• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

Journal of Forestry Policy Analysis

Vol.17 No.1, Mei 2020

JURNAL

ANALISIS KEBIJAKAN

KEHUTANAN

Analisis Kebijakan Kehutanan V

ol.7, No.1, Mei 2020 : 1-92

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry

BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI

Research, Development and Innovation Agency

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SOSIAL, EKONOMI, KEBIJAKAN DAN PERUBAHAN IKLIM

Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

BOGOR - INDONESIA

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry

BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI

Research, Development and Innovation Agency

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SOSIAL, EKONOMI, KEBIJAKAN DAN PERUBAHAN IKLIM

Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

BOGOR - INDONESIA

(2)

Diterbitkan oleh (Published by):

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim (Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change) Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi

(Research, Development and Innovation Agency)

Alamat (Address) : Jl. Gunung Batu No.5 Bogor 16118, Indonesia

Telepon (Phone) : +62-251-8633944 Email : [email protected];

[email protected]

Fax (Fax) : +62-251-8634924 Laman (web) : www. puspijak.org

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan telah terakreditasi berdasarkan Keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) No. 1221/E/2016. Jurnal ini memuat karya tulis ilmiah dari hasil penelitian, pemikiran/tinjauan ilmiah mengenai kebijakan kehutanan atau bahan masukan bagi kebijakan kehutanan. Terbit pertama kali tahun 2004, terakreditasi tahun 2008 dengan nomor 124/Akred-LIPI/P2MBI/06/2008. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan terbit dengan frekuensi dua kali setahun (Mei dan November).

Journal of Forestry Policy Analysis is an accredited journal, based on decree of Director of Indonesian Science Institute (LIPI) No. 1221/E/2016. This Journal is a scientific publication reporting research finding and forestry policy review of forestry policy recommendation. First published in 2004, accredited by LIPI in 2008 with number 124/Akred-LIPI/P2MBI/06.2008. Journal of Forestry Policy Analysis publish two times annually (May and November).

Penanggung Jawab (Advisory Editor) : Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim DEWAN REDAKSI (EDITORIAL BOARD) :

Ketua (Editor in Chief) : Dr. Ir. Sulistya Ekawati, M.Si (P3SEKPI) Redaktur (Managing Editor) : Dana Apriyanto, S.Hut, M.Sc. M.T (P3SEKPI)

Initial Reviewer : Yanto Rochmayanto, S.Hut., M.Si (P3SEKPI) Editor Bagian (Section Editors) : 1. Surati, S.Hut, M.Si (P3SEKPI)

2. Fentie J Salaka, S.Hut,M.Si (P3SEKPI) 3. Galih Kartika Sari, S.Hut.,M.Si (P3SEKPI) 4. Fulki Hendrawan, S.Hut (P3SEKPI)

Mitra Bebestari (Peer Reviewers) : 1. Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodihardjo, M.Sc (Kebijakan Kehutanan, Institut Pertanian Bogor) 2. Prof. Dr. Ir. Bramasto Nugroho, MS (Kelembagaan Ekonomi Kehutanan, Institut Pertanian Bogor) 3. Prof. Dr. Ir. Herry Purnomo,M.Comp. (Kebijakan Kehutanan, Mitigasi REDD+, Adaptasi Perubahan Iklim

dan Furniture Value Chain, CIFOR)

4. Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman,M.Sc (Kebijakan Kehutanan, Institut Pertanian Bogor)

5. Dr. Ir. Boen M. Purnama, M.Sc (Ekonomi dan Sumber Daya Hutan, Institut Pemerintahan Dalam Negeri) 6. Prof. Ir. Yonariza, M.Sc., Ph.D (Manajemen Sumber Daya Hutan, Universitas Andalas)

7. Prof. Dr.Ir. Hadi Susilo Arifin, M.Sc (Ekologi dan Manajemen Lanskap, Institut Pertanian Bogor) 8. Dr. Ir. Bambang Supriyanto, M.Sc (Sosial Ekonomi Kemasyarakatan, Kebijakan Publik, Perubahan Iklim

dan Konservasi Sumber Daya Alam, Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan) 9. Dr. Ir. I Wayan Susi Dharmawan,S.Hut, M.Si (Hidrologi dan Kesuburan Tanah, Pusat Litbang Hutan) 10. Prof. Dr. Ir. Dodik R. Nurrochmat,M.Sc (Politik Ekonomi Kehutanan, Institut Pertanian Bogor)

11. Frida Sidik, B.Sc., M.Sc., Ph.D (Mangrove, Konservasi Sumber Daya Pesisir, Perubahan Iklim, Kementerian Kelautan dan Perikanan)

12. Dr. Gamin,A.Md.,S.Sos.,MP (Pusdiklat SDM KLHK)

13. Dr. Ir. A. Ngaloken Gintings, MS (Konservasi Tanah dan Air, MKTI) 14. Dr. Nurul Laksmi Winarni (Climate Change Adaptation, Universitas Indonesia)

15. Ir. Hunggul Yudhoyono, M.Sc. (Hidrologi dan Konservasi Tanah, Balai Litbang LHK Makasar) Anggota Dewan Redaksi (Reviewers) : 1. Dr. Ir. Sulistya Ekawati, M.Si (Sosiologi Kehutanan, P3SEKPI)

2. Dr. Tuti Herawati,S.Hut,M.Si (Analisis Kebijakan, P3SEKPI)

3. Dr. Virni Budi Arifanti, S.Hut.,M.Sc (Penginderaan Jauh Geografi dan Informasi, P3SEKPI) 4. Ir. Ari Wibowo, M.Sc (Perlindungan Hutan, P3SEKPI)

5. Dr. Fitri Nurfatriani,S.Hut,M.Si (Ekonomi Kehutanan, P3SEKPI) 6. R. Deden Djaenudin,S.Si,M.Si (Ekonomi Kehutanan, P3SEKPI) 7. Dr. Ir. Subarudi,M.Wood.Sc (Sosiologi Kehutanan, P3SEKPI) 8. Dr. Ir. Niken Sakuntaladewi,M.Sc (Sosiologi Kehutanan, P3SEKPI) REDAKSI PELAKSANA (EDITORIAL TEAM) :

Penyunying Bahasa (Copy Editors) : 1. Drs. Hariono (P3SEKPI)

2. Drs. Sunaryanto (Pusdiklat SDM KLHK)

Penyunting Tata Letak (Layout Editor) : Suhardi Mardiansyah (Sekretariat Badan Litbang dan Inovasi) Administrasi Laman E-journal (Web

Admin) : Fulki Hendrawan, S.Hut (P3SEKPI)

Koreksi Naskah (Proofreader) : Prof. Dr. Ir. Djaban Tinambunan, MS. Sekretariat (Secretariat) : 1. Drs. Hariono (P3SEKPI)

2. Parulian Pangaribuan,S.Sos (P3SEKPI) 3. Fulki Hendrawan, S.Hut (P3SEKPI)

(3)

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN Ministry of Environment and Forestry

BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI Research, Development and Innovation Agency

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SOSIAL, EKONOMI, KEBIJAKAN DAN PERUBAHAN IKLIM Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

BOGOR - INDONESIA

Journal of Forestry Policy Analysis

Vol.17 No.1, Mei 2020

JURNAL

ANALISIS KEBIJAKAN

KEHUTANAN

(4)

1. Dr. Ir. Boen M. Purnama, M.Sc. 2. Dr. Ir. A. Ngaloken Gintings, MS.

3. Dr. Ir. I Wayan Susi Dharmawan,S.Hut, M.Si. 4. Ir. Hunggul Yudhoyono, M.Sc.

naskah-naskah yang dimuat pada edisi Vol. 17 No.1 Mei Tahun 2020. Mitra Bebestari (Peer

(5)

DAFTAR ISI (CONTENTS)

ANALISIS KEMAMPUAN LAHAN KPHP UNIT VII HULU SAROLANGUN DAN ARAHAN PENGGUNAANNYA

(Land Capability Analysis of KPHP Unit VIII Sarolangun and Directions of Use)

Ansori, Dwi Putro Tejo Baskoro, & Omo Rusdiana ... 1-16 PENGELOLAAN ULAYAT OLEH MASYARAKAT LOKAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP DEFORESTASI DI HUTAN PRODUKSI DHARMASRAYA PROVINSI SUMATERA BARAT

(Ulayat Forest Management by Indigenous People and Its Effects on Deforestation in Dharmasraya Production Forest in West Sumatra Province)

Abdul Mutolib, Yonariza, & Khoirul Anam... 17-31 ANALISIS STATUS KEBERLANJUTAN EKOWISATA DI TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI

(Analysis of Sustainability Status of Ecotourism in Mount Rinjani National Park)

Pipin Noviati Sadikin, Sri Mulatsih, Bambang Pramudya Noorachmat, & Hadi Susilo Arifin ... 33-51 EFEKTIVITAS KEBIJAKAN PENDANAAN PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN RAKYAT (HTR)

(The Effectiveness of Financing Policy for the Developing Community Forest Plantation)

Iis Alviya, Fentie J. Salaka, M. Zahrul Muttaqin, Fitri Nurfatriani, & ElvidaY. Suryandari ... 53-73 EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN PENGELOLAAN HUTAN TANAMAN RAKYAT DI TINGKAT LOKAL

(The Effectiveness of Local Institutional Arrangement for Community Plantation Forest)

Fentie J. Salaka, Iis Alviya, Elvida Y. Suryandari, Fitri Nurfatriani, & Muhammad

Zahrul Muttaqin ... 75-92

(6)
(7)

p-ISSN 0216-0897

e-ISSN 2502-6267 Vol. 17 No.1, Mei 2020

Kata kunci yang dicantumkan adalah istilah bebas. Lembar abstrak ini boleh diperbanyak tanpa izin dan biaya.

UDC (OSDCF) 630*542:912

Ansori, Dwi Putro Tejo Baskoro, & Omo Rusdiana

ANALISIS KEMAMPUAN LAHAN KPHP UNIT VII HULU SAROLANGUN DAN ARAHAN PENGGUNAANNYA

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol. 17 No. 1, hal. 1-16 Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pola konversi lahan hutan, mengetahui kelas kemampuan lahan, menentukan arahan spasial program agroforestri, dan memprediksi konversi lahan tahun 2025. Penelitian menggunakan metode overlay peta, analisis kemampuan lahan, dan CA-Markov. Pola konversi lahan hutan tahun 1990-2015 dinamis, perubahan terbesar terjadi pada periode 1996-2003. Kelas kemampuan lahan diidentifikasi menjadi lima kelas dengan faktor pembatas terberat adalah erosi (e4). Arahan pengelolaan terdiri dari pola agroforestri 11.361 hektar, reboisasi 11.228 hektar, usulan TORA 3.013 hektar, pengelolaan sesuai RKUPHHK dan RPHJP 102.928 hektar, prediksi perubahan penggunaan lahan pada tahun 2025 skenario strategi agroforestri menunjukkan peningkatan 105,3% HS.

Kata kunci: Penggunaan lahan, overlay, CA-Markov, prediksi, kelas kemampuan lahan, arah spasial.

UDC (OSDCF) 630*907.2:923

Pipin Noviati Sadikin, Sri Mulatsih, Bambang Pramudya Noorachmat, & Hadi Susilo Arifin

Analisis Status Keberlanjutan Ekowisata di Taman Nasional Gunung Rinjani

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol. 17 No. 1, hal. 33-51 Ekowisata di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menghadapi persoalan lingkungan yang berujung pada konflik. Karena itu, dilakukan penelitian tentang status keberlanjutan pengelolaan ekowisata TNGR. Metode penilaian yang digunakan adalah MDS (multi-dimensional scalling) dengan Rap-ecotourism dimodifikasi dari Rapid Appraisal Index (Rap-fish). Nilai indeks diperoleh dari nilai scoring atribut dimensi yang dikaji. Analisis leverage dilakukan untuk melihat atribut pengungkit yang termasuk sensitif dan menentukan keberlanjutan. Hasil analisis status keberlanjutan pengelolaan ekowisata TNGR menunjukkan dimensi ekonomi (58,49%) sudah cukup berlanjut, ekologi (35,94%), sosial (45,81%), layanan ekowisata (39,58%), teknologi dan infrastruktur (35,29%) kurang berlanjut. Dimensi kelembagaan dan kebijakan (23,76%) berada pada status tidak berlanjut.

Kata kunci: Ekowisata; keberlanjutan; multi dimension scalling; rap-fish; taman nasional; kebijakan.

UDC (OSDCF) 630*913:921

Abdul Mutolib, Yonariza, & Khoirul Anam

Pengelolaan Ulayat Oleh Masyarakat Lokal dan Pengaruhnya Terhadap Deforestasi di Hutan Produksi Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol. 17 No. 1, hal. 17-31 Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi penyimpangan pengelolaan hutan oleh masyarakat lokal yang diklaim sebagai tanah ulayat dan dampaknya terhadap proses deforestasi. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja KPHP Dharmasraya pada Februari hingga Agustus 2017. Penelitian menggunakan desain penelitian kualitatif dengan snowball sampling untuk menentukan informan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat lokal berkontribusi pada deforestasi di wilayah kerja KPHP Dharmasraya melalui proses jual-beli tanah ulayat. Jual-beli tanah ulayat dilakukan melalui dua proses, manaruko dan non-manaruko. Secara aturan adat, jual-beli tanah ulayat melalui manaruko telah sesuai aturan adat, sedangkan yang melalui proses non-manaruko tidak sesuai dengan aturan adat.

Kata kunci: Deforestasi, KPHP Dharmasraya, tanah ulayat, manaruko.

UDC (OSDCF) 630*976:922.2

Iis Alviya, Fentie J. Salaka, M. Zahrul Muttaqin, Fitri Nurfatriani, & ElvidaY. Suryandari

Efektivitas Kebijakan Pendanaan Pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (HTR)

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol. 17 No. 1, hal. 53-73

Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan pendanaan HTR yang didanai oleh BLU-KLHK dan menawarkan sumber pendanaan lain yang dapat mendukung pendanaan yang sedang berjalan. Metode survei dan FGD digunakan dalam penelitian ini, sementara analisis data dilakukan dengan pendekatan analisis deskriptif kualitatif, analisis isi, dan Teori Grindle. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pembiayaan ini, berdasarkan isi kebijakan, sudah cukup efisien, komprehensif, dan bersifat hati-hati dalam mengatur pemberian pembiayaan dana bergulir, namun dalam implementasinya belum efektif mendukung pengambangan HTR. Sumber pendanaan lain yang berpotensi dapat mendukung pembangunan HTR adalah LPDB, SBSN, dana Program Pembangunan Kawasan Perdesaan, dan Dana Desa. Kata kunci: HTR; kebijakan; pendanaan; BLU.

(8)

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis efektivitas kelembagaan HTR di tingkat lokal dalam mendorong pengembangan HTR. Data primer dan sekunder dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelembagaan pengelolaan HTR di tingkat petani pada empat lembaga pengelola HTR yang diteliti tidak efektif dan memerlukan upaya peningkatan kapasitas. Lembaga dalam bentuk koperasi secara umum lebih baik dibandingkan dengan organisasi dalam bentuk KTH meskipun belum mampu menjalankan aturan main yang telah disusun dan disepakati bersama.

(9)

p-ISSN 0216-0897

e-ISSN 2502-6267 Vol. 17 No.1, Mei 2020

The discriptors given are keywords. The abstract sheet may be reproduced without permission or charge.

UDC (OSDCF) 630*542:912

Ansori, Dwi Putro Tejo Baskoro, & Omo Rusdiana

Land Capability Analysis of KPHP Unit VIII Sarolangun and Directions of Use

Journal of Forestry Policy Analysis Vol. 17 No. 1, p. 1-16 This research is targeted to identify conversion patterns of forest land use, land capability classification, agroforestry program spatial direction and land conversion in 2025. It implements map overlay, land capability analysis, and CA-Markov method. It is found that the pattern of the conversion in 1990-2015 was dynamic. Land capability is classified into five with the biggest limiting factor in erosion (e4). Management suggestions consist of agroforestry patterns 11,361 hectares, reforestation 11,228 hectares, TORA 3,013 hectares, management in accordance with RKUPHHK and RPHJP 102,928 hectares. Prediction of land use change in 2025 with strategy agroforestry scenario shows 105.3% HS increase. Keywords: Land use; overlay; CA-Markov; prediction; land

capability class; spatial direction.

UDC (OSDCF) 630*907.2:923

Pipin Noviati Sadikin, Sri Mulatsih, Bambang Pramudya Noorachmat, & Hadi Susilo Arifin

Analysis of Sustainability Status of Ecotourism in Mount Rinjani National Park

Journal of Forestry Policy Analysis Vol. 17 No. 1, p. 33-51

Ecotourism in Mount Rinjani National Park (MRNP) faces environmental problems that lead to conflicts. An analysis of the sustainability status of MRNP ecotourism management is carried out implementing method of MDS (multi-dimensional scaling) with Rap-ecotourism, modified from Rap-fish (Rapid Appraisal Index) to score the index value of dimensions’ attributes studied. The results show that the value index of these dimensions are economic (58.49%) that isin fair sustainability, ecology (35.94%), social (45.81%), ecotourism service (39.58%), and technology and infrastructure (35.29%) that are in less sustainability, institutional and policy dimension (23.76%) meaning in poor status.

Keywords: Mangrove forest; economic valuation; willingness to pay (WTP).

UDC (OSDCF) 630*913:921

Abdul Mutolib, Yonariza, & Khoirul Anam

Ulayat Forest Management by Indigenous People and Its Effects on Deforestation in Dharmasraya Production Forest in West Sumatra Province

Journal of Forestry Policy Analysis Vol. 17 No. 1, p. 17-31

This study aims to identify local forest management irregularities of forests claimed as ulayat lands and the impacts to deforestation. This research was conducted in PFMU Dharmasraya from February to August 2017. The results show that local communities contribute to deforestation through the process of trading the ulayat land. Trading of ulayat land is through two processes:“manaruko” and “non-manaruko”. Traditionally, the sale of manaruko customary land is in accordance with customary law while the non-manaruko process is not in accordance with customary rules.

Keywords: Deforestation, PFMU Dharmasraya, ulayat land, manaruko.

UDC (OSDCF) 630*976:922.2

Iis Alviya, Fentie J. Salaka, M. Zahrul Muttaqin, Fitri Nurfatriani, & ElvidaY. Suryandari

The Effectiveness of Financing Policy for the Developing Community Forest Plantation

Journal of Forestry Policy Analysis Vol. 17 No. 1, p. 53-73

This study aims to evaluate the effectiveness of community forest plantation finance funded by BLU-KLHK and to look for other possible sources of funding to support the ongoing funding mechanism. The results show that, based on the content of the policy, HTR financing mechanism managed by BLU-KLHK is efficient, comprehensive, and prudent in regulating and facilitating the financial support to develop HTR. However, at the implementation stage, this policy has not been effective to support HTR development. Some other funding sources that might be potential to support the development include LPDB, SBSN, Rural Area Development Program, and Village Fund.

(10)

The purpose of this study is to analyze the effectiveness of local institutional arragements for HTR. Primary and secondary data are analyzed using qualitative descriptive method. The results show that the institutional managements of HTR at the farm level in four HTR permit holders examined in this study are ineffective and require capacity building program. In addition, institutions in the form of cooperatives are generally better than farmer groups (Kelompok Tani Hutan/KTH) even though they have not been able to fully implement the rules of the game that have been prepared and agreed by all members.

(11)

ANALISIS KEMAMPUAN LAHAN KPHP UNIT VII HULU

SAROLANGUN DAN ARAHAN PENGGUNAANNYA

(Land Capability Analysis of KPHP Unit VIII Sarolangun and Directions of Use)

Ansori1, Dwi Putro Tejo Baskoro2, & Omo Rusdiana3

1Program Studi Perencanaan Wilayah IPB, Kampus IPB Dramaga, Jl. Raya Dramaga, Bogor 16680, Indonesia;

e-mail: [email protected]

2Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB, Kampus IPB Dramaga, Jl. Raya

Dramaga, Bogor 16680, Indonesia; e-mail: [email protected]

3Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB, Kampus IPB Dramaga, Jl. Raya Dramaga, Bogor 16680,

Indonesia; e-mail: [email protected]

Diterima 9 Nopember 2018, direvisi 31 Maret 2020, disetujui 1 April 2020

ABSTRACT

Increasing land demand has resulted land conversion, one of which is forest land conversion. The objectives of this research are to identify: the conversion patterns of forest land use, the classification of land capability, the spatial direction of agroforestry programsand the land conversion in 2025. This research implements map overlay, land capability analysis, and CA-Markov method. The results show that the pattern the conversion in 1990-2015 is dynamic, the biggest change was from 1996 to 2003 covering the area of 24,487 hectares. There are five classes of Land capability: classes II, III, IV, VI, and VII with erosion as the biggest limiting factor (e4) dominant in classes IV and VI. Management suggestions consist of 11,361 hectares of agroforestry patterns, 11,228 hectares of reforestation, 3,013 hectares of Tanah Obyek Reformasi Agraria, 102,928 hectares of other management in accordance with Rencana Karya Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu and Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang. Prediction of land use change in 2025 with bussiness as ussual scenario shows 3.6% reduction of Hutan Sekunder with RPHJP implementation scenario, 0.5% HS is reduced; with the strategy of agroforestry scenario shows 105.3% HS increase.

Keywords: Land use; overlay; CA-Markov; prediction; land capability class; spatial direction.

ABSTRAK

Meningkatnya kebutuhan akan lahan mengakibatkan terjadinya konversi lahan hutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk 1) mengidentifikasi pola konversi lahan hutan di KPHP Unit VII Hulu Sarolangun, 2) mengetahui kelas kemampuan lahan, 3) menentukan arahan spasial program agroforestri, 4) memprediksi konversi lahan di KPHP Unit VII Hulu Sarolangun pada tahun 2025. Metode yang digunakan adalah overlay peta, analisis kemampuan lahan, dan metode CA-Markov. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola konversi lahan hutan pada tahun 1990-2015 bersifat dinamis, perubahan terbesar terjadi pada periode 1996-2003, meliputi area seluas 24.487 hektar. Kelas kemampuan lahan diidentifikasi menjadi lima: kelas II, III, IV, VI, dan VII dengan faktor pembatas terberat adalah erosi (e4), dominan di kelas IV dan VI. Arahan pengelolaan terdiri dari pola agroforestri seluas 11.361 hektar, reboisasi seluas 11.228 hektar, usulan tanah obyek reforma agraria (TORA) seluas 3.013 hektar, pengelolaan lainnya sesuai dengan RKUPHHK dan RPHJP seluas 102.928 hektar. Prediksi perubahan penggunaan lahan pada tahun 2025 dengan skenario BAU menunjukkan penurunan 3,6% hutan sekunder (HS), skenario implementasi RPHJP menunjukkan 0,5% HS berkurang, skenario strategi agroforestri menunjukkan peningkatan 105,3% HS.

(12)

I. PENDAHULUAN

Lahan merupakan sumber daya penting dalam perkembangan dan pembangunan suatu wilayah. Semakin berkembangnya suatu wilayah, maka kebutuhan akan sumber daya lahan semakin meningkat. Peningkatan jumlah penduduk secara langsung mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan lahan yang memicu terjadinya berbagai bentuk perubahan penggunaan lahan (Kusrini, 2011), di antaranya perubahan hutan menjadi non-hutan (Ilyas, Munibah, & Rusdiana, 2014). Adisukma & Rusadi (2014), Kaimuddin (2008), dan Sinurat et al. (2015) menyebutkan bahwa perubahan penggunaan lahan akibat peningkatan jumlah penduduk merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya degradasi lingkungan seperti deforestasi, erosi, dan tanah longsor.

Menurut Irawan, Mairi, & Ekawati (2016) pada umumnya klaim masyarakat akan lahan hutan diawali dari kegiatan pemanfaatan hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Meningkatnya perubahan penggunaan kawasan hutan juga diperparah dengan adanya areal open access yang merupakan areal bekas izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang ditinggalkan begitu saja oleh pemegang izin dan disertai lemahnya penegakan hukum oleh pemerintah (Nugroho, 2019). Hal ini disebabkan adanya akses menuju hutan berupa jalan yang dibangun oleh pemegang izin HPH sehingga memudahkan masyarakat sekitar hutan masuk ke dalam hutan untuk melakukan penebangan ikutan (Widianto, Hairiah, Suharjito, & Sardjono, 2003). Hal serupa juga dikemukakan oleh Carolyn, Baskoro, Prasetyo, & Prasetyo (2013) bahwa semakin tinggi akses terhadap kawasan hutan maka akan meningkatkan potensi gangguan terhadap kawasan hutan.

Areal Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Unit VII Hulu Sarolangun merupakan hutan negara, berdasarkan peta fungsi hutan terdiri dari hutan produksi (36%), hutan lindung (45%), dan hutan

produksi terbatas (19%). Penafsiran citra

landsat tahun 2009 menyebutkan bahwa

tutupan lahan berupa hutan pada areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun hanya sebesar 43,82% dan 56,16% lainnya telah menjadi penggunaan lain. Kecenderungan konversi lahan hutan menjadi non hutan pada areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun diduga akan meningkat seiring meningkatnya kebutuhan akan lahan dan akan berakibat bertambahnya intensitas konflik tenurial antara masyarakat dan KPHP sehingga diperlukan strategi dalam penanganannya. Menurut Mayrowani & Ashari (2011) agroforestri sebagai salah satu bentuk pola hutan kemasyarakatan dapat memberikan kontribusi pendapatan rumah tangga 41,32% dan penyerapan tenaga kerja 2,4 orang per hektar. Menurut Kaskoyo, Mohammed, & Inoue (2014) insentif yang diberikan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan hutan negara dapat meminimalkan konflik penggunaan lahan hutan. Perhutanan sosial merupakan sebuah konsep untuk mengurangi kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan pengelolaan atau pemanfaatan kawasan hutan. Dari aspek ekologi, agroforestri sebagai salah satu pola Hutan Kemasyarakatan (HKm) mampu berperan positif dalam mengendalikan erosi dan limpasan permukaan (run off), memperbaiki kesuburan tanah, dan menjaga keseimbangan tata air (Nilda, Adnyana, & Merit, 2015) dan (Noordwijk et al., 2004).

Berdasarkan latar belakang di atas maka penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pola konversi lahan hutan, 2) mengetahui klasifikasi kelas kemampuan lahan, 3) menentukan arahan spasial pengembangan program agroforestri, dan 4) memprediksi konversi lahan di KPHP Unit VII Hulu Sarolangun pada tahun 2025.

II. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan November 2018 di wilayah

(13)

kelola KPHP unit VII Hulu Sarolangun. Lokasi penelitian tersaji pada Gambar 1. KPHP Unit VII Hulu Sarolangun secara geografis terletak pada 102°46'12"-103°15’36" Bujur Timur dan 02°45’00"-03°16'48" Lintang Selatan. Wilayah KPHP Unit VII Hulu Sarolangun termasuk di dalam DAS Batang Asai dan DAS Batang Limun; secara administrasi pemerintahan terletak di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Limun, Kecamatan Cermin Nan Gedang, dan Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Batas-batas wilayah KPHP Unit VII Hulu Sarolangun adalah sebagai berikut: sebelah utara berbatasan dengan APL dan HP Batang Asai (Kabupaten Merangin); sebelah selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan; sebelah barat berbatasan dengan hutan lindung (HL) Hulu Landai Bukit Pale (Kabupaten Merangin); dan sebelah timur berbatasan dengan areal penggunaan lain (APL). Kondisi topografi datar sampai berbukit dengan topografi dominan adalah bergelombang dan berbukit (40,62% dan 39,34%), ketinggian

bervariasi (26-2.380 meter dari permukaan laut). Formasi geologi meliputi 15 formasi dengan areal terluas adalah formasi Asai seluas 67.590,30 hektar (52,59%) yang tersusun dari batu pasir malihan, filite, batu sabak, batu lanau terkersikan, grewake, dan sisipan batu gamping. Beberapa tempat tersusun dari batu pasir kuarsa, argilit, sekis, genes, kuarsit, dan batu induk. Jenis tanah termasuk dalam ordo tanah ultisol dan inceptisol, sedangkan iklim termasuk tipe B (basah) menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson.

B. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan terdiri dari data spasial berupa peta penggunaan lahan tahun 1990, 1996, 2003, 2009, 2015, 2016, dan 2017 skala 1:250.000, peta sistem lahan, peta tingkat bahaya erosi dan data non spasial berupa perizinan dalam kawasan hutan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Industri (IUPHHKHTI) dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Data tersebut diperoleh dari berbagai instansi

Gambar 1 Areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun

(14)

yaitu Direktorat Jenderal (Ditjen) Planologi, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Sarolangun, Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sarolangun, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Batanghari, Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Wilayah IV Jambi, dan KPHP Unit VII Hulu Sarolangun. Data primer berupa hasil pengamatan lapangan dan wawancara pada lokasi terjadinya perubahan penggunaan lahan atau tutupan lahan yang ditentukan dengan teknik purposive sampling untuk memperoleh data kondisi eksisting penggunaan lahan.

C. Analisis Data

1. Analisis Pola Konversi Lahan Hutan

Penggunaan lahan dan penutupan lahan dapat memiliki pengertian yang sama untuk hal-hal tertentu, tetapi sebenarnya mengandung penekanan yang berbeda. Penggunaan lahan (land use) terkait aktivitas pemanfaatan lahan oleh manusia, sedangkan penutupan lahan (land cover) lebih bernuansa fisik (Rustiardi, Saefulhakim, & Panuju, 2011). Lillesand & Kiefer (1990) mendefinisikan penggunaan lahan berhubungan dengan kegiatan manusia pada bidang lahan, sedangkan penutupan lahan lebih merupakan perwujudan fisik obyek-obyek yang menutupi lahan tanpa mempersoalkan kegiatan manusia terhadap obyek-obyek tersebut. Analisis pola konversi lahan hutan bertujuan untuk mengetahui bentuk perubahan penggunaan lahan dalam kurun waktu tertentu yang dilakukan dengan cara membandingkan peta penggunaan lahan pada periode tertentu. Pada penelitian ini dilakukan analisis untuk mengetahui pola-pola perubahan penggunaan lahan yang terjadi di areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun pada periode tahun 1990-1996, tahun 1996-2003, tahun 2003-2009, dan tahun 2009-2015. Data yang digunakan untuk analisis adalah data sekunder dari Direktorat Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan (Dit IPSDH), Ditjen Planologi berupa data vektor penggunaan lahan pada tahun 1990, 1996,

2003, 2009, dan 2015. Analisis dilakukan dengan metode tumpang-susun (overlay) menggunakan perangkat lunak ArcGIS 10.1.

Analisis pola perubahan penggunaan lahan dilakukan dengan tahapan: 1) Persiapan peta penggunaan lahan untuk mendapatkan peta penggunaan lahan areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun pada tahun 1990, 1996, 2003, 2009, dan 2015 melalui proses geoprocessing dengan menggunakan perangkat lunak Arc GIS; 2) overlay peta penggunaan lahan pada lima periode untuk mendapatkan gambaran perubahan penggunaan lahan yang terjadi; 3) Analisis data atribut dengan mengggunakan Microsoft Excel untuk menghasilkan data pola perubahan penggunaan lahan dan luasan perubahan penggunaan lahan pada setiap periode.

2. Evaluasi Kemampuan Lahan

Pada intinya evaluasi lahan merupakan bagian dari proses perencanaan tataguna lahan yang dilakukan dengan membandingkan persyaratan yang diminta oleh tipe penggunaan lahan yang akan diterapkan dengan sifat-sifat atau kualitas lahan yang dimiliki oleh lahan yang akan digunakan (Susetyo, Arifin, & Arifin, 2010). Evaluasi kemampuan lahan adalah hal penting dalam upaya konservasi lahan sehingga penggunaan lahan yang dilakukan sesuai dengan kelas kemampuannya unruk menghindari kerusakan lahan (Suyana, 2014). Evaluasi kemampuan lahan dilakukan untuk mengetahui daya dukung lahan yang merupakan pertimbangan penting dalam perencanaan tata ruang wilayah agar mampu mendukung aktivitas pemanfaatan lahan secara berkelanjutan (Sadesmesli, Baskoro, & Pravitasari, 2017). Menurut Harjianto, Sinukaban, Tarigan, & Haridjaja (2016) evaluasi kemampuan lahan merupakan upaya yang memadukan konsevasi tanah dan air dengan peningkatan produksi pertanian.

Evaluasi kesesuaian lahan yang dilakukan mengacu pada Klasifikasi Kemampuan Lahan

United States Department of Agriculture

(15)

Hardjowigeno & Widiatmaka, 2007). Pada sistem klasifikasi ini lahan dikelompokkan dalam kelas I hingga VIII. Lahan kelas I merupakan lahan yang memiliki kriteria paling baik yaitu lahan yang tidak memiliki faktor penghambat sehingga dapat digunakan untuk segala jenis penggunaan lahan; lahan klas VIII merupakan lahan dengan kriteria paling buruk karena memiliki faktor pembatas yang paling berat sehingga hanya dapat digunakan untuk penggunaan lahan hutan. Evaluasi kemampuan lahan dilakukan terhadap setiap satuan lahan yang merupakan kombinasi bentuk lahan dan karakteristik tanah. Kriteria yang dijadikan pembatas kelas kemampuan lahan merujuk pada sistem klasifikasi kemampuan lahan menurut Klingebel & Motgomery (1961) sebagaimana Tabel 1.

3. Arahan Spasial Pengembangan Pola Agroforestri di Areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun

Penentuan arahan pengelolaan areal KPHP dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif dengan membandingkan kondisi fisik areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun dengan decision rules yang dapat membatasi bentuk-bentuk program pengelolaan yang dapat diterapkan. Penetapan arahan pengelolaan dilakukan dengan mempertimbangkan pola ruang RTRW Kabupaten Sarolangun 2014-2032, tata hutan berdasarkan RPHJP KPHP Unit VII Hulu Sarolangun periode 2016-2025, areal izin IUPK HTI yang ada di dalam areal KPHP, dan areal yang diperuntukkan sebagai wilayah tertentu KPHP dengan decision rules sebagaimana Tabel 2. Pola pengelolaan Tabel 1 Kriteria klasifikasi kemampuan lahan

Table 1 Criteria of land capability classification

No. Faktor (Factor) I Kelas kemampuan lahan (Land capability class)II III IV V VI VII VIII 1 Tekstur tanah (t) a. lapisan atas (40 cm) t2/t3 t1/t4 t1/t4 (*) (*) (*) (*) t5 b. lapisan bawah t2/t4 t1/t4 t1/t4 (*) (*) (*) (*) t5 2 Lereng permukaan (%) i0 i1 i2 i3 (*) i4 i5 i6 3 Drainase d0/d1 d2 d3 d4 (**) (*) (*) (*) 4 Kedalaman efektif k0 k0 k1 k2 (*) k3 (*) (*) 5 Keadaan erosi e0 e1 e1 e2 (*) e3 e4 (*) 6 Kerikil/batuan b0 b0 b0 b1 b2 (*) (*) b3 7 Banjir o0 o1 o2 o3 o4 (*) (*) (*)

Sumber (Source): Hardjowigeno & Widiatmaka (2007). Tabel 2 Arahan pengeloalaan areal KPHP

Table 2 Direction of KPHP area management

No. Arahan (Direction) Kriteria (Criteria)

1 Pola agroforestri Areal dengan kondisi tutupan lahan non hutan, terletak pada kelas kemampuan lahan III, IV, dan V, sesuai dengan pola ruang RTRW

2 Pola reboisasi Areal dengan penggunaan lahan berupa non hutan, terletak pada kelas kemampuan lahan VI, VII, dan VIII, sesuai dengan pola ruang RTRW 3 Pola pemanfaatan hutan

sesuai RKU dan RPHJP Pola pemanfaatan hutan sesuai RKU dan RPHJP 4 Pola Tanah Obyek

Reformasi Agraria (TORA)

Areal dengan tutupan lahan non hutan yang berada pada kelas kemampuan lahan I dan II serta tutupan lahan berupa pemukiman pada kelas kemampuan lahan III sampai dengan VIII

(16)

tersebut selanjutnya secara spasial juga akan terbagi ke dalam areal IUPHHK, wilayah tertentu, dan berada di luar IUPHHK dan wilayah tertentu.

4. Prediksi Penggunaan Lahan Hutan di Areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun Tahun 2025

Konversi lahan hutan pada masa yang akan datang dapat diperkirakan melalui pola-pola penutupan lahan pada waktu yang lalu. Prediksi tutupan lahan dapat dilakukan berdasarkan kecenderungan perubahan penggunaan lahan pada selang waktu tertentu yang dilakukan dengan metode Cellular Automata (CA) (Dwinanto, Munibah, & Sudadi, 2016). Pada penelitian ini analisis menggunakan CA-Markov untuk mengetahui perkiraan penggunaan lahan pada tahun 2025. Data yang digunakan adalah data raster tutupan lahan (tahun 2000, 2009, dan 2017) dengan menggunakan perangkat lunak IDRISI Selva. Penilaian akurasi prediksi penggunaan lahan dilakukan dengan cara membandingkan antara penggunaan lahan yang dihasilkan melalui prediksi CA-Markov pada tahun 2017 dengan penggunaan lahan aktual yang berasal dari penggunaan lahan aktual tahun 2017 yang didasarkan oleh nilai Kappa. Hasil prediksi dikatakan akurat apabila nilai Kappa yang dihasilkan lebih dari 80%. Apabila nilai

akurasi telah memenuhi syarat, maka prediksi CA-Markov tersebut dapat digunakan untuk menduga bentuk penggunaan lahan pada tahun 2025.

III. HASIl DAN PEMBAHASAN A. Penggunaan Lahan Tahun 2017

Penggunaan lahan eksisting tahun 2017 pada areal KPHP unit VII Hulu Sarolangun terdiri dari tujuh jenis tutupan lahan yaitu hutan primer (HP), hutan sekunder (HS), pertanian (Pt), belukar (Blk), perkebunan (Pk), permukiman (Pmk), dan tanah terbuka (TT). Penggunaan lahan berupa hutan di areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun masih mendominasi luasan penggunaan lahan yaitu berupa hutan primer seluas 92.490 hektar (72%) dan hutan sekunder seluas 10.443 hektar. Penggunaan lahan non hutan terdiri dari belukar seluas 8.051 hektar, permukiman seluas 14 hektar, perkebunan seluas 3.821 hektar, pertanian seluas 13.275 hektar, dan tanah terbuka seluas 439 hektar.

B. Pola Perubahan Penggunaan Lahan Pola perubahan lahan terbagi ke dalam lima periode pengelolaan yaitu periode tahun 1990-1996, 1996-2003, 2003-2009, dan 2009-2015 dengan hasil sebagaimana tersaji pada Gambar 2.

Gambar 2 Luas penggunaan lahan tahun1990, 1996, 2003, 2009, dan 2015

(17)

1. Perubahan Penggunaan Lahan Hutan Tahun 1990-1996

Penggunaan lahan periode tahun 1990-1996 tidak mengalami banyak perubahan, bahkan untuk hutan primer dan hutan sekunder tidak mengalami perubahan luas. Perubahan penggunaan lahan hanya pada areal yang telah digunakan masyarakat untuk pertanian menjadi tanah terbuka seluas 6.773 hektar dan sebaliknya terdapat juga perubahan dari tanah terbuka menjadi pertanian seluas 228 hektar. Deforestasi tidak terjadi dalam periode ini, erat kaitannya dengan masih dikelolanya areal tersebut oleh perusahaan pemegang konsesi (HPH) serta penegakan hukum lebih tegas oleh pemerintah terhadap tindakan perusakan hutan yang dilakukan oleh masyarakat, bahkan terdapat pelibatan pihak penegak hukum terhadap pengamanan areal konsesi HPH. Pada masa Orde Baru pemerintah memberikan kesempatan yang sangat besar kepada pihak swasta dalam pengelolaan hutan dengan mekanisme HPH dan pengelolaan hutan oleh masyarakat sangat dibatasi (Hidayat, 2008).

2. Perubahan Penggunaan Lahan Hutan Tahun 1996-2003

Pada periode tahun 1996-2003 tidak terjadi perubahan hutan primer, hutan sekunder berkurang seluas 47,9% dibandingkan periode tahun 1996 menjadi belukar seluas 3.713 hektar, perkebunan seluas 2.181 hektar, pertanian seluas 5.814 hektar, dan tanah terbuka seluas 10 hektar. Pertanian berubah menjadi belukar seluas 51 hektar dan tanah terbuka berubah menjadi perkebunan seluas 807 hektar, dan menjadi pertanian seluas 5.966 hektar. Belukar dan perkebunan tidak mengalami perubahan. Angka deforestasi yang terjadi pada periode ini menurut FAO mencapai 1,87 juta ha/tahun, erat kaitannya dengan kondisi politik yang terjadi pada tahun 1998 yaitu beralihnya masa Orde Baru ke masa Reformasi serta beralihnya kewenangan pengelolaan kawasan hutan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah (desentralisasi)

melalui Undang-Undang No. 22 Tahun 1999. Kajian yang dilakukan CIFOR dan FWI menyebutkan bahwa proses desentralisasi yang terlalu cepat menimbulkan banyak ketidakjelasan sehingga memicu munculnya konflik laten dan merangsang terjadinya konflik baru. Studi tersebut mencatat lima faktor penyebab konflik kehutanan yaitu masalah tata batas, pencurian kayu, perambahan hutan, kerusakan lingkungan, dan peralihan fungsi kawasan.

3. Perubahan Penggunaan Lahan Hutan Tahun 2003-2009

Pada periode tahun 2003-2009 perubahan penggunaan lahan hutan terjadi pada hutan sekunder seluas 435 hektar. Perubahan dari hutan sekuder menjadi belukar seluas 323 hektar, pertanian seluas 97 hektar, dan tanah terbuka seluas 15 hektar. Dibandingkan dengan periode sebelumnya, terjadi penurunan perubahan penggunaan lahan hutan menjadi penggunaan lainnya. Menurunnya angka deforestasi tersebut diduga terkait dengan kebijakan pemerintah dalam pemberantasan illegal logging pada tahun 2005 yang diterapkan di seluruh wilayah Indonesia melalui Instruksi Presiden (Inpres) No. 4 Tahun 2005 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Secara Ilegal di Kawasan Hutan dan Peredarannya di Seluruh Wilayah Republik Indonesia. Kebijakan ini berhasil mengurangi angka deforestasi menjadi 1,52 juta ha/tahun (FAO, 2011). Hal ini sejalan dengan pendapat Arif (2016) yang menyatakan bahwa instrumen hukum dapat mendukung pencegahan dan penanggulangan deforestasi.

4. Perubahan Penggunaan Lahan Hutan Tahun 2009-2015

Pada periode tahun 2009-2015 seluas 549 hektar hutan primer berubah menjadi belukar (345 hektar), hutan sekunder (15 hektar), pertanian (182 hektar), dan tanah terbuka (7 hektar). Hutan sekunder juga mengalami perubahan seluas 2.726 hektar menjadi belukar (691 hektar), pertanian (1.863 hektar),

(18)

dan tanah terbuka (170 hektar). Perubahan luasan hutan menjadi non hutan pada periode ini erat kaitannya dengan adanya sentimen negatif masyarakat sekitar hutan terhadap pemberian IUUPHHK-HT PT Gading Karya Makmur (GKM) dan PT Hijau Arta Nusa (HAN) serta intensitas kegiatan pengelolaan kawasan hutan tingkat tapak yang rendah diakibatkan karena keterbatasan sumber daya pengelolaan yang dimiliki oleh KPHP Unit VII Hulu Sarolangun sebagai unit pengelola tingkat tapak. Pola perubahan penggunaan lahan KPHP Unit VII Hulu Sarolangun disajikan pada Gambar 3.

C. Kemampuan Lahan di Areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun

Analisis kemampuan lahan areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun dilakukan dengan mempertimbangkan data fisik/morfologi lahan yang terdiri dari data tekstur tanah, lereng permukaan (topografi), drainase, tingkat bahaya erosi, dan data banjir. Hasil evaluasi kemampuan lahan USDA menunjukkan bahwa areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun terdiri dari lima kelas kemampuan lahan yaitu kelas II seluas 3.963 hektar, kelas III seluas 3.093 hektar, kelas IV seluas 56.930 hektar, kelas VI seluas 57.475 hektar, dan kelas VII 1990

(19)

Gambar 3 Pola perubahan penggunaan lahan KPHP Unit VII Hulu Sarolangun

Figure 3 Pattern of land use change in KPHP unit VII Hulu Sarolangun.

2003

2009

(20)

seluas 7.070 hektar. Kelas kemampuan lahan terendah adalah kelas VII dengan faktor pembatas tingkat bahaya erosi sangat berat (e4). Kelas kemampuan lahan VI dibatasi oleh faktor erosi berat (e3) seluas 7.669 hektar, faktor kelerengan agak curam/30-45% (i4) seluas 40.496 hektar, dan kombinasi keduanya (e3 dan i4) seluas 9.315 hektar. Peta kelas kemampuan lahan areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun sebagaimana Gambar 4. D. Arahan Spasial Pengembangan Pola

Agroforestri

Agroforestri dapat direncanakan pada areal seluas 11.361 hektar yaitu pada areal dengan penggunaan lahan belukar seluas 5.018 hektar, perkebunan seluas 981 hektar, pertanian seluas 5.162 hektar, dan tanah terbuka seluas 200 hektar. Berdasarkan kesesuaian antara arahan agroforestri dan tata hutan, arahan agroforestri sesuai dengan tata hutan seluas 9.038 hektar, terdiri dari areal yang berada dalam izin PT GKM seluas 2.977 hektar, PT HAN seluas 4.317 hektar, wilayah tertentu seluas 363 hektar, dan di luar izin dan wilayah tertentu seluas 1.381 hektar. Arahan

agroforestri tidak sesuai dengan tata hutan seluas 2.323 hektar, semuanya berada di luar izin dan wilayah tertentu. Implementasi agroforestri untuk areal yang tidak selaras tata hutan memerlukan perubahan (revisi) penetapan tata hutan. Pola agroforestri merupakan salah satu upaya peningkatan kembali luasan hutan sekunder sehingga diharapkan akan mengembalikan fungsi ekologis kawasan hutan. Menurut Suparwata, Agribisnis, Pertanian, & Gorontalo (2018) masyarakat umumnya menginginkan pola agroforestri dilakukan secara berkelanjutan. Meskipun dari sisi ekonomi pola agroforestri belum dirasakan manfaatnya secara nyata namun secara ekologi masyarakat mengetahui bahwa agroforestri bermanfaat untuk rehabilitasi lahan kritis, perbaikan jasa lingkungan, dan mencegah erosi.

Areal dengan penggunaan lahan non hutan dengan kelas kemampuan lahan VI dan VII seluas 11.220 hektar diarahkan untuk pelaksanaan reboisasi, berada di areal izin PT GKM seluas 602 hektar, di areal PT HAN seluas 3.669 hektar, di wilayah tertentu seluas 3.162 hektar, dan berada di Gambar 4 Kelas kemampuan lahan areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun

(21)

luar izin dan wilayah tertentu seluas 3.795 hektar. Pengelolaan areal untuk pengusulan TORA diarahkan pada areal-areal dengan penggunaan lahan non hutan yang berada di kelas kemampuan lahan II dan areal dengan penggunaan lahan pemukiman yang terletak pada kelas kemampuan lahan IV, VI, dan VII. Teridentifikasi areal yang dapat diarahkan untuk pengusulan TORA tersebut seluas 3.013 hektar terdiri dari areal yang berada di areal IUPHHK-HTI PT GKM seluas 81 hektar, di areal IUPHHK-HTI PT HAN seluas 2.467 hektar, dan di luar kedua izin tersebut seluas 465 hektar. Areal dengan penggunaan lahan berupa hutan primer dan hutan sekunder teridentifikasi seluas 102.928 hektar, berada pada areal izin PT GKM seluas 7.153 hektar, pada areal izin PT HAN seluas 16.948 hektar yang akan dikelola oleh pemegang izin sesuai dengan RKUPHHK yang telah ditetapkan, sedangkan areal yang berada di luar areal izin akan dikelola oleh KPHP sesuai dengan arahan yang tertuang dalam RPHJP seluas 78.827 hektar. Peta arahan spasial pengelolaan areal KPHP UNIT VII Hulu Sarolangun

sebagaimana Gambar 5 dan Skema Arahan Pengelolaan sebagaimana Gambar 6.

E. Prediksi Penggunaan Lahan Tahun 2025

Prediksi dilakukan dengan CA-Markov menggunakan data penggunaan lahan tahun 2000 dan 2009 dengan iterasi 30 kali menghasilkan prediksi penggunaan lahan tahun 2017. Penilaian akurasi prediksi dilakukan menggunakan nilai Kappa dengan hasil indeks Kappa 80,1%. Prediksi tahun 2025 dengan tiga skenario dihasilkan sebagaimana Gambar 7 dan Gambar 8.

1. Penggunaan Lahan Skenario Bussiness as

Ussual (BAU)

Pengelolaan BAU pada areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun pada tahun 2015 dan 2016 teridentifikasi melalui pengelolaan hutan yang dilakukan sebagian besar masih bersifat administratif. Beberapa di antaranya berupa kegiatan penguatan kelembagaan KPHP melalui peningkatan sarana prasarana, sumber daya manusia, dan pemantapan perencanaan pengelolaan melalui penyusunan Gambar 5 Arahan pengelolaan areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun

(22)

Rencana Pengelolaan Hutan (RPHJP). Kegiatan tingkat tapak yang dilakukan masih bersifat sosialisasi keberadaan KPHP kepada masyarakat, pengamanan, dan pencegahan serta penanganan kebakaran hutan. Prediksi penggunaan lahan areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun dilakukan dengan metode CA-Markov menggunakan data dasar

penggunaan lahan tahun 2000, 2009, dan 2017 yang bersumber dari data penggunaan lahan Ditjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan. Hasil prediksi menunjukkan bahwa hingga tahun 2025 hutan primer tidak mengalami perubahan luas. Hutan sekunder akan mengalami pengurangan luas sebesar 375 hektar atau sebesar 3,6% dari luas pada

KPHP UNIT VII HULU 128.530 Ha

Vegetasi Hutan

102.928 Ha Vegetasi Non Hutan25.602 Ha

PT. GKM

7.153 Ha 16.948 HaPT. HAN Luar Izin dan Wiltu78.827 Ha

Arahan Agroforestri 11.361 Ha Usulan TORA 3.013 11.228 HaReboisasi Selaras Tata Hutan 9.038 Ha Tidak selaras Tata

Hutan 2.323 Ha PT. GKM 609 Ha PT. HAN 9 Ha Wilayah Tertentu 363 Ha

Luar Izin dan Wiltu 1.099 Ha PT. GKM 602 Ha PT. HAN 3.669 Ha Wilayah Tertentu 3.162 Ha

Luar Izin dan Wilayah Tertentu

3.795 Ha PT. GKM

81 Ha PT. HAN2.467 Ha

Luar Izin dan Wilayah Tertentu 465 Ha Blok Pemberdayaan Masyarakat 1.717 Ha Blok Pemberdayaan HT 6.980 Ha Blok Pemberdayaan HD HP 341 Ha PT. GKM 2.368 Ha PT. HAN 4.308 Ha

Luar Izin dan Wilayah Tertentu

282 Ha Wilayah Tertentu

59 Ha

Gambar 6 Skema arahan pengeloaan areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun

(23)

Keterangan (Remark):

1 Belukar (Grove), 2 Hutan primer (Primary forest), 3 Hutan sekunder (Secondary forest), 4 Pemukiman (Settlement), 5 Perkebunan (Plantation), 6 Pertanian (Agriculture), 7 Tanah terbuka (Open field)

Gambar 7 Penggunaan lahan tahun 2017, prediksi tahun 2025 skenario BAU, penerapan RPHJP, dan strategi agroforestri

Figure 7 Land use 2017, prediction in 2025 BAU scenario, application of RPHJP scenario, and agroforestry strategy scenario.

Gambar 8 Prediksi penggunaan lahan tahun 2025

Figure 8 Land use prediction in 2025.

Keterangan (Remark): Belukar (Grove)

Hutan primer (Primary forest) Hutan sekunder (Secondary forest) Perkebunan (Plantation)

Pertanian (Agriculture) Tanah terbuka (Open field)

Skenario BAU Skenario penerapan RPHJP

Skenario penerapan strategi agroforestri

(24)

tahun 2017. Perubahan dari hutan menjadi non hutan tersebut diprediksi akan menambah jumlah luasan belukar seluas 275 hektar, pertanian seluas 80 hektar, dan tanah terbuka seluas 6 hektar. Belum terdapat implementasi kegiatan pengelolaan hutan tingkat tapak yang nyata yang melibatkan masyarakat yang dilakukan pada kurun waktu tahun 2015 dan 2016. Inilah yang mengakibatkan terus terjadi konversi lahan hutan menjadi non hutan pada areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun.

2. Penggunaan Lahan Skenario Penerapan RPHJP

Pola agroforestri sebenarnya telah direncanakan pada RPHJP periode tahun 2016-2025 yang direncanakan pada areal yang telah ditetapkan sebagai wilayah tertentu KPHP. Wilayah tertentu KPHP merupakan wilayah KPHP yang situasi dan kondisinya belum menarik bagi pihak ketiga untuk pengembangan usaha pemanfaatannya sehingga perlu dikelola oleh KPHP. Wilayah tertentu KPHP Unit VII Hulu Sarolangun ditetapkan seluas 3.162 hektar dan seluruhya telah direncanakan untuk pengembangan pola agroforestri. Berdasarkan hasil analisa kelas kemampuan lahan, hanya 369 hektar dari luas wilayah tertentu tersebut yang layak secara fisik untuk pengembangan pola agroforestri karena memiliki kelas kemampuan lahan II dan IV, sedangkan seluas 2.492 hektar tidak layak karena memiliki kelas kemampuan lahan VI dan VII. Apabila kegiatan agroforestri sebagaimana yang direncanakan dalam RPHJP konsisten dilaksanakan, diperkirakan pada tahun 2025 terjadi peningkatan luas belukar seluas 275 hektar dan tanah terbuka seluas 6 hektar, pertanian berkurang seluas 240 hektar dan hutan sekunder berkurang luasannya sebesar 55 hektar (0,5%). Penggunaan lahan berupa hutan primer dan perkebunan tidak mengalami perubahan luas. Jika dibandingkan dengan prediksi skenario BAU maka penerapan RPHJP memberikan dampak yang lebih baik yaitu mengurangi konversi lahan hutan sekunder seluas 320 hektar.

3. Prediksi Penggunaan Lahan Skenario Penerapan Strategi Agroforestri

Skenario penerapan strategi agroforestri merupakan suatu kondisi pengelolaan areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun sebagaimana arahan pengelolaan areal KPHP pada analisis sebelumnya. Pola agroforestri diarahkan pada areal dengan penutupan lahan belukar, perkebunan, pertanian, dan tanah terbuka yang berada dalam kelas kemampuan lahan III dan IV, baik berada dalam areal IUPHHK, wilayah tertentu, atau di luar keduanya. Strategi agroforestri direncanakan pada areal seluas 11.361 hektar. Hasil prediksi menunjukkan bahwa hutan sekunder pada tahun 2025 akan bertambah seluas 10.989 hektar (105,3%) sedangkan hutan primer tidak mengalami perubahan. Pengurangan juga terjadi pada belukar seluas 4.745 hektar, perkebunan seluas 981 hektar, pertanian seluas 5.082 hektar, dan tanah terbuka seluas 167 hektar. Penerapan strategi agroforestri dapat mengurangi luas konversi lahan hutan yang ditandai dengan meningkatnya luasan hutan sekunder.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Terdapat delapan bentuk penggunaan lahan tahun 2017 di areal KPHP Unit VII Sarolangun yaitu belukar, hutan primer, hutan sekunder, permukiman, perkebunan, pertanian, sawah, dan tanah terbuka yang didominasi hutan primer seluas 92.490 hektar (72%). Perubahan penggunaan lahan menunjukkan pola yang dinamis dalam kurun waktu tahun 1990-2015. Perubahan dari hutan menjadi non hutan terbesar terjadi pada tahun 1996-2003 seluas 24.487 hektar. Areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun terdiri dari lima kelas kemampuan lahan yaitu II, III, IV, VI, dan VII. Secara umum didominasi kelas IV dan VI dengan faktor pembatas terberat tingkat bahaya erosi dan kelerengan. Berdasarkan analisa dan arahan pengelolaan maka areal KPHP untuk agroforestri seluas

(25)

11.361 hektar, reboisasi seluas 11.228 hektar, TORA seluas 3.013 hektar, dan pengelolaan lainnya sesuai RKUPHHK dan RPHJP seluas 102.928 hektar. Menurut prediksi penggunaan lahan tahun 2025, skenario BAU, skenario pelaksanaan RPHJP, dan skenario strategi agroforestri menunjukkan bahwa penerapan strategi agroforestri dapat meningkatkan luas hutan sekunder pada tahun 2025 menjadi 10.989 hektar atau meningkat 105,3% dibanding tahun 2017.

B. Saran

1. Perlu dilakukan analisis kesesuaian lahan untuk menentukan komoditas yang dapat dikembangkan dalam arahan pola agroforestri.

2. Perlu dilakukan evaluasi terhadap RPHJP yang telah ditetapkan, terutama perencanaan agroforestri di wilayah tertentu yang tidak didukung dengan kelas kemampuan lahan yang tepat.

3. Strategi penerapan pola agroforestri pada areal KPHP perlu diterapkan untuk mengurangi konversi lahan hutan menjadi penggunaan lahan non hutan.

UCAPAN TERIMA KASIH (ACKNOWLEDGEMENT)

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Institut Pertanian Bogor (IPB), Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan Perencanaan (Pusbindiklatren)-BAPPENAS, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

DAFTAR PUSTAKA

Adisukma, D., & Rusadi, E. Y. (2014). Dampak degradasi lingkungan terhadap potensi pengembangan ekowisata berkelanjutan di Delta Mahakam: suatu tinjauan. Jurnal

Wilayah dan Lingkungan, 2(April), 11–24.

Arif, A. (2016). Analisis yuridis pengrusakan hutan (deforestasi) dan degradasi hutan terhadap lingkungan. Jurisprudentie, 3, 33–42.

Carolyn, R.D., Baskoro, D.P.T., Prasetyo, & Prasetyo, L.B. (2013). Analisis Degradasi Untuk

Penyusunan Arahan Strategi Pengendaliannya di Taman Nasional Gunung Halimun–Salak.

Jurnal Globe, 15(1), 39–47.

Dwinanto, Munibah, K., Sudadi, U. (2016). Model perubahan dan arahan penggunaan lahan untuk mendukung ketersediaan beras di Kabupaten Brebes dan Kabupaten Cilacap. Tataloka, 18(3), 157–171.

FAO. (2011). State of the world’s forest. Roma: Food and Agriculture Organization of United Nations

Hardjowigeno, S., & Widiatmaka. (2007). Evaluasi

kesesuaian lahan dan perencanaan tata guna lahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University

Press.

Harjianto, M., Sinukaban, N., Tarigan, S. D., & Haridjaja, O. (2016). Evaluasi kemampuan lahan untuk arahan penggunaan lahan di Daerah Aliran Sungai Lawo, Sulawesi Selatan.

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 5(1):

1–11.

Hidayat, H. (2008). Politik lingkungan pengelolaan

hutan masa Orde Baru dan Reformasi.

Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Ilyas, M., Munibah, K., & Rusdiana, O. (2014). Analisis spasial perubahan penggunaan lahan dalam kaitannya dengan penataan zonasi kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Majalah Ilmiah Globe, 16(1), 33–42. Irawan, A., Mairi, K., & Ekawati, S. (2016). Analisis

konflik tenurial di Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Model Poigar. Jurnal

Wasian, 3(2), 79–90.

Kaimuddin. (2008). Analisa perambahan kawasan hutan terhadap kebocoran carbon dan perubahan iklim. Jurnal Hutan dan Masyarakat, 3(2), 119–124.

Kaskoyo, H., Mohammed, A. J., & Inoue, M. (2014). Present state of community forestry (hutan kemasyarakatan/HKm) program in a protection forest and its challenges: case study in Lampung Province, Indonesia. Journal of

Forest and Environmental Science, 30(1),

15–29.

Kliengebel, A.A. & Montgomery, P. (1961).

Land-capability classification. Virginia: Soil

Conservation Service, U.S. Department of Agriculture.

Kusrini. (2011). Perubahan penggunaan lahan dan faktor yang mempengaruhinya di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Majalah

Geografi Indonesia, 25(1), 25–42.

Lillesand, T. M., & Kiefer, R. W. (1990). Penginderaan

jauh dan interpretasi citra. Yogyakarta:

(26)

Mayrowani, H., & Ashari. (2011). Pengembangan agroforestry untuk mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan petani sekitar hutan. Forum Penelitian Agro Ekonomi,

29(2), 83–98.

Nilda, Adnyana, W.S., & Merit, I.N. (2015). (2015). Analisis perubahan penggunaan lahan dan dampaknya terhadap hasil air di DAS Cisadane Hulu. Ecotrophic, 9(1), 35–45. Noordwijk, M. Van, Agus, F., Suprayogo, D., Hairiah,

K., Pasya, G., Verbist, B., …, & Box, P. O. (2004). Peranan agroforestri dalam mempertahankan fungsi hidrologi daerah aliran sungai (DAS). Technology, 26(1), 1–8. Nugroho, B. (2019). Efektifitas kelembagaan dalam

peningkatan produktivitas hutan produksi dan lindung, kesatuan pengelolaan hutan (KPH) sebagai solusi? Journal of Chemical

Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.

Rustiardi, E., Saefulhakim, S., & Panuju, D. R. (2011).

Perencanaan dan pengembangan wilayah.

In A. E. Pravitasari (ed.). Jakarta: Crestpent Press dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Sadesmesli, I., Baskoro, D. P. T., & Pravitasari, A.

E. (2017). Dalam perencanaan tata ruang wilayah (studi kasus Kabupaten Blitar, Jawa Timur). Tataloka, 19(4), 266–279.

Sinurat, T. P., Munibah, K., Tejo, P., Kab, D., Hasundutan, H., & Sumatera, P. (2015). Pemodelan perubahan penggunaan lahan Kabupaten Humbang Hasundutan menggunakan Clue-S. Jurnal Tanah dan

Lingkungan, 17(2), 75–82.

Suparwata, D. O., Agribisnis, P. S., Pertanian, F. I., & Gorontalo, U. M. (2018). Pandangan masyarakat pinggiran hutan terhadap program pengembangan agroforestri. Jurnal Penelitian

Sosial dan Ekonomi Kehutanan,15(1), 47–62.

Susetyo, B., Arifin, H. S., & Arifin, N. H. S. (2010). Mendukung model perumusan kebijakan manajemen lanskap di sempadan Ciliwung, Kota Bogor. Majalah Ilmiah Globe, 15, 51– 58.

Suyana J, M. E. (2014). Analisis kemampuan lahan pada sistem pertanian di Sub-DAS Serang Daerah Tangkapan Waduk Kedung Ombo.

Jurnal Ilmu Tanah dan Agroklimatologi, 11(2), 139–149.

Widianto, Hairiah, K., Suharjito, D., & Sardjono, M. A. (2003). Fungsi dan peran agroforestri.

(27)

PENGELOLAAN ULAYAT OLEH MASYARAKAT LOKAL DAN

PENGARUHNYA TERHADAP DEFORESTASI DI HUTAN PRODUKSI

DHARMASRAYA PROVINSI SUMATERA BARAT

(Ulayat Forest Management by Indigenous People and Its Effects on Deforestation in

Dharmasraya Production Forest in West Sumatra Province)

Abdul Mutolib1, Yonariza2, & Khoirul Anam3

1Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Jl. Sumantri Brojonegoro No. 1 Rajabasa

Bandar Lampung 35141 Indonesia, e-mail: [email protected]

2Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Kampus Limau Manis Padang, Sumatera Barat,

25163 Indonesia, e-mail: [email protected]

3Taman Nasional Takabonerate, Jl. S.Parman No 40, Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan

92812 Indonesia, e-mail: [email protected]

Diterima 16 Desember 2018, direvisi 29 Maret 2020, disetujui 3 April 2020

ABSTRACT

Satellite analysis in the forest on working area of Production Forest Management Unit (PFMU) Dharmasraya shows that there has been deforestation from 2000 to 2014. Generally, deforestation is due to the conversion of forests into plantations. Deforestation is supported by activities of trading communal land with outside community. This study aims to identify local forest management irregularities of forests claimed as ulayat lands and the impacts to deforestation. This research was conducted in the PFMU Dharmasraya, West Sumatra. Data collection was conducted from February to August 2017. The study implements qualitative research design with snowball sampling to determine the research informants. The results show that local communities contribute to deforestation in the working area of PFMU Dharmasraya through the process of trading the ulayat land. In the last 14 years, secondary forest has decreased from 28,278 to 6,118 hectares. Trading of the land is through two processes: “manaruko” and “non-manaruko”. Traditionally, the manaruko sale of the customary land is in accordance with customary law while non-manaruko sale of ulayat land is not in accordance with customary rules. This process was initiated by the ulayat rulers without “adat diisi, limbago dituang” process.

Keywords: Deforestation; PFMU Dharmasraya; ulayat land; manaruko.

ABSTRAK

Hasil analisis citra satelit pada hutan di wilayah kerja Kawasan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Dharmasraya, Sumatera Barat memperlihatkan bahwa telah terjadi deforestasi sejak 2000 hingga 2014. Secara umum deforestasi disebabkan alih fungsi hutan menjadi perkebunan. Selain itu, deforestasi didukung oleh aktivitas jual-beli tanah ulayat kepada masyarakat luar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyimpangan pengelolaan hutan oleh masyarakat lokal yang diklaim sebagai tanah ulayat dan dampaknya terhadap proses deforestasi. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja KPHP Dharmasraya. Pengambilan data dilaksanakan pada Februari hingga Agustus 2017. Penelitian menggunakan desain penelitian kualitatif dengan snowball sampling untuk menentukan informan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat lokal berkontribusi pada deforestasi di wilayah kerja KPHP Dharmasraya melalui proses jual-beli tanah ulayat. Dalam 14 tahun terakhir sejak tahun 2000, hutan sekunder telah berkurang seluas 28.278 ha menjadi 6.118 ha. Jual-beli tanah ulayat dilakukan melalui dua proses, manaruko dan non-manaruko. Secara aturan adat, jual-beli tanah ulayat melalui

manaruko telah sesuai aturan adat, sedangkan yang melalui proses non-manaruko tidak sesuai dengan aturan adat.

Proses ini diinisiasi oleh penguasa ulayat tanpa proses adat diisi, limbago dituang. Kata kunci: Deforestasi; KPHP Dharmasraya; tanah ulayat; manaruko.

(28)

I. PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara terbesar ketiga yang mempunyai hutan tropis terluas di dunia dan memiliki peringkat pertama di Asia Pasifik (Purba et al., 2014). Hutan Indonesia terancam oleh deforestasi. Pada tahun 1990 luas kawasan hutan di Indonesia sekitar 105 juta ha kemudian mengalami penurunan sehingga tersisa 97 juta ha pada tahun 2013 (Djaenudin, Oktaviani, Hartoyo, & Prabowo, 2016). Deforestasi di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya tekanan ekonomi (Hufty & Haakenstad, 2011; Utiksari, Ahlan, Ilik, & Rasetyo, 2014), pertumbuhan penduduk (Alkaf, Munibah, Ilmu, & Wilayah, 2014), ekspansi pertanian dan perkebunan (Ting, Haiyun, Shivakoti, Cochard, & Homcha-aim, 2011; Dalla-Nora, de Aguiar, Lapola, & Woltjer, 2014), illegal

logging (Purnomo et al., 2017), pembangunan

perkebunan kelapa sawit (Margono, Potapov, Turubanova, Stolle, & Hansen, 2014). Selain itu, pembangunan perumahan, pembukaan jalan, dan kebakaran hutan menjadi penyebab lain tingginya laju deforestasi hutan (Brun

et al., 2015; Djaenudin et al., 2016; Leblois,

Damette, & Wolfersberger, 2017).

Secara global, lebih dari 1,6 juta milliar penduduk bergantung dari hutan sebagai sumber pendapatan, makanan, bahan bakar, rumput untuk peternakan dan obat-obatan (Chao, 2012). Di Indonesia, diperkirakan sekitar 48,8 juta penduduk hidup di sekitar hutan (Winarwan, Awang, Keban, & Semedi, 2011). Mereka hidup bergantung kepada hutan untuk mendapakan sumber daya alam dan bertahan hidup (Pandit & Bevilacqua, 2011; Masria, Golar, & Ihsan, 2015; Iqbal & Septina, 2018).

Masyarakat dan hutan adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa masyarakat lokal diklaim mampu menjaga kelestarian hutan, di antaranya pada hutan tropis di Brazil (Zimmerman, 2011), masyarakat Suku Tengger, Indonesia (Astriyantika, Arief, & Sunarminto, 2014), hutan adat di Provinsi Sulawesi Tengah

(Rosita, Rachman, & Alam, 2017; Humaedi, 2017), hutan adat di Kabupaten Aceh Besar (Lestari, Agussabti, & Alibasyah, 2014), dan hutan di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat (Damiati, Lumangkun, & Dirhamsyah, 2015). Masyarakat lokal dianggap sebagai pihak yang mampu menjaga hutan dengan kearifan lokalnya apabila diberi ruang untuk mengelola hutan.

Salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki kearifan lokal dalam pengelolaan hutan adalah Sumatera Barat (Mutolib, Yonariza, Ismono, & Mahdi, 2015). Sumatera Barat memiliki kawasan hutan seluas 2.342.894 ha atau lebih kurang 55,39% dari total luas provinsi seluas 4.229.730 ha (Pemerintah Daerah Sumatera Barat, 2016). Secara umum Provinsi Sumatera Barat memiliki kearifan lokal tinggi dalam pengelolaan hutan, namun dilihat dari data terkait luasan hutan, tingkat deforestasi hutannya juga relatif tinggi. Dalam kurun 25 tahun, Sumatera Barat telah kehilangan hutan seluas 578.372 ha karena alih fungsi hutan, pembalakan liar, dan tambang ilegal dalam hutan (Vinolia, 2017). Hal ini menarik untuk dikaji lebih mendalam terkait apa penyebab deforestasi hutan di Provinsi Sumatera Barat.

Penelitian yang telah dilakukan di wilayah kerja Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Dharmasraya, Sumatera Barat berbeda dengan umumnya penelitian yang mengklaim masyarakat lokal mampu menjaga hutan. Terjadi alih fungsi hutan menjadi perkebunan karet dan kelapa sawit yang diinisiasi oleh masyarakat lokal (Mutolib et al., 2015). Secara umum, deforestasi di Indonesia diyakini sebagai peristiwa yang terjadi secara sporadis dan tidak terencana yang disebabkan kebutuhan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan (Wicke, Sikkema, Dornburg, & Faaij, 2011; Brun et al., 2015). Kasus di KPHP Dharmasraya menunjukkan hal yang berbeda, deforestasi terjadi secara terencana oleh pihak tertentu yang melibatkan masyarakat lokal. Penelitian ini tidak dapat dijadikan

(29)

indikator pengelolaan hutan di seluruh wilayah Sumatera Barat secara keseluruhan. Kasus di Wilayah KPHP Dharmasraya adalah suatu anomali yang jarang terjadi di wilayah Sumatera Barat.

Keberanian masyarakat lokal merebut hutan di wilayah kerja KPHP Dharmasraya disebabkan pluralisme hukum kepemilikan hutan antara masyarakat lokal dengan negara. Masyarakat lokal mengklaim hutan sebagai tanah ulayat dan negara mengklaim hutan sebagai tanah negara (Kurniawan, 2014; Mutolib, Yonariza, Mahdi, & Ismono, 2017). Hal ini menyebabkan masyarakat lokal mengklaim dan membuka hutan di wilayah KPHP Daharmasraya dengan alasan hutan merupakan tanah ulayat yang diperoleh dari warisan leluhur/nenek moyang bahkan sebelum berdirinya negara. Klaim ini menyebabkan terjadinya pembukaan hutan untuk perkebunan dan penjualan hutan kepada pihak yang ingin bertani di areal hutan di wilayah KPHP Dharmasraya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyimpangan pengelolaan hutan oleh masyarakat lokal terhadap hutan yang diklaim sebagai tanah ulayat dan dampaknya terhadap proses deforestasi di wilayah kerja KPHP Dharmasraya.

II. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian berada wilayah Rantau Minangkabau, tepatnya di Kabupaten Dharmasraya. Secara geografis letak Kabupaten Dhamasraya berada di bagian ujung tenggara Sumatera Barat dengan koordinat geografi antara 000 47’ 7” - 010 41’ 56” Lintang Selatan dan 1010 9’ 21” BT- 1010 54’ 27” BT. Kondisi dan topografi Kabupaten Dhamasraya mayoritas merupakan lahan datar dengan ketinggian 82-5.525 meter dari permukaan laut. Luas wilayah mencapai 2.961,13 km2 (296.113 ha), terbagi menjadi

11 kecamatan dan 52 nagari. Secara spesifik, lokasi penelitian berada di wilayah kerja

KPHP Dharmasraya yang mencakup areal hutan produksi seluas 32.749 ha. Secara administrasi KPHP Dharmasraya masuk ke dalam Nagari Bonjol dan Nagari Abai Siat, Kecamatan Koto Besar, serta Nagari Sikabau dan Sungai Dareh, Kecamatan Pulau Punjung. Secara hukum adat, hutan di wilayah kerja KPHP Dharmasraya merupakan tanah ulayat milik masyarakat lokal dari empat nagari di atas.

Waktu penelitian dibagi dalam 2 tahap. Tahap pertama merupakan penelitian pendahuluan yang bertujuan untuk mengenali lokasi penelitian dan mengidentifikasi permasalahan yang terjadi, terkait pengelolaan hutan. Pada tahap 2 disusun rumusan masalah dan tujuan penelitian sesuai dengan temuan-temuan dalam penelitian pendahuluan. Pengumpulan data dilaksanakan pada Februari hingga Agustus 2017.

B. Metode dan Sumber Data

Penelitian menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Format penelitian kualitatif bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai fenomena realitas sosial, dan berupaya menarik realitas itu ke permukaan sebagai ciri, karakter, sifat, model, atau gambaran tentang kondisi, situasi, ataupun fenomena tertentu, atau penelitian yang mengumpulkan dan menganalisis data berupa kata-kata (lisan maupun tulisan) dan perbuatan manusia dan tidak berusaha mengkuantitatifkan data yang telah diperoleh (Afrizal, 2015).

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui survei rumah tangga, wawancara informan kunci, observasi langsung, dan dokumentasi. Data sekunder adalah data yang diperoleh tidak secara langsung dari sumbernya. Data sekunder diperoleh dari penelusuran literatur/studi pustaka dan laporan/dokumen dari berbagai instansi yang terkait dengan kajian penelitian.

Gambar

Gambar 1 Areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun Figure 1 KPHP Unit VII Hulu Sarolangun area.
Tabel 1 Kriteria klasifikasi kemampuan lahan Table 1 Criteria of land capability classification
Gambar 2 Luas penggunaan lahan tahun1990, 1996, 2003, 2009, dan 2015 Figure 2 Land use area in 1990, 1996, 2003, 2009, and 2015.
Gambar 4 Kelas kemampuan lahan areal KPHP Unit VII Hulu Sarolangun Figure 4 Land capability class of area KPHP Unit VII Hulu Sarolangun.
+7

Referensi

Dokumen terkait

1) Mekanisme kontrol pemerintah daerah menjadi lemah, dimana jumlah dan kualitas cendana yang diperdagangkan di pasaran tergantung jumlah transaksi jual beli antara pedagang

Harga Jual Hasil Hutan Kayu Bakar di Wilayah Provinsi D.I .Yogyakarta

BAB IV.. yang berada pada wilayah perbatasan Provinsi Sumatera Barat dengan Provinsi Jambi dan Provinsi Riau dan dilewati oleh Jalur Lintas Tengah Sumatera. Kabupaten Dharmasraya

ANALISIS FAKTOR UNTUK MENGETAHUI ALASAN IBU MEMILIH PERSALINAN DI RUMAH OLEH BIDAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LUBUK JAMBI.. KABUPATEN KUANTAN SINGINGI

Jumlah peserta diklat sebanyak 30 orang yang berasal dari wilayah kerja BPP Jambi, yakni: Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau dan

Kekuatan hukum dalam perjanjian pengikatan jual beli tanah di hadapan Notaris adalah kekuatan hukum dari akta perjanjian pengikatan jual beli hak atas tanah yang

Pemerintah Daerah Provinsi Riau telah melakukan implementasi precautionary principle sebagai upaya mitigasi perubahan iklim dalam bentuk kebijakan seperti pembentukan

BAB IV.. yang berada pada wilayah perbatasan Provinsi Sumatera Barat dengan Provinsi Jambi dan Provinsi Riau dan dilewati oleh Jalur Lintas Tengah Sumatera. Kabupaten Dharmasraya