tersebut, tiap-tiap mahasiswa diharapkan dapat menciptakan serta mengkaji karya foto yang berbeda ‘roh’ serta nuansanya, meskipun itu dari subjek atau tema yang sama.
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat lepas dari memperhatikan manusia lain, termasuk pula dalam hal penentuan ide serta subjek penciptaan karya. Sejak terciptanya the first successful photograph in the world oleh Joseph Nicephore Niepce pada tahun 1826 yang bersubjek pemandangan samar-samar di sekitar rumahnya, manusia sudah menaruh asa akan citra dirinya terekam di dalam foto. Terlebih setelah Louis Jacques Mande Daguerre berhasil merekam sosok manusia pada foto pemandangan Kota Paris, yang difoto dengan waktu penyinaran amat panjang, kesadaran manusia untuk ‘masuk ke dalam foto’ menjadi semakin kuat.
Demikian halnya dengan karya-karya yang dipamerkan dalam JMMK#9 Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta ini. Walaupun tidak seluruhnya, namun karya-karya foto mahasiswa kali ini banyak menampilkan subjek manusia. Cabang-cabang fotografi seperti yang tersebut di atas pun menampakkan kekhasannya masing-masing. Aditya Fahmi, Dio Nanda, Bonfilio Yosafat, dan Nur Amir Fauzi misalnya. Mereka menampilkan manusia berjenis kelamin perempuan sebagai subjek foto, dengan visualisasi ‘clean and clear’ khas fotografi komersial. Pada karya Aditya Fahmi yang berjudul “Indonesia’s Glamour”, sosok perempuan ditampilkan dengan pakaian dan riasan Jawa bak putri keraton, dengan mood pencahayaan low key yang senada dengan warna sogan kain batiknya. Karya ini sekaligus menunjukkan kekayaan budaya Indonesia dalam hal busana tinggi. Senada dengan itu, karya Dio Nanda pun mengetengahkan konsep ‘beauty’ dengan model perempuan bernuansa hitam putih. Dengan berpegang pada cabang fotografi komersial, Dio menunjukkan kehalusan riasan wajah sitter dengan teknik extreme close-up. Kerudung dan anting-anting menjadi aksesoris
sitter yang menguatkan konsep beauty.
Di cabang fotografi seni, Lalu Diarta tampak “bergelayutan” dengan konsep semi abstrak seri fotonya yang berjudul “Gone”. Subjek manusia berjenis kelamin perempuan dipilih untuk menyeberangkan gejolak hati si pengkarya atas kehilangan sosok yang pernah mengisi kehidupannya. Subjek
pada foto-fotonya itu tidak ditampilkan secara gamblang, namun identitasnya ditutupi sebagian dengan teknik retouching dan reproduksi foto. Pada foto yang tercetak, bagian tubuh tertentu yakni badan, kepala, mata, dan rambut ditimpa dengan cat sehingga ciri-ciri subjek terkaburkan. Judul “Gone” direpresentasikan dengan visualisasi identitas yang dikaburkan tersebut.
Di cabang jurnalistik, Ade Aulia Rachman, mengangkat kekayaan budaya Indonesia dari daerah asalnya, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dalam karya yang memvisualisasikan empat buah sampan itu, subjek manusia tampak subordinat namun tetap terlihat perannya sebagai pengayuh sampan. Kekayaan budaya Indonesia lainnya ditampilkan oleh Febriansyah. Ia memotret salah satu kesenian rakyat dari tanah Jawa berupa Jathilan atau Kuda Lumping, dengan penonjolan subjek empat orang laki-laki yang duduk di rumput dan tangannya mengarah ke atas. Manusia yang berkumpul dalam jumlah banyak merupakan subjek fotogenik dengan komposisinya yang unik dan menarik, sebagaimana karya Khairunnisa dan Wie Geung Lintang. Karya Khairunnisa berjudul “Khutbah Jumat” yang bersubjek para jamaah yang sedang duduk di dalam Masjid Istiqlal, dan karya Wie Geung Lintang berjudul “Crowded” yang bersubjek para suporter sepak bola di dalam stadion, memiliki kesamaan dalam hal masifnya jumlah manusia di dalam foto. Dengan teknik komposisi repetisi dan diagonal tersebut, kumpulan manusia dapat menciptakan keindahan tersendiri, tanpa mengabaikan unsur informasi yang hendak disampaikan.
Lain halnya dengan karya Refi Pandawa. Dalam foto seascape yang berjudul “Harmony of The Sea” itu, manusia-manusia tampak sangat kecil di dalam bentang alam pantai. Refi mengambil gambar dari kejauhan dengan
high angle. Harmoni lautan terbentuk oleh kurva-kurva ombak yang mengalun
pelan, dengan dominasi visual foto bernuansa coklat gelap. Meskipun hanya sebagai unsur pengisi yang menunjukkan seberapa luas pantai, namun
dengan karyanya “Moana” juga menampilkan seascape dengan memasukkan unsur manusia yang subordinatif dalam bingkai foto. Subjek utama Jean berupa jajaran perahu kecil yang ditambatkan di atas air laut berwarna hijau toska, di tepi pantai berpasir putih yang terisi dengan bayangan mercusuar. Adapun manusia-manusia yang porsinya minimalis itu tampak sebagai turis yang hendak naik ke atas perahu. Foto yang bersifat piktorial ini seakan-akan mengajak pembaca untuk berwisata ke lokasi indah tersebut.
Saat ini, di era swafoto berkamera gawai yang terhubung dengan hingar-bingarnya media sosial daring, foto-foto manusia dengan dirinya sendiri sebagai fotografer sekaligus sitter-nya sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Dibalut dengan unsur sensasi dan popularitas, foto-foto tersebut acap kali terasakan sebagai “sampah visual” dunia maya yang membuat penat mata dan jiwa warganet. Karya-karya bersubjek manusia dalam pameran kali ini kiranya dapatlah menjadi oase kecil penyejuk atas riuh-rendahnya zaman fotografi digital ini, sekaligus menjadi pengingat yang baik untuk lebih bijaksana dalam memosisikan manusia sebagai subjek foto.
Karya Program Studi S-1 Televisi dan Film
Seni adalah sesuatu yang indah yang dapat diciptakan oleh manusia dan untuk dinikmati oleh manusia lainnya. Hampir dalam setiap sisi kehidupan manusia sangat memungkinkan untuk selalu bersinggungan dengan yang seni, hanya saja tergantung bagaimana kita melihat dan memaknainya. Seni merupakan hal yang sangat personal namun bukan individual. Pencipta seni membutuhkan penikmat seni atau pencipta lainnya untuk menilai serta memaknai apa itu seni atau bahkan hanya untuk sekadar bersama-sama berkesenian.
Kita sebagai manusia hidup dalam keberagaman (plural), keberagaman sosial, suku, ras, agama. Tentunya hal-hal ini juga memicu munculnya berbagai keragaman pemikiran. Ide, cita-cita, dan seni menjadi salah satu wadah untuk menampung keberagaman tersebut. Secara lebih spesifik lagi keragaman tentang berekspresi melalui media seni audiovisual atau bisa disebut sebagai film.
Film merupakan salah satu seni yang sangat universal, dapat dinikmati orang banyak dari berbagai macam kalangan. Seni film dapat menjadi alat untuk menyerukan dan mempertemukan banyak hal dari semua sisinya. Sebagai sebuah wadah berkesenian mungkin dapat dianalogikan sebagai suatu klub sepak bola, yang di dalamnya berisi pemain-pemain dari berbagai daerah bahkan dari berbagai negara dengan ragam kemampuan dan individu yang sifatnya berbeda-beda. Namun, mereka dapat bersatu padu dalam satu visi yang sama berjuang untuk menghasilkan sesuatu tanpa harus merendahkan dan meninggikan. Begitu juga dengan film, sebuah karya kolektif yang sangat tidak mungkin untuk dikerjakan seorang diri. Keberagaman dari tiap-tiap individu yang bekerja bersama tersebut harus lebur dalam sebuah proses berkesenian. Proses ini harus disadari dengan sesadar-sadarnya karena ada capaian yang harus diselesaikan bersama demi hasil yang terbaik.
“Anak Istimewa”, sebuah film dokumenter karya Nur Intan Savitri bercerita tentang keluarga tunanetra yang berdomisili di Jogja yang mengasuh anaknya (Fadhil) yang tidak tunanetra. Terdapat keragaman dalam cerita sederhana ini, namun hal itu tidak menjadi masalah. Jika ditarik lagi lebih luas, Intan seorang mahasiswi berasal dari Kalimantan bersama beberapa temannya berproses bersama untuk dapat memfilmkan kehidupan Fadhil. Karena keberagaman inilah yang kemudian membuat film ini menjadi punya sudut pandang yang menarik.
“Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP)” adalah sebuah film fiksi pendek karya Eka Wahyu Primadani yang menceritakan kisah cinta kernet bus AKDP dengan setting Jawa Timur. Eka yang juga berasal Jawa Timur menyuguhkan film dengan dialek Jawa Timuran, sesuatu yang mungkin jarang ditemui bahwa kemudian penonton tetap dapat menerima dan menikmati film tersebut dengan baik dan dapat meninggalkan kesan yang baik atas film
bapaknya. Sebuah cerita sederhana yang dihadirkan Reza Fahri dalam menangkap keragaman pola pikir. Walaupun ini bukan tipe film yang memberikan akhir cerita yang jelas, film ini memberi kesan yang jelas kepada penonton secara luas (di luar Kalimantan) untuk berpikir tentang permasalahan yang ditawarkan dalam film tersebut. Film ini juga sudah memenangi beberapa penghargaan di beberapa festival film di Indonesia. Karya Program Studi D-3 Animasi
ISI Yogyakarta pada 2017 ini menapak usia ke-33 tahun, dalam hal ini Program Studi Animasi baru berusia 4 tahun. Merupakan usia yang muda, namun cukup untuk modal melakukan refleksi, belajar dari sejumlah pengalaman, dan menapak masa depan yang lebih baik. Momentum ulang tahun adalah kesempatan para civitas academica untuk bertegur sapa dengan khalayak luas melalui sejumlah agenda acara pameran dan penayangan karya seni.
Program Studi D-3 Animasi lebih mengedepankan praktik, namun praktik seni mutlak perlu disertai pengetahuan seni, seiring dengan kecenderungan besar apa yang disebut riset artistik (artistic research) sebagai manifestasi dan tanggung jawab sebagai akademisi jenjang D-3.
Proses kurasi sangatlah penting ketika akan menyajikan karya-karya seni yang akan dipamerkan. Langkah kurasi memiliki dua nilai: pertama, mahasiswa harus semakin terbiasa dengan proses kurasi yang tajam agar lebih memacu kreativitas; kedua, para mahasiswa dan masyarakat penonton memiliki kesempatan membandingkan dengan karya-karya koleksi Tugas Akhir 2016/2017, yang notabene adalah karya-karya mahasiswa senior (yang sudah lulus). Membandingkan merupakan upaya kritik diri (self critic) terhadap kemampuan dan kapasitas diri.
Adapun karya-karya seni Program Studi D-3 Animasi meliputi karya hasil belajar mengajar selama satu tahun (2016/2017) yang meliputi:
1. Karya Film, ada 26 karya film animasi 2D dan 3D. Karya-karya ini merupakan karya tugas perkuliahan dan praktik terpadu Program Studi D-3 Animasi. Mahasiswa diarahkan untuk membuat film
animasi dengan desain lokal, artinya baik karakter, cerita, setting tempat merupakan ide-ide lokal (Indonesia). Misalnya cerita tentang “Sangkuriang” yang dibuat oleh mahasiswa bernama Balqis, “Legenda Rawa Pening” oleh Rizal, “Malin Kundang” oleh Yohanes, dan “Legenda Lutung Kasarung” oleh Fietrie. Ada pula yang mengangkat indahnya alam Nusantara, seperti film animasi tentang “Explore Bantul” oleh Restu, “Waduk Mini Kleco” oleh Arnold, “Bali dan Warisan Budaya” oleh Febri Faizin, dan “Suku Dayak” oleh Gugum. Isu nasional yang sedang hangat juga tidak luput dari tema yang diangkat mahasiswa untuk membuat film animasi, seperti “Bahaya Ganja” oleh Yoga, dan “HIV AIDS” oleh Awanis. Kreativitas mahasiswa sangat diuji dalam setiap penciptaan karya. Mereka dilatih dan digembleng oleh pada dosen untuk menghasilkan karya yang bermutu.
2. Karya Game, karya game yang dipamerkan dalam pameran dan penayangan karya ini ada 9 karya. Sama seperti dalam karya film animasi, karya game juga dilandasi semangat kelokalan. Karya yang dipamerkan adalah “Kite” oleh Ahmad Ahadi, “Nusantara War” oleh Angga Pratama, “Sealed Chest” oleh Bestari, “Lutung Kasarung” oleh Bimo, “Flo’s Journey” oleh Diajeng, “Free” oleh Euis Kurniati, “Jatayu to the Rescue” oleh Hizkia K. Wijaya, dan “Dolan Game Gunting Batu Kertas” oleh Robertus Adi.
3. Karya Tugas Akhir, menyajikan karya film animasi sebanyak 14 karya film baik dengan teknik 3D maupun 2D. Dalam pameran kali ini sebagian besar merupakan karya film 2D, dengan tidak lupa masing-masing mahasiswa tetap memasukkan unsur kearifan lokal untuk film mereka. Isu nasional juga tidak luput diangkat, seperti Kristyananda yang mengangkat tentang bahaya gadget ketika tidak digunakan dengan bijak. Teknik animasi rotoscope juga dihadirkan dalam karya
adalah “Argo dan Kebo Arema” oleh Liling dan lain-lain.
4. Karya Nirmana atau Desain Elementer, disajikan karena memiliki visual yang unik. Karya-karya desain tanpa makna ini dibuat oleh mahasiswa pada awal semester guna melatih mahasiswa terhadap kepekaan dalam mengolah warna, garis, bidang, dan tekstur. terdapat 9 karya yang disajikan.
5. Karya Menggambar dan Ilustrasi, tugas mengamati dan mengenal bentuk yang ada di sekitar kita menjadi kunci utama dalam mendasari pembuatan film animasi ataupun animasi game. Dalam mata kuliah ini mahasiswa dilatih mengamati benda-benda dan makhluk hidup yang ada di sekitar kita kemudian divisualkan menjadi sebuah gambar tangan dengan menggunakan pensil. Hasil pegamatan tersebut sangat berguna ketika mahasiswa akan membuat cerita film animasi atau animasi game. Karya film animasi ini disajikan dalam 15 gambar.
Demikian karya-karya yang bisa disajikan oleh Program Studi D-3 Animasi FSMR, ISI Yogyakarta dalam rangka Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta dan JMMK #9 FSMR kali ini.
Sebagai upaya membangun komunikasi yang lebih erat kepada pemirsa, dalam pameran ini juga akan diselenggarakan sarasehan yang bertujuan menjembatani jarak antara karya yang ditampilkan dan masyarakat luas, khususnya yang ingin tahu lebih mendalam tentang proses pemikiran dan praktik kekaryaan seni media rekam. Akhirnya, Pameran Seni Media Rekam Dies Natalis XXXIII ISI Yogyakarta dan JMMK #9 kali ini kiranya dapat menjadi tradisi dialektika seni yang positif serta memberi nilai manfaat kepada pelaku dan pemirsanya.
Dibalik Kerudung (2016) Dio Nanda Baskara
Indonesia’s Glamour Aditya Fahmi
Beauty (2017) Ardhan Ragil S
Moana Jane Marsha
Harmony of the sea Refi Pandawa
Red Bonfilio
Dari Masa Lalu (2016) Febriansyah AP
Sunset Suramadu (2015) Big Stone (2016)
Hanif Imam
Khutbah Jumat Khairunnisa
Gone (series) Lalu Diarta
Keterpautan
M Nasikhul Colorfull
The Quiet Animated Can Make Down the Situation (2016) Maman Rachman
Selesai (2016) Nur fatimah
Holiday - Pulang, Berkumpul Bersama, Keluarga (series) Danysswara
Sosok Penambang Timah Fitri Hardiyanti
Kacamata Malam Eduardus Cahyo Bintoro
Visual Diary: Kesendirian (series) Deni Mufti Fidinillah
Terasingkan
Galuh F Normal
Gudangan Abdul Kholid T
Idolaku
Ajeng Anissa Saraswati
Hidayat Santosa
Bayi Babi yang Malang Mai Hidayati
Jika