• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISSN: AGRINEÇA, VOL., 10 NO. 2 JULI 2010

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ISSN: AGRINEÇA, VOL., 10 NO. 2 JULI 2010"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

162 PENGARUH DOSIS PUPUK P DAN PUPUK KANDANG KERBAU

TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG HIBRIDA

(Zea mays. L)

INFLUENCE OF DOSAGE FERTILIZER P AND BUFFALO MANURE TO GROWTH AND RESULT OF PLANT HYBRID CORN

(Zea mays. L)

Sumarto1, Teguh Supriyadi2, Agus Budiono3 ABSTRACT

The research aim to know influence of dosage fertilizer Phosphor SP36) and buffalo manure to growth and result plant hybrid corn. Research was conducted since February until Juny 2008 in Kedokan Sayang Village, Sub District Tarub, District Tegal, Central Java, Altitude 25 meters from sea surface with soil type alluvials, in the Laboratory of Agriculture Faculty, Tunas Pembangunan University. Temperature 29 – 32 º C. Research used the factorial with based pattern RCBD (Randomized Completely Block Design) consist of 2 treatment factor with 3 times restating. Results of research indicates that : (1) Fertilization dosage with fertilizer SP36 influentially very significant to weight total fresh plant, weight total dry plant, number of seeds per cob, weight dry minner per plant, weight dry minner per plot and weight dry minner per 100 seeds. (2) Fertilization dosage with buffalo manure influentially significant to hight of plant and hight of 100 seeds (3) Interaction between fertilization dosage with fertilizer SP36 and buffalo manure influentially significant to hight of 100 seeds. (4) Highest dry minner seeds weight 5,467 Kg/plot (9,719 ton/Ha) obtained at treatment of P2K2 combination of fertilizer dosage SP36 150 Kg/Ha with buffalo manure 15 ton/Ha, and lowered by 3,833 Kg/plot (6.6614 ton/Ha) obtained at treatment of P0K2 combination of fertilizer dosage SP36 0 Kg/Ha with buffalo manure 15 ton/Ha

Key words: Hybrid corn P21, dosage fertilizer SP36 , dosage buffalo manure

1

Mahasiswa Program Studi Agroteknologi, Fak. Pertanian, Univ. Tunas Pembangunan Surakarta

2

Staff Pengajar Fakultas Pertanian, Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

3

(2)

163 PENDAHULUAN

Potensi peningkatan produktivitas jagung masih berpeluang besar bila menanam jagung varietas unggul dan jagung hibrida. Jagung varietas unggul mempunyai potensi hasil antara 4,5 – 5,7 ton/hektar, bahkan varietas jagung hibrida dapat mencapai lebih dari 6,0 ton/hektar. Meskipun demikian, rata-rata produksi jagung nasional yang dicapai sekarang sekitar 2,17 ton/ha, (Anonim, 2006) masih jauh lebih rendah daripada potensi daya hasil varietas-varietas unggul. Menurut Rukmana (2003) rendahnya hasil rata-rata jagung nasional, antara lain disebabkan belum meluasnya penanaman varietas-varietas unggul dan belum memperhatikan penggunaan benih berkualitas di tingkat petani. Selain itu, pengelolaan tanaman dan lingkungan dalam budidaya tanaman jagung, misalnya teknik bercocok tanam, pemupukan dan pengendalian hama penyakit belum sesuai dengan paket teknologi maju yang berkembang di lapangan atau teknologi hasil penelitian.

Selain masih banyak pengusahaan jagung jenis lokal, petani juga masih belum banyak melakukan pemupukan yang sesuai baik dalam dosis maupun

jenis pupuk yang digunakan.. Pupuk berperan penting dalam proses fisiologis tanaman. Pemupukan yang tepat baik dosis dan waktu pemberiannya yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dapat mengoptimalkan proses-proses fisiologi tersebut. Proses fisiologis yang optimal dapat mendorong tanaman untuk memberikan respon pertumbuhan, hasil, dan kualitas yang optimal pula.

Salah satu unsur makro pupuk yang penting bagi tanaman jagung adalah unsur fosfor (P). Unsur fosfor di daerah tropis merupakan unsur hara pembatas pertumbuhan dan produksi tanaman yang menempati urutan ketiga setelah air dan nitrogen. Fosfor berperan penting dalam proses pertumbuhan dan produksi tanaman karena mampu menyediakan energi kimiawi yang dibutuhkan pada kegiatan metabolisme tanaman (Ismail et al., 2001). Unsur fosfor membantu dalam pertumbuhan vegetatif tanaman, karena unsur fosfor mempunyai peranan penting dalam proses fisilogi tanaman. Unsur fosfor diperlukan tanaman dalam transfer energi, sehingga tanaman yang kekurangan unsur hara fosfor akan tumbuh kerdil dan kurus (Gardner et al., 1991).

(3)

164 Dengan demikian unsur fosfor

akan menentukan hasil tanaman baik dalam bentuk penampakan vegetatif seperti tinggi tanaman dan luas daun yang akhirnya meningkatkan jumlah klorofil, maupun hasil asimilat seperti berat kering jaringan tajuk, akar dan brangkasan. Unsur fosfor juga menentukan produksi karena fungsinya selain penyedia energi kimiawi juga meningkatkan serapan nitrogen yang dibutuhkan dalam pembentukan jaringan vegetatif dan hasil biji jagung serta kualitas hasil biji tersebut..

Selain penggunaan pupuk P, tanah – tanah tertentu juga membutuhkan penambahan pupuk organik. Peranan pupuk organik mencakup 3 aspek karakter tanah yang penting yaitu berupa perbaikan sifat fisik tanah, sifat kimia tanah dan sifat biologi tanah. Salah satu pilihan dari sekian banyak jenis pupuk organik ialah pupuk kandang kerbau. Penggunaan pupuk kandang kerbau sangat membantu petani karena kebanyakan petani masih mengandalakan kerbau sebagai alat Bantu pengolahan tanah. Menurut Kemas Ali Hanafiah (2005) jumlah dan komposisi kotoran segar ternak kerbau per 0,5 ton bobot hidup yaitu air = 86%; N = 4,85 kg;

P = 1,40 kg; K = 4,75 kg. Komposisi ini memungkinkan terjadinya perbaikan sifat kimia tanah yaitu berupa penambahan unsure hara kedalam tanah meskipun dalam jumlah relative sedikit. Meskipun sumbangan unsure hara kedalam tanah relative kecil, peranan pupuk kandang sangatlah penting bagi perbaikan sifat fisik tanah. Salah satu pupuk kandang alternative yang sangat layak digunakan ialah pupuk kandang kerbau, karena selain mudah didapat juga kotoran kerbau mengandung sejumlah unsur hara esensiil. Dari uraian diatas maka perlu dilakukan penelitian penggunaan pupuk P dan pupuk kerbau pada beberapa dosis guna meningkatkan hasil tanaman jagung. Penelitian ini bertujuan: (1)Untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk P terhadap pertumbuhan dan hasil Tanaman jagung hibrida (2)Untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kandang kerbau terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung hibrida (3) Untuk mengetahui pengaruh interaksi kombinasi perlakuan dosis pupuk P dan dosis pupuk kandang kerbau terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung. Diduga dengan perlakuan dosis pupuk SP 36 150 kg /ha dan pupuk kandang kerbau 20 ton/ha akan

(4)

165 diperoleh pertumbuhan dan hasil tertinggi

pada tanaman jagung hibrida.

METODE PENELITIAN

Pelaksanaan penelitian direncanakan akan dilaksanakan di Desa Kedokan Sayang, Kecamatan Tarub, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada ketinggian tempat  50 m dpl dengan jenis tanah Aluvial. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2008 sampai dengan bulan Mei 2008.

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan metode faktorial, terdiri dari 2 faktor perlakuan dengan 3 kali ulangan. Adapun perlakuan tersebut adalah sebagai berikut : Faktor I adalah dosis pupuk K, terdiri dari 4 taraf :P0: 0 kg/Ha, P2 : 75 kg/Ha, P3: 150 kg/Ha, dan P4: 225 kg/Ha. Faktor II adalah dosis pupuk kandang ayam, terdiri dari 3 taraf yaitu : K1: 10 ton/Ha, K2 : 15 ton/Ha, dan K3 : 20 ton/Ha. Pengamatan meliputi : Tinggi tanaman, Berat kering brangkasan, Jumlah baris per tongkol,

Jumlah biji per baris, Berat pipilan kering per tanaman dan Berat per 1000 biji pipilan kering.

Data penelitian dianalisis dengan menggunakan Analisis Ragam (ANOVA). Terhadap peubah-peubah yang mempunyai pengaruh, maka analisisnya dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pengaruh Dosis Pupuk P dan Pupuk Kandang Kerbau Serta Kombinasi Perlakuan Trehadap komponen Pertumbuhan Jagung

Hasil uji jarak berganda Duncan pengaruh dosis pupuk P dan pupuk kandang kerbau serta kombinasi perlakuan terhadap komponen pertumbuhan jagung tersaji pada tebel 1.

(5)

166 Tabel 1. Uji jarak berganda Duncan 5% pengaruh dosis pupuk dan pupuk kandang kerbau serta kombinasi kedua perlakuan terhadap komponen pertumbuhan.

Perlakuan Parameter pertumbuhan Tinggi Tan (cm) Berat bsh brangksn (g) Berat krg Brangksn (g) P0 P1 P2 P3 192,622a 191,933a 196,800a 196,000a 238,689c 275,889b 306,978a 307,311a 109,178c 113,844b 120,067a 122,289a K1 K2 K3 190,167b 196,033a 196,817a 274,600a 281,350a 290,700a 114,333b 117,033ab 117,667a P0K1 P0K2 P0K3 P1K1 P1K2 P1K3 P2K1 P2K2 P2K3 P3K1 P3K2 P3K3 186,267b 195,133ab 196,467ab 186,000b 195,200ab 194,600ab 193,600ab 198,067ab 198,733a 194,800ab 195,733ab 197,467ab 220,07d 232,47cd 263,53bc 267,27b 278,73ab 281,67ab 307,67a 305,07a 308,20a 303,40a 309,13a 309,40a 107,400d 110,000cd 110,133cd 111,533cd 114,533c 115,467bc 116,400abc 121,200ab 122,600a 122,000a 122,400a 122,467a

Keterangan : Dalam satu kolom pada tiap perlakuan, angka yanag diikuti huruf yang sama menunjukkan perbedaan yang tidak nyata pada taraf 5% uji jarak berganda Duncan.

1. Pengaruh Dosis Pupuk P pada Masing-masing Parameter Pertumbuhan

Perlakuan dosis pupuk P pada tinggi tanaman menunjukkan pengaruh tidak nyata. Tinggi tanaman tertinggi adalah 196,800 cm dijumpai pada P2 yaitu dosis P150 kg/Ha tinggi tanaman terendah adalah 191,933cm pada P1 yaitu dosis P 75kg/Ha pertumbuhan

tinggi tanaman dipengaruhi oleh jarak tanaman. Jarak yang lebar mengakibatkan tanaman tidak saling ternaungi, sehingga cahaya matahari langsung bisa diterima. Kondisi ini menyebabkan proses kerja akar untuk memperoleh unsur hara tidak mengalami hambatan sehingga tidak terjadi persaingan yang berarti. Penerimaan sinar matahari yang sama

(6)

167 mengakibatkan pengaruh yang sama

terhadap kerja auksin pada setiap pucuk tanaman untuk memanjangkan sel. Disamping hal tersebut pupuk P lebih berpengaruh pada perkembangan akar, penguatan tubuh sehingga tidak mudah rebah dan produksi tanaman (Rismunandar,2005). Menurut Kemas Ali Hanafiah (Dasar-Dasar Ilmu Tanah, 2005) unsur P lebih banyak menyusun komponen produksi dibanding bagian jerami. Effendi,1985 menyatakan bhwa penyerapan P sampai masa pembungaan adalah 15% selebihnya terjadi pada masa produksi.

Pada parameter berat basah brangkasan dan berat kering brangkasan perlakuan dosis pupuk P menunjukkan pengaruh pupuk P yang sangat nyata. Berat basah brangkasan tertinggi adalah pada 307,311g yaitu dosis P 225 kg/Hasedang brangkasan terendah adalah pada 238,689g yaitu dosis P 0 kg/Ha berat kering brangkasan tertinggi adalah 122,289g pada P3 (dosis P 225 kg/Ha) dan terendah 109,178g pada P0(109,178g)

Peningkatan pada berat bobot brangkasan ini dikarenakan fungsi

pupuk P merangsang pertumbuhan akar sehingga dapat meningkatkan serapan unsur hara. Serapan unsur hara yang baik serta kondisi yang mendukung termasuk pertumbuhan daun yang lebih baik menyebabkan fotosintesis berjalan dengan baik dan fotosintesis pun meningkat. Foto sintesis ini ditranslokasikan keseluruh bagian tanaman yang menyebabkan pertumbuhan tanaman lebih baik sehingga berat pun bertambah. 2. Pengaruh Dosis Pupuk Kandang

terhadap Masing-masing Parameter Pertumbuhan

Pengaruh pemberian pupuk kandang kerbau terhadap pertumbuhan tanaman jagung berbeda nyata pada parameter tinggi tanaman. Tinggi tanaman jagung tertinggi adalah pada K3 (196,817cm) dan tinggi terendah ialah Kl (190,167cm). Sedang pada bertat basah brangkasan dan barat kering brangkasan perlakuan dosis pupuk kandang kerbau berpengaruh tidak nyata. Berat basah brangkasan tertinggi adalah pada K3 (290,700g) dan terendah pada K1 (274,600g). Berat kering brangkasan tertinggi

(7)

168 pada K3 (117,660g) dan berat kering

brangkasan terendah pada K1 (114,333g)

Pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dikarenakan pupuk kandang kerbau dan pupuk organik pada umumnya mengandung unsur hara yang lengkap bagi pertumbuhan tanaman meskipun jumlahnya jumlahnya relatif kecil. Pupuk kandang kerbau juga dapat memacu pertumbuhan mikrobia,memperbaiki struktur tanah sehingga memungkinkan tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Namun demikian ternyata perlakuan dosis pupuk kandang kerbau berpengaruh tidak nyata terhadap berat basah brangkasan dan berat kering brangkasan. Hal ini dimungkinkan karena perlakuan terhadap pupuk kandang kerbau, terutama penyimpanannya tidak memenuhi syarat (dibiarkan terkena sinar matahari langsung , terkena air hujan atau tergenang air sehingga terjadi penguapan dan pencucian terhadap kandang unsur haranya). Juga dimungkinkan akibat pupuk

kandang kerbau yang digunakan bukan berasal dari kandang yang sama dimana peruntukan ternak,komposisi umur,makanan ternak dan perlakuan terhadap kotoran ternak juga berbeda.

3. Pengaruh Kombinasi Dosis Pupuk P dan Pupuk Kandang terhadap

Masing-masing Parameter

Pertumbuhan

Pengaruh pemberian dosis pupuk P yang dikombinasikan dengan dosis pupuk kandang kerbau berbeda tidak nyata pada semua komponen pertumbuhan,baik pada parameter tinggi tanaman, berat basah brangkasan maupun berat kering brangkasan. Hal ini dimungkinkan karena lahan yang digunakan adalah tehnis irigasi sehingga telah mengandung sejumlah unsur hara termasuk unsur Pserta unsur hara yang terkandung pada pupuk kandang kerbau dari pemupukan yang lalu atau dari endapan aliran irigasi. Juga dimungkinkan karena adanya musim hujan sehingga pupuk P dan pupuk kandang kerbau yang diberikan terhanyut oleh air hujan dan luapan air irigasi. Dimungkinkan pula akibat

(8)

169 perlakuan pupuk kandang yang tidak

sesuai persyaratan. Dari rangkuman hasil penelitian diketahui bahwa tinggi tanaman tertinggi adalah terdapat pada P2K3 (198,733cm) dan terendah pada P1K1 (186,000cm). Berat basah brangkasan tertinggi pada P3K3 (309,400g) terendah pada P0K1 (220,070g). Sedangkan berat kering brangkasan tertinggi dijumpai pada P2K3 (112,600g) dan berat

kering brangkasan terendah pada P0K1 (107,400g)

B. Pengaruh Dosis Pupuk P dan Pupuk Kandang Kerbau serta Kombinasi Perlakuan terhadap Komponen Hasil Tanaman Jagung

Pengaruh dosis pupuk P dan pupuk kandang kerbau serta kombinasi perlakuan terhadap komponen hasil jagung dapat diketahui dari hasil uji jarak berganda Duncan yang disajikan pada tabel 2.

Tabel 2. Uji jarak berganda Duncan’s pengaruh dosis pupuk P dan pupuk kandang kerbau serta kombinasi perlakuan terhadap pertum dan hasil tanaman jagung Perlakuan Jml biji pertnmn Jml baris pertnmn Berat pipilan krng pertanmn Berat pipilan krng perpetak Berat 100 biji Pipilan kering P0 P1 P2 P3 15,156a 14,956a 15,378a 15,311a 447,20bc 420,62c 509,73a 470,91ab 138,42c 149,89bc 180,22a 162,53ab 4,111c 4,567bc 5,356a 5,078ab 30,211c 34,722ab 35,856a 34,578b K1 K2 K3 15,100a 15,283a 15,217a 434,48b 469,28ab 482,58a 151,117a 160,400a 161,783a 4,583a 4,842a 4,908a 34,333a 34,158a 33,033b P0K1 P0K2 P0K3 P1K1 P1K2 P1K3 P2K1 P2K2 P2K3 P3K1 P3K2 P3K3 14,933a 15,133a 15,400a 14,667a 15,267a 14,933a 15,467a 15,467a 15,200a 15,333a 15,267a 15,333a 401,40cd 464,53abcd 475,67abcd 397,60d 410,67bcd 453,60abcd 494,07ab 516,67a 518,47a 444,87abcd 485,27ab 482,60abc 124,53b 144,33ab 146,40ab 146,53ab 149,13 ab 154,00 ab 178,40a 182,13a 180,13a 155,00ab 166,00ab 166,60a 3,833c 4,233bc 4,267bc 4,400abc 4,533abc 4,767abc 5,167ab 5,467a 5,433a 4,933abc 5,133ab 5,167ab 31,467c 29,767c 29,400c 35,200b 35,067b 33,900b 34,800b 37,833a 34,933b 35,867ab 33,967b 33,900b

Keterangan: Dalam satu kolom pada tiap perlakuan, angka yanag diikuti huruf yang sama menunjukkan perbedaan yang tidak nyata pada taraf 5% uji jarak berganda Duncan.

(9)

170 1. Pengaruh dosis pupuk P terhadap

masing-masing parameter hasil tanaman

Pengaruh perlakuan dosis pupuk P terhadap hasil tanaman jagung berbeda tidak nyata pada parameter jumlah baris pertongkol dengan jumlah baris tertinggi pada P2 (509,730) dan terendah pada P1 (420,620). Namun demuikian perlakuan dosis pupuk P menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata pada parameter jumlah biji per tongkol, berat pipilan kering pertanaman,berat kering pipilan per petak dan berat 100 biji. Hal ini dikarenakan fungsi dari pupuk P untuk merangsang pertumbuhan akar. Pertumbuhan akar yang baik akan mengakibatkan kemampuan akar untuk menyerap unsur hara dari dalam tanah meningkat. Ketersediaan unsurhara yang baik memungkinkan hasil fotosintesa yang baik pula. Padahal berat tanaman merupakan hasil pemupukan fotosintesis pada tanaman.

Dari rangkuman hasil penelitian diketahui bahwa jumlah biji

pertongkol terbanyak adalah pada P2 (509,730) dan paling sedikit pada P1 (180,220). Berat pipilan kering pertanaman tertinggi pada P2 (180,220g) dan terendah P0 (138,420g). Berat pipilan per petak tertinggi adalah P2 (5,356kg) dan terendah P1 (4,111kg). Sedang untuk berat 100 biji tertinggi pada P2 (35,856g) dan terendah P0 (30,211g).

2. Pengaruh Dosis Pupuk Kandang Kerbau terhadap Masing-masing Parameter Hasil Tanaman

Pengaruh perlakuan dosis pupuk kandang kerbau terhadap hasil tanaman jagung berbeda nyata pada parameter jumlah biji per tongkol dan berat per 100 biji. Jumlah biji per tongkol tertinggi pada K3 (482,580) dan jumlah biji per tongkol terendah pada K1 (151,117g) sedangkan berat per 100 biji tertinggi adalah pada K1 (34,33) dan terendah K3 (33,033g) namun demikian pengaruh yang nyata pada berat 100 biji tidak berdanding lurus dengan berat pipilan kering per tanaman maupun berat pipilan kering per petak ini dapat terjadi karena pengambilan sampel biji hanya 100

(10)

171 biji ini dipastikan kurang dapat

mewakila dari seluruh biji pada tanaman maupun pada petak.

Pada parameter jumlah baris pertongkol, berat pipilan kering pertanaman dan berat pipilan kering per petak dosis pupuk kandang tidak menunjukkan pengaruh yang nyata. Jumlah baris per tongkol tertinggi terdapat pada K3 (15,217) dan terendah pada K1 (15,100). Berat pipilan per tanaman tertinggi terdapat pada K3 (161,780) terendah K1 (151,117). Berat pipilan kering per petak tertinggi adalah pada K3 (4,908kg) terendah K1 (4,583kg).

Dari data diatas dapat diketahui bahwa respon tanaman terhadap perlakuan dosis pupuk kandang kerbau tidak berjalan dengan baik hal ini bisa dikarenakan pelaksanaan penelitian pada saat musi hujan sehingga pupuk kandang kerbau tercunci air hujan dan luapan air atau akibat adanya endapan unsur P dari lahan yang terletak ada di atasnya, atau asal pupuk kandang kerbau dan cara perlakuan yang tidak sesuai. 3. Pengaruh Kombinasi Dosis Pupuk P

dan Dosis Pupuk Kandang Kerbau

terhadap Masing-masing Parameter Hasil Tanaman

Kombinasi pupuk P dan pupuk kandang kerbau berpengaruh tidak nyata pada semua komponen hasil tanam kecuali pada parameter berat 100 biji. Pada parameter jumlah baris per tongkol jumlah terbesar pada P2K1 (15,467) terkeci pada P1K1 (14,677). Jumlah biji pertongkol terbanyak pada P2K3 (518,13g) paling sedkit P1K1 (397,60). Berat pipilan kering per petak tertinggi pada p2K2 (5,467g) terendah P0K1 (124,53g. Untuk berat pipilan kering perpetak tertingggi adalah P2K2 (5,467kg) terendah P0K1 (3,833). Sedangkan berat tertinggi dan teren dah dari 100 biji masing-masing adalah P2K2 (37,833g) dan P0K3 (29,400g). Pengaruh yang tidak nyata dari kombinasi perlakuan dosis pupuk P dan dosis pupuk kandang kerbau ini dimungkinkan karena waktu penelitian yang dilaksanakan pada musim hujan sehingga pupuk yang diberikan tercuci oleh air hujan atau pun luapan air irigasi. Juga dimungkinkan akibat terjadinya endapan unsur hara dari lahan garapan yng terletak di atasnya.

(11)

172 Rangkuman hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Rangkuman Hasil Penelitian

Parameter Sumber Keragaman (SV) Nilai P K P X K Tertinggi Terendah 1. Tinggi Tanaman (cm) ns * ns 198,733 (P2K3) 186,000 (P1K1)

2. Berat Basah Brangkasan ** ns ns 309,40

(P3K3)

220,07 (P0K1)

3. Berat Kering Brangkasan ** ns ns 122,600

(P2K3)

107,400 (P0K1)

4. Jumlah Baris per Tongkol ns ns ns 15,467

(P2K1)

14,667 (P1K1)

5. Jumlah Biji per Tongkol ** * ns 518,47

(P2K3)

397,60 (P1K1) 6. Berat Pipilan Kering per

tanaman

** ns ns 182,13

(P2K2)

124,53 (P0K1)

7. Berat Pipilan kering per petak ** ns ns 5,467

(P2K2) 3,833 (P0K1) 8. Berat 100 biji ** * * 37,833 (P2K2) 29,400 (P0K3) KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dan

pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Perlakuan dosis pupuk P dan pupuk kandang kerbau berpengaruh sangat nyata pada berat basah brangkasan, berat kering brangkasan,jumlah biji per tongkol, berat pipilan kering per tanaman, berat kering per petak dan berat 100 biji. Tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah baris per tongkol. 2. Perlakuan pupuk kandang berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, jumlah biji per tongkol, dan

berat 199 biji. Tidak berpengaruh nyata terhadap berat basah brangkasan, berat kering brangkasan, jumlah baris per tongkol, berat pipilan kering per tanaman dan berat pipilan kering per petak.

3. Interaksi antara perlakuan dosis pupuk P dan dosis pupuk kandang menunjukkan pengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, berat basah brangkasan, berat kering brangkasan, jumlah baris per tongkol, berat pipilan kering per tanaman, berat pipilan kering per petak, tetapi berpengaruh nyata terhadap berat 100 biji.

(12)

173 4. Berat pipilan kering per petak tertinggi

dicapai pada kombinasi perlakuan dosis pupuk P 150 kg/ha dan pupuk kandang kerbau 15 ton/ha (P2K2) yaitu 5,467 kg/petak atau 9,719 ton/ha, berat pipilan kering per petak terrendar pada kombinasi perlakuan dosis pupuk P 0 kg/ha dan pupuk kandang kerbau 10 ton/ha (P0K2) yaitu 3,833 kg/petak atau 6,614 ton/ha. DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008. Produksi Jagung Indonesia Dipatok 15,9 Juta Ton. Suara Merdeka Tanggal 3 Juni 2008, Departemen Pertanian Republik Indonesia. Dwijosaputro, 1980. Pengantar Fisiologi

Tumbuhan. Gramedia, Jakarta. 200 hal.

Goeswono Soepardi, 1985. Masalah Kesuburan Tanah dan Pupuk. Departemen Pertanian Tanaman Pangan, Bogor.

Karnomo, 1989. Diklat Pengantar Produksi Tanaman Agronomi. Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Marsono dan Paulus Sigit, 2001. Pupuk Akar, Jenis dan Aplikasi. Penebar Swadaya, Jakarta. Muhadjir, 1998. Karakteristik Tanaman

Jagung. Badan Penelitian dan

Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.

Nurhayati Hakim, Yusuf Nyakpa, Go Ban Hong, 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung, Lampung.

Pinus Lingga, 1998. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Jakarta.

Rukmana Rahmat, H. 1997. Usaha Tani Jagung. Kanisius, Yogyakarta. Sri Setyati Harjadi, 1993. Pengantar

Agronimi. Gramedia, Jakarta. Syaifudin Sarief, 1989. Kesehatan dan

Pemupukan Tanah Pertanian. CV. Pustaka Buana, Bandung. Sutejo, 1999. Pupuk dan Cara

Pemupukan. PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Sutoro, 1998. Budidaya Tanaman Jagung. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Bogor

Suprapto H.S. Rasyid Marzuki, 2004. Bertanam Jagung. Penebar Swadaya, Jakarta.

Warisno, 2005. Budidaya Jagung Hibrida, Kanisius Yogyakarta.

Wibowo, S. 1994. Budidaya Tanaman Palawija. Penebar Swadaya, Jakarta.

Gambar

Tabel 2. Uji jarak berganda Duncan’s pengaruh dosis pupuk P dan pupuk       kandang kerbau serta kombinasi perlakuan terhadap pertum dan hasil  tanaman jagung  Perlakuan  Jml biji  pertnmn  Jml baris pertnmn  Berat pipilan krng  pertanmn  Berat pipilan  kr
Tabel   3. Rangkuman Hasil Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan masih terdapat respon- den pasien PKMS Gold maupun pasien PKMS Silver yang tidak puas pada pertanyaan mengenai kesem- buhan

Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa interaksi perlakuan uji adaptasi penggunaan beberapa varietas unggul dan kapur dolomit tidak berpengaruh nyata terhadap produksi gabah

ini berarti bahwa pekerjaan yang dibebankan pada bawahan harus sesuai dengan. kemampuan bawahan yang bersangkutan, agar dia bekerja

Suatu faktor penting pada catu tegangan ( voltage supply ) adalah besarnya perubahan pada tegangan dc keluaran diatas jangkauan (range) operasi rangkaian, Tegangan keluaran

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrat dengan jenis leguminosa yang berbeda terhadap konsentrasi NH 3 dan protein total rumen secara..

(4) Kelompok Kerja Unit Eselon I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 ayat (2) huruf b angka 4 dipimpin oleh Pejabat Administrator atau Fungsional Perencana

Untuk memperoleh Tanda Kecakapan Khusus (TKK) Jasa Lingkungan merupakan upaya memahami manfaat ekosistem secara tidak langsung dan tidak langsung yang meliputi

Berdasarkan paparan tersebut diatas maka peneliti ingin mencoba melakukan penelitian dengan judul “Peningkatkan Prestasi Belajar Kimia Tentang Sifat larutan