• Tidak ada hasil yang ditemukan

JO 4 (2) (2018) Jurnal Olahraga.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JO 4 (2) (2018) Jurnal Olahraga."

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

http://jurnalolahraga.stkippasundan.ac.id/index.php/jurnalolahraga

Penerapan Permainan Tradisional dalam Pembelajaran Penjas untuk

Pembentukan Sikap Fair Play Siswa

Fachdialy1, Yandri Driyana Firmansah2, Hendri Hardiyana3

1,2,3

STKIP Pasundan, Indonesia

Info Artikel __________________ Sejarah Artikel: Diterima Agustus2018 Disetujui Oktober 2018 Dipublikasikan Okotober 2018 __________________ Keywords:

Permainan tradisional, sikap fair play

Abstrak

_______________________________________________________ Tujuan Permasalahan yang akan diungkapkan dalam penelitian ini adalah : seberapa besar pengaruh permainan tradisional dalam pembelajaran penjas terhadap sikap fair play siswa di SMK Pasundan 1 Cimahi. Tujuannya untuk mengetahui seberapa besar pengaruh permainan dalam pembelajaran penjas terhadap sikap fair play siswa . Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X yang aktif sekolah yang berjumlah 69 orang, dengan teknik random sampling. Variabel penelitian terdiri dari satu variabel bebas yaitu permainan tradisional serta satu variabel terikat yaitu sikap fairplay siswa. Instrumen dalam penelitian ini, yaitu angket sikap fair play siswa. Metode penelitiannya adalah metode eksperimen. Analisis data menggunakan analisis deskriptif persentase. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa nilai persentase dari kejujuran dan rasa keadilan sebesar 89,71%, semangat bermain sebesar 88,14%, rasa hormat terhadap lawan sebesar 88,88%, kepatuhan pada peraturan sebesar 90,57%, berjiwa besar walaupun kalah sebesar 88% dan rendah hati dalam kemenangan sebesar 89,86% . Jadi : Dari hasil data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap fair play siswa dalam permainan tradisional berdaasarkan hasil penelitian lebih berpengaruh yaitu sub variabel kepatuhan pada peraturan.

Abstract

_______________________________________________________ The problem that will be expressed in this research is: how big influence of traditional game in learning pemas to attitude of fair play student at SMK Pasundan 1 Cimahi . The goal is to find out how much influence the game in learning pemas to the fair play attitude of students . The population used in this study is an active class X students of the school, amounting to 69 people, with a random sampling technique. The research variables consist of one independent variable that is traditional game and one dependent variable that is attitude fairplay students . Instrument in this research, that is questionnaire of fair play attitude ofstudent . The method of research is experimental method . Data analysis used a

(2)

percentage descriptiveanalysis . Based on the survey results revealed that the percentage value of honesty and sense of justice by89.71%, amounting to 88.14% passion play, respect for opponents of 88.88%, regulatory compliance by 90.57%, despite losing a big heart for 88% and humble in victory by 89.86% . So: From the results of these data can be concluded that the attitude of fair play students in the traditional game berdaasarkan research results more influential sub-sub-regulatory compliance.

© 2018 Fachdialy, Yandri Driyana Firmansah, Hendri Hardiyana

Under the license CC BY-SA 4.0  Alamat korespondensi:

E-mail: ISSN 2442-9961 (cetak)

PENDAHULUAN

Kemajuan suatu bangsa salah satunya ditentukan oleh tingkat pendidikan yang baik, karena pendidikan merupakan jalan meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Pendidikan pada era globalisasi harus mempersiapkan peseta didik yang mampu beradaptasi dengan perubahan dan memiliki kompetensi untuk hidup di dunia nyata, yang tidak bisa dipungkiri bahwa globalisasi membawa pengaruh positif dan juga negatif, seperti krisis nilai yang memperlemah watak peserta didik,apabila peserta didik tidak dipersiapkan dari berbagai asfek baik itu, afektif, kognitif maupun ketrampilannya. Peranan pendidikan bukan hanya pengalihan informasi tetapi menyangkut perubahan perilaku peserta didik agar menjadi manusia yang berakhlakul qarimah dan memiliki keterampilan serta kompetensi.

Pendidikan jasmani dan olahraga merupakan bagian dari pendidikan yang selalu melibatkan dimensi sosial, sebagai objek formal ilmu keolahragaan adalah gerak laku manusia dalam bentuk gerak insani, terutama gerak yang dikuasai melalui proses belajar, gerak insani inilah yang mencerminkan puncak kreativitas manusia.dalam konteks pendidikan khususnya jasmani,gerak insani inilah yang menjadi medan pergaulanan para peserta didik sebagai aktor, pendidik sebagai aktor

atau pengarah, dan gerak insani inipun sebagai media interaksi dengan lingkungannya dalam upaya mencapai tujuan hidupnya. Lutan (2001 : 30), mengemukakan bahwa :

Pengungkapan gerak insani merupakan perilaku gerak manusia yang universal tanpa memandang latar belakang agama, budaya, suku bangsa, ras, dalam pelaksanaannya berporos pada sifat-sifat permainan itu ,bertumpu pada etika dan kesadaran moral, karena olah raga merupakan ekpresi sifat-sifat manusia yang kreatif, indah yang kemudian bermuara pada kehidupan manusiawi dalam pengertian sejahtera paripurna, bukan hanya sehat jasmani, tetapi kesehatan aspek mental, emosional, sosial, dan spiritual.

Seiring dengan pendapat Lutan, pada hakikatnya bahwa kehidupan manusia dan umumnya suatu bangsa agar menjadi bangsa yang maju tentu harus didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang sehat jasmani, mental, emosional, sosial dan spiritual. Oleh sebab itu pendidikan sebagai upaya membina dan membentuk kepribadian serta perubahan perilaku peserta didik untuk menjadi manusia yang paripurna diperlukan pembelajaran yang mumpuni dalam arti mampu membentuk karakter peserta didik yang bukan hanya cerdas secara intelegensi tetatpi cerdas secara

(3)

emosi, cerdas secara spiritual dan memiliki keterampilan sosial. Arsyad (2000 : 1 ), mengemukakan bahwa:

Pembelajaran adalah suatu poses yang komplek yang terjadi pada setiap orang sepanjang hidupnya. Proses pembelajaran tersebut karena ada interaksi antar seseorang dengan lingkungan. Didalam proses penjas tujuanya adalah membantu peserta didik agar meningkatkan keterampilan gerak, merasa senang dan mau berpartisipasi dalam berbagai aktifitas.

Permainan tradisional merupakan permainan yang sudah ada sejak dulu. Setiap daerah di Indonesia mempunyai permainan tradisional yang berbeda-beda. Daerah JawaBarat sendiri mempunyai banyak bentuk permainan tradisional, seperti tarik tambang, engklek, oray-orayan, boi, ucing-ucingan, bebentengan, dan lain-lain. Akan tetapi permainan ini hampir terlupakan oleh masyarakat, terutama anak-anak. Anak-anak lebih sering melakukan permainan modern daripada permainan tradisional. Beberapa alasan yang mungkin menjadikan permainan modern lebih popular daripada permainan tradisional antara lain permainan modern lebih banyak variasi, dan mempunyai nilai prestise tersendiri di mata teman-temannya. Perubahan ini identik dengan ada prestasi terhadap perkembangan jaman, keterbukaan informasi dan komunikasi , teknologi modern yang menyediakan aneka permainan baru.

Permainan tradisional merupakan permainan yang mempunyai beberapa karakter yang dikembangkan antara lain di gambarkan dalam bentuk prilaku kejujuran, menghargai orang lain, menghargai rasa hormat pada lawan, pengendalian diri, kemauan dan tanggung jawab, dari semua karakter yang dikembangkan di atas di sebut dengan fair play. Fair play adalah kebesaran hati terhadap lawan yang menimbulkan

perhubungan kemanusian yang akrab dan hangat dan mesra. Fair play merupakan kesadaran yang selalu melekat, bahwa lawan bertanding adalah kawan bertanding yang diikat oleh pesaudaraan olahraga. Jadi fair play merupakan sikap mental yang menunjukkan martabat ksatria pada olahraga. Nilai fair play melandasi pembentukan sikap, dan selanjutnya sikap menjadi landasan perilaku.

1.Hakikat Fair Play

Fair dapat berarti terang, adil, wajar, cantik. Menurut Rusli Lutan (2003: 127), fair play adalah kebesaran hati terhadap lawan yang menimbulkan hubungan kemanusiaan yang akrab, hangat dan mesra. Fair play merupakan sikap mental yang menunjukan martabat ksatria pada olahraga, seperti contohnya ketika pertandingan berakhir kedua tim bersalaman dan berangkulan. Nilai fairplay melandasi pembentukan sikap dan selanjutnya sikap menjadi landasan perilaku. Sikap merupakan kesiapan untuk berbuat dan sikap tertuju pada sebuah objek tertentu.

a.Tujuan Fair Play

Fair play diperlukan jika semua peserta memiliki kesempatan yang adil untuk mengejar kemenangan dalam olahraga kompetitif. Bermain fair mensyaratkan bahwa semua kontestan memahami dan mematuhi tidak hanya dengan aturan formal permainan tetapi juga semangat kerja sama dan aturan tidak tertulis bermain yang diperlukan untuk memastikan agar pertandingan berjalan wajar.

Menurut Rusli Lutan, (2001:115-116) sebagai sebuah konsep yang abstrak, fair play mempunyai tujuan yang dapat dijabarkan dan dioperasikan dalam bentuk perilaku yang mencakup beberapa ciri sebagai berikut : 1. Adanya keinginan yang tulus iklhas agar

lawan bertanding mendapatkan kesempatan yang sama dengan dirinya sendiri. Dalam kaitan ini olahragawan yang bersangkutan harus mempunyai keinginan seperti : Menolak untuk berbuat

(4)

curang, mugkin untuk mendapatkan keuntungan dari suatu keadaan yang merugikan lawan. Menolak kejadian yang berkaitan dengan aspek meteril atau fisik, misalnya perlengkapan bertanding. Bila hal ini dapat dibetulkan atau dikurangi dikarenakan ketidaklengkapan dan akan berpengaruh terhadap hasil akhir suatu pertandingan. Berusaha pada diri sendiri untuk mengurangi dorongan berbuat yang berakibat ketidakadilan yang akan menimpa lawan.

2. Sangat teliti dalam menimba cara-cara untuk mendapatkan kesempatan seperti: Menolak mengunakan cara-cara, walapun tidak bertentangan dengan peraturan-peraturan yang tidak jelas disebutkan dalam peraturan sehingga menguntungkan diri sendiri. Sengaja untuk tidak memanfaatkan keuntungan yang dapat diperoleh dari penerapan peraturan-peraturan yang ketat. Tunduk dan ikhlas kepada keputusan juri atau wasit, meskipun nyata-nyata merugikan. Menunjukan secara berkelanjutan sikap bersedia membantu wasit atau juri dalam hal-hal khusus dan berusaha secara bijaksana agar wasit ataujuri mau membetulkan keputusan yang telah memberikan keuntungan.

b. Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Fair Play

Menurut Rusli Lutan (2003:101-105) terkandung empat nilai moral yang membentuk fair play yaitu :

1.Keadilan

Dalam fair play keadilan merupakan moral yang pertama. Pendapat Rusli Lutan (2003:101) tentang keadilan itu ada dalam bentuk antara lain: keadilan distribusi, keadilan prosedurial, keadilan retributif dan keadilan kompensasi. Keadilan distribusi merupakan keadilan yang mencakup pembagian keuntungan dan bebas secara relatif. Keadilan prosedurial mencakup persepsi terhadap prosedur yang dinilai

positif atau fair dalam menentukan hasil. Keadilan retributif adalah keadilan yang mencakup presepsi yang fair sehubungan dengan hukuman yang dijatuhkan bagi pelanggar hukum dan keadilan kompensasi mencakup pesepsi mengenai kebaikan atau keuntungan yang diperoleh pada waktu sebelumnya.

2.Kejujuran

Menurut Frans Magnis Suseno yang dikutip olah Rusli Lutan (2003: 102), Besikap jujur terhadap orang lain berarti terdapat dua sikap yaitu sikap terbuka dan fair. Terbuka tidak dimaksudkan bahwa segala pertanyaan orang lain harus dijawab dengan selengkapnya atau bahwa orang lain berhak untuk mengetahui segala perasaan dan pikiran kita, melainkan bahwa kita salalu muncul sebagai diri kita sendiri sesuai dengan keyakinan kita, tidak menyembunyikan wajah kita yang sebenarnya dan tidak menyesuaikan kepribadian kita dengan harapan orang lain. 3.Tanggung Jawab

Tanggung Jawab merupakan nilai moral yang sangat penting dalam olahraga. Tanggung jawab adalah pertanggung jawaban perbuatan sendiri. Menurut Rusli Lutan (2003:146 - 147), dalam tanggung jawab terkandung :

1) Harga diri (self respect) Hormati diri atau harga diri yang mencakup kejujuran. Kedermawanan dalam perasaan serta kelakuan penolakan terhadap kemenangan yang dicapai dengan jalan apapun, kerendahan hati dalam kemenangan dan ketenangan dalam kekalahan.2)

Penghargaan terhadap

lawan.Menghormati lawan dengan jalan mengadakan perlawanan yang semaksimal mungkin merupakan penghormatan yang tertinggi bagi lawan.

4. Kedamaian

Kedamaian merupakan moral keempat yang dapat mempengaruhi fairplay. Kedamaian mengandung pengertian tidak akan menganiaya,mencegah,penganiayaan,

(5)

menghilangkan penganiayaan dan berbuat baik (Rusli Lutan, 2003:105). Mencegah penganiayaan dalam arti mencegah terjadinya tindakan kekerasan baik oleh pemain, wasit, maupun penonton yaitu dengan berbuat baikatau ksatria, tegas dalam bertindak, baik terhadap penonton dan menjaga kewibawaan pemain.

2.Sikap

Ada banyak pendapat yang dikemukakan para ahli psikologi mengenai pengertian sikap seperti yang dikemukakan Ahmadi dalam Rizal (2015:13) bahwa “sikap sebagai tingkatan kecenderungan yang bersifat positif maupun negatif yang berhubungan dengan objek psikologi”. Menurut Sarnoff (Sarwono, 2000: 98) mengidentifikasi „sikap sebagai kesediaan untuk bereaksi (disposition to react) secara positif (favorably) atau secara negatif (unfavorably) terhadap objek-objek tertentu. Sedangkan menurut pandangan Soetarno dalam Rizal (2015:13) bahwa :

Sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak terhadap objek tertentu. Sikap senantiasa diarahkan kepada sesuatu artinya tidak ada sikap tanpa objek. Sikap diarahkan kepada benda-benda, orang, peristiwa, pandangan, lembaga, norma dan lain-lain.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sikap adalah keadaan diri yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu didalam menanggapi objek maupun situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap objek atau situasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap menurut Rahayuningsih (2008) diantaranya :

a. Pengalaman Pribadi

Apa yang telah dan sedang dialami seseorang akan ikut membentuk dan mempengaruhi terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan objek psikologis yang akan membentuk sikap positif dan negatif. Pembentukan tanggapan terhadap objek merupakan proses kompleks dalam diri individu yang bersangkutan.

b. Pengaruh Orang Lain yang Dianggap Penting

Orang lain di sekitar individu merupakan salah satu komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap individu tersebut. Seseorang yang dianggap penting akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap individu terhadap sesuatu. Misalnya orang yang biasa dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau suami, dan lain-lain.Pada umumnya, individu akan bersikap sama atau mengikuti setiap apa yang dilakukan oleh orang yang dianggapnya penting.

c. Pengaruh Kebudayaan

Kebudayaan berpengaruh besar terhadap pembentukan sikap terutama kebudayaan dimana seseorang hidup dan dibesarkan.Secara tidak langsung kebudayaan telah menanamkan garis arah sikap seseorang terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayaan juga yang memberi corak pengalaman individu yang menjadi anggota kelompok masyarakat tertentu.

d. Media Massa

Berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan masyarakat. Sebagai penyampai informasi, media massa membawa pesan-pesan yang

(6)

berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Informasi mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif bagi terbentuknya sikap kemudian selanjutnya pesan-pesan sugesti yang dibawa oleh informasi tersebut, bila cukup kuatakan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah sikap.

e. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama

Kedua lembaga tersebut mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan pusat keagamaan serta ajarannya. Karena konsep moral dan ajaran agama sangat membentuk sistem kepercayaan maka tidak mengherankan kalau konsep tersebut ikut berperan dalam menentukan sikap individu terhadap sesuatu hal.

f. Pengaruh Faktor Emosional

Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang.Terkadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai media penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego seseorang. Sikap seperti itu biasanya bersifat sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih konsisten dan lebih tahan lama.

3.Permainan Tradisional

Permainan tradisional atau permainan rakyat adalah suatu hasil budaya masyarakat yang berasal dari jaman yang sangat tua, yang telah tumbuh dan hidup hingga sekarang (Depdikbud, 1980/1981). Permainan tradisional adalah segala bentuk permainan yang sudah ada sejak jaman dahulu dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi (Purwaningsih, 2006).

Menurut Jarahnitra dalam Wahyuni, (2009:38) bahwa permainan tradisional rakyat merupakan hasil budaya yang besar nilainya bagi anak-anak dalam rangka berfantasi, berekreasi, berolahraga yang sekaligus sebagai sarana berlatih untuk hidup bermasyarakat, ketrampilan, kesopanan, serta ketangkasan.

Jenis permainan kanak-kanak menurut Mönks dkk dalam Wahyuni, (2009:33) terdiri atas:

a. Permainan bayi, yakni permainan yang digunakan oleh seluruh anggota keluarga yang biasanya ditujukan guna menstimulasi perkembangan anak balita. b. Permainan perorangan, yakni permainan

yang dimainkan sendiri tanpa adanya orang lain atau teman lain yang diajak main.

c. Permainan tetangga atau sosial, yakni permainan yang melibatkan orang lain dan dalam permainan tersebut terjadi suatu interaksi yang aktif.

d. Permainam tim, yakni permainan yang dilakukan secara berkelompok dengan adanya suatu aturan yang jelas.

3.Manfaat Permainan

Menurut Gunarsa dalam Wahyuni (2009:37) beberapa manfaat permainan diantaranya adalah:

a. Menyalurkan energi anak yang tertumpuk. b. Menyalurkan perasaan-perasaan yang

terpendam.

c.Anak dapat diperkenalkan pada lingkungan sosial yang baru.

d. Belajar mematuhi peraturan dan menjalani “hukuman‟ jika melakukan pelanggaran sehingga membantu dalam perkembangan kepribadiannya.

Dharmamulya dalam Wahyuni, (2009:40) penggolongan permainan tradisional antara lain:

a)Permainan yang pelakunya hanya anak perempuan saja atau hanya anak laki-laki, atau campuran yaitu sumbar suru, sumbar dulit, lurah-lurahan, gobag gerit, adu

(7)

kecik, gobag sodor, gobag bunder, lepetan, dam-daman, soyung, dan lainnya. b) Permainan yang pelakunya berpasangan satu lawan satu, antara lain dakon, mul-mulan, macanan, dan lainnya.

c) Permainan yang pelakunya berupa kelompok lawan kelompok, sepert gobag sodor, jeg-jegan, kauman, raton dan lainnya.

d) Permainan yang pelakunya satu lawan satu, dapt berupa satu lawan kelompok, dan kelompok lawan kelompok misalnya bengkat.

e) Permainan yang pelakunya berpasangan seperti gamparan, obrog, tembung, dan lainnya.

f) Permainan yang memerlukan alat bermain berupa benda, misalnya bethik alatnya benthong, sumbar alatnya kecik, layangan alatnya layang-layang, gamparan alatnya batu bata, dan lainnya.

g) Permainan yang bermainnya memerlukan prasarana arena tertentu dan alat bermain, misalnya mul-mulan, dam-daman, macanan, bas-basan, dan lainnya.

h) Permainan yang bermainnya disertai dengan bernyanyi seperti jamuran, gula gethi, soyang, bibi bibi tumbas timun, dan lainnya.

i) Permainan yang diakhiri dengan pemberian hukuman pada yang kalah seperti gendiran, kauman, tikusan, dekepan, sobyung, dan lainnya.

j) Permainan yang menggunakan udu, sehingga berakhir dengan untung atau rugi seperi pot, sumbar suru, sumbar garit, citit, adu gambar, dan lainnya.

k) Permainan yan bermainnya dapat berakibat rusak atau hilangnya alat bermain seperti layangan, pathon, adu jengkerik, dan lainnya.

l) Permainan yang bermainnya menggunakan kekuatan ghaib seperti nini thowok, wedhus prucul, oncit, dan lainnya.

METODE

Dalam penelitian ini, penulis memutuskan untuk memulai perlakuan pada kelas X AP 2 dan X AK 1tahun ajaran 2015/2016. Perlakuan dilakukan selama kurang lebih satu bulan yang dilakukan dua kali dalam setiap minggunya, sehingga tercapai kurang lebih 8 pertemuan Sumarni, (2014:48). Hal tersebut mengacu pada proses pembelajaran pendidikan jasmani yang dilakukan secara normal di sekolah dalam waktu satu semester kurang lebih sebanyak 8 pertemuan. Karena itu dengan memenuhi jumlah pertemuan yang sama diharapkan dalam waktu satu bulan, efek dari perlakuan sudah dapat diamati untuk kemudian dilanjutkan dengan proses evaluasi.

Dalam penelitian ini penulis mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel yang lain maka metode yang paling tepat adalah metode eksperimen. Riduwan (2005: 50) menjelaskan “Penelitian eksperimen adalah suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel yang lain dalam kondisi terkontrol secara ketat”. Arikunto (2013: 9) juga menjelaskan bahwa :

Eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi atau mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor lain yang bisa mengganggu.Eksperimen selalu dilakukan dengan maksud untuk melihat akibat dari suatu perlakuan.

Desain penelitian ini menggunakan One-shot case study. Arikunto (2013:124) menjelaskan "One-shot case study peneliti hanya mengadakan treatment satu kali yang diperkirakan sudah mempunyai pengaruh, kemudian diadakan posttest". Sedangkan untuk teknik sampelnya menggunakan random sampling atau sampel acak.Dalam penelitian ini akan dilihat pengaruh penerapan permainan tradisional dalam

(8)

pembelajaran penjas untuk pembentukan sikap fair play siswa.

1. Rancangan Penelitian a) Desain Penelitian

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah One-Shot Case Study sebagai berikut :

Gambar 1. Desain Penelitian

(Suharsimi Arikunto, 2013) Keterangan :

X = treatment berupa penerapan permainan tradisional

O = posttest sikap fair play siswa

Pada desain penelitian ini, sampel dipilih secara acak. Selanjutnya diberikan perlakuan (treatment) berupa permainan tradisional kemudian diakhir pertemuan siswa diberikan angket untuk melihat sikap fair play.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas Xdi SMK PASUNDAN 1Cimahi tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah232 orang.Kelas X merupakan kelas awal bagi mereka dalam menempuh pendidikan di tingkat sekolah menengah atas yang tentunya membutuhkan penanaman sikap positif yang lebih baik dan kuat sebelum mereka memasuki jenjang yang lebih tinggi.

Sampel diambil sebanyak 35 orang dengan cara acak sederhana menggunakan penomoran sehingga semua populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel. Hal tersebut mengacu pada penjelasan Surakhmad (Riduwan, 2008: 5) sebagai berikut :

Apabila ukuran populasi sebanyak kurang lebih dari 100, maka pengambilan sampel sekurang-kurangnya 50% dari populasi. Apabila ukuran populasi sama dengan atau lebih dari 100, ukuran sampel diharapkan sekurang-kurangnya 15% dari ukuran populasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Setelah melakukan pengumpulan data adalah mengolah data tesebut agar data yang telah diperoleh dapat mempunyai arti. pengolahan data merupakan sesuati yang sangat penting dalam suatu penelitian, dengan mengolah data-data yang telah terkumpul, peneliti dapat menemukan jawaban dari jumlah masalah yang telah disusun sebelumnya. Menurut (Arikunto , 2010:53)” pengolahan data adalah mengubah data mentah menjadi data yang lebih bermakna.. “. Berdasarkan uraian tersebut, maka dalam penelitian ini penulis mengumpulkan prosedur dan anlisis data dengan langah-langkah sebagai berikut:

1.Pengelompokan data, dalam pengelompokan data ini langkah-langkah yang penulis lakukan adalah sebagai berikut a. Mengelompokan butir butir pertanyaan. b. Menjumlahkan skor-skor seluruh

pertanyaan tiap tiap komponen. Untuk lebih jelasnya skor tiap sub variabel dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Data Hasil Penelitian

No Sub-variabel Banyaknya Pernyataan Skor ideal Skor Aktual % 1 Sikap Fairplay Siswa 38 6650 4074 61,26

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa sub variabel sikap fairplay siswa memiliki skor sebesar 4074 atau 61,26% dari skor ideal.

(9)

Tabel 2. Rata-Rata Skor Sikap Fairplay Siswa No Sampel Skor Fairplay Jumlah soal Rata-rata 1 A 158 38 4.16 2 B 179 38 4.71 3 C 190 38 5.00 4 D 153 38 4.03 5 E 172 38 4.53 6 F 171 38 4.50 7 G 183 38 4.82 8 H 178 38 4.68 9 I 181 38 4.76 10 J 179 38 4.71 11 K 178 38 4.68 12 L 176 38 4.63 13 M 156 38 4.11 14 N 176 38 4.63 15 O 157 38 4.13 16 P 160 38 4.21 17 Q 169 38 4.45 18 R 173 38 4.55 19 S 155 38 4.08 20 T 172 38 4.53 21 U 169 38 4.45 22 V 172 38 4.53 23 W 165 38 4.34 24 X 167 38 4.39 25 Y 171 38 4.50 26 Z 166 38 4.37 27 AA 168 38 4.42 28 AB 166 38 4.37 29 AC 162 38 4.26 30 AD 162 38 4.26 31 AE 170 38 4.47 32 AF 169 38 4.45 33 AG 174 38 4.58 34 AH 174 38 4.58 35 AI 176 38 4.63 Jumlah 5947 4,47

Berdasarkan tabel menunjukan bahwa rata-rata skor fairplay siswa sebesar 4,47 atau 89,4%. Berdasarkan kriteria jawaban responden yang di buat oleh Sugiyono (2007:107) maka untuk skor fairplay sangat tinggi sebesar 81% sampai 100% dan selanjutnya antara 61% sampai 80% untuk tinggi, 41% sampai 60% untuk cukup tinggi, 20% sampai 40% untuk rendah, dan dibawah 20% untuk sangat rendah. Dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa rata – rata fairplay siswa sebesar 4,47 atau 89,4% dalam kriteria sangat tinggi. Hal ini berarti sikap fairplay siswa dalam kondisi sangat tinggi.

Tabel 2. Hasil Presentase Sub Variabel Data Hasil Penelitian

Sub-Variabel Banyaknya pertanyaan Skor Aktual Skor Ideal % Kejujuran dan rasa keadilan 5 785 875 89,71 Semangat bermain 4 617 700 88,14 Rasa hormat terhadap lawan 11 1711 1925 88,88 Kepatuhan pada peraturan 4 634 700 90,57 Berjiwa besar walaupun kalah 6 942 1050 88 Rendah hati dalam kemenangan 8 1258 1400 89,86

Berdasarkan tabel terlihat bahwa indikator kejujuran dan rasa keadilan memiliki skor 785 atau 89,71% dari skor ideal, Semangat bermain memiliki skor 617 atau 88,14% dari skor ideal, rasa hormat terhadap lawan memiliki skor 1711 atau

(10)

88,88% dari skor ideal, kepatuhan pada peraturan memiliki skor 634 atau 90,57% dari skor ideal, berjiwa besar walaupun kalah memiliki skor 942 atau 88% dari skor ideal, rendah hati dalam kemenangan memiliki skor 1258 atau 89,86% dari skor ideal. Dari hasil data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap fairplay siswa dalam permainan tradisional berdasarkan data hasil penelitian lebih dominan pada kepatuhan pada peraturan.Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis data diperoleh beberapa temuan untuk digunakan sebagai diskusi penemuan sebagai berikut : Dalam penerapan permainan tradisional sikap fairplay yang dominan adalah kepatuhan pada peraturan dengan indikator-indikatornya mengikuti peraturan dan menghormati peraturan.

Sikap fairplay siswa saat penerapan permainan tradisional termasuk ke dalam kategori yang sangat tinggi ini di karenakan permainan tradisional lebih mengutamakan kesenangan dalam bermain bukan mencari siapa pemenang atau siapa yang juara dalam permainan tersebut , ketika dalam permainan mencari pemenang atau juara siswa akan menghalalkan segala cara dan melupakan yang namanya peraturan dalam permaian agar dapat memenangkan permainan tersebut, Karena ketika kita berbicara tentang olahraga apapun, fairplay adalah hal yang paling utama dibandingkan siapa pemenang atau juaranya, sikap fairplay harus terus di terapkan dalam setiap kegiatan olahraga terutama penjasorkes agar siswa paham tentang arti olahraga yang sesungguhnya ,dan dalaam penerapannya permainan tradisional sangat membantu pada pembentukan sikap fairplay.

KESIMPULAN

Berdasarkan Kesimpulan yang dapat ditarik dari kesimpulan ini adalah sebagai berikut :

Sikap fairplay dalam permainan tradisional pada penjasorkes pada umumnya

dalam kategori sangat tinggi ,dan dominan terjadi terhadap kepatuhan pada peraturan yang meliputi indikator-indikator mengikuti peraturan dan menghormati peraturan.

DAFTAR PUSTAKA

Artha, Surya Gede.(2014). Permainan Tradisional Bebentengan. Diakses pada tanggal 21 April 2016.

http://gedesuryaartha.blogspot.com/2 014/01/permainan-tradisional-benteng-bentengan.html

Dault, Adhyaksa.SH.MSi (2006). Kumpulan permainan rakyat olahraga tradisional.Jakarta

Guntara Frestian. (2013). Fair play dalam olahraga. Diakses tanggal 4 Desember

2015.http://frestianguntaraabdi.blogs pot.co.id/2013/07/fair-play-dalam olahraga.html

Husdarta, J.S. Saputra, M. (2010). Belajar da n Pembelajaran. Bandung: Dewa Ruchi.

Lutan, Prof.Dr.Rusli.(2001). Olahraga dan Etika Fair Play. Jakarta.

M, A. Husna.(2009). 100+ Permainan tradisional Indonesia untuk kreativitas, ketangkasan, dan keakraban.Yogyakarta.

Margono dan Cukup Pahalawidi.(2011). Pelaksanaan pananaman fair play pada siswa sd Oleh guru penjasorkes di sleman D.I Yogyakarta.Yogyakarta Nurhasan, Cholil. (2007). Tes dan Pengukuran Keolahragaan. Bandung: Jurusan Kepelatihan. Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan. UPI.

Nurhasan, Cholil. (2013). Tes dan

Pengukuran Dalam

PendidikanJasmani. Cimahi: Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan. STKIP PASUNDAN. Nurhasan, Cholil. (2015). Sistem

(11)

statistika (inferensial) dan penerapannya dalam pendidikan jasmani. Cimahi: Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan. STKIP PASUNDAN.

Nuryadi. (2014). Sepakbola. Jakarta: Sinar Fajar

Purwanti. (2007). Mengungkap nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional gobag sodor.Surakarta Rahman , Frediatmoko Aulia.

(2011).Pemahaman fair play pemain olahraga bola basket di tim bola basket sma negeri Se-kota tegal tahun 2011.Tegal

Riana, Putry. (2014). Makalah pembinaan karakter melalui olahraga. Diakses pada tanggal 17 Januari 2016. http://kumpulanmakalahlengakap.blo gspot.com/2014/06/contoh-makalah-pembinaan-karakter.html

Rizki. (2010). Pendidikan jasmani dan kesehatan. Diakses tanggal 19

Desember

2015.http://penjaskespendidikanjasm anikesehatan.blogspot.com/2010/11/p engertian-definisi-pendidikan-jasmani.html

Rukmana, Fauzan Aswin. (2014). Impelementasi Reward dan Punishment Terhadap Sportivitas Siswa Dalam Permainan Sepakbola. (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung

Sumarni, Een. (2015). Perbedaan Sikap Fairplay Siswa Putra Dan Putri Yang Mengikuti Pembelajaran Ekstrakulikuler Permainan Sepakbola. (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Wahyuni, Ika Sri.(2009). Efektivitas

pemberian permainan tradisional gobag sodor terhadap penyesuaian sosial anak sekolah dasar negeri cakraningratan surakarta.Surakarta

Gambar

Gambar 1. Desain Penelitian
Tabel 2. Hasil Presentase Sub Variabel  Data Hasil Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan saintifik dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran yang memfasilitasi siswa dalam mengembangkan

Proses perancangan aplikasi pembelajaran bahasa isyarat berbasis Android pada tablet yang terdiri dari A-Z tahap, yaitu perancangan sistem secara umum, analisis kebutuhan

Berdasarkan tingkat kemiripan maka dilakukan pemetaan posisi kamera ponsel samsung terhadap ponsel kamera merek lain dengan menggunakan metode multidimensional scaling

Bahwa dengan telah ditetapkannya Undang-undang Nomor 18 tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II

Dalam Meningkatkan Kualitas pembelajaran pada Program Studi Pendidikan Sejarah FKIp Unsri Pemanfaatan Media Visual pada pembelajaran Ekonomi Makro di Program Studi

 Ada beberapa kasus juga pada wanita tidak ditemukan tanda-tanda sama sekali , baru bisa terlihat apabila pasangan yang sudah berhubungan dengannya terkena pernyakit kencing

Rasulullah sendiri pernah ditemui tiga orang pezina yang meminta ditegakkan hukuman Islam atas diri mereka sebagaimana termaktub dalam Shahih Muslim yang diriwayatkan dari Abdullah

Dalam pengembangan budaya sekolah perlu mengacu pada 10 prnsip dari berpedoman pada Visi, Misi dan Tujuan Sekolah hingga Evaluasi Diri, selain menggunakan 10 prinsip