SEMINAR
NASTONAL
MESIN
DAN INDUSTRI
(SNM|6)
20,10
"Peran Riset Bidang Teknik Mesin dan Teknik Indushi Dalan Mendtkung Pengembangan Industri dan Mengatasi Kekurangan Energi di Indonesia'
Prognm StudlTeknlk Mesln dan Teknlk IndustrlJurusan Tcknlk Mesln Fakultas Teknlk Unlversltas Tarumanagara
STTIDI PENGART]H KENAIKAI\ PUTARAN
TERIIADAP TEI(ANAI\T PELI]MAS PADA BANTALAN LTINCT]R Agustinus Purna Irawan dan Syafrizal
Laboratorium Fenomena Mesin
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara Jl. Let. Jend. S. Parman No. I Jakartp 11440
e-mail: agustinus0 I @yahoo.com
Abstrak
Bantalan lurrcur atau journal bearing banyak digunakan pado mesin-mesin dengan putaran tinggi, suhu tinggi dan kondisi beban yang bertlulduasi. Bantalan luncur memerlukan pelumasan yang baik untuk mengurangi terjadinya gesekan antara poros dengan bantalan. Ketebalan lapisanfilm pelumas dan teleanan pelumas berbeda-beda dari satu posisi ke posisi lain dari bantalan luncur.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatlcan hubungan antara tekanan pelumas pada bantalan lurrcur dari beberapa titik pengamatan dengan putaran dari poros. Bantalan luncur yang diuji dengan perbandingan UD : 1,6. Karakteritik yang diamati adalah tekanan lapisanfilm pelumas dengan variasi putaran 200 r/min 300 r/min, 400 r/min dan 500 r/min. Pelumas yang digunakan adalah SAE 90. Hasil pengujian memrnjuk*an bahwa peninglratan putaran meningkatkan tekanan pelumas, dengan titik lritis terjadi Wda daerah dengan ketebalan lapisan film minimum. Hasil pengujian selanjutnya akan dibahas dolam malwlah ini.
Kato kunci: bantalan lucur, tekanan pelumas, putaran.
Pendahuluan
Elemen mesin yang berputar, membutuhkan bantalan sebagai penumpu sehingga elemen mesin tersebut dapat.berputar dengan baik. Salah satu jenis bantalan yang biasa digunakan untuk meildukung mesin-mesin putaran tinggi adalah bantalana luncur (ournal bearing). Desain konstuksi dari bantalan luncur cukup sederhana dan proses pemasangannya tidak sulit dan tidak membutuhkan peralatan khusus. Ketelitian bantalan luncur tidak perlu tinggi dan sudah dapat bekerja dengan baik, sehingga harganya cukup murah. Beberapa kelemahan bantalan luncur adalah gesekan yang terjadi cukup besar, membutuhkan pelumasan yang baik dengan lapisan film dan viskositas yang tepat dan menghasilkan panas yang tinggi, sehingga perlu usaha untuk memindahkan panas yang dihasilkan.
Penelitian ini membahas hubungan antara tekanan minyak pelumas dengan putaran yang dihasilkan oleh bantalan luncur. Pengamatan juga dilakukan untuk mengetahui tekanan tertinggi dan tekanan terendah yang dihasilkan oleh bantalan luncr/r pada saat dioperasikan. Fenomena ini perlu diamati supaya dapat diberikan pelumasan yang tepat pada bantalan luncur.
Dasar Teori
Pelumasan yang digunakan dalam bantalan luncur biasanya menggunakan sistem pelumasan hidrodinamik. Pelumasan ini dilakukan dengan cara memberikan sejumlah pelumas di antara ruang antar permukaan yang bergerak relatif, sehingga dapat terbentuk lapisan film pelumas. Teknik ini secara efektif digunakan pada bantalan luncur, dimana poros $ournal) dan bantalan (bearing) menciptakan rongga tipis di dalam celah sempit yang dapat menjebak pelumas sedemikian hingga poros dapat memompa pelumas untuk mengelilingi rongga tersebut.
Beberapa asumsi dalam pelumasan pada banta luncur yaitu: l). Pelumas mematuhi hukum aliran viskos atau Newton; 2). Gaya inersia pelumas diabaikan; 3).Pelumas dianggap
it'r
SEMINAR
NASTONAL
MESTN
DAN |NDUSTR|
(SNMf6),2010
"Peran Riset Bidang Teknik Meein d"n Teknik Indushi Dalam Mendukung Pengembangan Indushi dan , Mengatasi Kekurangan Energt dl Indonesia'
Program StudiTeknlk Mesln dan Teknlk lndustrl Jurusan Teknlk Mesln Fakultas Teknlk Unlvensitas Tarumanagara
incompressible; 4). Viskositas dianggap konstan .sepanjang lapisan pelumas tersebut; 5). Tekanan tidak berubah dalam arah aksial [l].
a) Bantalan Luncur Saat Kering b) Bantalan Luncur Saat Basah Gambar l. Skema Bantalan Luncur []
-7/:-a;KJ
i{:lffii\
\ \
ll
{. |x" \
il
(+$-i,l
/
Gambar 2. Terminologi Bantalan Luncur Saat Berputar [l]
Dimensi bantalan luncur yang penting adalah pemilihan,Lld. Beberapa hal penting berkaitan dengan Lld dari bantalan luncur adalah sebagai berikut: makin kecil Ud maka makin rendah pula kemampuan bantalan menahan beban, makin besar L/d makin besar pula panas yang timbul, makin besar L/d maka kebocoran pelumas di ujung bantalan dapat diperkecil, makin besar Lld akan menyebabkan tekanan tidak merata, jika pelumas tidak merata maka L/d diperkecil, makin besar temperatur makin tinggi, L/d harus ditentukan berdasarkan lokasi yang tersedia, Lld tergantung dari jenis bahan bantalan makin lunak maka Ltrd makin besar [2].
Persamaan dasar dalam desain bantalan luncur sebagai berikut: f1,2,3,4)
Tekanan rata-rata yang terjadi pada bantalan dapat dicari dengan menggunakan persamaan: F F
P * s =
A = L d ( l )
Ketebalan lapisan film merupakan fungsi 0 dan dinyatakan dengan persamaan:
h = c,(l + e cos g) (2)
IN
{i"#
SEMINAR
NASTONAL
MESTN
DAN INDUSTR|
(SNM|6)
2010
'Peran
Riset,Bidans
reknik
tff"T#rl;.ffi*l;X'J",ffiXnf;$pr
Pensembansan
Industri
dan
Program StudlTeknlk Mesln dan Teknlk Indus(dJurusan Teknlk Mesln Fakultas Teknlk Unlversltas Tarumanagara
Lapisan film h maksimum terjadi pada 0 : 0 dan minimum terjadi pada 0 : n, sehingga dapat diperoleh persamaan:
h^in = c,(l- e) (3)
h^o = c,(l + e) (4)
Dengan c, : clearance radial (R - r) dan e : rasio eksentrisitas (e/cr)
Bearing characteristic number dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan:
:|
!
_t
s = f3'l' t*
\ C / P
(s)
Dengan R: jari-jari bantalan, c : clearanc€, p: viskositas pelumas, n : putaran poros (r/min) p : tekanan pada bantalan.
it'. revls
Gambar 3. Skema L/D Bantalan Luncur [l] Metode Penelitian
1. Bahan dan Alat Uji
Tabel 1abel l. tsahan dan Alat [4
No. Spesifikasi Keterangan
I Diameter poros 47,5 mm
2 .
Diamater bantalan 5 1 , 8 m m3 .
Panjang efektif bantalan 85 mm4 . Lld
1 , 6
5 .
Massa bantalan950
e
6 . Clearance 2 , 1 5 m m
7. Pelumas
SAE 90
8 . Viskositas absolut 70oC, 130 mPa.s
2. Prosedur Pengujian
. Mempersiapkan alat uji dan memastikan bahwa pelumas sudah terisi dengan baik di bantalan luncur.
o Menjalankan motor penggerak dan mengatur putaran motor dengan kecepatan 200 r/min, 300 r/min, 400 r/min dan 500 r/min.
o a
SEMINAR
NASTONAL
MESTN
DAN TNDUSTRI
(SNMf6I2010
oPeran Riset Bidang Teknik Mesin dan Teknik Industri Dalam Ifendukung Pengembangan Indushi dan
program
Studrreknrk
*.,,,
o#fr11ff:ffffn:ilffi$.f"Ti:il:T;*- unrversrtas
Tarumanasara
Mengambil data tekanan pelumas di setiap titik yang tersedia. ,
Data diambil setelatr motor berputar selama (15 - 30) menit dengan asumsi proses pelumasan sudah berjalan dengan baik dan stabil.
Prosedur ini dilakukan untuk setiap tingkatan putaran motor dan jumlah data setiap putaran diambil beberapa kali sehingga diperoleh data yang valid.
Menganalisis data dengan bantuan grafik hubungan antara minimum film thickness variable (h/c), eccentricity ratio (e/c) dan bearing chapcteristic number (S).
Gambar 4. Sketsa Penampang Bantalan Luncur Yang Diuji
Pengukurui rrkurran pada bantalan dilakukan pada saat putaran nonnal dengan antara waktu (10 - 15) menit. Tekanan dihitung dengan cara menjumlahkan tekanan rata - rata normal bantalan pada saat diam dengan tekanan hidrostatis bantalan pada saat mendapat beban putar. Nilai tekanan aktual yang diperoleh dapat dihitung dengan persamaan: [1,2]
F, = 4 *Pn Dengan:
o P1 : adalah tekanan total bantalan o Po : tekana awal (l Atm)
o P6 : tekanan hidrostatis bantalan
(6)
(N/m2)
,
(N/rt), dapat dihitung dengan persamaan sebagai
berikut:
o Pr, : p.g.h (7)
p : masa jenis pelumas SAE 90, dengan temperature kerja 60oC h : tinggi kenaikkan fluida ukur karena penkanan (m)
. g : percepatan grafitasi (9,81 m/s') Hasil Pengujian Dan Pembahasan
Pengujian bantalan luncur dilakukan dengan variasi putaran 200 rlmin, 300 r/min, 400 r/min, dan 500 r/min, selanjutnya hasil tebal lapisan film pelumas dan perhitungan tekanan pada masing-masing putaran sebagai berikut.
Sampel pengukuran
tekana n hldrostatis bantalan denganmanometer
F
:SEMINAR
NASIONAL
MESIN
DAN INDUSTRI
(SNM|6)
2010
operan
Riset
Bidang
reknik
TnTj[XI;.H,IlHtr#X*X*pt
Pengembansan
Indusbi
dan
Program StudlTeknlk Mesln dan Teknlk InduqtrlJurusrn Teknlk Mesln Fakultas Teknlk Unlvenltas Tarumanagara
Tabel l. Tebal Lapisan Film Pelumas [4]'
No.
Putaran
(r/min)
Tebal Lapisan Film0
S e 6 h-r" (mm) h-"' (mm) I200
0,301
3,999
15Y
0,02
1,849
0,862
300
0,387
3,913
10"
0,03
|,763
0,82
3
400
0,537
3,762
5"
0,04
1,612
0,7
5
4
s00
0,645
3,655
a v r J r0,05
1 , 5 0 5
0,70
Tabel 2. Hasil Pengukuran Tekanan Total Bantalan No
Urut
Tekanan total (Pa) masing -masing kecepatan
200 r/min
300 r/min
400 r/min
500 r/min I1 0 1 5 4 8
1 0 1 5 4 9
101349
1 0 1 5 0 9
2
1 0 1 4 8 2
1 0 1 4 8 41 0 1 r 7 5
1 0 1 5 0 9
3
101268
l0l27r
100899
100981
4
100684
100688
100321
99977
5
100727
100732
100685
100536
61 0 r 8 9 3
1 0 1 8 9 9
t01326
101752
7102008
102015
1 0 1 8 5 9
r02189
I1 0 1 8 8 7
1 0 1 8 9 5
101974
102054
9101707
1 0 1 7 1 6
1 0 1 8 5 0
1 0 1 8 6 2
l 0r 0 1 5 5 3
1 0 1 5 6 3
1 0 1 6 8 1
rOt677
l t
1 0 1 4 1 5
t01426
1 0 r 5 2 6
1 0 1 5 0 9
t2
t0t293
1 0 1 3 0 5
I 0 1409
1 0 1 3 8 3
l3
L0tl74
l 0 l 1 8 7l 0 l 3 l 7
1 0 1 2 8 3
l 4l 0 l 0 l 3
t0t027
1 0 r 2 0 6
I 0l 149
l 510082r
100836
1 0 1 0 7 6
t00972
16
1 0 0 7 1 6
100732
100923
100796
Tabel 3. Perbedaan Tekanan Total Bantalan No. Uji Tekanan Aktual
Bantalan (Pt) Perbedaan Putaran (r/min) 7 Pmax
102008
t323
,200
4 Pmin100684
7
Pmax1 0 2 0 1 5
1326
300
4 Pmin100688
7
Pmax1,0197
4
1 6 5 3
400
4 Pmin100321
7 Pmax1 0 2 1 8 9
22tr
500
4 Pmin99977
SEMTNAR
NASTONAL
MESTN
DAN INDUSTR|
(SNM|6),2010
oPeran Riset BidangTeknik Mesin danTeknik Indushi Dalamltfendukung Pengembangan Indushi dan
program
studrreknrk
*,,,,
o#;lk:il;:fiffn:il,ffiff.1#flil:T;,'-
unhersrtas
Tarumanasara
I 1o2soo 5 rozooo(! c 3 101sq, |! 6 1o1ooo F ! roosoo o J g 1000(X, 995(x'
f t *
-ril=a
ffi
f f r r r i F E - B - S r e - r
'$4
Ets
V I
98500 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 Lubang Pengukuran Tekanan-+-0 r/mln "tlr2O0r/min "Gt-3q, r/mln '#ril)Or/mln -&=Sfl1r/mln
Gambar 5. Grafik Tekanan Bantalan vs Putaran
Berdasarkan hasil pengujian dan perhitungan yang telah dilakukan di atas, terlihat bahwa ketebalan lapisan film minimum terjadi pada putaran 500 r/min dan ketebalan lapisan film maksimum terjadi pada putaran 200 rlmin. Tekanan mulai naik pada titik ke 5 dimana lapisan film pelumas paling tipis, dan pada saat itu pelumasan mendapat tambahan tekanan akibat gaya senhifugal dari journal terhadap pelumasan. Tekanan ini maksimum pada titik 7, dimana posisi journal dan bantalan 90' dan ketebalan lapisan film mulai bertambah. Tekanan jurnal terhadap laplsan film terus menurun pada titik 4 pada deretan berputar. Daerah titik 4
dan 5 dapat dikatakan daerah ambang minimum dan daerah titik 7 dan 8 dikatakan daerah ambang maksimum. Berdasarkan analisa aktual tekanan di atas maka kondisi daerah titik 7 adalah kondisi laitis akibat tekanan. Sedangkan pada daerah dengan ketebalan lapisan pelumas maksimum, tekanan pelumas yang terjadi mendekati tekanan atmosfir. Perbedaan tekanan terendah ada pada putaran poros paling rendah dengan kecepatan 200 rlmin dan perbedaan tekanan tertinggi ada pada putaran poros paling tinggi yaitu pada kecepatan 500 r/min. Secara keseluruhan dari pengamatan diperoleh bahwa perbedaan tekanan maksimum dan minimum pelumas akan makin meningkat jika putaran poros juga meningkat.
Kesimpulan
Telah dilakukan pengujian terhadap tekanan pelumas bantalan luncur dengan 16 posisi pengukuran. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa tekanan minyak pelumas yang terjadi paling besar terjadi pada daerah dengan lapisan pelumas paling tipis, yaitu titik 7 dan 8 sebagai ambang batas tekanan maksimum. Tekanan ambang batas minimum terjadi pada titik 4 dan 5. Tekanan pelumas batas maksimum dan minimum akan meningkat seiring dengan kenaikan putaran poros. Perbedaan tekanan maksimum dan minimum terbesar terjadi pada putaran yang paling tinggi yaitu 500 r/min. Fenomena ini dapat dijadikan acuan untuk mengantisipasi keausan akibat gesekan pada bagian bantalan dengan lapisan film pelumas paling tipis dengan tekanan yang paling besar.
Daftar Pustaka
F-r'
3 .
4.
5 .
6.
SEMINAR
NASIONAL
MESIN
DAN INDUSTRI
(SNM|6)
2010
"Peran Riset Bidang Teknik Mesin dan Teknik tndustri Dalam Mmdukirng Pengembangan Indusbi dan Mengataei Kekurangan Energi di Indoneeia"
Program StudlTeknlk Mesln dan Teknlk IndustrlJurwan Teknlk llesln Fakultao Teknlk Unlvenltat Tarumanagara
2. Khurmi, R.S. (2004), A turt book of machine desigtt. S.I. Unitsr New Delhi: Eurasia Publishing House (Pvt) LTD.
Sularso (2000), Dasor perencanaan dan pemilihan elemen mesin. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.
Agustinus P. Irawan dan Syafrizal (2009), Karakteristik bantalan luncur menggunokon pelumas SAE 90. Prosiding Temu Ilmiah Nasional Dosen Teknik VIII 2009. Fakultas
Teknik Universitas Tarumanagara.ISBN: 978-979-99723-+-7 hal.III.75 - III.80. Spotts, M.F. (l9Sl), Design of machine elemenfs. New Dellhi: Prentice Hall.
Ahmed Bouzidane and Marc Thomas (2007), Equivalent stiffness and domping investigation of a hydrostatic journal bearing. Tribology Transactions, Apr-Jun 2007 Vol. 50 No. 2 pp 257 -267.
Ertugrul Durak, Cahit Kurbanoglu and Recai Fatih Tunay (2006), Experimental study of effects of oil odditives into coefficient of friction in journal bearings at dffirent temperatures. Indushial Lubrication and Tribology. 58/6 (2006) pp.288-294.
M. Tnngeya and M. Gadala (2007), Optimization of journal bearings using a hybrid scheme. Journal Engineering Tribology, 221 part J. pp. 591 - 607.
N Tala-Ighil, P Maspeyrot, M Fillonl, and A Bounif (2007), Effects of surface texture on journal-bearing characteristics under steady-state operating conditions. Journal of Engineering Tribology Vol. 221Part J, pp. 623 - 633.
7.
8 . 9 .