Sumber: Reprografi Peter Mendur.
(Foto: Frans Mendur/IPPHOS, 1945. Reproduksi oleh: Peter Mendur)
Selanjutnya, Gambar 4 merupakan foto peristiwa “Rapat Raksasa” di Lapangan Ikada, Jakarta, 19 September 1945. Bendera Merah Putih bertebaran memenuhi lapangan bak lautan bendera. Kibaran bendera juga menjadi foreground foto itu. Beberapa spanduk terlihat di antara kibaran bendera. Subjek paling menonjol berada di atas podium warna putih yang berupa kotak dengan lebar sekitar 1,5 meter, memiliki pagar pengaman berkeliling setinggi paha orang dewasa. Dalam podium tersebut berdiri tiga orang, seorang berpakaian putih dan berpeci hitam serta dua orang berseragam tentara di belakangnya. Keduanya dalam posisi siap siaga memegang senjata di pinggang. Massa yang memenuhi lapangan sebagian besar mengenakan peci hitam. Pakaian mereka rapi
dan tekad tetap merdeka. Massa pada subjek foto juga banyak yang tidak bersenjata, kecuali di atas podium dengan posisi siaga berjaga. Tangan di pinggang dan kaki kiri agak ke depan, siap melangkah. Podium tersebut hanya berukuran sekitar 1,5 meter dengan tinggi dari tanah tidak sampai 2 meter. Subjek foto berbaju putih berpeci hitam di tengah-tengah massa, dikawal tanpa berlebihan.
Pertemuan langsung antara pemimpin dan rakyat menunjukkan adanya kepercayaan di kedua belah pihak. Pemimpin percaya akan dukungan rakyat sehingga membuatnya percaya diri dalam mengambil keputusan terkait kelangsungan bangsa dan negara. Di sisi lain, rakyat dapat tenang dalam memercayakan keselamatan mereka pada pemimpinnya. Pertemuan akbar itu juga menunjukkan keberanian menghadapi penjajah. Meskipun di bawah ancaman bayonet, rakyat tetap berduyun-duyun mendatangi Lapangan Ikada untuk bertemu Presiden Soekarno dan pemimpin bangsa yang lain. Visualisasi tokoh-tokoh bangsa Indonesia bersama rakyat dapat menjadi gambaran tentang kolektivitas individu sebagai bangsa yang bersatu menghadapi musuh bersama. Massa yang besar dalam subjek foto karya Frans Mendur menghasilkan gambaran tentang rakyat Indonesia yang mencintai pemimpin dan negara-bangsa Indonesia.
Antara aktivitas politik dan kerja jurnalistik dilakukan Frans Mendur secara bersamaan. Keduanya saling menunjang satu sama lain. Aktivitas politik memerlukan publikasi dan dokumentasi untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat. Sementara kerja jurnalistik memerlukan jaringan dan sumber informasi yang luas untuk mendapatkan informasi peristiwa maupun objek foto jurnalistik. Secara ringkas dapat dikatakan jika proses kerja jurnalistik Frans Mendur melibatkan banyak unsur. Foto sebagai bagian dari karya seni tidak semata berkaitan dengan ideologi dan politik, namun juga komponen lain dari fotografi, yaitu ekspresi artistik dari nilai estetika karya foto. Pada foto-foto karya Frans Mendur, estetika dapat dilihat dari sisi teknikal yang mendukung ideasional Frans Mendur di bidang ideologi dan politik.
Bila didekati dengan konteks fotografi, Soedjono (2006:8) pernah memaparkan, aspek ideasional merupakan berbagai bentuk konsep, teori, dan wacana yang menyertai karya foto, sedangkan aspek teknikal berkaitan dengan peralatan dan praksis-implementatif fotografi. Melalui foto-foto karyanya, Frans Mendur tahu betul bagaimana sebuah peristiwa sebaiknya disajikan kepada audiens melalui foto. Pengalamannya
berkecimpung di bidang sosial politik serta pergerakan bangsa telah mengasah kepekaan sense of journalism atau sensitivitas sebagai seorang jurnalis profesional dalam memilih informasi apa saja yang harus disampaikan pada masyarakat. Skill atau ketrampilannya dalam teknik fotografi membuat foto-foto karyanya dibalut estetika fotografi yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mengesankan hingga saat ini. Visualisasi foto-foto tersebut menjadi gambaran ideologi Frans Mendur akan Indonesia merdeka, bebas dari penjajah dan dapat mengatur bangsa sendiri. Hal itu pun bersesuaian dengan tujuan utama kerja jurnalistik, yaitu menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup merdeka dan mengatur diri sendiri (Kovach & Tom Rosenstiel, 2001:12).
Simpulan
Sebagai pewarta foto, produksi foto yang dilakukan Frans Mendur dari awal memang ditujukan untuk masyarakat. Dibuat berdasarkan berbagai peristiwa penting pada waktu itu, kemudian menyiarkannya melalui media massa. Foto-foto karya Frans Mendur telah menempati posisi sebagai media perekam peristiwa perjuangan bangsa, serta media penyampai pesan. Foto-foto itu juga digunakan sebagai salah satu sumber informasi masyarakat berkaitan dengan perjuangan bangsa. Foto-foto karya Frans Mendur secara nyata menjadi medium komunikasi yang memiliki kemampuan menyampaikan pesan. Ketika menjadi medium komunikasi, foto telah menjalankan fungsi sosial dan kognitif, yaitu sebagai bagian dari interaksi sosial dan sumber pengetahuan tentang dunia dan kondisi manusia (Wright, 1999:70). Secara tidak langsung, foto-foto tersebut ikut menjadi sarana diplomasi dengan bangsa lain (Barat), khususnya bangsa penjajah, bahwa wilayah yang mereka duduki merupakan bangsa yang telah merdeka.
Nilai-nilai yang diserap oleh Frans Mendur melalui aktivitas jurnalistik maupun sosial politik, menghasilkan karya yang di dalamnya menggambarkan eksistensi Indonesia sebagai bangsa merdeka. Meskipun bisa saja dia bergabung dengan bangsa lain sebagai fotografer profesional, begitu juga dengan sepak terjangnya di dunia politik,
Mendur dan Alex Mendur-Sang Kakak, menciptakan revolusinya sendiri memadukan profesionalisme dan patriotisme dengan strategi kerja nan jitu dan pilihan-pilihan yang tidak kalah sulit karena mementingkan berpikir dan bersikap merdeka di atas segalanya.
Kepustakaan
Clarke, Graham. 1997. The Photograph. Oxford University Press, New York.
Editor Redaksi. (1975), Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950, Dari Negara Kesatuan
ke Negara Kesatuan, Badan Pimpinan Harian Korps Cacad Veteran R.I. & Badan
Penerbit Alda c.v. Jakarta, Jakarta.
Grosby, Steven. (2009), Nationalism atau Sejarah Nasionalisme: Asal Usul Bangsa dan
Tanah Air, terjemahan Teguh Wahyu. (2011), Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Hall, Edward T. (1966), The Hidden Dimension, Doubleday & Company Inc, Garden City, New York.
Kovach, Bill & Tom Rosenstiel. (2001), The Elements of Journalism: What Newspeople
Should Know and the Public Should Expect atau Sembilan Elemen Jurnalisme: Apa yang Seharusnya Diketahui Wartawan dan yang Diharapkan Publik, terjemahan
Yusi A. Pareanom. (2003), Yayasan Pantau, Jakarta.
Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto. (2008), Sejarah Nasional
Indonesia, Jilid VI, Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda, Balai
Pustaka, Jakarta.
Soedjono, Soeprapto. (2006), Pot-Pourri Fotografi. Universitas Trisakti, Jakarta.
Soerjoatmodjo, Yudhi. (2013), IPPHOS: Indonesian Press Photo Service (Remastered Edition), Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta.
Wright, Terence. (1999), The Photography Handbook, Routledge, London. Artikel
Anwar, Rosihan. “Dari Sini Hingga Abadi”, dokumen pribadi Peter Mendur. Harian Merdeka. (20 Februari 1946), “17 Agoestoes 1945”, Jakarta.
Harian Merdeka. (9 April 1946), “KRIS”, Jakarta.
IPPHOS Repport. (17 Agustus 1962), “Kesaksian Frans Mendur Ketika Detik-Detik Proklamasi: 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No 56”, dokumen pribadi Peter Mendur.
Narasumber
Peter Mendur (78 th.), fotografer jurnalistik & fotografer IPPHOS (1950-an), wawancara 18 Juni 2013 di rumah Jalan Jambu IV, RT02/01, Kelurahan Depok Jaya, Depok, Jawa Barat.
Dusun Kasuran - Antara Mitos dan Kebudayaan (Film Dokumenter) Kasuran Production
Calmara (Film Fiksi) Erinda Febriani (BLK Films)
Satu Jam (Film Fiksi)
Wasilah (Film Fiksi)
Anak Istimewa (Film Dokumenter)
Mbok Yam - Penjual di atas Awan (Film Dokumenter)
Wismoyo Adi Nugroho
Merah Putih di Kaki Sinabung (Film Dokumenter)
Mini Garage (Film Dokumenter)
Antar Kota Dalam Propinsi (Film Fiksi)
Oleh-oleh (Film Fiksi)
Dua Sisi (Film Fiksi, 2016)
Receh Production (PSDKU Kaltim) Mimpi (Film Fiksi, 2016)Pematang Production (PSDKU Kaltim) Telepon Isi (Film Fiksi)Roti Gepeng Production (PSDKU Kaltim)
Pendidikan Seni
Menjadi Penggerak Industri Ekonomi Kreatif
Alex Luthfi R.
Program Studi S-1 Televisi dan Film, Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta
E-mail: [email protected]
Pendahuluan
Globalisasi, sebagai suatu proses integrasi internasional, terjadi karena pertukaran pandangan dunia dalam berbagai sektor. Pergerakan globalisasi telah berhasil membangun suatu sistem informasi yang mampu memengaruhi perkembangan budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Selo Soemardjan menyebutnya sebagai sebuah proses terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antarmasyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah tertentu yang sama. Kemudian Lodge memandang globalisasi pada perilaku dan kualitas individu yang mampu menjangkau satu dengan yang lain atau saling berhubungan dalam semua aspek kehudupan mereka, baik dalam budaya, ekonomi, politik, teknologi, maupun lingkungan hidup.
Di Indonesia gelombang globalisasi sudah bergerak lebih dari 25 tahun. Tumbuh dan berkembangnya memberikan pengaruh terhadap berbagai sisi kehidupan bangsa dengan semua atribut budayanya. Akibat nyata dari dampaknya adalah membawa perubahan yang sangat cepat dengan berbagai persoalannya dan ini menjadi tantangan sekaligus dapat menjadi suatu proses menuju pada kemajuan negara yang sesungguhnya sangat kuat dengan memiliki banyak beragam suku dan budaya. Oleh karena itu, ketika globalisasi dengan niscaya masuk, telah menghantarkan negara ini terlibat ke dalam satu sistem yang mendunia dan konsekuensinya harus diciptakan etos kerja yang tinggi dengan pola berpikir yang baik berdisiplin dalam memajukan ipteks, yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
kebijakan pimpinan pada saat itu. Kemudian yang terjadi adalah hilangnya identitas pendidikan kita dengan menuduh arus globalisasi telah membawa pada situasi ambivalensi, yaitu berada pada kebingungan karena ingin mengejar ketertinggalan untuk menyamai kualitas pendidikan berskala internasional. Permasalahan ini tentunya akan membuat Indonesia pada situasi krisis moral atau hilangnya jati diri sebab pendidikan menurut pandangan saya merupakan identitas bangsa.
Kebijakan selanjutnya ketika pemerintah berusaha merespons problematika nasional ini sebagai masalah yang serius dan harus dilakukan tindakan nyata, kemudian dilakukan langkah tepat, yaitu menyikapi pengaruh globalisasi dengan melakukan perubahan besar terhadap konsep pendidikan seni di negeri ini. Langkah yang ditempuh oleh pemerintah menjadi nyata ketika digulirkannya konsep kurikulum nasional yang berbasis pada potensi dan nilai-nilai budaya. Invasi budaya global masuk dengan sangat kuat sehingga memberi pengaruh juga terhadap karakteristik sistem pendidikan kita, seperti konsep otonomisasi, model pembelajarannya, dan dengan perubahan kebijakan Undang-Undang BHP serta konsep kurikulum yang berlandaskan pada nilai-nilai budaya lokal. Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar tumbuh sebagai seorang pribadi dan menjadi bagian dari sebuah bangsa. Pemikiran di atas sejalan dengan Undang-Undang Sisdiknas bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Tujuannya adalah untuk mengembangkan potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara demokratis serta bertanggung jawab (UU Sisdiknas, 2003, Pasal 3).
Multikulturalisme atau pluralisme yang dimiliki oleh bangsa ini sesungguhnya dapat dimasukan ke dalam konsep pendidikan, tujuannya untuk mensosialisasikan keberagaman budaya dengan nilai-nilai lokalnya. Mengakulturasi budaya global menjadi bagian dari proses pendidikan merupakan wujud dari keterbukaan pendidikan seni yang mendunia. Mozaik budaya yang kita miliki adalah identitas etnik, di dalamnya terdapat kandungan kearifan lokal yang dapat disandingkan berjalan berdampingan bersama budaya global. Nilai-nilai budaya lokal yang kita miliki menciptakan peradaban yang tinggi sebagai suatu bangsa yang pluralis. Konsepsinya adalah halus dan indah yang menghasilkan wujud kesenian,ilmu pengetahuan dan teknologi.
Maka sehubungan dengan perkembangan dan peningkatan kualitas pendidikan seni perlu diciptakan sikap menerima adanya keberagaman, yaitu asimilasi antarbudaya etnik dengan budaya global sebagai jalan menuju sisrtem pendidikan seni yang berkarakter dunia. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan sebaiknya dilengkapi dengan pendidikan multikultural, yang mempertemukan kebudayaan lokal dengan kebudayaan-kebudayaan lain. Tujuannya adalah mencapai orisinalitas dan identitas. Persoalan yang Dihadapi oleh Pendidikan Seni
Pendidikan seni di Indonesia kini usianya sudah menginjak 67 tahun. Di kota-kota besar di berbagai daerah dan provinsi sudah memiliki sekolah menengah kejuruan seni, akademi seni, sekolah tinggi seni, dan institut seni. Bidang ilmu kajian seni dan penciptaan yang selama ini dipelajari dan diproduksi merupakan pengejawantahan dari jati diri budaya bangsa. Oleh sebab itu, hal ini perlu mendapatkan perhatian dalam sistem pendidikan untuk memperkuat identitas dan kesadaran nasional.
Pemerintah dengan pendidikan tinggi seni yang dimiliki, dewasa ini sedang dalam proses membangun, menghidupkan, mengembangkan, dan melestarikan seni budaya Nusantara sebagai aset menuju industri ekonomi kreatif yang harus ditangani secara saksama dan komprehensif. Maka tantangan dan peluang yang ditimbulkan dari gerakan globalisasi dengan industri kreatif adalah meningkatnya kebutuhan sumber daya manusia yang kreatif dan memiliki jiwa kewirausahaan. Persoalan ini tentunya memerlukan perhatian dan penanganan secara serius dan terprogram serta berkelanjutan karena ada banyak persolan yang harus dihadapi. Pendidikan seni menempati posisi yang sangat strategis sebagai garda depan mengawal berbagai masalah yang harus dihadapi oleh negeri ini dalam upayanya meningkatkan kesenian Indonesia menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang meliputi sumber daya manusia, produksi, dan manajemennya. Adapun masalah-masalah yang nyata dan harus dipecahkan adalah:
wujud, ide-ide (pemikiran), kebiasaan (perilaku), dan material (artefak),
4. ekonomi kreatif yang digerakkan oleh kreator dan inovator yang menghasilkan produk atau jasa dengan kandungan seni belum sepenuhnya diberdayakan sebagai industri kreatif,
5. pelaku kreatif atau sarjana seni terkendala oleh melemahnya jiwa kewirausahaan. Berbagai tantangan tersebut pemerintaah Indonesia dan seluruh elemen masyarakat harus dapat menciptakan gerakan diplomasi seni dan budaya guna mempertegas kehadiran potensi kearifan lokal yang ada di dalam mozaik budaya Indonesia. Kemudian peran dari pendidikan seni adalah menyiapkan sumber daya manusia yang kreatif dalam berkarya dan memiliki jiwa kewirausahaan.
Peluang Pendidikan Tinggi Seni
Era industri kreatif yang digulirkan oleh pemerintah melalui Menteri Perdagangan RI waktu itu masih dijabat oleh Dr. Mari Elka Pangestu, telah memberikan peluang seluas-luasnya bagi pendidikan tinggi seni agar dapat berfungsi sebagai salah satu pilar bagi pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia. Ketegasan dan tekad pemerintah menangani industri kreatif yang berbasis pada pendidikan seni tercermin pada penghargaan kualitas kreativitas individu yang dihasilkan dari sebuah proses akademik. Bidang-bidang kelompok industri kreatif yang digulirkan oleh departemen perdagangan, seluruhnya mengindikasikan bahwa pendidikan seni diharapkan dapat mendukung melahirkan individu dan kelompok masyarakat kreatif serta mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan baik terhadap pertumbuhan ekonomi nasional maupun global.
Perguruan tinggi seni sesungguhnya memiliki potensi sebagai pendukung pertumbuhan berbagai aspek industri kreatif seperti penciptaan karya seni yang kreatif berbasis pada nilai tradisi lokal dan teknologi multimedia (televisi/film, animasi, dan fotografi). Karya-karya seni dengan nilai tradisi lokal yang merupakan hasil dari kolaborasi dengan teknologi multimedia memiliki peluang menjadi produk inovasi yang dapat menjadi kebangkitan dan era baru masyarakat modern di Indonesia.
Indonesia sudah memiliki kantong-kantong institusi dan perusahaan yang dapat menjadi mitra bagi para lulusan pendidikan seni. Para talenta yang kreatif dan terampil
lulusan pendidikan seni adalah sumber daya manusia yang diperlukan bagi sektor industri kreatif di masa mendatang. Sebut saja industri televisi di Indonesia sebagai entitas bisnis sangat diwarnai oleh tampilan materi program acara yang memerlukan penanganan sumber daya manusia yang terampil dan kreatif. Demikian juga dengan industri film, animasi dan fotografi yang tumbuh melalui production house studio-studio, dan advertising, dari semuanya itu sangat memerlukan sumber daya manusia yang profesional, kreatif dan inovatif.
Penutup
Ketika globalisasi sudah menjadi hal yang niscaya harus dihadapi, Indonesia sebagai negara yang multikulktural dan pluralisme harus memiliki konep pendidikan seni yang menempatkan estetika sebagai aspek penting untuk melahirkan karya cipta yang bernilai tinggi. Nilai-nilai estetika hendaknya teraktualisasikan di dalam kurikulum pendidikan seni dan berisikan dua hal pokok yang harus diwujudkan ke dalam karya seni, yaitu unsur orisinalitas dan identitas. Keduanya amat esensial dalam proses kreasi untuk mencari bentuk menuju vision of the world.
Pendidikan seni, agar dapat menjadi penggerak bagi berkembangnya industri kreatif menuju tercapainya program ekonomi kreatif, perlu tindakan reaktualisasi pola pikir tentang pentingnya estetika menjadi landasan konsep pendidikan yang dapat menciptakan dan membentuk kepribadian dengan nilai-nilai luhur budayanya. Kemudian langkah-langkah yang harus dilakukan untuk membangun sinergi kekuatan bersama antara lembaga pendidikan, pemerintah, media, dan pelaku industri kreatif, adalah sebagai berikut:
1. menciptakan wawasan kebangsaan berbasis budaya kepada seluruh lapisan pendidikan,
2. membuka jejaring internasional melalui program muhibah seni dan pariwisata, sebagai media promosi bagi produk industri kreatif.
Indonesia memiliki potensi lebih dari 10 subsektor industri kreatif masih perlu dipertegas dan dikembangkan potensinya,
5. membangun kurikulum berbasis industri ekonomi kreatif,
Sebagai bangsa yang besar, Indonesia telah bergerak maju menggalang kekuatan keragaman budayanya, mendirikan pendidikan seni berbasis budaya, menyadari bahwa industri kreatif bertaraf internasional juga harus disiapkan, maka kita harus optimis mampu menjawab tantangan gelombang globalisasi. Pendidikan multikulturalisme menjadi salah satu alternatif untuk membangun kearifan lokal menuju kebudayaan dunia.
Selamat merayakan Dies Natalis, Jalan Menuju Media Kreatif masih panjang. Dirgahayu ISI Yogyakarta.
Figment Sisi Gelap Wayang Santri
Kite, Path Of Twin World
Ahmad Ahadi Flo JourneyDiajeng Fitri Aulia Niza Nusantara War
Lutung Kasarung
Petualangan Nina di Suku Dayak
Cindelaras
Tjokroaminoto
Hamengku Buwono IX
Waduk Mini Kleco
Sangkuriang
Soegija
Nge-Live Sketch
Kanuraga
Poster Daily Life With Cat
Yadika Aliyudien FeatherFajar Ruli Denisetiawan
Gaa-Mbee Flower
Karta & Lobang
On The Way
Syaiful Muta’in Sky LandMuh Arifaza Rafzanjani Bintang
Rabbit and Sheep’s Summer Sing (Digital Painting)
Sendika Rahmadhannik
San Mononoke Hime (Digital Painting) Cahyo Heryunanto