BAB I PENDAHULUAN. cepat berkembang dan bagi beberapa negara pariwisata merupakan sumber devisa

Teks penuh

(1)

1

1.1 Latar Belakang

Pada dasarnya pariwisata merupakan salah satu industri yang paling cepat berkembang dan bagi beberapa negara pariwisata merupakan sumber devisa yang paling utama. Pariwisata juga turut membantu masyarakat lokal dengan membuka kesempatan lapangan kerja. Meski demikian, layaknya pisau bermata dua pariwisata juga dapat menimbulkan permasalahan baik secara ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan. Oleh sebab itu, wisatawan mulai mencari alternatif liburan yang lebih bertanggung jawab terhadap keberlanjutan seperti ekowisata.

Ekowisata menjadi salah satu fenomena yang menjadi tren di kalangan wisatawan global saat ini. Pergeseran sudut pandang dari pariwisata massal (mass tourism) ke pariwisata minat khusus (special interest tourism) menjadi “budaya pop” bagi setiap pelancong terlebih didukung oleh kerusakan lingkungan yang disebabkan manusia, sehingga dalam industri pariwisata isu lingkungan pun menjadi prioritas utama dalam berwisata.

Ekowisata merupakan suatu bentuk wisata yang sangat erat dengan prinsip konservasi. Bahkan dalam strategi pengembangan ekowisata juga menggunakan strategi konservasi. Dengan demikian ekowisata sangat tepat dan berdayaguna dalam mempertahankan keutuhan dan keaslian ekosistem di areal yang masih alami. Bahkan dengan ekowisata pelestarian alam dapat ditingkatkan kualitasnya karena desakan dan tuntutan dari para eco-traveler (Fandeli dkk, 2000).

(2)

Pada dasarnya ekowisata sangat terkait dengan bentuk-bentuk wisata lainnya seperti wisata alam, wisata budaya, wisata pertanian, wisata alam liar dan wisata petualangan. Jenis kegiatan bisa saja berbeda sesuai dengan minat wisatawan yang akan melakukannya, tetapi yang pasti bahwa ekowisata tidak bisa terlepas dari wisata alam. Daya tarik wisata alam merupakan salah satu dari tiga klasifikasi daya tarik wisata yaitu daya tarik alam, daya tarik budaya dan daya tarik buatan manusia. Wisata alam meliputi bentang alam dan panorama alam serta kekayaan hayati berupa aneka jenis flora dan fauna yang merupakan pesona tersendiri yang menarik para wisatawan untuk datang menikmati atau mengunjunginya.

Indonesia adalah sebuah negara tropis yang kaya akan potensi pengembangan pariwisata berbasis ekowisata. Jika pemerintah jeli, dan melihat tren ekowisata yang cenderung terus menanjak dewasa ini, seharusnya fenomena ini menjadi salah satu fokus pengembangan Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) di tiap kawasan. Selain keuntungan ekonomi, pariwisata bisa menjamin kelestarian lingkungan sehingga bisa meminimalisir kerusakan suatu ekosistem. Oleh Conservation International, Indonesia diidentifikasi sebagai negara prioritas untuk konservasi sumber daya keanekaragaman hayati dunia, dimana kawasan konservasi menyebar di berbagai kepulauan (daratan dan perairan) sehingga potensi pengembangannya terbuka sangat lebar dan sangat menjanjikan untuk investasi jasa ekowisata (Nugroho, 2011).

Prospek pengembangan ekowisata yang menggiurkan tersebut bukan tanpa kendala. Fakta di lapangan menunjukkan banyak faktor pendukung yang

(3)

belum siap, seperti infrastruktur yang belum memadai, kesadaran menjaga lingkungan yang masih rendah, mekanisme pemasaran yang tidak terencana dengan baik serta ketidaksiapan masyarakat setempat dalam merespon permintaan pasar. Kendala tersebut akhirnya memutuskan rantai jaringan antar paket-paket wisata, sehingga kunjungan wisatawan asing akhirnya hanya masuk dan tertahan di Bali karena kendalanya relatif lebih kecil dan mereka kenali (Nugroho, 2011).

Bali merupakan salah satu pintu masuk terbesar bagi wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia, dan kebanyakan dari wisatawan asing tersebut adalah tipe wisatawan yang menyukai wisata alam. Menurut Dalem (dalam Nugroho, 2011), perolehan nilai ekonomi ekowisata masih di bawah 5 persen dari seluruh jasa wisata, dengan tingkat kunjungan wisata asing sekitar 5 juta orang per tahun (lebih rendah dibanding Malaysia 8 juta atau Singapura 15 juta orang). Hal ini bertolak belakang dengan luas kawasan serta berlimpahnya potensi yang dimiliki Indonesia. Penyebabnya adalah Indonesia masih lemah mengemas dan mempromosikan kekayaan ragam flora, fauna dan budaya yang dimilikinya.

Ketimpangan kunjungan wisatawan asing yang hanya terfokus di Bali seharusnya bisa digenjot dengan memperkenalkan spot wisata baru selain untuk menambah varian atraksi wisata, hal ini tentu saja meningkatkan ekonomi masyarakat lokal yang selama ini hanya ditopang dengan mengeruk sumber daya alam yang jika tidak terkontrol akan habis. Sebagai contoh pulau Kalimantan, dalam masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011 – 2025, masuk ke dalam koridor lumbung energi Indonesia, bukan koridor pariwisata layaknya Bali dan Nusa Tenggara Timur (Hanum, 2013),

(4)

padahal Kalimantan memiliki potensi pengembangan pariwisata alam yang jika dikelola secara maksimal bisa menjadi solusi baik bagi penyelamatan lingkungan ataupun bagi peningkatan perekonomian masyarakat lokal yang mungkin tidak semua merasakan dampak kesejahteraan dari hasil pertambangan migas yang dikeruk dari bumi Kalimantan.

Pulau Borneo atau Kalimantan adalah pulau terbesar di Indonesia, pulau ini terkenal akan hutan hujannya, keindahan dan kekayaan alamnya baik flora mau pun fauna, serta tradisi dan budaya tradisional masyarakat Dayak sebagai penduduk asli pulau tersebut. Pulau Borneo dianggap sebagai paru-paru dunia, sehingga tiga Negara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam), dengan inisiatif dari World Wide Fund for Nature (WWF), mencanangkan kawasan seluas 220.000 km2 sebagai Heart of Borneo atau jantung Borneo yang merupakan program konservasi dan pembangunan berkelanjutan di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan dan juga mencakup sebagian wilayah Brunei Darussalam. Program ini telah disepakati bersama antara ketiga Negara tersebut untuk dikelola berdasarkan prinsip-prinsip konservasi dan pembangunan. (Wikipedia.org dan heartofborneo.or.id diakses 23 September 2015).

Diluar kawasan Heart of Borneo tersebut, masih terdapat juga area yang dicanangkan pemerintah sebagai kawasan konservasi seperti taman nasional, hutan lindung dan cagar alam. Seiring pembangunan dan bertambahnya populasi, keberadaan kawasan-kawasan konservasi semakin terancam. Terutama oleh perambahan hutan oleh masyarakat atau korporasi, pertambangan di areal konservasi serta pembukaan lahan perkebunan sawit. Menurut Fandeli (2000)

(5)

didalam buku Pengusahaan Ekowisata, kawasan hutan saat ini sedang dilanda penebangan oleh masyarakat karena “kecemburuan” setelah tiga dekade hutan produksi “dikuras” oleh Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Selain itu kebakaran lahan yang hampir setiap tahun terjadi pada musim kemarau turut menjadi ancaman serius bagi kelangsungan kawasan-kawasan ini.

Kawasan Air Terjun Banangar atau lebih dikenal masyarakat lokal dengan sebutan Riam Banangar, merupakan salah satu fenomena alam dengan panorama alam yang terbilang masih alami. Kawasan yang berbatasan langsung dengan Cagar Alam Gunung Nyiut ini, pada dasarnya merupakan kawasan hutan lindung. Air Terjun Banangar terbentuk dari patahan aliran sungai Landak setinggi 25 meter dan lebar 60 meter, sungai Landak sendiri adalah ikon dari kabupaten Landak dan sungai ini sendiri bermuara hingga ke pusat kota Pontianak. Sebagai sebuah tempat wisata yang masih dalam tahap pengembangan, Air Terjun Banangar memiliki banyak tempat menarik yang bisa ditemui namun belum optimal untuk dikembangkan, seperti keberadaan tebing batu karang yang bisa dijadikan lokasi panjat tebing, sungai deras berbatu yang bisa dikembangkan menjadi lokasi arung jeram dan gua-gua di sepanjang bantaran sungai, serta ekosistem hutan yang masih tergolong alami, walaupun beberapa titik sudah ditanami masyarakat tanaman industri seperti karet, sahang, kelapa sawit dan buah-buahan.

Secara administratif kawasan Air Terjun Banangar masuk pada dua desa yaitu Desa Engkangin dan Desa Merayuh. Masyarakat yang mendiami kedua desa tersebut adalah suku Dayak dengan mayoritas dari mereka bermata pencaharian

(6)

utama sebagai petani, nelayan dan tukang kayu. Masyarakat di sekitar kawasan air terjun Banangar juga masih mengumpulkan hasil hutan, seperti rotan, memanen madu alam dan berladang. Walaupun metode berladang masyarakat hingga kini masih menggunakan sistem pola berpindah, namun masyarakat mengelolanya dengan sistem gilir balik, sehingga tidak melanggar prinsip konservasi. Beberapa hal yang menjadi ancaman serius yaitu, alih fungsi lahan oleh masyarakat menjadi perkebunan sawit/karet, perambahan hutan seperti menebang kayu di areal konservasi serta penambangan liar di sepanjang sungai. Namun beberapa tahun terakhir, seringnya patroli hutan dan razia dari pihak berwenang perambahan di kawasan tersebut relatif berkurang.

Kawasan Air Terjun Banangar masuk dalam program pengembangan pemerintah kabupaten Landak untuk dijadikan salah satu destinasi wisata unggulan. Kawasan ini disiapkan untuk menjadi lokasi wisata alam, dengan paket-paket wisata seperti wisata trekking, arung jeram, panjat tebing dan camping.

Pada dasarnya keberadaan Cagar Alam Nyiut, kondisi kawasan yang masih relatif terjaga serta kearifan lokal masyarakat Dayak yang tinggal di kawasan tersebut tentu saja menjadi modal yang paling kuat bagi pengembangan kawasan Air Terjun Banangar. Hal ini didukung oleh Pemerintah Kabupaten dan Provinsi yang gencar membangun kawasan tersebut, namun keberadaan kawasan konservasi ini menjadi tantangan bagi pemangku kebijakan dan masyarakat yang sudah mendiami kawasan ini jauh sebelum kawasan ini ditetapkan menjadi kawasan konservasi. Sulitnya pembangunan terkendala oleh regulasi yang

(7)

melarang adanya pembangunan permanen di area Cagar Alam menyebabkan masalah sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

1.2 Permasalahan dan Rumusan Masalah 1.2.1 Permasalahan

Kawasan Air Terjun Banangar merupakan kawasan di hulu sungai Landak, yang terletak di dalam area konservasi Cagar Alam dan Hutan Lindung. Hal ini menjadikan lingkungan di sekitar kawasan masih cukup terjaga dan alami. Kawasan ini juga dikelilingi perbukitan dan terdapat beberapa Gua di sepanjang bantaran sungai dan dinding air terjun. Selain itu keberadaan sebuah dusun di dalam kawasan Cagar Alam, yaitu dusun Perbuak menjadi daya tarik tersendiri, terutama tradisi dan budaya tradisional masyarakatnya.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut perlu dilakukan penelitian terhadap potensi-potensi yang terdapat di kawasan Air Terjun Banagar, untuk dijadikan acuan pengembangan wisata berbasis ekowisata. Keberadaan pemukiman penduduk yang terletak di dalam kawasan Cagar Alam Gunung Nyiut, dan konsekuensi penerapan pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan menjadi permasalahan yang layak dikaji. Oleh sebab itu pendapat wisatawan dan masyarakat sangat diperlukan dalam arah pengembangan obyek wisata. Pemerintah kabupaten Landak menjadikan air terjun Banangar sebagai salah satu daya tarik wisata unggulan daerah, namun keberadaan Air Terjun Banangar ini pada dasarnya belum dikenal secara luas, sehingga menarik untuk mengkaji faktor apa saja yang menjadi penghambat perkembangan kawasan wisata tersebut, dan

(8)

menarik juga untuk mengkaji faktor pendukung sehingga kawasan ini layak untuk dikembangkan menjadi salah satu daerah tujuan wisata unggulan.

1.2.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang dikemukakan sebelumnya, maka timbul beberapa pertanyaan untuk dirumuskan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana potensi produk dan pasar wisata berbasis ekowisata di kawasan air terjun Banangar?

2. Bagaimana pendapat masyarakat dan wisatawan akan pengembangan kawasan air terjun Banangar menjadi DTW berbasis ekowisata?

3. Bagaimana faktor pendukung dan penghambat pengembangan Ekowisata di kawasan air terjun Banangar?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengidentifikasi potensi ekowisata di sekitar kawasan air terjun Banangar yang belum tergali secara optimal.

2. Menganalis pendapat masyarakat dan wisatawan tentang pengembangan kawasan air terjun Banangar berbasis ekowisata.

3. Mengkaji faktor pendukung dan penghambat pengembangan ekowisata di kawasan Air Terjun Banangar.

(9)

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Menjadi acuan pemerintah atau investor dalam mengembangkan potensi wisata yang dikaji dalam penelitian ini.

2. Menjadi tolak ukur dalam perencanaan pengembangan wisata yang berbasis sustainability.

3. Menjadi acuan penelitian selanjutnya di sekitar kawasan air terjun Banangar atau wisata sejenisnya.

4. Membantu mempromosikan kawasan Air Terjun Banangar melalui bentuk tulisan ilmiah.

1.5 Keaslian Penelitian

Penelitian dengan judul “Kajian Potensi Ekowisata di Kawasan Air Terjun Banangar (Studi Kasus di Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak)” sepengetahuan penulis merupakan penelitian pertama yang mencoba mengupas potensi ekowisata di kawasan air terjun Banangar, berikut ini beberapa penelitian sebelumnya yang mengambil tema ekowisata dalam penelitiannya namun berbeda lokasi dan objek penelitian dengan yang akan penulis kaji dalam penelitian ini. 1. Penelitian yang dilakukan oleh Wiwik Sri Wuryani (2006), judul penelitian

“Kajian Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Wasur”, pada lokasi Taman Nasional Wasur, Desa Wasur, Kabupaten Merauke, Papua.

2. Penelitian berjudul “Kajian Potensi Sumber Daya Alam Kabupaten Muna untuk Pengembangan Ekowisata”, yang dilakukan oleh La Saudi (2009).

(10)

3. Penelitian oleh Eleonora Dus Gego (2010) dengan judul “Kajian Potensi Ekowisata Di Cagar Alam Gunung Mutis, Kabupaten Timor Tengah Selatan”.

4. Penelitian oleh Pitaya (2011), “Kajian Potensi Ekowisata di Lereng Selatan TNGM untuk Pengembangan Paket Wisata Minat Khusus”.

5. Penelitian oleh Kristianus Pama JMKG (2016), “Kajian Potensi Ekowisata di Kawasan Air Terjun Banangar (Studi Kasus di Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak)”.

Tabel 1.1 Penelitian (tesis) terkait ekowisata/wisata alam

No Nama Lokasi Judul

Penelitian Tujuan Penelitian Metode Hasil/ Kesimpulan

1. Wiwik Sri Wuryani, 2006 Taman Nasional Wasur, Desa Wasur, Kabupate n Merauke, Papua Kajian Pengemba ngan Ekowisata Berbasis Masyaraka t Di Taman Nasional Wasur 1. Mengidentifikasi produk wisata (atraksi, amenitas dan aksebilitas) yang dapat menunjang pengembangan ekowisata di Taman Nasional Wasur, 2. Mengetahui potensi pasar wisata yang dapat menunjang pengembangan ekowisata di Taman Nasional Wasur, 3. Mendeskripsikan latar belakang sosial, budaya dan ekonomi masyarakat di sekitar TN Wasur 1. Pendekatan deskriptif analitik secara kuantitatif dan kualitatif. 2. Analisis SWOT 1. Terdapat 10 tipe habitat dengan keragaman flora-faunanya yang terdiri dari 80 jenis

mamalia, 390 jenis burung, 39 jenis ikan, 48 jenis serang dan 21 jenis reptile yang sudah teridentifikasi, 114 spesies endemis. 2. Potensi lanskap

termasuk dalam kelas A. 3. Lebih dari 90 % persepsi mendukung pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Kawasan Taman Nasional Wasur. 2. La Saudi, 2009 Kabupate n Muna, Sulawesi Tenggara Kajian Potensi Sumber Daya Alam Kabupaten Muna untuk 1. Mengetahui potensi SDA dan budaya masyarakat Kab. Muna untuk dijadikan kawasan 1. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan wawancara 1. Kab muna mempunyai kualitas objek yang berada pada criteria unggul (A) dan menonjol (B)

(11)

Pengemba ngan Ekowisata ekowisata, 2. Mengetahui permintaan wisatawan terhadap obyek wisata yg ada di Kab Muna, 3. Mengetahui keinginan masyarakat lokal terhadap pengembangan ekowisata, 4. Mengkaji faktor pendukung yg mendorong dan menunjang pengembangan ekowisata, 5. Menentukan strategi pengembangan wisata alam dan budaya di Kab Muna. dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. 2. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan SWOT untuk arahan pengembag an ekowisata di Kabupaten Muna.

hayati yang dimiliki cukup tinggi potensi flora yang ditemukan sebanyak 24 jenis dan potensi fauna sebanyak 24 jenis 3. Permintaan pengunjung agar pembangunan sarana dan prasarana ditingkatkan dan pengelolaan yang baik sangat diperlukan 4. Pengembangan objek wisata di kab muna untuk kegiatan ekowisata mendapat respon yang tinggi dari masyarakat (88,7 %) dengan harapan dapat mencipatakan lapangan kerja 3. Eleonora Dus Gego, 2010 Cagar Alam Gunung Mutis, Kabupate n Timor Tengah Selatan, NTT Kajian Potensi Ekowisata di Cagar Alam Gunung Mutis, Kabupaten Timor Tengah Selatan 1. Mengidentifikasi potensi wisata yang dapat menunjang pengembangan ekowisata di Cagar Alam Gunung Mutis, 2. Mendeskripsikan kondisi sosial, budaya dan ekonomi masyarakat di sekitar Cagar Alam Gunung Mutis, 3. Menganalisis persepsi wisatawan serta tanggapan masyarakat sekitar sehubungan dengan pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Cagar Alam Gunung Mutis. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan wawancara mendalam dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. 1. CA Gunung Mutis mempunyai kualitas obyek yang berada pada criteria unggul (A) atau sangat potensial dan keanekaragaman hayati cukup tinggi 2. Penilaian

pengunjung keindahan alam dan atraksi budaya kategori bagus (4,56), dengan tingkat keamanan yang masih aman (4,40), pengelolaan obyek wisata masih sangat jelek (1,93), tingkat penerimaan masyarakat sekitar kategori baik (4,50) dan aksesibilitas ke lokasi obyek wisata yang cukup baik/sedang (3,03). 3. Sebagian besar masyarakat (60%) masyarakat menyatakan setuju Tabel 1.1. Lanjutan

(12)

untuk dikembangkan CA Gng Mutis menjadi kawasan ekowisata berbasis masyarakat dengan harapan kegiatan ekowisata tersebut dapat menciptakan lapangan kerja dan dapat membawa keuntungan ekonomi masyarakat. 4. Pitaya, 2011 TN Gunung Merapi, Sleman, Yogyaka rta Kajian Potensi Ekowisata di Lereng Selatan TNGM untuk Pengemba ngan Paket Wisata Minat Khusus 1. Mengkaji potensi SDA dan budaya di kawasan lereng selatan TNGM untuk kegiatan ekowisata, 2. Mengetahui berbagai macam tantangan dan peluang mengenai kegiatan pariwisata di kawasan lereng selatan Taman Nasional Gunung Merapi. Metode deskriptif analitis dan analisis SWOT . Potensi ekowisata di lereng selatan TNGM dapat dikembangkan dalam bentuk paket wisata minat khusus dimana semua

pemangku kepentingan dapat terlibat di dalamny. Dengan harapan ke depan tidak hanya memberdayakan ekonomi masyarakat setempat tapi juga membantu kelestarian lingkungan fisik dan non fisik yang ada di kawasan tersebut. 5. Kristianu s Pama JMKG, 2016 Kawasan Air Terjun Banangar , Kecamat an Air Besar, Kabupate n Landak Kajian Potensi Ekowisata di Kawasan Air Terjun Banangar 1. Mengidentifikasi potensi ekowisata di sekitar kawasan air terjun Banangar yang belum tergali secara optimal, 2. Menganalis pendapat masyarakat dan wisatawan tentang pengembangan kawasan air terjun Banangar berbasis ekowisata, 3. Mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pengembangan ekowisata di kawasan Air Terjun Banangar. Pendekatan deskriptif analitis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat Kelayakan Potensi Wisata di Air Terjun Banangar adalah 65 %, hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini belum layak dikembangkan. Indikator tingkat kelayakan potensi wisata ini berdasarkan pada beberapa indikator penilaian yaitu Potensi Daya Tarik Wisata dengan nilai 83%, Potensi keberagaman Flora sebesar 75%, Potensi keberagaman Fauna sebesar 60% serta ketersediaan Amenitas dan Aksesibilitas kawasan dengan nilai 42%.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :