BAB I
MENGENAL MINANGKABAU
ِمْيِحّرلا ِن ٰم ْحّرلا ِا ِمْسِب
Ecara teritorial, etnis Minangkabau mendiami satu kawasan di pulau Sumatera bagian tengah sebelah barat yang dilintasi garis khatulistiwa. Termasuk rumpun Melayu dengan budaya dan dialek bahasa yang khas. Posisi berada di 10.54’LU, 30.30’LS, 1010.53’ BT dengan luas 42.297,30 KM2. Luasnya meliputi wilayah Sumatra Barat minus kepulauan Mentawai, plus negeri-negeri dilepas perbatasan provinsi tetangga.
S
Minangkabau beriklim sedang dengan curah hujan 4000 mm pertahun. Tanah subur, hutan rimbanya kaya, hasil lautnya melimpah. Hanya sedikit dataran rendah, selebihnya dataran tinggi berbukit bukit disela lembah panjang melandai. Di lingkari jajaran bukit barisan dengan di topang 7 gunung menjulang, Merapi, Singgalang, Tandikek, Pasaman, gunung Talang dan gunung Bonsu.
Dibentangi oleh danau indah seperti Singkarak, Maninjau, danau Diateh dan danau Dibaruah.
Sungai sungainya meliyuk deras menuju Selat Malaka. Semua melengkapi penciptaan Minangkabau sebagai pesona alam assetnya Indonesia.
Inilah magnit wisata dunia yang dianalogikan orang “sekeping tanah surga di muka bumi”.
Syahwat pencinta alam mancanegara belumlah puas hanya dengan melihat Bali sebelum berkunjung ke tanah Minang.
Minangkabau bukanlah sebuah negara, bukan kerajaan atau semacamnya, bukan pula wilayah protektorat dari negara lain. Sekarang bagian dari NKRI. Dia tidak mempunyai kepala pemerintahan secara Hirarkhi. Walaupun disebut sebut Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatiah Nan Sabatang, dua saudara seibu berlain Ayah sebagai Raja Minangkabau, mereka bukanlah Raja, hanya lambang saja. Artinya Minangkabau itu adalah daerah perwalian lindungan Datuk yang berdua. Memang pernah ada Kerajaan Pagaruyung, namun kerajaan ini tidak berdaulat di Minangkabau.
Tapi bukankah Istana Pagaruyung berada di Batusangkar ? Betul, statusnya menumpang sebagaimana bupati berkantor di Kotamadya yang bukan wilayahnya. Kalau begitu, Daerah mana saja yang dikatakan Minangkabau?
Pada awalnya Minangkabau meliputi daerah daerah Luhak Nan Tigo (sekarang Kabupaten dan Kota). Yaitu Tanah Datar, Agam dan 50 Kota. Kemudian secara alami kawasan sekelilingnya yang disebut “rantau” ikut menganut sistem kekerabatan Matrilinial yang menjadi ciri khas Minangkabau. Walaupun Rantau ini merupakan kerajaan kerajan lokal, tapi mereka juga bersuku suku dan punya kepala suku bergelar Datuk. Namun pemerintahannya tetap dipegang Raja, sehingga timbul ungkapan: Luhak Bapanghulu Rantau Barajo Nah, daerah Rantau inilah daulatnya Pagaruyung.
Minangkabau tidak identik dengan Pagaruyung. Ada perbedaan prinsipil antara keduanya yaitu:
BENTUK :
Minangkabau ---- Etnis, suku-bangsa.
Pagaruyung--- Negara, kerajaan.
WILAYAH Minangkabau ---- Luhak Nan Tigo Pagaruyung --- Daerah Rantau
KEKERABATAN:
Minangkabau ---- Matrilinial.
Pagaruyung --- Patrilinial.
PEMERINTAHAN Minangkabau ---- Demokrasi . Pagaruyung --- Otokrasi
KEMASYARAKATAN Minangkabau ---- Egaliter, Sederajat.
Pagaruyung --- Feodalis, Ningrat.
PEWARISAN SAKO : Minangkabau---- Mamak ke Kamanakan.
Pagaruyung---Ayah turun ke Anak.
PERJUANGAN Minangkabau ---- Memerangi Belanda.
Pagaruyung --- Membantu Penjajah.
NAHIMUNGKAR Minangkabau ---- Membasmi Alkohol.
Pagaruyung --- Berdagang Candu.
GELAR
Minangkabau ---- Datuk dan Panghulu.
Pagaruyung --- Sultan dan Syah.
JABATAN
Minangkabau ---- Wanita tak jadi datuk.
Pagaruyung --- Wanita boleh jadi raja.
RIWAYAT
Minangkabau---Sekarang masih berjaya.
Pagaruyung---Sudah lama punah.
Dalam perjalanan sejarah, wilayah Minangkabau menjadi mekar dan luasnya ke utara sampai Sikilang Aia Bangih (berbatasan dengan Mandailing), ke selatan hingga Taratak Aia hitam (Bengkulu), ke barat sampai Ombak Nan Badabua (Pantai Samudra Hindia), ke Barat Laut hingga Durian Ditakuak Rajo(Jambi) dan ke timur sampai Sialang Balantak Basi (Riau).
Maka wilayah Luhak Nan Tigo atau Minangkabau awal digabung dengan daerah Rantau, itulah dia yang dinamakan Alam Minangkabau atau Minangkabau Raya (Great Minangkabau).
Walau Minangkabau tidak diperintah oleh sebuah Lembaga Eksekutif tapi wilayah wilayah di dalamnya yang disebut Nagari merupakan Republik republik kecil berdaulat penuh.
Nagari adalah kesatuan masyarakat Adat di pimpin oleh sebuah pemerintahan tradisional bernama Urang Nan Ampek Jinih. Mereka menjalankan roda pemerintahan berpola UU Adat yang sudah baku, ditambah dengan peraturan peraturan buatan berdasarkan kebutuhan.
Adapun Lembaga Adat yang dimaksud terdiri dari 4: (Adat Salingka Nagari) unsur Pemangku Adat terpilih seakan akan Kabinet dengan 4 Menteri, yaitu: Panghulu sebagai Pimpinan (Perdana Mentri), Malin mengurusi masalah ibadah dan spiritual (Mentri Agama), Manti sebagai pejabat Hukum dan Pemersatu (Mentri Dalam Negeri) dan Dubalang
dibidang Keamanan, Ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Zaman dulu koordinator kepala nagari disebut Angku Palo. Sekarang bernama Walinagari atau Lurah di Kotamadya.
Sistem Pemerintahannya tidak mengenal apa yang dinamakan Trias Politika, tapi bekerja secara kologial. Mereka membuat aturan, mereka menjalankan dan mereka juga yang mengawasi. Semua kebijakan berdasarkan musyawarah dan mufakat. Sedangkan Ninik Mamak (para Penghulu suku di Nagari) berfungsi sebagai Badan Pengontrol semacam Dewan Pertimbangan atau Dewan Pengawas, atau katakanlah sebagai Parlemen.
Sejarah membuktikan bahwa pemerintahan Kolonial Belanda tidak pernah mengusik tatanan Nagari di Minangkabau. Baru kemudian setelah keluar Maklumat Plakat Panjang 1883, Belanda melengkapi struktur pemerintahannya dengan membentuk jabatan Lareh, yaitu jalur pemerintahan terbawah yang dijabat pribumi. Dia membawahi beberapa Nagari (setingkat Camat) untuk digiring kearah pola politik penjajah, agar rakyat Minangkabau tetap loyal kepada Kolonial. Namun begitu, kedaulatan Nagari tetap dibiarkan utuh sebagai sediakala....
Begitulah potret Alam Minangkabau sampai Indonesia Merdeka.
Bagi generasi yang lahir sebelum Revolusi masih akan terkenang betapa anggunnya wajah Minangkabau tempo dulu, wajah asli sebelum dipoles jari jari modernisasi. Yang jelas tangan jahil penjajah tak berani menjamahnya apalagi memperkosa.
A. ASAL USUL NAMA MINANGKABAU
Ada banyak pendapat para pakar tentang asalmuasal nama Minangkabau. Masing masing punya alasan tersendiri yang patut dipertimbangkan secara ilmu pengetahuan.Yaitu:
1. Kerajaan Minanga
Pada prasasti Kedukan Bukit tahun 642, kata “minanga” ditulis dalam bahasa Sanskerta. Disitu dinyatakan bahwa pendiri Kerajaan Sriwijaya yang bernama Dapunta Hiyang bertolak dari Kerajaan Minang. Orang meyakini bahwa kata Minang itu adalah Minangkabau.
2. Minangkabau
Kata “Minangkabau” dapat dilihat dalam hikayat raja raja Pasai (Aceh) pada akhir abad XIV Masehi. Dalam hikayat tersebut dikatakan bahwa negeri yang tadinya bernama Pariangan berubah menjadi Minangkabau setelah memenangkan adu kerbau dengan utusan Mojopahit.
3. Minangkabwa
Dalam catatan Kerjaan Mojopahit (nagara kartagama) tahun 1365 menyebutkan bahwa Minangkabau adalah satu dari negeri Melayu yang ditaklukkannya. Melihat kepada tahunnya (1364) mungkin yang dimaksudkannya adalah kedatangan Adityawarman ke tanah Minang.
4. Minanggebu
Dalam catatan Kerajaan Minang tahun 1405 terdapat nama“minanggebu” salah satu dari 6 Kerajaan asing yang mengirimkan utusan untuk menghadap Kaisar Yengi Nanjing (Tiongkok) dalam hubungan politik atau perdagangan. Itulah nama Minangkabau dalam dialek Cina.
5. Minang Kabwa
Purbacaraka mengatakan bahwa nama Minangkabau berasal dari kata “minang kabwa” atau “minang tamwan”. Maksudnya ialah daerah disekitar dua sungai:
Kampar kiri dan Kampar kanan. Dulu kabupaten Kampar adalah wilayah Minangkabau. Ini dikaitkan juga dengan Candi Muara Takus yang didirikan abad ke XII.
6. Phinang Khabu
Van Der Tuk seorang Sisiolog Belanda berpendapat bahwa kata Minangkabau berasal dari Phinang Khabu yang artinya “tanahasal”. Mungkin kata itu dipakai oleh bangsa Dongson nenek moyang orang Minangkabau yang datang dari AsiaTenggara (penamaan simbolik).
7. Menon Khabu
Seiring dengan pendapat Van Der Tuk, seorang Etnolog bernama Hussein Neimar juga mengatakan bahwa Minangkabau berasal dari kata “menon khabu” yang berarti Tanah Pangkalatau Tanah yang Mulia. Apakah bahasa tersebut juga berasal dari bahasa orang di Hinda Belakang?.
8. Minang Jengkol
Lain lagi pendapat Slamet Mulyana, katanya: Kata Minangkabau berasal dari daerah yang gemar menanam jengkol. Meinang (memelihara) pohon “kabau” yang berarti jengkol atau“jariang”. Bahasa dari mana itu ???.
9. Mainang Kabau
Inang artinya memelihara atau mengasuh. Meinang Kabau adalah nama dari masyarakat yang suka beternak kerbau. Hewan kerbau adalah teman petani mengolah sawah; juga sebagai binatang bertuah yang bernilai budaya.Sifat penyabar sebagai lambang Ninik Mamak.
10. Mukminana Kanan Nabawi
Ada lagi satu pendapat dari seseorang namanya tak dikenal mengatakan bahwa nama Minangkabau itu berasal dari bahasa Arab, berbunyi: Mukminan kaaan Nabawi.
Artinnya dalam bahasa Indonesia: “Sebuah pemerintahan Mukmin (Islam) yang mencontoh sistem pemerintahan dizaman Nabi” Itu pernyataan kalau sekiranya dia sebuah Kerajaan maka Minangkabau adalah sebuah Negara Islam.
Cerita Rakyat
Disebut cerita rakyat karena kejadiannya entah benar atau entah tidak. Sedangkan “kisah”
ialah peristiwa yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, begitu juga dengan istilah Tarekh atau Riwayat. Begini cerita tentang asal muasal negeri ini bernama Minangkabau.
Ada banyak versi mengenai masalah ini, tapi yang berkembang di masyarakat adalah dari“adu kerbau”. Buat sementara kita pakai dulu kata Minangkabau yang berasal dari Menang mengadu Kerbau.
Konon (entah kapan) nenek moyang orang Minangkabau menerima tantangan pertandingan adu kerbau dari saudagar kaya kerajaan Singosari. Taruhannya, bila mereka menang hendaklah diberi hak monopoli mencari rempah rempah di seluruh negeri. Tapi kalau mereka kalah, silahkan ambil kapalnya yang penuh berisi barang barang dagangan. Rupanya ditakdirkan kerbau Minang menang. Maka dinamakanlah negeri ini Minangkabau artinya, menang mengadu kerbau.
Berat sangkaan, kalau pertandingan adu kerbau ini diterima oleh nenek moyang bukanlah bermotif judi. Karena umumnya orang Minang bukanlah masyarakat penggemar judi. Orang awak lebih cendrung menghindar dari sifat untung-untungan, maunya“untung benaran”.
Adapun setiap permainan yang beresiko kalah, mungkin saja bisa menang. Nah, kata mungkin itu tidak pasti, lebih baik makan ubi tapi pasti dari pada makan roti dalam mimpi.
Itu perinsip hidup mereka. Agaknya menerima tawaran yang bersifat judi tersebut bukanlah mengharapkan taruhan, hanya semata-mata untuk mempertahankan marwah dan gengsi.
Jangan biarkan orang menganggap remeh. Harga diri lebih mahal dari segala-galanya.
Tantangan diterima, dimusyawarahkan oleh para pemuka masyarakat. Dari penyelidikan diketahui bahwa kerbau aduan orang Jawa amat besar dengan sepasang tanduk panjang dan runcing. Sengaja mereka mempersiapkan kerbau betina bukan kerbau jantan, disebabkan hewan betina bisa menjadi lebih buas dan gila apa bila anaknya diganggu. Sekarang induk kerbau itu dikurung dalam sebuah kandang sedangkan anaknya yang masih erat menyusu ditaruh di kandang sebelah.
Mendengar rengekan anak yang kelaparan, si induk menjadi garang. Demikianlah mereka dipisahkan selama 3 hari sebelum hari (H) pertandingan. Nah, kemarahan induk kerbau itulah yang sengaja dipancing untuk bisa mengalahkan lawan betapa pun kuatnya. Maka dengan rahasia lawan sudah ditangan berkat kerja mata mata, sekarang kata berjawab gayung bersambut. Orang Minang mempersiapkan anak kerbau yang sudah 3 hari dipisahkan dari induknya. Lantas, seorang utusan dikirim menghadap nakhoda kapal Singosari untuk menyampaikan pesan. Pesan tersebut berbunyi: “Maaf, Tuan. Sayang kami tidak punya kerbau jagoan yang layak tanding. Hanya akan kami lawan dengan kerbau kecil yang belum bertanduk. Untuk itu, mohon izinkan kami memasang taji pengganti tanduk”. Mendengar pesan itu mereka gembira bukan main. Spontan dijawab: “Yo, Ora opoopolah”.
Mereka membayangkan mau mendapat keuntungan dengan menguras harta kekayaan bumi Minangkabau. Lebih gembira lagi orang Minang bakal memiliki kapal besar penuh muatan sebagai taruhan memenangkan pertandingan mengadu kerbau. “Silahkan berenang balik ke Jawa” kata Ninik Mamak mereka.
Pada hari yang telah ditentukan, semua anak negeri tumpah ruah memenuhi tanah lapang menonton pertandingan. Kedua belah pihak sudah siap melepas kerbau masing-masing.
Tinggal tunggu aba-aba. Maka dibukalah kandang kedua kerbau yang letaknya berseberangan. Suasana tegang harap-harap cemas. Penonton bersorak sorai. Keduanya saling mengejar ke tengah arena. Kerbau Jawa lebih cepat memburu, disangka anaknya sudah datang mintak susu. Sebaliknya kerbau Minang yang kehausan tertatih-tatih menemui induk untuk menyusu. Maka bertemulah kedua kerbau petarungitu. Tapi apa yang terjadi?
Jangankan berkelahi malah keduanya sama-sama melepas rindu.
Si anak kerbau menyeruduk ke bawah perut“ibunya” lantas menyusu dengan lahapnya.
Sebagaimana diketahui bahwa kebiasaan bangsa sapi atau kerbau menyusu dengan
menyeruduk perut induknya untuk memeras mengisap air susu. Padahal dimoncong itu sudah dipasangi sepasang taji pengganti tanduk. Saat itulah terjadi peristiwa yang menghebohkan.
Akibat perut kerbau Jawa berulang-ulang ditusuk moncong bertaji besi, terburailah isi perutnya dan rebah ke tanah. Selanjutnya sianak kerbau terus menyusu tanpa mengiraukan nasib si pemberi susu yang kesakitan. Apakah kerbau Jawa marah? Tidak. Mengapa tidak lari saja? Juga tidak! Ditahankan sakit karena begitulah cinta sejati ibu. Asalkan anaknya kenyang dan bahagia, dia rela mati berkalang tanah. Demikianlah jalannya pertandingan tragis itu.Kerbau Minang dinyatakan menang. Nah, dari situ lah asal kata Minangkabau: Menang Kabau.
Menyimak alur ceritanya, timbul sesuatu yang menggelitik yaitu tentang memasang taji di mulut anak kerbau. Itu licik, Ooo… tidak! Hal itu sudah disepakati dari awal. Bagaimana dengan mengintai rahasia lawan? Sah sah saja mencari kelemahan musuh. Itu dihalalkan, namanya“siasah” Termasuk menipu lawan? Ya, membuat lawan terkecoh bukan curang tapi
“lihay”....
Terlepas dari persoalan apakah sejarah atau legenda, namun dari materi cerita Adu Kerbau di atas, dapat dilihat gambaran karakteristik manusia Minangkabau. Sekurangnya ada dua kesan yang harus dikutip:
Yang pertama:
Bahwa Kiyat orang Minang dalam menyelesaikan persoalan dengan otak, bukan dengan
“otot” Menghadapi lawan yang seimbang, bukan untuk menang: 50 : 50. Itu namanya spekulasi alias adu nasib alias judi. Untuk itu mereka mencari jalan pintas dan harus sampai!
Maka hendaklah ditemukan taktik dan strategi yang pas untuk menang. Disitulah diperlukan otak untuk berfikir bagaimana menciptakan cara untuk mencapai tujuan. Harapan menang lebih besar dari pada mempertaruhkan kekuatan pisik. Teori itulah yang dipakai dalam pertandingan adu kerbau. Dan menang!
Yang kedua:
Rahasia kemenangan mengadu kerbau letaknya “dimoncong” bukan “ditanduk”.
Penjabarannya ialah bahwa mencapai keberhasilan lebih effektif lewat bicara, murah meriah.
Hindari bentrokan pisik atau finansial. Dengan teknik bicara bisa mengalahkan berbagai jenis musuh. Barangkali faktor itulah yang menyebabkan orang Minang lebih memilih profesi sebagai pengusaha, guru atau jurnalistik.: Dibidang penegakan hukum kurang diminati. Itu
wilayah angker!.
Dalam seni beladiri silat, orang Minang memakai fisolofis Langkah Empat, yaitu langkah ke samping kanan, ke samping kiri, langkah mundur dan langkah maju. Datang serangan mengelak ke kanan, Sabarkan! Datang lagi, menghindar ke kiri: Nasehati. Masih diserang, mundur selangakah, Peringatkan. Dia tidak peduli juga, ambil langkah maju: Sosoh terus, apa yang akan terjadi, terjadilah! Tidak ada istilah langkah seribu, haram bagi anak Minang lari dari musuh. Makanya, pendekar atau pandeka itu artinya Pandai Aka.
Agaknya, kedua teori diatas telah diwarisi oleh putra-putri terbaik Minangkabau dalam merebut kemerdekaan Indonesia Sejarah menuturkan bahwa sesungguhnya Belanda dan Sekutu diusir bukanlah dengan kekuatan senjata. Manalah mungkin melawan meriam dengan bambu runcing? Tapi dengan perundingan demi perundingan, dengan Diplomasi. Jalur itulah yang ditempuh oleh para diplomat seperti H. Agus Salim, Syahrir, Tan Malaka, Mohammad Yamin, Mohammad Natsir, Buya Hamka, Rohana Kudus, Prof. Deliar Noer dan lain-lain.
Insya Allah akan menjadi warisan abadi bagi generasi emas Minang selanjutnya.
B. BENDERA MINANGKABAU
Tiap Negara memiliki bendera sebagai identitas. Bendera terdiri dari warna-warni dengan posisi letak berbeda. Hanya bangsanya saja yang tahu arti semua itu. Minangkabau walaupun bukan sebuah Negara tapi dia mempunya bendera dengan 3 warna: Kuning, Merah dan Hitam namanya“marawa”. Tidak ada yang tahu apakah Marawa bersal dari kata “marwah” yang artinya martabat keagungan atau kemuliaan. Yang nyata orang Minang bangga dengan benderanya sehingga dalam setiap keramaian pasti pasang Marawa.
Adapun asal muasal Marawa itu adalah benderanya Luhak Nan 3:
1. Warna Kuning lambangnya Luhak Tanah Datar; maskotnya Kucing 2. Warna Merah lambangnya Luhak Agam, maskotnya Harimau.
3. Warna Hitam lambangnya Luhak 50 Kota, maskotnya Kambing.
Sekarang corak 3 warna yang mirip bendera Jerman itu tidak lagi milik Luhak Nan 3 saja.
Tapi sudah menjadi ikonnya Alam Minangkabau. Posisi warnanya bukan dari atas ke bawah, tapi menyamping dari kiri ke kanan yang menggambarkan masyarakat Egaliter.
Bentuknya lancip vertikal. Bersama dari bawah bersama juga sampai di atas menuju
satu titik kebersamaan. Itulah falsafah dinamika masyarakat Minangkabau yang tertuang dalam mottonya: Berdayung Berbeda Sampan Sama Menuju Pulau Harapan.
Tentang warna-warni Marawa melukiskan karakteristik masyarakatnya masing-masing:
1. Kuning adalah warna emas kemegahan. Itulah martabat Tanah Datar. Kucing adalah hewan perlente idola semua orang disegani bukan ditakuti. Bila kucing mati ditabrak, si supir akan menguburkannya dengan kafan dari bajunya sendiri. Agaknya sebuah kehormatan atau permintaan maaf.
2. Merah miliknya orang Agam. Warna darah dengan maskot harimau menyatakan semangat keberanian. Harimau sang penakluk mengembara di hutan rimba, padang dan gurun. Dia berburu sendirian. Daerah jelajahnya untuk seluruh komunitas Minang. Sebuas-buasnya harimau bisa dijinakkan asalkan tahu kiyatnya. Jangan coba-coba menyinggungnya apalagi melecehkan.
3. Hitam lambang ketabahan, sabar dan ikhlas sifatnya orang Luhak Limapuluh Kota.
Maskotnya kambing, hewan tak banyak tingkah. Dia tidak suka berkelahi seperti familinya domba. Semua daun dimakan, semua orang disukainya. Penduduknya ramah, santun familiar. Mereka terkenal dengan ungkapan; Aia Janiah Sayaknyo Landai, Ikannyo Jinak Barapuangan.
Seperti halnya kepemilikan Marawa ciri khas 3 luhak, kini sudah menjadi warna kepribadian Minangkabauseluruhnya: Bermartabat, Pemberani dan Berbudi Luhur.
Namun, menurut Datuak Marajo Sungut dalam bukunya :”Tambo Manangkabau”, Solok bukanlah bagian dari Luhak Tanah Datar, tapi merupakan luhak keempat dengan warna hijau dan maskot anjing. Kalau ini benar, maka warna hijau merupakan kepribadian orang Solok yang damai dan teduh. Sedangkan anjing adalah hewan paling setia kepada tuannya (pemimpin).
C. TAMBO ALAM MINANGKABAU
Orang Batak mengatakannya Tarombo atau Babad istilah Jawa adalah silsilah keturunan nenek moyang. Tambo Alam Minangkabau ialah riwayat keturunan Sultan Maharajo Dirajo beserta rombongan dari Rumania. Mereka mendarat di puncak Gunung Merapi yang waktu itu pulau Sumatera sedang tenggelam. Entah beberapa lama kemudian air pun susut lalu nenek moyang membangun perkampungan di Pariangan Padang Panjang.
Kemudian menyebar ke daerah-daerah sekelilingnya sehingga berdirilah Luhak Tanah
Datar, Luhak Agam dan Limapuluh Kota. Selanjutnya penduduk berkembang ke Pariaman, Pesisir Selatan, Pasaman, Dhamasraya Kabupaten Kampar Riau dan lain-lain.
Maka terciptalah Alam Minangkabau yang luasnya meliputi wilayah Sumatra Barat, plus sebagian kawasan Sumatera Tengah sebelum penciutan tahun 1962. Demikian berita Tambo.
Inilah salah satu versi berita Tambo:
1. Dikiraikirai dibanda Tatangguak ikan gulamo Dicurai curai dipapa Dikaji sitambo lamo
7. Mako batiup angin sidolakdolai Takambang payuang ubuaubua Tadanga ragam bunyibunyian Tandó urang baralek gadang 2. Disauak aia dari hulu
Di juluak buah dari tangkai Tuturan kato rangdahulu Baitu paham nan bapakai
8. Dek izin takadia Allah Baruliah anak lakilaki
Namo Iskandar Zulkarnain Maharajo banso rang Rumawi
3. Dicapo tumbuah tibarau Daunnya rabah mudo-mudo Mangkonyo ado Minangkabau lkolah kisah dari tambo
9. Lorong kapado Rajo nantun Dapeklah anak tigo urang Nan tuo Maharajo Alif Nan turun kabanua Ruhum 4. SabarmuloAdam asal mulonyo
Duo jo namo Siti Hawa Tarjadi ditanah kuniang Taeda ateh kurisi
10 Nan tangah Maharajo Dipang Nan turun kabanua Cino
Nan bonsu Maharajo Dirajo Nan turun kapulau paco nangko 5. Kurisi batabua intan podi
Baraleh jo kain suto Suto banamo ainul banat Dalam sarugo 7 pangkek
11 Pihak dek Maharajo Dirajo Taniat didalam hati
Handak balaiya manjalajah Manuju tabiknyo matoari 6. Kadudukan Zihis Alaihissalam
Anak Adam nan kurang aso 40 Bakawin jo Puti Bidodari Sumarak alam disarugo
12 Mako balaiya baliau maso itu Ikuik jo Cati Bilang Pandai Sarato Dt. Suridirajo
Mairiang Puti Indo Jati
13. Dek lamo lambek, balaiya Dipado suatu malam Bulan tidak bintangpun tidak Kalam sabalik bumi Allah
20. Dihalah rimbo baluka Dilaco sawah jo ladang
Sawah laweh satampang baniah Makanan urang tigo luhak 14. Mako tampaklah api takijok kijok
Lalu diputa dandang kakian Mandarek dipungguang bukik baniah Banamo bukik Langgapuri
21. Manolah luak nan tigo Partamu luak Tanah Data Kaduo banamo luak Agam Katigo luak Limo Puluah 15 Sinan sirangkak nan badangkang
Sarato buayo putiah daguak Gunuang suatu maso itu Banamo gunuang Marapi
22. Nan sabalik gunuang Marapi Saedaran Sago jo Singgalang Sailiran batang Bangkaweh Salingka Singkarak jo Maninjau Tanah darek urang namokan 16. Dari mano titiak palito
Dibaliak telong nan batali Dari mano turun niniak kito Dari pucuak Gubuang Marapi
23. Lalu karantau jo Pasisia
Alam surambi Sungai Pagu Sabateh ombak nan badabua Hinggo ka Tanjuang Simalidu Sampai Sikilang Ayia Bangih 17. Basentak turun kabawah
Lah tibo di Guguak Ampang Sinan langgundi nan baselo Disinan bintuak nan barayun
24. Taruih Sialang BalantakBasi Bateh Taratak Aiya Hitam Sampai kapintu Rajo Ilia Hinggo aia babliak mudiak Lapeh Sipisak Pisau Hanyuik 18. Kan iyo dimaso itu
Bumi nanko balun lai leba Tanah darek sapaimbauan
Lauik baru sacampak jalo
25. Barhimpun darek jo rantau Itulah Alam Minangkabau Langkok jo lantak pasupadan Baitu barih balabehnyo 19 Mako dek kudarat iradat
Allah Langik mulai basentak naiak Bumi baransua mahatam turun Sinan bamulai bataratak
Drs. MD. Mansoer, pengarang buku Sejarah Minangkabau mengatakan, bahwa tambo Minangkabau berisi 2% sejarah dan 98% lumpur. Konotasi lumpur adalah sampah atau sesuatu yang tidak berguna. Tapi umumnya masyarakat Minangkabau sampai sekarang masih mempercayai kalau tambo adalah sejarah. Seluruh berita tambo benaradanya.
Sebaliknya kaum terpelajar Minang mengatakan kalau semua itu dongeng yang sejak lama membodohi masyarakat. Ada juga yang mengatakan berita tambo hanya mitologi guna menaikkan harkat suku bangsa sendiri saja.
Tentang siapa Sultan Iskandar Zulkarnain ayahnya Sultan Maharajo Dirajo itu, ada dua versi berbeda. Versi pertama mengatakan bahwa Sultan Iskandar Zulkarnain adalah raja Macedonia penakluk 3 benua, Benua Eropa, Benua Asia dan Afrika. Dialah ayah dari 3 bersaudara yang kemudian menjadi raja di Rumania bernama Maharajo Alif, Maharajo Dipang mendirikan kerajaan di Tiongkok dan adiknya si bungsu bernama Maharajo Dirajo membangun Minangkabau di pulau Sumatera.
Versi kedua menuturkan bahwa Iskandar Zulkarnain itu adalah cucu Nabi Adam dari anak terakhirnya bernama Zihis Alaihisalam. Sebagaimana diketahui bahwa Siti Hawa melahirkan anak 20 kali. Kecuali anak terakhir, semua dilahirkan kembar laki-laki dan perempuan. Menurut syari’at waktu itu mereka diharuskan kawin silang, maka Zihis yang dilahirkan tunggal tidak kebagian jodoh. Oleh sebab itu dia dikawinkan dengan bidadari dari surga. Dari pasangan inilah lahir seorang anak laki-laki bernama Iskandar Zulkarnain.
Ada perbedaan berita tentang siapa diri Iskandar Zulkarnain itu.Tapi keduanya punya kesamaan tentang anak-anaknya, yaitu: Maharaja Alif, Maharaja Dipang (Jepang) dan Maharaja Diraja.
Menurut para ahli sejarah, bahwa satu kejadian dapat disebut sebagai sejarah apa bila terjawab pertanyaan yang mereka rumus kan dengan (“5W”): What, Where, Who, Why dan When. Apa, Dimana, Siapa, Mengapa dan Kapan....
Apa yang terjadi? Datangnya orang-orang asing.
Dimana tempatnya? Dipuncak gunung Merapi Siapa mereka? Maharaja Diraja dan rombongan
Untuk apa datang? Bermukim mendirikan Minangkabau.
Kapan itu? Entah!.
Karena ada satu pertanyaan tak terjawab, maka diabukan sejarah.
Walaupun hanya menjawab pertanyaan tapi masih ada beberapa hal yang harus dipertanyakan untuk memperkuat argumentasi bahwa sesungguhnya itu adalah berita bohong yang tak masuk akal yaitu:
1. Siapa Raja Iskandar Zulkarnain itu sebenarnya? Apakah Raja Macedonia yang orang barat menyebutnya Alexander The Great, atau cucu Nabi Adam dari menantunya bidadari?
2. Waktu kapal Sultan Maharajo Dirajo terdampar di puncak Gunung Merapi, Pulau Sumatera sedang tenggelam. Hanya puncak-puncak gunung saja yang muncul, diantaranya Gunung Merapi. Pada hal Sultan ini dengan rombongan baru saja datang dari Asia Tenggara. Di sana tidak terjadi apa-apa. Buktinya mereka membawa Empat Putri tiap negeri-negeri yang disinggahinya.
3. Nama-nama ketiga bersaudara itu pasti bukan nama asli karena menyebut “Sultan”.
Lantas siapa nama asli ketiga mereka? Seharusnya punya nama bangsa Iran sebab ibunya Ruhana orang sana. Atau nama Eropah, nama dari bapaknya bangsa Rumania. (N. Dt Maradjo Sunguik)
4. Kalau benar Maharajo Dirajo anak belasteran dari Ibu Iran dan Bapak Rumania, dua bangsa berbadan besar berhidung mancung dan berkulit putih, secara genetik keturunannya tentu berperawakan demikian. Coba bandingkan dengan profil orang Minang sekarang. Sultan Maharajo Dirajo memerintahkan mencari lahan dikaki Gunung Merapai, Gunung Singgalang dan Gunung Sago, dalam satu generasi, ketiga wilayah itu sudah padat manusia. Apakah ada penduduk asli waktu mereka datang ke Minangkabau?
5. Ada versi lain menuturkan bahwa sewaktu kedatangan Sultan Maharajo Dirajo ke Puncak Gunung Merapi, di sana sedang terjadi topan Nabi Nuh. Pada hal tak ada kapal yang berlayar karena peristiwa itu merupakan Mukjizat Nabi Nuh yang tak mungkin dilakukan orang lain.
Untuk sementara ditinggalkan dulu isi yang kontroversial itu. Mari cermati “bungkus”
itu sendiri. Hampir dapat dipastikan bahwa tambo disusun orang setelah Islam masuk ke Minangkabau. Persepsi ini dibangun atas beberapa indikasi yang sangat akurat untuk satu kesimpulan yaitu:
1. Nama Iskandar Zulkarnain adalah ejaan Arab. Kalau begitu, dari mana orang tahu nama tersebut?
2. Saudara tua Sultan Maharajo Dirajo adalah Maharaja Alif. Kata “alif” adalah huruf pertama dari abjad Arab. Itulah nama yang diberikan kepada kakak tertua dari nenek moyang orang Minangkabau.
3. Dalam tambo disebut-sebut nama Nabi Adam, Nabi Nuh dan Zihis Alahissalam.
Begitu juga dengan Syurga yang dihuni oleh bidadari dari mana mereka dapat informasi semua itu?.
4. Dikatakan bahwa tambo tertua dituturkan oleh buku bertulisan Arab Melayu. Yaitu bahasa Melayu (Indonesia) dalam huruf Arab. Adapun bunyi huruf laten yang tak dipunyai Arab dibuat dari huruf Arab ditambahi dengan beberapa titik umpama, C ditulis dengan huruf “Kha” dengan titik di atas. Huruf ‘NG dengan menulis huruf
“’Ain” dengan dengan tiga titik di atas. Huruf NY dengan huruf “Nun” bertitik tiga.
Huruf G dengan menulis “ka” diberi satu titik. Huruf P dengan huruf “Fa” dan huruf O ditulis saja dengan huruf “waw”. Dan sebelum diciptakan ejaan arab melayu, tidak pernah ada tulisan sebagaimana yang didapati sekarang. Walaupun katanya Minangkabau mempunyai aksara sendiri, tidak dijumpai sebuah buku pun bertuliskan huruf Minang tersebut. Malah penyusun tambo mencari pembenaran dengan mengutip Al Qur’an Surat Al-Kahfiayat 84 (Dt. Muda Sungut)
Itulah beberapa catatan tentang pengaruh Islam terhadap penulisan tambo. Kalau Islam masuk ke Minangkabau pada abad ke XII Masehi, maka dalam proses panjang sampai orang Minangkabau benar-benar memahami Agama tentu tambo ditulis jauh sesudah kedatangan Islam. Yang pasti dari mana penulis dapat ilmu pengetahuan tentang indikator yang disebutkan di atas. Kalau bukan dari Islam? Banyak yang mengatakan bahwa tambo asli ditulis dalam buku Arab Melayu. Padahal mesin percetakan baru dikenal di Minangkabau pada zaman Kolonial Belanda. Artinya sesudah tahun 1883 sejak Plakat Panjang dimaklumatkan. Belum terlalu lama bukan?
D. PERTIMBANGAN LAIN
Sungguh pun demikian, rasanya kuranglah bijak kalau buru-buru memvonis tambo itu sebuah dongeng sebelum dipertimbangkan beberapa Aspek. Kita ketahui bahwa pewarisan budaya Minangkabau diturunkan lewat “penuturan”. Tentu saja hal ini ada hubungannya dengan Minangkabau yang tidak memiliki aksara. Ilmu Adat berupa
pepatah, petitih gurindam, pantun dan semacamnya semua diturunkan dari generasi ke generasi lewat penuturan, Dan harus diingat bahwa semua pusaka sastra tertuang dalam kaidah Kato Bamisa Rundiang Bakiyeh. Untuk mendapatkan substansinya harus dengan penalaran berbingkai kearifan. Tanpa semua itu apa yang dibicarakan dalam masalah ke Minangkabauan hanya merupakan setumpuk kebohongan belaka. Kalau MD Mansoer mengatakan bahwa tambo berisikan hanya 2% sejarah, barangkali bila diurai bisa menjadi 100% dan apa yang menurut beliau 98% berisi lumpur itu merupakan cairan logam mulia yang kalau dipadu merupakan kepingan emas murni.
Kalau dipertanyakan binatang Dinosaurus yang pernah hidup jutaan tahun yang silam, nama itu diberikan oleh para ilmuwan masa kini. Lantas, apa bedanya kalau orang Minang menamakan anak Zulkarnain dengan Sultan Maharajo Dirajo? Kalau mau jujur, hewan purba seperti Dinosaurus dan Mamout bisa dipastikan keberadaannya lengkap dengan postur tubuh yang sempurna, dari mana orang tahu semua itu? Pada hal cerita apa lagi gambarnya tidak pernah ada sebelumnya. Orang membuat keterangan itu bukan asal bicara, tunggu dulu mengatakannya sebagai lumpur. Para ahli Antropologi dan Biologi meyakinkan dirinya setelah melakukan penelitian ilmiah lewat penggalian fosil tulang kerangkanya.
Sisa tulang bebelulang purba yang sudah membatu itu dicongkel, dibersihkan kemudian disusun sedemikian rupa sehingga mendapatkan kerangka binatang yang diselidiki. Mana tulang punggungnya, tulang tangkorak, tulang kaki sampai sedetil-detilnya barulah ditemui bentuk aslinya. Orang mendengar bahwa Minangkabau pernah ada dan berjaya, tapi siapa yang percaya? Sejarah Minangkabau masa lalu kelam gelap gulita. Lantas datanglah kecurigaan bahwa Minangkabau itu hebat dalam khayal. Mana buktinya?.
Merujuk kepada penemuan Dinosaurus yang memastikan sosok hewan itu atas penggalian fosilfosil, maka kalau ada minat dan upaya untuk mengetahui kepastian, silahkan gali tulang kerangka Adat dan Budayanya yang berserakan dalam penuturan atau nama-nama kampung. Semua itu merupakan sinyal atas keberadaan Minangkabau zaman baholak.
Barangkali ini bengkalai para ahli sejarah danetno’og. Mari kita tunggu karya mereka.
Mudah-mudahan apa yang tadinya mustahil akan menjadi kenyataan. InsyaAllah.
E. ZAMAN PRASEJARAH
Berbincang mengenai asal muasal orang Minangkabau, ada versi lain pembanding tuturan. Tergantung kepada para analisa untuk menilai mana yang lebih mendekati kemungkinan.
Bahwa pada zaman prasejarah, yaitu sebelum orang mencatat tahun-tahun peristiwa penting, telah terjadi perpindahan penduduk secara bergelombang dari Hindia Belakang, mengaliri sungai Mekong menuju laut Cina Selatan. Salah satu rombongannya masuk kepulauan Natuna terus ke Selat Malaka. Mereka berlayar mudik Sungai Batang Kampar.
Sampai dipersimpangan sungai menempuh Kampar Kiri, terus kehulu sungai, kemudian ke hulu lagi tiba di suatu daerah yang kini bernama Mahek dalam kecamatan Bukit Barisan. Di sini bermukim dan berkembang beberapa generasi. Dalam perkembangan selanjutnya menyebar ke seantero Payakumbuah Utara, selanjutnya ke Luhak Limapuluh Kota, Luhak Agam dan Tanah Datar. Demikian perkiraan antropolog, konon petualang yang sampai di Mahek tersebut berasal dari sekitar negeri Vietnam dan Kambay bersuku Dongson. Dilihat kepada postur tubuh dan warna kulit memang ada kemiripan dengan bangsa Minangkabau.
Ada satu indikasi lain yang menguatkan pendapat ini, bahwa sampai sekarang di wilayah Payakumbuah Utara (mudiak) banyak ditemui Menhir yang orang di sana mengatakannya Batu Tagak. Yaitu batu pahatan dengan tinggi bervariasi antara satu meter, hingga dua meter tertanam di sekitar perumahan penduduk. Berbentuk agak lancip pipih dan sedikit miring mengarah ke Gunung Sago. Benda-benda itu banyak terdapat di daerah Guguak, Balubuih, Sungai Talang dan lain-lain. Menurut Amir M.S dalam bukunya Tonggak Tuo Minangkabau, Pada tahun 1932 pernah seorang peneliti bangsa Belanda menggali bawah batu tersebut, memastikan bahwa keberadaan Menhir tersebut adalah Nisan kuburan Purbakala. Nisan seperti itu ditemui di sekitar Vietnam. Ini sebuah teori yang membenarkan bahwa memang ada hubungan budaya antara Minangkabau dan Asia Tenggara. Selain itu, tentang nama negeri Mahek konon nama sebuah kawasan di sana, Mahat. Tapi orang Minang menyebutnya Maek berasal dari kata“mamahek” Artinya kampung orang tukang memahat batu untuk Menhir.
Nah, tentu kisah ini, kalau benar, telah mematahkan berita yang mengatakan nenek moyang orang Minangkabau turun dari puncak gunung Merapi. Apakah asal usul orang Minang dari Rumania di Eropah atau dari bangsa Dongson di AsiaTenggara? Wallahu
A’lam Bissawab.
F. KEDATANGAN ADITYAWARMAN
Sudah lazim bagi pemerintahan di Asia, bahwa pemimpin negaranya tampil berpasangan tapi akhirnya pecah kongsi. Begitulah yang terjadi di Tiongkok Mou Tse Tung berpasangan dengan Sun Yat Sen. Vietnam pernah punya pimpinan kembar Ho Cin Minh dan Baodai, Nehru didampingi Ali Jinnah, Soekarno duet dengan Hatta. Akhirnya yang satu tersingkir yang lain maju. Rupanya fenomena ini perulangan sejarah sebagaimana yang dialami Dwitunggal Dt. Katumangguangan dan Dt. Parpatiah Nan Sabatang di Minangkabau.
Dalam melaksanakan ambisi politik Gajah Mada yang tertuang dalam Sumpah Palapa bahwa seluruh Nusantara dan Asia Tenggara harus tunduk dibawah Duli Yang Dipertuan Mojopahit. Salah satu targetnya adalah sebuah kerajaan lemah tapi kaya di Sumatera, yaitu Minangkabau. Maka dikirimlah ke sana ekspedisi militer di bawah komando Laksamana Adityawarman. Panglima gagah ini mengemban tugas negara untuk menguasai daerah itu melalui dua opsi, “Menyerah atau Hancur”. Selanjutnya sang Komandan akan dinobatkan menjadi Gubernur Mojopahit di daerah taklukan itu. Dengan upacara militer, berangkatlah armada berbendera Mojopahit menuju Sunda Kelapa di Betawi, seterusnya bergerak ke Selat Malaka, di sini masuk muara sungai Batang Hari, mudik sampai Siguntua Dharmasraya. Transit sebentar, lanjut ke hulu anak Sungai Dareh mendarat di Teluk Kuantan. Sebelum melanjutkan pelayaran ke muara Ombilin dengan sasaran akhir Pariangan Padang Panjang pasukan diistirahatkan di satu padang tak bertuan guna memulihkan tenaga sesudah perjalanan panjang. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk latihan perang serta mempersiapkan peralatan tempur. Kemudian daerah itu bernama Kiliran Jao, artinya tempat orang Jawa “mangiliakan” (mengasah senjata). Dari sana di kirim kurir untuk menyampaikan“suratan caman” ke Datuk yang berdua.
Pada saat itu Patih Gajahmada berambisi menjadikan Mojopahit sebagai negara Adikuasa di Nusantara. Minangkabau bukan tandingannya sebab daerah ini tidak punya serdadu selain Pasukan Dubalang sejenis Hansip. Maka untuk meyankinkan tentang kekuatan militer yang sudah siap menyerang Minangkabau, diutuslah seorang bagak dari Silungkang bernama Gajah Tongga ke Kiliran Jao. Atas laporan mata-mata itu dipastikan kalau Minangkabau tak mungkin melawan.
Menanggapi ini, terbelah sikap Datuk yang berdua. Itulah yang dimaksud dengan ungkapan dibawah ini :
Tabanglah anggang dari lauik Ditembak rajo nan baduo Badia sadatak duo dantam Jatuah taluanyo di bumi ko
Anggang adalah burung besar berbulu hitam, berparuh besar panjang dan kokoh serta punya Makhkota dikepalanya. Lantas, siapakah yang dimaksud Anggang itu? Dialah Adityawarman, Panglima perang untuk menaklukkan Minangkabau.
Ditembak rejo nan baduo, badia sadatak duo dantam artinya disambut oleh Dt.
Katumanggungan dan Dt. Parpatiah Nan Sabatang dengan dua sikap berbeda. Nanti dia akan punya keturunan di bumi Minangkabau, itulah maknanya “Jatuah taluanyo di bumi ko”.
Sejak surat diterima, kedua Datuk seibu berlain Ayah ini memeras otak mencari jalan terbaik. Ini Simalakama: “Menyerah pantangan Nenek Moyang, berperang berarti bunuh diri”. Maju kena mundur kena! Kebuntuan itulah yang mereka bincang:
Dt Kt : Keputusanku tetap perang! Itu harga mati Dt Pp : Apa Tuan yakin bisa menang?
Dt Kt : Pasti kalah
Dt Pp : Kalau sudah tahu kalah, untuk apa berperang
Dt Kt : Lebih baik Minangkabau jadi abu dari hidup terjajah Dt Pp : Lantas, kalau sudah hancur siapa yang kita perjuangkan Dt Kt : Jadi, menurutmu menyerah?
Dt Pp : Silahkan dada bergejolak Tuan, kepala tetap dingin untuk berpikir.
Dt Kt : Mau berbuat apa dengan otak dinginmu itu?
Dt Pp : Begini, Tuan. Menjinakkan anjing itu dengan tulang Dt Kt : Maksudmu?
Dt Pp : Kita jemput anggang itu untuk Puti Jamilan Dt Kt : Apa? Diambil sumando?
Dt Pp : Ya
Dt Lt : Rupanya otakmu sudah beku terlalu dingin, Datuk.
Dt Pp : Itu hanya siasat Tuan!
Dt Kt : Omong kosong! Pikiran gilatak masuk akal.
Dt Pp : Dengar dulu!
Dt Kt : Parang!!! IKO KATO PILIHAN DEN. Harga mati (Dari “kato pilihan” itulah asal kata KOTO PILIANG)
Dt Pp : Adiknya menjawab: NAN BUDI CANDO IKO Tuan. Dari kata “budi cando iko” itulah awalnya kata BUDI CANIAGO (akal budi = siasat).
Sementara itu datanglah Ibunya, (Puti Endah Julito melerai)
Pt Fj : Sudahlah, anak-anakku. Darita di Bundo mendengar orang bertengkar, bukan berunding. Apa begini caranya Datuk-datuk bermusyawarah? Musuh sudah dibalik dapur kalian malah bakaruak arang. Mengalah kalian salah seorang supaya bengkalai cepat selesai.
(hening sejenak)
Dt Kt : Baiklah Bundo. Aku mengalah. Ku titipkan Minangkabau padamu, dik. Ku restui jalan pikiranmu. Izin kan kami berjalan jauh.
Sepekan sesudah itu, Dt. Katumanggungan beserta keluarga dan pengawal pergi menuju arah Selatan. Pergi untuk tidak kembali lagi. Di satu tempat dalam pesawangan, beliau pakuak (bacok) sebatang Durian sambil berucap “Tinggalah engkau Minangkabau indak den jalang jalang lai”. Daerah itu bernama Tanjung Simalidu perbatasan dengan Jambi, itulah dia yang disebut Durian Ditakuak Rajo.
Dua purnama kemudian, prosesi perkawinan Adityawarman dengan Puti Jamilan, adik seibu seayah Dt. Parpatiah dilangsungkan. Selanjutnya panglima itu bermaksud mendirikan Istana Kerajaan di Pariangan Padang Panjang. Melalui rayuan maut Permaisuri dapat di cegah. Berdatang sembah sang Permaisuri: “Menurut toto kromo Minangkabau, rang sumando ingin membangun harus seizin mamak rumah”. Kemudian, Dt. Parpatiah Nan Sabatang menunjuk satu lokasi,“Bangun di situ!”. Lapangan itu bernama Pagaruyung, di situlah dibangunnya Istana. Di dalam tambo disebutkan:
Mako dibueklah balerong panjang Nan batonggak tareh jilatang Baparan batang puluik puluik Balapiak jo saliguri,
Atok basusun tulang ikan
Itulah dia “Istana Gabus” kerajaan Mojopahit yang dilecehkan Minangkabau, DT. Parpatiah Nan Sabatang berucap pada adiknya: “Kecekkan ke laki kau, jadilah itu di rantau jauah, tapi bukan di Luhak Nan Tigo.” Demikianlah riwayat berdirinya kerajaan Pagaruyung yang disadur dari salah satu versi Tambo.
---