44
BAB III
STUDI HERMENEUTIK
TERHADAP TEKS HAKIM-HAKIM 4 DAN 5
Kisah mengenai Debora, Yael dan ibu Sisera tidak berdiri sendiri dalam teks Perjanjian Lama. Seperti yang telah diungkapkan, cerita ini berada dalam konstelasi yang besar dari sumber deuteronomi (biasa disingkat DH atau Dtr). Sumber DH merupakan salah satu sumber yang mewarnai penulisan sebagian kitab-kitab Perjanjian Lama, selain sumber Y, E dan P. Oleh karena teks yang dipakai penulis dalam kitab Hakim-hakim merupakan bagian dari sumber DH, maka bab ini akan diawali dengan pembahasan mengenai sosio-historis kitab Hakim-hakim, kemudian dilanjutkan dengan tafsiran terhadap teks Hakim-hakim 4 dan 5 dengan menggunakan metode diakronik dan sinkronik.
A. SOSIO-HISTORIS KITAB HAKIM-HAKIM
Kitab-kitab Perjanjian Lama dibagi atas tiga kelompok, yaitu kitab taurat (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan), kitab para nabi (Yosua, Hakim-hakim, Samuel, Raja-raja, nabi-nabi terdahulu: Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, serta 12 nabi kemudian), dan tulisan-tulisan (tiga gulungan puitis: Mazmur, Ayub, Amsal; lima gulungan perayaan: Kidung Agung, Ruth, Ratapan, Pengkhotbah, Ester; dan juga Daniel, Ezra, Nehemia, serta Tawarikh). Menurut Robert B. Coote dan Mary P. Coote, tiga kelompok ini mempunyai tulisan yang panjangnya hampir sama, tetapi tidak sama pentingnya. Tauratlah yang paling penting karena berisi instruksi hukum dasar dan
45
sebagai sejarah pembentuk bangsa Israel.1 Kelompok kitab para nabi ditempatkan
sebagai bagian terpenting berikutnya, karena menceritakan kisah bangsa dan para penguasanya mulai dari penaklukan tanah di bawah pimpinan Yosia sampai kehilangan tanah itu di bawah wangsa Daud. Sementara, kelompok tulisan-tulisan ditempatkan di bawah dua kelompok di atas, meskipun kelompok ini penting sesuai dengan kedudukan mereka sendiri. Kelompok ini berisi keberagaman liturgi refleksi, sejarah dan dokumen
kenabian yang dikomposisikan sesudah kejatuhan wangsa Daud.2
Kitab Hakim-hakim termasuk dalam kelompok kitab para nabi yang menceritakan kehidupan Israel pada masa pra-monarki di bawah kepemimpinan para hakim. Para ahli Perjanjian Lama memandang kitab ini sebagai bagian dari sumber besar sejarah deutoronomi bersama dengan kitab Ulangan, Yosua, Samuel dan Raja-raja. Kitab-kitab ini merupakan sebuah upaya pemilahan baik dari tradisi oral maupun dalam bentuk tulisan yang kemudian disusun menjadi satu sejarah deutoronomi. Oleh karena itu, kitab Hakim-hakim perlu dijabarkan dalam kerangkanya sebagai bagian dari sumber DH. Guna memahami kisah dalam Hakim-hakim 4 dan 5 secara utuh, penulis akan membahas sumber DH secara spesifik.
1. Sejarah Deuteronomi atau Deuteronomistic History (DH)
Sejarah deuteronomi atau Deuteronomistic History (DH) merupakan sebuah hipotesa yang pertama kali dirumuskan oleh Martin Noth pada tahun 1943 dalam
Überlieferungsgeschichtliche Studien.3 Noth dalam Antony F. Campbell dan Mark A.
O’Brien memberikan hipotesa bahwa tradisi-tradisi Israel yang terkumpul dalam
tulisan DH merupakan sebuah karya sastra yang berasal dari beragam tradisi dan
1
Robert B. Coote dan Mary P. Coote, Kuasa, Politik, dan Proses Pembuatan Alkitab: Suatu
Pengantar (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 5.
2
Coote dan Coote, Kuasa, Politik, 6. 3
Richard Elliott Friedman, The Exile and Biblical Narrative: The Formation of the
46 disusun dengan tujuan tertentu, serta individu yang bertanggung jawab untuk menciptakan karya sastra ini berada di bawah pengaruh teologi dan ekspresi linguistik
dari hukum-hukum dalam kitab Ulangan.4 Menurutnya, secara keseluruhan kitab Yosua
sampai Raja-raja (kecuali Rut) merupakan pekerjaan historis yang dilakukan oleh
seorang penulis selama di pembuangan sekitar tahun 550 SZB.5
Tema yang membingkai sumber DH menurut Noth adalah pernyataan mengenai malapetaka yang akan dialami bangsa Israel. Cerita tentang Israel merupakan cerita tentang pemurtadan dan penyembahan berhala, sehingga Israel harus mendapatkan hukuman dari Tuhan, seperti kematian, sakit-penyakit, penawanan bahkan kehancuran. Lebih lanjut, komposisi sejarah penulisan sumber DH yang berada pada masa pembuangan juga mengalamatkan tulisannya kepada orang-orang di pembuangan untuk
menjelaskan alasan terjadinya pembuangan sebagai malapetaka yang tak terhindarkan.6
Pasca Noth, terdapat beberapa ahli yang mencurahkan perhatiannya untuk meneliti DH dan memodifikasi pandangan Noth, seperti Gerhard von Rad dan Hans Walter Wolff. von Rad dalam Frank M. Cross menyatakan bahwa tema sumber DH tidak hanya tentang malapetaka terhadap Israel yang melanggar hukum Tuhan, namun juga berhubungan dengan anugerah Tuhan. Tema tentang anugerah tersirat dalam firman Tuhan melalui nabi Nathan kepada Daud yang merupakan sebuah perjanjian dengan Tuhan tentang perlindungan terhadap dinasti dan kota Daud (2 Samuel 7:13-16). Menurutnya, tema ini berhubungan dengan “konsep mesianis,” yaitu pengharapan
bahwa kerajaan Daud akan tetap berdiri bahkan setelah pembuangan.7 Hal ini ditandai
dengan pembebasan Yoyakhin, raja Yehuda oleh raja Babilonia (2 Raja-raja 25:27-30).
4
Antony F. Campbell dan Mark A. O’Brien, Unfolding the Deuteronomistic History: Origins,
Upgrades, Present Text (Minneapolis: Fortress Press, 2000), 11.
5
Frank M. Cross, The Cannanite Myth and the Hebrew Epic: Essays in the History of the
Religion of Israel (Cambridge: Harvard University Press, 1973), 274.
6
Cross, The Cannanite, 275. 7
47 Wolff dalam Cross juga tidak menerima begitu saja pandangan Noth. Ia bahkan menolak pandangan von Rad dengan mengatakan bahwa tidak ada yang namanya pemulihan dinasti Daud. Satu-satunya tema yang paling jelas menurut Wolff adalah
pengharapan bahwa Tuhan akan memulihkan umat-Nya yang mau bertobat.8 Wolff
lebih menekankan pengharapan bagi masing-masing pribadi, bukan bagi sebuah kerajaan atau dinasti. Menurutnya, perkataan terakhir Musa (Ulangan 4:25-31; 30:1-20) dan doa Salomo (1 Raja-raja 8:46-53) memberikan harapan pemulihan kepada orang
Israel yang dibuang untuk bertobat dan kembali kepada Yahweh.9
Di pihak lain, pendapat Noth mengenai penulis tunggal yang mengerjakan sumber DH dinilai terlalu sederhana. Hal ini disebabkan karena sumber DH memiliki cakupan yang begitu luas yang meliputi relasi antara Tuhan dengan Israel (Ulangan), pendudukan tanah perjanjian (Yosua), kehidupan sebelum memiliki raja (Hakim-hakim), masa-masa kerajaan (Samuel) dan kisah kemunduran serta kejatuhan kerajaan
(Raja-raja).10 Cross kemudian mengusulkan untuk memahami sejarah DH ke dalam dua
edisi, yaitu deuteronomi 1 (Dtr 1) yang ditulis sebelum pembuangan dan deuteronomi 2 (Dtr 2) yang ditulis setelah pembuangan.
a. Dtr 1
Dtr 1 ditulis sekitar 100 tahun sesudah kehancuran Israel Utara tahun 722 SZB atau sekitar tahun 622 SZB di Yerusalem ketika Yosia memerintah sebagai raja Yehuda. Cross mengemukakan dua tema yang mendominasi tulisan Dtr 1 ini, yaitu dosa Yerobeam, serta kesetiaan Daud dan Yerusalem. Dosa Yerobeam tampak dalam pembangunan kultus di Betel dan Dan sebagai tandingan dari kultus Daud sehingga orang Israel Utara tidak perlu lagi beribadah di Yerusalem. Kultus tandingan ini dianggap oleh penulis Dtr 1 sebagai dosa paling besar,
8
Cross, The Cannanite, 277. 9
Friedman, The Exile, 2. 10
48 karena bait suci yang dibangun dan pemujaan terhadap anak lembu emas
merupakan suatu bentuk pelanggaran dan penghinaan terhadap kultus Yahweh.11
Sebanding dengan dosa Yerobeam di Utara, peristiwa penting lainnya di Selatan adalah kesetiaan Daud. Daud membangun kultus Yahweh di Yerusalem, sedangkan Yerobeam membangun kultus tandingan di Betel dan Dan; kultus yang menjijikan bagi Yahweh. Hal ini menjadikan Daud sebagai lambang kesetiaan,
sedangkan Yerobeam adalah lambang ketidaksetiaan.12 Lebih lanjut, Cross
mengemukakan bahwa puncak dari tema kedua ini terletak pada reformasi Yosia
(2 Raja-raja 22:1 – 23:25).13
Pada tahun 622 SZB, selama dalam masa perbaikan bait Allah, ditemukan dokumen yang berisikan satu set panjang hukum-hukum Musa yang dikabarkan hilang (Ulangan 12-26). Yosia kemudian memperbaharui kultus berdasarkan hukum-hukum yang ditemukan itu sebagai hukum yang sah untuk Israel. Hukum pertama dan terpenting yang ditemukan mensyaratkan bahwa kultus Yahweh adalah “esa” (Ulangan 6:4), dilakukan hanya di satu kuil (Ulangan 12:1-14) yaitu
bait suci di mana Yahweh menempatkan nama-Nya.14 Berdasarkan hukum inilah
Yosia melakukan pemusatan kultus hanya di Yerusalem dengan memusnahkan kultus-kultus asing. Hal ini juga memungkinkan Yosia untuk memulihkan kembali dinasti Daud dalam satu wilayah, yaitu kerajaan Israel Bersatu.
b. Dtr 2
Sejarah deuteronomi edisi kedua atau Dtr 2 merupakan tulisan yang dihasilkan pada masa pembuangan, yaitu sekitar tahun 550 SZB. Tema yang muncul dalam Dtr 2 memiliki kaitan dengan tema Dtr 1, yaitu tentang reformasi Yosia. Tema ini
11
Cross, Canaanite Myth, 279. 12
Cross, Canaanite Myth, 282. 13
Cross, Canaanite Myth, 283. 14
49 ditulis dengan maksud menulis ulang sejarah DH sehingga relevan dengan masa
pembuangan bagi mereka yang kehilangan harapan dari masa Yosia.15 Dtr 2
bukan hanya untuk menata kembali sejarah Israel sebelum Yosia menjadi raja, melainkan juga menyusun sejarah sedemikian rupa sehingga menjadi semacam petunjuk bagi orang-orang di pembuangan tentang kejatuhan Israel. Cerita tentang dosa Manasye yang murtad dan menyembah berhala dijadikan alasan kejatuhan Yehuda (2 Raja-raja 21:2-15). Hal ini sebanding dengan kejatuhan Samaria pada
tahun 722 SZB akibat kesalahan Yerobeam.16
Beberapa bagian dalam pekerjaan DH berisi cerita tentang ancaman penaklukan, penjajahan dan pembuangan, namun menurut Cross karya tersebut tidak selalu berasal dari editor pada masa pembuangan. Yang lebih penting adalah ada bagian yang muncul dan ditujukan kepada orang-orang buangan, yaitu untuk memanggil mereka menuju pertobatan atau memulihkan perjanjian Allah dengan Israel (Ulangan 4:27-31, Ulangan 30:1-10). Bagian inilah yang menurut Cross
paling dianggap berasal dari tangan editor pada masa pembuangan.17
Berdasarkan dua edisi DH di atas, tampak bahwa DH sangat optimis dalam mempertahankan nasionalis dari dinasti Daud dan kebijaksanaan Yosia. Kedaulatan Daud yang tampak dalam reformasi Yosia menjadi tujuan utama dari sejarah deuteronomi. Intinya adalah bahwa Israel di Utara sebenarnya bagian dari Yehuda di Selatan, sehingga tidak salah kalau Yosia berdaulat atas Israel Utara dengan melakukan pembaruan yang bertolak pada hukum dalam Ulangan 12-26. Coote mencatat bahwa reformasi Yosia mempunyai dua penekaan utama, yaitu sentralisasi, baik secara kultus maupun istana, dan pengurangan hutang dari masyarakat kelas bawah, kelompok yang
15
Cross, Canaanite Myth, 285. 16
Cross, Canaanite Myth, 285. 17
50
lemah dan kurang beruntung akibat kekuasaan Asyur.18 Dengan demikian, tulisan DH
menjadi upaya ideologis untuk mengembalikan Israel Utara ke dalam pangkuan Yehuda dan memperbaiki tatanan sosial yang telah rusak.
Pertanyaan yang muncul adalah jika tujuan sejarah deuteronomistik adalah untuk melegitimasi kedaulatan Daud yang direfleksikan dalam pemerintahan Yosia, maka apa kegunaan cerita panjang pada masa pra-Daud yang hidup dalam konfederasi suku-suku, termasuk kitab Ulangan, Yosua dan Hakim-hakim? Kitab-kitab ini begitu berbeda dengan kitab Samuel dan Raja-raja yang sangat jelas menunjukkan tema kedaulatan keluarga Daud.
Upaya untuk memahami hal ini telah dilakukan oleh para ahli Perjanjian Lama. Robert B. Coote menyatakan bahwa kitab Ulangan mudah untuk dimasukkan ke dalam skema kedaulatan Daud karena kitab tersebut terdiri dari hukum reformasi yang ditemukan pada masa pemerintahan Yosia dan merupakan bagian yang membentuk Dtr
1.19 Sementara, kitab Yosua dan Hakim-hakim menceritakan kisah pra-monarki. Cerita
ini sering dianggap sebagai tradisi yang memperkuat persepsi bahwa sejarawan deuteronomi adalah seorang kolektor tradisi dan juga editor teks. Jika terdapat cerita-cerita yang merupakan bagian dari sejarah yang berhubungan dengan tulisan dalam Samuel dan Raja-raja, maka cerita-cerita itu harus dilihat dalam pemahaman yang sama
pada kedaulatan yang terpusat pada Daud.20
Menurut Coote, juru tulis Yosia mengambil alih keseluruhan wangsa Daud, dimulai dengan sejarah legitimasi kerajaan yang sudah ada dalam arsip, dokumen-dokumen asli yang membenarkan perampasan Daud atas tanah-tanah Israel, termasuk cerita-cerita kemenangan Salomo dan banyaknya perbuatan skandal raja Utara.
18
Robert B. Coote, Sejarah Deuteronomistik: Kedaulatan Dinasti Daud atas Wilayah Kesukuan
Israel (Salatiga-Jakarta: Universitas Kristen Satya Wacana-BPK Gunung Mulia, 2014), 65, 70.
19
Coote, Sejarah Deuteronomistik, 18. 20
51 karya yang sudah ada direvisi menjadi tema pokok sejarah yang menjadi hukum di
belakang kebangkitan Yosia.21 Teks dalam kitab Hakim-hakim kemudian dikaitkan
dengan kemerosotan orang Israel karena tidak memelihara hukum Yosia di bawah
kepemimpinan Yosua.22 Ketika Yosua mati, orang Israel mengabaikan hukum-hukum
dan mulai kehilangan daerah mereka sebagai akibat yang diterima. Para hakim berhasil mencapai kemenangan bersama orang Israel, tetapi mereka tidak mengindahkan hukum Yosia, terutama menyembah satu Allah, sehingga rakyat mengalami kesialan yang
datang silih berganti di tangan para musuh.23
Marvin L. Chaney dalam Coote memiliki argumen yang berbeda. Menurutnya,
tulisan sumber DH dilakukan Yosia setelah menyadari bahwa Asyur sedang memasuki masa kehancurannya setelah hampir satu abad menguasai Palestina dan daerah lainnya. Tindakan Yosia yang membaharui bait Allah dengan cara mengeluarkan atribut dewa-dewa Asyur dari bait Allah menunjukkan bahwa dirinya adalah raja yang berdaulat dan tidak tunduk kepada Asyur. Yosia tidak hanya ingin berdaulat atas Yehuda secara penuh, tetapi juga atas Israel Utara sebagai bagian dari kerajaan Daud. Namun, Yosia tidak dapat melakukannya dengan mudah karena setelah dikuasai oleh Asyur, Israel Utara telah terpecah menjadi beberapa provinsi yang diperintah oleh pemuka-pemuka
dari luar Israel yang diangkat Asyur dari berbagai wilayah jajahan.24 Berdasarkan latar
belakang ini, John A. Titaley dalam Coote memberikan pemahaman atas cerita kitab Ulangan, Yosua dan Hakim-hakim yang dapat dikaji dalam kerangka pembaruan Yosia sebagai berikut. Kitab Ulangan merupakan kitab utama yang menjadi titik tolak semua pembaruan Yosia; kitab Yosua yang menceritakan proses pergantian Musa kepada Yosua sangat mencerminkan legitimasi yang Yosia inginkan di Israel Utara, sehingga
21
Coote dan Coote, Kuasa, Politik, 80. 22
Coote mengidentifikasikan Yosua sebagai Yosia yang sedang menyamar. Yosua adalah Yosia dengan nama lain. Coote dan Coote, Kuasa, Politik, 81.
23
Coote dan Coote, Kuasa, Politik, 81. 24
52 kitab Yosua menjadi kitab yang mencerminkan diri Yosia sendiri; sedangkan kitab Hakim-hakim dapat dilihat sebagai gambaran dari kegagalan para pemimpin di Utara
pada zaman Yosia, yaitu para pemimpin provinsi yang ditetapkan Asyur.25
Keberadaan masing-masing kitab dalam konteks ini jelas memberikan pandangan yang berbeda ketika membaca kisah di dalamnya sebagai bagian dari usaha Yosia secara menyeluruh untuk mencapai tujuan utamanya yaitu sentralisasi kekuasaan. Masing-masing kitab memiliki tujuan yang akan dicapai dalam kerangka besar pembaharuan Yosia, sehingga menjadi penting untuk membaca teks dengan menggunakan kerangka tersebut.
2. Kitab Hakim-hakim
Kitab Hakim-hakim merupakan kitab yang berisi tentang kehidupan orang Israel setelah Yosua mati dan dimaksudkan untuk melanjutkan cerita dari kitab Yosua. Kitab ini berisi keterangan tentang peristiwa-peristiwa selanjutnya setelah suku-suku Israel masuk ke tanah Kanaan, yaitu upaya oleh berbagai kelompok Israel untuk mencapai pembebasan dari para penindas, sehingga mereka memiliki kekuasaan geografis dan politik dari tanah yang didiami. Dengan kata lain, kitab ini
menggambarkan periode formatif dan transisi sejarah politik Israel.26
Pengaruh sumber DH dalam kitab Hakim-hakim tampak dalam skema kitab yang ditulis. Kitab Hakim-hakim ditulis dengan kerangka: dosa, hukuman, pertobatan
dan keselamatan.27 Orang Israel berdosa, mereka tidak bersikap seperti bangsa yang
dipilih, tidak ada persatuan dan sukuisme merajalela. Mereka tidak hidup di sekeliling
25
John A. Titaley, “Pengantar untuk Membaca Sejarah Deuteronomistik,” dalam Robert B. Coote, Sejarah Deuteronomistik: Kedaulatan Dinasti Daud atas Wilayah Kesukuan Israel (Salatiga-Jakarta: Universitas Kristen Satya Wacana-BPK Gunung Mulia, 2014), 10-11.
26
Susan Niditch, Judges: A Commentary (Louisville, London: Westminster John Knox Press, 2008),1.
27
J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), 71.
53 satu pusat agama, tetapi tiap-tiap suku memiliki tempat kudus tersendiri. Hal inilah yang menyebabkan orang Israel selalu jatuh ke dalam dosa sinkretisme dan Allah menghukum mereka dengan memakai bangsa lain sebagai penindas. Allah kemudian mengutus seorang hakim atau penyelamat untuk membebaskan mereka dari penindasan secara bergiliran, yang satu menggantikan yang lain. Para hakim dan penyelamat dalam kitab Hakim-hakim dibagi atas dua kelompok, yaitu hakim besar (Otniel, Ehud, Samgar, Debora, Gideon, Yefta, Simson) dan hakim kecil (Tola, Yair, Ebzan, Elon, Abdon). Kategori ini ditentukan berdasarkan pada cerita masing-masing hakim. Hakim besar memiliki kesatuan cerita yang menyeluruh dan panjang; berbeda dengan hakim
kecil yang berisi sedikit informasi.28
Jika diperhatikan secara seksama, maka tampak bahwa pada mulanya cerita tentang para hakim merupakan cerita tentang masing-masing hakim yang berdiri sendiri. Para hakim ini adalah seorang tokoh yang terkenal hanya dalam satu suku atau kelompok dan satu wilayah saja. Mereka muncul untuk menyelamatkan suku atau kelompoknya dari serangan musuh. Mereka adalah pahlawan suku atau kelompok
mereka masing-masing dan mungkin hidup sezaman, ataupun tidak.29 Hal ini sekali lagi
menunjukkan gambaran tentang hasil penyuntingan deuteronomis terhadap cerita yang mula-mula berdiri sendiri dan berasal dari waktu dan tempat yang berbeda. Oleh pekerjaan penyunting, para pembaca sekarang memperoleh kesan bahwa semua cerita ini telah menjadi satu cerita saja. Proses penyuntingan mungkin berlangsung terus
selama abad 8-7 SZB, dan mencapai bentuk akhir pada abad 6 SZB.30
Kitab Hakim-hakim terbagi atas tiga bagian berdasarkan isi teks, yakni pendahuluan (pasal 1–3:6), pokok kitab (pasal 3:7–16), serta tambahan (pasal 17–21).
28
Marc Zvi Brettler, The Book of Judges (London dan New York: Routledge, 2002), 22. 29
S. Wismoady Wahono, Di Sini Kutemukan: Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 122.
30
W. S. LaSor et. al., Pengantar Perjanjian Lama 1: Taurat dan Sejarah (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 309.
54 Bagian pendahuluan dan penutup dianggap tidak cocok dengan isi pokok kitab,
sehingga harus dilihat secara terpisah.31 Di dalam bagian pertama dikatakan bahwa
tidak semua bangsa Kanaan dikalahkan oleh Israel yang telah memasuki negeri itu; beberapa kota masih berada di tangan orang Kanaan. Rupanya hal ini merupakan persoalan bagi penyunting teks sehingga penyunting mencoba memberi keterangan mengenai keadaan ini. Penyunting kemudian mengatakan bahwa memang masih ada orang kafir yang belum ditaklukkan, sebab Allah hendak memakai mereka sebagai alat
untuk mencobai kesetiaan bangsa Israel.32 Pada bagian kedua terdapat sejarah Israel
yang dimulai dari kematian Yosua sampai kepada masa Eli di Silo dengan memperkenalkan dua belas tokoh utama dalam masing-masing cerita. Jelas bahwa cerita-cerita ini sendiri lebih tua daripada kerangka di mana mereka berada. Mereka berada pada masa yang sama dengan peristiwa yang diceritakan, dan kemungkinan mereka telah diwariskan turun temurun dalam bentuk lisan selama beberapa waktu
sebelum akhirnya ditulis.33 Sementara pada bagian akhir kitab ini, penyunting teks
memasukkan dua tambahan cerita untuk membuktikan bahwa pada masa hakim-hakim tidak ada aturan dan disiplin. Tiap-tiap orang berbuat apa yang disukainya. Hal ini disebabkan karena tidak ada raja yang memerintah di Israel. Jika saja ada seorang raja, maka hal-hal yang demikian tidak mungkin terjadi. Di sini terasa sekali bahwa
penyunting teks adalah seorang yang pro-monarki, pro-raja.34
Berdasarkan penjelasan ini, maka dapat disimpulkan bahwa kitab Hakim-hakim disunting pada masa pemerintahan Yosia untuk menyatukan kembali kerajaan Israel Utara dan Selatan. Kitab Hakim-hakim menjadi salah satu tulisan untuk melegitimasi bentuk pemerintahan monarki yang tunggal atas wilayah Israel Utara dan Selatan
31
Arthur E. Cundall dan Leon Morris, Judges and Ruth: An Introduction and Commentary (Downers Grove, Illinois: Inter-varsityPress, 1968), 18.
32
Blommendaal, Pengantar kepada, 74-75. 33
Cundall dan Morris, Judges and, 22. 34
55 sebagai kerajaan Israel bersatu. Dengan kesadaran ini, penulis akan melakukan penafsiran terhadap teks dalam Hakim-hakim 4 dan 5. Teks tidak berada dalam ketiadaan sejarah, sehingga penafsiran terhadap teks juga tidak bisa terlepas dari konteks sosio-historis yang turut membentuk teks.
B. TAFSIRAN TEKS
Kisah Debora dalam kitab Hakim-hakim terdapat dalam dua bentuk tulisan, yaitu prosa (pasal 4) dan puisi (pasal 5). Dalam Alkitab, kedua tulisan ini disajikan secara berkelanjutan. Setelah Debora memimpin orang Israel mengalahkan bangsa Kanaan, mereka merayakan kemenangan dengan menyanyikan nyanyian Debora. Akan tetapi, jika diperhatikan secara seksama, maka akan ditemukan beberapa perbedaan isi cerita dalam dua tulisan ini. Isu ini telah menjadi perhatian para teolog, sehingga berbagai argumen tentang dua bentuk tulisan ini muncul dalam dunia Perjanjian Lama. Berikut penulis akan mengkaji hubungan antara dua bentuk tulisan ini.
1. Prosa dan Puisi dalam Hakim-hakim 4 dan 5
Kebanyakan para ahli setuju bahwa Alkitab sangat berkaitan dengan kesusasteraan dan budaya oral. Argumen yang dikemukakan oleh Hermann Gunkel dan Claus Westermann dalam Susan Nidicth menyangkut isu ini adalah bahwa versi lisan narasi Alkitab berada pada periode awal sejarah Israel yang masih sangat tradisional. Produk-produk budaya tersebut baru ditulis di kemudian hari yang ditandai dengan
kemajuan yang besar, seperti melek huruf dan budaya menulis yang semakin ramai.35
Nidicth menyatakan bahwa teks-teks dalam Perjanjian Lama memiliki pola pengulangan baik dalam bahasa dan konten yang merupakan ciri khas dari tradisi oral.
35
Susan Nidicth, Judges: A Commentary (Louisville, London: Westminster John Knox Press, 2008), 18.
56 Hal ini sangat jelas dalam kitab Hakim-hakim. Terdapat berbagai gaya lisan dalam budaya tradisional, seperti ada teks yang tampak ganjil atau elegan. Menurutnya, cerita dalam kitab Hakim-hakim memperlihatkan kesusasteraan yang kaya, yang berada di dalam dunia yang didominasi oleh asumsi-asumsi oral mengenai cerita tradisional. Dalam dunia oral ini, tulisan hanya tersedia sebagai sarana yang berkaitan dengan
komposisi dan preservasi.36
Nyanyian Debora disetujui oleh para teolog sebagai karya sastra tertua dalam sejarah Israel. Menurut George F. Moore dalam Brettler, nyanyian ini merupakan kesusasteraan tertua Ibrani yang masih ada, satu-satunya karya besar yang berada pada
masa pra-monarki dan termasuk kelompok syair atau puisi kemenangan.37 Sependapat
dengan Moore, Daniel Skidmore-Hess dan Cathy Skidmore-Hess berargumen bahwa material biblikal yang paling kuno terdapat pada nyanyian perempuan, termasuk nyanyian kemenangan yang dinyanyikan Miryam di laut Teberau bersama perempuan
lainnya.38 Para ahli Perjanjian Lama kemudian sependapat bahwa nyanyian ini ditulis
pada abad 12 atau akhir abad 11 SZB.39
Para ahli memberikan asumsi dasar bahwa kemungkinan nyanyian Debora
merupakan produk dari tangan seorang perempuan. Menurut Bruce Herzberg, nyanyian
Debora pada pasal 5 sudah jelas berasal dari tradisi perempuan, dan ada kemungkinan juga ditulis oleh perempuan. Gagasannya ini berdasarkan pada asumsi bahwa dalam budaya patriarki yang kuat, laki-laki tidak mungkin pernah menulis cerita
kepahlawanan perempuan.40 Seperti Hezberg, Van Dijk-Hemmes dalam
36
Nidicth, Judges, 18. 37
Brettler, The Book, 62. 38
Daniel Skidmore-Hess dan Cathy Skidmore-Hess, “Dousing the Fiery Woman: The Diminishing of the Prophetess Deborah,” Shofar: An Interdisciplinary Journal of Jewish Studies Vol. 31,
No. 1 (2012), 5.
39
Brettler, The Book, 63. 40
Bruce Herzberg, “Deborah and Moses,” Journal for the Study of the Old Testament Vol. 38,
57 Hess dan Skidmore-Hess juga berpandangan bahwa pasal 5 ditulis oleh perempuan. Menurutnya, pasal 4 memberikan tekanan pada kode prajurit tentang kehormatan dan rasa malu. Tidak hanya Barak yang menunjukkan rasa malunya dengan bergantung kepada Debora, tetapi Sisera, panglima perang bangsa Kanaan juga “turun dari keretanya dan melarikan diri dengan berjalan kaki.” Sebaliknya, pasal 5 merupakan lagu kemenangan, sebuah genre yang sangat terkait dengan perempuan Alkitab. Tindakan Yael tidak digambarkan sebagai sikap yang mempermalukan Barak; bahkan pasal 5 menggambarkan Debora dan Barak yang memberikan pujian terhadap Yael
tanpa ambivalensi sebagai model bagi kaum perempuan.41
Hubungan antara dua tulisan pada pasal 4 dan 5 telah menjadi acuan penelitian para teolog dengan menggunakan bukti-bukti linguistik. Brettler menyebut kedua pasal ini membentuk sebuah unit yang unik dalam kitab Hakim-hakim. Keduanya jelas merupakan unit yang berbeda yang disusun oleh setidaknya dua orang yang berbeda pula, namun disajikan secara berdampingan. Menurutnya kejadian-kejadian yang
diceritakan dalam kedua pasal ini lebih bersifat simultan, daripada berkelanjutan.42
Sementara Baruch Halpern dalam Brettler mengemukakan bahwa penulis pasal 4 adalah sejarawan yang menggunakan pasal 5 sebagai sumber kunci, namun prosa pada
pasal 4 ditulis berdasarkan mis-interpretasi terhadap puisi pada pasal 5.43 Pendapatnya
ini berdasarkan pada catatan peristiwa yang berbeda pada kedua pasal.
Jack M. Sasson dalam observasinya mengemukakan informasi-informasi dalam
pasal 4 dan 5 secara spesifik dengan membandingkannya dalam tabel berikut.44
41
Skidmore-Hess dan Skidmore-Hess, “Dousing the, 15. 42
Brettler, The Book, 61. 43
Brettler, The Book, 75. 44
Jack M. Sasson, “A Breeder or Two for each Leader: On Mother in Judges 4 and 5” dalam David J. A. Clines dan Ellen van Wolde, ed., A Critical Engagement: Essays on the Hebrew Bible in
Honour of J. Cheryl Exum (Sheffield: Sheffield Phoenix Press, 2012), 340. Beberapa informasi
58
Prosa (pasal 4) Puisi (pasal 5)
Debora - Nabiah, istri Lapidot, hakim
(4:4)
- Duduk di bawah pohon korma Debora antara Rama dan Betel di pegunungan Efraim (4:5)
- Ibu di Israel (5:7)
Barak - Dari Naftali (4:6)
- Ragu-ragu dan argumentatif
- Kegiatannya hampir tidak
disebutkan
Yabin - Mengatur Kanaan dari Hazor
(4:2)
- Ditundukkan oleh Allah (4:23)
-
Yael - Istri Heber orang Keni (4:17) - Istri Heber orang Keni (5:24)
Sisera - Panglima tentara Yabin (4:2)
- Dibunuh dalam keadaan tidur, patok kema dilantak masuk ke dalam kepala (4:21)
- Tidak ada keterangan (5:26) - Dibunuh dalam keadaan berdiri
(5:25-27)
Ibu Sisera - - Menunggu dengan cemas
(5:28-30)
Keadaan - Teror melalui kereta besi
Sisera (4:2-3)
- Keamanan yang buruk (5:6-7)
Musuh/lawan - Yabin, raja Kanaan (4:2)
- Sisera, panglima perang (4:2)
- Raja-raja Kanaan (5:19) - Menyebut Sisera (5:20)
Suku - 2 Suku: Naftali dan Zebulon
(4:6)
- 10.000 orang (4:10)
- 10 Suku: 6 suku berpartisipasi, 4 suku tinggal diam (5:14-17)
- Jumlah orang yang lebih
banyak
Peperangan - Lokal
- Pasukan dikerahkan ke
Kedesh, menyerang dari
gunung Tabor (4:9, 14)
- Nasional
- Berperang dekat Taanakh, pada mata air di Megido (5:19) - Menyebut sungai Kison (5:21)
Kemenangan - Tuhan mengacaukan musuh
(4:15)
- Bintang-bintang memerangi
Sisera (5:20)
- Sungai Kison menghanyutkan musuh (5:21)
Observasi Sasson ini jelas menunjukkan beberapa perbedaan dalam pasal 4 dan 5. Herzberg memberikan argumen terhadap beberapa perbedaan teks dalam pasal 4 dan 5. Musuh dalam pasal 4 adalah Yabin, raja Kanaan dan Sisera, panglima perang; berbeda dengan pasal 5 yang menyebutkan raja-raja Kanaan, dan Sisera muncul di akhir puisi tanpa penjelasan siapa dia dan mengapa ia mendatangi tenda Yael. Menurut
59 Herzberg, hal ini bukanlah perbedaan yang signifikan karena raja Kanaan-lah yang
dipandang sebagai musuh utama Israel dari awal cerita, bukan Sisera.45 Perbedaan
lainnya adalah lokasi pertempuran. Megido berada pada jarak beberapa kilometer ke arah selatan dari sungai Kison, dan Taanakh berada pada jarak beberapa kilometer ke arah selatan dari Megido (pasal 4). Sedangkan, gunung Tabor berada pada jarak sekitar lima belas kilometer ke arah timur laut dari sungai Kison (pasal 5). Menurut Herzberg, kita dapat berspekulasi bahwa sungai lain mungkin juga disebut Kison sebagai nama yang umum pada zaman Perjanjian Lama; akan tetapi lebih mungkin bahwa prosa dan
puisi tidak memberikan perhatian yang sangat khusus tentang lokasi.46 Perbedaan lain
yang mencolok adalah jumlah suku yang berpartisipasi dalam perang. Menurutnya, perbedaan ini menunjukkan bahwa perjalanan prosa secara independen dari puisi yang ditulis berubah, sama halnya dengan tradisi oral, untuk memberikan petunjuk tentang
aliansi suku pada masa itu.47
Melampaui berbagai perbedaan yang ada, kedua bagian ini memiliki karakter yang sama. Hal ini menjadi dasar pemikiran Rachel C. Rasmussen untuk melihat kedua teks ini sebagai bagian yang berhubungan. Menurutnya, pasal 4 memang ditulis berdasarkan nyanyian dalam pasal 5, akan tetapi untuk membaca cerita pasal 4 dan 5 tidak perlu dilihat sebagai dua teks yang berbeda, kemudian memilih yang lebih asli atau mendamaikan kedua teks. Kedua teks ini harus dilihat sebagai dua bagian yang berhubungan, yaitu memiliki karakter yang sama, meskipun peristiwa yang terjadi tidak
selalu sama.48 Sependapat dengan Rasmussen, penulis juga akan menafsir teks dalam
Hakim-hakim 4 dan 5 dengan melihat kedua bentuk teks yang dimaksud sebagai bagian yang saling berhubungan satu sama lain.
45
Herzberg, “Deborah and, 27. 46
Herzberg, “Deborah and, 27-28. 47
Herzberg, “Deborah and, 28. 48
Rachel C. Rasmussen, “Deborah The Woman Warrior,” dalam Mieke Bal, ed.,
60 2. Tafsir Teks Hakim-hakim 4 dan 5
Keberadaan kaum perempuan dalam teks Alkitab sering ditempatkan pada posisi yang berada di belakang laki-laki, sehingga perempuan dikenal melalui laki-laki yang melindunginya, baik ayah, saudara laki-laki maupun suami. Akan tetapi, kisah klasik ini jauh berbeda dengan cerita tentang Debora dan Yael dalam Hakim-hakim 4 dan 5. Kedua perempuan ini ditampilkan sebagai pahlawan yang membawa kemenangan melawan bangsa penindas. Guna memahami kisah ini secara mendalam, penulis akan menafsirkan teks Hakim-hakim 4 dan 5 dengan menggunakan metode diakronik yang memfokuskan pada sejarah yang melingkupi teks; dan metode sinkronik yang memfokuskan pada karakter para tokoh, khususnya karakter perempuan, sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas tentang perempuan dan peranannya dalam menentukan makna teks.
a. Pembacaan Diakronik
Pendekatan diakronik ini akan membawa penulis untuk menyelidiki teks dengan melihat pada redaksional teks, serta konteks ekonomi, sosial dan politik yang melatarbelakangi dan mempengaruhi pembentukan teks. Nidicth telah menyebutkan bahwa teks-teks dalam Perjanjian Lama sangat berkaitan dengan budaya oral, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa nyanyian Debora sebagai salah satu karangan tertua berasal dari tradisi oral. Nyanyian ini cukup memperlihatkan kesusasteraan oral, karena memiliki ciri pengulangan baik dalam bahasa maupun konten tulisan.
Sependapat dengan Nidicth, Geoffrey P. Miller berargumen bahwa dalam bentuk aslinya, nyanyian Debora yang paling mungkin merupakan rekaman dari tradisi lisan. Menurutnya, nyanyian Debora memberikan tiga fungsi terpisah dalam kehidupan Israel selama versi ini dicatat dalam Perjanjian Lama. Semula, nyanyian Debora
61 disajikan sebagai karya besar budaya oral yang merekam kewajiban militer antar suku. Kemudian, nyanyian ini melambangkan keseluruhan struktur mengenai kewajiban dan kerjasama suku yang membentuk konfederasi suku-suku. Nyanyian ini memiliki fungsi yang penting untuk mengkatalog dan menjaga kewajiban dari aliansi suku jika hubungan mulai renggang. Dan akhirnya, nyanyian ini ditulis sebagai syair kepahlawanan orang Israel karena peristiwa yang digambarkan merupakan bagian yang penting dari latar belakang terbentuknya Israel menjadi sebuah kerajaan. Fungsi politik nyanyian ini tidak lagi untuk menegakkan sebuah konfederasi suku, melainkan untuk menggambarkan cacat dari bentuk konfederasi, jika dibandingkan dengan penggantinya
yang lebih kuat dan stabil, yaitu monarki.49
Analisis Miller ini menunjukkan adanya perubahan makna terhadap nyanyian Debora dari tradisi lisan menjadi tulisan. Kemunculan cerita Debora dalam kitab Perjanjian Lama kemungkinan merupakan usaha penyunting untuk menghadirkan sosok penyelamat Israel yang mengembalikan Israel kepada citra mereka yang semula, yaitu menaati hukum taurat. Debora adalah sosok pemimpin karismatik perempuan yang dipakai untuk menjalankan tujuan DH di tengah kekosongan moral dan kepemimpinan Israel. Hal ini tampak dalam kerangka cerita Debora yang sangat dipengaruhi oleh tema besar DH, yaitu dosa, hukuman, pertobatan dan keselamatan. Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata Tuhan (4:1); Tuhan menghukum mereka dengan menyerahkan ke dalam tangan Yabin (4:2); orang Israel berseru kepada Tuhan (4:3); dan Tuhan menyelamatkan orang Israel dengan menundukkan Yabin, raja Kanaan melalui kepemimpinan Debora (4:23-24).
Para ahli menyatakan bahwa cerita Debora dan Yael dimasukkan ke dalam kerangka besar sejarah deuteronomi bukan untuk menunjukkan sosok kepahlawanan
49
Geoffrey P. Miller, “Song of Deborah: A Legal-Economic Analysis,” University of
62 mereka, melainkan untuk menunjukkan pekerjaan Yahweh. Yahweh adalah satu-satunya Allah yang berkuasa atas Israel, dan Yahweh memilih untuk bekerja melalui perempuan. Barnabas Lindars dalam Rasmussen mengemukakan bahwa “tema feminis” telah mendasari narasi dalam pasal 4. Debora telah menembus hambatan konvensional, yaitu sistem patriarkal dengan menjadi hakim. Oleh karena itu, bagian yang dimainkan perempuan dalam pasal 4 dan 5 ini tidak boleh ditekan secara berlebihan. Tampak jelas bahwa penyunting telah membawa Debora di dalam jajaran para hakim hanya untuk
membentuk dasar dari skema kronologi penyunting DH.50 Beberapa interpretasi
teologis juga memunculkan kecenderungan yang sama ketika mereka menginterpretasi pekerjaan Debora dan Yael sebagai pekerjaan Yahweh. Stephen Demster dalam Rasmussen menyatakan bahwa Debora tidak memiliki makna subjektif dalam cerita,
melainkan Yahweh-lah yang menjadi karakter utama.51
Secara sosiologi, latar belakang kehidupan sosial Israel pada masa konfederasi suku-suku dipenuhi dengan tekanan dari bangsa besar di sekitarnya. Israel merupakan kelompok masyarakat yang berada di dataran tinggi, sementara bangsa-bangsa besar, seperti Kanaan berada di dataran rendah. Kebanyakan diskusi tentang sejarah Israel berasumsi bahwa wilayah berbukit-bukit tempat bermukimnya orang Israel merupakan daerah marginal yang membawa kerugian dalam hubungannya dengan dataran rendah atau perkotaan. Sebaliknya, dataran rendah memiliki keuntungan yang lebih dalam, lebih kaya, lebih mudah membajak tanah dan lebih mudah untuk dikontrol oleh para
elit.52 Berdasarkan hal ini, penulis melihat bahwa penggambaran mengenai kehidupan
sosial, politik dan ekonomi bangsa Kanaan menjadi penting untuk dibahas dalam pembacaan diakronik ini.
50
Rasmussen, “Deborah the, 81. 51
Rasmussen, “Deborah the, 81. 52
Robert B. Coote dan Keith W. Whitelam, The Emergence of Early Israel in Historical
63 Pola sosial, politik dan ekonomi orang Kanaan yang terungkap dalam sebuah studi dari surat-surat Amarna akan memberikan wawasan yang memperkaya pemahaman kita tentang kehidupan masyarakat Kanaan pada akhir periode perunggu/awal periode besi. Murray L. Newman menyebutkan bahwa meskipun surat-surat ini berasal dari abad keempat belas SZB, mereka dapat menyediakan informasi
mengenai masyarakat Kanaan di abad ketiga belas SZB.53 Newman menyinggung
aktor-aktor sosial dan peranannya dalam konteks kehidupan di Kanaan pada masa itu. Ia menegaskan bahwa kata hazzanu yang biasanya diterjemahkan sebagai pangeran, juga merujuk ke bawahan raja dari satu kota-negara yang didukung oleh pasukan
militernya.54 Aktor lain yang disebut adalah maryannu. Istilah ini sendiri tidak muncul
dalam surat Amarna, tapi mengacu kepada prajurit (sabu) dan kereta perang (narkabtu) atau kuda (sisu) dan kereta perang (narkabtu). Istilah-istilah ini menunjuk kepada elit militer dalam masyarakat Kanaan yang dikenal sebagai maryannu yang mampu menggunakan kereta perang. Kelompok elit ini memiliki peranan yang penting bagi raja untuk mempertahankan kekuasaannya dan untuk menjalankan kehendaknya dalam wilayah kekuasaan. Menurut Newman, hazzanu dan maryannu memberikan kesan
tentang kehadiran kerajaan di Kanaan.55
Cerita Debora memberikan gambaran yang jelas tentang kondisi orang Israel ketika berperang melawan Kanaan. Mereka maju berperang seadanya, tidak secanggih bangsa Kanaan yang memiliki sembilan ratus kereta besi. Secara sosiologi, hal ini menunjukkan kemajuan bangsa Kanaan. Hanya kelompok dari kalangan elit di dataran rendah yang dapat memiliki peralatan tersebut. Dalam kaitannya dengan aktor sosial
53
Murray L. Newman, “Rahab and the Conquest,” dalam James T. Butler et. al., Understanding
the Word: Essays in Honor of Bernhard W. Anderson (Sheffield, UK: JSOT Press, 1985), 170.
54
Newman, “Rahab and, 170. 55
64 dalam populasi Kanaan, Sisera dapat disebut sebagai maryannu yang bekerja bagi
hazzanu, raja Yabin untuk mencapai tujuan politisnya.
Istilah lain yang menunjukkan bagian yang signifikan dalam masyarakat Kanaan adalah hupšu yang mengacu kepada para petani. Hupšu membudidayakan tanah milik raja atau para bangsawan. Newman menekankan bahwa mereka bukan budak (meskipun budak juga merupakan bagian dari masyarakat), dan mereka bisa memiliki hewan ternak, peralatan dan bahkan rumah sendiri di sebuah desa yang dihuni oleh kaumnya sendiri. Meskipun demikian, mereka tetap tidak memiliki lahan yang dikerjakan. Hupšu bahkan akan membayar pajak untuk mengolah tanah milik raja atau
para bangsawan tersebut.56 Chaney menyatakan bahwa selama masa kekacauan dan
peperangan pada periode Amarna, kelompok ini melakukan kerja rodi dan bertugas sebagai prajurit. Menurutnya, baik petani maupun prajurit petani telah mengorganisir
diri mereka sebagai prajurit perang untuk melawan penguasa yang jahat.57
Komponen penting lain dalam masyarakat Kanaan adalah habiru. Nama habiru yang banyak muncul dalam surat-surat Amarna tidak mengacu kepada kelompok ras atau etnis, tetapi status sosial. Ini adalah kelompok orang yang keluar dari konteks sosial mereka tanpa status hukum. Newman menekankan bahwa habiru belum tentu merupakan kelompok penyusup asing. Mereka adalah orang-orang yang menarik diri dari tatanan sosial yang didirikan (atau tidak pernah menjadi bagian dari kelompok itu)
dan melawannya.58 Habiru biasanya terlibat dalam kegiatan militer. Pada saat tertentu
mereka bertindak sendiri melawan raja, namun di lain kesempatan mereka akan
bergabung dengan satu atau beberapa kerajaan untuk melawan saingan mereka.59
56
Newman, “Rahab and, 171. 57
Marvin L. Chaney, “Ancient Palestinian Peasant Movements and the Formation of Premonarchic Israel,” dalam David Noel Freedman dan David Frank Graf, Palestine in Transition: The
Eemergence of Ancient Israel (Sheffield: The Almond Press, 1983), 62.
58
Newman, “Rahab and, 171. 59
65 Chaney menekankan bahwa dalam surat-surat Amarna terdapat hubungan antara
hupšu dan habiru yang membawa ketakutan bagi raja-raja Kanaan.60 Hupšu yang berhutang dapat membuat aliansi dengan habiru untuk memberontak. Menurut Chaney, hal tersebut merupakan permusuhan yang konstan antara petani dengan raja-raja Kanaan dan para elit akibat dari sistem ekonomi dan politik yang menindas hupšu. Pemberontakan ini hanya dimungkinkan jika mereka beraliansi dengan kekuatan
eksternal, yaitu habiru.61 Namun terdapat hubungan yang kompleks antara hupšu dan
habiru. Hupšu sering melindungi habiru dari pemerintah pusat. Namun habiru bisa
menjadi lawan hupšu ketika habiru mengambil alih peran ekspliotatif elit perkotaan
dengan cara mengambil hasil pertanian hupšu bagi diri mereka sendiri.62 Hal ini jelas
menunjukkan bahwa habiru selalu berada dalam kontrak sosial. Mereka dapat bekerja dengan pihak mana pun yang menguntungkan mereka.
Analisa kondisi sosial masyarakat Kanaan di akhir zaman perunggu/awal zaman besi ini telah memberikan gambaran yang jelas tentang struktur masyarakat di Kanaan. Berdasarkan pembahasan ini, maka posisi Debora beserta orang Israel dan Yael beserta orang Keni dapat ditempatkan ke dalam komponen sosial yang ada. Orang Israel termasuk ke dalam kelompok hupšu. Tindakan mereka melawan bangsa Kanaan merupakan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat kecil dari kalangan petani yang menempatkan diri mereka sebagai prajurit untuk sewaktu-waktu melawan kelompok elit dari dataran rendah yang menindas mereka. Sedangkan, Yael dan orang Keni yang telah memisahkan diri dari suku Keni tanpa alasan yang jelas dapat disebut sebagai kelompok yang berstatus non-legal atau habiru. Mereka bukan penyelundup asing, melainkan kelompok yang telah menarik diri dari sistem sosial yang ada dan bisa saja mereka terikat dalam kontrak sosial dengan pihak lain yang menguntungkan mereka.
60
Chaney, “Ancient Palestinian, 73-76. 61
Chaney, “Ancient Palestinian, 61. 62
66 Terdapat indikasi yang mengarah pada aliansi yang terbentuk antara orang Israel (hupšu) dengan orang Keni (habiru). Hakim-hakim 4:11 mengatakan bahwa Heber memisahkan diri dari suku Keni dan berkemah di bawah pohon tarbantin di Zaanaim yang dekat Kedesh. Lokasi ini dekat dengan pasukan Barak yang juga tinggal di Kedesh (Hakim-hakim 4:6, 9). Selain itu, status orang Keni sebagai tukang besi yang dapat menyediakan layanan persenjataan, juga mendukung argumen ini. Tidak menutup kemungkinan bagi orang Keni untuk membantu orang Israel, ketika mereka menghadapi musuh yang memiliki perlengkapan yang lebih canggih.
b. Pembacaan Sinkronik
Cerita dalam Hakim-hakim 4 dan 5 memfokuskan pada peperangan antara orang Israel yang dipimpin oleh Debora dan Barak melawan tentara Yabin, raja Kanaan di bawah pimpinan Sisera, panglima tentara Yabin. Orang Israel memperoleh kemenangan atas bangsa Kanaan setelah Sisera mati dibunuh oleh Yael. Sementara ibu Sisera menanti kepulangan anaknya dengan membawa jarahan. Kisah ini dapat digambarkan dalam beberapa episode berdasarkan kemunculan para tokoh.
Pasal 4:1-11, 5:1-18 Debora memanggil dan memberi perintah kepada Barak
Pasal 4:12-16, 5:19-23 Terjadi peperangan dan Sisera melarikan diri
Pasal 4:17-24, 5:24-27 Yael bertemu Sisera dan membunuhnya
Pasal 5:28-30 Penantian ibu Sisera
Kemunculan para tokoh ini memiliki karakter masing-masing yang membentuk teks hingga mencapai klimaks dan anti klimaks. Untuk lebih memahami karakterisasi dari para tokoh, maka penulis akan membagi ke dalam tiga bagian berdasarkan tiga tokoh perempuan, yaitu Debora, Yael dan Ibu Sisera.
67 1) Debora
Teks Hakim-hakim 4 dan 5 menyebut Debora dengan beberapa peran, yaitu hakim, nabi, pemimpin perang, ibu di Israel, istri Lapidot dan penyanyi yang merayakan kemenangan Israel. Debora merupakan satu-satunya tokoh perempuan dalam Alkitab yang memiliki beberapa peranan penting dalam kehidupan orang Israel. Untuk lebih memahami karakterisasi tokoh Debora, berikut penulis akan memfokuskan pada masing-masing peranan Debora.
a) Debora sebagai hakim
Sejarah Israel dari penaklukan Kanaan pada abad ketiga belas SZB sampai pada pembentukan monarki di akhir abad kesebelas ditandai dengan sistem politik yang unik. Sistem ini ditandai dengan rezim para hakim yang merupakan tanggapan terhadap keadaan kronis perang yang menekan Israel oleh bangsa-bangsa di sekitar mereka, sehingga tidaklah mengherankan bahwa manifestasi utamanya adalah di bidang militer. Ketika orang Israel berada pada masa yang krisis, para pemimpin karismatik bangkit
sebagai hakim dan penyelamat, serta membebaskan mereka dari penindasan.63
Abraham Malamat menyebutkan bahwa sifat dan komponen prinsip yang melekat dalam kepribadian hakim dan penyelamat orang Israel sejak awal memberi perhatian kepada aspek politik-militer yang terintegrasi dengan aspek agama, dan biasanya melibatkan keberanian pribadi. Menurutnya, sifat karismatik melibatkan kontak langsung dengan kekuatan transendental (Hakim-hakim 3:10, 6:34), dan kontak ini memerlukan tanda untuk menegaskan otoritas sebagai hakim dan penyelamat baik di matanya sendiri maupun bagi orang Israel (Hakim-hakim 6:17). Otoritas kepemimpinan karismatik ini tidak tergantung pada kelas atau status sosial, maupun
63
Abraham Malamat, “Charismatic Leadership in the Book of Judges,” dalam Charles E. Carter dan Carol L. Meyers, ed., Community, Identity, and Ideology: Social Science Approaches to the Hebrew
68 pada kelompok usia dan jenis kelamin. Aktivitas para pemimpin karismatik juga tidak
selalu terkait dengan pusat-pusat keagamaan.64 Debora memang tidak digambarkan
memiliki kontak langsung dengan Tuhan sebagai penegasan otoritas, namun ia menyampaikan pesan Tuhan dan menjadi penyelamat orang Israel.
Herzberg mengemukakan bahwa peran Debora sebagai hakim tampaknya menjadi satu-satunya hakim yang sebenarnya dalam kitab Hakim-hakim. Menurutnya, istilah “hakim” harus dipahami dalam keseluruhan kitab Hakim-hakim sebagai “kepala” atau “pemimpin,” dan terdapat beberapa versi terjemahan Alkitab yang menerjemahkan kata ibrani טפש (šōpēţ) sebagai kepala atau pemimpin. Terjemahan JPS (Jewish Publication Society), misalnya, menyebutkan Debora “memimpin Israel” (bukan “memerintah Israel”) dan bahwa orang Israel datang padanya untuk “mengambil keputusan” (bukan “berhakim”). Mungkin yang dimaksudkan oleh terjemahan JPS adalah untuk menunjukan bahwa Debora membuat keputusan tentang masalah politik; dan sebagai pemimpin, Debora adalah penengah utama terhadap
berbagai sengketa berdasarkan statusnya sebagai kepala.65
Selama orang Israel berada di bawah tekanan Yabin, raja Kanaan, Debora biasa duduk di bawah pohon korma dan orang Israel menghadap dia untuk berhakim (Hakim-hakim 4:5). Ada indikasi bahwa keadaan orang Israel biasa-biasa saja sehingga mereka dapat mendatangi dan berhakim pada Debora. Ketika keadaan Israel berada pada satu keadaan tertentu, barulah Debora mengambil sikap politik dengan memanggil Barak untuk melakukan pertempuran. Menurut Emanuel Gerrit Singgih, tindakan Debora memanggil Barak untuk melawan Sisera, panglima tentara Yabin disebabkan karena kedudukan mereka yang sedang terancam, bukan karena kedudukan mereka sudah dikuasai oleh Sisera. Dengan kata lain, Debora tidak memimpin revolusi terhadap
64
Malamat, “Charismatic Leadership, 306-308. 65
69
penjajahan Yabin, melainkan ia memimpin perlawanan terhadap agresi Yabin.66
Namun, jika dikaitkan dengan ayat-ayat sebelumnya, Debora sebenarnya memimpin revolusi melawan Yabin. Israel melakukan kejahatan, mereka dihukum ke dalam penindasan Yabin, kemudian Israel berseru meminta pertolongan pada Tuhan dan Tuhan menolong mereka di bawah pimpinan Debora dan Barak. Hal ini didukung oleh ayat 12, di mana Barak terlebih dahulu maju ke gunung Tabor, kemudian ditanggapi
Sisera dengan mengerahkan pasukannya.67 Berbagai tindakan yang dilakukan oleh
Debora ini menunjukkan fungsi kepemimpinan integratif secara lokal, yang meliputi kepemimpinan yuridis, militer dan politik.
b) Debora sebagai nabi
Sejarah Israel Kuno banyak berisi cerita mengenai para nabi yang bekerja aktif di Israel. Para nabi berarti seorang yang dipanggil oleh Allah untuk berbicara dengan dan atas nama Allah, serta menyatakan pesan Allah. Penggunaan istilah nabi dalam Alkitab digambarkan paling nyata dalam pesan Allah kepada Musa, yaitu pada waktu Musa diumpamakan seperti “Allah” dan Harun digambarkan sebagai “penyambung lidah” (Keluaran 4:15-16), dan pada waktu Musa digambarkan sebagai “Allah bagi Firaun” dan Harun adalah “nabinya” (Keluaran 7:1-2). Di sini, nabi dilukiskan sebagai
penyambung lidah Allah.68
Para nabi memiliki kecenderungan terhadap masalah politik yang tampak dalam tindakan-tindakan mereka. Samuel, misalnya, adalah seorang nabi yang telah melihat dan bernubuat akan munculnya raja-raja di Israel, bahkan ia terlibat dalam munculnya
66
Emanuel Gerrit Singgih, Dua Konteks: Tafsir-tafsir Perjanjian Lama sebagai Respons atas
Perjalanan Reformasi di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 21.
67
Asnath N. Natar, “Apa Kata Laki-laki tentang Perempuan dan Gerakan Mereka,” dalam Victorius A. Hamel et. al., ed., Gerrit Singgih: Sang Guru dari Labuang Baji (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 201.
68
W. S. LaSor et. al., Pengantar Perjanjian Lama 2: Sastra dan Nubuat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 183-184.
70 raja Saul dan raja Daud (1 Samuel 9:15; 16:1-3). Hal ini menunjukkan bahwa kata-kata dan nubuatan nabi bukan hanya untuk meramalkan hal-hal yang akan terjadi, tetapi juga berisi pemahaman tentang segala sesuatu yang sedang terjadi. Nabi dapat
menegaskan hal-hal yang benar-benar sesuai dengan maksud Allah dan yang tidak.69
Perjanjian Lama secara jelas menyebutkan nama empat perempuan sebagai nabiah atas kaum Israel di antara nabi laki-laki, yaitu Miryam, Debora, Hulda dan Noaja. Miryam disebut sebagai nabiah yang memimpin tarian disertai nyanyian untuk merayakan pembebasan Israel dari Mesir (Keluaran 15:20); Hulda hidup pada zaman raja Yosia dan memberitahukan kehendak ilahi kepada Yosia setelah kitab taurat ditemukan (2 Raja-raja 22:14-20); sedangkan Noaja bergabung dengan nabi lainnya dalam usaha untuk menakut-nakuti Nehemia dalam pembangunan kembali tembok-tembok Yerusalem (Nehemia 6:14). Berbeda dengan ketiga nabiah ini, Debora tampil sebagai nabiah yang bersanding dengan kedudukannya sebagai hakim. Menurut Mieke Bal, kedudukan Debora ini harus dilihat sebagai bagian yang saling melengkapi. Dalam
kombinasi ini, Debora memiliki fungsi dan peranan yang sangat mencolok kuat.70
Tugas Debora sebagai nabi tampak ketika ia memanggil dan memberi perintah kepada Barak untuk berperang melawan bangsa Kanaan. Ia berbicara atas nama Tuhan dan menindaklanjuti panggilan sebelumnya untuk Barak: “Bukankah TUHAN, Allah Israel memerintahkan demikian?” (Hakim-hakim 4:6). Tuhan telah berbicara dengan Barak, dan panggilan Debora adalah perintah yang kedua. Hal ini mengindikasikan tindakan Debora sebagai wahyu dari Tuhan untuk diteruskan kepada Barak. Debora menggunakan bahasa para nabi ketika dia menggunakan kata ganti orang pertama untuk menyampaikan perintah Tuhan kepada Barak: “Aku [TUHAN] akan
69
Wahono, Di Sini Kutemukan, 153-154. 70
Mieke Bal, Death & Dissymmetry: The Politics of Coherence in the Book of Judges (Chicago dan London: The University of Chicago Press, 1988), 209.
71
menggerakkan Sisera … ke dalam tanganmu” (Hakim-hakim 4:7).71 Ia juga bernubuat
bahwa “TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan” (Hakim-hakim 4:9) setelah Barak memintanya turut berperang.
William E. Phipps menyatakan bahwa peran kenabian Debora mirip dengan cara di mana nabi Samuel memberi kuasa kepada Saul untuk melawan para penindas. Debora dipimpin oleh Yahweh untuk memilih pembela yang dapat membebaskan konfederasi suku Israel. Debora juga mengartikan pemeliharaan Tuhan melalui fenomena cuaca yang telah membawa kemenangan atas orang Kanaan (Hakim-hakim 5:21). Hal ini bahkan tampak seperti tindakan Yahweh ketika menenggelamkan kereta
Mesir ketika mengejar orang Israel.72 Singgih menambahkan bahwa nyanyian
kemenangan Debora memiliki bentuk yang mirip dengan nyanyian kemenangan pada Keluaran 15. Peristiwa kekalahan kereta perang Firaun bukan hanya sekedar peristiwa sejarah biasa, melainkan sebuah peristiwa kosmik. Perang melawan bangsa Kanaan
juga merupakan sebuah peristiwa kosmik (Hakim-hakim 5:4-5).73
c) Debora sebagai pemimpin perang
Palestina pada awal abad perunggu atau di awal pembentukan kerajaan Israel dilanda oleh peperangan yang terjadi terus-menerus. Surat-surat Amarna mencatat tentang periode yang diwarnai oleh permusuhan, sementara bukti arkeologi menunjukkan adanya penghancuran benteng pertahanan dan kota-kota. Kitab Hakim-hakim mencatat dinamika peperangan yang terus berlangsung pada masa pendudukan
71
Herzberg, “Deborah and, 19. 72
William E. Phipps, Assertive Biblical Women (London: Greenwood Press, 1992), 42 73
72 Israel di wilayah pegunungan dan yang akan bertahan terus pada generasi-generasi
selanjutnya ketika bangsa Filistin menjadi ancaman.74
Sebagai pendatang di tanah Kanaan, orang Israel merupakan kelompok kecil di
antara suku dan bangsa sekitar yang berkuasa. Chaney menyatakan bahwa kehidupan
orang Israel pada masa pra-monarki sangat miskin. Wilayah yang didiami orang Israel memiliki medan pegunungan yang berat karena curam, lereng bukit yang penuh semak
belukar, memiliki tanah yang tipis dan kekurangan air.75 Hal ini menyebabkan orang
Israel harus melakukan usaha yang sangat besar dalam bidang ekonomi dan militer sebagai upaya untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dan menjaga keamanan wilayah mereka dari berbagai ancaman dan tekanan dari bangsa-bangsa besar di sekitar mereka yang lebih berkuasa.
Debora merupakan contoh dari karakter penting perempuan dalam Hakim-hakim karena ia merupakan pemimpin militer dan dipilih Tuhan untuk berperang melawan bangsa Kanaan. Pasal 5 jelas menyebutkan Debora sebagai pemimpin perang, sedangkan Barak sebagai pihak yang membantu Debora. Barak tidak diidentifikasi sebagai prajurit atau panglima tentara, dan pengalaman pertempurannya tidak diketahui. Sukunya, Naftali, juga tidak memiliki reputasi dalam keberhasilan militer, karena mereka tidak mampu menghalau penduduk Bet-Semes dan Bet-Anat (Hakim-hakim 1:33). Dengan demikian, kejelasan status dan keberanian Barak dalam medan
perang juga sama sekali kabur.76 Menurut Halpern dalam Susan Ackerman, Debora
dalam Hakim-hakim 5:12 diperintahkan oleh Yahweh untuk bangkit dan mengumpulkan pasukan Israel di medan perang; sementara Barak tampaknya hanya
74
Carol L. Meyers, ”Procreation, Production, and Protection: Male-Female Balance in Early Israel,” dalam Charles E. Carter dan Carol L. Meyers, ed., Community, Identity, and Ideology: Social
Science Approaches to the Hebrew Bible (Winona Lake, Indiana: Eisenbrauns, 1996), 497-498.
75
Chaney, “Ancient Palestinian, 41. 76
Roger Ryan, Judges: Readings – A New Biblical Commentary (Sheffield: Sheffield Phoenix Press, 2007), 27.
73 sebagai penerima panggilan ini. Status ini tampak lebih jelas dalam pasal 5:7, “sampai
Debora bangkit sebagai ibu di Israel.” Barak bahkan tidak disebut sama sekali.77
Kisah Debora sebagai pemimpin perang juga dikaitkan dengan dewi-dewi perang Kanaan, yaitu dewi Asyera dan Anat. Peter C. Craigie dan Glen Taylor dalam Rasmussen mengusulkan bahwa citra tentang para dewi ini berada di balik penggambaran Debora dan Yael. Akan tetapi, menurut mereka interpretasi tentang gambaran para dewi hanya merupakan kesepakatan yang dipakai penyunting untuk mengkarakterisasi Debora dan Yael seperti dewi dengan tujuan untuk mengejek agama Kanaan. Menurut Craigie, kekuatan yang dihubungkan oleh orang Kanaan terhadap dewi mereka bukan apa-apa; nyanyian Debora jelas menyebutkan bahwa kekuatan yang sama juga terlihat dalam perempuan Ibrani, meskipun kekuatannya bukan berasal dari
dirinya tapi berakar dari komitmennya dengan Yahweh.78
Susan Ackerman juga sependapat bahwa mitos Kanaan tentang Anat, dewi prajurit mungkin telah mempengaruhi para penulis Alkitab dalam merepresentasikan
Debora.79 Akan tetapi, analisa Meyers menyebutkan bahwa dalam banyak konteks
sosial terdapat hubungan yang tampak jelas antara peran perempuan dengan para dewi. Artinya, ada korelasi yang tinggi antara dewi dalam suatu masyarakat tertentu dan kontribusi perempuan terhadap tugas-tugas penting dalam masyarakat. Penjelasan teoritis tentang korelasi ini menunjukkan bahwa sistem kepercayaan merupakan refleksi dan legitimasi dari kontribusi penting perempuan untuk melaksanakan berbagai
aktivitas.80 Hal ini dapat dianggap sebagai motif mengapa terdapat kisah tentang
perempuan Israel yang mirip dengan dewi Asyera dan Anat.
77
Susan Ackerman, “Digging up Deborah: Recent Hebrew Bible Scholarship on Gender and the Contribution of Archaeology,” Near Eastern Archaeology Vol. 66, No. 4 (Dec. 2003), 177.
78
Rasmussen, “Deborah the, 86. 79
Ackerman, “Digging up, 117. 80
74 Lebih lanjut, Ackerman menyatakan bahwa mungkin untuk menggambarkan seorang perempuan sebagai pemimpin militer pada masa itu, karena para perempuan yang hidup pada periode besi I digambarkan melakukan berbagai macam peran dalam aspek ekonomi, sosial, politik dan agama dalam komunitas mereka. Hal ini juga tampak jelas dalam kitab Hakim-hakim, seperti dalam kisah Akhsa, perempuan Tebes, anak perempuan Yefta, ibu Simson, Delila, ibu Mikha, gundik orang Lewi dan gadis-gadis di Silo. Menurut Ackerman, kisah tentang para perempuan ini sesuai dengan peranan
perempuan yang “vital dan aktif” dalam masyarakat pra-monarki.81
d) Debora sebagai penyanyi
Musik, nyanyian dan tarian adalah bagian integral dari kehidupan sehari-hari di zaman Israel Kuno. Semua itu sangat erat kaitannya dengan agama, masyarakat, dan budaya Israel, khususnya dengan pemujaan di bait suci, peperangan, perayaan dan
kehidupan di istana.82 Kitab mazmur berisi banyak rujukan pada pertunjukkan musik
daripada kitab lain. Untuk nyanyian, kebanyakan rujukan Alkitab adalah pada nyanyian religius, khususnya sebagai bagian dari peribadatan di bait suci. Akan tetapi, nyanyian
juga merupakan bagian yang penting di dalam perayaan lainnya.83
King dan Stager mengemukakan bahwa musik, nyanyian dan tarian yang merupakan bagian dalam peperangan, khususnya di dalam perayaan kemenangan setelah pertempuran tampak pada perayaan kaum perempuan, khususnya Miryam, anak
perempuan Yefta, dan Debora.84 Setelah orang Israel dengan aman menyeberangi laut
Teberau, Miryam memukul rebana, menari-nari serta menyanyikan lagu kemenangan bersama dengan perempuan lain (Keluaran 15:20-21); anak perempuan Yefta
81
Ackerman, “Digging up, 176. 82
King dan Stager, Kehidupan Orang, 325. 83
King dan Stager, Kehidupan Orang, 327. 84
75 menyambut ayahnya dengan memukul rebana dan menari-nari (Hakim-hakim 11:34); serta Debora menyanyikan lagu kemenangan bersama Barak setelah mengalahkan Kanaan (Hakim-hakim 5:1).
Di dalam Perjanjian Lama, keterangan mengenai perempuan sebagai penyanyi hanya tampak dalam kisah Miryam dan Debora. Kedua perempuan ini berada dalam konteks kehidupan Israel pada masa pra-monarki, sehingga kemungkinan peranan perempuan dalam perayaan-perayaan ini masih belum dibatasi oleh berbagai aturan di bawah kendali kerajaan. Hal ini disebutkan dalam tesis Bird yang menunjukkan adanya penurunan jumlah kaum perempuan dalam kegiatan keagamaan, karena adanya
sentralisasi kultus Yahweh di Yerusalem.85
e) Debora sebagai ibu di Israel
Kaum perempuan memainkan peranan penting dan memiliki pengaruh besar dalam konteks kehidupan keluarga: pertama, sebagai seorang ibu dan kedua, sebagai seorang istri. Pentingnya perempuan di dalam rumah tangga Israel dapat dilihat pada ungkapan yang muncul dalam Perjanjian Lama yaitu bêt ‘em yang berarti “rumah ibu” (Kejadian 24:28, Rut 1:8, Kidung Agung 3:4; 8:2). Istilah ini mengacu kepada partisipasi dan manajemen perempuan di dalam menjalankan tugas-tugas dan tanggung
jawab rumah tangga.86
Teks tidak menunjukkan ciri Debora seperti seorang ibu yang tinggal di rumah, melakukan pekerjaan rumah tangga, memelihara dan mengasuh anak, atau menanti kepulangan suami. Jikapun Debora memiliki anak, mereka tidak memiliki peran dalam cerita. Suami Debora, Lapidot, juga tidak memiliki peranan. Kata ’ēšet lapîdôt yang diterjemahkan sebagai “istri Lapidot” juga berarti “perempuan obor” (“woman of
85
Bird, Missing Persons, 92. 86
Jennie R. Ebeling, Women’s Lives in Biblical Times (New York: T&T Clark International, 2010), 28.
76
torches”) atau “pemegang obor” (“wielder of torches”). Nama Lapidot muncul ketika
para pembaca mengharapkan nama bagi suami Debora. Akan tetapi, menurut
Frymer-Kensky nama Lapidot merupakan nama yang tidak lazim bagi laki-laki. Selain itu,
nama Lapidot juga tidak memiliki patronimik “bin.”87 Sebutan “perempuan obor” atau
“fiery woman” (perempuan yang berapi-api) tampaknya lebih cocok dengan citra Debora yang berperan ganda sebagai hakim, nabi dan pemimpin perang. Dengan demikian, sebutan Debora sebagai “ibu di Israel” tidak dapat dipahami secara biologis.
Bal mengemukakan bahwa karakteristik dari peran Debora adalah menjalankan tugasnya sebagai hakim. Ketika terjadi kekacauan, hakim diangkat untuk menciptakan ketertiban. Ketika kekacauan disebabkan oleh ancaman eksternal, seperti perang atau penjajahan, tugas utama seorang hakim adalah untuk membebaskan umat dari musuh-musuhnya. Jika terjadi kekacauan internal, maka hakim harus menciptakan keteraturan di dalam kekacauan yang terjadi. Untuk membebaskan orang-orang dari kekacauan, dari musuh dan dari ketidakadilan, semua kemampuan berasal dari kepemimpinan yang karismatik. Dalam kisah ini, Debora merupakan hakim sekaligus nabi yang menggabungkan semua bentuk kepemimpinan baik dalam bidang keagamaan, militer,
yuridis maupun puitis.88 Peranan Debora sebagai “ibu di Israel” tampak dalam hal ini.
Sebagai ibu, ia memberikan kehidupan dan menjaga orang Israel, layaknya anak, yaitu membebaskan orang Israel dari penindasan bangsa Kanaan. Ia memiliki naluri keibuan sebagai sosok yang dekat dengan anak-anaknya dan peka terhadap nasib anak-anaknya. Tindakan Debora yang mengirim anak-anaknya ke medan perang disebut penafsir, seperti Natar sebagai gambaran dari ibu yang jahat. Ia tidak hanya memberikan kehidupan kepada Israel, melainkan mengirim anak-anaknya ke medan
87
Tivka Frymer-Kensky, Reading the Women of the Bible (New York: Schocken Books, 2002), 46.
88
77
perang yang menyebabkan banyak kematian.89 Argumen ini tidak dapat diterima.
Perempuan dan anak-anak sering menjadi korban dari permainan politik, termasuk peperangan. Tindakan Debora tidak hanya mengirim Israel untuk berperang, tetapi ia juga turut berperang bersama mereka. Tindakan Debora ini menunjukkan upaya seorang ibu untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan anaknya dari situasi sosial yang terjadi. Ia melakukan apapun yang bisa dilakukan untuk melindungi Israel, bahkan dengan resiko kematian yang juga dapat dialaminya sendiri.
2) Yael
Tokoh Yael (dalam bahasa Ibrani Yael berarti “kambing hutan,” dan juga
“YHWH adalah Allah”90) dalam Hakim-hakim 4-5 tidak digambarkan peranannya
secara spesifik seperti Debora, selain statusnya sebagai istri Heber, orang Keni (Hakim-hakim 4:17; 5:24). Peranan ini tampak dangkal, oleh karena itu untuk lebih memahami karakterisasi tokoh Yael maka penulis juga akan memfokuskan pada tindakan Yael sebagai akibat dari pergolakan sosial yang terjadi pada masa itu.
a) Yael sebagai istri Heber, orang Keni
Dunia patriarki menyebabkan setiap manusia, khususnya perempuan harus menempati status sosial yang dikekalkan dalam masyarakat. Termasuk dalam dunia Israel Kuno, kaum perempuan dikenal masyarakat dalam relasinya dengan laki-laki yang mempunyai otoritas atas diri mereka. Sebelum menikah, seorang perempuan tunduk kepada ayah atau saudara laki-laki; dan setelah menikah, ia tunduk kepada suaminya. Meskipun demikian, dalam beberapa cerita Perjanjian Lama tidak terlalu
89
Natar, “Apa Kata, 206. 90
John Barton dan John Muddiman, ed., The Oxford Bible Commentary (Oxford, New York: Oxford University Press, 2001), 180.
78 menonjolkan otoritas laki-laki terhadap perempuan, bahkan perempuan bertindak menurut keinginan mereka sendiri, seperti Debora dan Yael.
Yael dikenal sebagai istri Heber, orang Keni. Akan tetapi, sama seperti Lapidot, Heber tidak pernah muncul dalam cerita. Menurut Frymer-Kensky, sisi keperempuanan Yael merupakan hal yang penting. Yael adalah ’iššah yang berarti perempuan atau
istri.91 Gambaran Yael sebagai perempuan tergambar jelas dalam teks Hakim-hakim
ini. Berbeda dengan Debora, Yael berada di dalam rumah, bukan di medan perang, dan melakukan aktivitas rumah tangga.
Kata “heber” lebih merujuk pada istilah “klan,”92 sehingga keberadaan Yael
sebagai istri Heber dapat mengindikasikan statusnya sebagai perempuan Keni atau anggota dari klan Keni. Orang Keni diidentifikasi sebagai keturunan dari mertua Musa, salah satu suku bangsa Midian. Nama Keni sendiri berarti “tukang besi” dan penemuan tembaga di sebelah tenggara teluk Akaba (wilayah Keni-Midian) menguatkan argumen ini. Orang Keni muncul pertama sebagai penduduk pada zaman para leluhur di Israel (Kejadian 15:19). Sesudah Musa menjadi mantu Rehuel (Keluaran 2:18), ia mengundang Hobab, putra Rehuel bergabung dengan Israel (Bilangan 10:29). Orang
Keni kemudian menyertai suku Yehuda mendiami tanah Negeb (Hakim-hakim 1:16).93
Teks menyebutkan bahwa Heber telah memisahkan diri dari suku Keni, dari Hobab ipar Musa, dan telah berpindah-pindah memasang tendanya sampai di dekat Kedesh (Hakim-hakim 4:11). Heber sebagai pengembara dan pandai besi mungkin memasang kemahnya tidak terlalu jauh dari pertempuran dalam rangka layanan
persenjataan.94 Secara keseluruhan, orang Keni memang berhubungan baik dengan
orang Israel, tetapi hal itu tampaknya tidak menghalangi Heber untuk memelihara
91
Frymer-Kensky, Reading the, 51. 92
Bal, Death & Dissymmetry, 211.
93
J. D. Douglas, ed., Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I: A-L (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2008), 544.
94