• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERGERAKAN POLITIK HAJI MISBACH DI SURAKARTA TAHUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERGERAKAN POLITIK HAJI MISBACH DI SURAKARTA TAHUN"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

1 C0508005

Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta

2012

Abstract

Haji Misbach was once of some political movement figure in Indonesia that had a major role of the resistance to the Netherland Colonial Government through his unique ideas. Haji Misbach‟s ideas and political movement has developed since the beginning of his involvement in politics until the end of his life. The Factors that influence the ideas and political movement of Misbach were his educational background, his neighborhood social conditions, and his acquaintanceship with the other political figures.

Misbach was a Javanese movement figure that wish to synthesize Islam and Communism ideology as a way to resistance against Dutch Colonialism. Misbach‟s interested of the movement made him moved with some organization, there are Sarekat Islam, Muhammadiyah, SATV, Insulinde, Sarekat Hindia, PKI, and Sarekat Rakyat. Misbach also moved in journalism by published Medan Moeslimin and Islam

Bergerak. In addition to resistance the government, Misbach also attacked Islamic

organizations that he judged “lamisan”, there are Sarekat Islam and Muhammadiyah. Because of his action that too radical, Misbach must lived in the prison at the several time. Chaos that caused by PKI in Surakarta, made Colonial Government decided to exiled Misbach to Manoekwari until the end of his life.

(2)

Pendahuluan

Penerapan politik etis pada awal abad ke-20 telah membuat hawa pergerakan di tanah Hindia Belanda memanas. Munculnya para intelektual pribumi, lahirnya organisasi-organisasi pergerakan, dan menjamurnya surat kabar merupakan penanda dimulainya sebuah babak baru dalam pergerakan rakyat Hindia Belanda. Surakarta, merupakan sebuah wilayah yang menjadi saksi penting dari panasnya hawa pergerakan pada masa itu. Di kota inilah, sebuah organisasi politik yang memainkan peranan cukup penting dalam panggung pergerakan Indonesia lahir, yaitu Sarekat Islam (SI). Organisasi yang lahir pada tahun 1911 tersebut telah membawa perubahan besar dalam iklim politik di Surakarta. Sebagai organisasi yang berbasis pada ideologi Islam, SI pun segera tumbuh menjadi organisasi raksasa dengan ribuan orang anggota.

Salah satu tokoh pergerakan yang muncul di Surakarta di bawah sayap besar SI adalah Haji Mohammad Misbach. Misbach sering kali disebut-sebut sebagai tokoh SI yang dekat dengan paham komunis. Meski berada di garis kiri, Misbach berbeda dengan kaum komunis lainnya. Ia tetap berpegang teguh pada keyakinan Islam dan menolak menjadi Atheis.1

Pemikiran Misbach dikenal sangat moderat atau berada pada titik tengah. Misbach telah melahirkan sebuah pemikiran baru dalam era pergerakan bangsa. Pemikirannya tersebut menjadi dasar bagi Misbach untuk melakukan pergerakan demi membebaskan rakyat dari ketertindasan akibat Kolonialisme Belanda. Sepak terjang Misbach dalam dunia pergerakan sangat menarik untuk dijadikan sebagai bahan kajian. Oleh karena itu, perlu dilakukan sebuah penelitian untuk memperdalam pemahaman dan pengetahuan tentang pemikiran dan pergerakan politik Haji Misbach di Surakarta tahun 1912-1926.

1

“Haji Misbach: Muslim Komunis”, Tabloid Pembebasan, Edisi V Februari 2003, hlm. 23.

(3)

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang mencakup empat tahap yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi serta penulisan sejarah (historiografi) dengan penjelasan sebagai berikut2:

Tahap pertama, heuristik yaitu menghimpun sumber-sumber sejarah berkaitan dengan aktivitas dan perkembangan pemikiran politik Misbach serta dokumen-dokumen lainnya yang sesuai dengan permasalahan yang sedang dikaji. Tahap kedua adalah kritik sumber, yaitu langkah menguji atau menilai sumber data. Secara teoritis, pengujian atau kritik dibedakan menjadi dua: kritik ekstern, yaitu untuk mencari otentitasnya dan kritik intern, yaitu untuk mencari kredibilitasnya. Apabila kritik atau pengujian telah dilakukan maka sumber-sumber yang dianggap benar atau valid dijadikan dasar untuk membangun fakta.

Tahap ketiga adalah interpretasi, yang diartikan sebagai memahami makna yang sebenarnya dari sumber-sumber atau bukti-bukti sejarah. Fakta sebagai hasil “kebenaran” dari sumber sejarah setelah melalui pengujian yang kritis tidak akan bermakna tanpa dirangkaikan dengan fakta lain. Tahap keempat adalah historiografi yang merupakan penyajian hasil penelitian dalam bentuk tulisan berdasarkan bukti-bukti yang telah diuji.

ISI

Haji Mohammad Misbach mulai muncul dalam panggung pergerakan nasional ketika hawa politik di Surakarta mulai dihidupkan dengan kelahiran Sarekat Islam. Ia lahir di Kauman Surakarta, sekitar tahun 1876, dan dibesarkan sebagai putra seorang pedagang batik yang kaya raya. Kauman terletak di sisi barat alun-alun utara, persis di depan keraton Kasunanan Surakarta dan berada dekat dengan Masjid Agung

2

Kuntowijoyo, 1994, Metodologi Sejarah, Yogyakarta: PT Tiara Wacana, hlm. 79.

(4)

Surakarta. Sebagaimana namanya, Kauman merupakan sebuah wilayah di Surakarta yang kental dengan nuansa religius. Sebagian besar orang yang tinggal di wilayah Kauman merupakan para pejabat keagamaan Sunan. Kauman merupakan tempat ulama yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat mulai dari penghulu tafsir Anom, Ketip, Modin, Suronoto dan Kaum. Keberadaan kaum sebagai penduduk mayoritas di kawasan inilah yang menjadi dasar pemilihan nama "kauman". Tulisan-tulisan pergerakan tentang Misbach selalu menyebutkan bahwa rumah Misbach di Kauman terletak di Jalan Raya, ”berhadapan dengan penjara”.3

Meski sebagian besar orang yang tinggal di Kauman merupakan pejabat keagamaan, namun Takashi Shiraishi menyebutkan bahwa ayah Misbach bukanlah pejabat keagamaan.4 Ia merupakan seorang pedagang batik yang cukup sukses dan kaya raya. Sebagai seorang pedagang batik yang kaya, Ayah Misbach pun menginginkan anaknya untuk melanjutkan usahanya tersebut. Oleh karena itu, sebagaimana anak-anak para pedagang batik di wilayahnya, sejak usia dini, Misbach telah diajari untuk mengelola usaha batik oleh orang tuanya. Setelah dewasa, Ia mendirikan rumah kerja batik dan menjadi pengusaha batik yang sukses.5

Meskipun sebagian besar orang Jawa, khususnya yang bukan berasal dari kalangan ningrat, tidak begitu memperhatikan pendidikan untuk anaknya, namun tidak demikian dengan ayah Misbach. Orangtua Misbach termasuk dalam golongan masyarakat Jawa yang sadar akan pentingnya pendidikan. Hal tersebut yang membuat Misbach mendapat kesempatan untuk menimba ilmu keagamaan dalam pesantren selayaknya anak-anak pejabat keagamaan di lingkungan tempat tinggalnya. Selain

3

Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, (Jakarta: PT.Pustaka Utama Grafiti, 1997), hlm. 173.

4

Sebagian tulisan lain menyebutkan bahwa ayah Misbach juga merupakan pejabat keagaman keraton (lihat tulisan Husni Hidayat, 2005, “H. M. Misbach: “Kyai Merah” dari Surakarta”, http://afkar.numesir.org., serta “Haji Misbach: Muslim Komunis”, dalam Tabloid

Pembebasan Edisi V Februari 2003). Namun, pendapat tersebut belum dapat dibuktikan

dengan sumber primer. Sebagian besar tulisan sezaman yang menguraikan tentang biografi Misbach tidak banyak menyebutkan latar belakang orang tuanya.

5

(5)

itu, Ayah Misbach juga terdorong untuk membekali anaknya dengan pendidikan modern. Oleh karena itu, selain menempuh pendidikan pesantren, Misbach juga sempat mengenyam pendidikan di sekolah bumiputra pemerintah angka dua (tweede

klass)6. Misbach telah menempuh kedua model pendidikan, yaitu pendidikan tradisonal dan pendidikan gaya barat. Namun, pendidikan gaya barat hanya ditempuhnya dalam waktu singkat. Sejak masih kanak-kanak sehingga hampir balig, ia menerima didikan yang terbanyak dari pesantren. Hal tersebut yang membuat pemikiran Misbach lebih banyak memiliki sisi religius dibanding sisi sekuler ala barat.7

Misbach adalah seorang Jawa yang memiliki nama kecil Achmad. Namun, semasa hidupnya ia sempat beberapa kali berganti nama. Seperti halnya kebiasaan orang Jawa, setelah menikah Ia pun mengganti namanya menjadi Darmodiprono. Setelah menunaikan ibadah haji di Mekkah, Misbach kembali mengubah namanya menjadi Haji Mohammad Misbach, nama yang ia pakai hingga akhir hidupnya. Sebutan haji pada masa itu memiliki pengaruh sosial keagamaan tertentu bagi yang menyandangnya. Seseorang yang memiliki gelar haji kerap diidentikkan sebagai orang dengan pengetahuan agama yang tinggi. Gelar haji yang Ia tambahkan di depan namanya membuat Misbach terhomat di komunitas santri Kauman. Karena giat berdakwah dan memiliki pergaulan yang luas, Ia kemudian kerap dipanggil Kyai Haji Misbach.8

Sebagai seorang Jawa, Misbach juga memiliki kecenderungan untuk berpikir sinkritis. Dalam diri Misbach terdapat karakter seorang sinkritis yang selalu terobsesi untuk mensintesakan atau menkombinasikan berbagai pandangan atau pemikiran

6

Tweede Klass Inlandsche Scholen merupakan sekolah untuk anak-anak dari rakyat kebanyakan. Selain itu, ada juga Eerste Klass Inlandsche Scholen (Sekolah Bumiputera Angka Satu) untuk anak-anak priyayi dan mereka yang berada.

7

Nor Hiqmah, H.M. Misbach Kisah Haji Merah, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2008), hlm. 14.

8

Ahmad Suhelmi, Dari Kanan Islam hingga Kiri Islam, (Jakarta: Darul Falah, 2001), hlm. 133.

(6)

yang berbeda bahkan bertolak belakang. Gejala sinkretisme itulah yang tampak dalam dirinya ketika mensintesakan Islam, abanganisme, dan Marxisme (Komunisme) di saat terlibat dalam aktivitas politik melawan kapitalisme dan kolonialisme.9

Pemikiran Misbach yang berkembang sangat dipengaruhi oleh dua variabel yang melatarbelakangi kehidupannya, yaitu Islam dan Jawa. Namun, persentuhannya dengan beberapa tokoh pergerakan lain yang membawa beberapa ideologi nantinya juga akan mampu menciptakan pemahaman baru dalam dirinya, khususnya pemahaman akan Komunisme. Tokoh-tokoh yang banyak mempengaruhi perkembangan pemikiran Misbach, antara lain adalah Semaun, Tjipto Mangoenkoesoemo, Sneevliet, Marco, dan sebagainya. Melalui orang-orang itulah Misbach kemudian juga mengenal cara-cara radikal untuk melakukan perjuangan melawan Kapitalisme dan Kolonialisme.10

Herbert Feith dan Lance Castle memetakan pemikiran politik di Indonesia menjadi lima aliran yang bersumber dari tradisi (kebudayaan Hindu-Budha maupun Islam) dan yang bersumber pada aliran pemikiran barat. Kelima aliran tersebut antara lain adalah Komunisme, Sosialisme Demokrat, Islam, Nasionalisme Radikal, dan Tradisionalisme Jawa. Berdasarkan pemetaan tersebut, pemikiran politik Misbach berada di tengah antara aliran Komunisme, Islam, dan Tradisionalisme Jawa. Kecenderungan berpikir sinkretis yang dimiliki oleh Misbach merupakan ciri khas dari para pemikir Tradisionalis Jawa. Tokoh-tokoh pemikir politik Jawa biasanya memiliki ketertarikan untuk mengambil beberapa sisi dari sebuah aliran politik untuk kemudian disintesakan. Demikian juga dengan Misbach yang mencoba menyatukan ideologi Komunisme dan Islam. Meskipun merupakan seorang mubalig yang memiliki kecintaan yang tinggi terhadap Islam, namun disisi lain Misbach juga meyakini Komunisme sebagai jalan yang efektif untuk melakukan pergerakan.

9

Ahmad Suhelmi, loc. cit.

10

(7)

Sebagai seorang muslim yang taat sekaligus memiliki kesadaran yang tinggi akan pergerakan, Misbach juga sempat bergabung dalam gerakan kaum muda Islam pada 1910. Saat SI mulai terbentuk di Surakarta, Misbach juga menunjukkan ketertarikannya dengan turut bergabung pada 1912. Misbach aktif dalam SI sejak awal dibentuknya karena merasa SI memiliki semangat anti Kolonialisme atas dasar Islam. Namun, pada tahun-tahun awal bergabungnya dalam SI, Misbach belum begitu menunjukkan pemikiran dan pergerakannya yang radikal. Ia justru lebih banyak berkonsentrasi untuk mengelola usahanya. Meskipun sudah beberapa lama muncul pergerakan di Solo yang dipimpin oleh H. Samanhudi, tapi Misbach hanya menunjukkan kesetujuannya saja pada pergerakan tersebut.11

Setelah SI mengalami kemunduran akibat terjadinya perpecahan antara kubu Samanhudi dan Tjokroaminoto, ketertarikan Misbach untuk turut campur secara serius dalam dunia pergerakan muncul. Rangsang menuliskan awal keterlibatan Misbach dalam dunia pergerakan dalam artikel berjudul Tjatetan Singkat Tentang

Kawan Hadji Misbach:

…Sesoedah S.I. dalem 1914 menampakken tanda-tanda aken mendjadi petjah…sebab terbit perselisihan antara pimpinan Tjokro jang pada waktoe itoe mendjadi vice president, dengen kehendak Samanhoedi, president C.S.I. serta temen-temennja di Solo…sedjak itoelah kawan Misbach toeroet tjampoer bener-bener dalem pergerakan S.I…12

Pada 1914, Misbach mulai bergabung dengan Inlandsche Journalisten Bond (IJB) yang dibentuk oleh Mas Marco Kartodikromo sebagai organisasi wartawan pribumi pertama di Hindia. Selain menjadi anggoa IJB, Misbach juga turut menjadi pelanggan setia dari organ IJB, yaitu Doenia Bergerak. Melalui Marco dan IJB-nya, Misbach mulai belajar tentang dunia jurnalistik. Ia pun mulai tertarik untuk menyuarakan pemikirannya tentang Islam dalam bentuk tulisan, tidak hanya melalui tablig. Misbach akhirnya menerbitkan surat kabar bulanan bernama Medan

11

Majalah Hidoep, 1 September 1924.

12

(8)

Moeslimin. Hal tersebut merupakan langkah permulaan Misbach masuk ke dalam

pergerakan dan memegangi bendera Islam.13 Marco menceritakan bahwa Misbach, seorang muslim ortodoks yang saleh, yang tinggal di kota Jawa macam Surakarta, mulai bergerak ”setjara djaman sekarang” dengan menerbitkan Medan Moeslimin pada 1915 dan Islam Bergerak pada 1917, mendirikan hotel Islam, toko buku, dan sekolah agama modern, dan mengadakan pertemuan tablig.14

Pada pertengahan 1918, saat hawa pergerakan di Hindia Belanda memanas akibat kasus penghinaan Islam dalam artikel Djawi Hisworo yang ditulis oleh Martodharsono, Misbach pun kembali tampil untuk membela Islam. Awalnya ia bergabung bersama Tentara Kandjeng Nabi Muhammad (TKNM) bentukan Tjokroaminoto. Namun, ketika organisasi tersebut mulai menuai ketidakpercayaan dari anggotanya terkait dengan masalah dana, Misbach lebih memilih keluar dan berbalik menjadi kubu penentang TKNM. Misbach kemudian membentuk Sidik Amanat Tableg Vatonah (SATV) bersama pedagang batik muslim yang saleh di Surakarta. Organisasi tersebut bertujuan untuk memperkuat kebenaran Islam dan memajukan Islam. Dasar keyakinan SATV adalah “membuat agama Islam bergerak” atau sebagai salah satu arti dari organ SATV, Islam Bergerak.

Pada akhir tahun 1918, kondisi SI Surakarta kian terpuruk karena semakin menajamnya konflik amtara kubu Samanhudi dan Tjokroaminoto. Kenyataan tersebut membuat munculnya kelompok-kelompok yang mulai berbalik menyerang kepemimpinan SI Surakarta. Haji Misbach bersama SATV dengan Medan

Moeslimin dan Islam Bergerak sebagai organnya adalah salah satu kelompok yang

melawan kepemimpinan SI Surakarta tersebut. Bersama Sosrokoerneo yang merupakan sekretaris SI Surakarta, Misbach melanjutkan propagandanya dengan

13

Majalah Hidoep, 1 September 1924.

14

(9)

keras dalam kalangan SI. Masalah utama yang dibahasnya adalah persoalan ekonomi dan kehidupan di Hindia Belanda. 15

Pada saat itu, Misbach juga telah menjalin hubungan dengan Perhimpunan Kaum Buruh dan Tani (PKBT) afdeling Surakarta di bawah pimpinan R. Santoso yang juga berdiri di pihak penentang kekuatan SI. Sejak bulan Agustus 1918, kerja sama antara dua kubu penentang kekuatan SI tersebut mulai dijalankan, salah satunya adalah meletusnya pemogokan buruh cetak di perusahaan percetakan milik BO. Ketika pimpinan pusat PKBT di Demak hancur pada bulan Oktober 1918, perkumpulan tersebut dipulihkan di Surakarta dengan Santoso sebagai ketua dan Misbach sebagai wakilnya.

Keberhasilan PKBT dalam melakukan aksi perlawanan membuat kelompok oposisi dengan dukungan SI Semarang dan Insulinde Surakarta menawarkan diri untuk mengambil alih kepemimpinan SI Surakarta pada awal April 1919. Atas inisiatif Semaon dan Marco, pertemuan bestuur CSI pada tanggal 15 Februari 1919 di Surabaya memutuskan untuk memulihkan SI Surakarta, dengan Marco sebagai ketua, Misbach sebagai wakil ketua, dan R. Hadiasmara sebagai sekretaris.16

Pada 6 Juli 1919 dilaksanakanlah vergadering umum di Sri Wedari Surakarta untuk membahas kepengurusan SI Surakarta. Samanhudi, para pedagang batik Laweyan, abdi dalem Kasunanan, kyai, pegawai keagamaan, dan orang Arab dari subkomite TKNM beramai-ramai datang ke vergadering. Mereka berusaha untuk mendominasi pertemuan tersebut karena khawatir bahwa Marco dan Misbach akan mengambil alih kepemimpinan SI Surakarta. Upaya Misbach untuk mengambil alih kepemimpinan SI pun akhirnya gagal, karena pada saat itu ia dituduh menghasut pemogokan petani di pedesaan Kasunanan. Hasil akhir dari vergadering tersebut memutuskan Samanhudi naik menjadi ketua kehormatan dengan kekuasaan mengawasi. Kepemimpinan baru yang terbentuk usai vergadering tersebut ternyata

15

Surat kabar Sinar Hindia, 4 Juli 1924.

16

(10)

tidak juga efektif untuk menghidupkan kembali SI Surakarta. Misbach memang telah terpilih sebagai pengurus dari SI Surakarta, namun ia tidak memiliki kesempatan yang besar untuk kembali menghidupkan organisasi tersebut. Akan tetapi, upaya Misbach untuk „menggerakkan‟ SI Surakarta tidak berhenti begitu saja. Misbach bersama kekuatan penentang kepemimpinan SI Surakarta lainnya telah bergabung dengan Insulinde Surakarta sebelum vergadering tersebut dilaksanakan. Misbach begitu kecewa dengan TKNM dan SI Surakarta. Oleh karena itu, ia lebih memillih untuk melakukan pergerakan melalui Insulinde dan dua surat kabar terbitannya. Misbach juga memiliki peran yang sangat penting dalam upaya memasukkan orang-orang radikal SI ke dalam Insulinde Surakarta. Melalui kehangatan, keterbukaan, dan keramahannya serta konsistensi antara kata-kata dan perbuatannya, Misbach berhasil menarik perhatian anggota SI yang bersifat radikal untuk turut bergabung dalam gerakan Insulinde.

Kebangkitan Insulinde di Surakarta tidak bisa dilepaskan dari peran besar Haji Misbach di dalamnya. Misbach mulai bergabung dengan Insulinde sejak bulan Maret 1918. Keterlibatan Misbach dalam Insulinde diawali dengan perkenalannya dengan Tjipto Mangoenkoesoemo pada 1918. Melalui Tjipto, Misbach akhirnya mengenal gerakan revolusioner beraliran kiri milik Insulinde.17 Kolaborasi Misbach dengan Tjipto dalam Insulinde berjalan dengan baik sehingga membuat organisasi tersebut benar-benar kelihatan revolusioner dan menarik perhatian kaum radikal SI.

Pada awal Desember 1918 digelarlah vergadering umum Insulinde Surakarta yang sekaligus menjadi titik balik dari kebangkitan kembali organisasi revolusioner tersebut. Vergadering tersebut bertujuan untuk membentuk susunan pengurus baru dalam Insulinde. Tjipto Mangoenkoesoemo mundur dari jabatannya sebagai pemimipin Insulinde dan digantikan oleh istrinya, Ny. Vogel. Sedangkan Misbach sendiri diangkat sebagai wakil ketua. Orang yang duduk sebagai pemimpin tertinggi

17

(11)

dalam Insulinde adalah Ny. Vogel, namun yang lebih banyak memimpin gerakan

Insulinde sesungguhnya adalah Haji Misbach.

Misbach memiliki wewenang untuk memimpin aktivitas propaganda

Insulinde di luar kota Surakarta, mengeluarkan kartu anggota yang menjadi tanggung

jawabnya sendiri, dan mendirikan kring-kring Insulinde atas nama Insulinde Surakarta.18 Berbekal wewenangnya tersebut, Misbach memulai kembali aktivitas propagandanya sebagai propagandis Insulinde sekaligus mubalig SATV di perkebunan tembakau dan tebu Kasunanan dengan kring Surakarta sebagai pos terdepannya. Di bawah kepemimpinan Misbach, Insulinde tumbuh dan berkembang dengan pesat. Bagi Misbach melakukan propaganda untuk ”kebebasan kita”, ”kebebasan negeri”, sama seperti melakukan propaganda untuk Islam, dan dalam pengertian itulah ia menunjukkan dirinya sebagai seorang mubalig sekaligus propagandis Insulinde.

Ketika Insulinde menjadi semakin kuat di bawah pimpinan Misbach, zaman mogok di Surakarta pun menjadi kian memanas. Namun, fokus gerakan mogok tersebut bergeser ke pedesaan-pedesaan sekitar Surakarta, tempat di mana gejolak

Insulinde kian membara. Massa utama yang dituju oleh Misbach adalah kaum buruh

tani di pedesaan tersebut yang telah lama tertindas oleh kapitalis Belanda, pemerintah kolonial, serta bangsawan pribumi. Misbach menunjukkan keprihatinannya yang sangat besar kepada nasib kaum buruh tani.

Menurut laporan residen kepada gubernur jenderal, sejak hari-hari terakhir Desember 1918 sampai 7 Mei 1919, Misbach memimpin sebelas vergadering

Insulinde di pedesaan Kasunanan. Haji Misbach aktif melakukan agitasi dan

menyerukan para petani untuk ”jangan khawatir” dan ”jangan takut” melakukan aksi pemogokan.19

18

Resident van Surakarta aan GG, 23 Mei 1919. Mr. 322x/19, (dalam Takashi Shiraisi, log. cit.).

19

Syamsudin Haris, Partai dan Parlemen Lokal Era Transisi Demokrasi di

(12)

Pada 7 Mei 1919, Residen A.J.W. Harloff mengadakan sidang darurat dengan Asisten Residen Surakarta dan Boyolali, kontroleur urusan pertanian, dan regent polisi, untuk membicarakan langkah-langkah tepat guna mengakhiri pemogokan. Pada hari yang sama, Misbach, Darsosasmito, dan Gatoet Sastrodihardjo (sekretaris

Insulinde Surakarta) ditahan.20 Residen Harloff dalam laporannya mengatakan bahwa mogok terjadi bukan karena ketidakpuasan petani, tetapi akibat dari propaganda

Insulinde. Ia menandaskan bahwa dengan persetujuan pimpinan pusat Insulinde dan

pemimpin afdeling Surakarta, Misbach dengan tidak bertanggungjawab mendalangi pemogokan, dan juga bahwa para pemimpin Insulinde di bawah petunjuknya secara sistematis mengorganisir dan menyebarkan pemogokan petani.21 Akan tetapi, dugaan Harloff tersebut sebagian tidak benar. Misbach tidak terbukti mendalangi pemogokan. Mogok boleh saja tidak terjadi di perkebunan gula Klaten, tetapi Harloff lupa begitu saja bahwa mogok adalah bentuk khas protes petani, sama dengan ngogol. Dengan rendahnya upah di tengah pesatnya laju inflasi, mogok pasti terjadi di Tegalgondo, tanpa Misbach maupun propaganda Insulinde.22

Penangkapan Haji Misbach beserta lebih dari 80 pemimpin dan anggota kring

Insulinde telah membuat Insulinde Surakarta mulai mengalami kelesuan. Tjipto

Mangoenkoesoemo mulai mengambil alih dan menyetir Insulinde Surakarta dan kring-kringnya yang mulai rapuh. Ia mencoba memindahkan arena aktivitas propaganda Insulinde dari pedesaan ke kota Surakarta dan Volksraad di Batavia. Tjipto juga membangun kerja sama yang lebih erat dengan pemimpin Insulinde pusat, khususnya dengan Douwes Dekker. Saat itu, Douwes Dekker telah bersiap untuk mengumumkan rencananya guna mengubah Insulinde menjadi Nationaal Indische

Partij-Sarekat Hindia (NIP-SH) dalam Kongres kaum Hindia yang dijadwalkan pada

7-9 Juni 1919.

20

Surat kabar Islam Bergerak, 10 Mei 1919.

21

Parakitri Simbolon, Menjadi Indonesia. (Jakarta: Kompas, 2007), hlm. 308-309.

22

(13)

Haji Misbcah dibebaskan oleh pengadilan bumiputera (landraad) Surakarta pada 22 Oktober 1919. Misbach pun segera tampil menggantikan Ny. Vogel sebagai pemimpin SH Surakarta, sedangkan Tjipto menjabat sebagai sekretaris. Semenjak saat itu, SH Surakarta melakukan propaganda dengan tenaga dan semangat baru melalui Panggoegah dan Islam Bergerak serta dalam ledenvergadering. Ketika keresahan buruh meningkat akibat minimnya upah, serikat buruh pun menjadi pemimpin terdepan dari SH Surakarta. Suhu pergerakan pun semakin memanas akibat dari aksi-aksi pemogokan yang didalangi oleh Misbach di bawah bendera SH.

Memasuki pertengahan tahun 1920, kondisi di pedesaan Surakarta kian bertambah revolusioner, pemogokan semakin sering terjadi dan kian meluas. Sebelumnya, pada September 1919, Mangoenatmojo, anak buah Misbach telah mendirikan Islam Abangan (Sarekat Abang/Sarekat Merah).23 Situasi di pedesaan Kasunanan yang kian memanas tersebut membuat posisi Residen Harloff semakin terpojok. Pada tanggal 11 Mei 1920, akhirnya Harloff mengirim surat gubernur jenderal dan mengusulkan pencabutan hak berkumpul di karesidenan Surakarta. Pada 19 Mei 1920, Raad van Indie (Dewan Hindia) bersidang dan menyetujui usulan Harloff untuk membatalkan hak berkumpul di Karesidenan Surakarta. Pada tanggal 16 Mei 1920, Misbach pun akhirnya ditangkap di stasiun NIS Balapan ketika hendak melanjutkan tur propagandanya ke Kebumen.24 Misbach ditangkap dan dipenjarakan di Tarukan karena spreekdelict.25

Selama berada dalam penjara untuk waktu dua tahun, Misbach tetap melakukan propagandanya. Dalam Gvts, besluit tanggal 27 Juni 1924 No.12 yang dimuat dalam majalah Hidoep, pemerintah menuduh bahwa Misbach telah melakukan propaganda selama dalam penjara bagi suatu kongsi penjahat, yang maksudnya akan

23

George Larson, Masa Menjelang Revolusi: Kraton dan Kehidupan Politik di

Surakarta, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1990) hlm.176. 24

Resident van Surakarta aan GG. 8 Juni 1920, Mr. 661/20, dalam Takashi Shirasi,

op.cit., hlm. 282. 25

(14)

merampok dan mengecu serta membakar bangsal dan kebun tebu.26 Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa penahanan Misbach dan pengasingan Tjipto telah membuat iklim pergerakan di Surakarta melemah. SH Surakarta pun dengan segera mengalami kehancuran.

Banyak perubahan yang terjadi pada iklim pergerakan di Surakarta selama Misbach berada dalam penjara. Zaman pemogokan telah berakhir, sedangkan zaman partai dan zaman reaksi pun dimulai. Sarekat Hindia telah hancur, SATV juga sudah tidak bernyawa lagi. Sebagian besar mubalig SATV telah bergabung dengan Muhammadiyah dan menjadikan organisasi tersebut sebagai Muhammadiyah

afdeling Surakarta. Dua surat kabar milik Misbach pun turut mengalami perubahan.

Jika pada awalnya Medan Moeslimin dan Islam Bergerak selalu menerbitkan artikel yang menyerang Muhammadiyah, kini surat kabar itu menunjukkan sikap yang lebih pro terhadap organisasi pimpinan K. H. Achmad Dahlan tersebut. Satu-satunya hal yang tidak berubah adalah pencabutan hak berkumpul, sehingga aktivitas pergerakan politik di Suarakarta kian padam.

Sementara itu, perpecahan dalam tubuh SI kian menajam seiring dengan semakin kuatnya pengaruh Komunisme pada para aktor pergerakan di dalamnya. SI Semarang di bawah pimpinan Semaoen telah tumbuh menjadi sebuah basis dari pergerakan SI yang berhaluan Komunisme. Oleh karena itu, munculah ide dari para pemimpin SI untuk melakukan disiplin partai. Prinsip discipline (disiplin partai) memberlakukan peraturan bahwa seorang pengurus CSI tidak dapat merangkap sebagai anggota organisasi lain. Tujuan utama dari peraturan tersebut adalah untuk memurnikan SI dari pengaruh Komunisme. Sejak saat itu garis tegas antara fraksi merah dan SI putih pun terwujud.27

26

Majalah Hidoep, 1 September 1924.

27

Soewarsono, Berbareng Bergerak: Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Semaon, (Lkis: Yogyakarta, 2000), hlm.87-88.

(15)

Pada situasi itulah Haji Misbach dibebaskan dari penjara Pekalongan, tepatnya pada tanggal 22 Agustus 1922.28 Pada hari itu juga ia kembali ke rumahnya di Kauman dan harus menyaksikan kelesuan pergerakan di Surakarta. Selama beberapa waktu setelah dibebaskan, Misbach masih mengambil sikap netral terhadap perselisihan CSI dan PKI. Misbach mencoba mempelajari apa yang telah terjadi selama ia berada di dalam penjara dengan membaca terbitan-terbitan lama Medan

Moeslimin dan Islam Bergerak. Namun, sikap netral Misbach tidak dapat bertahan

lebih lama lagi, terutama setelah ia banyak mempelajari tentang kondisi pergerakan politik pada saat itu dari rekan-rekannya. Selain pertikaian antara CSI dan PKI, Misbach juga melihat adanya perselisian antara bekas mubalig SATV yang dipimpinnya dengan Muhammadiyah. Perselisihan tersebut terkait persoalan sikap Muhammadiyah dalam politik dan apa yang harus dilakukan seorang “Islam sejati” di dalam pergerakan. Ia mulai memutuskan langkah apa yang harus dilakukan sebagai Islam sejati dan posisi yang harus diambil terhadap Muhammadiyah serta dunia politik.

Misbach mulai membicarakan tentang keadaan rakyat yang tertindas akibat ulah para kapitalis di zaman modal. Ia menyerukan kepada umat muslim untuk berani mengambil tindakan perlawanan demi menolong rakyat yang tertindas. Namun, hal yang membuat Misbach lebih merasa terusik adalah keberadaan kaum muslim munafik yang tidak mau melakukan perjuangan untuk membela rakyat. Ia bahkan tidak segan-segan menyebutkan nama Muhammadiyah secara terang-terangan sebagai golongan munafik tersebut. Perselisihan Misbach dengan golongan Islam lamisan tersebut juga dilatarbelakangi oleh kedekatannya dengan paham Komunisme.

Misbach mulai menyerang organisasi Islam yang ia nilai lamisan, di antaranya adalah Muhammadiyah dan SI di bawah pimpinan Tjokroaminoto. Ia mempersoalkan keengganan organisasi-organisasi tersebut untuk turut terjun langsung dalam dunia politik memperjuangkan nasib rakyat. Ia menentang disiplin partai dan menyatakan

28

(16)

perlunya mempertahankan kesatuan SI. Misbach juga mulai berbicara tentang kesesuaian prinsip antara Islam dan Komunisme, sehingga tidak ada yang salah dengan sikap netral PKI terhadap agama, sebab itu berarti tidak menggunakan agama sebagai topeng.29

Peraturan disiplin partai yang ditetapkan oleh pemimpin CSI membuat Misbach pada akhirnya harus memilih di jalan mana ia akan berjuang, di kubu CSI/ PSI (Partai Sarekat Islam) atau PKI. Akhirnya, Misbach pun menentukan pilihannya untuk bergabung dengan kubu komunis dalam melakukan pergerakan politiknya. Ia mendirikan PKI afdeling Surakarta, menjadikan Islam Bergerak sebagai organ resmi PKI serta mendirikan Informatie Kantoor Bale Tanjo di rumahnya, dan Misbach menjabat sebagai direkturnya. Kasak-kusuk tentang pembentukan PKI afdeling Surakarta segera menyebar hingga ke telinga pemerintah kolonial. Polisi pun segera ditugaskan untuk memperketat pengawasannya terhadap Haji Misbach serta rumahnya yang sering dijadikan tempat untuk berkumpul para aktivis pergerakan. Dalam kondisi yang terjepit seperti itu, Misbach akhirnya lebih memilih untuk memusatkan aktivitas propagandanya di luar Karesidenan Surakarta.

Pergerakan Misbach kemudian juga dilanjutkan dengan membentuk Sarekat Rakyat (SR) Surakarta pada awal Oktober 1923. Rumah Misbach pun dijadikan sebagai Kantor SR. Sehingga rumah tersebut semakin sering didatangi oleh para aktivis dari berbagai wilayah. Islam Bergerak pun akhirnya disatukan dengan organ PKI Yogyakarta, Doenia Baroe, dan berubah nama menjadi Ra’jat bergerak pada bulan September 1924.

Popularitas Misbach di tengah-tengah aktivis pergerakan pun kian mencuat di tengah semakin luasnya pengaruh PKI di wilayah Vorstenlanden. Kampanye Misbach untuk memerangi fitnah dan tindasan dari pemerintah kolonial menjadi pacuan semangat rakyat untuk melakukan perlawanan. Sesungguhnya, Misbach tidak pernah menyuruh mereka untuk melakukan aksi secara langsung dan radikal. Misbach justru

29

(17)

menghimbau mereka untuk berhati-hati dalam ”bergerak”. Namun, seruan Misbach tersebut ternyata tidak terlalu didengarkan, para aktivis pergerakan tersebut tetap melakukan aksi langsung sendiri-sendiri di sekitar PKI dan SI Merah/SR Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, dan kota-kota lain di Jawa Tengah. Kerusuhan pun segera meluas di wilayah-wilayah tersebut. Mata-mata menyatakan kepada residen bahwa Misbach berada di balik semua kerusuhan tersebut. Ia dituding telah membentuk organisasi dengan nama Sabotase bersama komunis-komunis lain dari Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta, dan sedang melatih prajurit untuk melakukan pemboman, pembakaran rumah, perampokan, penggelinciran kereta api, sabotase, dan aksi teror lainnya.30

Menanggapi kerusuhan yang terjadi, pemerintah segera mengutus polisi untuk melakukan penggrebekan di rumah Misbach, namun mereka tidak menemukan bukti apapun. Akan tetapi, residen tetap yakin bahwa teror tersebut ada di bawah pengaruh Misbach. Oleh karena itu, setelah berkonsultasi dengan procureur generaal dan residen Semarang, Residen Van der Marel memberi wewenang kepada polisi untuk menciduk Misbach pada 20 Oktober 1923.31 Setelah ditangkap, Misbach dibawa menuju penjara Semarang dan ditahan di sana selama sembilan bulan. Setelah berada dalam penjara selama sembilan bulan, pemerintah kolonial pun akhirnya memutuskan untuk memberlakukan pasal 47 Regeering-Reglemen untuk membuang Misbach. Pada tanggal 27 Juni pemerintah mengumumkan pembuangan Misbach ke Manoekwari di Nieuw Guinea utara, Kerisidenan Ambon dan diberikan uang tunjangan sebesar f 50 tiap bulan.32 Istri dan tiga orang anaknya pun mengambil

keputusan untuk mendampingi Misbach ke tanah pembuangan.

Pada tanggal 7 Agustus 1924, setelah 20 hari perjalanan, Misbach dan keluarganya sampai di Manoekwari. Mulai saat itulah, Haji Misbach menjalani

30

Surat kabar De Sumatra Post, 30 Oktober 1923.

31

Residen van Surakarta aan GG. 29 Oktober 1923, Mr. 1052x/23. Dalam Takashi Shiraishi, op.cit. hlm. 388.

32

(18)

harinya sebagai orang buangan di tanah Papua. Namun, selama dalam masa pembuangan, Misbach tidak berhenti dari dunia pergerakan. Ia masih terus menumpahkan pemikiran politiknya dengan melakukan propaganda tentang Islam dan Komunisme melalui tulisannya yang dimuat di Medan Moeslimin. Ia juga mendirikan SR Manoekwari. Namun, pergerakannya di tanah pembuangan tidak berjalan lama. Pada 24 Mei 1926, Misbach akhirnya tutup usia karena serangan malaria.33 Misbach dimakamkan oleh SR Manokwari berdampingan dengan istrinya, di kuburan Penindi, Manoekwari. Sedangkan tiga orang anaknya kemudian dipulangkan ke tanah Jawa.34

KESIMPULAN

Haji Mohammad Misbach memiliki posisi yang unik dalam dunia pergerakan politik di Hindia Belanda abad ke-19. Sebagai seorang tokoh pergerakan radikal, ia telah melahirkan sebuah pemikiran politik baru sebagai jalan perlawanan terhadap Kolonialisme dan Kapitalisme Belanda. Misbach yang merupakan seorang mubalig dengan dasar keagamaan kuat, mencoba mensintesakan ideologi Islam dan Komunisme. Misbach berada di antara aliran Islam, Komunisme, dan Tradisionalisme Jawa dalam pemetaan pemikiran politik Herbert Feith dan Lance Kastel. Menurutnya, Islam dan Komunisme memiliki kesamaan visi, yaitu melawan setiap ketertindasan yang dialami rakyat demi menuju sebuah kesetaraan. Sinkretisme pemikirannya tersebut, membuat Misbach kemudian bangga menyebut dirinya sebagai seorang Komunis Jawa yang menjalankan dam memegang teguh ajaran Islam.

Komunisme Jawa ala Misbach lebih menekankan pada cara-cara kaum komunis Eropa dalam memperjuangan kesetaraan kelas untuk diterapkan di tanah Jawa, bukan pada filsafat tentang hubungan Tuhan dan manusia. Misbach tidak ingin

33

Surat kabar Nieuwe Rotterdamsce Courant, 2 Oktober 1926.

34

(19)

meninggalkan kesetiaanya pada agama Islam meskipun ia melakukan cara-cara perjuangan kaum komunis. Komunisme Misbach yang mengambil konsep-konsep langsung maupun tidak langsung dari Barat pun akhirnya mendapat dukungan kuat dari kalangan abangan tradisional.

Misbach memulai kiprahnya di dunia pergerakan dengan bergabung bersama SI Surakarta pada tahun 1912. Pada tahun 1914, ia bergabung dengan Inlandsche

Journalisten Bond (IJB) bentukan Mas Marco Kartodikromo, sekaligus menjadi

langganan tetap dari Doenia Bergerak. Tidak lama berselang, ia pun menerbitkan surat kabar miliknya sendiri, yaitu Medan Moeslimin pada tahun 1915 dan Islam

Bergerak pada tahun 1917. Melalui dua surat kabar tersebut, Misbach mulai

menyuarakan pemikiran politiknya serta melakukan propaganda untuk pergerakan di tanah Hindia.

Selain melakukan pergerakan melalui coretan penanya, Misbach juga tercatat beberapa kali malang-melintang di berbagai organisasi untuk “bergerak”. Dalam pandangan Misbach, Islam harus lah benar-benar bergerak untuk membebaskan rakyat dari ketertindasan. Misbach bergerak bersama SI, Insulinde, SH, SR dan PKI. Akibat aksinya yang radikal, Misbach harus beberapa kali mendekam di dalam penjara, hingga pada akhirnya Ia dibuang ke Manoekwari setelah pecahnya kerusuhan di Surakarta.

Selama berada di tanah pembuangan, Misbach masih aktif melakukan proganda untuk menyerukan pemikirannya tentang Islam dan Komunisme melalui

Medan Moeslimin. Ia tetap saja menyerang pemerintah dengan mencoba membentuk

Sarekat Rakyat di Manoekwari. Setelah dua tahun berada di tanah pembuangan, Misbach pun akhirnya menghentikan pergerakan untuk selamanya. Ia meninggal pada tahun 1926 karena serangan penyakit malaria.

(20)

DAFTAR PUSTAKA

A. Surat Kabar Sezaman

De Sumatra Post, 30 Oktober 1923 De Sumatra Post, 15 Juli 1924 Hidoep, 1 September 1924 Islam Bergerak, 10 Mei 1919 Islam Bergerak, 1 Januari 1923. Medan Moeslimin, no. 10 1926 Medan Moeslimin, no. 12 1926

Nieuwe Rotterdamsce Courant, 2 Oktober 1926 Sinar Hindia, 4 Juli 1924

B. Buku

Ahmad Suhelmi, 2001, Dari Kanan Islam hingga Kiri Islam, Jakarta: Darul Falah. Larson, George. 1990. Masa Menjelang Revolusi: Kraton dan Kehidupan Politik di

Surakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nor Hiqmah. 2006. H.M Misbach, Kisah Haji Merah. Yogyakarta: Komunitas Bambu

Parakitri Simbolon. 2007. Menjadi Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Ricklefs, M.C. 1993. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada

University Press.

Shiraishi, Takashi. 1998. Zaman Bergerak Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Jakarta: Grafiti Pers.

Soewarsono. 2000. Berbareng Bergerak: Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Semaon. Lkis: Yogyakarta.

(21)

Syamsudin Haris. 2007. Partai dan Parlemen Lokal Era Transisi Demokrasi di

Indonesia. Jakarta: Transmedia.

C. Artikel

Pabotinggi, M. 2005. ”Intelektual Pemimpin”. Majalah Prisma 6 juni 1982. Jakarta. Tabloid Pembebasan. “Haji Misbach: Muslim Komunis”. Edisi V Februari 2003.

Referensi

Dokumen terkait

Hukuman disiplin ringan berupa pernyataan tidak puas secara tertulis dengan akibat hukum dikurangi tunjangan remunerasi selama 3 bulan sebesar 75 % tiap

Pada form konsultasi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menekan tombol tambah agar semua yang akan di input bisa berfungsi selanjutnya klik no registrasi

Di desa dimana sudah dilakukan pemicuan dengan pendekatan CLTS dan sudah terpicu membuat closet sendiri dari cetakan yang dipinjami Dinas Kesehatan, hal ini dilakukan mengingat jarak

Dalam melaksanakan Yadnya ada tiga kewajiban utama yang harus dilunasi manusia atas keberadaannya di dunia ini yang disebut Tri Rna ( tiga hutang hidup). Tri Rna ini dibayar

TPA Sampah Regional Payakumbuh terletak bersebelahan dengan sawah penduduk dengan jarak 10 m, dan terdapat perumahan penduduk pada radius 300 m dari TPA yang menjadikan air

Untuk mewujudkan dua sasaran tersebut, tulisan ini menjadi penting dan strategis untuk mengidentifikasi nilai-nilai agama yang bersifat sosial untuk disosialisasikan

Untuk terjadinya proses penambatan nitrogen dibutuhkan beberapa syarat yaitu : (1) adanya enzim nitrogense; (2) ketersediaan sumber energi dalam bentuk ATP; (3) adanya sumber

Menurut Sofyan Assauri (1978:60), Pengawasan produksi adalah kegiatan untuk mengkoordinir aktivitas-aktivitas pekerjaan atau pengolahan agar waktu penyelesaian yang