• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fauziah Penyusunan Administrasi Pembelajaran ISSN :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Fauziah Penyusunan Administrasi Pembelajaran ISSN :"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU PRODUKTIF DALAM PENYUSUNAN ADMINISTRASI PEMBELAJARAN MELALUI

IN HAUSE TRAINING PADA SMK NEGERI 1 KOTA LHOKSEUMAWE TAHUN PELAJARAN 2014 / 2015

Oleh: Fauziah1 ABSTRACT

This study is based on the problem: The fact that there are at SMK Negeri 1 Lhokseumawe there are teachers who have not been able to prepare and arrange Administration Learning according to the demands of school inspectors, it is very precise with the IHT (Work Shop) has been able to prepare and arrange them properly and perfect, the authors take the title "Enhancing productive teacher in Preparation Administration Learning Through Hause In Training At SMK 1 Lhokseumawe in the school year 2014 / 2015. In the even semester. Research is taken place is: SMK Negeri 1 Lhokseumawe. The research was conducted at the Academic Year 2014/2015 semester within 4 months starting in the month of February till mai 2015 and implement IHT (as workshops) dated February 3-5 2015.Subjek study used was a teacher of SMK Negeri 1 Lhokseumawe numbering 86 people composed of 38 teachers Normative. Adaptive 30 teachers, 18 teachers Productive, which makes as subjects in this study were 18 teachers productive. Research using the procedure of initial conditions (pre-cycle), the first cycle and the second cycle, from analysis and discussion of the data it can be concluded that 17 teachers (94.45%) in the category of good and very good, 1 teacher (5.56% ) in the category enough. The conclusion from this study is that it can improve the readiness of teachers in developing learning through inclusive administration Hause Training (Work Shop) at SMK Negeri 1 Lhokseumawe in the school year 2014/2015

Keywords: Education Administration, Hause In Training

ABSTRAK

Penelitian ini berdasarkan permasalahan : Kenyataan yang ada di SMK Negeri 1 Kota Lhokseumawe masih ada guru yang belum mampu menyiapkan dan menyusun Administrasi Pembelajaran yang sesuai tuntutan dari pengawas sekolah, maka sangat tepat dengan adanya IHT (Work Shop) sudah dapat menyiapkan dan menyusunnya dengan baik dan sempurna, maka penulis mengambil judul “Meningkatkan kemampuan guru produktif dalam Penyusunan Administrasi Pembelajaran Melalui In Hause Training Pada SMK Negeri 1 Kota Lhokseumawe Tahun Pelajaran 2014 / 2015. Pada Semester genap. Tempat penelitian yang diambil adalah :SMK Negeri 1 Kota Lhokseumawe. Waktu penelitian dilaksanakan pada Tahun Pelajaran 2014 / 2015 semester ganjil dalam waktu 4 bulan mulai pada bulan pebruari s.d bulan mai tahun 2015 dan 1Fauziah adalah Pengawas Pendidikan Kota Lhokseumawe

(2)

melaksanakan IHT (WorkShop) tanggal 3-5 Pebruari 2015.Subjek Penelitian yang digunakan adalah guru SMK Negeri 1 Kota Lhokseumawe yang berjumlah 86 orang terdiri dari 38 orang guru Normatif. 30 orang guru Adaptif, 18 orang guru Produktif, yang menjadikan sebagai subjek dalam penelitian ini adalah 18 orang guru produktif. Prosedur Penelitian menggunakan dari kondisi awal (pra siklus), siklus I dan siklus II, dari hasil analisis dan pembahasan data dapat disimpulkan bahwa 17 orang guru (94,45%) dalam kategori baik dan sangat baik, 1 orang guru (5,56%) dalam kategori cukup. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dapat meningkatkan kesiapan guru dalam menyusun administrasi pembelajaran melalui In Hause Training (Work Shop) pada SMK Negeri 1 Kota Lhokseumawe Tahun Pelajaran 2014 / 2015

Kata Kunci : Administrasi Pembelajaran, In Hause Training

A. PENDAHULUAN

Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dapat mencapai tujuan dengan mudah dan menyenangkan sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dilakukan sesuai dengan rencana pembelajaran yang sistematis. Hal tersebut tentu dapat terlaksana jika didukung oleh suasana kelas yang kondusif, keaktifan dan kreatifitas guru serta motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Guru dikatakan tidak saja sebagai pengajar tetapi pendidik dan sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan penghargaan dan menuntut siswa dalam belajar. Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun administrasi pelaksanaan pembelajaran, maka guru diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan mampu mengelola kelas. Guru adalah

pendidik profesional dengan tugas utama mendidik dan mengevaluasi peserta didik, pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Sementara pegawai dunia pendidikan merupakan bagian dari tenaga kependidikan, yaitu anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.

Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam penyusunan adminnistrasi pembelajaran, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang

(3)

menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

Berdasarkan uraian diatas, tampak bahwa penyusunan administrasi pembelajaran yang tepat akan berdampak positif dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Namun kenyataan yang ada di SMK Negeri 1 kota Lhokseumawe menunjukkan hal yang terbalik. Dari hasil supervisi yang menunjukan bahwa 60% guru SMK Negeri 1 kota Lhokseumawe masih dominan dalam menggunakan administrasi pembelajaran yang tepat sesuai dengan karakteristik siswa dan situasi dalam kelas, faktor yang menyebabkan guru belum mampu melakasanakan penyusunan administrasi pembelajaran dengan tepat dikarenakan kemampuan menyusun administrasi pembelajaran belum optimal, bahkan ada yang belum membuat. Penyusunan administrasi pembelajaran sangat penting, karena perencanaan yang baik berpengaruh terhadap hasil belajar siswa

B. KERANGKA TEORETIS

1. Pentingnya Administrasi Perencanaan Pembelajaran di Sekolah

Penyelenggaraan pendidikan di Sekolah yang sekarang ini menggunakan sistem semester, guru menuntun siswa untuk menerima beban belajar semester sesuai dengan kemampuannya. Oleh karena itu, guru-guru yang memberikan pelajaran harus membuat dan menyiapkan perangkat administrasi perencanaan pelaksanaan pembelajaran dan administrasi penilaian pembelajaran dengan baik dan berkualitas. Semua ini bertujuan untuk memberikan kemudahan belajar pada peserta didik (to facilitate

learning), dengan demikian proses belajar

mengajar dapat berjalan lancar, efisien dan efektif. Atas dasar inilah menyiapkan administrasi tersebut di atas sangat penting dan perlu dilaksanakan sebagai tugas dan tanggung jawab seorang guru.

2. Pelaksanaan dan Tanggungjawab Guru (Pendidik) di Sekolah

Sehubungan dengan kol.tersebut di atas PP no.19 tahun 2005 yang berkaitan dengan standar proses mengisyaratkan bahwa guru diharapkan dapat mengembangkan perencanaan pembelajaran, yang kemudian dipertegas melalui peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) no.41 tahun

(4)

2007 tentang standar proses yang antara lain mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada setiap sekolah (satuan pendidikan) untuk mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) khususnya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah jalur formal, baik yang menerapkan Sistem Paket maupun Sistem Kredit Semester (SKS). Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sitematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberi ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Dalam Permendiknas no.16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru, baik dalam tuntutan kompetensi pedagogik maupun profesional guru yang berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam menyusun dan mengembangkan administrasi perencanaan pelaksanaan pembelajaran secara memadai. Walaupun dalam mempersiapkan administrasi perencanaan pelaksanaan pembelajaran

(bahan ajar, materi mengajar, metode penyampaian, penggunaan waktu dan pengevaluasian sudah diperhitungkan, namun pelaksanaan belajar menurut waktu yang tersedia tidak sebanding dengan tuntutan luasnya materi yang diharuskan dalam kurikulum. Dengan demikian, perlu diberikan tugas-tugas sebagai tambahan untuk memvariasikan teknik penyajian dalam mencapai target kurikulum. Tugas-tugas itu dikerjakan di luar jam belajar, baik secara individual maupun secara kelompok. Tugas yang diberikan guru kepada siswa/i tersebut harus diperiksa dan dievaluasi. Rostiyah N.K dan Yumiati, S (1985:133) menjelaskan bila telah memberikan tugas pada siswa, hari berikutnya harus dicek apakah sudah dikerjakan atau belum. Kemudian perlu dievaluasi karena akan memberikan motivasi belajar untuk siswa.

Berdasarkan pada pernyataan di atas, maka pemberian tugas kepada siswa bertujuan agar siswa tersebut memiliki hasil belajar yang lebih mantap karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama mengerjakan tugas sehingga dalam mempelajari sesuatu dapat lebih terintegrasi. Hal ini terjadi karena siswa mendalami situasi atau pengalaman yang berada pada saat ia menghadapi masalah-masalah baru. Dengan ada kegiatan seperti

(5)

ini, siswa lebih memiliki inisiatif dan berani bertanggung jawab atas pribadinya sendiri. Akan tetapi perlu diingat bahwa setiap pekerjaan siswa harus diberikan penghargaan dan nilai, penghargaan itu bisa berupa hadiah, penambahan nilai harian atau nilai semester. Penilaian terhadap seorang siswa tidak hanya tergantung pada hasil tes (pre test atau

post test), tetapi jauh sebelum itu sudah

harus dilakukan bermacam-macam tes dan tidaklah mungkin bagi pengajar untuk memperoleh gambaran tentang kemajuan belajar dengan hanya melakukan satu kali kegiatan evaluasi (tes ulangan) saja.

Menurut Suharsimi Arikunto (2000:3) “Tes itu mempunyai fungsi ganda yaitu untuk mengukur siswa dan untuk mengukur keberhasilan program-program”. Ditinjau dari segi kegunaannya, tes dapat dibedakan atas 3 macam yaitu: (1) tes diagnostik; (2) tes formatif, dan (3) tes sumatif

Winarno Surakhmad (2000:22) mengatakan “Bukan saja ulangan atau tes tertulis atau tes lisan yang dipakai guru sebagai dasar nilai, akan tetapi juga daftar, catatan anekdot, sosiogram, tes situasi, bagan partisipasi, tugas proyek dan sebagainya”. Hal ini menggambarkan bahwa kesemuanya tidak dipakai untuk mencari satu angka yang menentukan

nasib siswa tetapi untuk melihat sampai dimanakah tujuan khusus telah tercapai dan bagaimana taraf pencapaiannya itu. Dibagian lain Winarno Surakhmad (2000:45) menyebutkan “Sistem evaluasi itu merupakan fase pencapaian tujuan pendidikan”.

3. In Hause Taining (Work Shop)

Pengetahuan, keterampilan dan kecakapan manusia dikembangkan melalui proses belajar dan mengajar. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh ketiga aspek tersebut seperti : belajar disekolah, luar sekolah, tempat kerja, sewaktu bekerja, melalui pengalaman dan melalui In Hause Training (WorkShop).

In Hause Training(Worksop) adalah

suatu pertemuan ilmiah dalam bidang sejenis ( pendidikan ) untuk menghasilkan karya nyata. Lenih lanjuik Harbinson mengemukakan bahwa pendidikan dan pelatihan secara umum diartikan sebagai proses pemerolehan keterampilan dan pengetahuan yang terjadi diluar sistem pesekolahan, yang bersifat lebih heterogen dan kurang terbakukan dan tidak berkaitan satu dengan yang lain karena memiliki tujuan yang berbeda.

Dalam banyak bidang Workshop ( In Hause Training), hal tersebut memang

(6)

sangat sulit untuk tidak mengatakannya mustahil nilai 9 dilakukan validasi dan evaluasi 0, bidang yang dimaksud misalnya adalah manajemen atau pelatihan hubungan manusia umumnya. Dalam hal ini semua bentuk Workshop (In Hause Training ) tidak dapat menperhatikan hasil yang objektif. Pelatihan umumnya mempunyai masalah mengenai prestasi, motivasi penataran dalam mengajar, yaitu masalah evaluasi dan validasi kelangsungannnya. Jika pelajaran telah diajarkan dengan baik dan penataran telah diikuti dan dipelajari, maka pelajaran tersebut sesuai dengan ukuran penatarannya, maka efektifitas pelatihan sudah dianggap valid. Penilaiannya juga dilakukan langsung karena jika selalu menjawab enam untuk soal tiga kali maka ia selalu benar.

In Hause Training (WorkShop) bertujuan untuk memberikan kemudahan dalam pembelajaran bagi peserta didik, dengan demikian proses belajar mengajar dapat berjalan lancar, efisien dan efektif. dalam tugas – tugas mereka sekarang dan masa yang akan datang melalui pengembangan kebiasaan berpikir, bertindak, keterampilan, pengetahuan dan

sikap yang sesuai. In Hause Training (WorkShop) pada dasarnya berkenaan dengan persiapan guru menuju arah tindakan tertentu serta sekaligus memperbaiki unjuk kerja, sedangkan pendidikan berkenaan dengan membukakan dunia bagi guru untuk memiliki motivasi, minat, gaya hidup dan kariernya.

C. METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Kota Lhokseumawe. Waktu penelitian dilaksanakan pada Tahun Pelajaran 2014 / 2015 semester ganjil dalam waktu 4 bulan mulai pada bulan pebruari s.d bulan mei tahun 2014 dan melaksanakan IHT (WorkShop) tanggal 3-5 Pebruari 2014. Subjek Penelitian yang digunakan adalah guru SMK Negeri 1 Kota Lhokseumawe yang berjumlah 86 orang terdiri dari 38 orang guru Normatif. 30 orang guru Adaptif, 18 orang guru Produktif, yang menjadikan sebagai subjek dalam penelitian ini adalah 18 orang guru produktif. Prosedur Penelitian menggunakan dari kondisi awal (pra siklus), siklus I dan siklus II.

(7)

Tabel 1. Format pedoman observasi pelakasanaan IHT (Workshop)

No Nama Guru Aspek yang diamati

Kesiapan mental dan fisik

guru Kesipan bahan Kehadiran guru Kesiapan leptop S TS S TS H TH S TS 1 2 3 dst Keterangan : S : Siap TS : Tidak Siap H : Hadir TH : Tidak Hadir

D. PEMBAHASAN DAN HASIL

PENELITIAN

1. Deskripsi Kondisi Awal

Sebelum melakukan tindakan perbaikan, peneliti terlebih dahulu melakukan kegiatan orientasi sebagai studi pendahuluan. Dalam kegiatan ini guru ”didiagnosis” sehingga peneliti menemukan fakta/observasi dilapangan, para guru di SMK Negeri 1 Kota Lhokseumawe pada awalnya pemahaman terhadap penyusunan administrasi pembelajaran masih kurang perhatiannya, hal ini dikarenakan persepsi guru menganggap bahwa penyusunan administrasi pembelajaran tidak terlalu penting. Dengan demikian tampak jelas bahwa kemampuan guru dalam menyusun administrasi pembelajaran hanya didasari oleh contoh yang ada tanpa menganalisis secara kritis berdasarkan standar yang ada

sehingga kualitas perangkat administrasi pembelajaran jauh dari yang diharapkan. Kesalahan umum yang tampak adalah : 1) guru belum mampu menyusun tujuan pembelajaran, 2) guru belum mampu mengurai materi ajar dengan baik, 3) guru belum mampu membuat langkah – langkah pembelajaran sesuai dengan metode pembelajaran yang digunakan, 4) guru belum mampu membuat pernilaian sesuai dengan metode yang digunakan, dan 5) guru belum mampu memajemenkan waktu dengan baik dalam membuat program tahunan, program semester, maupun pada kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

Dengan kondisi awal seperti ini perlu adanya tindakan nyata yang diharapakan guru mampu meningkatkan kemampuan dalam menyusun administrasi pembelajaran secara mandiri dan pada

(8)

saat pelatihan In Hause Training (workshop).

2. Deskripsi Pelaksanaan Siklus I

a. Perencanaan

Perencanaan terdiri dari : 1) melaporkan kegiatan penelitian Pengawas Sekolah ke Dinas beserta mohon izin untuk penelitian, 2) berkoordinasi dengan kepala sekolah dan para wakil kepala sekolah untuk menyampaikan izin penelitian dari Dinas pendidikan, waktu pelakasanaan penelitian dan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian dan In Hause Training (workshop) yang digunakan, 3) pengawas sekolah memberikan pengarahan tentang In Hause Training (workshop) tentang penyusunan administrasi pembelajaran, 4) mengelompokkan guru berdasarkan mata pelajaran, 5) menelaah konsep administrasi pembelajaran, mengkonsep administrasi pembelajaran yang mendekati kondisi yang dibutuhkan di sekolah, 6) mendiskusikan konsep administrasi pembelajaran dan presentasi kelompok, 7) presentasi kelas, dan 8) menghasilkan penyusunan administrasi pembelajaran final dan lengkap dan sesuai dengan yang diharapkan dengan tuntutan instrumen yang disiapkan oleh pengawas sekolah.

Disamping perencanaan umum, maka dilakukan perencanaan teknik pelaksanaan kegiatan seperti : 1) mengumpulkan guru melalui undangan, 2) menyusun jadwal In Hause Training (workshop), hari, tanggal, jam dan tempat, 3) menyiapkan materi workshop, 4) menyuruh guru untuk membawa bahan – bahan seperti : kurikulum, silabus, RPP dan bahan ajaran lainnya, 5) mengelompokkan guru menurut mata pelajaran, (Produktif, Adaptif dan Normatif), 6) menyiapkan konsumsi untuk pelaksanaan In Hase Training (workshop) dan 7) menyuruh guru untuk membawa leptop ( minimal 4 laptop dan 1 LCD). b. Pelakasanaan tindakan

Pada tahap ini beberapa langkah yaitu : 1) absensi guru, 2) pengarahan kepala sekolah, 3) penjelasan umum kepada seluruh guru, 4) guru dekelompokan sesuai dengan mata pelajaran, 5) guru mengkajikan : standar kompetensi ( SK), kompetensi dasar ( KD) sesuai dengan silabus mata pelajaran masing-masing, materi pembelajaran, indikator dan penilaiaan, 6) guru menyusun strategi pembelajaran sesuai format yanmg telah disepkati yang berisi tentang aspek, materi dan kegiatan, dan 7) presentasi persiapan administrasi pembelajaran.

(9)

c. Hasil observasi

Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap pelakasanaan tindakan, yaitu meneliti pada kompetensi guru dalam menyusun strategi pembelajaran sebagai akibat diterapkan workshop. Tujuan dilaksanakan pengamatan adalah untuk mengetahui kegiatan yang mana patut dipertahankan, baik atau dihilangkan sehingga kegiatan pembinaan melalui IHT (workshop) benar – benar berjalan sesuai dengan tujuan yang ada untuk meningkatkan

kemampuan guru guru dalam menyusun administrasi pembelajaran.

Kegiatan peserta diobservasi, baik menyangkut kesiapan mental dan fisik guru, kesiapan bahan yang dibawa guru pada waktu pelaksanaan IHT (workshop), kehadiran guru, kesiapan laptop, kemampuan guru menyusun administrasi pembelajaran. Respon1guru dengan menggunakan lembar observasi yang telah disediakan (dipersiapkan), data yang diperoleh sebagai berikut:

Tabel 2 Rangkuman hasil observasi tentang kesiapan guru dalam mengikuti IHT (workshop) pada siklus I

Aspek yang diinilai ( diamati) Kesiapan

memtal dan fisik guru

Kesiapan bahan Kehadiran guru Kesiapan

laptop S TS S TS H TH S TS Jumlah 13 5 14 4 16 2 10 8 Pesentase ( %) 72,23 27,78 77,78 22,23 88,89 11,12 55,56 44,45 Pencapaian indikator kebberhasilan

Belum tercapai Belum tercapai Sudah

Tercapai Belum tercapai Keterangan : S : Siap TS : Tidak Siap H : Hadir TH : Tidak Hadir

Dari tabel 2, tampak bahwa, pada aspek kesiapan mental dan fisik adalah 13 atau 72,23% guru siap, dan 5 atau 27,78% guru belum siap, pada kesipan bahan adalah 14 atau 77,78% guru siap dan 4 atau 22,23% guru belum siapkan bahan, pada kehadiran guru adalah 16 atau

88,89% guru hadi dan 2 atau 11,12% guru yang tidak hadir, dan pada kesiapan laptop adalah 10 atau 55,56% guru siap dan 8 atau 44,454% guru belum siap laptop. Berdasarkan desklripsi ini tampak bahwa kesiapan guru dalam mengikuti workshop belum menenuhi kriteria keberhasilan

(10)

untuk semua aspek. Dari hasil evaluasi terhadap penyusunan administrasi pembelajaran yang dibuat 18 guru setelah diadakan IHT (workshop) pada siklus I

diperoleh hasil guru dalam menyusun administrasi pembelajaran seperti tabel 3 berikut :

Tabel 3 hasil penilaian kompetensi guru dalam menyusun administrasi pembelajaran pada siklus I

N o

Aspek yang dinilai Skor

1 2 3 4

Jml % Jml % Jml % Jml %

1 Format 1 5,56 3 16,67 10 55,56 5 27,78

2 Relevansi antara waktu

dengan bahan ajar 1 5,56 3 16,67 9 50 7 38,89

3 Pembukaan (apersepsi,

pre-tes)

2 11,12 8 44,45 7 38,89 6 33,34

4 Inti (kesesuaian antara

pembelajaran sesuai

dengan bahan ajar,

kualitas urutan

penyajian, kualitas

penugasan siswa dan waktu 2 11,12 6 33,34 6 33,34 12 66,67 5 Penutup (kesimpulan dan pos-tes) 3 16,67 4 22,23 8 44,45 5 27,78 Keterangan : 4 : Sangat baik 3 : Baik 2 : Cukup 1 : Tidak Baik

Dari tabel 3 pada aspek format : 15 guru dalam kategori baik dan sangat baik atau 83,34% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik 4 atau 22,23%. Dan pada Relevansi antara waktu dengan bahan ajar adalah 16 guru dalam kategori baik dan sangat baik atau 88,89% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik adalah 4 guru atau 22,23%. Pembukaan (apersepsi, pre-tes) adalah 13 guru dalam kategori baik dan sangat baik atau72,23%

dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik adalah 10 guru atau 55,56%. Inti (kesesuaian antara pembelajaran sesuai dengan bahan ajar, kualitas urutan penyajian, kualitas penugasan siswa dan waktu) adalah guru dalam kategori baik dan sangat baik 18 guru atau 100% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik adalah 8 guru atau 44,45%. Dan pada Penutup (kesimpulan dan pos-tes) guru dalam kategori baik dan sangat baik

(11)

adalah 13 guru atau 72,23% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik adalah 7 guru atau 38,89%.

Berdasarkan deskruipsi pada tabel 2 dan 3 tampaknya kinerja guru menyusun strategi pembelajaran guru belum mencapai atau memenuhi indikator kinerja yang telah ditetapkan pada semua aspek, baik menyangkut kesiapan maupun kinerja menyusun strategi pembelajaran. d. Tahap Refleksi

Dari hasil yang diperoleh menunjukan bahwa kemampuan guru dalam menytusun administrasi pembelajaran pada siklus I belum menunjukan hasil yang sesuai dengan indikator kemampuan guru yang diharapkan atau yang telah ditetapkan, setelah diadakan refleksi terhadap hasil yang diperoleh maka untuk memperbaiki dari segi kegiatan In Hause Training (workshop) terutama menjelaskan tentang aspek – aspek yang belum sesuai dengan tuntutan dari instrumen yang telah disiapkan dan diterapkan. Sebagai contoh dalam hal menyusun RPP, misalnya kegiatan awal, belum menunjukan proporsi waktu yang sesuai, guru belum jelas membedakan mana kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup, menyusun Program Tahunan dan Program Semester waktu yang ada belum

disesuaikan dengan rincian yang ada pada minggu efektif,dan yang lainnya masih ada yang belum di seragamkam dengan administrasi ISO yang ada di sekolah. Dari masalah tesebut, diputuskan untuk memperbaiki bahwa pentingnya penyusunan perangkat administrasi pembelajaran, selain itu guru belum lengkap memiliki silabus, RPP dan modul / bahan ajaran lainnya. Mengenai kehadiran guru tidak ada yang absen. Terkait dengan kesiapan laptop , guru kebanyakan sudah ada memilikinya, tidak perlu meminjamkan pada sekolah lain atau memanfaatkan komputer yang ada disekolah.

Untuk meningkatkan kesiapan guru, fasilator memberikan kesadaran bahwa betapa pentingnya perencanaan administrasi pembelajaran yang dibuat guru sebelum melakasanakan proses pembelajaran. Dari hasil siklus I tidak memuaskan maka peneliti menggunakan siklus II.

3 Deskripsi Pelaksanaan Siklus II

a. Tahap Perencanaan

Penelitian ini dilakukan awal masuk tahun ajaran baru 2014/2015. Pada tahap perencanaan ini, yaitu: (1) mempersiapkan kinerja guru perbaikan dalam perbaikan siklus I; (2) menyiapkan instrumen penelitian; (3) peneliti

(12)

menyiapkan hal yang akan di evaluasi; (4) menyusun administrasi pembelajaran yang sudah ditetapkan pada awal forum yakni hal-hal yang dinilai dan dijelaskan pada bab III, dan; (5) mempersiapkan daftar format nilai.

b. Tahap Pelaksanaan

Kegiatan yang dilakukan dalam implementasi sebagai berikut: (a) peneliti melakukan pembinaan pada guru; (b) guru mgerjakan administrasi kelas; (c) guru mengumpulkan hasil kinerja; (d) peneliti menganalisis hasil kinerja guru; (e) peneliti memberikan penilaian kepada guru; (e) peneliti menganalisis hasil penilaian; dan (f) peneliti memberikan hasil kinerja guru apakah guru tersebut tergolong baik atau masih kurang

c. Tahap Observasi

Kegiatan observasi pada siklus II yaitu mengadakan pengamatan kinerja guru selama menyelesaikan administrasi

pembelajaran. Hasil pengamatan selama menyelesaikan administrasi pembelajaran pada tahun pelajaran 2014/2015 pada siklus kedua, banyak guru dapat menyelesaikan dengan sungguh-sungguh di banding pada siklus I.

Pada siklus II langkah – langkah yang diambil sesuai dengan reflesi hasil pada siklus I, mengikuti langkah – langkah seperti siklus I dengan memfokuskan pada penjelasan aspek – aspek yang belum dipahami guru dalam penyusunan strategi pembelajaran lebih meniitikberatkan pada aspek pembimbingan secara individual. Dari jumlah seluruh guru adalah 18 semua dilibatkan dalam siklus II untuk memperdalamkan pengetahuan tentang penyusunan strategi pembelajaran pada tabel 4 berikut :

Tabel 4 Rangkuman hasil observasi tentang kesiapan guru dalam mengikuti workshop pada siklus II

Aspek yang diinilai ( diamati) Kesiapan

memtal dan fisik guru

Kesiapan bahan Kehadiran guru Kesiapan

laptop S TS S TS H TH S TS Jumlah 17 1 16 2 18 0 16 2 Pesentase ( %) 94,45 5,56 88,89 11,12 100 0,00 88,89 11,12 Pencapaian indikator

kebberhasilan Tercapai Tercapai Tercapai Tercapai

Keterangan :

S : Siap

TS : Tidak Siap

(13)

TH : Tidak Hadir

Dari tabel 4, tampak bahwa, pada aspek kesiapan mental dan fisik adalah 17 atau 94,45% guru siap, dan 1 atau 5,56% guru belum siap, pada kesiapan bahan adalah 16 atau 88,89% guru siap dan 2 atau 11,12% guru belum siapkan bahan, pada kehadiran guru adalah 18 atau 100% guru hadir dan 0 atau 0,00% guru yang tidak hadir, dan pada kesiapan laptop adalah 16 atau 88,89% guru siap dan 2 atau 11,12% guru belum siap laptop.

Berdasarkan deskripsi ini tampak bahwa kesiapan guru dalam mengikuti workshop sudah menenuhi kriteria keberhasilan untuk semua aspek.

Dari hasil evaluasi terhadap penyusunan administrasi pembelajaran yang dibuat 18 guru setelah diadakan IHT (workshop) pada siklus II diperoleh hasil kinerja guru dalam menyusun administrasi pembelajaran seperti tabel 5 berikut

:

Tabel 5 hasil penilaian kompetensi guru dalam menyusun strategi pembelajaran pada siklus II

No Aspek yang dinilai Skor

1 2 3 4

Jml % Jml % Jml % Jml %

1 Format 0 0,00 0 0,00 13 72,22 5 27,78

2 Relevansi antara waktu

dengan bahan ajar 0 0,00 1 5,56 10 55,56 7 38,89

3 Pembukaan (apersepsi,

pre-tes)

0 0,00 1 5,56 11 61,12 6 33,34

4 Inti (kesesuaian antara

pembelajaran sesuai

dengan bahan ajar,

kualitas urutan

penyajian, kualitas

penugasan siswa dan waktu 0 0,00 1 5,56 6 33,34 11 61,12 5 Penutup (kesimpulan dan pos-tes) 0 0,00 1 5,56 8 44,45 9 50 Keterangan : 4 : Sangat baik 3 : Baik 4 : Cukup 2 : Tidak Baik

Dari tabel 5 pada aspek format : 18 guru dalam kategori baik dan sangat baik

atau 100 % dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik 0 atau 0,00%. Dan

(14)

pada Relevansi antara waktu dengan bahan ajar adalah 17 guru dalam kategori baik dan sangat baik atau 94,45% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik adalah 1 guru atau 5,56%. Pembukaan (apersepsi, pre-tes) adalah 17 guru dalam kategori baik dan sangat baik atau 94,45% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik adalah 1 guru atau 5,56%. Inti (kesesuaian antara pembelajaran sesuai dengan bahan ajar, kualitas urutan penyajian, kualitas penugasan siswa dan waktu) adalah guru dalam kategori baik dan sangat baik 17 guru atau 94,45% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik adalah 1 guru atau 5,56%. Dan pada Penutup (kesimpulan dan pos-tes) guru dalam kategori baik dan sangat baik adalah 17 guru atau 94,45% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik adalah 1 guru atau 5,56%.

Berdasarkan deskripsi pada tabel 4 dan 5 tampaknya kinerja guru menyusun strategi pembelajaran guru Sudah memenuhi indikator kinerja yang telah ditetapkan pada semua aspek, baik menyangkut kesiapan maupun kinerja menyusun strategi pembelajaran.

Penilaian yang dilakukan untuk memperoleh nIlai tentang respon guru terhadap kegiatan workshop yang telah diterapkan dalam menyusun strategi

pembelajaran. Untuk menentukan klasifikasi respon guru terhadap kegiatan selama penyusunan strategi pembelajaran melalui IHT (Workshop) terlebih dahulu dihitung mean ideal (MI) dan standar devisi idial ( SDI) . Mi = ( skor maksimal + skor minimal ) = (75 + 1 ) = 38, dan Sdi = (skor maksimal – skor minimum) = ( 75-1) 12,34, berdasarkan hasil ini dibuat klasifikasi sebagai berikut: 1. Mi + 1,5 SDi sangat

baik

2. Mi + 0,5 SDi - < Mi + 1,5 SDi Baik 3. Mi - 0,5 Sdi - < Mi + 1,5 Sdi cukup

baik

4. Mi - 0,5 Sdi - < Mi + 1,5 Sdi kurang baik

5. < Mi + 1,5 Sdi sangat kurang

Dengan memasukan Mi dan Sdi diperoleh

1. 56 sangat positif 2. 44 - ,< 56 positif 3. 32 - ,< 44 cukup positif 4. 20 - < 32 kurang positif

5. < 20 sangat kurang positif Dari skor tara –rata guru terhadap penyusunan administrasi pembelajaran melalui IHT (workshop) adalah 94,45 dan standar 5,56. Maka respon guru terhadap penyusunan administrasi pembelajaran

(15)

melalui IHT (workshop) adalah positif, dengan demikian kegiatan IHT (workshop) dalam penyusunan administrasi pembelajaran mendapatkan respon yang sangat positif dari semua guru pada SMK Negeri 1 Kota Lhokseumawe.

d. Tahap Refleksi

Hasil observasi tes pada siklus II dapat digolongkan dalam kategori baik. Oleh karena itu, peneliti menyimpulkan: (a) administrasi kelas sudah terkonsep oleh guru, guru bisa membayangkan atau membuat rancangan yang akan dikerjakan pada pengajaran di tahun pelajaran 2014/2015; (b) ada sebagian guru yang masih kurang memahami kondisi sekolah karena masih kurang percaya kepada anak didiknya apakah mampu atu tidak jika guru menyusun rancangan yang dibuat; (c) hasil kemampuan guru dalam mengelolah administrasi pembelajaran melalui in house training pada siklus II adalah dapat dilihat dari hasil analisis dan mengunakan rumus presentase diperoleh 100% baik sehingga penelitian tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya.

4. Pembahasan.

Berdasarkan hasil kegiatan pada

kondisi awal (prasiklus), siklus I dan siklus II dapat disimpulkan bahwa

menggunakan metode melalui IHT (Workshop) dapat meningkatkan penyusunan administrasi pembelajaran guru dalam menyusun RPP, silabus dan lainnya, yang dilaksanakan pada SMK Negeri 1 Kota Lhokseumawe .

Pada siklus I adalah 15 guru dalam kategori baik dan sangat baik atau 83,34% dan dalam kategori guru cukup dan tidak baik 4 atau 22,23%. Dan pada Relevansi antara waktu dengan bahan ajar adalah 16 guru dalam kategori baik dan sangat baik atau 88,89% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik adalah 4 guru atau 22,23%. Pembukaan (apersepsi, pre-tes) adalah 13 guru dalam kategori baik dan sangat baik atau72,23% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik adalah 10 guru atau 55,56%. Inti (kesesuaian antara pembelajaran sesuai dengan bahan ajar, kualitas urutan penyajian, kualitas penugasan siswa dan waktu) adalah guru dalam kategori baik dan sangat baik 18 guru atau 100% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik adalah 8 guru atau 44,45%. Dan pada Penutup (kesimpulan dan pos-tes) guru dalam kategori baik dan sangat baik adalah 13 guru atau 72,23% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik adalah 7 guru atau 38,89%.

Pada siklus II adalah 18 guru dalam kategori baik dan sangat baik atau 100 %

(16)

dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik 0 atau 0,00%. Dan pada Relevansi antara waktu dengan bahan ajar adalah 17 guru dalam kategori baik dan sangat baik atau 94,45% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik adalah 1 guru atau 5,56%. Pembukaan (apersepsi, pre-tes) adalah 17 guru dalam kategori baik dan sangat baik atau 94,45% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik adalah 1 guru atau 5,56%. Inti (kesesuaian antara pembelajaran sesuai dengan bahan ajar, kualitas urutan penyajian, kualitas penugasan siswa dan waktu) adalah guru dalam kategori baik dan sangat baik 17 guru atau 94,45% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik adalah 1 guru atau 5,56%. Dan pada Penutup (kesimpulan dan pos-tes) guru dalam kategori baik dan sangat baik adalah 17 guru atau 94,45% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik adalah 1 guru atau 5,56%.

Dari hasil diatas menunjukan bahwa meningkatkan kompetensi guru melalui kegiatan IHT (Workshop) yang menekankan pada metode kolaboratif akan memberikan pengaruh positif melalui IHT (workshop) dalam penyusunan administrasi pembelajaran. Dengan demikian untuk tahun pelajaran 2014 / 2015 pada semester genab yang

akan datang bahwa guru-guru mata pelajaran Adaptif, Normatif dan Produktif dapat menyusun dan menyiapkan Administrasi Pembelajaran dan Administrasi Penilaian Pembelajaran dengan lengkap dan sempurna (format penilaian teerlampir). Berdasarkan Hasil ketercapaian guru dalam menyiapkan administrasi pembelajaran pada tahun yang lalu masih rendah maka dengan adanya IHT (In Hause Training) ini sangat positif dan berrmanfaat.

E. SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan (1) Meningkatkan kesiapan guru dalam menyusun administrasi pembelajaran melalui In Hase Training (workshop) pada SMK Negeri 1 Kota Lhokseumawe dapat dilihat dari hasil siklus I adalah 15 guru dalam kategori baik dan sangat baik atau 83,34% dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik 4 atau 22,23%. Dan meningkat pada Siklus II adalah 18 guru dalam kategori baik dan sangat baik atau 100 % dan dalam karegori guru cukup dan tidak baik 0 atau 0,00%; (2) Respon guru sangat positif terhadap kegiatan melalui In Hause Training (workshop) dalam penyusunan administrasi pembelajaran pada SMK Negeri 1 Kota Lhokseumawe.

(17)

Selanjutnay peneliti memberikan rekomentasi (1) bagi guru, melalui In Hase Training (worshop) tentang penyusunan administrasi pembelajaran berdasarkan standar proses dapat berhasil dan sangat bermanfaat dan supaya ke depan tetap mempertahankan; dan (2) bagi kepala sekolah, sebagai bahan ajar atau bahan tambahan dalam membimbing guru agar selalu menyusun administrasi pembelajaran dan untuk peningkatan semangat dan kemampuan guru untuk menyusun administrasi pembelajaran sehingga proses belajar mengajar akan berjalan dengan efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2000. Dasar-dasar

Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bina

aksara.

Peraturan Pemerintah No.19 tahun 2005

Tentang Standar Nasisonal

Pendidikan. Jakarta: Fokus Media

Roestiyah, N.K dan Yumiati Suharto. 1989. Strategi Belajar Mengajar,

Akta V. Jakarta: Bina Aksara.

Surakhmad, Winarno 2000. Metodologi

Pengajaran Nasional. Bandung:

Jemmars.

Yandrawati. 2006. Peningkatan Aktivitas

Pembelajaran Menjahit Melalui Metode latihan dan Pemberian

Tugas. Laporan Penelitian:

Universitas Negeri Padang.

Friedendeberg, Lisa , 1995. Psycological

Testing Design, Analysus and Use.

Baoston: Allyn and Bacon.

Prokton and W.M. Thornton.1983 .

Latihan Kerja Buku Evaluasi Pengajaran. Bandung : Reamaja Rosda Karya.

Tim Penyusunan Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus

Besar Bahasa Indonesia. Jakarta :

Balai Pustaka.

Rasyid, Muhmunar, 2005 Srtrategi Pembelajaran Sejarah Melalui

Pedekatan Team Games

Tournamaen dengan sistem

Porlimawih, Jalkarta : Depdiknas.

Gambar

Tabel 1. Format pedoman observasi pelakasanaan IHT (Workshop)
Tabel 2 Rangkuman hasil observasi tentang kesiapan guru dalam mengikuti IHT (workshop) pada siklus I
Tabel 3 hasil penilaian kompetensi guru dalam menyusun administrasi pembelajaran pada siklus I
Tabel 4  Rangkuman hasil observasi tentang kesiapan guru dalam mengikuti workshop pada siklus II
+2

Referensi

Dokumen terkait

guru dapat mengajar siswa dengan baik dan respon siswa dalam. menyelesaikan soal matematika dapat meningkat.

(3) keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran yaitu dengan skor 2,68 dengan kategori baik untuk siklus I, menjadi 3,08 kategori baik untuk siklus II dan 3,50 dengan kategori

Berdasarkan aktivitas siswa pada Tabel 4, skor rata- rata pada siklus I adalah 2,58 (dengan kategori cukup), dan skor rata-rata pada siklus II adalah 3,07 (dengan kategori

peningkatan aktivitas siswa yang mulanya pada kategori kurang menjadi. baik dan aktivitas guru yang mulanya pada kategori cukup

Pada pertemuan pertama siklus 11 aktivitas siswa meningkat menjadi 83,3 % dengan kategori sangat baik, dan pada pertemuan kedua siklus 11 kembali meningkat

Pada aspek Disiplin guru dalam kehadiran mengajar didapatkan pada siklus I sebesar 58% dengan kategori baik dan pada siklus II meningkat menjadi 79% dengan kategori

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1 Karakter siswa pada siklus 1 sebesar 57,14 % dengan kategori cukup meningkat pada siklus II sebesar 85,71% dengan kategori baik; dan 2 Hasil

Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Siswa Siklus II Interval nilai Kategori Frekuensi Persentase 80-100 Sangat baik 10 47,61% 66-79 Baik 11 52,38% 60-65 Cukup 0 0 46-59