• Tidak ada hasil yang ditemukan

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 22/PUU-VII/2009 tentang UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah [Syarat masa jabatan bagi calon kepala daerah]

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 22/PUU-VII/2009 tentang UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah [Syarat masa jabatan bagi calon kepala daerah]"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 22/PUU-VII/2009

tentang

UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah [Syarat masa jabatan bagi calon kepala daerah]

I. PEMOHON

Prof. Dr. drg. I Gede Winasa (Bupati Jembrana, Provinsi Bali)

KUASA HUKUM

Dr. A. Muhammad Asrun, S.H., M.H. advokat pada “Muhammad Asrun and Partners (MAP) Law Firm, Gedung PGRI, Jl. Tanah Abang III No. 24, Jakarta Pusat.

II. KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI :

Pemohon dalam permohonan sebagaimana dimaksud menjelaskan, bahwa ketentuan yang mengatur kewenangan Mahkamah Konstitusi untuk menguji Pasal 58 huruf o dan Penjelasan Pasal 58 huruf o Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah:

⌧ Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap undang-undang dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh undang-undang dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum”.

⌧ Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi ”menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.

III. KEDUDUKAN PEMOHON (LEGAL STANDING)

Bahwa menurut ketentuan Pasal 51 Ayat (1) UU Nomor 24 tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (UU MK), agar seseorang atau suatu pihak dapat diterima sebagai pemohon dalam permohonan pengujian undang-undang terhadap UUD 1945, maka orang atau pihak dimaksud haruslah;

a. menjelaskan kualifikasinya dalam permohonannya, yaitu apakah yang sebagai perorangan warga negara Indonesia, kesatuan masyarakat hukum adat, badan

(2)

hukum, atau lembaga negara;

b. kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya, dalam kualifikasi sebagaimana dimaksud pada huruf (a), sebagai akibat diberlakukannya undang-undang yang dimohonkan pengujian

Atas dasar ketentuan tersebut Pemohon perlu terlebih dahulu menjelaskan kualifikasinya, hak konstitusi yang ada pada Pemohon, beserta kerugian spesifik yang akan dideritanya secara sebagai berikut :

Pemohon adalah perorangan warga negara Indonesia yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya telah dirugikan oleh berlakunya undang-undang, yaitu Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

IV. NORMA-NORMA YANG DIAJUKAN UNTUK DIUJI. A. NORMA MATERIIL

1. Pasal 58 huruf o.

“Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah warga negara Republik Indonesia yang memenuhi syarat:

a. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

b. setia kepada Pancasila sebagai Dasar Negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945, dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta Pemerintah; c. berpendidikan sekurang-kurangnya sekolah lanjutan tingkat atas dan/atau

sederajat;

d. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun;

e. sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari tim dokter;

f. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau lebih; g. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang

telah memperoleh kekuatan hukum tetap;

h. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya; i. menyerahkan daftar kekayaan pribadi dan bersedia untuk diumumkan;

(3)

j. tidak sedang memiliki tanggungan utang secara perseorangan dan/atau secara badan hukum yang menjadi tanggungjawabnya yang merugikan keuangan negara.

k. tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;

l. tidak pernah melakukan perbuatan tercela;

m. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau bagi yang belum mempunyai NPWP wajib mempunyai bukti pembayaran pajak;

n. menyerahkan daftar riwayat hidup lengkap yang memuat antara lain riwayat pendidikan dan pekerjaan serta keluarga kandung, suami atau istri;

o. belum pernah menjabat sebagai kepala daerah atau wakil kepala daerah selama 2 (dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama; dan

p. tidak dalam status sebagai penjabat kepala daerah.”

2. Penjelasan Pasal 58 huruf o. “Cukup jelas”.

B. NORMA UUD 1945 SEBAGAI ALAT UJI Sebanyak 1 (satu) norma, yaitu :

Pasal 28D ayat (1) yang berbunyi:

“Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum”.

V. Alasan-Alasan Pemohon Dengan Diterapkan UU a quo Bertentangan Dengan UUD 1945, karena :

1. Pemohon mendalilkan Pasal 58 huruf o dan penjelasan Pasal 58 huruf o bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 disebabkan Pasal 58 huruf o memberikan pembatasan masa jabatan kepala daerah atau wakil kepala daerah selama 2 (dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama dan penjelasan Pasal 58 huruf 0 menimbulkan ketidakjelasan dan multitafsir sehingga tidak memberi kepastian hukum sebagaimana dijamin dalam Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. 2. Pemohon telah menduduki jabatan Bupati Jembrana selama 2 (dua) periode masa

bakti 2000-2005 yang merupakan hasil pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Jembrana melalui mekanisme pemilihan tidak langsung di DPRD Kabupaten Jembrana. Sedangkan pengangkatan Pemohon sebagai Bupati Jembrana masa bakti 2005-2010 merupakan hasil pemilihan langsung yang diselenggarakan oleh KPU Kabupaten Jembrana.

(4)

3. Pemohon mendalilkan Penjelasan Pasal 58 huruf o menimbulkan multi tafsir karena penetapan dan pengangkatan sebagai Kepala Daerah dapat terjadi melalui beberapa mekanisme, yaitu :

a. Wakil Kepala Daerah bisa naik menjadi Kepala Daerah menggantikan Kepala Daerah yang berhalangan tetap, yaitu baik karena misalnya meninggal dunia ataupun karena dijatuhi putusan pidana yang telah berkekuatan hukum tetap, sehingga apakah masa jabatan yang bersangkutan dapat dihitung sebagai satu kali masa jabatan Kepala Daerah;

b. Seseorang bisa diangkat sebagi Penjabat Kepala Daerah, sehingga harus dipertanyakan apakah masa jabatan tersebut harus juga dihitung sebagai masa jabatan Kepala Daerah yang pertama;

c. Seseorang bisa diangkat sebagi Kepala Daerah melalui mekanisme pemilihan tidak langsung di DPRD, sehingga masa jabatan sebagai Kepala Daerah tersebut harus dihitung sebagai masa jabatan yang pertama, yang sesungguhnya berbeda dengan pengangkatan seseorang sebagai Kepala Daerah melalui mekanisme pemilihan umum langsung yang merupakan rezim pemilihan umum sebagaimana dianut UU No. 32 Tahun 2004.

4. Terkait dengan kualifikasi pengangkatan sebagai Kepala Daerah melalui tiga mekanisme yang dijabarkan tersebut di atas, maka ketentuan “belum pernah menjabat sebagai kepala daerah atau wakil kepala daerah selama 2 (dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama” dalam Pasal 58 huruf o UU No. 32 Tahun 2004 telah menimbulkan potensi kerugian konstitusional bagi seorang warganegara yang pernah atau sedang menduduki jabatan Kepala Daerah dan berencana untuk maju kembali dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah periode berikutnya.

5. Oleh karena ketentuan Pasal 58 huruf (o) dan Penjelasan Pasal 58 huruf o UU No. 32 Tahun 2004 tidak memberi kepastian hukum bagi warganegara sebagaimana dijamin dalam Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945, maka fakta tersebut telah menimbulkan potensi kerugian konstitusional bagi Pemohon di masa datang ketika hendak maju kembali dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Kabupaten Jembrana Tahun 2010. Pemohon berhak maju kembali dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah terkait penilaian prestasi kerja dan kepemimpinan Pemohon dalam menjalankan roda pemerintahan di Kabupaten Jembrana [Bukti P-7, dan Bukti P-8], yang sering menjadi acuan untuk kepentingan studi banding penyelenggaraan pemerintahan oleh Pemerintahan Daerah Tingkat II lainnya di Indonesia.

(5)

V. PETITUM

1. Menerima dan mengabulkan permohonan para pemohon untuk seluruhnya;

2. Menyatakan bahwa Pasal 58 huruf (o) dan Penjelasan Pasal 58 huruf (o) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (LN. Tahun 2004 Nomor 125, TLN Nomor 4437) bertentangan dengan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 secara bersyarat (conditionally unconstitutional);

3. Menyatakan bahwa Pasal 58 huruf (o) dan Penjelasan Pasal 58 huruf (o) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (LN. Tahun 2004 Nomor 125, TLN Nomor 4437) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat; atau setidak-tidaknya menyatakan Pasal 58 huruf (o) dan Penjelasan Pasal 58 huruf (o) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (LN. Tahun 2004 Nomor 125, TLN Nomor 4437) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak memenuhi syarat-syarat : (i) tidak berlaku untuk masa jabatan kepala daerah yang merupakan penunjukan sebagai Penjabat Kepala Daerah; (ii) tidak berlaku untuk masa jabatan kepala daerah karena pemilihan kepala daerah melalui mekanisme pemilihan di DPRD;

4. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya.

Atau, bila Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, Pemohon memohon putusan seadil-adilnya.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam ketentuan Pasal 4 ayat (3) Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan bahwasanya pembentukan daerah dapat berupa

Bahwa agar ketentuan Pasal 13 ayat (2) huruf a dan Pasal 23 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, dapat

Menurut pasal 1 butir 9 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang dimaksud dengan tugas pembantuan adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah dan/ atau desa

Menyatakan Pasal 5ayat (1) dan (2) dan Pasal 44 huruf b Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

Pasal 29 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir

Menyatakan bahwa ketentuan Pasal 37 ayat (1) huruf h Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia

Pasal 29 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir

Pelaksanaan pemerinatahan desa dalam mewujudkan otonomi desa di Desa Tanjung Kecamatan Koto Kampar Hulu Kabupaten Kampar berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, ditinjau dari