BAB I PENDAHULUAN. sumber daya alam, yang berupa tanah, air dan udara dan sumber daya alam

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang Penelitian

Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memerlukan sumber daya alam, yang berupa tanah, air dan udara dan sumber daya alam yang lain yang termasuk ke dalam sumber daya alam yang terbarukan maupun yang tidak terbarukan. Namun demikian harus disadari bahwa sumber daya alam yang kita perlukan mempunyai keterbatasan di dalam banyak hal, yaitu keterbatasan tentang ketersediaan menurut kuantitas dan kualitasnya. Sumber daya alam tertentu juga mempunyai keterbatasan menurut ruang dan waktu. Oleh sebab itu diperlukan pengelolaan sumber daya alam yang baik dan bijaksana. Antara lingkungan dan manusia saling mempunyai kaitan yang erat. Ada kalanya manusia sangat ditentukan oleh keadaan lingkungan di sekitarnya, sehingga aktivitasnya banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan di sekitarnya.

Keberadaan sumber daya alam, air, tanah dan sumber daya yang lain menentukan aktivitas manusia sehari-hari. Kita tidak dapat hidup tanpa udara dan air. Sebaliknya ada pula aktivitas manusia yang sangat mempengaruhi keberadaan sumber daya dan lingkungan di sekitarnya. Kerusakan sumber daya alam banyak ditentukan oleh aktivitas manusia. Banyak contoh kasus-kasus pencemaran dan kerusakan lingkungan yang

(2)

diakibatkan oleh aktivitas manusia seperti pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah serta kerusakan hutan yang kesemuanya tidak terlepas dari aktivitas manusia, yang pada akhirnya akan merugikan manusia itu sendiri.

Pembangunan yang dilakukan bangsa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Proses pelaksanaan pembangunan, disatu pihak menghadapi permasalahan jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi, dilain pihak sumber daya alam adalah terbatas.

Umat manusia mempunyai kapasitas untuk menjadikan pembangunan ini berkelanjutan. Yang dimaksud dengan pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini dengan memperhatikan kemampuan generasi mendatang dalam mencakupi kebutuhannya.1

Pembangunan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tidak dapat terhindarkan dari penggunaan sumber daya alam, namun eksploitasi sumber daya alam yang tidak mengindahkan kemampuan dan daya dukung lingkungan mengakibatkan merosotnya kualitas lingkungan.

1 Muhamad Erwin, Hukum Lingkungan dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan

(3)

Pembangunan Nasional merupakan rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional yang terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu :

“Terlindunginya segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; tercapainya kesejahteraan umum dan kehidupan bangsa yang cerdas; dan dapat berperannya bangsa Indonesia dalam melaksankan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.2

Pelaksanakan pembangunan nasional perlu memperhatikan tiga pilar pembangunan berkelanjutan secara seimbang, hal ini sesuai dengan hasil Konperensi PBB tentang Lingkungan Hidup yang diadakan di Stockholm Tahun 1972 dan suatu Deklarasi Lingkungan Hidup KTT Bumi di Rio de Janeiro Tahun 1992 yang menyepakati prinsip dalam pengambilan keputusan pembangunan harus memperhatikan dimensi lingkungan dan manusia serta KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg Tahun 2002 yang membahas dan mengatasi kemerosotan kualitas lingkungan hidup.

Bagi Indonesia mengingat bahwa kontribusi yang dapat diandalkan dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi dan sumber devisa serta modal pembangunan adalah dari sumber daya alam, dapat dikatakan bahwa sumber daya alam mempunyai peranan penting dalam perekonomian

(4)

Indonesia baik pada masa lalu, saat ini maupun masa mendatang sehingga, dalam penerapannya harus memperhatikan apa yang telah disepakati dunia internasional. Namun demikian, selain sumber daya alam mendatangkan kontribusi besar bagi pembangunan, di lain pihak keberlanjutan atas ketersediaannya sering diabaikan dan begitu juga aturan yang mestinya ditaati sebagai landasan melaksanakan pengelolaan suatu usaha dan atau kegiatan mendukung pembangunan dari sektor ekonomi kurang diperhatikan, sehingga ada kecenderungan terjadi penurunan daya dukung lingkungan dan menipisnya ketersediaan sumber daya alam yang ada serta penurunan kualitas lingkungan hidup.

Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang tidak dilakukan sesuai dengan daya dukungnya dapat menimbulkan adanya krisis pangan, krisis air, krisis energi dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa hampir seluruh jenis sumber daya alam dan komponen lingkungan hidup di Indonesia cenderung mengalami penurunan kualitas dan kuantitasnya dari waktu ke waktu.3

Lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 28H Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, maka pembangunan nasional harus diselenggarakan berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

3 www.google.com, “Pembangunan Nasional dan Pembangunan Berkelanjutan “, diakses tanggal 08 Juni 2009.

(5)

Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 1 butir (1) menyatakan :

“Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda daya, dan keadaan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain”.4

Kegiatan pembangunan yang banyak mengandung resiko memerlukan suatu perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang terarah, dimana hal tersebut merupakan suatu keharusan yang harus dilakukan dalam proses pembangunan yang akan dilaksanakan agar lingkungan dan sumber daya alam tetap terpelihara keberadaannya.

Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 1 butir (2) menyatakan :

“Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum”.5

Peraturan Pemerintah No 27 Tahun 1999 tentang AMDAL telah lama berlaku, gambaran keadaan yang telah dicapai dalam kurun waktu tersebut masih belum optimal. Hambatan yang dihadapi antara lain

4 Pasal 1 butir (1) Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan

Lingkungan Hidup.

(6)

kurangnya perhatian terhadap penerapan AMDAL, terjadinya penyimpangan-penyimpangan, adanya beberapa peraturan yang kurang operasional, dan tidak adanya sistem pengawasan yang efektif.

AMDAL seyogyanya dilakukan seawal mungkin dalam daur proyek, yaitu bersama-sama dengan eksplorasi, telaah kelayakan rekayasa dan telaah kelayakan ekonomi sehingga AMDAL menjadi sebuah komponen integral dalam telaah kelayakan proyek.

Sebab-sebab penting tidak efektifnya AMDAL ialah :

1) Pelaksanaan AMDAL yang terlambat, sehingga tidak dapat lagi mempengaruhi proses perencanaan tanpa menyebabkan penundaan pelaksanaan program atau proyek dan menaikan biaya proyek, 2) Kurangnya pengertian pada sementara pihak tentang arti dan

peranan AMDAL, sehingga AMDAL dilaksanakan sekedar untuk memenuhi peraturan Undang-Undang atau disalah gunakan untuk membenarkan suatu proyek,

3) Belum cukup berkembangnya teknik AMDAL untuk dapat dibuatnya yang relevan dan dengan rekomendasi yang spesifik dan jelas,

4) Kurangnya keterampilan pada Komisi AMDAL untuk memeriksa laporan AMDAL, dan

5) Belum adanya pemantauan yang baik untuk mengetahui apakah rekomendasi AMDAL yang tertera dalam RKL benar-benar

(7)

digunakan untuk menyempurnakan perencanaan dan dilaksanakan dalam implementasi proyek.

Tujuan jangka panjang kita bukanlah untuk mengeliminasinya dengan makin mengurangi kebutuhan akan AMDAL sebagai proses terpisah dan mengintegrasikan lingkungan yang holistik sebagai bagian internal proses perencanaan yang berwawasan lingkungan.6

Asas keterbukaan dan peran masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan, terutama dalm proses administratif perizinan lingkungan dan AMDAL sebagai instrumen pencegahan pencemaran lingkungan. Asas ini telah dituangkan dalam bentuk produk hukum, sehingga menjadi kewajiban yang harus dipatuhi setiap orang di Indonesia. Sebagaimana dicantumkan dalam Undang-Undang No 32 Tahun 2009 Bab X Pasal 65 (1) tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, menyatakan:

“Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia”.7

6 Muhamad Erwin, Hukum Lingkungan dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan

Lingkungan Hidup, Refika Aditama, Bandung, 2008, hlm. 57-58.

7 Pasal 65 ayat (1) Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan

(8)

Bersamaan dengan itu, melekat kewajiban sesuai dengan yang tercantum dalam Pasal 67 menyatakan :

“Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup”.8

Peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup sangatlah penting dalm upaya perlindungan terhadap lingkungan hidup dari pencemaran yang disebabkan oleh pembuangan limbah langsung kelingkungan tanpa pengelolaan terlebih dahulu yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan terhadap lingkungan hidup. Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 70 ayat (1) menyatakan :

“Masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup”.9

Kegiatan pembangunan yang berlangsung selama kurun waktu tiga dasawarsa terakhir ini di satu sisi berdampak positif bagi pendapatan negara. Tetapi, disisi lain kegiatan pembangunan juga menimbulkan dampak negatif berupa kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan hidup. Dampak positif perlu dikembangkan dan ditingkatkan seoptimal mungkin, sedangkan dampak negatif harus ditekan seminimal

8 Ibid, Pasal 67. 9 Ibid, Pasal 70 ayat (1).

(9)

mungkin agar terhindar dari kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingklungan hidup.

Pembangunan yang meningkat dari tahun ke tahun yaitu pembangunan disektor usaha seperti pembangunan industri tekstil. Indonesia sebagai negara berkembang yang mempunyai banyak perusahaan multi nasional yang dapat menarik investor-investor asing atau penanam modal asing untuk mengembangkan usahanya. Pertumbuhan industri telah memberikan sumbangan bagi perekonomian Indonesia melalui barang produk dan jasa yang dihasilkan serta dari pajak perusahaan-perusahaan tersebut.

Banyaknya industri di Indonesia selain berdampak positif juga berdampak negatif, dampak positif dari banyaknya industri yaitu dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan menyerap tenaga kerja sehingga dapat mengurangi pengangguran dan kemiskinan, sedangkan dampak negatifnya yaitu adanya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah dari kegiatan usaha perusahaan-perusahaan tersebut.

Dampak positif dari pembangunan sektor industri sudah banyak kita rasakan, secara tidak langsung pembangunan tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, muali dari meningkatnya pendapatan perkapita, meningkatnya mutu pendidikan masyarakat, menurunnya tingkat pengangguran, serta masih banyak dampak positif dari pembangunan tersebut. Akan tetapi selain dampak positif,

(10)

pembangunan tersebut memiliki dampak negatif dari proses produksi industri-industri yaitu timbulnya berbagai pencemaran, antara lain pencemaran udara yang diakibatkan oleh asap yang dihasilkan dari sisa pembakaran oleh mesin-mesin produksi, pencemaran air yang diakibatkan dari limbah cair industri yang dibuang langsung ke sungai tanpa melalui proses daur ulang, pencemaran tanah yang diakibatkan oleh sampah plastik yang tidak dapat diuraikan oleh tanah dan pencemaran suara yang diakibatkan dari suara mesin-mesin produksi.

Potensi industri telah memberikan sumbangan bagi perekonomian Indonesia melalui barang produk dan jasa yang dihasilkan, namun di sisi lain pertumbuhan industri telah menimbulkan masalah lingkungan yang cukup serius. Buangan air limbah industri mengakibatkan timbulnya pencemaran air sungai yang dapat merugikan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai, seperti berkurangnya hasil produksi pertanian, menurunnya hasil tambak, maupun berkurangnya pemanfaatan air sungai oleh penduduk.

Perkembangan industri di Kota Cimahi khususnya di daerah kawasan industri Leuwi Gajah berkembang pesat seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia. Adanya kegiatan produksi industri-industri di Leuwi Gajah selain berdampak positif terhadap peningkatan lapangan kerja guna mengurangi tingkat pengangguran, juga mempunyai dampak negatif berupa limbah dari sisa proses produksi industri-industri

(11)

tersebut yang dapat mengakibatkan pencemaran dan kerusakan terhadap lingkungan hidup.

Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 1 butir (20) menyatakan :

“Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan”.10

Peraturan Pemerintah No 85 Tahun 1999 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah No 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, Pasal 1 butir (2) menyatakan :

“Limbah bahan berbahaya dan beracun, disingkat B3, adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau kosentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain”.11

Limbah industri sangat potensial sebagai penyebab terjadinya pencemaran air. Pada umumnya limbah industri mengandung limbah B3, yaitu bahan berbahaya dan beracun. Limbah B3 adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang dapat mencemarkan atau merusak lingkungan hidup sehingga membahayakan kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk lainnya. Karakteristik limbah B3 adalah korosif/menyebabkan karat, mudah

10 Ibid, Pasal 1 butir (20).

11 Pasal 1 butir (2) Peraturan Pemerintah No 85 Tahun 1999 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah No 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.

(12)

terbakar dan meledak, bersifat toksik/ beracun dan menyebabkan infeksi/ penyakit. Limbah industri yang berbahaya antara lain yang mengandung logam dan cairan asam.

Seiring dengan makin tingginya kepedulian akan kelestarian sungai dan kepentingan menjaga keberlanjutan lingkungan dan dunia usaha maka muncul upaya industri untuk melakukan pengelolaan air limbah industrinya melalui perencanaan proses produksi yang efisien sehingga mampu meminimalkan limbah buangan industri dan upaya pengendalian pencemaran air limbah industrinya melalui penerapan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Pembuangan limbah cair ke sungai yang sudah melewati pengelolaan terlebih dahulu, harus memenuhi baku mutu limbah yang dapat dibuang ke sungai agar tidak mencemari lingkungan yang dapat menyebabkan penurunan terhadap baku mutu air.

Peraturan Pemerintah No 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, Pasal 1 butir (9) menyatakan:

“Baku mutu air adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air”.12

12 Pasal 1 butir (9) Peraturan Pemerintah No 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air

(13)

Pasal 1 butir (15) menyatakan :

“Baku mutu air limbah adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar dan atau jumlah unsur pencemar yang ditenggang keberadaanya dalam air limbah yang akan dibuang atau dilepas ke dalam sumber air dari suatu usaha dan atau kegiatan”.13

Pengaturan mengenai baku mutu limbah untuk kawasan industri, diatur secara khusus dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 3 Tahun 2010 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Kawasan Industri, Pasal 3 menyatakan :

“Baku mutu air limbah kawasan industri sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini setiap saat tidak boleh dilampau”.14

Selain itu, pembuangan limbah cair harus memiliki ijin dalam pembuangannya ke sungai sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Cimahi Nomor 2 Tahun 2005 Tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Cimahi Nomor 19 Tahun 2003 Tentang Ijin Pembuangan Limbah Cair, Pasal 4 menyatakan :

“Setiap orang atau Badan yang melaksanakan kegiatan pembuangan limbah cair sebagaiman dimaksud pada Pasal 3 ayat (1) Peraturan Daerah ini, wajib memiliki ijin pembuangan limbah cair”.15

13 Ibid, Pasal 1 butir (15).

14 Pasal 3 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 3 Tahun 2010 tentang Baku Mutu Air

Limbah bagi Kawasan Industri.

15 Pasal 4 Peraturan Daerah Kota Cimahi Nomor 2 Tahun 2005 Tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Cimahi Nomor 19 Tahun 2003 Tentang Ijin Pembuangan Limbah Cair.

(14)

Bagi industri yang terbiasa dengan memaksimalkan profit dan mengabaikan usaha pengelolaan limbah agaknya bertentangan dengan akal sehat mereka, karena mereka beranggapan bahwa menerapkan instalasi pengolahan air limbah berarti harus mengeluarkan biaya pembangunan dan biaya operasionai yang mahal. Di pihak lain timbul ketidak percayaan masyarakat bahwa industri akan dan mampu melakukan pengelolaan limbah dengan sukarela mengingat banyaknya perusahaan di sepanjang aliran sungai yang membuang air limbahnya tanpa pengolahan.

Banyaknya perusahaan-perusahaan yang belum mengelola limbah hasil proses produksinya sebelum dibuang langsung ke sungai, dapat berdampak negatif terhadpa lingkungan yang dapat mengakibatkan tercemarnya lingkungan atau bahkan terjadi kerusakan lingkungan sekitar.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penyusun tertarik untuk meneliti dan dituangkan dalam bentuk skripsi yang berjudul : “Peran Masyarakat Dalam Penerapan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Di Kawasan Industri Leuwi Gajah Dihubungkan Dengan Undang-Undang No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup”.

(15)

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah dan permasalahan di atas, maka dapat di rumuskan permasalahannya sebagai berikut :

1. Apakah pembuangan limbah industri di kawasan industri Leuwi Gajah sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku ? 2. Bagaimanakah peran masyarakat dalam penerapan Instalasi

Pengelolaan Air Limbah (IPAL) pada industri dalam upaya mencegah terjadinya pencemaran lingkungan ?

3. Bagaimanakah akibat hukum terhadaap perusahaan/industri yang tidak mempunyai Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) sebelum membuang air limbah langsung ke sungai ?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Ingin meneliti dan mengkaji pelaksanaan pembuangan limbah industri di kawasan industri Leuwi Gajah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Ingin meneliti dan mengkaji peran masyarakat dalam penerapan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) pada industri dalam upaya mencegah terjadinya pencemaran lingkungan.

3. Ingin meneliti dan mengkaji akibat hukum terhadap perusahaan/industri yang tidak menggunakan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) sebelum membuang air limbah langsung ke sungai.

(16)

D. Kegunaan Penelitian

Dalam penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis yang diuraikan sebagai berikut :

1. Secara teoritis

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi Pemerintah, Pemrakarsa dan mahasiswa yang menggeluti dibidang ilmu hukum, khususnya dalam hukum lingkungan, serta masyarakat sekitar kawasan industri yang terkena dampak dari limbah industri secara langsung agar tidak terulang kembali pencemaran terhadap lingkungan hidup.

2. Secara praktis

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan (informasi) sebagai pegangan bagi Hakim, Jaksa, Pengacara, Organisasi lingkungan hidup, masyarakat umum agar tidak terulang kembali pencemaran lingkungan serta bagi perkembangan ilmu hukum khususnya hukum lingkungan.

E. Kerangka Pemikiran

Menurut Mochtar Kusumaatmadja fungsi hukum dalam pembangunan dibangun atas dua anggapan, yaitu adanya keteraturan dan ketertiban dalam usaha pembangunan sebagai suatu yang mutlak perlu, dan hukum dalam arti kaidah atau peraturan memang bisa berfungsi sebagai alat pengatur atau sarana pembangunan dalam arti penyalur arah kegiatan manusia kearah yang dikehendaki oleh pembangunan atau pembaharuan. Selain itu juga disebutkan karena baik perubahan maupun

(17)

ketertiban (aturan keteraturan) merupakan tujuan kembar dari masyarakat yang sedang membangun. Maka hukum menjadi suatu alat (sarana) yang tidak dapat diabaikan dalam proses pembangunan.16

Pembangunan nasional yang dilaksanakan merupakan upaya pembangunan yang berkesinambungan, dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.17

Lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 28H Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, maka pembangunan nasional harus diselenggarakan berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup.

Pertumbuhan industri dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Tidak dapat dihindari, dampak lain dari industrialisasi ini adalah juga terjadinya peningkatan pencemaran yangg dihasilkan dari proses produksi. Proses produksi ini akan menghasilkan produk yang diinginkan dan hasil samping yang tidak diinginkan berupa limbah. Industri di Leuwi Gajah pada dasarnya cukup berpengaruh dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional hal tersebut sesuai dengan

16 Mochtar Kusumaatmadja, Hukum, Masyarakat, dan Pembinaan Hukum Nasional, Binacipta, Bandung, 1986, hlm. 14

(18)

ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Pasal 33 ayat (4) menyatakan bahwa :

“Perekonomian diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan, kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional”.18

Dalam rumusan Pasal 33 ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan dasar titik tolak bagi pembangun ekonomi nasional, dengan demikian negara memiliki peran dan tanggung jawab dalam segala bidang kehidupan, termasuk dalam kegiatan pembangunan industri.

Seiring dengan pertumbuhan pembangunan yang semakin meningkat, diperlukan adanya suatu pembaharuan hukum. Sunaryati Hartono berpendapat bahwa makna dari pembangunan hukum meliputi hal-hal sebagai berikut :

1. Menyempurnakan (membuat sesuatu lebih baik) 2. Mengubah arah menjadi lebih baik

3. Mengadakan sesuatu yang belum ada, atau

4. Meniadakan sesuatu yang terdapat dalam sistem lama, karena tidak diperlukan dan tidak cocok dengan sistem baru.

(19)

Kesiapan sistem hukum nasional merupakan hal yang penting dalam memasuki tahapan pembangunan nasional yang harus sesuai dengan tujuan dan rencana pembangunan nasional seperti tertuang didalam Undang-Undang No 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025.

Dalam Undang-Undang No 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025, rencana pembangunan nasional mencakup penyelenggaraan perencanaan makro semua fungsi pemerintahan yang meliputi semua bidang kehidupan secara terpadu dalam wilayah Negara Republik Indonesia yang dituangkan kedalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN).

Berdasarkan ketentuan Pasal 3 Undang-Undang No 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025, menyatakan :

“RPJP Nasional merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya Pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial dalam bentuk rumusan visi, misi dan arah Pembangunan Nasional”.19

19 Pasal 3 Undang-Undang No 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025.

(20)

Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 22 ayat (1) menyatakan :

“Setiap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan hidup bwajib memiliki AMDAL”.20

Peraturan Pemerintah No 27 Tahun 1999 Tentang AMDAL, Pasal 1 butir (1) menyatakan :

“Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan”.21

Pembangunan di Indonesia salah satunya adalah pembangunan dibidang industri yang dilakukan oleh Penanam Modal Asing (PMA) dan Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN), salah satunya terdapat di Leuwi Gajah, karena masyarakat Indonesia sangat membutuhkan kebutuhan baik kebutuhan primer maupun skunder untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi keberadaan industri tersebut menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup yaitu telah terjadinya pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh limbah industri yang dibuang langsung ke sungai tanpa dikelola terlebih dahulu. Dengan adanya pencemaran tersebut, masyarakat merasa telah terlanggar haknya akan lingkungan hidup yang baik dan sehat

20 Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan

Pengelolaan Lingkungan Hidup.

(21)

yang dapat berakibat langsung pada kesehatan masyarakat dan perusakan lingkungan hidup.

Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 1 butir (3) menyatakan :

“Pembangunan berkelajutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi kedalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan”.22

Sesuai dengan pengertian pembangunan berkelanjutan di atas, bahwa pembangunan industri harus dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku agar terjadi keseimbangan tatanan masyarakat, sehingga lingkungan dan sumber daya alam dapat dipergunakan dengan baik oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Adanya pembuangan limbah secara langsung ke sungai oleh industri tanpa pengelolaan terlebih dahulu dengan IPAL, maka hak masyarakat akan lingkungan hidup yang sehat dan baik telah terlanggar yang berdampak kepada pencemaran atau perusakan terhadap lingkungan hidup, serta secara tidak langsung berdampak pada kesehatan masyarakat.

22 Pasal 1 butir (3) Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan

(22)

Dalam hal ini Pemerintah wajib melindungi masyarakat yang terkena dampak dari pencemaran lingkungan tersebut sesuai dengan apa yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 alnea ke empat yaitu :

“Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadai dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusian yang adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.23

Kondisi kesehatan berkaitan erat dengan lingkungan, dimana kondisi kesehatan suatu masyarakat dapat terganggu jika lingkungan disekitar masyarakat tersebut telah tercemar, maka dalam hal ini masyarakat harus ikut berperan aktif dalam mencegah terjadinya pencemaran lingkungan oleh limbah-limbah industri yang dibuang tanpa proses pengelolaan limbah terlebih dahulu.

(23)

Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 58 ayat (1) menyatakan :

“Setiap orang yang memasukan kedalam wilayah Negara Republik Indonesia, menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan, memanfaatkan, membuang, mengolah, dan/atau menimbun B3 wajib melakukan pengelolaan B3”.24

Pembuangan limbah industri secara langsung ke sungai tanpa pengelolaan terlebih dahulu tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dimana dapat berdampak pada lingkungan dan kesehatan masyarakat. Dalam hal ini, maka perlu adanya perlindungan hukum bagi masyarakat yang terkena dampak dari limbah tersebut.

Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 87 ayat (1) menyatakan :

“Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup wajib membayar ganti rugi dan/atau melakukan tindakan tertentu”.25

Pembuangan limbah secara langsung ke sungai tanpa proses pengelolaan terlebih dahulu yang mengakibatkan pencemaran lingkungan, dianggap telah melakukan perbuatan melawan hukum sesuai dengan yang diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata yaitu :

24 Pasal 58 ayat (1) Undang-undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan

Pengelolaan Lingkungan Hidup..

(24)

“Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut”.26

Prinsip-prinsip pemberian Otonomi Daerah menurut Undang-undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah adalah penekanan terhadap aspek demokrasi, keadilan, pemerataan dan partisipasi masyarakat serta memperhatikan potensi dan keaneka ragaman Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai wujud dari penekanan prinsip-prinsip tersebut, Pemerintah pusat telah memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mengatur daerahnya sendiri , termasuk dalam hal lingkungan, kesehatan dan kesejahteraan penduduknya. Meskipun dampak dari pencemaran lingkungan hidup oleh limbah industri terhadap sungai sangat berdampak besar kepada kesehatan masyarakat, akan tetapi proses ganti rugi oleh pihak perusahaan kepada masyarakat yang terganggu kesehatannya dan memperbaiki lingkungan yang tercemar/rusak bukanlah langkah yang tepat, dimana sebagian besar perusahaan masih belum menerapkan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) dalam proses pengelolaan limbah sebelum dibuang ke sungai.

(25)

F. Metode Penelitian 1. Spesifikasi Penelitian

Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis. Deskriptif karena penelitian bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai peran serta masyarakat dalam penerapan IPAL pada industri dalam upaya pencegahan pencemaran lingkungan hidup oleh limbah. Analitis karena menganalisi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penerapan IPAL.

2. Metode Pendekatan

Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah yuridis

normatif, yaitu pendekatan atau penelitian hukum dengan

menggunakan metode pendekatan/teori/konsep dan metode analisis yang termasuk dalam disiplin ilmu hukum yang bersifat dogmatis.27 Penelitian hukum normatif meliputi :

a. Penelitian terhadap asas-asas hukum

b. Penelitian hukum in concreto yaitu penelitian yang dilakukan sebagai usaha untuk menemukan apakah hukum yang diterapkan sesuai untuk diterapkan secara konkrit untuk menyelesaikan suatu perkara.

3. Tahap Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua macam penelitian, yaitu :

27 Ronny Hanitijo Soemantri, Metodologi Penelitian Hukum dan jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990, hlm. 34.

(26)

a. Penelitian Kepustakaan

Penelitian kepustakaan yaitu “Penelitian terhadap data skunder, yang dengan teratur dan sistematis menyelenggarakan pengumpulan dan pengolahan bahan pustaka untuk disajikan dalam bentuk layanan yang bersifat edukatif, informatif, dan rekreatif pada masyarakat”.28

Data sekunder yang diteliti adalah sebagai berikut :

1) Bahan-bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan yang meliputi Undang-Undang Dasr Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pertauran Pemerintah No 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, Peraturan Pemerintah No 85 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, Peraturan Pemerintah No 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pencemaran Air, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 3 Tahun 2010 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Kawasan Industri, Peraturan Daerah Kota Cimahi Nomor 2 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Cimahi Nomor 19 Tahun 2003 tentang Ijin Pembuangan Limbah Cair.

28 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, hlm. 42.

(27)

2) Bahan-bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisis dan memahami, yakni berupa buku-buku, karya ilmiah para sarjana dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan masalah yang diteliti.

3) Bahan-bahan hukum tersier, yaitu bahan yang memberikan dan menguatkan informasi tentang bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti artikel, koran dan internet.

b. Penelitian Lapangan

Penelitian lapangan yaitu penelitian yang dilakukan dengan melakukan penelitian secara langsung ke lapangan (objek penelitian) untuk memperoleh data primer sebagai penunjang data sekunder, seperti melakukan wawancara dengan pihak yang terkait. 4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data ini adalah dengan cara studi dokumen, yaitu mencari data selengkap mungkin dari data-data sekunder yang berasal dari bahan-bahan hukum primer, sekunder, maupun tersier serta didukung dengan data lapangan.

5. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data yang digunakan, yaitu dengan mengunakan studi kepustakaan dan studi lapangan atau observasi, sehingga alat pengumpulan data yang diperlukan antara lain : catatan lapangan,

(28)

daftar riwayat, atau studi kasus terhadap fenomena yang dapat ditangkap.

6. Analisis Data

Analisis data yang dilakukan dengan metode yuridis kualitatif, yaitu data yang diperoleh disusun secara kualitatif untuk mencapai kejelasan masalah yang dibahas dengan tidak menggunakan rumus, kemudian data primer dan data sekunder yang diperoleh dari penelitian disusun dengan teratur dan sistematis, yang akan dianalisis untuk ditarik suatu kesimpulan.

7. Lokasi Penelitian a. Perpustakaan

1) Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Pasundan, Jl. Lengkong Dalam No. 17 Bandung

2) Perpustakan Universitas Padjajaran, Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung

3) Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Jl. Imam Bonjol No. 21 Bandung

b. Instansi

1) Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat (BPLHD) Jl. Naripan No.25 Bandung

2) Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Cimahi Jl Rd. Demang Hardjakusumah Blok Jati Cihanjuang.

(29)

c. Sumber Lain 1) Media Masa 2) Media Cetak 3) Warung Internet

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di