INTERAKSI SUAMI ISTRI DALAM MEWUJUDKAN HARMONISASI
KELUARGA RESPONSIF GENDER
Oleh: Herien Puspitawati
Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen
Fakultas Ekologi Manusia- Institut Pertanian Bogor
2013
Sumber: Puspitawati, H. 2012. Gender dan Keluarga: Konsep dan Realita di
Indonesia. PT IPB Press. Bogor.
Email: [email protected]
Tipe, Latar Belakang dan Proses Perkawinan
Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga menyatakan bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya (Pasal 1). Dengan demikian, pembentukan keluarga harus melalui ikatan perkawinan yang merupakan “kontrak sosial dan spiritual/ibadah” yang merubah status masing-masing individu yang independen (mandiri) menjadi hubungan yang inter-dependent atau saling ketergantungan dengan dasar kemandirian tertentu. Adapun tipe perkawinan yang diijinkan secara resmi di Indonesia adalah tipe perkawinan monogami.
1. Tipe-tipe perkawinan meliputi (Williamson 1972 dan Schwartz & Scott 1994):
a. Monogami: Menikah dengan jenis kelamin berbeda, diakui secara hukum, dapat memilih pasangan lagi, asal sudah cerai hidup atau mati (satu suami, satu istri): Secara praktis terdapat dalam semua masyarakat (primitif, setengah modern, atau modern).
b. Poligami: Seseorang dengan jenis kelamin tertentu menikah dengan beberapa orang dengan jenis kelamin bebeda (satu suami, lebih dari satu istri): Mayoritas pada masyarakat kuno dan masyarakat timur.
c. Poliandri pasangan yang menikah dengan kondisi satu istri dengan lebih dari satu suami:
(1) Perkawinan poliandri relatif lebih jarang daripada poligini.
(2) Dijumpai di strata sosial yang lebih rendah di Tibet dan Marquesane. d. Perkawinan kelompok (group Marriage):
(1) Perkawinan antara sekelompok laki-laki (suami) dengan sekelompok wanita (Istri).
(2) Dijumpai di sebagaian masyarakat di New Guinea. 2. Cara untuk menentukan garis keturunan
a. Patrilineal: Berdasarkan garis keturunan dari laki-laki. b. Matrilineal: Berdasarkan garis keturunan dari perempuan.
3. Menurut tempat tinggal pasangan setelah kawin. Siapakah berdampingan dengan orangtua suami atau orangtua istri:
a. Patrilokal/ Paternal: Anggota-anggota keluarga luar tinggal bersama menurut garis patrilineal.
b. Matrilokal/ Maternal: Anggota-anggota keluarga luar tinggal bersama-sama menurut garis Matrilineal.
4. Sistem perkawinan yang berlaku di sebagian masyarakat Aceh adalah eksogami merge, yaitu mencari jodoh dari luar merge sendiri. Sedangkan setelah menikah, berlaku aturan virilokal, yaitu pasangan menetap di kediaman keluarga laki-laki.5.3 5. Sebagian masyarakat Aceh juga menggunakan sistem kekerabatan kombinasi antara
budaya Minangkabau dan Aceh. Garis keturunan diperhitungkan berdasarkan prinsip bilateral, sedangkan adat menetap sesudah nikah adalah uxorilokal (tinggal dalam lingkungan keluarga pihak perempuan). Kerabat pihak ayah mempunyai kedudukan yang kuat dalam hal pewarisan dan perwalian, sedangkan ninik mamak berasal dari kerabat dari pihak ibu.5.3
6. Pada masyarakat Aceh Gayo, garis keturunan ditarik berdasarkan prinsip patrilineal. Sistem perkawinan yang berlaku berdasarkan tradisi adalah eksogami belah, dengan adat menetap sesudah nikah adalah patrilokal (juelen) atau matrilokal (angkap). Alasan seseorang memutuskan untuk menikah dan melangsungkan perkawinan adalah: (a) Komitmen untuk dapat memiliki seseorang secara sepenuhnya, (b) Memberikan dukungan secara emosional yang diekspresikan dengan kasih sayang, kepercayaan, dan hubungan keintiman, (c) Komitmen untuk bersama, (d) Adanya rasa cinta, (e) Ingin meraih kebahagiaan, dan (f) Adanya dasar legitimasi seksual dan memperoleh keturunan (Turner dan Helms, 1991). Adapun tanggung jawab perkawinan yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami dan istri adalah kejujuran dan saling tergantung, berbagi pekerjaan dan tanggung jawab, saling terbuka dan transparan akan rencana dan perolehan penghasilan, saling mendukung ide dan simpati, berbicara dan mendengarkan, kesukarelaan dan keikhlasan, dan saling memuaskan baik secara fisik, seksual maupun batin.
Gambar 10.1. Ilustrasi pemilihan berbagai variasi kriteria pasangan suami dan istri. Perkawinan yang sah diawali oleh proses perkawinan yang sesuai dengan ritual atau prosedur yang berlaku di masyarakat. Misalnya, pada saat proses pernikahan calon pasangan suami istri yang menikah di Kantor Urusan Agama (KUA), selalu dibacakan pernyataan yang tercantum dalam buku nikah10.2 tentang hak dan kewajiban pasangan suami dan istri.
1. ” … bahwa untuk membina rumahtangga bahagia, kedua pihak harus menjunjung
tinggi hak dan kewajiban masing-masing, saling hormat menghormati, sopan santun, saling bantu membantu, lapang dada, nasihat-menasihati, dapat memberi dan
FISIK AGAMA MATERI STATUS SOSIAL PENDIDIKAN KETURUNAN JARINGAN KERJA KEPRIBADIAN CINTA CHOOSE ME
menerima dan tidak mau menang sendiri, akan tetapi penuh pengertian dan cinta kasih dipayungi Ridha Tuhan yang pengasih ...”. 10.2
2. Selanjutnya saya mengucapkan sighat ta'lik atas istri saya seperti berikut: “ Sewaktu-waktu saya: (1) Meninggalkan istri saya tersebut dua tahun berturut-turut, (2) atau saya tidak memberi nafkah wajib kepadanya tiga bulan lamanya, (3) atau saya menyakiti badan/jasmani istri saya itu, atau (4) atau saya membiarkan (tidak memperdulikan) istri saya itu enam bulan lamanya, kemudian istri saya tidak ridla dan mengadukan halnya kepada pengadilan Agama atau petugas yang diberi hak mengurus pengaduan itu, dan pengaduannya dibenarkan serta diterima oleh pengadilan atau petugas tersebut, dan istri saya itu membayar uang sebesar Rp….. sebagai 'iwadl (pengganti) kepada saya maka jatuhlah talak satu kepadanya.” ...”.10.2
Kualitas Perkawinan
Kualitas perkawinan merupakan suatu derajat perkawinan yang dapat memberi kebahagiaan dan kesejahteraan bagi pasangan suami dan istri sehingga dapat menjaga kelestarian perkawinan. Kualitas perkawinan yang mencerminkan harmonisasi pasangan suami dan istri merupakan salah satu faktor yang mencegah adanya perceraian. Definisi kualitas perkawinan dapat dijelaskan secara garis besar sebagai berikut:
1. Kebahagiaan adalah keadaan subjektif pikiran, perasaan, kondisi dan pengalaman personal.
2. Konsep dimensi kualitas perkawinan berkaitan dengan penyesuaian dan keharmonisan sebagai proses untuk mencapai satu tujuan perkawinan, yaitu kebahagaian dalam kehidupan perkawinan (marital happiness in marriage).
a. Jadi perkawinan yang bahagia adalah perkawinan yang dilandasi dengan cinta (sebagai objek) dapat membuat orang merasakan kenikmatan (joy) terhadap apa yang diraihnya, tapi dengan tidak mengabaikan apa yang telah menjadi kebutuhan dasar manusia dalam rangka memenuhi kepuasannya.
b. Kemampuan untuk menghasilkan perasaan bahagia pada masing-masing individu suami istri berbeda tergantung pada kapasitas individu dalam menyesuaikan dan perasan empati serta kematangan sosial.
c. Penyesuaian suami dan istri tergantung pada kemampuan dan keefektifak komunikasi antara keduanya dalam melakukan peran instrumental atau ekspresif, dalam menyesuaiakan perilaku seksual dan dalam menyesuaikan prinsip-prinsip hidup.
Elemen terpenting yang dapat menentukan kualitas perkawinan adalah komunikasi. Komunikasi tersebut terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu: (1) Open and Honest Communication. Komunikasi tipe ini memperlihatkan ekspresi pasangan secara tepat dan tidak mencampuradukan pesan. Selain itu, komunikasi tipe ini memberikan kontribusi terhadap hubungan kualitas perkawinan, (2) Supportiveness. Komunikasi tipe ini memperlihatkan perlakuan seseorang terhadap orang lain yang sedang berbicara dengan penuh perhatian dan respect, dan (3) Self-Disclosure. Komunikasi tipe ini sama dengan tipe pertama (open and honesty), akan tetapi ada beberapa elemen perasaan dan emosi yang lebih kuat. Selain itu inti dari komunikasi ini adalah berbicara dengan orang lain mengenai ketakutan, harapan, dan keinginan (Kammeyer 1987).
Mackey and O‟Brien (Haseley 2006) menjelaskan lima komponen penting dalam kepuasan perkawinan, yaitu: (1) Tingkat konflik pasangan yang semakin tinggi akan
mengakibatkan tingkat kepuasan perkawinan yang semakin rendah, (2) Pengambilan keputusan secara bersama-sama terutama mengenai masalah anak dan pengasuhan akan meningkatkan tingkat kepuasan dalam perkawinan, (3) Komunikasi yang baik antar pasangan akan meningkatkan tingkat kepuasan perkawinan. Bahkan Halonen dan Santrock (1999) menyatakan bahwa pasangan yang mengalami kepuasan yang tinggi dalam perkawinannya memiliki rating tinggi dalam self-disclosure serta mengekspresikan cinta, dukungan dan perasaan, (4) Nilai-nilai hubungan seperti rasa saling percaya, menghargai, memahami, dan memiliki hak yang sama akan meningkatkan tingkat kepuasan perkawinan dan (5) Intimasi (baik fisik maupun psikologis) merupakan salah satu elemen penting dalam kepuasan perkawinan dapat mempengaruhi kualitas kepuasan dalam perkawinan.
Keberhasilan suatu perkawinan dicerminkan dari bertahannya suatu keluarga memelihara komitmen bersama, kebahagiaan yang dirasakan oleh pasangan suami istri, kepuasan suami istri dalam perkawinan, kesesuaian hubungan seksual antara suami istri, kesesuaian perkawinan dengan berbagai kondisi dan keadaan keluarga, dan integrasi diantara pasangan suami istri. Hal ini menandakan bahwa kualitas perkawinan merupakan kesamaan keseluruhan perasaan yang dirasakan oleh pasangan, bukan kepuasan yang hanya dirasakan oleh sebagian dari pasangan tersebut atau perseorangan (Burgess dan Locke, 1960). Faktor lingkungan seperti dukungan teman dan tetangga di sekitar tempat tinggal dapat membantu dalam memelihara tingginya kualitas perkawinan (Kammeyer 1987).
Faktor yang mempengaruhi kepuasan perkawinan adalah: (1) Status pekerjaan, tingkat pendidikan dan pendapatan, (2) Kepuasan terhadap pekerjaan, (3) Kesehatan mental dan fisik, (4) Besarnya kebersamaan untuk menghabiskan waktu luang dalam aktifitas, (5) Komunikasi verbal dan non verbal yang baik, (6) Mengekspresikan afeksi, (7) Adanya saling percaya antar pasangan, (8) Adanya perasaan nyaman terhadap harapan akan peran pasangan dalam pernikahan dan adanya peran yang fleksibel (Rice 1983).
Penyesuaian Interaksi Suami dan Istri dalam Perkawinan
Perubahan status dan peran dari bujangan menjadi berkeluarga menuntut suami dan istri untuk menyesuaikan diri (Gaambar 10.2). Perubahan ini mengakibatkan perubahan perkembangan tugas yang semakin kompleks. Setelah menikah, maka masing-masing individu mempunyai perkembangan tugas (development of tasks) baik untuk dirinya maupun untuk keluarganya (sebagai suami atau istri). Selanjutnya, setelah pasangan suami istri mempunyai anak, status, peran dan tugas semakin berkembang untuk keperluan masing-masing individu suami istri, keluarga beserta anak-anaknya.
Gambar 10.2. Perubahan status dan peran dari bujangan menjadi berkeluarga.
Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi pada dua atau lebih objek dengan saling mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi, sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat. Interaksi berasal dari kata action yang berarti tindakan, dan inter artinya berbalas-balasan.10.4 Interaksi suami istri merupakan sebuah hubungan timbal balik antara suami dan isteri yang memperlihatkan suatu proses pengaruh dan mempengaruhi. Keluarga mempunyai interaksi dan hubungan yang memberikan ikatan yang jauh lebih lama dibandingkan dengan kelompok asosiasi lainnya. Interaksi pasangan suami istri dikonsepkan ke dalam tiga komponen dasar yaitu (1) Kesesuaian dalam persepsi peran, (2) Timbal balik peran, (3) Kesetaraan fungsi peran (Saxton 1990).
Interaksi manusia dalam ilmu sosiologi, harus didahului oleh kontak dan komunikasi. Hubungan manusia ini kemudian saling mempengaruhi antar satu dengan yang lainnya melalui pengertian yang diungkapkan, informasi yang dibagi, semangat yang disumbangkan, yang semua pesannya membentuk pengetahuan. Model interaksi dari proses komunikasi menunjukkan pengembangan peran (role development), pengambilan peran (role taking), dan pengembangan diri sendiri (development of self) karena manusia berkembang melalui interaksi sosialnya. Komunikasi manusia tersebut pun terjadi dalam konteks budaya tertentu dan mempunyai batas-batas tertentu (Ruben 1988 dan Liliweri 1997 dalam Puspitawati 2006).
Adapun wujud interaksi antara suami dan istri adalah sebagai berikut:
1. Bonding dan kedekatan serta saling ketergantungan antara suami dan istri.
2. Kemitraan suami istri dalam mengelola sumberdaya keluarga baik keuangan keluarga, pengambilan keputusan tentang pembelian properti atau pendidikan anak, dan kerjasama dalam perencanaan kehidupan keluarga secara umum.
3. Komunikasi suami istri dalam melakukan pengasuhan anak-anaknya, komunikasi antar keluarga inti dengan keluarga keluarga besar, dan komunikasi antara keluarga inti dengan lingkungan masyarakat di sekitarnya.
4. Hubungan diadik yang seimbang antara suami dan istri dalam menciptakan rasa saling mencintai, menghormati, ketergantungan, menghargai dan berkomitmen dalam menjalankan fungsi-fungsi keluarga untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga lahir dan batin.
5. Dalam mempercepat proses penyesuaian status dan peran antara suami dan istri, maka masing-masing pihak harus melakukan proses imitasi, identifikasi, sugesti, motivasi, simpati dan empati antara satu dengan lainnya.
Berkaitan dengan tingkat kebahagiaan perkawinan terdapat 7 (tujuh) tipologi pasangan perkawinan, yaitu (Olson 1981):
1. Perkawinan pasangan tanpa vitalitas yang dicirikan dengan kondisi perkawinan yang labil dengan pasangan yang tidak merasa puas dengan perkawinannya. Pasangan tipe ini biasa menikah pada usia telalu muda, masih memiliki penghasilan rendah, dan biasanya berasal dari keluarga yang „berantakan‟.
2. Perkawinan pasangan finansial yang dicirikan dengan kondisi banyak konflik tidak terselesaikan, dan pasangan tidak merasa puas dengan komunikasi dalam perkawinan dan tidak puas dengan kepribadian masing-masing individu. Pasangan tipe ini lebih memprioritaskan karir daripada keluarga dan uang (finansial) menjadi sangat penting dalam kehidupan keluarga di atas esensi makna berkeluarga.
3. Perkawinan pasangan konflik yang dicirikan dengan kondisi tidak puas dalam berbagai aspek misalnya seksual, kepribadian pasangan, komunikasi, dan pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Pasangan tipe ini selalu diwarnai dengan konflik, sehingga mencari kepuasan dari dimensi eksternal, seperti memfokuskan pada hobi atau ritual keagamaan.
4. Perkawinan pasangan tradisional yang dicirikan dengan kondisi perkawinan yang stabil dengan pencapaian kepuasan dalam banyak aspek kehidupan keluarga, namun masih memiliki masalah serius dalam aspek komunikasi dan seksual. Kebahagian pasangan tipe ini lebih didasari atas aspek tradisional religius dan hubungan yang baik antara kedekatan kerabat atau keluarga besar dan teman-teman.
5. Perkawinan pasangan seimbang yang dicirikan dengan kepuasan yang cukup baik dalam komunikasi dan resolusi konflik karena pasangan ini lebih memprioritaskan keluarga dibandingkan dengan aspek lain, memiliki kepuasan yang setara antara suami istri dalam aspek aktifitas waktu luang, pengasuhan anak, dan seksualitas. 6. Perkawinan pasangan harmonis yang dicirikan dengan kepuasan perkawinan yang
diwujudkan dengan ekspresi kasih sayang, dan kepuasan seksual.
7. Perkawinan pasangan penuh vitalitas yang dicirikan dengan tingkat kepuasan yang tinggi didasari atas pasangan suami istri harmonis dalam menjalin hubungan dengan baik, kepribadian yang saling melengkapi, komunikasi yang baik, mencari solusi dari konflik, kepuasan secara seksual maupun secara finansial.
Berkaitan dengan perubahan jaman, Elkind (1994) membahas adanya pergeseran makna perkawinan antara masyarakat tradisional, modern dan post modern berkaitan dengan relasi gender. Perubahan jaman membawa perubahan sosial, ekonomi dan teknologi yang berakibat pada perubahan pandangan terhadap institusi keluarga. Perkawinan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sakral dan harus diperjuangkan/dipertahankan sampai maut memisahkan pasangan suami istri. Perubahan jaman memandang perkawinan sebagai suatu pilihan saja yang mempertimbangkan sisi rasional seperti keuntungan dan kerugian, bukan sebagai makna spiritual yang dijadikan pegangan dunia akhirat. Oleh karena itu perubahan jaman mengharuskan adanya perubahan pembagian peran dan strategi interaksi antara suami istri.
Perkembangan Peran Gender dalam Perkawinan
Keadaan perkawinan dan interaksi suami dan istri mempunyai banyak perkembangan peran gender sepanjang jaman mulai dari era tradisional, sampai ke era pasca modern. Berikut ini diuraikan perkembangan keluarga sepanjang jaman dengan peran gender sebagai berikut:
Tabel 10.1. Ilustrasi perkembangan keadaan keluarga tradisional, modern dan pasca modern.
No Traditional Modern Pasca Modern
1 Tipe keluarga umumnya adalah keluarga besar (extended family)
Tipe keluarga umumnya adalah keluarga inti (Nuclear
Family)
Banyak tipe keluarga yang keluarga komtemporer (Contemporer Family: single
parent, gay & lesbian families, Cohabitation)
2 Peran suami sebagai main
breadwinner, peran istri
sebagai ibu rumahtangga saja, biasanya usia suami lebih tua dari istri,
Peran suami sebagai main
breadwinner & biasanya
lebih tua dari istri; Peran istri mulai sebagai secondary
breadwinner sehingga
membentuk dual earner
families
Suami dan atau istri dapat sebagai main breadwinners; usia istri & suami dpt lebih tua/muda; Sebagian kecil peran istri
sebagai housewive; umumnya
dual earner families
3 Pembagian tugas sangat jelas dan kaku: suami bekerja di sektor publik, istri di sektor domestik, tidak ada istri yang bekerja di luar rumah
Pembagian kerja tidak terlalu kaku; suami masih tetap dominan di sektor publik namun mulai membantu di sektor domestik; istri dominan di sektor domestik namun mulai membantu di sektor publik
Pembagian kerja sangat flekibel; suami/istri dapat saling dominan di sektor publik, suami juga sangat membantu di sektor domestik
4 Tempat kerja dan tempat tinggal relatif berdekatan
Tempat tinggal dan tempat kerja cukup jauh (dapat lintas regional) dan sebagian pekerja 'melajo'
Tempat tinggal dan tempat kerja dapat sangat jauh (lintas
propinsi) atau (lintas negara) yang pulang secara reguler dalam waktu tertentu 5 Suami sehabis bekerja
langsung pulang
Suami/istri sehabis bekerja sekali-kali belanja dulu baru pulang
Suami/istri sehabis bekerja langsung pergi ke bar atau ke gymnasium, baru malamnya pulang
6 Bentuk keluarga umumnya keluarga berjumlah besar (tidak ada perencanaan
keluarga, anak umumnya berjumlah 5-11 orang)
Bentuk keluarga umumnya keluarga berjumlah sedang (ada perencanaan keluarga, umumnya jumlah anak 3-4 orang)
Bentuk keluarga umumnya keluarga berjumlah kecil (ada perencanaan keluarga, umumnya jumlah anak1-2 orang)
7 Pengasuhan anak umumnya tipe otoriter
Pengasuhan anak umumnya tipe demokratis
Pengasuhan anak umumnya tipe demokratis & permissive 8 Anak harus menurut dan
patuh pada orangtua
Anak mulai berani
berdiskusi dengan orangtua
Anak sangat berani bertengkar dengan orangtua, bahkan tidak mau tinggal bersama orangtua 9 Istri sangat menurut pada Istri mulai berani berdiskusi Istri sangat berani untuk
No Traditional Modern Pasca Modern suami; suami sangat
dominan dan terkesan seperti raja
dengan suami; suami tidak dominan; pasangan cukup setara
bertengkar dengan suami; tidak ada dominasi dari salah satu pihak
10 Suami sangat
mendominasi keluarga
Suami cukup
mengakomodasi keinginan istri dan anak-anak
Suami dan isteri berkedudukan dan berfungsi setara
11 Perkawinan umumnya dijodohkan; perkawinan mutlak harus dilakukan
Perkawinan adalah pilihan anaknya; perkawinan mulai menjadi pilihan
Perkawinan adalah pilihan anaknya, bahkan tidak harus menikah
12 Perkawinan adalah untuk selamanya
Perkawinan diusahakan untuk selamanya
Perkawinan tdk usah
dipertahankan apabila tidak layak lagi
13 Aborsi tidak diperkenankan
Aborsi mulai merupakan pilihan
Aborsi menjadi pilihan hak asasi manusia
14 Keperawanan adalah mutlak bagi seorang perempuan sebelum menikah
Keperawanan mulai tidak penting
Keperawanan bukan hal yang sakral lagi
15 Seks di luar nikah adalah tabu dan terlarang; Pendidikan seks adalah tabu
Seks adalah pilihan asal dapat menanggung resiko; Pendidikan seks mulai diajarkan sejak usia dini
Seks adalah hak asasi dan kebutuhan pendidikan seks diajarkan sejak usia dini
Kemitraan Gender dalam Perkawinan
Berdasarkan adanya trend perceraian, maka perkawinan yang dilandasi atas kesetaraan dan keadilan gender menjadi solusi yang tepat untuk saat ini. Interaksi suami dan istri yang didasari oleh kemitraan gender dalam mewujudkan harmonisasi keluarga adalah:
1. Berkaitan dengan proses pemenuhan kebutuhan biologis dan non-biologis.
2. Berkaitan dengan akses, partisipasi, kontrol dan manfaat terhadap sumberdaya keluarga.
3. Berkaitan dengan kemitraan gender (gender partnerships) untuk menjalankan fungsi keluarga menuju terwujudnya tujuan keluarga.
4. Menghindari perkawinan yang dilandasi oleh bias gender dengan segala bentuk diskriminasi, stereotype, marginalisasi (beri contoh-contoh).
Perkawinan yang responsif gender memberikan kesempatan yang adil kepada suami dan istri untuk menjalankan perannya dalam keluarga dan dalam melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan perannya tersebut secara setara, adil dan bijaksana. Kondisi perkawinan responsif gender ditunjukkan sebagai berikut:
1. Kedudukan suami dan istri adalah setara, yang artinya sejajar dalam arti sama-sama penting dan sama-sama berperan sesuai dengan pembagian peran yang disepakati. Konsep kesetaraan dalam perkawinan disini bukan sebagai suatu pemberontakan terhadap aturan budaya patriarki, namun sebagai suatu koreksi terhadap penyimpangan budaya patriarki yang digunakan oleh kaum lelaki untuk melanggengkan kekuasaan atas nama perkawinan.
2. Meskipun dalam budaya patriarki laki-laki atau suami adalah pemimpin, namun makna “pemimpin keluarga” sebagaimana yang dilabelkan oleh sistim budaya patriarkhi adalah bermakna “pemimpin bersama secara kemitraan (partnership)” antara suami dan istri dengan saling melengkapi kemampuan dan kelemahan
masing-masing. Jadi bukan kepemimpinan otoriter yang seakan-akan istri/ suami harus tunduk kepada kemauan salah satu pihak. Dengan demikian bentuk adil gender dalam keluarga diawali dari “Mitra kesejajaran/kesetaraan” antara suami dan istri (meskipun suami tetap menjadi pemimpin keluarga), yaitu masing-masing menjadi pendengar yang baik bagi pihak lain termasuk juga dari pihak anak-anak.10.5
3. Hubungan suami istri, bukanlah hubungan “ atasan dengan bawahan” atau “majikan dan buruh” ataupun “orang nomor satu (pemimpin) dan orang belakang (konco wingking atau orang dapur)”, namun merupakan hubungan pribadi-pribadi yang “merdeka (free–independent)”, pribadi-pribadi yang menyatu kedalam satu wadah kesatuan yang utuh yang dilandasi oleh saling membutuhkan, saling melindungi, saling melengkapi dan saling menyayangi satu dengan yang lain untuk sama-sama bertanggungjawab di lingkungan masyarakat dan dihadapan Tuhan Yang Maha Esa.10.5
4. Untuk suami, meskipun menurut sebagian besar adat dan norma serta agama adalah kepala rumahtangga atau pemimpin bagi istrinya, namun tidak secara otomatis suami boleh semaunya dengan sekehendak hatinya menjadi pribadi yang otoriter, menang sendiri, dan berkeras hati mempimpin keluarga tanpa mempertimbangkan kemauan dan kemampuan intelektual istrinya.10.5
5. Hak seorang istri adalah menghargai hak suaminya, begitupula sebaliknya hak seorang suami adalah menghargai hak istrinya. Pasangan suami istri yang harus menyadari bahwa haknya adalah sama dan setara. Adapun kewajiban seorang istri yang harus patuh pada perintah suami dimaknai sebagai ungkapan penghargaan terhadap pemimpin keluarga. Namun demikian, suami juga harus membalas kepatuhan sebagai kewajiban istri dengan menjaga dan menghargai martabat istri sebagai orang merdeka yang dengan sadar patuh kepada suaminya.
6. Status sebagai suami atau istri tidak berarti menghambat atau menghalangi masing-masing pihak dalam mengaktualisasikan diri secara positif (suami dan istri memang sudah mempunyai pekerjaan sebelum menikah, dan masing-masing mempunyai kemampuan intelektual dan ketrampilan masing-masing). Masing-masing mempunyai hak dan kewajiban untuk berperan serta dalam segala bidang di masyarakat. Justru, kalau memungkinkan, status baru suami istri dapat mendukung satu sama lain dalam melaksanakan peranserta individu dalam masyarakat.10.5
7. Suami dan istri harus mampu mengatur waktu dan berinteraksi dengan baik serta dapat berbagi tugas dalam menjalankan perannya masing-masing secara adil dan seimbang, karena pada hakekatnya semua urusan rumahtangga, baik aspek produktif, domestik, dan sosial kemasyarakatan, serta kekerabatan adalah urusan bersama dan tanggung jawab bersama suami istri. Oleh karena itu, kemampuan mengendalikan diri dan kemampuan bekerjasama didasari saling pengertian adalah kunci utama dalam membina kebersamaan.10.5
8. Masing-masing pihak mampu untuk mengenali „anatomi dan fisiologi istri/suami‟ atau „genotip dan fenotip istri/suami‟. Tipe perempuan yang mana yang cocok diperistri oleh seorang suami tergantung dari kecocokan kepribadian kedua belah pihak. Terdapat 3 (tiga) tipe perempuan, yaitu:
a. Perempuan Tipe 1 adalah perempuan yang mempunyai talenta tinggi dan sifat profesional yang tidak kalah dengan laki-laki, dengan demikian, tipe perempuan seperti ini adalah perempuan yang berkeinginan dan berkemampuan untuk bekerja mencari nafkah (Tipe 1= harus bekerja).
b. Perempuan Tipe 2 adalah perempuan yang mempunyai cukup talenta namun tidak terlalu ingin bekerja untuk mencari nafkah namun tidak terlalu bersedia menjadi ibu rumahtangga saja, dengan demikian, tipe perempuan seperti ini
adalah perempuan yang tidak terlalu berkeinginan dan berkemampuan untuk bekerja mencari nafkah (Tipe 2= tidak harus bekerja; bekerja tidak apa-apa; tidak bekerja juga tidak apa-apa).
c. Perempuan Tipe 3 adalah perempuan yang cukup mempunyai talenta, namun tidak berkeinginan dan kurang berkemampuan untuk bekerja mencari nafkah (Tipe 3= ibu rumahtangga saja).
Dengan demikian, baik suami atau istri mampu untuk mengidentifikasi diri masing-masing dan mampu untuk menguraikan konsekuensi dari identitas diri tersebut (Gambar 10.4), misalnya:
1. Konsekuensi dari Perempuan Tipe 1 bagi Suami adalah perempuan tersebut akan mengembangkan karirnya; Perempuan cenderung mandiri secara finansial; Perempuan akan mensubstitusi peran domestik dan pengasuhan anak pada orang lain; Perempuan akan sering meninggalkan rumah untuk bekerja.
2. Konsekuensi dari Perempuan Tipe 2 bagi Suami adalah perempuan tersebut tidak akan mengembangkan karirnya; Perempuan kurang mandiri secara finansial; Perempuan masih cenderung melakukan peran domestik dan pengasuhan anak; Perempuan tidak akan sering meninggalkan rumah untuk bekerja.
3. Konsekuensi dari Perempuan Tipe 3 bagi Suami adalah perempuan tersebut tidak akan bekerja; Perempuan sangat tergantung pada suami secara finansial; Perempuan akan tinggal di rumah untuk melakukan peran domestik dan pengasuhan anak; Perempuan akan selalu tinggal di rumah.
Hal lain yang sangat sensitif berkaitan dengan hubungan personal suami istri adalah hubungan seksual. Hubungan jasmani antara suami istri tidak boleh ada unsur pemaksaan, misalnya suami memaksa istri untuk melakukan hubungan intim, dan sebaliknya istri memaksa suami untuk melakukan hubungan intim.10.5 Hubungan intim dalam perkawinan adalah hubungan secara fisik, psikologis, dan spiritual dalam rangka prokreasi untuk meneruskan keturunan. Oleh karena itu, hubungan intim dalam perkawinan dipandang sebagai suatu simbul saling memberi, saling menyenangkan dan saling menjaga hubungan antara suami istri.
Dalam rangka proses penyesuaian semua perbedaan dan persamaan personalitas ini, maka suami dan istri harus secara cermat dan sistimatis melakukan langkah-langkah progresif dalam mempertahankan perkawinan. Persamaan yang harus disadari oleh suami dan istri adalah berkaitan dengan kebutuhan umum (general needs) yang terdiri atas kebutuhan fisik, sosial-ekonomi, psikologi/emosi, dan spiritual. Adapun perbedaan antara suami dan istri didasari atas perbedaan kebutuhan khusus (specific needs) yang berkaitan dengan perbedaan hormonal, alat reproduksi dan fungsi biologis. Perbedaan lainnya adalah yang berkaitan dengan personalitas individu dan nilai-nilai individu.
Hubungan dalam perkawinan harus dibina oleh pasangan suami istri melalui aktivitas sebagai berikut (Boehi et al. 1997: 41, 42):
1. Mendiskusikan harapan dan merencanakan masa depan keluarga serta menyelesaikan permasalahan yang dihadapi secara bersama.
2. Membuat keputusan akan perencanaan kehidupan keluarga secara bersama baik berkaitan dengan keuangan, pembelian rumah, pemeliharaan rumah, hubungan social kemasyarakatan dan kehidupan spiritual.
3. Melakukan pengasuhan terhadap anak secara bersama yang berkaitan dengan perilaku sebagai berikut:
a. Sikap orangtua terhadap anak-anak harus dikoordinasikan dan diteladani dengan baik.
b. Siapa yang berperan menjadi pengasuh dan pendidik utama anak, apakah ibu atau ayah atau keduanya?
c. Bagaimana strategi orangtua dalam mendisiplinkan anak? Bagaimana kedua orangtua melakukan pembagian tugas dan tanggung jawab dalam mengasuh dan mendidik anaknya?
4. Bagaimana pasangan berdoa untuk memadukan kedua hati dalam perkawinan.
a. Kekuatan kehidupan apa yang dipandang oleh suami istri dalam mempertahankan perkawinan?
b. Kelemahan apa yang dipandang oleh suami istri dalam melihat tantangan untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam perkawinan?
5. Pasangan suami istri wajib untuk memelihara komitmen bersama untuk mempertahankan dan memelihara perkawinan melalui pengukuhan ikatan perkawinan.
6. Pasangan suami istri wajib juga untuk melakukan perencanaan keluarga dalam hal keuangan, pendidikan anak, dan investasi/tabungan.
7. Pasangan suami istri harus membina hubungan dengan keluarga besar baik dari pihak suami atau istri. Keluarga besar harus ditempatkan secara sejajar dan adil, artinya tidak boleh ada diskriminasi sosial antara keluarga besar dari pihak suami atau istri. 8. Dalam rangka memenyikapi pelaksanaan sistem patriarki, maka suami istri tetap
menjunjung tinggi sistem patriakhi namun dalam pelaksanaannya suami istri mempunyai kedudukan yang setara dalam menjalankan fungsi-fungsi keluarga untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga lahir dan batin.
Tabel 10.2. Perbedaan mekanisme kerja otak antara laki-laki dan perempuan (Brizendin 2006).
Perempuan Laki-laki
Menggunakan sekitar 20 000 kata per hari Menggunakan sekitar 7 000 kata per hari Mengingat rincian pertengkaran Tidak dapat diingat sama sekali
Pikiran tentang seks di otak perempuan setiap dua hari sekali
Setiap menit
Tahu apa yang dirasakan orang lain Tidak dapat melihat emosi kecuali seseorang menangis
Cenderung membentuk ikatan yang lebih dalam dengan teman perempuan
Cenderung kurang membentuk ikatan yang lebih dalam dengan teman lelaki
Mengingat perbedaan antara laki-laki dan perempuan di atas, maka dapat dimaknai adanya kelebihan dan kelemahan psikologi antara laki-laki dan perempuan sebagai berikut (Kimmel & Aronso: 22):
1. Perempuan mempunyai penghargaan diri (self-esteem) yang lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki.
2. Perempuan tidak menghargai semua usahanya sebanyak laki-laki.
3. Perempuan mempunyai rasa percaya diri (self-confident) yang lebih rendah dari laki-laki
4. Perempuan lebih cenderung untuk mengatakan bahwa dirinya “terluka (hurt)” dari pada mengakui bahwa dirinya “marah (angry)”.
5. Perempuan mempunyai kesulitan mengembangkan perasaan “memisahkan perasaan diri (separate sense of self)”
6. Laki-laki cenderung lebih angkuh dan sombong dibandingkan dengan perempuan. 7. Laki-laki cenderung menilai terlalu tinggi terhadap pekerjaan yang dilakukan. 8. Laki-laki tidak serealistis seperti perempuan di dalam mengukur kemampuannya.
9. Laki-laki cenderung untuk menuntut (accuse) dan menyerang oranglain pada saat tidak senang daripada berkata bahwa dirinya merasa terluka dan mengundang simpati. 10. Laki-laki cenderung mempunyai kesulitan dalam membentuk dan memelihara kontak
hubungan (attachments)
Apabila dilihat berdasarkan komponen kualitas perkawinan yang terdiri atas kebahagiaan dan kepuasan, maka terdapat 4 tipologi kepuasan dalam perkawinan dan contoh-contoh kondisinya:
1. Tipe Kualitas Perkawinan A: Istri bahagia dan puas; Suami bahagia dan puas dicontohkan dengan keadaan:
a. Ada kesetaraan dalam menikmati kebahagiaan dan kepuasan manfaat dari esensi berkeluarga baik suami atau istri.
b. Anak-anak merasa nyaman dan aman serta stabil dalam melihat kesetaraan kebagaiaan dan kepuasan antara ayah dan ibunya dalam hal kondisi fisik, dan psikologinya.
c. Anak-anak sangat puas dan bahagia dengan kondisi fisik, dan psikologinya serta puas terhadap interaksi dengan orangtuanya.
d. Masing-masing suami dan istri puas dan bahagia dengan semua keadaan keluarga baik materi, sumberdaya keluarga, kondisi kesehatan keluarga, kondisi psikologi dan spiritual keluarga.
e. Istri puas dengan komunikasi dan interaksi hubungan fisik, dan sosial psikologi dengan suaminya, begitu pula suaminya puas dengan hubungan fisik, dan sosial psikologi dengan istrinya.
f. Istri dan suami puas dengan gaya manajemen sumberdaya keluarga dan proses pengambilan keputusan dalam menggunakan sumberdaya tersebut.
2. Tipe Kualitas Perkawinan B: Istri bahagia dan puas; Suami tidak bahagia dan tidak puas
dicontohkan dengan keadaan:
a. Ada ketidaksetaraan dalam menikmati kebahagiaan dan kepuasan manfaat dari esensi berkeluarga, terutama dari pihak suami.
b. Anak-anak merasa bingung melihat ketidaksetaraan kebahagiaan dan kepuasan antara ayah dan ibunya dalam hal kondisi fisik, dan psikologinya. c. Konflik suami istri dan konflik keluarga inti dalam waktu jangka pendek
sampai menengah.
d. Istri merasa puas dan bahagia dengan semua keadaan keluarga baik materi, sumberdaya keluarga, kondisi kesehatan keluarga, kondisi psikologi dan spiritual keluarga, namun suami merasa tidak puas dan bahagia.
e. Istri merasa puas dengan komunikasi dan interaksi hubungan fisik, dan sosial psikologi dengan suaminya, namun suami tidak merasa puas dengan hubungan fisik, dan sosial psikologi dengan istrinya.
f. Istri merasa puas dengan gaya manajemen sumberdaya keluarga dan proses pengambilan keputusan dalam menggunakan sumberdaya tersebut, namun suami tidak merasa puas dengan semua gaya manajemen keluarga.
3. Tipe Kualitas Perkawinan C: Istri tidak bahagia dan tidak puas;Suami bahagia dan puas
dicontohkan dengan keadaan:
a. Ada ketidaksetaraan dalam menikmati kebahagiaan dan kepuasan manfaat dari esensi berkeluarga, terutama dari pihak istri.
b. Anak-anak merasa bingung melihat ketidaksetaraan kebahagiaan dan kepuasan antara ayah dan ibunya dalam hal kondisi fisik, dan psikologinya.
c. Konflik suami istri dan konflik keluarga inti dalam waktu jangka pendek sampai menengah.
d. Suami merasa puas dan bahagia dengan semua keadaan keluarga baik materi, sumberdaya keluarga, kondisi kesehatan keluarga, kondisi psikologi dan spiritual keluarga, namun istri merasa tidak puas dan bahagia dengan semua keadaan keluarga.
e. Suami merasa puas dengan komunikasi dan interaksi hubungan fisik, dan sosial psikologi dengan istrinya, namun istri tidak merasa puas dengan hubungan fisik, dan sosial psikologi dengan suaminya.
f. Suami merasa puas dengan gaya manajemen sumberdaya keluarga dan proses pengambilan keputusan dalam menggunakan sumberdaya tersebut, namunistri tidak merasa puas dengan semua gaya manajemen keluarga.
4. Tipe Kualitas Perkawinan D: Istri tidak bahagia dan tidak Puas; Suami tidak bahagia dan tidak puas dicontohkan dengan keadaan:
a. Ada kesetaraan dalam menikmati ketidakbahagiaan dan ketidakpuasan manfaat dari esensi berkeluarga, baik dari pihak suami maupun istri.
b. Anak-anak merasa bingung melihat ketidakbahagiaan dan ketidakpuasan antara ayah dan ibunya dalam hal kondisi fisik, dan psikologinya.
c. Kondisi tipe kualitas perkawinan D cenderung untuk memicu konflik suami istri dan konflik keluarga inti dalam waktu jangka pendek.
d. Baik istri maupun suami tidak merasa puas dan bahagia dengan semua keadaan keluarga baik materi, sumberdaya keluarga, kondisi kesehatan keluarga, kondisi psikologi dan spiritual keluarga.
e. Baik istri maupun suami merasa tidak puas dengan komunikasi dan interaksi hubungan fisik, dan sosial psikologi dengan suaminya.
f. Baik istri maupun suami merasa tidak puas dengan gaya manajemen sumberdaya keluarga dan proses pengambilan keputusan dalam menggunakan sumberdaya tersebut.
Berikut ini disajikan Tabel 10.3 tentang ilustrasi alternatif strategi penyesuaian antara harapan dan kenyataan dengan alternatif hasil kualitas perkawinan.
Tabel 10.3 Ilustrasi strategi penyesuaian dan tipe kualitas perkawinan.
Strategi Coping Penyesuaian yang Telah Dilaksanakan
Sebelumnya Tipe Kualitas Perkawinan
Coping Tipe A: Suami dan Istri berusaha keras untuk saling melengkapi dan menurunkan standar harapan dan menikmati maksimal hasil kenyataan yang ada setelah berusaha maksimal.
Tipe Kualitas Perkawinan A: Istri Bahagia & Puas;
Suami Bahagia & Puas Coping Tipe B: Istri berusaha keras untuk melengkapi dan
menurunkan standar harapan dan menikmati maksimal hasil kenyataan yang ada setelah berusaha maksimal, tetapi suami kurang berusaha keras untuk melakukan penyesuaian seperti istrinya.
Tipe Kualitas Perkawinan B: Istri Bahagia & Puas;
Suami tidak bahagia & tidak puas
Coping Tipe C: Suami berusaha keras untuk melengkapi dan menurunkan standar harapan dan menikmati maksimal hasil kenyataan yang ada setelah berusaha maksimal, tetapi istri kurang berusaha keras untuk melakukan penyesuaian seperti suaminya.
Tipe Kualitas Perkawinan C: Istri tidak bahagia & tidak puas Suami Bahagia & Puas
Coping Tipe D: Suami dan Istri masing-masing kurang berusaha keras untuk saling melengkapi dan menurunkan
Tipe Kualitas Perkawinan D: Istri tidak Bahagia & tidak Puas
standar harapan dan menikmati maksimal hasil kenyataan yang ada.
Suami tidak Bahagia & tidak Puas
Berkaitan dengan ketahanan perkawinan dalam mewujudkan harmonisasi keluarga. Semakin setara dan berkeadilan antara suami istri dalam menjalankan kemitraan peran gendernya, maka semakin mencerminkan transparansi, akuntabilitas dan good governance di tingkat keluarga. Semakin tinggi kemitraan gender berarti semakin erat hubungan fungsional dan interaksi antara suami dan istri dan semakin tinggi bonding dan saling ketergantungan yang akhirnya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam harmonisasi keluarga.
Gambar 10.8. Hubungan kemitraan gender dan harmonisasi keluarga. Asumsi:
1. Kemitraan gender adalah baik untuk mewujudkan tujuan bersama laki-laki dan perempuan.
2. Kemitraan gender dalam menjalankan peran dan fungsi memungkinkan adanya keterbukaan/ transparansi dalam manajemen sumberdaya keluarga.
3. Kesetaraan dan keadilan gender memperlancar kerjasama antar individu dan menurunkan tingkat kesalahpaahaman dan konflik dalam keluarga.
Harmonisasi keluarga tidak terlepas dari tahapan perkembangan keluarga yang mempunyai standar kebutuhan dan permasalahan serta keterbatasan masing-masing tahapan. Tahapan Perkembangan Keluarga menurut Duvall (1957) ada 8 tahapan yaitu tahapan perkawinan (married couple), tahapan mempunyai anak (childbearing), tahapan anak berumur preschool (Preschool age), tahapan anak berumur Sekolah Dasar (school age), tahapan anak berumur remaja (teenage), tahapan anak lepas dari orangtua (launching center), tahapan orangtua umur menengah (middle-aged parents), dan tahapan orangtua umur manula (aging parents).
Kemitraan gender dalam keluarga mencerminkan transparansi, akuntabilitas dan good governance di tingkat keluarga; Semakin tinggi kemitraan gender berarti semakin erat hubungan fungsional dan interaksi antara suami dan istri dan semakin tinggi bonding dan saling ketergantungan yang akhirnya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam harmonisasi keluarga.
Tabel 10.4. Penjabaran tahapan perkembangan keluarga berdasarkan perspektif gender.
No Tahapan
Perkembangan Perspektif Gender dalam Perkembangan Tugas di Setiap Tahapan 1 Perkawinan
(married
couple)
Suami istri berperan dan bertugas untuk mengukuhkan perkawinan dan mulai melaksanakan komitmen sesuai dengan kontrak sosial perkawinan untuk menjalankan fungsi-fungsi keluarga dan membentuk sebuah keluarga baru.
2 Mempunyai anak
(childbearing)
Suami dan istri berbagi peran dan tugas untuk menjalankan fungsi pengasuhan, pemeliharaan dan pendidikan anak-anaknya. Pembagian peran dan tugas di sektor publik juga harus dilakukan untuk meningkatkan fungsi ekonomi dan perlindungan anak dan keluarga.
3 Anak berumur preschool (Preschool age)
Suami dan istri berbagi peran dan tugas untuk menjalankan fungsi pengasuhan, pemeliharaan dan pendidikan anak-anaknya usia preschool. Mulai dipikirkan perencanaan keuangan untuk investasi anak dalam hal kesehatan dan pendidikan serta jaminan sosial anak. Pendidikan karakter sejak usia dini sudah menjadi keharusan bagi peran ayah dan ibu. Pembagian peran dan tugas di sektor domestik harus disepakati oleh suami dan istri, terutama dalam hal pemeliharaan kesehatan dan perkembangan anak.
Pembagian peran dan tugas di sektor publik dapat dinegosiasi antara suami istri sesuai dengan kesepakatan, mengingat anak-anaknya masih kecil yang memerlukan kehadiran fisik dari ibu.
4 Anak berumur Sekolah Dasar (school age),
Suami dan istri berbagi peran dan tugas untuk menjalankan fungsi pengasuhan, pemeliharaan dan pendidikan anak-anaknya usia sekolah dasar. Pendidikan anak menjadi lebih prioritas, termasuk pendidikan dari sisi kognitif akademik maupun pendidikan karakter. Pembagian tugas suami dan istri di sektor domestik sudah mulai dapat didelegasikan sebagian kepada anaknya yang sekolah di sekolah dasar. Pengasuhan anak usia SD dengan gaya demokratis harus melibatkan ayah dan ibu. Pembagian peran dan tugas suami dan istri di sektor publik lebih dapat dinegosiasi dengan baik mengingat anak sudah semakin besar yang tidak terlalu banyak memerlukan kehadiran fisik ibunya.
5 Anak berumur remaja
(teenage),
Suami dan istri berbagi peran dan tugas untuk menjalankan fungsi pengasuhan, pemeliharaan dan pendidikan anak-anaknya usia sekolah menengah. Pendidikan anak menjadi lebih prioritas karena anak akan memasuki masa dewasa dalam waktu dekat. Pendidikan karakter dan pendidikan seks sudah harus dibekali pada anak berumur remaja agar terhindar dari perbuatan asusila dan terkena penyakit kelamin yang menular. Pembagian tugas suami dan istri di sektor domestik sudah banyak didelegasikan pada anak remajanya. Pengasuhan anak usia remaja dengan gaya demokratis yang melibatkan ayah dan ibu harus semakin diterapkan dengan fokus pada peningkatan kesadaran anak remaja dalam mengemban tanggung jawab sesuai dengan peran dan tugasnya. Pembagian peran dan tugas suami dan istri di sektor publik lebih dapat dinegosiasi dengan baik mengingat anak sudah remaja. Pada masa remaja ini kebutuhan financial akan semakin tinggi dibandingkan pada saat anak usia SD. Dengan demikian optimalisasi fungsi ekonomi antara suami dan istri sangat dibutuhkan.
6 Anak lepas dari orangtua
(launching center),
Suami dan istri berbagi peran dan tugas baik di sector domestik maupun di sektor publik. Mengingat anak sudah memasuki masa dewasa dan sudah tidak tinggal lagi bersama ayah dan ibu, maka kebutuhan untuk pekerjaan sektor domestik tidak setinggi pada saat anak masih tinggal serumah
No Tahapan
Perkembangan Perspektif Gender dalam Perkembangan Tugas di Setiap Tahapan dengan orangtua. Kebutuhan finansial semakin meningkat pada masa anak dewasa dibandingkan dengan anak masa remaja karena anak sudah memasuki masa kuliah di universitas. Gaya pengasuhan yang diterapkan sebaiknya tetap gaya demokratis yang melibatkan ayah dan ibu dengan komunikasi dan interaksi jarak jauh dengan penekanan peningkatan kesadaran anak yang sudah masuk usia dewasa untuk mengemban tanggung jawab sesuai dengan peran dan tugasnya.
7 Orangtua umur menengah (middle-aged
parents),
Suami dan istri sudah memasuki masa usia dewasa akhir dengan kondisi anak-anaknya yang sudah mulai menikah dan membentuk keluarga baru. Suami dan istri tetap berbagi peran dan tugas khususnya untuk membina hubungan dengan keluarga anak-anaknya dan keluarga besarnya. Suami istri melakukan pekerjaan domestik yang semakin fokus untuk dirinya sendiri. Suami dan istri pada usia ini memasuki usia sangat produktif dan sebentar lagi siap-siap untuk memasuki masa pensiun. Kebutuhan untuk memelihara kesehatan menjadi prioritas. Menjaga interaksi dan komunikasi dengan anak-anak serta cucu-cucu juga menjadi kebutuhan rutin suami istri di masa umur dewasa akhir ini.
8 Orangtua umur manula (aging
parents).
Suami dan istrisudah memasuki masa lanjut usia. Suami dan istri tetap berbagi peran dan tugas khususnya untuk membina hubungan dengan keluarga anak-anaknya dan keluarga besarnya. Suami istri melakukan pekerjaan domestik yang semakin fokus untuk dirinya sendiri. Suami dan istri pada usia ini memasuki masa pension dengan jumlah pendapatan yang semakin menurun. Kebutuhan untuk memelihara kesehatan menjadi prioritas. Menjaga interaksi dan komunikasi dengan anak-anak serta cucu-cucu juga menjadi kebutuhan rutin suami istri di masa umur lanjut usia ini.